Halo, semua! Karena ini ulang tahunku jadi kuputuskan untuk update hari ini. Hm, ga ada hubungannya sih. Memang udah niat mau hari ini hehe.
Sepertinya dua minggu kelamaan ya? Banyak yang minta lebih cepet updatenya hahaha. Kalau nulisnya lancar rencananya mulai chapter depan update bakal jadi seminggu sekali. Tapi mohon dukungannya ya, mudah-mudahan ga kena WB.
Gimana ya, itachi emang harus tahu demi kelancaran bersama hehe. Pengaruh Itachi cukup besar karena Naru udah mulai sayang sama Itachi sebagai anggota keluarga yang ga pernah dia punya sebelumnya, seorang kakak. Semua penasaran reaksi Sasuke ya kalau tahu nanti, sayang masih harus nunggu kayaknya. Hm, bukan salah Itachi juga kan. Kalau aku jadi dia juga aku bakal shock dong.
Bakal sampai chapter berapa? Hm, entahlah tapi mungkin max chapter 20. Mungkin bakal kurang dari itu, kita lihat saja nanti.
Gaya penulisanku berubah, ya? Masa sih? Aku sih ga sadar hahaha. Tapi walaupun berubah semoga saja tidak menjadi mengecewakan ya. Oh iya, ini bukan sad ending. Kujamin deh. Salam kenal buat yang ngajak kenalan. ^_^
Shi-chan, buat yang ini sabar dulu ya masih banyak ItaNaru nya. Ya, rada seimbang lah. Chapter depan deh, aku lagi berusaha keras bikin moment SasuNaru. Terus, jangan benci sama bang Ita dong. Dia kan ga jahat.
Untuk sisanya bakal terjawab sebagian di chapter ini. Nah, ga usah lama-lama lagi deh ya. Silahkan chapter 7 lewat!
Sasuke bangun pagi itu mendapati lehernya sedikit sakit. Tidur di sofa rumah sakit ternyata memang tidak enak. Dia memijat lehernya untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya. Naruto masih tidur dengan damainya, tidak ada tanda-tanda dia akan bangun dalam waktu dekat. Sasuke pun memutuskan untuk pergi mencari sarapan untuknya sebentar.
Meskipun masih pagi tapi rumah sakit sudah dipenuhi banyak orang. Mungkin karena ini rumah sakit pusat dan banyak juga keluarga yang menjaga sanaknya yang dirawat di sini seperti dirinya. Saat kembali ke kamar Naruto, Itachi sudah berada di sana dan duduk di sofa dimana dia tidur tadi malam.
"Kakak, pagi sekali kemari. Ada apa?"
"Aku datang untuk menjemputmu. Karena kemarin kau tidak ada jadi hari ini kau harus pergi ke kantor dan kau sudah berjanji." Itachi duduk sambil melipat tangannya di depan dada dengan santai.
"Iya benar, tapi Naru belum sadarkan diri dan jika aku pergi siapa yang akan menjaganya?"
"Aku yang akan menjaganya, setidaknya sampai Ibu datang. Karena harus menyiapkan banyak hal, Ibu akan sedikit terlambat datang kemari. Aku tidak ada pekerjaan sampai nanti siang jadi aku bisa tinggal sebentar."
"Begitukah? Naru sudah tidak apa-apa, jadi jika kutinggal kupikir tidak masalah. Terima kasih, Kak."
"Ya, ya, sudah sana pergi. Ini kunci mobilnya, Ayah sudah berangkat duluan." Sasuke mengambil kunci tesebut dari kakaknya dan segera berangkat.
Itachi yang ditinggal sendiri bersama orang yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya hanya menatapnya dari jauh. Karena tidak ada yang bisa dilakukan, Itachi mengeluarkan sebuah buku yang sempat dibawanya dan mulai membaca. Meskipun mencoba berkonsentrasi pada halaman di hadapannya, pikiran Itachi tidak bisa keluar dari perihal sang ipar. Banyak hal yang ingin dia tidak ketahui dan dia tidak memiliki jawabannya. Itachi tidak suka dengan keadaan dimana dia tidak mengetahui apa-apa apalagi sesuatu yang kritis seperti ini.
Sudah berpuluh-puluh halaman Itachi balik tapi dia tidak begitu menangkap apa isinya. Setidaknya suara saat kertas itu dibalik dapat sedikit memecah keheningan di ruangan tersebut. Entah apa yang menahan ibunya sampai belum datang sudah sesiang ini. Mungkin saja ibunya itu sengaja meninggalkan mereka berdua di sini. Ibunya memang terkadang melakukan hal-hal seperti itu, Itachi sudah tidak kaget lagi.
Di atas tempat tidur yang tidak jauh darinya itu, tanpa Itachi sadari Naruto perlahan membuka matanya dan melihat ke sekitar. Hal pertama yang disadarinya adalah langit-langit yang sangat dia kenal karena sudah berkali-kali dia menghabiskan malam di sini. Mata birunya mencari-cari dan menangkap sosok seseorang sedang duduk sambil membaca buku. "Sasuke?"
Itachi kaget mendengar suara yang memanggil nama adiknya dan menutup buku yang sedang dibacanya. Dia menatap mata biru Naruto yang masih setengah sadar dan segera bangkit untuk memanggil dokter. Naruto melihat Itachi keluar dan baru sadar bahwa sosok itu adalah kakaknya, bukan Sasuke. Dia sedikit bingung mengapa kakaknya yang sudah berhari-hari mengabaikannya itu ada di sini sekarang.
Tak lama Sakura pun segera masuk dan memeriksa keadaan Naruto sementara Itachi menunggu di luar. Itachi benar-benar kaget karena hal pertama yang diucapkan Naruto saat sadar adalah nama Sasuke. Apakah itu berarti Naruto menyimpan perasaan kepada adiknya? Atau itu hanya karena dia belum begitu sadar dan mengira dia adalah adiknya karena mereka mirip? Itachi menggeleng, tidak mungkin karena saat memanggil tadi wajahnya tertutupi buku. Itachi pikir orang yang akan dicari Naruto pertama kali adalah ibunya atau Gaara.
Belum sempat dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya seseorang memanggilnya. Gaara datang bersama dengan Mikoto dan menghampirinya. "Itachi, kenapa kau di luar?" Mikoto bertanya.
"Naru baru saja sadar dan dokter sedang memeriksanya."
Di saat yang sama pintu kamar terbuka dan keluarlah Sakura. "Apa benar Naru sudah sadar?" Gaara terdengar sedikit tidak sabar saat bertanya.
"Benar, aku sudah memeriksanya dan semuanya baik-baik sa.. hei, Gaara tunggu." Gaara tidak mempedulikan protes Sakura dan menyerobot masuk begitu saja. Itachi dan Mikoto pun ikut masuk dan juga Sakura yang khawatir pemuda berambut merah itu akan melakukan sesuatu dilihat dari gelagatnya.
Naruto yang sekarang sedang duduk di atas tempat tidur yang sudah berkali-kali dia tempati, mengangkat wajahnya dan melihat sahabatnya menghampiri. Saat akan membuka mulut untuk menyapanya tiba-tiba dia merasakan pipinya perih dan suara yang cukup keras terdengar di telinganya.
"Gaara! Apa yang baru saja kau lakukan? Naruto baru saja sadar dan dia masih lemah. Kau tidak seharus.."
"Bodoh!" Gaara berteriak begitu keras dan menghentikan protes dari Sakura. Naruto yang perlahan menyentuh pipinya yang baru saja ditampar, pelan-pelan berpaling ke arah sahabatnya. Mikoto dan Itachi kaget melihat apa yang baru saja terjadi. Tidak pernah mereka melihat Gaara seperti ini. "Apa kau sebegitu inginnya mati sampai berbuat seperti ini?! Kau benar-benar tidak peduli dengan perasaan kami dan selalu saja mengikuti keegoisanmu!"
"Gaara, ini rumah sakit. Jangan berteriak," Sakura mengingatkan.
Gaara sadar akan hal itu tapi saat ini dia tidak peduli. "Jika kau sebegitu inginnya mati, kenapa harus berjanji dan memberi harapan kosong pada kami?! Kau bahkan berjanji pada Bibi Mikoto akan mencoba mencari sesuatu itu dan juga berjanji pada Bibi Kushina, Paman Minato dan juga aku akan bertahan sampai tahun depan. Lalu apa yang kau lakukan ini, hah?! Apa kau tahu kecerobohanmu ini bisa saja membunuhmu?! Bodoh!"
Naruto tertunduk mendengarkan kata-kata sahabatnya. "Ma-maaf, Gaara. Aku tidak.."
"Tidak ada gunanya kau meminta maaf jika hanya untuk mengulanginya lagi!"
Naruto semakin tertunduk. Dia sudah mengingkari satu janjinya dan hampir saja mengingkari janjinya yang lain, janji terbesar dalam hidupnya. Gaara mendekat dan memeluk sahabatnya dalam dekapakannya. Naruto kaget karena sempat berpikir Gaara akan memukulnya lagi. "Jangan membuatku khawatir seperti ini lagi, bodoh. Aku belum siap kehilanganmu." Suara Gaara yang lembut terdengar jelas di telinga Naruto karena begitu dekatnya mereka.
Naruto membalas pelukan Gaara dan tersenyum. "Iya, aku tahu."
Sakura menghela napas dan memukul kepala Gaara lagi. Kedua orang ini selalu saja melakukan sesuatu yang gila dan membuat cemas. Setelah menjelaskan lagi keadaan Naruto, Sakura memohon diri dan meninggalkan mereka. Mikoto menghampiri tempat tidur Naruto dan menyapanya. Naruto juga meminta maaf karena sudah membuat ibunya ini khawatir. Setelah beberapa lama Naruto menyadari kehadiran Itachi yang sedari tadi tidak mengatakan apa-apa. "Kakak?"
Semua mata berpaling ke Itachi dan Gaara memutuskan ini saatnya. "Naru, bukankah ini saatnya kau menjelaskan semuanya pada Itachi?"
"Tapi, Gaara.."
"Sejak kemarin dia selalu menatapku penuh arti dan aku tidak suka melihatnya." Gaara menatap Itachi dan Itachi menyipitkan mata onyxnya. "Tidak perlu berpura-pura, aku tahu banyak hal yang ingin kau tanyakan. Sayangnya aku tidak bisa memberitahumu apa-apa karena aku sudah berjanji, begitu juga Bibi. Nah, silahkan tanyakan langsung pada orangnya."
Sejenak bain Itachi maupun Naruto tidak mengatakan apa-apa. Naruto masih tidak yakin apakah Itachi perlu tahu, meskipun sudah sampai seperti ini dia masih bingung. Tidak sabar melihat gelagat Naruto, Itachi memutuskan untuk menyerangnya duluan. "Apa tujuanmu berpura-pura menjadi perempuan?"
Naruto menelan ludah sebelum menjawab. "A-aku tidak sengaja berpura-pura, tapi Ayah mengira aku perempuan dan kupikir tidak apa-apa. Tapi setelah itu Ibu tahu dan aku hanya ingin.." Suara Naruto terdengar begitu gugup. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia gugup seperti ini. Sudah berkali-kali dia memberikan penjelasan seperti ini tapi belum pernah dia gugup dan ini hanya terjadi pada Itachi.
Gaara menyadari kegugupan sahabatnya dan meraih tangan Naruto. "Naru, tenanglah. Aku ada di sini, jika kau tidak sanggup biar aku yang menjelaskan."
Seketika gugupnya hilang mendengar kata-kata Gaara. Benar, jika ada sesuatu yang terjadi Gaara pasti akan membantunya. Dia tidak perlu takut. "Tidak perlu, aku akan menceritakan semuanya."
Butuh sekitar satu jam untuk menceritakan semuanya pada Itachi. Dia menjelaskan semuanya seperti yang dulu dia lakukan kepada Mikoto, tentang penyakitnya, jati dirinya dan juga janjinya. Selama Naruto bercerita, Itachi diam mendengarkan dan masih berdiri sambil bersandar ke tembok. Sedikit di sana-sini Mikoto dan Gaara menambahkan penjelasan di cerita Naruto. Itachi sedikit kaget saat mengetahui bahwa Mikoto sudah tahu semuanya sejak lama walaupun terlihat wajahnya tetap datar. Ketika selesai, keheningan menyelimuti ruangan tersebut. Naruto tidak tahu apa yang dipikirkan Itachi dan bagaimana dia menerimanya.
Terasa seperti seabad sampai Itachi akhirnya membuka mulut. "Sudah kuduga kau ini gila."
"Ka-Kakak."
"Aku tidak percaya ternyata kau menyimpan rahasia yang begitu fatal." Itachi melirik jam di tangannya dan menatap ke arah Mikoto. "Sudah waktunya aku pergi. Aku akan kembali lagi nanti mungkin dengan Ayah dan Sasuke. Aku pergi dulu. Gaara." Itachi membuka pintu dan pergi.
"Kakak!" Teriakannya tidak digubris oleh sang kakak. "Kak Itachi pasti benci padaku sekarang."
"Tidak, sayang. Itachi hanya butuh waktu untuk mengerti. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau percaya akan keputusannya? Ibu tahu perangai anak-anak Ibu."
Naruto paham apa yang dimaksudkan Mikoto tapi dia tidak ingin berharap Itachi mengerti hanya untuk mengetahui sebaliknya. Gaara menghela napas melihat kelakuan Naruto. Setelah menjadi anggota keluarga Uchiha, sahabatnya ini seperti berubah sedikit demi sedikit. Entah mengapa dia merasa Naruto semakin bersikap seperti seorang perempuan. Apa karena dia memiliki seorang suami? Dia berharap ini adalah perubahan yang baik.
Kushina datang sore hari itu bersama dengan Minato. Mereka baru saja kembali dari Suna dan membawakan oleh-oleh untuk mereka semua. Mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai keadaan putra tunggalnya dan hanya mengajak mereka berbincang seperti Naruto tidak pernah dirawat di rumah sakit. Bukan karena tidak peduli tapi karena itu cara mereka menjaga keceriaan di mata Naruto. "Oh iya, sepertinya dua bulan dari sekarang cucu Ibu akan tinggal bersama kita di Konoha ini."
"Eh, benarkah?" Naruto terdengar bersemangat dengan kabar ini. Sudah lama sekali sejak dia melihat mereka berdua.
"Benar. Tidak terasa anak itu sudah besar, semakin lama semakin mirip saja dengan Ayahnya. Untung saja Ayahnya itu tampan, itu karena dia memiliki darah Uzumaki seperti Ibu. Iya kan, Minato?"
Minato tersenyum ke arah Kushina yang sedang menatapnya dengan tatapan menuntut. "Iya, kau cantik."
"Ayah ini, apa saja yang dikatakan Ibu pasti setuju saja."
Kushina menggerak-gerakkan telunjuknya ke arah putra tunggalnya seperti sedang menggurui. "Naru, kau harus ingat bahwa kau mendapatkan wajah yang cantik seperti ini karena Ibu."
"Ya, terima kasih pada Ibu aku harus menjalani hidupku sebagai seorang perempuan." Sejenak mereka terdiam sampai akhirnya semua tertawa bersama. Kushina memeluk anaknya gemas dan Minato berusaha untuk melepaskan anaknya dari dekapan erat sang ibu.
Mikoto dan Gaara hanya menonton drama keluarga ini dari samping. Jika melihat mereka sekarang, tidak terpikirkan bahwa mereka memiliki masalah yang begitu besar. Naruto ingin semua orang disekitarnya bahagia dan Kushina juga Minato mengerti hal itu. Karenanya mereka selalu terlihat gembira di depan putra satu-satunya itu meskipun mungkin dalam hati mereka sedih ketika mengingat suatu saat anaknya itu harus pergi lebih dulu dan untuk selamanya.
Tawa mereka terhenti saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Sasuke masuk bersama dengan Itachi. Mereka segera menyapa Kushina dan Minato ketika melihatnya. Naruto sedikit gelisah saat melihat Itachi, dia masih tidak yakin dengan keputusan apa yang kakaknya ambil.
Sasuke mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Naruto. Lagi-lagi Sasuke mengecup keningnya dan membuatnya merona, apalagi kali ini Sasuke melakukannya di hadapan semua orang. "Kau sudah baikan?"
"I-iya."
Mikoto dan Gaara menahan senyum mereka, Itachi masih menatap dengan wajah datar tapi telihat tertarik, sementara Kushina dan Minato sedikit kaget dengan apa yang mereka lihat. "Sasuke romantis sekali." Komentar sang Ibu berhasil membuat Naruto semakin merona. Sasuke sendiri menerimanya dengan biasa saja seakan semua itu wajar.
"Apa ada yang salah?" tanya Sasuke wajar.
"Ah tidak, hanya tidak menyangka Sasuke tipe yang seperti itu. Pasti saat di rumah kalian mesra sekali, ya." Meskipun mengetahui keadaan sang anak tapi Kushina memang senang berbuat jahil. Tidak mungkin pasangan suami ini mesra dengan keadaan mereka tapi tidak ada salahnya menggoda mereka sedikit.
"I-Ibu, sudah tidak perlu membahas hal seperti itu." Naruto tahu kebiasaan buruk ibunya. Kalau tidak segera dihentikan maka akan repot jadinya. Ditambah lagi Mikoto juga terlihat ingin bergabung untuk menggoda, tidak mungkin Naruto bisa menghadapi mereka berdua.
"Loh, memang kenapa? Wajar kan, suami-istri mesra saat di rumah? Benar kan, Sasuke?"
Ditembak seperti itu Sasuke tidak tahu harus menjawab apa. "Ah, ya itu wajar."
"Tidak mungkin." Jawaban Itachi yang tiba-tiba itu mengagetkan mereka semua. Sejenak Naruto berpikir kakaknya akan membuat protes, tapi ketika wajah datar itu berubah menjadi seringai dia tahu sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. "Naru itu masih perawan, bukan?"
Benar saja apa yang dikhawatirkannya. Wajahnya kini sudah semakin memerah dan Sasuke juga sedikit merona mendengar perkataan kakaknya. Gaara dan Mikoto menahan seringai mereka, Minato ikut merona mendengar kehidupan pribadi anaknya dan berniat untuk menyudahi percakapan ini. Sayangnya istrinya berpikiran lain.
"Benarkah itu, Sasuke? Memangnya apa yang kurang dari Naruku sampai kau tidak mau menyentuhnya? Sudah hampir tiga bulan kalian menikah tapi belum pernah melakukan apa-apa? Dulu aku dan Minato tidak menunggu dua hari untuk itu. Apakah Naru kurang menarik? Kurang seksi?"
Mengetahui peringai sang istri dan kebiasaan buruknya, Minato mencoba menghentikannya sebelum semuanya menjadi semakin liar. Setidaknya dia mencoba. "Ah, sudah, sudah Kushina. Kau membuat Sasuke tidak nyaman."
"Tidak Minato, justru ini harus jelas. Sudah kuduga karena kimononya, kan? Naru sayang, seharusnya kau mencoba memakai baju yang lebih seksi agar Sasuke mau melihatmu. Benarkan, Mikoto?"
"Benar, benar," Mikoto berkata sambil masih menahan seringainya.
Sasuke manatap ibunya tidak percaya sedangkan Naruto sudah menyembunyikan diri di balik selimut. Semua ini karena kakaknya yang telah seenaknya saja mengatakan hal yang tidak seharusnya. Sasuke melotot ke arah kakaknya dan yang dipelototi dengan cueknya berjalan ke arahnya. "Hei, bukan salahku Naru masih perawan. Itu tanggung jawabmu." Itachi memukul dahi Sasuke dengan telunjuknya.
Gaara yang akhirnya bisa menguasai diri berdehem untuk mengambil perhatian mereka. "Oke, sudah cukup kita menggoda pasangan muda ini. Sebelum Sakura datang dan mengusir kita karena terlalu ribut, sebaiknya kita meninggalkan mereka berdua." Sasuke berterima kasih padanya dan Naruto mengintip sedikit dari balik selimutnya. Wajahnya begitu merah dan terlihat sangat manis. Mereka satu per satu berpamitan pada Naruto dan Sasuke. Setelah mereka semua hendak keluar Gaara menambahkan kata-katanya. "Siapa tahu mereka ingin melakukan sesuatu saat kita sudah tidak ada."
Saat itu juga Sasuke menyesal sudah berterima kasih padanya. Ternyata mereka semua sama saja. Naruto yang sudah tidak tahan akhirnya berteriak sangat kencang dan menumpahkan kekesalannya pada satu orang. "Kak Itachi!" Tawa bahak terdengar dari luar ruangannya.
Ditinggal berdua, Naruto tidak sanggup untuk melihat wajah Sasuke sekarang. Dia terlalu malu dengan apa yang baru saja mereka bicarakan. Sasuke merasa tidak enak dengan situasi ini. "Maaf ya, semua gara-gara aku."
"Tidak, ibuku memang seperti itu. Apapun yang kau katakan pasti akan seperti ini hasilnya. Lagipula, Ibu dan Ayah tahu mengenai perjanjian kita. Dia hanya senang melihat kita salah tingkah seperti tadi."
"Hm, ternyata kedua ibu kita sama-sama jahil. Mungkin kita memang berjodoh." Perkataan Sasuke sukses membuat Naruto kembali merona. "Ah maaf, aku tidak bermaksud apa-apa."
Naruto dengan gelagapan mencoba menetralisir keadaan. "Ti-tidak apa-apa. Aku hanya kaget saja, hahaha. Kau benar, mungkin kita ini berjodoh karena kedua ibu kita sama-sama jahil." Naruto mengumpat dalam hati karena apa yang baru saja dikatakannya itu benar-benar bodoh.
Sasuke memandang wajah istrinya dan mengamatinya. Dia memikirkan kata-kata Kushina padanya tadi. Naruto adalah seorang gadis yang baik dan dia juga manis. Apalagi saat melihatnya merona seperti sekarang, siapapun pasti akan menganggapnya sangat manis. Selain itu dia pekerja keras juga peduli pada keluarganya. Itachi dan Mikoto pun sayang kepadanya, meskipun Fugaku tidak pernah berkomentar apa-apa tapi Sasuke tahu ayahnya juga suka kepada Naruto. Tapi mengapa Sasuke tidak merasakan apapun kepadanya?
Setiap malam mereka tidur di tempat tidur yang sama dan hampir setiap hari Naruto membantunya bersiap untuk pergi ke kantor. Apakah karena dia perempuan? Sejak dulu Sasuke selalu dikerumuni perempuan-perempuan yang terobsesi kepadanya dan itu membuatnya muak terhadap mereka. Tapi Naruto tidak seperti itu, lalu apa yang menghalanginya? Hanya satu hal yang bisa dia pastikan bahwa dia peduli pada Naruto.
Naruto menyadari Sasuke yang sedari tadi menatap wajahnya tapi tidak mengatakan apa-apa. Naruto menatap balik tapi Sasuke masih tidak bergerak. "Sasuke?" Tersadar oleh panggilan Naruto, Sasuke mengedipkan matanya.
"Maaf, aku melamun." Tidak pernah Naruto melihat Sasuke melamun dan ini merupakan hal baru baginya. "Oh iya, hari ini siapa yang akan menemanimu?"
"Gaara. Dia hanya akan mengantar yang lain keluar. Kau juga sebaiknya pulang saja, pasti masih capek setelah pulang kerja."
"Sebegitu inginnya aku pergi, ya."
"Eh? Ti-tidak, bukan begitu."
"Hanya bercanda. Kau ini terlalu terpengaruh ucapan yang lain." Sasuke mengacak-acak rambut pirang panjang Naruto. "Kalau begitu aku pulang dulu. Kakak dan Ibu pasti sedang menunggu di tempat parkir. Besok sore aku akan datang untuk menjemputmu pulang."
Setelah mengucapkan selamat tinggal Naruto kembali menyembunyikan diri di balik selimutnya. Dia tidak percaya dengan semua yang baru saja terjadi hari ini. Ibunya benar-benar kelewatan membahas masalah sepribadi itu. Gaara juga sama saja, Itachi yang lebih parah. Bisa-bisanya kakak iparnya itu membahas sesuatu yang begitu pribadi dan di depan semua orang. Tapi Naruto lega akhirnya setidaknya kakaknya sudah bersikap biasa lagi.
Terdengar suara pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Naruto menduganya sebagai Gaara. "Jangan katakan kau tidak memakai sehelai baju pun di balik selimut ini. Aku hanya pergi selama sepuluh menit, kalian tidak mungkin melakukan sesuatu sampai sejauh itu, kan?"
Naruto seketika keluar dari persembunyiannya dan memukul lengan sahabatnya itu. "Gaara! Kau tahu itu tidak mungkin. Sasuke tidak tahu bahwa aku ini laki-laki."
Wajah Gaara tetap datar seperti biasanya dan dia tidak memperdulikan rasa sakit di lengannya. "Ah, masih berpakaian lengkap rupanya. Sayang sekali." Naruto yang kesal sekali lagi memukulnya dan kali ini lebih keras. "Ah, iya, iya aku berhenti. Kau ini, semakin lama semakin seperti perempuan saja." Untuk pernyataan itu Gaara menerima satu pukulan tambahan.
"Berhenti bercanda. Kalian semua sudah cukup membuatku malu hari ini." Naruto memalingkan muka dan cemberut. Gaara meminta maaf dan benar-benar menyudahi godaannya.
Karena hari sudah semakin larut, Gaara menyarankan agar mereka segera tidur. Saat berbaring di sofa dia menggerutu karena benda tersebut tidak terlalu nyaman untuk dipakai tidur. "Aku tidak habis pikir bagaimana Sasuke bisa tahan tidur di atas benda ini?"
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak tahu? Kemarin malam Sasuke yang menemanimu. Saat mendengar kau masuk rumah sakit dia segera kemari dan meninggalkan kantor. Setelah itu dia juga tidak pernah beranjak dari sisimu sampai pagi ini. Dia terlihat begitu cemas."
"Benarkah?" Hal ini benar-benar membuat Naruto semakin tersentuh. Dia harus membalas kebaikan Sasuke ini suatu saat nanti.
Walaupun masih saja menggerutu tapi akhirnya Gaara memejamkan matanya juga. Naruto pun ikut memejamkan mata. Dalam tidurnya dia memimpikan Sasuke dan mimpi ini adalah mimpi terindah yang pernah dia dapatkan.
"Naru, ayo kita pulang. Apa kau masih lemas? Perlu kubantu berjalan?"
"Ah, ti-tidak perlu."
Itachi membantu membawa tas milik Naruto sambil menonton drama suami-istri di hadapannya. Naruto yang mencoba menahan agar pipinya tidak merona terlihat begitu manis menurutnya. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang-orang akan semakin percaya bahwa dia ini perempuan.
Setelah mendengar penjelasan Naruto kemarin, Itachi memikirkan semuanya selama dia ada di rumah dan juga di kantor. Setelah sedikit mendapat penjelasan juga dari Mikoto, akhirnya Uchiha sulung itu dapat menerima alasan Naruto berada di dalam keluarga Uchiha. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan soal gender, dia hanya tidak suka dibohongi. Setelah beberapa lama menghabiskan waktu dengan iparnya, rasa sayang mulai tumbuh pada diri Itachi. Jika dibandingkan, mungkin Itachi lebih menyukai iparnya daripada adikknya. Karena itulah saat mengetahui kebohongan sang ipar Itachi merasa sangat dihianati, rasa sayangnya yang sudah besarlah yang menyebabkan penghianatan Naruto terasa begitu menyakitkan. Tapi sekarang semuanya sudah baik-baik saja dan Itachi masih menyayangi Naruto.
Itachi juga mengatakan bahwa dia akan menyimpan rahasia ini bahkan dari Sasuke sekalipun. Entah apa yang direncanakan Itachi tapi Naruto berterima kasih atas keputusan sang kakak. Jika sampai suatu hari Sasuke harus mengetahui semuanya, Naruto ingin dia sendirilah yang memberitahukan segalanya. Itu pun jika dia bisa dan sempat, kalau tidak semuanya akan dia serahkan pada Gaara.
Itachi yang menyetir mobil sementara Sasuke duduk di kursi di sebelahnya dan Naruto duduk di kursi belakang. Tidak ada percakapan sampai mereka menuju ke rumah dan Naruto bersyukur akan hal itu. Dia tidak yakin dapat menjawab pertanyaan dengan benar saat ini, khususnya jika itu datang dari Sasuke. Berkat mimpi indahnya semalam membuat dia membayangkan hal yang aneh-aneh mengenai dirinya dan suaminya itu.
Mikoto menyambut mereka saat sampai dan langsung merangkul Naruto untuk masuk. Mereka mengobrol sebentar di kamar Naruto sebelum akhirnya Mikoto membiarkan pemuda manis berambut pirang itu mendapatkan istirahatnya. "Nanti Ibu bawakan makan malammu kemari. Kau istirahat saja, ya."
"Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan."
Mikoto menggelengkan kepada menandakan dia tidak keberatan sedikit pun. Ditinggal sendirian, Naruto membaringkan dirinya di tempat tidur dan mencoba untuk menyamankan diri. Ada beberapa hal yang tidak dia mengerti. Misalnya saja mengenai Sasuke, mengapa dia selalu merona dan terkadang jantungnya sedikit berdebar ketika Sasuke melakukan sesuatu yang manis padanya? Gaara selalu melakukannya juga dan Naruto tidak pernah merasakan hal yang aneh, hanya kehangatan. Apa yang membuat perlakuan Sasuke begitu berbeda? Apa yang membuat Sasuke berbeda?
"Naru, kau tidur?" Suara Itachi mengaburkan lamunannya. Pria yang lebih tinggi darinya itu masuk ke kamar sambil membawa tas yang berisi pakaian Naruto selama dia di rawat di rumah sakit. Naruto bangun dan mendudukan diri di tempat tidur dan Itachi ikut duduk bersamanya setelah meletakan tas tadi. "Kau masih lemas? Sebaiknya jangan dulu tidur, kau belum makan malam, kan?"
"Tidak, Kak. Aku hanya sedang berpikir."
"Mengenai apa?"
Tidak yakin kalau memberitahu Itachi yang sebenarnya adalah keputusan yang tepat atau tidak, Naruto tidak menjawab pertanyaan tersebut. "Kakak, boleh aku minta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Maukah Kakak menciumku?" Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Itachi saat mendengar kata-kata tersebut. Hanya dalam dua detik saja, satu pukulan manis mendarat di kepala Naruto. "Sakit. Kalau Kakak tidak mau ya tidak usah, tapi kenapa harus memukulku segala?"
"Sepertinya aku harus memberi tahu Ibu kalau si bodoh ini ternyata masih perlu dirawat. Ada gangguan di otaknya." Setelah mengakhiri kata-katanya, Itachi segera beranjak untuk memberitahu Mikoto. Naruto tentu saja menghentikannya dengan memeluknya dari belakang.
"Kakak, apa yang mau Kakak lakukan? Aku tidak mau pergi lagi ke rumah sakit!"
"Otakmu perlu diperbaiki. Jika tidak segera akan jadi semakin buruk nantinya."
"Sudah kubilang aku tidak mau! Dengarkan dulu maksudku! Maaf, aku berkata yang aneh-aneh, tapi maksudku bukan begitu."
Itachi menghentikan gerakannya dan berbalik untuk melihat iparnya. "Jelaskan."
Naruto sedikit menelan ludah saat melihat ekspresi Itachi dan melepaskan pelukannya. Dia mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengatakan hal bodoh semacam itu. Sekarang dia harus menjelaskan semuanya. "A-aku hanya ingin meyakinkan kalau Kakak sudah benar-benar memaafkanku."
"Lalu, mengapa harus ciuman? Aku ini bukan homo. Mungkin kau iya, tapi aku bukan."
"Ah ya, tentu saja aku tahu itu.. Hah? Apa maksud, Kakak?" Naruto menatap heran atas pernyataan Itachi tapi sang kakak tidak menunjukan tanda-tanda ingin menjelaskan. Naruto mengalihkan perhatiannya kembali ke pertanyaan Itachi sebelumnya. Dia harus mencari alasan yang masuk akal agar Itachi percaya padanya. "Hm, begini. Biasanya di keluargaku saat kami memaafkan seseorang kami selalu mencium. Tidak di bibir, kok. Hanya di kening atau di pipi saja. Gaara biasanya hanya menciumku di kening." Mata Itachi menyipit mendengar penjelasan Naruto. "Ta-tapi itu di keluargaku. Jika Kakak tidak mau tidak apa-apa, kok."
Tidak sepenuhnya bohong, kok. Memang terkadang Gaara atau ibunya akan mencium keningnya saat mereka meminta maaf tapi bukan karena itu tradisi, lebih kepada spontanitas saja. Naruto tidak mau sampai harus mengatakan bahwa sebenarnya dia hanya ingin mengetes jika Itachi yang menciumnya dia akan bereaksi sama ketika Sasuke yang melakukannya atau tidak. Mereka kan kakak adik, siapa tahu saja ada kesamaan.
"Alasan macam apa itu? Bodoh. Aku tidak mau menciummu dengan alasan apapun. Walaupun jika kau ini perempuan, aku tetap tidak mau melakukannya."
"Ahahaha," Naruto tertawa masam. Tapi dia bersyukur karena sepertinya Itachi menerima cerita yang dibuatnya. Jika Itachi tahu yang sebenarnya pasti dia akan menjadikannya bulan-bulanan lagi.
Sasuke masuk ke kamar sambil membawakan makan malam Naruto dengan Fugaku yang menyusul di belakangnya. Ayah dari para Uchiha itu mengambil kursi di ruangan itu dan duduk di samping Naruto yang masih duduk di tempat tidurnya. "Nak Naru, bagaimana keadaanmu? Maaf Ayah tidak bisa menjenguk saat kau di rumah sakit."
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku sudah baik-baik saja."
"Ayah dengar kau memiliki anemia. Kalau begitu jangan sampai kau lupa memakan obatmu lagi, ya."
Naruto merasa sedikit tidak enak karena harus berbohong lagi, tapi dia pun tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. "Iya, Ayah." Fugaku tersenyum dan meninggalkan mereka semua setelah menepuk pundak menantunya itu pelan.
Sasuke duduk di samping Naruto dan menaruh meja makannya di tempat tidur agar istrinya itu bisa mendapatkan makan malamnya. Dilihat dari gerak-deriknya, sepertinya Sasuke berniat untuk menyuapi Naruto. Mereka berdua terlihat begitu manis dan mesra karenanya Itachi memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Tapi sesaat sebelum dia akan membuka pintu untuk keluar, ide jahil muncul di otaknya.
"Oi, Sasuke." Sepasang suami istri itu pun melirik ke arahnya. "Sepertinya karena obrolan kita kemarin istrimu itu menjadi stres secara seksual. Sebelum kau datang dia memintaku untuk menciumnya, apa kau percaya itu? Untung saja aku ini bukan tipe perebut istri orang, apalagi dia istri adikku sendiri. Lakukanlah sesuatu padanya." Dengan kata terakhirnya Itachi keluar dari kamar.
Wajah Naruto sudah berubah menjadi sangat merah karena malu dan juga kesal. Dengan satu tarikan napas dia berteriak sekencang-kencangnya menyuarakan nama yang sudah terasa sangat familiar di lidahnya. "Kak Itachi!" Itachi memang tidak pernah bosan menggodanya dengan cara apapun. Naruto tidak yakin dia akan terbiasa dengan godaan tersebut meskipun sudah berulang kali mendapatkannya.
"Ehem." Naruto mengalihkan pandangannya kepada Sasuke dan mendapati Uchiha bungsu tersebut sedang menahan rona di wajahnya. "Uh, apakah yang dikatakan Kakak.."
"Jangan dengarkan Kak Itachi!" Naruto memotong Sasuke, atau lebih tepatnya berteriak ke arahnya. "Dia hanya mengada-ada seperti biasa. Aku tidak berpikiran seperti itu, sungguh!"
"Oke, oke, aku mengerti. Tidak perlu berteriak."
Naruto menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Sasuke hanya menjawab dengan 'hn' nya. Di detik berikutnya Sasuke mulai menyuapi Naruto yang dengan ragu menerima perlakuan manis yang diberikan. Wajah Sasuke terlihat begitu tenang sedangkan Naruto berusaha keras untuk mengendalikan degup jantungnya.
"Sasuke, kau sendiri sudah makan?"
"Belum." Sasuke menjawabnya dengan santai sambil menyodorkan sendokan berikutnya kepada Naruto. Naruto mengunyah makanannya dan setelah menelannya membuka mulutnya lagi untuk bicara.
"Kalau begitu biar aku makan sendiri saja. Kau pergi saja ke dapur dan makan bersama yang lainnya." Tangan Sasuke yang hendak menyuapinya lagi berhenti di udara dan menatap Naruto lekat. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi sorot matanya seakan berkata 'kau tidak suka aku di sini?' dan membuat Naruto salah tingkah. "Kalau kau belum lapar tidak apa-apa." Naruto berusaha untuk tidak menatap Sasuke di matanya.
Tiba-tiba saja Sasuke menyodorkan sendok yang dipegangnya ke pada Naruto, hanya saja arahnya terbalik. Naruto menatap sendok tersebut lalu menatap Sasuke tidak mengerti. "Kalau begitu suapi aku. Kita makan bersama saja."
Tidak pernah ada yang menyangka Naruto dapat menunjukkan reaksi seperti sekarang. Gugup, senang, malu dan bercampur bingung. Semua karena Sasuke. Perlahan Naruto mengambil sendok dari tangan Sasuke dan menjulurkannya mendekati mulut sang suami. Saat sudat berjarak satu senti Sasuke mendekat dan melahap makanan yang disodorkan kepadanya. Menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan saat ini membuat Naruto semakin tidak dapat mengontrol debaran di dadanya.
Mereka akhirnya saling menyuapi sampai semua makanan di piring habis. Naruto bersyukur saat akhirnya Sasuke keluar kamar untuk membawa piring yang kosong tersebut untuk dicuci karena dia tidak yakin akan bertahan beberapa menit lagi dalam suasana seperti tadi.
"Mengapa Sasuke begitu baik padaku?" Naruto menatap pintu kamarnya yang baru saja dilewati Sasuke keluar. Dia berharap jantungnya akan baik-baik saja jika dalam lima belas menit Sasuke memutuskan untuk kembali dan berbaring bersamanya untuk tidur malam ini.
