Title : It's Not All About Money Chapter 3

Pairing : HanHun, KaiHun, KaiSoo, etc

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Luhan, Do Kyungsoo, Kim Junmyeon

Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : T

.

.

.

Helloooo ketemu lagi di chapter 3! saya tahu update-nya bener2 lama banget T_T Mianhaeeee. Thx ya readers dan reviewer untuk ff ini^^ Btw di chapter sebelumnya ada yang nanya 'Kirain Sehun satu sekolahan sama Kai'. disini ceritanya Sehun usianya 2 tahun lebih tua dari Kai ya buat yang masih bingung:D Oh iya dan satu lagi typo! Di previous chapter yang nyelamatin Kyungsoo dari pecahan kaca itu Chanyeol. kok malah ngetik Junmyeon ya u,u Mian mian hehe~ Well karena gak ingin banyak ngomong so Happy reading!^^

.

.

.

Atmosfer panas menyelubungi ruangan utama rumah megah itu. Jongdae yang sejak tadi berdiri diambang pintu kini membungkuk sekilas pada Junmyeon kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut—memberi waktu pada sepasang ayah dan anak itu untuk menyelesaikan urusan mereka berdua. Dia tak ingin ikut campur terlalu jauh hanya karena ia adalah kaki tangan Junmyeon.

"Berapa kali harus kubilang padamu?" Jongin akhirnya membuka suara setelah ia meredam amarahnya selama Sehun berada diantara mereka hingga pria yang akan menjadi tutornya itu pergi karena tatapan mengintimidasi yang diberikan Jongin.

"Aku tak butuh tutor itu! Apa Abeoji tak paham dengan ucapanku?!" urat marah Jongin sudah tak bisa ditahan lagi. Ia begitu kesal pada Junmyeon yang terlalu mengatur kehidupannya. Namun setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, apalagi Jongin adalah anak semata wayangnya. Hanya saja ia tak mengerti dan salah mengartikan sikap Junmyeon selama ini. Junmyeon kali ini tak bisa hanya diam saja dan terus mengalah. Sekali-kali Jongin harus diberi ketegasan agar ia tak bersikap seenaknya dan juga egois.

"Kau tak bisa membantahku!"

"Tapi Abeoji—"

"Tidak ada kata tapi! Sekarang kau masuk ke kamarmu dan jangan pernah keluyuran hingga larut malam lagi, arasseo!" Junmyeon memberi tatapan tajamnya pada Jongin meskipun dalam hati ia tak pernah tega memperlakukan anaknya seperti itu. Jongin terbiasa hidup tanpa memikirkan apa itu kata susah. Ia selalu mendapat apa yang ia inginkan. Junmyeon tak pernah mengatakan tidak pada permintaan Jongin. Namun ia sadar jika Jongin tak bisa selamanya seperti itu. Menjadi anak manja yang egois yang hanya mengandalkan harta yang dimiliki orangtua hanya untuk kesenangan pribadi.

"Abeoji, kau tak bisa seperti ini! Kau tak bisa melarangku untuk pergi! Kau tak bisa mengaturku seperti itu! Dan jangan pernah berharap aku akan bersikap baik pada tutor suruhanmu itu!" Jongin menghentakkan kakinya kasar kemudian segera pergi meninggalkan Junmyeon yang hanya bisa mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia menatap Jongin yang kini berjalan dengan tergesa ke lantai 2 menuju kamarnya. Junmyeon pun meninggalkan ruangan tersebut kemudian melangkah dengan gontai menuju ruang kerjanya. Ia menjatuhkan tubuhnya pada sofa tunggal disamping nakas dengan deretan foto berjajar rapi disana. Tangannya meraih salah satu foto kemudian tersenyum getir. Seorang wanita cantik tengah tersenyum dengan bahagia. Senyuman yang seumur hidupnya menjadi kelemahan Junmyeon.

"Dajung-ah, apa aku telah gagal mendidik Jongin? Eotokhae? Andai saja kita bisa membesarkan Jongin berdua, mungkin dia tak akan pernah menjadi anak egois seperti ini. Jongin membutuhkanmu. Hanya kau yang bisa mengaturnya. Hanya kau yang mungkin bisa mengendalikannya dan membuatnya menjadi anak penurut." Tanpa Junmyeon sadari air mata menetes dari kedua sudut matanya. Dadanya begitu sesak. Ia begitu merindukan wanita itu—Ibu Jongin yang meninggal 18 tahun silam saat melahirkan anak semata wayang mereka.

"Aku memang bukan ayah yang baik untuknya. Aku—"

Tok Tok Tok

Sebuah ketukan pelan pada pintu ruang kerjanya membuatnya harus segera menghapus airmata yang sudah membasahi kedua pipinya. Ia segera meletakkan foto tersebut ke tempat semula kemudian berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang habis menangis.

"Masuk." Titahnya dan tak berapa lama sosok Jongdae muncul di hadapannya. Ia membungkuk kemudian berjalan mendekat ke arahnya.

"Sajangnim, apa Anda baik-baik saja?" Jongdae memang lebih perhatian dibanding Jongin. Ia pun hanya mengangguk pelan kemudian memperhatikan sebuah map yang kini berada dalam genggaman Jongdae.

"Ada apa?"

"Saya hanya ingin memberikan ini. Manajer Lu baru saja pergi dan—" belum sempat Jongdae menyelesaikan ucapannya, Junmyeon sudah memotongnya terlebih dahulu. Ia meletakkan map di hadapan Junmyeon kemudian kembali berdiri di tempatnya semula.

"Luhan? Kenapa kau tak memberitahuku jika ia datang kemari?" Junmyeon segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya bermaksud untuk menghubungi Luhan.

"Jwesonghamnida. Tapi tadi Anda tengah memiliki pembicaraan serius dengan Tuan Muda. Saya tak ingin mengganggu Anda berdua." Jongdae tampak menyesal kemudian kembali membungkuk. Junmyeon hanya mengangguk pelan kemudian meletakkan ponsel di telinganya berharap Luhan akan mengangkat panggilannya. Namun setelah beberapa detik ia menunggu hanya suara mesin penjawab otomatis yang mampu ia dengar dan bibirnya berdecak pelan. Ia kembali meletakkan ponsel diatas meja kemudian membuka map di depannya. Matanya bergerak perlahan membaca secara garis besar dokumen yang Jongdae berikan padanya. Kepalanya mengangguk-angguk pelan kemudian matanya kini mengarah kembali kepada pria berkacamata itu.

"Katakan pada Sekretaris Jung jika aku ingin bertemu Luhan malam ini." Pintanya lalu Jongdae hanya mengangguk.

"Algesseumnida. Saya permisi, Sajangnim." Ia pun kembali membungkuk kemudian pergi meninggalkan ruangan Junmyeon tanpa mengurangi rasa hormatnya.

Junmyeon kembali memperhatikan foto-foto di sampingnya. Foto-foto Jongin kecil membuatnya tersenyum tipis. Jongin yang polos dan penurut membuat semua orang begitu gemas padanya. Jongin yang cengeng dan juga manja membuat semua orang ingin melindunginya. Potret berbeda dengan apa yang tengah dihadapi kini. Pada kenyataannya tak ada lagi sosok Jongin yang menggemaskan ataupun berhati lembut seperti Jongin kecil. Tidak akan pernah ada.

Junmyeon mengurut dahinya yang terasa pening. Akhir-akhir ini ia memang merasa kondisi tubuhnya sedikit memburuk. Ditambah dengan sikap Jongin yang tak pernah bersahabat padanya membuatnya terus berpikir keras untuk mengembalikan keceriaan Jongin yang perlahan menghilang seiring dengan pertumbuhannya menjadi orang dewasa. Terlebih pekerjaan menumpuk membuatnya harus terus memutar otak agar Jongin mau meneruskan posisinya kelak jika ia sudah tak mampu lagi mengurus perusahaan keluarga yang kini tengah ia kelola. Ia merasakan kembali pelupuk matanya begitu berat. Air mata kembali mengalir di pipinya dan kini ia bisa menangis sepuasnya tanpa harus takut ada yang menginterupsinya.

.

.

.

Sehun masih berdiri di depan gerbang rumah yang baru beberapa menit lalu ia pijaki. Kemudian perlahan ia melangkahkan kakinya dengan kepala tetap mendongak—menatap pintu pagar tinggi menjulang yang menurutnya bahkan akan sulit jika seseorang memanjatnya. Ia masih tak percaya. Setelah mengetahui berapa besar gaji yang ia terima ia tak percaya. Dan baru pertama kali ini pula ia diusir secara tidak hormat oleh muridnya sendiri—atau calon murid lebih tepatnya—ia tak percaya. Semua pengusiran menurutnya tak pernah terhormat. Ucapan Jongin yang kini masih terngiang jelas di telinganya membuatnya ingin sekali memberi pelajaran pada bocah tak tahu sopan santun itu.

'—aku tak butuh tutor!' sebuah kalimat pengusiran yang terlalu frontal jika diucapkan tepat di hadapannya. Sehun mengepalkan tangannya berusaha menetralisir rasa kesal yang sejak tadi begitu mengganjal di dadanya.

"Isshh benar-benar anak kurang ajar! Dia benar-benar belum tahu siapa Oh Seh—eh, itu kan—" Sehun mengalihkan pandangannya ke pintu gerbang saat sebuah mobil yang menurutnya begitu familiar baru saja melewatinya. Tak aneh kan jika ia menemukan banyak mobil tipe seperti itu? Toh di Seoul tak hanya satu orang yang memilikinya. Namun matanya kini terpaku pada plat nomor yang sudah ia hapal di luar kepala. Ia membelalakkan matanya. Dahi berkerut dengan bibir terbuka tak percaya.

"Luhan Hyung? Mau apa dia kesini? Apa jangan-jangan dia— AH JINJJA? Jangan-jangan Kim Sajangnim yang selama ini selalu ia bicarakan adalah—" Sehun yang semula tertunduk karena berpikir, kini kembali menatap horor pagar tinggi itu dengan gerakan slow motion.

"Maldo andwae. Maldo—andwae—ah otokhae?" ia memegangi kedua pipinya tak percaya. Tangannya bergerak ke atas untuk menjambak rambutnya frustasi.

Satu hal yang tak pernah Sehun langgar—janjinya kepada Luhan. Bukankah Sehun berjanji padanya jika ia tak akan datang menemui si penelepon tadi yang tak lain adalah Jongdae? Namun pada akhirnya ia tetap datang dan berakhir dengan sebuah pekerjaan yang akan merubah hidupnya. Siapa yang tidak akan tergiur dengan gaji yang besar? Hanya orang munafik saja yang akan menolaknya! Sehun membutuhkannya. Ia membutuhkan uang yang besar untuk membiayai kehidupannya dan juga orang tuanya meskipun mereka tak pernah menuntut Sehun untuk memberi. Namun hanya anak tak tahu diri yang melepas tanggung jawabnya terhadap orang tuanya sendiri. Ia tak mau dicap seperti itu.

Dan pikirannya kembali kepada Luhan. Meskipun ia tahu jika Luhan tak pernah marah, tetap saja ia merasa was-was dan entah kenapa rasa bersalah itu kembali muncul. Bukankah tak seharusnya ia berada disini? Baru beberapa menit yang lalu Luhan mengiriminya sebuah pesan dengan pertanyaan yang selalu ia lontarkan setiap sore, 'Apa kau sudah pulang? Jangan terlalu lelah. Aku tak ingin kau jatuh sakit.'

Luhan selalu mengkhawatirkannya. Mencemaskan kekasih yang terlalu bekerja keras dan tak kenal waktu ketika ia sudah menjalani sisi lain kehidupannya menjadi seorang tutor. Dan tanggapan Sehun selalu sama, 'Aku tak akan sakit karena selalu minum vitamin.'

Sehun kini berjalan perlahan. Kemudian semakin lama semakin mempercepat langkahnya karena tak ingin Luhan sampai menemukannya berkeliaran di sekitar sana. Satu hal yang ia harapkan—semoga Junmyeon tak menceritakan apapun tentang tutor baru untuk anaknya yang menyebalkan kepada Luhan. Terlebih dengan menyebut nama Oh Sehun di awal pembicaraannya.

.

.

.

Aroma masakan lezat menguar masuk kedalam lubang hidung yang kini tengah kembang kempis menghirup udara di sekitarnya yang bercampur dengan aroma masakan yang berasal dari dapur mungil di sampingnya.

"Kyungsoo-ah, ppali! Perutku sudah tak bisa diajak kompromi!" teriak salah satu yang paling tinggi sambil mengelus-elus perutnya yang sudah tak bisa diam. Kyungsoo yang baru saja menuangkan masakannya ke dalam piring hanya bisa memutar bola matanya. Sementara satu orang lagi yang kini masih sibuk dengan game console-nya tak begitu menghiraukan bau masakan yang mampu menggugah selera makan siapa saja. Ia memang sedikit aneh.

"Sabar sebentar Park Chanyeol! Memangnya kau pikir apartemenku ini kedai makanan? Seenaknya saja kau datang tiba-tiba lalu memintaku membuatkan sesuatu untukmu! Dan kau begitu tidak sabaran!" omel Kyungsoo yang kini membawa 2 buah piring berisi makanan di kedua tangannya. Chanyeol hanya mengeluarkan cengiran bodohnya dengan mata berbinar seperti anak anjing yang bertemu dengan majikannya.

"Tiga puluh ribu won!" candanya dengan nada ketus. meskipun dalam hati ia berharap Chanyeol akan membayarnya. Seenaknya saja ia makan gratis sementara Kyungsoo harus kembali membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Hampir setiap hari Chnayeol dan Baekhyun datang ke apartemennya hanya untuk menumpang makan. Dua orang penggemar gratisan—begitu Kyungsoo menyebut mereka.

"Wah! Kenapa baunya enak sekali?" hidung Baekhyun baru merespon saat Chanyeol menyuapkan makanannya untuk kedua kali. Kyungsoo menatap datar Baekhyun kemudian kembali memutar bola matanya.

"Dasar aneh." Gumamnya pelan. Ponselnya berdering nyaring saat ia hendak bergabung bersama duo idiot yang kini tengah makan dengan lahapnya. Ia baru akan menekuk kakinya namun terpaksa harus kembali ke meja pantry karena ponselnya ia letakkan disana. Matanya menatap malas layar yang terus menyala—Idiot 3—sebuah nama yang tak wajar diberikan kepada seorang kekasih, setelah Idiot 1 dan Idiot 2 ia berikan kepada Chanyeol dan juga Baekhyun. Setidaknya Jongin bukan berada di peringkat pertama.

"Yo!"

"Soo..." rengekan manja terdengar dari sebrang sana. Jika Jongin sudah mengeluarkan aegyo atau rengekannya, itu pertanda jika ia ada maunya.

"Katakan—"

"Aku akan menjemputmu 20 menit lagi. Dan kau harus sudah siap!" Jongin sedikit memaksa. Kyungsoo melirik Baekhyun dan juga Chanyeol sekilas.

"Tapi—"

"Tak ada tapi, OK?"

Sambungan telepon pun terputus begitu saja.

"Errgh menyebalkan!" rutuk Kyungsoo sebal. Padahal ia hendak menjelaskan jika 2 idiot lain kini tengah bermain di apartemennya—lebih tepatnya hanya menumpang makan.

"Nugu nugu?" Baekhyun mengeluarkan suara yang dibuat-buat. Namun matanya sama sekali tak terlepas dari makanan di depannya.

"Jongin, dia akan menjemputku 20 menit—ani tinggal 18 menit lagi." Kyungsoo melirik jam di ponselnya dan menghitung waktu yang telah ia gunakan untuk berpikir sejenak lalu menjawab pertanyaan Baekhyun. Chanyeol yang semula fokus kini menatap Kyungsoo.

"Dia mau menjemputmu? Kalian akan pergi? Kemana?" serangkaian pertanyaan Chanyeol berikan kepada Kyungsoo. Pria bermata bulat itu hanya memutar bola mata menanggapi pertanyaan Chanyeol yang terkesan terlalu ingin tahu.

"Yang pasti aku tak akan mengajakmu dan juga Baekhyun." Ujar Kyungsoo ketus hingga membuat perubahan raut wajah Chanyeol. Sementara Baekhyun tampak masa bodoh dengan ucapannya.

"Baek, kajja kita pergi!" ia tiba-tiba berdiri lalu menarik tangan Baekhyun yang masih sibuk menyendok makanannya. Ia menatap geram Chanyeol yang seenaknya menariknya hingga beberapa makanan kini tercecer ke lantai.

"Ya aku masih makan, bodoh!" semburnya kesal. Chanyeol tak menghiraukan rutukan Baekhyun dan tetap menarik tangannya agar segera pergi dari apartemen Kyungsoo.

"Percuma saja kita ada disini jika dia tak ada!" Chanyeol menatap sinis Kyungsoo sebelum membanting pintu apartemen dan menyisakan tatapan tak percaya Kyungsoo padanya.

"Ya—YA! Apa-apaan dia?!" teriak Kyungsoo dengan tangan menunjuk pintu yang tertutup rapat. Kakinya menghentak dengan keras lalu membereskan meja yang berantakan karena Chanyeol dan juga Baekhyun.

"Dasar tak tahu terimakasih!" ia membawa semua piring kotor ke dalam wastafel lalu membiarkannya menumpuk bersama piring kotor lainnya. Waktu 10 menit tak akan cukup untuk membersihkan semuanya. Jika saja Jongin tak akan menjemputnya. Kyungsoo pun segera berlari menuju kamarnya untuk segera bersiap-siap sebelum Jongin benar-benar datang dan mendapatinya masih dalam keadaan yang berantakan.

.

.

.

"—Yeol! Chanyeol! Waegeuraeyo?" Baekhyun berusaha menyamakan langkahnya dengan Chanyeol yang sama sekali tak berniat untuk menunggunya. 'Mentang-mentang berkaki panjang!' dengus Baekhyun yang tak berani ia katakan terang-terangan. Mata sipitnya mengarah tajam pada wajah Chanyeol yang tampak kesal. Tanpa alasan yang jelas.

"Bukan urusanmu!" jawaban Chanyeol membuat Baekhyun menghentikan langkahnya seketika dan membiarkan Chanyeol meninggalkannya semakin jauh. Ia mengerutkan dahinya bingung dan berusaha mengobservasi tingkah Chanyeol yang terkesan aneh. Dan tiba-tiba sesuatu tampak terbersit di otaknya.

"Ah! Maja maja! Park Chanyeol, kau tak bisa membohongiku lagi!" Baekhyun menyeringai tipis kemudian menyusul Chanyeol sambil berteriak nyaring.

.

.

.

Sehun tengah membolak-balik amplop di tangannya dengan perasaan yang tak karuan. Apa ia harus melanjutkannya atau berhenti sampai disini? Pertanyaan itu berulang kali muncul dan membuatnya ragu melihat bagaimana sikap Jongin yang begitu tak senang dengan kehadirannya.

Selama ini ia bekerja bukan karena paksaan. Melainkan dorongan hati yang membuatnya ingin melakukannya. Namun kali ini kasusnya sangat berbeda. Jongin bahkan tak mau tapi ayahnya tetap memaksa. Sehun yang tak mengerti apa-apa hanya bisa diam dan mengikuti permainan saja. Jika saja alasannya bukan nominal uang yang berada dalam amplop coklat pada genggamannya kini, ia tak akan sudi melakukannya.

Sehun menyimpan kembali amplop ke dalam tasnya kemudian menenggelamkan wajah diantara kedua lengannya. Meja belajar yang baru ditinggalkan beberapa jam saja tampak begitu dingin menyentuh ujung hidungnya. Ia sedikit mendongak. Menumpukkan dagunya pada permukaan meja dengan mata menatap lurus kalender kecil di hadapannya. Coretan tinta warna-warni menandai hampir setiap taggal di bulan ini. Mustahil untuknya mendapat liburan yang bahkan dalam waktu singkat saja, mengingat jadwal padat yang terus menghantuinya. Ia mendesah pelan kemudian kembali mengubur wajahnya dalam-dalam sambil menggumam aneh. Hingga getaran ponsel yang terletak di samping kepalanya membuatnya segera mengecek layarnya yang terus menyala dan mendapati nama Luhan tertera disana.

"Yeoboseyo~" ujarnya lemas.

"Hei, aku ada di parkiran. Turunlah. Kita harus segera pergi." Suara lembut itu selalu saja mampu menelusupkan rasa hangat ke dadanya. Meskipun terkesan berlebihan tapi memang begitu kenyataannya. Sehun berpikir sejenak, berusaha mencerna ucapan Luhan kemudian membetulkan posisi duduknya.

"Parkiran?" ia kini beranjak dan hendak melangkahkan kakinya menuju balkon kamar.

"Mwo? Parkiran?" pekiknya setengah terkejut. Tak biasanya Luhan datang menjemputnya tanpa memberitahu terlebih dahulu.

"Hyung, kita akan pergi?' Sehun buru-buru menyambar mantel asal dari dalam lemari kemudian setengah berlari meninggalkan apartemen. Tak peduli degan wajah kusut dan rambutnya yang berantakan. Langkah kakinya terdengar gaduh di koridor kemudian ia berhenti di depan pintu lift dan menunggunya hingga terbuka.

"Ne. Kau belum makan malam 'kan?"

Sebenarnya ia baru saja melahap sepotong roti sisa sarapan tadi namun kepalanya refleks mengangguk. Udara dingin membuatnya terus-terusan merasa lapar.

Lift membawanya menuju lantai dasar. Ia berjalan cepat melewati lobby kemudian mendapati Luhan yang tengah bersandar pada mobilnya dengan jaket kebesaran yang membuat tubuh mungilnya seolah ditelan bulat-bulat oleh kain tebal tersebut. Nafas Sehun sedikit tersengal. Kemudian ia berusaha mengaturnya sebelum meminta penjelasan kepada Luhan.

"Hyung, kenapa begitu tiba-tiba?" pertanyaan Sehun membuat Luhan menaikkan sebelah alisnya.

"Wae? Kau tak suka?"

"Aniyo. Maksudku biasanya kau akan menghubungiku terlebih dahulu jika akan pergi." Sehun menggosok-gosokkan kedua tangannya karena tak mampu lagi menahan udara digin yang menerpa mereka malam itu.

"Masuklah. Aku tak ingin kau sakit." Luhan membukakan pintu mobilnya untuk Sehun. Jika saja ia belum terbiasa dengan perlakuan Luhan padanya yang begitu lembut, mungkin Sehun sudah tak sadarkan diri karena terpesona. Sehun hanya menurutinya kemudian duduk terlebih dahulu—menunggu Luhan yang kini berjalan memutar ke pintu sebrang.

Udara di dalam mobil berkali-kali lipat lebih hangat dibandingkan udara diluar sana. Ia menatap Luhan yang kini sudah duduk di sampingnya. Ingin sekali ia menceritakan semuanya pada Luhan. Mengenai pekerjaan baru dengan gaji tak sedikit dan juga anak kurang ajar yang akan menjadi muridnya nanti. Tapi lidahnya seolah kelu. Apa yang harus ditakutkan? Entahlah. Sehun hanya merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Luhan—terlepas dari janjinya kepada pria itu untuk tidak menemui orang asing yang meneleponnya tadi. Dan lagi ia begitu ingin bertanya mengenai hubungan antara Luhan dan juga keluarga Kim tersebut.

"Kau melamun." Tahu-tahu Sehun merasa sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya yang dingin. Sehun terkesiap. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari Luhan hingga membentur kaca di belakangnya cukup keras.

"Appo~" ia mengusap belakang kepalanya yang terasa sakit. "Ya Hyung apa yang kau lakukan?" protesnya dengan bibir mengerucut sebal. Luhan hanya terkekeh pelan kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran apartemen.

"Kenapa kau melamun? Ada yang ingin kau sampaikan padaku?"

Sehun hanya menggeleng.

"Aku hanya—terpesona." Capnya begitu pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh Luhan. Ia dengan cepat memalingkan wajahya keluar kaca. Menahan malu setengah mati karena harus mengatakan hal tersebut kepada Luhan.

"Jinjja?" terdengar nada menggoda yang membuat Sehun mendelikkan matanya sinis.

"Issshh Hyung jangan seperti itu!" protesnya lagi sambil menatap Luhan tajam. Pria itu masih tersenyum geli melihat Sehun yang hanya cemberut sambil menatap lurus ke depan.

"Ngomong-ngomong aku akan mengenalkanmu pada seseorang."

Sehun lagi-lagi begitu terkejut.

"Nugu?"

"Mmmmm rahasia!" Luhan memeletkan lidahnya dan hal itu tentu saja membuat Sehun kesal. Namun tiba-tiba suara ponsel Luhan memecah tawa mereka. Luhan mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi menghuni saku jaketnya. Ia membaca dengan seksama siapa yang kini tengah menghubunginya dan seketika wajahnya tampak gelisah. Sehun memperhatikan raut wajah Luhan yang berubah. Ia memicingkan matanya saat Luhan tak juga mengangkat teleponnya.

"Nugu? Kenapa tidak diangkat?" pertanyaan Sehun membuatnya terlonjak kaget dan segera mereject panggilan tersebut lalau memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaketnya.

"Oh—Sekretaris Jung." Dustanya dan Sehun percaya saja.

"Kenapa tak diangkat? Mungkin panggilan penting."

"Tak apa. Kita akan segera sampai. Mungkin dia ingin mengabariku jika Junmyeon Sajangnim sudah ada disana." Penuturannya membuat Sehun tampak berpikir. Ia mencerna dengan baik semua ucapan Luhan dan

'Junmyeon—Sajangnim?' Sehun begitu familiar pada nama itu. Tentu saja. Baru saja beberapa jam yang lalu ia bertemu dengan pemilik nama tersebut.

"Mwo?! Siapa kau bilang tadi?" Sehun ingin memastikan sekali lagi bahwa ia tak salah dengar. Luhan meliriknya sekilas.

"Junmyeon Sajangnim."

Sehun merasa tenggorokannya tercekat dan tubuhnya membatu. Ini bukan moment yang baik untuknya. Jadi seseorang yang ingin ia perkenalkan padanya adalah Junmyeon Sajangnim?

"Hyung—" Sehun ingin sekali meminta Luhan mengantarnya kembali ke apartemen. Namun ia belum menemukan alasan logis untuk meyakinkan Luhan.

"Mwo?"

"Aniyo." Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya yang memerah karena terus ia gigiti. Ia tampak gelisah.

Setelah menempuh waktu kurang lebih 10 menit, mobil Luhan sudah sampai di tempat dimana ia dan juga Junmyeon membuat janji. Ia memarkir mobilnya kemudian menatap Sehun yang masih tenggelam di dalam pikirannya.

"Hei, kita sudah sampai. Kenapa kau terus melamun eoh?" tangan Luhan bergerak menyentuh belakang kepala Sehun—mengusapnya perlahan. Sehun terkesiap kaget.

"Aku baru ingat! Tugas Profesor Cho untuk besok belum sedikit pun kukerjakan. Hyung, antar aku pulang sekarang. Jebal~" Sehun menautkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya ia buat memelas agar Luhan percaya dengan kebohongannya. Mana mungkin Oh Sehun—yang notabene adalah anak pintar dan juga rajin—lupa untuk mengerjakan tugasnya yang selalu ia jadikan prioritas utama. Luhan mengamati wajah kekasihnya itu dengan dahi berkerut. Kemudian tangannya bergerak membuka pintu mobil tanpa menghiraukan permohonan Sehun.

"Setelah makan baru aku akan mengantarmu pulang." Ia keluar dari dalam mobil yang diikuti dengan desahan pelan Sehun.

"Ah eotokhae?" ia masih belum mau beranjak dari joknya hingga pintu disampingnya terbuka dengan lebar karena Luhan membukanya dari luar.

"Kajja~" tangannya menarik lengan Sehun agar keluar dari dalam mobil. Sehun hanya pasrah dan berjalan dengan langkah yang berat mengikuti Luhan masuk ke dalam cafe dengan design minimalis. Mereka memilih tempat di lantai 2 dengan suasana outdoor yang menyuguhi pemandangan langsung Seoul malam dari ketinggian. Luhan sebenarnya tak suka ketinggian. Namun kali ini ia ingin menikmati suasana berbeda. Ia menempati kursi untuk 4 orang yang terletak di sudut balkon. Seorang waitress yang sejak tadi mengikuti mereka kini menyodorkan daftar menu pada keduanya. Sehun sama sekali tak merasa lapar. Ia kehilangan selera makannya sejak Luhan menyebut nama Junmyeon Sajangnim.

"Kau ingin pesan apa?" tanya Luhan dengan mata yang sibuk menelusuri daftar menu. Sehun bahkan tak berniat untuk membaca satu per satu menu di dalamnya.

"Aku ingin—ke belakang sebentar. Hyung pesan saja duluan." Dan seketika itu pula Sehun melesat pergi ke toilet tanpa menunggu jawaban Luhan.

"Oh Sehun!" panggil Luhan yang tidak direspon oleh pemilik nama itu. Waitress yang sejak tadi menunggu pesanan Luhan hanya tersenyum saat mata mereka bertemu.

"Silahkan, Tuan."

"Dua Americano dan satu choco bubble tea."

"Baik. Silahkan ditunggu pesanan Anda." Setelah mencatat, ia pun membungkuk pada Luhan kemudian pergi. Luhan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat—mencari batang hidung Sehun. Ia hendak menghubunginya hingga suara seseorang yang begitu ia hapal menyerukan namanya dan membuatnya kembali meletakkan ponsel di saku jaketnya.

"Luhan!" ia menoleh dengan spontan. Didapatinya pria setengah baya yang tidak terlalu tinggi berjalan dengan gayanya yang canggung lalu mendudukkan tubuhnya pada kursi di sebrang Luhan.

"Sajangnim." Luhan berdiri sejenak kemudian membungkuk. Tangan Junmyeon mengisyaratkan Luhan agar kembali duduk.

"Lama tak bertemu denganmu, Lu."

"Kau sulit sekali untuk ditemui. Jadi ini bukan salahku." Ujarnya setengah bercanda. Junmyeon terbahak, untung tak begitu keras. Kebiasaannya tertawa dengan suara nyaring memang tak bisa dihilangkan.

"Kalau begitu salahkan saja klien-klien itu yang sudah menyita waktu kita."

Americano dan bubble tea sampai di meja mereka. Luhan mengangguk pelan—mengisyaratkan terimakasih pada waitress tersebut.

"Majayo. Mereka sudah menyita waktu kita." Timpal Luhan seraya menyodorkan secangkir Americano ke hadapan Junmyeon. Dan mata kecil pria itu mengarah pada bubble tea yang terlihat dianggurkan.

"Kau membawa seseorang?" ujarnya dengan senyuman aneh yang menurut Luhan terlihat begitu mengerikan. Luhan memutar bola matanya.

"Seorang teman. Kau tak perlu mencurigaiku."

"Teman atau—"

"Abeoji!" sentak Luhan membuat Junmyeon kembali tertawa.

"OK, OK, cukup sampai disini. Ngomong-ngomong kemana dia?"

"Dia sedang ke toilet. Biar kuhubungi." Luhan mengiriminya sebuah pesan. Kemudian kembali berbicara pada Junmyeon.

"Bagaimana Jongin?" Luhan memilih topik tersebut sebagai awal pembicaraan. Ia sudah jarang tak bertemu Jongin dan begitu merindukannya.

Junmyeon tampak mendesah. Ia membuang nafasnya berat kemudian menyesap Americano yang berangsur mulai mendingin.

"Kurasa kau harus berbicara dengannya. Empat mata. Jika sesama anak muda saling bertukar pikiran sepertinya akan lebih mudah menemukan titik temu." Ujar Junmyeon yang direspon dengan anggukan Luhan.

"Akan kucoba."

Drrrttt... Drrrrttt...

Sebuah pesan masuk membuat Luhan segera mengecek ponselnya.

'Hyung, mianhae aku harus pulang. Aku benar-benar belum mengerjakan tugas dari Profesor Cho. Maafkan aku dan jangan memarahiku. Bbuing bbuing~'

"Oh Sehun!" ia menggertakkan giginya dengan gemas. Sehun kadang selalu bersikap aneh dan membuat Luhan bingung. Bahkan ia pernah meninggalkan Luhan di salah satu department store dengan alasan jika salah satu profesor memanggilnya dan mengharuskannya untuk segera datang menemuinya. Dan Sehun memberitahu Luhan melalui pesan. Terang saja jika Luhan kesal dan selalu berakhir dengan Sehun yang tidak mau dihubungi selama satu minggu penuh. Namun Luhan selalu mengalah. Ia selalu berusaha memahami sifat kekanakkan Sehun yang menurutnya memang harus dihilangkan itu. Oleh karena itu kali ini ia tak ingin memicu pertengkaran lagi.

"Wae?" Junmyeon mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah tampan Luhan. Ia mengerjapkan matanya kemudian menggeleng pelan.

"Ani. Ah, kita pesan makanan saja. Aku sudah sangat lapar." Luhan melambaikan tangannya pada waitress lalu memesan makanan untuknya dan juga Junmyeon. Satu hal mencolok yang terlihat dari sikap Junmyeon saat ini. Ia selalu bersikap lebih rileks jika berhadapan dengan Luhan dan berubah menjadi tegang saat harus menghadapi Jongin. Mereka memang berbeda. Sifat mereka begitu bertolak belakang hingga Junmyeon menaruh harapan yang sangat besar pada Luhan untuk bisa menggantikannya mendidik Jongin.

.

.

.

Sehun sudah berjalan cukup jauh meninggalkan Luhan dan juga Junmyeon. Ia mencari halte terdekat yang jaraknya masih cukup jauh.

"Hyung, maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi." Sehun bergumam sendiri pada ponselnya tanpa melihat sedikitpun jalan di depannya. Ia terpaksa melarikan diri dari sana ketimbang harus bertemu dengan Junmyeon lalu mendapat masalah lebih serius yang akan mengancam hubungannya dengan Luhan. Memang ini terkesan berlebihan jika dipermasalahkan, namun dari awal ia sudah tak jujur pada Luhan dan sama sekali tak memberitahunya mengenai pekerjaan yang Junmyeon berikan padanya. Dan ia tentu saja akan marah jika Junmyeon yang mengatakannya dan bukan Sehun.

Sehun terlalu sibuk dengan pikirannya. Langkahnya ia percepat ingin segera sampai ke apartemen dan mengistirahatkan tubuhnya. Tangannya masih menggenggam smartphone-nya berharap Luhan akan membalas pesannya. Namun nyatanya pria itu sama sekali tak mengirim pesan apapun dan Sehun tahu jika Luhan kini marah padanya.

DUK

Sehun tak menyadari jika ketergesaannya membuatnya menabrak seseorang dan menumpahkan minuman ke pakaiannya. Ia terus saja berjalan dan sibuk dalam pikirannya hingga suara seseorang membuatnya berhenti.

"YA OH SEHUN!"

Sehun terkejut saat namanya dipanggil oleh seseorang. Itu bukan suara Luhan ataupun suara familiar lainnya. Ia menolehkan kepalanya dengan perlahan dan mendapati sebuah tatapan tajam menghujam ke arahnya. Di sampingnya terdapat pria yang jauh lebih pendek dan kecil darinya tengah membersihkan mantel coklat mudanya yang basah.

"Kau?" seru Sehun terkejut. Ia memperhatikan pria disampingnya kemudian menyadari noda coklat besar di pakaian pria tersebut.

"Aigoo~" Sehun berlari kecil ke arah mereka. Pantas saja tadi ia merasa bahunya membentur sesuatu.

"Apa aku yang melakukan ini semua?"

"Kau masih bertanya?! Tentu saja!" bukannya Kyungsoo yang berkomentar, namun malah Jongin yang membentaknya. Beberapa tatapan kini mengarah kepada mereka.

"Jonginnie sudahlah." Kyungsoo menarik ujung jaket Jongin dan mengisyaratkan Jongin agar tak membuatnya malu. Sehun menatap pria yang lebih muda darinya itu dengan dahi berkerut.

"Kalau begitu aku minta maaf." Sehun membungkuk, menyesal dengan perbuatannya.

"Gwaenchana." Ujar Kyungsoo merasa tak enak. Namun apa yang dilakukan Jongin setelahnya membuat Sehun maupun Kyungsoo begitu terkejut. Jongin mencopot satu per satu kancing mantel Kyungsoo kemudian melepasnya.

"Ya apa yang kau—"

"Bersihkan!" pria angkuh itu melempar mantel ke arah Sehun hingga pria itu terbelalak.

"Bukankah kau butuh uang? Bersihkan mantelnya dan aku akan membayarmu!" ujar Jongin ketus. Ia melepas jaketnya kemudian memakaikannya ke tubuh Kyungsoo. Lalu tangannya menarik tangan pria itu untuk pergi.

Sehun masih tak percaya. Apa harga dirinya baru saja diinjak-injak? Kepalanya perlahan menunduk—menatap mantel yang sudah tersampir di lengannya.

"Brengsek. Kau memang harus diajari sopan santun, Kim Jongin!" Umpatnya kesal.

.

.

.

Sehun menopang dagunya diatas lutut. Matanya tak lepas dari cucian yang kini tengah berputar di dalam mesin cuci. Ia tampak melamun dan tak menghiraukan suara mesin yang berbunyi otomatis saat mesin cuci berhenti memutar mantel Kyungsoo.

"Cih, apa semua orang kaya seperti itu?" matanya menerawang ke dalam mesin cuci. Bibirnya mengerucut sebal kemudian ia menyadari jika cuciannya sudah selesai dikeringkan. Ia mengeluarkan mantel kemudian menatap lekat-lekat benda berwarna coklat muda tersebut.

"Gara-gara benda ini dia menjatuhkan harga diriku di depan orang lain. Brengseeeeeeekkkkk!" teriak Sehun frustasi.

Ting Tong Ting Tong

Sehun berhenti berteriak. Ia berjalan ke pintu depan kemudian memperhatikan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 lewat.

"Malam-malam seperti ini?"

Ting Tong Ting Tong

Sehun mendekati layar interkom kemudian menatap wajah seseorang yang muncul disana.

"Luhan Hyung~"

"Oh Sehun, aku tahu jika kau belum tidur!" ujar suara tersebut dan Sehun hanya menelan salivanya gugup.

Tak terdengar lagi suara bel yang ditekan melainkan digantikan dengan suara tombol yang ditekan untuk memverifikasi kunci. Sehun cepat-cepat menempelkan tubuhnya di daun pintu dan menahannya dari dalam agar Luhan tak bisa masuk.

"Hyung harus berjanji tak akan memarahiku!" teriak Sehun saat Luhan berhasil membuka kunci dan medorong pintu hingga terbuka sedikit.

"Menyingkir dari sana!"

"Shireo! Kau harus berjanji dulu tak memarahiku!" Sehun bersikeras menahan pintu agar tak terbuka semakin lebar.

"Aishh aku tak akan memarahimu. Sekarang menyingkir dari sana!"

Sehun mendorong pintu dengan kuat hingga tertutup kembali.

"Oh Sehun!" geram Luhan yang kembali memverifikasi password dan Sehun melarikan diri ke kamarnya. Ia berniat mengunci pintu kamarnya namun sama sekali tak terlihat benda tipis itu di lubang kunci. Dengan cepat ia melompat ke atas ranjang dan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal serta menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sikapnya benar-benar seperti anak kecil yang takut dimarahi oleh ayahnya.

Derap langkah kaki yang mendekat membuatnya semakin mengeratkan bantal di kepalanya. Beban di tepi ranjang membuanya sedikit bergerak.

"Ireona." Ujar Luhan sambil menepuk kakinya. Ia berusaha menyingkirkan selimut dari tubuh Sehun.

"Shireooo~" suara yang teredam bantal membuat Luhan memutar bola matanya. Karena gemas Luhan pun menyingkap selimut hingga tak menutupi tubuh Sehun lagi. Ia menarik lengan pria itu dengan paksa hingga Sehun kini terduduk di hadapannya. Rambutnya berantakan dengan bibir mengerucut tajam.

"Sekarang jelaskan padaku kenapa kau pergi dari sana. Aku tahu jika kau berbohong." Luhan menatap Sehun tajam. Pria itu kembali menelan salivanya kemudian menatap Luhan dari sudut matanya.

"Hyung, kau berjanji tak akan memarahiku 'kan? Dan entah kenapa ini sangat kebetulan." Sehun memberanikan diri menghadapkan tubuhnya ke arah Luhan dan dilihatnya pria mungil itu menautkan kedua alisnya.

"Maksudmu?"

Sehun menghela nafasnya sejenak. Mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Luhan. Ia tak bisa terus-terusan menyembunyikan semuanya dari Luhan. Toh lambat laun ia pasti akan tahu.

"Hyung, sebenarnya aku—"

.

.

.

Sehun menggeliat pelan. Ia merasa seluruh tubuhnya begitu hangat dan perlahan ia membuka matanya. Matanya terasa sakit dan ditatapnya sosok yang kini berada di hadapannya—memeluknya dalam tidurnya.

Semalam Sehun menjelaskan semuanya kepada Luhan. Ia harus menangis karena penjelasannya merebak ke arah kehidupan serta masalah finansial yang ia alami. Sehun membutuhkan pekerjaan itu. Ia tekankan kepada Luhan bahwa ia tak bisa selalu bergantung kepadanya. Dan pria itu menenangkan Sehun—memeluknya hingga mereka terlelap.

Sehun memperhatikan wajah damai malaikatnya. Dielusnya perlahan pipi mulus itu. Wajahnya tampak lelah dan banyak pikiran. Sehun tahu jika ia pun menjadi beban kekasihnya itu.

"Hyung, ireona." Suara seraknya membuat Luhan perlahan membuka mata indahnya. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Dan setelahnya ia megecup dahi Sehun lembut.

"Selamat pagi." Suara serak khas bangun tidur membuat Sehun ikut tersenyum tipis.

"Hyung kau harus cepat-cepat mandi. Ini sudah jam 6." Sehun melepaskan pelukan Luhan kemudian mendudukkan tubuhnya. Ia menepuk-nepuk paha Luhan cukup keras karena Luhan malah memejamkan matanya kembali. Dan sebuah tepukan paling keras membuatnya meringis kemudian membuatnya membuka mata lebar-lebar. Ia menatap Sehun yang hendak turun dari ranjangnya.

"Sayang, matamu bengkak." Ujar Luhan saat ditatapnya mata Sehun yang berwarna merah. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Pantas saja sakit. Aku akan mengompresnya. Hyung cepatlah mandi. Aku akan membuat sarapan untukmu." Sehun pun pergi keluar kamarnya dan segera menuju dapur untuk mengambil beberapa bongkah es batu serta membuat sarapan untuk kekasihnya.

.

.

.

Ini adalah hari pertama Sehun menjadi tutor Jongin. Sudah sekitar 20 menit ia menyelesaikan kuliahnya dan kini ia tengah menunggu sosok anak brengsek menurut Sehun itu di depan pintu gerbang sekolahnya. Menurut pihak sekolah, seluruh siswa tingkat akhir sudah bubar sejak satu jam yang lalu. Hari memang sudah begitu gelap. Pelajaran tambahan khusus anak-anak kelas 3 membuat mereka harus pulang lebih larut dari biasanya. Namun kabar lain yang Sehun dapat dari orang rumahnya —Tuan Muda sama sekali belum kembali ke rumah—dan Sehun benar-benar kesal padanya. Sehun bertekad akan memberinya pelajaran setimpal agar anak itu menyesal dan tak akan berbuat seenaknya lagi padanya. Saat matanya mengedar ke seluruh penjuru sekolah yang sudah tampak sepi, tiba-tiba suara dering ponsel membuatnya sedikit terlonjak. Ia merogoh saku kemejanya kemudian mengeluarkan ponsel—menatap nama seseorang yang tertera disana.

"Yeoboseyo? Eh? Jinjja? Ahh baiklah saya akan segera kesana." Sehun memutus panggilannya dengan Jongdae. Pria itu baru saja mengabari Sehun mengenai keberadaan Jongin saat ini. Sehun menggertakkan giginya kesal kemudian meremas ponselnya dengan gemas.

"Anak sialan! Kau ingin mengerjaiku eoh? Kau tak akan bisa melarikan diri!"dengan langkah terburu ia pun meninggalkan sekolah Jongin dan segera menuju ke tempat anak itu berada.

.

.

.

Tubuh yang masih berbalut seragam itu kini tengah merebah santai di atas sofa merah yang terletak di salah satu sudut ruang tengah di apartemen Kyungsoo. Tangannya sibuk mengganti channel TV yang menurutnya sama sekali tak ada yang menarik.

"Jonginnie, aku tak ingin berurusan dengan Abeojimu!" ujar Kyungsoo yang kini tengah sibuk membuat makan malam untuknya dan juga Jongin.

"Mereka tak tahu apartemenmu. Jadi biar aku yang mengurusnya. Kau cukup menyembunyikanku dari tutor bodoh itu sekarang!" Jongin mematikan TV kemudian beranjak ke dapur untuk duduk di meja makan. Ia menumpu dagunya dengan sebelah tangan—memperhatikan Kyungsoo yang dengan gesitnya tengah memotong sayuran untuk sup.

Ting Tong Ting Tong

Tiba-tiba suara bel membuat mereka menolehkan kepalanya secara bersamaan.

"Buka pintunya." Perintah Kyungsoo yang hanya ditanggapi dengan gidikan bahu Tuan Muda. Kyungsoo memelototinya kemudian mengepalkan tangannya dengan gemas.

"Neo—jinjja!" ia pun dengan langkah yang amat sangat terpaksa segera berjalan ke arah daun pintu tanpa memperhatikan siapa yang kini tengah menekan tombol belnya. Saat pintu dibuka, mata Kyungsoo membulat sempurna dan ia hendak menutup kembali pintu tersebut namun pergerakkan tangan seseorang yang kini tengah berdiri di depan pintu apartemennya rupanya satu langkah lebih cepat darinya dan tenaganya pun lebih kuat dari pada Kyungsoo.

"K—kau!"

"Kim Jongin, aku tahu jika kau ada di dalam!"Sehun yang sudah tak mempedulikan lagi tatakrama segera menerobos masuk ke dalam apartemen.

"Y—ya! Kau tak bisa seenaknya masuk ke dalam apartemenku! Ya!" tubuh pendek Kyungsoo nekat melawan tubuh tinggi Sehun dan sudah pasti dengan sekali hentakan tubuh Kyungsoo terjengkang ke belakang hingga ia terduduk di lantai. Jongin yang mendengar kegaduhan itu segera berlari ke arah pintu depan dan ia terlihat begitu terkejut saat mendapati tutor bodoh itu kini berada di dalam apartemen Kyungsoo dengan tatapan mata yang terlihat nyalang.

"Kim Jongin, kau ikut denganku atau aku akan menyeretmu keluar dari apartemen ini!"

To be Continued

.

.

.

Semoga part ini gak ngecewain T_T