Hadiah Naruto buat Sasuke aman kok, nanti dibahas. Yang nolongin Naru nih muncul lagi disini dan jelas siapa-siapanya.

Hm, di masa lalu Naruto memang suka mendapat pelecehan karena disangka cewe. Tapi pas mereka tau ternyata Naruto itu cowo mereka langsung mundur, biasanya. Makanya, ini pertama kalinya ada yang tetep nyerang dia bahkan setelah tau kalau dia itu cowo. Bagi Naruto itu adalah shock berat.

Iya kok, mulai dari sini bakal mulai serius. Tapi bukan berarti bakal langsung ke klimaksnya. Masih banyak cerita-cerita menuju kesana dengan happy ending tentunya. Jadi siap-siap aja dengan kejutan-kejutan disana-sini.

Shi-chan, kamu tau kan gimana mereka. Mungkin Sasuke ga dobe, cuma belum yakin aja.

Chapter ini sedikit, hm gimana ya bilangnya, bikin gereget? Ah, kayaknya ga pas deh. Ya udah deh, kalian tentukan aja setelah baca sendiri ya.

Yo, chapter 10.


Naruto terbangun karena wangi mint yang merasuki hidungnya. Wangi ini pernah dia cium dan dia suka dengan baunya. Naruto mendekatkan diri agar dapat mencium wangi ini lebih dalam hanya untuk mendapatkan dirinya tidak dapat bergerak. Dia membuka matanya seketika dan melihat wajah tampan Sasuke yang masih tertidur. Tangan suaminya itu melingkar di pinggangnya dan memeluknya erat seperti tidak ingin melepasnya. Menyadari posisi mereka Naruto merasakan pipinya panas. Perlahan dia mencoba membebaskan diri dari dekapan Sasuke tanpa membangunkan sang Uchiha.

Begitu berhasil, ia bergegas berlari ke kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya. Suara dari pintu yang tertutup membangunkan Sasuke. Ketika tidak melihat sosok Naruto di sampingnya dia tahu bahwa yang barusan menutup pintu adalah istrinya. Tempat di mana Naruto berbaring terasa masih hangat, itu berarti istrinya belum lama terbangun.

Sasuke bangkit dari tempat tidur dan menyiapkan pakaiannya untuk hari itu. Setelah itu dia merapikan tempat tidur sembari menunggu Naruto selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Lima belas menit kemudian Naruto pun keluar dengan rambut basah dan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Saat matanya bertemu dengan mata Sasuke, dia segera memalingkan wajah karena teringat kejadian saat bangun tidur tadi. "Pagi."

"Pagi. Kau sudah baikan?"

"Iya, terima kasih."

"Syukurlah, kalau begitu aku mandi dulu."

Naruto mengangguk dan berjalan menjauh dari pintu kamar mandi agar Sasuke bisa menggunakan ruangan tersebut. Dia menaruh handuk kecil yang ada di lehernya dan menggantinya dengan syal yang semalam Itachi pakaikan. Setelah memastikan baju yang akan dikenakan Sasuke rapi, Naruto beranjak pergi ke dapur.

Sarapan sudah tersaji di meja makan tapi tidak ada siapa pun di sana. Mikoto sepertinya sedang memanggil Fugaku dan Itachi untuk sarapan. Dan benar saja, tak lama kemudian Itachi bergabung dengannya dan mereka berbincang sedikit. Pagi ini perasaan Naruto sudah jauh lebih baik dan Itachi lega melihatnya. Dia pikir adik iparnya akan mengalami stress dalam beberapa waktu ke depan. Sepertinya Sasuke telah melakukan sesuatu untuk menenangkannya, walaupun entah apa itu. Yang menyusul berikutnya adalah Sasuke, dia langsung mengambil tempatnya di samping Naruto dan duduk.

"Semalam sepertinya kau mimpi buruk. Apa sekarang sudah tidak apa-apa?" Naruto menatap Sasuke terkejut. Dia ingat dengan mimpi buruknya. Walau tidak sama persis tapi terasa seperti reka ulang baginya. Dia begitu ketakutan di dalam mimpinya semalam, tapi tidak lama mimpi itu berubah baik karena dalam mimpinya Sasuke datang menyelamatkannya. Dia berpikir jangan-jangan karena itu Sasuke memeluknya semalaman.

"Iya. Um, terima kasih."

"Untuk apa?"

Tidak yakin bagaimana mengatakannya, terlebih lagi sekarang ada Itachi bersama mereka. Entah apa yang akan dikatakan kakaknya itu jika mendengar penjelasan Naruto. Sasuke terus menatap Naruto menunggu jawaban darinya, mau tidak mau Naruto pun menjawab. "Semalaman kau memelukku sehingga mimpi burukku hilang. Karena itu, terima kasih."

Sasuke tidak menyangka Naruto akan membahasnya tapi dia senang mendengar ucapan Naruto. "Tidak masalah."

"Hm." Kedua pasangan itu menatap Itachi bersamaan. Wajah datarnya masih belum berubah tapi mereka tahu Itachi hendak mengatakan sesuatu yang akan membuat mereka bereaksi. "Aku tidak tahu sekarang kalian begitu mesra. Sebuah kemajuan. Mungkin sebentar lagi aku akan memiliki keponakan."

"Kakak!" Naruto menggebrak mejanya dan Sasuke kali ini ikut berteriak bersama. Mikoto dan Fugaku yang baru saja hendak memasuki dapur kaget mendengar teriakan mereka dan juga gebrakan meja.

"Ada apa ini?" Fugaku yang bertanya. "Itachi, kau pasti menggoda mereka lagi." Itachi hanya mengangkat bahu dengan santai dan itu membuat Sasuke dan Naruto geram. Fugaku menyudahi pertengkaran mereka dan meminta mereka segera menyantap sarapannya karena hari ini dia, Itachi dan Sasuke harus pergi sedikit lebih awal.

Lagi-lagi Itachi merasa lega. Selain memang ingin menjahili mereka, dia juga ingin memastikan keadaan Naruto. Dia benar-benar lega saat melihat reaksi yang biasanya keluar dari adik iparnya itu. Dia yakin Naruto akan baik-baik saja. Ternyata adik iparnya cukup kuat.

Saat mengantar Sasuke pergi ke pintu depan, Naruto menghentikannya sebentar karena ada yang ingin dia sampaikan. "Aku meninggalkan sesuatu di kafe. Aku berencana untuk mengambilnya hari ini." Yang dimaksudkan adalah kado untuk Sasuke. Dengan kejadian kemarin, Naruto tidak ingat akan hal tersebut. Terlebih lagi saat dia sadar dia sudah ada di rumah, tapi Gaara pasti menyimpankannya untuknya. Dia ingat pemuda yang menyelamatkannya ikut membawa semua belanjaan Naruto saat menolongnya pergi ke kafe.

"Tidak boleh," Sasuke menampiknya segera.

Naruto mengerti kekhawatiran Sasuke, tapi dia benar-benar harus mendapatkan kado tersebut atau semuanya hanya akan percuma. Karenanya, Naruto mencoba memberikan beberapa alasan agar dia diijinkan pergi. "Aku akan ditemani Ibu, jadi.."

"Tidak."

"Tapi, itu barang yang sangat penting dan aku harus mengambilnya. Gaara juga sibuk, aku tidak bisa memintanya untuk mengantarkannya kemari."

"Kalau begitu biar aku saja yang mengambil setelah pulang kerja."

"Jangan!" Naruto sadar apa yang baru saja dia lakukan akan menimbulkan kecurigaan pada Sasuke. Dia baru saja bersikeras untuk mendapatkan barang itu tapi menolak tawaran Sasuke untuk mengambilkannya untuknya. Matanya tertuju ke lantai menjauhi tatapan Sasuke. Giginya menggigit-gigit bibir bawahnya karena gugup. "Um, itu.. maksudku.."

Melihat gelagat Naruto yang penuh kerahasiaan seperti ini membuat Sasuke tidak senang. Tapi dilihat dari wajahnya Sasuke mengerti bahwa apapun yang Naruto tinggalkan di kafe adalah sesuatu yang sangat penting baginya. Kali ini dia akan mengalah. "Aku akan pulang larut malam ini. Tapi besok aku bisa pulang lebih awal untuk menjemputmu dan mengantarmu pergi ke kafe. Bagaimana?"

Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke penuh arti. Dia mengerti sikap Sasuke yang seperti ini, dia juga mengerti kekhawatiran Sasuke akan dirinya dan Naruto sangat senang menerimanya. Karena itu dia tidak bisa menolak saat Sasuke menawarkan diri untuk mengantarnya besok. Naruto mengangguk pelan tanda mengerti.

Itachi yang sedari tadi menunggu Sasuke memperhatikan interaksi diantara keduanya. Ekspresi wajahnya datar seperti biasanya, bahkan saat mereka sudah berada di dalam mobil pun dia tetap mempertahankan ekspresinya tersebut. Kali ini Itachi yang menyetir karena Sasuke terlalu sibuk dengan pikirannya dan Fugaku sibuk dengan beberapa berkas di tangannya dan duduk di kursi belakang.

Di perjalanan sesekali Itachi melirik adiknya yang duduk di sampingnya itu. Sasuke menatap kosong ke arah jalan karena pikirannya sendiri sedang melayang jauh entah kemana. "Kau terlalu keras padanya, Sasuke." Pernyataannya itu mendapatkan tatapan dari dua orang yang sedari tadi sibuk dengan perihal masing-masing. Fugaku tidak ikut ke dalam percakapan tapi dia ikut mendengarkan.

"Apa maksud, Kakak?"

"Naru. Kau terlalu keras padanya tadi. Dia itu sudah dewasa dan bisa belajar dari pengalaman. Tidak perlu sampai seperti tadi, bukan?"

"Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Lagipula dia itu istriku, sudah sewajarnya aku menjaganya."

"Hm, begitu? Baru kali ini aku melihat kau begitu peduli pada seseorang sampai seperti ini."

Tidak mendapatkan jawaban, Itachi merasa sangat senang. Saat dia melirik lagi ke arah Sasuke, wajah sang adik terlihat semakin bingung. Kerutan di dahinya bertambah dan ekspresi wajahnya terlihat sangat lucu bagi Itachi. Dalam hati dia terkikik tapi tetap mempertahankan ekspresi datarnya di luar. Di kursi belakang Fugaku hanya bisa menatap dari satu anak ke anaknya yang lain. Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya Sasuke ada masalah dengan Naruto. Dia berharap semoga saja tidak akan menjadi lebih buruk dan masalahnya akan cepat selesai.

Seharian ini mereka bertiga sangat sibuk karena sedang ada proyek baru dan jika ini berhasil maka perusahaan yang sudah mereka bangun sendiri selama bertahun-tahun ini akan naik ke posisi di atas. Sasuke sendiri sudah mempersiapkan diri jika dia harus memegang salah satu jabatan di perusahaan ini ketika sudah semakin besar. Fugaku akan menyerahkan jabatan sebagai direktur kepada Itachi dan dia sendiri hanya akan mengawasi kedua anaknya dari belakang. Dia tidak lagi membutuhkan apa-apa, yang dia inginkan hanyalah kesuksesan dan kebahagiaan anak-anaknya.

Sasuke memberikan performa yang sangat baik di setiap pekerjaan yang dia lakukan dan Fugaku bangga padanya akan hal itu. Yang menyadari perbedaan di sikap Sasuke hari ini hanyalah Itachi saja. Dia kagum karena Sasuke masih bisa mengerjakan pekerjaannya secara profesional ketika pikirannya sedang teralihkan oleh suatu hal yang cukup rumit. Dia yakin adiknya saat ini sedang memikirkan dan meragukan perasaannya sendiri. Sejak dulu mereka berdua tahu bahwa Sasuke tidak pernah peduli pada hal lain kecuali keluarga Uchiha dan karirnya. Masalah dengan Naruto pasti membuatnya tidak tenang, terutama karena dia tidak bisa mendapatkan jawaban yang jelas atas masalah tersebut.

Itachi beranggapan akan seru mengikuti perkembangan hubungan kedua pemuda yang lebih muda darinya itu. Naruto sendiri menurutnya sedang dirundung masalah yang tidak jauh berbeda dengan Sasuke. Ini akan menarik dan dia berniat untuk sedikit memberikan dorongan agar dapat menjadi tontonan yang lebih seru.

"Sasuke, kau berniat untuk mengantar Naru besok ke kafe?" Sasuke mengangkat matanya dari berkas yang sedang dia telusuri untuk menatap Itachi.

"Lalu?"

"Aku akan ikut dengan kalian." Sasuke mengangkat kedua alisnya dan menatap Itachi lebih fokus. "Aku belum pernah tahu kafe milik mereka dan ada yang perlu kubicarakan juga dengan Gaara," Itachi beralasan. Tidak sepenuhnya rekaan, dia memang ingin membicarakan sesuatu dengan Gaara, perihal hubungan Sasuke dan Naruto tentunya.

Sedikit tidak percaya dengan alasan Itachi tapi Sasuke tidak melihat ada ruginya jika kakaknya ikut. "Terserah." Mendengar jawaban Sasuke, Itachi semakin yakin bahwa adiknya itu memang tidak terlalu fokus pada apapun yang ada di hadapannya saat ini. Jawabannya begitu singkat dan nada suaranya terlalu datar bagi Sasuke yang biasanya ketika berbicara dengan Itachi.

Ini benar-benar akan menarik.

Itachi tidak lagi menggangu Sasuke untuk hari ini. Saat waktunya untuk pulang, mereka bertiga pun kembali tanpa lagi membahas soal Naruto. Fugaku, seperti biasa memang tidak pernah ikut campur dan hanya mengawasi. Naruto sedang menonton di ruang tengah saat mereka tiba di rumah. Sasuke menyapanya dan ikut duduk bersamanya di sofa. Itachi dan Fugaku meninggalkan mereka berdua sendiri agar bisa lebih leluasa mengobrol apapun itu.

"Bagaimana perasaanmu saat ini?"

"Hm, sudah jauh lebih baik. Tadi aku membantu Ibu mencuci baju dan juga berjalan-jalan sebentar di halaman belakang. Menggerakan badanku membuat perasaanku jauh lebih baik daripada hanya berbaring seharian di kamar."

"Syukurlah."

Hening sejenak dan mereka berdua hanya menatap diam ke arah layar televisi. Dalam diam, tangan kuat Sasuke merangkul bahu Naruto dan membawanya kedalam dekapan. Naruto yang lengah benar-benar kaget saat merasakan kehangatan yang diberikan Sasuke semalam kembali dirasakannya.

"Sasuke?"

"Sssh." Dalam dekapannya, Naruto mendongak dan menatap mata onyx Sasuke. "Biarkan saja seperti ini sebentar."

Tanpa kata-kata lagi Naruto menenggelamkan diri dalam dekapan si Uchiha bungsu dan menikmati kehangatan yang diberikan. Naruto tidak yakin apa alasan Sasuke memperlakukannya sehangat ini tapi dia bahagia menerimanya. Dipeluk oleh Sasuke membuatnya merasa aman dan juga damai.

"Naru, kau tidak tidur kan?" Pertanyaan Sasuke terdengar usil dan tentu saja membuat Naruto sedikit cemberut.

"Tentu saja tidak."

Sasuke terkikik pelan lalu melepaskan pelukannya. Dia mengacak rambut Naruto pelan sebelum meninggalkannya untuk berganti pakaian. Naruto menjatuhkan tubuhnya dia atas sofa dan berbaring disana. Hanya dengan satu pelukan saja dapat membuat Naruto melupakan semua ketakutan dan kegelisahannya. Mengapa perhatian dari Sasuke bisa begitu berpengaruh baginya?

Naruto terlalu larut dalam pikirannya samapi dia tidak sadar Itachi sudah memanggilnya berkali-kali sejak tadi. "Oi, kau dengar tidak? Ayo cepat, sudah waktunya makan malam."

Naruto bangun dan menjawab dengan nada yang terkesan terburu-buru. "Iya iya, aku kesana." Itachi tidak luput menyadari kejanggalan di sikap Naruto. Dia yakin sesuatu pasti terjadi diantara kedua adiknya saat mereka ditinggal berdua tadi. Aah, dia semakin gemas saja melihat mereka ini.


"Selamat datang!"

Yang menyambut mereka saat datang ke kafe adalah seorang pemuda berambut coklat panjang, berperawakan lumayan tinggi, kulitnya putih dan berwarna mata lavender. Naruto menatap bingung ke arah sosok yang belum pernah dia lihat, sedangkan Sasuke membalas salamnya dengan ramah.

"Hai, kita bertemu lagi. Kau sekarang bekerja di sini?"

"Benar, aku baru mulai kemarin. Silahkan masuk." Pemuda itu beralih ke Naruto dan tersenyum kepadanya. "Selamat sore. Bagaimana kabarmu?"

Naruto masih menatap bingung ke arah pemuda tersebut. Dia tidak ingat pernah melihatnya dan juga tidak ada yang memberitahu bahwa mereka mempekerjakan karyawan baru di kafe. "Um maaf, kau siapa?"

Pemuda tersebut sedikit tersentak akan pertanyaan Naruto, tapi kemudian dia mengingat situasi saat mereka pertama kali bertemu dan memaklumi sikapnya.

"Naru, kau tidak ingat? Dia ini yang menyelamatkanmu tempo hari," Sasuke menjelaskan. Naruto membelalakan matanya ke arah Sasuke tak percaya lalu beralih lagi ke pemuda tadi. Setelah diperhatikan kembali memang Naruto kenal dengan wajah pemuda di hadapannya ini. Dia membungkukkan badannya dan meminta maaf segera.

"Maaf, aku tidak sadar. Aku juga belum sempat berterima kasih padamu jadi, terima kasih sudah menyelamatkanku tempo hari. Jika kau tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi." Naruto berdiri kembali ke posisinya semula dan memandang pemuda yang bisa dibilang penyelamatnya itu dengan tatapan bersalah.

"Tidak apa-apa. Aku bersyukur bisa menyelamatkanmu. Sebagai gantinya aku malah dipekerjakan di sini, aku juga berterima kasih. Sekarang kita impas."

Mereka saling melempar senyum dan pemuda yang bernama Neji itu mengantarkan mereka bertiga ke meja kosong di pojok ruangan. Tidak lama Gaara pun bergabung dan mendapatkan satu pukulan singkat di kepalanya dari Naruto ketika dia menghampiri meja para Uchiha itu. "Mengapa tidak bilang kita merekrut pegawai baru? Kau sudah tidak menganggapku sebagai salah satu pemilik kafe ini dan berbuat seenaknya sekarang?"

"Kau tidak suka? Dia karyawan yang cukup baik menurutku, semua pekerjaannya rapi."

Naruto memukul Gaara sekali lagi. "Bukan itu maksudku. Aku tidak keberatan dia bekerja disini."

Gaara mengelus kepalanya yang dipukul Naruto dua kali. "Kupikir kau akan sibuk dengan khayalanmu beberapa hari ini, jadi kupikir akan kuberitahu ketika kau sudah kembali ke dunia nyata. Tidak kuduga Sasuke bisa menyembuhkanmu hanya dalam waktu satu malam, aku meremehkannya." Gaara mengatakan semua itu dengan wajah datar dan dengan nada yang datar pula.

Dia tahu pernyataannya itu pasti mengganggu sahabatnya dan saat ini Naruto sudah mulai gelisah dalam duduknya. "Sejak kapan kau suka menggodaku seperti ini?" Pertanyaan yang tidak perlu jawaban karena saat melihat ekspresi wajah puas Itachi yang duduk di hadapannya, Naruto tahu pasti apa yang sedang terjadi. Belum lagi dia mengutarakan ketidaksukaanya pada sikap baru sang sahabat, Itachi angkat bicara dan menculik Gaara pergi.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Gaara mengajak Itachi ke kantornya meninggalkan sepasang suami istri itu sendirian. Cukup lama mereka ditinggal, karenanya Naruto sedikit mengajak karyawan barunya mengobrol. Kebetulan kafe sedang tidak terlalu sibuk jadi tidak apa-apa jika Neji beristirahat sebentar.

"Bagaimana caranya Gaara bisa membuatmu bekerja disini?" Naruto mengambil satu sendok kecil tiramissu yang tadi sempat Neji antarkan ke mejanya. Dia menawarkan Sasuke makanan manis tersebut tapi Sasuke menolak.

"Saat kemarin kalian sedang di kantor Gaara, dia mengajakku mengobrol. Aku sendiri tidak tahu mengapa, tapi setelah mendengarkan sedikit cerita tentangku dia bilang dia suka dengan tipe orang sepertiku. Setelah itu dia menawarkanku untuk bekerja disini. Ya karena kebetulan aku baru saja berhenti dari pekerjaanku yang lama kurasa tidak ada salahnya dicoba."

Sasuke mengambil tisu yang ada di atas meja dan dengan benda tersebut melap bibir Naruto yang sedikit kotor karena krim. "Kau punya sepupu, Neji? Kalau tidak salah kemarin kau sempat menyebut-nyebutnya."

Neji menatap Sasuke yang bertanya padanya lalu melirik Naruto yang tersipu sebelum menjawab. "Ya, aku pernah punya sepupu." Saat mereka berdua hanya diam, Neji melanjutkan ceritanya. "Dulu sepupuku juga korban pemerkosaan, tidak ada yang menolongnya saat itu. Bahkan pelakunya pun belum ditemukan sampai sekarang. Karena kejadian itu hidup sepupuku berubah drastis, sampai akhirnya dia tidak tahan dan bunuh diri." Neji tersenyum perih saat mengingat kejadian tersebut.

Naruto meletakan sendoknya dan menatap Neji lembut. "Aku turut bersedih dan maaf sudah mengingatkanmu pada kenangan yang buruk."

Neji menggeleng. "Tidak, lagipula itu terjadi tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu aku berjanji kejadian yang menimpa sepupuku tidak boleh terjadi pada orang lain. Karena itu aku senang bisa menolongmu tempo hari. Aku merasa walaupun hanya sedikit, aku juga sudah menolong sepupuku."

"Neji, kau orang yang baik. Aku sekarang mengerti mengapa Gaara mempekerjakanmu disini."

"Terima kasih."

Akhirnya Itachi keluar dengan Gaara mengikuti di belakangnya. Raut wajahnya menunjukkan kepuasan, tidak jauh berbeda dengan Gaara membuat semua yang melihatnya penasaran akan apa yang sudah mereka bicarakan. "Ayo kita pulang," ajaknya.

Dengan masih sedikit kebingungan Sasuke dan Naruto beranjak dari kursi dan mengikuti Itachi. "Tapi Kak, aku.."

"Ini kan, barang yang ingin kau ambil?" Itachi mengangkat kantung yang ada di tangannya agar Naruto dapat melihatnya dengan jelas. "Urusan kita sudah selesai, kita harus segera kembali. Ibu pasti menunggu kita di rumah."

Memang benar apa yang Naruto perlukan sudah dia dapatkan, tapi dia tidak mengerti mengapa Itachi terburu-buru untuk pulang. Padahal dia mengatakan ingin melihat kafe karena itulah dia ikut. Bahkan Naruto belum menghabiskan tiramissu nya. Naruto tidak mengerti dengan perubahan sikap kakaknya itu.

Tidak dapat menghentikan Itachi, mereka berdua pun berpamitan pada Gaara dan juga Neji. Mereka masuk ke dalam mobil yang disetiri oleh Itachi. Sepanjang perjalanan pulang Naruto mencoba mendapatkan jawaban dari Itachi tetapi nihil. Tidak satu kata pun yang keluar dari mulut si sulung, seakan-akan dia tidak mendengar semua pertanyaan yang Naruto lontarkan kepadanya. Saat sampai di rumah pun Itachi segera menuju kamarnya dan mengunci diri dan baru keluar saat waktunya makan malam. Setelah selesai dia bergegas kembali ke kenyamanan kamarnya dan mengunci diri lagi.

"Ada apa sih sebenarnya dengan Kakak?"

Sasuke sendiri ingin menanyakan hal yang sama tapi tidak yakin harus bertanya pada siapa. Karena itu dia hanya mengangkat bahu ketika Naruto melontarkan pertanyaan tersebut. "Aku juga ingin tahu."

Keesokan paginya, Itachi sudah kembali ke dirinya yang biasanya. Entah Naruto harus bersyukur atau tidak, karena kembalinya Itachi berarti dia akan kembali menggodanya. Itu pun tidak harus menunggu lama karena Itachi mulai beraksi tepat saat mereka sedang sarapan.

Dia mengambil sebuah kantung dan diserahkannya pada Naruto di hadapan semua orang. "Ini barangmu, kau lupa mengambilnya dariku kemarin. Seleramu bagus juga." Naruto melotot ke arah Itachi dengan tatapan yang mengatakan 'Jika sudah tahu apa isinya jangan menyerahkannya di depan Sasuke! Kakak bodoh!' dan menyambar kantung itu dengan kasar. Menyukai reaksi sang ipar, Itachi tidak berhenti di situ saja. "Orang yang sedang jatuh cinta memang lain. Aku bisa merasakan cinta dari barang yang kau pilih. Kau pasti memilihnya dengan sepenuh jiwa."

Bukan hanya Naruto yang bereaksi atas pernyataan Itachi. Sasuke, Mikoto dan juga Fugaku semua berpaling ke arah Naruto bersamaan dengan ekspresi yang berbeda-beda. Fugaku menatap tertarik, Mikoto menatap penuh arti, sedangkan Sasuke menatap penasaran tapi dia juga menunjukkan sedikit kecemburuan yang dia tidak sadari.

"Eh, benarkah nak Naru? Kau sedang jatuh cinta?" tanya Mikoto tertarik.

"Tidak. Kakak hanya mengada-ada seperti biasa," bantahnya.

"Tapi wajah dan reaksimu berkata lain," tambah Itachi yang hanya memperburuk suasana.

"Ibu ingin tahu siapa yang begitu beruntung mendapatkan cinta nak Naru. Bagaimana, Sasuke? Ada yang menarik perhatian istrimu seperti ini. Apa yang akan kau lakukan?" goda Mikoto. Walau berpura-pura tidak tahu tapi Mikoto tahu pasti siapa yang Itachi maksud. Kedua pasangan ini terlalu polos untuk menyadari perasaan mereka sendiri sampai menjadi objek kejahilan Itachi.

Sasuke beranjak dari kursinya dan melangkah pergi keluar dapur. "Aku berangkat." Dia bahkan tidak menunggu jawaban dari siapapun dan segera pergi. Dilihat dari pandangan Itachi, sepertinya adiknya mencoba menghindari kenyataan bahwa ada seseorang yang mengambil perhatian istrinya. Itachi pun beranjak dan segera menyusul Sasuke diikuti oleh Fugaku.

Saat itu Naruto berpikir bahwa semua ini hanya suatu hal yang biasa akibat dari kejahilan Itachi. Tapi sayangnya dia salah. Kenyataan bahwa Naruto mencintai seseorang ternyata sangat mengganggu Sasuke dan berimbas kepada sikapnya yang berubah terhadap sang istri.

Pertama kali Naruto sadari adalah ketika mereka pulang kerja malam itu. Sasuke sepertinya sedikit menghindarinya dan langsung menuju kamar untuk tidur. Awalnya Naruto berpikir karena Sasuke kecapekan dan tidak terlalu memikirkannya. Tapi sikap Sasuke terus berlanjut hingga keesokan harinya. Dia tidak menjawab sapaan Naruto dan bahkan selalu berusaha tidak berada di ruangan yang sama dengannya ketika di rumah. Naruto hanya melihat Sasuke saat sarapan dan makan malam, itu pun tidak mengobrol. Ketika hendak tidur pun Sasuke selalu bergegas berbaring dan tidak memberikan Naruto kesempatan untuk berbicara.

Naruto menyimpulkan bahwa suaminya itu sedang marah kepadanya walaupun dia tidak begitu mengerti mengapa. Bukankah kemarin itu hanya salah satu kejahilan Itachi saja, tidak mungkin sampai seperti ini bukan? Dia tidak suka dengan sikap Sasuke yang seperti ini dan tidak ingin ini terus berlanjut. Karenanya saat pagi berikutnya Sasuke hendak berangkat kerja, Naruto mengutarakan kegelisahannya.

"Sasuke, kau marah padaku?"

"Tidak." Sasuke menjawab singkat dengan punggung menghadap ke Naruto. Tidak sedikit pun dia berusaha untuk melihat wajah istrinya dan Naruto tidak suka dengan kenyataan itu.

"Lalu, mengapa sejak kemarin kau menghindariku? Apa ini ada kaitannya dengan kata-kata Kak Itachi tempo hari?"

"Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan masing-masing?" Perkataan dan nada bicara Sasuke sedikit menusuk hati Naruto. "Aku tidak peduli dengan kehidupan asmaramu. Bukankah sudah kubilang kau bebas melakukan apa saja selama tidak mencoreng nama Uchiha? Jika ternyata pria yang kau cintai juga mencintaimu, kau boleh saja meminta berpisah dariku dan aku tidak keberatan. Nanti aku yang akan menjelaskan semuanya pada Ayah jadi kau tidak perlu khawatir. Sejak awal hubungan kita ini memang hanya sebatas status dan didasari oleh alasan yang tidak jelas. Kau boleh memutuskannya kapan saja."

Naruto hanya bisa diam mendengarkan semua perkataan Sasuke. Yang Sasuke katakan semuanya memang benar, tentang perjanjian mereka, tentang pernikahan mereka, semuanya benar. Tapi entah mengapa hatinya sakit saat mendengar Sasuke begitu mudahnya memutuskan hubungan mereka. Setelah apa yang mereka jalani selama ini, apa semua itu hanya berarti baginya? Jantungnya berdegup kencang dan napasnya sedikit tercekat, Naruto tidak tahu apa yang harus dia katakan. "Sasuke.."

"Aku pulang larut malam ini. Kau tidak perlu menungguku. Dan kuucapkan selamat."

Sasuke membuka pintu dan meninggalkannya begitu saja. Naruto masih berdiri terdiam di depan pintu sambil mencoba untuk mendapatkan napasnya kembali. Inilah yang selalu dia benci ketika berhubungan dengan seseorang, penolakan. Tapi dari semua penolakan yang pernah dia terima, penolakan dari Sasuke terasa begitu menyakitkan. Nada suaranya yang begitu dingin masih terngiang-ngiang di telinga Naruto dan dia tidak bisa melupakannya. Saking sakitnya, dia sudah tidak sempat lagi menyalahkan Itachi dalam hal ini. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana Sasuke telah menjauhinya.

Setelah mendapatkan kembali napasnya dan mengatur degup jantungnya agar kembali normal, Naruto berputar memasuki rumah. Mikoto sedang mencuci baju jadi Naruto tidak mengganggunya dan menuju ke kamar. Mengambil telepon genggamnya, dia menelepon sahabatnya Gaara untuk menceritakan masalahnya. Sayang sekali hari ini Gaara memutuskan bahwa pekerjaannya lebih penting dari sahabatnya.

"Maaf Naru, aku tidak bisa bicara denganmu sekarang. Aku tutup teleponnya, ya. Dah."

"Gaara, tunggu!" Nada putus pun terdengar di telinga Naruto.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat ini. Baru saja dia dijauhi oleh Sasuke dan sekarang sahabatnya terlalu sibuk untuk sekedar mendengarkan keluhannya. Dan yang parahnya lagi semua ini harus terjadi tepat di hari ulang tahun Sasuke.

Tidak ada yang ingin Naruto lakukan selain dari membaringkan diri di atas tempat tidur dan mencoba untuk melupakan semua perasaan buruk yang saat ini dia rasakan. Dia tidak ingin kejadian dengan Itachi terjadi lagi. Dia sudah berjanji tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi dan dia tidak pernah mengingkari janjinya. Tapi sekeras apapun dia berusaha, rasa sakit di dadanya ini tidak kunjung hilang. Ingin sekali Naruto berteriak dan menyalahkan seseorang atas semua hal ini. Dia sudah bosan dikecewakan dan sudah lelah berharap. Tapi hati kecilnya berkata dia belum sanggup kehilangan Sasuke.

Telepon genggamnya berdering mengalihkan perhatiannya. Dia meraih benda itu dan menerima panggilannya. "Ya." Terdengar suara Kushina dari ujung sana.

"Naru, bagaimana kabarmu sayang? Ibu rindu sekali padamu."

"Aku baik-baik saja, Bu," Naruto berbohong. "Ada apa Ibu menelepon?"

"Ah ya, kau ingat waktu itu Ibu bilang cucu Ibu akan tinggal bersama kita? Sekarang mereka sudah di sini. Baru saja tadi pagi mereka sampai."

"Benarkah? Syukurlah." Naruto seharusnya senang mendengar berita ini, tapi entah kenapa hatinya kosong dan tidak bisa merasakan apa-apa. "Lalu bagaimana keadaan mereka?"

"Mereka sedang beristirahat, perjalanan dari Suna kemari kan cukup jauh. Mungkin nanti mereka akan mengunjungimu atau kau bisa pulang dan melihat mereka."

"Hm, ya nanti aku akan ke sana. Sampaikan saja salamku pada mereka."

Kushina diam sejenak dan Naruto sempat berpikir kalau ibunya memutus hubungan. "Naru sayang, kau yakin tidak apa-apa? Kau terdengar sedikit lemas. Apa ada masalah di sana?" Kushina sangat mengenal putranya dan dapat merasakan perubahan sekecil apapun darinya. Naruto yang biasanya akan menerima berita ini dengan penuh kegembiraan, hal yang tidak dia rasakan saat ini. "Kau tidak bertengkar dengan Sasuke atau Itachi lagi, kan?"

Tebakan Kushina begitu tepat membuat Naruto semakin merasakan sakit di dadanya. "Tidak, Bu. Aku baik-baik saja, Ibu tidak perlu khawatir. Maaf Bu, Ibu Mikoto memanggilku. Sampaikan salamku pada semua, aku sayang Ibu." Kali ini Naruto yang memutuskan hubungan.

Tidak biasanya dia berbohong pada Ibunya dan merasa sedikit bersalah setelah melakukannya. Akan tetapi, dia tidak ingin membahas masalahnya dengan sang ibu. Apalagi sekarang sepupu dan keponakannya ada bersamanya, Kushina memiliki hal lain yang perlu dia pikirkan. Naruto sudah bukan anak kecil lagi, dia akan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Untuk mengalihkan perhatiannya, Naruto menyibukan diri sepanjang hari. Dia meminta Mikoto untuk mengajarkannya membuat beberapa masakan baru. Setelah itu dia membantu Mikoto membereskan cucian dan merapikan semua pakaian yang sudah rapi ke dalam lemari. Bahkan Naruto sempat membungkus kado yang dia beli beberapa hari yang lalu untuk Sasuke, walaupun dia tidak yakin Sasuke mau menerimanya. Menjelang malam Naruto menyibukan diri dengan berkas laporan dari Gaara yang belum sempat dia baca.

Naruto tidak melihat bahwa dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam dengan berkas di tangannya dan hari sudah semakin larut. Dia baru menyadarinya ketika matanya sedikit berat dan saat melirik ke jam dinding di kamarnya waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Dia membereskan berkas-berkas yang sedang dikerjakannya dan menyimpannya ke dalam map yang sudah dia sediakan sebelumnya. Tidak lupa untuk meminum obatnya sebelum tidur, Naruto menelan pil yang sudah terasa familiar di lidahnya itu. Seperti yang Sasuke katakan pagi ini, dia pulang larut sekali. Apakah Sasuke sengaja pulang larut agar tidak perlu bertemu dengannya? Tidak mungkin, Itachi dan Fugaku ada bersamanya dan mereka pun belum pulang. Pasti ada pekerjaan yang menahan mereka pulang, Naruto mencoba untuk berpikir positif.

Tidak ada gunanya mencemaskan hal yang tidak-tidak, Naruto mencoba untuk memejamkan matanya. Baru saja setengah jam dia terlelap, sebuah ketukan di pintu membangunkannya. "Naru, bisa kau buka pintunya?"

Itu suara Itachi, tapi suaranya terdengar sedikit berbeda. Beranjak dari tempat tidur, Naruto berjalan ke arah pintu dan membukanya. Itachi berdiri di depan pintu dengan mata sedikit merah dan bau alkohol yang menusuk hidung. Di rangkulannya Sasuke yang sepertinya tidak sadarkan diri juga berbau alkohol.

"Kakak, kalian mabuk?"

Itachi membopong Sasuke masuk dan melemparkannya asal ke tempat tidur. "Maaf Naru, tadi klien kami mengetahui bahwa hari ini ulang tahun Sasuke dan memaksa kami minum. Kami tidak bisa menolak dan.. ugh, bisa kita bicara besok saja? Aku sangat butuh istirahat. Untung saja aku masih sedikit sadar untuk bisa menyetir pulang."

"Ah ya, baiklah. Hati-hati, Kak."

Itachi menutup pintu dan Naruto ditinggalkan bersama suaminya yang sedang menjauhinya dan saat ini mabuk berat. Sasuke sedikit mengerang dan terlihat tidak nyaman karena Itachi melemparkannya begitu saja ke atas tempat tidur dengan kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Naruto menghela napas dan mencoba membantu Sasuke agar dapat merasa lebih nyaman.

Dia melepas sepatu yang masih dikenakan Sasuke satu persatu dan memposisikan kakinya di atas tempat tidur. Naruto duduk di sampingnya dan mencoba melepaskan dasi yang masih terpasang di leher Sasuke. Belum dia selesai, sebuah tangan mencengkramnya tiba-tiba. Naruto mengalihkan pandangannya dari tangannya ke wajah Sasuke dan mendapati suaminya sedang menatap ke arahnya setengah sadar. "Apa yang sedang kau lakukan?"

Suaranya terdengar sedikit serak dan tentu saja bau alkohol. "Ah, um, aku hanya mau membantumu untuk.."

Naruto tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba saja Sasuke menariknya dan membalik posisi mereka. Sekarang Naruto terperangkap antara Sasuke di atasnya dan kasur di bawahnya. Jelas sekali Sasuke tidak sadar akan apa yang dilakukannya. "Apa yang kau lakukan?"

"Sasuke, lepaskan. Kau menyakitiku." Tangan Sasuke yang menahan kedua pergelangan Naruto memang mencengkramnya cukup kuat. Sayangnya saat ini Sasuke terlalu mabuk untuk memperdulikan hal semacam itu.

Sasuke menatap Naruto dengan tatapan tajam dan suaranya pun terdengar sedikit marah. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku?"

"Sasuke, apa yang kau bicarakan? Aku tidak.."

Lagi-lagi kata-katanya terpotong, tapi kali ini karena Sasuke menutup mulutnya dengan bibirnya sendiri. Ini adalah ciuman pertama Naruto dan dia begitu kaget karena Sasuke tiba-tiba menciumnya. Dan lagi Sasuke tidak memberikan ciuman yang lembut dan romantis, dia melakukannya dengan penuh napsu. Bau alkohol merasuki penciuman Naruto membuatnya semakin pusing. Ketika Sasuke melepaskan ciumannya, Naruto mencoba untuk memprotes tapi tertahan karena Sasuke beralih ke lehernya.

Tiba-tiba ingatannya akan kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu mengalir ke dalam kepalanya. Dia mengingat setiap detil hal yang pria mesum itu lakukan padanya dan hal yang dia ingin lakukan tapi tidak berhasil. Naruto spontan meronta dan mencoba membebaskan diri tapi hasilnya tetap sama seperti saat itu, dia terlalu lemah untuk membela dirinya sendiri dan kali ini tidak akan ada Neji atau siapapun yang akan menolongnya.

Sasuke mengalihkan genggamannya ke satu tangan dan dengan tangannya yang bebas dia mulai menyentuh tubuh Naruto. Kebiasaannya memakai kimono tidur memudahkan Sasuke untuk melancarkan kegiatannya. Hanya dengan satu dua gerakan saja tubuh Naruto sudah terekspos dan Sasuke bahkan tidak perlu repot-repot untuk melepaskan pakaian tersebut.

Tubuh Naruto mulai gemetar mengingat pengalamannya. Diantara kesadarannya dia tau ini Sasuke tapi ingatannya yang lain mengatakan berbeda. Dia tidak habis pikir mengapa Sasuke tega melakukan hal ini padahal dia jelas tahu bagaimana kejadian itu memberikan horor pada Naruto. Apakah Sasuke benar-benar membencinya dan marah padanya sampai sanggup melakukan hal ini? Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah berharap suaranya akan sampai kepada Sasuke dan segera menghentikan mimpi buruk ini.

"Sasuke, hentikan! Kumohon hentikan, kau menakutiku. Aku takut!"

Tangan Sasuke terus saja menggerayangi tubuh Naruto, tidak peduli dengan suara yang sedang memohon padanya untuk berhenti. "Kau adalah istriku," ucap Sasuke pelan namun terdengar posesif ditengah kesibukannya menciumi pundak Naruto.

Naruto sudah tidak bisa lagi mengendalikan ketakutan dalam dirinya dan terlihat dari bagaimana tubuhnya bergetar dengan hebat. Dia bahkan tidak memperdulikan bahwa Sasuke masih tidak tahu kalau dia ini laki-laki. Dan sepertinya Sasuke sendiri tidak menyadari kenyataan tersebut berkat terlalu banyaknya alkohol dalam sistemnya. Naruto terus memohon pada Sasuke untuk berhenti dan sepertinya akhirnya Sasuke merasakan ketakutan Naruto karena di detik selanjutnya dia menghentikan kegiatannya dan menatap Naruto lekat-lekat.

"Mengapa?" Masih dikuasai ketakutannya, Naruto tidak mengerti apa maksud pertanyaan Sasuke. "Mengapa kau menatapku seperti itu? Mengapa kau takut padaku?" Naruto menatap mata onyx Sasuke dan tersentak saat melihat luka di sorot mata tersebut. Mengapa Sasuke memberikannya tatapan seperti itu, dia tidak mengerti. Dia hanya tahu Sasuke sedang terluka dan itu karena dirinya. Dia tidak pernah ingin menyakiti Sasuke, tidak pernah.

"Sasuke."

Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Semua hal yang terjadi begitu tiba-tiba ini membuatnya bingung. Apa yang harus dia lakukan? "Naru." Suara Sasuke yang memanggil namanya begitu lembut lagi-lagi membuatnya tersentak. Jantungnya berdebar sangat kencang saat mendengar suara Sasuke yang penuh arti. "Maaf, tapi aku tidak bisa berhenti."

Sekali lagi Sasuke menyatukan bibir mereka tapi kali ini jauh lebih lembut, sangat lembut malah. Berkali-kali dia memanggil nama Naruto begitu mesra membuat Naruto perlahan melupakannya ketakutannya. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk menghentikan Sasuke jika sudah seperti ini. Saat Sasuke melepaskan kedua tangan Naruto dari cengkramannya, Naruto mengalungkannya ke leher Sasuke dan membiarkan si Uchiha bungsu itu melakukan apa yang dia mau.

Hanya satu hal yang Naruto harapkan. Dia berharap saat besok pagi mereka bangun, Sasuke tidak akan ingat apa-apa karena terlalu mabuk.