Tidak ada alasan, cuma mau minta maaf karena membuat kalian semua nunggu.

Hm, ada yang suka dan ada yang ga suka sama Naruto yang baru ini. Aku sendiri sih lebih suka sama Naruto sebagai seorang Uke yang kuat, tapi tetep lemes kalau di depan Seme nya hehe.

Naru ga berubah jadi tomboy, memang pada dasaranya dia itu cowo kan. Cuma setelah dia divonis punya penyakit jantung, dia ga seaktif dulu lagi. Karena itu juga jadi ngaruh ke sifatnya.

Ya, ga perlu basa-basi lagi deh. Silahkan chapter 16-nya!


"Jadi..kau laki-laki?"

"Iya."

"Kau yakin?"

Entah yang keberapa kalinya dalam tiga hari ini dia harus menjawab pertanyaan yang sama dan dari orang yang sama. Apa begitu sulitnya menerima kenyataan? "Neji, jika kau bertanya sekali lagi aku tidak akan segan memecatmu." Neji terlihat sedikit pucat mendengar penyataan Naruto. Dia menyukai pekerjaannya disini dan tidak pernah berpikiran untuk mencari pekerjaan lain.

Naruto mendapat satu pukulan yang cukup keras di kepalanya. "Jangan seenaknya memecat karyawan tanpa berdiskusi denganku. Terlebih lagi karyawan itu adalah yang terbaik yang kita miliki sekarang." Gaara menenteng sejumlah berkas di tangannya yang Naruto percaya digunakan untuk memukulnya tadi.

"Iya, iya, aku tidak akan memecat kekasihmu." Satu pukulan lainnya mendarat di kepalanya. Naruto meringis kesakitan tapi Gaara nampak tidak peduli. "Tapi aku serius, jika dia menanyakan hal yang sama sekali lagi saja dia akan mendapat masalah. Kau dengar itu, Neji?"

Neji tampak berpikir namun perlahan mengangguk. "Kalau begitu boleh kuajukan pertanyaan lain?"

"Ya."

"Bagaimana rasanya menjadi seorang istri dari seseorang yang laki-laki juga?"

Gaara memijat kepalanya dan Naruto sendiri hanya menghela napas mendengar pertanyaan dari karyawan yang sekaligus sudah menjadi teman mereka itu. "Neji, bukan aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu. Hanya saja ini bukan saatnya, oke? Bisa kita kembali bekerja sekarang?"

Gaara menepuk pundak Neji dan berjalan melewatinya. "Kau bisa bertanya padaku nanti." Neji mengangguk mengerti dan meninggalkan ruangan para atasannya itu untuk kembali ke pekerjaannya. Mendengar perkataan sahabatnya, Naruto hanya menatapnya dengan tidak peduli. Sejak awal dia memang tidak bermaksud merahasiakan jati dirinya. Naruto hanya sudah terbiasa dengan orang-orang yang salah paham akan gendernya dan terlalu malas untuk meluruskannya. Tapi semua itu menjadi semakin rumit ketika dia akhirnya menikah dengan Sasuke. Ya, mungkin dia memang merahasiakannya.

Saat pertama kali masuk bekerja dua hari yang lalu, Naruto datang dengan penampilan baru. Walau lebih bisa dibilang dia kembali ke penampilannya yang dulu sebelum dia sakit dan harus banyak tinggal di rumah. Naruto memakai celana jeans, kaus polo dan sepatu sport. Dia memakai topi yang menutupi sebagian dari rambut pirangnya yang panjang. Neji mengiranya sebagai salah satu pelanggan dan bersiap untuk melayaninya. Begitu kagetnya dia ketika orang yang dikiranya pelanggan itu memanggil namanya dan menyapanya, apalagi ketika mendengar Gaara yang setengah berteriak memanggil nama Naruto saat melihatnya.

Sejak saat itulah Neji terus menanyakan hal yang sama pada Naruto mengenai identitas aslinya. Selama Neji mengenal Naruto dia selalu mengiranya sebagai seorang perempuan, terlebih lagi dia berstatus sebagai istri seseorang, Neji tidak menyangka.

"Naru, kau akan berpenampilan seperti ini seterusnya?" Gaara menyerahkan beberapa berkas kepada Naruto. Selama bekerja di kafe, Naruto hanya mengurusi masalah administrasi seperti biasanya. Dia belum Gaara ijinkan untuk membantu melayani pelanggan, walau terkadang Naruto menyelinap masuk ke dapur untuk ikut mengecek menu-menu mereka.

"Memangnya kenapa?"

"Bukannya kau selama ini menyembunyikan jati dirimu sebagai seorang laki-laki?"

"Kapan? Memakai kimono hanya salah satu hobiku. Tidak ada hubungannya dengan menyembunyikan gender." Naruto mengambil berkas tadi dan mulai mengerjakannya. Gaara membagi ruangan miliknya dengan Naruto sehingga saat ini mereka bekerja di ruangan yang sama di meja masing-masing. "Berhentilah bicara seakan kau tidak tahu apa-apa."

"Hm."

Keduanya kembali ke pekerjaan masing-masing. Mereka begitu fokus dengan kesibukannya sampai tidak terasa sudah cukup lama tidak ada suara apapun kecuali suara ketikan di komputer, suara kertas yang dibalik atau ketukan bolpoin di atas meja. Ruangan kecil itu terlalu hening dengan adanya mereka berdua. Naruto melirik sahabat berambut merahnya yang menunjukkan wajah serius saat membaca beberapa kertas di tangannya.

"Gaara, kau tidak bertanya tentang perubahanku?"

Mata hijau Gaara tidak lepas dari kertas yang sedang dibacanya. "Yang mana?" Nada suaranya tidak menunjukkan rasa penasaran sedikitpun.

"Ayolah, berhenti bersikap bodoh seperti itu."

Gaara akhirnya meninggalkan kertasnya dan menatap mata biru Naruto. Dengan matanya dia menelusuri sahabatnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia mencoba mencari detil-detil di setiap bagian tubuh Naruto. Setelah selesai dia kembali lagi ke pekerjaannya. "Tidak ada yang berubah."

Mendengar jawaban Gaara, Naruto hanya bisa menghela napas. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang didudukinya dan menatap langit-langit ruangan mereka. "Kau selalu seperti ini. Apa kau tidak peduli lagi padaku?"

"Jangan salahkan aku karena kelakuanmu. Bukankah sejak dulu kau memang selalu seperti ini? Kau justru mulai berubah semenjak menikah dengan Sasuke." Tubuh Naruto sedikit menegang saat mendengar nama Sasuke, tapi Gaara meneruskan kata-katanya. "Kenapa aku harus mempersalahkanmu yang ini? Naruto Namikaze yang kukenal memang seperti ini. Atau kau sendiri lebih suka dengan dirimu yang Naruto Uchiha?"

Naruto membuka mulut untuk menjawab tapi segera menutupnya lagi. Gaara menunggu beberapa lama untuk mendengar jawaban Naruto. Ketika jawaban itu tidak kunjung datang, dia kembali ke kertas yang dibacanya tadi membiarkan Naruto bergelut sendiri dengan pikirannya.

Entah berapa lama Gaara berkutat dengan pekerjaannya, begitu seriusnya dia sampai baru dia sadari dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam ketika matanya mulai lelah menatap layar komputer. Dia mematikan layar komputernya dan berjalan ke luar ruangan. Naruto sudah tidak ada di mejanya entah sejak kapan dan Gaara tahu pasti dimana sahabatnya itu berada. Saat bermaksud untuk menyusulnya ke dapur, matanya menangkap sosok yang dia kenal sedang berdiri di depan kafenya. Dia berjalan keluar kafe dan menyapa sosok tersebut.

"Sasuke, sedang apa disini?"

Seorang Sasuke Uchiha berdiri tidak jauh dari pintu masuk menuju kafe, walau dilihat dari gelagatnya tidak ada niat untuk masuk ke dalam. Sasuke membalas pertanyaan Gaara dengan salam. "Hai, Gaara. Lama tidak bertemu."

Gaara menatap Sasuke bingung. "Apa kau ingin bertemu Naru?" Walau dia tidak yakin apa yang akan Sasuke katakan jika dia melihat Naruto dengan penampilannya yang sekarang, dia sedikit berharap Sasuke memang datang kemari untuk bertemu atau bahkan bicara dengan istrinya.

"Hm, tidak. Aku hanya lewat saja." Meski berkata begitu, mata onyx nya seperti mencari-cari sosok yang menjadi istrinya itu.

"Kau datang karena ingin bertanya mengenai Naru, kan?" Pertanyaan Gaara mengalihkan perhatian Sasuke padanya. Sepertinya tebakannya tepat sekali dilihat dari reaksi yang diberikan Uchiha bungsu tersebut.

Dengan ragu-ragu Sasuke membuka mulut. "Gaara, apa kau tau mengenai…" Tiba-tiba pintu kafe terbuka dari dalam memotong pertanyaan Sasuke. Keduanya melihat siapa gerangan yang sudah memotong pembicaraan mereka dan melihat Neji yang terlihat bingung saat melihat Sasuke ada disana.

"Apa ada, Neji?"

Neji berbicara pada Gaara dan tidak membahas soal keberadaan Sasuke. "Ah, Naru mencarimu. Dia sekarang sedang di dapur. Sepertinya dia ingin membicarakan tentang resep yang kau usulkan kemarin."

"Baiklah." Gaara melangkah memasuki kafe, tapi berhenti sebentar untuk mengatakan sesuatu pada Sasuke. "Sasuke, kusarankan kau tanya saja Itachi. Dia tahu semuanya dan pasti akan memberitahumu, percaya saja padaku. Jika kau memang masih mencintai Naru, dan aku tau kau masih, pergi dan bicaralah pada kakakmu. Hanya itu saja yang bisa kukatakan padamu." Dengan Neji yang mengikuti di belakangnya, Gaara meninggalkan Sasuke sendirian di luar.

Sasuke menatap pintu kafe yang tertutup dan berpikir. Setelah beberapa saat terdiam di tempat yang sama akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kantor. Dalam beberapa hari ini dia memang sangat terganggu dengan masalah Naruto. Dia bahkan mengakui tidurnya terganggu oleh beberapa mimpi yang mengusik malamnya. Sasuke seringkali melamun semalaman sambil menatap ruang kosong di sampingnya. Mengapa meskipun dia sudah dihianati dia tetap ingin bersama dengan Naruto? Karena alasan itu jugalah dia datang hari ini untuk bertemu dengan Gaara. Dia ingin memastikan semuanya, tapi kenapa ternyata dia harus kembali ke Itachi?

Sejujurnya jika dia sanggup dia bisa saja sejak kemarin bertanya pada kakaknya itu. Memang sepertinya dia harus menghadapi ketakutannya dan menemui Itachi, tidak ada jalan lain. Semoga saja Itachi mau melupakan pertengkaran mereka yang terakhir dan berbicara layaknya kakak adik walau hanya sebentar.

Hari sudah menjelang sore dan Sasuke tahu Itachi masih ada di kantor. Dia sendiri sebenarnya masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi otaknya berhenti bekerja dan Sasuke tidak dapat menghentikan lagi rasa ingin tahunya. Karenanya sekitar tiga puluh menit lalu dia mengambil kunci mobilnya dan berkendara ke kafe dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Kali ini dia menyetir dengan kecepatan standar sambil berpikir apa yang harus dia katakan pada Itachi nanti setelah sekian lama menjauhi topik Naruto dengan semua orang.

"Aku hanya harus melakukannya, memaksanya bicara jika perlu." Sasuke berjalan perlahan dari tempat parkir menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai dimana ruangan Itachi berada. Lift yang naik dengan cepat menambah sedikit rasa gugupnya tapi Sasuke tetap berjalan dengan mantap layaknya seorang Uchiha.

Tanpa mengetuk pintu seperti biasa, dia memasuki ruangan sang kakak. Itachi sedang membereskan beberapa buku di lemarinya dan berbalik ketika mendengar seseorang masuk. "Sasuke? Ada apa kemari? Seingatku tidak ada yang aku perlukan darimu."

Kalimat-kalimat Itachi yang seakan selalu menekankan bahwa urusan mereka hanya soal pekerjaan inilah yang selalu membuat Sasuke ragu untuk bertanya. Dia tahu Itachi sangat protektif terhadap Naruto, tapi dia juga tahu Itachi pun protektif terhadap dirinya. Kakaknya itu tidak akan bersikap seperti ini jika memang Naruto telah melakukan sesuatu yang menyakitinya. Karena menurut Gaara, Itachi mengetahui semuanya.

"Aku ingin bicara soal Naru."

Mungkin dia terlalu frontal, tanpa basa-basi, tapi Sasuke tidak bisa berpikir jernih sekarang. Dia hanya ingin jawaban dan penjelasan. Itachi menatap adiknya serius dan memberikannya perhatian penuh. "Setelah berminggu-minggu, kau ingin membicarakannya sekarang?" Sasuke tidak menjawab, hanya menatap Itachi yakin. "Apa kau tahu? Kau itu bodoh, Sasuke."

"Aku tahu." Reaksi yang sangat cepat dari seorang Sasuke.

Itachi sedikit tersentak dengan jawaban tersebut. Tidak pernah adiknya mengakui dirinya bodoh apalagi dengan nada seperti ini, seperti orang yang kalah. "Kau pasti berpikir Naru sama seperti orang itu, bukan? Kau pikir dia telah atau akan menyakitimu seperti dulu."

"Aku tahu." Tentu saja. Melihat reaksi dan tingkah laku adiknya belakangan ini Itachi dapat menyimpulkan apa yang menganggu pikiran Sasuke, dia hanya tidak tahu apa yang telah memicunya.

"Seharusnya kau tahu mereka itu berbeda."

"Aku tahu." Tidak ada kata lain yang keluar dari mulut Sasuke selain itu.

"Kau sudah melihat bagaimana Naru tulus menyayangi kita semua. Naru bukanlah dia."

"Aku tahu."

"Kau benar-benar bodoh jika berpikir orang seperti Naru ingin menyakiti kita dengan sengaja. Bahkan aku saja bisa menerimanya, seharusnya kau sadar dia itu berharga."

Sasuke mengepalkan tangannya dan berteriak cukup keras. "Aku tahu!" Terlihat tubuhnya sedikit bergetar entah karena marah atau karena hal lain. "Aku tahu. Aku tahu itu. Karena itulah aku kemari dan bicara padamu. Aku tahu dia berbeda."

Itachi membiarkan Sasuke mengeluarkan isi hatinya. Dia sadar sejak Naru menangis di pelukannya malam itu, Sasuke sudah memendam semuanya sendirian. Adiknya ini selalu membuatnya khawatir jika sudah menyangkut hubungan dengan orang lain. Sejak dulu sampai sekarang Sasuke selalu seperti anak kecil yang rapuh yang takut disakiti dan sulit mempercayai orang. Terlebih lagi dengan pengalaman buruknya dulu, Sasuke yang sekarang terlihat seperti saat itu bagi Itachi.

"Lalu, apa yang kau inginkan sekarang?"

Mencoba mengendalikan dirinya, Sasuke mengambil napas panjang. "Aku ingin mendengar semuanya. Menurut Gaara, Kakak tahu semuanya. Akan kuputuskan apa yang akan kulakukan setelahnya."

Mendengar nama Gaara disebut membuat Itachi semakin yakin bahwa adiknya ini serius. Dia sedikit kecewa karena butuh waktu berminggu-minggu dulu bagi Sasuke untuk menyadari bagaimana berharganya Naruto baginya, bagi mereka semua.

Baru saja Itachi hendak membuka mulut, suara hapenya menyita perhatiannya. Dia merasa tidak ingin menjawabnya apalagi dengan Sasuke yang seperti ini, tapi ketika melihat siapa yang menelepon dia berubah pikiran. Tidak mungkin orang itu menelepon jika tidak ada yang penting.

"Ya ada apa, Kyuubi?" Mendengar nama itu lagi-lagi disebut membuat Sasuke semakin penasaran siapa gerangan Kyuubi ini. "Tidak, tidak ada." Hening sejenak, lalu mendadak ekspresi Itachi berubah. "Kau bilang apa?! Bagaimana bisa?" Jarang sekali Itachi berteriak dan jelas itu membuat Sasuke kaget. Entah kenapa setiap Kyuubi menelepon sepertinya selalu ada sesuatu yang terjadi. "Dimana kau sekarang? Baiklah, aku akan kesana."

Itachi memutus hubungan dan meremas hapenya. Dia terlihat sedikit panik dan cemas, tidak seperti Itachi yang biasanya. "Ada apa, Kak?"

"Sasuke, maaf. Aku tahu masalahmu ini penting, tapi sesuatu terjadi dan aku harus segera pergi. Kita bicara lagi nanti." Itachi menyambar jasnya dan berjalan dengan cepat. "Ah ya, boleh kupinjam kunci mobil? Kurasa aku membutuhkannya. Dan, Sasuke?"

Sasuke menyerahkan kunci mobil kepada Itachi yang langsung menerimanya. "Ya?"

"Aku tahu kau memiliki segudang alasan untuk mencurigai Naruto karena masa lalumu. Tapi kau benar-benar bodoh jika hanya berpegangan pada pengalamanmu dulu. Itulah yang membuatku sangat kesal padamu." Dari nadanya saat mengatakannya pun Itachi masih terdengar kesal mengingat kata-kata Sasuke mengenai Naruto saat itu. Sesuatu yang tidak diharapkan Sasuke terjadi, Itachi tersenyum, sesuatu yang sudah cukup lama tidak dia lihat. "Tapi aku senang kau akhirnya mau bicara padaku. Aku pergi dulu."

Setelah Itachi pergi entah kenapa kaki Sasuke terasa lemas dan dia pun menjatuhkan diri di kursi terdekat. Dia masih belum mendapatkan jawaban, tetapi mendengar dan melihat reaksi kakaknya membuat Sasuke sedikit lega. Entah apa yang membuatnya berpikiran begitu, Itachi selalu bisa membuatnya seperti ini.

"Kakak, cepatlah kembali."

Di tempat lain, Itachi sedang mengemudikan mobilnya menuju tempat dimana Kyuubi sedang menunggu, sekolah Kurama. Dia dapat melihat rambut merah Kyuubi dari jauh saat sudah mendekati tempat tersebut. Wajahnya terlihat sangat panik dan bingung. Kyuubi terlihat sedikit lega saat melihat Itachi sampai dan segera menghampirinya. "Itachi, apa yang harus kulakukan? Kurama tidak ada."

"Tenang dulu. Kau sudah mencari di sekitar sini?" Saat menelepon tadi Kyuubi berkata kalau Kurama hilang. Dia sudah bertanya pada Gaara dan Naruto kalau saja mereka yang menjemputnya dari sekolah, tapi ternyata tidak. Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi.

"Aku juga sudah bertanya pada gurunya dan orang sekitar tapi tidak ada yang melihat Kurama. Salah satu temannya mengatakan Kurama sempat mengatakan ingin bertemu Papa. Kupikir itu kau karena itu aku menghubungimu, tapi ternyata..Kurama…"

Tubuh Kyuubi mulai gemetar ketakutan memikirkan hal yang bisa menimpa anaknya. Itachi meraih Kyuubi dan memberinya sebuah pelukan. "Tenanglah, Kyuubi. Kita pasti akan menemukannya." Tangan besarnya mengelus punggung Kyuubi untuk membantunya tenang. "Kau tau Kurama anak yang pintar, dia pasti akan baik-baik saja. Kita harus segera mencarinya, tapi aku butuh kau berpikir jernih. Kau sudah bisa tenang sekarang?"

Kyuubi membiarkan dirinya dalam pelukan Itachi sedikit lebih lama sebelum akhirnya melepaskan diri. "Ya, terima kasih. Kau benar, aku harus berpikiran jernih jika ingin menemukan anakku."

"Anak kita. Bukankah aku ini juga Papanya?"

Kyuubi terdiam sebentar lalu tersadar. "Ah, kau benar. Kalian juga pasti khawatir, bukan hanya aku. Maaf sudah bersikap seperti tadi. Sebaiknya kita segera berangkat."

Mereka berdua menaiki mobil dan segera meluncur. Di setiap waktu Kyuubi terus berkomunikasi dengan Naruto dan Gaara yang juga sedang mencari di daerah lain. Mereka semua menghubungi dan mencari di setiap tempat yang meraka anggap bisa Kurama datangi. Sudah sekitar satu jam tapi belum ada hasil apapun dan kekhawatiran mereka semakin bertambah.

"Di saat seperti inilah aku berharap anak itu membawa telepon genggam. Seharusnya aku belikan saja dulu, tidak perlu terlalu mendengarkan protesanmu."

"Aku hanya berpikir kalau barang seperti itu masih terlalu awal baginya. Lagipula Kurama selalu ada di sisiku dan dia anak yang baik, tidak terpikirkan dia akan menghilang seperti ini."

Itachi melirik Kyuubi yang masih sibuk menelepon dengan Naruto. Kelihatannya Naruto sedang memarahi Kyuubi dan sedikit menyalahkan sepupunya itu atas hilangnya Kurama. "Sudahlah. Apa kau menemukan sesuatu? Kami sedang di taman kota. Banyak anak-anak disini tapi tidak ada Kurama. Gaara sedang bertanya jika saja ada yang melihat dia."

"Aku dan Itachi masih berkeliling, kami juga belum menemukan apa-apa."

Hening sesaat di antara keduanya. Yang terdengar hanya samar-samar suara beberapa anak kecil dari sebrang telepon. Saat Naruto berbicara lagi, nada suaranya terdengar sedikit dingin. "Kyuubi, jika sesuatu terjadi pada Kurama aku tidak akan memaafkanmu." Dia pun memutus hubungan mereka.

Di saat itulah hape Itachi berdering dan menunjukkan adinya yang menghubungi. Dengan sedikit tidak ingin Itachi mengangkatnya. "Ada apa, Sasuke? Sudah kubilang kita akan bicara nanti. Aku sedang sibuk sekarang."

"Kembalilah ke kantor sekarang. Ada yang menunggumu."

"Siapa? Aku tidak ada janji hari ini, suruh saja datang lagi nanti. Aku tidak bisa."

"Dia bilang namanya Kurama." Dan saat itu pertama kalinya Itachi mendengar Kyuubi mengumpat karena dia sudah menginjak rem sekaligus, mengakibatkan dahi pria berambut merah itu menyentuh kaca mobil depan lumayan keras.

"Kau bilang siapa?!"

'Sudah, kemari saja. Kutunggu.' Sasuke memutus hubungannya.

"Oi Sasuke, tunggu! Bagai.. Ck, dia menutupnya." Itachi melempar hapenya sembarang ke atas dashboard. Di sampingnya, Kyuubi masih mengelus dahinya yang sakit. Untung saja jalanan ini lumayan sepi, walau Itachi menghentikan mobil mendadak pun tidak akan terjadi kecelakaan.

"Ada apa, Itachi?"

"Kita akan ke kantorku."

Itachi menancap gas lagi, tapi kini lebih santai karena tahu Kurama baik-baik saja. "Kenapa ke kantormu? Kita belum menemukan Kurama."

"Kurama ada disana."

"Hah?" Jawaban Itachi hanya membingungkan Kyuubi saja. Setelah itu pun sang Uchiha tidak berkata apa-apa untuk menjelaskan situasinya. Kyuubi hanya bisa duduk diam dan bertanya-tanya dalam hati mengenai keadaan putra tercintanya.

Mereka sampai di perusahaan Uchiha dan Itachi pun menghentikan mobilnya. Saat akan mengikuti Itachi keluar, pria Uchiha itu menghentikannya. "Kau tunggu saja disini, aku tidak akan lama. Beritahu yang lainnya kita sudah menemukan Kurama."

"Tapi, Itachi.."

"Lakukan saja apa yang kuminta, Kyuubi. Aku akan segera kembali dengan anak kita." Tanpa basa-basi lagi Itachi meninggalkan pria Uzumaki itu untuk menjemput putra mereka.

Beberapa waktu sebelumnya setelah Itachi meninggalkan Sasuke di ruangannya, Uchiha bungsu itu terduduk lemas di kursi untuk beberapa lama. Pikirannya melayang ke sosok istrinya. Bagaimana terakhir kali mereka bertemu dan juga perlakuannya pada Naruto. Sasuke merasa dia tidak adil karena telah menghakiminya tanpa memberi kesempatan pada Naruto untuk menjelaskan apa-apa. Dia terlalu termakan oleh lukanya di masa lalu dan mengakibatkannya berbuat sesuatu di luar kendali. Dia tidak tahu bagaimana keadaan Naruto sekarang. Apa dia baik-baik saja?

Tiba-tiba saja pikirannya berganti ke kejadian tadi. Orang yang bernama Kyuubi itu sepertinya memiliki masalah dan membutuhkan bantuan Itachi. Kedua orang tuanya sepertinya juga mengenal Kyuubi, apa dia memiliki hubungan khusus dengan Itachi? Sedikit aneh rasanya ketika kakaknya lebih mengutamakan masalah orang lain dibandingkan dengan Naruto. Apa Naruto mengenal Kyuubi?

Dia tidak bisa tenang berdiam diri seperti ini. Sasuke memutuskan untuk pergi mencari Itachi dan membantu apapun masalah orang bernama Kyuubi ini agar cepat selesai. Dengan begitu dia akan mendapat jawaban sesegera mungkin.

Sasuke turun dengan menggunakan lift dan dalam sekejap sudah berada di lantai dasar. Saat akan meninggalkan gedung dia mendengar suara anak kecil yang sedang sedikit bertengkar dengan bagian recepsionis. "Tidak mau! Kurama ingin bertemu Papa. Kalau belum bertemu, Kurama tidak akan pulang!"

"Dengar ya, nak. Kamu tidak bisa bersikap begitu, ini kantor. Tidak boleh main-main begitu."

"Ada apa ini?" Gadis recepsionis itu langsung berdiri tegak ketika melihat siapa yang bertanya.

"Tuan Sasuke, anak ini bilang dia ingin bertemu dengan Anda. Dia mengatakan dia ini anak Anda, tapi seingat saya Anda belum memiliki seorang putra jadi…"

Belum dia menyelesaikan kalimatnya, Kurama yang mendengar nama Sasuke disebut segera berbalik dan tersenyum senang ketika melihat wajah yang selalu ingin ditemuinya. Dia berlari menerjang Sasuke dan memeluk kakinya Papanya. "Papa! Akhirnya Kurama bisa bertemu!"

"Hei, nak! Kau tidak boleh.." Sasuke kali ini yang menghentikan kalimatnya.

"Tidak, apa-apa. Biar aku saja yang mengurus anak ini."

"Tapi.."

"Aku akan membawanya ke ruanganku. Kau kembali saja bekerja seperti biasanya." Gadis itu pun menurut dan melanjutkan pekerjaannya. Sasuke berpaling pada Kurama yang masih memeluk kakinya. "Namamu Kurama, bukan? Kita ke ruanganku saja, kau mau?"

"Iya."

Kurama meraih tangan Sasuke dan mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan. Mereka berdua berjalan seperti itu menuju ruangan Sasuke menarik perhatian orang-orang setiap mereka lewat. Begitu sampai, Sasuke segera menutup pintu dan mempersilahkan Kurama untuk duduk.

"Kau bilang ingin menemuiku. Ada apa?"

"Sudah lama Kurama ingin bertemu dengan Papa Suke. Kurama senang sekali." Kurama masih saja tersenyum-senyum. Saat teringat tujuan lainnya dia datang kemari, wajahnya langsung berubah. "Papa, Kurama mau bertanya boleh?"

"Silahkan."

"Apa Papa tidak rindu Mama?"

Sasuke menaikan kedua alisnya. "Mama?"

"Mama Naru. Papa tidak rindu? Mama bilang, Mama rindu Papa."

"Benarkah?" Sebuah senyuman tipis tidak bisa Sasuke hentikan untuk merekah di bibirnya. Mendengar Naruto yang merindukannya membuatnya sedikit bahagia. Tentu Sasuke pun merindukannya, hanya saja menurutnya belum saatnya mereka bertemu.

"Benar. Tapi Mama bilang Papa sudah tidak mau bertemu lagi dengan Mama. Apa benar?" Kali ini wajah Kurama terlihat sedikit kesal. Satu lagi orang yang menyayangi Naruto dan Sasuke sudah membuat mereka marah. Entah mengapa saat ini dia sangat ingin tertawa.

"Benar, tapi tidak sepenuhnya benar. Kami hanya sedikit bertengkar."

"Eeeh?! Tidak boleh. Bertengkar itu tidak baik. Kalian harus baikan, ya? Papa harus minta maaf." Wajahnya lucu sekali ketika sedang marah. Dan mata birunya itu mengingatkan Sasuke pada mata Naruto. Begitu jernih dan juga polos.

"Iya, nanti baikan. Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Boleh."

"Bagaimana kau bisa datang kemari? Kenapa bisa tau aku ada disini?"

Kurama tiba-tiba menunduk dan bermain dengan kakinya. Terlihat seperti seorang anak yang ketahuan sudah melakukan kesalahan. "Kurama pinjam kartu nama Papa Tachi, lalu pinjam uang Ayah untuk naik taksi kemari." Kurama terus memainkan kakinya dan tidakberani menatap Sasuke langsung.

Papa Tachi? Maksudnya Itachi? Sasuke menepuk kepalanya dan menggeleng. Gelagatnya itu sangat bisa ditebak. Mengingat apa yang terjadi tadi lalu anak ini ada disini, Sasuke mengerti apa situasinya. "Kau tidak bilang siapa-siapa mau kemari, kan? Mereka pasti sedang mencarimu sekarang." Sasuke mengambil teleponnya dan memencet beberapa tombol. Setelah beberapa nada sambung orang yang ditujunya pun mengangkat panggilannya. "Halo, Kak? Kembalilah ke kantor sekarang. Ada yang menunggumu. Dia bilang namanya Kurama. Sudah, kemari saja. Kutunggu." Sasuke menutup teleponnya dan kembali memberi perhatiannya pada Kurama. "Sebentar lagi Kak Itachi akan kemari. Sementara itu kita mengobrol saja."

Kurama masih menunduk. "Papa Suke tidak marah?" Suaranya rendah karena takut akan membuat Sasuke marah.

"Kenapa aku harus marah?"

Kali ini dia mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke. Dia terlihat seperti menimang-nimang apa yang akan dikatakan. "Papa Suke, suka pergi ke taman bermain tidak?"

Pertanyaan yang tidak bisa diduga. Tapi jika dipikir lagi saat ini Sasuke sedang berbicara dengan seorang anak kecil berumur tujuh tahun, tidak aneh jika topiknya berubah-ubah. "Hm, taman bermain ya? Tidak bisa dibilang suka tapi juga tidak benci. Dulu aku suka pergi kesana dengan Ayah, Ibu dan juga Kakak. Tapi itu sudah lama sekali."

"Jadi tidak benci, kan? Nanti mau ya pergi dengan Kurama? Mama juga sudah janji mau ajak Kurama kesana lagi dengan Ayah dan juga yang lainnya."

"Yang lainnya?"

"Iya. Papa Tachi, Papa Gaara, Paman Neji, Kakek, Nenek, Kakek Fuga dan Nenek Miko juga diajak."

Sasuke sedikit membelalakan matanya. Jadi kedua orang tuanya mengenal Kurama juga? Sejak kapan? Mereka bahkan berjanji untuk bermain ke taman bermain bersama. Apa sebenarnya yang terjadi disini?

Pintu ruangannya terbuka dan memperlihatkan Itachi yang matanya langsung mencari-cari ke dalam ruangan. Ketika dia menemukan apa yang dicari, dia segera menghampirinya dan memeluk sosok itu. "Kurama. Kau membuat kami khawatir."

Kurama menenggelamkan diri dalam pelukan Itachi. "Maaf, Papa Tachi. Kurama hanya ingin bertemu Papa Suke."

Itachi melepas pelukannya dan mengelus rambut merah Kurama yang menjadi ciri khas Uzumaki. "Ayahmu sangat khawatir, sekarang dia sedang menunggu di bawah. Sebaiknya kita segera menemuinya."

"Kakak."

Itachi menoleh kepada Sasuke yang memanggilnya. "Ah Sasuke, sebaiknya kujelaskan nanti saja ya. Terima kasih sudah menjaga Kurama. Aku yakin kau memiliki semakin banyak pertanyaan tapi sekarang aku harus mengantar Kurama pulang." Dia kembali menatap Kurama. "Nah, ayo kita pulang. Mamamu juga pasti khawatir. Jangan sampai dia masuk rumah sakit lagi gara-gara ini."

Kurama mengangguk dan menggenggam tangan Itachi. Sebelum keluar ruangan dia menoleh pada Sasuke dan melambai. "Dah, Papa Suke. Nanti kita bertemu lagi ya."

Sasuke lagi-lagi ditinggal sendirian hari itu. Namun kali ini perasaannya lebih baik. Bertemu dengan si kecil Kurama meringankan sedikit beban di hatinya. Anak itu begitu polos dan juga manis, membuat orang mudah jatuh hati padanya. Sasuke tersenyum pada dirinya sendiri namun hanya bertahan beberapa detik saja karena dia menyadari sesuatu saat berbicara dengan Kurama tadi. Sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya dan menimbulkan misteri baru baginya. "Anak itu, kenapa dia memanggilku Papa?"

Itachi sedang berada di dalam lift menuju ke tempat parkir bersama dengan Kurama. Itachi berjongkok agar bisa sejajar dengan Kurama dan bebicara dengan serius. "Kurama, jangan katakan pada Mamamu kalau kau kemari untuk bertemu Sasuke."

"Kenapa?"

"Karena Mamamu akan sedih mendengarnya. Saat ini mereka sedang bertengkar, jadi sebaiknya jangan membahas Sasuke di depannya."

"Ah, Kurama tau itu!" Bukan hanya perkataannya yang membuat Itachi kaget, tapi juga karena anak itu sedikit berteriak di dalam lift yang sempit itu. "Kurama sudah minta Papa Suke untuk minta maaf sama Mama dan Papa bilang mereka akan baikan."

"Benarkah?" Kurama mengangguk dengan penuh bersemangat. Ini membuat Itachi berpikir lagi. Meskipun lawan bicaranya dalah anak kecil, Sasuke tidak pernah membuat janji yang tidak ingin ditepatinya. "Dengar, aku memiliki rencana agar Papa dan Mamamu bisa segera baikan. Tapi, untuk saat ini jangan bahas soal Sasuke di depan Naruto. Kau mau bantu kan?"

Kurama mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum lebar. Tentu saja dia akan membantu. Dia senang sekali membayangkan keluarga besarnya akan segera berkumpul. Lift berhenti dan pintunya pun terbuka. Itachi dan Kurama melangkah keluar menuju tempat parkir dimana Kyuubi sedang menunggu dengan cemas. Pria bermarga Uzumaki itu duduk di kursi mobil dengan raut wajah bingung bercampur khawatir. Kurama memanggil Ayahnya sambil berlari. Kyuubi menoleh dan mendapati wajah putra semata wayangnya yang berseri-seri ditemani Itachi yang berjalan dengan santai dibelakangnya.

"Kurama!" Kyuubi membuka pintu mobil dan menghampiri anaknya yang langsung memeluknya. "Kau membuat Ayah takut. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu?"

Tangan kecil Kurama menepuk-nepuk punggung ayahnya mencoba meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. "Kurama tidak apa-apa, kok. Kurama sudah besar." Itachi ikut bergabung dan tersenyum pada pemandangan di hadapannya.

"Kurasa kita perlu membawa anak kita pulang. Mamanya dan juga yang lainnya pasti sedang cemas menunggu kita." Kyuubi menatap Itachi dan mengangguk.

Mereka bertiga berkendara ke kediaman Namikaze dengan kecepatan yang bisa dibilang santai. Sepanjang perjalanan Itachi menceritakan tentang rencana yang dimilikinya untuk mempertemukan dan jika semua berjalan lancar juga mendamaikan Naruto dan Sasuke. Kyuubi ikut mengusulkan beberapa ide dan pada akhirnya mereka mendapatkan kesepakatan. Rencana ini perlu juga diketahui oleh yang lainnya dan Itachi menawarkan diri untuk menyampaikannya kepada semua. Semuanya perlu dilakukan dengan cermat karena salah sedikit saja ada kemungkinan malah akan membuat keadaan semakin runyam.

Mobil berwarna merah yang mereka kenali sebagai milik Gaara terparkir di depan di depan gerbang kediaman Namikaze. Itachi memberhentikan mobilnya sendiri tepat di belakang mobil Gaara. Naruto yang sepertinya menyadari kedatangan mereka segera keluar dari pintu penumpang di samping Gaara dan mendatangi mereka ketika Itachi baru hanya sempat mematikan mesin dan membuka sabuk pengamannya. "Kyuubi." Dia berdiri tepat di depan pintu mobil dimana Kyuubi duduk.

Sambil menghela napas pasrah, Kyuubi keluar dari dalam mobil dan menghadapi Naruto. "Ya Naru, aku tahu." Mereka saling bertatapan dengan serius. "Kuijinkan Kurama untuk membawa telepon genggam mulai dari sekarang. Aku juga terima jika kau ingin marah padaku sekarang."

Naruto mengangguk kecil lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Bukan hanya itu. Mulai besok Kurama akan tinggal bersamaku." Kyuubi tidak menduga akan keputusan ini karenanya dia membelalakan mata dan hendak memprotes namun segera dipotong oleh Naruto sendiri. "Aku tidak peduli apa maumu dan tidak mau mendengar alasan apapun. Mulai besok Kurama akan tinggal bersamaku, suka atau tidak."

Dengan niat tidak memberi sepupunya kesempatan untuk bicara lagi, Naruto berbalik dan memasuki lagi mobil milik sahabatnya. Gaara melirik Naruto yang sedang memasang sabuk pengaman miliknya. "Kau tidak mau masuk dulu? Sudah lama kau tidak berkunjung kan?"

"Aku tidak ingin mengambil resiko dan melihat Ibu. Jalankan saja mobilnya. Kita kembali ke kafe."

Sedikit demi sedikit Gaara sudah semakin terbiasa dengan kembalinya sifat Naruto yang dulu ini. Walau terbiasa bukan berarti dia menyukainya. Naruto yang seperti perempuan saat bersama dengan Sasuke terlihat jauh lebih manis dan menyenangkan menurutnya. "Baiklah, tuan muda."

Sebutan yang selalu Gaara gunakan saat mereka SMA dulu ini menimbulkan sebuah senyum tipis di bibir Naruto. Saat SMA dulu semua orang mengetahui sifat seenaknya dari seorang Naruto Uzumaki, namun tidak ada yang pernah keberatan. Karena dibalik sifatnya yang terkesan egois itu, Naruto juga sangat menyayangi dan juga peduli pada orang di sekitarnya. Mengetahui hal itu membuat mereka semua juga menyayanginya, meski terkadang sifatnya itu sedikit menjengkelkan. Seperti sekarang ini.

Itulah juga mengapa Gaara memanggilnya 'Tuan Muda'. Sifatnya yang selalu seenaknya itu seperti anak seorang kaya yang dimanja dan akan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika sudah memutuskan sesuatu dia tidak pernah mau mendengar kata tidak dari orang lain.

Mata merah Kyuubi menatap mobil Gaara yang perlahan berjalan menjauh. Seseorang menepuk pundaknya dan muncul Itachi yang berdiri di sampingnya. "Biar saja. Dengan begini akan membuat rencana kita menjadi lebih mudah, bukan?"

"Tapi aku tidak pernah jauh dari anakku."

Wajah sedih Kyuubi membuat Itachi gemas. Dia meraih rambut merah itu dan mengacak-acaknya seperti kepada anak kecil. "Hanya beberapa hari saja, kan? Lagipula bukan berarti kau tidak bisa melihatnya lagi. Mereka masih tinggal di kota yang sama dan kau pun tahu dimana mereka tinggal."

Kyuubi merapikan rambutnya yang diacak-acak oleh Itachi dan menatap onyx sang Uchiha. "Hm, kau benar. Terkadang aku merasa seperti anak kecil dibandingkan dengan anakku sendiri." Mereka berdua menoleh ke kursi belakang mobil. Kurama sedang asik dengan dirinya sendiri sambil bersenandung dan tersenyum-senyum. Dalam pikirannya, anak itu sedang membayangkan keluarga besarnya pergi pikinik bersama dan mereka semua terlihat bahagia.

Mengerti arti senyuman sang anak, Itachi menepuk pundak Kyuubi sekali lagi dan berkata dengan penuh keyakinan. "Tenang saja, sebentar lagi impian anak kita akan segera terwujud. Keluarga kita akan segera berkumpul lagi dan menjadi utuh. Kurama pasti akan bahagia." Kyuubi mengangguk.


Hm, sepertinya udah mendekati akhir. Tapi aku ga janji bisa update secepat dulu. Lagi sibuk-sibuknya di duta. Ditambah lagi anakku lagi sakit. Mohon maaf sekali lagi ya.