Guahahaha, aku ga tahan liat reaksi kalian. Aduduh, maaf ya aku memang sedikit sadis sepertinya. Hehe. Jadi ga sabar nunggu kalian baca akhir dari cerita ini.
Ada yang berkaca-kaca dan bahkan sampai nangis gara-gara chapter kemarin. Seharusnya aku kasih peringatan siapin tisu ya. Tolong jangan salahin Sasuke ya, dia ga tau apa-apa karena semua salah aku yang buat dia nampar Naruto (apaan sih?).
Shi-chan, aku prihatin sama kamu. Aku juga prihatin sama diri aku sendiri punya anak didik kayak kamu. Dari mana sisi sadist kamu tiba-tiba muncul?!
Banyak yang ingin disampaikan, tapi banyak juga yang ingin disimpan sebagai kejutan. Ya sudahlah, ga perlu bimbang. Silahkan baca aja kelanjutannya.
Chapter 14!
Mereka semua menunggu. Kushina, Minato, Itachi, Kyuubi, Kurama, Mikoto, Fugaku, Gaara dan bahkan Neji. Mereka semua menunggu dengan cemas di depan ruang gawat darurat. Semua menunggu Sakura dan dokter lainnya keluar dari ruangan dimana mereka sedang menangani Naruto saat ini dan membawa kabar kepada mereka. Mereka semua ada disana, kecuali Sasuke.
Semuanya menunggu dalam diam. Tidak ada yang berani mengatakan apapun. Mereka semua takut akan apa yang mereka katakan dan juga takut akan jawaban yang lainnya. Tak ada yang berani melakukan apapun selain diam dan menunggu. Bahkan Itachi tidak berpikir untuk mengganti bajunya yang masih penuh dengan bercak darah milik Naruto. Merasakan keheningan dan kecemasan semua orang di sekitarnya, Kurama pun tidak berani berkata apapun dan hanya memeluk ayahnya yang memangkunya.
Semua mata tertuju pada satu arah yang sama ketika pintu ruangan terbuka dan keluarlah Sakura dengan wajah lelah. Kushina melepaskan diri dari pelukan suaminya dan menghampiri dokter berambut merah muda itu. "Sakura, bagaimana Naru?"
"Lukanya sudah dijahit dan tidak ada infeksi. Secara keseluruhan kondisinya sekarang stabil, hanya saja kita belum bisa tahu pasti jika dia belum sadar. Kita masih harus menunggu."
Semuanya bernapas lega untuk beberapa detik sampai kata-kata terakhir Sakura memasuki sistem otak mereka. "Lalu, kira-kira kapan Naru akan sadar?"
Sakura menatap Gaara lalu memandang yang lainnya satu persatu. "Aku tidak tahu pasti, bisa saja besok atau dua hari lagi. Kita berharap saja dia bisa sadar secepatnya. Aku akan menyiapkan segala pemeriksaan untuk nanti jika saja dia tiba-tiba membuka mata."
Mereka semua merasa gelisah tidak mengetahui pasti kapan Naruto akan kembali. Tapi mendengar keadaannya sudah stabil kecemasan mereka semua menurun dan bisa sedikit tenang. Kyuubi sedikit kaget ketika Itachi yang sedari tadi berdiri di sampingnya tiba-tiba menjatuhkan diri ke kursi yang ada di sana dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Itachi, kau tidak apa-apa?" Kyuubi menepuk pundak Itachi dan merasakan sesuatu. "Itachi, kau gemetar. Kau yakin tidak apa-apa?"
Semuanya mendadak melihat Itachi cemas. "Aku tidak telat membawanya kemari, kan? Aku tidak melakukan kesalahan, kan?" Suaranya pun terdengar gemetar. Baru kali ini Mikoto dan Fugaku mendengar suara putra sulung mereka yang begitu menyedihkan. Mereka semua mengerti beban yang sedang dirasakan Itachi karena dia yang pertama kali menemukan Naruto dalam keadaan berlumuran darah.
Kyuubi sedikit bergeser mendekat dan merangkul bahu Itachi. "Kau sudah melakukan yang kau bisa. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Naru pasti akan baik-baik saja." Dengan satu tangannya Kyuubi mengusap-usap lengan Itachi mencoba menenangkannya.
Kurama yang masih duduk di pangkuan Kyuubi pun ikut menggenggam tangan Itachi dan memeluknya. "Papa Tachi jangan bersedih. Mama sudah berjanji akan mengajak Kurama main lagi ke taman bermain, jadi Mama pasti akan bangun. Papa Tachi juga diajak, jadi kita akan pergi bersama."
Itachi membuka tangannya dan menatap wajah polos Kurama. Dia meraih tubuh kecil anak berumur tujuh taun itu dan mendekapnya. "Iya, kita akan pergi bersama saat Mamamu bangun." Saat itu Itachi ingin sekali meneteskan air mata, hanya saja seorang Itachi tidak pernah menangis apalagi dihadapan orang lain. Lagipula dia sudah pernah berjanji sekali pada Naruto bahwa apapun yang terjadi padanya Itachi tidak akan pernah menangis dan dia akan menepati janjinya.
Suara dering telepon memecah kesenduan di lorong rumah sakit itu. Itachi melepaskan pelukannya pada Kurama dan merogoh saku celananya yang bergetar. Dia mengambil hapenya dan melihat bahwa sekretarisnya yang memanggil.
"Ada apa?"
'Tuan Itachi, Anda dimana sekarang? Satu jam lagi Anda ada pertemuan dengan klien kita dari Ame. Sedari tadi Tuan Sasuke mencari Anda dan saya juga sudah mencoba menghubungi berkali-kali tapi baru sekarang Anda menjawab.'
Benarkah? Mungkin saja rasa takutnya membuatnya tidak merasakan atau mendengarkan apapun selain semua pertanyaan dan kecemasan yang ada dalam dirinya. Mungkin saja dia merasakan hapenya bergetar tapi dia tidak mempedulikannya. Setelah kecemasannya menurun barulah Itachi sadar bahwa sedari tadi memang ada seseorang yang mencoba menghubunginya.
"Aku sedang di rumah sakit. Siapkan saja semuanya dan jamu mereka jika aku datang terlambat. Aku segera kesana."
'Rumah sakit? Apa Anda sakit?'
"Tidak, tidak, bukan aku. Pokoknya siapkan saja, aku segera berangkat." Itachi mengakhiri hubungan tanpa menunggu jawaban dari sekretarisnya. Dia tidak ingin pergi ke kantor dengan kondisi seperti lagi terlebih lagi berhadapan dengan klien, tapi dia tidak punya pilihan. Lagipula ada satu masalah lagi yang harus dia hadapi.
"Kau harus pergi Itachi?" Itachi mengangguk atas pertanyaan Kyuubi.
"Ada janji dengan klien. Dan aku juga harus memberitahu Sasuke." Wajahnya menunjukkan keraguan. "Apa yang harus kukatakan padanya?"
Semuanya berpikir dan lorong kembali hening. Setelah beberapa menit berlangsung, Gaara pun angkat bicara. "Kalau begitu biar aku menemanimu. Lagipula aku tidak yakin membiarkanmu pergi sendiri dengan keadaan seperti ini. Kau juga perlu pakaian ganti, kita bisa mampir ke apartemenku. Disana aku ada pakaian yang kurasa bisa kau pakai." Jalan menuju kantor milik Uchiha memang melewati apartemen Gaara jadi Itachi tidak perlu repot berbalik ke arah rumah lalu menuju kantor. Dia bisa menghemat waktu dan Gaara memang benar, dia tidak yakin bisa pergi sendiri.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih. Maaf merepotkanmu, Gaara"
Gaara menyerahkan soal kafe pada Neji jika saja dia perlu berada seharian dengan Itachi. Setelah memastikan semua akan beres, Gaara pun melangkah pergi ke parkiran rumah sakit diikuti Itachi di belakangnya. Dengan menaiki mobil milik Gaara, mereka berdua pergi ke perusahaan milik Uchiha setelah sebelumnya melewati apartemen Gaara sebentar agar Itachi bisa sedikit merapikan diri dan berganti pakaian. Sepanjang perjalanan Itachi sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia masih belum mendapat jawaban atas tangisan Naruto semalam dan tiba-tiba hal seperti ini terjadi. Dia tidak mengerti ada apa. Otak Uchihanya yang biasanya penuh dengan ide mendadak buntu. Dia tidak suka keadaan dimana dia tidak mendapatkan jawaban mengenai sesuatu yang penting.
"Itachi, kita sudah sampai." Itachi terbangun dari lamunannya dan melihat pemandangan tempat parkir dimana dia bekerja. Dengan malas dia keluar dari mobil dan berjalan menuju lift.
"Kau tunggu saja di ruanganku. Kita akan bicara dengan Sasuke setelah klien kami pulang."
"Kau yakin masih bisa bekerja? Aku hanya memastikan."
Itachi melirik Gaara dan tersenyum tipis. "Terima kasih atas perhatianmu. Aku akan baik-baik saja."
Keduanya melangkah keluar dari lift saat mesin itu berhenti di lantai dimana kantor Itachi berada dan disambut dengan kelegaan oleh seorang wanita yang terlihat seperti sekretaris sang Uchiha sulung. Sasuke terlihat sedang menyiapkan beberapa dokumen di ruangannya dan keterkejutan di wajahnya tidak bisa ditutupi saat melihat sosok Gaara yang berjalan di samping kakaknya. Itachi mengacuhkan reaksi Sasuke dan langsung mengajaknya pergi ke ruang rapat tanpa memberinya ruang untuk bertanya.
Gaara menunggu kakak beradik Uchiha itu di ruangan Itachi yang sudah sempat ditunjukkan oleh sang pemilik sebelum meninggalkannya sendirian. Ruangan itu tidak begitu besar tapi nampak begitu rapi dan terkesan elegan, Itachi pintar sekali mengaturnya. Entah berapa lama dia menunggu, mungkin sekitar dua jam yang dia habisakan dengan saling mengirim pesan dengan Neji, sampai dia mendengar suara teriakan dari luar ruangan.
Pertemuan dengan klien berlangsung sekitar satu setengah jam. Semua berjalan lancar hari ini pun dan kedua Uchiha menunjukkan performa mereka yang baik. Itachi mengikuti Sasuke ke ruangannya setelah mengantar klien mereka pulang. "Sasuke, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kita ke ruanganku."
Merasa tidak ingin mengikuti pembicaraan ini, Sasuke berpura-pura menyibukan diri dengan beberapa dokumen di meja kerjanya. "Jika ingin bicara disini saja, masih banyak yang harus kukerjakan." Di ruangan Itachi ada Gaara yang sedang menunggu dan Sasuke tahu itu. Sedikit banyak bisa dia pastikan apa yang ingin kakaknya bicarakan dengannya.
Itachi ragu apakah dia harus memanggil Gaara kemari atau langsung bicara saja pada adiknya. Dilihat dari gelagatnya ada kemungkinan Sasuke akan menghindar jika Itachi pergi sebentar saja dari hadapannya. Dia menarik napas dan membuka pembicaraan. "Sasuke, ini mengenai Naru. Dia.."
Kata-katanya terhenti dengan sebuah gebrakan di atas meja yang cukup keras. Itachi menatap punggung Sasuke heran dengan gelagatnya dan kata-kata yang keluar dari mulut Sasuke selanjutnya hampir tidak dia percaya. "Bisakah kita melupakannya saja? Aku tidak ingin mendengar apa-apa saat ini." Dari nada suaranya itu bukanlah permintaan tapi sebuah perintah.
"Ada apa denganmu? Ini serius, Sasuke. Sesuatu terjadi pada Naru dan saat ini dia.."
"Kakak!" Lagi-lagi kata-katanya terpotong. "Hentikan, sebelum aku bertindak sesuatu."
Itachi mulai geram dengan Sasuke, tidak mengerti dengan perubahan sikap adiknya yang biasanya selalu mengkhawatirkan istrinya dan sekarang berbalik dingin. "Aku tidak mengerti denganmu. Mengapa kau terlihat seperti menghindari topik mengenai Naru? Dia itu istrimu dan saat ini dia…"
"Naru! Naru! Berhenti menyebut nama murahan itu! Aku muak mendengarnya."
Tidak ada lagi yang bisa menghentikan amarah Itachi saat ini untuk meraih sang adik dan mencengkram kerah bajunya dengan tatapan tajam yang langsung menusuk kedua onyx Sasuke. "Apa yang kau katakan barusan?" Nada bicara Itachi begitu rendah menandakan ancaman jika Sasuke berani mengatakan sesuatu yang menyulut amarahnya.
"Dia itu seorang penipu murahan yang hanya bersikap manis di depan semua orang. Kakak seharusnya sadar siapa dia dan berhenti bicara seakan-akan dia wanita baik-baik."
Satu pukulan mendarat di pipi Sasuke dan membuatnya tersungkur ke lantai. Perkataan adiknya itu benar-benar tidak bisa dimaafkan. Apa yang sudah merasuki Sasuke sampai berkata keji seperti itu? "Apa yang sudah merasukimu sampai tega mengatakan hal sekeji itu, Sasuke?! Naru adalah hal terbaik yang pernah kutemui di dunia ini. Seharusnya kau juga tahu itu!"
Teriakan mereka berdua mengundang perhatian semua orang di lantai itu. Terlebih lagi jendela kantor Sasuke tidak sepenuhnya tertutup, mereka bisa melihat adegan perkelahian kakak beradik Uchiha tersebut. Suara-suara mulai memenuhi kantor itu mempertanyakan apakah mereka harus ikut campur dan menghentikan mereka atau membiarkannya saja?
Sasuke bangun dari lantai dan menatap kakaknya dengan tatapan menantang. "Kalian semua buta. Kalian semua sudah termakan oleh tipu dayanya. Berhentilah membela penipu seperti dia. Lebih baik jika dia pergi jauh-jauh atau menghilang saja dari kehidupan kita."
"Kau brengsek, Sasuke!"
Itachi menerjang dan mencoba memukul Sasuke lagi tapi kali ini Sasuke berhasil menangkisnya dan balas memukul. Baku hantam pun terjadi dan semua yang menyaksikan tidak yakin apa yang harus mereka lakukan.
Gaara yang semakin terganggu oleh keributan di luar memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Begitu kagetnya dia saat melihat kedua kakak beradik Uchiha yang menjadi pimpinan di perusahaan ini sedang saling menghajar tanpa memperdulikan sekekliling. Dia segera menerobos kerumunan dan memasuki ruangan Sasuke. Gaara segera menahan Itachi yang sedang menghajar Sasuke bertubi-tubi yang sudah hampir tidak berdaya. Mengingat cerita Naruto dulu tentang kemampuan betarung Itachi, Gaara khawatir Itachi akan membunuh adiknya sendiri jika dia tidak segera membawanya pergi dari sini. "Hentikan, Itachi! Apa kau mau membunuh adikmu?!"
"Lepaskan aku, Gaara! Biarkan aku menghajarnya!"
Untung saja dia lebih lihai dari Itachi, jika tidak pasti sekarang Gaara sudah kewalahan menahan kekuatan sang Uchiha sulung yang ternyata lumayan besar. "Ini bukan waktunya untuk berkelahi. Kau tahu itu!"
Sasuke dengan susah payah mencoba untuk berdiri. Dia tidak menyangka kalau kakaknya sendiri akan menyakitinya seperti ini dan tanpa belas kasihan. "Kalian semua pasti benar-benar bodoh sampai membelanya seperti ini. Aku kasihan pada kalian semua."
Itachi bertambah geram mendengar kata-kata Sasuke dan hampir saja lepas dari kuncian tangan Gaara. "Kau masih berani bicara! Kau benar-benar ingin mati?"
"Sudah hentikan, Itachi! Dan kau berhentilah mengoceh, Sasuke. Kunci mulutmu itu dan selamatkan dirimu sendiri." Gaara menarik Itachi keluar dari ruangan. Semua pegawai yang berkerumun segera memberi mereka jalan dan setelah berada cukup jauh Gaara meminta Itachi untunk tinggal. "Diam disini. Aku serius, Itachi." Dan Gaara memang memberikan tatapan yang mengatakan jika Itachi berani membantah dia akan mendapatkan luka-luka yang jauh lebih mengerikan dari yang Sasuke dapatkan sekarang.
"Terserah."
Gaara berjalan kembali ke tempat kerumunan tadi dan berbicara lumayan keras. "Siapa disini sekretaris Itachi?" Seorang wantia muda maju dan berkata dengan terbata-bata, tentu saja karena ketakutan. "Batalkan semua janji untuk Itachi Uchiha sampai besok dan juga dia tidak akan datang ke kantor sampai waktu itu."
"Ta-tapi Tuan…"
"Ikuti saja kata-kataku!" Tanpa sadar dia berteriak membuat semua orang terlonjak. Gaara menarik napas dan berbicara kembali dengan nada normal. "Dan siapapun, tolong rawat luka-luka Sasuke. Untuk sementara biar aku yang urus Itachi."
Dengan itu dia berbalik dan berjalan ke tempat dimana dia membuat Itachi menunggunya. Melihat luka-luka di wajah Itachi sepertinya keduanya sama-sama tidak menahan diri. Dia penasaran apa yang bisa membuat Itachi memukuli adik yang sangat disayanginya itu. Dia bisa menanyakannya nanti, saat ini dia perlu merawat luka-luka Itachi dan membuatnya lebih tenang dulu.
Walau tidak terlalu yakin Gaara pikir memang lebih baik jika dia membawa Itachi kembali ke rumah sakit. Dia bisa mendapatkan perawatan yang tepat untuk luka-lukanya. Gaara hanya berharap Mikoto tidak akan melihat mereka nanti. Entah apa yang harus dia katakan pada ibu dari kedua Uchiha itu mengenai pertengkaran anak-anaknya. Ketika seharusnya mereka menemui Sasuke untuk memberitahu keadaan Naruto malah hal seperti ini yang terjadi.
"Apa kau sudah tenang?" Itachi tidak menjawab. Gaara mendesah pasrah. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan kalian. Apa kau bahkan sempat memberitahu Sasuke mengenai keadaan Naru?" Gaara tetap fokus menyetir sedangkan Itachi yang duduk di sebelahnya terus mengeluarkan aura kemarahan.
"Kau tidak seharusnya menghentikanku." Itachi menghadap ke jendela tidak jelas menatap apa.
"Ya dan akan berakhir dengan kematian adikmu. Atau setidaknya tulang rahangnya akan patah." Itachi tidak membalas perkataan Gaara hanya terus menatap kekosongan. Selama sekitar lima belas menit perjalanan dilanjutkan tanpa ada yang bicara. Ketika Itachi tiba-tiba membuka mulut, Gaara sempat berpikir dia hanya salah dengar karena suara Itachi begitu rendah.
"Aku tidak akan menyerahkannya. Tidak akan pernah." Tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Itachi dan tidak ada tanda-tanda jika si Uchiha sulung itu akan menjelaskannya, Gaara memutuskan untuk fokus dengan apa yang dikerjakannya sekarang dan bertanya lagi nanti.
Dalam hati Itachi mencaci maki Sasuke yang sudah mengatai Naruto yang tidak-tidak. Emosinya saat ini sedang tidak stabil. Belum enam jam dia sembuh sembuh dari ketakutannya akan gagal menyelamatkan adik iparnya, terbayang-bayang oleh kemungkinan pemuda pirang itu akan pergi meninggalkan mereka begitu saja. Tiba-tiba saja adiknya mengatakan semua hal itu, perasaan Itachi benar-benar kacau saat ini. Emosinya sudah mengalahkan logikanya, dia tidak bisa lagi membaca situasi atau bahkan mengerti jalan pikiran Sasuke. Otaknya yang terkenal jenius itu sedang tidak bisa berfungsi sekarang.
Mereka sampai di parkiran rumah sakit dan segera menuju lantai dimana Itachi bisa mendapat perawatan untuk lukanya. Selama Itachi diobati, Gaara menelepon Neji dan memberitahu bahwa keadaan ternyata sedikit lebih rumit dari yang dia bayangkan sebelumnya. "Ya, ada kemungkinan aku tidak akan kembali ke kafe sama sekali hari ini. Entah apa yang akan dia lakukan jika kutinggalkan. Apa kau tidak apa-apa kuserahkan tanggung jawab mengurus kafe sehari ini saja?"
'Tentu, tidak perlu mengkhawatirkan kafe. Jika ada apa-apa aku akan menghubungimu. Tapi apa Itachi akan baik-baik saja?'
"Entahlah, Neji." Gaara bersandar pada dinding rumah sakit yang memisahkan lorong dan ruang pengobatan di belakangnya. "Aku harap akan mendapat penjelasan yang masuk akal. Semua kejadian hari ini terlalu mendadak."
'Jaga dirimu sendiri, Gaara. Kalau kau juga sampai jatuh, kami semua akan khawatir.'
Gaara tersenyum. Dari nada suaranya lebih terdengar kalau Neji berkata dialah yang akan khawatir. "Ada kemungkinan hari ini aku akan menginap di rumah sakit. Aku akan kembali ke kafe besok pagi."
'Baiklah, kabari aku jika ada perkembangan.'
"Ya, terima kasih Neji."
Itachi baru saja selesai dengan perawatannnya ketika Gaara selesai bicara dengan Neji di telepon. Kedua mata onyx itu mentapa mata hijau Gaara dengan sedikit rasa penasaran. "Bicara dengan siapa?"
Gaara mendorong dan menjauhkan diri dari dinding yang beberapa menit lalu menjadi sandarannya. "Neji. Aku hanya memberitahunya bahwa hari ini aku tidak akan kembali ke kafe."
Kedua alis mata Itachi terangkat lalu dia berjalan terlebih dahulu membiarkan Gaara mengikutinya sedikit di belakang. "Kalian terdengar akrab. Mungkin yang dikatakan Naru ada benarnya."
"Hah? Apa maksudmu?" Itachi terus berjalan tidak memberi penjelasan pada pemuda berambut merah yang sedang berjalan bersamanya di koridor rumah sakit entah menuju kemana. Gaara mengingat-ingat mencoba menyambungkan kata dirinya, Neji, Naru, kebenaran dan akrab dalam satu kalimat yang sama dan tersadar akan sesuatu. "Aah, jika kau sudah bisa menggodaku seperti ini apa itu artinya kau sudah benar-benar tenang sekarang?"
Itachi masih tidak menoleh dan terus berjalan menghadap ke depan. "Jadi kau tidak menyangkal soal hubunganmu dan Neji?"
"Berhentilah mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan jangan jadikan aku sebagai salah satu objek kejahilanmu. Masalah aku dan Neji adalah urusanku sendiri."
Terlihat sudut bibir Itachi sedikit terangkat, tapi seperti yang diminta dia tidak memperpanjang masalah Gaara dan pemuda berambut panjang coklat yang menjadi pegawai di kafenya itu. Itachi berbicara lagi dan kali ini nadanya lebih serius. "Gaara, berjanjilah kau tidak akan bicara dengan Sasuke."
Belum dia mendapat penjelasan tentang kejadian tadi, Itachi sudah meminta hal lain yang membuatnya semakin bertanya-tanya. "Apa ada alasan yang bisa kuterima?"
"Tidak ada." Singkat sekali jawabannya dan itu membuat Gaara kesal. Dasar Uchiha. "Maaf meminta sesuatu yang sulit, tapi tolong ikuti saja kata-kataku dan jangan bicara pada Sasuke."
Sulit sekali melawan keegoisan seeorang Uchiha, tidak beda jauh dengan kekeraskepalaan Naruto. Gaara hanya bisa pasrah dikelilingi oleh orang-orang yang begitu merepotkan. "Baiklah. Apa itu berarti kau yang akan bicara dengannya?"
"Akan kupikirkan." Jawaban singkat lainnya. Meski ingin mendesak lebih jauh, dilihat dari raut Itachi saat ini Gaara yakin bahwa pria yang lebih tua darinya beberapa tahun itu pasti memiliki pertimbangannya sendiri. Dia akan mengawasi seperti yang selama ini selalu dia lakukan, yang terpenting saat ini adalah memastikan kondisi Naruto baik-baik saja.
Tanpa sadar mereka berdua berjalan menuju lorong dimana ruangan Naruto dirawat berada. Minato sedang duduk sendirian di bangku ruang tunggu menatap ke arah dinding di hadapannya kosong. Lamunannya terhenti ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan melhat dua sosok yang dikenalnya. "Kalian sudah kembali? Kushina sedang di dalam menemani Naru. Fugaku dan Mikoto pulang sekitar sepuluh menit yang lalu dan akan kembali besok untuk membawakan pakaian ganti untuk Naru dan keperluan lainnya."
"Kenapa Paman tidak ikut masuk?"
"Aku hanya ingin berpikir sebentar. Lagipula Naru terlihat tenang jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Minato tersenyum kecut. "Ya, untuk saat ini."
Rasa bersalah menjalar pada diri Itachi melihat kesedihan di wajah Minato. Dia tidak akan sanggup memberitahu apa yang Sasuke katakan mengenai putra tercintanya, bahkan Itachi sendiri ingin rasanya membunuh adiknya itu. Itachi mengusulkan agar kedua Minato dan Kushina pulang dan beristirahat saja untuk malam ini sementara dia yang akan menemani Naruto bersama Gaara.
Tawaran tersebut disambut dengan seulas senyuman di bibir Minato tapi dia menolaknya. Dia ingin berada di sisi putra satu-satunya dan memastikan dia ada disana ketika Naruto memutuskan untuk membuka matanya, begitu juga dengan Kushina.
Itachi tidak ingin melihat wajah Sasuke saat ini tapi dia juga tidak ingin membuat orang tuanya khawatir dengan tidak pulang ke rumah. "Itachi, apa kau ingin tinggal disini malam ini?" Seperti mengerti akan jalan pikirannya, pertanyaan Gaara sangat tepat sasaran. Belum dia menjawab, suara langkah kaki yang mendekat mengalihkan perhatiannnya.
"Kyuubi, kalian masih disini?" Kurama berjalan di samping Ayahnya dan terlihat sedikit lelah. "Kupikir kalian sudah pulang dari tadi."
"Gaara, Itachi, kapan kalian kembali? Kami mungkin sebentar lagi akan pulang, Kurama sudah kelihatan lelah. Aku ingin melihat Naru sebentar sebelum kami pulang."
Minato bangkit dari kursinya dan membuka pintu ke ruang inap Naruto. "Aku akan memanggil Kushina jadi kalian bisa melihat Naru. Hanya dua orang diijinkan masuk bersamaan."
Mereka menunggu selama beberapa menit sampai pasangan suami istri itu keluar bersama. "Itachi, mau menemaniku?" ajak Kyuubi. Itachi mengangguk dan mengikuti pria berambut merah yang sebaya dengannya itu memasuki ruangan. Kyuubi menitipkan Kurama pada kakek neneknya karena anak seumur dia tidak diperboleh masuk.
Suara mesin yang mengikuti pergerakan detak jantung Naruto langsung terdengar begitu mereka menutup pintu di belakang mereka. Keduanya mendekati ranjang dimana Naruto sedang berbaring masih tidak sadarkan diri dengan beberapa selang infus di lengannya, juga selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Kepalanya dililit perban menutupi jahitan dari lukanya akibat jatuh dari tangga. Dia terlihat begitu rapuh.
"Dia terlihat hanya sedang tertidur." Bisikan Itachi terdengan sangat jelas di ruangan yang hening itu. Memang Naruto terlihat sedang tertidur nyenyak tanpa beban apapun. Hanya saja juga terlihat dia sangat nyenyak tertidur sampai-sampai dia memilih terus tidur dan tidak ingin bangun. Dahi Itachi meregut memikirkan kemungkinan tersebut.
"Naru, aku tahu kau akan bangun. Kau masih memiliki janji yang harus kau tepati, kau tidak akan mengingkarinya bukan?" Kyuubi mengelus punggung tangan Naruto yang terasa sedikit dingin. "Aku harus pulang sekarang tapi aku berjanji akan kembali lagi besok. Jangan terlalu lama tertidur, Naru." Kyuubi mendekatkan diri dan mengecup kening Naruto sperti yang selalu dia lakukan. Dia mengelus tangan tan itu sekali lagi sebelum bangkit dan berjalan menuju pintu. Kyuubi menatap Itachi yang masih tertegun menatap Naruto dengan tatapan sendu.
"Naru, aku berjanji akan menjagamu dan membuatmu bahagia. Karena itu cepatlah kembali."
Kyuubi tersenyum mendengar kata-kata Itachi. Akhirnya keduanya meninggalkan kamar tersebut dan Kyuubi pun berpamitan untuk pulang. Kurama sudah tertidur di pangkuan Gaara, saat Kyuubi akan menggendongnya Itachi mendahuluinya. "Bolehkan aku ikut pulang bersamamu? Aku sedang tidak ingin sendirian saat ini."
Bohong jika mereka semua mengatakan tidak kaget mendengar permintaan Itachi. Tapi mereka bisa mengerti keadaanya dan memakluminya. Minato yang menjawab. "Aku akan senang jika kau mau menemani Kyuubi dan Kurama malam ini, Itachi. Aku dan Kushina memang berencana tidak akan pulang sampai orang tuamu datang besok, jadi kami bisa sedikit tenang karena ada kau bersama mereka."
"Terima kasih, Paman."
Mereka bertiga pun pulang menuju kediaman Namikaze sementara Gaara mengatakan akan ikut menjaga Naruto malam ini di rumah sakit. Dia sedikit khawatir dengan Itachi, tapi tahu Kyuubi ada bersamanya dia sedikit tenang. Kyuubi segera membaringkan Kurama di kamarnya begitu mereka tiba di rumah. Itachi merobohkan diri di atas sofa, tubuhnya mendadak saja terasa begitu lelah. Walau ini pertama kalinya dia berada di kediaman Namikaze tapi dia merasa nyaman dan membuat tubuhnya ingin menikmati beristirahat di tempat ini. Kyuubi muncul dengan dua gelas susu di tangannya dan menyerhkan salah satu pada Itachi. "Kuharap kau bukan tipe orang yang menolak susu. Kami semua disini sudah menyukainya jadi bisa dibikang tidak ada minuman lain yang bisa kutawarkan. Kecuali jika kau mau menunggu, aku bisa pergi ke mini market dulu."
Itachi menggeleng. "Tidak perlu, terima kasih atas susunya." Dia meneguk minuman berwarna putih itu dan menghabiskannya sekali minum. Sudah lama sekali sejak dia menikmati susu dingin seperti ini dan Itachi sedikit merindukan rasanya. Dia semakin merasa rileks sekarang terlihat dari tubuhnya yang semakin tenggelam dalam kenyamanan sofa yang tengah didudukinya.
"Kalau ingin istirahat sebaiknya di kamar saja. Sudah kusiapkan tempat tidur dan baju gantinya. Aku tahu ini masih sore, tapi kau pasti sangat lelah dengan semua kejadian hari ini. Tidak ada salahnya tidur lebih awal." Kyuubi memberikan senyuman pada Itachi yang menunjukkan ketulusan disana. Tentu saja Itachi tidak bisa menolak tawaran tersebut, tubuhnya memang sudah berteriak ingin istirahat.
Diantar oleh Kyuubi menuju kamarnya, Itachi mengganti pakaiannya dengan baju yang sudah disiapkan dia atas tempat tidur. Saat akan menyelimuti tubuhnya dan menyamankan posisi tidurnya, Kyuubi datang dan menghampiri Itachi. "Apa kau butuh sesuatu?"
"Tidak, semuanya sudah cukup. Terima kasih."
"Baiklah, aku akan ada di kamarku jika kau butuh sesuatu nanti. Atau mungkin di dapur. Aku akan membangunkanmu saat makan malam." Itachi berterima kasih sekali lagi dan mengalah pada tubuhnya yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang dia rasakan.
Itachi mendengar suara cekikikan yang membuatnya tersadar dari tidurnya. Suara itu terdengar sangat dekat dan dia merasa pernah mendnegarnya. Dengan masih sedikit mengantuk dia membuka matanya dan melihat warna merah yang menyala tidak jauh dari dimana dia berbaring. "Papa Tachi sudah bangun?" Panggilan itu, tentu saja Itachi tahu siapa ini. Kurama kembali terkikik dan mendekat kepada Itachi yang masih berjuang melawan kantuk. "Papa, Ayah bilang kalau kita tidak ke dapur sekarang Ayah akan menghabiskan semua makanannya. Kurama mau makan."
Dia masih merasa sedikit lelah, apa benar ini sudah waktu makan malam? Itu berarti Itachi sudah tertidur selama tiga jam. "Baiklah, bantu aku bangun ya." Kurama dengan senang hati membantu Itachi dan menunjukkan senyum manisnya. "Kenapa kau cekikikan dari tadi?"
Kurama lagi-lagi terkikik. "Karena wajah Papa saat tidur sangat lucu."
"Benarkah? Tapi kau pasti jauh lebih lucu lagi."
"Kenapa wajah Papa seperti habis diwarnai?" Awalnya dia tidak mengerti maksud Kurama tapi mengingat perkelahiannya dengan Sasuke semuanya menjadi jelas. Mungkin saat ini wajahnya penuh luka walau sudah diobati. Dia yakin wajah Sasuke saat ini jauh lebih parah darinya. Karena tidak ada yang menanyakannya dia hampir lupa.
"Bukan apa-apa. Ayo kita cari Ayahmu sebelum dia benar-benar menghabiskan semua makanan." Kurama tersenyum lebar dan mengajak Itachi pergi ke dapur.
Malam itu banyak yang dipikirkan oleh Itachi. Dia melihat bagaimana Kyuubi mengurus Kurama, berusaha sebaik mungkin memberikan yang terbaiknya bagi putranya. Kurama sangat menyayangi keluarganya meski beberapa diantaranya tidak terikat oleh darah, dia juga sangat menyayangi Naruto sebagai Mamanya. Naruto juga sangat menyayangi mereka semua, terkadang dia terlalu memikirkan mereka dan melupakan kebahagiannya sendiri. Ketika dia menemukannya dia harus terluka seperti ini. Dan sumber kebahagiannya itu saat ini telah mengatakan beberpa hal buruk mengenainya.
Itachi menggeram. Sasuke. Apa yang dipikirkan adik bodohnya itu? Beberapa hari lalu baru saja dia menyaksikan bagaimana Sasuke akhirnya mengakui dia membuka hatinya dan menjadikan Naruto sebagai seseorang yang spesial baginya. Tapi siang ini tiba-tiba saja dia mengatakan semua hal kejam itu. Ditambah lagi di malam sebelumnya Naruto datang padanya dengan air mata yang sudah lama dilupakannya selama bertahun-tahun. Dia tidak mengerti, hanya saja Itachi memiliki firasat semua itu ada kaitannya satu sama lain.
Dia berharap yang menyebabkan Naruto terluka bukanlah Sasuke. Dia juga berharap yang membuat Sasuke mengatakan semua hal itu hanyalah sebuah kesalahpahaman dan kekeliruan. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang janggal disini. "Naru cepatlah sadar dan beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi." Itachi berbisik pada dirinya sendiri sebelum menutup mata untuk kedua kalinya hari itu.
Setelah menghabiskan satu hari lagi di kediaman Namikaze, Itachi akhirnya pulang walau dengan berat hati. Semua menanyakan padanya perihal Sasuke, tapi dia memberitahu mereka hal yang sama dengan yang dia katakan pada Gaara sebelumnya dan meminta mereka semua untuk tidak berbicara pada Sasuke.
Pasangan Minato Kushina dan Fugaku Mikoto terus bergantian untuk menjaga Naruto setiap harinya. Gaara akan datang disela-sela jeda yang dia miliki di kafe, terkadang ditemani oleh Neji. Kyuubi akan datang setelah selesai dengan kerja sambilannya dan menjemput Kurama dari sekolah. Itachi sendiri selalu mampir setelah selesai bekerja sebelum akhirnya pulang dengan Fugaku dan Mikoto jika mereka tidak menginap. Di hari kelima semenjak Naruto dirawat ini belum ada tanda-tanda pemuda berambut pirang itu akan sadar.
Sasuke menyadari perubahan yang terjadi di rumahnya. Semua orang terlihat sibuk dan sering sekali meninggalkan rumah. Kedua orang tuanya terkadang tidak pulang dan Itachi selalu mengurung diri di kamarnya jika mereka hanya berdua di rumah. Dia juga menyadari sikap mereka yang menyembunyikan sesuatu darinya. Dia menduga semua ini ada hubungannya dengan Naruto jadi dia tidak repot menanyakannya.
Setiap mereka harus duduk di meja yang sama untuk sarapan terasa sangat menyesakkan. Aura yang terpancar dari Sasuke dan Itachi cukup membuat seluruh rumah terasa suram. Bahkan Fugaku pun tidak bisa merubah kecanggungan ini. Kedua kakak beradik itu tidak pernah lagi saling menatap sejak perkelahian mereka. Saat harus bekerja pun mereka bersikap seakan mereka itu orang lain dan tidak saling mengenal. Untung saja mereka masih bisa mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik.
Suara dering telepon menginterupsi kegiatan mereka. Mikoto berjalan dan mengangkat telepon rumah mereka. Hanya sekitar beberapa detik Mikoto memanggilnya dan menyerahkan gagang telepon itu padanya. "Kyuubi."
Hanya dengan satu kata itu Itachi mengerti apa yang dimaksud ibunya. Dia mendekatkan gagang telepon itu ke telinganya dan mulai berbicara. "Ini Itachi. Ada apa, Kyuubi?"
'Itachi, bisakah kau kemari? Naru tiba-tiba saja keadaannya memburuk dan sedang kritis. Saat ini dia sedang ditangani dokter.'
"Kau bilang apa?!" Teriakannya mengagetkan semua yang ada di meja makan. Mikoto khawatir melihat reaksi Itachi mengingat siapa yang menelepon. Sasuke merasa penasaran apa yang bisa membuat kakaknya terlihat begitu ketakutan seperti sekarang ini.
'Selain itu ada lagi.'
"Apa lagi? Jangan membuatku ketakutan, Kyuubi."
'Bibi Kushina. Dia bersikeras mengatakan akan menandatangani berkas operasi untuk Naru. Dia bilang dia tidak peduli jika Naru akan membencinya yang terpenting putranya hidup. Aku tidak tahu bagaimana mengentikannya.'
Tentu saja sebagai seorang ibu Kushina ingin melihat putranya hidup. Tapi apa dia lupa bagaimana Naruto dan semua pendiriannya? Naruto bukan hanya akan membencinya, dia mungkin tidak akan pernah akan memaafkan Kushina jika dia berani melakukan hal ini. "Kyuubi, cegah Bibi selama mungkin. Aku akan segera kesana."
'Akan kuusahakan. Cepatlah kemari, Itachi.'
Mereka memutuskan hubungan dan Itachi segera menyambar kunci mobilnya. "Itachi, apa yang terjadi? Apa yang nak Kyuubi sampaikan?"
"Aku harus segera ke rumah sakit, sesuatu terjadi. Akan kukabari lagi nanti." Dia begitu tergesa-gesa dan tidak lagi menyisakan ruang bagi yang lainnya untuk memberikan pertanyaan lain. Sasuke memperhatikan gelagat mereka semua dan melihat perubahan di wajah Mikoto saat mendengar kata rumah sakit. Dan siapa itu Kyuubi?
"Apa kau pikir mereka akan baik-baik saja, sayang?"
"Kita berdoa saja."
Bahkan Fugaku yang biasanya bersikap cuek pun telihat sedikit gusar. Sasuke merasa ada sesuatu yang besar sedang terjadi disini. Walaupun begitu dia tidak akan membuang egonya untuk bertanya, terlebih lagi jika tidak ada satu pun dari mereka yang berniat memberitahunya. Itu bukan urusannya.
Itachi sampai di rumah sakit dalam waktu yang lebih cepat dari seharusnya dan bahkan sedikit berlari di lorong. Kushina sedang beradu argumen dengan keponakan dan juga suaminya. Sakura sang dokter pun berada disana tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Itachi menghampiri mereka dan ikut dalam perdebatan.
"Kyuubi, cepat berikan berkas itu pada Bibi. Apa kau mau membunuh sepupumu sendiri? Cepat berikan!"
"Tapi aku yakin Naru tidak menginginkan ini. Dia tidak akan suka jika kita ikut campur."
"Tentu saja aku akan ikut campur, aku ini ibunya! Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan Sakura tadi? Jika dibiarkan, tipis kemungkinan Naru akan selamat. Kita harus membuat keputusan sekarang."
Itachi maju selangkah dan melindungi Kyuubi di belakangnya. "Bibi, tenang dulu. Kami semua ingin Naru selamat, tapi aku juga sudah berjanji padanya. Naru pasti akan marah besar jika Bibi melakukan ini, aku tidak setuju."
"Aku tidak butuh persetujuan siapapun! Aku hanya ingin menyelamatkan anaku. Apa begitu sulitnya bagi kalian untuk mengerti? Minato, katakanlah sesuatu!" Minato hanya menggeleng dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia sendiri bimbang apakah harus memegang janjinya pada sang putra atau nekat menyelamatkannya.
"Naru percaya pada kita semua dan aku tidak mau kehilangan kepercayaan itu. Bibi seharusnya yang paling mengerti akan hal ini. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan Naru."
Diliputi kesedihan dan juga kekesalan, Kushina sudah tidak dapat lagi berpikir jernih. "Kau tidak berhak mengajariku mengenai anakku sendiri. Kau bukan siapa-siapa! Jangan lupa bahwa hubungan keluarga kita bukan sesuatu yang diinginkan. Aku tidak ingin mempercayakan nasib putraku pada orang seperti kalian!"
Itachi merasa tersakiti dengan kata-kata Kushina. Dia mengerti saat ini wanita di hadapannya sedang tidak berpikir jernih dan hanya menggunakan emosinya. Namun mendengar bahwa dia tidak memiliki hak untuk menjaga, menyayangi dan peduli pada orang yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu sangat menyakitkan. Apa yang harus Itachi lakukan sekarang?
