Maaf ya telat satu minggu. Ada ospek dan juga kerjaan di kantor jadi gagal deadline. Sekali lagi maaf. *bungkuk*

Haha, lagi-lagi. Setiap baca review kalian aku merasa menghancurkan imajinasi kalian ya. Tapi aku memang suka tidak terprediksi kayak gini. Lagipula, aku sudah janji bakal banyak kejutan di fic ini jadi nikmati aja.

Hm, banyak juga ya dari kalian yang berharap ini sad ending. Sayang sekali sudah diputuskan sejak awal kalau bakal happy ending. Berarti tugas aku adalah membuat happy ending yang bagus supaya kalian semua ga ada yang kecewa ya.

Ini belum mau akhir kok, masih bakal ada beberapa chapter lagi. Seperti yang sudah pernah dibilang, pokoknya ga akan melebihi 20 chapter. Jadi kira-kira mendekati segitu.

Berhubung ada yang nanya sekalian pemberitahuan. Naruto itu dari dulu sampai sekarang ga pernah punya ketertarikan sama siapapun, baik perempuan maupun laki-laki. Dalam artian jatuh cinta gitu, bagi dia semuanya sama aja. Yang dia tahu cuma rasa cintanya sama basket dan juga keluarganya. Karena itu juga dia ga tau apa itu rasa suka yang sesungguhnya, sampai ketemu Sasuke.

Shi-chan, aku juga ga sabar pengen publish chapter ini. Pengen liat reaksi kalian semua.

Kalau setelah baca chapter ini kalian ingin bunuh aku, aku terima. Tapi konsekuensinya ga akan ada lanjutannya hahaha. Maaf, tapi aku sendiri gereget sama cerita ini.


Sudah tiga hari sejak perbincangannya dengan Itachi dan Kyuubi mengenai pengakuannya. Naruto saat ini sedang duduk di teras belakang rumah sambil menatap langit malam hari. Tempat yang menjadi lokasi favorit Sasuke ini memang cocok untuk berpikir dan menenangkan diri. Naruto mencoba meneguhkan hatinya untuk apa yang akan dia katakan pada semuanya mengenai keputusannya.

Itachi dan Kyuubi sempat mempermasalahkan keputusannya saat itu dan mengakibatkan sedikit keributan di kafe hari itu. Tapi setelah dia meyakinkan mereka bahwa apapun yang terjadi dia tidak akan merubah keputusannya, akhirnya mereka mengerti dan menyutujuinya dengan berat hati. Setelah itu Naruto beranjak ke kantor Gaara untuk memberitahukan keputusannya dan dengan tenang Gaara menerimanya. Dia sudah tidak kaget lagi dengan segala pilihan yang diberikan Naruto, dia hanya bisa membantu sahabatnya memenuhi harapannya karena dia tahu dia tidak akan bisa merubah keputusannya.

"Nak Naru, jangan terlalu lama duduk di luar. Angin malam tidak terlalu baik untukmu."

Naruto melirik ibu mertuanya yang berdiri sekitar lima meter darinya. Sepertinya Mikoto hendak pergi ke lantai dua dilihat dari arah yang dia tuju. "Sebentar lagi, Bu."

Apa yang dikatakan Mikoto memang benar. Kulit tan Naruto pun sudah dapat merasakan dinginnya angin malam yang menusuk walaupun kimono yang dipakainya cukup tebal. Memutuskan bahwa tidak perlu menambah sakitnya dengan hipotermia, Naruto melangkah memasuki rumah dan berpapasan dengan Sasuke yang baru saja pulang diikuti oleh Itachi dibelakangnya.

"Sudah mau tidur, Naru? Kami baru saja pulang." Itachi menghampirinya dan memberikan elusan di kepalanya.

"Selamat datang, Sasuke, Kakak. Aku belum mengantuk hanya ingin berbaring saja dulu."

Itachi menatap penuh arti kepada Naruto dan Naruto hanya menerimanya dengan senyuman. "Kalau begitu aku ke kamarku, ya. Sampai jumpa besok."

"Ya, Kak. Selamat beristirahat."

Ditemani oleh suara langkah Itachi di tangga, Sasuke dan Naruto memasuki kamar mereka bersama-sama. Setelah meletakan tas kerjanya, Sasuke langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Naruto menunggu sambil duduk di bagian tempat tidurnya untuk bisa berbicara dengan Sasuke.

Mata birunya langsung tertuju ke sosok Uchiha tersebut saat Sasuke keluar dari kamar mandi. Begitu siap dengan kostum tidurnya, Sasuke berjalan ke arah sang istri. Dia mengecup kening Naruto lalu berbaring dan menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya begitu menyentuh tempat tidur. Naruto hanya bisa menatap punggung Sasuke kecewa.

Merasa ada yang menatap, Sasuke membuka mata dan berbalik mendapati Naruto sedang menatapnya dengan raut wajah sedih. "Apa apa, Naru? Kau mau mengatakan sesuatu?"

Ingin Naruto mengatakan 'Sasuke, aku ingin bicara serius denganmu', tapi dilihat dari raut wajah Sasuke dia sepertinya benar-benar lelah, Naruto tidak sanggup mengatakannya. Akhirnya dia menggelengkan kepala dan ikut berbaring. "Tidak ada. Selamat tidur, Sasuke."

"Selamat tidur, Naru."

Belum saatnya, Naruto memberitahu dirinya sendiri. Belum saatnya untuk berbicara dengan Sasuke, tapi dia akan melakukannya. Memang tidak akan mudah, Naruto sendiri takut dengan apa yang akan Sasuke lakukan setelah dia menceritakan semuanya nanti. Kemungkinan bahwa Sasuke akan menolaknya membuatnya nyalinya menciut. Akan tetapi, dia akhirnya menemukan sesuatu yang dia inginkan. Sesuatu yang selama ini selalu dia cari dan itu adalah Sasuke. Jika Naruto tidak mengatakannya sekarang maka dia akan menyesal selama seumur hidup. Karena itu dia akan mengambil resiko. Semuanya ada di tangan Sasuke. Apapun yang Sasuke putuskan setelah mengetahui segalanya, itu pulalah yang akan menjadi keputusan Naruto.

Jika Sasuke menerimanya maka Naruto akan hidup. Jika Sasuke menolaknya maka Naruto akan pergi.

Tapi sebelum itu, dia harus memberitahu dulu keluarganya mengenai keputusannya. Naruto membutuhkan restu dari semuanya terutama dari Ayah dan Ibunya. Dia juga belum sempat berbicara dengan Mikoto. Naruto berniat untuk memberitahu mereka di minggu ini.

Entah apa yang akan orang tuanya katakan saat mengetahui anak semata wayangnya ternyata telah menemukan seseorang yang dia cintai dan seseorang itu ada seorang pria yang telah menjadi suaminya. Terlebih lagi, orang tersebut ternyata adalah sesuatu yang telah lama dia cari. Akankah mereka merestuinya? Naruto mengepalkan tangannya dan meremas selimut yang menyelimutinya. Dia harus yakin. Walau mereka tidak setuju, Naruto akan membuat mereka setuju seperti saat dia membuat mereka menyutujui pernikahan ini. Dia pasti bisa.

Naruto membalikan tubuhnya dan menatap punggung Sasuke. Tangannya terjulur dan menyentuh pundak yang lebar itu. "Sasuke." Samar terdengar suara napas Sasuke yang teratur menandakan dia sudah terlelap. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibir Naruto. Sepertinya dia harus bertanya pada Sasuke besok pagi saja. Malam ini biarkan sang Uchiha bungsu mendapatkan istirahatnya.


Tubuhnya masih terasa lelah, tapi Sasuke tahu dia harus bangun dan memulai hari ini lagi. Banyak yang harus dia kerjakan dan tidak ada waktu untuk bersantai. Untuk itulah dia membuka paksa kedua matanya meskipun sebenarnya dia masih ingin membiarkannya tertutup untuk beberapa jam lagi. Dia tidak bisa bermalas-malasan.

Sasuke hendak bangkit dan turun dari tempat tidur, namun sesuatu menahannya. Dia melirik ke belakang dari balik bahunya dan mendapati sebuah tangan mencengkram lengan bagian belakang bajunya. Sasuke menyentuh lengan Naruto dengan tangan yang satunya sambil sedikit mengubah posisinya agar lebih mudah untuk melihat sang istri dan menguncangkan tubuh Naruto pelan. "Naru, bangunlah."

Sedikit mengerang karena merasa belum cukup tidur, Naruto pun membuka paksa kedua matanya. Dia dapat melihat Sasuke yang sudah terjaga dengan kedua mata birunya yang masih mengantuk. "Sasuke, pagi."

"Pagi." Sasuke tersenyum melihat Naruto yang sedang berusaha menahan rasa kantuknya agar dapat tetap terjaga. "Maaf aku membangunkanmu, tapi aku harus bersiap untuk pergi ke kantor."

"Hm, kau mau aku siapkan pakaian untuk kerja?"

Bahkan nada suara nya pun masih terdengar mengantuk. Naruto terlihat menggemaskan seperti ini dan Sasuke tertawa kecil melihatnya. "Bukan, aku bisa menyiapkannya sendiri. Hanya saja aku tidak bisa bangun jika kau tidak melepaskanku."

Tidak mengerti apa yang dimaksudkan Sasuke, sebuah kerutan tanda kebingungan muncul di dahi Naruto. Untuk menjawab kebingungan tersebut, Sasuke menunjuk tangan Naruto yang masih mengcengkram lengan bajunya. Mata biru Naruto mengikuti arah telunjuk Sasuke dan kaget saat melihat tangannya ada di baju Sasuke. Dengan spontan Naruto melepaskannya dan segera bangun ke posisi duduk seketika.

"Maaf Sasuke, aku tidak sengaja."

Sasuke ikut bangun dan duduk berhadapan dengan Naruto. "Tidak apa-apa. Kau semalam tidak mimpi buruk, kan?" Sedikit tersirat raut khawatir di wajah Sasuke. Mungkin dia berpikir Naruto mendapat mimpi buruk lagi, karena itu dia sampai memegangi bajunya.

"Tidak, tidak ada mimpi buruk. Aku hanya.." Hanya apa? Naruto tidak tahu mengapa dia sampai memegangi lengan baju Sasuke saat tidur. Sebenarnya dia tahu, tapi dia tidak mungkin mengatakanya. Semalam dia berpikir takut kehilangan Sasuke, mungkin karena itu secara tidak sadar dia memegangi bajunya.

"Syukurlah kalau begitu. Sekali lagi maaf sudah membangunkamu. Kalau masih mengantuk tidur lagi saja. Aku bersiap dulu ya." Satu kecupan di dahinya dan Sasuke pun beranjak ke kamar mandi.

Setelah mengunci pintu dibelakangnya, Sasuke segera melucuti pakaiannya satu persatu dan berjalan ke arah shower. Ketika air mengalir di tubuhnya membuatnya rileks dan juga tenang. Ingatan saat bangun tidur tadi kembali ke pikirannya. Naruto, seseorang yang berhasil menyentuh hatinya. Satu-satunya orang yang bukan berasal dari keluarga Uchiha tapi sudah berhasil memenangkan perhatiannnya lebih dari yang dia inginkan. Tentu saja sekarang Naruto sudah menjadi bagain dari keluarga, tapi tetap saja.

Sasuke membasuh rambut pendeknya dan membiarkan kepalanya disirami air sedikit lebih lama. Perkataan Itachi di kantor sangat mengganggunya. Entah sejauh mana kakaknya itu mengetahui apa yang terjadi. Tapi dia telah berhasil membuat Sasuke mengakui pada dirinya sendiri bahwa dia memberikan tempat khusus di hatinya bagi Naruto. Untuk saat ini itu saja sudah cukup baginya. Dia hanya berharap Naruto akan bisa menerima perasaannya suatu hari nanti dan bukan karena terpaksa. Mengingat perjanjian awal mereka, Sasuke tidak ingin terlalu terburu-buru.

Shower dimatikan dan Sasuke mengambil handuk untuk mengeringkan diri. Setelah memakai pakaiannya barulah dia membuka pintu kamar mandi. Pakaiannya untuk hari ini sudah rapi disiapkan di atas tempat tidur dan yang menyiapkannya sedang duduk termenung di kursi dekat jendela.

"Naru, tidak tidur lagi?"

Lamunannya tersadar oleh suara Sasuke yang memanggilnya. Naruto mengalihkan pandangannya ke arah si bungsu Uchiha yang sedang memakai kemeja kerjanya. "Nanti saja kalau kau sudah berangkat. Biar kubantu ya."

Memang sudah beberapa lama ini Naruto terbiasa membantu Sasuke bersiap-siap untuk berangkat kerja. Jika dulu dia hanya menyiapkan pakaian untuk Sasuke pakai, kali ini dia juga ikut membantu dia berpakaian. Yang paling dia sukai adalah saat harus memasangkan dasi di leher Sasuke. Sepertinya Sasuke sendiri lebih suka dasinya dipasangkan oleh Naruto daripada harus memasangnya sendiri.

Setelah rapi dan juga setelah menyantap sarapan yang dibuat Mikoto pagi itu, Sasuke dan Itachi segera berangkat ke kantor. Naruto mendekati sang Ibu yang sedang merapikan meja makan dan ikut membantu. "Ibu, apa setelah ini Ibu ada waktu? Aku ingin bicara."

Mikoto melihat keseriusan di mata Naruto dan dia ikut merasa gugup. "Kalau begitu tunggu saja di kamarmu. Ibu akan kesana setelah selesai dengan Ayah ya."

Naruto mengangguk dan memohon diri. Masih ada waktu sebelum Mikoto selesai dan dia akan menggunakannya untuk beristirahat sebentar. Naruto merebahkan dirinya di atas tempat tidur sekali lagi mencoba untuk tenang. Dia tahu apa yang harus dia katakan, hanya saja tidak yakin bagaimana cara memulainya. Sangat lain ketika dia berbicara kepada Gaara atau yang lainnya. Tentu saja, ini adalah Mikoto, Ibu dari Sasuke. Ini tidak semudah yang dibayangkan.

"Nak Naru." Mikoto masuk ke dalam kamar dan mendekat ke Naruto yang masih berbaring dengan mata terbuka. Iris birunya menatap mata hitam Mikoto dengan penuh keteguhan hati. Mikoto duduk di samping Naruto yang masih berbaring dan mengelus rambut pirangnya. "Apa yang ingin kau bicarakan dengan Ibu, sayang?"

Naruto membiarkan Mikoto mengelus rambutnya dan sedikit menenggelamkan wajahnya ke bantal yang sedang disandarinya. "Ibu, aku sudah membuat keputusan." Mikoto menghentikan gerakan tangannya dan menatap Naruto serius. "Aku ingin restu Ibu karena hal yang kucari selama ini ternyata adalah Sasuke."

Sebuah senyuman tersungging di bibir Mikoto. Dia kembali mengelus rambut Naruto dan berkata dengan penuh kasih sayang. "Ibu selalu merestuimu, Naru. Bahkan sebelum kau menyadarinya pun Ibu sudah merestui hubungan kalian. Kau pasti berpikir Ibu keberatan dengan gendermu kan? Jika Ibu memang keberatan sudah sejak awal Ibu katakan ketika mengetahui jati dirimu yang sebenarnya. Ibu bisa melihat perasaanmu pada Sasuke itu tulus."

"Tapi Bu, jika Ibu menerimaku ada sesuatu yang tidak bisa aku berikan. Ibu tidak keberatan?"

Mikoto menarik tangan Naruto agar putranya itu bangkit dan berganti ke posisi duduk. Tangan keibuannya menggenggam tangan tan Naruto. "Nak Naru, Ibu bahagia bisa memilikimu sebagai putra Ibu. Kau sudah memberikan sesuatu yang lebih bagi Ibu. Kau mengembalikan senyum dan tawa Sasuke, kau juga memberikan kelembutan dan kasih sayang yang sudah lama hilang dari Itachi, kau memberikan kebahagiaan di rumah ini. Ibu tidak bisa meminta lebih darimu. Kau bahkan memberi Ibu seorang cucu, walaupun bukan cucu sendiri tapi Kurama tetap cucu Ibu."

"Ibu."

"Jika Sasuke menerimamu, tidak ada alasan bagi Ibu untuk tidak merestui kalian. Raihlah kebahagiaanmu nak Naru."

Naruto memeluk Mikoto dan menenggelamkan diri danalam kehangatan sang Ibu. "Terima kasih, Bu." Mikoto mengelus kepala Naruto pelan sebagai jawabannya. Naruto melepaskan pelukannya dan menatap sang Ibu sekali lagi. "Ibu, aku juga ingin bicara dengan Ayah."

Mikoto menggelengkan kepala. "Tidak perlu." Naruto menatap bingung. "Percaya saja pada Ibu. Sekarang yang harus kau lakukan adalah istirahat. Nanti siang Ibu bangunkan saat makan siang ya." Mikoto menepuk kepala Naruto dan beranjak dari tempat tidur. "Oh iya, kapan kau harus check up lagi?"

"Seharusnya hari ini tapi aku tidak sempat ijin pada Sasuke tadi, jadi besok saja."

"Ya sudah, nanti Ibu temani. Sekarang kau istirahat saja ya."

Setelah Mikoto meninggalkan kamarnya, Naruto mengikuti nasihat sang Ibu dan berbaring lagi untuk beristirahat. Tentu saja tidak lupa mengkonsumsi obatnya terlebih dahulu. Dengan selesainya obrolan dengan Mikoto tadi, berarti tinggal kedua orang tua saja yang belum dia beritahu. Dan lagi-lagi Naruto lupa untuk berbicara dengan Sasuke. Dia harus meminta ijin agar bisa pulang untuk berbicara dengan kedua orang tuanya. Semoga saja saat Sasuke pulang nanti dia tidak akan lupa lagi. Naruto ingin semuanya segera selesai.

Naruto menutup matanya dan membiarkan kesadarannya pergi ke alam tidur. Saat dia membuka mata lagi di hari itu adalah ketika Mikoto membangunkannya untuk makan siang. Menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur langkahnya terhenti saat sedetik rasa nyeri terasa di dadanya. Tangannya meremas bagian yang sakit tadi dan tubuhnya kembali terduduk di tempat tidur.

Baru kali ini Naruto mengalami yang seperti ini. Apa ini artinya kondisinya memburuk? Naruto mengambil napas panjang dan setelah beberapa menit rasa sakit tadi benar-benar hilang. Besok dia akan menanyakannya pada Sakura, untuk saat ini dia hanya perlu menjaga kondisinya agar tidak semakin memburuk.

"Nak Naru, hari ini Ibu memasak sup wortel untukmu. Kau suka?"

Fugaku sedang menyantap sup wortel yang dimaksud tadi dengan tenangnya. Naruto mengambil kursi di sisi kiri sang ayah mertua dan menerima sup bagiannya. "Apapaun yang Ibu masak aku suka. Terima kasih, Bu."

Mereka bertiga menyantap makanan dalam diam, sampai Fugaku menyelesaikan supnya barulah dia membuka topik. "Hari ini ada rencana apa, nak Naru?"

Baru-baru ini Naruto sadari bahwa Fugaku tidak sedingin yang dia kira. Mungkin karena dulu Uchiha tertua itu selalu sibuk bekerja sehingga tidak ada kesempatan mengajaknya bicara. Setelah Fugaku lebih sering di rumah mereka selalu mendapatkan satu dua topik untuk dibicarakan. Walau semua hanya topik ringan, tapi Naruto sudah merasa lebih dekat dengan ayah mertuanya.

"Aku hanya akan istirahat saja di rumah, Ayah. Tadinya aku mau mengunjungi Ayah dan Ibuku, tapi karena aku lupa bilang pada Sasuke jadi lain kali saja."

"Kalau nanti kau jadi mengunjungi mereka, sampaikan salam dari Ayah ya."

"Tentu, Ayah."

Tangan Naruto yang sedang memegang sendok tiba-tiba menjatuhkan benda yang sedang digenggamnya tersebut dan beralih ke dadanya. Napasnya tersengal dengan rasa nyeri yang sedang dideritanya saat ini. Suara denting sendok yang jatuh ke lantai mengarahkan perhatian Fugaku dan Mikoto kepada Naruto, dan begitu kagetnya mereka melihat ekspresi kesakitan di wajah Naruto.

"Nak Naru!"

Hampir saja Naruto jatuh dari kursinya jika Fugaku tidak segera menangkap tubuhnya yang perlahan merosot. Keduanya begitu khawatir melihat keadaan sang menantu. Ketika Naruto tidak kunjung menjawab apa yang terasa sakit, Fugaku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

Begitu taksi yang mereka naiki sampai di depan rumah sakit, Naruto segera dibawa ke ruang perawatan. Sakura sudah terlebih dahulu dikabari oleh Mikoto saat mereka berada di perjalanan sehingga penanganan untuk Naruto dapat segera dilakukan. Mikoto begitu gusar saat harus duduk menunggu di luar. Keadaan tadi itu sangat mendadak dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Fugaku merangkul bahunya dan memberikan sentuhan yang menenagkannya.

"Nak Naru pasti tidak apa-apa," ucapnya singkat.

Mikoto tentu saja sangat ingin mempercayai kata-kata tersebut dan dia berharap memang begitu adanya. Tak lama Sakura pun keluar dari kamar dimana Naruto mendapat perawatan dan mendekati mereka. "Sepertinya mulai dari sekarang Naruto akan membutuhkan beberapa perubahan dari menu kesehariannya. Mungkin dia akan kesal saat kuberitahu nanti, tapi untuk saat ini dia akan sangat butuh istirahat."

"Tapi nak Naru baik-baik saja, kan?"

"Tentu, saat ini dia sedang tertidur. Saat bangun nanti kalian sudah boleh membawanya pulang."

Mikoto menghembuskan napas lega. Keduanya berjalan memasuki kamar Naruto namun Sakura menghentikan Mikoto untuk meminta waktunya sebentar. Fugaku menawarkan diri untuk menemani Naruto agar mereka berdua bisa berbicara lebih bebas.

"Sebenarnya hal seperti ini sudah kami perkirakan akan terjadi sejak beberapa bulan yang lalu. Kenyataan bahwa ini baru terjadi sekarang adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Naruto benar-benar menjaga pola hidupnya. Tapi keadaan jantungnya yang semakin melemah memang tidak bisa dihindari."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, nak Sakura?"

Sakura tersenyum. "Kudengar si bodoh itu akhirnya sudah terbuka dengan ide operasi untuk jantungnya. Aku akan mempersiapkan segalanya juga surat-surantnya jadi kapanpun dia siap dia bisa menadatanganinya kapan saja. Kita hanya perlu menjaganya sebentar lagi sampai saat itu tiba. Semoga semuanya berjalan lancar."

"Kami semua berharap begitu. Tapi semua keputusan tetap ada di tangan Sasuke."

"Ah ya, satu hal lagi. Dengan keadaan yang sekarang jika sekali lagi Naruto mengalami hal seperti ini akan sedikit fatal akibatnya. Katakan padanya jangan membebani pikirannya terlalu berat. Jika perlu untuk sementara larang dia untuk bekerja. Kurasa Gaara akan setuju."

Semua yang dikatakan Sakura padanya Mikoto dengarkan baik-baik dan berjanji untuk memastikan semuanya dijalani. Naruto sadar dalam dua jam dan Mikoto dan Fugaku segera membawanya pulang, karena Naruto sendiri tidak ingin berlama-lama berada disana.

Begitu sampai di rumah masih ada beberapa jam lagi sebelum Sasuke dan Itachi pulang. Mereka memanfaatkannya untuk Naruto beristirahat. Fugaku tidak banyak bertanya dan meninggalkan Naruto bersama Mikoto di kamar.

"Ibu, aku punya permintaan."

Mikoto membantu Naruto berbaring dan menyelemutinya agar tidak kedinginan. "Ibu mengerti. Ibu janji tidak akan mengatakan apa-apa pada Sasuke." Setelah memberikan satu kecupan di dahi Naruto, Mikoto pun meninggalkannya agar dapat beristirahat.

Walau memang tidak berniat untuk memberitahukannya kepada siapapun khususnya ke Sasuke, ternyata ada saja yang membuat kedua putra Uchiha itu mencium sesuatu yang tidak beres. Sasuke dapat diyakinkan hanya dengan pernyataan bahwa Naruto hanya kelelahan dan tadi siang sudah cek ke rumah sakit untuk lebih menurunkan kekhawatirannya.

Itachi tentu saja tidak dapat diyakinkan semudah itu. Karenanya, sebelum tidur dia meminta waktu pada Sasuke agar dia dapat berbicara dengan Naruto berdua di kamar mereka. "Apa yang terjadi, Naru?" Naruto tidak bisa menyimpan rahasia dari Itachi pun menceritakan apa yang terjadi tadi siang.

"Sakura bilang ini sudah diperkirakan sejak beberapa bulan lalu. Aku hanya perlu menambah jam istirahat saja, walau jika aku ingin sembuh total tetap harus melalui jalan operasi. Kakak tidak perlu khawatir."

Itachi melipat kedua tangannya di depan dada. "Tentu saja aku khawatir. Apa yang akan kukatakan pada adikku jika sesuatu terjadi padamu?"

"Tenang saja. Aku akan baik-baik saja, setidaknya sampai aku bicara pada Sasuke."

Kata-kata terakhir Naruto menimbulkan pertanyaan pada Itachi. Kata-kata 'setidaknya' itu memberikan kesan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Ingin dia menanyakannya, tapi semua sudah tahu apa jawaban yang akan Naruto berikan.

Itachi meninggalkan Naruto dan masuklah Sasuke. Dia langsung berbaring di samping Naruto dan menarik selimut untuk menghangatkan mereka berdua. "Sasuke, aku ingin mengunjungi Ayah dan Ibuku."

Sasuke menatap Naruto lalu tersenyum. "Tentu, tapi nanti saja kalau kau sudah baikan. Sekarang kita tidur saja." Dari senyum yang Sasuke berikan Naruto berpikir, Sasuke pasti berpikir bahwa pernyataan Naruto tadi itu adalah tingkah seorang anak yang sedang sakit dan merindukan orang tuanya. Itu membuatnya terdengar seperti anak kecil, tapi untuk saat ini selama Sasuke memberi ijin Naruto tidak keberatan bertingkah begitu.

Ternyata permintaannya dapat terwujud begitu cepat. Keesokan harinya ketika mereka semua sedang menyantap sarapan, tiba-tiba saja Kushina menelepon dan meminta Naruto untuk pulang di akhir minggu ini. Karena Kushina sendiri yang menelepon, Sasuke tidak dapat menolak. Apalagi acaranya adalah ulang tahun pernikahan Minato dan Kushina. 'Sudah acara tahunan. Di setiap ulang tahun pernikahan kami, kami sekeluarga selalu berkumpul.' Begitu kata sang Uzumaki berambut merah yang sudah bermarga Namikaze tersebut.

Sebenarnya Sasuke sendiri diundang, akan tetapi dia menolak dengan mengatakan ini adalah tradisi. Lagipula Naruto pasti ingin menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya setelah sekian lama tidak bertemu. "Tapi aku titip kado untuk mereka ya. Juga sampaikan selamat dariku." Naruto sangat tersentuh dan dia semakin jatuh cinta pada suaminya.


Hari itu Minato sendiri yang menjemput Naruto. Karena dia tahu Sasuke tidak akan mengijinkan Naruto pergi sendirian dan juga karena Kushina terus mendesak dia untuk menjemput putra mereka. Kushina sendiri sedang sibuk mempersiapkan semuanya di rumah untuk acara hari ini.

"Tenang saja Sasuke, aku akan menjaga Naruto baik-baik. Dia akan pulang tanpa kurang sesuatu apapun."

Naruto memberikan satu pukulan atas perkataan bodoh ayahnya. Terkadang Minato juga bisa sedikit jahil walau tidak separah Kushina. Pemandangan tersebut membuat Sasuke tertawa kecil dan mengikuti permainan ayah mertuanya. "Kalau begitu kutitipkan istriku pada Ayah."

Naruto cemberut pada mereka berdua. "Kalian berdua sama saja."

Seseorang mengacak-acak rambutnya dan ketika Naruto mendongak untuk melihat siapa itu, wajah datar Itachi yang dia dapati. "Sudah cepat pergi sana. Kami juga harus segera pergi ke kantor."

Naruto menepis tangan Itachi dan berbalik masih cemberut. "Iya iya. Kakak senang sekali aku pergi, sudah bosan denganku ya?"

"Kata-kata apalagi itu?" Itachi mendekat dan mencubit pipi Naruto pelan. Tentu Naruto berontak tapi tiba-tiba Itachi berbisik di telinganya. "Semuanya akan baik-baik saja. Berjuanglah." Itachi sekali lagi mengelus kepala Naruto dan pergi masuk ke dalam mobil.

"Kalau begitu aku juga pergi ya. Selamat bersenang-senang." Sasuke mengikuti Itachi dan mereka berdua pun berangkat ke kantor dengan Itachi yang menyetir.

"Naru, kita juga harus pergi. Tidak ada yang tertinggal, kan?"

Naruto menggeleng dan dia pun bersama Minato menaiki mobil untuk menuju rumah dimana Kushina dan yang lainnya sudah menunggu. Kurama sangat senang ketika melihat Naruto memasuki rumah dan langusung lari memeluknya. Semuanya saling memberi pelukan dan kecupan rindu. Naruto melihat beberapa tas piknik dan juga kotak makan siang yang sudah dibungkus rapi. Bingung, dia menanyakan apa maksud dari semuanya pada Kushina.

"Begini, sudah lama sejak kita main di luar. Kurama juga bilang kalau dia ingin pergi ke taman bermain. Jadi mendadak semuanya seperti ini." Kushina tersenyum-senyum mengatakannya, terlihat mencurigakan bagi Naruto.

"Sebenarnya Bibi ingin merasakan kencan lagi seperti muda dulu. Tidak ada yang bisa dilakukan, akhirnya seperti ini." Kushina melempar tatapan kesal ke arah Kyuubi karena sudah memberberkan semuanya yang tidak digubris oleh keponakannya itu. "Tapi Kurama memang senang bisa pergi ke taman bermain."

"Ah, ya sudahlah. Tapi aku tidak ikut main ya."

Kushina berjanji bahwa semuanya akan tetap menyenangkan, karena walau bagaimanapun ini adalah acara keluarga. Semuanya harus bersenang-senang.

Taman bermain hanya perlu dicapai dalam tiga puluh menit dengan mobil dan setelah Minato membayar semua tiketnya, Kushina langusng menghambur ke dalam. Entah siapa yang anak kecil , karena saat ini Kushina terlihat lebih kekanakan daripada Kurama.

"Ibu, pelan-pelan. Nanti kalau jatuh bagaimana?"

"Naru sayang, jangan menghancurkan mimpi Ibu. Sudah, kau pergi saja dengan Kyuubi dan Kurama. Ibu dan Ayah akan kencan." Kushina menyeret Minato pergi ke kerumunan menjauh dari mereka.

"Ah, tunggu Kushina! Anak-anak, kita bertemu lagi saat makan siang ya!" Terdengar suara Minato berteriak dari kejauhan.

Kyuubi hanya tertawa melihat Bibi dan Pamannya begitu bersemangat. "Mereka itu memang enerjik dan juga romantis ya."

"Tapi kalau begini apanya yang acara keluarga. Ibu hanya seenaknya sendiri."

"Sudahlah, kita biarkan saja mereka sebentar. Mumpung sudah disini, sebaiknya kita juga menikmatinya, iya kan Kurama?"

Kurama yang berdiri di samping Kyuubi menganggukan kepalanya dengan penuh antusias. Mereka bertiga pun berjalan keliling taman bermain menemani Kurama mencoba berbagai permainan. Terkadang Kyuubi menemaninya sementara Naruto hanya duduk menonton dari bangku yang tidak jauh dari sana.

Di saat seperti itu dia berpikir akan sangat menyenangkan jika dia bisa pergi kesini bersama dengan Sasuke. Mungkin Itachi juga akan diajak tapi mungkin sebaiknya tidak. Kakaknya pasti hanya akan mengganggu mereka saja. Pikirannya sendiri membuatnya tersenyum-senyum sampai tidak menyadari Kyuubi dan Kurama sudah kembali.

"Mama, kenapa senyum-senyum sendiri?"

"Sepertinya Mamamu sedang memikirkan Papa barumu. Benarkan Naru?"

Pipi Naruto merona menandakan bahwa kecurigaan Kyuubi itu benar. Naruto tidak menjawab dan hanya mencoba menyembunyikan rona di wajahnya yang gagal dia lakukan.

"Kalau begitu, lain kali kita kemari kita ajak Papa Suke. Papa Gaara dan Papa Tachi juga ikut. Ah, Nenek Miko dan Kakek Fuga juga. Pokoknya semuanya harus ikut! Ya Ma, ya?"

Kurama tersenyum sangat manis. Tidak ada yang bisa menolak senyuman itu. "Tentu. Lain kali kita semua pergi bersama ya."

Mereka berlima kembali bertemu saat makan siang seperti yang dijanjikan. Kushina terlihat sangat puas sedangkan Minato terlihat lelah. Istrinya itu menariknya dari satu permainan ke permainan lain. Minato pikir dia akan mati kelelahan mengikuti keantusiasan istrinya itu. Dia memang sudah tidak semuda dulu.

"Jangan pikir kita sudah selesai, Minato. Kita masih ada waktu sampai sore nanti sebelum Naru pulang. Masih banyak yang masih ingin aku coba."

Di saat itu Minato benar-benar berpikir dia akan mati. Ketiga anak muda lainnya tertawa melihat penderitaan Minato. Tawa dan canda mereka berlanjut sampai bekal makan siang hari itu habis disantap. Naruto membuka pembicaraan dan memberikan aura serius. Kyuubi yang mengetahui apa yang akan disampaikan mengajak Kurama untuk melihat beberapa permainan dan meninggalkan kedua orang tua beserta putranya agar bisa bicara lebih bebas.

"Ayah, Ibu, sebenarnya aku tidak ingin berbicara di tempat seperti ini, tapi aku tidak bisa menundanya lagi." Keseriusan di nada bicara Naruto membuat keduanya gusar. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa dan dengan sabar mendengarkan. "Aku mencintai Sasuke."

Bisa dikatakan perasaan Minato dan Kushina saat itu bercampur aduk. Mendengar satu kata yang tidak pernah keluar dari mulut putra mereka dan bahkan tidak pernah dipedulikannya membuat mereka bahagia. Tapi mereka juga bingung dengan apa maksud dari Naruto mengatakan semua itu pada mereka. Minato yang membuka mulut lebih dulu. "Lalu? Sayang, ekspresi wajahmu serius sekali, ada apa?"

"Aku benar-benar mencintai Sasuke. Aku ingin restu dari kalian berdua."

Kushina dan Minato saling menatap. Mereka sangat ingin Naruto bahagia, itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Mengetahui kebahagiannya adalah seorang pria yang dia nikahi beberapa bulan ini merupakan suatu kejutan bagi mereka berdua. Bukannya mereka tidak setuju hanya saja ini terlalu tiba-tiba.

"Sayang, apa kau serius mengatakannya?"

"Ibu, aku mengerti. Aku sudah memikirkannya beberapa lama dan bahkan membicarakannya dengan Gaara dan Kyuubi. Aku ingin bersama Sasuke dan aku tidak akan merubah perasaanku padanya walau Ayah dan Ibu tidak menyetujuinya. Tapi aku sangat berharap kalian mau mengerti."

Keduanya hanya bisa tersenyum. Putra mereka sudah berubah. Mungkin pernikahan ini memang bukan sesuatu yang buruk seperti yang awal mereka pikirkan. "Kami tentu saja merestuimu, sayang. Apapun untuk kebahagianmu."

"Terima kasih."

"Sasuke sendiri bagaimana? Apa dia juga mencintaimu?"

Naruto meremas botol minum yang sedang dipegangnya dan mengambil napas untuk menenangkan diri. Ini adalah saatnya dia mengatakan hal yang lebih besar. "Aku berencana menceritakan semuanya padanya sebelum akhirnya menyatakan perasaanku." Naruto berhenti sebentar untuk mengambil napas lagi dan melanjutkan kata-katanya. "Lalu, jika Sasuke menerimaku maka aku akan menandatangani surat persetujuan untuk operasi."

Kushina segera bangkit dari kursinya dan berlari memeluk Naruto. "Sayang, akhirnya kau mau operasi juga. Ibu sangat bahagia. Ibu harus berterima kasih pada Sasuke."

"Tapi Bu, semuanya belum diputuskan. Masih ada kemungkinan Sasuke akan menolakku. Aku juga ingin kalian bersiap untuk yang terburuk jika itu sampai terjadi."

Tentu saja mereka tahu. "Kami mengerti. Tapi kenyataan bahwa kau akhirnya menemukan sesuatu yang kau cari selama ini itu suatu hal yang menggembirakan. Kami akan mendukungmu sepenuhnya."

"Terima kasih Ayah, Ibu."

Setelah acara mengharukan yang dilebih-lebihkan oleh Kushina berakhir, mereka bertiga menyusul Kyuubi dan Kurama untuk melanjutkan acara jalan-jalan mereka. Tentu saja Kushina segera menarik Minato lagi dan meninggalkan Naturo dan yang lainnya. Naruto hanya bisa menggeleng-geleng melihat sifat kekanakan ibunya.

"Bagaimana?"

Naruto menatap Kyuubi yang tersenyum padanya. "Mereka memberikan restu mereka."

"Syukurlah."

"Kyuubi, terima kasih. Kalian semua selalu mengikuti permintaan egoisku dan tidak pernah mengeluh. Kalian juga tidak pernah meninggalkanku dan selalu ada untukku. Aku sayang kalian."

Kyuubi mengecup keningnya dan menarik Naruto ke dalam pelukannya. "Aku juga menyayangimu. Kau berhak mendapatkan kebahagian, Naru." Naruto mengangguk.

"Mama, aku juga ingin peluk Mama."

Kurama menarik-narik kimono Naruto untuk mendapatkan perhatiannya. Kyuubi melepaskan pelukannya agar Naruto dapat berjongkok dan memeluk Kurama. "Mama sayang Kurama."

Kurama mengalungkan tangan kecilnya ke leher Naruto. "Kurama juga sayang Mama." Keduanya terkikik dan melepaskan pelukan masing-masing.

Kurama dan Kyuubi menaiki beberapa permainan lagi dan Naruto masih hanya mengikuti mereka dan menonton dari bangku. Lelah sekali rasanya walaupun dia tidak terlalu banyak bergerak. Dadanya terasa sedikit sakit. Naruto mengambil obat dari tasnya dan meminum beberapa pil untuk menghilangkan rasa sakitnya. Tinggal sedikit lagi, dia harus bertahan. Setelah berbicara dengan Sasuke semuanya akan berakhir, baik maupun buruk.

Pukul lima sore kelimanya memasuki mobil dan pergi ke suatu restoran untuk makan malam. Sayang sekali ketika sedang asik menyantap menu makanannya, sebuah panggilan mengharuskan Minato dan Kushina pergi. Naruto, Kyuubi dan Kurama menikmati makan malam mereka sedikit lebih lama dan berbincang mengenai rencana mereka nanti jika Naruto sudah sembuh total.

"Kita bisa pergi piknik bersama ke pantai dan berenang sepuasnya. Atau mungkin kau bisa menantang Gaara satu pertandingan basket dan mengalahkannya."

"Haha, itu bisa saja." Naruto meminum coklat hangatnya dan melihat ke sekeliling. "Apa hanya aku saja atau beberapa orang disini memperhatikan kita?"

Kyuubi ikut melihat sekeliling dan menyadari yang dikatakan Naruto benar. "Mungkin saja mereka berpikir kita ini pasangan muda bahagia. Lagipula Kurama sedikit mirip denganmu karena mata kalian, tidak heran jika mereka berpikir dia memang anakmu."

"Hm, benar juga." Kurama sedang fokus pada makannya dan tidak begitu memperhatikan yang lain. "Tapi aku memang Mamanya."

Kurama menghentikan kunyahannya dan menatap Naruto sambil tersenyum. "Mama Kurama yang paling hebat."

Hari sudah larut dan Kurama juga sudah mulai mengantuk. Setelah perutnya kenyang anak itu naik ke pangkuan Ayahnya dan tertidur. Kyuubi mengantar Naruto terlebih dahulu ke rumah Uchiha sebelum akhirnya benar-benar pulang. Naruto melambaikan tangannya pada mobil yang semakin menjauh.

"Aku pulang."

"Nak Naru, bagaimana acaranya? Sudah bicara dengan Ayah dan Ibumu?" Mikoto baru saja akan naik ke kamar saat mendengar Naruto masuk. Naruto mengangguk dan tersenyum yang dibalas dengan senyuman juga oleh Mikoto. "Oh iya, Itachi dan Sasuke juga baru saja pulang lima belas menit yang lalu. Kau sebaiknya istirahat, Ibu juga mau istirahat."

"Iya, Bu."

Naruto membuka pintu kamarnya dan semuanya gelap. Bukankah Sasuke sudah pulang? Apa dia sudah tidur? Dia menyalakan lampu dan mendapati Sasuke sedang duduk diam di kursi dekat jendela. "Sasuke kau masih terjaga, kenapa lampunya tidak dinyalakan?" Tidak ada jawaban dari Sasuke, dia bahkan tidak mau memperlihatkan wajahnya yang menurut Naruto aneh. "Aku ganti baju dulu."

Naruto mengambil pakaian ganti dari lemarinya dan masuk ke kamar mandi. Dia mengganti pakaian keluarnya dengan kimono tidur. Setelah mencuci muka dia pun keluar dan dilihatnya Sasuke masih terduduk di tempat yang sama.

"Sasuke, kau tidak tidur?" Naruto merasa semakin aneh ketika tidak kunjung mendapat jawaban dari suaminya. Dia pun mendekat dan menyentuh pundak Sasuke. "Sasuke, ada ap…"

Kata-katanya terpotong dan Naruto tidak yakin apa yang baru saja terjadi. Mengapa dia melihat lantai kamar dan bukannya Sasuke? Mengapa pipi kirinya terasa perih? Mengapa dadanya terasa sakit? Apa yang terjadi?

"Penipu." Satu kata yang keluar dari mulut Sasuke menyadarkannya dari keterpakuan. Naruto perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat Sasuke. Begitu tersentaknya dia ketika melihat api kemarahan di mata yang biasanya melihatnya dengan penuh kelembutan. Naruto tidak sanggup berkata-kata. "Kau beraninya menipuku seperti ini. Apa maumu?"

Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Sasuke. Apa maksudnya? Tiba-tiba saja dia mengingat semua yang telah terjadi dan apa yang sudah disembunyikannya. Apa Sasuke sudah tahu? Dari mana? "Sasuke, aku…"

"Padahal sudah kubilang kau bebas melakukan apa saja di rumah ini asal tidak mencoreng nama Uchiha. Tapi kau malah melakukan semua hal ini? Aku tidak tahu berapa banyak kebohongan lagi yang kau simpan."

Dadanya terasa sakit. Tidak seharusnya ini terjadi seperti ini. Dia memang berniat memberitahu Sasuke semuanya, dia ingin Sasuke tahu, tapi tidak seperti ini. Tidak seharusnya. "Sasuke dengar, aku akan jelaskan semuanya dari awal. Tolong dengarkan semuanya, setelah itu kau boleh melakukan apa saja. Kumohon."

"Kau bahkan tidak menyangkal apapun. Kau…" Sasuke menutup matanya dan mengepalkan kedua tangannya. Napasnya memburu, terlihat jelas dia sednag menahan amarah. "Murahan."

Lagi-lagi dadanya terasa sakit. Dia tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu dari Sasuke. Dia tidak sanggup. "Sasuke."

Tawa getir Sasuke terdengar sangat menyedihkan di ruangan yang tidak terlalu besar itu. "Kau tahu? Kau itu adalah seorang aktor yang sangat hebat. Kau berhasil menipu kami semua. Bahkan kau berhasil membuatku berpikir bahwa aku…" Sasuke menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu sudah tidak penting lagi. Aku tidak ingin melihatmu. Pergilah sebelum aku melakukan sesuatu padamu." Sasuke berbalik memunggungi Naruto.

"Tapi, Sasuke…"

"Kubilang pergi!"

Perlahan dengan enggan kedua kakinya membawa Naruto menjauh dari Sasuke dan meninggalkan kamar mereka. Bukan hanya dadanya, kepalanya pun terasa begitu sakit sekarang. Naruto tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia sudah siap dengan segala konsekuensinya ketika dia harus berbicara pada Sasuke. Tapi semua ini terjadi begitu cepat dan tidak seharusnya Sasuke tahu sebelum dia yang mengatakannya. Mengapa bisa begini?

Dengan lemas kakinya kembali melangkah dan naik menuju lantai dua. Saat sampai di depan pintu kamar, Naruto mengetuknya terus-menerus sampai penghuninya keluar. Itachi membuka pintu dengan kesal karena ada yang menganggu istirahatnya. Tapi ketika melihat Naruto yang berdiri di depan kamarnya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan, kekesalannya berganti menjadi kekhawatiran.

"Naru, kau kenapa?" Naruto hanya berdiri diam. Pikirannya sedang terbang kemana-mana dan dia tidak yakin harus berkata apa. "Masuklah."

Itachi mengajak Naruto masuk dan menutup pintu. Dia mengikutinya dan duduk di samping Naruto yang baru saja mendudukkan diri di tempat tidur Itachi. Wajahnya terlihat pucat dan matanya terlihat kosong. Tadi siang Naruto seharusnya berbicara kepada kedua orang tuanya mengenai rencananya. Apa tidak berjalan lancar? Apa mereka tidak menyetujui permintaan Naruto?

"Naru, kau kenapa? Sudah bicara dengan Ayah dan Ibumu?" Naruto hanya menatap pahanya dan tidak menggubris pertanyaan Itachi. Ini membuat Itachi semakin bingung. "Kalau tidak ingin cerita sekarang tidak apa-apa. Kau sebaiknya istirahat, ini sudah waktunya tidur. Sasuke juga pasti menunggumu."

Mendengar nama Sasuke disebut pertahanan Naruto pun rubuh. "Sasuke." Tanpa dia sadari sesuatu yang sudah sangat lama dia tidak alami, sesuatu yang sudah sangat lama dia lupakan terjadi begitu saja. Air mata mengalir dari mata biru Naruto.

Melihat air mata mengalir di pipi Naruto membuat Itachi panik. Bukankan adik iparnya ini sudah tidak ingat bagaimana caranya menangis? Apa yang memicunya sampai bisa menjadi seperti ini? "Naru, ada apa? Apa yang sanggup membuatmu menangis seperti ini?"

"Kakak, aku.. aku…" Naruto semakin terisak dan tidak sanggup meneruskan kata-katanya.

"Naru, berhentilah menangis. Kau sedikit menakutiku. Aku akan panggilkan Sasuke." Itachi bangkit namun tangannya segera ditangkap oleh Naruto.

"Kakak, jangan tinggalkan aku. Biarkan malam ini aku disini. Kumohon."

Tidak bisa menolak permintaan ipar kesayangannya, apalagi dengan keadaan seperti ini, Itachi pun kembali dan memeluk Naruto. "Baiklah, malam ini kau tidur bersamaku. Tapi kau harus bercerita padaku nanti." Naruto tidak menjawab dan hanya memeluk Itachi erat.

Malam itu Itachi tidur dengan seseorang di sampingnya yang memeluknya begitu erat. Air mata Naruto terus mengalir bahkan ketika dia sudah tertidur, membasahi baju Itachi. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi jika sampai bisa membuat Naruto menangis seperti ini. Itachi hanya ingin adik iparnya mendapatkan kebahagiaan, mengapa begitu sulit?

Naruto masih memeluknya saat Itachi bangun keesokan paginya. Setidaknya air matanya sudah tidak mengalir walau masih terlihat jelas bekas tangisan di wajahnya. Itachi keluar dari dekapan Naruto dan bersiap-siap untuk sarapan. Dia belum ingin meninggalkan Naruto seperti ini, tapi dia memiliki tanggung jawab yang harus dia kerjakan.

Itachi melangkah masuk dapur menyapa Mikoto dan Fugaku yang sudah ada disana. Fugaku berbincang sebentar dengan Itachi ketika Mikoto masih menyiapkan hidangan di meja. Tak lama Sasuke bergabung sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya. "Aku pergi dulu." Dia mengambil sepotong roti dan bergegas pergi lagi.

"Tunggu Sasuke, kau tidak sarapan dulu? Nak Naru mana?" Kedua pertanyaan Mikoto tidak dijawabnya. "Kenapa anak itu?" Itachi mengangkat bahunya cuek. Mungkin Sasuke hanya kesal karena semalam dia harus tidur sendirian. "Apa nak Naru belum bangun? Ini sudah waktunya sarapan."

"Naru ada di kamarku. Biar kubangunkan."

Mikoto menahan pertanyaannya tentang mengapa Naruto bisa ada di kamar Itachi karena putra sulungnya itu sudah menghilang dari dapur. "Ada apa dengan pagi ini?"

"Entahlah."

Mikoto duduk dan baru akan menyantap sarapannya ketika teriakan dari Itachi menghentikannya. "Ada apa lagi sekarang?"

Beberapa waktu yang lalu saat Itachi baru saja keluar dari kamar, Naruto membuka matanya dan menyadari dia tidak sedang berada di kamarnya sendiri. Dia mencoba untuk duduk melawan rasa sakit di kepalanya. Saat itulah dia teringat akan semua yang terjadi tadi malam. Dadanya lagi-lagi terasa sakit.

Naruto mencoba untuk turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Dia harus berbicara pada Sasuke, dia harus menjelaskan semuanya. Mungkin saja Sasuke akan mengerti jika dia jelaskan, dia harus mencobanya. Dia belum ingin kehilangan Sasuke. Naruto berhasil berjalan keluar kamar dan menuju tangga. Sakit di kepalanya benar-benar membuatnya tidak sanggup berjalan dengan benar. Di saat yang sama Sasuke keluar dari dapur dengan terburu-buru. Naruto melihat punggung Sasuke yang perlahan menjauh. "Sasuke." Dia mencoba memanggilnya tapi suaranya begitu pelan tidak terdengar oleh telinga Sasuke yang sudah semakin menjauh.

Sakit sekali rasanya menyadari orang yang kita cintai membenci kita. Sasuke bahkan tidak ingin melihat wajahnya lagi. Semuanya terlalu menyakitkan. Mengingat kata-kata yang Sasuke lontarkan tadi malam membuat air mata kembali mengalir di pipi Naruto. Jantungnya tiba-tiba saja terasa sangat sakit seperti akan meledak. Organ tersebut bedetak sangat keras dan Naruto tidak dapat menahan rasa sakit itu kehilangan kesadaran.

Saat Itachi menemukannya, Naruto sudah tergeletak tidak sadarkan diri di bawah anak tangga dengan luka di kepalanya dan mengeluarkan darah. Itachi segera menghampiri Naruto dan berteriak memanggil ayah dan Ibunya. Mikoto hampir saja jatuh pingsan saat melihat darah yang mengalir dari kepala Naruto. Dia menangis begitu keras tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Ayah, kunci mobil ada di kamarku. Kita harus segera membawa Naru ke rumah sakit. Ibu berhentilah menangis dan bantu aku membawa Naru ke mobil." Itachi mencoba untuk bekepala dingin walau sebenarnya tangannya sedikit gemetar saat menggendong Naruto. Dia bahkan sudah tidak sempat lagi berpikir apa yang menjadi penyebab semua ini. Dia hanya takut akan pikirannya sendiri, dia takut jika dia tidak bisa menyelamatkan adik iparnya. "Naru, bertahanlah."


Ini hanya perasaanku, tapi mungkin memang sedikit ada perubahan dari penulisanku. Apa karena terburu-buru ya? Semoga kalian masih tetap bisa menikmatinya. :)