Title : It's Not All About Money
Pairing : HanHun, KaiHun, KaiSoo, etc
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Luhan, Do Kyungsoo, Kim Junmyeon
Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship
Rate : T
.
.
.
Maaf ya untuk update-an yang lama! Semoga masih ada yang nunggu kelanjutan ff ini ya^^ Makasih untuk para readers dan reviewers yang udah meluangkan waktu untuk ff ini hehe... Dan maaf ya klo chapter ini pendek.. Happy reading!
.
.
.
Mata bulat itu terlalu fokus memperhatikan guru yang tengah berbicara panjang lebar mengenai teori relativitas di depan kelas. Ia bahkan sudah muak. Namun tak ada pilihan lain selain tetap berada di dalam kelas ketimbang harus luntang-lantung bersama siswa-siswa berandalan yang selalu melarikan diri saat jam pelajaran berlangsung. Ia bukan tipe pembangkang yang rela mempertaruhkan nilai demi kegiatan bodoh yang menurutnya tidak berguna. Namun tak dapat dipungkiri jika ia begitu bosan. Matanya berpaling keluar jendela hingga sesuatu yang mencolok kini menarik perhatian. Sebuah bola terus bergerak memutar pada kaki lihai itu.
'Kebiasaan.' Batinnya saat pria yang kini tengah menendang bola dengan keras terus saja bermain tanpa mempedulikan sengatan matahari siang itu yang kini tepat berada di atas kepalanya. Ia ingin meralat beberapa kalimat yang ada di pikirannya. Luntang-lantung bersama siswa berandalan saat jam pelajaran berlangsung. Ia rasa pria di luar sana bukanlah siswa berandalan. Namun seorang tuan muda yang nyaris mendekati kata sempurna. Mata bulat itu terus memperhatikan sosok tampannya dengan kedua tangan menumpu dagu. Tenggelam begitu dalam pada alam bawah sadarnya seolah tak akan pernah menemukan kembali permukaan nyata. Tak ada lagi perhatian yang tercurah pada papan tulis di depannya. Tak ada lagi coretan-coretan rumus tak terbaca pada buku bergarisnya. Ia hanya terdiam. Lebih tepatnya—terpesona—pada pria yang tak lain adalah...
Kekasihnya.
PRANG!
Suara pecahan kaca dan juga teriakan seluruh siswa membantunya kembali ke alam nyata. Ia tahu-tahu sudah ditarik oleh seseorang hingga tubuhnya kini berada jauh dari letak jendela yang terterobos bola yang saat ini menggelinding entah kemana. Satu hal yang menjadi pusat perhatian saat ini—pria tan yang tengah berdiri dengan tatapan datarnya diluar sana.
.
.
.
"Kau baik-baik saja kan?" tatapan khawatir itu terus saja diberikan oleh pria berparas lembut di depannya. Melihat wajah Sehun yang terlihat cemas membuatnya tak bisa diam. Namun Sehun tak terlalu menghiraukan pertanyaan Luhan. Jemarinya sibuk mengetik keyword lamaran pekerjaan pada search bar di layar laptopnya. Mencari side job adalah hal yang sudah biasa untuknya. Yang saat ini bersemayam di otaknya hanya mengkalkulasi uang yang didapat dari seluruh pekerjaan menjadi tutor selama ini. Dan itu masih belum cukup untuk kehidupannya di masa depan. Ia tak bisa jika harus selalu bergantung kepada Luhan. Toh Luhan belum tentu akan hidup selamanya bersama Sehun. Terkecuali jika mereka memang berjodoh.
"Oh Sehun." Panggilan Luhan membuat Sehun kini berhenti berkutat dengan dunianya. Nada bicara Luhan sudah mulai berubah. Dingin dan sedikit memaksa. Sehun memang cukup peka dan segera mengalihkan seluruh perhatiannya pada pria yang kini tengah duduk di depannya.
"Hyung, kubilang aku baik-baik saja. Kau tak perlu terlalu mencemaskanku." Sehun berusaha meyakinkan Luhan dengan tatapan matanya. Namun tampaknya pria berambut karamel itu masih belum bisa diyakinkan hanya dengan sebuah tatapan saja.
"Bukankah sudah pernah kubilang? Jika kau ada masalah dengan seluruh biaya yang harus kau tanggung cukup katakan saja padaku! Kita sudah menjalani hubungan ini selama 3 tahun dan kau masih tak juga terbuka seluruhnya padaku?" Luhan terlihat begitu emosi. Wajahnya memerah dan Sehun segera saja menggeser kursinya ke belakang lalu berjalan dengan perlahan ke arah Luhan kemudian duduk di sampingnya.
"Hyung~" Sehun mengangkat tangannya kemudian menyentuh pipi Luhan degan telapak lembutnya.
"Kau tahu? Aku hanya tak ingin menjadi bebanmu terus. Kau bahkan membayar seluruh sewa apartemenku, menanggung biaya makanku, dan biaya-biaya lainnya selama ini dan itu lebih dari cukup untukku. Kau terlalu baik. Aku tak ingin terus menjadi benalu dalam hidup Hyung. Dan aku takut jika suatu hari nanti aku akan berakhir dengan—"
Grep
Tangan Luhan dengan cepat memeluk tubuh Sehun dan membawa ia ke dalam dekapannya. Sehun sudah terbiasa dengan sebuah pelukan tiba-tiba kekasihnya.
"Jangan pernah mengatakan hal itu. Kau tak akan mengecewakanku kan? Kau tak akan pernah meninggalkanku kan?" Luhan mendekap tubuh itu dengan erat. Perlahan tangan Sehun melingkar di punggung Luhan. Mengusapnya dengan pelan yang diselingi dengan tepukan halus.
"Apa menurutmu aku akan melakukannya? Apa kau menginginkanku menjadi orang tak tahu diri? Aku tak akan mungkin melakukan hal bodoh seperti itu. Tidak akan pernah." Sehun semakin melingkarkan tangannya dengan erat di tubuh Luhan. Namun pria itu masih tak juga bergeming. Namun beberapa saat kemudian bisa Sehun rasakan sebuah anggukan pelan di bahunya membuatnya sedikit geli kemudian terkekeh kecil. Mata Sehun terlihat begitu berbinar. Ia menjauhkan tubuhnya dari dekapan kekasih malaikatnya itu kemudian bergumam pelan.
"Gomawo." Yang disusul dengan kecupan singkat di pipi Luhan. Sehun kembali ke kursinya kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi. Mencari pekerjaan lain yang bisa Sehun kerjakan. Luhan tak akan pernah bisa mengatakan tidak pada kekasihnya. Ia hanya menatap Sehun dengan lembut tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Drrrttt... Drrrtttt...
Sebuah nomor tak dikenal tiba-tiba muncul di layar ponsel Sehun yang tergeletak di atas meja. Keduanya kini saling bertatapan.
"Angkat saja." Titah Luhan pada sosok Sehun yang kini tengah menggigit bibir bawahnya. Ia pun meraih ponsel tersebut kemudian mengangkatnya.
"Yeoboseyo? Ne, saya Oh Sehun." Terdengar beberapa jeda sebelumnya dahi Sehun sedikit berkerut.
"J-jinjja? Saya tak pernah memasukkan lamaran kepada Anda." Ujarnya hati-hati. Luhan bergumam pelan, bertanya tentang apa yang kini tengah mereka bicarakan.
"Ah, keuraeyo. Saya akan datang ke tempat Anda. Pukul 4 sore? Ne, algesseumnida. Kamsahamnida!" Sehun terlihat membungkuk entah kepada siapa. Luhan bersiap melempar pertanyaan padanya saat Sehun sudah memutuskan panggilan mereka.
"Benar-benar aneh. Padahal sudah kubilang jika aku tak pernah melamar pekerjaan padanya." Ia bergumam pada ponselnya kemudian melemparkan tatapannya pada Luhan. Yang diberi tatapan hanya menautkan alisnya seolah menuntut sebuah penjelasan.
"Nuguya?"
Sehun hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Yang jelas orang ini menyuruhku untuk menemuinya d kawasan Gangnam." Sehun hanya menggigit bibir bawahnya ragu. Terlihat raut wajah Luhan yang berubah menjadi lebih serius.
"Kau tak boleh datang." Luhan memberi tatapan tajamnya pada Sehun. Ia tahu jika jawaban Luhan pasti akan seperti itu. Kekasih mana yang tak khawatir jika namjachingu-nya mungkin sedang berada dalam bahaya. Dan Luhan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Sehun.
"Tapi Hyung—"
"Tak ada tapi. Kau tak perlu datang." Belum sempat Sehun berbicara lebih banyak, Luhan sudah memotong ucapannya. Nada bicaranya terdengar begitu dingin.
"Baiklah." Putus Sehun akhirnya. Luhan mungkin memiliki feeling yang lebih peka dibanding Sehun dan ia pun sebenarnya takut jika seseorang yang menghubunginya tadi hanya seorang penipu yang mungkin saja memiliki niat buruk padanya.
.
.
.
Ini pertama kalinya sebuah hukuman dijatuhkan kepadanya. Tangannya menggerakkan gagang kain pel dengan kasar kemudian berakhir dengan menceburkan kain pel tanpa perasaan ke dalam ember hingga air di dalamnya membasahi lantai dan membuatnya mengerang kesal.
"Shit!" umpatnya sambil menendang ember dan membuat lantai toilet semakin basah. Ia meremas rambutnya yang sudah basah oleh keringat. Semua ini gara-gara bola sialan yang tak punya mata! *kaki lo yang gak punya mata!*
"Marah-marah tak akan menyelesaikan masalah." Sebuah suara menginterupsi pekerjaannya. Pria yang tengah diberi hukuman itu menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok pria dengan tubuh yang lebih kecil darinya tengah bersandar pada dinding di pintu masuk toilet.
"Lebih baik kau membantuku." Ujar pria itu dingin lalu kembali menggenggam gagang kain pel kemudian memerasnya dengan malas. Tangannya mulai menggerakkan kembali kain pel sembarang. Pria mungil yang masih berdiam diri hanya memutar bola matanya.
"Bagaimana bisa bersih jika melakukan hal begitu saja kau tak bisa?" pria bermata bulat itu kini melangkah maju mendekati pria di depannya lalu meraih gagang kain pel dari tangan yang sama sekali tak memiliki kemampuan untuk mengepel lantai.
"Biar aku saja."
"Ani. Kau tidak becus." Ucapnya ketus. Ia mulai mengepel lantai tanpa meghiraukan pria yang kini sudah bersender pada dinding sambil menatap intens dirinya.
"Kau memang selalu bisa diandalkan. Apa aku harus membayarmu?" Komentarnya diikuti dengan seringai penuh arti.
"Menurutmu, Tuan Kim Jongin?" pria mungil itu memutar bola matanya dengan kesal kemudian membersihkan lantai tepat di samping kaki pria yang ia sebut Kim Jongin.
"Aku akan membayarmu dengan cinta."
"Cinta tak bisa membiayai hidupku."
"Tapi aku membelimu dengan cinta." Kalimat cheesy yang diucapkan Jongin membuat lawan bicaranya semakin mual. Ia menghentikan pekerjaannya kemudian mengangkat kepalanya dengan memberi tatapan kau-benar-benar-menjijikkan pada pria yang kini tengah menahan tawanya itu.
"Geumane. Atau aku akan menyirammu dengan ini." Ia menunjuk ember berisi air keruh dengan kakinya. Jongin hanya terkekeh pelan.
"Kau selalu saja galak padaku. Bukankah setiap kau menatapku dari jauh kau selalu terpesona padaku, Kyungsoo-ah?" ucapan Jongin membuat pria bernama Kyungsoo itu hampir tersedak ludahnya sendiri. Kemudian ia segera memalingkan wajahnya jauh-jauh ke arah lain, asalkan matanya tak bertemu dengan permata obsidian itu.
"Lihat? Wajahmu sudah memerah." Telunjuk Jongin tahu-tahu sudah menusuki pipi tembam itu dengan gemas.
"Hei, berhenti mengatakan hal-hal seperti itu. Atau aku akan—" tenggorokan Kyungsoo terasa tercekat saat dirasa tangan Jongin kini sudah melingkar di perutnya, memeluknya dari belakang.
"Akan apa eum?" Jongin memejamkan matanya dengan dagu bertumpu pada pundak sempit itu.
"Aku selalu menyukai aroma parfummu." ia menghirup udara di sekitar leher Kyungsoo hingga pria mungil itu bergedik geli.
"J-Jongin-ah, ini di sekolah, bukan di apartemenku." Kyungsoo berusaha melepaskan tangan Jongin yang melingkar erat di perutnya. Namun Jongin tak mau menyerah begitu saja dan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Shireooo... aku ingin tetap seperti ini." Rengeknya menjadi sedikit manja. Kyungsoo sudah tak tahan dengan sikap kekasihnya yang hampir saja membunuhnya tadi pagi.
"Aisshh kau bahkan melupakan kesalahanmu! Menyebalkan!" Kyungsoo setengah berteriak sambil menghentakkan kakinya cukup keras.
"Mianhae~ Kau tahu? Bahkan bola saja terpesona padamu." Jongin mulai mengeluarkan kata-kata menjijikannya lagi.
"Tapi kau hampir membunuhku tadi! Jika saja Junmyeon tak menarikku maka aku akan mati terkena pecahan kaca!" geram Kyungsoo dan seketika Jongin semakin menenggelamkan wajahnya di pundak Kyungsoo.
"Sssshhhhh..." desisan dari bibir Jongin memaksa Kyungsoo untuk berhenti mengoceh lagi.
"EHEM! MAAF, INI SEKOLAH! BUKAN HOTEL!" suara bass di belakang mereka membuat keduanya terkejut dan segera menjauhkan diri masing-masing lalu berbalik ke sumber suara. Seorang pria dengan tinggi diatas rata-rata membuat Jongin melemparkan tatapan kesalnya pada teman yang menurutnya oh-begitu mengganggu waktunya bersama Kyungsoo-nya lalu mendorong bahu tegap itu sedikit kasar.
"Neo— Isshhh kau benar-benar pengganggu." Desis Jongin tepat disamping Chanyeol. Pria tinggi itu hanya berdecak pelan kemudian menuntun Jongin untuk mengikuti arah matanya. Dilihatnya wajah Kyungsoo yang sudah merah padam karena menahan malu.
"Kalian benar-benar issshhh— AKU PERGI!" Kyungsoo tiba-tiba saja meninggikan suaranya kemudian menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai yang masih basah lalu pergi sambil setengah berlari.
"Ini semua gara-gara kau! Baby-ku jadi marah!" Jongin menarik-narik ujung blazer Chanyeol sebagai tanda protesnya. Hingga pada akhirnya Chanyeol merasa kesal kemudian menunjukkan wajah risihnya.
"Hentikan! Lain kali akan kucarikan hotel berbintang 5 untukmu agar kau dan juga Kyungsoo bisa melakukan hal sesuka hatimu!" Chanyeol melangkah masuk ke dalam salah satu toilet dengan sebuah senyuman jahil yang membuat Jongin mengumpat padanya.
"Brengsek!"
.
.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 lewat 15 menit. Awan mendung terlihat menggantung sore itu. Sehun kini berdiri. Tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi higga ia tak mampu melihat apa yang terkurung di tengah besi raksasa itu.
Pada akhirnya ia harus berbohong pada Luhan. Sehun berubah pikiran. Mungkin saja ini adalah jalannya untuk mendapat uang lebih banyak demi kehidupannya ke depan. Dengan catatan jika memang keadaan memaksanya untuk melarikan diri, maka ia akan pergi.
Jemari rampingnya bergerak mendekati bel di samping pagar. Telunjuknya menekan dengan perlahan benda berwarna putih itu hingga tiba-tiba sebuah suara yang berasal dari interkom membuatnya harus sedikit mendekat.
"Oh Sehun imnida." Jawabnya saat suara dari interkom bertanya tentang dirinya. Belum satu detik ia selesai berbicara, pintu pagar berwarna hitam itu terbuka secara otomatis dan membuat Sehun dengan ragu melangkahkan kakinya masuk ke dalam area tertutup itu. Dan seketika itu pula ia menghentikan langkahnya. Satu hal yang ia rasakan saat ini—takjub. 'Apa di Seoul benar-benar ada rumah seperti ini?' batinnya. Ia bahkan tak akan mampu membeli rumah semacam ini seumur hidupnya. Orangtuanya tak sekaya itu. Bahkan gaji seumur hidup menjadi tutor pun tak akan mampu menghasilkan sebuah istana megah yang berdiri kokoh di depannya kini. Melihat pintu pagarnya saja Sehun sudah merasa pusing. Ditambah dengan halaman luas seperti lapangan golf dengan ditumbuhi pohon-pohon rindang sepanjang jalan menuju rumah utama di depannya membuatnya mengingat rumah orangtua Luhan yang ia kunjungi tahun lalu. Ah! Ia baru ingat jika Luhan juga memiiki rumah seperti di negeri dongeng dan itu membuat Sehun tercengang untuk pertama kalinya.
Pintu utama berbahan baku jati dengan cat putih gading terbuka tak terlalu lebar, menampakkan sosok maid dengan pakaian putih berpadu merah mudanya lalu membungkuk dalam ke arah Sehun.
"Selamat sore, Tuan. Sajangnim sudah menunggu Anda." Ucapnya sopan kemudian mengisyaratkan Sehun agar mengikutinya. Wanita yang terlihat sebaya dengannya membawa Sehun ke sebuah tempat yang merupakan ruang utama di rumah tersebut. Satu set sofa berwarna abu-abu tua terpajang rapi di tengah ruangan. Seorang pria paruh baya dengan wajah yang masih terlihat segar dan juga tampan tengah terduduk di salah satu sofa tunggal dengan tangan yang sibuk membuka dokumen tebal. Pria tersebut menyadari kedatangan Sehun dan salah satu maid-nya kemudian segera menghentikan aktivitasnya. Ia berdiri dengan mata mengobservasi Sehun dan diakhiri dengan senyuman hangat seperti biasa yang selalu ia tunjukkan pada siapapun.
"Oh Sehun?" ia mencoba menebak sosok pemuda cantik di depannya. Sehun membungkuk sejenak kemudian membalas senyuman pria tersebut dengan sedikit ragu.
"N-ne, Oh Sehun imnida. Bangapseumnida." Jawabnya gugup. Junmyeon mempersilahkannya untuk duduk dan Sehun pun menjatuhkan bokongnya mau tak mau.
"OK, kita langsung mulai saja." Pria itu memakai kacamatanya yang tergeletak dia atas meja.
"Tuan, boleh aku bertanya sesuatu sebelumnya?" Sehun akhirnya menginterupsi. Ia begitu gatal untuk bertanya mengenai cerita bagaimana ia bisa mengetahui Sehun.
"Ne?"
Sehun menggigit bibir bawahnya yang sudah menjadi kebiasaan. "Begini—"
"Ah! Ya ya aku mengerti!" terdengar tawa pria di depannya yang menurut Sehun terkesan tiba-tiba. Sehun hanya mengusap tengkuknya. Matanya yang tertuju pada lantai marmer itu kini tak lepas menatap wajah pria paruh baya di depannya.
"Aku hampir lupa. Aku Kim Junmyeon. Kau sudah tahu pekerjaanmu kan?" pertanyaan Junmyeon membuat Sehun bersiap memberi pertanyaan kembali kepada pria itu.
"Ne. Saya hanya diberitahu jika saya harus menjadi tutor disini. Namun sebelumnya saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda. Kenapa Anda tiba-tiba memanggil saya kesini? Lalu darimana Anda tahu mengenai saya? Padahal saya sama sekali tidak pernah memasukkan lamaran pekerjaan apapun kepada Anda. Maaf, jika pertanyaan saya terkesan lancang." Akhirnya Sehun mengutarakan isi hatinya. Pria di depannya mengangguk paham. Ia meraih cangkir berisi kopi panas di depannya lalu menyesapnya dengan pelan.
"Kau bisa bertanya hal itu pada Jongdae nanti. Aku hanya membutuhkan orang yag cerdas dan juga mau bekerja sama denganku lalu dia membawaku padamu. Dan kudengar kau begitu berprestasi, machi? Jadi.." Junmyeon menyodorkan sebuah map berwarna biru muda kepada Sehun. "Bacalah." Titahnya lalu Sehun menerima map tersebut dan membukanya perlahan. Matanya menelusuri kata demi kata yang tercetak di lembaran kertas di dalamnya. Keningnya sedikit berkerut kemudian dia menghentikan mengeja setiap kalimat yang tertulis disana. Ia mendongak, menatap Junmyeon dengan tanda tanya besar.
"Surat perjanjian?" Sehun semakin tak mengerti. Ini pertama kalinya ia harus menandatangani surat perjanjian saat menjadi tutor. Menurutnya orangtua ini terlalu berlebihan.
"Bacalah sampai akhir."
Sehun membuka lembaran kedua dan ia seketika membulatkan matanya kemudian menatap angka di depannya tak percaya.
"A-apa ini? Gajiku... Apa kau tak salah mengetik, Tuan?" Sehun menunjuk sebuah baris masih dengan tangan yang bergetar karena kaget. Junmyeon menerawang.
"Sekeras apapun usaha dia untuk memecatmu, kau jangan pernah terpancing olehnya. Dia tak punya hak untuk memecatmu. Hanya aku yang boleh memberhentikanmu dari pekerjaan ini. Aku percaya jika kau bisa melakukannya." Tutur Junmyeon yang hanya ditanggapi Sehun dengan tatapan masih tak percaya.
"Ini benar-benar...tidak mungkin." Ia menelan salivanya saat membaca ulang nominal uang yang akan ia terima. Junmyeon tersenyum begitu lembut. Ia berjalan menuju meja kerjanya kemudian mengeluarkan sebuah amplop tebal dari lacinya.
"Kau akan menerima gaji pertamamu hari ini."
"Ji-jinjja?" Sehun semakin terkejut kemudian menatap kertas di depannya dengan bimbang.
'Apa aku harus menyutujuinya? Tentu saja Oh Sehun! Kau benar-benar bodoh jika menolak pekerjaan ini!' pergolakan batin terjadi di dalam dirinya.
"Bagaimana?"
Sehun menarik nafasnya dalam. Tangannya bersiap menandatangani surat perjanjian tersebut kemudian mendongak dengan mantap.
"Baiklah. Saya bersedia."
"Abeoji, bukankah sudah kubilang jika aku tak butuh tutor?!" tiba-tiba sebuah suara rendah menginterupsi mereka berdua. Keduanya menoleh dan mendapati seorang pria dengan rambut barantakan dan masih mengenakan seragam sekolahnya tengah memberi tatapan tajamnya ke arah mereka.
To be Continued
