Entah kenapa apa yang kalian harapkan atau yang kalian pikirkan beda dengan rencanaku ya. Ya walaupun begitu semoga aja tidak mengecewakan. Banyak hal yang tidak akan kalian duga disini hihihi.
Kenapa banyak yang kecewa ya sepertinya karena tidak ada lemon, dasar kalian pervert hihihi. Ya pokoknya sudah terjadi. Dan karena Naruto ga nolak jadi ga bisa dibilang rape dong ya. Oh iya, salah satu kado dari Naru bakal dibahas disini, yang lainnya mungkin di chapter mendatang.
Masa sih gaya cerita aku kayak novel? Haha jadi geer sendiri. Mungkin karena impian aku pengen jadi novelis kali ya, jadi kebawa ke cara penulisan ceritanya. Apa gitu ya? Hm, yang diobrolin Itachi dan Gaara itu misteri hahaha. Cuma seputar hubungan Naruto dan Sasuke kok, nanti juga tau.
Shi-chan, rengekan kamu itu ga mempan sama aku. Kamu juga ya ikut-ikutan kayak yang lain pervert, dasar Fujoshi akut :p (sendirinya juga Fujoshi akut).
Maaf sebelumnya kalau ada yang kurang dari chapter ini. Aku agak mumet waktu ngerjainnya, tapi semoga masih berkenan ya. Oh iya, di chapter ini juga ada chara baru lagi nih di bagian akhir. Silahkan menikmati ya. Maaf juga kalau ada pertanyaan yang belum terjawab. Tapi kalau mau tanya seperti biasa diterima hehe.
Chapter 11, on!
Sasuke merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan dan menikmatinya. Dia ingin agar kehangatan ini tidak akan pernah pergi dan terus mendekapnya seperti ini. Ingin merasakannya lebih dalam, Sasuke memeluk sumber kehangatannya itu lebih erat hanya untuk mendapatkan sebuah erangan sebagai balasannya.
Takut mengetahui kenyataan, dia membuka kedua matanya perlahan hanya untuk membelalakannya saat menyadari apa atau lebih tepatnya siapa sumber kehangatannya itu. Naruto berbaring di depannya dengan kimono tidurnya yang sedikit berantakan sehingga mengekspos pundaknya yang mulus. Tangan Sasuke melingkar di pinggangnya yang kecil dan memeluknya erat dari belakang.
Yang membuatnya lebih terbelalak lagi adalah saat dia merasakan kakinya yang bertautan dengan kaki Naruto. Dengan panas yang dia rasakan bisa dipastikan bahwa di balik selimut yang hanya menutupi sebagian tubuhnya itu, saat ini Sasuke tidak berbusana. Ditambah dengan beberapa kissmark yang ada di pundak dan leher Naruto, Sasuke yakin semalam telah terjadi sesuatu.
Yang tidak dia sadari adalah bahwa Naruto juga sudah terjaga. Usahanya untuk memeluknya lebih erat tadi telah membangunkannya dari tidurnya. Saat ini Naruto sedang berusaha untuk mengontrol degup jantungnya menyadari posisi mereka. Masing-masing berharap pasangannya belum bangun dan mencoba mencari cara terbaik untuk keluar dari posisi ini tanpa membangunkan yang lain.
"Sasuke, nak Naru, kalian sudah bangun? Ini sudah sia.. oh, ya Tuhan!"
Mikoto baru saja berniat untuk membangunkan mereka karena waktu sarapan sudah sedikit lewat. Tidak dia sadari akan mendapatkan pemandangan yang begitu mengagetkan. Dengan segera Mikoto menutup kembali pintu kamar mereka dan kembali ke dapur sambil mencoba mengendalikan wajahnya yang sudah memerah.
Usaha Mikoto untuk membangunkan mereka membuat keduanya spontan bereaksi dan menjauhkan diri dari satu sama lain. Sasuke menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sementara Naruto merapikan kimononya agar tubuhnya tidak lagi terekspos sambil membelakangi Sasuke.
"Pagi."
"Pagi."
Hening, mereka berdua tidak tahu apa yang harus mereka katakan di saat seperti ini. Baru saja kemarin pagi mereka bertengkar, pagi ini mereka bangun dengan kondisi yang sangat jauh berbeda. "Aku mandi dulu," Sasuke berkata.
"Ah, ya."
Naruto mendengar pintu kamar mandi yang dibuka dan ditutup. Dia membuang napas lega tapi segera gugup lagi menyadari apa yang baru saja terjadi. Mikoto telah melihat mereka berdua dalam posisi yang sangat menjanjikan. Padahal Naruto berniat merahasiakannya dengan harapan Sasuke tidak ingat. Jika sudah seperti ini tidak akan ada lagi yang bisa ditutupi. Apalagi jika Itachi tahu, hancur sudah harga dirinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yang bisa Naruto harapkan hanyalah Sasuke benar-benar tidak ingat.
Entah berapa lama dia melamun sebelum ingat kalau dia harus menyiapkan baju untuk Sasuke. Dia sendiri pun harus membersihkan diri setelah Sasuke selesai dan juga mengganti sprei. Pikirannya sendiri sudah membuat wajahnya memanas apalagi mengingat bagaimana semalam dia begitu terbawa suasana. Naruto menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan mencoba mengendalikan diri. Dia turun dari tempat tidur dan mencoba untuk berdiri tapi tertahan oleh rasa sakit di pinggangnya. Tubuhnya meronta saat dia memaksa untuk bergerak tapi Naruto tidak bisa hanya berdiam diri di atas tempat tidur.
Jika diingat kembali, semalam Sasuke begitu ganas. Naruto bahkan sempat berpikir dia akan mati kehabisan napas sebelum akhirnya Sasuke memutuskan untuk berhenti dan tertidur. Dia pun sempat tidak yakin jantungnya bisa bertahan dengan semua aktifitas yang melelahkan tersebut, dia bersyukur dia masih hidup. Dia harus ingat jangan mendekati Sasuke yang sedang mabuk, terlebih lagi jangan pernah membiarkan Sasuke mabuk.
Dengan berpangku pada meja kecil di samping tempat tidurnya Naruto berhasil bangkit. Baru satu langkah dia ambil kakinya lagi-lagi terhenti. Dia merasakan sesuatu yang mengalir di antara kedua pahanya dan saat menyadari apa itu wajahnya bertambah merah. Untuk menambah kesialannya, Sasuke memutuskan untuk keluar dari kamar mandi di saat itu juga. Karena gugup Naruto tidak dapat mengatur keseimbangan dan terjatuh. Sasuke yang melihatnya langsung berlari ke arah Naruto untuk membantunya.
"Naru! Kau tidak apa-apa?"
"Jangan kemari!"
Tidak memperdulikan protesan Naruto, Sasuke tetap menghampirinya dan tercengang saat melihat kondisi sang istri. Naruto yang tidak dapat mengontrol jatuhnya menyebabkan kimono bagian bawahnya sedikit tersingkap dan mengijinkan Sasuke melihat apa yang menjadi masalah. Sasuke menutup mulutnya dengan tangannya berusaha untuk mengendalikan diri. Pemandangan yang tersaji di depannya bisa membuat dia gila.
Setelah mendapatkan kembali kontrol diri, Sasuke berjalan perlahan ke arah Naruto dan membantunya berdiri. "Ayo, kubantu kau ke kamar mandi."
"Tapi.."
"Tidak apa-apa. Nanti biar kubereskan, kau mandi saja."
Dengan sambil sekuat tenaga mengendalikan panas di wajahnya, Naruto mengijinkan Sasuke membantunya berjalan sampai ke kamar mandi. Setelah pintu itu ditutup Sasuke berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di sana dengan kepala tertunduk dan tangan yang menutupi wajahnya. Dia benar-benar sudah melakukannya, dia tidak percaya. Setelah kemarin pagi dia mengatakan sesuatu yang begitu kejam bisa-bisanya dia melakukan semua itu. Entah apa yang Naruto pikirkan tentangnya saat ini.
Sakit di kepalanya masih terasa dan Sasuke mengambil beberapa pil dari lemarinya dan menelannya. Setelah sakitnya berkurang dia membereskan kekacauan yang terjadi akibat dia tidak bisa menahan alkoholnya semalam. Dia menyadari bercak di sprei saat hendak menggantinya. Semoga saja dia tidak menyakiti Naruto semalam.
"Sasuke."
Suara Naruto terdengar dari balik pintu kamar mandi. Sasuke belum sempat memasang sprei yang baru meninggalkan pekerjaannya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Apa apa?"
"Bisa tolong ambilkan bajuku? Aku tidak membawa baju ganti."
Sasuke membuka lemari dan mengambil salah satu kimono Naruto dari sana. Dia menyerahkannya dan Naruto membuka pintu kamar mandi sedikit agar dapat meraihnya. Lima menit kemudian Naruto keluar sudah dengan pakaian lengkap tapi langkahnya begitu lambat. Sasuke menyadari hal itu dan membantu Naruto untuk berjalan ke arah kursi yang terletak di dekat jendela.
Sasuke melanjutkan pekerjaannya mengganti sprei sementara Naruto duduk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Masing-masing tidak berani menatap mata satu sama lain dan tidak ada percakapan diantara keduanya. Dalam keheningan itu Naruto bertanya-tanya apakah Sasuke tidak mengatakan apa-apa karena memang tidak ingat, atau mungkin karena dia tidak tahu bagaimana mengatakannya?
Tentu saja, tidak mungkin kan Sasuke dengan ringannya berkata, 'Hey, semalam aku menyadari sesuatu. Naruto, kau ini laki-laki ya?' Ingin rasanya Naruto memukul kepalanya sendiri atas pikiran bodohnya. Setelah Sasuke beres memasangkan sprei akhirnya dia membuka mulut. "Kau ingin makan di kamar atau di dapur?"
"Di dapur saja."
Bahkan percakapannya pun terasa sangat canggung. Sasuke membantu lagi Naruto untuk berjalan ke dapur setelah mengalungkan syal ke leher Naruto untuk menutupi bukti kejahatannya(ehehe). Yang lainnya sudah ada di sana dan mereka saling mengucapkan selamat pagi. Mikoto dan Itachi sedari tadi mencoba untuk menahan seringai mereka apalagi saat Naruto masuk sambil digandeng oleh Sasuke. Meskipun mereka sangat ignin mengatakan sesuatu tapi mereka akan membiarkan setidaknya pasangan di hadapannya ini mendapatkan sarapan mereka dengan tenang.
Begitu Naruto meletakan sendok terakhirnya, Itachi segera melancarkan serangannya. "Cukup bersenang-senang tadi malam?"
Naruto dan Sasuke keduanya tersentak mendengar pertanyaan Itachi. "Apa maksud Kakak? Aku tidak mengerti." Naruto berpura-pura tidak mengerti dan mengangkat cangkir tehnya untuk meminumnya. Sungguh langkah yang salah.
"Padahal semalam kau berisik sekali sampai aku tidak bisa tidur." Naruto pun sukses menyemburkan teh yang sedang diminumnya. Sebagian dari cairan yang sempat dia minum membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk. Sasuke menolongnya dengan membantu Naruto meletakan cangkir tehnya di meja dan menepuk-nepuk punggungnya. Masih sambil membantu Naruto, Sasuke menatap Itachi kesal. "Apa? Bukan salahku kalian tidak bisa mengontrol suara. Makanya lain kali jika ingin bermesraan, pastikan kalian mengunci pintu."
Naruto yang sudah sembuh dari tersedaknya segera bangkit dari kursinya mendengar pernyataan Itachi. "Kakak!" Dia lagi-lagi menggebrak meja tapi kali ini dia lupa kalau dia sedang sakit pinggang dan gerakannya yang tiba-tiba itu menambah rasa sakit di bagian belakangnya. Naruto yang kesakitan menunduk dan menyembunyikan wajahnya di meja sambil perlahan-lahan duduk kembali di kursinya.
Sasuke begitu khawatir dengan keadaan Naruto tidak begitu peduli dengan ocehan Itachi. "Kau tidak apa-apa, Naru? Maaf, ya."
Naruto tidak berkata apa-apa dan masih menyembunyikan wajahnya. Seringai Itachi bertambah lebar dan melanjutkan serangannya. "Apa saja yang kau lakukan padanya semalam sampai seperti ini, Sasuke? Kau pasti sempat belajar banyak, ya?"
Wajah Sasuke yang kali ini memerah. Dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelus-elus punggung Naruto dan dengan wajah bersalah mengatakan, "Aku.. tidak ingat."
Naruto mengangkat wajanya dan menatap Sasuke. Dilihat dari sorot matanya Sasuke sepertinya serius dan Naruto lega mendengarnya. Itachi dan Mikoto mengerti perasaan Naruto tapi mereka tidak berhenti menggoda. "Kasihan sekali nak Naru."
"Maaf ya, Naru. Ternyata adikku bodoh. Sudah merampas keperawananmu tapi dia malah tidak ingat. Tidak bertanggung jawab." Sasuke menatapnya lagi tapi kali ini tatapannya lebih tajam. "Tapi tenang saja Sasuke, bisa kupastikan Naru cukup puas."
"Apa maksud Kakak?" tanya Naruto.
Entah iparnya ini memang terlalu polos atau bodoh, Itachi tidak bisa membedakan. Karena sudah diberi kesempatan, apa salahnya menggoda mereka lebih jauh lagi? Itachi memeluk dirinya sendiri dan mulai menirukan suara yang dia percaya sebagai suara Naruto. "'Ah Sasuke, aku sudah tidak tahan.. Ah, Naru.. Mm, Sasuke..'" Itachi berganti-ganti suara dari Naruto ke Sasuke sambil melakukan gerakan-gerakan yang membuat kedua adiknya hampir meledak karena malu.
Fugaku akhirnya memutuskan bahwa ini sudah cukup dan berdehem untuk mendapat perhatian mereka semua. "Nak Naru, sebaiknya kau beristirahat. Sasuke, tolonglah istrimu. Itachi, berhenti menggoda adik-adikmu."
"Baik, Ayah," jawab mereka bersamaan.
Mereka pun mengikuti perintah Fugaku dan Sasuke membantu Naruto menuju ke ruang tengah. Kenapa? Karena Naruto belum ingin kembali ke kamar di mana hanya dia yang ingat jelas apa yang telah terjadi semalam. Dia membaringkan diri di sofa dan Sasuke membantunya untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Meskipun tidak senyaman kasurnya, tapi ini sudah cukup untuk mengistirahatkan diri. Dia pun bisa menonton bersama jika salah satu dari mereka ada yang tertarik untuk menyalakan TV. Itachi bergabung dengan mereka dan duduk di lantai bersama dengan Sasuke.
Tidak memperdulikan keberadaan kakaknya, Sasuke mengambil salah satu tangan Naruto untuk dia genggam dan berbicara dengan nada penuh rasa bersalah dan juga kekhawatiran. "Naru, maaf ya. Gara-gara aku kau jadi sakit seperti ini."
Naruto memalingkan wajahnya ke arah Sasuke dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Lagipula kau semalam mabuk."
"Justru itu lebih parah. Ditambah lagi kau sudah seperti ini tapi aku tidak ingat sedikitpun tentang tadi malam." Sasuke mengelus-elus punggung tangan Naruto dengan ibu jarinya. Baru dia sadari bahwa istrinya itu memiliki kulit yang cukup halus. "Apa semalam aku kasar padamu? Kau pasti kesakitan." Sasuke mengingat bercak darah yang dia temukan saat mengganti sprei. Dia benar merasa bersalah pada Naruto.
Dilempar pertanyaan seperti itu Naruto bingung apakah harus menjawab jujur atau tidak. Tapi dia putuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. "Awalnya kau memang sedikit kasar, tapi.." Dia menggantungkan kata-katanya. Sasuke menunggu dan menatap penuh arti. "Tapi tiba-tiba saja kau berubah lembut. Bahkan aku sampai melupakan ketakutanku." Naruto memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan pipinya yang lagi-lagi sudah merona.
Awalnya Sasuke tidak mengerti dengan apa yang Naruto katakan. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya dia mendapat pencerahan atas apa yang sebenarnya terjadi. "Maaf karena telah mengingatkanmu pada kejadian yang tidak ingin kau ingat. Kau pasti sangat ketakutan saat aku tiba-tiba menyerangmu."
"Ya, tapi kau bukan dia." Naruto kembali berpaling ke arah Sasuke dan mendapatkan sepasang mata onyx menatapnya kebingungan. "Saat aku sadar itu kau, entah kenapa ketakutanku hilang. Sasuke, aku tahu kau tidak akan menyakitiku."
"Naru."
Pemandangan yang ada di hadapannya saat ini tidak bisa ditebus dengan uang sebanyak apapun. Itachi berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun karena takut merusak momen yang berharga ini. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sangat romantis. Andai saja mereka sadar apa yang sedang mereka lakukan, Itachi berani bertaruh mereka akan membantah semua yang dia katakan.
Sadar dengan mata yang memperhatikannya sedari tadi, Naruto mengalihkan pandangannya kepada Itachi. Kakaknya tidak memiliki wajah mesum yang selalu dia pasang ketika melihat mereka berdua. Itachi terlihat begitu puas tapi juga bahagia. Andai saja Itachi melihat wajahnya sendiri saat ini, dia pasti tidak akan percaya. "Kakak." Sasuke ikut menoleh ke arah Itachi. "Boleh aku minta tolong? Bisa tolong ambilkan kantung yang kemarin? Aku menyimpannya di dalam lemari di kamar."
Mendengar Naruto menyebut kantung itu entah kenapa Sasuke merasakan ada sesuatu yang membakar di dadanya. Dia ingat Itachi mengatakan Naruto membelinya untuk seseorang yang dia cintai. Sasuke tidak ingin mengetahui apa-apa tentang hal ini. Mengapa Naruto harus membicarakannya di saat mereka baru saja berbaikan setelah kejadian kemarin?
Sasuke yang terlalu tenggelam dalam amarahnya tidak menyadari Itachi yang sudah kembali dengan kantung yang dimaksud. Dengan bantuan sang kakak, Naruto bangkit untuk duduk dan mengambil kantung dari tangan Itachi. Sasuke sedikit bingung saat Naruto menyodorkan kantung tersebut ke hadapannya. "Ini untukmu."
Kedua alis Sasuke terangkat tidak percaya apa yang baru dia dengar. "Untukku?" Naruto mengangguk yakin. Sasuke meraih kantung tersebut dan melihat apa isinya. Ada sebuah kotak yang dibungkus rapi dan juga sebuah buku yang diikat pita berwarna biru. Naruto memperhatikan dengan antusias seperti tidak sabar ingin Sasuke membukanya. Menuruti apa maunya, Sasuke mulai membuka kertas pembungkus kado dan juga pita yang mengikat benda satunya. Matanya tidak percaya apa yang dia lihat. Bagaimana Naru bisa tahu apa yang dia inginkan?
"Aku tidak tahu kau suka atau tidak. Pokoknya, selamat ulang tahun!" Sasuke masih menatap tidak percaya. Panas yang tadi dia rasakan berubah menjadi kehangatan dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan hadiah tapi baru kali ini dia merasa begitu bahagia mendapatkannya. "Sebenarnya aku ingin menyerahkanya kemarin, tapi kau pulang larut dan paginya.." Naruto tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kapan kau membeli ini?"
"Ah, itu.." Naruto tidak yakin bagaimana dia harus menjelaskan tentang yang satu ini. "Di hari aku pertama kali bertemu dengan Neji."
Sasuke tidak langsung mengerti dengan maksud Naruto, tapi setelah menyambungkan satu titik dan yang lainnya dia tersontak. Semua itu untuk memberikan kado untuknya? Naruto mengalami semua hal itu demi dirinya? Rasa terharu dan juga bersalah bercampur dalam diri Sasuke. Dia meletakkan kedua benda yang menjadi kado dari Naruto di atas meja. Dia ikut duduk bersama di atas sofa dan menangkup wajah Naruto untuk memberikan kecupan singkat namun penuh perasaan di pipi sang istri. "Terima kasih." Tidak perlu ditanya apa warna muka Naruto saat ini.
Itachi yang sudah tidak kuat melihat kemesraan mereka memutuskan untuk menggoda mereka sedikit lagi dan mengambil telepon genggamnya. Dia mencari sebuah kontak dan ketika menemukan yang dia cari Itachi menekan tombol panggil. "Halo, Gaara. Iya, ini aku."
Mendengar nama Gaara disebut, Sasuke dan Naruto memasang telinga dan mendengarkan percakapan Itachi.
"Kau pasti senang mendengarnya. Sekarang sahabatmu sudah resmi menjadi Nyonya Uchiha. Iya, semalam dia sudah bersenang-senang dengan adikku. Kau tahu kan, apa yang kumaksud? Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar memiliki keponakan."
"Kakak!"
Itachi segera beranjak dari duduknya dan menjauhi mereka masih sambil berbicara dengan Gaara di telepon. Karena tidak bisa mengejar, Naruto harus menyerahkan pengejaran kepada Sasuke. Mikoto begitu bingung melihat apa yang terjadi saat dia masuk ke ruang tengah. Dia bermaksud untuk melihat keadaan Naruto dan memastikan dia baik-baik saja. Tidak disangka yang dilihatnya adalah aksi kejar-kejaran antara kedua putranya.
"Kau tahu Gaara? Ternyata sahabatmu itu tipe yang sangat berisik. Benar, aku sampai hampir tidak bisa tidur semalam."
"Kakak, berikan teleponnya!"
"Ah tidak, hanya Sasuke saja yang mengejarku. Naru bahkan tidak sanggup berjalan, adikku memang sangat hebat."
"Kakak, cepat berikan!"
"Kau seharusnya datang kemari. Sekarang mereka sudah bertambah mesra. Kau baru saja melewatkan tontonan yang.." Mikoto merebut telepon itu dari Itachi tanpa dia sadari. Itachi terlalu fokus pada Sasuke yang mengejarnya dan tidak sadar bahwa Mikoto sudah bersiap-siap untuk menerjang. "Ibu, aku belum selesai."
Mikoto tidak peduli akan hal itu dan mulai berbicara pada Gaara. "Nak Gaara, ini Bibi. Iya, baik. Kau ingin berbicara dengan nak Naru?" Mikoto mengangguk dan menyerahkan telepon pada Naruto yang masih terlihat kesal akan ulah Itachi.
"Ya Gaara, ini aku."
"Apakah yang dikatakan Itachi itu benar?"
"Itu yang kau tanyakan? Kau bahkan tidak menanyakan kabarku?"
"Hm, jadi benar ya. Lalu?"
"Lalu apa?"
Gaara diam sejenak sebelum menanyakan pertanyaan yang mebuat Naruto sangat menyesal mendengarkannya. "Apa Sasuke hebat di atas ranjang?"
Naruto menekan tombol tutup dan melemparkan teleponnya ke atas meja asal. Tidak Gaara tidak Itachi, mereka semua sama-sama mesum. Dia kembali berbaring di atas sofa dengan punggung membelakangi mereka semua. Itachi dan Mikoto yang sama-sama jahil penasaran sekali dengan apa yang dikatakan Gaara sampai membuat Naruto bersikap seperti ini.
"Naru, kau tidak apa-apa?" Pertanyaan Sasuke tidak digubris oleh Naruto. Saat ini pemuda berambut pirang itu sedang tidak ingin berbicara kepada siapapun.
"Sudahlah, Sasuke. Mari kita biarkan saja nak Naru beristirahat."
Setuju dengan ibunya, Sasuke membawa kado yang diberikan Naruto untuknya dan kembali ke kamar. Itachi yang sudah cukup puas dengan permainannya juga meninggalkan iparnya untuk mendapatkan ketenangan. Mikoto hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya. Mereka semua sudah dewasa tapi tetap saja anak kecil.
Naruto sedikit mengerang dan perlahan membuka kedua mata birunya. Yang pertama dia lihat adalah langit-langit ruang tengah di mana dia tertidur. Tidak menyangka bahwa dia bisa tidur cukup nyenyak di atas sofa. Sepertinya Naruto benar-benar lelah.
"Bisa tolong jangan bergerak dulu? Sebentar lagi aku selesai."
Naruto menoleh ke samping dan mendapati Sasuke yang tengah duduk di lantai dengan sebuah buku sketsa di tangannya. Dengan lihai tangan kanannya bergerak menggoreskan pinsil di atas kertas putih tersebut. "Kau sedang menggambarku, Sasuke?"
"Kubilang jangan dulu bergerak, kan. Sebentar lagi selesai."
Naruto terkikik geli mendengar reaksi Sasuke. Ternyata ketika sedang mensketsa Sasuke serius sekali dan menurutnya itu lucu. Setelah beberapa buah goresan akhirnya Sasuke menyelesaikannya. Dia bangkit dan berjalan ke arah sofa untuk duduk di sana. Saat Naruto akan bangun Sasuke menahannya dan malah menyuruhnya berbaring lagi, tapi kali ini dia membiarkan Naruto menggunakan pahanya sebagai bantal.
"Aku boleh lihat?"
"Tentu saja." Kedua mata biru Naruto menatap kagum saat melihat hasil karya Sasuke. Tidak pernah dia mengira bisa melihat gambar dirinya sendiri begitu mendekati sempurna. Sasuke bisa saja menjadi seorang artis jika dia mau. Dia mencoba membuka halaman untuk melihat gambar lainnya tapi ternyata kosong. "Kau tidak sadar? Itu buku yang kau belikan, tentu saja belum ada gambar lainnya."
"Eh?"
"Kupikir karena ini darimu akan bagus jika kau menjadi objek pertama yang kugambar. Lagipula aku tidak suka menunjukkan hasil sketsaku pada orang lain. Bahkan Kakak saja tidak pernah melihat."
Mata Naruto melihat ke arah Sasuke sejenak, tapi lalu kembali lagi ke gambar di tangannya. Mendengar perkataan Sasuke membuat hatinya berbunga-bunga. Jika Sasuke menunjukkan hasil karyanya padanya, apa itu berarti Naruto sedikit spesial bagi Sasuke? Pemikiran itu yang membuatnya semakin menyukai Sasuke, dia ingin membuat Sasuke bahagia.
"Terima kasih. Kau membuatku terlihat begitu sempurna."
"Kau memang sempurna."
Naruto kembali melihat ke arah Sasuke. Kedua mata mereka saling bertatapan. Setelah beberapa lama saling menatap mereka pun tertawa bersama. Baru saja mereka berpikir mereka bertingkah seperti layaknya sepasang suami istri yang sebenarnya. Yang mereka tidak sadari adalah adanya kehangatan dalam pemikiran tersebut yang menjalar langsung ke hati mereka. Mereka mengartikannya sebagai kenyamanan karena akhirnya mereka dapat mengobrol lagi tanpa ada beban.
Ternyata butuh waktu tiga hari bagi Naruto untuk benar-benar pulih ke kondisinya semula. Selama tiga hari itu Gaara terus mengiriminya pesan karena Naruto tidak mau mengangkat telepon. Mengapa? Karena sahabatnya yang berambut merah itu tidak hentinya menggoda perkembangan hubungannya dengan Sasuke. Pesan-pesan Gaara yang isinya kurang lebih sama itu pun tidak pernah dia balas.
Setelah bisa bergerak dengan bebas lagi, Naruto meminta ijin dari Sasuke untuk pergi ke kafe karena ada yang ingin dia serahkan pada Gaara. Awalnya tentu Sasuke tidak mengijinkan, tapi setelah Itachi menawarkan diri untuk menemaninya akhirnya Naruto diijinkan pergi. Benar-benar terlalu khawatir.
Naruto sendiri tidak terlalu senang ditemani oleh Itachi. Sedikit banyak dia menyadari apa yang akan terjadi jika Gaara dan Itachi bertemu, kekuatan mereka berdua untuk menggodanya pasti akan bertambah dua kali lipat. Tapi di sisi lain Naruto juga merasa senang karena ini pertama kalinya dia pergi keluar berdua bersama dengan Itachi. Dia merasa tenang dan juga leluasa karena tidak ada yang perlu ditutupi dari Uchiha yang memiliki rambut panjang itu.
Mereka berdua masuk ke dalam kafe dan disambut oleh Neji. Pemuda berkulit pucat itu mengantarkan mereka ke satu meja kosong di sana lalu meninggalkan mereka untuk memanggil Gaara. Cukup lama juga mereka menunggu dan saat ini kafe sedang tidak terlalu ramai. Yang ada di sana hanyalah beberapa pasangan dan juga siswa SMU dilihat dari seragam mereka.
"Mama!"
Panggilan tersebut membuat Naruto tersentak. Akan tetapi, yang lebih membuatnya kaget adalah suara yang berteriak tersebut. Dia berbalik untuk melihat sosok itu dan mendapati seorang anak laki-laki berambut merah yang berusia sekitar tujuh tahun berlari ke arahnya. Naruto spontan memeluknya saat anak itu melompat ke arahnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melihat wajah ini.
"Kurama, kenapa bisa ada di sini?"
Kurama mengangkat wajahnya dan menatap Naruto dengan mata berbinar. "Mama, Kurama rindu sekali. Nenek bilang sekarang Mama tinggal di rumah lain, apa itu benar?"
Naruto mengelus rambut merah Kurama pelan. Dia juga sangat rindu dengan anak ini, sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu. Terakhir kali adalah ketika Kurama berlibur dan mengunjunginya di Konoha ini. Naruto menatap mata Kurama yang juga biru seperti miliknya dan tersenyum. "Mana ayahmu?"
Seperti mendengar pertanyaannya, seorang pria tinggi nan tampan yang mirip sekali dengan Kurama berjalan ke arah mereka. "Naru."
"Kyuubi, sudah lama sekali tidak bertemu."
Kyuubi mendekat ke arahnya dan mengecup keningnya singkat. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik."
Kyuubi terlihat sangat dewasa dan memukau. Dengan rambut merah menyala yang dipotong pendek dan juga matanya yang serasi dengan warna rambutnya berkali-kali membuat para gadis jatuh hati padanya. Kyuubi meraih Kurama dan menggendongnya. "Kami tiba tiga hari yang lalu dan mulai hari itu tinggal bersama Bibi dan Paman. Tadinya kami ingin mengunjungimu tapi Gaara mengatakan kau sedang tidak bisa dijenguk. Karenanya beberapa hari ini aku mengajak Kurama berkeliling Konoha dan mampir ke sini untuk makan siang."
Naruto teringat alasan mengapa dia tidak bisa dijenguk dan pipinya sedikit merona karenanya. Kyuubi menyadari hal tersebut dan bertanya-tanya dalam hati. Baru kali ini dia melihat Naruto bereaksi seperti ini. Belum satu tahun mereka tidak bertemu sudah ada beberapa hal yang berubah.
"Ehem," Itachi berdehem untuk menarik perhatian mereka. Tiga pasang mata berpaling ke arahnya dan menyadari ada orang keempat di sana. "Naru, kau tidak lupa padaku kan? Lalu, siapa ini? Kau selingkuh dari adikku?"
Sebelum Naruto menjelaskan duduk perkaranya, Kyuubi mengalahkannya lebih dulu dan mengulurkan tangannya untuk menjabat Itachi. "Perkenalkan, aku Kyuubi sepupu Naru." Itachi menatap sejenak tangan di hadapannya sebelum akhirnya menjabatnya. "Ini anakku, Kurama. Kau pasti Itachi kakak ipar Naru, aku sudah dengar dari Gaara."
"Sepupu?" Itachi mengangkat alis.
"Iya, sepupu." Naruto menatap Itachi kesal. Walaupun terdengar serius, Naruto mengenal nada suara Itachi dan hapal betul bahwa kakak iparnya itu hanya sedang menggodanya lagi. "Maaf ya, Kyuubi. Kakak ini memang sangat sensitif jika sudah mengenai Sasuke. Maklumlah, dia ini brother complex."
Itachi mengeluarkan tatapan tajamnya dan segera membalasnya. "Anak mami."
"Kalian akrab, ya." Komentar Kyuubi menghadiahkannya dua tatapan tajam secara bersamaan. Tapi bukan Kyuubi namanya jika hanya ditatap begitu saja akan mundur. Malah dia tersenyum yang membuat keduanya menghentikan pertengkaran bodoh mereka.
Mengingat tujuan awalnya kemari, Naruto melihat-lihat ke seluruh penjuru kafe mencoba menemukan rambut merah lain yang amat dikenalnya. "Oh iya, mana Gaara?"
"Papa Gaara sedang membuatkan Kurama kue manis," jawab Kyuubi kecil. Itachi mengerutkan dahi mendengar panggilan Kurama untuk Gaara. Kyuubi menyadari kebingungan Itachi dan menawarkan untuk menjelaskan semuanya. Dia menyerahkan Kurama pada Naruto dan duduk di sampingnya, berhadapan dengan Itachi.
"Istriku meninggal dunia ketika Kurama masih berusia tiga tahun. Dia sering menangis karena banyak anak yang mengejeknya tidak memiliki ibu. Setelah mengetahui hal tersebut, Naru mulai menjadi Mama bagi Kurama agar mereka berhenti mengejeknya. Gaara yang juga sudah menjadi seperti keluarga menjadi Papa bagi Kurama." Naruto selalu berkata pada Kurama bahwa dia hanya memiliki satu Ibu dan satu Ayah, tetapi dia bisa memiliki banyak Mama dan Papa. Kurama sangat senang mendengarnya karena meskipun kehilangan Ibunya, dia memiliki keluarga besar sekarang. "Sekarang setiap kali ada orang yang dia sukai, Kurama akan mengatakan kalau dia adalah Papanya."
Kurama yang duduk di pangkuan Naruto menatap Itachi dengan penuh ketertarikan. "Ibu sangat cantik dan Ayah bilang kalau Ibu masih ada Ibu pasti akan menjadi yang paling cantik. Tapi Mama juga cantik, kok. Paman, menurut Paman Mama cantik tidak?"
Sedikit kaget mendengar pertanyaan Kurama, Itachi tidak langsung menjawab. "Iya, Mamamu cantik." Naruto terkikik mendengar jawaban Itachi, tapi Itachi tidak berhenti hanya di situ. "Saking cantiknya, adikku sampai tidak sadar apa yang dilakukannya."
Naruto berhenti tertawa dan mulai merona. Kurama tidak memperhatikan perubahan dari Mamanya dan masih fokus pada pria di hadapannya. Kyuubi hanya memperhatikan semuanya dari samping dengan penuh penasaran. "Adik Paman siapa?"
"Hm?" Itachi kembali menatap Kurama yang masih melihatnya dengan mata berbinar-binar. "Dia itu suami Mamamu. Apa kau mengerti? Seperti Ayah dan Ibumu dulu."
"Oh, apa itu artinya Kurama punya Papa baru?" Kali ini Kurama menatap ke arah Naruto yang sedang mencoba mengendalikan degup jantungnya.
"Jika Kurama anak yang baik, Sasuke pasti mau jadi Papa Kurama."
"Kurama baik, kok. Iya kan, Ayah?" Kyuubi hanya mengangguk menyetujui. "Jadi namanya Papa Suke?" Itachi hampir tertawa mendengar nama adiknya dipanggil seperti itu. "Orangnya seperti apa?"
Naruto berpikir sebentar sebelum membuka mulutnya untuk menjawab. "Sasuke itu pintar, pekerja keras, sayang pada keluarga dan juga baik hati. Wajahnya mirip dengan Paman yang ada di depanmu, hanya saja Sasuke rambutnya pendek."
"Oh, berarti Papa Suke tampan ya."
Itachi menaikan alisnya sambil memandang Kurama. "Menurutmu aku tampan?"
"Iya, Paman tampan." Itachi berterima kasih atas pujian Kurama dan Naruto mengejeknya karena kenarsisan Itachi. Pertengkaran biasa pun berlanjut sampai pertanyaan Kurama mendapatkan perhatian mereka. "Kalau Paman bagaimana? Paman mau jadi Papa Kurama?"
Mereka semua menatap Itachi bersamaan dan menunggu jawaban Uchiha sulung tersebut. "Karena kau lucu, boleh saja. Kalau begitu kita berkenalan dulu. Namaku Itachi." Itachi menjulurkan tangannya yang langsung di sambut dengan antusias oleh Kurama.
"Aku Kurama." Tak lama Gaara datang dengan sebuah baki yang berisi dua buah kue untuk Kurama dan Naruto juga dua cangkir kopi untuk Itachi dan Kyuubi. "Yay, kue Kurama datang! Terima kasih, Papa Gaara." Gaara mengacak rambut Kurama pelan sebagai jawabannya. Anak ini selalu membuat dia gemas setiap kali memanggilnya Papa. "Papa Tachi tidak suka kue? Sama seperti Ayah."
Gaara melirik ke arah Itachi. "Kau jadi Papanya juga?"
"Begitulah. Tidak ada salahnya, selama ini aku hanya pernah mengurus Sasuke dan dia dulu juga lucu seperti ini. Dulu dia selalu menempel padaku dan mengikutiku kemana saja." Kurama memakan kuenya lahap dan membuat wajah manisnya sedikit berantakan. "Hei, pelan-pelan makannya. Boleh saja kau menyayangi Mamamu tapi jangan turuti sifat jeleknya."
Naruto spontan memukul Itachi dengan tangannya yang sedang memegang sendok. "Aku tidak pernah makan berantakan." Itachi mengelus lengan yang baru saja dipukul iparnya dan mereka tertawa bersama. Mereka semua mengobrol banyak hari itu, dimulai dari berbagi pengalaman masing-masing dan juga rencana-rencana di masa depan. Sekarang anggota keluarga mereka bertambah dan menjadi satu keluarga besar. Naruto tidak sabar untuk memperkenalkan Kurama dan Kyuubi pada Sasuke.
"Kyuubi, apa mulai sekarang kau akan terus tinggal di Konoha?"
Kyuubi melayangkan pandangannya pada Itachi. "Ya, aku berencana begitu. Di Suna tidak ada kerabat dekat jika terjadi apa-apa, karena itu Bibi meminta agar kami tinggal disini saja bersama mereka. Aku tidak keberatan, Kurama juga pasti senang bisa bertemu Mamanya lagi."
Kurama menatap ayahnya dan mereka tersenyum bersama. "Kurama senang bisa dekat lagi dengan Mama."
Itachi memperhatikan senyum mereka dan terkesima. Satu hal lagi yang berhasil membuatnya semakin menyayangi adik iparnya. Naruto adalah seorang pemuda yang penuh kasih sayang dan selalu ingin membuat orang disekitarnya bahagia. Tentu saja kejadian terakhir dengan Sasuke pun sudah membuktikan bagaimana pemuda berambut pirang tersebut sangat memperdulikan kebahagian orang lain. Lalu, bagaimana dengan kebahagiannya sendiri?
Naruto sanggup berkorban demi kebahagian orang lain. Tapi apakah dia juga sanggup melakukannya demi kebahagiannya sendiri? Sesuatu yang dia cari selama ini, sesuatu yang dapat menahannya agar tetap hidup, bukankah itu kebahagian? Tapi kebahagiaan seperti apa dan dari mana?
"Kau keberatan jika aku mengunjungimu sesekali?" Kyuubi yang sedang menyeruput kopinya terdiam sebentar lalu meletakkan cangkirnya dia atas meja.
"Tentu, jika kau ada waktu tentunya. Kudengar kau orang sibuk, Itachi."
"Ya, karena itu kubilang sesekali. Siapa tahu kan."
Kyuubi mengenal Naruto sejak tinggal di Suna. Itachi merasa bisa mendapatkan sesuatu jika mengobrol denganya. Mungkin saja dia bisa lebih mengenal adik iparnya ini dan juga mencari tahu kemungkinan tentang apa yang dibutuhkannya. Kyuubi sendiri terlihat menyayangi Naruto dan ingin membantunya. Itachi rasa bukan ide yang buruk untuk berbincang lebih dalam dan berakrab-akrab dengan Uzumaki berambut merah ini.
Naruto memperhatikan interaksi yang sedang dilakukan kedua pria penikmat kopi tersebut sambil menikmati kuenya sendiri. Kurama dipangkuanya hanya terfokus pada makanan manis dihadapannya, sementara Gaara yang duduk di samping Itachi memperhatikan semuanya dalam diam. Melihat sinar mata Naruto, Gaara tahu apa yang sedang sahabatnya itu pikirkan dan hanya bisa menggeleng.
"Kau kenapa, Gaara?"
"Tidak ada apa-apa. Jangan hiraukan aku." Gaara beranjak dari kursi dan berdiri. "Aku harus kembali bekerja. Kalian teruskan saja mengobrol ya."
"Ya, sampaikan salamku pada Neji ya." Langkah Gaara terhenti sesaat tapi dia berjalan kembali menjauhi meja mereka menuju ke ruangannya di bagian belakang kafe. Sebenarnya yang membuatnya terhenti bukanlah perkataan Naruto, tapi lebih ke cara sahabatnya itu mengatakannya. Jahil sekali temannya itu.
"Pasti ada maksud dibalik kata-katamu tadi, Naru." Naruto hanya menatap Itachi datar dan menelan suapan kue terakhirnya. "Kau balas dendam atas godaan Gaara padamu kan, mengaku saja ."
Naruto mengangkat bahu tidak bersalah. "Ya, tapi Kakak juga harus dengar bagaimana nama Neji selalu muncul setiap kali dia berbicara soal kafe."
"Kau hanya takut sahabatmu diambil pergi kan."
"Diamlah, Kakak bodoh."
"Setelah tidak perawan lagi kau semakin berani ya padaku."
"Kakak!"
"Mama, Papa, jangan bertengkar!" Teriakan dari Kurama menghentikan pertengkaran bodoh mereka. Ditambah lagi saat mereka sadari semua mata di kafe tertuju pada mereka. Tidak seharusnya Naruto berteriak tadi. "Mama, Papa, jangan bertengkar ya. Itu tidak baik. Iya kan, Ayah?"
Kyuubi yang sepertinya juga tersentak akan pertengkaran mereka dan teriakan tadi, tersadar oleh pertanyaan dari anaknya. "Ah, ya tentu. Kita semua keluarga harus saling menyayangi dan tidak boleh bertengkar."
"Tuh kan, apa Kurama bilang. Nah sekarang, Mama dan Papa Tachi baikan ya."
"Maaf," ucap Naruto dan Itachi bersamaan. Kurama tersenyum sedangkan ayahnya menahan tawa melihat ekspresi kedua pria yang baru saja diceramahi oleh seorang anak kecil. Siapa sangka seorang Uchiha bisa dikalahkan oleh anak berumur tujuh tahun.
