Title : It's Not All About Money Chapter 4
Pairing : HanHun, KaiHun, KaiSoo, etc
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Luhan, Do Kyungsoo, Kim Junmyeon
Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rate : T
.
.
.
Annyeoooong! Mianhae karena update-nya telat (dan akan selalu telat T_T) Akhirnya chapter 4 update juga! Kemaren2 gak ada waktu buat ngetik ff karena saya bener2 sibuk sama kuliah. Maklum mahasiswi tingkat akhir. Doakan skripsi saya lancar ya! FIGHTING! Dan maaf KaiHun moment-nya masih belum ada. Kayanya ini bakalan jadi ff yang panjang menyaingi episode drama2 di TV xD So, happy reading!^^
.
.
.
Gerimis turun kala itu. Sehun mendongakkan kepalanya—menatap muntahan air hujan yang semakin lama turun semakin deras. Kakinya melangkah semakin cepat menuju sebuah apartemen yang sudah terlihat dari posisinya saat ini. Mengeratkan kain jaket yang sejak tadi hanya menutup tubuhnya asal.
Beberapa saat yang lalu Jongdae bilang Jongin tengah berada di bangunan ini. Entah apa yang sedang ia lakukan. Di lantai 15 lebih tepatnya. Sehun pun tanpa berlama-lama lagi segera menekan tombol 15 di samping pintu lift dan segera melangkahkan kakinya masuk saat pintu besi itu terbuka. Ia tak bisa diam—memikirkan bagaimana cara agar Jongin mau ikut bersamanya pulang. Sudah pasti sebuah penolakan saja yang akan ia dapatkan. Namun siapa tahu kali ini ia bisa sedikit luluh? Mungkin.
Suara dentingan pelan mengagetkan Sehun. Rupanya karena terlalu tenggelam di dalam pikirannya ia tak memperhatikan lift sudah sampai di lantai berapa. Dan kali ini pintu terbuka di lantai 15. Kepalanya sedikit mendongak kemudian ia segera berlari keluar mencari apartemen dimana Jongin berada sekarang. Pintu ke 6 dari arah lift tepat di sebelah kanan. Kakinya berhenti disana. Menarik nafasnya dalam kemudian telunjuknya menekan bel di samping pintu. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan pengusiran yang akan dilakukan Jongin. Namun kali ini ia tak boleh kalah oleh anak ingusan itu.
Saat hendak menekan bel untuk kedua kalinya pintu terbuka dengan lebar dan menampilkan sosok pria mungil yang Sehun hafal dengan wajah begitu terkejut.
"K—kau!" pekik Kyungsoo tertahan. Pasalnya siapa yang tidak terkejut jika seseorang yang kini datang adalah pria yang tengah dihindari Jongin? Baru beberapa menit lalu Jongin mengatakan jika dia harus berusaha menyembunyikannya dari Sehun.
"Aku tahu jika Jongin di dalam." Sehun memasang wajah datarnya. Namun Kyungsoo malah menautkan kedua alisnya.
"Jongin? Eopsoyo." Dustanya.
"Gojitmal."
"Aku tidak berbohong."
"Kim Jongin, aku tahu jika kau ada di dalam!" Sehun yang sudah tak mempedulikan lagi tatakrama segera menerobos masuk ke dalam apartemen.
"Y—ya! Kau tak bisa seenaknya masuk ke dalam apartemenku! Ya!" tubuh pendek Kyungsoo nekat melawan tubuh tinggi Sehun dan sudah pasti dengan sekali hentakan tubuh Kyungsoo terjengkang ke belakang hingga ia terduduk di lantai. Jongin yang mendengar kegaduhan itu segera berlari ke arah pintu depan dan ia terlihat begitu terkejut saat mendapati tutor bodoh itu kini berada di dalam apartemen Kyungsoo dengan tatapan mata yang terlihat nyalang.
"Kim Jongin, kau ikut denganku atau aku akan menyeretmu keluar dari apartemen ini!"
'Shit!' umpat Jongin yang benar-benar lupa jika ayahnya akan melakukan apa saja hanya untuk menemukannya. Ia tak tahu jika mobilnya sudah dilengkapi dengan alat pelacak dan bodohnya ia lupa mematikan GPS di ponselnya.
"Jangan harap aku akan ikut denganmu!" ujar Jongin dengan nada ketusnya. Ia menatap benci ke arah Sehun dan pria yang lebih tua 2 tahun darinya itu menatapnya tak kalah sengit. Dan tanpa basa basi lagi Sehun segera menarik pergelangan tangan Jongin agar ikut bersamanya.
PLAK
Tepisan kasar membuat tangannya terhempas begitu saja. Sehun membelalakkan matanya kaget.
"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu!" tatapannya terlihat begitu angkuh. Sehun menghela nafasnya dalam. Ia tak boleh sama egoisnya dengan anak itu.
"OK. Tapi kau harus ikut denganku. Ini perintah!"
Jongin tampak menyeringai dan menatap Sehun meremehkan.
"Perintah? Kau pikir kau siapa?" nada merendahkan terdengar begitu kentara. Sehun memutar bola matanya dengan rahang yang menguat karena kesal.
"Jangan banyak bicara! Kau harus ikut denganku!" desisnya.
"Shireo!"
"Ya aku ini guru privat-mu! Kau harus menurut padaku!"
"Kubilang aku tidak mau!"
"Kim Jongin!"
"YA KALIAN! HENTIKAN!"
.
.
.
Tak ada tanda-tanda Luhan akan beranjak dari meja kerjanya. Setumpuk berkas yang masih belum terjamah membuatnya mendesah pelan. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Merebahkan kepala pada sandaran kursi kemudian mengambil map teratas pada tumpukan di depannya—membaca sekilas isi map kemudian kembali meletakkannya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan di pintu kaca membuatnya terkesiap. Tanpa disuruh, Sekretaris Jung masuk dengan wajah yang tampak lelah.
"Ahjussi, wae?" karena ini sudah lewat jam kerja, Luhan memanggil pria itu tanpa embel-embel sekretaris. Tak ada batasan apapun seperti saat klien-klien dan karyawan lain berada di depan mereka. Luhan mengerutkan dahinya bingung.
"Ada yang ingin bertemu denganmu. Dia bilang bahwa dia adalah temanmu. Temui sana! Dia menunggumu di lobby." Ujarnya sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa berwarna beige yang terletak di salah satu sisi ruangan.
"Teman?" Luhan menghentikan pekerjaannya—menatap dengan seksama wajah yang hampir keriput itu.
"Tapi sepertinya dia bukan orang Korea? Kukira bahasa Koreanya masih belum terlalu lancar." Ujarnya menambahkan. Luhan masih tampak berpikir keras. Kemudian ia membulatkan matanya dan segera keluar dari ruangannya untuk menemui 'teman'-nya tersebut.
.
.
.
"Luhan —" suara pilu itu memenuhi gendang telinganya. Luhan hanya menatap kosong boneka kelinci yang tertempel di atas dashboard. Ingatannya terpaksa harus ia putar kembali ke masa-masa itu. Dimana Tuhan belum mempertemukannya dengan Sehun.
Hening. Tak ada yang berbicara untuk beberapa saat.
"Maaf jika aku lancang datang ke kantormu—" ujar Yixing akhirnya. Ia menelan salivanya agar suaranya terdengar normal dan tidak seperti orang yang mau menangis.
Luhan menoleh—menatap wajah seseorang yang kini hanya tertunduk di sampingnya. Luhan tak tahu harus berkata apa.
"Yixing—"
"Aku tak bisa Lu." Ia menggeleng dengan keras. Jantung Luhan merespon aneh ucapannya.
"Apa maksudmu?" ia tahu jika pembicaraan pria di sampingnya itu mengarah kemana. Namun ia berusaha menepis hal itu dari benaknya. Pria berkulit pucat tersebut menoleh ke arah Luhan dengan tatapan sendunya.
"Aku tak bisa—jika tanpamu." Yixing menatap mata coklat itu dalam. Luhan memandangnya sekilas kemudian membuang tatapannya ke arah lain—menghindari mata Yixing yang seolah mampu menariknya jatuh begitu dalam—menghipnotisnya. Ia tak boleh membiarkan hal itu terjadi lagi.
"Kenapa? Bukankah itu sudah menjadi komitmen kita dulu? Tak ada yang perlu disesalkan. Kau sudah memilih jalan hidupmu dan aku memilih jalan hidupku sendiri. Kita memiliki jalan hidup masing-masing." Setelah kalimat itu terucap dari mulut Luhan, suasana hening kembali menghimpit mereka. Hanya detak jantung masing-masing yang dapat mereka dengar.
"Anggap saja jika dulu aku bodoh. Membiarkanmu pergi meninggalkanku." Jawab Yixing akhirnya. Sebuah senyuman hambar terukir di bibirnya. Mata bulatnya terpaku pada boneka kelinci yang terus bergerak tak jelas. Luhan bilang jika boneka itu benar-benar mirip seperti Sehun. Dan ia hampir saja lupa pada pria itu jika saja ia tak melirik lagi benda putih tersebut.
"Aku akan mengantarmu ke hotel." Luhan berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia tak ingin jika pembicaraan ini menjadi semakin jauh dan tak jelas ujungnya. Ia ingin segera mengakhirinya—meskipun semuanya memang sudah berakhir sejak lama. Ia tak boleh membuat hatinya kembali jatuh pada pria di sampingnya. Ia tak ingin membuat seseorang—si bayi kelinci raksasa itu menangis karena Luhan mengkhianatinya.
Ini bukan kali pertama Yixing menyusulnya ke Seoul. Jauh-jauh terbang dari Changsa hanya untuk meminta Luhan kembali ke sisinya.
"Apa Sehun benar-benar lebih baik dariku?" Yixing tersenyum hambar. Pandangannya memburam karena air mata yang mulai menggenang. Luhan yang tengah mengemudikan mobilnya melirik pria di sampingnya dengan kaget.
"Berhenti memberiku pertanyaan yang sama. Berapa kali harus kubilang jika—"
"Aku tahu jika Sehun memang lebih baik dariku. Dia tak sepertiku yang penyakitan." suara Yixing terdengar lirih. Luhan yang sudah tak tahan lagi segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. Yixing selalu saja mengatakan hal itu jika bertemu. Membandingkan dirinya dan juga Sehun.
"Berapa kali harus kubilang jika hal itu sama sekali tak ada hubungannya dengan perpisahan kita." Nada suara Luhan terdengar datar. Ia sebisa mungkin menjaga intonasinya agar tidak membentak Yixing dan mencengkram stir dengan erat tanpa melirik Yixing sedikitpun untuk meredam emosinya. Pria pucat itu tak dapat lagi membendung airmata yang sudah sejak tadi ingin meluncur bebas ke pipinya.
"T—tapi aku tak bisa tanpamu. Disini benar-benar—sesak." ia meremas dadanya dengan keras. Menahan isak tangis yang sejak awal tak ingin ia tunjukkan di depan Luhan.
"Maafkan aku.." bisiknya lirih. Tangannya bergerak untuk menghapus air mata yang entah sudah berapa banyak terjatuh membasahi pipinya lalu menetes ke pakaiannya. Luhan tak bisa melihat air mata itu. Setiap kali melihat air mata itu meluncur bebas dari mata indahnya, perasaan bersalah seolah menyudutkannya di ruang hampa.
"Zhang Yixing~"
"Maaf—"
Tak butuh waktu lama untuk membuat Yixing berada dalam dekapan Luhan. Tubuh ringkih Yixing bergetar di dalam pelukan Luhan seiring degan tangisannya yang semakin menjadi.
"Ssssshhhhh..." Luhan mengusap lembut punggung itu. Ia tak suka jika melihat Yixing menangis—terlebih jika itu karenanya.
"Aku—masih mencintaimu—Lu.." ucapnya terputus-putus ditengah isakannya. Luhan hanya terdiam. Entah kenapa jantungnya berdetak tak karuan dan benar-benar terasa sakit—membuatnya sesak. Kini tangannya semakin mendekap erat tubuh itu kemudian menenggelamkan kepalanya di antara perbatasan leher dan bahu Yixing.
"Aku tahu."
.
.
.
"Bila p tepat di ujung-ujung solenoide 1=00 dan 2=900 maka rumus yang dapat dijabarkan adalah—YA KIM JONGIN!" teriak Sehun tanpa peduli gendang telinga Jongin akan rusak atau tidak. Kyungsoo yang sibuk dengan pekerjaannya di dapur hanya bisa mendesah pelan sambil geleng-geleng kepala. Entah untuk yang ke berapa kalinya Sehun berteriak kepada Jongin. Pasalnya disaat Sehun mengoceh tentang materi fisikanya Jongin sama sekali tak memperhatikannya. Ia dengan seenaknya merebahkan tubuhnya di sofa sambil terus mengganti-ganti channel TV dengan acara-acara yang tidak menarik hingga akhirnya ia memutuskan untuk mematikannya kemudian melempar remote sembarang.
"Kyungsoo-ah aku pulang!" tanpa mempedulikan bagaimana ekspresi Sehun saat ini ia segera menyambar tas di sampingnya kemudian beranjak pergi ke pintu depan.
"KIM JONGIN!" Sehun yang merasakan tenggorokannya mulai sakit karena terlalu banyak berteriak kini membereskan seluruh buku yang berserakan di meja ruang tengah lalu memasukkannya ke dalam tas dengan asal hingga ia menyadari sesuatu yang belum ia keluarkan.
"Kyungsoo-ssi, aku sudah mencuci mantelmu hingga bersih dan aku benar-benar sudah memastikan jika tak ada sedikit noda pun yang tersisa. Kau tak perlu membayar sepeser pun jasa laundry-ku karena semua adalah murni kesalahanku. Jwesonghamnida. Dan terimakasih karena sudah memberiku izin untuk berteriak di apartemenmu. Aku pergi!" ia dengan tergesa segera meletakkan mantel Kyungsoo yang terlipat rapi di atas sofa kemudian berlari menyusul Jongin yang sudah sejak beberapa detik lalu meninggalkan apartemen Kyungsoo.
.
.
.
Suara langkah sepatu yang semakin cepat membuat kegaduhan di sepanjang koridor. Sehun berusaha menyamakan langkahnya dengan Jongin yang kini berjalan ke arah lift.
"Kim Jongin jamkanman!" ujar Sehun tanpa mempedulikan suaranya yang justru akan mengganggu ketenangan para penghuni apartemen. Jongin menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap Sehun tajam.
"Bisakah kau berhenti meneriakiku? Suaramu membuat telingaku sakit, bodoh!" bentak Jongin geram. Bukannya menurut, Sehun malah memasang ekspresi menantang sambil mengangkat telunjuknya di depan wajah Jongin.
"Kau yang bodoh! Kau benar-benar tak sopan mengataiku bodoh! Aku ini lebih tua darimu! Dan ingat! Aku ini tutormu! Jika sejak awal kau mau menurut padaku maka aku tidak akan pernah ber—hhhhmmmmpppp!" Jongin membekap mulut Sehun kemudian tangan yang satunya ia lingkarkan di bahu Sehun lalu menyeret pria yang lebih tinggi beberapa inci darinya itu masuk ke dalam lift.
"Hmmmmpp hhmmppphh hhhmmpppp?!" Sehun meronta minta dilepaskan. Namun Jongin semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh pria di depannya hingga dapat tercium dengan jelas aroma tubuh Sehun yang begitu lembut dan membuat Jongin terpaku untuk beberapa saat. Sebuah injakan tanpa ampun menghantam kaki kirinya dan Jongin memekik dengan keras hingga tangannya terlepas dari mulut Sehun lalu beralih memegangi kakinya yang terasa sakit hingga berdenyut nyeri ke kepalanya. Sementara Sehun kini tengah meraup oksigen sebanyak mungkin karena dadanya benar-benar terasa sesak.
"Oh Sehun brengsek! Aku benar-benar akan membunuhmu! Aisshh!" geram Jongin yang masih meringis menahan sakit di kakinya.
"Sebelum kau membunuhku maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu! Di dalam lift ini jika perlu!"
"Dan kau tak akan hidup tenang setelah membunuhku karena semua yang kau lakukan akan terekam jelas di CCTV itu. Dan Abeoji akan menjebloskanmu ke penjara!" ucap Jongin tak mau kalah. Sehun memelototi bocah tengil itu kemudian membelakanginya. Ingin sekali ia menyumpal mulut Jongin dengan sepatunya, memasukkannya ke dalam karung, lalu membuangnya ke jurang!
Ting!
Lift sudah berhenti di lantai dasar. Jongin segera keluar dari dalam lift sementara Sehun mengikutinya di belakang sambil terus merutuk.
"Berhenti mengikutiku, bodoh!" Jongin mempercepat langkahnya menuju parkiran. Ia melompat ke dalam mobil tanpa berniat membuka pintunya kemudian segera menyalakan mesin mobilnya. Sehun melempar tasnya ke jok di samping Jongin yang membuat dahi pria yang lebih muda darinya itu mengernyit bingung.
"Mau apa kau?" ujarnya sinis. Sehun memutar bola matanya.
"Tentu saja urusan kita belum selesai! Kita lanjutkan belajarnya di rumahmu!" belum sempat Sehun membuka pintunya, Jongin menginjak gas terlebih dahulu dan mobil pun melaju meninggalkan Sehun yang kini hanya mampu menatap mobil sport hitam itu dengan mata melotot tak percaya.
"M-mwo? MWO? YA! KIM JONGIN! TASKU!"
.
.
.
Sehun berjalan dengan terseok menelusuri jalanan ibukota yang semakin malam tampak semakin ramai. Entah sudah berapa jauh ia berjalan. Yang pasti kakinya sudah mulai terasa sakit dan pegal. Ia kini merutuki 2 hal di dalam hatinya. Pertama ia menyesal karena telah melempar tasnya terlebih dahulu ke dalam mobil Jongin sehinga ia terpaksa harus pulang berjalan kaki. Tak ada sepeser uang pun di saku jaket ataupun celananya. Bahkan ponselnya pun kini tak bersamanya. Luhan tak akan datang hanya dengan diberi telepati. Itu hanya akan terjadi di film-film saja. Dan kedua ia benar-benar menyesal tak meminta uang pada Kyungsoo karena sudah mencuci mantelnya. Siapa sangka jika sesuatu buruk itu kini menimpanya.
Sehun memandang lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau. Kakinya bergerak menerobos kerumunan orang yang hendak menyebrang hingga ia berdiri di barisan depan. Dan siapa sangka jika ia akan menemukan Luhan disana. Di dalam mobilnya yang tepat melintas di hadapannya.
"Luhan Hyung?" matanya gencar menatap mobil yang melaju tak terlalu cepat itu dan hendak berteriak tak tahu malu. Namun baru satu langkah ia bergerak kakinya tiba-tiba terasa beku—tak bisa digerakkan. Luhan tak sendiri. Sehun dapat melihat dengan jelas walau sekilas siapa seseorang yang duduk di samping Luhan.
"Zhang Yixing."
.
.
.
Jongin menginjak gas cukup kuat hingga mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Angin malam menerpa tubuhnya dan membuatnya merasa udara kebebasan kini tengah mendekapnya. Ia menyeringai kecil dengan kepala setengah bergoyang mengikuti dentuman musik yang ia dengar melalui earphone. Persetan dengan ucapan Junmyeon yang selalu melarangnya kebut-kebutan di jalan raya. Toh pria itu tak ada disana.
Mata obsidian itu melirik tajam pada tas coklat di sampingnya. Bahkan ia berniat membuang barang usang itu ke Sungai Han sebentar lagi. Salah Sehun sendiri yang melempar tas seenaknya ke dalam mobilnya. Tangan Jongin terulur untuk mengambil tas tersebut kemudian melemparnya ke jok belakang. Bahkan ia muak jika harus melihat tasnya saja.
Drrrttt... Drrrttt...
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Jongin tidak suka jika seseorang menghubunginya saat ia tengah mengemudi. Namun ia menyempatkan matanya untuk melirik siapa nama yang tertera di layar ponselnya. Jika itu Junmyeon ataupun anak buahnya, maka ia tak akan pernah mengangkatnya. Namun rupanya nama Kyungsoo-lah yang muncul disana.
"Yo~" ia mengangkat ponselnya sedikit malas.
"Dimana kau?"
"Kenapa ketus sekali?" Jongin mengerucutkan bibirnya sebal. Ia tahu Kyungsoo pasti sedang marah padanya.
"Kau bersama Sehun Hyung?" ujar Kyungsoo memastikan. Jongin berdecak pelan.
"Bahkan aku tak mengizinkan dia menyentuh mobilku." Jawabnya ketus. Kyungsoo di sebrang sana hanya menggeram pelan.
"Aku tak mau tahu! Kau harus mengantarnya pulang dengan selamat! Dia sudah mencuci mantelku dan kau sudah berjanji untuk membayarnya."
"Oh? Aku hanya bercanda soal itu. Lupakan! Toh Abeoji sudah memberinya cukup banyak uang. Jadi untuk apa aku membayar si pengemis itu?"
"Kim Jongin! Jaga ucapanmu!"
"Mwo? Dia tak lebih dari sekedar pengemis! Semua orang yang bekerja untuk Abeoji tak lebih dari sekedar pengemis!"
"Berhenti memandang rendah orang lain atau aku akan—"
Jongin segera memutuskan panggilan mereka tanpa memberi kesempatan Kyungsoo untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia membanting ponselnya ke jok di sampingnya kemudian mengacak rambutnya kasar.
"Brengsek!" ia menginjak rem sekaligus kemudian memutar balik arah mobil untuk mencari dimana Sehun sekarang.
.
.
.
Entah sudah berapa bus yang berhenti. Ia tak peduli. Bahkan ia tak masalah jika harus tidur di pinggir jalan seperti ini. Ia marah, kesal, benci, sakit, semuanya bergejolak di dalam dadanya. Tubuhnya kini hanya mampu terduduk di kursi halte dengan tatapan yang mengarah pada satu titik—kosong.
.
"Hyung~" Sehun meremas ujung seragamnya dengan gugup. Di depannya—Luhan—tengah memperhatikannya dengan senyum lembut terukir di wajahnya. Perlahan tangannya terangkat, mengusap pelan rambut coklat itu sambil menggumam pelan.
"Aku mencintaimu."
"N-ne?"
"Aku mencintaimu, Oh Sehun." Ujarnya lantang kemudian merengkuh tubuh itu ke dalam pelukan hangatnya. Sehun hanya terdiam. Namun tak perlu waktu lama untuk membalas pelukan Luhan di tubuhnya.
"Maukah kau berjanji satu hal, Hyung?"
"Hm?"
"Lupakan dia."
.
Sehun meremas dadanya pelan. Sesak. Namun tak ada setetes pun air mata yang keluar. Ia menghela nafasnya dalam. Zhang Yixing. Ini kali kedua Sehun memergoki Luhan pergi bersama Yixing. Di belakang Sehun? Pria itu sebenarnya tak ingin memiliki prasangka buruk terhadap kekasihnya. Namun gelagat Luhan akhir-akhir ini memang terlihat aneh. Tak jarang ia mengabaikan beberapa panggilan masuk saat bersama Sehun. Mungkin saja itu dari—
Ckiiittttt
Gesekan ban mobil dengan aspal menimbulkan decitan nyaring, membuat beberapa pengguna jalan dan segelintir orang yang tengah menunggu bus di halte menoleh kaget pada mobil sport hitam yang berhenti seenaknya itu. Satu-satunya orang yang tak menyadari kedatangan Jogin adalah pria yang kini tengah tenggelam dalam lamunannya. Ia masih betah menatap objek yang entah apa itu dengan tatapan kosong.
'Aku harus mengakhirinya.'
Tepat setelah ia menggumamkan kalimat itu dalam hatinya tangan seseorang menarik lengannya hingga ia kini berdiri. Menatap kaget pria di depannya dan tahu-tahu ia seperti diseret masuk ke dalam mobil.
"Apa-apaan kau?"
Tak ingin menimbulkan keributan di depan umum seperti ini, Jongin tak terlalu menghiraukan pertanyaan Sehun. Ia setengah berlari menuju pintu di sebrang Sehun kemudian segera menyalakan mobilnya dan segera pergi menyisakan tatapan heran dari semua orang.
.
.
.
"Xiexie, karena kau sudah mengantarku." Yixing tersenyum lemah dengan mata yang tak bisa terlepas dari sosok Luhan. Pria itu menoleh—mencari sesuatu yang tergantung di belakang joknya. Sebuah jaket. Tanpa banyak bicara Luhan memakaikan jaket miliknya ke tubuh kurus Yixing. Bisa ia rasakan jika kulit pucat itu terasa dingin di telapak tangannya. Jarak wajah keduanya terlihat begitu dekat saat Luhan mulai mengancingkan jaket dengan telaten. Ia tak ingin udara malam menyentuh tubuh Yixing sedikit pun. Dan konsentrasinya seketika buyar saat sepasang bibir dingin itu mendarat lembut di bibirnya. Luhan membelalakkan matanya kaget. Ia menjauhkan tubuhnya dengan spontan.
"A—apa yang kau lakukan?"
.
.
.
Entah kenapa hujan tiba-tiba turun begitu deras. Jongin menaikkan atap penutup mobilnya tanpa harus khawatir mereka akan basah kuyup. Sehun hanya diam. Padahal beberapa saat lalu mereka baru saja bertengkar hebat. Bahkan Sehun sama sekali tak mempertanyakan tasnya yang kini masih tergeletak di jok belakang mobil.
Jongin menatap heran pria di sampingnya itu. Ia pun sama sekali tak protes kenapa Jongin menyeretnya ke dalam mobil.
"Ya!" suara rendah Jongin membuatnya terkesiap kemudian menoleh.
"Mwo?" responnya datar. Jongin menautkan kedua alisnya bingung.
"Jika kau tak memberitahuku alamat rumahmu, maka aku akan menurunkanmu disini!" Jongin mendelik sinis. Sehun yang tak menyadari tatapan itu kembali betah memperhatikan jalan yang hanya bisa ia lihat sekilas karena Jongin mengemudikan mobilnya begitu cepat. Bahkan ia tidak protes dengan cara Jongin yang menjalankan mobilnya tanpa aturan.
"Hei." Suara serak Sehun membuat Jongin menggeram pelan sebagai respon.
"Aku akan memutuskan kontraknya besok." Suaranya
"Ap—maksudmu?" Jongin sepenuhnya mengarahkan perhatiannya kepada Sehun sambil sesekali menatap jalanan di depannya.
"Aku akan berhenti menjadi tutormu. Aku akan mengembalikan uangnya besok pada ayahmu. Apa kau senang?" nada sinis terdengar begitu kentara. Jongin ingin sekali bertanya tentang alasan Sehun yang tiba-tiba berubah pikiran. Tapi bukankah itu yang ia inginkan? Agar Sehun tak pernah menjadi tutornya lagi.
"Baguslah. Kau lebih baik tidak ada."
Keadaan kembali hening. Jongin melirik Sehun dari sudut matanya. Kenapa sikapnya begitu berbeda?
"Ne. Aku lebih baik tidak ada. Dan—orang-orang sepertiku memang selalu membuat orang-orang seperti kalian risih kan? Jadi aku minta maaf atas nama orang-orang sepertiku. Dan sekarang kau bisa menurunkanku disini." Ucap Sehun datar dan setetes air mata tiba-tiba meluncur di kedua mata indahnya. Ia segera memalingkan wajahnya keluar jendela dan mengusap airmatanya kasar. Mobil masih terus berjalan dan Sehun menoleh ke arah Jongin dengan geram.
"Kau tak mendengarku? Kubilang berhenti!" teriak Sehun tanpa menghiraukan Jongin yang mungkin akan memarahinya nanti. Namun pria di sampingnya itu menulikan pendengarannya. Ia masih tetap menjalankan mobilnya dengan kencang dan membelokkan mobilnya di tikungan tajam hingga tubuh mereka terhempas ke samping kanan.
"KIM JONGIN NEO MICHOSSEO?! AKU MASIH INGIN HIDUP, BODOH!" pekik Sehun sambil memukuli lengan Jongin dengan sebelah tangannya.
"Jika kau tak memberi tahuku alamat rumahmu, aku tak akan berhenti." Tantang Jongin dengan wajah sok-nya. Sehun hanya menelan salivanya dengan susah payah.
"O—ok! Tapi setelah aku memberitahunya kau harus memelankan laju mobilnya! Aisshhh bahkan kau masih di bawah umur, Kim Jongin! Seharusnya kau tak boleh mengemudi—"
"Bukan urusanmu." Tak ingin ocehan Sehun semakin melebar, Jongin segera memotongnya. Sehun masih dengan wajah paniknya tak bisa berbuat apa-apa selain berteriak, memaki, dan mengumpat.
"Jalan xxx apartemen x! Antar aku kesana!" pekik Sehun akhirnya. Ia tak bisa membiarkan anak brengsek bernama Jongin itu membuatnya berada di ambang kematian karena kaki sialannya menginjak pedal gas semakin dalam.
"Dengan sangat terpaksa."
.
.
.
Tik
Tik
Tik
Suara detik jarum jam yang bergerak konstan sedikit memberi kebisingan di tengah heningnya malam itu. Sehun menerawang langit-langit kamar dengan tubuh terlentang diatas ranjangnya. Pikirannya bercabang-cabang. Entah yang mana yang harus dipikirkan terlebih dahulu.
Drrttt... Drrtt...
Ponsel yang ia letakkan di atas meja belajarnya membuat beberapa getaran yang membuatnya terkesiap. Ia beranjak bangun kemudian tangannya terulur untuk meraih benda tipis itu. Ia terpaku saat melihat nama Luhan di layar ponsenya. Tanpa basa-basi lagi ia melepas batere ponselnya kemudian melempar ponselnya ke atas ranjang yang diikuti dengan tubuhnya.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Sehun sudah berada di kediaman megah keluarga Kim. Ia kini tengah berhadapan langsung dengan si Tuan Besar yang masih sedikit bingung dengan kedatangan Sehun yang menurutnya begitu tiba-tiba.
"Sehun-ssi, sebenarnya hal apa yang membuatmu datang kemari? Atau—uang yang kuberikan tidak cukup untukmu? Jika iya aku akan menambahnya." Junmyeon sudah membuka laci mejanya dan mengeluarkan selembar kertas dari sana—sebuah cek.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf, Tuan." Sehun menarik nafasnya dalam. Kemudian tangannya merogoh sesuatu di dalam tasnya lalu mengeluarkan amplop coklat muda yang ia letakkan di atas meja kerja Junmyeon. Pria setengah baya itu mengerutkan dahinya bingung.
"Aku—ingin mengembalikan semuanya." Sehun berkata dengan mantap.
"Maksudmu?"
"Tuan, aku mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Aku sudah menyerah dengan Jongin-ssi." Ujar Sehun bohong. Ia bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja jika berhadapan dengan muridnya. Ada alasan lain yang tak bisa Sehun kemukakan kepada Junmyeon.
"Apa Jongin bersikap buruk padamu? Apa dia menyakitimu? Aku minta maaf." Tatapan Junmyeon berubah sedih. Jongin selalu membuatnya seperti itu. Merasa bersalah terhadap orang lain yang pernah dibuat terluka karena sikap egoisnya.
"Soal itu—"
BRAK
Tiba-tiba pintu ruang kerja Junmyeon terbuka dengan lebar. Sosok Jongin yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya masuk begitu saja.
"Jongin?" ujar Junmyeon sedikit kesal karena anaknya tak memiliki sopan santun sedikitpun. Sehun menoleh sekilas kemudian segera memposisikan tubuhnya seperti semula. Terdengan suara langkah yang semakin mendekat dan Jongin kini berdiri tepat di belakang Sehun.
"Kau mau kemana eoh?" ujarnya dingin. Sehun mengangkat wajahnya dan kembali menoleh ke arah Jongin.
"Mwo?"
"Abeoji, kembalikan uang itu padanya. Dia akan tetap menjadi tutorku."
.
.
.
Sehun menatap punggung di depannya. Ia tak habis pikir dengan Jongin yang tiba-tiba merubah pikirannya.
"Wae?" pertanyaan Sehun membuat Jongin menghentikan langkahnya. Ia menoleh—menatap Sehun dengan sudut mata tajamnya.
"Jangan kau pikir aku melakukannya karena kasihan."
"Kasihan? Cih. Kau tak perlu mengasihaniku. Aku tak butuh dikasihani." Sehun mengepalkan tangannya dengan erat. Matanya mengarah tajam pada sosok Jongin yang perlahan berbalik ke arahnya.
"Oh Sehun, aku tahu kau membutuhkan uang. Jadi jangan munafik! Seharusnya orang sepertimu bersyukur karena orang-orang sepertiku. Kau harus tahu diri dimana posisimu saat ini."
"Apa maumu?"
Jongin menyeringai. Perlahan ia mendekat ke arah Sehun dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
"Mauku?" ia berhenti tepat di depan Sehun. Ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Dan kedua mata mereka saling menatap penuh kebencian. "Di dunia ini tak ada yang gratis. Kau—harus mengikuti apa mauku." Ia meletakkan telunjuknya di dada Sehun kemudian menekannya hingga Sehun sedikit oleng dari posisinya. Mata Sehun menatap Jongin sengit.
"Jangan harap." Sehun menempelkan sesuatu di dada Jongin dan amplop berisi uang itu terjatuh tepat di kaki pria angkuh itu. Ia tahu apa yang Jongin inginkan. Bukankah Jongin bermaksud menjadikannya pelayan? Bukankah harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh seorang anak SMA tak tahu sopan santun dan aturan itu?
Mata Sehun terasa panas. Ia berjalan meninggalkan Jongin di belakangnya. Namun belum jauh ia melangkah, seketika kakinya berhenti dan membeku di tempat. Sosok di depannya benar-benar membuat hatinya bertambah sakit dan air matanya tak bisa ia bendung lagi.
"Sehun—" gumam Luhan pelan namun Sehun dengan cepat membungkuk ke arah pria cantik itu dan berlari meninggalkan mereka yang hanya bisa mematung di tempatnya.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Mind to review?^^ Btw thx for readers and reviewers for reading and reviewing my ff. Saranghamnidaaaa~
