Title : It's Not All About Money Chapter 5
Pairing : HanHun, KaiHun, KaiSoo, etc
Cast : EXO and others
Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rate : T
...
...
...
Akan ada new cast di chapter ini. Siapakah dia? Baca aja xD Maaf jika ada typo:D
...
...
...
Tap
Tap
Tap
"Oh Sehun!"
Tap
Tap
Tap
"Oh Sehun jamkanman!" Luhan menarik lengan Sehun hingga tubuh tinggi itu berbalik. Mata hazelnya menyorot tajam pada manik coklat itu.
"Kenapa terburu-buru?" Luhan enggan melepas cengkramannya. Sehun mengintip melalui bahu Luhan takut-takut jika Jongin memperhatikan mereka dari dalam sana.
"Hyung, lepas. Apa yang akan Jongin pikirkan tentang kita? Dia bisa salah paham." Bukan itu alasan sebenarnya. Sehun masih kesal karena kejadian tadi malam. Bayangan Luhan dan juga Yixing yang tengah bersama masih terputar jelas di otaknya.
"Wae? Bukankah bagus jika dia mengetahuinya? Dengan begitu dia akan tahu siapa kau sebenarnya dan tidak bersikap seenaknya lagi." Tutur Luhan begitu ingin jika Jongin mengetahui hubungannya dan juga Sehun. Pria cantik itu hanya terdiam sambil tertunduk. Seulas senyum tersungging di bibirnya.
"Apa untungnya bagiku? Toh semunya sudah berakhir." Ujar Sehun ketus kemudian menghentakkan lengannya hingga genggaman Luhan terlepas begitu saja. Pria itu hanya mengerutkan dahinya saat Sehun tanpa berucap apa-apa lagi segera pergi dari hadapannya.
"Apa yang terjadi?" Luhan menatap punggungnya yang semakin menjauh. Ia tahu kapan Sehun akan tiba-tiba marah padanya. Saat sesuatu yang tak Luhan sadari tejadi seperti— Luhan membulatkan matanya. Apa jangan-jangan Sehun tahu jika semalam ia dan Yixing bertemu? Apa lagi-lagi Sehun memergokinya?
"Apa dia tahu? Aissshh jinjja?" ia memijat pelipisnya kemudian hendak menyusul Sehun yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Tuan Lu!" sebuah suara membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh dan mendapati Jongdae sudah berdiri di belakangnya.
"Tuan Besar mencari Anda. Ia menunggumu di ruang kerjanya." Ujar Jongdae sambil mengisyaratkan jika Luhan harus mengikutinya. Pria berambut coklat itu mendesah dengan kasar dan segera mengurungkan niatnya untuk mengejar Sehun yang pergi entah kemana.
...
...
...
Sehun sudah berjalan jauh semenjak ia melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Kim. Orang-orang mungkin akan menganggap jika hobi Sehun kali ini adalah berjalan kaki hingga mencapai beberapa kilometer. Efek lelah yang dideritanya membuat perutnya menjerit minta diisi. Terang saja jika pagi ini belum ada satu makanan pun yang melewati kerongkongannya. Bahkan setetes air pun belum membasahinya.
Ia mengedarkan matanya ke seluruh penjuru tempat—mencari minimarket yang sudah buka. Sehun menyebrangi jalan saat lampu untuk pejalan kaki menyala. Kakinya melangkah besar-besar karena cacing di perutnya sudah tak sabar ingin diberi makan. Sehun memasuki salah satu minimarket kemudian membawa beberapa bungkus roti dan susu lalu segera berlari ke arah kasir.
"Semuanya jadi 15.000 won." Ujar Ahjumma penjaga kasir seraya memberikan satu kantong plastik belanjaannya. Saat ia akan menyerahkan uang, tiba-tiba sebuah tangan terulur sambil meletakkan setumpuk belanjaan di meja kasir.
"Satukan saja semuanya." Ujar suara tersebut hingga membuat Sehun menoleh.
"Tao?" Sehun membulatkan matanya tak percaya. Pria bermata panda disampingnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Sehun.
"Annyeong, Sehunnie? Jaljinaesseo?"
Tanpa bisa menahan rasa senangnya Sehun segera memeluk Tao saat itu juga membuat tubuh pria itu sedikit terjengkang karena Sehun memeluknya bukan dengan cara yang bisa dibilang lembut.
"A—Sehunnie, bahuku—" Tao sedikit mengernyit. Sehun dengan cepat melepas pelukannya kemudian menatap Tao khawatir.
"Gwaenchana? Apa bahumu cedera? Mianhae!"
"Gwaenchana."
"Chogiyo~"
Sehun dan Tao yang tengah tenggelam di dalam pembicaraan mereka segera menoleh ke arah Ahjumma penjaga kasir.
"Semuanya jadi 60.000 won."
"Ah, ne." Tao menyerahkan sejumlah uang padanya.
"Kamsahamnida." Garis bulan sabit yang melengkung itu tampak dikelilingi keriput yang begitu kentara.
"Ne. Kajja, Sehunnie!" Tao dan Sehun membungkuk sekilas ke arah wanita tua itu lalu berjalan keluar minimarket.
"SEHUNNIE!" teriak Tao membuat Sehun menoleh ke arahnya heran. Mereka kini berjalan beriringan dengan perlahan menelusuri jalanan yang tak terlalu banyak dilalui oleh kendaraan.
"W-wae?" Sehun memutar bola matanya kemudian mengeluarkan sekotak susu dari kantong plastik yang ia bawa.
"Nan bogoshipeoyoooooo~" rengek Tao sambil menggoyang-goyangkan lengan Sehun dengan gemas. Sehun terkekeh pelan. Ia menyedot susunya dan hampir saja tersedak saat Tao tiba-tiba saja menepuk punggungnya cukup keras.
"Ya neo mwohae? Kebiasaan! Baru saja aku bertemu denganmu kau sudah mengajakku ribut eoh?" Sehun menatapnya kesal. Pria panda itu mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V dengan cengiran lebar.
"Sorry! Aku terlalu senang bertemu denganmu!"
"Tapi kau tak perlu memukulku seperti itu!"
"Itu pukulan persahabatan."
Sehun menatapnya datar kemudian tertawa dengan geli.
"Alasan macam apa itu?" Sehun mengalihkan tatapannya pada bahu di sampingnya.
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan bahumu?" ia menunjuk bahu tegap itu yang kemudian diikuti dengan tatapan Tao.
"Eh? Oh ini—" Tao menepuk bahu kirinya beberapa kali. "—cedera saat latihan wushu. Ah! Minggu depan aku ada pertandingan. Karena hari ini kita bertemu maka kau harus datang! Tak ada penolakan! Jika tidak—"
"Kau sedang mengancamku? Apa-apaan kau? Setelah 2 tahun kita tidak pernah bertemu lalu kau tiba-tiba saja mengancamku? Keterlaluan!" Sehun mengerucutkan bibirnya sebal sementara Tao hanya terkekeh pelan.
"Eiiii aku kan hanya ingin diberi dukungan oleh sahabatku sendiri. Oh ya ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Luhan Ge? Kau sudah lama tak bercerita padaku."
DEG
Sehun merasa jantungnya behenti berdetak. Tao memang yang paling tahu mengenai hubungan Sehun dan juga Luhan. Bahkan Tao-lah yang membawa Luhan padanya hingga membuat mereka menjadi sepasang kekasih. Namun sejak lulus SMA, semua kebiasaan yang mereka lakukan perlahan mulai hilang seiring dengan intensitas pertemuan mereka yang begitu sedikit bahkan tidak pernah sama sekali. Mereka jarang bercerita mengenai masalah yang tengah dialami. Saling bertukar kabar singkat saja sudah cukup membuat mereka lega.
Sehun memelankan laju langkahnya membuat Tao mengernyit heran.
"Wae?"
"Sebenarnya—"
...
...
...
"Kau belum tidur?" seorang pria tak terlalu tinggi duduk di salah satu tepi sofa dengan beberapa bungkus cemilan di tangannya. Pria di sampingnya yang kini tengah sibuk megganti channel TV hanya menggelelng pelan.
"Eiii berikan remote-nya padaku! Kau membuat mataku sakit!" omel si pria pendek seraya merebut remote dari tangan si pria tinggi yang kemudian hanya mendelik tajam padanya. Mata panda itu kembali menatap lurus pada televisi yang kini tengah menayangkan sebuah acara yang dipilih oleh pria pendek tersebut.
"Minseokki Hyung, jika 2 orang yang telah lama berpisah kemudian pergi bersama apa artinya mereka kembali menjalin hubungan?" pertanyaan Tao membuat pria yang kini tengah membuka salah satu bungkus snack menoleh ke arahnya.
"Tergantung." Ucapnya singkat kemudian meraup keripik kentang dari bungkusnya lalu memasukannya ke dalam mulut.
"Aisshh Hyung! Aku serius! Kau benar-benar—aku akan menyita seluruh persediaan snack di lemari pakaianmu!" teriaknya geram. Minseok terlihat panik. Ia menarik lengan t-shirt Tao dengan tatapan memohon.
"Andwaeyo! Kau bahkan tak menjelaskan mengenai situasinya."
"Aku belum selesai!"
"Kalau begitu lanjutkan."
"Posisinya seperti—emm saat kau dan si pria dengan suara emas itu—"
"Jangan membahasnya lagi, OK? Katakan saja to the point! Kau itu berbelit-belit sekali. OK, biar kuterjemahkan. Maksudmu jika kau bertemu mantan kekasihmu lalu pergi bersama apa diantara kalian kembali menjalin hubungan? Kubilang jawabannya tergantung."
"HYUNG! Kenapa jawabannya harus se-simple itu? Dan kau tahu aku tak pernah punya mantan kekasih!" sentak Tao sambil beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah dapur.
"Aiiiishh kau benar-benar berisik sekali! Aku kan hanya mengumpamakan."
"Tadi juga aku hanya mengumpamakan." Tao mengambil sebotol air mineral dari lemari es kemudian meneguknya.
"Tapi kau tak perlu mengambil perumpaman aku dan juga si 'X' itu!" ceroscos Minseok tak terima. Ia kembali menyuapkan keripik kentang ke dalam mulutnya dengan lahap sambil mengumpat tak jelas. Tao hanya memutar bola matanya. Ingin sekali ia melempar botol air mineral di tangannya ke kepala Minseok.
"Terserah Hyung saja. Aku tidur duluan!" ia menyeret kakinya menuju kamarnya meninggalkan Minseok yang kini tengah tertawa dengan keras karena acara komedi favoritnya. Pria aneh. Mood-nya seketika berubah jika sudah dihadapkan dengan sesuatu yang menjadi kesuakaannya.
BLAM
"HAHAHAHAHAHA!" terdengar suara tawa samar dari balik pintu. Tao merutuk tak jelas lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja belajarnya lalu melompat ke atas ranjang.
"Hyung berisik!" teriaknya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Namun Minseok mengacuhkannya. Tawanya kembali terdengar dan ia terpaksa harus membiarkan pria keras kepala itu asik dengan dunianya. Tao menelusupkan tubuhnya di bawah selimut tebal. Ia menatap ponsel yang ada di dalam genggamannya kemudian ibu jarinya bergerilya entah mencari apa hingga layar berisi fotonya dengan seseorang membuat sorot matanya berubah sedih.
"Aku benar-benar kasihan padamu." Gumamnya pelan. Ia mengamati lekat-lekat wajah seseorang yang hanya menatapnya datar.
"Apa kubilang, dia sama sekali tak mencintaimu 'kan? Kau memang bodoh karena mencintainya!" ibu jarinya mengusap permukaan ponselnya dengan iba.
"Selamat malam!" ia mengakhirinya kemudian mematikan ponsel dan meletakkannya di belakang bantal lalu memaksa matanya untuk terpejam ditengah tawa Minseok yang semakin menjadi.
...
...
...
"Kyungsoo-ah, kau sudah mengerjakan tugas dari Miss Hwang?" lengkingan suara Baekhyun yang terdengar rusuh dan tak sabaran membuat Kyungsoo yang pagi itu tengah tenggelam dalam bacaan berbahasa Inggrisnya menoleh dengan alis bertautan. Matanya membulat saat didapatinya penampilan Baekhyun yang berantakan—rambut yang tak jelas modelnya serta dasi yang belum diikat dengan sempurna. Sementara Chanyeol di belakangnya berjalan dengan santainya dengan sebelah tangan ia masukkan ke dalam saku celananya—berbanding terbalik dengan Baekhyun yang terlihat begitu tergesa.
"Baekhyun-ah, sudah kubilang kau santai saja. Kenapa kau panik begitu? Aku yakin Miss Hwang tak akan marah jika kita tak mengerjakan tugasnya." Ujar Chanyeol seraya mendaratkan tas miliknya di atas meja.
"Ya! Memangnya salah siapa jika aku tak sempat mengerjakan tugasku huh?! Jika saja kau tak mengajakku bermain game bodohmu itu semalaman maka aku tidak akan sampai tidur larut dan lupa mengerjakan tugas!" omel Baekhyun membuat Chanyeol dan Kyungsoo memutar bola matanya bersamaan.
BRAK
Suara tas yang dibanting ke atas meja membuat ketiga pria itu menoleh. Jongin baru saja datang dengan wajah kusutnya. Aura tak bagus terlihat begitu kental di sekitarnya. Chanyeol mendengus pelan kemudian segera menduduki bangkunya saat Kyungsoo yang tahu situasi buruk itu segera menghampiri meja Jongin yang terhalangi 3 bangku di belakangnya.
"Kau kenapa?" tanya Kyungsoo hati-hati. Jongin meliriknya sekilas kemudian membuka zipper tasnya lalu mengeluarkan buku mata pelajaran jam pertamanya. Ia mengacuhkan ketiganya yang kini hanya menatapnya heran.
...
...
...
Sehun menatap Profesor Lee yang tengah menerangkan mata kuliahnya di depan kelas sana. Namun otaknya sama sekali tak fokus pada pelajaran. Begitu banyak hal yang mengganjal hati dan pikirannya. Ia mendesah dengan keras saat kelas dalam situasi yang begitu hening.
"Sehun-ssi?" tegur Profesor Lee dengan tatapan herannya. Puluhan pasang mata kini menatap ke arahnya. Sehun yang merasa sebuah tangan menyiku lengannya terkesiap kaget lalu memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia begitu terkejut dan segera berdiri dengan tergesa saat menyadari bahwa dirinya kini tengah menjadi pusat perhatian penghuni kelas.
"J—jwesonghamnida~" ucapnya gugup karena merasa bersalah tak memperhatikan pelajaran.
"Jika kau tak ingin memperhatikan pelajaranku, lebih baik kau tinggalkan saja kelas ini." Ujar Profesor Lee tegas yang menyebabkan seisi kelas menjadi gaduh. Terdengar kasak-kusuk tak jelas dari setiap penjuru. Tak biasanya teman jeniusnya itu melakukan kesalahan seperti itu. Apalagi tak menaruh perhatian saat mata kuliah berlangsung. Selama sejarah perkuliahan Sehun, ini adalah pertama kalinya ia melakukan kesalahan seperti itu. Sehun hanya tertunduk karena merasa bersalah dan juga malu.
"Jwesonghamnida, saya tak akan mengulanginya." Ia membungkuk kemudian kembali duduk. Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Ia segera merogohnya kemudian membaca sebuah pesan dari nomor yang sama yang terus saja menghubunginya sejak kemarin pagi namun sengaja ia abaikan.
'Aku ingin bertemu denganmu saat jam makan siang.'
Sehun segera saja mematikan ponselnya dan sama sekali tak berniat untuk membalasnya. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, ia pun mengubur dalam-dalam ponselnya di dalam tas kemudian menyimpan perhatian sepenuhnya pada Profesor Lee di depan sana.
...
...
...
"Kenapa wajahmu murung?" Kyungsoo memperhatikan wajah Jongin yang hanya mengaduk makanannya tanpa sedikit pun memakannya. Jongin tak meresponnya kemudian malah membanting sumpit hingga sebagian kuah sup berceceran diatas meja.
"Ya Kim Jongin! Waeyo? Kau itu selalu marah-marah tanpa alasan!" bentak Kyungsoo kesal kemudian mengambil beberapa helai tisu dan membersihkan meja di depannya.
"Aiishhh! Si brengsek itu benar-benar mengusik hidupku!" ia mengacak rambutnya kasar kemudian mendengus kesal.
"Kau bertengkar lagi dengan ayahmu? Jongin-ah, bisakah kau berkata lebih sopan terhadap ayahmu? Walau bagaimanapun dia itu—"
"Aniyo! Aku sudah terbiasa bertengkar dengannya. Dan ingat! Aku tak pernah menyebutnya 'si brengsek'. Maksudku si Oh Sehun tak tahu diri itu. Dia sudah membuatku bertengkar hebat dengan Abeoji dan juga terkena semprot Luhan Hyung!" geram Jongin dengan mata berkilat penuh amarah. Kyungsoo hanya mendesah pelan. Jongin memang emosional. Masalah kecil pun bisa menjadi besar jika berurusan dengan Jongin.
Kali ini Kyungsoo menatap Jongin intens. Memperhatikan raut wajah Jongin yang terlihat suram dan kesal.
"Hei."
"Mwo?" ujarnya malas. Nafsu makannya hilang begitu saja. Sementara Kyungsoo melipat tangannya di atas meja. Mata bulatnya seakan mengeksekusi Jongin untuk menjawab apa yang selanjutnya akan ia lontarkan padanya.
"Ngomong-ngomong kenapa kau begitu membenci Sehun Hyung?" pertanyaannya membuat Jongin seketika menatap pria mungil di depannya itu.
"Apa benci butuh alasan?" ia malah balik bertanya. Sudah Kyungsoo duga jika jawabannya pasti akan seperti itu.
"Aku serius." Tatapannya berubah sangar. Jongin memalingkan wajahnya ke arah jendela kemudian kembali menatap Kyungsoo.
"Apa cinta juga butuh alasan?"
"Kim Jongin kau cukup katakan alasannya—"
"Aku membencinya. Apa kau tak mengerti?" ujar Jongin sengit. Kyungsoo menatapnya tajam. Ia bersiap mengomeli Jongin namun pria itu sudah berdiri.
"Jangan membahasnya lagi karena aku benar-benar muak!" tanpa memberi kesempatan Kyungsoo untuk berbicara, ia pun segera pergi meninggalkan kekasihnya yang hanya menatapnya dengan heran. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya dengan gemas.
"Kenapa lagi dia?" tahu-tahu Chanyeol sudah meletakkan nampan berisi makanannya di atas meja yang baru saja ditempati Jongin. Kyungsoo mendongak lalu memutar bola matanya.
"Jangan membuat situasi semakin buruk!" Ujar Kyungsoo ketus. Chanyeol menggembungkan pipinya sebal karena pria mungil di depannya selalu saja menganggapnya pembuat onar.
"Soo, kau selalu saja galak padaku." Ia menyuapkan makanannya mau tak mau lalu mengunyahnya dengan malas membuat Kyungsoo merasa risih dengan sikapnya yang mulai kekanakkan.
"Kunyah makananmu dengan benar! Kau dan Jongin sama saja!" matanya melotot. Chanyeol merasa pria manis di depannya ini semakin mirip dengan ibunya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Kau sedang mengejekku? Kenapa tiba-tiba tersenyum seperti itu?" Kyungsoo semakin yakin jika ada yang tak beres dengan otak Chanyeol. Pria tinggi itu menggelengkan kepalanya dengan keras sambil mengunyah makanannya dengan benar.
"Aniyo! Aku hanya senang karena kau mengomeliku." Ia kemabali menyendok makanannya dan melupakan ekspresi Kyungsoo yang tiba-tiba hanya diam tertegun sambil menatapnya.
"D—dasar aneh!" Kyungsoo segera saja meninggalkan Chanyeol yang masih tersenyum tak jelas kepadanya.
...
...
...
Jalanan di sekitar distrik tempat Sehun tinggal terlihat begitu lengang mengingat waktu masih menunjukkan pukul 9 malam. Sehun berjalan sedikit cepat kemudian mampir terlebih dahulu ke minimarket untuk membeli bahan makanan. Perutnya benar-benar sakit karena tak ada satu pun makanan yang mengisi perutnya setelah roti yang ia makan pagi tadi. Bahkan otaknya terkuras habis karena dipaksa mengerjakan tugas dengan deadline esok hari.
"Annyeonghaseyo~" sapa Ahjumma penjaga kasir saat Sehun membuka pintu minimarketnya. Ia merespon sapaan wanita itu dengan sebuah senyuman. Tanpa perlu repot-repot memikirkan apa yang harus dibeli, Sehun segera berjalan ke bagian makanan instan lalu mengambil beberapa buah ramyeon lalu segera bergegas menuju kasir.
"Akhir-akhir ini kau selalu membeli ramyeon. Jaga kesehatanmu. Kau bisa jatuh sakit jika tak memakan makanan sehat. Bukankah kegiatanmu begitu padat? Mana bisa kau makan hanya dengan mie instan?" ceroscos Ahjumma seraya menghitung seluruh belanjaan Sehun.
"Aigo Ahjumma, kau membuatku rindu pada Eomma. Gomawo, karena sudah khawatir padaku. Tapi aku benar-benar tak punya waktu untuk memasak. Jadi tak ada pilihan lain." Ia tersenyum hambar kemudian menyerahkan sejumlah uang yang tertera di mesin kasir.
"Ngomong-ngomong kenapa hari ini begitu sepi?" pertanyaan Sehun membuat raut wajah wanita paruh baya itu menjadi ketakutan.
"Tadi terjadi perampokan di sekitar sini. Makannya aku benar-benar takut terhadap pengunjung yang tak kukenal. Kau lihat pemuda di ujung sana?" wanita itu mengisyaratkan agar Sehun mengikuti arah pandanganya.
"Dia benar-benar tampan." Hanya sebuah pujian yang terlontar dari mulutnya. Sehun memicingkan matanya tidak mengerti kemudian tersenyum dipaksakan.
"Ahjumma, apa hubungannya perampok dan pujianmu itu?" Sehun mengambil kantong plastik belanjaannya kemudian melupakan sesuatu jika suara mereka mungkin saja dapat didengar oleh pria bertubuh tinggi itu mengingat ukuran minimarket yang tidak terlalu luas dan hanya mereka bertiga yang ada disana.
"Eiiii maksudku kau jangan tertipu dengan wajah tampan seseorang. Bagaimana jika dia itu salah satu dari komplotan para perampok?" ujar Song Ahjumma menakut-nakuti. Sehun bergidik ngeri. Ia menatap pria yang tengah memilih beberapa sayuran itu dengan sudut matanya.
"Kau harus berhati-hati." Bisik Sehun pelan agar suaranya tak terdengar oleh pria di belakangnya.
"Tenang saja. Anakku sebentar lagi akan datang untuk menemaniku. Kau tak perlu khawatir. Pulanglah. Justru aku khawatir jika kau pulang terlalu malam." Perkataan Song Ahjumma membuat Sehun tersadar jika ia harus segera mengakhiri pembicaraannya dengan wanita itu dan segera pulang.
"Kalau begitu aku pergi. Annyeong!" mereka terus berbicara sambil berbisik hingga akhir. Sehun pun berlari kecil meninggalkan minimarket kemudian menelusuri jalanan sepi dengan perasaan yang sedikit gelisah.
...
...
...
Sehun semakin mempercepat langkahnya saat suara langkah seseorang di belakangnya terdengar semakin dekat ke arahnya. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Ia benar-benar takut jika orang di belakangnya adalah perampok—sesuai dengan dugaan Song Ahjumma.
"Hei!" suara berat itu akhirnya lolos juga dari tenggorokan orang di belakangnya. Namun Sehun masih enggan untuk menghentikan langkahnya dan kali ini ia malah berlari dengan tergesa.
"Ya! Belanjaan kita tertukar!" seru pria di belakangnya dan Sehun seketika menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mendapati pria tinggi—lebih tepatnya pria yang ia dan Song Ahjumma curigai sebagai kawanan perampok di minimarket tadi tengah berjalan ke arahnya dengan wajah yang tampak begitu lelah karena harus mengejar Sehun yang tak kunjung mengehentikan langkahnya.
"Eh?" Sehun hanya melongo saat pria itu mengulurkan kantong belanjaannya agar Sehun mengambilnya.
"Itu milikku." Ujarnya sambil menunjuk kantong belanjaan yang tengah dijinjing Sehun. Ia masih menatap Sehun yang kemudian mengecek isi belanjaan yang ia bawa. Beberapa kaleng minuman, snack, dan juga bahan makanan lainnya. Pantas saja ia merasa belanjaannya begitu berat.
"Ah! Mianhae, aku benar-benar tidak tahu." Sehun menggaruk kepalanya kemudian tersenyum dengan canggung. Ia benar-benar malu dan tiba-tiba saja sorot mata pria di depannya berubah menjadi lebih bersahabat.
"Gwaenchana." Ia tertawa ringan kemudian segera bertukar kembali belanjaan mereka.
"Kau tidak menganggapku perampok lagi 'kan?" candanya membuat Sehun membulatkan matanya.
'Mati aku! Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Song Ahjumma?' batin Sehun merasa malu.
"A—ah aku tidak bermaksud menganggapmu seperti itu." Sehun mengibaskan sebelah tangannya di depan wajahnya. Ia begitu gugup—terlihat dari gesture tubuhnya yang menjadi salah tingkah dan wajah yang memerah sempurna.
"Maaf sudah membuatmu takut. Dan uh—sorry aku harus segera pergi." Ia membungkuk samar pada Sehun kemudian segera berbalik hingga mantel dan juga beberapa helai rambutnya berkibas tertiup angin. Sehun tertegun. Efek daun-daun yang berguguran dibawah cahaya remang lampu jalan membuatnya terlihat seperti—sosok pangeran di dalam manga yang kadang ia baca jika tak terlalu sibuk.
"Ya! Apa yang kupikirkan?" Sehun menepuk pipinya beberapa kali kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia pun hanya mengangkat bahunya kemudian kembali berjalan menuju apartemennya hingga manik matanya menangkap sosok yang paling tak ingin ia temui saat ini. Semuanya buyar. Tubuh yang sedikit lebih pendek daripada Sehun itu baru saja keluar dari mobilnya saat mendapati Sehun yang baru saja datang dan berhenti tak jauh darinya.
Sehun merasa kakinya mati rasa dan tak bisa digerakkan saat Luhan yang kini tengah menatapnya dengan tajam berjalan mendekat ke arahnya. Percuma saja jika ia lari. Jarak yang membentang diantara mereka terlalu sempit bagi Sehun untuk menghindar dari Luhan yang yang kini hanya berjarak beberapa meter saja darinya.
Angin yang berhembus cukup kencang membuat bulu kuduk Sehun meremang. Ditambah raut wajah Luhan yang tak seperti biasanya membuat Sehun mencengkram erat kantong belanjaannya.
"Darimana saja kau? Kenapa aku tak bisa menghubungimu? Bukankah sudah kubilang jika aku ingin bertemu denganmu?" terdengar nada dingin yang menusuk gendang telinga Sehun. Pria yang menyandang status sebagai kekasih Luhan itu dengan susah payah menelan salivanya yang tiba-tiba saja terasa begitu kering.
"Aku—"
"Kita perlu bicara!" Luhan tanpa perasaan menyeret tubuh Sehun menuju mobilnya.
"H—hyung lepaskan aku!" pergelangan tangannya seperti akan patah saat tangan Luhan mencengkramnya begitu erat. Ia tak menghiraukan permintaan Sehun dan segera saja tubuh tinggi itu didorong masuk ke dalam mobilnya. Ia pun berlari ke pintu sebrang dan segera duduk di jok kemudi. Menyalakan persneling lalu melajukan mobilnya dengan cepat tanpa memberi kesempatan Sehun untuk memakai seatbelt-nya.
"Stop Hyung! Tak ada yang perlu dibicarakan lagi!" teriak Sehun geram. Luhan benar-benar seperti orang tak waras saat mengemudikan mobilnya.
"Tak ada yang perlu dibicarakan? Apa kau tak sadar dengan sikapmu yang benar-benar kekanakkan itu? Wae? Jika memang aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari, katakan! Jangan bersikap seperti ini!" balas Luhan dengan urat-urat yang terlihat menonjol di sekitar lehernya.
"Kekanakkan? Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan? Aku sudah cukup bersabar dengan semua sikapmu akhir-akhir ini! Aku sudah cukup bersabar dengan sikap tak jujurmu itu!" Sehun menatap Luhan nyalang. Dadanya benar-benar sesak jika harus mengingat apa yang sudah Luhan lakukan akhir-akhir ini—pergi diam-diam menemui Yixing.
"Tak jujur?! Oh Sehun, apa yang sudah kulakukan?!"
"ZHANG YIXING! KAU PERGI DENGANNYA! KAU PEMBOHONG! KAU BILANG SUDAH MELUPAKANNYA TAPI KENAPA KAU MASIH SAJA BERTEMU DENGANNYA!" teriakan Sehun membuat jantung Luhan seperti ditebas sebilah pisau yang menancap telak disana. Ia dengan cepat menepikan mobilnya di pinggir jalan kemudian menatap Sehun yang kini tengah mengatur nafasnya karena emosi.
"Sehun kau—"
"Benar 'kan dugaanku? Aku sudah memergokimu beberapa kali!" Sehun meremas ujung kemejanya dengan erat. Ia tak ingin menangis di depan Luhan dan menunjukkan kelemahannya. Luhan menatap Sehun intens.
"Apa yang sudah kulakukan dengannya, huh?" pertanyaan Luhan membuat Sehun dengan cepat menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau bertanya padaku? Kau tanyakan saja pada dirimu sendiri apa yang sudah kalian lakukan!" bentak Sehun yang kemudian segera membuka pintu mobil di sampingnya namun lengannya berhasil ditahan Luhan. Beban di hati Luhan semakin bertambah saat kalimat terakhir yang dilontarkan Sehun membawanya pada kejadian itu—saat Yixing tiba-tiba saja menciumnya di dalam mobil ini.
"Kau salah paham."
Sehun menyeringai tipis mendengar ucapan Luhan. Ia memutar bola matanya kemudian kembali menatap Luhan tajam.
"Salah paham? Ini bukan pertama kalinya!"
"Aku sama sekali tak melakukan apapun dengannya!"
"Omong kosong! Apa yang kalian lakukan setiap kali bertemu di belakangku? Bercinta? Bersetubuh—"
GREP
"Jaga ucapanmu itu, brengsek!" Luhan menarik kerah kemeja Sehun hingga wajah mereka kini hanya terpisah jarak beberapa senti saja. Sehun benar-benar kaget karena ini pertama kalinya Luhan mengucapkan kata kasar yang ditujukan kepadanya. Ia tak bisa berkutik saat mata tajam itu mengeksekusi mata hazelnya yang kini mulai terasa buram. Luhan dapat melihatnya dengan jelas. Air mata Sehun yang menetes melalui sudut matanya membuat Lu segera mengendurkan cengkramannya pada kerah kemeja Sehun. Ia benar-benar menyesal telah membuat Sehun menangis seperti itu.
"A—aku ingin p—pulang." Sehun mati-matian mengatur suaranya agar tetap stabil dan tidak terisak. Ia mengusap air matanya dengan kasar lalu memalingkan wajahnya keluar kaca.
"Mianhae—"
...
...
...
Aroma masakan lezat dari arah dapur tak membuat tubuh Sehun bergeming dari ranjangnya. Ia malah semakin mengeratkan selimut yang sejak tadi menggulung tubuh kurusnya. Rasa lapar di perutnya sudah menghilang sejak pertengkarannya dengan Luhan tadi.
"Ireona. Kau harus makan, Oh Sehun." Luhan yang berdiri di ambang pintu—masih lengkap dengan apron biru muda yang melekat di tubuhnya hanya menatap Sehun yang sama sekali tak bergerak sedikit pun di tempatnya. Luhan berjalan mendekat kemudian duduk di samping Sehun. Namun belum sempat tangan Luhan terulur untuk menepuk tubuhnya perlahan, Sehun sudah terlebih dahulu terbangun dan segera turun dari ranjangnya meninggalkan Luhan yang masih duduk di salah satu tepinya. Ia menatapnya sendu kemudian mengikuti Sehun yang kini sudah terduduk di salah satu kursi di ruang makan. Tatapannya terlihat datar—sama sekali tak menunjukkan minatnya pada makanan yang tersaji di depannya. Tak ada ucapan terimakasih kepada Luhan yang sudah mau repot-repot membuatkannya makan malam super telat itu. Dan bahkan kini Sehun memakannya dengan ekspresi datar sesaat sebelum ia menyeruput kuah sup panas langsung dari mangkuknya.
"Ppppuuaahh!" ia segera menjauhkan mangkuk dari bibirnya yang terasa terbakar. Luhan yang melihat hal tersebut segera meraih kepala Sehun dan memeriksa bibirnya yang kini berwarna kemerahan. Ibu jarinya membersihkan kuah sup yang tercecer di sekitar mulutnya. Sehun masih terkejut dengan sikap Luhan saat itu. Ia masih terdiam saat kepala Luhan perlahan mendekat dan bibirnya kini melumat bibir atas Sehun yang terkena kuah sup panas. Sehun membulatkan matanya kemudian tangannya mendorong dada Luhan agar menjauh. Namun Lu tetap bersikeras mempertahankan bibirnya yang begitu merindukan bibir Sehun.
Krek
"YA!" pekik Luhan saat Sehun menggigit bibir bawahnya lalu segera menjauh dari posisi Luhan. Ia berlari ke kamarnya kemudian membanting pintu dengan keras. Luhan masih meringis sambil memegangi bibirnya lalu menatap sedih daun pintu yang kini tertutup rapat itu.
"Maafkan aku."
...
...
...
Jutaan bintang di langit sana membuat sepasang obsidian hitam itu menatap mereka—seolah tak ada lagi objek paling menarik untuk diperhatikan. Tak dihiraukannya lagi udara dingin yang menusuk kulit. Ia tetap betah berada disana walau hanya berlapis celana pendek dan t-shirt saja.
Hatinya begitu hampa—selalu seperti itu. Merasakan sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
"Eomma~" ia menggumamkan panggilan itu. Menatap lurus pada salah satu bintang yang paling terang diantara bintang-bintang yang lain.
"Mianhae." Ia berucap sepatah kata. Kemudian kembali menatap dalam diam objek diatas sana. Rambutnya yang begitu lembut jika disentuh bergoyang mengikuti arah angin yang menerpanya. Ia sedikit bergidik namun kembali biasa saja.
"Aku tidak bermaksud membuat Abeoji selalu kesal. Hanya saja—" ia hendak menuntut mendiang ibunya untuk kembali ke sisinya saat pintu kamarnya yang berukuran luas itu tiba-tiba terbuka—menampilkan sosok wanita muda berusia sekitar 25 tahun dengan pakaian seragam seperti para maid lain di rumahnya.
"Tuan Muda, Tuan Besar memanggil Anda." Mata sipitnya hanya mampu melihat tirai yang bergoyang karena tertepa angin yang masuk melalui pintu balkon yang terbuka lebar. Ia tak melihat Jongin—namun ia sudah tahu—bahkan semua orang di rumah itu tahu jika Jongin selalu menghabiskan waktu malamnya sebelum ia tidur di balkon kamarnya.
"Katakan saja jika aku sudah tidur." Suara berat Jongin terdengar sedikit berteriak agar dapat ditangkap oleh maid-nya.
"T—tapi.."
Kali ini Jongin muncul di ambang pintu sambil menatapnya tajam.
"Aku benar-benar akan tidur." Ia menutup pintunya kemudian segera berjalan ke arah ranjangnya.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Ia pun membungkuk sedikit lalu menutup pintu kamar Jongin—membuat cahaya yang masuk ke dalam kamarnya perlahan menghilang—berganti menjadi kamar yang gelap gulita seperti semula. Jongin memang tak suka jika ada sedikit saja cahaya yang masuk ke matanya saat tertidur.
Sebelum memejamkan mata, ia menyempatkan diri untuk mengecek ponselnya. Tak ada satu pun panggilan atau pesan dari Kyungsoo. Ia begitu merindukannya.
'잘자라. 사랑해!'
(Jaljara. Saranghae!)
Pada akhirnya ia mengirimi Kyungsoo sebuah pesan singkat. Matanya yang sudah terasa berat itu pun akhirnya terpejam dan berharap Kyungsoo akan membalas pesannya.
...
...
...
Saat jam istirahat Kyungsoo memutuskan untuk pergi ke perpustakaan lalu mengerjakan tugasnya untuk mata pelajaran terakhir yang belum selesai. Mata bulat dan telunjuknya sibuk menelusuri buku referensi yang ia butuhkan. Sebenarnya ia sedang melarikan diri—menghindari Jongin yang masi malas ia temui. Pria tan itu pasti sedang mencarinya.
Kyungsoo kembali memfokuskan matanya pada judul buku yang ia cari.
"Chajatta!" ia sedikit memekik saat deretan huruf itu ia eja. Namun sayangnya buku tersebut ada di deretan rak paling atas sehingga ia harus berjinjit mati-matian—bahkan sesekali melompat untuk meraihnya. Saat dilihatnya tangga yang bersender pada rak di sebelahnya dan hendak menggesernya, tiba-tiba seseorang sedikit menghimpit tubuhnya dari belakang. Tangan panjangnya meraih buku yang sudah sedikit keluar dari barisannya itu. Kyungsoo terdiam. Ia kemudian menoleh dengan hati-hati dan membulatkan matanya saat mengetahui siapa pria yang menolongnya.
"Punya tubuh pendek memang merepotkan." Chanyeol masih menggenggam buku tersebut di tangannya. Sementara Kyungsoo kini hanya mampu menahan nafasnya mengingat tubuh Chanyeol yang begitu erat dengan tubuhnya. Ia sama sekali tak tersinggung dengan ucapan Chanyeol barusan karena sibuk mendongak dan memperhatikan wajah Chanyeol yang tampak begitu dekat dengan wajahnya.
"Kau sakit, Soo?" tangan besar Chanyeol menempel di dahinya. Kyungsoo dengan mata membulat sempurna serta pipi yang merona merah hanya menggeleng.
"Lalu? Ada apa dengan wajahmu?" Chanyeol semakin menunduk membuat Kyungsoo memundurkan tubuhnya namun tak ada lagi ruang di belakangnya.
"Y—ya kau mau apa huh?" ujar Kyungsoo tergagap. Ia menelah salivanya dengan susah payah.
"Aku hanya—" Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo. Pria mungil itu entah kenapa refleks memejamkan matanya seraya mencengkram ujung seragamnya dengan gugup.
"Brengsek!"
Tubuh tinggi Chanyeol terhempas begitu saja saat sepasang tangan menariknya dari belakang.
BUGH!
Bahkan kepalan tangannya kini meninju rahang Chanyeol hingga pria itu jatuh tersungkur.
"Kim Jongin hentikan!" teriak Kyungsoo hingga membuat beberapa siswa yang kini tengah berada di perpustakaan berlari ke arah sumber suara. Suasana bertambah gaduh saat kini Jongin menarik paksa kerah seragam Chanyeol sambil menatapnya tajam.
"Aku memang sudah tahu jika kau mengincar Kyungsoo!" ujarnya sambil menghentak kasar tubuh Chanyeol ke lantai.
"Apa maksudmu?!" tepis Chanyeol membela diri. Jongin hendak memukul kembali wajah tampan Chanyeol namun sebuah suara menginterupsinya.
"KALIAN BERDUA BERHENTI!"
...
...
...
Kyungsoo berjalan di belakang Jongin. Pria di depannya sama sekali tak melirik Kyungsoo dan mengabaikan keberadaannya.
"Jongin-ah." Namun panggilan Kyungsoo membuat langkahnya berhenti. Kyungsoo pun ikut menghentikan langkahnya dan terdiam di belakangnya.
"Aku tak perlu alasan darimu." Ucapnya dingin kemudian meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri disana.
"Kau salah paham!" Kyungsoo mengejar Jongin dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan pria tinggi itu.
"Terserah!"
...
...
...
Gerimis yang turun tak membuatnya bergeming. Ia semakin mengeratkan zipper hoodie-nya dan tetap duduk pada railing jembatan di pinggir Sungan Han. Ia menghembuskan nafasnya yang terlihat membentuk uap kemudian menggosok kedua tangannya untuk mengurangi hawa dingin malam itu. Jika dilihat secara kasat mata, Sehun persis seperti orang yang hendak bunuh diri dan melompat ke dalam sungai. Namun gila saja jika ia punya niat seperti itu hanya karena Luhan yang mungkin lebih memilih mantan kekasihnya daripada dirinya.
Tak seperti biasanya, jalanan di sepanjang taman Sungai Han tampak begitu lengang. Sebenarnya Sehun sengaja memilih tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Ia ingin menenangkan pikirannya. Luhan Hyung-nya memang keterlaluan. Setiap menit ponselnya berdering namun ia tak menghiraukannya. Biar saja dia khawatir lalu mencarinya. Toh Luhan tak akan menemukan Sehun disini. Tentu saja karena letak Sungai Han berada cukup jauh dari apartemennya.
"AAARGGHH BRENGSEK!" sebuah teriakan membuatnya terkesiap kaget. Ia hampir saja terpeleset karena railing yang terkena air hujan membuatnya menjadi licin. Sehun memicingkan matanya—merasa mengenali siapa yang sudah mengganggu ketenangannya.
"Kim Jongin?" ia membulatkan matanya. Dilihatnya Jongin tengah menghadap ke arah Sungai Han sambil mencegkram railing jembatan dengan erat.
"A— "
"Mana boleh anak SMA berkeliaran malam-malam seperti ini?" teriak Sehun dengan sengaja memotong Jongin yang akan kembali berteriak. Ia menoleh dan tak kalah terkejut saat mendapati Sehun berada tak jauh darinya.
"Isshhh kau lagi!" dengus Jongin pelan.
"Sedang apa kau?"
"..."
"YA! Aku berbicara denganmu!" teriak Sehun lagi saat Jongin dengan wajah menyebalkannya berbalik dan pergi menjauhi Sehun.
BYUR!
Jongin menghentikan langkahnya. Sebuah benda besar terdengar jatuh ke dalam air tepat di belakangnya—itu—
Ia menoleh dengan cepat. Ia tak ada dimana-dimana. Sehun menghilang dan hanya terlihat pusaran air di bawah sana.
"OH SEHUN!"
To be Continued
...
...
...
Big thx to seluruh reviewers dan readers ff ini. Maaf That Girl sama sequel Neo Ttaemune-nya harus ditunda dulu T_T Sekali lagi gomawooooooo~
