It's Not All About Money Chapter 13
.
.
Jongin menatap langit siang itu—gelap. Bahkan butiran-butiran air hujan perlahan turun dan berubah semakin deras. Jongin yang tengah duduk di sudut kantin, kemudian melirik ponselnya yang masih menampilkan pesan yang ia kirim untuk Sehun beberapa menit yang lalu. Ibu jarinya terus menggeser layar ponselnya dengan bosan, kemudian berhenti ketika perasaan bersalah tiba-tiba kembali menyapanya. Menyisakan perasaan khawatir yang cukup kuat ketika hujan yang turun kini disertai petir dan juga angin kencang. Jongin beranjak dari kursinya lalu segera meninggalkan kantin dengan langkah terburu.
Sementara itu disudut lain kantin, Chanyeol menatap Kyungsoo yang tengah menyeruput susu hangatnya dengan mata yang tak lepas dari punggung yang perlahan menjauh.
"Aku tahu~" suara Chanyeol membuyarkan lamunannya. Pria mungil itu menoleh dengan tatapan bingung. Chanyeol tersenyum simpul kemudian tertunduk sebentar. Kini matanya mengarah pada seseorang yang sedetik kemudian menghilang dibalik dinding di ujung lorong.
"Kau masih mencintainya." Lagi-lagi ia tersenyum hambar. Kyungsoo terkejut dengan pernyataan Chanyeol. Ia menyimpan cup susu dengan hati-hati lalu melihat Chanyeol dengan tatapan bersalah.
"Aku—"
"Kau tidak perlu menjelaskannya, Kyungsoo-ah. Tanpa kau berbicara pun aku sudah tahu." Chanyeol tersenyum tipis. Pada akhirnya mereka hanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing .
"Chanyeol-ah, maaf." Cicitan suara pelan yang tersaingi air hujan terdengar samar di telinga Chanyeol. Ia masih terdiam, sementara Kyungsoo sudah beranjak dari kursinya.
"Aku— ke kelas duluan." Suaranya terdengar gugup kemudian ia pun pergi meninggalkan Chanyeol yang hanya menghela nafas pelan.
oOo
Sorot mata Sehun meredup. Ia menatap seseorang yang kini berdiri di sampingnya—melindunginya dari hujan. Telinganya seperti ditulikan dari suara hujan yang begitu deras ataupun petir yang menggelegar geram. Mereka terdiam, hingga Sehun terkesiap ketika suara petir yang begitu nyaring menggetarkan dengan kasar gendang telinganya.
"Maaf Hyung. Aku harus pergi—"
"Kita harus bicara, Oh Sehun." Tangannya memegang pergelangan tangan Sehun dengan erat. Sehun tertahan disana, namun dengan kasar ia menepis tangan Luhan tanpa perasaan.
"Maaf! Aku tidak bisa—"
"Oh Sehun!" sekali lagi ia meraih lengan Sehun dan tidak berniat sedikitpun untuk melepasnya lagi. Sehun terlihat geram. Ia mengatupkan rahangnya kemudian berusaha melepas cengkraman Luhan yang terlalu kuat di lengannya.
"Lepas Hyung!"
"Tidak! Sebelum kau mau mendengar penjelasanku!" Luhan menatapnya tajam. Namun Sehun tak mau mengalah. Ia masih tetap berusaha untuk menyingkirkan tangan Luhan dari lengannya. Tapi usahanya sia-sia. Luhan malah menariknya pergi darisana. Menyisakan tatapan heran dari beberapa pengguna jalan karena mereka melihat Sehun tidak suka jika diseret seperti itu. Payung pun tak mampu lagi melindungi tubuh keduanya. Cipratan air hujan membasahi pundak mereka. Menyisakan bekas tak beraturan pada baju keduanya.
"Luhan Hyung! Tak ada lagi yang harus kita bicarakan!" teriak Sehun berusaha menyaingi suara hujan. Namun Luhan pura-pura tak mendengarnya. Ia masih menarik lengan Sehun dan membawanya entah kemana.
"Bukankah semua sudah jelas? Kita sudah berakhir!" ucapan Sehun kali ini berhasil membuat Luhan menghentikan langkahnya. Sehun merasa cengkraman tangan Luhan menjadi semakin kuat. Ia sedikit meringis.
"Hyung, aku tidak ingin keluargamu salah paham lagi. Bukankah mereka sudah menjodohkanmu dengan wanita pilihan mereka? Bukankah kau menyetujui perjodohan itu? Lalu kenapa kau masih menemuiku? Kita sudah tidak—"
"ASAL KAU TAHU OH SEHUN! AKU TIDAK PEDULI DENGAN PERJODOHAN ITU! AKU TIDAK PEDULI DENGAN MEREKA! AKU TIDAK PEDULI DENGAN PERMINTAAN MEREKA!" Luhan melepaskan payung yang sejak tadi ia gunakan untuk melindungi tubuhnya dan Sehun dari air hujan yang begitu deras. Tubuh mereka basah kuyup dalam hitungan detik. Sehun memejamkan matanya ketika air hujan benar-benar menyentuh sekujur tubuhnya. Rasa dingin yang menjalar membuatnya mulai menggigil. Namun sedetik kemudian sepasang tangan menangkup wajahnya yang terasa dingin. Telapak tangan itu pun terasa begitu dingin di pipinya. Luhan mendekatkan kepalanya pada kepala Sehun hingga dahi mereka kini saling bersentuhan.
"Asal kau tahu, aku tidak akan pernah menyerah Oh Sehun. Aku tidak akan pernah melepasmu dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi." Ia mendesis pelan kemudian tanpa Sehun duga Luhan menyatukan bibir mereka. Sehun hanya membulatkan matanya lebar-lebar. Tak memberontak ataupun membalasnya. Membiarkan bibir Luhan bergerak perlahan diatas bibirnya. Tangannya yang semula memegangi lengan Luhan, kini terjatuh lemas disamping tubuhnya. Ia tak bisa lagi berpikir jernih. Bahkan hujan yang semakin deras pun tak lagi ia hiraukan.
Tanpa mereka sadari, seseorang sudah berdiri di ujung jalan sembari menatap intens keduanya dengan tangan terkepal kuat. Ada guratan kecewa yang terlihat jelas ketika sorot mata itu tak bisa lepas dari sosok keduanya. Tanpa berniat untuk tinggal lebih lama, pria berpayung itu pergi dari sana, mengabaikan Sehun dan juga Luhan yang tenggelam di dalam dunianya.
oOo
Hujan yang sudah berhenti beberapa menit lalu kini meninggalkan jejak-jejak basah pada jalanan kota. Namun langit kelabu masih terasa sendu, menyisakan udara dingin hingga mantel-mantel melekat erat pada tubuh siapa saja. Seorang pria dengan topi abu-abu bersandar pada sebuah pagar berkarat di depan sebuah gedung tua tinggi menjulang. Ia bukan menunggu seseorang keluar dari tempat itu, namun bangunan di sebrang sana yang justru menjadi perhatiannya. Pria itu sesekali mengeratkan mantelnya ketika angin menggelitik tengkuknya dan berusaha menerobos masuk melalui celah kainnya. Ia terus melirik jam tangannya lalu sesekali mendesah pelan. Sudah lebih dari 3 jam ia menunggu. Namun sesuatu yang ia tunggu tampak tak kunjung datang.
Bunyi klakson kendaraan memenuhi gendang telinganya. Ia hendak menyerah dan masuk ke dalam mobil namun seketika langkahnya terhenti ketika seseorang di sebrang sana dengan langkah terburu hendak menyebrangi jalan. Wajah kesal dan juga bosan yang sejak awal ia tunjukkan perlahan berubah, tergantikan oleh sebuah senyuman lega. Ia berdiri disamping mobilnya kemudian mengamati gerak gerik tubuh orang tersebut hingga kakinya melangkah melewati zebra cross dan kini mereka berdiri bersebelahan.
"Kau pura-pura tidak melihatku atau memang tidak melihatku?" suara husky-nya membuat pria berambut hitam itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke samping. Mata lebar itu semakin lebar. Ia terkejut lalu kembali memasang wajah datar dan tenangnya.
"Aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu disini." Jawabnya ketus kemudian hendak kembali melangkah untuk menjauhi pria yang tak sengaja—atau lebih tepatnya tak pernah ia harapkan untuk bertemu dengannya. Dimanapun.
Kris tersenyum menyeringai. Perutnya terasa geli ketika Tao sepertinya memang tidak pernah mengharapkan kehadirannya.
"Kau masih marah padaku?" pertanyaannya membuat Tao memutar bola matanya.
"Hei, asal kau tahu ya! Ini tidak ada hubungannya dengan kejadian tempo hari saat kau bertemu dengan Yixing Ge! Jangan terlalu percaya diri! Aku hanya tidak ingin bertemu denganmu disaat yang tidak tepat." Ceroscosnya panjang lebar. Kris terkekeh pelan. Ia menatap Tao yang sudah tampak kesal dan ingin segera pergi darisana.
"Tidak tepat? Jadi kapan menurutmu waktu yang tepat?"
Tao terdiam. Dia menelan ludahnya kasar kemudian segera berbalik membelakangi Kris.
"Lupakan! Tidak akan pernah ada waktu yang tepat." Kaki panjangnya berjalan menjauhi Kris. Sementara pria berambut blonde itu sama sekali tak mengejarnya kemudian menundukkan kepalanya dengan sebuah senyuman penuh arti tercetak di wajahnya.
"Tunggu saja, Huang Zitao~" Kris kembali menaikkan sudut bibirnya. Iris mata kecoklatannya menatap punggung Tao yang begitu cepat menjauh dari pandangannya. Ia menggelengkan kepalanya pelan kemudian dengan cepat ia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut dengan menyisakan tatapan pria yang memandangnya dari kejauhan.
oOo
Jongin membanting pintu mobil dengan kasar meninggalkan gelengan driver yang tampaknya sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Mood Jongin memang mudah berubah, namun ia lebih banyak dalam keadaan mood yang buruk dan tidak bersahabat dengan keadaan sekitarnya.
Seragamnya sudah tak karuan. Ketika memasuki rumahnya, ia tak langsung menuju kamarnya namun kakinya melangkah menuju ruang kerja ayahnya. Pintu ruang kerja itu tertutup rapat. Biasanya Junmyeon akan meninggalkan pintu ruangannya terbuka sedikit jika ia sedang berada di dalam.
Tangannya meraih handle pintu namun sebuah suara menginterupsinya. Jongin refleks menoleh dan mendapati Jongdae sudah berdiri di belakangnya dengan beberapa berkas di tangannya.
"Tuan Besar tidak ada di ruangannya, Tuan Muda. Tadi sore ia pergi ke Beijing." Penjelasannya membuat dahi Jongin sedikit berkerut.
"Beijing? Kenapa ia tidak memberitahuku jika akan pergi?"
"Saya tidak tahu. Dia tidak meninggalkan pesan apapun." Jongdae sebenarnya tahu, namun ia tak memberitahu Jongin karena Junmyeon menyuruhnya untuk tidak mengatakan apapun. Jongin tak terlalu mempermasalahkan dengan kepergian ayahnya. Ia hanya segera pergi darisana dan meninggalkan Jongdae yang masih berdiri di depan ruangan Junymeon. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia berhenti dan segera berbalik.
"Ahjussi, kau mau membantuku?" ucapan Jongin membuat dahi Jongdae mengernyit. Biasanya Tuan Muda-nya tidak pernah meminta bantuannya secara langsung seperti ini. Bahkan ia sama sekali tak pernah meminta bantuan Jongdae karena memang pria berkacamata itu tidak bertanggung jawab terhadap Jongin. Ia hanya akan melakukan apa yang Junmyeon perintahkan padanya.
"Tentu saja, Tuan Muda. Apa yang harus saya lakukan?" Jongdae menatap Jongin yang tampak berpikir keras. Namun beberapa detik kemudian justru tatapan tajam dan serius Jongin yang ia dapatkan.
"Pecat Oh Sehun dan carikan tutor baru untukku."
oOo
Sehun masih belum beranjak dari duduknya. Ia masih betah menatap langit gelap dari teras di depan kamarnya sambil sesekali menatap tangannya yang terkepal kosong. Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang. Ia sepenuhnya sadar ketika tangan itu mendarat kasar di pipi Luhan—meninggalkan bekas kemerahan dan sedikit luka robek pada sudut bibirnya. Ia pikir Luhan pantas menerimanya. Namun di sisi lain ia menyesal karena harus melukai pria itu dengan tangannya sendiri. Dadanya terasa sakit dan ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia enggan untuk meminta maaf namun ia harus meminta maaf. Dua pilihan itu terus berputar di otaknya seperti benang kusut yang sulit diluruskan kembali.
"Aisshhh..." tangannya meremas kasar rambut coklatnya. Ingin sekali rasanya ia mengeluarkan isi kepalanya lalu membuang semua hal yang tidak ingin ia ingat. Ia merasa hidupnya terlalu rumit dan menjadi semakin rumit seiring dengan berjalannya waktu.
"Sehunnie?" kepala Tao menyembul dari balik pintu. Sehun menoleh lalu mengisyaratkan agar pria itu masuk dan duduk bersamanya.
"Kau belum tidur? Ini sudah malam. Bukankah besok ada kelas pagi?" ujar Tao yang kini sudah duduk disampingnya. Sehun meliriknya sekilas kemudian tersenyum dipaksakan. Ia menghela nafasnya pelan lalu memainkan jemarinya seperti orang bingung.
"Aku tidak bisa tidur. Lalu kau? Kenapa kau belum tidur? Biasanya setelah latihan sampai larut kau akan langsung menjadi bangkai di tempat tidurmu." Celoteh Sehun yang dibalas dengan dengusan kesal Tao. Ia melipat tangannya di depan dada.
"Kau tahu? Jika aku memejamkan mata, bayangannya yang memuakkan selalu tergambar jelas di otakku. Makannya aku tidak bisa tidur! Si brengsek itu—aissshhh!" ia mendesis geram. Sehun tahu siapa yang Tao maksud. Siapa lagi jika bukan si guru olahraga berambut blonde itu.
"Wae? Tadi kau bertemu dengannya?" pertanyaan Sehun membuat Tao mendengus kesal.
"Begitulah. Aku sudah muak." Ia memberengutkan wajahnya kesal. Sehun tertawa pelan kemudian menepuk punggung Tao cukup keras.
"Aisshh Oh Sehun!"
"Kenapa kau masih begitu membencinya? Mungkin sekarang dia sudah berubah. Dia kan sudah tahu jika Yixing Hyung hanya menyukai—" Sehun menghentikan ucapannya. Tao yang semenjak tadi menatap Sehun dan menyadari perubahan pada raut wajahnya kini memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tak perlu dilanjutkan, Oh Sehun." Ujar Tao cepat. Mereka akhirnya terdiam. Menatap langit yang sama sekali tidak menarik. Hanya hamparan kosong tak berbintang. Bahkan udara dingin terasa begitu menusuk kulit namun keduanya sama sekali tak berniat untuk beranjak masuk ke dalam.
"Tao-ah~" beberapa menit kemudian suara Sehun memecah keheningan—bersaing dengan suara jangkrik yang terdengar dari balik semak-semak.
"Hmm~"
"Kenapa hidupku seperti ini ya? Apa mungkin di kehidupanku yang dulu aku melakukan banyak kesalahan? Aku tidak pernah berharap untuk terlibat lebih jauh di dalam permasalahan keluarga Luhan Hyung dan juga Jongin. Sejak awal aku datang ke Seoul, niatku benar-benar hanya untuk meraih apa yang aku impikan. Tapi sekarang—semuanya melenceng jauh dari apa yang aku pikirkan." Sehun mendesah pelan. Matanya menatap kosong entah kemana. Ia menghela nafas lelah kemudian mengalihkan tatapannya pada rumput-rumput basah yang menyentuh kaki telanjangnya.
"Sehunnie~"
"Jika ayah dan ibuku tahu anaknya terlibat masalah keluarga orang lain seperti ini, aku pasti sudah disuruh pulang ke desaku dan tidak akan pernah diijinkan untuk sekolah lagi di Seoul." Sebuah senyuman hambar terlihat di wajah tirusnya. Tao masih menatapnya dalam kemudian tangannya terangkat untuk mengelus punggung Sehun pelan.
"Jangan sampai mereka tahu."
"Haha mereka tidak akan tahu." lagi-lagi Sehun tersenyum hambar. Ia kembali tenggelam di dalam pikirannya yang kosong. Perasaan khawatir itu terus menghantuinya.
"Jika seperti itu hadapi saja."
"Huh?"
"Aku tahu kau bukan orang yang mudah menyerah. Hadapi saja mereka. Tunjukkan pada mereka jika kau berhak mencintai Luhan Ge. Bukankah dia juga seperti itu? Dia juga sedang berusaha agar kau diakui oleh keluarganya." Ujar Tao panjang lebar. Sehun menatapnya sejenak kemudian seulas senyum hambar kembali ia sunggingkan sebagai respon dari ucapan Tao.
"Kau salah, Tao-ah. Menerima perjodohan dengan wanita yang dipilih oleh keluarganya? Apa itu yang disebut dengan berusaha agar aku diakui oleh keluarganya?" pernyataan Sehun membuat tenggorokan Tao tercekat seketika. Kenapa Sehun baru memberitahunya?
"M—mwo? Brengsek! Dia melakukannya?! Dia menyakitimu lagi?! Pria tak tahu diri! Dia seharusnya— "
"Gwaenchana. Mungkin ini memang pertanda jika aku harus mengakhirinya. Aku juga harus berhenti menjadi tutor Jongin mulai sekarang. Aku harus segera mengakhiri semua urusanku dengan mereka. Jika tetap seperti itu—"
"Oh Sehun! Kenapa kau—"
"Gwaenchana. Aku tak apa!" potongnya cepat. Udara yang semula dingin, kini berubah menjadi sedikit panas. Tao tampak mengatur nafasnya karena luapan emosi yang tiba-tiba. Ia menelan salivanya berkali-kali sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia tak rela jika sahabat kecilnya diperlakukan seperti itu oleh Luhan yang sejak dulu selalu ia hormati dan ia segani. Bahkan ia masih memaafkan Luhan ketika pria itu diam-diam menemui Yixing dan menusuk Sehun dari belakang. Namun kali ini Luhan sudah keterlaluan! Bahkan sikapnya sekarang sudah mampu merubah penilaian Tao terhadap Luhan. Rasanya ia ingin menghadiahi bogem mentah di wajah mulusnya. Atau mendaratkan tendangan khas seorang atlet wushu tepat di perut atau tulang rusuknya. Asalkan Luhan bisa merasakan apa yang Sehun rasakan meskipun hal itu tidak akan sepadan.
"Oh Sehun, kumohon. Jangan menjadi orang yang terlalu baik! Kau akan terinjak! Kau harus bisa lebih tegas dan memperjuangkan hakmu! Kau tahu? Aku tak bisa selamanya ada di sampingmu, melindungimu—"
"Huang Zitao! Kau lupa jika aku bisa taekwondo? Setidaknya aku sudah memberinya sedikit pelajaran meskipun aku benar-benar merasa bersalah." Sehun mengacak rambutnya yang sejak tadi sudah berantakan.
"Apa yang kau lakukan padanya? Aku bertaruh kau tidak akan pernah melakukan hal kasar apapun kepada Luhan!" Tao menatapnya nyalang. Namun Sehun mengacungkan tangan kanannya dengan cepat lalu mengisyaratkan Tao agar melihatnya.
"Aku menamparnya! Jika kau tidak percaya, kau bisa lihat sendiri besok! Bahkan aku membuat sudut bibirnya sedikit robek!" Sehun berucap nyaring. Tao dengan cepat mengacak rambutnya menjadi semakin berantakan.
"Good job, Sehunnie! Aku percaya kau bisa menyelesaikan semua masalahmu. Lain kali jika dia menyakitimu lagi, kau hajar saja sampai babak belur!" pria Qingdao itu mengacungkan kedua tangannya yang terkepal kemudian berlagak seperti seorang petinju. Sehun tertawa pelan. Kemudian ia segera berdiri lalu meraih botol air mineral yang sejak tadi ia letakkan disamping pintu lalu menendangnya dengan kuat.
"Aku akan menendangnya seperti itu!"
PRAKK!
"YAAA Ige mwoya? Aisshhh.. Hik... Botol terbang~ Hik.. YA!~ Botol terbang mengenai~ hik— kepalaku~ YA! Siapa yang melemparku! Hantu?" botol air mineral yang masih berisi air setengahnya itu sepertinya mendarat tak sengaja diatas kepala seorang pria mabuk yang kebetulan lewat di samping rumah mereka. Sehun melirik Tao kemudian tawa keduanya pecah seketika. Namun dengan cepat mereka membekap mulutnya sendiri lalu berguling-guling di lantai seperti orang gila. Entah sudah berapa lama mereka tidak tertawa seperti ini. Sehun memegangi perutnya sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Tao meliriknya sekilas lalu menatapnya sendu. Ia menghentikan tawanya sejenak kemudian tersenyum sedikit lega.
"Sudah puas? Sekarang lebih baik kau cepat tidur. Ini sudah terlalu malam. Kau tidak mau kan jika beasiswamu dicabut gara-gara kau selalu terlambat masuk kelas akhir-akhir ini?"
"Ah ahahahahaha baiklah. Aigooo perutku benar-benar sakit. Kau juga, tidurlah. Jal jayo~" Sehun melambaikan tangannya sambil sesekali menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya. Tao mengacak rambut Sehun untuk kedua kalinya lalu segera beranjak dari duduknya.
"Jal jayo~ Semoga mimpimu indah." setelahnya terdengar pintu kamar yang ditutup rapat. Sehun masih belum beranjak darisana. Ia kembali tenggelam di dalam pikirannya yang begitu kalut.
"Yang benar saja, Tao-ah. Aku tidak mungkin menyakiti Luhan Hyung lebih dari ini." Lalu tubuh tingginya segera menghilang di balik pintu kaca bertirai yang menghubungkan kamar dan taman belakang. Sehun hanya berharap jika besok pagi ketika ia terbangun dari tidurnya, semua yang ia alami selama ini hanyalah sebuah mimpi buruk belaka.
oOo
Junmyeon tak bisa fokus pada surat kabar di tangannya. Bahkan sarapannya pun belum tersentuh sama sekali. Ia berulang kali menarik nafas dalam lalu memijit pelipisnya pelan. Ia tak habis pikir dengan sikap Luhan yang sudah berani mengambil keputusan seperti itu. Keputusan beresiko yang ia ambil ada kaitannya dengan perjodohan dan juga perusahaan.
Dua hari yang lalu Presdir Park menghubungi Junmyeon dan mengatakan jika ia membatalkan perjodohan Luhan dan juga Chorong. Ia bilang Chorong meminta ayahnya untuk menghentikan perjodohan karena gadis itu tidak bisa melakukannya. Ia tak memberi tahu alasan pasti apa penyebab gadis itu menolak dijodohkan dengan putra tunggal keluarga Lu. Namun Junmyeon yakin jika intervensi dari Luhan-lah yang membuatnya membatalkan perjodohan mereka, meskipun ia sudah berusaha berpikir positif jika memang Choronglah yang berinisiatif untuk membatalkannya. Oleh karena ia segera terbang ke Beijing untuk bertemu kedua orangtua kandung Luhan dan membahas masalah ini. Jika saja ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan, maka Junmyeon tidak akan terlalu memusingkan perjodohan ini. Namun justu masalahnya, jika perusahaannya melakukan kerjasama dengan perusahaan yang dimiliki oleh Park Family, maka profit yang didapat pun akan berlipat ganda. Junmyeon membaca peluang itu. Namun nampaknya sebelum ia berusaha, semuanya harus kandas begitu saja.
Junmyeon membuka kacamatanya lalu berusaha untuk membuat matanya terpejam. Ia mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya barang sejenak saja. Biasanya ia tidak akan pernah bisa tertidur di pesawat namun kali ini kepalanya seperti dihantam oleh sesuatu sehingga menimbulkan rasa sakit yang lumayan hebat. Setelah sampai di Seoul nanti, ia benar-benar harus meminta penjelasan Luhan terhadap masalah ini. Ia yakin jika Luhan adalah dalang dibalik gagalnya rencana perjodohan mereka.
oOo
Jongin baru saja selesai memakan sarapannya. Ponselnya tiba-tiba bergetar dan nama yang tertera disana membuatnya terdiam seketika—Oh Sehun. Nama itu membuat emosinya kembali tidak stabil. Ia marah kepada Sehun namun ia tak mengerti kenapa ia harus marah padanya. Namun tak dipuungkiri juga jika ada perasaan senang ketika Sehun menghubunginya. Jantungnya berdetak tak normal. Namun ia tak suka dengan kalimat Sehun tanpa embel-embel maaf pada kalimat awalnya. Ia pikir Sehun tak tahu diri. Kemarin ia sudah menunggunya cukup lama. Ia mengkhawatirkannya. Namun ternyata—
Sorot mata Jongin meredup. Jika saja ia tak melihat adegan yang menurutnya sialan itu, maka ia tak akan semarah ini kepada Sehun. Ya—marah. Atau cemburu? Tapi jika saja Jongin masih mau bertahan untuk beberapa detik waktu itu, mungkin ia akan melihat bagaimana Oh Sehun berhasil mendaratkan tamparannya pada pipi Luhan. Ia harusnya tahu. Setidaknya jika Jongin melihatnya, mungkin ia tak akan mungkin semarah ini pada Sehun dan tidak akan memecatnya begitu saja. meskipun pada akhirnya Sehun yang harus mundur.
Jongin dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer. Ia menyampirkan tas sekolahnya di bahu lalu segera pergi meninggalkan ruang makan yang bgeitu sepi. Sebenarnya ia terlalu malas untuk kembali ke sekolah membosankan itu. Tak punya teman, hanya wanita-wanita yang mengidolakannya namun tak terlalu ia anggap ada. Menurutnya kehidupannya benar-benar jauh dari kata normal. Jika sudah seperti ini nama Luhan yang akan selalu muncul di benaknya. Ia memang bukan Luhan, yang memiliki banyak teman dimanapun ia berada. Luhan yang pandai mencairkan suasana dan Luhan yang disenangi oleh banyak orang. Dan ia juga bukan Luhan yang selalu mau menuruti peraturan yang diterapkan oleh keluarganya. Ia bukan Luhan yang menurut orang—sempurna. Sekali lagi ia bukan Luhan! Namun setidaknya ada satu hal yang membuatnya mau menjadi Kim Jongin. Karena Kim Jongin bukanlah Luhan.
oOo
Hujan kembali turun malam itu. Sehun harus terjebak di dalam sebuah cafe menunggu Jongin yang tak kunjung datang. Padahal ia menyuruh Jongin untuk datang 2 jam yang lalu dan letak cafe pun persis di sebrang sekolah Jongin.
"Apa dia terlalu marah?" gumamnya pelan sambil terus melirik jam digital pada ponselnya. Ia menoleh ke arah jalan raya yang terlihat lengang. Hanya beberapa mobil saja yang lewat dan juga pejalan kaki berpayung yang melangkah dengan terburu. Kaca besar disampingnya terlihat berembun. Ia mengusapnya dengan lengan jaketnya sehingga matanya bisa melihat ke arah sebrang dimana letak sekolah Jongin berada. Meskipun gedung sekolah sama sekali tak terlihat darisana, namun ia yakin jadwalnya tidak akan salah. Ini hari terakhir mereka sekolah di minggu ini. Murid tingkat akhir baru akan puang sekitar pukul 8 malam atau bahkan lebih. Dan jam baru menunjukkan jika pukul 6 baru saja lewat 15 menit yang lalu.
Sehun kembali menyeruput cangkir kopinya. Ini sudah gelas ketiga sejak 2 jam yang lalu. Matanya memang sedikit lelah dan agak mengantuk. Namun ia benar-benar tak bisa pergi dan tetap menunggu Jongin untuk datang. Ada hal penting yang harus ia sampaikan dan juga ada sesuatu yang harus ia berikan padanya.
Tangannya menangkup wajahnya yang sudah mulai bosan. Tak ada satupun pengunjung berwajah Jongin yang keluar masuk sejak tadi. Ia akan menunggu Jongin 15 menit lagi, jika tak kunjung datang maka ia akan pergi. Ketika ia hendak menyerah, tiba-tiba saja lonceng di pintu masuk cafe berbunyi dan menampilkan sosok yang sudah ia tunggu dari tadi. Wajah Sehun yang sudah kusut setidaknya sedikit lega ketika Jongin kini berjalan mendekatinya. Namun ada yang sedikit berbeda dengan penampilan Jongin kali ini. Wajahnya terlihat kesal dan juga datar. Persis seperti ketika Sehun pertama kali bertemu dengannya. Langkah Jongin terhenti saat ia sampai di tempat Sehun. Sikap Jongin membuat dahi Sehun sedikit mengernyit. Jongin sama sekali tidak duduk dan hanya berdiri disana dengan wajah datarnya.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu, Kim? Duduklah!" ujar Sehun dengan nada seperti biasanya. Jongin mendengus kesal seraya menatap Sehun tajam.
"To the point saja. aku tidak bisa berlama-lama." Intonasinya yang terdengar datar dan terkesan angkuh membuat Sehun tersenyum heran.
"Kau kenapa eoh? Kau masih marah soal kemarin? Maaf aku tak bisa datang. Puas?" jawabnya ketus. Jongin tak merespon apapun. Ia masih terdiam, bahkan hendak pergi jika Sehun tak mencegahnya.
"Ya Kim Jongin wae? Aku belum selesai bicara!" sergah Sehun dengan suaranya yang agak tinggi. Untung saja pengunjung cafe hanya mereka berdua. Jongin pada akhirnya duduk di hadapan Sehun setelah pemuda itu memaksanya.
"Katakan apa maumu." Ujar Jongin lagi. Sehun semakin tidak mengerti. Ia pada akhirnya tidak bertanya lagi kenapa Jongin sedikit berbeda dari biasanya. Meskipun sejak awal ia memang bersikap seperti itu padanya.
"Baiklah." Sehun mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari tasnya lalu menyodorkannya di hadapan Jongin.
"Aku minta maaf sebelumnya tapi—aku benar-benar harus berhenti menjadi tutormu." Sehun akhirnya meloloskan kalimat itu dari mulutnya. Jongin cukup terkejut dan terdiam sejenak berusaha mencerna apa yang Sehun katakan.
"Begitu? Baiklah. Ternyata aku tidak perlu repot-repot memecatmu ya? Uangnya ambil saja." Jongin beranjak dari kursinya dan meninggalkan wajah bingung Sehun di depannya.
oOo
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Luhan. Ia merasa panas menjalar di sekitar wajahnya saat ini. Bahkan memar hasil tamparan Sehun kemarin pun masih belum pulih dan Junmyeon menambahnya dengan sebuah tamparan keras. Luhan masih memalingkan wajahnya ke arah kanan. Ia hanya diam dan tidak melawan apapun.
"Kau berencana menggagalkan perjodohanmu dan Chorong? Benar-benar anak tak tahu diri! Kau tahu berapa keuntungan yang dapat kita ambil jika perusahaan keluarga Park bersatu dengan perusahaan kita? Kau bodoh?! Aku benar-benar kecewa padamu, Luhan! Bahkan orangtuamu pun kecewa! Apa yang ada di otakmu itu hah?! Oh Sehun?! Apa aku perlu menyingkirkan anak itu?!"
"Jangan pernah berani menyentuhnya—"
"Kau mengancamku? Kau berani mengancamku?!" mata Junmyeon memerah karena amarah. Luhan hanya mengepalkan tangannya agar amarahnya tidak meledak-ledak.
"Aku tidak akan membiarkanmu untuk menyentuhnya walau seujung jari pun!" ujar Luhan geram.
"Apa yang kau harapkan darinya, Luhan? Dia sama sekali tak memberi keuntungan apapun untuk kita!"
"Keuntungan? Aku sama sekali tak mengambil keuntungan apapun darinya! Dan kau—kalian—tidak akan pernah mengerti!" tanpa basa-basi lagi Luhan segera pergi meninggalkan Junmyeon. Ia benar-benar marah. Dan dalam sekali hempas, benda-benda yang ada diatas meja kerjanya kini sudah berceceran diatas lantai.
oOo
Sehun berdiri dipinggir jalan menatap kepergian Jongin dengan motornya yang melaju cepat. Gerimis malam itu rasanya semakin memperburuk keadaan saja. Wajahnya menyisakan tanda tanya besar yang tak mungkin ia jawab sendiri. Kenapa sikap Jongin berubah drastis seperti itu? Apa ia melakukan kesalahan lain yang tak ia sadari? Sehun hanya menghela nafasnya lelah.
Sehun merasa saku jaketnya bergetar intens. Ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat dan mendapati nama Jongdae tertera disana. Baru saja ia hendak mengangkat teleponnya, tiba-tiba sebuah tangan merebut ponselnya hingga ia terkesiap kaget.
"YA apa yang—" mata Sehun membulat sempurna. Luhan sudah berdiri di sampingnya lalu tiba-tiba saja tangannya sudah menarik masuk Sehun ke dalam mobilnya.
"Kau tidak bisa seenaknya menarikku begitu saja—"
"Kumohon, Oh Sehun." Suara rendah Luhan dan sorot mata tajamnya membuat Sehun tak bisa berbuat apapun kali ini. Dia bukan terpesona, hanya saja ia merasa bersalah. Sehun melirik pipi kiri Luhan yang berwarna kemerahan—apa? Tamparannya kemarin apa begitu keras sehingga bekasnya masih belum juga hilang? Meskipun cahaya di dalam mobil tak begitu terang, namun mata Sehun tidak akan salah. Terlebih darah mengering di sudut bibirnya tampak seperti baru. Tapi Sehun tak berkomentar apapun. Setelah memasang seatbelt-nya ia hanya fokus pada jalanan di sampingnya tanpa menghiraukan Luhan yang kini sama-sama terdiam. Sehun bungkam. Namun ia rasa mobil yang Luhan kemudikan berjalan semakin cepat. ia dengan panik menoleh dan berusaha menghentikan Luhan yang melajukan mobilnya seperti orang gila.
"L—Luhan Hyung!" ia berpegangan dengan kuat pada handle dan juga jok mobil sambil sesekali berteriak agar Luhan memelankan laju mobilnya.
"Hyung berehenti! Jalanannya licin Hyung! Kau mau kita mati?!" hati Sehun sudah tidak karuan lagi. Rasanya ia ingin meloncat saja dari mobil saat itu juga. Namun Luhan tidak mendengar ucapannya. Ia terus menginjak rem semakin dalam seolah telinganya ditulikan oleh sesuatu.
"LUHAN HYUNG!"
CKIIIITTTTT!
Sehun terhempas ke depan hingga kepalanya hampir mengenai dashboard. Wajahnya benar-benar pucat. Ia hampir saja mati barusan. Sementara Luhan— Sehun yang masih terpaku ditempatnya menoleh dengan nafas tersengal. Ia terlalu shocked dan seketika kembali terdiam ketika yang ia lihat saat ini adalah air mata Luhan yang mengalir deras di pipinya. Dadanya benar-benar terasa sesak sekarang.
"Hyung—" suaranya terdengar serak. Luhan segera melepas seatbelt-nya lalu dalam hitungan sepersekian detik ia sudah memerangkap Sehun di dalam dekapannya. Air mata itu mengalir tanpa suara. Sehun hanya terdiam—sama sekali tidak membalas pelukannya.
"Mianhae~" terdengar bisikan pelan pada telinganya. Sesuatu yang mengganjal di hatinya terasa semakin keras menekan dadanya. Mata Sehun memburam. Genangan air di pelupuk mata membuatnya menyerah terhadap egonya sendiri. Ia membalas pelukan itu. Ia memeluk Luhan erat. Hingga suara tertahan pria Beijing itu kini lolos dan menjadi isak tangis menyedihkan di telinga Sehun.
"Kkajima—" bisik Luhan semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sehun. Pria yang berusia lebih muda 4 tahun darinya itu mulai mengusap punggung Luhan pelan. Ia tak menjawab apapun. Ia tak tahu harus menjawab apa. Sehun tahu ini salah. Terus memberi Luhan sebuah harapan bukanlah ide yang bagus. Apa yang terjadi memang selalu melenceng jauh dari apa yang ia pikirkan. Bukankah ia sudah bertekad untuk pergi dari kehidupan Luhan? Bahkan menghindarinya adalah salah satu cara paling mudah bagi Oh Sehun. Tapi— melihatnya seperti ini bagaimana mungkin ia bisa pergi? Melihat Luhan terluka seperti ini bagaimana mungkin ia membiarkannya? Padahal Sehun menjadi orang yang paling terluka. Bahkan rasa benci yang tak sengaja ia pupuk pun seperti mati begitu saja. Sehun tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Maafkan aku.." terdengar lagi suara bergetar Luhan yang semakin parau. Dan setelah mengucapkan permintaan maaf itu, Luhan melepas pelukannya. Sehun dapat melihat dengan jelas wajah berantakan Luhan yang seperti tanpa harapan. Wajah putus asa yang tak pernah ia tunjukkan. Tangan Sehun bergerak untuk menghapus airmata itu.
"W—wae?" suara Sehun hanya terdengar seperti bisikan. Luhan menatapnya intens kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun yang juga berurai airmata.
"Kkajima—" dan Luhan menghapus jarak diantara mereka. Emosi yang sejak tadi terkubur dalam, kini ia luapkan lewat sebuah ciuman panjang. Sehun tidak menamparnya seperti tempo hari. Ia hanya memejamkan mata kemudian mengernyitkan dahinya ketika Luhan menggigit bibirnya cukup keras. Ekspresi wajah Oh Sehun sulit untuk diungkapkan oleh sebuah kata. Namun wajah bingung itu terlihat begitu kentara. Bahkan ketika Luhan memperdalam ciuman mereka, menekan tengkuk Sehun semakin dalam, lalu mulai menelusupkan lidah ke rongga mulut Sehun, pria berkulit pucat itu masih memejamkan matanya. ia mencengkram ujung jaket Luhan dengan erat. Ia terlalu takut untuk membuka mata. Ia takut melihat ekspresi Luhan saat ini. Tubuhnya terlonjak kaget ketika Luhan melepas seatbelt Sehun lalu menarik pria itu untuk menduduki pahanya di jok kemudi.
"H—Hyung~" tanpa memberi kesempatan kepada Sehun untuk protes ataupun bertanya, Luhan kembali menarik tengkuk Sehun dan kembali menciumnya dalam. Sorot mata Luhan terlihat menakutan. Dan sebelah tangan Luhan kini berada dipinggangnya, menelusup kedalam t-shirt yang Sehun gunakan. Otak Sehun benar-benar blank. Ini pertama kalinya Luhan seperti ini! Dan sebuah remasan pada pinggang membuat Sehun melenguh tertahan. Ia membuka matanya sedikit dan Luhan tampak menatapnya dari jarak begitu dekat. Ia kembali memejamkan matanya kemudian melingkarkan tangannya di leher Luhan. Sehun sedikit kewalahan dengan gerakan lidah Luhan yang menginvansi mulutnya. Ia tidak tahu lagi. Ia tidak peduli dengan harga dirinya saat ini. Sehun membalasnya. Sehun berusaha mengimbangi ciuman Luhan. Ia menginginkannya. Ia menginginkan Luhan. Dan ciuman panas itu membuat keduanya tak bisa bernafas dengan benar. Mereka harus mengakhiri ciumannya. Sehun masih memejamkan matanya, enggan untuk melihat Luhan. Dan ibu jari Luhan bergerak untuk menghapus jejak saliva yang berceceran di sekitar bibir Sehun yang sudah membengkak.
"Sehun-ah, aku akan menikahimu."
Mata itu membulat sempurna dan Sehun yang tengah mencerna ucapan Luhan, kemballi harus terperangkap diantara bibir cherry Luhan yang kini mulai menjalar pada leher jenjangnya.
TO BE CONTINUED
.
.
Hellooooo! Ada yang kangen gak sama saya? Haha.. Akhirnya saya comeback! Maaf ya updatenya bener2 super duper lama. Chapter ini saya tulis untuk merayakan kelulusan saya! Yeheeet! /tebar confetti/ xD sebenernya udh dari bulan lalu sih lulusnya cuma baru ada inspirasi aja xD Dan itu kenapa ya jadi menjurus ke NC kyaaaaa! YA AMPUN! LOL xD Maaf kalo chapter ini ngcewain. Rasanya pengen ngebelah Sehun jadi 2. Yang satu buat Luhan satunya lagi buat Kai huhuhu.. saya bingung guys~ dan well banyak banget hal yang terjadi selama ini. Dan yg paling gak bisa lupa adalah... ketika Luhan berdiri depan saya and he smiled and i hate him so much huhuhuhu... he was shaking his damn butt and i cried ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ and i will never forget his smileㅠㅠㅠㅠㅠㅠ cantik bangetttㅠㅠㅠㅠㅠㅠPliiissss ya ampun i was speechles for a moment, even in the whole concert, i was blank.. masih kena after concert syndrome ini huhuhuhu... Mudah2an aja besok dia fit ya di TLP Beijing.. i wanna meet him again.. but u know smtg cant get out of my mind. I was born to spell his name but he wasnt born to hear my voice.. i was born to see him there but he wasnt born to notice me here.. maaf ya jadi galau:( sedih aja gitu wkwkwkwkkw.. Jangan lupa komentar dan saran sangat saya tunggu di kotak review hehe~ thx for all readers and reviewers! I love you~
