Pair Itachi siapa ya? Pair Gaara siapa ya? Hihihi.. Tadinya sih mau fokus ke SasuNaru aja, tapi dipikir-pikir kasian juga tu Itachi udah tua masih aja jomblo. Tapi masih jauh kok, buat sekarang kita fokus dulu aja ya ke SasuNaru.
M-preg? Hm, ga deh kayaknya. Aku udah punya rencana buat mereka semua soalnya. Kalau dibikin m-preg takutnya malah jadi ga nyambung, maaf ya.
Kemarin kan udah manis-manisan, mesra-mesraan, gereget-geregetan. Nah, mulai chapter ini siapin hati buat yang lain. Bakal ada sedikit tragedi(?). Mulai dari sini bakal sedikit serius ceritanya, sampai serius banget. Jadi sekali lagi siapkan hati kalian.
Ya, buat jelasnya baca aja ya. Chapter 9 lewat.
Hubungan Itachi dan Naruto sudah kembali normal, bahkan menjadi lebih baik. Sekarang di setiap kesempatan mereka akan menghabiskan waktu berdua, baik itu dengan bertanding, mengobrol, menonton atau pun bertengkar. Kesehatan Naruto pun sudah membaik dan dia terlihat seperti layaknya seseorang yang sehat, meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Kencannya dengan Sasuke waktu lalu sepertinya juga memberikan sedikit pertolongan akan kesembuhannya.
Hanya satu hal yang sedikit mengganggu Itachi, sepertinya ada sesuatu yang Naruto pikirkan akhir-akhir ini dan membuatnya murung. Dia tidak bertanya karena menunggu sampai pemuda itu mengatakannya sendiri, tapi setelah lewat satu minggu dia akhirnya risih juga.
"Apa yang ada di dalam otakmu itu? Katakan saja."
Naruto mengalihkan pandangannya dari papan catur ke Itachi. Itachi menatapnya dengan datar seperti biasa dan menunggu jawaban apapun dari iparnya itu. Naruto kembali mengarahkan perhatiannya ke papan catur dan memajukan bidaknya. "Aku tidak mengerti apa maksud Kakak. Jika mencoba mengalihkan perhatianku agar Kakak bisa menang maaf saja, itu tidak akan berhasil."
Itachi memutar matanya bosan. "Aku bisa menang dengan mudah darimu, tidak perlu memakai cara kotor seperti itu. Aku tahu kau memikirkan sesuatu akhir-akhir ini. Sebelum sesuatu terjadi akibat kecerobohanmu lagi, katakan saja apa yang ada di dalam kepalamu itu."
Kali ini Naruto menatap Itachi dalam. Itachi memang jenius Naruto tahu itu, tapi dia tidak menyangka bahwa kakak iparnya itu memperhatikannya. Merasa tidak ada salahnya bercerita pada Itachi, Naruto pun menbuka mulut. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk Sasuke."
Itachi mengerutkan dahi. Sasuke? Mengapa Naruto harus melakukan sesuatu untuk Sasuke? "Apa maksudmu? Apa ini ada hubungannya dengan obrolan kita waktu itu?" Sesuatu tiba-tiba terlintas di pikiran Itachi dan dia menyeringai. "Jangan katakan kau ingin menyerang adikku. Aku tidak tahu bahwa ternyata kau ini benar-benar tertarik dengan sesama jenis. Ups, aku lupa. Kau bahkan rela menyandang status sebagai istri meskipun kau ini laki-laki, tentu saja seperti itu bukan."
Suhu wajah Naruto naik karena kesal dan juga malu. Lagi-lagi Itachi mengatakan hal-hal seperti ini, hobinya memang aneh. "Bukan seperti itu! Kakak ini." Naruto mengangkat tangannya untuk memukul Itachi tapi saat melihat sang kakak tertawa geli dia mengurungkan niatnya. Jarang sekali melihat Itachi tertawa dan menurutnya pria di hadapannya ini harus lebih sering melakukannya. Setelah tenang Naruto kembali membuka mulutnya. "Sasuke sudah banyak berbuat baik padaku tapi aku belum sempat membalasnya. Padahal dia sendiri yang mengatakan bahwa hubungan ini hanya status semata, tapi dia memperlakukanku dengan sangat baik. Aku merasa berhutang budi."
Naruto terlihat begitu tulus dan Itachi tersentuh melihatnya. Pada dasarnya pemuda berambut pirang ini memang berhati lembut dan peduli, hanya saja selama ini dia tidak memiliki seseorang untuk mencurahkan kepeduliannya itu kecuali keluarganya dan juga Gaara. Karena itu ketika ada orang lain yang peduli padanya dia tidak begitu mengerti harus berbuat apa. Meskipun begitu bukan berarti Itachi berhenti menggodanya. "Dia kan selalu menciumu di kening. Kau cium saja dia sebagai balasan. Tapi mungkin di bibir?" ucap Itachi sambil menyeringai jahil.
Kali ini Naruto benar-benar memukul Itachi dengan bantal yang kebetulan ada di sana sekeras yang dia bisa. Tentu saja menghindari mengenai papan catur yang ada di hadapan mereka agar tidak mengganggu permainan. "Bisa berhenti bercanda tidak? Aku ini serius!"
"Aku tahu kau serius. Tapi rona di wajahmu itu juga serius." Naruto memukulinya lagi dan Itachi hanya terkikik geli disela-sela usahanya menghentikan aksi ganas sang ipar. Setelah semuanya tenang, Itachi bertanya dan kali ini dengan nada serius. "Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan?"
"Entahlah, aku sendiri bingung. Selama bertahun-tahun aku hanya memiliki Gaara untuk berbagi tapi dia tidak pernah menuntut apapun dariku. Karena itu aku tidak begitu mengerti harus berbuat apa ketika ingin membalas kebaikan seseorang."
"Hm, ternyata kau ini polos sekali rupanya. Tidak kusangka. Apa kau yakin kau ini berusia dua puluh lima tahun?" Naruto membuang muka atas pernyataan tersebut. Itachi berpikir sejenak dan dia mengingat sesuatu. "Satu bulan lagi adalah ulang tahun Sasuke. Mungkin kau bisa memberikan sesuatu padanya."
Mata biru Naruto berbinar-binar saat mendengarnya. "Benarkah? Kakak tidak bohong?"
"Untuk apa aku berbohong. Kau bisa tanyakan pada Ibu jika tidak percaya." Tentu saja dia percaya, Naruto hanya terlalu bersemangat dan ingin memastikan. "Kau masih memiliki waktu untuk memikirkan apa yang ingin aku lakukan atau berikan di hari itu. Untuk sekarang, kita memiliki permainan untuk diselesaikan. Jika kau menang mungkin saja aku bisa membantumu mencari tahu apa yang Sasuke inginkan."
Naruto mengangguk dengan semangat. Akhirnya dia dapat melakukan sesuatu untuk Sasuke dan Itachi berniat untuk membantunya. Sayang sekali kali ini dia kalah lagi dan harus menunggu sampai permainan selanjutnya.
Tidak disangka mencari hadiah untuk seseorang akan sesulit ini. Terakhir kali dia memberikan kado untuk seseorang adalah sewaktu dia SMP dan itu sudah lama sekali. Dia juga tidak begitu tahu selera Sasuke. Dia hanya tahu sedikit hal yang sempat Sasuke beritahu padanya karena sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan masing-masing. Belum lagi dia telah kalah berturut-turut dari Itachi selama dua Minggu. Seringai jahil Itachi begitu menjengkelkan dan Naruto tidak tahan melihatnya.
"Jika ingin tahu kalahkan aku dulu. Aku sudah menjalankan tugasku, tugasmu adalah membuatku mengatakannya." Ingin sekali dia memukul Itachi saat itu.
Menghela napas untuk kesekian kalinya Naruto pun mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya. Naruto adalah salah satu pemilik dari kafe yang Gaara kelola dan tentu saja dia juga mengerjakan beberapa hal untuk membantu bisnis tersebut. Yang dia lakukan adalah memberikan pendapat dari laporan yang Gaara berikan setiap bulannya. Dia juga yang pertama kali mencicipi menu baru di kafe sebelum mulai diluncurkan. Naruto juga yang akan membaca semua surat di kotak saran dan menyampaikan hasilnya setelah dia rangkum dan pilah kepada Gaara. Hanya pekerjaan kecil karena Gaara tidak ingin terlalu membebaninya.
Setiap bulan dia akan mendapatkan gaji yang langsung dikirim ke rekeningnya. Dia tidak pernah menyentuh uang tersebut karena akan dipakai untuk biaya operasinya jika suatu hari dia memutuskan untuk menjalaninya. Tapi sepertinya untuk gajinya bulan ini dia akan memakainya untuk pertama kalinya. Sebenarnya uang operasi itu tidak perlu karena Sakura mengatakan dia akan mebebaskannya dari biaya, tapi Naruto tidak bisa menerimanya dan mendesak untuk tetap membayar.
Tinggal satu minggu lagi dan Naruto semakin kehilangan waktu. Hari ini dia bertekad untuk membuat Itachi mengatakan apa yang diketahuinya mengenai Sasuke. Itachi tidak hentinya melemparkan senyum jahilnya selama permainan berlangsung. Dan akhirnya Naruto memenangkan permainan setelah berjuang selama tiga minggu. "Sekarang katakan padaku apa yang Sasuke inginkan."
Naruto begitu bersemangat untuk mendengarkan apa yang akan Itachi katakan sampai dia hampir melompat ke arah si sulung Uchiha dan memaksanya untuk cepat bicara. "Tenang, akan kuberitahu. Jika tidak mengenalmu, aku pasti akan menyangka kau ini adalah seorang gadis yang sedang jatuh cinta."
Semburat merah mewarnai pipi Naruto. "Kakak ini bicara apa? Sembarangan saja kalau bicara. Ayo cepat katakan." Dia terus memaksa Itachi yang masih saja mengerjainya. Dia memang tidak sabar ingin tahu apa yang Itachi ketahui tapi sebagian karena ingin menyembunyikan debaran di dadanya.
"Apa apa ini? Naru terlihat bersemangat sekali." Sasuke muncul dan bergabung bersama mereka di ruang tengah dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Dia melihat papan catur di atas meja dan mengerti bahwa Naruto baru saja memenangkan permainan. "Naru, kau menang? Kali ini kau minta apa dari Kakak?"
Bukan menjawab pertanyaan Sasuke, Itachi malah memberikan pertanyaan pada adiknya itu. "Sasuke, apa kau tahu? Naru sedang jatuh cinta."
Seketika Naruto pun menyerang Itachi dan mencoba menutup mulut cerewetnya itu. Sasuke pun disuguhi pertandingan gulat yang dibintangi kakak dan istrinya secara langsung. Sayang bagi Naruto, Itachi jauh lebih kuat darinya dan berhasil mengunci kedua tangannya dan dengan penuh kemenangan dia menduduki punggung iparnya agar tidak bisa lari. "Lepas, Kak! Kakak bodoh! Sadist!"
"Oh, begitu caramu memohon? Oi Sasuke, ternyata istrimu ini tidak tahu sopan santun ya. Yang namanya gadis itu seharusnya manis jika sedang jatuh cinta, bukanya brutal seperti ini."
"Aargh, Kak Itachi bodoh! Bicara seenaknya lagi. Awas ya, nanti jika aku bebas akan aku robek mulut Kakak."
"Sudah berani mengancam rupanya." Itachi menekan tangan Naruto yang dia kunci sedikit menyebabkan iparnya itu meringis kesakitan. Itachi hanya memiliki beberapa detik saja untuk menikmati kemenangannya karena Sasuke segera menolong Naruto untuk bebas dari siksaan Itachi.
Naruto berterima kasih pada Sasuke dan segera berlindung di belakangnya jika Itachi tiba-tiba berniat untuk menyiksanya lagi. Pergelangan tangannya sedikit sakit tapi tidak bisa dibandingkan dengan daadnya yang sejak tadi tidak berhenti berdebar walau tidak jelas mengapa. "Kakak ini, tidak seharusnya memperlakukan seorang gadis seperti itu."
Itachi mendecakkan lidahnya dan tanganya terlipat di depan dadanya. "Sasuke, Sasuke. Dia ini tidak pantas disebut sebagai seorang gadis, dilihat dari kelakuannya tadi. Kau sendiri belum pernah memastikannya, bukan? Darimana kau tahu dia ini benar-benar seorang gadis?"
Bukan hanya Naruto yang berubah merah kali ini, tapi Sasuke juga. Mata onyxnya menatap kesal ke arah Itachi. Kakaknya ini selalu saja mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Tanpa berkata apa-apa lagi Sasuke menarik Naruto untuk pergi dari Itachi. Dengan santai pria berambut agak panjang itu hanya menatap kedua pasangan muda tersebut pergi. Dalam hati dia sedikit senang melihat emosi yang ditunjukkan oleh adiknya. Ini pertama kalinya dia melihat Sasuke menunjukkan kelembutan terhadap seseorang.
Tanpa disadari Sasuke, dia masih menarik Naruto di belakangnya dan sekarang berada di halaman belakang rumah. Sasuke banyak menghabiskan waktunya di sini saat perlu berpikir atau membuat sketsa. Tidak ada tempat lain yang lebih bisa menenangkannya selain di sini. "Sasuke?"
Suara Naruto menyadarkannya dan menyadari dia menggenggam tangan Naruto. Segera Sasuke melepaskannya dan Naruto menarik tangannya yang masih sedikit sakit karena dikunci oleh Itachi. "Maaf, aku tidak sadar sudah menarikmu. Kau tidak apa-apa?" Sasuke berharap dia tidak terlalu keras menarik tangan Naruto tadi.
"Tidak. Baru kali ini aku melihat Sasuke kesal, khususnya ke Kak Itachi."
Sasuke menghela napas dan mendudukkan diri di teras. "Entahlah, tapi Kakak keterlaluan tadi. Tidak seharusnya dia menyakitimu seperti itu. Bercanda atau pun tidak, itu tetap tidak pantas. Aku tidak suka saat melihatmu disakiti seperti itu."
Kikikan dari Naruto membuat Sasuke berpaling ke arahnya dengan tatapan penasaran. "Lagi-lagi kau terdengar seperti suami yang posesif." Naruto kembali terkikik ketika melihat ekspresi wajah Sasuke yang menatapnya dengan satu alis yang terangkat. Setelah berhenti tertawa, Naruto ikut duduk bersama Sasuke. Mereka mengobrol cukup lama dan kali ini suasananya terasa lebih akrab dengan ketika mereka pertama mengobrol dulu. Bahkan sekarang mereka saling melemparkan candaan dan Sasuke sempat tertawa saat mendengar satu lelucon yang Naruto lemparkan. Suara yang begitu renyah didengar dan sesuatu yang sudah lama hilang dari pemuda tampan tersebut. Jika Naruto sudah lupa bagaimana caranya menangis maka bisa dikatakan Sasuke lupa bagaimana caranya tertawa lepas.
Naruto sangat senang bisa menghadirkan tawa tersebut di bibir Sasuke. Dia merasa sangat bahagia dan kebahagian itu berlanjut hingga keesokan harinya. Setelah para pria pergi ke kantor, dengan semangat Naruto meminta ijin kepada Mikoto untuk pergi ke tempat Gaara. Awalnya Nyonya Uchiha itu tidak begitu setuju untuk membiarkan menantunya pergi sendirian, tapi karena Naruto memaksa dan terlihat begitu bersemangat Mikoto tidak sampai hati menolaknya.
Hanya butuh waktu lima belas menit baginya untuk bersiap-siap dan segera meluncur ke kafe. Gaara begitu terkejut ketika melihat sahabatnya itu muncul dihadapannya dengan senyum yang begitu lebar. "Kau sendirian, Naru?"
"Hari ini aku ingin meminta gajiku."
Jika melihat tingkat sahabatnya yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum itu sedikit aneh maka pernyataan Naruto barusan itu lebih membuatnya penasaran lagi. "Untuk apa?"
"Aku ingin membeli hadiah untuk Sasuke."
Semalam Itachi sudah memberitahunya apa yang Sasuke inginkan atau setidaknya yang dia butuhkan. Naruto berniat untuk membelikannya hari ini karena dia begitu bersemangat dan tidak sabar untuk membelinya. Walaupun Sasuke berulang tahun nanti Sabtu tapi tidak ada salahnya dia mempersiapkannya dari sekarang. Gaara memberikan apa yang Naruto minta dan menyerahkannya dalam sebuah amplop. "Lalu kau akan membelinya di mana?"
"Aku berencana untuk pergi ke kota dan melihat-lihat di sana."
"Sendirian? Apa tidak sebaiknya aku menemanimu?"
"Dan meninggalkan kafe? Tidak perlu, aku pergi sendiri saja." Sinar mata Gaara menyorotkan kekhawatiran. Dia tahu apa yang sering terjadi jika membiarkan sahabatnya itu pergi sendirian. Suka atau tidak, penampilan Naruto itu mengundang banyak pria iseng karena dia begitu manis dengan kimononya dan terlihat lemah. Jika bukan Gaara yang melindunginya lalu siapa lagi? "Ayolah, lagipula banyak orang di sana. Aku janji akan berhati-hati dan akan menelepon jika ada apa-apa. Lagipula aku ini bukan anak kecil."
Gaara mendengus kesal. "Ya, sudah. Tapi ingat untuk menghubungiku. Mengapa tidak minta Bibi untuk mengantarmu saja, sih?"
Naruto hanya menggeleng sambil tersenyum jahil. Dia melambaikan tangan kepada Gaara dan segera pergi menuju pusat kota. Kali ini dia ingin melakukan sesuatu sendiri karena hanya akan berarti jika semuanya dia yang lakukan. Ini adalah balas budinya kepada Sasuke, dia tidak ingin bantuan orang lain. Naruto berkeliling di dalam mall dengan sesekali beristirahat agar tidak terlalu capek. Setelah satu jam mencari dia mendapatkan salah satu barang yang dia inginkan. Senyum manis tidak luput dari bibirnya saat memikirkan ekspresi wajah Sasuke ketika menerima hadiah darinya ini.
Masih ada satu benda lagi yang ingin dia cari dan Naruto melanjutkan pencariannya. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang pundaknya. Seorang pria yang cukup tinggi dan penampilannya sedikit cuek. Dari tampangnya Naruto sangat mengenal orang-orang semacam ini, ditambah lagi dengan kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Gaara sudah sering menghajar orang macam dia karena berani menggodanya, tapi kali ini dia harus menghadapinya sendiri.
Naruto menepis tangan pria itu dan menolak ajakannya. Sepertinya si pria tidak terima dengan penolakan Naruto tapi segera pergi dan menghilang. Naruto bernapas lega dan kembali ke pencariannya. Butuh sekitar dua jam untuk mendapatkannya dan Naruto pergi ke sebuah restoran untuk beristirahat sambil memesan beberapa makanan. Tidak terasa ternyata dia telah melewatkan waktu makan siang dan ini sudah pukul dua. Naruto meronggoh tas miliknya dan mengambil botol obatnya. Jika Sasuke tahu dia telat meminum obatnya pasti pria berambut raven itu akan marah. Naruto mendadak merasakan pipinya memerah. Dia tidak sadar telah memikirkan Sasuke sampai seperti ini.
Setelah merasa cukup beristirahat, Naruto memutuskan untuk pulang. Dengan riang dia berjalan di pusat kota untuk menuju ke halte bis. Kekita dia melewati sebuah lorong, sebuah tangan besar menariknya dan menutup mulutnya. Sosok itu menariknya menjauhi keramaian. Naruto mencoba untuk melepaskan diri tapi tangan itu begitu kuat.
Yang dia rasakan selanjutnya adalah rasa sakit dipunggungnnya saat dilemparkan dengan keras ke sebuah dinding. Tangan kanannya yang selama ini menggenggam tas dan belanjaannya melepaskan barang bawaannya. Naruto menatap orang yang tengah menyakitinya itu dan mendapati wajah pria yang sebelumnya sempat menggodanya tadi. "Mau apa kau?"
"Perlukah kau bertanya? Aku ingin kau membayar karena telah berani menolakku tadi." Nada suaranya terdengar begitu sombong.
"Aku tidak memiliki alasan untuk menerima ajakanmu."
"Dan aku pun tidak memiliki alasan untuk tidak berbuat sesuka hatiku."
Pria itu menangkap kedua tangan Naruto dan mengamankannya dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain mulai menyentuh tubuh Naruto. "K-kau sudah gila?! Kau tidak mengerti, aku ini laki-laki!" Naruto kesal dengan kesalahpahaman seperti ini. Sudah berapa kali ini terjadi dan dia sudah bosan dengan perlakuan mereka yang seenaknya. Karena itu dia berteriak agar pria dihadapannya ini mengerti dengan kesalahannya.
Sayangnya harapan itu musnah ketika pria itu menjawab, "Lalu?"
Napas Naruto tercekat. Dia berharap apa yang dia dengar barusan hanyalah kesalahan. "Sudah kubilang aku ini laki-laki. Aku bukan perempuan seperti yang kau duga!"
Pria tersebut menatap Naruto diam dan di detik berikutnya seringai muncul di bibir pria tersebut yang membuat Naruto merasakan bahaya yang akan dihadapinya. "Tidak ada bedanya bagiku."
Kali ini ketakutan menjalar ke seluruh tubuh Naruto. Dia meronta mencoba membebaskan diri tapi pria tersebut terlalu kuat dan tidak peduli sekeras apapun Naruto melawan dia tetap tidak bergeming. Tangan kotor itu mulai menjamah tubuh di hadapannya ketika mulutnya sudah sibuk dengan leher Naruto. Dengan keras Naruto berteriak berharap ada yang mendengar dan menyelamatkannya tapi nihil. Saat tangan itu mulai mengarah ke bagian tubuh yang menurutnya terlalu pribadi, Naruto berontak lebih hebat lagi dan berhasil menendang perut pria tersebut dengan lututnya cukup keras.
Geram dengan perlakuan Naruto, pria mesum itu melayangkan pukulan yang cukup keras ke pipi Naruto sampai mengakibatkannya jatuh tersungkur. Lalu, dia menarik rambut pirang Naruto dengan sadis dan memukulnya sekali lagi. Dengan mata yang tajam dia menatap mata biru Naruto yang sedikit berair karena kesakitan. "Kau akan membayar atas apa yang kau lakukan barusan."
Saat akan melayangkan pukulan berikutnya, sebuah tangan menghentikannya. Dia melepaskan rambut Naruto dari genggamanya untuk melawan seseorang yang sudah berani mengganggu kesenangannya. Naruto mencoba bangkit dan menyentuh dadanya yang berdebar sangat kencang sambil membenarkan kimononya dengan kedua tangannya yang masih gemetar. Dia melayangkan pandangan ke arah sosok yang sudah menyelamatkannya dan sepertinya berhasil mengalahkan pria mesum tadi.
Sebuah tangan terjulur ke arahnya untuk membantunya berdiri. "Kau tidak apa-apa?"
Naruto tidak begitu mengerti apakah keadaannya bisa disebut baik-baik saja. Dia menerima tangan tersebut dan mencoba untuk berdiri tapi tertahan karena kakinya begitu gemetaran. Naruto menarik tangannya kembali dan meremasnya. "Maaf."
"Aku tidak mengerti mengapa kau meminta maaf. Aku yang minta maaf karena tidak bisa datang lebih cepat. Seharusnya aku bisa menyelamatkanmu lebih awal." Tidak mengerti apa yang dikatakan pemuda tersebut, Naruto hanya bisa menatapnya heran. "Apa kau tinggal di sekitar sini? Apa perlu kuantar pulang?"
Pulang? Dia tidak ingin pulang dengan keadaan seperti ini. Dia tidak ingin harus menjelaskan apa yang terjadi kepada Mikoto dan Itachi. Dia tidak ingin mereka tahu. Dia tidak ingin Sasuke tahu. Bagaimana jika Sasuke tahu? "Ka-kafe."
"Kafe?"
Naruto memberitahukan kafe yang dia maksud dan kebetulan pemuda tersebut tahu di mana tempatnya. Dia membantu Naruto berjalan dan juga membawakan tas dan belanjaanya. Saat sampai di jalan utama dia memberhentikan taksi dan naik bersama di bangku belakang. Setelah memberitahukan supir tujuan mereka, mobil itu pun segera meluncur.
Yang tidak mereka ketahui adalah ada seseorang yang melihat mereka saat memasuki taksi. Dia tidak suka dengan apa yang baru saja disaksikannya dan dengan segera memasuki mobilnya untuk membuntuti taksi di depannya. Hanya sepuluh menit saja dia membuntuti sampai taksi itu berhenti dan sang penumpang keluar dari mobil.
Melihat Naruto yang membiarkan pria lain menggandengnya seperti itu membuat amarahnya naik. Setelah memarkirkan mobilnya dia segera menyusul mereka berdua dan memasuki kafe yang dia kenal adalah milik Gaara. Saat masuk yang dia lihat hanyalah pemuda tadi. Tidak ada tanda-tanda dari Naruto maupun Gaara. Dia langsung mendatangi pemuda tersebut dan dengan mencoba menahan amarah bertanya kepadanya. "Apa hubunganmu dengan Naru?"
Yang ditanya berbalik ke arah sosok orang yang berbicara padanya, tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau tanyakan."
"Kubilang apa hubunganmu dengan Naru?"
Kesal karena diperlakukan tidak sopan, bahkan orang ini tidak repot memperkenal diri terlebih dahulu, pemuda tersebut menjawab dengan sedikit menantang. "Dengar, aku tidak tahu siapa kau atau Naru yang kau sebut-sebut tadi. Saat ini aku sedang tidak ingin bertengkar dengan siapa pun jadi tolong jangan ganggu aku."
"Kau.."
Kata-katanya terpotong oleh Gaara yang keluar dari kantornya. "Ada apa ini? Sasuke? Sedang apa kau di sini?"
"Gaara, mana Naru?"
"Kau tahu Naru di sini?" Heran dengan pertanyaan Sasuke terlebih lagi wajahnya saat ini seperti ingin menyakiti seseorang. Pemuda yang datang bersama Naruto tadi memotong pembicaraan dan bertanya siapa Sasuke itu. Setelah Gaara menjelaskan apa dan siapa kepada keduanya, Sasuke berubah gugup dan khawatir. "Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi, Sasuke. Naru tidak berkata apa-apa dan hanya menatap takut. Selain itu ada beberapa luka di wajahnya, aku berniat bertanya pada pemuda ini setelah membawa Naru agar bisa beristirahat di kantorku."
Mereka bertiga pun mengambil meja kosong yang sedikit memojok agar bisa mengobrol lebih bebas. Pemuda tadi menceritakan semuanya dan menimbulkan keributan di meja mereka karena Gaara dan Sasuke berteriak cukup keras dan bahkan sempat menggebrak meja. Jika tadi Sasuke ingin menyakiti seseorang maka kali ini dia ingin menyiksa dan membunuh orang yang telah berani menyentuh istrinya.
"Aku mengikuti karena sejak ditolak oleh Nona tadi, pria mesum itu gelagatnya seperti merencanakan sesuatu yang jahat. Hanya saja saat di luar tiba-tiba aku kehilangan jejak dan aku sedikit terlambat untuk menyelamatkannya."
"Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih karena telah menyelamatkan Naru dan maaf atas perlakuanku tadi." Sasuke membungkuk sedikit ke arah pemuda tersebut.
"Tidak apa-apa, aku maklum. Aku sendiri akan marah jika melihat istriku digandeng oleh pria tak dikenal. Aku hanya ingin kejadian yang menimpa sepupuku tidak akan terjadi pada orang lain."
Sasuke berterima kasih sekali lagi dan menghadap ke arah Gaara. "Aku ingin menemuinya." Gaara menunjukkan di mana Naru berada. Sebelum masuk, Gaara memperingatkan agar Sasuke berhati-hati karena sepertinya Naruto masih shock. Sasuke mengangguk dan memutar kenop pintu ke kantor Gaara. Naruto sedang termenung duduk di atas sebuah sofa dengan kaki terlipat ke dada dan dia memeluknya dengan erat. Dengan perlahan Sasuke mendekat dan duduk di sebelahnya. "Naru?"
Suara Sasuke mengagetkannya yang tengah melamun dan ketika melihat siapa yang ada di hadapannya, Naruto mendadak gemetar. "Sa-Sasuke?" Dia belum siap melihat Sasuke. Apa yang akan Sasuke lakukan jika dia tahu? Dia belum siap dibenci oleh Sasuke.
Melihat ketakutan yang tersirat di mata Naruto, Sasuke tidak tahan. Apalagi saat melihat luka di wajah manis Naruto dan juga tanda kemerahan di lehernya, ingin sekali dia mengamuk dan melampiaskan amarahnya. Tapi melihat tubuh Naruto yang gemetar, Sasuke menatap lembut untuk menenangkannya. Dia mengelus pipinya lembut dan Naruto sedikit kaget dengan perlakuan Sasuke. "Tidak apa-apa, sekarang kau sudah aman."
Mendengar kata-kata itu, Naruto spontan melemparkan diri ke arah Sasuke dan memeluknya. "Sasuke, aku takut. Dia tidak berhenti, aku tidak bisa melawan, padahal aku.." Naruto berkata dengan suara yang bergetar tapi memutusnya ketika sadar apa yang hendak dia beberkan. Sasuke memeluknya balik dan mengelus-alus punggung Naruto untuk menenangkannya.
"Syukurlah kau tidak apa-apa."
Naruto memeluknya lebih erat dan Sasuke membiarkannya. Mereka terus seperti itu sampai Naruto berhenti gemetar dan Gaara masuk dengan sebuah baki di tangannya. Dia menyimpannya di atas meja lalu berlutut di hadapan Naruto yang masih memeluk Sasuke. Dia mengelus rambut pirang itu seperti biasa dan tersenyum kepadanya. "Sebaiknya sekarang kau istirahat dulu. Aku membuatkan coklat panas kesukaanmu agar kau bisa lebih tenang. Tidak perlu bicara, yang penting sekarang kau baik-baik saja." Walaupun sebenarnya Gaara sedikit kesal karena jika saja Naruto menuruti nasihatnya tadi semua ini tidak akan terjadi. Tapi itu semua bisa menunggu, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Naruto.
"Terima kasih, Gaara." Sasuke yang menjawab karena Naruto hanya diam dan menatap bersalah ke arah Gaara. Sekali lagi pemilik kafe itu meninggalkan mereka berdua. Sasuke meraih cangkir yang berisi coklat panas tadi dan menyerahkannya agar Naruto dapat meminumnya. Setelah habis Naruto merasa jauh lebih tenang dan sedikit lelah sampai akhirnya tertidur masih di pelukan Sasuke. Sasuke hanya tersenyum dan setelah memastikan tidak akan membangunkannya, dia membawa Naruto yang tertidur dalam pangkuannya. Gaara membantu Sasuke untuk masuk ke dalam mobil. Setelah berjanji untuk mengabarinya nanti, Sasuke menginjak pedal gas dan mengendara pulang.
Dengan sedikit sudah payah Sasuke akhirnya berhasil membuka pintu depan rumah karena sambil memangku Naruto yang tertidur. "Aku pulang." Dia mengatakannya dengan pelan karena takut membangunkan Naruto. Walalupun begitu, Itachi mendengar salam Sasuke dan bergegas mendatanginya dengan wajah kesal.
"Sasuke! Apa-apan kau tadi seenaknya meninggalkanku di pusat kota sendirian? Aku harus naik taksi untuk pulang gara-gara kau membawa mobil dan tidak.. hm? Naru kenapa?" Itachi memperhatikan sosok yang saat ini sedang tidur di pangkuan Sasuke dan menyadari luka di wajah Naruto.
Naruto sedikit mengerang saat mendengar Itachi berteriak tapi dia tidak terbangun. Sasuke mengisyaratkan Itachi untuk bicara nanti dan membawa Naruto ke kamar. Dengan hati-hati Sasuke membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya. Setelah itu dia membiarkan Naruto beristirahat untuk berbicara dengan Itachi. "Sebaiknya kita mengobrol di kamar Kakak saja."
Itachi mengangguk setuju dan mereka menuju ke kamarnya. Setelah memastikan tidak ada yang akan mendengar, Sasuke mulai menceritakan apa yang terjadi pada Naruto. Butuh sekitar setengah jam baginya untuk menyelesaikan rangkaian cerita yang dia ketahui. Begitu banyak emosi yang tercampur di dalam diri Itachi saat dia selesai mendengarkan penjelasan Sasuke. Dia kesal pada Naruto yang telah membiarkan dirinya terjebak pada situasi semacam itu. Dia marah pada Gaara yang tidak bisa menjaga Naruto. Dia ingin sekali membunuh orang yang berani menyakiti ipar yang sudah disayanginya. Dia lega sekaligus khawatir akan keadaan Naruto. Dia senang melihat kepedulian di dalam diri Sasuke tapi juga kesal karena adiknya tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Tapi dia juga marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi orang yang dia sayangi.
"Aku ingin melihatnya."
"Silahkan saja, tapi mungkin Naru masih tertidur."
"Tidak apa-apa, tapi aku ingin melihatnya sendirian." Sasuke mempersilahkan Itachi dan dia sendiri menuju ke tempat favoritnya di teras belakang. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri, kejadian hari ini membuat perasaannya campur aduk.
Itachi berjalan menuju kamar sang ipar di lantai satu. Dia memegang kenop pintu dan memutarnya pelan agar tidak membangunkan Naruto yang sedang tertidur. Saat pintu terbuka yang dia lihat bukanlah wajah Naruto yang sedang terlelap melainkan sosok iparnya itu sedang terduduk di atas tempat tidur dengan horor di wajahnya. Jari-jarinya sedang menggaruk-garuk lehernya dan Naruto melakukannya cukup keras sampai membuat kulit lehernya itu memerah dan hampir berdarah.
Itachi terkejut melihat apa yang sedang iparnya coba lakukan dan bergegas menghampiri Naruto untuk menghentikannya. Dia menangkap kedua tangan Naruto agar berhenti melakukan apa yang sedang dia lakukan dan menatapnya lekat-lekat. "Naru, apa yang kau lakukan? Kau menyakiti dirimu sendiri jika seperti ini."
Mata biru Naruto menatap gugup ke arah Itachi. Sinar matanya menunjukkan kesedihan dan juga ketakutan. "Kakak, aku ingin tanda ini hilang. Aku tidak suka melihatnya. Aku merasa.." Naruto tidak sanggup meneruskan kata-katanya dan hanya menggigit bibir bawahnya.
Itachi ikut duduk bersama Naruto dan mengelus pelan tangan yang sedang dia genggam. "Naru, aku sudah dengar apa yang terjadi dari Sasuke." Napas Naruto tertahan saat mendengar perkataan Itachi.
"A-aku.."
"Dengar Naru, jangan kau pikir aku akan membencimu karena ini. Aku tidak akan pernah membencimu, karena aku sayang padamu." Setitik kehangatan timbul di hati Naruto saat mendengar hal ini. Itachi akhirnya mengatakan bahwa dia menyayanginya, Naruto bahagia mengetahuinya. "Jadi kau bisa ceritakan apapun padaku. Aku peduli padamu dan aku ingin kau bahagia. Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja."
Keraguan dalam diri Naruto menghilang mendengar pengakuan Itachi. Dia ingin mempercayainya seperti halnya dia mempercayai Gaara. Dia ingin Itachi menjadi kakak yang sesungguhnya bagi dirinya. Naruto membuka mulutnya dan walaupun dengan terbata-bata dan dengan suara yang masih gemetar, dia berusaha mencurahkan isi hatinya pada Itachi. "Kakak, aku sangat takut. Padahal dia tahu aku ini laki-laki, tapi dia tidak berhenti. Aku tidak bisa melawan. Aku benci karena aku ini lemah. Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, aku benci. Aku benci rupaku yang seperti ini. Aku hampir saja merusak perjanjianku dengan Sasuke. Aku tidak ingin dibenci Sasuke, aku tidak ingin."
Itachi menarik Naruto ke dalam dekapannya dan memberikan kehangatan yang jarang dia berikan bahkan kepada Sasuke sekalipun. Dia dapat merasakan tubuh Naruto yang sedikit gemetar dan dia memeluknya lebih erat sebagai isyarat bahwa dia sekarang baik-baik saja karena Itachi akan melindunginya. Itachi sempat berpikir Naruto akan meneteskan air mata tapi hal itu tidak pernah terjadi. "Tenang saja Naru, Sasuke tidak akan membencimu."
"Tapi, Kak.."
"Dia tidak membencimu." Tangan besar Itachi mengelus rambut Naruto dan mengecup kepalanya singkat. "Kami semua sayang padamu, Naru. Kau harus percaya itu." Naruto hanya mengangguk dan menikmati kasih sayang yang Itachi berikan sedikit lebih lama lagi. Kenyamanan itu harus berakhir karena suara yang tiba-tiba saja dihasilkan oleh perut Naruto. Itachi mengangkat alisnya dan melepaskan pelukannya untuk menatap Naruto yang sekarang sedang berusaha untuk tidak merona. "Kau lapar?"
Dia mengangguk pelan. "Setelah sekarang lebih tenang tenang tiba-tiba saja aku merasa lapar. Maaf."
Itachi tersenyum dan mengacak-acak rambut pirang Naruto sedikit. "Tidak perlu minta maaf. Ayo kita ke dapur, ini memang sudah waktunya makan malam." Itachi berdiri dan mengulurkan tangannya yang disambut oleh Naruto. Teringat sesuatu, Itachi mencari-cari sesuatu di lemari Naruto. Dia mengambil sebuah syal lalu melingkarkannya di leher sang ipar. "Pakai saja ini sampai tanda itu menghilang. Jangan sakiti dirimu lagi seperti tadi." Naruto mengangguk pelan dan mereka berjalan bersama menuju dapur.
Semuanya sudah ada di sana saat mereka masuk. Mikoto tersenyum tapi segera berubah khawatir melihat raut wajah Naruto dan juga syal yang melingkar di lehernya. "Naru, kau sakit?"
Tubuhnya mendadak kaku. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia tidak ingin menceritakan apa yang telah terjadi kepada Mikoto. "Naru hanya sedikit kedinginan, Bu. Dia juga sedikit kelelahan, sepertinya tadi siang dia cukup menikmati acara jalan-jalannya." Naruto menatap Itachi yang tersenyum kepadanya. Dia membalas senyuman itu dan berterima kasih atas pertolongan Itachi.
Sebenarnya Mikoto juga ingin mempertanyakan luka di wajah Naruto, tapi saat melihat ekspresi wajah Naruto, Itachi dan juga Sasuke, dia mengurungkan niatnya. Jika Naruto memutuskan untuk bercerita, dia pasti akan memberitahukannya. Untuk sekarang dia akan bersikap seakan tidak tahu apa-apa.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Kau boleh bersenang-senang tapi jaga juga kesehatanmu, Nak Naru."
"Iya, Bu."
Sasuke yang duduk di sebelahnya menatap dengan tatapan 'kau tidak apa-apa?' dan Naruto membalas dengan anggukan kecil. Makan malam hari itu dipenuhi dengan gurauan seperti biasanya. Itachi yang mencoba membuat suasana jauh dari suram melemparkan sindirannya kepada Naruto seperti yang selalu dia lakukan. Mengerti apa yang coba kakaknya lakukan, Naruto menimpalinya dengan segera. Hanya Sasuke saja yang tahu bahwa semua itu hanyalah dipaksakan, tapi dia sedikit lega karena Naruto masih bisa bertengkar dengan Itachi walaupun hanya akting.
Setelah saling mengucapkan selamat malam, mereka semua mengarah ke kamar masing-masing. Naruto membaringkan diri di samping Sasuke setelah meminum obatnya dan mengucapkan selamat malam. Tidak lama mereka pun terlelap ke dalam alam tidur.
Sekitar tengah malam Sasuke terbangun karena erangan dari arah sampingnya. Dia melihat Naruto yang gelisah dalam tidurnya dan sedikit meracau. Sasuke mencoba membangunkannya untuk memberitahu bahwa itu hanya mimpi tapi Naruto masih tidak membuka matanya.
"Tidak. Lepaskan. Jangan. Hentikan. Tolong."
Kata-kata itu meluncur dari mulut Naruto. Sasuke tahu pasti apa yang Naruto alami. Dia berbaring lagi tapi kali ini dia mendekap Naruto dalam pelukannya. Dia membisikan kata-kata untuk meyakinkan Naruto bahwa dia aman dan tidak ada yang akan menyakitinya. Perlahan Naruto pun tenang dan berhenti meracau. Sasuke terus memeluk Naruto sampai pagi. Dia berjanji akan menjaga dan memastikan bahwa istrinya ini akan hidup bahagia.
