Updatenya lama gak? Hehe. Ngomong2 mau minta maaf sebelumnya. Gimana klo updatean chapter selanjutnya bln Juni abis saya beres sidang skripsi? Bersedia nunggu? Hahaha.. Oh ya saya udah janji kan gak akan ngecewain KaiHun shipper di ff ini? Trust me i'll make u all haaaaappy hahahah. Happy reading saranghaneun readerdeul! Ribyu juseyoooo! Bbuing bbuing! *ditendang*
.
.
.
It's Not All About Money Chapter 11
.
.
Ketika mata itu baru saja terpejam, kilauan cahaya yang menembus jendela membuatnya harus kembali terjaga. Ia tak sempat memikirkan bagaimana keadaan tubuhnya sendiri. Yang ia khawatirkan hanyalah kondisi pria di sampingnya meskipun saat ini sudah terlihat semakin membaik. Dirabanya dahi yang tertutup poni itu, lalu menyingkirkan helaian rambut kecoklatan hingga telapak tangannya kini bergesekan secara langsung dengan kulit yang sudah bersuhu normal. Obatnya manjur. Ia benar-benar lega.
Namun mata itu berubah sendu. Sehun menatapnya sedih. Tadi malam semua perasaan itu sirna. Perasaan bencinya terhadap Luhan, sakit hatinya, dan juga semua memori buruk yang mengganggu hubungan mereka semuanya seolah terlupakan. Apa hanya perasaan sesaat? Apa ia hanya kasihan terhadap Luhan? Namun ia meyakini di dalam hatinya jika perasaannya memang tak bisa dibohongi lagi. Ia masih mencintai Luhan. Namun kali ini semuanya tak akan berjalan mulus. Ia memiliki feeling buruk dan dirasa hubungannya dengan Luhan tak akan seperti dulu. Banyak hal yang telah berubah, seperti kebohongan dan pengkhianatan, yang akan membuat hubungan mereka tak akan kembali seperti semula. Bibir tipisnya mengembangkan sebuah senyuman yang entah berarti untuk apa. Yang pasti Sehun merasa sesuatu mengganjal di hatinya.
Kakinya perlahan turun dari ranjang dan masih membiarkan pria di sampingnya terlelap di bawah selimut tebalnya. Kemudian matanya melirik ponsel yang tergeletak diatas nakas—hal pertama yang selalu ia lakukan ketika bangun tidur di pagi hari. Namun bukan pesan penting yang justru ia dapati. Sebuah pesan yang dikirimkan sejak semalam membuatnya menepuk dahi. Ia benar-benar lupa. Hari pertamanya menjadi tutor Jongin harus ia lewatkan, dan lagi memburu waktu dengan perjalanan yang harus ditempuh beberapa jam tidak memungkinkan Sehun untuk sampai tepat waktu di kediaman Kim. Kecuali jika ada seseorang yang membawanya pergi dengan jalan teleportasi. Dalam hitungan tak satu detik pun ia pasti sudah sampai di rumah Jongin lalu membuatnya berhenti mengomel.
Sehun mengedikkan bahunya. Ia tak peduli dengan isi pesan Jongin yang terkesan mengancamnya. Jongin memang senang menggertaknya namun tak satu pun dari ucapannya berpengaruh pada hidupnya. Ia hanya senang memanfaatkan kekuasaan ayahnya hanya untuk menindas dirinya—begitu yang Sehun pikirkan. Toh ia lebih tua dari Jongin lalu apa yang harus ditakutkan?
Ketika kakinya hendak berjalan keluar kamar, sebuah gumaman pelan membuatnya berhenti. Ia menoleh dan mendapati Luhan yang sudah terbangun. Layaknya anak kecil yang tengah mencari keberadaan ibunya, Luhan mengucek matanya lalu beringsut duduk dan menatap Sehun yang kini tengah menatapnya. Masih dengan pandangan yang sedikit buram, ia berusaha mengenali sosok Sehun yang kini masih terdiam di tempatnya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" Sehun kembali berjalan mendekat lalu bersimpuh disamping ranjangnya yang memang tidak terlalu tinggi. Luhan menggeleng pelan kemudian menyunggingkan sebuah senyuman.
"Gomawo.. Ini berkat kau." Tangannya mengusek rambut Sehun pelan. Pria pucat itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis kemudian segera beranjak dari duduknya.
"Aku akan membuatkanmu sarapan. Kau tunggu disini." Sehun berjalan keluar kamar membiarkan Luhan tenggelam di dalam pikirannya ketika pintu itu tertutup rapat. Sehun tak seperti biasanya. Ia terkesan dingin dan juga canggung. Kemudian ia hanya menghela nafas. Kebodohannya memang sudah berakibat fatal. Namun semuanya sudah terlanjur terjadi. Yang bisa ia lakukan adalah memperbaiki hubungannya dengan Sehun lalu meyakinkan kekasihnya itu agar tetap percaya kepadanya. Percaya bahwa ia adalah satu-satunya orang yang Luhan cinta. Bukan Yixing, atau siapapun itu. Hingga ia tersadar dari lamunannya ketika suara dering ponsel menjadi satu-satunya keributan di kamar Sehun yang berukuran tidak terlalu besar.
Tubuhnya masih terasa kaku dan pegal di beberapa titik. Ia mencari-cari ponselnya yang tidak terlihat. Menajamkan pendengarannya ketika suara itu berasal dari sebuah cardigan abu-abu yang tersampir pada kursi di dekat meja belajar tua. Ia menurunkan kakinya hingga menyentuh lantai. Dengan langkah terhuyung, ia berjalan ke arah meja belajar lalu merogoh ponsel di dalam saku cardigannya. Matanya membelalak ketika mendapati nama 'Kim Junmyeon Sajangnim' tertera disana. Ia berdehem pelan kemudian menyentuh layar ponsel untuk menjawab panggilannya.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Tentu saja. Nanti malam aku akan datang."
"..."
"Aku? Gwaencahana. Wae?"
"..."
"Ne. Algesseumnida." Ia memutus panggilannya kemudian mendesah pelan. Padahal Luhan masih merindukan Sehun dan ingin tetap tinggal disini untuk beberapa lama. Namun ia sudah ada janji malam ini dengan beberapa client dan juga para pemegang saham. Ia tak mungin membatalkan janjinya begitu saja mengingat pertemuan nanti malam tak bisa disebut sebagai dinner biasa. Ada beberapa hal penting yang harus mereka bicarakan menyangkut masa depan perusahaan.
"Hyung, sarapannya sudah siap." Suara Sehun yang tiba-tiba terdengar seperti alarm nyaring membuatnya terkesiap kaget. Ia menatap ke arah pintu dan mendapati pria tinggi itu tengah melongokkan kepalanya.
"Sehun-ah~"
"Ne?"
"Sepertinya aku harus kembali ke Seoul sekarang."
"Ne?" matanya membulat kaget. Kondisi Luhan masih belum stabil dan ia masih butuh istirahat agar tubuhnya kembali fit seperti semula. Jika pagi ini ia harus menyetir hingga ke Seoul, kondisi tubuhnya pasti akan kembali membruk ketika sampai disana.
"Tapi Hyung, kau baru sembuh. Bahkan demammu baru turun tadi malam. Andwae! Kau tak boleh pergi!" Sehun yang semula hanya menampakkan setengah tubuhnya kepada Luhan, kini membuka pintu dengan lebar hingga seluruh tubuhnya bisa terlihat jelas.
"Gomawo karena sudah mengkhawatirkanku. Tapi nanti malam aku ada acara yang tak mungkin bisa ditinggalkan. Ini menyangkut perusahaan, Sehunnie." Ia menatap Sehun yang masih berdiri di ambang pintu. Kemudian sebuah anggukan samar terlihat beberapa kali.
"O-oh, begitu. Ya sudah. Tapi.. bisakah kau tak menyetir sendiri? Lebih baik naik bus saja atau—"
"Ani. Gwaenchana. Karena aku tidak akan pulang sendirian. Kau juga ikut bersamaku."
"Mwo??"
oOo
Jongin sudah bersiap untuk menjalani hukumannya hari ini. Rasa lelah kemarin masih belum hilang dari tubuhnya. Bermain dengan anak kecil, yang terhitung bukan hanya 1 atau 2 orang, bahkan berjumlah puluhan, membuatnya begitu lelah setengah mati. Namun menurutnya mereka tidak terlalu buruk. Ia merasa dirinya aneh karena menurutnya bermain bersama mereka justru membuat semua beban pikiran hilang begitu saja. Mereka terlihat begitu polos dan juga tulus. Tidak ada kebohongan ataupun kebencian walaupun takdir baik tak berpihak kepada mereka. Orangtua tak tahu diri yang bahkan tega menelantarkan anak-anaknya yang kemudian tumbuh tanpa kasih sayang dari mereka. Lambat laun Jongin mengerti apa itu arti kehidupan dari anak-anak malang itu meskipun ia belum terlalu memikirkannya secara mendalam.
Jongin menuruni anak tangga dengan terburu. Ia sudah berjanji untuk datang pukul 8 dan berniat membelikan mereka beberapa snack karena anak kecil terlihat senang ketika mereka memakan makanan seperti itu. Senyuman tak biasa tersungging di bibirnya. Namun perlahan senyuman itu luntur ketika ia mendengar percakapan privat antara ayahnya dan juga salah satu anak buahnya di ruangan kerja Junmyeon. Pintunya terbuka lebar hingga Jongin samar-samar bisa mendengar suara mereka dari luar. Ia menghentikan langkahnya lalu sedikit menguping dari balik dinding mengenai pembicaraan mencurigakan menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan Sehun, Luhan, foto dan—
"Mwo? Sehun?" ia semakin mempertajam pendengarannya. Ia yakin tak salah dengar. Mereka tengah membicarakan Sehun dan juga Luhan. Jongin semakin mendekatkan tubuhnya ke arah pintu.
"Sedang apa mereka disana?" suara lembut Junmyeon yang terdengar tegas membuat pria berjaket hitam yang tengah duduk di hadapannya mengeluarkan lagi beberapa lembar foto dari sebuah amplop besar berwarna coklat.
"Mereka mengunjungi keluarga Sehun. Namun Tuan Muda Lu datang menyusul dan baru sampai kemarin pagi. Dan—" pria itu menjeda kalimatnya. Junmyeon mengerutkan dahinya bingung.
"Dan?"
"Tuan Muda tiba-tiba pingsan ketika Sehun datang menemuinya."
"MWO? Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?" Junmyeon terlihat panik dan juga khawatir. Luhan yang kemarin menghilang seharian kini dikabarkan sakit dan masih belum ada kepastian lagi mengenai kabar tentangnya.
"Mungkin dia baik-baik saja. Jwesonghamnida. Saya tidak bisa mengikuti mereka lagi karena seseorang mencurigai saya kemarin. Ia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh terhadap saya."
"Seseorang?"
"Ne. Seorang gadis yang sepertinya mengenali Sehun."
Kriing.. Kriiing..
Dering ponsel Jongin yang terdengar klasik benar-benar merusak suasana pagi itu. Ia sendiri bahkan lupa untuk memasang silent mode ketika tengah menguping pembicaraan orang lain secara diam-diam. Sebelum ayahnya menghentikannya dengan memberondongi pertanyaan yang macam-macam, ia segera melarikan diri keluar rumah dan melompat ke dalam mobil dengan sopir yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Kita pergi sekarang Tuan Muda?" pertanyaan sopirnya membuatnya mengangguk cepat. Ponselnya masih terus berdering.
"Jangan lupa mampir di supermarket. Aku ingin membeli sesuatu." Perintahnya seraya mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Nama Chanyeol membuatnya muak. Chanyeol yang tak biasanya menelepon, kini tiba-tiba muncul di layar ponselnya. Ia mengernyitkan dahinya kemudian segera mereject panggilan Chanyeol tanpa merasa bersalah sedikitpun. Matanya menatap keluar kaca sambil menopang dagunya.
'Jadi Sehun tak datang karena ia pulang ke desanya? Bersama Luhan Hyung? Kenapa ia tak mengatakannya padaku?' Jongin bermonolog di dalam hati. Belum sempat rasa kesalnya mereda, ponsenya kembali berdering.
"Aisshhh! Apa sih maunya?" ia mengangkatnya dengan kesal. Pasalnya gara-gara Chanyeol, Jongin harus ketahuan tengah menguping pembicaraan ayahnya dan juga anak buahnya.
"YA!" bentaknya nyaring yang jauh dari kesan menyapa secara baik-baik. Chanyeol di ujung line sana segera menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Apa-apaan kau?!" semburnya tak kalah nyaring. Suara bassnya benar-benar menggetarkan gendang telinga Jongin dengan kasar.
"Gara-gara kau aku jadi ketahuan, idiot! Jika saat pulang nanti Abeoji mengomeliku, maka kau harus bertanggungjawab!"
"Mwo? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan sekarang! Kau masih dimana huh? Bukankah sudah kubilang jika kau harus datang setengah jam lebih awal? Dimana kau letakkan telingamu?!"
"Di bokongmu! Jangan bawel, dasar tiang listrik idiot! Aku akan segera sampai 20 menit lagi! Dan tidak ada protes!" ia menutup telepon seenaknya sambil mendengus kesal.
"Ishh tidak Sehun, si tiang listrik idiot, Abeoji, Luhan Hyung, kenapa semuanya benar-benar menyebalkan!" ia membanting ponselnya pada jok disampingnya.
"Ada masalah, Tuan Muda?" ujar suara di depannya. Jongin meliriknya melalui kaca.
"Ani. Jalankan saja mobilnya lebih cepat. Aku sudah terlambat."
"Algesseumnida."
oOo
"Apa dia sudah lama menguping pembicaraan kita?" Junmyeon menatap kepergian Jongin yang begitu cepat. Ia melirik anak buahnya yang sudah bersiap untuk pergi.
"Saya rasa Tuan Muda tidak lama berdiri disana. Ia tak mungkin mendengar percakapan kita." Ujarnya meyakinkan meskipun Junmyeon sedikit ragu.
"Baiklah. Kau boleh pergi sekarang." Ujarnya seraya melepas kacamatanya dan pria berjaket hitam itu membungkukkan tubuhnya kemudian segera keluar dari ruangannya. Junmyeon kembali mengamati beberapa lembar foto diatas mejanya. Hubungan mereka memang terlihat tidak biasa. Tatapan mata Luhan terhadap Sehun membuatnya berspekulasi lain. Bukan sekedar teman biasa yang saling mengkhawatirkan satu sama lain. Namun tatapan itu—
"Kau tidak boleh mempermalukan keluarga kita, Luhan." Gumamnya pelan kemudian segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Tuan Park, kau tidak lupa kan untuk membawa putrimu nanti malam? Pastikan ia berdandan secantik mungkin demi anakku." Senyuman malaikat itu tercetak jelas di bibirnya. Ia meyakinkan dirinya bahwa semua sikap dan keputusan yang sudah diambil olehnya bukanlah rencana jahat. Ini demi kebaikan Luhan, image keluarga mereka, dan juga untuk kebaikan perusahaan.
"..."
"Tentu saja. Aku menjaminnya. Luhan akan jatuh cinta pada putrimu. Dan perjodohan ini tidak boleh ditunda lagi."
oOo
Sehun tak memulai pembicaraan sejak tadi. Ia hanya akan berbicara ketika Luhan bertanya padanya. Namun kembali terdiam ketika sudah tak ada lagi topik yang harus dibicarakan.
"Kau sakit?" tiba-tiba pertanyaan Luhan membuatnya melirik pria mungil itu yang kini tengah fokus menyetir. Sehun sedikit khawatir namun otak keras kepalanya tak bisa dihentikan.
"Aku? Bukannya kau yang sakit? Gwaenchana Hyung. Aku hanya sedikit mual jika terlalu banyak bicara." Ia mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang terkesan dipaksakan. Luhan tersenyum hambar dengan sikapnya.
"Mian..." lagi-lagi ucapan maaf yang entah sudah terlontar untuk yang ke berapa kalinya dari mulut Luhan. Sehun meliriknya sekilas kemudian tersenyum hambar.
"Aniyo. Kau tak perlu meminta maaf lagi." Dan setelahnya mereka kembali tenggelam di dalam pikiran masing-masing. Tak ada yang kembali memulai pembicaraan hingga Sehun terlelap di dalam tidurnya.
oOo
"Haaahh, ini benar-benar melelahkaaaaan!" Jongin merebahkan tubuhnya di atas rerumputan di bawah pohon rindang di kebun belakang panti asuhan. Chanyeol ikut merebahkan tubuh tingginya disamping Jongin. Udara disana benar-benar terasa sejuk meskipun matahari bersinar dengan teriknya. Keberadaan danau buatan dengan air yang begitu jernih membuat pemandangan terlihat menyegarkan mata. Mereka menghela nafas dalam-dalam untuk mengambil oksigen sebanyak mungkin. Anak-anak itu seolah tak memiliki limit energi dan selalu tercharge kembali dalam keadaan apapun. Mereka terlalu energik dan bersemangat sementara Chanyeol maupun Jongin tak memiliki energi cukup banyak untuk menghadapi mereka. Untung saja waktu istirahat datang begitu cepat. Mungkin saja ini pengaruh karena mereka terlalu menikmati waktu bermain bersama mereka.
"Aisshh tubuhku rasanya remuk! Hukuman ini lebih kejam dari apapun! Kenapa pria tua itu benar-benar tega memperlakukan kita?!" protes Chanyeol dengan suaranya yang lantang.
"Ssssh! Idiot, jika nada bicaramu seperti itu mereka bisa mendengarnya! Kau tidak mau kan mereka sakit hati gara-gara ucapan bodohmu itu?" Jongin memukul kepala Chanyeol tanpa perasaan.
"YA! Kau tak perlu menyentuhku satu inci pun! Dan lagi, kau yakin dengan ucapanmu? Kenapa kau berbicara seperti itu? Bukankah sejak awal kau yang menolak untuk datang kesini?" Chanyeol membetulkan posisinya. Ia kini terduduk, memperhatikan Jongin yang masih terlentang dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.
"Ini tidak terlalu buruk. Dan lagi, aku masih punya hati malaikat dan ingin berubah pikiran. Tidak seperti kau! Perebut kekasih orang lain." Jongin menggumamkan kalimat terakhirnya dengan suara pelan namun masih dapat terdengar oleh pria disampingnya. Chanyeol membulatkan matanya kemudian menatapnya dengan intens.
"Jongin—"
"Ya ya ya, aku tak ingin membahasnya lagi. Lupakan." Ia ikut terduduk kemudian seketika berdiri. Berjalan ke arah danau lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh air yang terasa begitu dingin ketika fluida itu menyentuh permukaan kulitnya.
"Jangan pernah menyakitinya ataupun membuatnya menangis! Aku tidak akan pernah membiarkannya!" Nada bicaranya terdengar angkuh. Chanyeol di belakangnya tak menyahut. Rasa bersalah itu selalu muncul.
"Ya! Jawab aku! Kau tuli? Jika kau tidak berjanji, maka aku akan kembali merebutnya darimu!"
Sebut Jongin malaikat karena terlalu baik pada orang yang sudah merebut orang yang dicintainya. Namun bukan itu alasan sebenarnya. Awalnya ia memang tak rela. Namun melihat Kyungsoo yang terlihat bahagia bersama Chanyeol membuatnya berubah pikiran. Ini bukan sikap pasrah atau apapun. Jongin tak akan pernah memberikan apa yang ia miliki pada orang lain jika ia tak mau melakukannya. Hanya saja ia memiliki alasan lain untuk melakukannya. Ia menyimpan perasaan aneh untuk orang lain. Untuk Sehun—
"MWO?"Tiba-tiba Jongin berteriak tak jelas. chanyeol mengerutkan dahinya saat melihat Jongin yang tengah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kau kenapa?"
"ANIYO! Jangan sebut nama Sehun di depanku!" ia memegangi rambutnya yang sudah terlihat berantakan.
"Apa? Aku tak berkata apapun! Kau salah dengar hah? AH!" Chanyeol segera berjalan mendekat ke arah Jongin. Ia menyipitkan matanya lalu menatap Jongin lekat-lekat. Tatapan tajamnya seolah menghujam Jongin dan meminta sebuah pernyataan keluar dari mulutnya.
"Jangan bilang kau—menyukainya?" ujar Chanyeol skeptis. Jongin membelalak dan dengan cepat menoleh ke arah Chanyeol yang tengah memandangnya curiga. Ia menggelengkan kepalanya dramatis.
"Ma—maldo andwae—"
oOo
"Aku menyukainya?"
Bunyi hewan malam yang berkeliaran menjadi latar suara yang terasa menyejukkan. Dedaunan yang tersentuh angin menimbulkan nyanyian halus dengan gemerisiknya yang terdengar lembut. Jongin yang tengah merebahkan tubuhnya pada kursi kayu di balkon kamar hanya mampu menghela nafas. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Terlalu sulit untuk menentukan apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan padaku? Aisshhh!" ia mengusek kepalanya kesal. Kemudian kembali terdiam sambil menyaksikan jutaan bintang yang terlihat berkilauan. Ia memang tak salah memilih tempat favoritnya. Entah kenapa bintang terlihat lebih terang jika dilihat dari balkon kamarnya. Begitu jernih dan terasa dekat.
Satu bintang favoritnya bersinar paling terang diantara bintang-bintang lainnya. Entah bagaimana caranya ia tahu bahwa itu adalah bintang favoritnya. Jongin menatapnya cukup lama kemudian memajukan bibirnya kesal.
"Eomma, kau sedang menertawakanku eoh? Kenapa kau tampak senang melihatku seperti ini?" ia melipat tangannya di depan dada. Menatap tajam bintang itu lalu kembali mengacak rambutnya frustasi.
"Aaaargh!"
Tok Tok Tok
Suara ketukan pada pintu membuatnya menghentikan teriakannya. Ia menoleh sekilas pada daun pintu kemudian kembali pada posisi awalnya. Ia sudah tahu siapa yang datang. Maid yang akan menyuruhnya untuk segera bersiap karena sebentar lagi mereka harus segera pergi ke acara dinner bersama ayahnya, Luhan, dan para pemegang saham. Jongin terlalu malas untuk ikut hadir bersama mereka. Ia bisa membayangkan bagaimana membosankannya suasana disana. Bahkan ketika makan pun yang mereka bicarakan hanya seputar saham dan perusahaan.
Cklek
Pintu terbuka dengan lebar ketika Jongin tak juga merespon ketukan tersebut. Ia segera menoleh dan hendak membentak maid yang sudah lancang memasuki kamarnya ketika ia sedang tak mau diganggu. Seharusnya tadi ia mengunci pintu dengan rapat. Namun rupanya bukan maid yang datang membujuknya. Junmyeon sendiri yang turun tangan dengan penampilan yang terlihat perfect dan sudah siap untuk pergi.
"Kau tak akan ikut?" suara Junmyeon membuatnya segera beranjak dari duduknya. Ia berdiri berhadapan dengan pria itu yang kini tengah menatapnya tajam—meminta penjelasan.
"Tidak. Aku benar-benar lelah." Jawabnya datar membuat Junmyeon mendengus pelan.
"Kau lelah karena terlalu banyak membuang waktumu!"
"Apa maksudmu? Aku tak pernah membuang waktuku yang berharga, Kim Sajangnim. Setidaknya waktuku benar-benar kugunakan untuk membahagiakan orang lain." Matanya tampak berkilat penuh amarah. Junmyeon selalu saja menyalahkannya. Semua yang Jongin lakukan harus selalu sesuai dengan keinginannya.
"Terserah kau. Sayang sekali jika kau tak ikut bersama kami malam ini. Karena kau akan melewatkan acara penting untuk Hyungmu."
"Acara penting? Maksudmu Hyung akan menjadi pewaris tunggal Kim dan Lu Coorporation lalu aku hanya akan menjadi anak tak berguna dan diusir dari keluarga ini karena aku tak memiliki kemampuan apapun, begitu? Tidak seperti Luhan Hyung yang cerdas dan penurut bahkan pintar memanfaatkan perasaan orang lain hanya untuk kepentingannya sendiri?" nada suara Jongin mulai meninggi. Ia sudah tak tahan dengan sikap ayahnya.
"Apa maksudmu?" Junmyeon mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Lupakan. Aku tak akan pergi. Selamat menikmati makan malam kalian tanpaku. Bukankah itu tidak terlalu buruk?" ia tersenyum sinis. Kemudian segera berbalik dan berjalan kembali menuju balkon.
"Baiklah jika kau tak ingin menjadi saksi kebahagiaan Hyungmu karena perjodohannya malam ini. Aku pergi." Terdengar suada debaman pintu setelahnya. Jongin masih mematung di tempatnya. Ia tengah memastikan bahwa telinganya tak salah dengar.
"Perjodohan? Hyung?" dahinya berkerut tak mengerti. Kemudian sebuah nama terlintas di benaknya.
"Sehun? Maldo andwae—" ia bergegas mencari ponselnya kemudian segera mencari nama Sehun di phonebooknya. Namun sialnya malah mesin kotak suara yang menjawabnya. Jongin menggigit bibir bawahnya bingung. Ayahnya tak mungkin menjodohkan Luhan dengan Sehun. Bahkan Junmyeon tak tahu jika Luhan menyukai pria. Dan jika pun tahu ia pasti akan mengambil tindakan untuk memisahkan mereka. Jongin tampak berpikir keras hingga sesuatu terlintas di pikirannya.
"Apa jangan-jangan Abeoji tahu jika Luhan Hyung dan Sehun memiliki hubungan?" ia membulatkan matanya mengingat pembicaraan ayahnya dan anak buahnya tadi pagi. Ia mengikuti Sehun dan Luhan hingga sejauh itu lalu mengambil foto mereka dan menunjukkannya kepada Junmyeon. Hal itu sudah cukup membuatnya yakin jika Junmyeon memang mengetahui hubungan terlarang mereka. Ia harus segera memberitahu Sehun sebelum pria itu salah paham dan menuduhnya berbicara yang macam-macam kepada Junmyeon. Terlebih ancaman Jongin kemarin malam pasti akan memperkuat tuduhan Sehun terhadapnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera menyambar jaketnya dan berjalan dengan tergesa keluar kamarnya.
oOo
Suara musik klasik terdengar di seluruh penjuru tempat. Sebuah ruangan VVIP tampak dipenuhi orang-orang dengan gadget masing-masing di depan mereka. Paduan musik klasik dan juga desain interior ruangan membuat suasana mewah begitu kentara membuat. Acara sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu. Luhan kini harus terjebak diantara pembicaraan Junmyeon dan seorang direktur perusahaan lain. Ia tak masalah jika yang dibicarakan memang seputar pekerjaan ataupun perusahaan, namun entah kenapa kedua pria yang duduk di sampingnya itu justru malah membicarakan seorang gadis yang bahkan Luhan tak tahu.
"Manager Lu pasti akan jatuh cinta padanya." Suara khas pria tua disertai dengan tawa ringan setelahnya.
"Tentu saja. Apalagi jika dia cantik, pintar, dan baik, anak ini pasti semakin menyukainya." Junmyeon menanggapi. Ia menyikut lengan Luhan yang hanya menautkan alisnya bingung.
"Jwesonghamnida, maksud Anda—"
"Ah, aku belum memberitahumu?" Sebelum Luhan menyelesaikan alimatnya, Junmyeon sudah memotongnya. Luhan menggeleng pelan, menunggu penjelasan dari ayah angkatnya itu.
"Sebenarnya ayahmu sudah menyetujui perjodohan ini. Hanya saja aku baru bisa memberitahumu sekarang." Tutur Junmyeon seolah tanpa beban. Ia tak memperhatikan perubahan raut wajah Luhan yang seketika mengerutkan dahinya bingung.
"Mwo? Perjodohan?" ia masih mencoba menjaga sikapnya di depan semua orang. Terlebih orang-orang yang hadir malam itu adalah orang-orang terhormat dan juga berkelas.
"Ne. sebentar lagi calon istrimu akan segera datang. Dia adalah putri kedua dari Presdir Park." Senyum Junmyeon yang seperti malaikat sama sekali tak terlihat seperti itu di mata Luhan. Senyum itu memiliki arti yang bahkan ia tak tahu.
"Sajangnim, apa maksud Anda? Kenapa Anda tidak memberitahu saya terlebih dahulu?" Luhan berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap terlihat biasa. Junmyeon menatapnya tajam seolah tatapan itu menyiratkan agar dia menjaga ucapannya.
"Luhan—" ia mendesis pelan.
"Sajangnim, seharusnya Anda meminta persetujuan saya terlebih dahulu mengenai perjodohan ini. Anda tidak bisa—"
"Luhan!"
"Sepertinya Manager Lu memang harus segera bertemu dengan putri saya. Ah! Itu dia!" mata mereka kini tertuju pada sosok seorang gadis berbalut dress biru muda dengan rambut kecoklatan yang tergerai indah. Ia terlihat anggun dengan wajah cantik terpoles make up tipis sehingga kecantikannya terlihat begitu natural.
"Annyeonghaseyo. Park Chorong imnida." ujar gadis itu dengan suara lembutnya seraya membungkuk dalam. Junmyeon menyunggingkan senyuman malaikatnya.
"Yeppeuda.. Duduklah." Ujarnya mempersilahkan. Gadis itu kembali membungkuk sopan kemudian menarik salah satu kursi di samping ayahnya. Luhan tak bergeming. Ia masih menatap mereka tajam kemudian melirik gadis cantik itu sekilas. Ia mengakuinya. Wanita itu begitu cantik dan juga anggun. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak ada satu inci pun dari bagian tubuhnya yang terlihat tidak sempurna. Namun baginya Sehun tak bisa digantikan oleh siapapun. Terlebih perjodohan ini tak seharusnya ada dalam kamusnya dan tak seharusnya ia menerimanaya.
"Bagaimana Lu? Dia cantik kan? Aku tak salah kan memilihkanmu calon istri dan juga menantu untukku?" ujar Junmyeon yang diikuti tawanya dan juga Presdir Park. Gadis bernama Chorong itu tersenyum malu-malu. Ia tertunduk dengan wajah yang memerah. Luhan masih menatapnya kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kuharap kita bisa menjadi keluarga." Presdir Park benar-benar banyak berharap. Dan setelahnya pembicaraan mengenai kebiasaan anak-anak mereka terekspose secara jelas. Luhan mendesah lelah. Ia masih memperhatikan Chorong yang bahkan terlihat senang dan tanpa beban sedikitpun malam itu. Menanggapi pertanyaan Junmyeon dengan mulusnya dan sesekali ia pun mencuri pandang ke arah Luhan. Dan Luhan tak habis pikir. Apakah gadis itu benar-benar menerima perjodohan ini begitu saja? Luhan tenggelam di dalam pikirannya yang begitu rumit. Jika Junmyeon tetap memaksa untuk menjodohkannya, maka salah satu memang harus ia korbankan. Keluarganya atau—
Sehun.
oOo
Sudah satu jam Sehun menunggu. Ia masih menyesap coklat panas yang sejak tadi membasahi kerongkongannya. Diliriknya kembali jam digital pada ponsel yang sudah menunjukkan pukul 9 lewat.
"Ishhh kemana dia? Apa jangan-jangan ia sedang mengerjaiku? Bocah sialan!" Sehun mendengus pelan. Sudah berulang kali ia mengirimi pesan untuk Jongin, namun bocah itu tak kunjung membalasnya.
Drrrt.. Drrtt...
Ia dengan refleks mengecek ponselnya yang bergetar dan mendapati satu-satunya pesan masuk yang berasal dari Jongin.
'Kau yang dimana!'
"Mwo? Dia membentakku?!" Sehun melotot tak percaya. Segera saja tangannya mengetik pesan balasan dengan geram.
'Kau bercanda? Bahkan aku sudah menunggumu selama 1 jam di dekat Marionette!'
Sehun terus merutuk kesal. Namun setelah beberapa menit menunggu, Jongin tak kunjung membalasnya. Dan akhirnya ia beranjak dari duduknya lalu berjalan dengan terburu keluar cafe. Persetan dengan Jongin! Ia akan pulang dan meninggalkannya.
"Oh Sehun!" sebuah suara memanggilnya. Seseorang di dalam mobil hitam yang terparkir di sebrang jalan tiba-tiba saja keluar lalu berlari menyebrangi jalan.
"Ya!" Sehun membelalakkan matanya kaget. Segera saja ia menghampiri bocah itu yang tampak terengah.
"Kemana saja hah?" Sehun menatapnya kesal dan Jongin tak kalah menatapnya nyalang.
"Apa yang kau lakukan disini? Siapa yang menyuruhmu datang kesini? Aku sudah mencarimu ke seluruh tempat kenapa kau baru membalasku jika kau berada disini, hah?!"
Sehun mengerutkan dahinya. Kenapa Jongin terlihat begitu khawatir?
"Bukankah kau yang menyuruhku datang kesini? Kau bilang jika malam ini ada acara makan malam bersama client ayahmu dan—"
"Pria itu—" Jongin memijit pelipisnya pelan. Ini pasti perbuatan ayahnya yang sengaja ingin menjebak Sehun agar ia bisa memergoki Luhan bersama dengan wanita pilihan ayahnya itu disini.
"Wae?" Sehun yang terlihat tak tahu apa-apa membuat Jongin merasa kasihan padanya. Ia harus segera membawa Sehun pergi dari sini sebelum Luhan dan ayahnya muncul lalu melihat mereka.
"Kajja! Kita pergi dari sini. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Jongin segera berbalik untuk menyebrangi jalan.
"Luhan Hyung?" suara Sehun yang menyebut nama Luhan membuatnya segera berbalik. Ia mendapati Sehun yang tengah menatap ke arah lain dengan tatapan yang sulit diartikan. Jongin mengikuti arah pandangnya dan mendapati kakak angkatnya itu tengah membukakan pintu mobil miliknya untuk seorang gadis.
"Kajja! Kita pergi!" Jongin tanpa ingin berkomentar apapun segera menarik Sehun yang terlihat pasrah saja ketika tarikan kuat itu membuatnya harus sedikit tersungkur ke depan lalu kakinya mengikuti kemana Jongin melangkah. Mereka tak tahu jika Luhan menangkap keberadaan keduanya. Ia hanya diam mematung menatap kepergian Jongin dan juga Sehun yang sudah menghilang di dalam mobil hitam Jongin. Jantung Luhan terasa mencelos. Apa Sehun melihatnya?
oOo
Sehun masih memainkan kedua kakinya, menggoyangkannya seolah tak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Matanya masih tetap betah memandangi rumput dibawahnya.
"Perjodohan?" ia tersenyum hambar. Lalu matanya menatap ke arah Jongin—menuntut sebuah penjelasan.
"Kau tahu jika orang-orang seperti mereka akan melakukan apapun hanya untuk kepentingan bisnis." Jongin mendengus kasar. Keduanya kembali terdiam di bawah hamparan langit luas dengan jutaan bintang menaburinya. Terduduk diatas kursi kayu di atas bukit yang terletak di belakang sekolah Jongin. Entah kenapa tempat ini tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Jongin memang selalu menghabiskan waktunya disini ketika ia bosan. Namun ini pertama kalinya ia datang ke tempat ini di malam hari, ketika semua bintang bisa terlihat begitu jelas dan terang.
"Lalu ia menyetujuinya begitu saja." Senyum manis itu terlihat menakutkan di mata Jongin. Senyum yang terlalu dipaksakan bahkan tak pantas ia tunjukkan.
"Dengar—"
"..."
"Ini tak seperti yang kau bayangkan. Aku hanya tak ingin diantara kalian terjadi kesalahpahaman, maksudku—ketika aku mengatakan jika hubungan kalian akan kulaporkan kepada Abeoji, aku hanya bercanda, OK? Aku sama sekali tak membocorkan satu kalimat pun, bahkan satu huruf pun kepada mereka. Untuk apa aku melakukan sesuatu yang sama sekali tidak memberi keuntungan untukku. Tapi— entah kenapa sepertinya Abeoji memang sudah terlebih dahulu mencurigai kalian. Kau tahu jika kalian berdua pergi ke desamu, salah satu anak buah Abeoji mengikuti kalian hingga kesana lalu ia membawa foto-foto berisi kalian berdua." ujar Jongin panjang lebar. Sehun benar-benar tak menyangka dengan sikap Junmyeon yang ia anggap baik hati memiliki sisi yang seperti itu. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya kemudian menghela nafasnya pelan.
"Aku tahu. Aku memang tak pantas untuknya. Bahkan Lay Hyung lebih pantas ia cintai—"
"Ssshhh! Aku tidak ingin membahas mereka, OK?" Jongin menutup kedua telinganya rapat-rapat.
"Ya!" Sehun menarik tangannya namun Jongin masih menahannya dengan kuat. Ia hanya memutar bola matanya kesal kemudian membiarkan Jongin bersikap seperti anak kecil.
"Aisshh menyebalkan." Ia mendelik sebal kemudian menatap hamparan langit luas yang terlihat terang oleh taburan bintang. Keindahannya mengosongkan ingatannya. Bintang-bintang itu seolah menyedot kenangan buruk lalu membuangnya ke lubang hitam di luar angkasa. Bibirnya sedikit terangkat. Ia ingat sesuatu yang pernah ia ceritakan kepada anak kecil yang ia temui di dalam kereta. Ia tersenyum geli, membayangkan Jongin yang angkuh mengobrol dengan salah satu bintang yang ia anggap ibunya. Ia tak mengerti bagaimana ide spontan itu bisa muncul hanya untuk membohongi seorang anak kecil yang tak menuruti ucapan ibunya.
"Kenapa kau tertawa, eoh? Neo micheosseo?" Jongin menarik kupluk hoodie Sehun hingga menutupi matanya.
"Ya! Kau benar-benar tak sopan! Aku ini lebih tua darimu!" ia membalas Jongin dengan sebuah pukulan di belakang kepalanya.
"Sakit, bodoh!" ringisnya pelan. Ia terus merutuk kemudian mendongak.
"Eomma, anakmu tengah dianiaya! Kenapa kau malah tersenyum bahagia seperti itu, eoh?" Jongin tiba-tiba berteriak membuat Sehun terkejut lalu segera menoleh ke arahnya. Ia menatapnya heran kemudian mengikuti kemana Jongin mata Jongin mengarah.
"Eomma?" Sehun menggumamkan kata itu kemudian kembali menoleh ke arah Jongin.
"Dia Eommaku. Eomma, si bodoh ini adalah Oh Sehun. Orang paling menyedihkan yang pernah kutemui."
"Apa kau bilang? Paling menyedihkan?" ia melotot tajam kemudian sebuah tawa keras keluar dari mulut Jongin. Sehun terdiam, tenggelam di dalam pikirannya.
'Jadi cerita yang kukarang benar-benar nyata? Bagaimana mungkin?' ucapnya dalam hati. Ia masih tak percaya dengan tingkat keakuratan ceritanya dan juga realita sebenarnya. Jongin menganggap sebuah bintang adalah Eommanya dan itu sesuai dengan cerita ngawur yang Sehun buat. Ia tetap tak percaya. Apakah ini—telepati?
"Ya ya ya!" Jongin mengibaskan tangannya di depan wajah Sehun. Ia terkesiap kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kau terpesona padaku? Akan kutunjukkan sesuatu yang akan membuatmu semakin terpesona." Jongin tiba-tiba berdiri di depan Sehun hingga membuat pria berkulit pucat itu menautkan kedua alisnya.
"Apa yang kau lakukan?" dan setelah Sehun bertanya seperti itu, Jongin tiba-tiba menyanyi dengan suara yang dibuat-buat diselingi dengan tarian penuh aegyo yang membuat Sehun tersungkur dari kursinya. Ia tertawa begitu keras hingga berguling di rerumputan. Meskipun terkesan garing dan tak lucu, entah kenapa Jongin terlihat seperti melawak di depannya. Melihat Sehun yang bersikap seperti itu, ia menghentikan kegiatan memalukan itu. Meredam wajah merahnya di balik syal kemudian duduk di samping Sehun yang masih tak mau diam. Wajahnya sudah memerah karena tertawa.
"Puas?" ujar Jongin sambil memperhatikan Sehun yang menurutnya keterlaluan. Namun ada perasaan lega ketika ia tak menunjukkan wajah sedihnya setelah kejadian tadi. Jongin tersenyum lembut kemudian ikut merebahkan tubuhnya disamping Sehun.
"Geumane, babo!" protesnya ketika Sehun tak juga menghentikan tawanya.
"Hahahahahah! Kau tahu? Tadi kau terlihat bodoh!" ia menutupi wajahnya untuk meredam suara yang ditimbulkan. Jongin memanyunkan bibirnya sebal.
"Tahu seperti itu aku tidak akan melakukannya!"
"Memangnya apa yang kau lakukan? Kau benar-benar terlihat bodoh dan juga jelek!" Sehun menjulurkan lidahnya dan kali ini ia berhasil menghentikan tawanya. Sama-sama memposisikan tubuhnya ke arah langit dan menatap kreasi Tuhan di langit sana dengan mata berbinar.
"Untunglah kau masih bisa tertawa. Kukira Luhan Hyung sudah merenggut kebahagiaanmu."gumam Jongin pelan. Meskipun tak menunjukkan emosi apapun, Sehun bisa menangkap sesuatu dari ucapannya. Ia merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Jadi kau menghiburku? Maaf, tapi aku tidak akan berterimakasih." Ia tertawa ringan kemudian kembali menatap bintang. Jongin meliriknya kemudian terkesiap. Wajah Sehun terlihat begitu—cantik. Ia menatapnya lama dan menikmati setiap detak jantung yang berirama cepat.
"Yeppeuda.." bisiknya pelan. Sehun menoleh dan mendapati Jongin yang tengah menatapnya dari jarak yang cukup dekat.
"N—ne?"
"A—ah maksudku bintangnya. Ne, bintangnya indah. Machi?" suaranya terdengar gugup kemudian ia kembali terduduk. Berusaha menetralisir detak jantungnya yang semakin cepat.
"Eomoni, Jongin selalu membullyku. Ia tak pernah mau memanggilku Hyung bahkan selalu mengatakan jika aku bodoh. Padahal profesor saja tak pernah memberiku nilai selain A. Apanya yang terlihat bodoh?" pengaduan Sehun membuat Jongin tersenyum kecil.
"Kau ingin kupanggil Hyung? Benar-benar ingin kupanggil seperti itu?" tanya Jongin meyakinkan. Sehun dengan cepat beringsut duduk dan menatap Jongin serius.
"Tentu saja!" ucapnya tegas dan nyaring.
"Sayangnya aku tidak akan pernah melakukannya. Kau terlalu kekanakkan untuk kupanggil Hyung."
"Aishhh Kim Jongin— Terserah kau." Ia kemudian berdiri lalu berjalan mendekati tepi bukit yang lumayan curam. Matanya membelalak ketika melihat pemandangan dibawah sana. Ia terpesona.
"Jongin, jinjja daebak! Jongin ppali! Kemarilah!" Bahkan Sehun tak bisa melepaskan pandangannya. Seoul dari atas sini terlihat begitu indah. Lampu-lampu dibawah sana tampak berkerlap kerlip seperti bintang diatas sana. Bahkan lampu-lampu di sekitar Sungai Han terlihat dua kali lebih indah jika dilihat dari tempat ia berdiri.
"Kim Jongin!" Sehun semakin meninggikan suaranya saat Jongin tak juga menghampirinya. Namun ketika ia hendak berbalik, tiba-tiba sesuatu menubruk punggungnya. Dan sepasang lengan melingkar di bahunya. Ia membelalak. Jongin memeluknya dari belakang. Bahkan deru nafas Jongin terasa hangat di telinganya.
"Oh Sehun—" ketika namanya terucap dari bibir Jongin, jantungnya berdetak semakin cepat. Sehun menelan salivanya dengan susah payah. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang ia rasakan terhadap Jongin? Kemudian ia merasa pelukan Jongin semakin erat di tubuhnya hingga ia harus mengepalkan kedua tangannya dengan kuat untuk menahan perasaan aneh yang meluap.
"Aku tak akan membiarkan Luhan Hyung atau siapapun menyakitimu lagi."
To be Continued
.
.
.
Balesin review dulu deh hehe...
LayChen Love Love 2: *balas peluk* hehhee.. saya aja yg bikin ff udh agak lupa kemaren jalan ceritanya kaya gimana gara2 hiatus, apalagi kmu yg baca hahaha.. ok makasih yaa ditunggu aja.
daddykaimommysehun: Luhan sih sadar. Cuma ada pihak lain yang bakalan ngancurin hubungan mereka (lagi) hahahahah *ketawa setan* Nah makannya doain aja hubungan HunHan ancur biar KaiHun shipper gak di-PHP-in lagi hehe.. Makasih udh review^^
ayanesakura chan: ayo KaiHun Shipper! Kai butuh dukungan kalian! Ketik KAI(spasi)FIGHTING kirim ke ponsel kalian masing2 hahahah.. makasih udh review.. Yang pasti Kai bakalan jadi pahlawan(?) buat Sehun disini haha
HeavenEarth: duhh maaf yaa update-nya gak tahu waktu kkkkk~ jangan sampe jawaban di soal uasnya 'KaiHun, KaiHun, KaiHun' aja.. Udah bereskah uasnya? Hehe.. makasih reviewnya..
KaiHunnieEXO: si Jongin gak marah kok, Cuma gertak aja. Makasih udh review..
AnjarW: btw baru ngeuh tahu gak klo ini penokohannya emg kaya The Heirs. Jonginnya Kim Tan, LuHannya Kim Won xD Cuma disini mereka ngerebutin satu orang aja hahah. Awalnya gak kepikiran bikin karakter Junmyeon agak culas kaya gtu wkwkwwk.. Cuma krn tuntutan anak2nya yg gak tahu diri jd kasian aja dia dbkin sabar terus hahahaha.. Sekali2 bikin Junmyeon gak menderita boleh dong. Kasian dia di dunia nyata aja harus banyak2 ngelus dada gara2 kelakuan member xD makasih udh review..
Mr. Jongin albino: hahahah makasih..
HyuRin: maaf ya updatenya lama.. emg saya pernah nulis jongin di kelas bawah ya? *cek chapter 9* klo yg kelas tambahan itu gara2 dia udh kelas 3. Dia dsini ceritanya emg agak pinter terus krn bakalan jd pewaris, makannya Junmyeon terus kasih tutor pribadi. Hehe.. makasih buat reviewnya..
LM90: maaf klo lama. Saya lg beresin skripsi soalnya.. Sampe bulan Juni bakalan telat update. Tp klo ada waktu luang saya pasti update secepatnya demi kalian hehe.. Dan tentunya KaiHun momentnya ditunggu aja..
Riyoung17: udh dilanjuuut hehehe
datekazukio: saya biasanya klo demam dikompres pake air es kok.. justru buat nurunin suhunya.. klo ngompres memar baru pake air anget hehehe.. ini udh dilanjut^^
nin nina: maaf klo telat hehe.. junmyeon awalnya emg biasa2 aja sama sehun. Bahkan dia berani byar mahal buat jd tutornya jongin. Cuma dia gak suka klo sehun punya hubungan khusus sama anak2nya. Mungkin ntar pun hubungan sehun sama kai bakalan sedikit diganggu sama si grandpa satu ini xD
rainrhainyrianarhianie: Nado bogoshipeoooo... ditunggu aja..
sayakanoicinoe: okkk
jung yeojin: maaf yaa tp ini bakal jd kaihun hehehe
Oh Kin Ah: hahaha.. makasih udh review
nuranibyun: makin complicated dan makin pengen cepet2 diberesin xD Cuma jatohnya jadi bingung harus ngakhirin kaya gmna. Hehe
BaixianGurls: Ini bakalan berakhir KaiHun kok. Bukan unas tapi mau sidang skripsi hahahah.. Duhh saya terlalu tua buat ikutan ujian nasional xD
Oh Dhan Mi: Ahh jinjja? Heheh gomawoo... Tapi miaaan ini kayanya gak akan berakhir HanHun xD
Chanchanhunhun: tp saya bakal misahin HanHun. Jd gimana dong?
Summersehun: mm gimana yaa...
jung oh jung: beluum. Ini baru mau sidang up minggu depan haha.. doain yaaa muah muah kkk
Ms. Jigong: sehun gak mau sama siapa2 hahah
Xxx: hahahah
CY: saya jg ngarepnya KaiHun. Setuju?
Guest: soo nya kan sama ryeowook #eh
oh sehrin: Luhan buat saya yaa.. thx
: ini lama gak? Hehe
BlueKim: udaahh
realyounges529: ini udaah
ohsehun79: asiiik ada yg nungguin saya hahah
bbuingbbuingaegyo: andai yang jd sehun itu akuu :3 LOL
Keepbeef Chiken Chubu: kacaang... kacaaang...
.
.
Btw maaf ya klo part ini kurang greget.. Ini ff bentar lagi tamat. Gak akan lebih dari chapter 15 kok.. Udah bosen ya? hahah.. Oh iya buat yang suka baca ff straight english, saya bikin di aff. Klo mau link-nya ntar saya kasih deh di bio hohoho.. Btw mind to review? Salam Overdose(?)! ㅋㅋㅋㅋㅋSo much surprises in April!
