Title : It's Not All About Money Chapter 9
Pairing : KaiHun, HanHun, etc
Cast : EXO and others
Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rate : T
.
.
.
Tadaaa! Btw aku bikin Chanyeol sama Kai itu musuhan padahal kenyataannya Chanyeol itu hardcore fan-nya Kai xD Sumpah! Ngakak bgt Showtime eps 5 hahaha.. Daaaan selamat membaca!^^ *mian klo chapter ini gak sesuai harapan~~*
.
.
.
Mobil berwarna silver metalik itu terhenti di depan jalan masuk sebuah taman. Sang pengemudi memicingkan mata. Matanya tak sengaja menangkap sekilas beberapa sosok yang dikenalnya. Untung saja, mobil melaju tak terlalu cepat sehingga seseorang yang ingin ia temui saat itu juga terlihat tengah berdiri di dalam taman bersama—tunggu! Luhan semakin mempertajam penglihatannya, sedikit mendongakkan kepala karena seseorang yang terhalang semak membuat jantungnya berdebar hebat. Dan rambut kecoklatan serta wajah cantik itu kini sudah tertangkap seutuhnya oleh kedua iris coklatnya.
"Sehun—" ia menggumam pelan kemudian segera memarkir mobilnya sedikit jauh dari jalan masuk menuju taman. Tangannya membuka seatbelt dengan tergesa kemudian segera keluar dari mobilnya. Berjalan sedikit cepat kemudian tubuhnya membeku seketika saat matanya melihat dengan jelas sebuah adegan dramatis yang membuat organ di dalam dada kirinya berdenyut ngilu. Aliran darahnya berubah cepat hingga ia harus mengepalkan kedua tangannya demi meredam rasa sesak sekaligus marah yang bercampur rasa bingung yang membuatnya harus bertanya-tanya apa sebenarnya yang tengah terjadi diantara mereka.
PLAK!
Luhan masih menatap tajam pemandangan di depannya. Sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi kanan Jongin membuatnya mengerjapkan mata. Jongin terdorong ke belakang dan mendapati wajah Sehun yang sudah memerah menatapnya dengan geram. Tanpa berkata apa-apa, Sehun segera pergi meninggalkan mereka seraya memegangi bibirnya dengan kepala tertunduk. Luhan yang melihat Sehun berjalan ke arahnya dengan serta merta mencari perlindungan di balik sebuah pohon besar agar sosoknya tak terlihat. Dan pria berkulit pucat itu berjalan melewatinya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Luhan menatap punggungnya yang menjauh dan ia pun seketika melupakan niatnya yang semula datang untuk bertemu Jongin. Tak perlu lagi memohon-mohon pada anak itu jika kini Sehun yang ia inginkan berada di depan matanya. Tanpa basa-basi ia pun segera berjalan ke arah mobilnya dan beniat untuk mengikuti kemana Sehun pergi.
oOo
Langkah Sehun mulai memelan ketika dirasa posisinya saat ini sudah menjauhi taman. Bahkan ia terus berjalan melewati halte terdekat, melawan udara dingin yang semakin menggila. Menelusuri trotoar di sepanjang jalan tanpa berniat untuk menghentikan langkahnya. Bahkan ia mengabaikan bus yang lewat yang akan membawanya menuju rumah yang ia sewa bersama Tao dan juga Minseok.
Luhan masih mengikutinya—menjaga jarak dengannya. Ia menatap pria itu gelisah. Sehun sesekali menabrak orang-orang yang berjalan berlawanan arah dengannya, tampak tak seperti memperhatikan jalan dengan pikiran yang melayang entah kemana. Dan hampir saja Luhan ketahuan saat Sehun berbalik untuk meminta maaf pada pengguna jalan lain jika ia tidak menunduk dan bersembunyi dibalik kemudi. Dan yang ia lihat setelahnya adalah Sehun yang kembali melangkahkan kakinya tanpa tujuan jelas—mungkin.
Dan setelah sekian lama Sehun berjalan, pada akhirnya ia menyerah. Halte yang tampak sepi kini menjadi tempat singgahnya. Ia duduk disana dengan tatapan mengarah pada jalanan di depannya. Luhan menghentikan mobilnya tepat sebelum belokan sehingga keberadaannya tak akan terlalu diperhatikan Sehun. Ia menatap wajah itu dari samping. Wajah yang begitu ia rindukan. Apalagi ketika seulas senyum dan tawa membuatnya terlihat begitu tanpa beban. Tidak seperti saat ini. Wajah murung itu membuatnya terlihat kusut dan berantakan. Luhan hanya menatapnya sendu. Ia masih tak habis pikir dengan ciuman Jongin padanya. Apa maksudnya? Apa diantara mereka memang terjadi sesuatu? Tapi jika iya, Sehun tak mungkin menamparnya lalu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria berambut kecoklatan itu pun hanya mampu mendesah lelah. Seketika perasaan bersalah itu kembali muncul. Kebodohannya memang tak termaafkan. Apalagi melihat Sehun seperti sekarang ini membuatnya semakin ingin menenggelamkan diri di tengah laut saja lalu terhempas ombak dan menghilang bersama buih.
Sementara Sehun kini bergelut dengan pikirannya yang benar-benar runyam. Ia merasa sudah tak memiliki harga diri lagi. Kenapa Jongin dengan mudahnya menciumnya di depan Chanyeol dan juga Kyungsoo? Kenapa anak itu senang sekali mempermainkannya? Padahal Sehun hanya akan mencium orang yang benar-benar ia cintai saja. Namun Jongin tiba-tiba menciumnya dengan lancang dan tentu saja ia begitu marah. Ia bukan mainan yang bisa seenaknya diperlakukan tanpa perasaan. Ia tahu jika Jongin hanya ingin membuat Kyungsoo cemburu dengan ciuman itu. Namun tetap saja ia tak terima. Bukan seperti itu caranya untuk menunjukkan rasa sakit hati terhadap orang lain. Bukan dengan mempermainkan perasaan orang lain dan membuatnya salah mengartikan sikapnya. Ia membenci Jongin! Benar-benar membencinya!
Tangannya perlahan menepuk dada kirinya yang terasa begitu sakit dan sesak. Berusaha untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh saat itu juga. Ketika ia berusaha mati-matian untuk meredam amarahnya, tiba-tiba saja serpihan benda putih yang tertiup angin terjatuh dari atas langit. Sehun mendongak. Udara dingin menerpa wajahnya dan ia cukup terpaku menatap pemandangan di depannya. Ini adalah salju pertama yang turun di musim dingin tahun ini. Dan musim dingin pertama selama kurun waktu 4 tahun yang harus ia lalui tanpa Luhan. Mungkin akan terasa berat. Semua biaya hidupnya kini harus ia tanggung seorang diri. Tapi percayalah, bukan hal itu yang membuatnya menjadi berat untuk menjalani hidup. Ia benar-benar tulus mencintai Luhan. Bukan karena pria Cina itu kaya dan mau membantu kebutuhan finansialnya. Mengingat hal itu membuat kepalanya berdenyut seketika. Ia sudah cukup pusing memikirkan kehidupannya yang rumit dan membuatnya seperti tercekik. Ditambah dengan kisah cinta yang benar-benar rumit dan terbilang gagal. Melihat kekasih yang baru saja putus dengannya mencium mantan kekasihnya yang lain lalu ia sendiri dicium oleh pria—bahkan bocah—yang sama sekali bukan kekasihnya. Bahkan mereka bukan teman—melainkan—entahlah. Sulit untuk mendeskripsikan hubungan macam apa yang terjadi diantara ia dan Jongin.
Sehun berdecih dengan sudut bibir sedikit terangkat. Senyuman miris itu terlihat begitu kentara. Kekehan menyedihkan terdengar risih di telinga. Untung saja tak ada seorang pun yang lewat dan bahkan hanya ia sendiri yang terduduk disana. Menatap buliran-buliran salju yang perlahan mendarat di atas jalanan lalu mencair—melebur bersama genangan air hujan—dan menghilang karena tergilas oleh ban bus yang melintas lalu berhenti tepat di depannya. Dan pada akhirnya ia pun memutuskan untuk menaiki bus tanpa ia tahu Luhan kembali mengikutinya.
oOo
Obsidian hitam itu masih tak ingin menatap 2 sosok yang berdiri di depannya dengan tangan saling menggenggam. Tamparan Sehun di pipinya masih terasa panas. Ia merasa seperti orang paling tolol sekarang. Dan tatapan tajamnya mengintimidasi Chanyeol maupun Kyungsoo.
"Ka!" ujarnya datar namun tajam dan memaksa.
"Kau benar-benar menyedihkan Kim Jongin." Seringaian Chanyeol tercetak dengan jelas di bibirnya. Sementara Kyungsoo hanya menggigit bibirnya gelisah.
"Kubilang pergi!" ia mendesis sekali lagi, tak peduli dengan Kyungsoo yang menatapnya iba, "aku benar-benar tak ingin melihat kalian berdua. Ka!"
"Jongin—"
"KA!" Kali ini ia berteriak—membentak. Kyungsoo terpaksa harus memotong ucapannya. Matanya terasa panas dan ia kembali tertunduk. Namun sedetik kemudian tarikan di tangannya menguat, membuatnya harus mengikuti kemana Chanyeol pergi meninggalkan Jongin yang kini tengah mengacak rambutnya frustasi.
"Shit!"
oOo
Tao mengeluarkan tasnya dari dalam loker. Namun ketika pintu loker tertutup, sosok tinggi besar berambut blonde muncul begitu saja. Ia cukup terkejut. Jantungnya berdetak diatas normal namun ia dengan cepat mampu mengendalikannya. Dan seketika wajahnya berubah kesal dan menatap pria itu sebal.
"Kau ingin kuhajar?" nada ketus membuat Kris berdecak beberapa kali.
"Wow! Begitu caramu menyambut 'teman' yang sudah lama tak kau temui?" ia melipat kedua tangannya di depan dada seraya berjalan mendekati Tao yang sudah menyampirkan tasnya di bahu, bersiap untuk pergi dari sana.
"Jika saja kau tak muncul secara tiba-tiba maka aku tak akan bersikap seperti ini padamu." Mata pandanya menatap Kris yang kini menyeringai. Kemudian guru olahraga berambut blonde itu tertunduk dengan angkuh dan kembali mengangkat kepalanya lalu tertawa dengan nada menyebalkan. Itu yang Tao dengar.
"Apa ada yang lucu, Wu Yi Fan?" ketus Tao dengan tatapan tajam.
"Tidak. Aku hanya—geli."
"Untung saja."
"Hm?"
"Untung saja aku sudah melupakan perasaan bodoh itu." Ujar Tao tanpa memandang mata Kris. Ucapannya terkesan gamblang hingga senyum pria tinggi itu perlahan memudar, disusul dengan deheman pelan lalu ia menyandarkan tubuhnya pada loker yang setinggi dirinya.
"Hah, jangan dibahas." Tangannya masih terlipat di depan dada, membuat Tao semakin risih.
"Minggir. Temanku sedang menunggu—"
"Apa dia bernama Oh—maksudku Kim Sehun?" pertanyaan Kris membuat Tao mengernyitkan dahinya bingung.
"Darimana kau tahu? Dan apa kau bilang? Kim Sehun? Sejak kapan marganya berubah menjadi Kim? Jangan bercanda." nada ketus itu masih terdengar kentara. Kris tampak berpikir kemudian menjauhkan tubuhnya dari loker dan berdiri menghadap Tao yang hanya memiliki tinggi lebih pendek beberapa inci saja darinya.
"Boleh kujawab dengan pertanyaan? Sejak kapan kau berteman dengan Sehun? Dan kenapa bahkan kau tak tahu marga—"
"Ishhh tak perlu berbasa-basi." Tao kali ini benar-benar melangkah melewati Kris dan tak ingin mendengar ocehannya lagi.
"Hei! Aku sudah melupakan dia!" Kris sedikit berteriak hingga suaranya menggema di ruang ganti yang hanya terdapat mereka berdua saja. Tao menghentikan langkahnya dan sedikit menoleh.
"Aku percaya." Ujarnya singkat kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Kris yang hanya tersenyum kecil.
"Kau masih belum berubah, Huang Zitao."
oOo
Panggilan dari kepala sekolah menyambut kedatangan Jongin yang baru saja menginjakkan kakinya di kelas. Ia sudah bisa menebak jika perkelahian dengan Chanyeol tadi pasti akan sampai ke telinganya. Dan dengan langkah gontai ia pun berjalan melewati koridor untuk menghadap pria tua itu—bersama Chanyeol lebih tepatnya. Sebelum meninggalkan kelas, matanya sempat melihat bangku Kyungsoo dan Chanyeol yang sudah kosong. Apa Kyungsoo juga ikut dipanggil?
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah ia tak segera masuk ke dalam. Hanya berdiri di depan pintu sambil menghela nafasnya kasar. Lalu tangannya dengan perlahan terangkat membuka handle pintu, dan didalam sana ia menemukan sosok tinggi brengsek—menurutnya—sudah terduduk di salah satu kursi di depan meja Sooman Seonsaengnim. Jongin menutup pintu dengan perlahan kemudian membungkuk ke arah pria yang sebagian rambutnya sudah berwarna putih itu.
"Duduklah." Perintahnya terdengar tegas. Jongin segera berjalan mendekat ke arah mereka lalu duduk disamping Chanyeol.
"Kim Jongin-ssi, Park Chanyeol-ssi, kalian sudah tahu 'kan kenapa aku memanggil kalian kesini?" mata berbingkai kaca itu menatap bergantian 2 anak muda yang terlihat begitu tegang.
"Ne." Chanyeol menjawab sedikit lantang sementara Jongin hanya mengangguk samar. Keduanya kembali terdiam, menatap dengan serius pria tua yang sudah siap dengan hukumannya.
"Kalian sudah pasti tahu mengenai peraturan di sekolah ini—" ia menjeda ucapannya. Kedua tangannya saling bertautan diatas meja dan sesekali ia menggerakkannya. Sementara matanya fokus mengintimidasi kedua siswa yang melanggar aturan.
"Jwesonghamnida!" ucapan maaf keluar dari bibir tebal milik pemuda berkulit coklat eksotis. Chanyeol meliriknya sekilas kemudian memutar bola matanya. Ia tahu permintaan maaf itu tidaklah tulus. Hanya mencari muka dan berharap ia akan lolos dari hukumannya. Dilihatnya sebuah gelengan tegas menyatakan penolakan secara jelas.
"Hukum tak bisa ditegakkan jika segala sesuatu bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf saja." Pernyataannya sama sekali tak diharapkan oleh keduanya. Ya berarti ya. Tidak berarti tidak. Dan aturan tetaplah aturan.
"Jika aku bertanya siapa yang memulai duluan, aku yakin kalian akan saling menyalahkan satu sama lain. Jadi aku tak ingin mendengar penjelasan kalian lagi—"
"Seonsaengnim! Percayalah! Kita benar-benar tak memiliki masalah cukup serius. Kita hanya bercanda. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Iya 'kan, Jonginnie?" Chanyeol membentur lutut Jongin dengan lututnya. Dan apa Chanyeol bilang? Jonginnie? Pria tan itu benar-benar ingin mengeluarkan isi perutnya saat itu juga tepat diatas wajah Chanyeol.
"Ne." Jongin terpaksa menimpali—malas. Sooman memperhatikan keduanya dengan seksama. Jongin yang hanya berwajah datar dan Chanyeol yang memasang wajah bodohnya.
"Benarkah? Tapi saksi mata bilang—"
"Mereka hanya salah mengartikan saja. Bukankah antar sahabat itu selalu terjadi selisih paham? Dan itu yang terjadi pada kami. Bahkan mereka tak tahu akar permasalahannya seperti apa. Jadi kumohon Saem—bebaskan kita dari hukumannya." Chanyeol terlihat memohon sementara Jongin masih terlihat cuek. Menurutnya Chanyeol sudah terlalu berlebihan dengan mengarang cerita jika mereka adalah sepasang sahabat. Sahabat? Jongin semakin muak mendengarnya.
"Tapi kalian tetap harus menerima hukuman!" nada bicara Sooman terdengar semakin tegas dan tak bisa dibantah lagi.
"Tapi Saem—"
"Aku siap menerima hukumannya." Jawaban Jongin membuat Chanyeol membulatkan matanya dengan bibir bergerak tidak jelas tampak mengutuk Jongin. Bahkan kakinya menendang tulang kering Jongin dan segera dibalas dengan sebuah injakan keras yang membuat Chanyeol harus menggigit bibir bawahnya untuk meredam sakit.
"Wae?" sikap mencurigakan mereka mengundang pertanyaan itu terlontar. Chanyeol menggeleng dengan cepat sementara Jongin sama sekali tak merespon apapun.
"Baiklah. Karena aku tak suka kekerasan dan tak ingin murid-muridku tertinggal pelajaran, maka tak ada hukuman skors atau kekerasan fisik lainnya. Dan tak ada acara membersihkan toilet ataupun kolam di taman belakang, atau membersihkan gedung olahraga dan buku-buku di perpustakaan." Ia menyodorkan secarik kertas ke arah mereka berdua dan disana tertulis sesuatu yang membuat kedua siswa itu memicing lalu membacanya dengan seksama.
"Ne?" Jongin mengerutkan dahinya bingung ketika membaca alamat yang tertera pada kertas kecil itu.
"Kalian akan tahu apa yang harus kalian lakukan jika sudah datang kesana. Selama satu bulan penuh setiap hari Sabtu dan Minggu, hukuman kalian mulai berlaku. Dan jika salah satu dari kalian tidak melaksanakan hukumannya, maka aku akan menambah hukuman kalian. Jangan pernah berpikir jika kalian bisa lolos dari hukuman itu!" Keputusan final Sooman membuat Chanyeol maupun Jongin masih terlihat bingung. Mereka tak diberi kesempatan untuk menolak karena keduanya kini sudah diusir pergi dari ruangan tersebut.
"Kuharap kau tak akan melarikan diri lagi, pengecut." Chanyeol menatap tajam Jongin yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Kita lihat saja." Respon Jongin datar yang kini mulai berjalan cepat meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri di depan ruangan kepala sekolah.
oOo
Jongin tak peduli jika ia harus bolos pelajaran tambahan sore ini. Ia terlalu malas untuk mendengar ocehan guru di depan kelas mengingat beberapa masalah yang tengah ia hadapi kini. Salju yang turun bersama air hujan membuatnya harus berlindung dibawah atap yang menjulur dan ia kini terduduk—tepatnya di atap sekolah yang bahkan kini sudah basah digenangi air hujan. Ia tidak mencari tempat yang hangat. Menurutnya disini terasa lebih nyaman dibandingkan dengan suasana kelas yang membuatnya muak akhir-akhir ini. Kyungsoo, Chanyeol, Luhan, dan juga Oh—Sehun. Jongin mengacak rambutnya frustasi. Ia merutuki kebodohannya. Bahkan ia mengutuk dirinya gila karena sudah nekat mencium Sehun di depan Chanyeol dan juga Kyungsoo.
"Aisshh lupakan! Lupa—"
DEG
Ia memegangi dada kirinya. Apa yang baru saja terjadi padanya? Perasaan apa itu? Kenapa tiba-tiba perasaan aneh itu muncul?
"Rupanya kau disini!"
—dan Kris. Jongin hampir saja melupakan guru baru itu. Orang aneh yang selalu muncul secara tiba-tiba. Obsidiannya menatap tajam Kris yang berjalan mendekat ke arahnya. Jujur saja Jongin sama sekali tak pernah segan terhadap orang ini. Dalam artian ia sama sekali tak pernah menganggap jika Kris itu adalah seorang guru.
"Wae?" ujarnya datar. Kris menyelipkan kedua tangannya di dalam saku celana olahraganya. Udara sore itu membuat tubuhnya membeku. Namun dilihatnya Jongin sama sekali tak terlihat kedinginan.
"Apa yang kau lakukan disini? Bolos?" Kris menggeser kursi dengan kakinya. Kemudian ia jatuhkan tubuh tingginya di atas kursi yang sengaja ia letakkan disamping Jongin.
"Menurutmu?"
PLAK!
"Ya, Saem!" protes Jongin sambil memegangi belakang kepalanya yang terkena pukulan telak Kris.
"Aku ini gurumu! Setidaknya kau harus berbicara dan bersikap lebih sopan padaku!" sungut Kris kesal. Namun Jongin tetap acuh dan kembali mengarahkan tatapannya ke depan.
"Sifatmu benar-benar jauh sekali dengan Hyungmu itu. Apa mungkin karena kalian bukan saudara kandung?" Kris mengusap dagunya perlahan. Jongin merespon pernyataan aneh Kris dengan sebuah gumaman.
"Aku tak punya Hyung asal kau tahu!" Kris sudah mengepalkan tangannya untuk kembali memukul kepala Jongin. Namun hanya umpatan saja yang pada akhirnya ia lontarkan.
"Kalian benar-benar berbeda. Seharusnya kau bisa mencontoh Sehun. Dia bahkan tak pernah membentakku! Tidak seperti kau!"
"Sehun?"
"Ne! Hyung tirimu!"
"Hyung tiri? Jangan mengarang cerita ya! Sejak kapan Sehun menjadi Hyung tiriku? Kau benar-benar konyol!"
"Jadi dia bukan Hyung tirimu?" Kris tampak berpikir keras. Ia tidak salah dengar 'kan saat Sehun mengatakan jika Jongin adalah adik tirinya?
"Tentu saja bukan! Dia hanya mantan tutorku." Jongin masih belum menydari jika kecurigaan Kris terus berlanjut. Mata tajam itu terus memicing. Lama-lama ia risih juga dengan tatapan Kris yang seperti itu.
"Dan kalian berpacaran?" spekulasi Kris membuat Jongin tersedak ludahnya. Matanya membulat utuh menatap Kris tak percaya.
"Apa kau bilang? Tentu saja tidak!" sangkalnya tegas. Namun Kris tak percaya begitu saja.
"Haruskah aku mempercayaimu? Jika kalian tidak berpacaran lalu apa yang kalian berdua lakukan di tengah malam seperti itu?" berbagai pertanyaan yang dilontarkan Kris membuat Jongin tersadar sepenuhnya. Aisshh ia bahkan lupa akan kebohongannya sendiri.
"Kau salah paham—"
"Jadi begitu ya? Jadi kalian memang sepasang kekasih?" Kris utuk sementara masih memegang teguh dugaannya. Jongin yang sudah tak tahan berusaha agar tidak meledak di depan guru menyebalkan itu.
"Lalu apa urusanmu? Kekasihku atau bukan, itu sama sekali tak ada hubungannya denganmu!" dan ia pun berlalu—menyisakan suara cipratan air yang terinjak sepatunya sendiri. Sementara Kris di belakanganya hanya terkekeh pelan sambil mengangkat bahunya acuh.
oOo
Sehun—si nerdy ceroboh yang kini harus terdampar di halte terakhir yang dilalui bus. Alasan kuat kenapa ia harus berakhir di tempat ini tentu saja—terlalu fokus pada pikirannya hingga ia terlelap saat rasa lelah membuat matanya begitu berat. Untung saja sopir bus masih berbaik hati mau membangunkannya.
Hari sudah beranjak malam. Dan ia tak tahu ini dimana. Dilihatnya papan petunjuk jalan yang terpasang di dekat persimpangan jalan dan jelas tempat ini belum pernah ia datangi sebelumnya. Dua jam berlalu sejak ia menaiki bus dan salju masih turun lumayan lebat, meskipun sudah tak dibarengi dengan air hujan. Ia terduduk pasrah pada kursi besi dan memperhatikan jalan yang jarang dilalui kendaraan. Tangannya merogoh saku mantelnya—mencari ponsel yang sudah cukup lama ia abaikan. Beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab muncul pada screen ponsel. Itu dari Tao. Namun ia kembali mengabaikannya.
Sehun menghembuskan nafasnya kasar sehingga terlihat kepulan asap mengepul keluar dari mulutnya. Udara malam itu membuatnya harus mengeratkan mantel meskipun tetap saja kain tebal itu masih belum cukup hangat untuk menghalau udara dingin yang mencoba menelusup masuk lalu membekukan tubuhnya. Sekali lagi ia menatap ponselnya. Saat hampir kembali tenggelam dalam pikirannya, suara pintu mobil yang tertutup membuatnya harus mendongak. Ia yakin 100% bahwa matanya tidak sedang beralusinasi atau apapun. Pria bermantel biru tua yang kini berjalan ke arahnya benar-benar nyata keberadaannya. Jantung Sehun berdetak semakin cepat seiring dengan langkah pria cantik itu yang semakin mendekat—mempertipis jarak mereka. Bagaimana mungkin dia—ada disini?
"Neo baboya?" suara rendah namun mampu menyelipkan rasa hangat di dada menyapa indera pendengarannya. Sehun menahan tangannya di udara, masih memegangi ponselnya.
"Luhan Hyung?" kesadarannya seketika kembali. Ia tak boleh sedikitpun menunjukkan perasaan itu lagi di depan pria yang kini sudah berdiri disampingnya. Sehun menepis rasa gugupnya. Dan ia harus terlihat kuat di depan Luhan.
"Hyung sedang apa disini?" ia berusaha bersikap biasa-biasa saja walau dalam hati sebenarnya sudah ingin berteriak saja atau mungkin mengusir Luhan agar pergi dari hadapannya. Namun entah kenapa tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya dan lagi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia menginginkan Luhan. Jujur saja ia merasa senang karena bisa melihatnya sekarang. Walaupun rekaman kejadian bersama Yixing lah yang hanya dapat ia ingat dengan jelas ketika melihat pria yang lebih pendek darinya itu.
Luhan mendaratkan tubuhnya di samping Sehun. Ia tak segera menjawab pertanyaan Sehun dan malah tenggelam di dalam pikirannya. Sehun meliriknya sekilas. Suasana diantara mereka benar-benar canggung dan terasa kaku. Tak seperti biasanya. Pria kurus berkulit pucat itu pun ikut tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tak ada topik pembicaraan yang harus diangkat. Tak ada yang perlu dibahas lagi. Semuanya sudah selesai.
"Sehun—"
"Hm?" masih tak memalingkan wajahnya pada pria di sampingnya. Hanya gumamn pelan yang nyaris tidak terdengar. Luhan menghela nafasnya.
"Tak peduli jika kau akan menganggapku apa, tapi—kumohon kembalilah." Ucapan Luhan membuat Sehun tersentak. Ia tak ingin menatap mata Luhan saat itu. Hanya mampu menatap lurus pada jalanan lengang yang mulai tertutup lapisan salju tipis diatasnya.
"Aku memang tolol, benar 'kan? Kau boleh memarahiku, memakiku, membentakku, memukulku, atau bahkan membunuhku sekalipun asalkan satu—jangan pernah membenciku." Nada suaranya terdengar lemah namun penuh penekanan. Sehun masih terdiam. Luhan yang hampir putus asa, hanya menggigit bibir bawahnya.
"Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji—"
"Hyung—" Sehun memotong ucapannya. Luhan menoleh, mendapati senyuman samar tercetak di bibir tipis Sehun.
"Kau tahu? Kesempatan itu selalu terbuka lebar. Namun justru kau sendiri yang menutupnya—"
Luhan tertegun. Ia tak tahu harus bicara apalagi selain tetap menunggu apa yang akan Sehun katakan selanjutnya.
"Kau bilang kau tolol? Aniyo. Aku yang tolol. Aku terlalu bodoh dan bahkan dengan mudahnya mempercayai apa yang orang lain katakan padaku. Mungkin aku terlalu naif. Sehingga semua orang dengan mudahnya mempermainkan perasaanku." Sehun kembali terdiam. Emosi di dadanya sudah meluap hingga tenggorokannya terasa tercekat. Ia tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya namun masih berusaha untuk memasang wajah biasa saja tanpa menunjukkan kesedihan sedikitpun. Namun disembunyikan seperti apapun, Luhan bisa melihat raut terluka di wajah Sehun.
"Lupakan." Cengiran bodoh yang terlihat dipaksakan membuat Luhan hanya menatapnya sendu. Oh Sehun memang tak pandai beracting. Bahkan kebohongannya bisa terlihat dengan jelas hanya dengan menatap matanya saja.
"Jangan memaksakan diri. Jika ingin menangis, menangis saja. Jika ingin tertawa, tertawa saja."
"Bagaimana jika aku—ingin memelukmu untuk terakhir kalinya?" Sehun kini menoleh—menatap Luhan dengan serius. Dan tanpa memikirkan ulang permintaan Sehun, Luhan menarik kerah mantel Sehun dan membuat tubuh kurus itu merapat dengan tubuhnya. Dagu Sehun bertumpu pada bahu sempit Luhan. Tangannya perlahan menyusup ke dalam mantel biru tuanya lalu memeluk Luhan dengan erat. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Bahkan matanya terasa panas oleh air cairan bening yang bisa terjatuh kapan saja. Namun ia berusaha mati-matian agar airmatanya tak ada yang menetes sedikitpun ke pipinya. Terus menarik nafas dalam agar emosinya yang kini meluap bisa dikendalikan.
"Terakhir apa eoh? Tak akan ada kata terakhir! Dan jangan pernah mengatakannya lagi!" Luhan sedikit berteriak saat mengucapkannya. Tangannya bergerak untuk mengelus pelan surai kecoklatan Sehun yang terasa halus pada telapaknya. Ia benar-benar merindukan aroma ini. Ia tak ingin kehilangan Sehun walau hanya sedetik saja.
"Kajima—"
"Tapi aku harus...pergi—"
"Kalau begitu aku tak akan pernah membiarkanmu pergi!" Luhan semakin mengeratkan pelukannya. Sehun menggigit bibirnya cukup kuat sambil memejamkan mata. Biarkan ia merasakannya barang sejenak pelukan Luhan yang selalu membuatnya merasa tenang. Meskipun kali ini justru pelukan itu terasa berbeda. Dan tangannya yang semula melingkar di pinggang Luhan, kini melonggar lalu bergerak menuju perutnya. Mendorongnya perlahan agar Luhan mau melepaskan pelukannya.
"Hyung~" suara paraunya membuat Luhan mengerti. Ia pun segera melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Sehun dengan jarak yang cukup dekat.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya." Sehun menunduk sejenak kemudian dengan perlahan ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Luhan yang tak bisa berbuat apa-apa ketika Sehun yang semula duduk disampingnya kini berubah menjadi udara dingin yang bahkan tak bisa ia genggam. Punggung Sehun yang perlahan menjauh terlihat rapuh dimata Luhan. Dan ia kembali mendesah—berharap waktu bisa diputar ulang.
oOo
Sudah banyak siswa yang menguap karena lelah. Waktu pelajaran tambahan rasanya masih jauh untuk segera berakhir. Masih ada satu mata pelajaran inti yang masih belum diberikan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan seharusnya mereka tengah berkumpul bersama keluarga, menghilangkan rasa penat dan lelah karena sudah bekerja atau belajar seharian penuh. Atau mungkin satu-satunya keinginan para siswa tingkat akhir Cheongdam High School saat itu adalah menyentuh ranjang mereka lalu tidur hingga bertemu pagi.
Sepasang obsidian hitam yang sedari tadi hanya memandang keluar jendela, memperhatikan lampu-lampu taman yang terlihat cantik, sama sekali tak berniat mengikuti pelajaran terakhir. Tangannya menopang dagu sementara sebelah tangannya lagi hanya memainkan pensilnya. Kyungsoo yang duduk tepat di sebelah mejanya terus menatapnya gelisah. Perasaan bersalah yang teramat sangat benar-benar menyiksanya. Ia terlalu bingung harus melakukan apa. Sementara Chanyeol yang duduk di belakang mejanya memperhatikan Kyungsoo dan juga Jongin secara bergantian.
"Jongin-ssi, please put your attention to my class!" teguran Miss Hwang membuyarkan lamunannya. Ia mengerjap kaget kemudian segera memperhatikan guru cantik berpostur tubuh tinggi yang kini tengah melotot ke arahnya. Beberapa siswa yang semula mengantuk dan tak fokus pada pelajaran—namun dalam kasus ini Jongin yang terlihat paling mencolok tidak memperhatikan pelajaran—ikut tersentak kaget karena suara Miss Hwang memang terdengar begitu nyaring di tengah kelas yang begitu hening ditambah suasana sekolah pada malam hari begitu sepi mengingat sudah tak ada lagi kegiatan yang dilakukan oleh siswa tingkat bawah.
"Miss, can I go first? I should leave for some reasons, I mean—I have something to do with my company. It's really important for me and—my father would kill me if I didn't attend this meeting." Jongin memberi alasan yang cukup logis untuk seorang pewaris sepertinya. Terdengar kasak-kusuk dari murid yang lain karena alasan yang dipakai Jongin—untuk siswa yang mengerti tentunya. Namun sebagian dari mereka bahkan tak mengerti dengan apa yang Jongin ucapkan.
"Just go then. But make sure that you didn't lie to me!" mata tajamnya terlihat cukup menyeramkan. Namun Jongin berusaha bersikap senatural mungkin dan tidak menunjukkan sama sekali rasa gugupnya di depan guru killer itu.
"I didn't. I'll leave." Jongin sudah membereskan buku-bukunya sejak tadi dan ia pun beranjak dari kursinya, membungkuk ke arah Miss Hwang lalu keluar melalui pintu belakang.
"OK class! Pay your attention! Bla bla bla~" Miss Hwang memulai lagi pelajarannya saat Jongin sudah meninggalkan kelasnya. Dengan mudahnya ia meyakinkan Miss Hwang dengan alasan yang ia buat. Kakinya melangkah dengan cepat menyusuri koridor bahkan ia harus berlari agar segera sampai di halte bus. Namun baru saja ia keluar dari gerbang sekolah, sosok menyebalkan itu kembali muncul. Kali ini bersama mobil sport merahnya yang terlihat mengkilap meskipun langit sudah begitu gelap.
"Little brat, kau kabur lagi?" Kris yang kini menghentikan mobilnya di samping Jongin membuat pria tan itu berdecak kesal. Kenapa guru itu selalu saja muncul di hadapannya?
"Aku tidak kabur!" ia melanjutkan langkahnya—ingin segera pergi darisana.
"Kau tak butuh tumpangan?" Kris sedikit melongokkan kepalanya dari kaca mobil karena Jongin sudah berjalan menjauh, khawatir jika ia tak mendengarnya. Dan rupanya ia berhasil. Jongin menghentikan langkahnya lalu berjalan mundur.
"Tumpangan?" ia bertanya sekali lagi, meyakinkan jika pendengarannya masih baik-baik saja. Dan anggukan pria blonde itu membuatnya cukup antusias. Walau bagaimanapun, ia masih sama seperti anak normal lainnya yang tergiur dengan gratisan. Terlepas dari statusnya sebagai pewaris tunggal keluarga Kim.
"Kalau begitu aku tak akan menolak." Jongin membuka pintu mobil dan duduk di samping jok kemudi seraya memakai seatbeltnya. Ia masih memasang wajah datarnya lalu melirik Kris melalui ekor matanya saat pria itu tak juga menjalankan mobilnya.
"Kenapa diam saja?" tanya Jongin heran. Kris terkekeh pelan kemudian melipat tangannya di depan dada.
"Apa aku mengatakan jika tumpangan ini gratis?" ia sedikit menyeringai dan membuat Jongin mengernyit.
"Mwo? Jadi kau meminta bayaran? Cih! Lebih baik aku naik bus saja." Jongin hendak membuka seatbeltnya mendengar pertanyaan Kris yang lebih terdengar seperti pernyataan.
"Aigoo.. Kau seperti tak mampu saja membayarku, Tuan Muda. Tenang saja! Aku tak meminta uang sebagai bayarannya." Ucapnya santai kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Bayaran macam apa yang kau inginkan—" Jongin memutar bola matanya malas. Dilihatnya seringai tipis tercetak di wajah Kris.
"Sehun? Aku meminta Sehun sebagai bayarannya."
"MWO?" Jongin membelalakkan matanya seketika. Ia rasa Kris memang orang aneh yang menyamar menjadi guru! Dan tawa Kris pecah saat itu juga. Butuh waktu cukup lama untuk membuatnya menghentkan tawa hingga Jongin terlihat geram dan kesal.
"Aku hanya bercanda! Tenang saja!" ia menepuk keras pundak Jongin hingga obsidiannya menatap nyalang ke arah Kris.
"Apa-apaan kau?"
"Kau marah? Sorry, aku hanya bercanda. Lupakan. Aku tak akan meminta bayaran apapun darimu." Kris masih menahan kekehannya. Rupanya ia hanya menggoda Jongin dan masih tak tahu jika semuanya hanya salah paham saja.
"Kau benar-benar aneh." Jongin menatap sinis Kris lalu membuang mukanya ke samping kanan. Matanya memperhatikan pepohonan yang seperti berlarian. Dan entah kenapa saat Kris menggodanya dengan meminta Sehun padanya, wajahnya benar-benar memanas—terlebih mengingat ciuman bodoh itu—
"Sial!" Jongin memukul kepalanya beberapa kali dan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
oOo
Sehun mendapati rumah dalam keadaan gelap. Tao dan juga Minseok rupanya masih belum pulang. Ia menyeret kakinya ke arah dapur lalu mengambil sebotol air mineral dari lemari es. Saat air dingin itu menyentuh permukaan bibirnya, tiba-tiba saja ia terbelalak. Kenapa rasa dinginnya seperti—bibir Jongin? Ia menepis ingatannya lalu segera meneguk airnya hingga tersisa setengah. Ia menjatuhkan tubuhnya pada kursi lalu meremas rambutnya frustasi.
"Eotokhae?" dan kali ini ia membenturkan dahinya beberapa kali pada meja makan dengan mulut yang terus merutuk tak jelas. Hingga ia tak menyadari jika seseorang sudah berdiri di belakangnya.
"Sehunnie?"
"Kamchagiya!" ia hampir terjengkang dari kursinya jika saja Minseok tak cepat muncul di depannya.
"Mianhae jika sudah membuatmu terkejut." Ia tampak menyesal kemudian matanya mencari-cari sesuatu.
"Apa Tao masih belum kembali?" ada kecemasan dalam nada bicaraya. Sehun hanya menggeleng.
"Setelah pertandingan wushunya, aku terlebih dahulu meninggalkan Cheongdam dan— " dan ia kembali harus mengingatnya.
"Lupakan Oh Sehun~ Lupakan!" ia terus mensugesti pikirannnya dan membuat Minseok menatapnya bingung.
"Wae?"
"Ah itu—ani." Ia tersenyum dipaksakan. Kemudian terdengar suara pintu depan yang dibuka dan Tao muncul dari balik pintu dengan wajah yang terlihat kusut. Mata pandanya menatap Sehun tajam dan pria kurus itu hanya menelan ludahnya.
"Oh Sehun, kita perlu bicara." Ujarnya dengan suara geram lalu pergi ke kamarnya lalu membanting pintunya dengan keras.
"Kenapa dia?"
"Doakan aku agar tidak babak belur." Sehun memasukkan kembali botol ke dalam lemari es lalu segera pergi menyusul Tao ke kamarnya. Minseok memberengutkan wajahnya kemudian ia pun melenggang pergi menuju kamarnya.
oOo
Jongin berdiri di depan pagar besi yang hanya setinggi perutnya. Kepalanya menoleh, mendapati Kris yang masih memarkir mobil di belakangnya.
"Kau yakin ini rumahmu? Kukira rumahmu akan seperti istana tau—"
"Ini ruah temanku. Dan Saem—kau boleh pergi sekarang. Kamsahamnida karena sudah memebriku tumpangan." Jongin kali ini harus sedikit lebih sopan. Setidaknya Kris sudah mau repot-repot mengantarnya hingga ia berakhir di tempat ini. Kris terkekeh pelan saat dilihatnya sebuah bungkukan samar dilakukan oleh Jongin ke arahnya.
"Baiklah. Lain kali aku akan meminta Sehun sebagai bayarannya." Ia menginjak gas hingga mobilnya melesat, meninggalkan kepulan asap dari knalpot sebelum Jongin sempat memprotesnya.
"Dasar orang aneh." Sungutnya kesal. Ia pun memantapkan hatinya untuk menemui Sehun. Setidaknya permintaan maaf akan membuatnya lebih tenang dan tidak dihantui lagi perasaan aneh itu. tangannya bergerak membuka pintu pagar lalu berjalan perlahan menelusuri jalanan bebatuan yang sengaja ditata sedemikian rupa. Dan kini ia sudah berdiri di depan pintu lalu menarik nafasnya dalam. Kemudain tangannya terangkat untuk menekan bel.
Ting Tong TingTong
oOo
"Sehunnie, ada yang ingin bertemu denganmu." Tiba-tiba kepala Minseok muncul dibalik pintu kamarnya. Sehun yang masih menunggu Tao yang kini masih berdiam diri di kamar mandi, segera berjaan ke pintu depan dan mendapati seseorang yang tengah berdiri membelakanginya. Pria bermatel merah dengan tas punggung yang ia kenakan sepertinya membuat Sehun mengenali siapa sosok itu.
"Jongin—"
oOo
Sudah 5 menit berlalu sejak mereka duduk di salah satu bangku taman yang begitu dingin. Jongin masih belum membuka mulutnya. Tempat terbuka seperti ini sepertinya menjadi pilihan konyol bagi Sehun maupun Jongin untuk melakukan pembicaraan yang cukup serius—menyangkut harga diri seorang Oh Sehun. Ia tak ingin jika Tao maupun Minseok mendengar pembicaraan privat ini. Dan pada akhirnya di tengah cuaca yang begitu dingin mereka harus duduk sambil mengeratkan mantel masing-masing yang melekat pada tubuh.
"Yang tadi—aku minta maaf." Tak butuh waktu 10 detik untuk menyelesaikan kalimat tersebut. Sehun masih terdiam sambil memperhatikan jalanan yang sudah memutih tertutup salju.
"Aku tahu jika sikapku benar-benar lancang. Tapi—tak ada lagi yang bisa kulakukan selain—menciummu." Wajahnya terasa panas, begitupun Sehun. Ia berusaha mati-matian untuk tidak menunjukkan rasa gugupnya.
"Kau tak seharusnya melakukan hal itu. Apa tak bisa jika diselesaikan secara baik-baik? Dan tak perlu melibatkanku." Ucapan Sehun terdengar begitu dingin. Ia memang marah padanya. Namun melihat Jongin yang mau repot-repot datang meminta maaf meskipun itu memang sudah menjadi keharusan, setidaknya ada hal yang membuatnya sedikit luluh.
Jongin meliriknya sekilas kemudian kembali meancapkan tatapannya pada tanah tertutup salju dibawahnya.
"Mian." Setelah itu keduanya kembali terdiam. Cukup lama hingga membuat suara bersin memecah keheningan diantara mereka. Jongin menggosok hidungnya yang memerah.
"Pulanglah. Jika kau sakit dan aku ketahuan menjadi orang terakhir yang berada bersamamu, ayahmu pasti akan marah padaku." Sehun tanpa sadar melepas syal berbahan wol yang sejak tadi melingkar di lehernya. Dan Jongin terkesiap ketika syal abu-abu itu kini berpindah ke lehernya dengan bantuan Sehun. Ia menatap dengan cepat pria pucat yang kini tengah memakaikannya syal dengan telaten. Jongin merasakan dadanya bergemuruh hebat. Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Serpihan-serpihan salju yang tersangkut di rambut kecoklatannya membuat Jongin cukup tertegun.
"Sekarang pulanglah, sebelum aku berubah pikiran untuk tidak memaafkan—mu—" tenggorokannya serasa tercekat. Sehun membulatkan matanya ketika tangannya yang baru saja selesai memakaikan syal tiba-tiba terperangkap dalam genggaman Jongin. Begitupun mata hazelnya yang mendapatkan tatapan yang mampu menimbulkan perasaan aneh di dadanya.
"Oh Sehun, apa yang sudah kau lakukan padaku?"
To be Continued
.
.
Happy NewYear! Semoga masih bisa terus berkarya di tahun 2014 ini! And be a better person, have a better life. Dan Luhan bilang semoga bisa mewujudkan mimpi2 di tahun ini. padahal dia sendiri adalah salah satu mimpi saya LOL Hehe.. Dan sebenernya ini lagi dilema untuk couple mana yang akan berakhir happy ending T_T Jadi, mohon direview yaaa!^^ Gomaptaaa~ XOXO
