Makasih buat semua yang udah ngucapain selamat. *bungkuk kasih hormat* Ada yang ulang taun juga, ya? Selamat ya! *lambai-lambai*
Soal masalah suara kan sudah dibahas di chapter pertama. Naruto itu suaranya lembut tidak seperti laki-laki. Jangan bayangkan suara cempreng Naruto yang ada di anime ya. Untuk soal Fugaku aku buat dia sedikit misterius. Entah apa yang dia pikirkan hehehe.
Ap-apa? Masih kurang pa-panjang? Ini tiap chapter udah hampir 5000 words nya, masih kurang panjang? Mau segimana lagi? -_-
Hm, pairing buat Itachi dan Gaara ya. Mungkin ada mungkin ga hehehe. Nanti di beberapa chapter ke depan bakal ada chara baru loh. Tungguin aja. Siapa tau itu pairing buat mereka.
Perhatian! Di cerita ini kalian ga akan menemukan Sasuke yang teme atau brengsek itu. Jadi jangan heran ya kalau dia agak, agak loh ya, romantis.
Kemarin liat SasuNaru suap-suapan udah gereget. Gimana sama yang ini nih? Hehehe, silahkan dibaca chapter 8!
Naruto masih harus beristirahat di rumah meskipun sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Dia sendiri sudah tahu akan hal ini karena bukan pertama kalinya dia keluar dari bangunan putih tersebut, tapi tetap saja acara beristirahat ini membosankan baginya. Bukan hanya tidak diperbolehkan keluar rumah, untuk turun dari tempat tidur saja sulit sekali dengan Sasuke dan Mikoto yang selalu mengawasinya.
Saat sebelum waktunya bagi Sasuke untuk pergi ke kantor, dia akan melakukan segala hal bagi Naruto agar istrinya itu tidak perlu turun dari tempat tidur. Seperti membawakan sarapannya, menyiapkan obat dan air minum, atau hanya sekedar mengambilkan buku dari dalam lemari. Naruto sempat berpikir Sasuke bahkan akan mengikutinya sampai ke kamar mandi tapi ternyata kekhawatirannya itu tidak terjadi, syukurlah.
"Aku pergi dulu. Beristirahatlah dan jika butuh apa-apa panggil saja Ibu."
"Iya, aku tahu. Lagipula aku sudah jauh lebih baik, aku sudah bisa mulai beraktifitas seperti biasa."
Sasuke menatap ragu kepada Naruto tapi tidak membahasnya. "Jangan lupa minum obatmu. Aku pergi." Sasuke mengecup kening Naruto yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali dia hendak pergi ke kantor atau sebelum mereka berbaring untuk tidur.
Naruto mengucapkan selamat jalan dan menghela napas lega saat akhirnya dia ditinggal sendirian di dalam kamar. Perhatian Sasuke yang tertuju padanya beberapa hari ini membuatnya senang tapi Sasuke bisa terlalu khawatir. Apa karena dia pikir Naruto ini perempuan dan lemah karena itu dia merasa sangat perlu untuk menjaganya? Naruto tidak tahu. Tidak menyangka ternyata seorang Uchiha Sasuke bisa menunjukkan sikap yang seperti ini terhadap seseorang.
"Nak Naru, Sasuke dan yang lainnya sudah pergi. Kau mau menemani Ibu di dapur?"
Mikoto membuka pintu kamar dan mempersilahkan dirinya masuk. Naruto segera bangun dari tempat tidur saat melihat wajah ibu mertuanya dan juga bersemangat saat mendengar kabar yang disampaikan Mikoto. Bukannya dia tidak suka Sasuke berada di rumah, hanya saja dia baru bisa bebas berkeliaran di dalam rumah saat Sasuke tidak ada.
Awalnya Mikoto berada di pihak Sasuke dan mengawasi Naruto di rumah saat Uchiha bungsu itu harus bekerja. Tapi bukan Naruto namanya jika menyerah begitu saja. Meskipun tidak bisa meyakinkan Sasuke, setidaknya dia mendapatkan Mikoto berada di pihaknya setelah beberapa rengekan layaknya seorang anak kecil kepada ibunya. Naruto, kau yakin kau ini berusia dua puluh lima tahun?
"Aku ingin pergi keluar."
"Kalau itu Ibu tidak bisa mengijinkan. Kau harus bertanya pada Sasuke ya. Ibu tidak mau kena marah, bukan hanya Sasuke tapi Itachi pun pasti akan mengomel."
Naruto cemberut mendengar jawaban Mikoto. "Tapi aku bosan." Mikoto terkikik melihat tingkah pemuda di hadapannya ini. Mereka semua sudah dewasa tapi tetap saja anak kecil menurutnya.
Mikoto mengajarkan Naruto beberapa resep makanan baru dan juga menunjukkan beberapa hal yang Naruto belum sempat tahu mengenai keluarga Uchiha. Setelah itu Naruto membantu Mikoto mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, seperti mencuci, menjemur pakaian dan mengganti sprei. Di saat-saat seperti inilah Naruto berharap dia memiliki sebuah hobi yang dapat dia lakukan untuk mengurangi kejenuhannya. Dia sudah tidak bisa menonton koleksi dramanya lagi untuk menghabiskan waktu dan dia sudah tidak bisa lagi melakukan satu-satunya hobi yang pernah dia miliki.
Naruto jadi teringat masa-masa ketika dia masih bermain basket. Dia sedikit merindukan perasaan saat berada di tengah lapangan dan bertanding. Naruto menghela napas sambil terus melipat beberapa pakaian yang sudah bersih dan memasukkannya ke dalam keranjang. "Aku semakin merasa menjadi seperti seorang perempuan."
Komentarnya itu sukses membuat Mikoto kembali terkikik. Siapapun yang melihat apa yang sedang mereka lakukan sekarang tidak akan curiga kalau menantunya ini bukanlah seorang perempuan. Apalagi dengan rambut pirang Naruto yang sudah memanjang sampai melewati bahu, ditambah dengan wajah manisnya, tidak akan ada yang pernah menyangka kalau dia ini laki-laki.
Naruto berharap hari ini segera berakhir dan berganti esok. Setidaknya meskipun dia belum boleh pergi keluar, besok semuanya akan ada di rumah karena libur dan dia bisa menantang Itachi bermain catur. "Hari ini mereka bertiga akan pulang larut sepertinya. Kita tidak perlu menunggu mereka dan tidur duluan saja, nak Naru."
"Hm, baiklah."
Dengan sedikit lesu Naruto beranjak ke kamar. Lagi-lagi dia akan tidur sendirian. Maksudnya, saat Sasuke pulang nanti Naruto akan sudah tertidur. Dan biasanya saat pagi Sasuke selalu bangun lebih dulu darinya. Menurutnya jika tidak melihat Sasuke berbaring bersama dengannya, rasanya sama seperti tidur sendirian.
Tiba-tiba wajah Naruto memerah karena pikirannya sendiri. Apa barusan dia berpikir ingin tidur bersama dengan Sasuke? Seperti suami-istri yang seharusnya? Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghapus pemikiran barusan. Dia berganti pakaian dengan kimono tidurnya dan berbaring untuk tidur, tentu setelah menelan pil obatnya terlebih dahulu. Sebelum terlelap dia sempat mempertanyakan apa yang sedang Sasuke lakukan saat ini. Tentu saja sedang berkerja di kantor tapi tetap saja Naruto penasaran. Dan dengan pertanyaan yang tanpa jawaban itu pun Naruto tertidur.
"Ayo cepat, Sasuke. Kita akan terlambat."
"Kita masih ada waktu setengah jam lagi, Kak. Tenang saja."
"Iya, tapi kau masih belum berpakaian. Ayo cepat, kutunggu di dapur."
Naruto membuka kedua mata birunya karena ribut-ribut yang dia dengar. Dia menatap jam yang ada di dinding kamar dan dilihatnya waktu baru menunjukkan pukul enam pagi. Perlahan Naruto bangun dari posisi tidurnya dan melihat Sasuke yang sedang merapikan diri di depan cermin.
"Pagi sekali, Sasuke. Kau mau kemana?"
Tangan Sasuke yang tengah mengancingkan kemejanya terhenti sejenak dan dia pun berpaling ke arah tempat tidur. "Naru, kau sudah bangun? Ada janji dengan klien dan tempatnya ada di perbatasan kota, karena itu kami harus pergi lebih awal. Apa aku membangunkanmu?"
Naruto menggeleng dan turun dari tempat tidur. "Tidak. Biar kubantu." Awalnya Sasuke menolak dengan alasan istrinya tersebut masih harus beristirahat tapi Naruto meyakinkan bahwa dia sudah baik-baik saja dan bahwa Sasuke hanya berlebihan mengkhawatirkannya. Naruto mengambil dasi Sasuke dan memakaikannya. Selama jari-jari manis itu sibuk dengan dasinya, Sasuke hanya menatap wajah manis sang istri yang terlihat sedikit lucu dengan rambut bangun tidurnya. Naruto sedikit menepuk pundak Sasuke saat dia selesai dan memperhatikan penampilan suaminya. "Kau tampan, Sasuke."
Di detik berikutnya saat dia sadar akan apa yang baru saja dikatakannya, Naruto memalingkan wajah menyembunyikan semburat merah muda di pipinya. "Terima kasih," ucap Sasuke yang juga mulai menunjukkan sedikit warna di pipinya. Sasuke mengambil jas miliknya dan memakainya. Setelah rapi dia pun melangkah menuju dapur diikuti oleh Naruto di belakangnya. Mereka yang sudah ada di dapur menatap dengan pandangan 'akhirnya' saat melihat Naruto masuk bersama Sasuke. Mereka sudah bertanya-tanya kapan akhirnya Uchiha bungsu itu akan membiarkan Naruto turun dari tempat tidurnya.
Pagi itu sedikit sibuk karena ketiga pria akan pergi cukup jauh dan Mikoto membantu menyiapkan apa saja yang akan mereka butuhkan selama perjalanan. Seperti layaknya seorang istri sekaligus ibu, Mikoto mengabsen satu persatu perlengkapan mereka. Itachi mencibir mengatakan kalau mereka hanya akan pergi ke perbatasan kota dan bukannya ke negeri lain. Dia mendapatkan satu pukulan di kepalanya dari sang ibu tercinta karena bicara seperti itu.
Setelah semuanya siap mereka semua pun berangkat. Naruto mengantar mereka ke pintu depan seperti biasanya dan mengucapkan selamat jalan. Sasuke memandang istrinya dari jauh sebelum masuk ke mobil sedikit lebih lama membuat Itachi penasaran. "Ada apa, Sasuke?"
Sasuke akhirnya melepaskan pandangannya dari Naruto dan memasuki mobil. "Tidak ada. Ayo, kita berangkat." Itachi tidak berkata apa-apa lagi dan memasuki mobil. Fugaku yang menyetir kali ini dan dalam satu menit mereka pun melaju.
Naruto kembali ke dapur dan duduk di kursinya. Mikoto yang sedang mencuci piring melihat menantunya dari balik punggungnya. Naruto sedang duduk dengan memangku dagunya menggunakan kedua tangannya. Wajahnya terlihat bosan dan bibirnya cemberut. Di detik berikutnya pemuda berambut pirang itu menghela napas dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Sepertinya ini sudah melewati limitnya. "Nak Naru, jangan bersikap seperti itu. Kau membuat Ibu ingin memberimu boneka."
Naruto cemberut ke arah punggung Mikoto yang masih sibuk mencuci piring. Tidak membalas kata-kata sang Ibu, Naruto hanya berdiam diri masih dengan ekspresi yang sama. Mikoto meletakkan piring terakhir dan ikut duduk bersama Naruto. Dia menyentil gemas hidung Naruto membuat pemuda tersebut mengerutkan hidungnya. "Ibu, aku bukan anak kecil."
Mikoto terkikik lagi. "Terlihat seperti itu bagi Ibu."
Setelah beberapa tarikan dari sang ibu akhirnya Naruto pun meninggalkan meja dapur dan beranjak ke ruangan lain. Hari ini dia tidak bersemangat melakukan apapun. Terlalu lama diam di rumah ternyata membuat tubuhnya menjadi malas. Padahal dia sudah menantikan hari ini dimana semuanya akan ada di rumah, tapi ternyata mereka harus pergi bahkan di hari Minggu, ketiganya. Dia harus berterima kasih pada Sasuke nanti, berkat dialah Naruto menjadi seperti ini sekarang.
Karena itulah saat para pria pulang Naruto hanya menyambut Itachi, secara khusus. Bahkan saat makan malam pun Naruto tidak melirik Sasuke sedikit pun. Sasuke sendiri menyadari sikap tak acuh sang istri tapi tidak mengatakan apapun. Bahkan sampai saat mereka berbaring untuk tidur pun tidak ada kata-kata selamat malam ataupun kecupan. Keduanya pergi ke alam tidur begitu saja.
Keesokan harinya Naruto masih berniat untuk mendiamkan Sasuke, tapi begitu kagetnya dia ternyata sang suami mengambil cuti hari ini dan akan tinggal bersamanya di rumah. Walaupun pada awalnya dia masih ingin menjalankan rencana awal, tapi semua itu gagal ketika Sasuke bergabung dengannya duduk di sofa ruang tengah.
Saat itu Naruto sedang mencari-cari acara yang bagus di televisi. Sasuke tiba-tiba datang dengan membawa semangkuk salad dan duduk di sampingnya. Suara dari televisi dan suara Sasuke yang sedang mengunyah saja yang mulanya terdengar. Tapi saat Naruto menemukan satu acara, tanpa dia sadari dia begitu bersemangat dan lupa akan kemarahannya.
"Kau suka basket, Naru?" tanya Sasuke di tengah kunyahannya.
"Tidak, aku sangat sangat menyukainya." Setiap kali berbicara tentang basket, Naruto selalu melupakan hal lainnya. "Aku dulu pernah menjadi pemain inti saat di SMU."
"Hm. Posisimu apa?"
Dan dimulai lah percakapan panjang mengenai basket. Selama pertandingan di televisi berlangsung, kedua pasangan suami-istri tersebut saling memberikan komentar atau hanya sekedar bertanya mengenai satu sama lain yang berhubungan dengan olehraga yang disukai Naruto tersebut. Naruto begitu menikmati percakapan mereka dan sedikit memaafkan Sasuke. Semua berlanjut sampai ketika tidak ada jawaban dari Sasuke atas pertanyaan Naruto.
Naruto melirik ke samping dan mendapati ternyata Sasuke tertidur masih dengan tangannya yang memegang mangkuk salad yang kini sudah kosong. Dari wajahnya terlihat dia kelelahan sekali. Napasnya teratur dan wajahnya terlihat damai. Naruto tersenyum melihatnya. Melihatnya seperti ini Naruto tidak dapat terus marah padanya.
Dia meraih mangkuk di tangan Sasuke dan menaruhnya di atas meja. Perlahan Naruto menarik tubuh Sasuke tanpa membangunkannya dan membaringkannya di sofa dengan menggunakan pahanya sebagai bantal. Naruto kembali melayangkan pandangannya ke arah televisi yang masih memutar pertandingan basket, tapi kali ini tangannya sambil sesekali mengelus rambut raven Sasuke.
Entah kapan Naruto tidak ingat, mungkin saat pertandingan hampir selesai, atau saat sudah selesai dia tidak yakin, kesadarannya menurun dan Naruto pun ikut tertidur. Padahal hari masih pagi tapi mendapati Sasuke yang tertidur pulas di pangkuannya membuatnya ikut mengantuk. Yang membuatnya sadar adalah sebuat kilatan cahaya yang sedikit menyilaukannya dan perlahan kedua mata birunya pun terbuka. Yang pertama kali dia lihat adalah sepasang mata hitam yang menatap lurus padanya.
Sepertinya Sasuke sendiri baru saja terbangun dilihat dari caranya mengedipkan mata yang masih sedikit mengantuk. "Berapa lama aku tertidur?"
Naruto melirik ke arah jam yang ada di ruangan itu sebelum menjawab pertanyaan Sasuke. "Sekitar dua jam. Aku sendiri juga tertidur."
"Maaf, sudah tidur dipangkuanmu." Sasuke bangkit dari posisinya dan mendudukan diri sambil merapikan rambutnya yang dirasa berantakan.
"Tidak apa. Kau terlihat kelelahan sekali, maka dari itu aku biarkan." Sasuke berterima kasih padanya dan beranjak dari sofa. Dia mengulurkan tangan kepada Naruto yang dibalas dengan tatapan bingung oleh orang yang dimaksud.
"Sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita ke dapur."
Naruto hanya bisa mengatakan 'oh' dan meraih tangan Sasuke. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan ke dapur dan disana tentunya sudah ada Mikoto yang sedang menyiapkan makanan. Ibu dari kakak-adik Uchiha itu sedang menahan senyum di bibirnya saat melihat mereka berdua masuk bersama. Naruto tidak begitu mengindahkannya dan duduk di kursinya di samping Sasuke.
Mereka makan dalam diam. Bukan karena mood yang buruk, hanya karena merasa tidak ada yang perlu dibicarakan saja. Setelah selesai Mikoto meminta Naruto untuk melakukan hal lain dan tidak perlu membantunya. Dengan gontai Naruto melangkahkan kakinya menuju kamar. Tidak ada hal yang bisa dia lakukan atau ingin dia lakukan saat ini. Ditambah lagi dengan adanya Sasuke di rumah, Naruto tahu bahwa dia tidak bisa melakukan sesuatu sesukanya. Setelah meminum pilnya dia melemparkan diri ke atas tempat tidur dan menutup mata, tapi walaupun begitu Naruto tidak berniat untuk tidur.
"Naru, kau mau tidur?" Suara Sasuke terdengar sangat jelas di telinga Naruto. Dari berat yang dia rasakan di tempat tidur dapat dipastikan bahwa Sasuke baru saja duduk di sampingnya walaupun Naruto tidak melihatnya.
"Memang kenapa? Tidak ada yang bisa kulakukan juga."
Nada suaranya terdengar seperti anak kecil yang merengek. Entah mengapa Naruto bisa merasakan bahwa saat ini Sasuke sedang tersenyum ke arahnya padahal dia masih menutup kedua matanya. "Hm, sayang sekali. Padahal aku berniat untuk mengajakmu kencan."
Kata-kata Sasuke berhasil membuat Naruto bangkit dari posisi tidurnya dalam sekejap. Dia duduk menghadap sang raven dan dengan berbinar-binar menatap kedua onyx Sasuke. "Sungguh? Kau tidak sedang bercanda kan, Sasuke?"
"Apa aku terlihat bercanda? Kalau kau tidak mau dan ingin berbaring saja, aku.." Sasuke tidak berhasil menyelesaikan kata-katanya berkat pelukan dari Naruto yang tidak dia duga.
"Sasuke, tentu saja aku mau! Kau baik sekali Sasuke, aku mencintaimu! Kalau begitu aku akan bersiap dulu." Naruto melepaskan pelukannya dan dalam sekejap sudah mengacak-acak lemari dan berlari menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sasuke yang masih duduk di atas tempat tidur tertegun dengan apa yang baru saja dilakukan dan dikatakan Naruto padanya. Dia tahu bahwa Naruto mengatakannya hanya karena dia terlalu senang dengan ide kencan mereka, Sasuke mengerti. Tapi entah mengapa ketika kata-kata itu meluncur dari bibir Naruto, Sasuke merasakan sesuatu di dadanya.
Naruto keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri-seri dan sudah rapi. Sasuke melupakan keresahannya tadi saat melihat senyum yang tersungging di bibir Naruto. "Kau sudah siap?"
"Sudah. Ayo pergi, Sasuke!" Suaranya terdengar begitu bersemangat dan bahkan Naruto mendahului Sasuke ke pintu depan rumah setelah berpamitan pada Mikoto. "Kau mau mengajakku kemana, Sasuke?"
Sebenarnya Sasuke lagi-lagi tidak mempersiapkan hal tersebut. Dia hanya merasa bersalah ketika melihat Naruto yang biasanya bersemangat menjadi lesu karena Sasuke sudah melarangnya untuk pergi keluar rumah selama hampir seminggu. Karena itulah dia berinisiatif untuk mengajaknya keluar hari ini. Mereka berdua berjalan menuju halte bis terdekat dan menaiki bis menuju kota. Sasuke masih belum mengatakan kemana tujuan mereka, tapi Naruto teralalu senang untuk mempermasalahkannya. Yang terpenting hari ini Sasuke mengajaknya pergi keluar, itu saja sudah cukup baginya.
Saat memandang dari jendela bis Sasuke melihat sesuatu yang menarik. Dia memberhentikan bis dan mengajak Naruto turun. Mereka belum sampai di kota dan kenyataan tersebut membuat Naruto sedikit bingung. Tapi saat Sasuke menunjukkan tujuan mereka wajah Naruto dalam sekejap berubah berseri.
Sekelompok anak SMP sedang berlatih basket di lapangan. Mereka terlihat begitu menikmati permainan mereka. Beberapa orang yang kemungkinan penduduk setempat duduk di pinggir lapangan menonton sambil sesekali menyemangati mereka. Naruto sangat merindukan suasana seperti ini.
Sasuke mengambil tangannya dan menggandengnya. "Ayo kita lihat lebih dekat." Naruto hanya mengangguk dan membiarkan dirinya dituntun oleh Sasuke. Suara dari bola yang sedang di dribble ditambah suara teriakkan dari para penonton yang kebanyakan orang tua itu membuat Naruto bersemangat.
Seorang anak yang sedang bermain mencoba untuk melakukan lay up tapi berhasil digagalkan oleh lawan yang memukul bola dengan keras sampai keluar lapangan. Bola yang terpental menggelinding ke dekat kaki Naruto. Dia mengambil bola tersebut dan berjalan ke dekat garis lapang. "Kak, lempar bolanya Kak!" Salah satu anak berteriak kepada Naruto yang memegang bola.
Naruto tersenyum dan mendribble bolanya sebentar. Dia memasang kuda-kuda untuk menembak dan dengan indahnya melempar bola tersebut ke arah ring. Semua menyaksikan bagaimana bola tersebut masuk dengan mulusnya ke dalam ring. Beberapa anak bahkan berteriak takjub melihat lemparan indah barusan.
Naruto berbalik dan berjalan ke arah Sasuke yang sedang tersenyum kearahnya. Di mata Naruto senyuman itu terlihat begitu tampan dan mempesona. "Tembakan bagus."
"Aku hampir yakin tidak akan masuk. Menembak dengan menggunakan pakaian ini sulit juga rupanya. Sudah lama juga sejak aku menyentuh bola basket. Ah, aku rindu." Pernyataan Naruto mendapatkan tawa geli dari Sasuke. Istrinya ternyata sangat manis dan dia bersyukur Naruto mendapatkan keceriannya kembali.
Mereka lanjut menonton pertandingan sampai selesai. Selanjutnya Sasuke mengajak Naruto pergi ke taman kota untuk menghabiskan sore mereka. Dulu Sasuke sering main kemari dengan Itachi, tapi itu saat mereka masih sangat kecil. Mereka biasanya akan menghabiskan waktu dengan main kejar-kejaran atau sekedar makan es krim. Dan hari ini pun Sasuke berniat untuk membelikannya untuk Naruto.
"Kau mau rasa apa?"
"Hm, vanila saja. Aku tidak menyangka kau tipe yang suka makan es krim," ejek Naruto. Sasuke menyerahkan satu ice cone kepada Naruto dan dia sendiri membeli satu dengan rasa yang sama. Mereka menikmatinya di salah satu bangku di taman.
"Ya, mungkin karena Kakak. Dia sering sekali membelikanku es krim dulu jadi seperti terbiasa."
Naruto terkikik geli membayangkan Sasuke kecil dan Itachi muda yang bermain di taman ini. Pasti senang memiliki saudara yang bisa diajak berbagi. Naruto adalah putra tunggal Kushina dan Minato, dia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki saudara. Tentu Gaara sudah seperti saudara baginya tapi tetap saja akan berbeda jika dia benar-benar memiliki saudara kandung.
Tanpa disadari Naruto sedikit melamun dan membiarkan es di tangannya meleleh. Karena panik dia segera menghabiskan es krim di tangannya dengan cepat, Sasuke takjub melihatnya. Berkat usahanya itu wajahnya sekarang sedikit berantakan, ditambah dengan tangannya yang ikut lengket karena lelehan es tadi.
Sasuke yang juga sudah menghabiskan esnya mengambil sapu tangan miliknya dan meraih wajah Naruto. "Kemari, biar aku bersihkan." Naruto hanya bisa memandang dan membiarkan Sasuke membersihkan wajahnya.
Jarak mereka begitu dekat dan Naruto dapat melihat bulu mata Sasuke yang lentik dengan jelas. Merasa diperhatikan, Sasuke menghentikan pekerjaannya dan menatap sang istri. Sepertinya Naruto sedikit melamun dilihat dari sinar matanya. Dalam lamunannya, Naruto melihat lurus ke arah mata hitam Sasuke yang terasa begitu dalam. Saking dalamnya dia merasa seperti tertarik oleh kegelapan mata Sasuke. Dia tidak keberatan jika harus tenggelam di dalamnya. Ditatap seperti itu, Sasuke merasakan sesuatu yang membuatnya berpikir kalau sosok dihadapannya ini begitu manis.
Entah siapa yang memulai, mungkin kedua-duanya, tanpa sadar jarak diantara mereka semakin berkurang. Tangan kiri Sasuke masih menyentuh dagu Naruto sedang tangan kanannya yang memegang sapu tangan masih tertahan di pipi Naruto. Naruto sendiri tanpa sadar menggerakkan tangannya untuk menyentuh dada Sasuke dan mencengkram bajunya.
"Sasuke." Suara Naruto yang lirih menyadarkan mereka berdua. Keduanya kaget melihat jarak mereka hanya tinggal beberapa senti lagi dan segera menjauhkan diri dari satu sama lain dengan wajah yang merona. "Um, aku ke toilet dulu untuk mencuci tangan."
"Oh, baiklah." Dalam sekejap Naruto sudah berlari menuju kamar mandi yang merupakan fasilitas di taman tersebut. Sasuke mencoba menenangkan diri selama Naruto tidak ada. "Apa yang baru saja aku coba lakukan?"
Baru saja dia mencoba mencium Naruto, di bibir, di tempat publik, di depan semua orang. Sasuke mengacak-acak rambutnya pelan menyadari perbuatannya. Pikirannya kacau sekali, tapi mengingat raut Naruto yang menatapnya tadi membuat dia tanpa sadar memang ingin menciumnya. Baru kali ini dia tertarik untuk mencium seseorang.
"Permisi, kau sendirian? Boleh ikut duduk disini?" Dua orang gadis berdiri di hadapan Sasuke sambil terlihat malu-malu. Karena di sampingnya kosong maka Sasuke mempersilahkan mereka duduk tanpa maksud apapun. Kedua gadis tersebut mencoba untuk membuat percakapan dengannya tapi Sasuke tidak begitu memperhatikan. Dia hanya menjawab semua pertanyaan dengan 'Hn' nya. Dalam hatinya dia ingin Naruto cepat datang.
Di sisi lain taman Naruto yang sudah selesai mencuci tangannya dari lelehan es tadi sedang berjalan kembali menuju tempat dimana Sasuke menunggunya. Langkahnya tertahan saat melihat ada dua orang gadis yang sedang duduk bersama suaminya dan mereka terlihat genit sekali. Naruto tidak suka melihatnya tapi sedikit lega karena Sasuke sendiri terlihat tidak terlalu senang dengan keberadaan mereka. Saat akan berjalan mendekat ada seseorang yang menghalangi jalannya. Seorang pria berdiri di hadapannya sambil tersenyum kearahnya.
"Selamat sore, Nona. Boleh kutemani?"
Kekesalannya sudah tidak bisa disembunyikan lagi, Naruto hanya ingin kembali ke tempat Sasuke dan menghabiskan sore mereka bersama sebelum pulang. Karena itu dia menatap kesal ke arah pria di hadapannya karena telah menghalanginya. "Maaf, aku sedang bersama seseorang."
Naruto berjalan melewati pria tersebut tapi ditahan. "Tunggu, apa dia temanmu? Boleh jika aku bergabung?"
"Aku sudah bosan dengan hal seperti ini jadi biar kukatakan dengan jelas. Aku tidak suka padamu, jadi tinggalkan aku sendiri." Naruto mencoba melepaskan diri dari si pria tapi ternyata tidak mudah. "Kau keras kepala sekali."
"Aku tidak bermaksud jahat, hanya ingin mengobrol denganmu. Apa tidak boleh?"
Ingin sekali Naruto berteriak pada pria tersebut agar dia mengerti tapi ini di tempat umum. Oh dia tidak peduli, dia akan melakukannya. Baru saja Naruto membuka mulutnya untuk bicara, sebuah pelukan di pinggangnya menghentikannya. Ada yang memeluknya dari belakang, Naruto berencana untuk menghajar siapapun yang berani memeluknya seperti. Tapi saat orang tersebut menempelkan dagunya di pundak Naruto dan berbicara, tubuhnya tiba-tiba menegang dan jantungnya berdebar.
"Ada perlu apa dengan istriku?" Suara Sasuke terdengar kesal dan begitu dekat di telinganya.
Si pria seakan tidak percaya menatap mereka berdua. "Istri?"
"Ya." Sasuke meraih tangan Naruto yang mengenakan cincin pernikahan mereka dan mengecupnya mesra. "Istriku."
Entah apa yang dipikirkan Sasuke, tapi suara yang begitu posesif darinya membuat Naruto semakin tidak bisa mengatur degup jantungnya. Mengerti yang dimaksud Sasuke, pria tersebut pun pergi begitu juga kedua gadis tadi yang ternyata mendengarkan percakapan mereka. Sasuke menghela napas dan melepaskan tangan Naruto.
"Terima kasih sudah menolong. Kupikir pria barusan tidak akan pergi."
Terdengar Sasuke menghela napas sekali lagi. "Mengapa kau selalu menarik perhatian para pria kemana pun kau pergi?"
"Kau sendiri juga begitu." Yang Naruto maksudkan adalah kedua gadis yang tadi mencoba mendekati Sasuke saat dia tidak ada.
"Hm, kau lihat ya."
Naruto melirik ke belakang dari pundaknya dan saat mata mereka saling menatap tiba-tiba saja mereka berdua tertawa bersamaan. Sasuke melonggarkan pelukannya di pinggang Naruto tapi tidak penah melepaskannya. Mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar lagi di taman sebelum kembali ke rumah.
"Sasuke, kenapa masih memelukku? Orang-orang memperhatikan kita."
Memang benar apa yang dikatakan Naruto. Setiap kali mereka berjalan orang-orang memperhatikan mereka. Tapi itu karena mereka pikir mereka berdua adalah pasangan yang serasi dan begitu mesra. "Tidak apa-apa, dengan begini tidak akan ada yang menggodamu lagi. Lagipula, kemungkinan mereka hanya berpikir kalau kita ini serasi."
"Menurutmu kita serasi?"
Sasuke berpikir sejenak sebelum menjawab. "Hm, kupikir kita serasi. Aku ini tampan dan kau manis, Naru."
Telinga Naruto hampir tidak percaya apa yang baru saja Sasuke katakan. Menurut Sasuke dia ini manis? Tentu saja Sasuke tidak tahu bahwa dia ini laki-laki, tapi tetap saja. Naruto segera mengendalikan diri dan memukul dada Sasuke main-main. "Kau ini narsis sekali." Sasuke hanya tertawa geli karenanya.
Setelah waktu menunjukkan pukul lima sore, Sasuke memutuskan ini saatnya untuk pulang. Naruto tidak keberatan dan mengikuti saran sang suami. Dia sendiri sudah sedikit kelelahan dengan semua perjalanan siang ini. Saat kembali ke rumah, Itachi dan Fugaku juga baru saja tiba dari kantor. Mereka saling bertegur sapa dan berjalan menuju kamar masing-masing untuk berganti pakaian.
Sesaat sebelum menaiki tangga menuju kamarnya, Itachi menghentikan kedua adiknya yang baru saja akan membuka pintu kamar mereka. "Ada apa, Kak?" Naruto yang menjawab.
"Sepertinya tangan Sasuke nyaman sekali berada di pinggangmu, Naru. Atau sebaliknya?"
Dan baru mereka berdua sadari bahwa sejak tadi Sasuke memang masih belum melepaskan rangkulannya dari pinggang Naruto. Karena sudah berjam-jam mereka berjalan seperti ini masing-masing sudah merasa nyaman dan merasa wajar-wajar saja. Dalam seketika Sasuke menarik tangannya dan segera memasuki kamar. Naruto juga yang biasanya membalas kata-kata Itachi kali ini hanya diam dan mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakang mereka.
Itachi terkikik sambil menaiki tangga. Saat melewati kamar kedua orangtuanya pintunya terbuka dan Fugaku yang ada di dalam bertanya apa yang membuat Itachi tertawa seperti itu. Itachi menggeleng sambil membuka pintu kamarnya sendiri. "Kedua adikku manis sekali."
Di dalam kamar Naruto langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sementara Sasuke duduk di kursi dekat jendela sambil melamun. Dia bersyukur dapat mengembalikan keceriaan Naruto dengan mengajaknya kencan. Meskipun begitu ada beberapa hal yang belum dia mengerti. Seperti mengapa dia mencoba mencium Naruto. Lalu saat melihat seseorang mencoba menggoda istrinya Sasuke tidak suka melihatnya. Bukan rasa tidak suka yang biasanya dia rasakan saat seseorang mengganggu salah satu anggota keluarganya, tapi lebih seperti seseorang yang tidak suka jika barang miliknya disentuh orang. Apakah dia cemburu?
Naruto keluar dari kamar mandi dan mempersilahkan Sasuke untuk memakainya. Membiarkan pertanyaan tadi tetap tak terjawab, Sasuke bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi. Naruto menyiapkan baju ganti Sasuke seperti biasa dan menaruhnya dia atas tempat tidur. Saat sedang mengeringkan rambutnya telepon genggamnya berdering.
Naruto melihat siapa yang meneleponnya dan tersenyum saat melihat nama yang terpampang di layar. Tombol terima pun dipencetnya dan mulai berbicara.
"Halo, Gaara."
"Halo, Naru. Bagaimana kabarmu? Kudengar hari ini Sasuke mengajakmu kencan."
"Eh, darimana kau tahu?"
"Jadi, bagaimana kencannya?"
"Sejak kapan kau jadi memaksa begini, Gaara?" Tidak ada jawaban dari Gaara. Sebenarnya Naruto tahu sejak kapan, tentu saja setelah Itachi dan sahabatnya itu mengenal satu sama lain. Otak jahil Itachi sudah menular kepada Gaara. "Sasuke mengajakku menonton pertandingan basket."
"Benarkah? Baik sekali Sasuke. Kau pasti senang, Naru. Kau tidak ikut main, kan? "
"Tentu saja tidak, walaupun sebenarnya ingin. Hanya melihat mereka bermain saja membuatku iri."
"Suatu hari kalau kau bisa main lagi, aku bersedia menjadi lawanmu." Tersimpan masksud lain dalam kata-kata Gaara dan Naruto mengerti. Tentu saja.
"Tentu. Setelah itu Sasuke mengajakku makan es krim di taman kota. Kami cukup bersenang-senang hari ini."
"Kau terdengar gembira, syukurlah. Baiklah kalau begitu, aku harus menutup teleponnya. Sampaikan salamku pada Sasuke."
"Oke. Dah, Gaara."
"Dah."
Senyum kembali muncul di bibir Naruto. Bisa bermain lagi basket bersama Gaara adalah salah satu dari impian yang dia miliki. Walau dia tidak tahu apakah impian tersebut bisa terkabul tapi Naruto menginginkan sekali lagi berada di lapangan dan bermain bersama sahabatnya.
Sasuke keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah tempat tidur. "Tadi bicara dengan siapa?" Dia mengambil baju ganti yang sudah disiapkan oleh Naruto.
"Tadi Gaara menelepon. Dia menitipkan salamnya padamu."
"Hm." Sasuke mengenakan pakaiannya sambil membelakangi Naruto yang masih terduduk di tempat tidur. Naruto hendak mengambil sesuatu dari lemari kecil di samping tempat tidurnya saat dia menyadari ada sebuah bingkai foto yang pelum pernah dia lihat sebelumnya. Dia meraih benda tersebut dan terbelalak saat melihat foto yang terpampang disana.
"E-eh?!"
Suara Naruto mengagetkannya dan Sasuke berbalik untuk bertanya. "Ada apa, Naru?"
"Ini! Lihat ini!" Naruto menunjuk bingkai foto yang sedang dipegangnya. Sasuke tidak mengerti mengapa sebuah foto bisa mengagetkan Naruto seperti itu, tapi saat dia melihat sendiri foto apa itu dia pun sama keget nya dengan Naruto. "Kenapa bisa?!"
Itu adalah foto dimana Naruto sedang tertidur di sofa ruang tengah dengan posisi terduduk. Di pangkuangnnya ada Sasuke yang juga sedang tertidur dan menjadikuan paha Naruto sebagai bantalnya. Tidak diragukan lagi, foto ini pasti diambil pagi ini. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya dan Sasuke meneriakan nama orang tersebut di detik berikutnya.
"Ibu!"
