Title : It's Not All About Money Chapter 10
Pairing : KaiHun, HanHun, etc
Cast : EXO and others
Genre : OOC, Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort
Rate : T
.
.
.
Annyeong! Long time no see! Sorry for super late update and it would always be late till I end up this semester ㅋㅋㅋㅋ.. Yeheeet I'll graduate this year! Miaaan klo misalnya ini ff udah gak ngefeel lagi. Mian udah bikin kalian nunggu. Hiatus lumayan panjang bikin saya lupa jalan cerita ff ini kaya gimana OTL.. Dan tenang aja untuk para KaiHun shipper, saya gak akan ngecewain kalian di ff ini heheheh.. Happy reading deh! Dan jangan lupa tinggalin jejak yaa hehe~
.
.
.
Sehun menyeret langkahnya pelan. Sesekali kakinya menendang lapisan salju yang menutupi jalanan lalu menghela nafasnya lelah, sementara ia larut dalam pikirannya. Tatapan Jongin padanya benar-benar berbeda. Ia tak mengerti apa maksudnya. Namun ia bisa merasakan ada sesuatu yang janggal disana. Jongin tak pernah menatapnya lembut seperti itu. Biasanya ia hanya akan menatap Sehun meremehkan. Bahkan tersirat jelas sebuah kebencian di dalam onyx hitamnya. Sehun menggeleng pelan. Mungkin itu hanya perasaannya. Karena nyatanya setelah tatapan beberapa detik itu, Jongin kembali menghempas tangannya lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Sehun kembali teringat Luhan. Sekeras apapun ia berusaha untuk melupakannya, namun nama itu masih saja melekat kuat di benaknya. Perasaan memang tak bisa dibohongi.
'Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji—'
Sehun perlahan menghentikan langkahnya. Ucapan Luhan yang terdengar memelas kembali terdengar jelas. Ia tak mengerti. Apa yang Luhan harapkan darinya? Yixing jauh lebih baik segalanya. Bahkan memiliki derajat yang sama dengannya karena sama-sama berasal dari keluarga kaya. Ia tak sepadan, bahkan tak pantas untuk dibandingkan. Bibirnya menyunggingkan senyuman miris. Kemudian kepalanya mendongak, menatap butiran salju yang semakin lama turun semakin deras. Terlihat kepulan uap dari hidungnya. Udara dingin yang begitu menusuk seolah ingin membekukan paru-parunya. Tangannya bergerak untuk menaikkan syal, namun benda itu tak lagi melingkar di lehernya. Sehun lupa jika benda itu sudah ia berikan kepada Jongin. Kembali ia memutar otaknya. Kenapa ia harus dilibatkan dengan 2 orang yang benar-benar tak sepadan dengannya? Dengan orang-orang yang memiliki dunia yang benar-benar berbeda dengannya. Permainan takdir Tuhan memang terlalu rumit. Bahkan ia tak memahami jalan hidupnya. Harus terjebak di dalam kondisi seperti ini bukanlah keinginannya. Jika ia boleh memilih, ia hanya ingin kembali ke kehidupan sebelumnya, jauh sebelum ia mengenal Luhan. Jika ia boleh egois, dulu ia tak akan pernah mengambil beasiswa di Seoul dan hanya akan hidup bersama orang tuanya di pedesaan yang jauh dari kesan glamor dan juga elite. Namun semuanya hanya berakhir sebagai penyesalan.
Sehun kembali berjalan gontai. Lalu getaran ponsel pada saku mantelnya membuatnya kembali terhenti. Ia mengeluarkan benda tipis itu dan menatap nomor yang tak ia kenal. Dahinya sedikit berkerut namun tak perlu waktu lama untuk berpikir, ia mengangkatnya.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Mwo?!"
oOo
Mata dibalik shade hitam itu terus mencari-cari sosok yang belum muncul. Telunjuknya ia ketuk-ketukkan di atas kemudi—bosan. Namun tanpa ia sadari, seseorang mengetuk kaca mobilnya dan matanya kini berbinar.
"Menunggu lama?" ujar suara datar pria bermata panda seraya duduk di sampingnya.
"Lumayan. Cukup untuk satu mata pelajaran." Ucapnya setengah bercanda. Tao tersenyum simpul namun kembali memasang wajah tak bersahabat.
"Tak perlu cemberut seperti itu. Kau semakin jelek." Komentar Kris seraya menyalakan mesin mobil lalu menjalankannya. Tao tak menanggapi. Ia sibuk memasang seatbelt lalu kembali memfokuskan matanya ke arah depan.
"Mau kemana?"
"Kau akan tahu nanti." Kris tersenyum tipis kemudian ia menyanyi kecil untuk mengurangi keheningan. Tao memutar bola matanya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mendapati sebuah pesan dari sahabat tercintanya.
"Eoh? Dia sudah pergi?" ia menggumam pelan. Kris yang mendengarnya kemudian melirik Tao.
"Siapa?" ia menanggapi. Tao balas meliriknya—sekilas.
"Sehun. Dia pulang ke desanya. Ibunya sakit." Jawabnya singkat. Kris mengerutkan dahinya.
"Bukankah dia berasal dari Seoul?"
"Bukan."
"Lalu bagaimana bisa kau mengenalnya?"
"Kau tak perlu tahu." Jawabnya datar. Kris terkekeh pelan. Tao memalingkan wajahnya keluar kaca.
"Kenapa kau ketus sekali? Sudah kubilang 'kan jika aku tak akan mengharapkan Lay lagi?" ia menunggu Tao meresponnya. Dan setelah diam beberapa detik, Tao baru menjawabnya.
"Tak perlu mengungkitnya lagi, Kris. Aku sudah tahu!" kali ini ia benar-benar sepenuhnya menatap Kris.
"Kalau begitu kembalilah. Kita mulai dari awal." Ucapannya membuat Tao kembali terdiam. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ia masih harus mempertimbangkan konsekuensi apa yang harus ia dapat jika menerima Kris kembali atau tetap seperti ini.
oOo
Sehun terlihat cemas. Ia duduk dengan gelisah di dalam kereta—takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya. Walaupun sudah beberapa kali ia menghubungi nomor yang kemarin malam memberitahunya jika ibunya sakit, tetap saja ia mendapat jawaban jika ibunya ingin bertemu dengannya. Dan masih ada 8 jam lagi untuk sampai di kampung halamannya. Matanya menatap sekeliling. Tak terlalu banyak penumpang siang itu. Dan—tiba-tiba ia teringat Luhan.
"Aigoo Oh Sehun~" ia memijat pelipisnya. Tiba-tiba rasa pening menyerangnya. Sudah beberapa hari ini ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia memerosotkan tubuhnya, mencoba memejamkan mata. Namun suara gaduh di belakangnya membuatnya mengurungkan niat tersebut.
"Junsu-ah, berhenti mengganggu adikmu! Isshh kau itu nakal sekali!" rupanya keributan itu berasal dari sebuah keluarga yang duduk di belakangnya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun muncul dari balik jok lalu duduk di depan Sehun. Kulitnya berwarna putih pucat dengan sepasang onyx coklat yang kini tengah menatapnya polos.
"Annyeong!" Sehun melambaikan tangannya seraya memamerkan deretan gigi yang berjajar rapi. Namun sapaannya tak digubris sama sekali oleh anak kecil tersebut yang kini hanya memasang wajah datarnya kemudian duduk bergeser ke dekat jendela. Ia tampak senang dengan kereta yang melaju cepat.
"Junsu-ah, eh—mianhae.." seorang wanita muda kini muncul di samping Sehun. Ia membungkuk kemudian tersenyum canggung.
"Junsu-ah, ayo kembali ke tempat dudukmu!" ia mendesis sambil melotot ke arah bocah bernama Junsu.
"Gwaenchana. Dia bisa duduk bersamaku."
"Tapi dia sedikit nakal. Dia pasti akan mengganggumu dan membuatmu tidak bisa beristirahat." Ia menatap Sehun khawatir. Namun pemuda itu hanya menggeleng pelan.
"Gwaenchana. Aku suka anak kecil." Sehun terkekeh pelan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
"Baiklah. Gomawo dan maaf sudah merepotkanmu. Junsu-ah, kau tidak boleh nakal arachi? Jangan mengganggu Hyung!" ucapan ibunya hanya dilirik sekilas oleh anak bernama Junsu itu. Sehun tersenyum kecil.
"Namamu Junsu? Junsu-ah, kau harus mendengar ucapannya."
"Shireo. Dia terlalu cerewet." Ucapnya datar.
"Yaa kau tidak boleh berbicara seperti itu." Sehun meletakkan telunjuknya di depan bibirnya khawatir jika ibu Junsu mendengar ucapan anaknya.
"Eommaku memang cerewet." Ulangnya lagi masih dengan nada datarnya. Sehun menatapnya sejenak kemudian ia melambaukan tangannya.
"Kemarilah. Duduklah disini." Ia menurunkan ransel yang sejak tadi disimpan di sampingnya di jok dekat jendela. Anak itu menurut. Ia turun dari kursinya lalu duduk di dekat Sehun.
"Kau ingin aku menceritakan sesuatu?" ia merangkul pundak mungil itu. Bocah berwajah datar itu menatap Sehun lurus.
"Mwo?" ia memperhatikan Sehun. Pemuda itu menerawang.
"Temanku tak bisa melihat ibunya." Ia teringat Jongin. Bocah disampingnya mengerutkan dahinya.
"Wae?"
"Ibunya sudah berubah menjadi bintang di langit sana."
"Bagaimana bisa?"
"Karena dia sudah meninggalkannya. Meninggalkan dunia ini." Sehun menatap sedih ke dalam onyx coklat itu.
"Lalu kenapa ia bisa berubah menjadi bintang?" pertanyaan polos itu membuat Sehun tersenyum tipis seraya mengacak surai hitam bocah tersebut.
"Karena temanku selalu berdoa agar ia bisa bertemu ibunya. Lalu ia meminta pada Tuhan agar bisa melihatnya. Hingga suatu hari sebuah bintang yang paling terang muncul di langit sana dan itu adalah ibunya—" Sehun sedikit mengarang cerita. Pada kenyataannya ia sama sekali tak tahu jika Jongin memang memiliki sebuah bintang yang paling terang yang selalu ia anggap sebagai jelmaan Eommanya.
"—kau beruntung masih memiliki Eommamu. Meskipun dia cerewet, kau harus tetap mendengarkan ucapannya. Itu tandanya dia menyayangimu. Kau tahu? Bahkan temanku selalu menangis karena ia ingin diomeli oleh Eommanya." Lagi-lagi ia harus mengarang cerita pada bagian Jongin yang selalu menangis. Mustahil sekali melihat bocah itu menangis mengingat hatinya keras seperti batu.
"Benarkah?"
"Eoh. Kau harus berjanji untuk selalu mendengarkan apa yang Eommamu katakan."
"Baiklah. Dan Hyung—"
"Hm?"
"Apa Eommamu cerewet?" pertanyaan bocah itu membuatnya kembali merasa cemas mengenai keadaan ibunya.
"Dia sangat cerewet. Tapi hari ini ia sedang sakit makannya aku harus pulang untuk menemuinya. Ngomong-ngomong kau mau ini?" Sehun mengeluarkan sebungkus besar snack dari ranselnya. Mata anak kecil itu tampak berbinar.
"Kamsahamnida, Hyung! Aku akan memakannya bersama Jungshin. Hehe. Aku akan kembali ke kursiku. Annyeong!" ia turun dari jok lalu melambaikan tangannya ke arah Sehun dan berlari ke tempat ibunya. Tak berapa lama sosok wanita yang tak lain adalah ibunya muncul dan mengucapkan terimakasih padanya. Ia hanya tersenyum tipis. Akhirnya keadaan kembali tenang dan ia pun berusaha untuk memejamkan matanya lagi.
oOo
Suasana meja makan begitu hening. Hanya suara sumpit dan mangkuk yang saling berbenturan seperti biasanya. Jongin tampak malas untuk duduk bersama Junmyeon sementara pria paruh baya itu terus menatap anaknya intens.
"Kali ini kau tak bisa menolak." Ia memecah keheningan. Jongin masih diam, asik dengan dunianya.
"Sehun akan kembali menjadi tutormu. Jongdae bilang kalian terlihat akrab." Ia menyuapkan sisa nasi di mangkuknya. Jongin meliriknya ketika nama Sehun disebut oleh ayahnya.
"Kau menguntitku?" ia memasang raut tak suka.
"Kau tak perlu mempermasalahkan hal itu. Aku akan menghubungi Sehun dan ia bisa mulai kembali mengajarimu besok." Ucapan Junmyeon membuat Jongin merasa senang dan sedikit lega. Entah kenapa ia senang jika harus bertemu Sehun setiap hari. Namun tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya. Menepis pikiran aneh yang tiba-tiba muncul di benaknya. Junmyeon yang melihat anaknya menggeleng tak jelas, menatapnya heran.
"Wae?"
"A—aniyo. Terserah kau saja. Aku pergi." Ia meneguk minumnya kemudian menyampirkan tas di bahunya lalu pergi setelah membungkuk sekilas ke arah Junmyeon. Pria berkacamata itu menatap punggung tegap Jongin yang berjalan semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu. Ia lalu meraih ponselnya, menghubungi seseorang.
"Terus ikuti mereka dan cari tahu apa hubungan Sehun dan juga Luhan."
oOo
Luhan menggeliat pelan di atas ranjangnya. Ia merasa tubuhnya terasa sakit dan kepalanya pening luar biasa. Perlahan ia turun dari ranjangnya lalu melangkah dengan gontai ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin besar lalu menatap wajahnya yang terlihat pucat.
"Waegeuraeyo?" ia memijat pelan kepalanya yang berdenyut. Kemudian diam sejenak untuk mengurangi rasa pusingnya. Pekerjaan menumpuk membuatnya terlalu lelah. Ditambah pikiran mengenai Oh Sehun yang selalu membuatnya gelisah. Matanya mengerjap beberapa kali lalu berjalan dengan perlahan untuk membersihkan tubuhnya.
oOo
"Selamat pagi Manajer Lu." Sapa Sekretaris Jung saat Luhan baru memasuki gedung mewah tempat ia bekerja. Ia membungkuk namun mendapat kerutan heran di wajah Sekretaris Jung.
"Anda baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat." Ia menyentuh pundak pemuda itu. namun Luhan hanya menggeleng.
"Gwaenchana. Hanya sedikit tak enak badan. Tapi kau tenang saja." Ia tersenyum tipis begitupun Sekretaris Jung yang hanya menatapnya khawatir.
"Jangan memaksakan diri Lu. Kau tak terlihat baik-baik saja."
"Aniyo. Ah, jwesonghamnida. Aku harus ke ruanganku. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai." Ia menepuk pundak pria berkacamata itu lalu kembali membungkuk untuk berpamitan. Sekretaris Jung hanya menggeleng pelan. Ia tak habis pikir dengan semangat Luhan yang terlihat menggebu.
"Jangan terlalu lelah, Manager Lu!" ucapnya sedikit berteriak dan Luhan menanggapinya dengan sebuah acungan jempol seraya pergi meninggalkannya.
"Anak itu—"
oOo
Pelajaran sudah dimulai satu jam yang lalu. Matematika memang selalu menjadi pelajaran yang membosankan. Beberapa anak bahkan hanya berpura-pura memperhatikan sambil memainkan gadget dibawah meja. Jongin menopang dagunya dengan sebelah tangan. Ekor matanya memperhatikan sosok Kyungsoo di depannya yang tengah fokus memperhatikan pelajaran. Ia membuang nafasnya kasar kemudian menoleh keluar jendela. Pemandangan diluar sana seolah lebih menarik dibandingkan Seonsaengnim dan materi pelajaran yan diajarkannya. Wajahnya tampak kusut. Persetan dengan ujian di depan mata dan nilai pelajaran yang akan menentukan masa depannya. Toh ia tergolong murid yang cukup cerdas dan tak perlu repot-repot memperhatikan pun ia tetap akan lulus dari sekolah itu.
"Oh Sehun—" tanpa ia sadari bibirnya bergumam pelan. Ia tahu jika itu diluar keinginannya. Menggumakan nama terlarang—menurutnya—ditengah pelajaran berlangsung. Tapi ia tak ambil pusing. Masa bodoh dengan bibirnya yang menyebut nama Oh Sehun. Ia kemudian mengeluarkan ponsel di saku blazernya kemudian mengetik pesan yang menurutnya juga terlarang.
'Ya Oh Sehun, jika besok kau tak datang akan kuberitahu Abeoji jika kau memiliki hubungan terlarang dengan Luhan Hyung!'
Sebuah ancaman yang tidak dipikir ulang. Bukannya memperbaiki hubungan, ia malah memperburuk keadaan. Tapi pesannya sudah terlanjur terkirim dan tinggal menunggu bagaimana reaksi Oh Sehun. Dan kembali, ia menatap Kyungsoo. Entah kenapa ia berubah muak meskipun masih terselip perasaan aneh di dadanya. Namun ia tak peduli. Kyungsoo dan Chanyeol sudah mengkhianatinya. Tak akan ada lagi maaf untuk mereka.
oOo
Sehun menggeliat pelan. Tubuhnya terasa pegal dan ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Dilihatnya pemandangan diluar jendela. Lembayung jingga tampak menyilaukan mata. Bercak-bercak air hujan yang menempel di kaca kereta membuatnya sedikit berkerut.
"Hujan?" ia bertanya pada dirinya sendiri kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengetahui jam berapa saat itu. Dan ia cukup terkejut ketika jam digital menunjukkan pukul 5 lewat.
"Aigoo.. Aku tidur selama itu?" matanya membulat sempurna. Kemudian ia segera membenahi dirinya karena sebentar lagi kereta akan sampai di stasiun tujuan. Sehun kembali mengecek ponselnya dan mendapati beberapa pesan masuk dan juga misscalled disana. Dahinya mengernyit saat nama Jongin tercantum di inboxnya. Dan semakin berkerut saat ia membaca isi pesannya.
"Neo—jinjja!" geramnya pelan. Ia hendak membalas pesan singkat itu namun segera saja mengurut dadanya. Jongin hanya menggertaknya saja. Dan hei—Sehun akan kembali menjadi tutornya? Besok?
"Mwo?" ia mengecek pesan lainnya dan beberapa panggilan tidak terjawab. Dan benar saja. Nama Kim Jongdae-ssi benar-benar tertera disana. Ia memijit pelipisnya pelan.
"Eotokhae?"
oOo
Suara deburan ombak memenuhi indera pendengarannya. Sejauh mata memandang, hanya terlihat pantai yang sudah menggelap. Ia berjalan dengan cepat. Perjalanan jauh membuat perutnya agak mual. Terlebih ingin segera melihat keadaan ibunya.
"Sehunnie?" suara seseorang membuatnya menghentikan langkah. Ia menoleh kemudian matanya membulat.
"Jung Daeun?"
"Sehunnie! Nawasseo?" tiba-tiba saja Daeun menubruk Sehun lalu memeluknya dengan erat. Sehun sedikit terjengkang. Ia cukup terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu. Namun sebuah senyum terkembang di bibirnya dan tangannya balas memeluk Daeun.
"Eoh. Aku pulang untuk melihat Eomma." Dan ia hampir saja melupakannya.
"Eomma! Aku harus melihat Eomma! Dia sedang sakit, Daeun-ah!" ia segera menjauhkan tubuhnya dari Daeun hingga membuat dahi gadis itu berkerut.
"Oh Ahjumma? Dia baru saja pulang dari rumahku. Wajahnya terlihat ceria seperti biasa." Penuturan Daeun membuat Sehun menautkan alisnya bingung.
"Jinjja?" ia sedikit menaikkan suaranya. Daeun mengangguk.
"Tapi kemarin yang menghubungiku bilang—"
"Kajja! Kita melihat Eommamu!" Daeun menggenggam tangan Sehun kemudian mereka berdua setengah berlari menuju kediaman Oh.
oOo
Luhan merasa tubuhnya sudah membaik. Ia membereskan meja kerjanya lalu berjala keluar ruangan. Beberapa karyawan wanita membungkuk ke arahnya dengan senyum yang dibuat secantik mungkin bermaksud untuk menggoda pria berambut coklat itu. ia hanya tersenyum lembut ke arah mereka. Dan setelah kepergiannya selalu terdengar kasak-kusuk dari karyawan wanita, entah itu pujian atau pun keinginan mereka untuk menjadi kekasih Manager tampan itu.
"Sudah selesai?" sosok Sekretaris Jung memang selalu perhatian padanya. Ia mengangguk pelan.
"Aku akan pulang duluan."
"Istirahatlah. Lupakan sejenak pekerjaanmu dan perhatikan kesehatanmu. Perlu kuantar ke dokter?" ia menawarkan namun Luhan hanya menggeleng.
"Aniyo. Aku sudah baikan." Seolah senyum tak pernah terlepas dari bibirnya meskipun hatinya benar-benar bertolak belakang dengan raut wajah itu. Ia pun membungkuk kemudian segera pergi dari sana.
oOo
Luhan sudah berdiri di depan sebuah rumah. Tangannya sudah meraih pagar besi di depannya ketika suara yang memanggilnya harus membuatnya menoleh.
"Luhan Gege?" Tao yang baru saja datang membuatnya terkejut.
"Tao? Kau?" ia terpaku. Jadi selama ini Sehun tinggal bersama Tao?
"Bagaimana bisa kau dan Sehun—"
"Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu." Tao tersenyum ke arahnya sementara Luhan perlahan mulai tertunduk.
"Apa Sehun menceritakan semuanya padamu?" ia tersenyumm masam. Melihat raut wajah Luhan yang seperti itu rasanya ia tak tega jika memberitahu Luhan semuanya. Ia menghela nafasnya.
"Bercerita apa? Dia hanya bilang tak ingin merepotkanmu lagi." ia sedikit menutupinya. Ia tahu Luhan orang seperti apa dan tak ingin membuatnya kecewa.
"Benar begitu?"
"Ya, dia hanya berkata seperti itu." ujarnya meyakinkan. Dilihatnya Luhan yang sedikit berantakan dan pucat. Namun ia pikir mungkin karena Luhan terlalu banyak pikiran makannya ia terlihat seperti orang yang tidak sehat.
"Ngomong-ngomong kau kesini ingin menemui Sehunnie kan? Tapi sayangnya ia sedang tak ada di rumah. Ah, masuk dulu Ge. Disini dingin." Tao sudah berjalan mendahului Luhan membuka pagar.
"Dia tak ada di rumah? Kemana?" Luhan berubah penasaran. Tao tak bisa membohongi pria di depannya. Ia tak tega membohongi pria sebaik Luhan terlebih jika itu menyangkut Sehun.
"Dia pulang ke rumahnya. Kemarin malam seseorang meneleponnya dan mengatakan jika ibunya sakit. Dan tadi pagi ia langsung berangkat." Tuturnya menjelaskan.
"Berapa lama ia akan tinggal disana?"
"Entahlah. Lebih baik kau hubungi saja Sehunnie." Tao merasa tak enak mengingat ia tahu kondisi hubungan Luhan dan juga Sehun saat ini. Namun tak ada salahnya membantu mereka untuk memperbaiki hubungan yang semakin memburuk.
"Xiexie. Aku akan mencoba menghubunginya nanti." Ia tersenyum samar. Kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Kau tak ingin mampir dulu Ge?" jar Tao ketika Luhan sudah membuka pintu mobilnya.
"Aku akan mengunjungimu lain kali." Senyumannya kembali terlihat sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Tao yang masih berdiri disana.
"Sehunnie, maafkan aku. Tapi ini demi kebaikan kalian."
oOo
Suara bel mengakhiri pelajaran tambahan untuk siswa tingkat akhir malam itu. wajah-wajah lelah terlihat begitu jelas dan sorakan lega terdengar memenuhi beberapa ruangan kelas. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kurikulum sekolah memang sedikit kejam. Namun itu semua untuk kebaikan mereka nanti.
Jongin memasukkan bukunya dengan malas. Kini hanya tinggal beberapa murid saja yang tersisa di dalam kelas. Termasuk Chanyeol dan juga Kyungsoo. Ia bersikap tak peduli kemudian berjalan melewati bangku keduanya dengan wajah yang datar dan tidak tertarik.
"Jangan lupakan hukumanmu besok, Tuan Muda Kim." Tiba-tiba suara rendah itu menyelanya. Ia meliriknya melalui ekor mata. Namun ia tak menggubrisnya lalu segera meninggalkan kelas dengan terburu.
"Chanyeol-ah~" suara Kyungsoo membuat pria tinggi itu menhampirinya.
"Mwo~" Chanyeol berjongkok di samping bangku Kyungsoo. Ia memperhatikan wajah lesu Kyungsoo dengan tatapan mata yang tampak memikirkan sesuatu.
"Jangan membuat keributan lagi dengannya." Pintanya dengan suara yang penuh penekanan. Chanyeol menghela nafasnya pelan kemudian tangannya terangkat untuk mengelus kepala pria mungil itu.
"Jika itu permintaanmu, aku akan melakukannya." Senyuman manis tercetak di wajahnya. Ia kemudian berdiri lalu menyambar tasnya.
"Kajja! Kita pulang!" tangan besarnya menarik tangan kecil Kyungsoo dan membuat pria itu mau tak mau harus mengikutinya
oOo
Jongin menatap bosan keluar kaca mobil. Padahal ia berharap sopir pribadinya tak akan menjemputnya lagi lalu ia bisa pergi kemanapun ia mau. Namun sayangnya itu hanya keinginannya belaka yang tak akan pernah bisa terkabul sampai kapanpun. Junmyeon tak akan membiarkannya keluyuran seorang diri terkecuali jika ia berhasil membungkam mulut pegawai ayahnya tanpa sepengatahuan Junmyeon sendiri.
"Tuan Muda, Tuan Besar bilang malam ini Anda harus datang untuk makan malam bersama klien beliau. Saya sudah mempersiapkan pakaian untuk Anda sehingga kita bisa langsung pergi ke acara tersebut." Ujar sopir pribadinya yang berhasil membuat mood Jongin semakin buruk.
"Shireo. Kita pulang saja. Aku benar-benar lelah." Pintanya dengan nada yang terdengar malas.
"Tapi Tuan—"
"Kubilang aku tidak mau! Jika kau tetap memaksa, maka aku akan turun disini juga!" ancamnya yang sudah bersiap memegangi handle pintu. Sopirnya hanya mengangguk. Walau bagaimanapun, keduanya adalah majikannya. Dan selama ini ia selalu mengikuti apa yang Jongin mau. Kali ini pun ia tak mungkin menolaknya.
"Baiklah Tuan Muda. Saya akan mengantar Anda pulang." Ia mulai menjalankan mobilnya.
"Katakan saja jika aku sedang tak enak badan."
"Algesseumnida."
Jongin kembali terdiam. Ia mengeluarkan ponselnya dan terus mengecek pesannya yang tidak dibalas Sehun. Ia cukup tahu Oh Sehun orang seperti apa. Sedikit galak dan tak mau kalah.
Jongin: Oh Sehun Oh Sehun Oh Sehun
Sehun: ?
Ia cukup terkejut dengan balasan cepat yang Sehun kirimkan meskipun hanya tanda tanya saja.
"Apa ia tak membaca pesanku sebelumnya?" gumamnya pelan kemudian membalas kembali pesan Sehun.
Jongin: Kau sudah membaca pesanku kan?
Sehun: Aku tak peduli.
Jongin: Hidupmu ada di tanganku!
Sehun: Hidupku ada di tangan Tuhan!
"Aisshhh Oh Sehun kau benar-benar menyebalkan!"
Jongin: Jika besok kau tak datang aku benar-benar akan membuat semuanya lebih berantakan!
Sehun: Aku tak takut dengan gertakanmu, bocah tengil!
"Mwo? Dia menyebutku bocah tengil? Sialan!"
Jongin: Dasar tak tahu diri! Seharusnya kau berterimakasih karena aku sudah memberimu pekerjaan yang layak!
Sehun: Maaf, aku tak ingin memiliki murid yang tak sopan sepertimu!
Jongin: Kau sedang membicarakan ciuman kita? Yang benar saja! Itu sama sekali tak ada hubungannya!
"Apa-apaan dia?" Jongin merasa wajahnya memerah sempurna. Sebenarnya ia sama sekali tak bermaksud untuk mengungkitnya lagi. Namun mengingat Sehun mengatakan jika ia tak sopan, mungkin saja arah pembicaraannya menuju ke topik tak penting itu.
"Aisshh kenapa aku bisa mengatakannya? Aishhh memalukan!" ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Kemudian diliriknya kembali ponsel di genggamannya. Sehun tak kunjung membalas pesannya juga.
"Apa memang benar?" gumamnya lagi kemudian kembali mengetik pesan disana.
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
Jongin: Oh Sehun
oOo
"Aisshhh apa-apaan dia?!" Sehun melempar ponselnya ke atas kasur. Ia memeluk sisi tubuhnya dan merasa buku kuduknya merinding saat membaca pesan dari bocah tengil itu.
"Sebenarnya siapa yang tak tahu diri?" ia merutuk pelan seraya menatap ponselnya yang terus bergetar. Diraihnya kembali ponsel tersebut kemudian mendapati beberapa pesan dari Jongin dengan isi yang sama, 'Oh Sehun'.
"Micheosseo—"
Tok Tok Tok
"Sehunnie, makan malam sudah siap! Kau masih marah padaku?" suara ibunya terdengar dari luar kamarnya. Sehun mendelik sekilas. ia masih merasa dibohongi oleh ibu kandungnya sendiri. Bagaimana tidak? Ternyata ibunya hanya beralibi sakit agar Sehun mau pulang karena ia ingin bertemu dengannya. Sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Sehun kini mengurung diri di kamarnya karena kesal terhadap ibunya.
"Sehunnie, kau mendengarku kan? Atau kau tuli?" ucapan ibunya membuat Sehun memutar bola matanya dan mau tak mau ia segera beranjak dari ranjangnya lalu membuka pintu untuk ibunya.
"Aigoo... Wajahmu saat marah terlihat menyeramkan!" Ibunya bersikap seolah ia takut dengan raut wajah Sehun. Anak laki-lakinya itu terlihat semakin kesal.
"Oh-nim, kau masih bisa bersikap seperti itu setelah membohongiku lalu ketahuan? Neo jinjja—" ia melipat tangannya di depan dada. Ibunya terkekh kecil kemudian menepuk pundak Sehun cukup keras.
"Aigoo kau itu perhitungan sekali! Apa salahnya meluangkan waktu untuk mengunjungi ibumu eoh?"
"Tapi kau tak perlu membohongiku seperti itu. Kau kan bisa berkata langsung jika merindukanku. Dan aku akan pulang jika memang memiliki waktu luang." Ia berjalan ke ruang tengah meninggalkan ibunya di belakang.
"Kau selalu mengatakan akan pulang jika waktumu luang. Tapi kau ta pernah pulang semenjak masuk kuliah. Aku benar-benar merindukan bayi besarku ini." tiba-tiba ibunya bersikap manja lalu memeluk Sehun dari belakang.
"Eomma, aku bukan bayi besar. Jangan memanggilku seperti itu. Kau bisa menurunkan harga diriku." Ia melepaskan pelukan ibunya lalu duduk bersila di depan sebuah meja persegi di ruang tengah.
"Kau masih marah padaku?"
"Tidak, aku tidak marah. Hanya sedikit kesal." Ia mulai mengambil mangkuk dan sumpit lalu menuangkan berbagai macam makanan disana.
"Dan masakanku adalah penawarnya."
"Kita lihat saja." Ia mulai memakannya. Dan berhenti sejenak lalu menatap ibunya intens.
"Masissoyooooo~!" ia berteriak histeris kemudian kembali melahap makanannya. Ibunya hanya tersenyum—cantik.
"Aku pulang!" suara berat pria berusia 50an terdengar dari pintu depan. Sehun menoleh kemudian pria yang mirip dengannya muncul dengan raut wajah terkejut.
"Sehunnie?"
"Abeoji!"
oOo
Luhan membawa mobilnya membelah jalanan bebas hambatan. Entah apa yang ia pikirkan. Ini adalah satu-satunya jalan dan ia tak akan menolak untuk menemuinya.
oOo
Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit seluruh anggota keluarga Oh sudah bangun dari tidurnya. Aktivitas di desa Sehun tinggal memang dimulai semenjak pagi-pagi buta. Apalagi para nelayan dan juga para penjual ikan sudah mulai bekerja sejak malam berganti dini hari. Sehun tengah membersihkan kamarnya yang sudah lama tidak terurus. Debu tebal di setiap sudut membuatnya harus terbatuk dan bersin beberapa kali.
"Kenapa sampai seperti ini? Apa Eomma tak pernah membersihkannya?" ia menurunkan benda-benda yang memenuhi meja belajarnya saat SMA.
"Sehunnie, Daeun datang mencarimu. Dia bilang ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Ibunya muncul dari balik pintu.
"Mwo? Nugu?" ia menautkan alisnya bingung. Pagi-pagi seperti ini ada yang datang mencarinya? Ini benar-benar aneh. Sehun rasa dulu tak pernah ada yang mencarinya dengan sengaja. Apa ada hal penting?
"Entahlah. kau temui saja Daeun di bawah." Ujar ibunya yang langsung ditanggapi dengan sebuah anggukan. Sehun pun meninggalkan pekerjaannya sejenak lalu setengah berlari untuk menemui Daeun.
"Sehunnie!"
"Ya, siapa yang ingin bertemu denganku?" ia mencari-cari sosok orang yang mencarinya di belakang Daeun. Namun tak ada siapa-siapa lagi selain teman masa kecilnya itu.
"Dia menunggumu di pantai. Aku sudah menyuruhnya untuk mengikutiku tapi ia tak mau dan ingin menunggumu disana." ucapnya panjang lebar.
"Nuguya?" gumamnya pelan.
"Yang pasti dia itu namja. Rambutnya berwarna coklat tua dengan mata yang benar-benar indah dan—tampan! Ani ani, dia cantik! Sama sepertimu." Daeun mendeskripsikannya cukup mendetail. Sehun tampak berpikir.
"Cantik? Ishh aku ini tampan! Dan tak ada yang mirip denganku selain Hyung dan juga Abeoji—"
"Ya Oh Sehun ppali! Dia menunggumu! Kajja!" Daeun menarik tangannya untuk menunjukkan arah. Kaki panjang itu pun harus berjalan tergopoh-gopoh karena langkah Daeun yang tak beraturan.
"Aisshh berjalanlah dengan benar!" omel Sehun padanya. Namun gadis itu tetap melangkah semaunya hingga mereka kini dihadapkan dengan hamparan laut yang begitu luas dan juga sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di pesisir pantai serta seorang pria yang tengah menghadap ke laut—membelakangi mereka. Rambut yang tersisir angin laut itu membuatnya tertegun. Sehun menghentikan langkahnya meskipun Daeun menariknya dengan paksa. Ia tahu siapa orang itu.
"Sehunnie ppali—"
"Daeun-ah, bisakah kau meninggalkan kita berdua? Jebal.." pintanya dengan suara rendah. Daeun yang tak mengerti hanya mengangguk pelan.
"Kau mengenalnya? Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian." Ia pun tanpa suara protes segera pergi darisana. Sehun perlahan berjalan mendekat. Menginjak pasir pantai yang menenggelamkan telapak kakinya.
"Luhan Hyung?" suaranya pelannya cukup mampu didengar oleh telinga itu. Pria bersweater abu-abu itu berbalik. Lalu menatap Sehun dengan mata indahnya.
"Sehun-ah—" ia berjalan mendekat lalu berhenti tepat di depan Sehun. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman lalu tiba-tiba saja ia mengangkat tangannya, membawa Sehun ke dalam pelukannya. Pria berkulit pucat itu membulatkan matanya. Bukan terkejut karena sebuah pelukan secara tiba-tiba, melainkan suhu tubuh pria di depannya yang tidak bisa dibilang normal.
"Astaga Luhan Hyung kau demam?! Hyung? Hyung!" tak ada lagi gerakan yang ditimbulkan Luhan. Tubuh itu terkulai lemas di dalam pelukan Sehun yang kini hanya bisa menyebut namanya dengan panik.
oOo
Jongin menuruni anak tangga dengan terburu. Junmyeon yang tengah menyantap sarapannya mengernyit heran ketika anak itu berjalan melewatinya lalu pergi begitu saja tanpa memakan sarapannya.
"Kim Jongin kau mau kemana?" suaranya naik satu oktaf hingga membuat langkah Jongin terhenti.
"Bukankah ini hari Sabtu? Kau mau kemana eoh?"
"Abeoji tak perlu tahu. Yang pasti aku tak akan keluyuran sendirian dan pergi bersama sopirku. Kau puas? Aku pergi!" ia pun hanya menjawab seadanya. Junmyeon meneguk kopinya lalu meraih ponsel dan tampak menghubungi seseorang.
"Jangan biarkan Jongin hilang dari perhatianmu." Setelah selesai berbicara pada line pertama, ia pun menghubungkan panggilannya pada line ke 2.
"Bagaimana? Kau mengikutinya? Pergi kemana dia?"
"..."
"Mwo? Terus ikuti mereka!" Junmyeon memutus panggilannya. Ia melepas kacamatanya lalu tampak berpikir keras.
"Luhan, kau ingin mempermalukan keluarga kita? Tak akan kubiarkan!"
oOo
"Tuan Muda, hari ini kita akan pergi kemana?" suara pria yang sudah terlihat tua itu membuyarkan lamunannya. Ia meliriknya sekilas lalu menyodorkan sebuah kertas kepadanya. Ia membaca dengan seksama tulisan disana.
"Untuk apa Tuan Muda datang kesini?" wajar saja ia heran dengan Tuan Muda-nya yang tak pernah berkunjung ke tempat seperti itu sekalipun. Kecuali dulu ketika ia merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Dan itu pun ia sudah lupa.
"Aku menjadi relawan disana." jawabnya santai. Ia tak mungkin memberitahukan alasan sebenarnya ia mengunjungi panti asuhan karena dihukum oleh kepala sekolah. Junmyeon akan semakin mempersulit hidupnya.
"Tak biasanya. Ada angin apa Tuan Muda pergi kesana—"
"Isshh sepertinya di matamu aku ini anak yang benar-benar tak punya hati ya? Antar saja aku kesana dan tak perlu banyak bertanya!" bentaknya yang hanya ditanggapi oleh kekehan sang sopir. Ia memalingkan wajahnya keluar kaca lalu mendengus pelan.
"Algesseumnida, Tuan."
oOo
Sehun sibuk memasukkan es batu ke dalam wadah. Ia begitu gugup dan juga cemas.
"Bagaimana keadaan Manager Lu, Sehunnie?" ujar ibunya yang kini tengah menyiapkan sarapan untuk mereka dan memasak bubur untuk dimakan Luhan.
"Eomma, bisakah kau memanggil dokter? Panasnya masih belum turun dan aku takut terjadi sesuatu padanya." Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ibunya yang melihat anaknya begitu khawatir akan keadaan Luhan hanya bisa menenangkannya.
"Baiklah. Aku akan memanggil Lee Uisanim dan kau terus kompres dia dengan air dingin." Ujar ibunya yang segera dijawab dengan anggukan. Sehun pun kembali berjalan menuju kamarnya lalu meletakkan wadah di atas nakas. Dengan telaten dan sabar ia mengganti air kompresannya. Luhan terus meracau pelan. Dan hanya nama Sehun yang bisa ia dengar.
Mata hazel itu memperhatikan sosok lemah yang terbaring di ranjangnya.
"Dasar bodoh!" kemudian tangannya bergerak untuk menggenggam tangan yang terasa panas itu. Suhu tubuhnya benar-benar menakutkan. Bagaimana mungkin Luhan bisa menyetir mobilnya dari Seoul menuju desanya dalam keadaan demam seperti itu? Ia tak habis pikir.
"Sehunnie, Lee Uisanim sudah datang. Biarkan dia memeriksa Manager Lu dulu." Ibunya datang dengan seorang pria berpakaian rapi. Ia tersenyum ke arahnya lalu berjalan menuju ranjang dimana Luhan berada.
"Sejak kapan dia demam seperti ini?" pertanyaannya membuat Sehun menggigit bibir bawahnya.
"Nan molla. Dia baru sampai disini tadi pagi dan berangkat dari Seoul kemarin malam." Sehun memberi penjelasan seadanya. Lee Uisanim hanya mengangguk kemudian mulai memeriksa detak jantung pria itu. sehun benar-benar cemas. Ia terus menatap setiap gerakan dokter dan mendengar Luhan terus meracau pelan.
"Tuan Luhan hanya terlalu lelah. Dan sedikit gangguan pada pencernaannya. Apa dia selalu telat makan?"
"Dia bahkan selalu melupakan makan." Sehun menatapnya iba.
"Kalau begitu kau harus memantau makanannya mulai saat ini atau ingatkan dia nanti. Jika terus seperti itu sakitnya bisa semakin parah. Untung saja ia tak perlu dirawat." Lee Uisanim mengakhiri pemeriksaannya lalu menuliskan beberapa resep obat yang harus dikonsumsi Luhan.
"Kuharap ia bisa sembuh secepatnya." Ujarnya sambil membenahi peralatan dokternya.
"Kamsahamnida, Uisanim." Sehun membungkuk ke arahnya yang kini sudah kembali pergi bersama ibunya.
"Hyung, bertahanlah! Aku akan membeli obatmu dulu." Ia menarik selimut tebal miliknya hingga menutupi Luhan sebatas leher lalu berjalan keluar kamarnya.
oOo
Jongin menatap was-was sekumpulan anak kecil yang kini sudah berdiri di depannya. Begitu pun Chanyeol. Ia tampak gelisah. Sebenarnya Jongin tak terlalu suka anak kecil. Mereka berisik dan juga jorok!
"Jongin-ssi, Chanyeol-ssi, buat kalian senyaman mungkin dengan anak-anak itu." ujar kepala panti kepada mereka. Keduanya saling menatap horor dengan gerakan pelan.
"Hyuuuuung!"
"Oppaaaaa!"
"Ayo kita maiin!"
"Oppa ayo kita main rumah-rumahan!"
"Oppa main robot denganku saja!"
Jongin dan Chanyeol hanya bisa pasrah ketika tangan mereka ditarik paksa oleh bocah-bocah itu. mereka bagaikan terombang-ambing massa. Namun inilah konsekuensi yang harus mereka terima.
oOo
Sudah seharian Luhan terbaring di ranjang Sehun. Bahkan hingga Sehun menyelesaikan makan malamnya pun Luhan masih belum membuka matanya. Mungkin pengaruh obat yang tadi siang ia mimumkan padanya.
"Sehunnie, jika Manager Lu sudah bangun kau jangan lupa memberinya makan. Kasihan dia." nasihat ibunya seraya membereskan meja makan.
"Aku membawakan obat herbal untuknya. Jika dia sudah sadar, berikan padanya setelah makan. Obat herbal akan lebih mempercepat pemulihan." Ujar ayahnya yang kini tengah membaca koran.
"Ne." Sehun kembali berjalan menuju kamarnya dengan nampan berisi bubur serta obat herbal untuk Luhan. Saat pintu dibuka, ia mendapati namja itu masih tergolek tak berdaya. Wajahnya begitu pucat. Sehun menyentuh dahinya. Dan untung saja demamnya sudah mulai mereda.
Sehun meletakkan nampan diatas nakas kemudian ia menggelar kasur untuknya tidur di lantai. Setelah selesai, ia kembali duduk di ranjangnya. Mengganti kompresan Luhan yang sudah tak dingin lagi.
"Sehun~" tangannya bergerak perlahan dan matanya perlahan terbuka.
"Hyung?" Sehun menggenggam tangan Luhan yang masih terasa panas. Mata itu kini sudah terbuka sempurna. Ia menoleh ke sebelah kiri dan mendapati Sehun duduk di sampingnya.
"Sehun~"
"Ne, ini aku Hyung. Mana yang sakit?" entah kenapa Sehun tak bisa menahan air matanya lagi. Ia terlalu cemas. Ia terlalu khawatir jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada Luhan.
"Hei, kau kenapa eoh?" suaranya terdengar serak. Ia berusaha untuk duduk meskipun kepalanya masih terasa pusing. Sehun menghapus airmatanya dengan kasar.
"Diamlah! Kau jangan banyak begerak." Ia menahan tubuh Luhan agar tetap terbaring. Namun pria keras kepala itu menolak. Ia terus bersikeras untuk duduk dan Sehun akhirnya mengalah, ia membantu Luhan untuk duduk dengan menumpukkan beberapa buah bantal di belakang punggungnya.
"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Kukira aku tak akan bisa melihatmu." Ia tersenyum meskipun wajahnya terlihat menahan sakit. Jujur saja Sehun merasa kesal padanya.
"Neo baboya?!" bentaknya membuat senyum Luhan memudar.
"Siapa yang menyuruhmu datang kesini eoh? Aku tak pernah menyuruhmu datang!" ia meninggikan suaranya.
"Kau tak ingin melihatku?" wajahnya berubah sendu.
"Aku tak ingin melihatmu!"
Ucapan Sehun membuat suasana menjadi hening.
"Aku tak ingin melihat Hyung dalam keadaan seperti ini. Kau tahu betapa khawatirnya aku? Kau sedang sakit Hyung! Kenapa kau memaksakan diri untuk pergi kesini? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu lalu kau—" ia berhenti berbicara. Menahan emosi agar tidak meluap.
"Kau mengkhawatirkanku? Gomawo.." seketika senyum itu terkembang lagi. Sehun terpaku disana. Ia tak pernah mengerti jalan pikiran Luhan.
"Kau harus makan. Dokter bilang pencernaanmu bermasalah." Ia mengambil mangkuk untuk menyuapi Luhan.
"Kau sudah makan?"
"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Yang perlu kau khawatirkan adalah dirimu sendiri." Ia meyodorkan sesuap bubur ke mulut Luhan. Tanpa protes, pria itu pun membuka mulutnya.
"Kau harus makan yang banyak." Kembali menyendok bubur di tangannya. Luhan yang tenagh mengunyah, menatapnya intens. Sehun mendongak, mendapati sorot mata lembut itu menatap ke arahnya.
"Wae?" ia berubah salah tingkah jika ditatap seperti itu. kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada mangkuk di tangannya.
"Kajima." Bisiknya pelan. Sehun mendongak sebentar kemudian kembali tertunduk.
"Pergi kemana? Aku tidak akan pergi kemana-mana." Luhan tahu Sehun mengerti. Namun ia tak peduli. Tangannya meraih tangan Sehun kemudian menyuapkan buburnya sendiri.
"Setelah ini kau harus minum obat."
"Aku tak suka obat."
"Kau harus meminumnya!"
"Kau satu-satunya obat penawar." Ucapan Luhan membuat Sehun terkejut lalu memutar bola matanya.
"Jangan bercanda Hyung. Aaa—" ia kembali menyuapkan buburnya lalu membersihkan remahan bubur di sudut bibir Luhan dengan tangannya.
"Aku tidak bercanda. Kau memang satu-satunya kekuatanku, Sehunnie." Dan suasana canggung kembali membelenggu. Keduanya kembali terdiam hingga Luhan menghabiskan seluruh buburnya lalu meminum obatnya.
"Tidurlah.." ia membereskan bantal yang mengganjal punggung Luhan kemudian turun dari ranjangnya lalu duduk diatas kasur di samping ranjangnya.
"Kenapa kau tidur disitu?"
"Gwaenchana. Jangan pikirkan aku." Sehun segera merebahkan tubuhnya di lantai.
"Sehunnie.." Luhan menyebut namanya lagi. Sehun tak meresponnya. Hanya menatap langit-langit kamar yang dipenuhi sticker bintang yang ia tempel saat masih SMA.
"Sehunnie.." merasa tak ada jawaban Luhan kembali memanggilnya.
"Hmm.." ia tahu Luhan tak akan berhenti.
"Kau membutuhkan sesuatu Hyung?" Sehun mengintip Luhan dan mendapati pria itu tengah terbaring menghadap ke arahnya.
"Ne, aku membutuhkanmu." Jawabnya. Sehun terkunci dalam posisinya. Menahan berat tubuhnya pada siku kemudian berakhir dengan saling menatap dengan pria bermata indah di depannya.
"Sehunnie.." gerakan bibir itu seolah menghipnotisnya.
"Ne.."
"Aku mencintaimu."
Sehun hanya menelan salivanya kemudian tangannya bergerak untuk memegangi dahi Luhan.
"Hyung, kau masih demam?" pertanyaan bodoh itu membuatnya terlihat salah tingkah. Luhan malah menggenggam tangannya dan membuatnya semakin terkejut.
"Kau yang tidur disini atau aku yang tidur dibawah?"
"Mwo? Kau tak boleh tidur di bawah!"
"Kalau begitu tidurlah disini. Bersamaku."
Sehun kembali harus mengalah. Ia naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya disamping Luhan. Mereka saling berhadapan.
"Puas? Sekarang tidurlah. Jaljara, Hyung." Sehun memejamkan matanya. Dan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh permukaan dahinya. Ia kembali membuka matanya dan mendapati Luhan yang tengah mengecup dahinya lama. Perasaan hangat itu menjalar ke dalam rongga dadanya. Sehun kembali memejamkan matanya hingga Luhan tak mengecup dahinya lagi.
"Jaljara." Dan sebuah kecupan singkat kembali mendarat di dahinya sebelum Luhan benar-benar memejamkan matanya. Tangan Luhan menggenggam tangannya. Sehun sekarang tak peduli. Ia tak peduli dengan apa yang sudah Luhan lakukan padanya. Yang ia tahu perasaannya untuk Luhan masih belum berubah.
'Oh Sehun, kenapa kau tak datang? Eodiga? Jadi kau menganggap ucapanku hanya gertakan? Lihat saja!'
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Wanna RnR?
