Minna-san, maaf ya kalau ada yang kurang. Empat hari kebelakang ini aku kurang sehat jadi ga maksimal, jadi sekali lagi maaf kalau ada yang kurang. *nunduk*
Kurama emang lucu, kan? Aku juga gereget pas pertama bikin ide ada dia hihi. Jujur-jujuran aja, sebenarnya dari awal pair yang mau kubuat disini itu ada tiga, SasuNaru, ItaKyuu dan NejiGaa. Walau tentu aja fokusnya di SasuNaru, yang lainnya cuma selingan aja. Jadi kalau porsinya sangat sedikit harap dimaklum.
Iya ya, entah darimana tiba-tiba Itachi dan Sasuke mendadak jadi Papa hahaha. Bahkan Sasuke aja belum sempet ketemu. Kyuubi memang straight kok, buktinya aja dia punya anak dan pernah beristri. Tapi demi Itachi dia harus rela berubah orientasi :D
Shi-chan, masalah narsis itu udah bukan rahasia lagi. Ah kamu sih dibikin banyak romantisnya juga tetep aja bakal bilang kurang. Entah harus berapa halaman tuh yang aku buat baru kamu puas :p
Silahkan dinikmati Chapter 12.
Kyuubi (32 tahun), Kurama (7 tahun)
Sibuk. Kata itu menggambarkan keadaan Sasuke dan Itachi beberapa hari belakangan ini. Perusahaan yang didirikan dan dikelola oleh Fugaku dari nol ini sedang mencapai perkembangan dimana akan membutuhkan keahlian si sulung untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Sejak awal Fugaku memang tidak menginginkan kekayaan yang bergelimangan seperti para buyutnya. Dengan apa yang telah dia capai selama ini sudah cukup baginya untuk melanjutkan hidupnya. Dia memang tidak kaya tapi tidak bisa dibilang miskin juga.
Saat ini dia berpikir sudah saatnya kedua anaknya lah yang mengambil alih bisnis ini. Itachi sudah mahir dengan segala urusan mengenai perusahaan dan Sasuke pun menunjukkan kegigihan yang sama dengan kakaknya. Ditambah lagi dia cepat sekali dalam mempelajari hal baru, Fugaku akan sedikit demi sedikit mundur dan hanya akan mengawasi mereka berdua menjalani bisnis dari belakang. Mungkin sesekali dia akan ikut campur ketika ada hal baru yang belum sanggup mereka tangani sendiri, tapi selebihnya dia serahkan kepada mereka.
Karena kondisi baru inilah jarang sekali Naruto melihat kakak adik Uchiha itu berada di rumah. Bahkan di hari Minggu sekali pun terkadang mereka harus bertemu klien atau pergi ke suatu tempat agar Sasuke dapat mengenal segalanya mengenai pekerjaannya. Dia senang mendengar perkembangan perusahaan Uchiha tapi Naruto hampir mati bosan selalu ditinggal sendirian di rumah. Karena Fugaku ada di rumah dengan otomatis Mikoto membagi waktunya antara Naruto dan suaminya. Sasuke pun masih tidak mengijinkannya pergi keluar tanpa ditemani Sasuke atau Itachi.
"Haah." Entah keberapa kalinya dia menghela napas hari ini. Naruto sudah sangat bosan tinggal di rumah. Channel televisi sejak tadi dia ganti tapi tidak ada acara yang dapat menarik perhatiannya. Pekerjaan kafe sudah selesai sejak kemarin jadi Naruto benar-benar tidak memiliki kegiatan yang dapat mengalihkan perhatiannya dari kebosanannya.
"Nak Naru." Naruto berbalik ke arah suara yang baru saja memanggilnya dan mendapati Fugaku sedang menatap ke arahnya.
"Ayah?" Fugaku mendekat ke arahnya dan Naruto memberikan ruang pada ayah mertuanya agar dapat duduk bersamanya di sofa. "Ayah mau menonton?"
"Tidak. Ayah hanya ingin mengobrol denganmu." Pernyataannya Fugaku sedikit membuat Naruto kaget dan terheran-heran. Ini pertama kalinya Fugaku ingin berbincang dengannya. Sejak pertama kali Naruto pindah ke rumah ini belum pernah dia duduk berdua dan mengobrol layaknya anak dan ayah mertua, karenanya Naruto sedikit penasaran dengan apa yang ingin Fugaku bicarakan. "Kau pasti bosan, ya?"
"Maksud Ayah?"
"Sasuke masih tidak mengijinkanmu pergi keluar sendirian, bukan?" Sejujurnya Fugaku tidak mengetahui apa yang menjadi alasan Sasuke melarang Naruto keluar. Naruto meminta agar kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu itu dirahasiakan di antara mereka saja. Para orang tua tidak perlu tahu, Naruto tidak ingin membuat mereka semakin khawatir terutama Mikoto dan Kushina. Naruto mengangguk pelan atas pertanyaan Fugaku. "Bagaimana jika Ayah yang menyuruhmu keluar? Jika Sasuke bertanya, Ayah akan mengatakan bahwa Ayah yang mengijinkanmu pergi."
Naruto sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ayah mertuanya baru saja menyarankan agar dia tidak memperdulikan larangan Sasuke dan Fugaku sendiri yang akan menanggung kemarahan Sasuke. Apa benar ini Fugaku yang dia kenal? Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku sudah berjanji dan aku tidak pernah mengingkari janjiku. Bosan tidak akan cukup untuk menjadi alasan untuk melanggar janjiku."
Fugaku tersenyum, senyum yang tidak pernah Naruto lihat sebelumnya. "Kau anak yang baik, nak Naru." Naruto membalas senyuman Fugaku dan berterima kasih atas pujiannya. "Bagaimana jika kau telepon saja Kushina dan Minato untuk mengunjungimu? Setidaknya kau akan ada teman mengobrol. Atau mungkin nak Gaara setelah dia selesai bekerja."
"Ah, benar juga. Aku tidak berpikir ke situ. Terima kasih, Ayah. Aku akan menghubungi mereka nanti."
"Baguslah."
Beberapa menit selanjutnya dilewatkan dengan perbincangan singkat antara Naruto dan Fugaku. Kebanyakan pertanyaan dilontarkan oleh Fugaku sementara Naruto hanya menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. Bel berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Mikoto yang sedang berada di dapur bergegas menuju ruang depan untuk membukakan pintu. Tamu tersebut menanyakan menantunya dan Mikoto mempersilahkan tamunya masuk untuk lalu mengantarkannya ke ruang tengah dimana Naruto dan Fugaku sedang berada.
"Nak Naru, ada tamu untukmu."
Suara Mikoto mengalihkan perhatiannya dan melihat siapakah gerangan tamu yang dimaksud. Selama ini yang bisa disebut tamu untuknya hanyalah Gaara saja, tapi di waktu seperti ini Naruto yakin bahwa sahabatnya masih sedang di kafe jadi tidak mungkin itu dia.
Yang pertama kali dia sadari adalah rambut merah yang sangat dia kenali. Saat sosok itu memperlihatkan diri Naruto tersenyum padanya. "Kyuubi."
Mendengar suara Naruto, sosok yang sedari tadi sembunyi di belakang Kyuubi mengintip dari balik kaki ayahnya yang jenjang. Saat matanya mendapatkan sosok yang dia rindukan, dia langsung lari menghambur ke arah Naruto. "Mama!"
Naruto memeluk anak kesayangannya itu dan menariknya untuk duduk di pangkuannya. "Kurama, kau juga ikut?"
"Tentu, Kurama ingin bertemu Mama."
Naruto mengacak gemas rambut merah Kurama dan anak kecil itu tersenyum lebar kepadanya. Fugaku yang masih duduk di samping Naruto hanya dapat menaikan alisnya tidak mengerti. Mikoto pun yang masih berada bersama mereka di ruangan tersebut hanya bisa menonton semuanya dalam diam. Menyadari kebingungan yang ada, Naruto meminta maaf dan memperkenalkan tamu mereka.
"Ayah, Ibu, perkenalkan ini sepupuku Kyuubi. Dan ini anaknya, Kurama."
"Selamat siang, Paman, Bibi." Kyuubi membungkuk singkat ke arah Fugaku dan Mikoto. "Maaf tiba-tiba datang membawa keributan."
"Tidak, apa-apa. Kebetulan nak Naru sedang bosan. Silahkan duduk." Fugaku mempersilahkan Kyuubi untuk duduk di atas karpet. "Maaf ya, kami hanya memiliki satu sofa kecil."
"Tidak masalah, Paman. Seperti ini justru lebih terasa sedang bersama keluarga." Mikoto ikut bergabung bersama dengan Kyuubi dan duduk di atas karpet di sebelahnya. Kurama masih dengan nyamannya duduk di pangkuan Naruto dan melirik ke arah kedua orang tua di sana.
"Namaku Kurama, salam kenal."
Suara cemprengnya yang manis langsung mendapat perhatian dari Mikoto. "Ah, lucunya. Dia juga memiliki mata yang mirip denganmu, nak Naru. Apa karena itu dia memanggilmu Mama?"
Kyuubi yang menjelaskan semuanya pada mereka semua. Mikoto menunjukan simpati saat mendengar Kurama harus kehilangan ibunya di saat dia masih sangat kecil. Dia sangat bangga dengan apa yang Naruto lakukan dan menurutnya itu sangat keibuan. "Kau pasti sangat menyayangi Mamamu, ya?" tanya Fugaku pada si kecil Kurama.
"Iya, Kurama sayang Mama. Kurama juga sayang Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Papa Gaara dan Papa Tachi. Mereka semua baik. Kurama juga ingin bertemu dengan Papa Suke, Ayah bilang kalau Kurama kemari pasti bisa bertemu."
"Sayang sekali, Sasuke sedang tidak ada di rumah. Mungkin lain kali kalian bisa bertemu." Kurama cemberut mendengar jawaban Fugaku dan itu terlihat sangat menggemaskan. Fugaku menepuk pelan kepala Kurama dan menawarkan senyumnya. "Tapi setidaknya kau bisa bertemu kami. Aku Fugaku ayahnya Sasuke dan Itachi, jadi kau bisa memanggilku Kakek. Lalu yang di sana itu Nenekmu Mikoto."
"Benar? Kurama punya Kakek dan Nenek baru? Asyik!" Mereka semua tertawa melihat reaksi Kurama yang begitu bahagia. "Kalau begitu nanti Kurama datang lagi untuk bertemu Papa Suke. Kurama boleh kan main lagi ke sini, Kek?"
Mendengar seseorang memanggilnya Kakek memberikan Fugaku suatu perasaan hangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Mempunyai cucu itu memang lain. "Tentu saja. Mulai sekarang ini rumahmu juga."
"Kalau begitu hari ini kalian makan siang bersama kami, ya," usul Mikoto. "Aku juga masih ingin banyak mengobrol dengan cucu baruku dan juga denganmu Kyuubi." Tawaran Mikoto diterima dengan senang hati oleh kedua Uzumaki.
Mereka semua beranjak ke dapur bersama. Mikoto dan Naruto mulai menyiapkan menu makan siang hari itu sementara Fugaku, Kyuubi dan Kurama duduk di meja makan sambil terus berbincang. Hanya butuh dua puluh menit saja, Mikoto serta Naruto ikut bergabung bersama yang lainnya di meja makan dan mulai menyantap makan siang mereka.
Cara makan Kurama yang sedikit berantakan mengundang tawa geli dari Mikoto dan juga senyum kecil di bibir Fugaku. Sudah lama sekali sejak mereka menyaksikan adegan seperti ini. Terakhir kali adalah ketika Sasuke masih sangat kecil. Itachi yang biasanya akan memarahi kebiasan jelek adiknya dan Sasuke akan cemberut karena dimarahi sang kakak. Kurama sepertinya tidak terganggu dengan orang-orang yang sedang memperhatikannya dan dengan lahap menyantap makanan yang ada di piringnya sampai habis. Wajahnya yang sedikit berantakan berkat sisa makanan yang menempel membuat Mikoto semakin gemas melihatnya.
"Kurama, jangan lupa bersihkan wajahmu."
"Iya, Ayah." Kurama mengambil secarik kain dari saku celananya dan mengelap wajahnya dengan kain tersebut. Karena sudah menjadi kebiasaan, Kyuubi selalu mengingatkan Kurama untuk membawa sapu tangan kemana pun dia pergi.
Setelah semua selesai makan, Kyuubi menawarkan diri untuk membantu membereskan meja. Akhirnya dia dan Naruto yang harus mencuci semua piring sementara Mikoto menculik Kurama beserta dengan Fugaku dan pergi ke ruang tengah. "Kau memiliki mertua yang baik."
"Ya, aku bersyukur." Naruto menyabuni piring-piring kotor dan menyerahkannya kepada Kyuubi untuk dibilas dengan air.
"Naru, boleh aku bertanya?" Kyuubi meletakan piring pertama yang sudah bersih di atas rak dan menerima piring lainnya dari tangan Naruto untuk dia bilas.
"Tanya saja."
"Kau menyukai Sasuke?"
Naruto menghentikan gerakannya menggosok piring dan menatap mata merah Kyuubi. "Tentu, memang kenapa?"
Sedikit banyak mengetahui maksud jawaban Naruto, Kyuubi kembali bertanya. "Bukan itu maksudku. Apa kau benar-benar menyukainya? Bukan rasa suka seperti yang kau rasakan padaku atau Gaara. Bukan juga pada Itachi dan anggota keluarga Uchiha lainnya. Kau mengerti?"
Naruto sedikit menunduk sambil melanjutkan pekerjaannya. Ada kerutan di dahinya pertanda dia sedang berpikir keras. "Entahlah, Kyuubi. Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku rasakan." Naruto memberikan piring kotor terakhir dan mencuci tangannya. Dia mengeringkannya dengan lap lalu pergi duduk di kursi yang selalu dia tempati saat makan.
Kyuubi juga sudah selesai dengan bagiannya dan mengambil tempat duduk di samping Naruto yang biasanya diisi oleh Sasuke. Dia meraih tangan sepupunya dan menggenggamnya. "Naru, katakan padaku apa yang tidak kau mengerti? Mungkin aku bisa membantu."
Naruto menggigit bibir bawahnya pelan. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Bahkan dia belum membicarakan soal ini dengan Gaara karena sahabatnya itu selalu sibuk menggodanya membuat Naruto lupa dengan masalahnya. Tapi Kyuubi lebih dewasa dari mereka berdua dan mungkin memiliki jawaban dari semua pertanyaannya.
"Apa kau sudah dengar tentang Sasuke?"
"Ya, Gaara menceritakan semuanya padaku. Itachi juga memberikan beberapa informasi mengenai hubungan kalian."
"Se-semuanya?" Wajahnya merona saat menanyakan hal ini. Baru kali ini Kyuubi melihat sepupunya merona saat membicarakan tentang seseorang dan dia sedikit tertegun karenanya. Sepupunya terlihat begitu manis saat malu-malu.
"Ya, semuanya. Sampai kejadian yang terbaru." Wajah Naruto semakin memerah dan dia berusaha untuk tidak menatap Kyuubi secara langsung. "Semua hal buruk dan hal baik yang menimpamu aku sudah tahu semuanya. Maaf aku tidak bisa berada di sampingmu saat kau dalam kondisi buruk, Naru. Andai saja aku tahu."
Naruto menggelengkan kepalanya mengisyaratkan kalau dia tidak menyalahkan Kyuubi. "Mm, kalau begitu kau sudah tahu semuanya." Naruto melepaskan tangannya dari genggaman Kyuubi dan meletakannya di atas pahanya sambil sedikit meremas kain kimononya. "Aku bingung apa yang berbeda dengan Sasuke. Maksudku, dia sangat baik padaku dan aku sangat berterima kasih atas kebaikannya. Kau juga tahu tentang perjanjian kami?"
"Ya."
"Walaupun begitu, dia tetap bersikap baik padaku dan bahkan seperti menjagaku. Tentu bukan hanya Sasuke. Ibu juga sayang padaku dan Kak Itachi juga, padahal mereka sudah tahu yang sebenarnya tapi mereka tidak membenciku. Walau Ayah tidak pernah berkata apa-apa, aku tahu dia peduli. Mereka semua begitu baik, tapi Sasuke berbeda."
Naruto memikirkan semua hal yang dilakukan Sasuke padanya. Bahkan hal terkecil pun terasa berbeda jika itu datangnya dari Sasuke dan dia baru menyadarinya sekarang. "Seperti apa misalnya?"
"Kau tahu bagaimana Gaara selalu mengusap kepalaku atau kau sendiri Kyuubi selalu mengecup keningku saat kita bertemu? Kak Itachi juga suka mengusap kepalaku atau bahkan memelukku dan semua rasanya hangat. Tapi ketika Sasuke yang melakukannya ada sesuatu yang lain. Bukan hanya hangat tapi aku juga merasa aman ketika dia memelukku dan ada perasaan tidak ingin melepasnya. Saat pertama kali dia mengecupku ada sesuatu yang kurasakan di sini tapi aku tidak mengerti." Naru menyentuh dadanya dengan tangan kanannya. "Lalu malam itu. Aku seharusnya takut, bukan? Tapi ketika melihat mata Sasuke aku merasa bahwa dia tidak akan menyakitiku dan aku percaya kepadanya. Ketika dia menciumku semua pertahananku buyar dan.." Naruto memotong kalimatnya.
"Dan apa, Naru?"
"Beberapa hari sebelumnya Sasuke menjauhiku. Saat itu aku merasa sangat terpukul. Sewaktu Kak Itachi menjauhiku pertama kali aku juga merasa sakit, tapi dengan Sasuke rasanya berkali-kali lebih sakit lagi. Karenanya saat dia menyentuhku aku bahagia karena dia masih menginginkanku. Apa itu aneh? Mungkin semua itu hanya keegoisanku saja dan sebenarnya Sasuke tidak terlalu memikirkannya, dia bahkan tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Ditambah lagi dia tidak tahu kalau aku ini laki-laki. Bagaimana jika dia tahu, apa dia akan merasa jijik kepadaku?"
Naruto menatap penuh arti kepada Kyuubi. Seperti berharap bahwa sepupunya itu memiliki semua jawabannya. "Aku tidak tahu, Naru. Aku tidak tahu Sasuke jadi aku tidak bisa memprediksi reaksinya. Mungkin Itachi lebih tahu mengenai ini."
"Saat mengetahui dia tidak ingat tentang malam itu aku merasa lega. Akan tetapi, jujur saja sebagian kecil dari hatiku ingin dia mengingatnya. Aku tidak mengerti. Aku tidak ingin Sasuke membenciku, tapi akhir-akhir ini aku merasa kalau aku sudah memanfaatkan kebaikannya. Aku menyimpan begitu banyak rahasia darinya dan semuanya sangat besar. Setiap kali aku harus mengatakan kebohongan kepadanya hatiku sakit, tapi aku juga takut jika dia tahu yang sebenarnya. Aku belum sanggup dicampakan oleh Sasuke. Kyuubi, apa aku ini munafik?"
Kyuubi kembali meraih tangan Naruto. Dengan satu tangannya dia menarik dagu Naruto pelan agar dia dapat menatap kedua mata biru yang sedang diselimuti kegalauan dengan lebih jelas. "Naru, kau tidak menyadarinya padahal kau begitu mencintainya sampai seperti ini."
"Cinta?"
"Ya, kau mencintai Sasuke. Dari semua yang kau ceritakan padaku itulah yang bisa kusimpulkan."
Naruto mengerutkan dahinya. "Tapi Sasuke itu laki-laki, begitu juga aku. Tidak mungkin ka.."
"Naru. Pikirkan semua yang sudah kau katakan padaku. Pikirkan apa yang kau rasakan saat kau bersama dengan Sasuke, saat kau mengingatnya, saat kau membicarakannya. Pikirkan juga apa yang akan kau rasakan jika kau kehilangannya. Jangan pikirkan dia itu siapa, laki-laki atau perempuan, dari keluarga mana, memiliki jabatan apa, atau berapa lama kalian baru mengenal. Fokus pada apa yang kau rasakan. Kau pasti akan menemukan jawabannya."
Kerutan di dahinya bertambah tapi Naruto masih belum mengerti. "Aku.."
"Kau menyayangi Sasuke?" Naruto mengangguk. "Bagaimana denganku?"
"Tentu saja aku menyayangimu, Kyuubi."
"Gaara? Itachi?" Naruto menatap Kyuubi heran atas pertanyaannya namun mengangguk lagi sebagai jawabannya. "Coba bayangkan, apa reaksimu jika salah satu dari aku, Gaara atau Itachi tiba-tiba menciummu di bibir?"
"Tentu saja.." Naruto menggantungkan sebentar kata-katanya lalu meneruskannya dengan datar. "Aku akan memukul kepala kalian dan khusus untuk Kak Itachi aku tidak akan segan menghajarnya."
Kyuubi hanya tersenyum "Bagaimana jika kami datang dan mengenalkan seseorang sebagai kekasih atau bahkan calon istri kami?"
Kali ini Naruto tersenyum. "Aku akan ikut senang dan memberi kalian selamat."
"Bagaimana jika hal tadi itu Sasuke yang melakukannya? Apa reaksimu akan sama?"
Senyumnya menghilang dan diganti dengan kebingungan. Naruto membayangkan pengalamannya saat dicium oleh Sasuke pertama kali. Tentu saja pada awalnya dia takut tapi setelah tenang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dia cukup menikmatinya. Dia sendiri ingat bahkan dia membalas ciuman tersebut, pipinya mulai memerah mengingat pengalamannya itu.
Lalu, dulu juga dia pernah memikirkan kemungkinan Sasuke jatuh cinta pada seorang wanita apa yang akan terjadi padanya? Waktu itu dia tidak memikirkan bagimana perasaannya hanya mengenai hubungan mereka saja. Tapi sekarang membayangkan hal itu terjadi Naruto merasa hatinya sakit. Dia tidak rela melihat ada orang lain bersama dengan Sasuke, baik itu wanita maupun laki-laki. Kyuubi tersenyum sambil memandang dengan tatapan penuh tahu. Naruto memalingkan wajahnya mengerti apa maksud tatapan sepupunya. "Tapi itu karena dia suamiku." Naruto masih mencoba menyangkal.
"Bagaimana jika suamimu itu bukan Sasuke, atau Sasuke itu bukan suamimu? Apa reaksinya tetap sama?"
Tersentak dengan pertanyaan tersebut, Naruto menjawab dengan terbata-bata. "Aku.. aku itu.."
Kyuubi tersenyum lagi dan mengelus rambut pirang Naruto. "Ini hal baru bagimu, kau hanya butuh waktu. Pikirkanlah baik-baik, lambat laun kau akan mengerti. Jika ada yang ingin kau tanyakan, jangan sungkan untuk bicara padaku."
Naruto mengangguk lagi dan bertanya dengan sedikit ragu. "Kyuubi, meskipun itu benar kau tidak keberatan dengan aku yang menyukai sesama jenis?"
"Bagiku Naru tetaplah Naru. Jika kau mencintai Sasuke maka aku akan ikut bahagia untukmu."
Mereka mengakhiri obrolan dan memasuki rumah untuk mencari Mikoto dan yang lainnya. Ternyata ibu kakak beradik Uchiha itu sedang menunjukkan Kurama foto album Itachi dan Sasuke saat mereka masih kecil. Mereka bertiga duduk di lantai dengan beberapa album berserakan dan Kurama duduk manis di pangkuan Fugaku. Si kecil berambut merah itu sesekali terkikik melihat foto-foto Papanya. Fugaku menceritakan apa yang terjadi saat foto-foto itu diambil dan Kurama mendengarkannya dengan antusias.
Kyuubi dan Naruto bergabung dengan kesenangan mereka dan ikut mengacak-acak album Itachi dan Sasuke. Ini pertama kalinya dia melihat foto Sasuke saat dia masih kecil dan ternyata suaminya itu sangat imut. Naruto membalik halaman demi halaman dan menemukan banyak hal baru mengenai Sasuke, Itachi juga tentunya. Pikirannya mulai terbang ke alam lain. Kata-kata Kyuubi saat di dapur tadi sangat menganggunya. Apa benar yang dirasakannya ini adalah cinta? Tapi apakah ini wajar? Jika ini benar, bagaimana reaksi Sasuke dan yang lainnya jika mereka tahu?
Mikoto ikut tertawa bersama Kurama saat Fugaku menunjukkan foto dimana Itachi menumpahkan kue ulang tahunnya ke kepala Sasuke membuat adiknya menangis masih dengan tubuh dipenuhi kue. Naruto memikirkan apa yang akan dipikirkan Mikoto jika tahu menantunya yang laki-laki ini menaruh hati kepada anaknya yang juga laki-laki. Apa Mikoto akan menerimanya? Bagaimana dengan Fugaku? Itachi? Sasuke sendiri?
"Naru, kau tidak apa-apa? Sejak tadi kau melamun?"
Semua mata tertuju ke Naruto membuatnya tersadar. "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan sesuatu."
"Mama kenapa? Capek? Mau Kurama pijat tidak?"
Naruto tersenyum mendengar perkataan putra kecilnya. "Terima kasih, sayang. Mama baik-baik saja."
"Kalau capek istirahat saja, nak Naru. Kau sudah minum obatmu?"
"Ah iya, benar juga. Seharusnya setelah makan tadi aku meminum obatku. Kalau begitu aku ke kamar dulu." Naruto segera bangkit dari duduknya dan tanpa menunggu reaksi dari siapapun beranjak menuju ke kamar.
Setelah menutup pintu di belakangnya Naruto berjalan menuju tasnya yang berada di samping tempat tidur dan meronggoh botol obatnya. Rasa pil yang sudah terasa sangat familiar memenuhi saraf-saraf di lidahnya dan Naruto menelannya tanpa ragu. Dia menutup kembali botol obatnya dan menaruhnya di dalam tas agar tidak lupa.
Tanpa adanya siapapun di kamar membuat pikirannya kembali melayang ke percakapannya bersama Kyuubi. Masih meragukan ucapan sepupunya, Naruto berpikir keras untuk mendapatkan jawaban yang dapat dia mengerti. Naruto merebahkan diri di atas tempat tidur dan berbaring dengan punggungnya. Saat menatap langit-langit kamarnya dia dapat melihat wajah Sasuke di sana. Mengapa semua hal mengenai Sasuke ini begitu rumit?
Tanpa dia sadari semua usahanya dalam mencari jawaban membuatnya perlahan-lahan terbawa ke alam bawah sadarnya dan tertidur. Berpikir terlalu keras memang ternyata cukup melelahkan bagi tubuhnya. Dalam tidurnya Naruto melihat banyak hal. Hal baik, buruk, indah, menyenangkan, mengerikan, semuanya datang silih berganti. Namun di setiap hal tersebut selalu ada Sasuke di sana dan Uchiha bungsu itu selalu menawarkan kehangatan di setiap keburukan yang ada dan membagikan kebahagiaan di setiap kebaikan yang ada.
Mata birunya perlahan terbuka dan disambut oleh kegelapan yang menyelimuti ruangan di mana dia berbaring, sendirian. Dia pasti tertidur cukup lama karena hari diluar sudah gelap. Kyuubi dan Kurama mungkin sudah pulang sejak tadi dan karena mereka tidak ingin membangunkannya, pergi tanpa pamit. Lampu kamar tiba-tiba menyala terasa sangat menyilaukan bagi matanya yang baru saja terbiasa dengan kegelapannya. Sasuke baru saja pulang dan memasuki kamarnya dengan langkah pelan.
"Naru? Maaf, apa aku membangunkanmu?" Naruto tidak menjawab, dia perlahan bangkit dari posisi berbaringnya untuk duduk. Dia hanya menatap Sasuke dan memperhatikan gerak-geriknya yang sedang berusaha untuk melepaskan pakaian kerjanya.
Kesadarannya masih terbagi dengan mimpinya sebelumnya. Dia ingat benar bagaimana Sasuke menjadi cahaya baginya di dalam kegelapan. Apa itu artinya Sasuke begitu berarti baginya? Apa hanya dia saja yang tidak menyadarinya? Atau tidak mau menyadari? "Sasuke." Tanpa sadar bibirnya memanggil nama sang Uchiha dengan sangat lembut.
"Apa apa?" Sasuke berbalik untuk melihat Naruto yang memanggilnya dan yang didapatkannya adalah tatapan sang istri yang tidak dapat dia artikan. Satu hal yang dapat Sasuke pastikan adalah cara Naruto menatapnya saat ini membuat jantungnya sedikit berdebar. Sasuke merasa dia pernah melihat tatapan tersebut tapi entah kapan dan di mana. "Ada apa, Naru?" Sasuke bertanya dengan suara yang lebih keras karena sepertinya Naruto tidak mendengar pertanyaannya sebelumnya.
Akhirnya Naruto bangun dari mimpinya dan benar-benar tersadar. Dia berusaha mengendalikan diri dan menjawab pertanyaan Sasuke. "Ah, um tidak ada apa-apa. Kau sudah pulang? Bagaimana keadaan di kantor hari ini?"
"Semuanya berjalan lancar. Ada beberapa masalah tapi semuanya dapat diselesaikan. Kesepakatan hari ini pun berjalan lancar maka dari itu aku dan Kakak dapat pulang sedikit lebih cepat."
"Syukurlah. Kau pasti lelah, lebih baik berendam dulu saja sebentar. Biar kusiapkan airnya."
"Tidak perlu, biar kusiapkan sendiri."
"Hm, kalau begitu akan kusiapkan baju gantinya."
Saat Sasuke pergi berendam, Naruto beranjak ke dapur setelah sebelumnya menyiapkan pakaian ganti suaminya. Mikoto sedang menyiapkan makan malam dan dilihat dari semua makanan di atas meja sebentar lagi dia selesai. Naruto ikut membantu menyiapkan alat makan dan duduk di kursinya sambil menunggu yang lain. Tak lama mereka semua berkumpul dan memulai makan malam mereka.
Obrolan di meja makan diisi oleh Fugaku yang bertanya tentang keadaan perusahaan mereka kepada kedua anaknya yang dijawab dengan antusias oleh Sasuke khususnya. Selama mereka berdua mengobrol, tanpa disadari Sasuke sepasang mata biru terus menatapnya dan memperhatikan gerak-geriknya. Bahkan setelah mereka semua menyimpan sendok terakhir mereka, Sasuke masih tidak memperhatikan gelagat aneh sang istri.
"Naru, bagaimana jika kita bertanding satu permainan sebelum tidur?" Saat hendak meninggalkan dapur, Itachi menghentikan Naruto dan menantangnya bermain catur. Dengan senang hati pemuda berkulit tan itu menerimanya dan mengikuti Itachi sampai ke kamarnya di lantai dua.
Mereka duduk di masing-masing kursi yang berhadapan di sana dengan sebuah meja kecil yang berada di antaranya. Papan catur sudah menunggu dan hanya tinggal dipersiapkan saja. Naruto hendak menyentuh papan tersebut namun Itachi menghentikanya membuat Naruto bingung. "Kakak?"
"Ada apa denganmu hari ini? Sejak tadi kau terus melamun."
Naruto menarik tangannya dan diam sejenak. "Hanya ada yang sedang kupikirkan, tidak lebih." Itachi tentu saja tidak puas dengan jawaban seperti itu tapi dia dapat melihat Naruto belum siap untuk berbagi apa yang ada di dalam kepalanya.
"Lusa aku tidak masuk kerja. Pekerjaanku sudah akan selesai besok jadi aku ingin istirahat sedikit."
"Benarkah?" Naruto terlihat begitu gembira. "Sasuke juga?"
"Masih ada yang harus dia kerjakan. Belum ada libur untuk Sasuke." Kegembiraan di wajah Naruto menghilang dan berubah murung. Itachi dapat melihat jelas kekecewaan Naruto. "Apa-apaan reaksimu itu? Kau tidak suka aku ada di rumah?"
"Bukan begitu, Kak. Tentu saja aku senang. Aku sudah bosan sekali sendirian di rumah."
"Kalau begitu, bagaimana jika lusa aku temani kau jalan-jalan? Sudah lama juga aku tidak keluar."
"Benar? Tentu saja aku mau. Nanti aku akan tanya pada Sasuke."
"Ya sudah, kalau begitu pergi tidur sana. Aku juga capek dan ingin istirahat. Kita bertanding lain kali saja."
Naruto tersenyum dan meninggalkan Itachi setelah mengucapkan selamat malam. Dia kembali ke kamar dan saat masuk Sasuke sudah bersiap hendak tidur. "Cepat sekali pertandingannya." Sepengetahuan Sasuke setiap mereka bertanding akan menghabiskan waktu setidaknya dua jam dan ini baru saja lima belas menit berlalu.
"Tidak jadi. Sebagai gantinya Kakak berjanji untuk mengajakku main keluar lusa, apa boleh?"
"Tentu saja." Yang bisa Sasuke percayai untuk melindungi Naruto selain dirinya adalah Itachi, jadi dia bisa tenang jika Itachi yang menemani istrinya itu.
"Terima kasih."
Sasuke sedikit merasa bersalah karena sudah membatasi ruang gerak Naruto. Dia terkesan seperti mengekang padahal dia sendiri yang berjanji tidak akan mencampuri urusan masing-masing. Hanya saja Sasuke tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi seperti saat itu jika dia bisa mencegahnya. Memang sedikit mengatur tapi yang terpenting adalah keselamatan Naruto.
Mereka berdua berbaring dengan saling memunggungi. Keduanya berpikir mengenai satu sama lain. Naruto yang masih meragukan arti perasaannya dan Sasuke yang juga memiliki beberapa hal yang dia ragukan. Keduanya memiliki pertanyaan mengenai satu sama lain tapi tidak dapat menyuarakannya. Mereka hanya berharap semua kebingungan ini akan segera berakhir.
Itachi menatap dingin gadis di hadapannya. Gadis tersebut menyerahkan kantung belanja kepada Naruto dengan sedikit gugup karena ditatap seperti itu. "Ini belanjaan Anda, Nyonya. Silahkan datang lagi kemari."
Naruto menatap Itachi dan si gadis bergantian. Dia tidak begitu mengerti ada apa dengan kakaknya itu. Itachi memang tidak mudah bersosialisasi dengan orang khususnya perempuan tapi tidak pernah sampai seperti ini. Naruto menarik Itachi pergi dan keluar dari toko untuk melanjutkan acara jalan-jalan mereka.
"Kakak kenapa?"
"Aku hanya memberinya pesan agar tidak mengganggumu lagi." Naruto menatap tidak mengerti. "Aku dengar dari Sasuke."
"Sasuke bercerita pada Kakak?"
"Tentu saja. Kau pikir aku ini siapa? Sasuke selalu menceritakan apa saja padaku."
"Apa saja?"
"Iya, apa saja. Bisa dikatakan tidak ada yang aku tidak tahu mengenainya."
Entah mengapa wajah Naruto sedikit memerah mendengar jawaban tersebut. Itachi tidak tahu apa yang Naruto pikirkan tapi dia menyeringai dalam hati melihat reaksi iparnya. "Lalu, apa menurut Kakak Sasuke menyukaiku?" Naruto mengatakannya dengan suara yang begitu lirih sampai Itachi hampir tidak mendengarnya.
"Kau bilang apa?"
"Ah, tidak. Lupakan saja." Naruto terdengar begitu gugup dan dia berusaha untuk mengendalikan rona di wajahnya. "Sudah siang, Kak. Bagaimana jika kita makan siang dulu saja?"
"Ya, sudah. Kita ke kafemu saja."
Naruto berjalan lebih dulu dari Itachi dan mencoba menjaga jarak agar kakaknya tidak dapat melihat wajahnya saat ini. Itachi semakin penasaran dengan gelagat Naruto. Pasti ada sesuatu yang sedang dipikirkan pemuda yang tujuh tahun lebih muda darinya itu. Dalam perjalanan ke kafe mereka tidak berbicara apa-apa hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Saat tiba pun mereka langsung duduk di meja yang biasa mereka tempati dan memesan makanan.
Karena ini waktunya makan siang jadi kafe lumayan penuh dan mereka harus menunggu pesanannya sedikit lama. Naruto tidak keberatan dan Itachi lebih tertarik dengan pemuda yang sedang bersamanya daripada makanan. Itachi terus saja menatap Naruto yang lama-lama membuat si pemuda berambut pirang sedikit terganggu.
"Ada apa, Kak? Sedari tadi menatapku terus."
"Salah." Jawaban Itachi membuat Naruto semakin bingung. "Aku memperhatikanmu sejak kemarin dan ada yang salah. Seperti ada yang ingin kau katakan tapi tidak bisa. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu dan kau butuh jawaban tapi segan untuk bertanya padaku. Benar bukan?"
Naruto spontan membuka mulutnya untuk menjawab tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Dia menutupnya lagi dan berpikir. Benar yang dikatakan Itachi sesuatu mengganggunya dan dia butuh jawaban. Hanya saja Naruto tidak yakin bagaimana cara mengungkapkannya.
Dengan segan dia pun membuka lagi mulutnya. "Menurut Kakak cinta itu apa?"
Pertanyaan Naruto sedikit tidak terduga. Itachi hendak melemparkan godaannya tapi saat melihat mata Naruto yang serius dia mengurungkan niatnya dan mencoba mencari jawaban yang tepat atas pertanyannya. "Hm, menurutku cinta itu adalah ungkapan perasaan yang kita rasakan pada seseorang yang spesial. Sebenarnya bisa kepada siapa saja seperti teman, keluarga, saudara. Tapi jika yang kau maksud kepada pasangan tentu saja lain."
"Lalu bagaimana kita tahu kalau dia adalah orang yang spesial itu? Bagaimana kita tahu dialah yang kita cintai?"
Naruto yang terlihat begitu serius membuat senyuman tersungging di bibir Itachi. "Aku belum pernah jatuh cinta, tapi jika iya dia adalah orang yang membuatku merasa spesial. Kau tahu? Seperti jika aku merasa bahagia jika dia bahagia, sekecil apapun hal yang dia berikan padaku membuatku bahagia. Aku merasa bisa mengorbankan apa saja demi orang itu dan tentu saja ingin hidup bersama dengan orang itu. Jika dia mencampakanku aku akan merasa dunia ini tidak ada artinya lagi tanpa dirinya." Itachi tentu saja tidak benar-benar berpikir seperti itu. Dia mengatakan semua itu hanya untuk membantu Naruto sadar akan perasaannya. Licik sekali. "Bisa dikatakan semua hidupku adalah untuk orang itu. Apa kau mengerti?"
Naruto tidak menjawab tapi sepertinya memikirkan baik-baik semua perkataan Itachi. "Bagaimana jika orang yang kita cintai itu.. tidak yang seperti kita bayangkan?"
"Cinta tidak memandang. Kekayaan, status, latar belakang, keahlian, pendidikan, gender." Naruto sedikit menegang mendengar kata yang terakhir. "Semua itu tidak ada artinya lagi atau bisa dikatakan tidak terlalu penting."
"Gender.. sekalipun?" Terdengar suaranya sedikit ragu saat bertanya, takut akan jawaban Itachi.
"Gender sekalipun." Naruto berpikir lagi dan itu membuat Itachi gemas ingin menjahilinya. "Apa ini ada hubungannya dengan Sasuke?"
Kali ini pertanyaan Itachi yang membuat Naruto benar-benar tersentak. Spontan wajahnya memerah dan terlihat begitu manis menurut Itachi. Orang yang sedang jatuh cinta memang menarik pikirnya. Belum sempat dia melemparkan pertanyaan lainnya, seseorang datang dan menghampiri meja mereka.
"Tidak kusangka akan bertemu kalian di sini." Kyuubi menyapa Itachi lalu duduk di samping sepupunya yang masih sedikit merona. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya menarik."
"Naru hanya sedang konsultasi soal cinta." Kyuubi menatap sepupunya yang duduk dengan sedikit gelisah. Tangannya memainkan ujung lengan kimononya dan terus saja menatap ke bawah. "Meneruskan yang tadi, kau belum menjawab pertanyaanku yang terakhir, Naru."
Dari caranya menggigit bibir bawahnya nampak sekali pemuda manis berambut pirang itu sangat gugup. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya dia membuka mulut masih tanpa melihat ke arah lawan bicara. "Bagaimana jika aku jatuh cinta pada Sasuke?"
Hening, dan itu membuat Naruto semakin takut. Apa yang dipikirkan Itachi mengenainya sekarang? Apa kakak iparnya berpikiran buruk karena pengakuan Naruto atas cintanya kepada Sasuke? Tidak sabar menunggu jawaban Itachi, Naruto akhirnya mengangkat wajahnya untuk bertemu dengan wajah Itachi yang sedang tersenyum kepadanya.
"Akhirnya kau menyadarinya." Lagi-lagi Naruto tersentak akan jawaban sang kakak. "Aku sudah tahu kau mencintai Sasuke. Kupikir kau tidak akan pernah sadar karena kau ini terlalu lambat. Tidak kusangka akhirnya aku mendengar kau mengakuinya."
"Ja-jadi Kakak tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak. Aku justru senang. Apalagi jika itu dapat membuatmu bahagia. Aku tahu kau tulus mencintai adikku." Itachi meraih wajah Naruto dan mengelus pipinya lembut. Kyuubi di sampingnya juga ikut mengelus kepalanya sebagai tanda selamat atas kebahagiaan yang ditemukannya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang setelah menyadari perasaanmu?" tanya Kyuubi.
"Aku.. aku sudah memikirkannya seharian kemarin dan kupikir jika aku ingin menyatakan cintaku aku ingin Sasuke mengetahui segalanya lebih dulu. Aku tidak ingin menyimpan rahasia lagi darinya. Karena itu aku akan bicara padanya." Terlihat keyakinan di mata Naruto saat mengatakannya.
"Syukurlah kalau begitu. Lebih baik Sasuke langsung mengetahuinya darimu daripada orang lain."
Naruto mengangguk. "Tapi sebelum itu aku ingin memberitahu semuanya mengenai keputusanku, terutama Ayah dan Ibu. Karena nantinya keputusan Sasuke yang akan menjadi penentu segalanya, maka aku ingin kalian semua juga bersiap akan apapun yang akan terjadi."
Itachi dan Kyuubi sedikit terheran dengan perkataan Naruto. "Apa maksudmu, Naru?"
Naruto menatap mereka serius. "Jika pada akhirnya Sasuke mau menerimaku, maka aku akan menyetujui untuk operasi. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, maka aku akan mengakhiri segalanya."
