Title : It's Not All About Money Chapter 7

Pairing : KaiHun, HanHun, etc

Cast : EXO and others

Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort

Rate : T

.

.

.

Gak kerasa udah chapter 7 lagi. Pengen rampungin ff ini sebelum hiatus buat fokus skripsi sama kerjaan saya nulis artikel. Ini ceritanya pasti makin ngawur dan gak jelas xD Soalnya satu yang bikin susah mendalami karakter Sehun disini karena dia sekarang jadi cowok banget. Pengaruh hair style kali ya xD Tapi meskipun kaya gitu dia tetep aja polos dan so princess banget ㅋㅋㅋㅋ Apalagi saat dia nutup matanya pas kissing scene Trouble Maker itu dan jadi pusat perhatian Hyungdeul LOL.. Cute to the max ㅠㅠㅠㅠ #SaveSehun Well it's KaiHun time!^^

.

.

.

Sehun menekuri alamat yang diberikan Tao kepadanya. Sesekali kakinya tersandung aspal karena tak memperhatikan jalan di depannya. Matanya dengan jeli memperhatikan nomor pada pagar rumah yang berderet sepanjang jalan. Namun ia tak juga menemukan alamat yang tertera di ponselnya.

"Apa dia memberiku alamat yang salah?" langkahnya harus terhenti sejenak kemudian berniat untuk menghubungi Tao kembali. Saat ponselnya menggantung di udara tiba-tiba suara di belakangnya membuatnya harus memutar bola matanya risih.

"Ya! Kau berniat meninggalkanku di dalam taksi?" teriaknya nyaring dengan langkah yang semakin mendekat. Sehun mendesah kesal. Ia berbalik dan terpaksa harus menghadapi remaja labil yang sengaja ia tinggal saat tertidur. Padahal ia berharap jika sopir taksi itu akan membawanya pergi menjauh lalu menurunkannya sesuka hati. Namun nyatanya ia malah terbangun dan kini menemukan keberadaannya disini.

"Heol~! Kenapa kau mengikutiku eoh?" mata Sehun memberi isyarat tak suka. Jongin melipat kedua tangannya di depan dada kemudian tersenyum meremehkan.

"Memangnya ada peraturan yang melarangku untuk mengikutimu, Oh Sehun-ssi?" seringainya semakin tercetak jelas.

"Tentu saja! Kau tak memberiku privasi! Aku bisa saja menuntutmu dengan tuduhan merusak privasi orang lain!" sungut Sehun kesal.

"Keurae. Tapi bukankah semuanya bisa diselesaikan dengan uang?" ia tersenyum penuh kemenangan. Sehun menurunkan bahunya seraya mendesah malas.

"Terserah kau." Ia pun berbalik dan menggusur kopernya yang terasa berat dengan sedikit tenaga. Kim Jongin selalu saja melibatkan kata 'uang' dalam setiap pembicaraannya. Ia benar-benar muak.

"Kau tak bisa menuntutku—ya!" Jongin berjalan dengan cepat untuk mengimbangi langkahnya dengan Sehun.

"Hei, aku benar-benar tak tahu tempat ini! Kau tidak berniat meninggalkanku disini kan? Aku masih anak dibawah umur kau tahu? Isshh bahkan Abeoji memblokir kartu kredit dan ATM-ku karena dompetku hilang. Sial!" ceroscos Jongin panjang lebar. Sehun meliriknya melalui sudut mata hazel-nya.

"Apa peduliku? Mau kau tidur di jalan sekalipun itu bukan urusanku!" ujar Sehun ketus. ia semakin mempercepat langkahnya dan tak ingin berjalan berdampingan bersama Jongin. Ia sudah kesal setengah mati terhadap anak itu. Perkataan tak sopan yang selalu spontan meluncur dari mulutnya membuat telinganya sakit. Namun baru beberapa langkah Sehun berjalan, ia menghentikan langkahnya secara mendadak.

"Chajatta!" mata Sehun membulat. Ia memperhatikan sekali lagi—mencocokkan alamat yang tertera di ponselnya dan pagar rumah di depannya.

Jongin menatap punggung yang terdiam itu. Ingin sekali ia melontarkan sebuah pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di otaknya. Namun ia sudah menebak apa yang akan Sehun katakan nanti.

"Sehunnie?" suara familiar itu membuat Sehun menolehkan kepalanya ke samping kanan, diikuti oleh Jongin. Ia mendapati Tao yang berjalan mendekat dengan masing-masing paper bag berisi belanjaan di kedua tangannya.

"Tao-ah!" wajah Sehun tampak berbinar. Ia merasa peluh yang keluar dari tubuhnya tak terbuang sia-sia.

"Kau sudah menunggu lama? Minseok Hyung sepertinya masih belum pulang." Mata pandanya kini beralih pada sosok tinggi berwajah ketus di samping Sehun.

"Nuguya?" ujar Tao ingin tahu. Sehun memberengutkan wajahnya seraya melirik Jongin sinis.

"Dia—"

"Hyung, Oh Sehun ini sedang menculikku!"

"Mwo?!"

...

...

...

"Sehunnie, Jongin-gun, ramyeonnya sudah jadi!" teriak Tao dari arah dapur. Sehun yang kini tengah menghakimi Jongin dengan tatapan matanya sama sekali tak melepaskan objek empuk yang kini tengah duduk diatas sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Ne! Jamkanman!" ujar Sehun membalas teriakan Tao. Hanya terdengar gumaman sebagai respon dari jawabannya. Ia kembali memicing. Duduk di tepi ranjang tanpa melepaskan sedikitpun matanya dari sosok di depannya.

"Neo—jangan macam-macam, arasseo?! Aku tak akan segan-segan menendangmu keluar dari rumah ini!" peringatan Sehun membuat Jongin gerah. Ia melepaskan blazernya kemudian membuka 3 kancing teratas seragamnya.

"Isshh kenapa disini begitu panas?" ia pura-pura tak mendengar gertakan Sehun. Beranjak dari sofa kemudian membuka pintu kaca yang langsung menghubungkan kamar Sehun dengan teras balkon. Jongin terdiam. Merasakan terpaan angin yang menyapu wajahnya. Matanya terpejam sesaat—bahkan bentakan Sehun yang terdengar memekakkan tak begitu ia pedulikan. Tetap memejamkan mata sambil menghirup udara malam yang menurutnya terasa begitu sejak pada saluran pernapasannya.

"Aisshh neo jinjja?" Sehun yang merasa diacuhkan menghentak kakinya kasar. Ia hendak meninggalkan Jongin namun segera mengurungkan niatnya saat dilihatnya siluet wajah Jongin yang tertempa cahaya bulan. Tak ada kebencian disana. Tak ada keegoisan yang tergambar disana. Hanya sosok rapuh dengan tatapan kesepian yang memancarkan kesedihan mendalam. Sehun terpaku disana. Entah kenapa kesedihan itu dapat begitu ia rasakan. Ia sedikit tahu bagaimana kehidupan Jongin—hubungan ayah dan anak yang jauh dari kesan harmonis.

Jongin yang merasa tengah ditatap Sehun, segera melirik dengan cepat dan menyorot mata hazel itu dengan onyx hitamnya. Sehun cukup terkejut dengan tatapan tiba-tiba yang ia dapat.

"Mwo?" nada tak suka terdengar begitu kentara. Sehun menggeleng dengan cepat dan segera membalikkan tubuhnya.

"A—aniyo!" ucapnya tegas. Tangannya meraih handle pintu lalu segera keluar dari kamarnya—meninggalkan Jongin yang hanya bisa melihat punggungnya yang menghilang di balik pintu.

...

...

...

"Tak apa 'kan jika makan malamnya hanya ramyeon saja?" ujar Tao disela makannya. Sehun hanya mengangguk. Namun matanya segera beralih pada pintu kamar yang tertutup rapat.

"Tapi dia—"

"Hmm?" Tao mengikuti arah pandang Sehun.

"Lupakan. Jangan terlalu dipikirkan." Ia menyumpit ramyeonnya dan memakannya dengan lahap.

"Maaf sudah merepotkanmu. Ini benar-benar diluar rencanaku." Sehun tersenyum miris. Mulutnya mengunyah dengan pelan tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari mangkuk yang masih penuh.

"Sehunnie, ini bukan apa-apa. Siapa bilang jika kau membuatku repot? Justru aku senang jika kau kembali ke sisiku." Tao tersenyum tipis sambil menatapnya. Sehun membalasnya canggung. Ada perasaan bersalah yang begitu dalam. Ia sadar jika persahabatannya dengan Tao mulai merenggang sejak Sehun menjadi kekasih Lu Han. Terlebih mereka harus berpisah setelah lulus SMA. Terang saja jika Tao mengatakan hal itu sekarang.

"Maaf." Ujarnya singkat. Tao tak mengangguk ataupun menggeleng. Ia hanya merespon permintaan maaf Sehun dengan senyuman. Kemudian keduanya kembali terdiam—tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Ngomong-ngomong Jongin-gun—" Tao yang hendak mengembalikan suasana harus memotong ucapannya sendiri ketika pintu kamar yang ditempati Sehun dan juga Jongin terbuka dengan lebar lalu menampilkan sosok Jongin yang sedikit berantakan berjalan ke arah mereka.

"Baru saja aku akan menyuruh Sehun untuk memanggilmu. Mokgora! Kudengar dari Sehun kau itu anak orang kaya, machi? Maaf jika kau tak terbiasa dengan makanan seadanya seperti ini." Ceroscos Tao panjang lebar—namun lebih terdengar sepert sindiran dan kemudian ia harus mendapat pelototan dari Sehun. Padahal sebenarnya Tao sama sekali tak bermaksud untuk menyindirnya. Sementara Jongin menatap Sehun tajam kemudian memasang wajah polosnya kembali saat berhadapan dengan Tao.

"Sehun Hyung bahkan tak mengijinkanku untuk keluar dari kamar. Ia menginginkanku mati kelaparan di dalam sana!" Jongin memajukan bibir bawahnya—membuat Sehun menyimpan sumpitnya dengan kasar disamping mangkuk.

"Ya! Aku sama sekali tak mengatakan hal itu padamu! Jangan memfitnahku ya!" sentak Sehun tak terima.

"Jinjja? Kau tadi mengatakan itu, Hyung." cibir Jongin lagi dengan seringai tipis tercetak di wajahnya. Tentu saja Tao tak melihatnya. Pria bermata panda yang tengah memperhatikan tingkah mereka berdua hanya memasang senyum masamnya. Kepalanya menggeleng pelan sambil menatap Sehun tak percaya—karena Sehun beradu mulut dengan anak kecil dan hal itu membuatnya terlihat sangat kekanakkan.

"Geumane. Jongin-gun, duduklah. Jangan dengarkan Hyung ini. Dia memang seperti itu. Kau tahu? Sehun itu sebenarnya kasihan padamu. Hanya saja ia tak tahu bagaimana harus mengekspresikannya—"

"Mwoya? Kasihan? Aku sama sekali tak kasihan padanya!" potong Sehun cepat. Jongin kembali menyeringai kecil.

"Tentu saja. Seharusnya aku yang mengasihanimu. Kau kan mis—" Jongin membungkam mulutnya sendiri saat dilihatnya Sehun tampak mengerti dengan arah pembicaraannya. Pria pucat itu menundukkan kepalanya sambil mengaduk ramyeon yang sejak tadi tidak terjamah.

"Lupakan." Timpal Jongin lagi seraya menyumpit ramyeon yang mulai mendingin. Tao menatap mereka berdua heran karena suasana tiba-tiba berubah canggung.

"W—wae?" ujarnya tak mengerti. Namun tak ada seorang pun dari mereka yang merespon pertanyaannya. Dan kecanggungan tersebut semakin terasa saat Sehun tiba-tiba saja mendorong kursinya ke belakang.

"Aku sudah selesai." Sehun berujar datar. Ia melangkahkan kaki panjangnya menuju kamar—menutup pintu dengan perlahan tanpa menyisakan kata apapun lagi.

"Kenapa dia?" Tao menatap Jongin heran. Namun bocah di depannya itu hanya mengangkat kedua bahunya kemudian melempar tatapannya pada daun pintu yang tertutup rapat.

...

...

...

Gemeratak gigi yang saling menekan dan bergesekan menggambarkan kemarahan yang begitu jelas. Rahangnya yang terkatup rapat menjadi bukti nyata jika ia kini tengah menahan emosinya yang sejak tadi meletup hingga tingkat teratas. Perasaannya begitu campur aduk. Ditambah jalanan Seoul yang tampak padat merayap membuat ubun-ubunnya terasa disiram air mendidih sehingga ia harus mampu mengontrol emosinya untuk tidak menghantam mobil-mobil di depannya dengan sengaja untuk melampiaskan kekesalannya.

Lu Han memegang kemudi begitu erat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam ponselnya yang sudah ingin ia banting sejak tadi—sejak Sehun sama sekali tak mengangkat panggilannya ataupun membalas pesannya. Terang saja, nomor Sehun masih belum aktif juga hingga benda putih itu kembali mendarat di telinganya, Lu Han kembali menggeram. Jawaban yang sama dari mesin operator membuatnya begitu muak.

Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..

Getaran yang ia rasakan pada telapak tangannya membuatnya segera menatap layar ponsel dengan cepat dan mendapati nama 'Jongdae Hyung' tertera disana. Tanpa basa-basi lagi ia segera mengangkat panggilannya. Namun jawaban yang ia dapat tak sesuai dengan harapannya.

"Jinjja? Kau tak menemukan jejaknya?"

"Ne. Dan—kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang dia padaku? Oh Sehun-ssi sudah berhenti menjadi tutor Tuan Muda, bahkan di hari pertamanya bekerja. Atau—apa Tuan Muda membuat masalah lagi dengannya?" Ujar Jongdae diliputi rasa penasaran. Lu Han lupa jika tak ada satu orang pun dari pihak keluarga angkatnya yang mengetahui mengenai hubungannya dengan Sehun.

"Aniyo." Jawabnya singkat.

"Ngomong-ngomong apa kau bertemu Tuan Muda hari ini?" Jongdae kembali melontarkan pertanyaan padanya.

"Ani. Wae?"

"Begitu? Sepertinya dia ingin membuat masalah lagi. Sampai detik ini ia sama sekali belum terlihat pulang ke rumah."

"Mwo? Aisshh! Anak itu! Kapan terakhir kali kau menghubunginya?" Lu Han kini harus membagi kembali perhatiannya pada jalanan yang mulai kembali normal. Mobilnya sudah bisa berjalan walau perlahan.

"Kau tahu sendiri jika Tuan Muda akan selalu mengabaikan panggilan dari orang rumah."

"Merepotkan! Aku akan mencarinya dan menyeretnya pulang. Dia memang harus diberi pelajaran!" geram Lu Han yang kini mulai menginjak gas dengan kuat saat mobilnya berbelok ke jalanan lengang. Ia melaju dengan cepat—seolah tak sabar ingin segera menemukan Jongin yang entah pergi kemana. Padahal tanpa Lu Han ketahui, kedua orang itu kini tengah bersama—Sehun dan juga Jongin.

...

...

...

Yixing tampak terduduk seorang diri di salah satu meja di restoran hotel untuk menyantap makan malam super telatnya. Menu masakan Cina menjadi pilihannya. Namun meskipun begitu ia terlihat tak terlalu menikmati makanannya. Sesekali tangannya menyendok makanan namun kembali menjedanya—jarinya sibuk menggeser layar iPad yang sengaja ia letakkan di atas pahanya. Tepat saat tangannya hendak menyuapkan makanannya kembali ke dalam mulut, ia spontan menghentikan kegiatannya. Beberapa email masuk membuatnya meletakkan iPadnya diatas meja. Satu per satu ia buka email tanpa subject itu dan matanya membulat saat satu nama itu muncul di awal kalimatnya.

"Kris? Dia di Korea?"

...

...

...

Sehun bergerak dengan gelisah dibawah selimutnya. Ia masih terjaga padahal waktu menunjukkan hampir tengah malam. Ia menegakkan tubuhnya kemudian sedikit melongokkan kepalanya untuk melihat anak tengil yang tampak tenggelam dalam mimpinya. Tampaknya ranjang membuat tidurnya begitu nyenyak. Sementara ia harus tidur dengan menggelar kasur diatas lantai. Anak sialan! Sehun memang terlalu baik. Camkan itu! Atau lebih tepatnya ia tak ingin memperpanjang masalah dan membuat keributan hanya karena satu ranjang yang tampak begitu hangat dan empuk. Ia hanya bisa mendesah dengan kasar. Matanya kini beralih pada ponsel yang ia letakkan diatas nakas disampingnya. Tangannya meraih benda itu kemudian menatapnya ragu. Jika ponselnya ia nyalakan sudah pasti akan sangat banyak panggilan dan pesan masuk dari Lu Han. Dan jarinya bergerak untuk menghidupkan kembali ponselnya yang sudah seharian ini ia matikan. Dan benar saja, benda tipis itu bergetar tanpa henti ketika pesan-pesan yang dikirim sejak tadi pagi berebutan untuk masuk. Tanpa melihat nama si pengirim, ia sudah tahu pesan siapa yang mendominasi. Sehun membuang nafasnya seraya melempar ponselnya ke atas kasur lalu beranjak dari tempatnya kemudian berjalan dengan perlahan ke arah pintu—meninggalkan Jongin yang tanpa ia tahu belum benar-benar terlelap dalam tidurnya.

Jongin membuka matanya sesaat setelah Sehun menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Ia merubah posisinya menjadi duduk. Cahaya berpendar yang hanya berasal dari lampu meja diatas nakas membuatnya harus memicingkan mata. Dan telinganya masih cukup sehat untuk mampu mendengar dengan jelas suara pintu depan yang ditutup dengan perlahan. Dengan cepat ia berjalan ke arah jendela lalu mengintip dari balik tirainya. Benar saja. Sehun berjalan keluar rumah dan entah akan pergi kemana. Jongin menautkan kedua alisnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk sekedar berjalan-jalan mencari angin. Otaknya terus berputar dan berbagai tanda tanya muncul disana. Matanya menangkap keberadaan ponsel yang ditinggalkan begitu saja oleh si pemilik. Layarnya terus menyala pertanda pesan-pesan tersebut masih belum berhenti memenuhi inboxnya. Jongin bukan orang yang terlalu senang mencampuri urusan orang lain. Namun entah kenapa tangannya tiba-tiba saja bergerak untuk meraih ponsel tersebut. Ia terkejut saat dilihatnya ada hampir seratus pesan masuk yang Sehun terima. Matanya membulat. Dan getaran panjang membuatnya terperanjat kaget. Nama yang begitu ia hapal tiba-tiba saja muncul pada layar smartphone tersebut. Jongin semakin mengerutkan dahinya bingung. Panggilan itu terhenti beberapa detik kemudian kembali menggetarkan ponselnya. Tiba-tiba sebuah dugaan yang selama ini ia pendam menyeruak di dalam benaknya. Ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan kemudian memutar bola matanya tak percaya.

"Jadi orang itu kau, Oh Sehun?" ujar Jongin seraya menyentuh icon untuk menjawab panggilan dari Lu Han.

"Yeoboseyo?"

"OH SEHUN! KAU DIMANA EOH? KENAPA KAU BARU—"

"Aku Jongin, Hyung. Bukan Oh Sehun."

...

...

...

"Kembaliannya."

"Kamsahamnida." Sehun mengambil kantong belanjaannya dan berjalan ke arah kursi di dalam minimarket. Tubuhnya ia daratkan disana. Kemudian tangannya mengeluarkan sekaleng bir dari kantong belanjaannya lalu membuka tutup can dan segera meminumnya. Tenggorokannya berubah hangat saat cairan itu mengalir disana mengingat udara diluar begitu dingin. Mata hazelnya memperhatikan jalanan yang masih cukup ramai oleh pejalan kaki. Ia memerosotkan kepalanya hingga menelungkup diatas meja.

"Ahh jinjja~"

"Boleh duduk disini?" suara berat di belakangnya membuat kepalanya kembali menegak. Sehun menoleh—mendapati sosok pria tinggi berambut blonde yang kini sudah duduk disampingnya. Ia pun meletakkan satu kantong belanjaan diatas meja lalu mengeluarkan sebotol yoghurt dari sana.

"Apa kau sudah cukup umur untuk meminum bir?" ujar pria itu ingin tahu. Sehun menatapnya sedikit tajam. Menurutnya orang itu terlalu ikut campur dan sok kenal padanya.

"Eoh? Memangnya kenapa? Aku sudah 21 tahun." Jawab Sehun datar yang kemudian kembali meneguk birnya. Sementara pria disampingnya hanya terkekeh pelan.

"Hahahahahaha kau tak mengingatku?" tiba-tiba ia tertawa cukup keras. Sehun kini mengalihkan tatapannya pada pria disampingnya itu.

"Ne? Apa kita pernah bertemu?" Sehun semakin mengerutkan dahinya. Ia menatap lekat-lekat si pemilik wajah tampan di sampingnya. Matanya mengerjap cepat sementara otaknya berusaha mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan orang aneh ini.

"Kurasa pola hidupmu benar-benar harus dirubah. Pertama, aku hanya melihat ramyeon dan softdrink di dalam kantong belanjaanmu tempo hari. Dan sekarang aku menemukanmu duduk disini padahal ini sudah waktunya tidur untuk anak kecil seperti kau dan kau malah meminum bir tengah malam seperti ini." komentar Kris yang notabene adalah guru olahraga yang selalu menjalankan pola hidup sehat untuk kebugaran tubuhnya. Sehun dibuat melongo karena ucapannya. Dan sepertinya ia ingat dimana pernah bertemu dengan orang ini.

"Ah! Neo? Kau kan?"

"Ingat?" Kris memamerkan senyum manisnya sementara Sehun mengangguk dengan mantap.

"Eoh! Tentu saja! Ini benar-benar kebetulan. Kau juga, kenapa berada disini tengah malam begini?" Sehun memberinya pertanyaan yang sama. Kris terkekeh kecil.

"Rutinitas?"

Sehun mengerutkan dahinya lagi, "Rutinitas?"

Kris mengangkat minumannya di depan Sehun.

"Persediaan yoghurtku habis. Dan kebetulan aku menemukan minimarket ini. Ngomong-ngomong kau tinggal disekitar sini? Bukankah dulu aku bertemu denganmu di tempat berbeda?" Kris terlihat seperti menginterogasi Sehun. Ia terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Namun Sehun tak keberatan—setelah ia tahu jika pria ini adalah pria yang menurutnya mirip salah satu karakter di dalam manga.

"Ah, itu tempat tinggal lamaku. Sekarang aku pindah di sekitar sini." Ia tersenyum tipis sambil menggoyang-goyangkan can bir di tangannya. Kris hanya mengangguk pelan. Namun seketika air mukanya berubah ketika mata tajamnya mengarah pada satu titik.

"Bocah itu. Jamkanman, aku harus menyelesaikan urusanku dulu dengan muridku." Kris beranjak dari duduknya lalu pergi keluar minimarket.

"Huh?" Sehun memalingkan wajahnya keluar kaca. Ia terkesiap saat didapatinya Jongin sudah berdiri disana hanya dengan berbalut celana pendek yang Sehun pinjamkan untuknya dan juga sebuah mantel berwarna biru tua. Jongin yang semula menatapnya, kini beralih menatap tajam Kris yang berjalan mendekat ke arahnya. Sehun ikut beranjak dari duduknya dan berjalan keluar minimarket dengan terburu.

"Kau tahu ini jam berapa?" pertanyaan Kris terdengar seperti aturan. Kedua tangannya terlipat di depan dada sementara Jongin masih menatapnya tajam.

"Mian. Aku tak melihat jam terlebih dahulu saat keluar rumah." Jawabnya asal. Kris mengangkat sebelah sudut bibirnya seraya memutar bola matanya kesal.

"Mianhae, apa kalian saling mengenal?" tiba-tiba suara Sehun memecah ketegangan diantara mereka. Kris menoleh ke arahnya.

"Dia murid 'spesial' ku."

"Mwo?"

"Mian Saem. Aku tak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu. Eomma akan marah jika aku tak segera membawa Hyung pulang yang selalu berkeliaran tengah malam seperti ini." Jongin tanpa aba-aba segera menarik kupluk hoodie Sehun hingga pria pucat itu terpaksa harus mengikutinya.

"Ya! Lepaskan aku! Kim Jongin!" Jongin menyeret Sehun pergi menjauh dari Kris yang masih berdiri disana dengan tatapan membunuhnya. Ia menatap keduanya dengan intans hingga sosok mereka menghilang di balik tikungan.

"Kenapa aku merindukanmu?" gumam Kris pelan yang hanya terdengar olehnya sendiri kemudian ia menyeringai tipis sebelum kembali ke dalam minimarket untuk membawa belanjaannya yang tertinggal disana.

.

.

"Nawa!" Sehun berusaha melepaskan genggaman tangan Jongin pada hoodienya. Ia benar-benar yakin jika Jongin memang berniat untuk membunuhnya karena lehernya kini terasa tercekik karena genggaman Jongin yang terlalu kuat.

"YA!" dan tangan Sehun berhasil menepis tangan itu pada akhirnya. Sehun dapat bernafas lega. Ia menatap Jongin yang sama sekali tak berkomentar apapun setelahnya.

"Neo mwohae?! Kenapa kau tiba-tiba menyeretku dari sana? Dan apa kau bilang tadi? Eomma? Sejak kapan aku dan kau punya Eomma yang sama—"

"Apa begitu caramu menggoda pria? Keluyuran tengah malam lalu mencari mangsa baru untuk sekedar kau gerogoti uangnya." Pernyataan tajam Jongin membuatnya diam seketika. Ia merasa tak terima dicap seperti itu oleh anak kecil seperti Jongin yang hanya salah paham dan tak mengerti apapun.

"Apa maksudmu?" dengus Sehun yang kini menghentikan langkahnya di belakang Jongin.

"Cih. Apa sekarang kau sedang beracting sok polos? Murahan." Jongin melangkahkan kakinya kembali tanpa menoleh ke arah Sehun. Mata hazelnya terasa panas dan memburam. Ia segera saja menyusul langkah Jongin lalu menarik bahu tegap itu hingga berbalik menghadap ke arahnya.

"Jaga mulutmu itu!" dan air mata Sehun tak dapat ditahan lagi. Ia segera menghapusnya dengan kasar lalu meninggalkan Jongin yang kini menatapnya sambil mendengus pelan.

...

...

...

TOK TOK TOK

Suara ketukan pintu kamar yang ditempati Sehun membuat pemilik sepasang mata hazel itu mengerjap. Ia menggeliat pelan kemudian membuka matanya sedikit demi sedikit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.

TOK TOK TOK

"Sehunnie, ireona!" bukan suara Tao yang ia dengar. Sehun masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Diliriknya ranjang disampingnya. Jongin tak ada disana. Ranjangnya pun tampak sudah rapi dengan selimut terlipat diatasnya. Ia beranjak dari tidurnya, lalu berjalan ke arah pintu dengan agak sempoyongan kemudian membuka pintu dengan perlahan.

"Minseokie Hyung!" matanya yang semula masih setengah menutup, kini membuka seutuhnya.

"Tidurmu nyenyak?" ujarnya seraya mengusek rambut Sehun yang cukup berantakan. Pria tinggi itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Matamu—" Minseok memperhatikan mata bengkak Sehun yang benar-benar tak enak untuk dilihat.

"Aku hanya kurang tidur saja. Semalam harus mempersiapkan bahan mengajar untuk nanti malam." Dusta Sehun padanya. Matanya kini mengedar ke setiap ruangan yang nampak sepi. Ia teringat Jongin yang sudah tak ada di ranjangnya ketika ia bangun. Dan Minseok tampak mengerti dengan gelagat Sehun yang tengah mencari orang-orang.

"Tao baru saja pergi latihan untuk pertandingan wushu minggu depan dan temanmu itu—dia sudah berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Apa dia muridmu?"

"Dulu. Ah, aku benar-benar lapar." Sehun mengelus perutnya yang terdengar nyaring. Sebenarnya ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan memuakkan mengenai Jongin. Kakinya berjalan ke arah meja makan lalu duduk di salah satu kursinya. Mulutnya menguap dengan lebar pertanda ia masih membutuhkan tidur beberapa jam lagi.

"Cuci wajahmu dan gosok dulu gigimu! Baru kau akan mendapat sarapan!" seru Minseok pura-pura galak saat Sehun hendak mencomot masakan buatan pria berpipi bulat itu. Sehun memajukan bibirnya dan dengan langkah gontai kakinya ia seret secara paksa menuju kamar mandi.

...

...

...

Jongin dan Lu Han kini tengah duduk berhadapan dengan mata saling memandang tajam. Jongin masih berbalut dengan seragam sekolahnya, sama sekali tak berniat utuk datang ke sekolah dan lebih memilih untuk menemui Lu Han yang harus izin beberapa menit untuk meninggalkan pekerjaannya.

"Katakan padaku." Pinta Lu Han dingin. Ia memperhatikan Jongin yang sejak tadi terlihat sedang mempermainkannya.

"Dengan satu syarat." Ia mengacungkan telunjuknya. Sebelah kakinya ia tumpangkan pada kakinya yang lain—menggoyangkan sepatunya bosan—menunggu persetujuan Lu Han.

"Mwo?"

Jongin menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan. Ia membetulkan posisi duduknya kemudian tangannya meraih gelas berisi coklat panas di depannya lalu menyesapnya.

"Kau tahu kan jika Abeoji begitu banyak membuat aturan untukku—"

"Aku tak bisa menjamin. Apa kau pikir itu pantas kau jadikan syarat agar kau memberitahuku keberadaannya? Benar-benar tak logis! Bersikaplah dewasa jika kau ingin ayahmu tak membuat aturan-aturan seperti itu lagi!" seru Lu Han padanya dengan nada tegas. Untung saja tak banyak pengunjung yang datang pagi itu.

"Jika kau tak mau, aku tak akan memaksa." Jongin mengedikkan bahunya.

"Berhenti bersikap seperti anak kecil! Kau pikir ayahmu hanya memikirkan dirimu saja? Kau tak lihat jika dia begitu sibuk mengurus perusahaan mati-matian? Sementara kau hanya menganggap semuanya lelucon dan omong kosong."

"Lalu apa Hyung tidak bersikap seperti anak kecil? Bermain-main dengan perasaan orang lain lalu harus membuat salah satu atau bahkan keduanya terluka." Jongin menatap Lu Han tajam. Pria berambut karamel itu menautkan keduaa alisnya.

"M—maksudmu?"

"Jangan kau kira aku tak tahu. Bukankah Yixing Hyung kembali? Oleh karena itu hubunganmu dan juga Sehun harus berakhir begitu saja. Cih, memuakkan." Jongin memutar bola matanya malas.

"Jangan mencampuri urusan pribadiku."

"Tapi sayangnya kau sendiri yang menawarkan diri agar aku bisa mencampuri urusan pribadimu. Dan Oh Sehun—dia sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupanku." Jongin dengan cepat berdiri.

"Ya! Kau mau kemana?" bentak Lu Han saat Jongin mulai melangkahkan kakinya.

"Bagaimana jika kukatakan jika itu bukan urusanmu? Urus saja kehidupanmu sendiri!" ia berjalan dengan cepat keluar dari cafe dan meninggalkan Lu Han yang hanya meremat rambutnya dengan kesal.

...

...

...

Jongin masih terduduk di platform stasiun sambil memainkan ponselnya. Sejak pertemuannya dengan Lu Han ia lebih memilih untuk diam di tempat tersebut dan menunggu jam pulang sekolah tiba. Kyungsoo terus saja mengiriminya pesan. Meskipun Jongin masih marah padanya, namun perasaan rindu yang membuatnya sesak selalu saja mengganjal di dadanya.

Ia kembali melirik jam digital di ponselnya. Masih 4 jam menunggu sekolah usai. Akhirnya ia menyerah. Jongin memutuskan untuk meninggalkan stasiun lalu pergi ke suatu tempat untuk mengakhiri rasa penasarannya.

...

...

...

Ia terlihat seperti makhluk asing di mata orang-orang. Sejak kedatangannya, perhatian orang-orang di sekitarnya tak terlepas darinya. Terang saja jika Jongin menjadi pusat perhatian. Baju seragam yang mencolok membuatnya berbeda dari mahasiswa lain disana. Entah angin apa yang membuat kakinya melangkah ke tempat tersebut—universitas dimana Sehun menuntut ilmunya.

Sudah 2 jam berlalu namun di tempat seluas itu bagaimana mungkin bisa menemukan orang yang kau cari. Terkecuali jika kau memiliki informasi detail mengenai orang tersebut.

Jongin bukan tanpa alasan datang ke kampus Sehun. Kejadian kemarin malam membuatnya terus diliputi perasaan bersalah. Ia memang keterlaluan. Jongin tak pernah bisa menyaring ucapannya dan selalu berbicara apa adanya—walau terkadang—bahkan sering—hal itu terlalu menyakitkan.

"Sehun-ah, hari ini aku tak bisa mengerjakan project kita. Mian." Suara seseorang yang berasal tak jauh dari Jongin membuat ia menoleh. Akhirnya Sehun muncul juga! Ia terlihat begitu nerdy dengan buku-buku yang ia peluk di dadanya.

"Gwaenchana. Aku juga haru memberi les privat pada muridku. Aku akan pulang duluan. Annyeong!" Sehun melambaikan tangannya pada yeoja yang menjadi lawan bicaranya. Dan ia setengah berlari meninggalkannya dan tentu saja Jongin pun harus bergerak cepat untuk mengikutinya.

...

...

...

Jongin masih duduk di bangku taman yang terletak persis di sebrang rumah tempat Sehun memberikan privatnya. Sudah berbagai posisi ia coba namun rasa pegal di tubuhnya masih tetap saja ada. Langit yang sudah gelap serta udara yang semakin dingin membuatnya harus mengeratkan blazer yang tak cukup tebal untuk menghalau udara dingin yang berlomba menusuki kulitnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Kembali mengecek ponselnya yang hampir mati.

"Sial!" dan benar saja, selang beberapa detik layarnya mati karena kehabisan batere. Jujur saja ia merasa bosan. Sehun tak kunjung keluar dari rumah di sebrangnya. Ia menyenderkan tubuhnya pada sandaran bangku—mendongakkan kepalanya ke atas. Bintang-bintang yang bertaburan di langit tak begitu banyak, membuat malam terlihat lebih gelap. Dan bintang favoritnya pun tak ada disana. Ia pikir Eommanya sedang ada urusan dengan Tuhan dan tak bisa menemuinya malam ini.

Suara pintu pagar yang berderit di sebrang sana membuat Jongin menoleh dengan cepat. Sehun berjalan dengan cepat meninggalkan rumah besar itu. Jongin pun segera beranjak dari duduknya lalu kembali mengikuti Oh Sehun—masih tetap menjaga jarak dengannya.

.

.

Jongin duduk di deretan kursi paling belakang sementara Sehun duduk pada barisan depan. Mata Jongin tak terlepas dari sosok pria kurus itu. Kepalanya terus menatap keluar jendela bus dan pada akhirnya merapat disana. Rupanya ia tertidur.

"Aishh bahkan di tempat seperti ini?" gumam Jongin pelan. Apa Sehun sering ketiduran di dalam bus? Bagaimana jika haltenya terlewat? Menurutnya Sehun begitu bodoh dan ceroboh. Dan ia tak mengerti dengan selera Lu Han yang dibawah standar seperti itu.

Bus berhenti di halte berikutnya. Sehun menegakkan kepalanya lalu kembali melongokkan kepalanya keluar jendela. Ia tampak terburu dan segera turun dari bus.

"Kenapa dia turun disini?" Jongin mengerutkan dahinya bingung. Obsidiannya memperhatikan Sehun yang berjalan menjauh, baru ia turun dari bus. Kakinya kembali mengikuti langkah Sehun. Daun-daun maple berwarna merah yang berguguran dan berserakan di sepanjang jalan membuat Jongin tertegun. Sehun yang berjalan membelakanginya terlihat seperti malaikat di musim gugur yang akan menghilang bersama angin. Mantel merah Sehun terlihat begitu membaur dengan daun maple yang berjatuhan. Dan matanya kembali mengerjap saat melihat permukaan air tenang di depannya. Jongin baru tahu jika tempat ini terhubung dengan Sungai Han. Ia berhenti ketika Sehun menhentikan langkahnya. Namun sepertinya Sehun bukan berhenti karena dia ingin—melainkan matanya menangkap sesuatu yang tidak ia inginkan. Jongin pun dapat melihatnya dengan jelas. Ia mendengus kasar kemudian mempercepat langkahnya ke arah Sehun—menarik lengan itu hingga berbalik menghadap ke arahnya. Sehun membulatkan matanya dengan kehadiran Jongin yang tiba-tiba. Terlihat dengan jelas gurat kecewa di wajahnya. Sehun sedikit meronta dan memaksa tubuhnya untuk berbalik. Namun Jongin tetap tak melepas genggamannya pada lengannya.

"Mwo?" suaranya sedikit bergetar. Ia tahu itu bukan karena udara dingin. Pemandangan tak enak di depan mereka membuatnya jengah.

"Jangan berbalik."

"Nawa!"

"Kubilang jangan berbalik!" sentak Jongin dengan keras. Ia menghentak tangan Sehun agar tetap menghadap ke arahnya. Air mata itu meleleh di pipinya.

"W—wae?" dan dalam sekali tarik tubuh Sehun merapat pada dada bidang itu. Jongin merengkuh tubuh Sehun di dalam pelukannya. Air matanya turun semakin deras dan isakannya tak bisa ditahan lagi.

"Lu Han Hyung brengsek." Dengus Jongin dengan tatapan tajam yang mengarah langsung pada pria berambut karamel yang tengah menatap ke arah mereka dengan terkejut.

To be Continued

.

.

.

OMG! Sorry untuk update yang lama. Mind to review? Ingin sekali membalas semua review. Mungkin di chapter depan. See yaaaa!^^