Reaksi Fugaku? Biasa aja. Apa? Iya kok, emang biasa aja. Ada yang nanya Kurama, ya? Dia ada kok, nih balik lagi. Naru emang selalu manis kan kalau depan Sasuke :3 Jiwa uke sejati wkwkwk.

Nee Shi-chan, kayaknya aku ingat adegan apa yang kamu tunggu. Dasar kamu, ya. Nih, silahkan dinikmati. Awas teriak-teriak sendiri di asrama :p

Makasih buat semua yang setia nungguin fic ini dan bahkan mampir ninggalin jejak di kotak review. Semoga ending nya ga mengecewakan.

Chapter 18!


Keenam pasang mata melemparkan pandangan mereka ke arah dua sosok yang baru saja memasuki ruang tengah kediaman Uchiha. Tiga dari enam pasang mata itu mendelik jahil dan seringai dari pemiliknya menghiasi wajah mereka.

"Hm, pantas saja berjam-jam tidak keluar, habis bersenang-senang rupanya." Itachi menyeruput tehnya dengan santai.

"Senang sekali aku mengikuti saranmu agar tidak langsung kembali ke kafe, Itachi. Akhirnya aku bisa menyaksikannya sendiri." Gaara melanjutkan menikmati kue yang disajikan oleh tuan rumah beberapa waktu tadi.

"Oh, anak muda jaman sekarang. Bahkan tidak bisa menunggu sampai malam hari rupanya." Mikoto menangkup wajahnya sendiri dan berakting malu-malu.

Dua orang dewasa lainnya hanya menggeleng melihat kejahilan dari ketiga orang tersebut. Mereka tidak habis pikir mengapa para orang dewasa ini masih bisa berkelakuan seperti anak kecil. Sedangkan satu-satunya anak kecil yang berada di ruangan itu hanya bisa memandang sekeliling tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mata besarnya lalu menangkap satu pemandangan dan dengan lugu mengomentarinya yang membuat ketiga orang dewasa tadi tertawa puas.

"Mama, kenapa ganti baju? Tadi sewaktu datang dengan Kurama pakai kimono. Lalu, kenapa rambut Mama basah? Papa Suke juga. Kalian habis main air ya? Baju Mama kebasahan makanya ganti?"

Jika komentar yang lainnya membuat Sasuke dan Naruto merah karena malu dan geram, maka komentar dari si kecil Kurama sudah membuat wajah mereka semakin memerah tak terkendali. Ekpresi mereka saat ini membuat yang lainnya semakin tidak bisa mengontrol tawa mereka. Kurama sendiri tidak mengerti apa yang salah dari pertanyaannya sehingga membuat kedua papanya dan juga neneknya sampai bereaksi seperti itu.

Ya memang, saat ini Naruto tidak lagi memakai kimononya. Suaminya sudah membuat pakaian itu tidak bisa dipakai lagi sehingga dia harus meminjam pakaian Sasuke. Untung saja Sasuke bisa menemukan ukuran yang pas untuk Naruto, walaupun terlihat sekali itu bukan bajunya.

Itachi menepuk kepala Kurama. "Kurama, kau memang anak kebanggaan Papa." Kurama tersenyum lebar karena disebut anak kebanggaan walau tidak mengerti mengapa bisa begitu. "Oi Sasuke, kali kau ingat semuanya kan? Kasian sekali Naru kalau lagi-lagi kau lupa dengan apa yang sudah kau lakukan padanya. Tidak adil walaupun dia sendiri menikmati prosesnya."

"Kakak!" Sasuke dan Naruto berteriak bersama atas pernyataan Itachi yang dikatakan ditengah-tengah tawanya.

Fugaku berdehem meminta perhatian mereka semua juga mencoba meredam kegilaan di rumahnya. "Semuanya, berhentilah menggoda Sasuke dan nak Naru. Ingat umur kalian, terutama kau sayang." Mata hitam kelamnya menatap tajam Mikoto yang masih berusaha untuk menghentikan tawanya. Istrinya ini memang jahil sekali, tidak pernah berubah sejak dulu. "Nak Naru, Sasuke, ayo kemari."

Masih dengan wajah yang merah, kedua pasangan suami-istri itu mendekat dan duduk bergabung bersama yang lainnya. Semuanya sedang duduk di lantai ruang tengah yang dilapisi karpet, kecuali Fugaku yang duduk di atas sofa bersama dengan cucunya. Setelah selesai makan siang di restoran. Itachi, Kyuubi dan Gaara segera pergi menyusul Sasuke kemari. Tidak lama kemudian muncul Fugaku dan Mikoto yang habis pulang dari mengantar Kurama ke toko untuk membeli beberapa cemilan. Sudah sekitar tiga jam mereka duduk sambil berbincang-bincang disana sampai akhirnya Sasuke dan Naruto keluar dari kamar mereka.

Ketika sudah dapat mendapatkan lagi kendali diri, Naruto tersadar akan sesuatu. Semua yang ada disini adalah mereka yang sudah tahu mengenai jati dirinya. Semua kecuali satu, Fugaku.

Naruto menatap ayah mertuanya sedikit gugup, dia tahu dai harus mengatakan sesuatu sekarang. Tangan Sasuke melingkar di pinggangnya dan merangkulnya memberikan pesan bahwa dia tidak sendiri. Naruto tersenyum dan sekali lagi menatap Fugaku, namun kali ini lebih mantap. "Ayah, ada yang ingin aku jelaskan."

Tangan Fugaku terangkat mengisyarakatkan agar semua diam. "Ayah tahu apa yang kau ingin kau katakan. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa, Ayah sudah tahu semuanya nak Naru."

Bukan hanya Naruto saja yang kaget mendengar pernyataan sang kepala keluarga Uchiha, semua yang ada disana ikut terkejut mendengar pengakuan Fugaku, kecuali Kurama yang tidak mengerti apa-apa dan Mikoto yang hanya tersenyum-senyum. "Sejak kapan?" Itachi bertanya.

"Sejak awal." Semua meneriakan ketidakpercayaan mereka. Fugaku dengan tenang melipat kedua tangannya dan menatap mereka semua. "Oh, ayolah. Kalian pikir aku ini siapa? Menurut kalian aku tidak akan mencari tahu terlebih dulu siapa yang akan menjadi pasangan anakku? Bahkan mungkin Ayah yang tahu lebih dulu bahwa Sasuke dan nak Naru saling membutuhkan."

Hening, itulah yang terjadi. Kedua putranya sadar bahwa selama ini mereka telah meremehkan seorang Fugaku. Seharusnya mereka ingat, walaubagaimana pun dia tetap seorang Uchiha. Uchiha selalu mengenal siapa lawan mereka sebelum terjun berperang, jika memang harus diibaratkan seperti itu. Sudah sewajarnya jika Fugaku mencari tahu secara detil tentang siapa itu Naruto dan juga keluarganya sebelum akhirnya berkunjung ke rumah mereka dan melamar Naruto untuk Sasuke. Mereka ternyata terlalu naif.

Suara cekikikan dari arah Mikoto memecah keheningan di ruangan tersebut. Fugaku menatap lembut istrinya lalu tersenyum. Mikoto membalas senyuman itu dan berkata, "Sudah kuduga ini semua rencanamu, sayang. Pantas saja kau tidak banyak bertanya mengenai semua hal yang terjadi belakangan ini."

"Eh? Jadi Ibu tidak tahu kalau Ayah tahu?"

Mikoto memalingkan wajahnya ke arah putra bungsunya. "Sasuke, ada hal yang tidak perlu dikatakan tapi kau sudah bisa menebaknya jika kalian sudah bersama-sama selama puluhan tahun. Nanti kau juga akan mengerti." Mikoto mengarahkan pandangannya pada Naruto. Sasuke ikut melirik sang istri yang duduk di sampingnya yang spontan ikut melihat sehingga mereka berdua saling bertatapan. Keduanya saling menawarkan senyuman, tentu dengan pengertian suatu saat mereka juga akan mengalami hal yang sama. Tidak perlu kata-kata, mereka bisa saling mengerti satu sama lain.

"Nak Naru." Semuanya kembali memberikan perhatian mereka kepada Fugaku. "Kau tidak perlu khawatir dengan apa yang Ayah pikirkan. Sejak awal Ayah sudah merestui hubungan kalian, jadi jalani saja hubungan kalian dengan baik."

"Terima kasih, Ayah."

"Tunggu sebentar." Semua mata menatap Itachi penasaran. "Apa itu artinya Ayah juga tau mengenai orientasi Sasuke?"

Untuk pertama kalinya semua orang disana menyaksikan seorang Fugaku Uchiha menyeringai puas. "Bukan hanya Sasuke. Ayah juga bisa menebak dengan jelas orientasi nak Naru dan juga kau Itachi." Itachi membelalakkan matanya atas pernyataan ini. "Ayah tahu betul anak-anak Ayah. Tidak perlu kaget begitu."

Naruto dan Gaara tertawa melihat ekspresi Itachi yang menurut mereka lucu. Tentu saja mereka tahu apa maksud tersembunyi dari perkataan Fugaku. Sasuke hanya bisa menaikan alis matanya tidak mengerti melihat sang istri dan sahabat berambut merahnya tertawa seperti itu. Orang yang menjadi bahan pembicaraan pun menunjukkan ekpresi yang tidak jauh berbeda dengan si bungsu Uchiha.

Itachi memukul punggung Gaara cukup keras menghentikan tawanya. "Aww! Kenapa kau memukulku, Itachi?" Sorot mata tajam Itachi mencoba menusuk kepala Gaara, seakan hanya dengan ditatap saja dia bisa membuat sebuah lubang disana. "Hei, bukan aku saja yang berpikiran begitu." Tapi Itachi tidak peduli dan terus menatap tajam Gaara.

Kyuubi yang sedari tadi diam akhirnya memutuskan untuk ikut bicara. Hanya saja dia tidak menyadari itu adalah sebuah kesalahan. "Sudahlah, Itachi. Kami semua disini tidak akan ada yang keberatan apapun orientasimu."

Naruto berdecak sambil menggelengkan kepala. "Kyuubi, kau ini tidak mengerti apa-apa. Tentu saja kami tidak keberatan, tapi kau yang menjadi masalah."

"Hah? Kenapa aku? Bukankah sudah kubilang aku tidak keberatan. Saat kubilang kami, itu termasuk aku."

Naruto melepaskan diri dari rangkulan Sasuke dan mendekati sepupunya. Kedua tangannya menepuk bahu Kyuubi dan menatapnya serius. "Kyuu, apa kau sama sekali tidak mengerti? Sudah berapa lama kau mengenalku dan Gaara tapi tetap tidak mengerti juga? Maksudnya, Kakak itu ada perasa…" Belum dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah lengan menariknya di leher dan menyeretnya mundur menjauh dari Kyuubi. "Kakak, lepaskan! Aku tidak bisa bernapas uhuk uhuk."

"Apa yang mau kau katakan barusan pada Kyuubi, hm? Kau cari mati, hm?" Nada bicaranya dingin seperti biasanya jika sedang mengancam orang. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Naruto jika saja Sasuke tidak segera menyelamatkan dari siksaan setan yang sedang mengamuk. Oke, perumpaan yang berlebihan. "Maaf, Sasuke. Aku lupa dia istrimu. Hampir saja aku mencekiknya sampai mati." Walau berkata begitu tidak ada penyesalan dari nada suaranya.

Perhatian Sasuke lebih terfokus pada Naruto yang sedang terbatuk-batuk daripada kata-kata kakaknya. Dia tidak mau kehilangan orang tercintanya yang baru saja dia dapatkan. Kekhawatiran yang tidak perlu, seperti Itachi mau benar-benar membunuh Naruto saja.

Tidak jauh dari mereka Gaara yang juga sempat mendapatkan kemarahan si sulung Uchiha menatap kasihan sahabatnya. "Kau berlebihan, Itachi."

Mata hitam Itachi mendelik pada Gaara. "Seperti kau akan diam saja jika dia membicarakanmu dengan Neji."

Dengan cepat Gaara membuang muka dan mencoba memperlihatkan wajah kesal, walau warna kemerahan yang muncul di pipinya tidak begitu membantu. "Hubunganku dengan Neji adalah urusan kami. Kalian tidak perlu ikut campur."

Tsundere, Itachi pikir. Memang akan sedikit menjadi masalah jika dia meneruskan menggoda Gaara. Entah apa yang akan pria dengan mata hijau itu lakukan padanya mengingat kemampuannya dalam beladiri jauh melampaui Itachi. Itachi akui Gaara adalah orang yang cukup berbahaya untuk diajak main-main, sama seperti dirinya dan juga ayahnya.

Mengalihkan pandangannya kembali pada kedua adiknya, Itachi hanya dapat memutar mata bosan. Bisa-bisanya mereka berdua itu di saat seperti ini. "Ayolah. Ingat disini ada Kurama. Jika kalian memang masih ingin bermesraan, kembalilah ke kamar."

Beberapa saat lalu setelah Sasuke menyelamatkan Naruto, dia segera memastikan istrinya baik-baik saja dan juga membantu agar Naruto bisa kembali mendapatkan napasnya. Naruto mengucapkan beberapa makian yang menyerukan kekesalannya pada Itachi yang diterima dengan keterkejutan oleh Sasuke. Baru kali ini dia mendengar Naruto berbicara seperti ini. Dari pengakuan Gaara dan Kyuubi tadi siang memang begitulah perangai sang Uzumaki yang sebenarnya, tapi mendengarnya langsung seperti ini Sasuke masih sulit untuk percaya.

Mata biru Naruto menatap wajah tampan suaminya yang masih menunjukkan ekpresi terkejut. "Kau kenapa, Sasuke?" Disadarkan oleh pertanyaan tersebut, Sasuke mengendalikan keterkejutannya dan tersenyum.

"Tidak ada. Aku hanya sadar ternyata kau begitu manis."

Pipi tan Naruto bersemu merah dan dia berpaling dari mata hitam Sasuke yang sedang menatapnya dengan senyuman. "Kau tahu aku ini laki-laki, bukan. Aku tidak manis."

"Tentu saja aku tahu kau laki-laki, tapi kau tetap manis." Biasanya dia tidak suka dibilang manis, tapi ketika Sasuke yang mengatakannya dia tidak bisa marah dan hanya tersipu. Tangan putih Sasuke menarik dagu Naruto agar dapat melihat wajah sang istri dengan lebih jelas. Naruto masih tidak mau melihat mata Sasuke karena malu, namun akhirnya dia tertarik dan perlahan mensejajarkan pandangannya dengan onyx Sasuke.

Warna gelap yang begitu dalam itu selalu dapat menghanyutkan dirinya. Ditambah lagi dengan sentuhan tangan Sasuke yang lembut di pipinya membuatnya semakin tak bisa melepaskan diri dari pesona pria dihadapannya. Keduanya saling tenggelam dalam tatapan masing-masing dan hanyut dalam dunia mereka sendiri. Disaat itulah Itachi menginterupsi. Dengan refleks mereka saling menjauhkan diri dan menyembunyikan wajah mereka yang merona. Terdengar suara kikikan yang mereka percaya datang dari Mikoto, Kyuubi dan Gaara. Fugaku hanya tersenyum melihat tingkah para anak muda di hadapannya dengan Kurama yang masih duduk manis di pangkuannya, memperhatikan semuanya dengan penuh ketertarikan.

"Padahal biarkan saja, Itachi. Kita bisa pergi diam-diam. Mungkin yang tadi itu bagi mereka belum cukup." Gaara tidak memperdulikan reaksi orang-orang dan terus saja bicara dengan raut wajahnya yang seakan tidak peduli. Dia juga tidak menyadari bahaya yang semakin mendekat berkat kata-katanya. "Lagipula sekarang kan Sasuke sudah tahu kalau Naru itu laki-laki, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Dan si bodoh itu juga sudah operasi, jadi staminanya yang sekarang pasti sanggup untkh..kh..lepas.. lepas bodoh!"

Dari belakang Naruto mencekik Gaara agar sahabatnya itu diam dan berhenti mengucapkan hal bodoh. Semuanya kaget melihat reaksi Naruto ini dan mencoba membantu Gaara agar lepas dari cengkraman tangan si pirang. "Kau masih ingat dengan kekuatan tanganku kan, Gaara? Ini bukan pertama kalinya aku mencekikmu, bukan?" Ya, hal seperti ini memang sering terjadi dulu saat mereka masih SMA. Itu karena Gaara senang sekali menggoda Naruto yang terkenal dingin padahal hangat di dalam. Walau begitu, dia tidak bisa menyangkal kalau cekikan Naruto memang sesuatu yang tidak ingin diingatnya.

"Akh, lepas Naru! Oke, oke, aku mengalah! Maafkan aku, Uzumaki-sama."

"Naru, lepaskan sahabatmu! Kau mau membunuhnya?"

"Nak Naru, hentikan! Ayo lepaskan nak Gaara!"

"Oh, tidak! Jangan ini lagi! Naru, cepat lepaskan!"

Semua ikut panik apalagi melihat kilat mata Naruto yang seakan benar-benar berniat mencekik Gaara sampai mati. Untung saja Gaara masih mengingat kata kuncinya, cengkraman di lehernya pun perlahan terlepas. Gaara terbatuk-batuk dan merangkak menjauh dari Naruto. "Ingatkan aku bahwa Naruto yang dulu telah kembali. Aku belum mau mati muda."

Naruto mendelik pada Gaara. "Jangan kau pikir ini sudah berakhir." Dia kembali menerjang sang sahabat dengan kecepatan penuh sehingga yang lain tidak sempat bereaksi untuk mencegahnya. Gaara terjatuh terlentang dengan Naruto yang duduk diperutnya. Semua sudah khawatir dengan apa yang akan dilakukan pemuda itu ketika tiba-tiba tawa terdengar dari mulut Gaara.

Untuk beberapa saat mereka semua bingung sampai akhirnya sadar bahwa Naruto sedang menggelitiki Gaara. Kecemasan pun hilang dan berganti dengan suasana yang lebih hangat. Tapi lama-kelamaan melihat Gaara yang tersengal-sengal karena Naruto tidak hentinya menggelitiki sahabatnya itu, Sasuke merasa kasihan juga. "Naru, sudah. Wajah Gaara sudah hampir sama dengan warna rambutnya. Dia hampir kehabisan napas."

Jari-jari Naruto masih menempel di tubuh Gaara tapi gerakannya terhenti. Dia melirik sang suami yang mencoba menjadi sang penyelamat yang hanya akan menjadi korban dari perbuatannya sendiri. Naruto bangkit dan meninggalkan Gaara yang tergeletak lemas untuk menghampiri Sasuke dengan seringai jahil di wajahnya. "Oh Sasuke, kau baik sekali mau menggantikan Gaara. Ayo kemari, jari-jariku sudah tidak sabar ingin menyentuhmu."

"Naru, apa yang akan kau lakukan?" Sasuke mendadak panik melihat reaksi sang istri dan mencoba kabur. "Naru, hentikan!" Tidak ada yang bisa menghentikannya. Detik selanjutnya di ruang tengah keluarga Uchiha terdengar suara tawa Sasuke yang menjadi korban kejahilan sang istri.

"Oh, ya ampun." Mikoto ikut tertawa melihat kelakuan putra dan menantunya. Mendengar tawa Sasuke menjadi keceriaan sendiri baginya. Dia bahagia bisa menyaksikan hari ini.

Kurama melompat dari pangkuan Fugaku dan wajahnya terlihat antusias sekali melihat permainan Mama dan Papanya. "Kurama juga ingin ikutan!" Mendengar kata-kata putra semata wayangnya, Kyuubi menjadi pucat. Apalagi ketika melihat delik jahil di mata biru Kurama yang mendekat ke arahnya. Anak ini kenapa selalu saja mengikuti apapun yang dilakukan Mama tersayang, Kyuubi menyesalkannya.

Meski Kurama baru berumur tujuh tahun bukan berarti gelitikannya bisa diremehkan dan Kyuubi tahu betul itu. Karenanya dia hampir saja lari ketika sadar bahwa Kurama ternyata berlari melewatinya. Begitu kagetnya dia saat melihat yang menjadi target putranya adalah Papanya yang satu lagi. Dia pun tertawa melihat Itachi yang tidak siap diserang dan sekarang harus tergeletak di lantai digelitiki oleh putranya sendiri.

Tidak terima dikalahkan oleh anak kecil meski itu anaknya sendiri, Itachi membalik keadaan dan ganti menggelitiki Kurama. Dan ternyata itu juga terjadi pada sang adik yang sekarang sedang membalas dendam menggelitiki Naruto. Melihat kekacauan yang terjadi di hadapannya Fugaku tertawa. Tawanya begitu lepas, hal yang jarang sekali disaksikan oleh siapapun. Jika saja keadaannya berbeda, mereka semua pasti akan kaget dan bahkan meragukan pendengaran mereka sendiri mendengar suara tawa Fugaku. Ruangan itupun dihiasi oleh tawa dari semuanya dengan alasan yang berbeda tentunya. Hanya satu orang saja yang terdiam. Gaara yang masih tergeletak di lantai belum begitu mendapatkan kembali napasnya dan sedang meratapi nasib. 'Aku ingin segera kembali ke kafe,' pikirnya dalam hati.


Jemari mereka saling bertautan memberikan kehangatan dan juga keyakinan. Sepasang mata onyx menatap dua bola mata biru dihadapannya lalu tersenyum sebelum mengangguk dan menekan bel di hadapan mereka. Suara langkah kaki dari dalam rumah terdengar dan seseorang datang membukakan pintu. Sang pemilik rumah begitu kaget melihat siapa tamu mereka di waktu sepagi ini.

"Naru, Sasuke? Ada apa kemari?"

"Ayah, apa Ibu ada? Aku ingin bicara pada kalian berdua."

Minato mengerutkan dahi mendengar penyataan Sasuke, tapi lalu mempersilahkan mereka masuk sebelum menduga-duga lebih lanjut. Kushina yang sedang ada di kamar saat bel berbunyi keluar dan terkejut melihat putranya datang bersama dengan menantunya. Keterkejutan itu hanya bertahan sebentar lalu berganti dengan senyuman. "Sepertinya ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan hingga datang sepagi ini kemari."

Keempatnya duduk bersama di sofa ruang tamu dan suasananya pun langsung terasa canggung. Mengingat interaksi terakhir antara anak dan ibunya itu, agak sulit untuk mengharapkan suasanya lebih ceria. Dengan masih menggenggam tangan Naruto, Sasuke membuka pembicaraan. "Ayah, Ibu, aku kemari ingin melamar Naru."

Bukan hanya Kushina dan Minato yang menatap Sasuke heran, Naruto pun tidak mengerti apa maksud perkataan sang Uchiha. "Sasuke, kalian kan sudah suami-istri. Apa perlunya kau melamar lagi Naru kami?" Saat meminta Naruto untuk datang bersamanya hari ini menemui orang tuanya, Sasuke memang tidak mengatakan apa tujuannya. Walau begitu, Naruto tidak menyangka hal ini yang akan keluar dari mulutnya.

"Aku mengerti kalian pasti bingung." Sasuke menatap Naruto sekilas lalu kembali fokus pada kedua mertuanya. "Dulu yang datang melamar kemari adalah Ayah dan saat itu aku tidak tahu siapa Naru. Bahkan aku tidak peduli siapa dia dan menikahinya begitu saja, tapi kali ini berbeda. Aku mencintai Naru dan aku ingin meminta restu kalian."

Tatapannya begitu yakin membuat kedua orang tua di hadapannya sedikit gugup. "Sasuke, kami sudah merestui kalian. Aku senang mendengar kau mencintai Naru."

"Kalian tidak mengerti." Nada suaranya semakin serius. "Saat ini yang kulamar adalah Naruto Namikaze, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun dan sangat kucintai. Aku ingin menjadikannya pendamping hidupku tidak peduli gendernya apa dan bagaimana sifatnya. Hanya dia yang kuinginkan dan aku ingin restu dari kalian. Tolong percayakan putra kalian padaku, aku berjanji akan menjaga dan membuatnya bahagia." Sasuke membungkuk dalam posisi duduknya sedalam yang dia bisa.

Keduanya saling bertatapan tidak menyangka akan menghadapi hal seperti ini. Kushina menatap putranya untuk memastikan bahwa yang mereka dengar saat ini adalah benar hanya untuk mendapati sang putra tersayang sedang menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah menyaingi warna rambut sang ibu. Sebuah senyuman kembali menghiasi wajah Kushina, hanya Sasuke yang bisa membuat putranya bereaksi seperti ini.

"Kami percayakan Naru kami padamu, Sasuke. Bahagiakanlah dia."

Sasuke mengangkat wajahnya dan ikut tersenyum. "Tentu." Dia mendekatkan tangan Naruto yang masih digenggamnya ke wajahnya lalu mengecupnya lembut. Wajah Naruto semakin tidak bisa terkontrol suhu dan warnanya, dia terlihat begitu manis bagi mereka semua.

"Sasuke, sudah hentikan. Kau membuatku malu di depan orang tuaku sendiri."

Kata-kata yang tidak mereka bayangkan akan keluar dari mulut seorang Naruto. "Hoo, jadi sekarang kau mengenal kata malu? Ternyata pengaruh Sasuke begitu besar terhadapmu, Naruku sayang. Tahu begini dari dulu saja Ibu menikahkanmu dengan Sasuke."

Minato sangat mengenal gelagat istrinya ini, dia tahu keributan tidak akan terhindarkan tapi tidak ada salahnya mencoba. "Kushina sayang, jangan memancing amarah putramu sendiri. Kau tahu bagaima…"

"Ibu! Jangan bicara sembarangan. Dan berhenti menyebutku Naru Ibu. Aku bukan anak kecil lagi." Jika sudah begini tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Minato menatap Sasuke dengan tatapan seakan meminta maaf atas kelakuan istri dan anaknya yang dibalas dengan senyuman oleh sang menantu. Sasuke justru senang melihat keduanya sudah bisa berinteraksi lagi meskipun dengan cara mereka sendiri.

"Kau baru menikah beberapa bulan saja, itupun resminya baru sebentar. Jangan berlagak sok dewasa. Kau itu selamanya putra Ibu."

"Ibu bilang begitu hanya karena Ibu kesepian, bukan? Bilang saja Ibu tidak bisa hidup tanpa aku."

"Siapa yang memberikanmu rupa seperti ini sampai Sasuke mau melirikmu? Seharusnya kau bersyukur kau mewarisi kecantikan Ibu."

"Sasuke menyukaiku apa adanya. Kecantikan Ibu itu hanya memberikanku masalah. Gara-gara Ibu aku harus berhadapan dengan orang-orang yang selalu salah sangka dengan genderku."

"Ha, kau mengakui kalau Ibu cantik. Tapi karena kesalahpahaman itu juga kau jadi menikah, kan? Dan pada akhirnya kau tetap menjalani peran sebagai wanita. Buktinya kau menjadi istri dan bahkan sudah kehilangan keperja.."

"Aaaaaah!" Naruto bangkit sambil berteriak untuk memotong perkataan ibunya. "Dari mana Ibu dengar soal itu?" Jari telunjuknya dengan tidak sopan menunjuk ke arah Kushina.

Kushina menyeringai, pertanda buruk bagi semuanya. "Dari Mikoto." Minato menepuk dahinya dan menggeleng. Apa istrinya ini tidak tahu batas?

Kali ini yang terlonjak bukan hanya Naruto, tapi juga Sasuke. "Dari Ibu?!" Kushina terlihat semakin puas melihat reaksi mereka berdua. Entah apa saja yang sudah Mikoto ceritakan pada Kushina. Apa ibu-ibu itu memang suka sekali menggosip mengenai putra mereka sendiri?

"Ribut sekali di hari sepagi ini. Saat mendengar suaramu Naru, kupikir kau bertengkar lagi dengan Bibi." Suara Kyuubi baru saja muncul dari dalam rumah menyita perhatian mereka. Di belakangnya si kecil Kurama menenteng tas sekolahnya dan berlari menuju mereka begitu melihat sosok Mama dan Papanya.

"Mama! Papa Suke!" Sasuke memeluk si kecil, menggendongnya lalu mendudukannya dalam pangkuannya. Naruto masih berdiri dan lebih memilih menatap Kyuubi tajam daripada menjawabnya.

"Mereka memang bertengkar, Kyuubi. Apa kau tidak lihat asap di kepala Naru dan seringai di wajah Bibimu?" Masih duduk santai di sofa, Minato menjawab pertanyaan Kyuubi yang tidak dijawab oleh yang dituju.

Kyuubi memperhatikan situasi yang dimaksudkan. "Ah, Paman benar."

"Diam kau, Kyuubi," jawab Naruto ketus. Mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, Kyuubi tidak ingin mencari masalah dengan sepupunya yang sedang emosi. Sasuke menarik tangan Naruto agar dia kembali ikut duduk bersamanya dan Kurama. Naruto membiarkan dirinya terduduk walau tatapannya masih saja tajam.

Si kecil Kurama dengan wajah berseri-seri menatap pasangan muda Uchiha di depannya. "Mama dan Papa kemari mau jemput Kurama, ya?" Kurama sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya juga tas yang sudah bertengger di punggungnya.

Suara manis dan serak dari anaknya tercinta mampu mengalihkan perhatian Naruto dan sejenak melupakan kekesalannya pada sang ibu. "Kurama sudah siap mau berangkat sekolah, ya? Mau kami antar?" Nada suaranya berubah drastis dan sebuah senyuman terulas di bibirnya, seakan-akan beberapa detik lalu tidak ada pertengkaran yang terjadi disana. Tangan Sasuke yang tidak sedang memeluk Kurama meraih tangan Naruto dan menggenggamnya. Keduanya saling menatap dan saling menawarkan senyuman. Bagi semua yang melihat dari sebrang ruangan, mereka bertiga terlihat seperti sebuah keluarga yang utuh dan harmonis. Yang mampu membuat Naruto seperti ini memang hanya Sasuke dan Kurama pikir mereka.

"Benar? Mama dan Papa mau antar Kurama ke sekolah? Yay! Ayah, boleh kan Kurama pergi dengan Mama dan Papa?"

Siapa yang bisa menolak mata biru itu, apalagi ketika menatapnya dengan penuh harapan seperti ini. "Tentu saja."

Setelah mendapat ijin dari ayahnya, Kurama segera turun dari pangkuan Sasuke dan menarik mereka berdua dengan penuh semangat agar segera berangkat. Ditarik seperti itu, Sasuke dan Naruto tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan si kecil. Sambil berjalan ke pintu depan mereka pamit untuk pergi. Sasuke juga meminta maaf karena harus pergi seperti ini dan juga membuat keributan sepagi ini. Minato tidak mempermasalahkan itu dan mengatakan bahwa hal seperti ini sudah biasa terjadi di keluarga mereka.

"Aku justru senang bisa melihat putraku bersemangat lagi seperti ini. Terima kasih sudah mengembalikan kebahagiaan juga harapan dalam hidup Naru."

Sasuke berhenti sejenak dan berhadapan dengan ayah mertuanya. "Aku juga senang bisa bertemu dengannya. Dia juga kebahagiaanku, Ayah. Aku janji tidak akan mengecewakan kalian semua, terutama Naru."

"Aku tahu."

"Ayah, berhenti menahan Sasuke! Kami harus segera berangkat atau Kurama akan terlambat!" Naruto yang sudah ada di dekat pintu gerbang bersama dengan putranya berteriak saat melihat Sasuke masih saja mengobrol dengan ayahnya di depan pintu rumah.

Kedua pria itu melirik ke asal suara dan kembali saling menatap. "Lebih baik kau segera pergi sebelum anakku kehilangan kesabarannya. Mampirlah lagi lain kali kemari."

"Baiklah Ayah, kami pergi dulu. Tentu kami akan mampir sekali-sekali."

Sasuke pamit untuk terakhir kalinya lalu menyusul istri dan anaknya (#kyaa). Mereka bertiga pun pergi dengan saling bergandengan tangan, tentu Kurama berjalan di antara mama dan papanya. Benar-benar terllihat manis.

Sekolah Kurama tidak terlalu jauh dari sana, hanya perlu berjalan sekitar lima belas menit dan gerbang sekolah pun sudah dapat terlihat. Selama perjalanan kesana mereka membicarakan banyak hal yang kebanyakan adalah pertanyaan yang diajukan oleh si kecil. Mereka juga bahkan dipaksa membicarakan rencana pergi ke taman bermain yang pernah dijanjikan keduanya pada Kurama.

"Jadi, minggu depan ya? Pokoknya semuanya harus ikut."

"Iya, sayang."

"Nanti kita main sepuasnya, Kurama ingin coba semua permainannya."

"Iya, boleh."

"Ah, jangan lupa bawa makanan. Mama nanti masak dulu dengan Nenek, jadi kita bisa makan bersama disana. Masak yang banyak hehe."

"Iya, iya. Cerewet sekali anakku ini." Kurama tertawa geli ditemani oleh Sasuke. Gerbang sekolah sudah terlihat dan sudah waktunya bagi Kurama untuk memulai kegiatannya di sekolah. "Belajar yang rajin, ya. Anak Mama harus jadi yang terbaik." Naruto mengelus rambut merah Kurama.

"Oke. Serahakan pada Kurama. Kurama pasti bisa jadi yang terbaik." Kurama mengangkat ibu jarinya dan tersenyum lebar. Naruto meniru gerakan si kecil dan di saat itu Sasuke berharap dia membawa kamera agar dapat mengabadikan moment manis ini.

Kurama berlari memasuki halaman sekolah sambil melambaikan tangannya. Setelah sosok kecil itu menghilang masuk ke dalam gedung, Sasuke dan Naruto berbalik untuk berjalan pulang. Hari ini Sasuke mengambil cuti dan semuanya diserahkan kepada Itachi juga Fugaku yang menawarkan diri untuk membantu. Anggap saja sebagai hadiah permintaan maaf karena sudah menyembunyikan semuanya dari mereka katanya. Walau tidak begitu percaya dengan alasannya Sasuke dan Itachi menerimanya dengan senang hati.

Rencananya setelah mengunjungi Minato dan Kushina mereka akan pergi ke apartemen Naruto untuk membereskan barang agar Naruto dapat segera kembali tinggal bersama di kediaman Uchiha. Mungkin mereka juga akan mampir ke kafe dan menyapa Neji, baru setelah semuanya selesai kembali ke rumah untuk makan malam.

Saat mereka tiba di apartemen dan hanya berdua saja, tiba-tiba Sasuke memeluk Naruto dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di pundak sang istri. "Sasuke, kau kenapa? Kita harus segera mengepak barang-barang. Kalau tidak, mungkin akan baru beres besok." Seperti tidak mendengarkan kata-kata Naruto, Sasuke malah mengeratkan pelukannya. "Sasuke?"

"Aku tidak suka." Tidak mengerti apa yang dimaksud sang suami, Naruto hanya mengangkat alis. Sasuke mengangkat wajahnya lalu menempelkan dagunya di pundak Naruto agar suaranya dapat terdengar lebih jelas. "Padahal kau sudah berpakaian seperti ini tapi para pria itu masih saja melirikmu dan bahkan menggodamu. Bagaimana jadinya kalau kau memakai kimonomu lagi?"

Dalam perjalanan kemari tadi memang ada kejadian seperti itu. Padahal Sasuke hanya meninggalkannya sebentar untuk membeli minum, saat dia kembali dia melihat seorang pria tengah menggoda istrinya. Terlebih lagi pria itu masih mengira Naruto itu wanita, dia hanya berpikir Naruto itu tomboy karena cara berpakaiannya. Naruto terkikik geli mendengar pernyataan Sasuke. "Kau cemburu? Bukan salahku kalau mereka masih menganggapku wanita walau sudah berpakaian seperti ini. Apa kau mau aku memotong rambutku juga agar tidak ada salah paham lagi? Aku juga tidak akan mengenakan kimono lagi jika itu maumu." Naruto sendiri juga tidak suka dengan kesalahpahaman itu. Apalagi itu membuat Sasuke tidak nyaman, dia rela melakukan apa saja agar suaminya tenang.

"Tidak, aku suka dengan rambut panjangmu. Aku juga suka melihatmu berkimono, kau terlihat lebih manis. Lagipula aku jadi bisa pamer pada mereka semua. Aku bisa berkata, 'Hei lihat, ini istriku. Dia manis dan cantik, bukan?'. Jika ada yang mengganggumu aku hanya perlu mengusir mereka dan mengatakan kalau kau hanya milikku."

"Hm, posesif sekali."

"Hanya padamu."

Sebuah senyuman kembali merekah di bibir Naruto. "Itu artinya kau juga akan membuat beberapa hati para gadis hancur. Kau juga harus sadar bahwa mata bukan hanya terarah padaku tapi juga padamu."

"Bukan salahku kalau aku tampan. Dan itu resiko mereka sendiri karena sudah jatuh hati padaku."

Naruto kembali terkikik. "Aku lupa kalau kau ini narsis." Dia melepaskan pelukan Sasuke di pinggangnya dan berbalik agar dapat melihat langsung wajah tampan yang selalu dibanggakan si Uchiha bungsu ini. Tangan tan-nya mengelus wajah tampan Sasuke dan menghirup wangi dari tubuh sang suami. "Aku suka bau parfummu."

"Tentu saja. Kau yang membelikannya untukku." Ya, itu adalah kado kedua yang dibelikan Naruto untuk Sasuke. Ini adalah pertama kalinya Sasuke memakai parfum tersebut dan dia pun suka dengan wanginya. Sasuke mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir merah Naruto. "Sepertinya aku tidak akan bosan mengecupmu."

"Hm." Dia juga merasakan apa yang Sasuke rasakan. Dia tidak akan bosan dikecup dan dipeluk oleh oleh Sasuke. Sekali lagi mereka berbagi kehangatan dalam sebuah pelukan. "Aku juga tidak akan bosan hidup bersamamu. Asal jangan selingkuh saja."

Kali ini Sasuke yang terkikik. Sudah pasti dia tidak akan melakukannya. Naruto adalah satu-satunya yang dia inginkan, tidak akan dia tukarkan untuk apapun. "Aku mencintaimu, Naru."

Naruto mengeratkan pelukannya. "Aku juga mencintaimu, Sasuke."

Seperti sebuah janji, mereka berpegang pada apa yang diucapkan masing-masing dan mempercayainya. Pasangan Uchiha muda ini menjalani hari-hari mereka dengan dipenuhi cinta dan kasih sayang. Masalah tentu datang dan pergi, tapi itu tidak cukup untuk merusak keharmonisan mereka. Dan seperti yang pernah dikatakan Itachi sebelumnya, keluarga mereka telah menjadi utuh dan mereka semua bahagia.


Ceritanya nih mau ngasih 1 chapter tambahan yang isinya keributan(?) mereka pas main bareng di taman bermain. Tapi aku ga yakin bakal di post kapan karena lagi deket-deket mau UAS. Kalau mau nunggu nanti aku post, diusahain selambat-lambatnya pas chap terakhir komik Naruto deh.