Title : It's Not All About Money Chapter 6

Pairing : HanHun, KaiHun, KaiSoo, ChanSoo, etc

Cast : EXO and others

Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort

Rate : T

.

.

.

Chapter 6 is updated! Maaf ya lama! Saya lagi dalam suasana duka. Mohon do'anya untuk teman saya yang sudah tenang di sisi-Nya:) Dan maaf jika ceritanya semakin ngawur hehe.. Happy reading!^^

...

...

...

Sehun memperhatikan punggung yang menjauh itu sambil mendengus pelan. Udara dingin ditambah rasa kesalnya pada Jongin membuat sesuatu dibawah sana mendesak ingin keluar. Matanya bergerilya mencari toilet umum di sekitar sana. Chajatta! Tempat itu berada tak jauh darinya. Ia pun segera melompat dari atas railing jembatan dan berlari dengan tergesa.

Setelah menyelesaikan urusannya, ia pun segera keluar dari tempat tersebut. Gerimis masih tetap turun seperti tadi—tak ada pertanda untuk berhenti. Sehun kembali mendengus kesal. Hatinya masih dongkol karena pertemuannya dengan Jongin beberapa menit lalu.

"—Hun! Oh Sehun!" samar-samar terdengar suara seseorang meyerukan namanya. Mata Sehun memicing—mencoba mempertajam penglihatannya yang memang sudah memburam.

"Eoh? Dia masih disana? Kenapa memanggil namaku? Dan apa yang—YA TUHAN KIM JONGIN!" Sehun berteriak dengan kuat saat Jongin menaiki railing jembatan dengan kuda-kuda siap melompat ke dalam sungai. Untung saja suara nyaring Sehun masih cukup terdengar oleh telinga normal Jongin. Surai hitam kecoklatan itu bergerak saat kepala Jongin dengan cepat menoleh ke belakang dan mendapati Sehun tengah berlari ke arahnya. Seketika ia mati gaya. Ia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ini dan—memalukan.

"Kim Jongin apa yang kau lakukan? Kau mau bunuh diri?" Sehun yang salah paham kini menangkap lengan Jongin lalu menariknya hingga ia kini kembali menapak pada tanah. Jongin terlihat masih shocked. Ia menatap Sehun tak berkedip dan baru tersadar saat Sehun mengguncang tubuhnya untuk yang ke sekian kalinya.

"YA!" teriakan rendahnya mengagetkan Sehun. Ia mundur beberapa langkah saat dirasa Jongin bersikap sedikit aneh seperti orang tersambat—setan.

"W—wae?" Sehun tergagap. Jujur saja ia paling benci dengan hal-hal mistis seperti itu.

"K—kau hantu Oh Sehun?!" Jongin menunjuk wajah Sehun takut-takut. Pria pucat itu semakin tak mengerti kemudian hanya memelototkan matanya saat Jongin dengan lancangnya menyebut-nyebut 'hantu' lalu menuduhnya.

"Enak saja! Aku masih hidup, bodoh!" sembur Sehun kesal. Rupanya Jongin menganggap Sehun hantu? Apa dia gila?

"Lalu yang jatuh ke sungai tadi—" Jongin menjeda ucapannya. Sehun dengan cepat melongok ke arah sungai dan hanya mendapati permukaan air yang gelap dan tetap tenang.

"Jatuh ke—sungai?" mereka saling berpandangan—lama. Dan setelah menyadari jika semuanya benar-benar tak jelas Jongin segera berlari meninggalkan Sehun yang masih mematung disana. Dan tengkuk pria pucat itu tiba-tiba meremang.

"Kim Jongin jamkanman!" teriak Sehun yang segera melarikan diri dari tempat tersebut lalu menyusul Jongin.

...

...

...

"Kau brengsek! Kau membual 'kan Kim Jongin?" Sehun yang sibuk mengatur nafasnya menatap tajam ke arah mantan murid seharinya itu yang kini tengah merangkak naik ke atas motor kesayangannya. Jongin balas meliriknya sinis. Ia membuang nafasnya malas kemudian menyalakan mesin motornya berniat untuk meninggalkan Sehun di tempat sepi itu.

"Y—ya! Kau mau kemana? Kau mau meninggalkanku dan bersikap tidak bertanggung jawab setelah mengarang cerita omong kosong seperti itu?!" protesnya yang kini maju beberapa langkah untuk menghalangi jalan Jongin agar tak bisa pergi kemanapun.

"Minggir! Aku datang kesini bukan untuk bertemu denganmu!" ujar Jongin ketus. Ia menarik gasnya dengan kuat hingga suara knalpot yang begitu bising membuat Sehun harus menutup telinganya rapat-rapat.

"Matikan mesin bodohmu itu! Kau bisa membuatku tuli!" teriak Sehun berusaha menyaingi deru motor yang semakin kencang.

"Menyingkir! Atau aku akan menabrakmu!" ultimatum Jongin sama sekali tak membuat Sehun gentar. Ia masih tetap berdiri disana—menghalangi jalannya. Namun Jongin tak habis akal. Ia memundurkan motornya kemudian sekaligus berbelok tajam hingga hampir menyerempet Sehun yang kini hanya melongo menatap kepergian Jongin bersama motornya yang melaju cepat.

"Micheosseo~" ia hanya mampu bergumam pelan dengan wajah tak percayanya.

"Ditinggal kekasihmu eoh?" tiba-tiba sebuah suara asing menyapa gendang telinganya yang baru saja merasakan ketenangan. Sehun dengan cepat berbalik dan mendapati 3 berandalan tengil tengah menyambutnya dengan seringaian.

...

...

...

Pria tinggi berambut blonde itu masih menekuri jenis minuman apa yang harus ia beli. Udara dingin seperti ini memang cocok jika memesan jenis minuman yang dapat menghangatkan perutnya. Namun nyatanya mata tajam itu terpaku pada gambar menggiurkan yang terpampang pada counter pemesanan. Minuman coklat dingin dengan cream diatasnya. Entahlah, dia memang seperti anak kecil saja. Tujuan awalnya untuk membeli secangkir latte panas menguap begitu saja saat mendapati sebuah menu baru yang membuat lidahnya gatal untuk menicicipi.

"Aku pesan ini saja." Telunjuknya mengarah pada gambar yang ingin dipesannya. Waitress di depannya mengangguk paham kemudian segera menginput pesanan pria tersebut hingga muncul nominal harga yang harus ia bayar di mesin kasir.

"Aku yakin tadi membawanya di sini! Di saku jaketku!" terdengar sedikit keributan dari arah counter pemesanan di sebelah pria blonde itu. Kris—nama pria yang membutuhkan waktu lama hanya untuk memesan satu minuman saja—menoleh kecil dan mendapati seorang pria muda yang ia yakini memiliki usia jauh dibawahnya tengah berseteru dengan waitress yang melayaninya.

"Tapi kau harus tetap membayarnya!" Pria itu tak mau kalah.

"Bukankah sudah kubilang jika dompetku hilang?! Apa kau tak mengerti?!" nada suaranya semakin meninggi. Ia menatap sengit pria di depannya dengan tangan terkepal menahan marah.

"Tapi—"

"Biar aku saja yang membayarnya. Sekalian." Kris dengan cepat memotong perseteruan mereka. Untung saja tak banyak pengunjung yang datang malam itu sehingga tak terlalu mengundang perhatian banyak orang. Mata obsidian itu mengarah tajam pada pemilik rambut blonde berparas tampan yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya.

"Tidak perlu. Aku bisa membayarnya sendiri." Bukannya berterima kasih, Jongin malah berkata kurang sopan seperti itu dan pergi meninggalkan mereka. Kris tak merespon apapun dengan ucapan. Ia hanya tersenyum tipis tanpa menoleh ke belakang untuk menatap kepergian anak yang tak memiliki tatakrama tersebut.

"Jwesonghamnida. Apa minumannya jadi dibayar oleh Anda?" ujar pria di depannya hati-hati.

"Tentu saja." Ia mengambil minuman yang ditinggalkan Jongin kemudian membayarnya. Kini kedua tangannya masing-masing menggenggam sebuah minuman dengan suhu bertolak belakang.

"Gwaenchana. Dua minuman lebih baik." ia mengangkat bahunya kemudian mencari tempat yang nyaman untuk menikmati minumannya. Ia meletakkan kedua minumannya di atas meja kemudian menatapnya sambil mendesah pelan. Anggap saja untuk membuang sial.

...

...

...

Sehun meringis ngilu saat kegiatan 'memberi pelajaran' kepada para berandalan itu berakhir dengan 3 orang yang tergeletak tak berdaya sambil memegangi perut masing-masing.

"Bukankah sudah kubilang jika kalian jangan macam-macam padaku?" ujar Sehun ketus ke arah mereka. Ia menurunkan kembali lengan hoodie yang semula terlipat sebatas siku karena udara malam yang semakin dingin menyentuh permukaaan kulitnya kemudian menerobos masuk menusuk tulang. Ketiga berandalan itu mencoba bangkit dan berdiri dengan kaki bergetar hebat kemudian berlari dengan terseok saat salah satu dari mereka mengisyaratkan untuk segera pergi dari sana. Namun Sehun tak menyadari sesuatu jika salah satu dari mereka memungut benda berwarna coklat muda yang tergeletak di jalanan dan mengantonginya diam-diam.

"Cih! Kalian menyebut diri kalian preman dengan nyali seperti itu? Idiot!" Sehun hanya berdecih kemudian sedikit meludah saat ketiga orang itu sudah pergi jauh meninggalkannya.

"Akh—" ia menggigit bibir bawahnya saat kaki kirinya menahan berat tubuhnya sendiri. Pergelangan kakinya terkilir saat menendang perut salah satu dari mereka. Meskipun ia terbilang jago dalam bela diri, namun tetap saja hal tersebut hanyalah sebuah kenangan masa SMA-nya bersama Tao. Meskipun mereka berada di dalam ektrakurikuler yang berbeda. Ia tak pernah lagi menggunakan jurus-jurusnya. Bahkan sebelum ia mendapat sabuk hitamnya, ibunya sudah terlebih dahulu menyuruhnya keluar dari ektrakurikuler taekwondo karena takut Sehun terlibat dalam perkelahian antar sekolah yang populer saat itu.

Sehun kini menyeret kakinya menuju salah satu bangku taman yang terletak tak jauh darinya. Ia menjatuhkan tubuhnya disana kemudian mengangkat kedua kakinya sejajar dengan tubuhnya dengan posisi menekuk. Pergelangan kaki kirinya ia gerakkan memutar secara perlahan namun rasa sakitnya semakin menjadi hingga air matanya menggenang di pelupuk mata.

"Aissshhh—" tangannya memijat pelan kakinya tepat di bagian yang terasa ngilu. Ia terus meringis. Dan ringisannya berubah menjadi decihan kemudian makian saat suara bising itu kembali menghampiri telinganya. Motor hitam besar dengan seseorang yang tak ingin ia lihat saat itu berhenti tepat di depannya. Sehun menatap tajam Jongin yang entah angin apa yang membuatnya datang kembali kesini. Dan tatapan menusuk Jongin semakin ia rasakan saat helm yang sejak tadi membungkus kepalanya terlepas dan dengan angkuhnya ia turun dari atas motor lalu berjalan dengan cepat ke arah Sehun.

"Aku yakin kau melihatnya!" seru Jongin tiba-tiba. Sehun mengerutkan dahinya bingung.

"Maksudmu?"

"Dompetku! Kau melihatnya 'kan?" ucapan Jongin membuatnya semakin heran. Bagaimana mungkin Jongin yakin jika Sehun melihatnya?

"Aku tak melihat benda semacam itu!" Sehun kembali menekuri kakinya yang berdenyut ngilu. Mengabaikan Jongin yang kini hanya mendengus pelan.

"Kau bersamaku sejak tadi! Tidak mungkin 'kan jika—"

"Kau sedang menuduhku mencuri dompetmu 'kan? Berhenti menuduhku yang tidak-tidak! Aku memang tak sekaya kau. Tapi aku tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu." Sehun menatap Jongin melalui sudut matanya. Ia menurunkan kakinya dengan perlahan kemudian bertumpu pada kursi untuk membantunya berdiri lalu berjalan dengan terpincang meninggalkan Jongin yang masih berdiri disana. Pemuda itu memperhatikan kaki Sehun diikuti dengusan pelan. Lagi-lagi pembicaraannya harus menyerempet ke arah sensitif itu. Ia tak sengaja. Semuanya mengalir begitu saja. Tiba-tiba perasaan bersalahnya sedikit muncul.

"Ya!" Jongin mengikutinya. Namun Sehun tak menggubris panggilannya dan tetap berjalan dengan perlahan sambil menahan sakit di pergelangan kakinya.

"Hei, aku berbicara denganmu!" Jongin yang tampak gemas menarik lengan Sehun hingga langkahnya terhenti.

"Neo mwohae? Aku sedang tak ingin ribut denganmu! Cukup berandalan-berandalan itu yang kubuat babak belur! Kau tak ingin 'kan wajah jelekmu itu semakin bertambah jelek karena satu pukulan?" ancam Sehun dengan wajah datarnya. Jongin begitu terkejut dengan ucapan Sehun pada kalimat terakhirnya.

"Jelek? Aku? Kau buta?" serunya tak terima. Ia menghembuskan nafasnya kasar sementara Sehun memutar bola matanya kemudian menghentak tangan Jongin hingga terlepas dari lengannya.

"Kau berkelahi?" permata obsidian itu beralih ke kaki Sehun. "Cih. Kukira kau selalu menyelesaikan masalah dengan otak CERDAS mu itu." Ucapnya sarkastik dengan menekankan kata cerdas pada ucapannya. Seringai merendahkan tercetak jelas di bibir tebalnya.

"Apa pedulimu? Kau ingin kuhajar juga?" ujar Sehun galak sambil mengangkat tinjunya.

"Yaisshh!" geramnya kemudian segera menaiki motornya. Sehun dengan tingkat kekesalan yang sudah sampai dipuncak menatap sinis Jongin yang dengan gaya sok kerennya memakai helmnya kemudian menoleh ke arah Sehun dengan tatapan angkuh.

"Naik!" perintahnya cepat. Butuh waktu lama bagi Sehun untuk mencerna ucapan Jongin. Entah angin apa yang membuat Jongin berbaik hati memberi tumpangan kepada Sehun. Kasihan? Bisa jadi.

"Aku?" Sehun menunjuk dirinya sendiri. Jongin memutar bola matanya kemudian segera menyalakan mesin motornya.

"Ppalli!" teriaknya gemas. Sehun berjalan mendekat ke arah Jongin kemudian memberi tatapan curiga.

"Ada apa denganmu?"

"Maksudmu?"

"Apa aku tidak salah dengar? Kau menyuruhku naik?" Sehun mengorek telinganya dengan ekspresi dibuat-buat dan menurut Jongin dia benar-benar menyebalkan.

"Kau tidak mau? Kalau begitu aku tak akan memaksa." Ia bersiap menarik gasnya. Namun sebelum Jongin melakukannya, Sehun sudah mencengkram kedua bahu Jongin lalu naik di belakangnya.

"Aku bisa apa jika kau memaksa." Senyuman kemenangan tercetak nyata di bibir tipis Sehun. Syukurlah ia tak perlu repot-repot berjalan dengan kaki yang sakit lalu mengeluarkan uangnya untuk ongkos bus. Namun tanpa Sehun sadari, seringai licik di wajah Jongin tak dapat disembunyikan lagi. Sehun tak tahu jika Jongin memang tulus memberinya tumpangan atau tidak. Yang ia tahu sekarang tangannya harus mencengkam dengan kuat jaket yang dikenakan Jongin karena motor mulai melaju dengan kecepatan penuh.

...

...

...

Luhan menenggak wine untuk ke sekian kalinya. Dentuman musik yang bisa merobek gendang telinga itu membuatnya semakin ganas menenggak minuman beralkoholnya. Ia tipikal peminum kuat. Buktinya kesadarannya masih penuh seutuhnya saat seorang wanita mendekat ke arahnya lalu meraba bahunya dengan gerakan sensual.

"Oppa, membutuhkan teman?" bibir merahnya menyunggingkan senyuman manis bak malaikat. Luhan meliriknya sekilas. Matanya turun pada mini skirt yang hampir tersingkap jika wanita itu menungging sedikit saja. Namun ia berusaha untuk tidak tergoda. Niat awalnya datang ke bar ini bukan untuk bertemu dengan gadis-gadis sexy seperti yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia datang hanya untuk menenangkan pikirannya yang begitu runyam dan berantakan. Luhan kembali fokus pada minumannya. Tangannya menggoyangkan gelas berisi wine dengan gerakan memutar.

"Oppa~" wanita itu mulai merengek manja saat Luhan benar-benar mengabaikannya seolah ia tak ada disana.

"Mian Agesshi, tolong tinggalkan saya sendiri." Ujar Luhan berusaha selembut mungkin menolaknya agar wanita itu tidak tersinggung.

"Cih. Kau benar-benar tak asik!" ia merubah wajah malaikatnya menjadi iblis kemudian menatap Luhan sinis dan segera pergi dengan kaki menghentak di lantai bar. Luhan menatap punggung telanjang itu sekilas kemudian kembali menggoyang-goyang isi gelasnya lalu meminumnya dalam sekali tenggak. Ia merasakan hangat menjalar dari tenggorokannya menuju dada dan perutnya. Kemudian gelas kosongnya kembali ia serahkan pada bartender—meminta untuk diisi kembali.

"Ada nomor yang bisa kuhubungi?" seringai tipis terukir jelas di bibir tebal bartender berambut blonde itu. Luhan menatapnya cukup lama.

"Kau tahu siapa yang harus kau hubungi, Jinki." Respon Luhan yang kini kembali meneguk minumannya. Pria di depannya beratraksi dengan botol-botolnya.

"Kau sudah lama tak datang kesini. Nomornya sudah terhapus."

"Benarkah? Kalau begitu kau saja yang mengantarku pulang." Ucapnya dengan kepala yang mulai terasa pening. Terdengar kekehan renyah dari pria bernama Jinki itu.

"Bahkan aku tak tahu dimana alamat rumahmu." Pipi tembamnya menenggelamkan mata bulan sabitnya.

"Tenang saja. Aku tak akan menghilangkan kesadaranku."

Drrtt... Drrtt...

Saku kemejanya bergetar cukup lama. Ia merogoh ponselnya kemudian menatap layarnya dengan seksama.

"Yeoboseyo."

"Luhan, kau sudah pulang? Ya—kenapa ribut sekali? Kau sedang di bar?" suara Yixing di seberang sana terdengar khawatir.

"Aku akan pulang sebentar lagi."

"Kau mabuk? Eodiga? Aku akan segera kesana. Kau tak bisa menyetir dalam keadaan mabuk!" teriak Yixing yang berusaha menyaingi suara dentuman musik yang memekakkan telinga.

"Gwaenchana. Aku tidak mabuk, Yixing-ah. Baiklah, aku akan pulang sekarang. Kau tak perlu khawatir."

"Keurae. Berhati-hatilah. Aku tutup." Yixing memutus panggilan mereka. Sementara Luhan hanya menatap layar ponselnya yang perlahan meredup. Ia tampak melamun. Keterlaluan. Bahkan seseorang yang ia harap mengkhawatirkannya dan bertanya tentang keadaannya sama sekali tak menghubunginya. Apa dia masih marah? Tentu saja!

"Tagihanmu." Jinki membuyarkan lamunannya. Ia menyodorkan selembar kertas kecil padanya. Luhan yang memang akan segera pergi dari tempat itu mengeluarkan dompetnya lalu menarik beberapa lembar uang kertas dari sana.

"Sekalian dengan wanita itu." Luhan menunjuk wanita yang kini tengah menari di bawah sana. Ia menyerahkan sejumlah uang kepada Jinki.

"Im Yoona? Kau mengenalnya?"

"Ani. Dia wanita yang tadi menggodaku 'kan? Katakan padanya jangan pernah menggodaku lagi. Karena aku sudah punya kekasih. Aku pergi." Luhan menyambar jasnya yang tersampir pada sandaran kursi kemudian segera pergi meninggalkan Jinki yang hanya tersenyum tipis dan kembali melayani pelanggan lain.

...

...

...

Kyungsoo masih terjaga. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya karena hatinya terlalu cemas dengan keadaan Jongin saat ini. Pria tan itu tak sekalipun mengangkat teleponnya atau membalas pesan singkatnya. Ia benar-benar kesal dengan Jongin yang sudah bersikap seperti itu—mendiamkannya.

Tubuhnya tak bisa diam. Ia terus berbalik ke kiri dan kanan bahkan tak jarang turun dari ranjangnya kemudian mengelilingi kamarnya untuk mencari jalan keluar. Ini semua memang gara-gara Chanyeol! Jika saja ia tak melakukan hal bodoh itu mungkin Jongin tak akan berprasangka buruk padanya dan menuduhnya selingkuh dengan pria tinggi itu.

Kyungsoo kembali menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia menggigit bibir bawahnya kemudian memegangi dada kirinya. Ada perasaan aneh saat itu—saat Chanyeol tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya lalu menatapnya dengan jarak yang begitu intim. Namun pikiran aneh itu ia tepis dengan cepat seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya terulur untuk meraih ponsel yang tergeletak diatas ranjang. Dan matanya seketika berbinar saat ponselnya berdering menandakan jika ia menerima sebuah pesan. Jarinya dengan cepat membuka pesan masuk tersebut. Dari Chanyeol.

'Kau marah? Maafkan aku. Aku tak tahu jika Jongin akan datang ke tempat itu lalu memergoki kita. Dan bisakah kau meluangkan waktu untukku besok? Ada yang ingin kubicarakan.'

Kyungsoo mendesah lelah. Apalagi yang harus dibicarakan? Jika Jongin tahu ia menemui Chanyeol besok, kekasih pencemburunya itu pasti akan semakin marah. Kyungsoo tak ingin mengambil resiko akan hal itu. Ia pun lebih baik tak membalas pesan Chanyeol lalu menghapusnya. Anggap saja ia tak pernah membacanya atau menerimanya.

Pada akhirnya ia bersikeras memejamkan matanya. Mencoba mengusir semua kemungkinan buruk mengenai hubungannya dengan Jongin dan juga Chanyeol. Semoga saja Jongin mau memaafkannya besok dan tidak lagi marah padanya.

...

...

...

"STOP BODOH! STOOOOOPPP!" Sehun memukuli punggung Jongin yang memang pantas untuk dihujani oleh pukulan. Pria itu akhirnya menghentikan motornya—mendengarkan teriakan nyaring yang dari tadi terus menggetarkan gendang telinganya.

"Brengsek! Kau brengsek!" Sehun masih betah memukuli punggung itu seraya membuka helm-nya dengan kasar.

"YA!" bentak Jongin yang juga membuka helmnya. Ia menoleh—mendapati wajah Sehun yang pucat pasi karena kegilaan Jongin sepanjang perjalanan. Sehun benar-benar menyesal karena sudah menerima tawaran Jongin untuk mengantarnya pulang. Kini ia menuruni motor dengan kaki bergetar hebat. Bahkan jantungnya masih berdegup kencang karena ulah Jongin yang bisa dibilang diluar akal sehat.

"Apa kau menikmati perjalanannya?"

PLAK!

Sehun memukul belakang kepala Jongin tanpa perasaan.

"Ya—! Kau tahu? Kau orang pertama yang memukul kepalaku seperti itu! Dan aku menyesal sudah bersedia mengantarmu pulang! Dasar tak tahu terimakasih!" ujarnya ketus. Ia menatap Sehun tajam.

"Terimakasih? Aku harus berterimakasih kepada orang yang sudah mempermainkan nyawaku? Jika kau ingin mati, jangan pernah mengajakku lagi! Akh—!" Sehun meringis pelan saat kakinya semakin berdenyut hebat. Jongin menatapnya sedikit cemas. Entah kenapa perasaan itu muncul begitu saja. Namun ia kembali bersikap biasa saja.

"Isshh camkan itu! AKU-TAK-SUDI-LAGI-KAU-ANTAR-PULANG!" desis Sehun dengan tatapan tajam mengarah pada obsidian hitam itu.

"Dan sayangnya ini adalah yang pertama dan terakhir." Jongin memakai kembali helmnya dan menarik gasnya hingga motor melesat cepat menyisakan asap yang mengepul di depan wajah Sehun.

"Uhuk—uhuk—sialan!"

...

...

...

...

Sehun merendam tubuhnya di dalam bathtub berisi air hangat dan gelembung busa yang menutupi seluruh permukaannya. Ia memelorotkan tubuhnya hingga hanya tersisa hidung hingga ujung kepalanya saja yang tidak terendam air. Ia memainkan udara di dalam mulutnya hingga tercipta gelembung-gelembung kecil di permukaan air kemudian sedikit terbatuk karena busa sabun masuk melalui kerongkongannya. Tubuhnya bergidik saat rasa pahit menjalari rongga mulutnya. Matanya kembali menerawang.

"Jongin sialan." Dengusnya pelan. Nyawanya hampir saja melayang. Bagaimana tidak? Bukannya mengantarnya langsung ke apartemen, Jongin malah membawanya tanpa tujuan membelah jalanan Seoul menggunakan motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Ia bergidik ngeri saat membayangkan jika tubuhnya terhempas begitu saja ke jalanan dan harus mati dengan sia-sia bersama Jongin. Dan sekelebat bayangan lain memenuhi otaknya. Ia hampir saja melupakannya.

"Luhan Hyung~"

Bahkan tak ada kabar apapun darinya. Keduanya sama-sama tak ada yang memulai untuk menghubungi terlebih dahulu. Sehun yang tak mau mengalah dan Luhan yang merasa bersalah. Sehun pun kembali memelorotkan tubuhnya hingga kepalanya tenggelam seutuhnya di dalam air—menyisakan kaki yang bertumpu di ujung bathtub. Namun belum 5 detik ia menenggelamkan kepalanya, tiba-tiba sebuah tangan mencengkram lengannya dan menariknya hingga ia dengan gelagapan segera mengeluarkan kepalanya dari dalam air. Namun tangan Sehun yang lain menarik tangan tersebut dengan mata tertutup hingga terdengar suara seseorang terjatuh ke dalam air dan menimpa tubuhnya.

"YA!" Matanya terasa pedih. Sehun tak bisa melihat orang yang ada di depannya dengan tangan yang masih menggenggam lengan orang tersebut.

"Sehun-ah, gwaenchana?" suara khawatir itu begitu ia hapal.

"Mataku!" teriak Sehun dengan tangan bergerilya mencari shower yang tergantung di atasnya. Luhan dengan gesit segera berdiri dan menyalakan shower untuknya—membasuh wajah Sehun untuk menghilangkan busa di sekitar wajahnya. Matanya perlahan mulai membuka—mendapati Luhan dengan seluruh tubuhnya yang basah tengah memperhatikannya dengan cemas. Seketika ia terpaku. Wajahnya terasa panas saat menyadari posisi mereka saat itu. Sehun tak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya! Dan Luhan di atasnya, dengan kemeja basah dan dapat terlihat dengan jelas bentuk tubuhnya membuatnya sedikit—

"AKH! HYUNG! NEO MWOHAE?!" teriak Sehun yang dengan cepat segera mendorong Luhan agar menjauh kemudian mengumpulkan busa-busa yang masih mengambang untuk menutupi tubuhnya.

"KELUAR!" Sehun menutup matanya. Ia menekuk kakinya dengan tangan memeluk lutut. Bukannya menurut, Luhan malah merangkak mendekati Sehun kemudian menangkup kepalanya.

"Ya, tatap aku." Tangannya menarik wajah Sehun agar mendekat. Samar-samar tercium bau alkohol dari mulutnya. Sehun membuka matanya. Tatapan sayu Luhan mengatakan dengan jelas jika pria itu dalam keadaan mabuk.

"Hyung, kau mabuk?" Sehun kini memegangi kepala Luhan kemudian mendekatkan hidungnya ke mulut pria cantik itu untuk memastikan.

"Aku tidak—hmmmppp.." sesuatu bergejolak di dalam perutnya. Sehun yang mengetahui kondisi ini segera menarik kepalanya mundur lalu membiarkan Luhan keluar dari bathtub dan berlari menuju closet. Disanalah ia memuntahkan isi perutnya. Sehun hanya meringis kemudian segera mengambil bathrobe dan melekatkannya ke tubuh jenjangnya. Ia pun keluar dari bathtub dan berjalan ke arah closet kemudian menepuk punggung Luhan pelan sambil menatapnya khawatir.

...

...

...

Jongin memarkir motornya di belakang mobil putih yang selalu ayahnya gunakan untuk bekerja. Padahal ia berharap jika Junmyeon tak akan pulang malam ini. Dengan cepat ia pun melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menyadari jika Junmyeon tengah menunggunya di ruang tengah rumah mereka yang begitu luas.

"Darimana kau?" suara yang menggema ke seluruh ruangan itu membuat Jongin menghentikan langkahnya. Ia menoleh—mendapati ayahnya yang tengah duduk bersandar pada sofa tunggal dengan tatapan mengintimidasi. Jongin kembali membuang muka.

"Maaf, aku benar-benar lelah." Ia hendak melangkah. Namun suara Junmyeon yang meninggi membuatnya kembali berhenti.

"Jika kau terus bersikap seperti itu maka aku tak akan segan-segan mengirimmu ke Kanada!" ujarnya tegas membuat Jongin mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras.

"Itu tak akan pernah terjadi." Desis Jongin geram.

"Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan!"

"Geumane—"

"Kali ini kau tak bisa membantahku lagi!" tangannya menggebrak meja dengan keras hingga gelas berisi air putih itu ikut bergetar dan terhempas begitu saja ke lantai. Jongin tak menggubrisnya. Ia pergi begitu saja membiarkan Junmyeon yang masih terus berbicara panjang lebar dan baru bisa ditenangkan oleh kehadiran Jongdae.

"Sajangnim, tenanglah." Jongdae berdiri di depannya. Junmyeon menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa kemudian memijat pelipisnya yang terasa berkedut.

"Apa aku benar-benar harus mengirimnya ke Kanada, Jongdae?" Junmyeon memejamkan matanya sejenak sambil menghela nafas lelah. Pria berkacamata di depannya menatapnya penuh arti—berusaha mencari solusi yang tepat untuk menghentikan Jongin.

"Ani. Mungkin hanya dia yang bisa merubah sikapnya." Jongdae tersenyum meyakinkan.

"Dia? Nugu?" Junmyeon berhenti memijit pelipisnya dan beralih menatap Jongdae heran. Pria berkacamata itu merogoh jasnya kemudian menyimpan beberapa lembar foto di depan Junmyeon yang kemudian dengan tak sabaran segera diambilnya lalu ia memperhatikannya dengan seksama.

"Oh Sehun?"

"Anda bisa melihat sendiri bagaimana sikap Tuan Muda terhadap Sehun-ssi."

Junmyeon mengerutkan dahinya bingung. Ia tak bisa melihat dimana sikap Jongin yang dimaksud oleh Jongdae. Hanya rasa kesal dan risih saja yang mampu ia terjemahkan dari tatapan Jongin di dalam foto-foto tersebut.

"Jongdae-ah, bahkan aku bisa melihat dengan jelas jika Jongin begitu membencinya."

"Percayalah. Tuan Muda tidak membenci Sehun-ssi. Hanya saja dia belum mampu menerima kehadirannya."

"Maksudmu?"

"Kita lihat saja." Jongdae membungkuk—meminta izin untuk pergi dari sana. Sementara Junmyeon masih tak tahu apa yang tengah Jongdae rencanakan untuk menaklukan Tuan Muda Kim yang menyebalkan.

...

...

...

Sehun masih dengan telaten mengaduk sup yang tengah ia buat. Sesekali ia melirik sosok Luhan yang kini tengah duduk di meja makan—lebih tepatnya tengah memperhatikan dirinya sehingga ia harus menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang agar tak terlihat salah tingkah di depan Luhan. Saat dirasa supnya matang, ia pun dengan cepat mematikan kompor lalu menuangkannya ke dalam mangkuk. Dengan langkah ragu ia pun membawa sup tersebut ke hadapan Luhan dengan langkah terpincang.

"Mokgora." Ujarnya dingin dan hendak meninggalkan pria berambut karamel itu sendiri di meja makan. Namun tangan dingin itu menahan lengan Sehun.

"Kajima." Pinta Luhan padanya. Sehun meliriknya sekilas kemudian hanya terdiam.

"Duduklah." Ia menarik salah satu kursi disampingnya lalu menarik tubuh Sehun disana. Pria bermata hazel itu hanya menurut. Namun ia berusaha sebisa mungkin agar matanya tak bertabrakan dengan mata beriris coklat itu.

"Tatap aku—"

"Hyung—"

Kini mereka menatap satu sama lain. Pancaran mata Sehun yang begitu sendu membuat Luhan semakin merasa bersalah. Dadanya berdenyut ngilu.

"Kita akhiri saja—sampai disini." Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Sehun. Luhan menatap pria disampingnya tak percaya.

"Apa yang kau katakan—Sehunnie?" ia berusaha meyakinkan sekali lagi jika telinganya memang salah mendengar.

"Kita akhiri saja hubungan ini." Ujar Sehun sekali lagi. Luhan tak berkedip—menatap manik mata Sehun yang tengah menatapnya dalam.

"Jangan bercanda, Oh Sehun." Luhan tersenyum dipaksakan—matanya terasa panas dan memburam. Sehun yang semula menatapnya kini hanya tertunduk. Menahan isak tangis yang sama sekali tak ingin ia keluarkan saat itu.

"Aku tidak bercanda, Hyung. Kembali saja—pada Yixing Hyung."

Luhan hanya bungkam. Ia segera berdiri kemudian mengambil baskom dan memasukkan beberapa bongkah es batu ke dalamnya. Wajahnya memerah. Ia berjongkok di hadapan Sehun kemudian meraba dengan perlahan kaki Sehun yang terkilir.

"Hajima—" ia hendak menarik kakinya namun Luhan tetap menahannya. Dengan telaten ia mengompres kaki Sehun tanpa meminta persetujuan dari pria bermata hazel itu. Matanya menatap Luhan dengan tatapan kosong. Perasaan sakit dan sesak di dadanya menjadi satu. Tak ada lagi yang harus dipertahankan. Hubungannya dengan Luhan harus berakhir sampai disini saja. Ia menarik nafasnya dalam dengan mata terpejam.

"Jebal! Jangan berbuat baik padaku lagi! Jika kau terus bersikap seperti ini, aku akan sulit melupakanmu!" teriak Sehun seraya beranjak dari duduknya. Luhan perlahan berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Sehun.

"Sehun-ah—" panggilnya dengan suara parau. Sehun tak ingin melihat matanya. Ia menyeret kakinya menuju kamarnya, meninggalkan Luhan yang hanya bisa mematung di tempatnya.

...

...

...

Kaki panjang berbalut celana training biru langit itu melangkah dengan santai menuju gedung olahraga di belakang sekolah. Matanya menatap dengan telaten setiap sudut tempat di sekolah luas tersebut hingga langkahnya berhenti tepat di depan sebuah bangunan luas yang berdiri kokoh di depannya.

"Saem, buatlah hari pertamamu menyenangkan dengan sekolah dan murid barumu. Perlu kuantar ke dalam?" wanita yang beranjak tua itu menatap guru olahraga baru berambut blonde tersebut dengan tatapan genitnya. Pria jangkung itu hanya tertawa ringan kemudian menggeleng pelan.

"Aniya. Cukup sampai disini saja. Aku ingin berkenalan dengan murid-murid baruku secara private. Tanpa kau ketahui." Matanya berkedip sebelah—mengisyaratkan jika ia bisa menghandle semuanya.

"Baiklah jika begitu. Enjoy!" wanita bertubuh mungil itu melenggang pergi. Pria blonde itu tersenyum tipis menatap kepergian kepala sekolah cantik tersebut. Ia kemudian berbalik, segera mendekat ke arah pintu lalu membukanya dengan perlahan. Kedatangannya disambut oleh puluhan pasang mata yang menatapnya bertanya-tanya. Telinga tajamnya bisa mendengar kasak-kusuk dari setiap mulut.

"Apa dia guru olahraga baru itu?"

"Aigooo benar-benar tampan!"

"Jinjja? Diakah itu?"

"Dia benar-benar masih muda!"

"Cih. Dia tak lebih keren dariku!"

Kris hanya tersenyum simpul mendengar setiap komentar, komplimen, atau apapun itu dari murid barunya. Ia kini berdiri di depan mereka dengan tubuh tegapnya. Mata tajam itu menatap murid di hadapannya tegas.

"Good morning, class!" sapanya lantang hingga menghentikan keributan. Suara rendahnya yang seksi membuat murid-murid putri menjerit dalam hati. Imajinasi liar mereka seolah muncul begitu saja. Sementara murid-murid putra menatap guru baru mereka dengan tatapan cemburu dengan perasaan tak ingin tersaingi.

Jongin yang semula tak memperhatikan dan hanya bermalas-malasan di sudut ruangan kini ikut mendongak saat suara pria tinggi itu menyapa pendengarannya. Dan matanya memicing—bekerjasama dengan otaknya untuk saling bersinergi—mengingat wajah yang ia rasa pernah ditemui sebelumnya.

"Wow, guru muda yang tampan eoh?" komentar Chanyeol yang lebih terdengar seperti sindiran. Jongin menoleh ke arahnya, namun matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata Kyungsoo yang tengah menatapnya sedih. Ia kembali memalingkan wajahnya ke arah lain dan sekelebat ingatan tiba-tiba membuatnya kembali menatap guru olahraga baru itu dengan tatapan datarnya. Mata mereka saling menatap lurus. Dapat Jongin lihat senyuman tipis terukir di wajah guru muda itu.

"Annyeonghaseyo! Kris imnida. Bangapseumnida! Kuharap kalian bisa bekerjasama denganku." Matanya masih tak terlepas dari sosok Jongin yang kini tengah bergerak tak nyaman karena merasa diperhatikan. Kembali terdengar kributan dari seluruh murid.

"OK! Semuanya berkumpul di depanku dan buat barisan yang rapi! Aku tidak suka jika murid-muridku melanggar aturan yang aku buat!" Kris tak perlu mengeluarkan sebuah teriakan untuk membuat mereka menuruti kata-katanya. Seperti terhipnotis, mereka dengan cepat segera berkumpul dan membuat beberapa barisan dengan teratur. Jongin berdiri di barisan paling belakang bersama Chanyeol dan juga Baekhyun. Sebenarnya ia tak ingin berada dekat-dekat dengan Chanyeol, namun entah kenapa ia seperti sengaja ingin terus berada di dekat Jongin dan membuatnya kesal. Bahkan tak ada kata maaf atas kejadian kemarin.

Kris yang sejak tadi memperhatikan Jongin berjalan ke barisan paling belakang dan berdiri tepat disampingnya. Pria tan itu sedikit terkejut karena ia tak terlalu memperhatikan dan tahu-tahu tubuh tinggi itu sudah ada di sampingnya dengan senyuman penuh arti. Ia menatap risih Kris tanpa sedikitpun ingin menyapa kedatangannya.

"Annyeong, kuharap kau tak berniat mengerjaiku lagi." Bisik Kris dengan suara rendahnya kemudian kemabali berjalan ke barisan depan. Jongin hanya menatapnya datar kemudian melirik Baekhyun yang tengah menatap Kris tanpa berkedip. Jongin hanya berdecih kemudian membuang mukanya kesal. Semoga saja moodnya tak akan bertambah buruk.

...

...

...

Sehun terus melirik jam di ponselnya. Tao sudah telat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Ia sesekali melirik ke pintu masuk namun sosoknya tak kunjung muncul juga. Pikirannya begitu kalut. Dilihatnya tetesan air yang semula mengembun di dinding gelas.

Lagi-lagi suara lonceng di pintu masuk membuatnya menoleh dengan gusar. Dan kali ini matanya sedikit berbinar. Tao dengan tas yang tersampir di bahunya melenggang masuk dengan langkah sedikit terburu.

"Mian, aku terlambat." Tao menarik salah satu kursi di hadapan Sehun. Mata kelamnya memperhatikan raut wajah Sehun yang begitu kacau.

"Ada masalah?" ia memiringkan kepalanya dengan alis saling bertautan.

"Ne." Jawabnya singkat. Tao membetulkan posisi duduknya. Ia menyimpan tasnya di atas meja kemudian melipat kedua tangannya disana.

"Ceritakan padaku."

"Aku membutuhkan tempat tinggal baru."

"Mwo? Memangnya kenapa dengan tempat tinggal lamamu? Kau diusir dari sana?"

Sehun menggeleng pelan dengan seulas senyum pahit tersungging di bibirnya.

"Aku dan Luhan Hyung sudah—berakhir."

...

...

...

Sehun sibuk memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam koper besar di depannya. Jantungnya terus berdenyut ngilu. Mungkin ini keputusan yang salah—meninggalkan Luhan tanpa memberitahunya. Apalagi yang harus Luhan ketahui? Hubungan mereka sudah ia anggap berakhir—secara sepihak.

Sehun menghentikan aktivitasnya meskipun seluruh pakaiannya belum berpindah semua ke dalam koper. Berjalan gontai ke arah ranjang lalu duduk di salah satu tepinya. Ia terdiam. Wajah sendunya terlihat semakin kontras dengan cat kamar berwarna biru cerah. Tangannya kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang lalu menekan salah satu nomor.

"Kau yakin, Sehunnie?" Tao bertanya dengan ragu. Namun pria berkulit pucat itu mengangguk mantap meskipun Tao tak bisa melihatnya.

"Tentu saja. Aku sudah membereskan semuanya."

"Jika keputusanmu memang sudah bulat aku akan pulang sekarang. Minseok Hyung sudah kuberitahu dan dia tak keberatan jika kau tinggal bersama kita."

"Kalian tak perlu khawatir tentang biaya sewanya. Aku akan ikut berkontribusi." Sehun tersenyum samar.

"Aigooo Sehunnie, aku tak pernah mempermasalahkan itu! Tenang saja. Aku akan segera pulang dan menyambut kedatanganmu. Aku menunggumu! Sampai nanti!" Tao menutup teleponnya dan membuat Sehun harus kembali murung. Tao memang satu-satunya teman lama Sehun yang selalu membuat suasana hatinya tak terkesan buruk.

Sehun beranjak dan berjalan ke sudut ruangan. Box putih berukuran sedang itu menyita perhatiannya. Ia kemudian mengangkat box tersebut dan menyimpannya diatas ranjang. Diikuti dengan tubuhnya yang ia daratkan di depan benda putih itu. Ia menatapnya. Menghela nafasnya sejenak kemudian membuka tutup box dengan perlahan. Semua barang pemberian Luhan yang ia kumpulkan hingga sekarang. Air matanya menggenang. Jujur saja kali ini ia tak bisa menahan emosinya. Terlalu banyak kenangan manis yang Luhan berikan. Terlalu banyak cerita indah yang mereka ciptakan.

"Hyung~" tangannya mengeluarkan sebuah kubus warna-warni dengan susunan acak lalu menggenggamnya dengan erat. Entah kenapa benda kesayangan Luhan itu ia berikan kepada Sehun. Luhan bilang bermain rubiks itu bisa membuat stresnya hilang. Namun bagi Sehun justru stresnya malah semakin bertambah. Tentu saja. Susunannya menjadi semakin berantakan saat Sehun yang memainkannya. Ia tertawa kecil mengingat kebodohannya yang sering ia tunjukkan di depan Luhan. Rasa geli bercampur sakit menjadi satu di dadanya. Air matanya tak bisa berhenti mengalir. Namun bibirnya terus menyunggingkan sebuah senyuman geli saat ingatannya kembali berputar ke masa lalu.

"Hyung, kenapa kau melakukan ini padaku?" bisiknya pelan di sela tangisannya. Ia menghapus air matanya kasar kemudian meletakkan kembali rubiks itu ke dalam box. Matanya kini berpindah menatap sebuah benda mungil berwarna biru langit. Ia meraihnya kemudian mengambil earphone untuk mendengar sesuatu yang begitu ia rindukan. Sesuatu yang membuatnya menjadi kekasih Luhan. Sehun memasang earphone di kedua telinganya. Saat ibu jarinya menekan tombol On, tak ada sedikit pun suara yang mampu ia dengar. Ia menekan ulang tombol tersebut namun nihil—hasilnya sama saja. Dan setelahnya ia baru ingat jika benda itu rusak karena Sehun melemparnya saat bertengkar dengan Luhan dulu. Ia tak pernah mendengarnya lagi sejak saat itu dan tak tahu jika recorder itu sudah tak bisa digunakan lagi. Pada akhirnya benda itu harus kembali menghuni box putih di depannya.

"Mianhae." Ia kembali menutup box tersebut kemudian menyimpannya kembali di sudut ruangan. Ia berjalan ke meja belajarnya—mengeluarkan secarik kertas dari laci lalu menulis sesuatu diatasnya. Satu hal yang ia harapkan—semoga ini jalan terbaik untuknya dan juga Luhan.

...

...

...

Jongin menopang dagunya dengan sebelah tangan. Sesekali ia melirik apartemen di seberangnya dan ragu untuk pergi kesana. Ia enggan untuk pulang ke rumah. Dan tak mungkin untuk pergi ke apartemen Kyungsoo. Dan masalah akan semakin rumit jika ia harus meminta bantuan kepada Luhan. Satu-satunya tempat yang ia hapal adalah apartemen ini. Tempat yang baru kemarin malam ia kunjungi. Namun ia benar-benar gengsi untuk bertemu dengannya. Bukankah ia membencinya? Bukankah ia bilang jika kemarin adalah pertama dan terakhir untuknya datang ke apartemen Sehun?

Ia mempertajam penglihatannya saat seseorang di sebrang sana menggusur sebuah koper besar keluar dari apartemen lalu menhentikan taksi. Jongin segera turun dari pembatas jalan di trotoar lalu berlari menyebrangi jalan saat dilihatnya Sehun sudah selesai memasukkan koper ke dalam bagasi dan ia pun masuk ke dalam taksi. Sebelum mobil itu melaju, ia membuka pintu sebelah kiri dan masuk tanpa permisi.

"Kamchagiya!" Sehun begitu terkejut dan merapatkan tubuhnya ke arah pintu. Sementara Jongin dengan wajah datar tanpa dosanya terduduk dengan tenang di samping Sehun. Ia menatap Jongin tak percaya.

"Neo mwohae?" teriak Sehun dengan mata menyorot tajam.

"Wae?" tanyanya ketus. Jongin melirik Sehun sekilas kemudian kembali memandang lurus ke depan. Pria berambut coklat itu memutar bola matanya.

"Ya! Apa maksudmu huh? Kenapa kau tiba-tiba ada disini dan—kau menguntitku?"

Jongin tak menggubris ucapannya. Ia hanya melipat tanganya di depan dada dengan wajah juteknya. Sehun memperhatikan anak itu dari atas ke bawah. Ia masih mengenakan baju seragamnya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat.

"Kau—kabur dari rumah?" Sehun bertanya dengan ragu namun Jongin sama sekali tak meresponnya.

"Aku harus menghubungi Abeojimu—"

"Andwae!" Jongin segera merebut ponsel Sehun lalau menyembunyikannya.

"Waeyo? Ya! Aku tak ingin terlibat lagi dengan keluargamu!" teriakan Sehun tak membuatnya bergeming. Jongin membuang mukanya ke arah jendela sambil menopang dagunya. Sehun mendesah kasar.

"Ahjussi, antarkan aku ke jalan xxx. Dan turunkan anak ini sesuka hatimu." Sehun melirik Jongin sinis. Taksi pun perlahan mulai melaju meninggalkan apartemen mewah itu. Sehun menatapnya nanar kemudian hanya bisa tersenyum pahit. Ditatapnya orang yang dengan tak tahu malunya masuk ke dalam taksi yang ia tumpangi.

"Padahal kau bisa menggunakan fasilitas ayahmu jika kabur dari rumah." Dengus Sehun pelan yang masih didegar Jongin. Namun ia sama sekali tertarik untuk berdebat dengan Oh Sehun. Ia terlalu betah memandangi jalanan yang seperti bergerak cepat.

"Isshh..." Sehun memutar bola matanya. Ia pun ikut memalingkan wajahnya keluar jendela disampingnya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga Sehun merasa matanya terasa begitu berat dan perlahan ia pun memejamkan matanya.

Jongin tak mendengar lagi suara ocehan Sehun disampingnya. Ia menoleh—mendapati Sehun yang sama sekali tak bergerak dengan kepala bersandar pada jendela.

"Ck, kau tidur?" lututnya menyenggol lutut Sehun hingga tubuh Sehun merosot ke sebelah kiri—membuat kepalanya kini bersandar di bahu Jongin. Wangi parfum yang begitu lembut menyeruak masuk ke dalam hidung Jongin. Rambut coklatnya yang terasa lembut saat menyentuh leher Jongin dan wajahnya membuatnya terkesiap kaget. Ia tertegun. Tiba-tiba saja detak jantungnya berubah menjadi cepat dan matanya tak bisa berkedip secara normal. Dari jarak sedekat ini Jongin dapat melihat wajah Sehun yang terlelap dengan damai. Namun ia mengerutkan dahinya saat jejak-jejak air mata di pipi Sehun terlihat begitu jelas. Jongin hendak mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak air mata itu. Namun seketika akal sehatnya kembali muncul. Ia dengan cepat menghentakkan kepala Sehun agar kembali menyandar kepada jendela namun karena terlalu keras, dahi tak berdosa itu membentur kaca jendela mobil hingga Sehun terbangun dari tidurnya sambil meringis pelan.

"Akh—appoyo.." ia memegangi dahinya yang berkedut. Matanya yang setengah terpejam menatap driver yang tengah mengulum senyum.

"Ahjussi, apa sudah sampai?" ia menatap daerah di sekitarnya namun nampaknya taksi masih melaju di tengah keramaian kota. Matanya kemudian beralih pada sosok Jongin yang masih berada dalam posisi yang sama.

"Ya! Kau tak ingin turun?" sungut Sehun kesal. Jongin tak ingin menatap wajah itu.

"Eiiiii anak ini." Sehun mendengus pelan kemudian kembali menatap keluar jendela. Jongin yang melihat bayangan Sehun berbalik, menoleh ke arahnya. Dan entah kenapa senyuman manis itu tersungging di bibirnya.

...

...

...

Luhan memarkir mobilnya di tempat biasa di basement apartemen tempat Sehun tinggal. Ia terdiam sejenak dibalik kemudi. Sehun benar-benar tak menghubunginya sejak kemarin malam. Ia begitu khawatir. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Ia pun segera turun dari mobilnya meskipun ia tahu jika penolakan dari Sehun yag akan menyambutnya. Luhan berjalan dengan tergesa ke dalam lift. Bahkan perasaannya begitu gelisah dan tak enak ketika lift bergerak naik menuju lantai dimana apartemen Sehun berada.

Pintu lift terbuka dengan lebar. Luhan segera keluar dan setengah berlari menuju apartemen Sehun. Tangannya menekan bel beberapa kali. Ia menunggu Sehun untuk berteriak melalui interkom kemudian membukakan pintu untuknya. Namun kali ini ia harus menunggu agak lama. Pintu tak kunjung terbuka. Ia menekan bel sekali lagi dengan perasaan cemas.

"Apa ia sudah tidur? Jam segini?" Luhan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu baru menunjukkan pukul 9 malam. Biasanya Sehun masih mengerjakan tugasnya pada jam-jam seperti ini. Ia terbiasa tidur lewat tengah malam. Tanpa pikir panjang ia pun segera memasukkan sandi pengaman pada pintu. Ia memang tak selalu melakukannya jika Sehun ada di dalam. Setidaknya ia masih mengutamakan sopan santun dengan tidak masuk ke dalam apartemen Sehun seenaknya. Kecuali jika ia tengah mabuk seperti kemarin malam seperti kali ini dengan situasi yang agak berbeda. Ia khawatir jika terjadi apa-apa pada Sehun dan dengan terpaksa masuk tanpa izin si pemilik apartemen.

Luhan sudah berhasil membuka kuncinya. Ia melangkah masuk ke dalam apartemen. Lampunya ruang tamu kecil Sehun memang gelap. Dan dugaannya tentang Sehun yang sudah tidur mungkin tidak salah. Awalnya ia tak menyadari ada sesuatu yang ganjil. Namun setelah matanya menatap rak sepatu yang terletak di belakang pintu ia menautkan alisnya bingung. Tak ada sepasang sepatu pun yang mengisinya. Biasanya sepatu Sehun akan berjajar rapi disana. Luhan meletakkan seluruh belanjaannya di dekat pintu masuk sementara ia setengah berlari ke kamar Sehun. Tangannya bergerilya untuk mencari saklar kemudian segera menyalakan lampunya. Yang pertama kali ia temukan adalah ranjang Sehun yang terlihat rapi tanpa ada seseorang yang tengah tertidur di atasnya. Luhan bertambah panik. Kemana Sehun? Ia memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan seksama. Semuanya tampak masih lengkap pada tempatnya. Namun matanya berhenti pada satu titik—meja belajar Sehun. Ia berjalan mendekat. Terdapat selembar kertas yang terlipat rapi dan juga—buku tabungan beserta ATM yang diletakkan bertumpukkan. Dengan tangan bergetar Luhan mengambil kertas tersebut dan membacanya.

'Maafkan aku.'

Sebuah kalimat yang membuat jantung Luhan berdenyut hebat. Apa maksud Sehun?

Dan Luhan baru menyadari jika seluruh buku Sehun tak ada disana. Ia berlari menuju lemari Sehun dan benar saja—seluruh pakaiannya sudah tak ada disana. Luhan hanya mematung. Menatap kosong lemari di depannya lalu berjalan mundur dan menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Tubuhnya terasa begitu lemas. Jantungnya berdetak tak karuan dan begitu sesak. Seperti ada ribuan ton batu yang menghimpitnya.

Tak ingin membuang waktu ia segera merogoh ponsel di saku celananya. Menghubungi panggilan cepat nomor satu dan menunggu panggilannya terhubung. Namun sayangnya nomor yang ia tuju tak dapat dihubungi. Ponsel Sehun tak aktif. Luhan meremas ponselnya kemudian segera berlari keluar apartemen. Ia kembali menghubungi seseorang dengan tergesa.

"Hyung, tolong cari Sehun sekarang!"

"..."

"Aku tak mau tahu! Kau harus menemukannya! SEKARANG!"

To be Continued

.

.

.

Mind to review? Pretty please? *maksa* xD