Sepertinya beberapa dari kalian khawatir aku discontinue ya? Tenang, bakal diselesein kok. Cuma memang lagi agak depresi sekarang.
Siapa yang penasaran sama masa lalu Sasuke? Siapa yang penasaran sama masa lalu Naruto? Nih, sedikit dibahas disini. Dan akhirnya SasuNaru bertemu! Ufufu, pasti ga sabar kan?
Hoo, Shi-chan akhirnya kamu kembali! Hehe, biasa kan aku kalau lagi nulis di tengah-tengah suka dapet ide baru makanya tetep surprise walau kamu udah tau ceritanya juga. Adegan apa sih yang kamu tunggu? Ga ngeh aku.
Sepertinya chapter kali ini agak emosional. Ya, semoga kalian suka deh ya.
Chapter 17 is finally here!
Sasuke masuk ke ruangan Itachi untuk kesekian kalinya di hari ini. Kakaknya masih saja sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan tidak terlalu memperhatikan dia. Kesabarannya benar-benar di uji dan Sasuke tidak suka itu. "Kakak, kapan kau akan memberitahuku semuanya?" Itachi masih berkutat dengan kertas ditangannya dan tidak menjawab pertanyaan Sasuke. "Ini sudah tiga hari sejak Kakak mengatakan akan menjelaskan semuanya."
Itachi menurunkan kertas yang sedang dibacanya dan menatap sang adik. "Sasuke, dengar. Tidak bisakah kau menunggu…" Suara teleponnya yang berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk menghentikan perkataan Itachi. Sasuke sudah semakin kesal karena kakaknya malah sibuk dengan hapenya dan mengesampingkan masalahnya. Itachi membuka pesan tersebut dan menyeringai setelah selesai membacanya. "Sasuke, datanglah besok ke restoran favorit kita di jam makan siang."
"Apa?" Jika ini salah satu permainan Itachi lainnya untuk menunda pembicaraan mereka maka Sasuke tidak akan segan melakukan sesuatu untuk memaksanya bicara sekarang juga jika perlu. "Kakak, aku sudah tidak…"
"Jika kau datang maka kau akan mengerti semuanya. Batalkan semua janjimu besok jika perlu dan jangan sampai terlambat. Kita akan bicara disana, aku akan menceritakan semuanya dari awal. Kau dengar?" Sasuke yang masih membuka mulut menutupnya dan mengangguk mengerti. "Baguslah. Sekarang kembalilah bekerja, kita bicara besok."
Secepat dia memutuskan semuanya secara tiba-tiba, secepat itu juga Itachi kembali ke pekerjaannya. Tidak ada lagi yang bisa Sasuke katakan, setidaknya janji sudah ditetapkan dan dia benar-benar akan memastikan Itachi menepatinya. Dia tidak ingin menunggu lagi, masalah tentang Naruto ini bisa membunuhnya jika dibiarkan terlalu lama.
Sasuke meninggalkan ruangan sang kakak dan Itachi kembali menyeringai ketika dia sudah kembali sendirian. Senang sekali melihat ketidaksabaran pada diri Sasuke, tapi dia dan yang lainnya memang bukan sengaja melakukannya. Sulit sekali membuat Naruto masuk kedalam rencana mereka. Sejak hari pertama Kurama tinggal dengan mamanya itu mereka sudah memakai berbagai macam cara untuk membuat Naruto mengatakan iya. Tapi beberapa menit yang lalu dia akhirnya mendapatkan kabar bahwa rencana sudah bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya.
"Memang tidak ada yang bisa menolak anakku terlalu lama. Terutama Mamanya."
Menyerahkan tugas seperti ini kepada seorang anak kecil memang terkesan kurang bertanggung jawab. Dengan memanfaatkan kepolosan seorang anak berumur tujuh tahun mereka sudah berhasil membawa seorang Naruto kedalam rencana mereka. Aah, licik sekali memang Uchiha satu ini. Orangnya sendiri tidak keberatan dijuluki licik, dia malah senang dengan hasil pekerjaannya. Sangat Uchiha sekali.
Dengan janji yang telah dia berikan pada sang adik, Itachi dapat melewati sisa hari ini dengan tenang. Dia hanya perlu fokus pada pekerjaannya karena langkah selanjutnya dari rencananya akan diatur oleh Gaara. Itachi hanya perlu memesan tempat dimana mereka akan bertemu besok dan itu pun sudah dia serahkan kepada sekretarisnya.
"Kau sudah tau apa yang harus kau katakan nanti, kan?"
"Tenang saja. Aku tahu bagaimana adikku. Tidak perlu khawatir begitu."
"Tapi kau tidak tahu bagaimana Naru. Dan maksudku adalah Naru yang ini."
"Ya, tapi kau dan Gaara tahu. Tenanglah Kyuubi, aku tahu apa yang aku lakukan. Bukankah semuanya sudah kita bahas? Kenapa kau jadi ragu sekarang?"
Tidak terdengar jawaban dari sang Uzumaki untuk beberapa saat. "Aku hanya terlalu khawatir. Maaf, lupakan saja."
"Kau yakin tidak apa-apa?" Kyuubi meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. "Baiklah kalau begitu. Nanti kuhubungi lagi setelah ada kabar dari Gaara. Kita bertemu lagi besok sebelum makan siang." Itachi menutup teleponnya.
Begitu sampai di rumah hari ini, dia memberitahukan rencananya kepada Mikoto. Karena nantinya sang ibu akan ikut berpartisipasi jadi tentunya Mikoto perlu tahu apa yang akan terjadi besok. Ibu kedua Uchiha itu sangat senang saat mendengar rencana putra sulungnya dan dengan antusias berkata bahwa mereka bisa mengandalkannya untuk bagiannya. Mikoto juga akan memastikan Fugaku tidak akan mengganggu rencana ini. Itachi sangat berterima kasih.
"Apapun demi kebahagiaan putra Ibu," Mikoto berkata.
Di waktu yang dijanjikan, Sasuke memasuki restoran dan mencari-cari wajah yang dia kenal. Seorang pelayan menghampirinya dan menanyakan keperluannya. Sasuke memberitahukan namanya dan pelayan tersebut pun mengantarkannya ke meja yang sudah dipesan atas nama Itachi, Itachi sendiri belum nampak di sana.
Karena ada janji dengan klien di luar maka dari itu Sasuke datang kemari sendirian. Itachi memang mengatakan akan sedikit terlambat karena harus menjemput seseorang dulu, entah siapa itu. Sambil menunggu sang kakak datang, Sasuke memutuskan untuk memesan beberapa menu. Lima belas menit berlalu dan pesanannya pun datang. Masih belum ada tanda-tanda kedatangan Itachi, Sasuke mulai menyendok makan siangnya hari itu. Lama sekali kakaknya itu datang, tapi Sasuke manfaatkan waktu ini untuk menikmati makanannya. Dia tidak yakin saat pembicaraan mereka dimulai dia masih bisa makan, topiknya terlalu berat.
"Sasuke."
Sasuke mendengar suara Itachi yang memanggilnya menoleh ke arah sang kakak yang baru datang dan menaruh sendoknya. Itachi segera meminta maaf atas keterlambatannya dan duduk di kursi yang berhadapan dengan sang adik. Sasuke memperhatikan ada dua orang lagi yang datang bersama Itachi. Dia menaikan alisnya heran saat melihat Gaara yang duduk di sampingnya, tapi tidak bisa dibandingkan dengan saat dia melihat siapa orang ketiga yang duduk di samping Itachi.
"Ekspresimu mengatakan seperti kau pernah melihatku sebelumnya, Sasuke." Kyuubi tersenyum dan menawarkan tangannya untuk berjabat. "Perkenalkan, aku Kyuubi."
Alis Sasuke semakin naik jika mungkin. "Kyuubi? Kyuubi yang selalu menelepon Kakak?"
"Jika itu yang kau ingat, ya aku Kyuubi yang selalu menelepon Itachi." Sasuke menjabat tangan Kyuubi masih terlihat bingung.
Itachi mengambil alih pembicaraan. "Sasuke, ada alasan mengapa aku membawa Gaara dan Kyuubi kemari. Mereka berdua sudah mengenal Naru sejak dulu, bahkan saat dia masih menjadi Naru yang berbeda dengan yang kita ketahui. Gaara mengenal Naru sejak SMA dan Kyuubi adalah sepupu Naru."
"Sepupu?"
Kyuubi kembali tersenyum. "Nadamu barusan seperti mengatakan bahwa kau tidak percaya dengan apa yang kau dengar. Apa ada alasan khusus?"
Sasuke berpikir keras terlihat dari kerutan di dahinya. Lalu terpancar sesuatu di matanya, sesuatu yang mereka bertiga tidak mengerti. "Lanjutkan saja, akan kuputuskan nanti."
Ketiga pria lainnya saling berpandangan. Benar apa yang mereka khawatirkan, pasti ada kesalahpahaman disini. Itachi lalu menyerahkan penjelasan awal kepada Gaara. "Apa kau tahu tentang penyakit Naru?"
"Maksudmu anemia-nya?"
Gaara menggeleng. "Bukan, penyakit yang sudah dideritanya sejak SMA dulu. Anemia itu hanya karangan kami belaka." Sasuke tidak menjawab hanya menatap Gaara intens meminta penjelasan. "Sebelumnya maaf karena telah membohongimu, tapi itu semua karena janji kami kepada Naru. Saat SMA Naru divonis menderita penyakit jantung dan sejak saat itu pula hidupnya menjadi tidak tentu."
"Maksudmu?"
"Pertama adalah usianya. Tidak ada yang tau pasti berapa lama dia bisa bertahan hidup, tergantung dari cara dia merawat diri. Karena Naru menolak untuk operasi walau itu bisa menyelamatkan hidupnya, semuanya menjadi semakin rumit."
"Kenapa dia tidak mau operasi?" Menurut Sasuke ini tidak masuk akal. Mengapa seseorang lebih memilih hidup tanpa kepastian ketika ada pilihan dia bisa selamat?
Kali ini Gaara yang menatapnya intens, tapi detik selanjutnya tatapan itu berubah sedih. "Karena bagi Naru di dunia ini tidak ada yang bisa membuat tinggal. Dia selalu mencari sesuatu yang berharga yang bisa mengisi kekosongan di hatinya tapi tidak pernah dia temukan. Sampai-sampai dia berkata biar saja dia mati jika dia tidak dapat menemukannya. Aku sempat ingin memukulnya saat itu. Tapi bukan berarti dia akan bunuh diri, dia hanya merasa tidak perlu untuk berobat."
Sasuke sempat tersentak mendengar cerita ini. Sebegitu buruknya kah hidup Naruto dulu sampai dia memutuskan tidak apa-apa meninggalkan dunia ini? Meninggalkan keluarga dan teman-temannya begitu saja? Apa yang sebenarnya dia cari?
"Kau pasti bertanya apa yang dia cari, bukan?" Sasuke berpaling pada Itachi dan mengangguk pelan. "Kami tidak tahu, bahkan dia sendiri tidak tahu. Semuanya ingin membantu, tapi jika dia sendiri tidak tahu apa yang dia cari entah bagaimana caranya membuat dia ingin tinggal."
Kyuubi mengiyakan. "Benar. Kami semua sayang pada Naru. Walaupun sikapnya seperti itu kami sangat menyayanginya. Terutama saat dia mengatakan akan menjadi Mama bagi Kurama, aku sangat terharu."
"Mama bagi Kurama?" Di sini ceritanya menjadi semakin menarik. Terlihat bagaimana sinar mata Sasuke yang menunjukkan keingintahuan. Dia bahkan sedikit mencondongkan badannya agar bisa mendengarkan Kyuubi lebih jelas.
Kyuubi sudah mendengar cerita dari putra semata wayangnya itu mengenai pertemuannya dengan Papa Sukenya. Dari ceritanya Sasuke masih mencintai Naruto tapi memiliki beberapa keraguan. "Naru itu tipe penyayang dan peduli pada orang sekitarnya meskipun sikapnya dingin dan cara bicaranya ketus. Sewaktu istriku meninggal dunia pun dia yang mengatakan agar aku tetap tegar demi Kurama. Dia bahkan rela menjadi sosok seorang Mama bagi anakku agar anak lain berhenti mengejeknya yang tidak memiliki Ibu lagi."
Sasuke membuka mulut untuk bicara tapi kemudian menutupnya lagi. Dia mencoba mencerna semua kata-kata Kyuubi dan mereka semua kejadian yang dia ingat. "Bagaimana dengan matanya?"
Semua bingung dengan pertanyaan mendadak Sasuke. Kyuubi yang pertama kali mengerti apa maksudnya dan menjelaskan. "Oh, itu dari ibunya. Mata istriku itu biru seperti mata Naru. Itulah satu-satunya yang dia wariskan pada Kurama secara fisik, karena sisanya lebih mirip denganku. Tapi berkat mata itu banyak orang percaya Naru memang mamanya dan tidak ada lagi yang mengejek Kurama, terlebih lagi dengan penampilan Naru yang seperti itu tidak ada yang ragu jika Kurama memanggilnya Mama. Semasa hidup, istriku dan Naru lumayan dekat hampir seperti sahabat. Karena itu juga Naru menyayangi Kurama seperti putranya sendiri, padahal waktu itu dia baru saja lulus SMA."
Gaara menambahkan sedikit pada cerita Kyuubi. "Sejak aku mengenal Naru, dia tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan siapapun. Tentu banyak yang mengatakan suka padanya tapi selalu dia tolak dengan dalih dia tidak memiliki perasaan yang sama, walalu aku tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Karena itu kami sendiri kaget saat mendengar dia akan menjadi mama bagi Kurama."
"Ya, aku sendiri hampir tidak percaya bahwa Naru yang itu bisa berkata begitu. Apalagi itu semua terjadi tidak lama setelah dia divonis memiliki kelainan dengan jantungnya." Bibir Kyuubi melengkungkan sebuah senyuman perih. Itachi yang duduk di sampingnya memberikan tepukan pada pundaknya memberinya semangat untuk melanjutkan. "Naru berkata Kurama memang hanya memiliki satu Ayah dan satu Ibu, tapi dia bisa memiliki banyak Mama dan Papa. Kurama sangat senang mendengarnya. Naru juga mengatakan padanya bahwa Ibunya pasti akan bahagia jika Kurama juga bahagia."
"Dan aku pun menjadi Papa pertamanya," sambung Gaara.
"Lalu aku dan kau," tambah Itachi.
Sasuke kembali melirik Gaara di sebelahnya, lalu ke Itachi dan kembali ke Kyuubi. "Aku?" Sekarang dia tahu mengapa Kurama memanggilnya Papa waktu itu, tapi dia belum mengerti bagaimana bisa begitu.
"Ingat mengenai sesuatu yang dicari Naru? Dia akhirnya menemukannya dengan cara yang sangat tidak terduga."
"Lalu, apa hubungannya denganku?"
"Seperti yang kubilang tadi, ada alasan mengapa Naru selalu menolak semua pernyataan cinta padanya." Gaara menggeser posisi duduknya agar lebih jelas melihat Sasuke. "Sebelum aku kenal dengannya kabarnya Naru sering sekali dikecewakan oleh orang yang dia sayangi. Dia itu terlalu baik, karenanya banyak orang yang menyalahgunakan kebaikannya itu. Bahkan ada yang menjadikannya taruhan hanya untuk bersenang-senang."
"Apa?!" Sasuke sedikit berteriak dan hampir saja menggebrak meja mereka. Untung saja dia masih ingat dimana mereka sekarang dan mengendalikan diri.
"Jahat, bukan? Karena itu juga saat pertama aku bertemu dengannya Naru menjadi sosok yang dingin dan selalu menjaga jarak dengan orang. Walau begitu dia tidak bisa menghilangkan kepeduliannya pada orang lain meski dengan cara yang berbeda. Semua kata-kata dan perbuatannya selalu terkesan egois, tapi tidak begitu kenyataannya."
Sasuke meremas tangannya membayangkan bagaimana orang-orang itu mempermainkan Naruto hanya karena mereka bisa. Itu terlalu kejam bagi orang seusianya saat itu. "Setelah itu bagaimana?"
"Sulit sekali bagi Naru untuk percaya pada orang lain, itu juga yang menjadi alasan dia tidak memiliki teman lain selain aku selama bertahun-tahun. Butuh waktu cukup lama juga bagiku agar dia mau mempercayaiku dan bersahabat dengannya. Tapi itu menjadi dilema bagi dirinya. Seperti yang kubilang, Naru peduli pada orang-orang disekitarnya. Meski dia bilang biar saja mati, di sisi lain dia ingin melihat kami bahagia dan dia tahu kebahagiaan kami adalah dengan melihat dia hidup dan juga bahagia. Semua itu seperti lingkaran setan mengingat Naru sendiri tidak tahu apa yang bisa membuatnya bahagia."
"Di saat itulah kau muncul."
Pernyataan Kyuubi membuat Sasuke kembali terpaku. "Keputusan Naru untuk menikah denganmu adalah sebuah langkah yang besar. Sepertinya Naru sudah kehabisan akal tentang hidupnya sendiri, karenanya saat ayahmu datang melamar dia membuat suatu keputusan besar."
"Kau tahu apa keputusannya itu, Sasuke?" Itachi ikut dalam pembicaraan. Sasuke menggeleng sudah tidak bisa lagi berpikir. "'Aku menerima pernikahan ini. Jika dalam satu tahun aku menemukan sesuatu itu aku akan operasi, jika tidak maka semuanya akan tetap seperti ini dan pada akhirnya aku akan pergi seperti rencana awal.' Itu yang dia katakan pada semuanya. Kau mengerti? Pernikahan ini adalah sebuah taruhan baginya."
Sesuatu menyentak dalam dada Sasuke. Ini bukan main-main, yang Naruto pertaruhkan disini adalah nyawanya. Di saat itu dia sadar bahwa dia juga bagian dari taruhan itu. "Kau bilang dia sudah menemukannya. Apa itu?"
"Bukan apa, lebih tepatnya siapa." Sasuke tidak mengerti. "Itu kau, Sasuke. Kau lah yang selama ini dia cari." Jawaban yang dia dengar dari mulut Kyuubi membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Yang dicari Naruto selama ini adalah dia?
"Sasuke, yang Naru butuhkan adalah seseorang yang dia cintai dan juga menyayanginya secara tulus. Seseorang yang dia ingin habiskan waktunya bersama seumur hidupnya. Itulah yang dia dapatkan darimu. Kau sudah memberinya harapan untuk hidup kembali."
"Kau ingat saat Naru pergi mengunjungi orang tuanya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka?" Tentu saja Sasuke ingat, hari itu juga dimana dia menyakiti Naruto untuk pertama kalinya. "Sebenarnya sepulang dari sana dia berniat memberitahumu semuanya. Dia ingin kau menerima dia apa adanya dan menceritakannya padamu sendiri dari awal."
"Alasan Naru berkunjung bukan semata-mata karena ulang tahun pernikahan Paman dan Bibi. Naru juga ingin meminta restu dari mereka. Aku dan Kurama sudah memberi restu kami tentu saja. Dan dengan begitu kau pun menjadi taruhannya yang terakhir."
"Apa maksudnya?" Sasuke tidak mengerti.
"Dia sudah menemukan apa yang dia cari. Tentu saja dia mempertaruhkan semuanya padamu. Tapi entah apa yang terjadi malam itu, keesokan harinya bukan mendapat kabar bagaimana pembicaraan kalian Naru malah jatuh koma."
Kata terakhir yang keluar dari mulut Itachi menyentak dada Sasuke. "Ko-koma?"
"Ya. Malam itu dia datang ke kamarku dan menangis semalaman. Hanya satu kata yang dia ucapkan, namamu Sasuke. Kau bisa bayangkan bagaimana paniknya aku karena seingatku Naru tidak pernah menangis apapun yang terjadi. Itu adalah janjinya pada semua orang. Dia tidak akan pernah menangis bagaimana buruknya pun hidupnya, karenanya dia juga meminta kami semua tidak akan menangis walau dia harus pergi sekalipun suatu saat nanti. Tapi malam itu dia melanggar janjinya sendiri, sesuatu pasti telah terjadi." Mata hitam Sasuke menyiratkan penyesalan dan juga kesedihan. "Paginya aku menemukan Naru sudah tergeletak jatuh dari tangga dengan kepala yang bersimbah darah. Dia pun sempat koma selama berhari-hari."
Napas Sasuke terlihat memburu. Dadanya terasa sesak, dia tidak yakin apa dia sanggup mendengarkan sisa cerita ini. "Lalu tiba-tiba saja kondisinya berubah kritis. Kau tau? Seperti Naru sudah rela untuk pergi dan akan meninggalkan kita semua tanpa pamit. Di saat itu Bibi Kushina mengambil langkah berani dan meminta agar Naru dioperasi saja. Semua tahu Naru paling tidak suka jika hidupnya dicampuri orang lain, apalagi ketika mereka sudah diikat janji. Benar saja, ketika dia sadar dia mengamuk mendapati jantungnya sudah dioperasi dan sampai sekarang dia tidak mau bertemu dengan Bibi."
"Jadi, dia sudah sembuh?"
"Hanya fisiknya saja. Dia lebih mirip tubuh tanpa jiwa. Naru masih tidak mau membicarakan apa yang terjadi malam itu. Dia hanya berkata 'Semuanya sudah berakhir, Sasuke sudah membenciku'. Naru pun kembali menjadi Naru yang dingin dan ketus. Dia hanya tebuka pada Kurama saja."
"Aku tahu dari Kurama bahwa meski Naru bersikap sudah menyerah tentangmu, dia masih mencintaimu Sasuke. Kau adalah segalanya baginya. Dia membutuhkanmu untuk benar-benar hidup." Sasuke menatap kosong meja dihadapannya. "Bagaimana denganmu?"
"Aku…"
"Perlu kukatakan satu hal lagi. Naru itu bukan wanita." Kali ini Sasuke menatap langsung mata Itachi. "Kau mengerti maksudku, bukan?"
Otaknya berpikir mencoba menyambungkan semua titik yang ada. Entah apa yang dipikirkan Sasuke karena dia tidak berkata sepatah kata pun, semua hanya bisa menatapnya penasaran. "Sasuke? Kau baik-baik saja?" Pertanyaan Kyuubi tidak dijawabnya. Sasuke hanya terus tenggelam dalam pemikirannya mencoba menimang apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Memutuskan sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, Itachi membuka mulut. "Sasuke, aku mengerti kau butuh waktu untuk memikirkan semua ini dan aku tidak akan bertanya apa yang terjadi pada malam itu sebenarnya. Itu adalah masalah kalian dan aku akan tahu jika memang aku perlu tahu. Tapi jika kau sudah yakin, saat ini Naru sedang ada di rumah kita bersama dengan Kurama untuk mengunjungi Ayah dan Ibu. Jika seandainya…" Belum Itachi menyelesaikan kata-katanya, Sasuke segera beranjak dari kursinya meninggalkan mereka dalam satu gerakan. Kursi Gaara bahkan sedikit tertabrak tapi dia tidak peduli. Kata-kata Itachi lah yang membuatnya bereaksi seperti ini. "Dasar, bahkan tidak mau mendengarkanku sampai akhir."
Kyuubi dan Gaara menatap khawatir, siapa tahu apa yang akan Sasuke lakukan saat bertemu Naruto nanti. Mereka bahkan belum yakin apa pendapat Sasuke setelah mendengarkan semua ini. "Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Kau yakin kita tidak perlu menyusul Sasuke?"
Dengan santainya Itachi memanggil pelayan untuk memesan menu. Gelagatnya itu membuat kedua orang lainnya geram seakan-akan dia tidak peduli. "Sudahlah, kita makan saja dulu. Kita akan menyusul setelah selesai makan. Aku tahu adikku, dia tidak akan mengecewakan kita."
Itachi mulai menyebutkan menu pesanannya sementara sang pelayan mendengarkan dan menuliskannya dengan cermat. Lalu dia bertanya pada dua pelanggan yang masih terlihat tidak yakin. Gaara yang pertama kali menyerah dan ikut memesan. "Jika Sasuke menyakiti sahabatku sekali lagi, aku tidak akan ragu menghajarnya kali ini."
Itachi mengangguk setuju. "Tenang saja. Jika perlu aku yang akan mengirimnya ke rumah sakit."
Gaara menyeringai dan menatap Itachi dengan tatapan jahil. "Aku tahu kita cocok."
Bibir Itachi ikut melengkungkan seringaian membuat pria berambut merah di sampingnya menggeleng tidak percaya. "Kalian berdua memang gila." Komentar Kyuubi menghasilkan tawa dari keduanya. Sekali lagi sang Uzumaki hanya bisa menggeleng dan mempertanyakan bagaimana bisa dia berada bersama orang-orang yang berotak jahil seperti mereka.
Sementara itu di jalanan kota Konoha Sasuke menyetir dengan gusar. Tangannya meremas setir mobilnya, kepalanya pusing sudah tidak bisa berpikir jernih. Dia bahkan tidak peduli dengan pekerjaannya yang menumpuk di meja kantornya, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kenyataan bahwa Naruto sekarang sedang ada di rumah dan dia ingin menemuinya.
Beberapa lampu merah juga hampir saja dia terobos tapi dia sadar dia tidak boleh melakukannya dan menunggu warna itu berubah menjadi hijau dengan tidak sabar. Begitu mobilnya sampai di halaman rumahnya, Sasuke segera keluar dari mobil membiarkannya terparkir dengan asal. Setelah membuka pintu depan dia bergegas menuju ke kamarnya, tidak menyadari keheningan di rumah itu. Pintu kamarnya terbuka dan terlihatlah Naruto di samping tempat tidur sedang berdiri diam, dia mengenakan kimono yang dulu diberikan Sasuke lengkap dengan simbol keluarga Uchiha tersulam rapi dibagian belakangnya. Jantungnya berdegup kencang, ternyata dia begitu merindukan sosok di hadapannya ini. Sasuke mulai melangkah perlahan mendekati Naruto yang masih belum menyadari keberadaannya.
Kenyataannya Naruto bukan hanya sedang berdiri diam disana, dia sedang memandangi foto mereka yang diambil Mikoto dulu. Dia merasakan kerinduan disana sampai tidak menyadari Sasuke yang semakin mendekat. Karenanya begitu kagetnya dia ketika mendengar suara yang memanggil namanya dan hampir menjatuhkan bingkai foto tersebut. "Naru."
Sasuke segera menangkap bingkai yang terlepas dari genggaman Naruto, mencegah bertambahnya retakan di benda tersebut. Dia meletakannya kembali di meja kecil di samping tempat tidur dengan hati-hati. Naruto masih terpaku tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Sasuke? Sedang apa kau disini? Bukannya kau seha…" Naruto tersadar, apapun yang terjadi sekarang Sasuke ada di hadapanya dan bukan di kantor. Dia harus segera pergi dari sini. "Um maaf, aku sudah akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu, permisi Sasuke."
Naruto mencoba melewati Sasuke namun dihadang oleh sang Uchiha. "Tunggu dulu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Aah, Naruto tidak ingin mendengarkan apapun yang akan Sasuke katakan. Sudah cukup menyakitkan meilhat wajahnya saat ini mengingat kata-kata terakhir yang Sasuke ucapkan padanya. Dia tidak mau mendengar lebih banyak kebencian dari Sasuke, semua itu terlalu perih. Naruto meremas kimononya dan menetapkan hati. "Sasuke, kita bercerai saja."
Butuh seluruh keberaniannya untuk mengatakan itu. Naruto tidak ingin berpisah dengan Sasuke, tapi jika tinggal dengannya hanya bisa menambah luka di hatinya lebih baik semua diakhiri saja. Tidak ada jawaban dari sang Uchiha, Naruto hampir mengira Sasuke sudah tidak ada lagi disana jika saja dia tidak melihat tubuh yang masih menghalangi jalannya untuk pergi. Lama dia menunggu dan ketika yakin Sasuke tidak akan menjawab, Naruto melangkah pergi menuju pintu untuk segera meninggalkan kamar yang penuh kenangan ini.
Begitu kagetnya dia ketika pintu yang baru dibukanya sedikit, tertutup dengan keras dan tangannya terasa ditarik dengan keras menjauhi pintu. Tubuhnya dilempar ke atas tempat tidur dengan sedikit kasar lalu tiba-tiba Naruto merasakan ada yang memeluk tubuhnya. Dia tidak mengerti apa Sasuke coba lakukan, dia hanya refleks memberontak mencoba melepaskan diri.
"Berjanjilah." Suara Sasuke menghentikan pergerakannya. "Berjanjilah kau tidak akan pergi sebelum kita bicara. Berjanjilah kau akan mendengarkanku sampai akhir, atau aku tidak akan melepaskanmu."
Naruto terdiam, tangannya yang mencengkram bahu Sasuke yang semenit lalu mencoba untuk mendorongnya kini hanya menempel tanpa ada usaha untuk menjauhkan diri. Padahal sekarang dia sudah lebih kuat, dia sudah mendapatkan kekuatan yang sempat meninggalkannya dulu. Suara Sasuke barusanlah yang membuatnya lemah, tidak pernah dia mendengar Sasuke seperti ini. Suaranya terkesan memohon, sesuatu yang tidak pernah Naruto lihat dari sesorang Sasuke. Dengan masih sedikit ragu dia pun mengangguk.
Sejenak Naruto berpikir Sasuke tidak menyadari anggukannya, tapi beberapa detik kemudian si bungsu Uchiha perlahan melepaskan peukannya dan membantu Naruto untuk duduk. Dia meminta maaf karena tiba-tiba melakukan hal tadi dan Naruto sekali lagi hanya mengangguk sambil membenarkan kimononya yang sedikit berantakan. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Naruto tidak berani menatap langsung wajah Sasuke dan selalu mengarahkan pandangannya ke segala arah selain mata onyx itu.
"Pertama, aku ingin minta maaf karena sudah menamparmu waktu itu." Jantung Naruto berdegup. Mendengar permintaan maaf dari mulut Sasuke membuatnya tidak bisa berkata-kata. Dia hanya berharap semua ini bukan khayalannya saja. "Aku keterlaluan sekali bahkan tidak menjelaskan apa yang menjadi alasanku. Kau pasti membenciku, bukan? Tidak hanya memukulmu aku bahkan mengataimu dengan sebutan yang keji."
"Tidak." Reaksi Naruto yang cepat mengagetkan Sasuke. Perlahan senyum merekah di bibirnya tipis. Naruto memang orang yang baik pikirnya, dia sudah tidak ragu lagi.
Sasuke memulai penjelasannya. "Dulu aku pernah memiliki seseorang yang aku sayangi. Dia satu-satunya orang yang bisa aku percaya selain keluargaku." Ini pertama kalinya Sasuke bercerita mengenai masa lalunya dan Naruto tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia sangat tertarik untuk mendengarkan. "Aku bahkan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga ini dan selalu berbagi berbagai hal dengannya. Bukan hanya barang, aku berbagi cerita, mimpi, dan bahkan hatiku."
Nada suara Sasuke terdengar perih saat mengatakannya. Naruto merasakan kepedihan yang dialami Sasuke. "Lalu, apa yang terjadi?"
"Seperti yang kau bisa duga, semua itu palsu." Sasuke melirik ke arah Naruto yang masih tidak mau melihat wajahnya. "Kak Itachi sangat marah saat mengetahui hal itu. Dia menjadi over protective dan selalu mengawasi orang-orang di sekelilingku, khususnya jika mereka wanita. Kakak percaya mereka akan menyakitiku lagi karena bukan pertama kalinya ada wanita yang mendekatiku hanya karena menginginkan sesuatu, bukan karena mereka tulus menyukaiku. Mungkin karena perlakuan Kakak yang seperti itu jugalah yang mempengaruhi sifatku. Aku menjadi sensitif dengan kata-kata kebohongan, aku sangat benci dibohongi."
Dari ujung mata Sasuke, terlihat tangan Naruto yang meremas kimononya. Dia sadar topik ini pasti membuat Naruto gusar. "Sasuke, aku…"
"Aku belum selesai." Naruto tidak melanjutkan perkataannya dan kembali mendengarkan. "Maaf karena aku tidak bisa menceritakan lebih detil tentang masa laluku, yang jelas pengalaman itu telah membuatku menjadi tertutup pada orang lain selain keluargaku sendiri. Itu juga yang membuatku bereaksi seperti itu saat menyadari kau menyembunyikan sesuatu dariku, tapi ternyata dugaanku salah."
Untuk pertama kalinya sejak Sasuke mulai bercerita Naruto menatap wajah pria di sampingnya. "Maksudmu?"
Sasuke pun ikut menatap Naruto. "Kau adalah orang terbaik dan paling tulus yang pernah kukenal, Naru. Kau tulus menyayangi keluarga ini, Ibu, Ayah, Kakak dan juga aku. Tapi aku telah menyia-nyiakan kebaikan itu. Karena itu aku ingin meminta maaf karena sudah meragukanmu dan juga berterima kasih atas kasih sayang yang sudah kau berikan pada kami semua." Sasuke tersenyum yang membuat Naruto semakin tidak dapat mengendalikan degup jantungnya.
Padahal dia sudah menetapkan hati. Tapi melihat dan mendengar Sasuke bercerita padanya seperti ini membuat semuanya rubuh. Mengapa semua hal yang dilakukan oleh Sasuke berefek sangat besar padanya seperti ini? Apa ini artinya dia terlalu mencintainya dan memang belum sanggup melepaskannya? "Kau.. sungguh-sungguh?"
Mungkin Sasuke salah menangkap arti perkataan Naruto karena dia terlihat seperti baru saja mengalami penolakan. "Aku mengerti jika kau tidak bisa memaafkanku."
"Tidak, bukan itu." Tangannya naik ke mulutnya mencoba bertahan agar suaranya tidak bergetar. "Aku hanya.. bahagia. Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi.. aku benar-benar…" Bukan hanya Sasuke, bahkan Naruto sendiri terkejut dengan respon yang dia berikan. Walau begitu dia puas mendengar jawaban tersebut.
Sasuke mengambil tangan Naruto yang satunya dan menggenggamnya. "Naru, ada satu hal lagi yang ingin kupastikan." Apapun yang Sasuke inginkan saat ini, Naruto sudah tidak keberatan lagi. Dia mengangguk tidak sanggup berkata-kata. Dengan sangat hati-hati Sasuke mengambil tangan Naruto yang menutupi mulutnya dan duduk mendekat. Tangan putih pucatnya menyentuh rambut pirang Naruto, menyusurinya terus hingga ke leher tan itu lalu berpindah ke pipi kurus sang istri. "Kau butuh makan lebih banyak, Naru."
Naruto hampir tertawa mendengar komentar yang tidak diduga tersebut. Tapi sentuhan Sasuke saat ini membuatnya melupakan hal itu dan berfokus pada setiap gerakan sang Uchiha. "Sasuke, kau mau apa?"
"Kudengar kau sempat koma dan juga menjalani operasi. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Pertanyaan yang dilontarkannya itu terkesan hanya basa-basi karena dari sorot matanya Naruto dapat melihat Sasuke sedang memikirkan hal lain. Walau begitu sirat kekhawatiran tidak luput dari pandangannya.
Naruto menyentuh tangan Sasuke yang masih mengelus pipinya. "Aku sudah tidak apa-apa. Hanya butuh pembiasaan dengan kondisi baruku."
Suara mereka berdua begitu pelan takut merusak mood yang sedang menyelimuti mereka. "Hm, syukurlah." Naruto melihat kelegaan di mata onyx Sasuke dan ikut senang melihatnya. Dia tidak pernah sanggup melihat kesedihan di mata itu, terlebih lagi jika itu disebabkan olehnya. Begitu kagetnya dia ketika tiba-tiba Sasuke mempersatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut dan penuh kerinduan. Namun bukan hanya itu, ada sedikit ketidakpastian dalam kecupan yang hangat itu. Perlahan Naruto pun membalas perlakuan Sasuke dan menikmati kedekatan mereka. Semakin lama Sasuke pun semakin yakin dengan apa yang dilakukannya.
Entah berapa lama mereka saling mengecup sampai akhirnya Sasuke menghentikan kegiatan mereka dan mendekap Naruto erat. "Sasuke."
"Aku mencintaimu, Naru." Untuk kesekian kalinya jantung Naruto terpicu dan kali ini dia merasa dapat mendengarkan debarannya dengan jelas. "Kau adalah istriku. Aku tidak ingin kita berpisah."
Memang hanya Sasuke yang dapat melakukan ini padanya. Hanya Sasuke yang dapat membuatnya lagi-lagi mengingkari janjinya. Air mata perlahan keluar dan semakin deras tidak sanggup lagi dia bendung. Dia tidak akan menghapusnya, akan dia biarkan mengalir sampai berhenti sendiri karena ini adalah air mata kebahagiaan. Kedua tangannya mencengkram bagian punggung kemeja Sasuke dan menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. "Sasuke."
