Title : It's Not All About Money Chapter 8
Pairing : KaiHun, HanHun, etc
Cast : EXO and others
Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rate : T
.
.
.
Ini sebenernya udh agak mentok2 gitu ceritanya jadi rada bingung lanjutin xD Dan di chapter 7 kemaren ada kesalahan penggunaan bahasa Korea. Miaaaaan untung ada yang ngoreksi *tutup muka* Yang nunggu KaiHun moment yg lebih banyak lagi di chappie ini mungkin harus sabar dulu ya. Ini hubungan KaiSoo masih belum kelar xD Kasian kan dia digantungin gitu aja. Yang pasti ff ini akan berakhir dengan KaiHun atau HanHun atau dua2nya atau mungkin gak dua2nya/slapped xD
So, happy reading aja!^^ *sambil dengerin MID Orchestra version T_T*
.
.
.
Udara dingin itu mencoba menelusup masuk pada celah kain yang melekat pada tubuh mereka. Suara bising kendaraan dari kejauhan menjadi latar suara malam sunyi itu. Awalnya mereka hanya saling menyapa dalam diam. Namun suasana canggung itu tak bisa dibiarkan terus berlanjut begitu saja.
"Maaf jika tiba-tiba aku memanggilmu kesini." Luhan tersenyum kecut. Buku-buku jemari yang semula memutih karena udara dingin, kini berubah memerah karena sekaleng kopi panas yang tengah ia genggam. Yixing sengaja membelinya sebelum ia bertemu Luhan. Ia tahu jika pria di sampingnya itu kini sedang tidak baik-baik saja. Luhan memanggilnya bukan karena ia ingin bertemu dengannya dengan alasan merindukannya. Tapi Luhan memanggilnya karena Sehun sudah pergi tanpa memberitahunya. Yixing cukup terkejut. Bagaimana tidak? Ia tahu pasti jika hubungan Luhan dan Sehun semakin memburuk sejak kedatangannya ke Korea. Seharusnya ia senang karena Luhan bisa kembali ke sisinya—menjadi miliknya lagi. Namun melihat Luhan yang hampir putus asa dan berantakan seperti itu terus terang saja membuat ia diliputi rasa bersalah. Bukan ini yang ia inginkan. Justru ia ingin Luhan bisa bahagia jika berada disampingnya.
Keheningan menyelimuti keduanya. Mata Yixing menatap lurus pada permukaan Sungai Han yang begitu gelap. Begitupun Luhan—sibuk dengan pikirannya sambil terus mengoper kopi di kedua tangannya tanpa berniat untuk meminumnya.
"Kau tahu kan—"
"Eoh." Tanpa harus dijelaskan lagi Yixing sudah tahu apa yang akan Luhan katakan padanya.
"Maaf. Ini semua memang salahku. Tak seharusnya aku datang lagi menemuimu dan menghancurkan semuanya. Tak seharusnya aku mengungkit hubungan kita dan memintamu untuk kembali lagi padaku. Dan seharusnya aku tak perlu menemuimu disini. Seharusnya tadi aku mengabaikan saja panggilanmu. Seharusnya aku—"
Luhan meletakkan kopinya lalu menatap Yixing sendu yang tengah menghela nafasnya.
"Aku memang egois kan? Seharusnya kau yang menendangku sendiri agar aku pergi. Seharusnya kau tak perlu bersikap lembut padaku agar aku tak salah paham. Karena hanya aku—yang memiliki perasaan ini." Yixing mengepalkan kedua tangannya dengan kuat berusaha sebisa mungkin agar ia tak menjatuhkan air matanya saat itu juga.
"Zhang Yixing—bagaimana jika bukan hanya kau yang memiliki perasaan itu?" pertanyaan Luhan membuatnya menoleh. Yixing mengerutkan dahinya bingung dan seketika matanya membulat saat Luhan menarik wajahnya mendekat hingga bibir mereka bertemu. Luhan menyesapnya—menyalurkan rasa hangat yang menjalar hingga ke dadanya. Entahlah. Luhan sudah cukup bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia tak tahu jika apa yang dilakukannya saat ini benar atau salah. Dan apa yang mereka lakukan justru membuat sepasang mata pria pucat yang berdiri tak jauh di belakang mereka membulat dengan sempurna. Rasa sesak menyeruak di dadanya. Ia tak mampu lagi berkata apa-apa. Melihat secara jelas bagaimana bibir Luhan bergerak diatas bibir Yixing dan bagaimana Yixing memejamkan matanya. Ia semakin sesak. Namun sebuah tarikan kuat membuat tatapannya terputus. Ia terus meronta pada pria di depannya.
"Kubilang jangan berbalik!" suara itu cukup terdengar dengan jelas oleh Luhan maupun Yixing. Mereka melepaskan tautannya lalu mendongak dengan perlahan untuk melihat keributan yang terjadi. Dan obsidian hitam itu tampak mengarah tajam ke arah Luhan dan juga Yixing. Luhan melihat dengan jelas bagaimana pria itu memeluk seseorang yang sudah hampir 48 jam tak ia temui. Matanya membulat dan dengan cepat ia berdiri—membalas tatapan tajam Jongin. Lidahnya terasa kelu. Kakinya pun seolah membeku. Dan tak ada gerakan sama sekali ataupun suara yang keluar dari tenggorokannya saat Jongin menyeret tubuh kurus itu lalu pergi menghilang dibalik anak tangga.
Luhan kini menunduk. Sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya. Ia menoleh—mendapati Yixing yang kini tengah menatapnya.
"Lu~"
"Semuanya sudah berakhir." Ia tersenyum getir. Terlihat dengan jelas bagaimana ekspresi terluka itu terpahat di wajahnya. Luhan menuruni sisa anak tangga—menyeret kakinya perlahan menjauhi Yixing yang hanya bisa mematung disana. Senyum hambar perlahan tersungging di bibirnya saat sosok Luhan perlahan menjauh. Kakinya terasa lemas hingga ia harus menjatuhkan tubuhnya pada anak tangga. Duduk tertunduk dengan tangan meremas rambutnya.
"Apa yang kulakukan?"
oOo
Dua pasang kaki itu melangkah dalam diam. Jongin berjalan di depan Sehun yang kini tengah menatap punggungnya. Setumpuk pertanyaan mengganjal di hatinya. Bagaimana Jongin tahu jika ia berada disana—dengan timing yang tepat—terlebih bagaimana anak itu bisa tahu mengenai hubungannnya dengan Luhan. Ia mengusap matanya yang sembab kemudian memberanikan diri untuk memanggil sosok di depannya.
"Jongin—"
"Kau tak perlu tahu." Seolah mampu membaca pikirannya, ia memotong ucapan Sehun dengan cepat. Tak mungkin ia mengatakan secara gamblang jika tempo hari ia tak sengaja mendapati panggilan Luhan untuknya dan penasaran untuk mengetahui hubungan apa yang terjadi diantara mereka lalu membuka folder pesan pada ponsel Sehun dengan sengaja. Setelah itu ia dapat menyimpulkan jika mereka berdua adalah sepasang kekasih—itu dulu—dan sekarang hubungan mereka bahkan lebih rumit dari sekedar sepasang kekasih.
"Tapi semuanya sudah berakhir." Sehun tersenyum simpul lalu mensejajarkan langkahnya disamping Jongin. Ia berusaha melupakan rasa sakit di hatinya dengan memaksakan sebuah senyuman tipis.
"Gomawo." Ujarnya singkat. Ungkapan terimakasih yang entah ditujukan untuk apa. Jongin tak merespon apapun—masih menatap lurus jalanan di depannya.
"Bagaimana kau bisa tahu jika aku ada disana?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya. Jongin kali ini meliriknya sekilas.
"Ah—apa jangan-jangan kau mengikutiku?" tambahnya lagi.
"Ani! Untuk apa aku mengikutimu? Kebetulan saja aku lewat disana dan melihatmu!" kilah Jongin dengan mengarang cerita yang dengan mudahnya dipercayai begitu saja oleh pria disampingnya. Sehun menganggukkan kepalanya perlahan kemudian tersenyum samar.
"Begitu? Ngomong-ngomong melihat yang tadi membuat perutku lapar. Mungkin karena terlalu banyak menangis? Aisshh aku benar-benar cengeng!" Ia merutuki dirinya sendiri. Jongin hanya berdecak pelan sambil mendelik ke arahnya.
"Eoh, kau memang cengeng—dan aneh!" Cibirnya sinis. Sehun tertawa ringan. Dilihatnya pria tan itu tengah memasang wajah datarnya.
"Ingin makan tteokbokki?" kakinya berjalan lurus ke arah kedai makanan yang menjual tteokbokki di depan mereka sementara Jongin menghentikan langkahnya. Ia menatap punggung yang terlihat rapuh itu yang perlahan berjalan menjauhinya. Pria sok kuat yang menyembunyikan kelemahannya dibalik wajah datar dan galaknya. Tak ingin mendengar Sehun berteriak ke arahnya, ia pun melangkahkan kakinya kembali, menyusul Sehun yang sudah masuk ke dalam kedai kecil itu.
"Mwol mokgosiphoyo? Biar aku yang mentraktirmu." ujar Sehun saat Jongin kini sudah berdiri disampingnya. Asap mengepul serta aroma jajanan khas Korea di depan mereka membuat perut Jongin kini ikut berteriak tak jelas. Ia menatap makanan itu lama, kemudian berakhir dengan menatap Sehun yang tengah menatap ponselnya.
"Bagaimana jika kukatakan jika aku ingin membeli semua makanan yang ada disini? Apa kau sanggup membayarnya?" pertanyaan tolol Jongin membuat Sehun seketika melirik ke arahnya.
"Mwo?"
"Kau tak bisa membayarnya kan? Sudahlah. Tak perlu sok ingin mentraktirku. Aku bisa membayarnya sendiri."
"Ya, tak bisakah kau menerima niat baikku? Aishh kutarik semua anggapanku tentangmu. Menyebalkan! Ya sudah! Bayar saja sendiri! Ahjumma, tolong 2 porsi soondae, oden, dan juga tteokbokki! Anak ini yang akan membayarny!" mood Sehun seketika menghilang. Ia pun segera pergi meninggalkan Jongin dan mencari tempat duduk untuk mereka.
"M—mwo? Ya!"
.
.
Sehun menumpukan kedua sikunya pada meja sambil menyangga dagu. Dilihatnya Jongin datang dengan nampan berisi 2 mangkuk makanan serta 2 kaleng cola. Wajahnya terlihat cemberut namun biar saja! Itu pelajaran untuk anak tak tahu sopan santun!
Brak
Diletakkannya dengan kasar nampan berisi makanan itu diatas meja.
"Ya! Sausnya tumpah, bodoh!" sungut Sehun kesal seraya membersihkan saus yang mengotori nampan. Jongin duduk di depannya—hanya terhalang meja. Obsidian hitamnya memperhatikan gerak-gerik Sehun dengan rutukan kesalnya. Lama-lama ia terbiasa dengan omelan-omelan yang kerap kali Sehun berikan padanya. Bahkan kali ini ia hanya perlu diam dan tetap memperhatikan hingga pada akhirnya Sehun menyadari ada yang aneh dengan tatapan Jongin.
"Wae?"ujarnya sinis. Jongin hanya memutar bola matanya kemudian mengambil garpu dan menusuk tteokbokki dengan menggebu.
"Pelan-pelan!"
"Bisakah kau berhenti mengomel?"
"Dan bisakah kau bersikap sedikit lembut? Kau tak perlu sekasar itu!" Sehun yang semula memelototi Jongin kini beralih pada mangkuk tteokbokki lalu mulai memakannya. Karena tak berhenti mengomel pada akhirnya ia harus tersedak pada suapan pertamanya.
"Apa kubilang." Dalam hati Jongin tersenyum puas. Dilihatnya Sehun yang masih menepuk dadanya dengan kepalan tangan. Karena merasa sedikit kasihan, ia pun membuka sekaleng cola lalu menyodorkannya. Pria dengan wajah yang telah memerah sempurna itu segera menyambar minumannya.
"Berhenti mengomeliku! Kau tahu kan apa akibatnya?" ia kembali menusuk tteokbokki dan soondae sekaligus.
"Aisshh jinjja! Kenapa rasanya begitu pedas? Appoyo~" Sehun masih menepuki dadanya yang terasa sakit. Ia menatap mangkuk tteokbokki dengan nanar—mungkin Jongin tak rela membayar makanannya.
"Merepotkan." Jongin beranjak dari duduknya secara tiba-tiba.
"Kau mau kemana—" dilihatnya anak pewaris kekayaan Kim itu berjalan ke arah depan, mengisi satu cup air hangat lalu memberinya kepada Sehun. Dan ia kembali mendaratkan tubuhnya pada kursi di sebrang pria yang menatapnya tak percaya.
"Untukku?" tunjuknya pada diri sendiri.
"Bukan! Untuk hantu di sebelahmu!" dengus Jongin kesal.
"Kalau begitu aku tidak akan berterimakasih." Sehun menyesapnya sedikit. Tenggorokan dan dadanya perlahan mulai membaik. Jongin tak habis pikir dengan Oh Sehun yang tak tahu diri. Ia semakin menatapnya intens ketika Sehun mulai memakan makanannya. Menurutnya Sehun seperti—anak kecil 5 tahun yang tahu bagaimana caranya memakan makanan dengan rapi dan sesuai aturan.
"Menjijikan!" Jongin melempar selembar tisu padanya. Sehun yang merasa waktu makannya terganggu hanya meliriknya tajam sambil mendengus pelan.
"Mwo?"
"Apa cara makanmu memang seperti itu? Kau benar-benar menjijikan! Lihat saus di sekitar mulutmu itu—aishhh!" Jongin kini mendorong kotak tisu yang memang sudah tersedia diatas meja ke arah Sehun.
"Memangnya kenapa?" tanpa menghiraukan ucapan Jongin, Sehun terus memakan tteokbokkinya.
"Kau seperti anak kecil saja!"
"Aku bukan anak keci!"
"Kalau begitu, kau orang dewasa yang kekanakkan!"
"Ya! Lebih kekanakkan mana, aku atau kau? Kau bahkan melarikan diri saat bertengkar dengan—" Sehun menggantungkan telunjuknya di udara saat Jongin tiba-tiba saja berdiri dengan raut wajah yang terlihat marah.
"Kim Jongin, kau mau kemana eoh? Ya, Kim Jongin!" Sehun mengikuti gerak tubuh itu. Ternyata 2 sosok yang tertangkap oleh retinanya membuat Jongin tiba-tiba saja ingin meledak. Bagaimana tidak? Perbedaan tinggi badan itu terlihat mencolok dan tertangkap dengan begitu jelas olehnya. Kyungsoo dan Chanyeol tengah berada di tempat yang sama dengannya. Mereka tak tahu jika Jongin kini sudah memergokinya.
Sehun yang melihat hal tak beres itu ikut beranjak dari duduknya dan matanya membulat sempurna saat tangan Jongin meraih kerah mantel Chanyeol lalu satu pukulan telak mendarat dengan keras pada wajah tampan pria tinggi itu hingga tubuhnya kini jatuh tersungkur. Tatapan terkejut serta teriakan dari beberapa pengunjung dan pemilik kedai mengundang perhatian beberapa pejalan kaki yang kebetulan lewat. Sehun tak sempat mencegah Jongin. Yang ia tahu kini anak keras kepala itu sudah menarik lengan Kyungsoo pergi dari sana. Hanya terdengar kasak-kusuk serta makian beberapa orang yang ditujukan kepada Jongin. Sehun ikut mengerumuni Chanyeol yang kini tengah terduduk sambil memegangi luka robek pada sudut bibirnya. Darah segar perlahan menetes pada bajunya.
"Gwaenchana?" Sehun mengulurkan tangannya untuk membantu Chanyeol berdiri. Mata bulat itu menatap ke arah sumber suara namun tangannya tak juga menyambut uluran tangan Sehun. Ia segera berdiri lalu kembali menatap Sehun.
"Gwaenchana—" Chanyeol tersentak kaget saat tiba-tiba Sehun membungkuk ke arahnya.
"W —wae?"
"Tolong maafkan anak itu. Aku akan memberinya pelajaran." Sehun pun membungkuk kembali padanya kemudian kepada pemilik kedai dan beberapa orang disana lalu berlari meninggalkan mereka. Dahi Chanyeol sedikit berkerut. Kenapa pria itu meminta maaf atas nama Kim Jongin?
oOo
"Jongin, lepas!" Kyungsoo tak bisa apa-apa ketika genggaman kuat pada tangannya terus menyeretnya ke arah sungai Han. Ia berusaha mengimbangi langkah kaki Jongin yang begitu cepat menuruni anak tangga. Sesekali kakinya tersandung jalanan namun ia masih bisa mempertahankan keseimbangannya.
"Kau salah paham! Kenapa kau memukul Chanyeol seperti itu hah?!" satu hentakan keras pada lengannya membuat genggaman itu kini terlepas dan ia harus sedikit terpelanting ke depan karenanya. Matanya menatap Jongin yang tampak menahan amarahnya. Kedua tangan pria tan itu terkepal. Rahangnya mengeras dengan deru nafas kasar menahan emosi.
"Aku sudah pernah bilang—" desisnya dengan suara menggeram. Kyungsoo tak juga membela diri. Ia tahu jika Jongin akan meledak sebentar lagi jika pembicaraannya dicela sedikit saja.
"Aku tidak suka jika kau dekat dengannya! Apalagi pergi berdua dengannya disaat hubungan kita sedang tidak baik-baik saja!" bentak Jongin nyaring. Kyungsoo hanya terdiam. Ia sempat akan membuka mulutnya namun Jongin kembali menyambar kesempatan itu.
"Cih. Apa kau ingin kita berakhir?" Jongin meremas rambutnya kemudian terduduk pada salah satu undakan tangga—meninggalkan Kyungsoo yang berdiri menatapnya. Ia tersenyum hambar sambil terus berdecak.
"Kau salah paham." Suara serak Kyungsoo masih cukup terdengar jelas oleh telinga Jongin.
"Salah paham? Apa kau juga menyebut kejadian tak sengaja yang dilakukan lebih dari satu kali itu adala kebetulan?"
"Dengarkan aku! Chanyeol hanya memintaku untuk menemaninya. Tidak lebih! Kenapa kau begitu pencemburu? Antara aku dan dia sama sekali tak ada hubungan apapun!" Kyungsoo perlahan berjalan mendekat ke arah Jongin lalu berjongkok di depannya. Namun tetap saja tatapan tajam itu yang ia dapat. Tatapan tak percaya dan merasa dikhianati.
"Apa kau tolol?" pertanyaan sinis Jongin membuat jantung Kyungsoo terasa mencelos.
"Mwo?"
"Apa kau bodoh atau hanya pura-pura bodoh?! Bahkan aku pun tahu jika Chanyeol menyukaimu!" ucapan Jongin membat Kyungsoo tercekat. Ya, dia tahu jika Chanyeol memang menyukainya. Dia tidak sebodoh itu untuk tidak peka dengan perhatian Chanyeol padanya selama ini. Dan jangan lupakan serangkaian tingkah jahil yang selalu ia tujukan kepada Kyungsoo, termasuk selalu ingin memakan masakan gratis yang Kyungsoo buat.
"Aniya! Kita hanya teman! Seperti aku dan Baekhyun atau dengan yang lain!" Kyungsoo terus berusaha meyakinkan Jongin dengan ucapannya. Namun diihatnya Jongin hanya tersenyum kecut lalu beranjak dari duduknya—berjalan ke arah railing jembatan.
"Teman? Teman macam apa yang mencari kesempatan untuk menciummu? Berhenti terus-terusan membelanya dan membela dirimu sendiri! Aku benar-benar muak!" ia memalingkan wajahnya—membelakangi Kyungsoo. Pria mungil itu memegang dengan erat ujung jaketnya.
"Lalu apa yang harus kulakukan agar kau mempercayaiku? Apa aku harus memanggil Baekhyun kesini agar semuanya terbukti dengan jelas bahwa aku sama sekali tak ada hubungan apapun dengan Chanyeol?" suara Kyungsoo mulai meninggi. Ia cukup kesal dengan sifat egois dan keras kepala Jongin.
"Tak perlu melibatkannya! Ini hanya antara aku, kau, dan juga si brengsek itu!"
"Geumane! Kau tak perlu menyebutnya brengsek!"
"Oh, lihat! Bahkan sekarang kau membelanya? Benar-benar—" sebuah tarikan pada kerah mantel Jongin membuat pria itu menunduk seketika. Dan sapuan benda kenyal pada bibirnya terasa begitu dingin. Jongin sama sekali tak merespon. Matanya menatap datar Kyungsoo yang tengah melakukan aksi membungkam mulutnya. Pelipisnya terpejam dengan erat. Semburat merah tercetak jeas pada pipi tembamnya. Namun merasa tak ada balasan dari Jongin, ia pun sedikit merenggagkan jarak keduanya. Namun detik kemudian tekanan pada tengkuknya membuatnya harus membuka mata. Jongin membalas ciumannya.
Sementara di kejauhan, pria bermata hazel dengan tangan terlipat di depan dada menatap mereka malas. Ia sama sekali tak pernah berharap untuk melihat scene 'romantis' seperti ini ditengah amarahnya untuk memaki anak yang baru beberapa menit lalu membuat wajah seseorang berubah lebam. Sehun mendesah panjang, kemudian menggeleng pelan. Ciuman panjang anak SMA yang tengah berlangsung di depan wajahnya benar-benar membuatnya sedikit mual. Hei! Ini tempat umum dan—mereka berani-beraninya melakukan hal seperti itu disana? Bagaimana jika ada orang lewat dan memergokinya? Dan itu adalah Sehun!
"Aisshhh apa pertengkaran bisa diselesaikan hanya dengan sebuah ciuman?" gumam Sehun pelan. Sekelebat bayangan masa lalu terlintas di otaknya. Bahkan dulu Luhan sering menciumnya seperti itu jika Sehun marah padanya dan tak mau berhenti mengoceh. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan kuat. Masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Perlahan ia harus bisa melupakannya. Namun kejadian yang belum satu jam yang lalu berlangsung itu masih terekam jelas di otaknya. Rasa sesak dan sakit kembali menyergapnya. Di sisi lain ia berterimakasih kepada Tuhan karena sudah menunjukkan padanya jika Luhan memang sudah tidak mencintainya lagi. Hal tersebut semakin menguatkan fakta jika tuduhan Sehun selama ini tak hanya sekedar rasa cemburu yang berlebih pada mantan kekasihnya itu. Karena kenyatannya Luhan memang masih belum bisa terlepas dari sosok Zhang Yixing.
Sehun perlahan berbalik—meninggalkan 2 makhluk yang berada jauh di depan mereka yang entah kini sedang melakukan apa. Yang Sehun tahu, semuanya berubah memburam karena air mata yang menggenang di pelupuk mata kemudian menetes begitu saja mengaliri pipinya yang begitu tirus. Ia bahkan tak peduli dengan tatapan orang-orang yang bertanya kenapa ia menangis seperti itu. Tangannya bergantian mengusap air matanya kasar. Namun percuma saja, air mata sialan itu tak mau berhenti mengalir dan malah keluar semakin deras. Sehun menyerah untuk berjalan. Ia mendudukkan tubuhnya pada bangku taman lalu menangis sejadi-jadinya.
oOo
Tap
Tap
Tap
Langkahnya berhenti di depan pintu. Menatapnya cukup lama, kemudian memasukkan passcode agar kunci terbuka. Dibukanya dengan perlahan pintu berwarna putih itu. Kehadirannya disambut dengan kesunyian. Tak ada kehidupan dan keceriaan seperti biasa. Tak ada sambutan langkah kaki yang mendekat dengan wajah terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba. Tak ada lagi harum aroma masakan yang menguar yang mampu membuat perutnya berteriak ingin mencicipinya. Ia melepas sepatunya lalu berjalan ke arah satu-satunya kamar di dalam apartemen itu. Saat pintu dibuka, tercium aroma musk dan kayu manis khas Sehun yang menguar masuk ke dalam hidungnya. Aroma ini selalu menempel dengan kuat ketika tubuh Sehun berada dalam dekapannya. Luhan tak bisa menahannya lagi. Ia merasa menjadi orang paling tolol di dunia ini. Jika saja hal tadi tidak terjadi. Jika saja ia tak nekat untuk mencium Yixing maka semuanya masih bisa diperbaiki. Hubungannya dengan Sehun mungkin masih bisa diselamatkan. Pada akhirnya ia jatuh terduduk pada ranjang yang tampak lengang itu. Merebahkan tubuhnya disana dengan mata menerawang jauh. Rasanya benar-benar sakit ketika sebagian dari jiwamu pergi begitu saja.
Luhan mengangkat sebelah tangannya kemudian ia letakkan untuk menutupi wajahnya. Tetes demi tetes air mata jatuh tak terbendung lagi. Ia menangis dalam diam—tak mengeluarkan suara. Bahkan untuk bernafas pun rasanya begitu sulit. Seperti ada yang mencengkram jantungnya dengan kuat dan memaksanya untuk dikeluarkan. Ia menangis cukup lama hingga rasa lelah membuat matanya terpejam begitu saja.
oOo
"Kau jadi kan melihat pertandinganku hari ini?" sela Tao ditengah sarapannya. Sehun baru ingat. Ia hampir saja melupakannya.
"Eoh." Jawabnya singkat lalu kembali melahap telur rebusnya. Ia mengunyahnya dengan perlahan. Jujur saja nafsu makannya sudah tak ada lagi. Namun ia tak ingin membuat Tao khawatir.
"Matamu bengkak lagi. Kau benar-benar menyedihkan." Komentarnya tak direspon Sehun. Semalam ia pulang begitu larut dalam keadaan yang berantakan. Wajah kusut dengan mata yang sembab. Namun pria itu sama sekali tak mengungkapkan alasannya kenapa ia menangis. Tao hanya akan menunggunya sampai Sehun benar-benar ingin bercerita kepadanya. Namun ia tahu jika dibalik airmata itu memiliki alasan yang sama.
"Mani mokgo. Tubuhmu benar-benar kurus. Sudahlah. Kau tidak perlu lagi mengingatnya."
"Eoh." Hanya jawaban singkat itu lagi yang bisa ia lontarkan. Tao menatapnya iba. Kemudian ia menatap makanan Sehun yang hanya dimainkan dan diaduk sejak tadi.
"Ya! Apa aku perlu menyuapimu, bayi besar?" mata pandanya berubah galak. Sehun berdecak pelan.
"Neeee, cerewet! Aku akan memakannya! Ah, ngomong-ngomong dimana tempat pertandinganmu?"
"Cheongdam High School. Aku tidak mau tahu! Kau harus datang sebelum aku bertanding!" Tao mengangkat telunjuknya memperingatkan. Kemudian ia membereskan mangkuk sarapannya dan menyimpannya di dalam wastafel.
"Kalke!" ia pun menyambar tasnya lalu pergi begitu saja. Sehun menatap kepergiannya yang menghilang di balik pintu.
"Cheongdam? Itu kan—sekolah Jongin?"
oOo
Suara letusan kecil yang ditimbulkan permen karet terdengar hampir setiap detik. Kaki panjang yang ditumpangkan pada kursi di depannya terus bergoyang seirama dengan lagu yang terdengar melalui earphone. Tangannya terlipat di depan dada dengan mata yang terpejam menikmati apa yang di dengarnya. Sesekali mulutnya bergumam menyanyikan lagu, namun kembali ia mengunyah permen karet yang sudah tidak manis lagi.
"Ya, Park 'idiot' Chanyeol!" lengkingan tinggi itu membuat matanya terbuka perlahan. Didapatinya pria bermata sipit yang tengah terduduk di dekat pagar pembatas atap sekolah tengah menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal.
"Hm?" Chanyeol kembali memejamkan matanya dan merespon teriakan Baekhyun malas.
"Aisshh jadi sejak tadi kau tak mendengarkan ucapanku?" sewot Baekhyun dengan wajah galaknya. Chanyeol berdecih kemudian menarik earphonenya hingga terlepas.
"Apa sih maumu? Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Termasuk kau!" kepalanya menyender pada sandaran kursi. Ia mendongak, menatap langit biru dengan sedikit awan putih yang menggantung.
"Aishhh—jinjja! Bahkan kau sendiri yang tadi mengajakku kesini!"
"Kalau begitu pergilah! Telingaku sakit mendengar suaramu, Byun 'idiot' Baekhyun!" Chanyeol berteriak dengan suara baritonnya. Wajah galak Baekhyun terlihat semakin kentara hingga ia kini beranjak dari duduknya.
"Awas kau! Akan kuberitahu Jongin jika kau menyukai Kyungsoo! Kau memang pantas mendapatkan lebam di wajahmu itu!" ia berjalan ke arah pintu dengan cepat.
"Dan akan kuberitahu Kris Saem jika kau menyukainya!" balas Chanyeol yang direspon dengan kepalan tangan Baekhyun. Dan setelahnya terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras. Chanyeol kemudian terkekeh pelan. Ia kembali memasang earphonenya dan menatap langit silau yang membuat matanya harus memicing tajam. Memendam perasaan terhadap seseorang rasanya memang menyakitkan. Namun hanya itu yang bisa ia lakukan. Itu dulu—dan sekarang ia memutuskan untuk mengatakannya sebelum Baekhyun benar-benar akan memberitahu Jongin jika ia menyukai kekasihnya—atau nanti akan berubah menjadi mantan kekasihnya. Ia pun dengan cepat segera beranjak dari kursinya dan pergi dari sana.
oOo
Tao bilang pertandingan wushu dimulai setelah jam sekolah Cheogdam selesai. Sehun dengan langkah terburu turun dari bus dan berlari menuju sekolah yang terletak 200 meter dari halte. Bisa ia lihat gerombolan siswa yang berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Mungkin mereka bukan penggemar wushu. Dan kini ia menjadi pusat perhatian mereka karena harus berlari berlawanan arah.
Sehun berhenti saat kakinya sudah memasuki kawasan sekolah dengan lahan serta bangunan yang amat luas itu. Ia bingung sendiri harus pergi ke arah mana. Dan pada akhirnya ia harus bertanya pada salah satu siswa secara acak dimana letak gedung olahraga sekolah mereka.
"Kau tinggal teruuuus berjalan lurus melewati koridor, kemudian di ujung sana terdapat taman yang cukup luas lalu kau belok kiri dan disana kau akan menemukan sebuah ruangan bercat putih dengan tulisan ruang kesehatan. Lalu setelah melewati tempat itu kau belok kanan kemudian terdapat gedung tua bertuliskan perpustakaan dan setelah itu kau tinggal berjalan lurus. Gedungnya ada disana. Dan ah—apa kau ingin melihat pertandingan wushu? Jika iya, kebetulan sekali! Aku juga akan melihatnya. Kita bisa pergi bersama jika kau mau." Tawar siswa bermata sipit dengan senyum lebarnya. Sehun masih setengah bingung karena penjelasan Baekhyun yang terlalu cepat. Namun merasa ada teman, Sehun pun mengangguk lega kemudian mereka berjalan beriringan menuju gedung olahraga.
"Kau menyukai wushu emm—"
"Namaku Baekhyun. Yah, kau bisa memanggilku seperti itu. Sebenarnya aku lebih menyukai hapkido. Karena aku sudah mempelajarinya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tapi selama itu seni beladiri, aku menyukainya." Tutur Baekhyun yang direspon dengan anggukan Sehun.
"Aku juga lebih menyukai taekwondo. Tapi si panda itu yang memaksaku untuk melihat pertandingannya! Kau tahu? Aku bahkan harus bolos kelas profesor killer karena ia terus mengirimiku pesan agar aku datang tepat waktu. Dan itu demi dia! Menyebalkan!" ceroscos Sehun panjang lebar dengan ekspresi kesalnya. Baekhyun yang sejak tadi memperhatikannya hanya terkekeh pelan.
"Panda? Kungfu panda?" Baekhyun mengulum senyumnya.
"Dia temanku."
"Kau benar-benar teman yang baik."
"Tentu saja. Ngomong-ngomong kau kelas berapa?"
"Aku siswa tingkat akhir. Hahh bahkan hari ini ada pelajaran tambahan hingga larut malam. Benar-benar melelahkan. Aku berharap bisa membolos sepertimu engg—"
"Eoh? Ah! Namaku Sehun, mahasiswa Universitas Nasional Seoul tingkat 2." Ia hampir lupa memperkenalkan diri.
"Dan hei! Kau siswa kelas 3? Kalau begitu apa kau mengenal Kim Jongin?" ujar Sehun penasaran. Sedikit enggan untuk bertanya.
"Jongin? Tentu saja! Siapa yang tidak tahu Kim Jongin di sekolah ini. Kadang aku benar-benar iri padanya. Dan kau mengenalnya?" Baekhyun bertanya antusias. Bagaimana mungkin pria disampingnya itu mengenal Kim Jongin? Apa Jongin begitu terkenal hingga dikalangan mahasiswa?
"Ani. Aku tidak mengenalnya. Ngomong-ngomong kenapa sekolah ini benar-benar luas?" dusta Sehun seraya mengganti topik pembicaraan. Baekhyun mengerutkan dahinya bingung.
"Lalu kenapa kau tahu Kim Jongin?" Baekhyun merasa belum mendapat jawaban atas pertanyaannya. Jongin memang angkuh. Ia tidak mungkin mengenal seseorang semacam Sehun—yang benar-benar memiliki tipikal jauh berbeda dengan Jongin.
"Ah itu—aku hanya mendengar gosip saja tentang keangkuhannya." Sehun mulai mengarang cerita yang membuat Baekhyun semakin bingung. Dalam hati ia memang setuju dengan sikap angkuh Kim Jongin.
"Oh wow! Apa ini pertemuan ketiga kita?" tiba-tiba suara rendah seseorang membuat mereka menghentikan langkahnya. Sehun menoleh ke samping, mendapati seseorang yang baru saja menuruni tangga. Baekhyun bahkan sudah terlebih dahulu menahan nafasnya saat melihat siapa yang kini muncul di depan mereka.
"Neo? Bagaimana mungkin—ah! Jangan-jangan kau—" Sehun memperhatikan pria itu dari atas ke bawah.
"Dia guru olahraga baru di sekolah ini. Namanya Kris." Baekhyun berbisik di telinga Sehun namun masih cukup terdengar jelas oleh Kris. Ia terkekeh pelan sambil berjalan mendekati mereka.
"Ah, sepertinya Baekhyun-ssi cukup tahu tentangku." Kris mengedipkan sebelah matanya ke arah pria mungil itu. Baekhyun hampir tersedak ludahnya sendiri, begitupun Sehun. Dan sudah pasti wajah Baekhyun kini memanas karena mendapat wink tak terduga dari guru tampan itu.
"T—tentu saja! Saem 'kan baru memperkenalkan diri di kelasku kemarin. Aku masih memiliki ingatan yang baik. Dan kau tahu namaku?" Baekhyun menjerit dalam hati. Ia begitu senang saat Kris menyebut namanya dengan benar dan jelas.
"Aku akan mengingat semua nama muridku. Dan kau—" Kris melirik Sehun yang sempat terabaikan.
"Ne?"
"Aku bahkan belum tau namamu. Padahal ini bukan pertemuan pertama kita."
"Namaku Sehun. Oh Sehun." Ucapnya dengan pengucapan huruf 'S' yang terdengar samar.
"Sehun-ssi, senang bisa mengetahui namamu—" Kris tampak berpikir dengan mata memicing menatap Sehun.
"Oh Sehun?"
"Ne?" matanya membulat menatap Kris yang tengah memiringkan kepala ke arahnya. Kemudian telunjuknya terangkat, tampak mengingat-ingat sesuatu.
"Jamkanman. Bukankah kau bermarga Kim? Kau kakak dari Kim Jongin, 'kan?" pertanyaan Kris membuat Sehun tercekat seketika. Ia baru ingat! Tempo hari Jongin menyeretnya dari minimarket karena ia bilang ibu mereka mencarinya. Sial! Ia dalam masalah sekarang!
"Ah itu—kita memiliki ibu yang berbeda. Ne! Ibu yang berbeda. Lalu ibuku menikah dengan ayahnya Jongin jadi yah.. Aku menggunakan marga ayah kandungku. Ne, begitu hahahaha.." terlihat sekali jika tawa Sehun benar-benar dipaksakan. Si bodoh Jongin sudah terlanjur membuat kebohongan! Ia melirik Baekhyun yang tengah menatap mereka tak percarya..
"Jadi kau kakak tirinya Jongin? Tapi kau bilang tadi—"
"Tadi aku hanya bercanda, Baekhyun-ssi. Mian." Sehun tersenyum canggung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Aku tak pernah tahu jika ayahnya menikah lagi." gumam Baekhyun pelan. Sehun yang tak sengaja mendengarnya kemudian mencondongkan kepalanya ke arah Baekhyun.
"Aku juga tak tahu jika ibuku menikah lagi."
"Mwo?" mulut Baekhyun membentuk huruf O dengan sempurna. Sehun memamerkan deretan gigi putihnya kemudian ia menyadari sesuatu.
"Aigo! Pertandingannya! Tao pasti akan membunuhku! Mian, Kris-ssi, aku harus segera pergi! Kajja, Baekhyun-ssi!" ia membungkuk ke arah Kris diikuti oleh Baekhyun kemudian mereka pun berjalan cepat menuju gedung olahraga.
"Tao?" Kris terus mengulang nama itu di otaknya. Kemudian matanya membulat.
"Tao? Dia ada disini?" dan tanpa berpikir lagi ia segera berlari menyusul Baekhyun dan Sehun yang sudah berada cukup jauh di depan mereka.
oOo
"Manager Lu, Anda mau kemana?" suara seseorang menginterupsi langkah pria berparas cantik itu. Ia menoleh, mendapati Sekretaris Jung sudah berada di belakangnya.
"Jwesonghamnida, aku benar-benar harus pergi sekarang." Wajahnya terllihat gelisah. Pria berkacamata itu menatapnya heran.
"Apa ada masalah? Baiklah, tapi 1 jam lagi rapat akan dimulai."
"Aku berjanji akan kembali dalam waktu 30 menit." Luhan pun membungkuk kepadanya kemudian berjalan dengan tergesa meninggalkannya. Yonghwa dapat menangkap jika sesuatu yang tidak beres tengah menimpanya. Mungkin masalah pribadi?
"Sekretaris Jung!" tiba-tiba seruan seseorang membuat lamuannya buyar. Ia menoleh, mendapati Minhyuk yang tengah berjalan dengan cepat ke arahnya.
"Ne? Apa ada masalah?" matanya menatap berkas-berkas yang dibawa Minhyuk.
"Kau tahu siapa yang menginput data di dalam berkas-berkas ini? Setelah dicek, ternyata terdapat kesalahan. Dan rapat akan dimulai kurang dari 1 jam lagi!" ia terlihat cemas. Yonghwa segera membuka lembaran berkas itu kemudian meemperhatikan data-data yang tertera disana.
"Ini kan—" ia tahu jika Luhan yang mengerjakannya. Dugaannya memang tak salah jika Luhan memang sedang memiliki masalah.
"Biar aku saja yang memperbaikinya. Kau cek ulang dengan teliti berkas yang lain dan beritahu aku jika ada kesalahan."
"Ne! Kalau begitu saya permisi dulu!" pria itu pun membungkuk kemudian berjalan berlawanan arah dengan langkah pria berkacamata tersebut. Dan ia berharap Luhan bisa kembali tepat waktu.
oOo
TIIN TIIN
Luhan menekan klakson dengan tidak sabar. Mobil di depannya membuat ia kesal. Padahal ia berjanji pada Sekretaris Jung bahwa ia akan kembali dalam waktu 30 menit. Jia seperti ini bisa-bisa ia akan terlambat menghadiri rapat!
Tangannya mengeluarkan ponsel dari saku blazernya. Mengetik sebuah pesan untuk seseorang yang akan ditemuinya hari ini.
'Kau di sekolah? Aku akan menjemputmu sekarang dan tak ada penolakan.'
Pesan itu pun terkirim pada Jongin. Ia menggigit bibir bawahnya kemudian menginjak gas saat mobil di depannya perlahan mulai kembali berjalan.
Luhan benar-benar kacau. Ia tak bisa jika tanpa Sehun. Ia tak bisa jika terus diabaikan Sehun. Ia harus bertemu Sehun. Ia ingin tahu bagaimana kabarnya. Ia ingin melihat wajah itu—senyumnya—semuanya. Ingin mendengar suaranya—menyentuhnya—mendekapnya. Ia membutuhkan Sehun. Jika terus seperti ini, ia bisa mati secara perlahan.
Ia melirik ponselnya. Tak ada balasan dari Jongin. Apa ia mengabaikannya? Atau memang ia belum membuka pesannya? Ia berdecak pelan. Apa susahnya memberitahunya dimana Sehun tinggal? Kenapa Jongin seolah melindunginya? Apa jangan-jangan Jongin— Luhan segera menepis pikiran buruk di otaknya. Tidak mungkin jika anak itu memiliki perasaan terhadap Sehun. Bukankah sejak awal ia tak menyukainya? Ia meyakinkan dirinya kemudian kembali fokus pada jalanan dan melajukan mobilnya cepat menuju sekolah Jongin.
oOo
Kyungsoo tengah menelusuri setiap buku di dalam rak. Saat matanya menemukan judul buku yang sejak tadi ia cari, tiba-tiba tangannya ditarik begitu saja oleh seseorang.
"Y—ya!" ia sesekali tersandung lantai kemudian mendongak, mendapati Chanyeol yang tengah menarik tangannya.
"Park Chanyeol, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku." Sebelah tangannya berusaha melepaskan tangan Chanyeol yang menggenggam kuat pergelangan tangannya.
"Kumohon Kyungsoo-ah, ada yang ingin kubicarakan." Pada akhirnya Kyungsoo mengalah. Jika tetap memberontak, maka Chanyeol akan tetap memaksa. Langkahnya membawa Kyungsoo menuju rooftop sekolah. Dan mereka tak tahu jika seseorang dengan tatapan tajamnya mengikuti mereka dalam jarak yang aman.
.
.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" suara Kyungsoo memecah keheningan yang melanda. Mereka kini berdiri berhadapan. Chanyeol menarik nafasnya—mengumpulkan nyali untuk mengatakan isi hatinya. Jantungnya sudah berdebar tak karuan, begitupun Kyungsoo.
"Soo, mungkin ini sudah saatnya." Dahi Kyungsoo berkerut dengan ucapan pria tinggi itu.
"Aku menyukaimu." Pernyataan lugas itu membuat mata bulat Kyungsoo membesar dengan sempurna. ia mengepalkan kedua tangannya yang terasa dingin dan sudah berkeringat. Jantungnya berdebar tak karuan. Entah kenapa ada perasaan hangat yang menjalar saat Chanyeol menyatakan perasaannya seperti itu.
"A—aku.."
"Aku tahu. Kau tak mungkin menerima perasaanku. Aku tahu jika semuanya memang sudah terlambat. Kau sudah menjadi milik Jongin. Tapi setidaknya—perasaan ini tidak akan terus mengganjal hatiku. Hah! Aku benar-benar lega!" Chanyeol berbalik menghadap pagar pembatas. Merasakan hembusan angin sore yang menerpa wajahnya. Matanya terpejam dengan tangan merentang lebar. Ia tersenyum, seperti orang bodoh. Kyungsoo di sampingnya hanya bisa menatapnya sendu. Kemudian sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Kaki pendeknya mendekat ke arah Chanyeol, lalu berhenti tepat di belakangnya tanpa diketahui oleh pria tinggi itu.
"Jerapah bodoh." Lengan Kyungsoo melingkar di perut Chanyeol. Ia sontak membuka matanya saat merasakan punggungnya terasa hangat. Detak jantungnya menjadi semakin tak karuan. Kemudian dilepasnya dengan perlahan tautan tangan di perutnya dan ia perlahan berbalik, mendapati Kyungsoo dengan wajahnya yang memerah.
"Kyungsoo-ah, apa yang kau—" lagi-lagi ucapannya harus terhenti saat Kyungsoo yang hanya memiliki tinggi sebatas bahunya menubrukkan tubuh mereka. Menenggelamkan kepala itu di dadanya dengan tangan kembali melingkar pada pinggang Chanyeol.
"Mianhae, Chanyeol-ah. Tapi biarkan seperti ini." Kyungsoo menghirup udara di sekitarnya yang dipenuhi aroma Chanyeol. Matanya terpejam karena perasaan nyaman. Dan pemilik senyum lebar itu hanya bisa mengulum senyum kemudian tangannya perlahan terangkat untuk mendekap Kyungsoo dengan erat.
oOo
Sehun duduk diantara Kris dan juga Baekhyun. Di bawah sana Tao sedang menunjukkan kemampuan wushunya yang membuat hampir semua orang di dalam gedung terpukau karenanya.
"Kenapa kau baru memberitahuku jika Tao adalah temanmu?" ucapan Kris membuat Sehun yang tengah takjub dengan kemampuan Tao harus segera menoleh. Ia menatap guru olahraga itu bingung.
"Mmm apa aku harus memberitahumu juga?" Sehun tersenyum masam. Menurutnya Kris orang yang sedikit—aneh. Dan tepuk tangan riuh membuat 2 orang yang tengah berbincang itu mengalihkan tatapan mereka ke bawah sana. Tao sudah menyelesaikan aksinya dan matanya menyapu ke arah bangku penonton. Sudah pasti jika ia mencari Sehun. Dan saat manik kelam itu menemukan sosok pria berambut kecoklatan tersebut, tenggorokannya seketika tercekat. Bukan. Ini bukan karena Sehun. Melainkan karena sosok pria yang duduk di sebelahnya yang tengah menatapnya lurus.
"Sepertinya aku ketahuan." Kris yang tengah memberi applausenya berbicara cukup keras.
"Mwo? Maksudmu?" Sehun semakin tidak mengerti. Ditatapnya pria yang menurutnya aneh itu lalu ia mengikuti arah pandangnya. Rupanya ia tengah menatap Tao dan—pria panda itu pun balas menatapnya.
"Kau mengenalnya?" entah kenapa Sehun merasa ini adalah sebuah kebetulan. Padahal ia belum mengetahui satu kebetulan lagi yang mungkin akan mebuatnya lebih terkejut.
"Lebih dari sekedar mengenalnya."
"Kris Saem!" tiba-tiba seorang murid yang sudah menerobos kerumunan berdiri di depan mereka.
"Ne?" ia dengan sangat terpaksa harus memutuskan kontak matanya dengan Tao. Murid yang tampak terengah itu merunduk lalu berbisik di telinga Kris karena keadaan di sekitar mereka begitu ramai.
"Dimana?"
"Atap sekolah Saem!" wajahnya sedikit cemas kemudian Kris menyuruhnya pergi. Ia melirik Sehun yang sejak tadi memperhatikannya.
"Sehun-ssi, sepertinya adik tirimu membuat masalah lagi."
"Mwo?" Sehun lagi-lagi harus mengerjap bingung. Kris mengisyaratkan agar Sehun dan Baekhyun kini mengikutinya pergi. Menuju rooftop sekolah.
oOo
BRAK!
"YA! KIM JONGIN, PARK CHANYEOL, GEUMANE!" suara Kris yang menggelegar tak membuat kedua siswa itu berhenti saling mendorong. Kyungsoo pun tak bisa berbuat apa-apa. Kris, Baekhyun, dan juga Sehun berlari ke arah mereka.
"BRENGSEK KAU PARK CHANYEOL!" Jongin menarik kerah seragam Chanyeol hingga 2 kancing teratasnya terlepas.
"BERHENTI!" Kris sekali lagi berteriak sambil berusaha memisahkan mereka. Namun rupanya tenaga pemuda yang tengah dilanda emosi jauh lebih kuat dibandingkan dengannya.
"Sehun-ssi, bawa Jongin pergi dari sini!" teriaknya ke arah Sehun. Pria bermata hazel itu mencengkram lengan Jongin cukup kuat.
"Lepaskan aku, bodoh!" makian Jongin terhadapnya tak ia dengar. Ia hanya ingin menghentikan Jongin dan membawanya pergi dari sana.
"Baekhyun-ssi, Kyungsoo-ssi, bawa Chanyeol pergi!"
"YA BRENGSEK KAU MAU MEMBAWAKU KEMANA?!" kata-kata kasar itu terus ia lontarkan pada Sehun saat pria itu kini menyeretnya pergi darisana. Entah mendapat kekuatan darimana hingga Sehun bisa membuat Jongin yang sejak tadi meronta pun tak bisa lepas dari cengkramannya. Sehun terus berjalan sekuat tenaga, tanpa mencela apa yang Jongin katakan padanya. Namun pada akhirnya ia harus pasrah begitu saja ketika melewati kumpulan siswa di depan mereka lalu mengikuti kemana Sehun membawanya pergi. Dan ketika keadaan sekitar kembali lengang, ia akan kembali berteriak dan memaki Sehun untuk melepaskannya.
"Lepaskan aku Oh Sehun brengsek! Kau tak berhak mencampuri urusanku!" ia kembali berteriak saat mereka kini sudah berada di jalanan lengang di depan sekolah. Sehun kini menyeretnya masuk ke dalam sebuah taman yang terletak tak jauh darisana. Sehun kembali merasakan hentakan kuat pada tangannya karena Jongin kembali memberontak.
"AKU TAK AKAN PERNAH MELEPASKANMU, BODOH!" akhirnya seluruh emosi yang mengganjal di dadanya sejak tadi ia keluarkan dalam satu teriakan nyaring. Jongin hanya terdiam saat menatap wajah Sehun yang begitu marah. Mereka saling menatap dalam diam.
"Aku tak akan melepaskan tanganmu jika kau akan kembali kesana dan kembali bertengkar dengannya!" kini sebelah tangannya mencengkram pergelangan tangan Jongin yang lain. Mereka berdiri berhadapan. Jongin menatap nyalang ke arahnya dengan nafas yang sama-sama terengah.
"Jangan-mencampuri-URUSANKU!" teriaknya sambil kembali menghentakkan tangannya. Namun Sehun tak bergeming, masih menggenggam kuat kedua pergelangan tangan itu.
"Apa kau bilang? Aku mencampuri urusanmu? DENGAR! BUKAN AKU YANG MENCAMPURI URUSANMU! TAPI KAU SENDIRI YANG MENYERETKU KE DALAM URUSAN BODOHMU ITU! KAU BODOH! KAU KEKANAKKAN! BRENGSEK!" tangannya kini beralih mencengkram kerah seragam Jongin lalu mengguncangnya. Sehun kemudian menunduk, mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena emosi. Dan pada akhirnya ia melepaskan cengkramannya.
"Tak bisakah kau menyelesaikan masalahmu secara baik-baik? Kau bukan anak SD lagi! Seharusnya kau tahu itu. Kau sudah dewasa, Jongin. Pertengkaran seperti itu tak akan pernah menemukan titik temu. Dan sebaliknya, pertengkaran hanya akan membuat masalah semakin melebar. Dan maaf, jika kata-kataku tadi sedikit kasar. Pergilah. Bukankah sebentar lagi pelajaran tambahan dimulai? Jika bertemu Tao katakan saja jika aku sudah pergi. Dan berjanjilah untuk tidak bertengkar lagi." Ia berjalan perlahan meninggalkan Jongin yang masih terdiam disana. Tak ada yang harus diprotes. Kali ini ia setuju dengan ucapan Sehun.
"Oh Sehun jamkanman—" mata Jongin kembali menatap tajam saat 2 sosok yang paling tidak ingin ia lihat saat ini datang ke arah mereka. Sehun pun harus menghentikan langkahnya. Ia tak ingin pertengkaran itu terjadi lagi. Ia tak yakin jika Jongin maupun Chanyeol sudah bisa menjaga emosinya.
"Chanyeol-ssi, ada apa lagi?" Sehun menatap was-was ke arah pria tinggi itu. Dan matanya menatap hal mengejutkan didepannya. Ia sedikit menoleh dan mendapati Jongin yang masih berdiri di tempat semula dengan tatapan lurus pada tangan yang saling bertautan itu.
"Kumohon, kita selesaikan secara baik-baik!" pinta Chanyeol padanya. Namun hanya seringai muak yang tercetak di wajah Jongin. Ia kini melangkah maju dan berdiri di samping Sehun.
"Kalian tidak perlu merasa bersalah. Seharusnya aku yang meminta maaf duluan. Terutama padamu, Kyungsoo." Jongin menatap mata Kyungsoo sendu. Perasaan sesak itu menyergapnya kali ini. Ia menatap Kyungsoo lama—dengan senyuman miris kemudian tertunduk diikuti dengusan pelan.
"Maaf, karena aku sudah terlebih dahulu mengkhianatimu." Pernyataan Jongin membuat Sehun ikut menoleh ke arahnya. Sementara Chanyeol semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Kyungsoo. Dan setelahnya Sehun terkejut ketika Jongin kini menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Karena orang ini." matanya tidak terlepas dari manik mata kecoklatan Sehun. Dan tubuhnya seketika menegang saat Jongin berjalan ke arahnya lalu berhenti tepat di depannya. Jantung Sehun semakin berdegup kencang saat kedua tangan Jongin kini menangkup pipinya begitu saja. Ia membulatkan matanya dan terlalu shocked untuk menyuarakan protes ketika wajah Jongin semakin mendekat dan bibir Jongin mendarat diatas bibirnya. Kemudian ciuman kilat itu berakhir begitu saja saat Jongin menarik wajahnya menjauh lalu mendapati Sehun dengan ekspresi terkejutnya.
"Aku mencintai orang ini!" ujar Jongin tegas. Kyungsoo menundukkan kepalanya, tak ingin melihat pemandangan di depannya. Sementara Chanyeol mengepalkan sebelah tangannya dengan rahang mengatup rapat. Dan detik berikutnya Jongin mendekatkan kembali wajahnya dengan wajah Sehun yang masih terlihat shocked total.
"Maafkan aku. Tapi kali ini kau benar-benar harus mencampuri urusanku." Bisik Jongin tepat di depan bibir Sehun. Dan detik berikutnya Jongin kembali mencium bibirnya lalu mengulumnya lembut. Mereka tak menyadari jika sepasang mata lagi tengah memperhatikan scene menyakitkan itu dengan kedua tangan terkepal.
To be Continued
.
.
*jerit dulu boleh?* KYAAA! OMG! CHRISTMAS DAY LIVE PERFORMANCE+COREOGRAPHY SHOW CHAMPION TODAY! THEY LOOKED SO SEXY WITH THOSE SUSPENDERS+BOWTIES+VEDORA HATS+TIGHT PANTS+DANCING MOVES=I CANT CONTROL MYSELF T_T I LOOOVE IT THAT MUCH! LUHAN! What to do T_T.. Greget banget liat mereka.. greget pengen nyulikk.. They look cute and hot T_T Anyway, mulai nih KaiHun keliatan eksistensinya xD *digampar KaiHun shippers*
Balesin review chapter 7 dulu deh hehe~ *mian yg chapter2 sebelumnya gak dibalesin*
sayakanoicinoe: ini udah dilanjut^^ makasih ya udh review..
HyuRin: waahh makasih ya udh read and review. gpp kok. Ok ditunggu aja ff lainnya^^
Krisho Exotics: iya xD Sorry for making such mistake. Makasih koreksinya^^
BaixianGurls: nttar di chapter depan mungkin bakalan ketauan hubungan mereka kaya gimana. Pokoknya sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia *nyanyi* Makasih udah RnR^^
Xxx: Hubungan mereka akan berkembangan seiring chapter *yaiyah* KrisKai? Noooo... It's only teacher-student relationship. Gak lebih Xd Meskipun mereka look cute together yaah.. makasih udh read and review..
Jung Ri Young: Jongin sama Sehun ngeliat author jadi aja si Jongin bilang brengsek *apadeh* xD Sehun sama Tao Cuma sebatas sahabat aja. Makasih udh review...
enchris.727: Kris kan orangnya SKSD xD Sengaja bikin dia agak aneh disini. Abisnya dia emg aneh bgt aslinya *based on my opinion xD* thx udh review
WeAreOneXoLoveKaiHun: makasih udh suka ff-nya^^ ok.. ntar dibanyakin deh KaiHun momentnya hehe. Makasih udh review..
HeavenEarth: makasih udh review.. jangan gila dong ntar klo gila siapa yg mau baca ff ini? hehe
AnjarW: sama2.. keep reviewing yaa biar terus dilanjut^^ thx
LM90: disini emg banyak salah pahamnya ya haha.. makasih udh review
Happybacon: baru ada benih-benih cintanya. Dikit xD makasih udh review
daddykaimommysehun:Luhannya main serong sama author haha... makasih udh review
rainrhainyrianarhianie: entar ya tebar bunganya pas nikahan saya sama luhan aja xD Udh kejawab belum pesarannya? Tinggal hubungan KrisLay ya yg belum terungkap? OK! Masih banyak yg belum terungkap kok *pose ala ala detektif* makasih udh review
Oh Dhan Mi: hehehhehe makasih udh review.. ihh aku suka deh sama ff2 kamu *SKSD*
sehunnoona: Jongin mulutnya emg harus dikasih lakban. Makasih udh review..
ayanesakura chan: HIHIHIH CAPSLOCKNYA JEBOL YA? XD MAKASIH YAAA UDAH REVIEW MUAH MUAH XD
opikyung0113: Complicated ya.. aku juga jadi bingung sendiri. Makasih udh review..
nin nina: hmm pasti ada.. ntar juga terungkap hubungan mereka xD Makasih udh review..
Keepbeef Chiken Chubu: bukan xD Yang ada ke si Kai mah pengen ngegtok tuh si Kris, bukannya rindu hahah.. makasih udh review..
Rara Jung: duhhhh tapi Luhannya udh keburu mutusin kontrak katanya mau bertahan jadi suami author aja xD *APAAN* Makasih udh review
ansfifa: jahat karena galau. Maklum lah ababil hahahah makasih udh review
bbuingbbuingaegyo: murid spesial karena badungnya xD Sehun bakalan sabar terus kok. Soalnya bayaran dia tiap chapter dikasih satu cup bubble tea *murah amat* hahaah.. thx udh review
Fuhh beres juga.. Btw liat Sehun di Showtime eps 3 cara dia ngomong bener2 manjaaaaa bgt rasa2nya xDD Aslinya emg kaya gitu. Badan aja bongsor but... HE'S STILL A BABY!
WELL, THX FOR GIVING REVIEWS, FAVORITES AND FOLLOWS TO MY OWN STORIES! SEE YA IN NEXT CHAPTER! BBUING BBUING *dengan suara serak ala LuHan*^^
