Finally bisa buka ffn dan ini pun harus pake axis? What happened actually? Katanya ffn udh diblokir sama beberapa provider ya? Dan denger2 di cina ada author yg ditangkep gara2 nulis ff porn. OMG! Semoga aja ffn gak jadi diblokir:( Kan gak semua ff mngandung unsur porn. Dan ffn sama aff alesan saya online.. web2 itu menghibur saya sekali T_T Btw saya tiba2 update krn kemaren2 pas ultah Lulu tiba2 semanget nulis meskipun ditengah waktu yg mepet. My beloved Lulu emg selalu jd inspirasi dlm keadaan apapun.. Mudah2a M boys sampe selamat di USA. Happy reading!

.

.

It's Not All About Money Chapter 12

.

.

.

Mereka masih terdiam pada posisi yang sama. Telinga Sehun seperti ditulikan dari suara lain dan hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berguruh nyaring. Sorot mata yang semula terkejut, kini berubah meredup. Sementara Jongin sibuk mengartikan kekhawatiran seperti apa yang kini terus menghantui pikirannya. Ia tahu ini salah. Mencoba memprovokasi perasaan orang lain yang sama sekali tak ada hubungan dengannya. Bahkan kehidupannya pun bukanlah tanggung jawabnya. Ia bingung terhadap perasaannya sendiri. Namun kali ini keyakinan besar yang tiba-tiba muncul, membawa lengannya melingkar pada bahu yang terlihat rapuh di depannya.

"Kenapa kau berbicara seperti itu?" suara parau Sehun sedikitnya mencairkan suasana yang membeku diantara mereka. Ucapan Jongin yang terkesan tiba-tiba membuatnya tak bisa berpikir apa-apa, selain menganggap bocah tengil itu hanya main-main saja.

Perlahan tangan Jongin mengendur—meloloskan Sehun dari dekapannya. Bisa dilihat pria pucat itu bernafas lega dan dapat merasakan kembali udara segar di sekitarnya. Namun sebuah cengkraman pada lengan membuatnya harus kembali mengalami sedikit sesak nafas. Tangan Jongin memaksa Sehun untuk berbalik menghadap ke arahnya. Mata keduanya bertemu. Sehun mengerutkan dahinya bingung sementara Jongin menatapnya dalam hingga membuat Sehun seakan tersedot dan tenggelam di dalam onyx kelam itu.

"Aku berbicara seperti itu karena—" ia menggantungkan kalimatnya. Alasan apa yang harus ia gunakan? Mengatakan jika ia mencintainya? Tapi ini terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaan yang bahkan belum ia yakini 100%. Jongin masih harus menyelami perasaannya yang terkadang selalu merespon aneh semua tentang Oh Sehun. Suka ataupun cinta, ia belum tahu. Atau mungkin hanya sebatas perasan simpatik melihat orang lain yang dipermainkan perasaannya oleh orang yang dikenalnya.

Sehun memiringkan kepalanya ketika Jongin hanya menatapnya blank. Kemudian tangannya terangkat dan melambai-lambai di depan wajah Jongin hingga membawa kembali kesadaran bocah kekanakkan itu yang sempat melayang entah kemana.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau kira aku hantu? Menyebalkan!" dan sebuah pukulan mendarat di kepalanya. Jongin meringis pelan, merasa dipermainkan.

"Ya Oh Sehun! Aku serius! Iishh, kenapa kau memukul kepalaku! Ini sakit , tahu!" protesnya seraya mengusap kepalanya yang terasa berdenyut. Sehun mengangkat bahunya lalu meninggalkannya begitu saja dan duduk di tempat semula. Ia menekuk kakinya sebatas dada lalu memeluknya dengan erat. Kepalanya mendongak dan matanya tampak menerawang. Sebuah senyuman tipis terlihat dengan jelas di bibir Sehun. Jongin masih berdiri disana—menatapnya.

"Sampai kapan kau akan berdiri disana? Kemarilah!" ujar Sehun meskipun tak melihat ke arahnya. Jongin perlahan mendekat, lalu mendaratkan bokongnya di samping Sehun.

"Oh Sehun, kepalaku benar-benar sakit!" Jongin memajukan bibirnya sambil menatap Sehun sebal. Hazel kecoklatan itu meliriknya sekilas kemudian sebuah tawa renyah terdengar di telinga Jongin.

"Maaf! Aku hanya terbawa suasana."

"Suasana apa maksudmu? Aku bahkan mencoba menciptakan suasana yang err—bersahabat, tapi kau malah memukul kepalaku!" ia terus merutuk meskipun sakit di kepalanya kini sudah tak terasa lagi. Jongin memandang Sehun selama 2 detik dengan sinis, kemudian membuang wajahnya ke arah lain.

"Aigo! Benar-benar cerewet! Mana yang sakit?" tangan Sehun mengusek rambut Jongin pelan sehingga membuatnya lebih berantakan. Jujur saja ia tak menyangka jika Sehun akan melakukannya. Lagi-lagi ia hanya blank menatap Sehun yang kini tengah bermain-main dengan kepalanya. Ia menyukainya. Pemandangan seperti ini, ia menyukainya. Sehun yang terlihat ceria dan juga tak menunjukkan sedikit pun rasa sakit hatinya. Tapi ia tahu jika Sehun hanya berpura-pura saja. Ia tengah menutupi perasaannya yang memang tak seharusnya ia tunjukkan di depan Jongin.

Onyx hitam itu masih menatap Sehun lekat. Ketika bibirnya sedikit terbuka untuk mengatakan sesuatu, Sehun menangkap tatapan aneh Jongin padanya lalu menghentikan kegiatannya.

"Mwo?"

"Kau ingin tahu kenapa aku berbicara seperti itu?" ia membetulkan posisinya menghadap Sehun agar bisa melihat pemuda itu lebih jelas lagi. Pria berkulit pucat di depannya hanya memiringkan kepala—mengisyaratkan sebuah pertanyaan.

"Karena kau lebih cocok jika tersenyum seperti orang bodoh." Pernyataan Jongin membuat Sehun terdiam beberapa saat. Awalnya ia hendak marah, namun sepertinya Jongin menyimpan sebuah alasan dibalik komplimen anehnya.

"Hih! Kau memujiku?" cibiran Sehun membuat Jongin memutar bola matanya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, mencoba menghangatkannya yang hampir beku.

"Neo baboya? Aku hanya ingin kau menyimpan air matamu untuk orang yang lebih tepat. Luhan Hyung bahkan tidak pantas kau tangisi. Orang seperti dia hanya pantas jika—"

"Geumane. Kau tak perlu memberitahuku. Aku tahu mana yang pantas dan tidak untuk ditangisi. Ngomong-ngomong tumben sekali kau peduli padaku? Biasanya kau senang jika aku menderita?" Sehun meliriknya sinis. Namun Jongin hanya tersenyum simpul. Dan Sehun merubah ekspresi wajahnya. Ia terlalu bingung. Kenapa semuanya tiba-tiba saja berubah menjadi rumit dan terlalu kompleks. Jika saja ia tak mengenal Junmyeon, semuanya tidak akan berubah seperti ini. Hubungannya dengan Luhan pasti masih baik-baik saja. Hanya saja, ia mungkin tak akan bertemu Jongin. Anak tak tahu sopan santun yang bahkan tak mau memanggilnya Hyung.

"Hei~"

"Hmm~" Sehun masih tak melepaskan matanya dari bintang-bintang di atas sana. Mungkin beberapa orang yang tidak pernah menemukan tempat ini akan berkata jika menemukan bintang di Seoul itu benar-benar sulit. Cahaya lampu menyaingi terangnya mereka. Di setiap tempat, keindahan dan terangnya cahaya bintang memang berbeda. Sehun pun aneh bisa menemukan tempat seperti ini di tengah-tengah kota Seoul yang terlalu sibuk. Namun sepertinya ini memang sebuah keajaiban—atau mungkin harta karun yang baru saja ia temukan bersama Jongin.

"Sabtu depan kau harus ada waktu!" ucapan Jongin yang lebih terdengar seperti sebuah pemaksaan tak menerima kalimat protes apapun dari bibir Sehun. Ia hanya mengangguk pelan seolah mengerti.

"Tentu saja. Sabtu dan Minggu itu jadwalku untuk mengajari Tuan Muda yang manja dan menyebalkan." Ujarnya santai membuat aura gelap mengerubungi Jongin kali ini. Oh Sehun itu selalu berbicara gamblang padanya. Tapi Jongin harus mulai terbiasa. Bahkan ia sudah terbiasa dan harus membuang jauh-jauh sisi sensitifnya karena apa yang Sehun katakan memang tak pernah disaring ulang.

"Sebenarnya bukan itu—"

"Lalu?" kali ini Sehun meliriknya.

"Aku ingin membawamu ke suatu tempat. Kau pasti suka. Mungkin." Jongin mengangkat bahunya tak yakin. Ia teringat panti asuhan tempat ia menjalani hukumannya. Ia berharap kehadiran anak-anak kecil yang menggemaskan itu bisa menghibur Sehun. Meskipun kemungkinannya hanya beberapa persen saja karena ia pun tidak terlalu suka dengan anak kecil yang selalu berisik dan merengek jika menginginkan sesuatu. Hanya pada awalnya.

"Suatu tempat? Kemana?" Sehun mengerutkan dahinya bingung.

"Rahasia! Kau akan tahu nanti! Kau tak perlu banyak bicara dan tak ada kalimat protes!" ia terkekeh pelan membuat Sehun berdecih sebal. Kemudian tubuhnya beranjak seraya mengeratkan jaketnya.

"Kau sudah merasa lebih baik kan? Kajja! Kita pulang." Jongin mengulurkan tangannya di depan Sehun yang masih terduduk diatas rerumputan. Pria itu mendongak lalu mengarahkan tatapannya pada tangan Jongin di depannya. Tanpa berpikir lagi, ia segera menggenggam tangan besar itu yang kini menariknya untuk berdiri. Tangan Jongin begitu hangat. Bahkan rasa hangat itu kini menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa nyaman.

"Ngomong-ngomong, terimakasih." Ujarnya pelan. Meskipun seperti setengah hati, tapi Sehun mengatakannya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Tak ada kebohongan apapun seperti ketika ia harus menyembunyikan luka di hatinya atau bahkan rasa kecewa yang selalu bisa ditutupi dengan elakan atau senyuman-senyuman bodoh yang mampu menipu orang-orang di sekitarnya. Jongin tak mengiyakan ataupun merespon ucapannya. Mereka terus berjalan dalam diam dengan tangan saling menggenggam. Berusaha mencari arah kemana ego membawa mereka. Saling meyakinkan satu sama lain hingga mampu menterjemahkan perasaan apa yang kini terlibat diantara mereka.

oOo

Mobil Luhan berhenti di depan sebuah mansion mewah milik keluarga wanita anggun yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia melirinya sekilas.

"Maaf." Tiba-tiba keduanya mengucapkan kata tersebut secara bersamaan. Mereka saling menatap kemudian Luhan dengan cepat membuang tatapannya ke arah lain, begitupun Chorong.

"Wae?" ujar Luhan penasaran dengan permintaan maaf Chorong. Wanita itu memainkan cincin di jari manisnya. Kemudian senyuman tipis terukir di wajahnya yang berparas cantik.

"Aku minta maaf. Aku tahu jika kau pasti terpaksa menerima perjodohan ini. Aku juga. Dan sebenarnya—aku sudah memiliki orang yang aku cintai. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana menolak perintah Abeoji." Tiba-tiba saja raut wajahnya terlihat sendu. Luhan sedikit terkejut. Ia kira wanita di sampingnya itu memang menginginkan perjodohan ini melihat dari bagaimana raut wajahnya ketika muncul diantara mereka tadi. Namun rupanya ia berada dalam situasi yang sama dengan dirinya. Luhan kini menatapnya sejenak lalu kembali mengarahkan tatapannya ke depan.

"Kalau begitu—kita harus mencari cara untuk menggagalkan rencana ini." Ujar Luhan yang direspon dengan tatapan penasaran Chorong.

"Caranya?" ia berhenti memainkan jarinya dan melihat ke arah Luhan sepenuhnya seolah pria itu menjadi satu-satunya hal yang paling menarik baginya saat itu. Luhan tampak berpikir, kemudian beberapa saat setelahnya ia menatap Chorong dengan kilat mata penuh keyakinan.

"Kau—cukup ikuti aturan permainanku."

oOo

Beberapa ruangan di kediaman Kim sudah terlihat gelap. Ini memang bukan jam bagi anak sekolah untuk pulang ke rumah. Bahkan ia sudah melanggar jam malamnya yang sudah sejak dulu Junmyeon berlakukan untuk Jongin—anak semata wayangnya—yang selalu saja tak pernah menganggap aturan-aturan di rumahnya itu ada. Jongin mendapat sapaan dari beberapa maid yang sudah terlihat jarang berlalu lalang di setiap sudut rumahnya dan tiba-tiba Jongdae yang entah muncul darimana sudah berdiri di hadapannya.

"Anda baru pulang, Tuan Muda? Sejak tadi Sajangnim mencarimu." Ujar Jongdae yang kini menatap Jongin yang tampak malas bahkan hanya untuk mendengarkan omelan. Ia melirik asisten ayahnya itu sekilas kemudian berniat melanjutkan langkahnya menuju kamar ketika dirasanya tubuhnya sudah benar-benar lelah dan butuh istirahat.

"Jika Anda tidak keberatan, Sajangnim menunggumu di ruangannya." Ucapan Jongdae membuat langkah Jongin kembali terhenti.

"Apa aku harus menemuinya sekarang? Kau tahu? Aku benar-benar lelah dan—"

"Kau menolak untuk menghadiri acara penting keluarga hanya karena urusanmu sendiri?" tiba-tiba suara Junmyeon terdengar menggema di dalam ruangan. Jongin dan Jongdae seketika menatap ke sumber suara dan mendapati Junmyeon berjalan menghampiri mereka. Jongin memutar bola matanya sementara Jongdae membungkuk sekilas lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Jongin terlalu malas untuk berdebat dengan ayahnya saat ini. Ini bahkan bukan waktunya untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting—bagi Jongin.

"Darimana kau?" terdengar nada kecewa yang tidak Jongin hiraukan. Ia sudah muak dengan beragam pertanyaan yang terkesan mencampuri urusannya. Apa susahnya Junmyeon memberinya kebebasan untuk menjalani kehidupannya tanpa sedikitpun dicampuri oleh rasa ingin tahunya?

"Kenapa kau selalu ingin tahu?" ucapnya dingin. Junmyeon tak habis pikir. Pergolakan batin di dalam dirinya memang semakin menjadi jika itu menyangkut Jongin. Begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan kepada Jongin. Termasuk seberapa besar ia mencintai anaknya itu namun ia tak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkannya. Dan selama ini ia menganggap sikap protectivenya terhadap Jongin adalah wujud dari kasih sayangnya. Ia tak ingin Jongin salah mengambil langkah. Ia tak ingin jika Jongin terjerumus ke dalam hal-hal diluar batas aturan yang akan membuatnya jatuh ke dalam jurang tak berdasar.

Junmyeon menjatuhan tubuhnya pada sofa di ruangan itu. Ia melepas kacamatanya lalu memijit pelipisnya ringan—tampak lelah. Jongin masih berdiri disana. Menunggu apa yang akan pria paruh baya itu katakan padanya. Ia sudah kebal dengan semua ancaman Junmyeon. Pura-pura menulikan pendengarannya adalah hal yang selalu ia lakukan.

"Kim Jongin, kau tahu jika aku begitu mencintaimu?" ucapan yang terlontar begitu saja dari mulut sang ayah membuat Jongin tertegun di tempatnya. Ia merasa tubuhnya kaku dan detak jantungnya berdebar cepat.

"Apa aku salah jika mengkhawatirkan anakku sendiri? Disaat ia tak ada di sampingku, apa aku salah jika mempertanyakan keberadaannya?" tiba-tiba suara Junmyeon terdengar parau. Hati Jongin masih belum mau tergerak. Ia hanya mengepalkan tangannya disana sambil menatap lantai marmer di bawahnya.

"Dari dulu aku sudah ingin menyerah, semenjak ibumu pergi meninggalkan kita. Tapi aku berpikir dengan keras, apakah seorang ayah pantas bersikap seperti itu dan menyerah akan kehidupannya lalu harus berakhir dengan menelantarkan anaknya? Kau—adalah alasanku untuk hidup, Jongin. Kau adalah satu-satunya harta yang ibumu tinggalkan untukku. Dan aku harus benar-benar menjagamu agar kau tidak pergi dari sisiku, seperti ibumu—" suara parau Junmyeon menyentuh bagian hati Jongin yang paling dalam. Iris kelamnya kini menyorot sosok Junmyeon yang kali ini tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan rasa kecewanya lagi. Terlihat dengan jelas genangan airmata yang Junmyeon tahan mati-matian agar tidak jatuh ke pipinya.

"Jika kau mencintaiku—lalu kenapa kau seolah membatasi ruang gerakku?! Kau selalu melarang apapun yang ingin aku lakukan! Wae? Bukankah cinta itu berarti memberikan kebahagiaan untuk orang yang kau cintai? Merasa bahagia ketika orang yang dicintai itu bahagia? Aku sama sekali tidak bahagia! Aku merasa terkekang! Dan aku merasa kau tengah membunuhku secara perlahan!" emosi Jongin tak bisa ditahan lagi. Airmata yang sudah sejak lama ia tahan pun pada akhirnya harus jatuh mengaliri pipinya yang memerah karena marah. Junmyeon tersentak. Ini pertama kalinya ia melihat Jongin menangis di depannya semenjak 15 tahun terakhir. Jongin memang tak pernah menangis sejak ia tahu apa itu dunia luar. Dunia di luar dirinya dan juga keluarganya. Sejak menginjak bangku sekolah, ia menjadi anak yang terlalu dingin dan terkesan angkuh, bahkan teman-temannya pun takut jika harus memulai pembicaraan dengannya. Bahkan salah satu temannya ketika masih di TK pernah mengatakan jika Jongin itu monster es yang bisa membekukan apapun di muka bumi ini. Namun perlahan keangkuhan dan sifat dingin itu mencair seiring ia tumbuh menjadi seorang remaja ketika ia mengenal sosok Kyungsoo—meskipun ia masih tetap bersikap dingin terhadap keluarga dan teman lainnya.

Jongin menghapus air matanya dengan kasar. Tanpa menunggu respon dari Junmyeon, ia segera pergi dari sana sambil mengepalkan tangannya untuk menahan emosi yang meluap. Ia menyesal telah mengeluarkan air matanya di depan Junmyeon. Baru beberapa saat lalu ia berkata kepada Sehun untuk menangisi orang yang tepat dan dia melakukan kesalahan itu—ani, ia bukan menangisi orang yang tidak tepat, hanya saja ia sudah menangis di depan orang yang tidak tepat. Sudah sepantasnya ia menangisi kehidupannya yang benar-benar menyedihkan. Sebagian orang yang beranggapan bahwa kekayaan itu menciptakan kebahagiaan menurutnya merupakan sebuah pernyataan nol besar! Kebahagiaan itu bukanlah bagaimana kau harus menaati aturan mau tak mau dan mengikuti apa yang orang lain katakan kepadamu. Kebahagiaan itu bukanlah harus mendengar ocehan yang selalu membuat telingamu berdenyut ngilu. Kebahagiaan itu bukanlah ketika semua permintaanmu dituruti dengan beberapa syarat. Jongin benci melakukannya. Ia hanya membutuhkan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan yang akan membuatnya mengerti apa arti kehidupan yang sebenarnya.

Keduanya hanya sedang terjebak di dalam kesalahpahaman tak berujung—kesalahpahaman yang disebabkan karena tidak adanya kejujuran dan kepercayaan di hati masing-masing. Sejujurnya mereka hanya membutuhkan ruang dan waktu yang tepat, serta kalimat yang pas untuk saling membuka diri. Mengungkapkan apa yang selama ini menjadi beban di dalam pikiran mereka dan menjadi sesuatu yang mengganjal di hati mereka.

oOo

Sehun baru saja mendaratkan punggungnya pada empuknya kasur yang seolah menyambutnya dengan ucapan 'SELAMAT BERISTIRAHAT!' lalu berguling-guling sejenak mencoba merilekskan otot-otot tubuhnya yang terasa lelah. Ia melirik ke arah daun pintu ketika suara tawa Minseok terdengar renyah karena acara gag show favoritnya. Ia kembali menatap langit-langit kamarnya. Seharian ini banyak hal tidak terduga yang telah terjadi. Terlebih kabar perjodohan LuHan membuatnya harus mati-matian membuang jauh-jauh rasa cintanya terhadap pria Cina itu yang perlahan memang sudah terasa hambar. Ia bingung. Ia tak tahu bahkan tak mengerti tentang apa kebahagiaan itu. Apa LuHan bahagia karena ia dijodohkan? Atau apa ia harus bahagia melihat LuHan dengan kehidupan barunya sebagai milik orang lain yang bahkan tak ia kenal? Entahlah. Menurutnya ini terlalu rumit. Ditambah lagi dengan sikap Jongin yang tiba-tiba muncul layaknya pangeran lalu membawanya pergi dengan kuda putihnya. Menjauhkan Sehun dari jeratan penyihir yang bisa tiba-tiba saja membunuhnya dengan mantra kematian ataupun ramuan racun yang diracik lalu dicampurkan ke dalam apel yang hendak ia makan. Ia hanya mampu menghela nafas lelah. Kenapa hidupnya bisa menjadi seperti ini? Jika tahu masalahnya akan seperti ini, mungkin kemarin ketika ia pulang ke kampung halamannya ia akan lebih memilih tinggal disana dan tidak ingin kembali lagi ke Seoul. Menghabiskan waktu bersama keluarga, terlebih kedua orangtuanya yang jarang sekali ia temui sejak ia masuk kuliah mungkin adalah satu-satunya definisi kebahagiaan yang sebenarnya.

Drrtt.. Drrtt..

Ponselnya tiba-tiba bergetar ketika ia sudah hampir memejamkan matanya karena tertidur. Dengan cepat ia merogoh saku jeansnya lalu melihat siapa seseorang yang menghubunginya. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik. Itu Jongin.

"Wae?" ia langsung to the point ketika mengangkatnya. Kenapa anak itu meneleponnya padahal baru beberapa menit yang lalu mereka berpisah? Namun setelah beberapa detik ia menunggu, tak ada jawaban apapun dari sebrang telepon sana. Sehun mengernyitkan dahinya heran. Apa anak ini lagi-lagi iseng? Atau ia tak sengaja menghubungi nomornya lalu tidak sadar ketika panggilannya terhubung?

"Yeoboseyo?" Sehun mengulangi sapaannya. Kali ini terdengar deru nafas berat di ujung telepon.

"Oh Sehun—" suara Jongin akhirnya terdengar juga. Namun ada yang aneh ketika suara itu menyapa indera pendengarannya. Suara Jongin terdengar parau dan seperti seseorang yang—sedang menangis.

"Jongin? Apa terjadi sesuatu?" Sehun merasa cemas. Apalagi saat ini suara Jongin berubah menjadi sebuah isakan tertahan. Kemudian terdengar tarikan nafas dalam yang kembali dihembuskan.

"Gwaenchana." jawabnya meragukan. Sehun hanya terdiam. Ia tahu jika Jongin memang memiliki masalah dengan ayahnya. Namun sepertinya kali ini semakin parah karena Jongin menangis seperti itu. Meskipun tidak meraung seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim, tapi ia bisa merasakan dengan jelas bagaimana luka yang dialami Jongin melalui isakan tangisnya.

Sehun beranjak dari ranjangnya lalu berjalan ke arah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan taman belakang. Ia menggeser pintu kaca lalu membiarkan angin malam masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu. Duduk di atas lantai kayu lalu membiarkan kakinya terjulur ke rerumputan dan merasakan embun serta permukaan rumput menggelitik kakinya yang tak beralas.

"Keluarlah. Sepertinya ibumu ingin bertemu denganmu." Sehun mendongak menatap langit yang terlihat gelap. Memang benar. Disini bintang tak terlihat begitu indah. hanya beberapa buah saja dan itu pun dengan cahaya yang redup dan tidak terlalu menawan. Gemerisik dedaunan yang berasal dari pohon willow di belakang rumah sewaan mereka lebih menarik perhatian Sehun. Ia memperhatikannya. Meskipun sedikit merinding dan ia berusaha menepis semua pikiran buruk karena ia memang penakut, namun ia mencoba menikmatinya.

"Tidak perlu kau suruh pun aku sudah menatap Eomma terlebih dahulu." Kali ini suaranya lebih stabil dibandingkan tadi. Setidaknya Sehun bisa sedikit bernafas lega. Ia menguap dengan mata yang sudah terasa sedikit berat. Ingin rasanya memutus panggilan Jongin, namun anak itu tengah membutuhkannya.

"Apa terjadi sesuatu?" Sehun mengulangi pertanyaannya.

"Tidak. Aku hanya membutuhkan tempat sampah." Ucapan Jongin membuat Sehun mengerutkan dahinya sejenak kemudian berdecak sebal.

"Tempat sampah? Kenapa kau tidak cari saja tempat sampah di rumahmu? Kenapa meneleponku—ah ya! Jadi kau menganggapku tempat sampah hah?" ia mendengus pelan. Jongin di sebrang sana mengedikkan bahunya seraya tertawa geli, meskipun Sehun tak mendengarnya.

"Bukan aku ya yang berbicara seperti itu."

"Ish—! Daripada membuatku terus-terusan emosi, lebih baik sekarang kau harus membiarkan Eommamu menjagamu lalu kau pergi tidur, arasseo? Bukankah besok kau harus sekolah? Jangan sampai kau bolos ya! Aku tidak mau muridku tidak lulus karena jarang masuk ke kelas! Memalukan!" Sehun tidak tahan untuk mengomelinya. Meskipun iba, namun Jongin memang pantas untuk diberi sedikit ceramah. Di ujung line sana terdengar dengusan pelan disertai rutukan setelahnya.

"Berhenti mengomeliku! Aku bersumpah kau akan bertambah tua dengan cepat karena terlalu sering marah-marah tidak jelas!"

"Mwo? Tidak jelas? Aku jelas-jelas memarahimu! Dan lagi memangnya aku saja yang selalu marah-marah? Kau juga! Kau tidak sadar diri?" rasa simpatinya menguap begitu saja. Sehun dengan cepat beranjak masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kaca hingga menimbulkan bunyi lumayan keras. Minseok sampai berteriak 'Suara apa itu?' namun kembali melanjutkan tawanya. Aneh.

"Cukup! Kau benar-benar merusak suasana saja!" teriak Jongin membuat Sehun membulatkan matanya kesal. Apa-apan dia berteriak seperti itu? Mentang-mentang rumahnya itu besar dan tidak akan ada satu orang pun yang mendengar teriakannya lalu membuat telinganya sakit!

"Sudah selesai? Aku mau istirahat!" ujar Sehun ketus. Di sisi lain ia merasa lega karena Jongin tak terdengar menyedihkan seperti ketika ia mengangkat teleponnya.

"OK! Semoga saja aku datang ke mimpimu lalu menerormu disana!" sungguh, Jongin itu benar-benar terlalu childish, bahkan Sehun tidak mengerti dengan sikap tersembunyi itu yang hanya ia tunjukkan kepadanya saja. Panggilan mereka pun akhirnya terputus, dan Sehun hanya bisa membanting ponselnya ke atas ranjang dengan gemas kemudian mencoba untuk memejamkan matanya yang sudah benar-benar tak sanggup lagi untuk melihat cahanya.

OOo

Sehun masih betah menyusuri deretan buku dengan jemarinya. Sudah satu jam berlalu namun buku yang ia cari di toko ini masih belum menampakkan judulnya ke permukaan. Baru beberapa waktu lalu ia meminta pelayan toko untuk mencarikan buku tersebut untuknya, namun hingga sekarang ia masih belum juga kembali. Sehun lama-lama kesal juga. Ia sudah hampir menyerah ketika tiba-tiba saja pelayan berpakaian hitam putih itu menghampirinya lalu memberikan buku yang dicarinya.

"Kamsahamnida!" ia membungkuk beberapa kali dengan raut wajah senang. Setidaknya ia merasa lega ketika sebuah buku yang isinya benar-benar jauh dari kapasitasnya bisa ditemukan dan kini sudah ada di tangannya. Sehun pun tak mengerti kenapa ia harus membeli buku dengan berbagai nama planet tercantum disana. Ia hanya ingin tahu satu hal mengenai sesuatu. Sesuatu yang disukai oleh Jongin—Oh Sehun pasti sudah gila!

Kakinya dengan cepat melangkah menuju kasir untuk membayarnya. Namun ketika ia melewati lorong buku-buku khusus untuk seni dan musik, ia tiba-tiba saja menabrak seseorang yang lebih pendek darinya hingga orang tersebut harus menjatuhkan buku-buku yang dipegangnya.

"Ah—jwesonghamnida! Saya benar-benar tidak sengaja! Sehun membungkuk beberapa kali untuk meminta maaf lalu membantunya memunguti buku yang terjatuh. Namun orang yang kini tengah berjongkok di depannya hanya menatapnya lekat-lekat, sesekali ia memiringkan kepalanya berusaha untuk mengenali sosok pria cantik di depannya.

"Oh Sehun?" ujar suara berlogat Changsa itu hingga Sehun mendongakkan kepalanya. Dan seketika matanya membulat sempurna melihat siapa laki-laki yang baru saja ditabraknya.

"Yixing Hyung?"

oOo

Sebenarnya Sehun sudah berusaha menolak secara tidak langsung ajakan Yixing untuk mampir di sebuah kedai kopi favoritnya di dekat toko buku. Ia sudah mencari beribu alasan, namun ia sama sekali tidak bisa menolaknya. Bisa menolaknya secara tidak langsung, namun tak bisa menolaknya secara langsung. Yixing bilang ini adalah hari terakhirnya ia berada di Korea. Besok pagi ia akan kembali ke Cina dan tidak akan lagi kembali kesini lalu berniat untuk mengubur dalam-dalam semua kenangan mereka. Walau bagaimanapun, melihat dan harus bertemu Yixing sama saja dengan ia harus membuka kembali lukanya yang baru mau sembuh lalu membuatnya kembali ternganga lalu dipaksa disiram dengan alkohol. Sehun bergidik ngeri membayangkannya sambil berusaha bersikap tenang ketika untuk pertama kalinya ia harus berhadapan dengan Yixing seperti ini.

"Apa kabar?" senyuman dengn dimple di wajahnya membuat Sehun seolah tersedot olehnya. Pantas saja LuHan jatuh cinta pada pria di depannya ini. Ia terlihat begitu polos dan juga memiliki sisi yang lembut. Meskipun bisa dikategorikan ia memiliki obsesi cinta berlebihan terhadap Luhan, namun pada akhirnya ia memang mengalah.

"Baik." Jawab Sehun tak ingin bertele-tele. Ditatapnya gerak-gerik Yixing yang kini tengah menyeruput lattenya. Sehun sama sekali belum menyentuh minumannya. Lalu tatapan Yixing beralih pada minuman Sehun ketika ia sudah meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.

"Minumlah. Kau pasti haus." Ujarnya menawarkan. Sehun mau tak mau hanya mengangguk lalu meraih cangkir di depannya dan menyesap isinya sedikit demi sedikit. Senyuman Yixing yang terasa hangat membuatnya tak bisa lepas dari sosok di depannya.

"Maaf ya jika aku meminta waktumu sebentar saja. Aku tahu kau pasti sibuk dan—"

"Gwaenchana. Kebetulan hari ini tak ada kuliah. Kau tenang saja." Sehun tak melihat matanya. Ia hanya menatap ke arah cangkir latte Yixing ketika mereka berbicara.

"Maaf." Suara Yixing yang terdengar lirih membuat Sehun mendongak. Kali ini ia menatap Yixing ke dalam matanya, berusaha mencari kebenaran di dalam ucapannya.

"Aku memang—keterlaluan. Iya kan? Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menghancurkan hubungan kalian ataupun menghalangi kalian." Ia terdiam sejenak dengan sebuah senyuman simpul. Sehun membetulkan posisi duduknya lalu berniat untuk membuka mulutnya ingin menanggapi ucapan Yixing namun seketika itu pula pria di depannya segera berbicara kembali.

"Aku memang masih mencintai Lu. Tapi—melihat kalian bersama membuat semua rasa cintaku menguap begitu saja. Aku selalu berusaha mencari celah agar Luhan bisa kembali melihatku. Namun sepertinya aku salah. Tak ada lagi celah untukku yang bisa kumasuki di hatinya. Ia hanya menatapmu. Tak ada orang lain selain kau." Raut wajah sedih Yixing membuat Sehun bingung. Ia harus berkata apa? Menyemangatinya jika masih banyak yang mencintainya selain Luhan? Itu tidak mungkin!

"Aku juga minta maaf, Hyung. Maaf, karena sudah menjadi orang ketiga di dalam kehidupan kalian." Akhirnya Sehun mendapat kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya. Dilihatnya Yixing menggeleng pelan.

"Aniyo. Kau bukan orang ketiga. Aku hanya—masa lalunya. Dan masa lalu hanya akan menjadi masa lalu yang menyisakan kenangan." Yixing tampak menerawang entah kemana. Kemudian matanya menatap Sehun yang sejak tadi tak melepaskan tatapan darinya.

"Aku juga—adalah bagian dari masa lalunya." Ucapan Sehun yang tak diduga sebelumnya membuat Yixing mengerutkan dahinya bingung. Ia tak mengerti kenapa Sehun bisa berkata seperti itu.

"Maksudmu?"

"Yah, aku juga adalah bagian dari masa lalunya. Kita...sudah berakhir." Sehun tersenyum miris. Dada kirinya benar-benar sakit dan berdenyut ngilu. Yixing tak percaya. Bagaimana mungkin hubungan mereka sudah berakhir begitu saja?

"Luhan Hyung...sudah dijodohkan dengan seorang wanita oleh keluarganya." Seolah mengerti dengan tatapan penuh tanda tanya Yixing, ia menjelaskannya. Dan penuturan Sehun membuat organ di dalam rongga dada sebelah kiri Yixing berdetak semakin cepat. Luhan dijodohkan? Dengan wanita?

"Mereka menemukan hubungan kami. Aku mengerti, keluarganya menginginkan yang terbaik untuk Luhan Hyung. Sementara aku..aku bukanlah kriteria yang mereka inginkan. Aku ini pria dan bahkan aku bukan berasal dari keluarga kaya yang sepadan dengan mereka. Bahkan jika dibandingkan dengan kau pun, Hyung lebih cocok mendampingi Luhan Hyung dibandingkan aku. Aku hanya—"

"Cukup! Kau tak perlu melanjutkannya lagi." Melihat perubahan wajah Sehun yang drastis membuat Yixing segera memotong ucapannya. Ia tidak ingin pria lugu di depannya semakin terluka hanya karena harus membandingkan Sehun dengan dirinya ataupun dengan orang lain.

"Hehe tenang saja Hyung. Aku sudah terbiasa jika orang lain meremehkanku, menganggapku rendah, atau apapun itu. Justru merekalah yang menguatkanku. Mereka memberiku kesadaran jika untuk bertahan hidup pun kau harus berusaha dengan keras agar orang lain tidak dapat menindasmu lalu menjatuhkanmu."

"Kenapa kau masih bisa tersenyum seperti itu? Ah—sepertinya aku tahu kenapa Luhan begitu menyukaimu. Ah bukan—mencintaimu." Yixing menggoyang-goyangkan cangkir lattenya seperti menggoyangkan gelas wine. Matanya menatap permukaan minuman tersebut yang bergerak pelan. Lalu ia menghela nafasnya dalam.

"Luhan benar-benar beruntung memiliki kau."

"Tapi Hyung kita—"

"Tolong jaga dia untukku." Ucapan Yixing membuat sebilah pisau menancap tepat di jantungnya hingga ia kehilangan nafas dan nyawanya dalam sekejap. Jadi begitu. Ini semua hanya salah paham saja. Jadi bukan Luhan yang masih mencintai Yixing tapi pria itu yang justru menginginkan Luhan agar kembali padanya, mencintainya. Sehun kembali merasa bersalah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Rasanya ia ingin berlari saja dimana tidak ada orang yang mengenalinya. Memulai kehidupan baru dan menjalani kehidupan yang tenang tanpa ada gangguan dari siapapun.

"—Hun."

"Oh Sehun?" tiba-tiba suara lain menyapa indera pendengarannya. Sehun tersadar dari lamunannya dan mendapati mata Yixing sudah membulat menatap siapa yang baru saja datang.

"Tao? Kris?"

oOo

Dua pasang kaki itu diseret dengan langkah gontai. Raut wajah yang terlihat kusut membuat mereka seperti anak hilang yang tengah mencari arah tujuan.

"Menyedihkan." Komentar salah satu dari mereka sambil meremas rambutnya pelan. Sepasang mata hazel meliriknya kemudian mendengus pelan.

"Apa yang kau khawatirkan?"

"Apa katamu? Tentu saja—" Tao menggantung ucapannya. Hampir saja ia keceplosan dan menyebut nama terlarang itu dari mulutnya. Ia melirik Sehun sekilas kemudian menggeleng.

"Lupakan."

"Tenang saja. Dia hanya mencintai Luhan Hyung." ucap Sehun seraya tersenyum hambar mencoba menenangkannya. Tao menoleh ke arah Sehun.

"Oh Sehun—" Tao menghentikan langkahnya hanya untuk menatap punggung Sehun yang berjalan menjauh. Sehun memutar bola matanya ketika meyadari Tao tak ada disampingnya. Ia berbalik dan mendapati Tao mematung di belakangnya.

"Kenapa berhenti?" ujar Sehun heran.

"Aniyo. Kajja! Kita pergi!" Tao mengangkat bahunya kemudian berjalan melewati Sehun. Pria berkulit pucat itu hanya tersenyum simpul kemudian segera menyusulnya.

oOo

Hujan tiba-tiba turun dengan deras ketika Tao meninggalkan Sehun beberapa saat lalu. Perjalanannya menuju sekolah Jongin terpaksa harus ia hentikan dan lebih memilih untuk berteduh di pinggiran toko. Bajunya sudah setengah basah dan membuat tubuhnya sedikit menggigil.

Jongin tiba-tiba saja mengirimnya pesan dan menyuruh dia untuk datang ke sekolahnya. Meskipun sebal karena disebut tempat sampah, namun tak ada alasan Sehun menolak. Anak itu membutuhkan teman bicara yang cukup serius. Ia akan mencobanya—mencoba membuka hati anak itu.

Hujan yang tak kunjung reda membuatnya melepaskan jaket dan berniat menerobos hujan. Ia mengangkat jaketnya hingga menutupi kepalanya dan mulai mengambil aba-aba untuk segera berlari. Namun baru saja ia hendak melangkah, Sehun merasa seseorang berdiri di sampingnya, menyodorkan payung hingga membuatnya terlindung dari air hujan, dan membuatnya seketika terdiam. Ia perlahan menoleh dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

To be Continued..

.

.

Mind to review? hehe