Hiks hiks, aku terharu. Berkat chapter kemarin entar berapa hape yang rusak dan entah berapa kantung mata yang bocor dan juga frustasi. Aku bangga sama diri sendiri. (kebanggaan macam apa itu?!)
Jangan terlalu benci sama Sasuke lah, dia punya alasan sendiri. Tapi memang sedikit berlebihan ya reaksinya. Sampai ada yang ingin nyiksa dia, garuk dia, mukulin dia, dan ide-ide menarik lainnya. Aku juga ikutan dong #sarap. Siapa yang bilang pengen kasih Naru ke Itachi? Jangan dong, nanti Kyuu gimana.
Ya sudahlah, aku ga akan banyak ngomong sekarang. Silahkan lanjutin aja bacanya.
Chapter 15!
Sendirian tidak pernah begitu menggangunya sebelumnya. Selama ini hidupnya hanya berputar sekitar keluarganya dan pekerjaannya. Dia tidak pernah memberikan ruang bagi hal lain untuk masuk dan dia menikmati hidupnya yang seperti itu. Lalu mengapa sekarang dia merasa hidupnya sepi?
Tangannya meraih foto yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya. Kaca piguranya sudah retak karena dia banting beberapa waktu lalu. Meski begitu dia tidak sanggup merusak atau pun membuangnya. Jari-jarinya mengelus wajah yang sedang tertidur di dalam foto itu. Sejak kapan dia menjadi selemah ini?
"Kenapa harus kau?"
Dia meletakan foto itu kembali ke tempatnya. Di sampingnya ada sebuah box kecil yang dia dapatkan di hari ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Melihat benda tersebut mengingatkannya akan perjuangan seseorang hanya untuk membelikannya benda tersebut. Apa mungkin seseorang rela berkorban seperti itu jika dia tidak tulus melakukannya. Atau semua itu justru untuk menutupi rasa bersalahnya karena sudah menyembunyikan sesuatu. Dia menggeleng. Tidak, walau bagaimana pun itu terlalu berlebihan. Tidak mungkin seseorang mau melakukan hal sejauh itu hanya agar dia tidak dicurigai. Benar, kan?
Pikirannya kacau dan perasaannya juga bercampur aduk. Sasuke tidak tahu lagi mana yang benar. Dia pikir setelah mengetahui bahwa dia telah dikhianati akan mudah baginya untuk melupakan perasaannya. Tapi ternyata hatinya belum bisa melepaskan Naruto. Ada sesuatu yang mengganjal dan menahannya untuk melupakan Naruto. Dia membencinya tapi dia juga mencintainya.
Mikoto perlahan menutup pintu kamar putranya. Dia selalu memperhatikan bungsunya sejak Itachi meminta pada mereka semua untuk menjauhkan topik Naruto dari Sasuke. Tidak, Itachi tidak meminta, dia memohon. Itachi tidak pernah memohon sebelumnya kepada siapapun, karena itu tidak ada yang bisa menolak ketika dia melakukannya. Mereka percaya Itachi punya pertimbangan sendiri.
Walau begitu Mikoto tidak bisa berhenti khawatir. Bukan hanya mereka yang menjauhkan topik Naruto, Sasuke sendiri tidak pernah mengungkitnya padahal sudah beberapa hari istrinya itu tidak pulang. Sasuke pun selalu menunjukkan sikap bahwa semua wajar-wajar saja. Awalnya Mikoto pikir Sasuke sudah tidak peduli lagi, tapi setiap kali sendirian Sasuke selalu menatap foto istrinya dengan wajah sedih dan juga rindu. Dia tidak tahan melihatnya. Mungkin dia harus meyakinkan Itachi sekali lagi untuk bicara pada Sasuke.
"Itachi, apa hari ini kau akan ke rumah sakit lagi?"
Itachi baru saja turun dari kamarnya dan sudah bersiap untuk pergi. Karena ini hari Minggu dia ingin pergi sepagi mungkin. "Iya, apa Ibu ingin pergi bersama?" Yang mendapat giliran menginap semalam adalah Minato dan Kushina, karena itu Mikoto ada di rumah sekarang.
"Nanti saja Ibu pergi bersama Ayahmu, kami akan segera menyusul." Itachi mengangguk tanda mengerti dan meneruskan berjalan, tapi Mikoto menghentikannya. "Ada apa, Bu? Sepertinya ada yang ingin Ibu katakan."
"Itachi, apa tidak apa-apa kita diam saja seperti ini? Sasuke selalu terlihat sedih dan murung walau dia tidak pernah menunjukkannya di depan kita. Bukakankah di saat seperti ini justru Naru membutuhkan Sasuke?"
"Ibu, aku mengerti tapi aku memiliki alasanku sendiri. Kita biarkan saja dulu sebentar lagi, pada akhirnya aku yang akan memberitahu Sasuke semuanya."
Tembok ini yang dia tidak sukai karena dia tidak bisa merobohkannya. Kedua anaknya memang keras kepala dan sulit sekali mengubah keputusan mereka, tidak bedanya dengan menantunya. "Baiklah, hanya saja jangan terlalu bersikap dingin padanya. Ibu tahu kau sedang marah pada adikmu walau Ibu tidak tahu apa mesalah kalian. Ibu tidak mau satu lagi anak Ibu menderita."
"Aku tahu."
Mikoto menghela napas melihat putranya pergi. Dia berharap keadaan akan membaik bagi semuanya. Sekali lagi dia menatap pintu kamar Sasuke dengan kekhawatiran sebelum pergi menuju kamarnya untuk bersiap pergi menyusul ke rumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit Itachi memikirkan kata-kata Mikoto. Sasuke sedih? Sedih saja belum cukup membayar atas kata-kata yang dia ucapkan tentang Naruto. Sasuke perlu menderita sedikit lebih lama lagi. Itachi sadar dia bersikap terlalu protektif kepada Naruto, dia bahkan rela menyakiti adik yang selalu disayanginya. Tapi Sasuke benar-benar keterlaluan apapun alasan dia melakukannya. Bukankah dia mencintai Naruto? Padahal jika saja Sasuke melupakan egonya dan bertanya padanya mengenai Naruto, Itachi dengan senang hati memberitahunya. Di saat seperti ini ego seorang Uchiha malah menghalangi. Adik bodohnya itu.
Sudah satu minggu Naruto dirawat dan sudah dua hari sejak dia menjalani operasi. Ya, setelah perdebatannya dengan Kushina dua hari lalu akhirnya Ibu dari pemuda bermarga Namikaze itu berhasil menandatangani berkas operasi untuk putranya. Tidak ada yang dapat menghalanginya saat itu, bahkan Itachi dan Kyuubi sekalipun. Sakura segera menjalankan operasi yang memang sudah dia persiapkan sebelumnya dan semuanya berjalan lancar.
Sekarang keadaan Naruto sudah kembali stabil hanya saja dia belum membuka matanya. Itachi berharap saat itu terjadi tidak akan ada kekacauan, entah bagaimana reaksi Naruto saat mengetahui jantungnya sudah dioperasi tanpa persetujuannya.
Itachi memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit dan baru saja berjalan beberpa langkah dari mobilnya ketika hapenya berbunyi. Melihat nama penelepon Itachi langsung memencet tombol terima. "Ada apa Kyuubi? Aku baru saja memarkirkan mobilku, sebentar lagi aku ke atas." Itachi berjalan ke arah lift yang berada tidak jauh dari tempat dia parkir.
"Kau sudah di rumah sakit? Syukurlah. Naru sadar beberapa menit lalu. Aku membutuhkanmu disini."
Langkah Itachi terhenti mendengar kabar Naruto sudah sadar. Dia juga menyadari nada suara Kyuubi yang gugup. Sesuatu pasti sudah terjadi saat Naruto bangun. "Baiklah, sebentar lagi aku sampai."
Itachi mempercepat langkahnya dan memencet tombol lift dengan cepat. Dia berpikir dengan begitu lift akan berjalan lebih cepat karena dia sangat terburu-buru. Begitu dia sampai di lantai yang dituju Itachi segera lari keluar dari lift membuat orang-orang disekitarnya kaget. Hanya butuh dua kali belok dan dia sudah menemukan Kyuubi bersama dengan Kushina.
"Itachi, kau sudah sampai." Sorot mata Kyuubi menunjukkan kesedihan dan juga kebingungan disana.
Tiba-tiba saja Kushina berkata membuat seluruh perhatian tertuju padanya. "Aku tidak menyesal. Yang terpenting anakku hidup."
Itachi kembali menatap Kyuubi dan meminta penjelasan. "Saat Naru bangun dia menyadari ada yang berbeda dari tubuhnya. Dia tidak begitu memperdulikan luka di kepalanya, tapi saat dia melihat jahitan di dadanya dia.. mengamuk." Sudah bisa ditebak. "Dia memaki Sakura dan juga Bibi yang sudah seenaknya mencampuri urusannya. Dia juga mengancam tidak ingin melihat mereka lagi."
"Lalu, bagaimana dia sekarang?"
"Karena baru saja sadar dan langsung bertindak seperti itu tentu saja tubuhnya tidak kuat. Saat ini dia sedang diperiksa, aku meneleponmu karena aku tidak tahu bagaimana menenangkannya. Aku tidak menyangka Naru akan berkata seperti itu, untung saja Kurama tidak mendengar." Saat itu Kurama sedang bersama Minato membeli makanan ke kantin karena si kecil itu belum sempat sarapan dari rumah. Sampai saat ini pun mereka berdua belum kembali.
Itachi menghela napas. "Sudah kuduga akan begini jadinya. Naru selalu menepati janjinya karena itu dia berharap kita semua juga memegang janji kita. Dia tidak akan suka jika orang-orang yang disayanginya justru mengecewakannya."
Kushina menatap Itachi menantang. "Aku tahu itu melebihi siapapun. Tapi jika dia hidup maka Naru memiliki kesempatan untuk bahagia, tidak ada gunanya bila dia mati. Saat aku mendengar dia mencintai Sasuke kau tahu aku merasa sangat bahagia. Bukan karena itu Sasuke, karena itu pertama kalinya Naru menyebutkan kata tersebut selama hidupnya. Itu pertama kalinya aku melihat kehidupan di mata Naru setelah bertahun-tahun." Sorot mata Kushina melembut dan dia tersenyum untuk pertama kalinya sejak Naruto masuk rumah sakit. "Kalian akan berterima kasih padaku nanti. Firasat seorang Ibu tidak akan pernah salah. Naru adalah anakku, suatu saat dia akan mengerti."
Tidak ada yang bisa Itachi katakan lagi jika sudah berkata mengenai firasat seorang Ibu. Mikoto juga sering menyerangnya dengan kata-kata itu, karena itu Itachi tahu keampuhannya. Dia membalas senyum Kushina. "Tentu. Naru adalah seorang anak yang terlalu baik dan penyayang untuk berlama-lama marah pada Ibunya yang begitu mencintainya. Aku yakin dia hanya sedang bimbang saat ini, suatu saat kita semua akan berkumpul lagi sebagai satu keluarga besar."
Seorang perawat keluar dari kamar Naruto dan mengatakan bahwa pasien sudah baik-baik saja dan bisa dijenguk. Kyuubi mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa dirinya yang datang. Terdengar suara Naruto yang mempersilahkan dia masuk. Kyuubi membuka pintu dan masuk bersama Itachi. Naruto sedang duduk menyandar sambil menutup mata.
"Naru."
Mendengar suara yang sangat dia kenal Naruto membuka matanya dan melihat dua sosok yang disayanginya. "Kakak." Itachi mendekat dan duduk di kursi di samping Naruto. Dia mengelus rambut iparnya itu dengan penuh kerinduan.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Kakak, aku… mereka…" Naruto terdengar kesal, tapi saat melihat ke dalam matanya lebih terpancar kesedihan disana daripada kemarahan. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Kenapa mereka harus menyelamatkanku? Padahal aku sudah siap untuk pergi."
Perkataan Naruto mengagetkan Itachi dan Kyuubi. Terakhir kali mereka bicara Naruto siap mengambil resiko untuk hidup dan sekarang dia mengatakan ingin pergi begitu saja? "Naru, apa yang sebenarnya terjadi?"
Naruto meremas sprei kasurnya dan menutup matanya lagi. "Aku sudah tidak punya apa-apa. Saat ini aku membenci mereka berdua."
Mereka berdua yang dimaksud pastilah Kushina dan Sakura. Kyuubi baru saja membuka mulutnya untuk bertanya saat pintu kamar terbuka dan masuklah Sakura. Naruto membuka mata dan segara menatapa wanita berambut merah muda itu dengan penuh amarah seakan mengusirnya. Sakura hanya balas menatapnya cuek dan berjalan mendekat.
"Aku dengar dan mengingat kata-katamu tadi. Tapi ini rumah sakit tempatku bekerja dan aku dokternya, seorang pasien tidak berhak memerintahku meskipun itu kau Naruto. Jadi bencilah aku sesuka hatimu, aku tidak peduli. Tugasku disini adalah menyelamatkanmu dan sudah kulakukan, tidak ada penyesalan." Sudah bisa ditebak kata-kata dari seorang dokter.
"Tapi kau tidak berhak memutuskan hidup mati seorang pasien, terutama ketika pasien tersebut tidak butuh pertolonganmu."
"Ya, bicara saja sesukamu. Aku hanya kemari untuk memberitahu bahwa walaupun sudah operasi kau masih butuh penyesuaian dengan jantung barumu, karena itu kau harus tinggal disini selama dua minggu." Naruto berteriak dan protes dengan penjelasan Sakura. "Kau adalah pasienku yang paling merepotkan, kau tahu itu? Kau harus tinggal suka atau tidak. Aku akan mengikatmu jika perlu, kau dengar?"
"Coba saja. Aku tidak akan segan mengakhiri hidupku jika kau melakukannya." Naruto menatap menantang dan Sakura tahu bahwa pasiennya itu tidak main-main dengan ucapannya.
Dia mendecak dan bertolak pinggang. "Lalu apa maumu?"
"Aku ingin pergi dari sini sekarang juga."
"Kau gila? Kau akan mati dalam sehari jika kau melakukannya."
"Aku tidak keberatan."
"Tidak bisakan kau sedikit peduli pada dirimu sendiri dan meringankan bebanku?"
"Aku tidak peduli."
"Kau ini…"
Entah apa yang harus dia katakan agar pasien yang sekaligus temannya ini mau mendengarnya. Dalam perdebatan itu, Kyuubi dan Itachi tidak berani untuk ikut campur. Bisa saja salah satu dari mereka akan membentak mereka. Entah siapa yang lebih seram.
"Jadi, masih mau mengikatku?"
Sakura menggeram tidak suka dilawan oleh pasiennya sendiri. "Baiklah, tiga hari. Itu penawaran terbaikku dan setelah itu kau boleh pergi kemana saja sesukamu."
Naruto menyeringai. "Tentu saja." Sakura menatap Naruto beberapa lama sebelum berbalik dan pergi meninggalkan mereka bertiga sendirian lagi. Suasana di dalam ruangan menjadi canggung, ketiganya tidak yakin dengan apa yang harus mereka katakan. Setelah beberapa lama Naruto berbicara lagi memecah keheningan diantara mereka. "Kakak, aku tidak akan pulang ke rumah begitu keluar dari sini."
Kyuubi dan Itachi menatap Naruto heran. "Apa kau mau pulang ke rumahmu?"
Naruto menggeleng. "Aku tidak mau melihat Ibu."
"Lalu kau akan tinggal dimana?"
"Aku akan bertanya pada Gaara apa ada kamar kosong di apartemennya. Mungkin ini saatnya aku menggunakan uang tabunganku."
"Kau akan tinggal sendiri?"
Naruto menangkap nada khawatir di pertanyaan Kyuubi. Dia memang selalu seperti itu. Perhatiannya itu mengundang seulas senyum di bibir Naruto. "Kalian masih bisa mengunjungiku jika kalian mau." Naruto hanya ingin sendirian untuk beberapa lama. Banyak yang harus dia pikirkan dengan semua perubahan rencana yang ada. Pertanyaan terbesarnya saat ini adalah apa dia masih ingin hidup? Dan jika iya, bagaimana dia harus hidup?
Mikoto dan Fugaku datang tidak lama kemudian. Naruto hanya sempat memberi salam saja karena setelah itu dia tertidur karena kelelahan. Itachi memberitahu apa saja yang terjadi sejak dia datang kemari dan keinginan Naruto untuk tinggal sendiri setelah dia keluar dari sini. Tidak ada yang bisa menolak. Bahkan Kushina pun hanya tersenyum saat diberitahu. Minato yang sudah kembali dari kantin bersama Kurama beberapa waktu lalu mengajak istrinya untuk pulang dan beristirahat. Kushina juga pasti mengalami beban mental meski dia mengatakan dia baik-baik saja.
"Aku titip Naru pada kalian."
"Tidak perlu khawatir. Bawa saja Kushina untuk beristirahat. Nanti kami kabari jika ada apa-apa."
Ibu dari Naruto itu menatap Itachi dengan rasa bersalah dan mencoba tersenyum. "Itachi, maaf dengan kata-kata Bibi kemarin. Bibi tau kau sangat dekat dengan Naru, lupakan saja semuanya."
"Aku tau. Sudah kulupakan." Kushina tersenyum sekali lagi.
Keempat orang tua itu saling memberi salam dan berpisah. Jadwal jaga mereka tidak pernah berubah walau Naruto sudah sadar sekalipun. Selama tiga hari selanjutnya pasangan MinaKushi dan FugaMiko terus bergantian menginap untuk menemani Naruto. Hanya saja kali ini Kushina tidak pernah masuk ke dalam kamar. Dia hanya akan berjaga di luar dan tidur di kursi ruang tunggu.
Hari dimana Naruto akhirnya meninggalkan rumah sakit, Gaara, Kyuubi, Mikoto dan Fugaku yang giliran menginap, membantunya untuk bersiap pulang ke tempat tinggalnya yang baru. Gaara sudah mendapatkan sebuah apartemen dimana dia tinggal dan hanya berbeda satu lantai. Dengan begitu dia bisa menjenguk Naruto kapan saja.
"Nak Naru, kau yakin ingin tinggal sendiri? Kenapa tidak pulang saja dan tinggal bersama kami?" Ya, mereka masih tidak tahu apa alasan Naruto membuat keputusan itu. Mereka hanya berfirasat bahwa pasti ada hubungannya dengan Sasuke.
"Ibu, kita sudah bicarakan ini sebelumnya. Tidak perlu dibahas lagi."
Semenjak dia sadar setelah operasi, Naruto selalu mengeluarkan aura yang mengatakan dia tidak ingin dibantah. Tidak ada lagi kata-kata permintaan atau pengertian, semuanya berupa keputusan sepihak. Terutama jika itu mengenai hidup baru yang akan dia jalani. Dia tidak peduli lagi pada pendapat mereka, kali ini dia akan hidup sesuai keinginannya sendiri. Bukannya sejak dulu dia tidak pernah bersikap egois, hanya saja kali ini dia tidak butuh pendapat orang lain.
Bisa dikatakan saat ini emosi Naruto sedang tidak stabil dan tidak ada yang begitu berani melawannya.
Melihat bagaimana perlakuannya pada Kushina, ibunya sendiri, mereka berpikir pemuda itu sanggup melakukan apa saja jika ada yang berani melawan keinginannya. Setidaknya untuk saat ini mereka akan diam saja dan menuruti kemauannya.
Barang-barang Naruto sudah dipindahkan ke tempatnya yang baru sehari sebelumnya. Gaara dan Kyuubi melakukannya. Tidak begitu banyak juga barang yang harus dibawa, kebanyakan hanya kimono dan obat-obatan, itupun mereka tidak yakin Naruto masih membutuhkannya. Naruto pergi bersama Gaara dengan mobil milik sahabatnya itu dan berkendara pulang. Fugaku, Mikoto dan Kyuubi tidak ikut memgantar sampai apartemen karena Naruto mengatakan begitu samapi disana dia ingin segera istirahat. Walau yakin tidak sepenuhnya benar, mereka mengerti.
Tempatnya tidak begitu luas, hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, ruang tamu dan juga dapur kecil. Naruto tidak keberatan karena dia akan tinggal sendiri juga, jika tempatnya terlalu besar rasa kesepian akan terasa menusuk. "Tempatku ada satu lantai di atasmu. Jika ada apa-apa kabari saja."
"Iya aku tahu."
Hanya itu saja yang Naruto katakan sebelum masuk ke dalam apartemennya dan mengunci pintu dibelakangnya meninggalkan Gaara sendirian di depan pintu. Pemuda berambut merah itu hanya bisa menghela napas dan pasrah dengan sikap dingin sahabatnya. "Aku akan kembali ke kafe. Telepon aku jika butuh sesuatu." Walau Naruto tidak menjawab, Gaara tahu dia mendengarkan. Sekali lagi dia menggeleng dan akhirnya melangkah pergi.
Naruto perlahan berjalan memasuki tempat barunya. Begitu melihat sebuah sofa kecil disana, dia langsung menghempaskan diri disana dan melamun. Tangannya menyentuh dada bagian kirinya yang terdapat jahitan bekas operasi. Dia kesal, marah dan juga bingung. "Sial. Untuk apa aku hidup sekarang jika Sasuke tidak menginginkanku?"
Dadanya sakit, tapi bukan karena bekas jahitannya ataupun jantung barunya. Menyadari hidupnya sekarang begitu kosong dan tanpa tujuan membuatnya tersiksa. Kenapa dia tidak mati saja? "Sasuke."
Orang yang menyebabkannya seperti ini sekarang sedang duduk di ruangannya, di perusahaan yang dia kelola bersama kakaknya. Sasuke hanya menatap tumpukan file di mejanya dengan tatapan nanar. Tangannya yang memegang bolpoin terhenti di udara dan pikirannya sedang melayang ke tempat lain. Entah berapa lama Sasuke sudah mempertahankan posisinya yang seperti itu. Bahkan dia tidak merasa tangannya yang sudah terasa sedikit pegal karena terlalu lama terangkat.
"Tuan Sasuke?"
Entah berapa kali sekretarisnya sudah memanggilnya dilihat dari wajahnya yang tidak yakin. Sasuke menaruh bolpoin yang sejak tadi dia pegang dan mengatur posturnya. "Ya, ada apa?"
Sekretarisnya terlihat bingung dan sedikit khawatir melihat tingkah laku atasannya. Setelah pertunjukkan antara Itachi dan Sasuke beberapa waktu lalu, semua karyawan selalu was-was melihat keadaan atasan mereka, terutama Sasuke. Dia terlihat berbeda dari biasanya dan menjadi sering melamun, walaupun perkerjaannya selalu dia bereskan dengan baik seperti biasanya.
Sang sekretaris menyerahakan beberapa dokumen untuk Sasuke tanda tangani dan segera meninggalkannya lagi begitu semuanya beres. Sasuke bersandar pada kursinya dan menutup mata. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa berhenti memikirkan tentang istrinya, Naruto. Walau hatinya telah tersakiti, namun dia masih mencintai Naruto.
Telepon di ruangannya berdering dan tanpa begitu banyak berpikir Sasuke langsung mengangkatnya. 'Sasuke, bawa berkas-berkas rapat kemrain ke kantorku sekarang.' Sebelum Sasuke sempat berkata apa-apa, Itachi sudah memutus panggilannya. Dengan sedikit malas Sasuke bangun dari kursinya dan keluar dari ruangannya dengan membawa berkas yang diminta Itachi.
Tanpa mengetuk dia masuk ke dalam ruangan dimana Itachi bekerja. Mereka berdua sudah saling terbiasa dengan kelakuan satu sama lain di kantor jadi hal kecil seperti itu tidak perlu diributkan lagi. Itachi yang sibuk hanya terus menatap layar komputer dihadapannya. Tangannya tidak berhenti mengetik walau dia tahu adiknya ada di dalam ruangannya. "Letakkan saja di mejaku." Mengikuti perintah sang kakak, Sasuke meletakan berkas tersebut dan berbalik untuk pergi. Langkahnya terhenti sejenak dan dengan enggan berbalik kembali. Itachi masih belum melihatnya dan terus mengetik membuat Sasuke semakin sulit untuk berbicara. "Aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan. Kau sebaiknya kembali bekerja, Sasuke."
Menelan pertanyaan dalam dirinya, Sasuke sekali lagi berbalik dan kali ini benar-benar meninggalkan ruangan Itachi. Itachi berhenti mengetik dan menatap pintu yang baru saja tertutup dari luar. Dia menyipitkan matanya seakan mengutuk orang yang baru saja melewati pintu tersebut. "Kau bodoh, Sasuke. Sampai kapan kau mau mempertahankan egomu seperti ini? Aku tahu kau masih mencintai Naru. Seandainya saja kau mendesakku, pasti kuberitahu. Bukan hanya brengsek kau juga idiot, Sasuke. Aku kasihan pada Naru."
Ya, Itachi tahu seberapa bodohnya adiknya itu. Sasuke sendiri tahu bahwa dia bodoh. Dia sendiri tidak tahu apa yang menghalanginya untuk sekedar bertanya pada Itachi atau yang lainnya. Bukankah dia berhak tau? Bukankah dia masih suaminya? Naruto sendiri setelah semua itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Bukankah seharusnya dia setidaknya memberitahu kemana dia pergi? Atau hanya dia saja yang tidak tahu?
"Aku memang bodoh." Hari ini sepertinya Sasuke akan menghabiskan waktunya dengan melamun lagi.
Lain halnya dengan sang istri yang lebih memilih untuk tidak berdiam diri dan menjelajahi tempat barunya. Hal pertama yang dia lakukan adalah merapikan dapur dan menata semua peralatannya. Walau sebagian besar sudah dilakukan oleh Gaara dan yang lainnya, Naruto masih membuat sedikit perubahan sesuai dengan keinginannya.
Setelah dapur selesai dia beranjak ke kamar. Baju-bajunya yang sebagian besar adalah kimono itu belum sama sekali dikeluarkan dari kopernya. Dia mengambil koper pertama, membuka, dan mengeluarkan isinya. Entah ada berapa banyak kimono yang dia miliki, bahkan satu jam saja dia habiskan baru satu koper yang selesai. Naruto membuka koper kedua dan mengeluarkan juga isinya seperti yang pertama. Matanya menangkap sesuatu, sebuah simbol yang sangat dia kenal yang tersulam rapi di bagian belakang kimononya.
Tangannya meraih kimono biru itu dan menatapnya sendu. "Sepertinya aku harus membeli beberapa pakaian baru." Kimono tersebut dilipatnya dan dimasukan ke dalam lemari bersama pakaiannya yang lain. Tubuhnya terasa sedikit lelah walau dengan aktifitas yang tidak terlalu berat. Jantungnya memang sudah di operasi, tapi masih ada penyesuaian dan dia seharusnya masih harus beristirahat selama dua minggu. Naruto belum ingin beristirahat tetapi tubuhnya sudah tidak bisa menahan rasa lelah. Akhirnya dia menyerah dan membaringkan diri di tempat tidur barunya.
Setelah sekian lama dia tidur bersama seseorang di sampingnya kini terasa begitu dingin. Naruto menutup mata mencoba untuk melupakan semua kepedihan yang dia rasakan walau hanya untuk sejenak. Dia memang butuh istirahat.
"Gaara, mulai dari minggu depan aku akan ikut bekerja di kafe."
Gaara meninggalkan perkerjaan apapun yang sedang dikerjakannya dan menatap Naruto dengan mata terbelalak. Dia beranggapan dia salah mendengar apa yang sahabatnya katakan beberapa detik lalu. "Kau bilang kau mau apa?"
Naruto memutar matanya bosan dan berdecak tidak sabar. "Kupikir pendengaranmu masih bagus, Gaara. Dan aku ingin meminta semua gajiku mulai dari sekarang."
"Kau bilang apa lagi?"
Naruto semakin kesal dan berdecak sekali lagi. "Apa perlu kuantar ke rumah sakit untuk memeriksa pendengaranmu? Aku tidak punya waktu untuk meladenimu, aku harus pergi berbelanja. Kyuubi sudah menunggu."
Gaara membuka mulut untuk mengatakan sesuatu tapi segera berhenti melihat sorot mata Naruto yang tajam. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan berpikir sejenak. "Baiklah, aku akan bicara denganmu lagi nanti. Untuk soal gaji, kau bisa mengambilnya kapan saja. Apa kau mau mengambilnya sekarang?"
Naruto menggeleng. "Tidak perlu, mulai bulan depan saja. Baiklah, aku pergi dulu."
Gaara mengangguk dan hanya menatap diam sahabatnya keluar dari kafe milik mereka. Sudah lama sekali sejak dia melihat Naruto yang seperti ini, dia sudah hampir lupa. Terutama sejak sahabatnya itu menikah, Naruto benar-benar berubah. Tapi kini pemuda berambut pirang itu mulai kembali seperti dirinya yang dulu. Seorang pemuda keras kepala yang tidak menerima kata penolakan.
Naruto memang baik hati, dia selalu dan sangat menyayangi keluarga serta orang terdekatnya. Tetapi, dia juga memiliki sisi buruk ketika itu melibatkan hidupnya sendiri. Dia tidak suka orang lain mengatur hidupnya siapapun itu, karenanya Gaara sangat senang ketika ada seseorang yang mampu merubah pendirian sahabatnya itu.
Dia ingin sekali berbicara pada Sasuke jika tidak ingat dengan janjinya pada Itachi. Uchiha sulung itu bahkan tidak memberinya alasan yang jelas mengenai permasalahan ini. "Naru, aku lebih suka kau yang terlihat seperti wanita saat bersama dengan Sasuke. Aku tidak ingin melihat dirimu yang dulu."
Bukan hanya Gaara yang berpikiran seperti itu. Semua yang pernah tahu Naruto yang dulu pasti memilih Naruto yang menjadi istri seorang Sasuke sebelum semua insiden ini terjadi. Kyuubi salah satunya. Dia mulai melihat sepupunya yang dulu saat mereka masih tinggal di Suna. Perlakuan Naruto pada Kurama tentu tidak berubah, tapi dari sorot matanya terlihat Naruto yang lama lambat laun telah kembali.
Naruto dan Kyuubi saat ini sedang berada di pusat perbelanjaan di Konoha. Naruto menelepon sepupunya itu pagi-pagi sekali dan memintanya untuk menemaninya berbelanja hari ini. Kyuubi tentu saja tidak menolak dan langsung menjemput Naruto setelah sebelumnya mengantar Kurama dulu ke sekolah. Hanya saja dia sedikit bingung dengan pilihan toko Naruto. Mendengar cerita dari Itachi dan Gaara sebelumnya ini tidak terlihat seperti toko langganan sepupunya itu.
"Apa yang sebenarnya kau cari, Naru?"
"Tentu saja baju. Apa lagi?"
Memang saat ini mereka ada di toko baju, tapi kebanyakan pakaian yang di jual disini tidak terlihat seperti selera Naruto. "Kau membeli untuk siapa?"
"Untukku."
Jawabannya sangat singkat dan Naruto bahkan tidak repot melihat Kyuubi saat menjawab. Dia sedang memilih beberapa pakaian untuk dia coba sebelum akhirnya membawanya ke kasir untuk dibayar. Kyuubi sangat ingin sekali bertanya, tetapi mengingat sifat Naruto yang sekarang dia mengurungkan niatnya dan membantu memilihkan beberapa potong baju yang dirasa cocok bagi sepupunya.
Setelah membayar beberapa potong pakaian, Naruto mengajak Kyuubi ke toko lainnya. Sekali lagi Kyuubi terkaget-kaget melihat toko yang mereka masuki. Naruto benar-benar berniat untuk kembali menjadi dirinya yang dulu, dirinya yang dulu sebelum di vonis memiliki penyakit jantung.
Kyuubi membawakan beberapa belanjaan Naruto sambil berjalan ke tempat dimana dia memarkirkan mobilnya. Naruto juga sempat berbelanja untuk keperluan dapur dan lainnya. Entah ada berapa banyak kantung yang mereka bawa. "Naru, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?"
Sejenak Kyuubi berpikir sepupunya tidak akan menjawab. Karena itu dia sedikit kaget saat Naruto tiba-tiba membuka mulut. "Aku hanya sedang mencoba mencari cara untuk hidup."
Dia mengerti, sangat mengerti dengan perkataan tersebut. Beruntung bagi mereka Naruto masih ingin mencoba untuk hidup dan bukannya mengakhiri hidupnya ketika dia tahu janji besarnya telah dilanggar. Mereka mengerti apa yang Naruto rasakan, hanya saja mereka tidak tahu apa yang Naruto rencanakan untuk hidupnya. Dia sangat sulit untuk ditebak jika sudah seperti ini.
Kyuubi mengantar Naruto kembali ke apartemennya. Dia melirik sepupunya sambil tetap menyetir. "Boleh kutanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Bagaimana dengan rambut?"
Naruto berpaling dari pemandangan di luar jendela yang sedang dia nikmati ke arah Kyuubi yang masih menyetir. Terdapat kerutan di dahinya, dia tidak mengerti dengan arah pertanyaan Kyuubi. Dia mencoba mencerna apa maksudnya dan saat melihat semua tas belanjaannya yang berada di kursi belakang dia mengerti. "Akan kubiarkan seperti ini. Jika menghalangi akan kuikat saja."
"Hm, ini rambutmu yang terpanjang yang pernah kulihat. Sekarang bahkan sudah sangat melewati bahumu."
Naruto memainkan rambutnya sambil melihat dirinya sendiri di kaca mobil. "Kau benar. Entah kenapa rambut ini saja yang tidak ingin kurubah." Dia menyukai rambut panjangnya dan merasa nyaman seperti itu.
Kyuubi tersenyum dalam hati. Setidaknya masih ada yang tersisa dari Naruto yang baru, walaupun hanya sedikit. Mereka sampai di apartemen dimana Naruto dan Gaara tinggal. Kyuubi membantu Naruto membawa barang-barangnya ke lantai atas. Seseorang menunggu mereka di pintu masuk kamar apartemen dan terlihat sangat kesal.
"Itachi, sedang apa disini? Bukannya kau seharusnya masih di kantor?"
Mendengar namanya dipanggil, Itachi berbalik dan menemukan mereka berdua. Dia langsung menerjang Naruto dengan pertanyaan yang dihadapi dengan tenangnya oleh orang yang dimaksud. "Apa yang kudengar dari Gaara tadi semuanya benar? Kau baru saja sadar selama lima hari sejak operasi dan sekarang bahkan pergi berbelanja dengan tenangnya? Lalu apa dengan bekerja itu? Apa kau sadar kau ini sempat hampir mati?"
"Ah, banyak sekali pertanyaannya. Bisa kita mengobrol di dalam saja? Tanganku mulai pegal membawa semua belanjaan ini." Tanpa menunggu jawaban, Naruto berjalan melewati Itachi untuk membuka pintu apartemennya dan masuk mendahului mereka.
Dua lainnya mengikuti sang tuan rumah dan mencoba sebisa mungkin menyamankan diri mereka. Naruto tidak begitu peduli dengan Itachi yang terlihat tidak sabar ingin mendapat jawaban dan dengan santai merapikan beberapa belanjaan di lemari esnya.
Tidak tahan menunggu lama, Itachi kembali membuka mulut. "Naru, bisa aku mendapat jawaban sekarang?"
Tangan Naruto yang sedang bekerja terhenti dan dia menatap Itachi tajam tidak suka diatur seperti itu. Mereka berdua saling menatap seperti itu cukup lama dimana diantara mereka Kyuubi tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan keduanya.
Mengetahui kekeraskepalaan kakak iparnya yang bisa menyainginya, kali ini Naruto mengalah. "Semua yang Gaara katakan benar dengan asumsi dia tidak menambahkan atau mengurangi informasi apapun. Lalu, aku akan melakukan apa saja dengan hidupku dan tidak butuh persetujuan orang lain. Selain itu aku yakin Kakak memiliki masalah lain yang mengganggu Kakak." Itachi membuka mulut untuk menyangkal tapi segera di potong. "Ya, aku hanya tau dan tidak akan bertanya apa itu. Hanya saja jangan mencampur adukkan masalah Kakak yang itu dengan masalahku, oke?"
Dengan pernyataannya yang terakhir itu, Naruto membawa sisa belanjannya dan mengunci diri di kamar. Itachi hanya bisa menghela napas menghadapi sikap baru iparnya itu. "Apa-apaan itu?"
Kyuubi yang sedari tadi hanya melihat akhirnya membuka mulut. "Itachi, yang dikatakan Naru itu benar. Kau tidak mungkin jauh-jauh datang kemari dan meninggalkan kantor hanya karena Naru mengatakan dia akan bekerja. Lagipula kau pasti tau aku ada bersamanya. Apa yang mengganggumu?"
Itachi menyerah dan menjatuhkan diri di sofa milik Naruto. "Adik bodohku itu. Setiap kali melihat dia aku geram sekali. Apa tidak bisa sedikit saja mengakui jika dia khawatir?"
"Lalu mengapa kau tidak memberitahunya saja?"
"Aku ingin dia yang mencari, bukan aku yang memberi."
"Aku tidak mengerti dengan alasanmu."
"Ya, begitulah."
Kyuubi semakin tidak mengerti dengan jawaban-jawaban Itachi. Apa yang sebenarnya Itachi ingin dapatkan dari semua rencananya yang membingungkan ini? "Apa yang kau inginkan, Itachi?"
Itachi menyandarkan kepalanya ke sofa dan menatap langit-langit ruang tamu Naruto. "Aku ingin Sasuke bisa lepas dari masa lalunya."
Belum percakapan mereka berlanjut, pintu kamar Naruto terbuka dan sang pemilik ruangan memperlihatkan sosoknya kepada dua pria yang sedang berbincang di ruang tamu miliknya. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan Naruto dan sedikit menyesal karena mendengarkan.
"Jika kalian ingin bermesraan tolong lakukan di tempat lain. Aku tidak ingin tempat baruku menjadi tempat mesum." Dengan berakhirnya perkataannya, Naruto segera menutup kembali pintu kamarnya.
Kyuubi menatap jengkel pintu kamar Naruto yang tertutup. Tidak disangka sepupunya akan berbicara seperti itu. Itachi sendiri bertambah kesal dengan Naruto walau tidak bisa mencegah bibirnya yang sedikit menyunggingkan senyuman. "Cih, anak itu."
