Ehem. Masih ingat dengan cerita ini ga ya?

Maaf ya, ternyata deadline nya jauh banget tertunda. Karena itu sebagai permintaan maaf chapter kali ini aku bikin lebih panjang dari yang lainnya. Nah, silahkan menikmati dan terima kasih semuanya!


"Jadi, bagaimana maumu?"

Semua anggota keluarga dan juga yang sudah dianggap seperti keluarga saat ini sudah berkumpul di depan sebuah arena di taman bermain. Dengan senyum jahilnya Naruto memandang semua mata yang terarah padanya, menunggu-nunggu apa yang akan dia sampaikan.

"Kita berpasangan dan berkompetisi. Aku dan Sasuke, Kak Itachi dengan Kyuubi, lalu Gaara dan Neji. Yang kalah harus mau menerima hukuman dari yang menang seperti biasa yang kita lakukan."

"Tapi kenapa aku harus ikut? Bagaimana dengan Kurama?"

Mata merah si kecil berbinar ketika namanya dipanggil, ditambah lagi melihat keantusiasan yang ada di sekelilingnya. Tapi dia belum berkata apa-apa dan hanya memperhatikan. "Titip saja pada Ayah dan Ibu. Jangan banyak alasan, Kyuubi."

"Oh, tunggu sebentar Naru sayang." Semuanya berpaling pada Kushina. "Kau tidak bisa menitipkan Kurama pada kami, karena Ibu dan Ayah juga akan ikut dalam kesenangan ini." Dengan sedikit manja Kushina merangkul lengan suaminya dan tersenyum manis.

Minato menatap istrinya dan menyadari neraka apa yang direncanakan untuknya. "Oh tidak, aku tidak mau. Sudah kubilang aku sudah tidak muda lagi. Jangan libatkan aku dalam kegilaanmu." Minato mencoba untuk lari tapi rangkulan Kushina cukup kuat.

"Mina sayang, jangan hancurkan mimpiku seperti ini. Kau sayang padaku, kan? Anggap saja ini kencan kita berdua. Kau juga pasti menantikan permainan ini, bukan?"

Minato semakin histeris dan mulai bertindak seperti anak kecil. "Tidak! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Aku akan menjaga Kurama saja."

"Ayolah, Minato. Kau adalah suamiku yang paling kusayang. Kau tidak mau bersenang-senang denganku?"

"Sudahlah Minato, kalian ikut saja. Kurama biar aku dan Fugaku saja yang menjaga." Mikoto sedari tadi sudah tidak kuat menahan tawanya melihat pasangan suami-istri yang sudah tidak muda lagi ini beriteraksi layaknya anak kecil. "Kasihan Kushina, dia benar-benar ingin bermain denganmu."

"Bukan, kalian tidak mengerti! Aku tidak mau!"

Jika dibiarkan seperti ini terus, entah kapan mereka bisa memulai permainan dan hanya buang-buang waktu saja. Naruto menepuk kedua tangannya cukup keras, menyita perhatian mereka semua. "Oke! Kita hentikan drama anak kecil ini. Sekali lagi aku umumkan pasangannya. Aku dan Sasuke, Kak Itachi dan Kyuubi, Gaara dan Neji, lalu Ayah dan Ibu. Kurama akan tinggal dengan Ibu Mikoto dan Ayah Fugaku. Selesai."

Kyuubi menyela lagi penjelasan Naruto dan bersikeras dengan pendapatnya. "Tapi Kurama datang kemari karena ingin bermain bersama kita semua. Apa artinya jika kita malah sibuk sendiri?"

Naruto sudah akan menjawab ketika Mikoto lagi-lagi menyuarakan isi hatinya. "Kami akan mencoba mengikuti kalian, walau mungkin kami akan lebih menikmati permainannya dan tidak terburu-buru. Jadi nak Kyuubi tidak perlu khawatir, benar kan Kurama? Tidak apa kan kalau Kurama bermain dengan Nenek dan Kakek saja?"

Tangan kecil Kurama yang sedari tadi menggenggam tangan ayahnya melepaskannya dan kakinya melangkah membawanya mendekati sang nenek. "Nanti kita naik bianglala ya, Nek. Kurama suka tempat yang tinggi." Mikoto mengiyakan lalu mereka tertawa bersama.

"Lihat? Kurama tidak keberatan. Kita mulai saja. Aku dan Sasuke akan menjadi penantang pertama, kalian tinggal mengikuti kami saja. Ayah, berhentilah memasang wajah menderita seperti itu atau Ibu akan semakin liar." Minato hendak protes kembali tapi mengurungkan niat ketika mendapati tatapan tajam dari putranya. Dia mengangguk mengerti dan menarik napas dalam untuk menenangkan diri.

"Tapi kenapa aku harus dengan Itachi? Kau hanya seenaknya saja memasangkan orang." Lagi-lagi Kyuubi protes. Pada kunjungannya yang terakhir ke kediaman Uchiha, Kyuubi penasaran dengan sesuatu. Setelah bertanya dan sedikit memaksa pada Naruto dan Gaara, akhirnya dia mengerti satu hal. Dan sejak saat itu pula dia menjadi tidak bisa tenang jika berdekatan dengan Itachi.

"Kau tidak suka berpasangan denganku?" Ada sedikit kesan terluka dalam nada bicara Itachi yang mebuat Kyubi menjadi semakin salah tingkah.

"Bu-bukan begitu! Aku hanya…maksudku…"

"Ya sudah, ganti saja."

"Tidak, tidak akan ada perubahan pasangan. Lagipula aku ingin bersama Sasuke dan Gaara pun sudah sangat nyaman dipasangkan dengan Neji."

Gaara yang sejak tadi nyaman dengan kebisuannya mendadak mendapatkan kembali suaranya dan mengajukan protes. "Hei, apa maksud perkataanmu barusan? Aku tidak suka kau mencampuri urusanku, Tuan Muda."

Naruto menganggap tidak ada protesan barusan dan melanjutkan kata-katanya. "Bukannya kalian ini dekat, ya? Apa ada masalah? Tidak ada, kan? Ya sudah, kita mulai saja."

"Hei, jangan mengacuhkanku, bodoh! Sasuke, kendalikan istrimu." Gaara paling tidak suka jika dia tidak dicuekan. Tingkah Naruto yang seperti tuan muda ini selalu berhasil membuatnya jengkel.

Sasuke yang berdiri di samping Naruto merangkul pinggang istrinya itu dan mendekatkannya kedalam pelukannya. "Mau bagaimana lagi, dia juga sahabatmu bukan. Kau lebih tahu bagaimana dia. Lagipula sifatnya yang seperti ini terlihat manis bagiku." Sasuke mengatakannya dekat sekali dengan telinga sang istri, seakan ingin memastikan Naruto mendengar setiap perkataannya.

Sesuai harapannya semua kata-katanya berhasil ditangkap oleh Naruto dan sukses membuat telinga dan pipi sang istri memerah. "Sasuke, berhenti menyebutku manis. Kau tahu aku tidak suka." Walau begitu dia tetap tersipu setiap kali Sasuke memanggilnya manis. Beda sekali nada suara yang baru saja dia pakai kepada yang lain dengan nada suara yang dia pakai saat berbicara dengan Sasuke. Seperti melihat dua orang yang berbeda atau seseorang dengan kepribadian ganda saja.

Seringai jahil merekah di bibir beberapa orang yang terkenal jahil selain Naruto. Mereka memang membutuhkan kehadiran Sasuke untuk mengendalikan keegoisan dan kediktatoran Naruto. Hanya ketika Sasuke menggoda Naruto saja mereka bisa melihat sisi manis dan bahkan sisi feminin dari sang Uchiha-Namikaze berambut pirang tersebut.

Setelah Naruto menjelaskan lagi semua peraturan dan lain-lain, permainan pun dimulai. Dengan bersemangat Naruto berjalan paling depan diikuti oleh Sasuke yang berjalan tidak jauh darinya menuju permainan pertama. Pasangan Gaara dan Neji berjalan dibelakang mereka, menyusul pasangan Itachi dan Kyuubi, dan terakhir Minato Kushina. Mikoto, Fugaku dan Kurama mengikuti dengan santai sambil melihat-lihat sekitar. Sasuke membeli delapan buah tiket dan membagikannya kepada semua. Tantangan pertama adalah roller coaster.

"Kau yakin ingin menaiki ini, Naru?" Gaara memandang permainan di hadapannya dengan khawatir. "Aku tidak yakin."

"Kalau kau takut mundur saja. Berarti kau tertinggal satu poin." Satu pukulan melayang ke kepala Naruto. "Aduh! Kenapa kau malah memukulku?"

"Yang kukhawatirkan itu kau, bodoh! Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Kau masih belum terbiasa dengan jantung barumu, bukan."

Naruto mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit berkat pukulan sayang dari sahabatnya. "Tenang saja, aku tidak akan apa-apa. Hanya segini saja aku pasti kuat." Gaara menatap tajam Naruto tidak percaya dengan dalihnya. "Sudahlah, kau mau naik atau tidak? Aku dan Sasuke akan masuk duluan."

Tanpa menunggu lagi, Naruto menggandeng Sasuke masuk setelah menyerahkan tiket ke penjaga gerbang. Mereka duduk di barisan ketiga dari depan dan sudah bersiap dengan perlengkapannya. Di belakang mereka duduk Kushina dan Minato yang menyalip anak-anak muda di depannya karena terlalu lama berpikir. Antusias sekali kedua orang tua ini, atau lebih tepatnya Kushina yang sangat antusias dan menyeret suaminya bersamanya. Di baris selanjutnya duduk Itachi dan Kyuubi, terakhir Gaara dan Neji ditambah beberapa penumpang lain di belakang meraka. Mesin bergerak, roda berputar, dan ketegangan pun dimulai.

"WAAA!"

Teriakan dari berbagai arah terdengar tidak lama setelah kereta meluncur. Jerit ketakutan, keantusiasan dan juga kegembiraan bercampur jadi satu. Tidak tahu lagi yang mana datang dari siapa, hanya suara roda yang berputar dan detak jantung mereka sendiri saja yang jelas sekali terasa. Setelah melalui berbagai macam liukan dan belokan yang sanggup menghentikan detak jantung, perjalanan yang singkat namun terasa lama itu pun berakhir. Kereta perlahan berhenti dan para penumpangnya pun satu per satu keluar dengan berbagai macam ekspresi yang berbeda.

Naruto meremas lengan baju Sasuke saat turun dari kerete dan wajahnya tertunduk. "Sasuke, tangkap aku." Dengan berakhir kalimatnya, tubuhnya pun perlahan melemas. Untung saja refleks Sasuke bagus dan segera menangkap sang istri.

"Naru, kau tidak apa-apa?"

Tubuh ramping Naruto terus saja merosot sampai akhirnya dia terduduk di lantai. Tangannya masih meremas lengan baju Sasuke, karenanya dia ikut membawa suaminya terduduk. "Ternyata jantungku tidak sekuat yang kupikirkan hahaha." Suara tawanya terdengar begitu lemas.

Sasuke menatap khawatir apalagi melihat keringat yang mengucur dari dahi sang istri. "Naru!" Keduanya menoleh, melihat Kyuubi yang bergegas menuju mereka berdua. "Naru, kau tidak apa-apa? Kau terlihat pucat, kau juga berkeringat." Kyuubi mengelus peluh dari dahi Naruto dan memeriksa keadaan sepupu tercintanya.

"Aku tidak apa-apa, Kyuubi. Hanya butuh sedikit pembiasaan." Dengan satu tarikan napas panjang, Naruto mencoba mengatur kembali detak jantungnya. Kepalanya mendongak untuk melihat wajah sang sepupu. "Jadi, siapa yang menang?"

"Kau.. Masih saja memikirkan hal itu? Kau ini seharusnya lebih mengkhawatirkan kesehatanmu sendiri."

"Ayolah Kyuubi, siapa yang menang?" Mendengar ucapan Naruto, Sasuke terkikik sudah semakin terbiasa dengan sifat unik istrinya itu. "Oh iya, mana Kakak?"

"Kami yang menang." Mereka bertiga menoleh ke arah suara Itachi datang. Dengan wajah tanpa ekspresinya, Uchiha sulung itu mendekati mereka seakan tidak begitu peduli melihat adik kesayangannya terkapar di tanah. "Lihat saja mereka." Ibu jarinya menunjuk ke sesuatu di balik bahunya.

Naruto, Sasuke dan Kyuubi melihat apa yang dimaksudkan Itachi, lalu tawa pun keluar dari mulut Naruto. Gaara sedang membantu Neji yang wajahnya saat ini lebih pucat dari biasanya. Ternyata dia memiliki masalah dengan ketinggian. Tidak jauh di samping mereka adalah Minato yang nyawanya sudah setengahnya menghilang, ditemani Kushina yang masih berseri-seri sambil terus meyakinkan suaminya kalau semua ini menyenangkan.

"Hahaha, kuakui kalian lah yang memenangkan tantangan pertama. Tapi yang berikutnya aku tidak akan kalah."

Itachi membantu Naruto berdiri lalu mengelus rambut pirang adik iparnya itu sebelum pergi duluan meninggalkan mereka. Kyuubi ikut bangkit dan segera menghadap sepupunya dengan wajah serius. "Aku tahu percuma saja menghentikanmu, tapi setidaknya kita istirahat dulu sebelum meneruskan permainan ini. Jangan membantah." Tanpa mempedulikan kata-kata Kyuubi, Naruto berjalan keluar dibantu oleh Sasuke yang segera merangkulnya.

Kekeraskepalaan sepupunya itu siapa yang bisa menandingi, Kyuubi hanya bisa menghela napas dan berjalan menyusul. Di luar dekat dengan arena roller coaster terdapat bangku taman dan tiga orang yang keluar duluan tadi sudah duduk disana untuk beristirahat. Di bahu Sasuke bersandar Naruto yang memejamkan matanya, pinggangnya di rangkul oleh sang suami dan napasnya dia atur agar kembali normal. Itachi sempat membeli beberapa minuman untuk mereka semua dan Sasuke sedang memakai salah satu dari minuman kaleng itu untung mengompres dahi istrinya. Mereka terlihat romantis sekali, membuat yang melihat iri saja.

Tak lama dua pasangan lainnya pun menyusul. Neji dan Minato langsung ambruk di bangku sebelahnya, hanya saja tidak ada yang memberikan bahu pada mereka untuk bersandar. Walau begitu Gaara ada disana untuk menemani Neji dan memastikan karyawan sekaligus temannya itu baik-baik saja, sedangkan Kushina lebih memilih untuk mengganggu putranya daripada mengurusi suaminya yang terlihat mau pingsan. "Naru sayang, ini baru saja dimulai. Masa kau sudah tumbang seperti ini, membuat Ibu malu saja. Jangan sok jago memilih permainan seperti tadi jika kau memang tidak kuat. Kita naik gajah terbang saja, bagaimana?"

Kaleng yang sedang dikompreskan ke dahinya Naruto tepis dan dia membuka matanya untuk memarahi ibunya. "Ibu, jangan memperlakukanku seperti anak kecil. Aku ini…" Kata-katanya terhenti saat melihat sorot mata kekhawatiran dari sang ibu. Naruto menutup mulutnya lalu membukanya lagi untuk melanjutkan perkataannya. "Aku tidak apa-apa, Ibu. Setelah kita istirahat kita akan melanjutkan permainan, aku akan memilih lebih teliti."

Kushina tersenyum dan senyumnya semakin lebar. "Tapi kau harus tetap mempertahankan kesenangannya. Ibu masih harus mengajak Ayahmu bermain."

Kata bermain yang dimaksudkan Kushina jelas berbeda sekali dengan yang dimaksudkan orang pada umumnya, dan Naruto sudah sangat mengenal sifat ibunya itu. "Jangan terlalu bersemangat, nanti Ayah bisa mati."

Ibunya hanya mencubit hidungnya gemas lalu meninggalkannya untuk kembali ke suaminya sendiri. Sebuah tangan mengelus pipinya lembut, Naruto meraih tangan tersebut dan menghirup bau khas suaminya. "Kau sudah merasa baikan?" Suara rendah milik Sasuke terdengar begitu menenangkan.

"Ya, aku sudah tidak apa-apa." Sasuke tersenyum dan memberikan Naruto sebotol minuman agar dia bisa sedikit menyegarkan tenggorokannya. Begitu minuman dingin itu mengalir di tenggorokannya, Naruto merasa jauh lebih baik. Walau begitu dia masih butuh sedikit istirahat sebelum kembali berperang.

"Kau yakin tidak apa-apa?" Kali ini suara itu berasal dari Gaara.

Naruto hampir bosan menjawab pertanyaan yang itu-itu lagi. Dia berpaling pada sahabatnya dengan sedikit jengkel. "Sudah kubilang kalau aku ini ti…" Untuk kesekian kalinya kalimatnya terhenti. Hanya saja kali ini seringai muncul di bibirnya. Mengapa di saat seperti ini dia tidak membawa kamera, dia sangat menyesalkannya.

Gaara terlihat begitu khawatir dan dengan mata hijaunya terus memperhatikan wajah Neji yang menurutnya sangat pucat. Berapa kali orang melihat seorang Gaara menunjukkan ekspresi seperti sekarang ini, hampir tidak pernah. Bahkan Naruto sekali pun hanya dua kali menyaksikannya, pertama saat pertama kali dia mengabarkan tentang penyakitnya, kedua saat Naruto mengalami kecelakan yang mengakibatkan nya hampir kehilangan nyawa. Dan saat ini Naruto benar-benar menyeringai, ingin sekali dia membuat Gaara mengakui perasaannya terhadap pemuda bermarga Hyuuga itu. Naruto harus mencari cara agar sahabatnya dengan senang hati mengakuinya tanpa nyawanya terancam. Sekarang dia hanya akan terus mengamati.

"Sasuke, bagaimana kalau setelah ini kita ke permainan tembak hadiah?"

Kedua alis mata Sasuke terangkat, tapi dia lalu berpikir. "Hm, baiklah." Permainan ini tidak menguras tenaga dan juga menyenangkan, tapi dia merasa nada suara istrinya terlalu senang seperti merencanakan sesuatu. Semoga saja bukan hal yang buruk.

Setelah sekitar tiga puluh menit mereka semua beristirahat dan meyakinkan bahwa semua baik-baik saja, termasuk Minato yang kondisinya bisa dikatakan paling buruk tadi, permainan pun dilanjutkan. Mereka berdelapan berjalan menuju ke stand dimana permainan tembak hadiah berada. "Baiklah, kali ini Sasuke, Kakak, Neji dan Ayah yang harus bermain. Yang bisa mendapatkan hadiah paling besar dia yang menang. Masing-masing hanya punya tiga kesempatan, oke?"

Belum apa-apa Gaara sudah mengangkat protes. "Mengapa harus Neji yang main? Biar aku saja, dia masih belum sembuh dari shock nya tadi."

Naruto mengayunkan jari telunjuknya sambil berdecak ke arah Gaara. "Jika kau yang mendapatkan hadiahnya maka tidak ada artinya. Peraturannya memang begitu, kau akan bermain di permainan yang selanjutnya bersamaku, Kyuubi dan Ibu. Bukan hanya Neji yang lelah, lihat saja Ayahku yang wajahnya sudah seperti mayat hidup. Jangan banyak protes."

Memang dibandingkan dengan Neji, wajah Minato saat inilah yang lebih patut dikasihani. Tega sekali Naruto tidak memberi kesempatan bahkan pada ayahnya sekali pun. Kushina yang sedang melihat keadaan suaminya yang seperti minta dipanggilkan ambulan, mencoba menerka apa yang direncanakan putranya. Mengingat semua pemeran yang disebutkan, seringainya muncul. Dia tahu persis apa yang putranya inginkan.

"Anak Ibu memang cerdas. Kau memang benar, tidak ada artinya jika Gaara atau Ibu yang bermain. Neji dan Minato tetap harus melakukannya apapun kondisi mereka atau semuanya sia-sia. Minato, ayo bangun dan dapatkan hadiah untukku." Tanpa belas kasihan Kushina menarik-narik Minato yang sudah hampir tidak kuat berdiri.

"Hahaha, sepertinya Ibu mengerti maksudku. Oke, kita mulai saja. Sasuke, kau maju duluan. Dapatkan hadiah yang bagus, ya." Naruto membayar untuk empat giliran dan memberikan senapan pertama pada Sasuke. Sasuke berbisik menanyakan sesuatu pada Naruto yang dijawab dengan gelengan kepala oleh sang istri. Setelah mengerti apa keinginan istrinya, Sasuke membidikan senjatanya ke arah target dan mulai menembak sebanyak tiga kali. Hasilnya dia mendapatkan sebuah boneka kecil manis berbentuk katak berwarna biru. Dia menyerahkannya pada Naruto yang disambut dengan senyuman manis dari sang istri. "Baiklah, sekarang giliran Kakak."

Begitu mendapatkan senapan dari penjaga stand, Itachi langsung membidik dan menembak dengan begitu penuh perhitungan layaknya seorang Uchiha. "Hm, sepertinya aku mendapatkan hadiah besar." Itachi mendapatkan dua buah boneka, satu berupa seekor rubah berwarna biru dan satunya berupa ksatria berjirah. "Monster dan pahlawan penakluk monster?"

Naruto dan Kushina yang sepertinya memiliki pemikiran yang sama terkikik mendengar pernyataan Itachi. Naruto membisikan apa yang dia pikirkan pada Sasuke dan membuat suaminya itu ikut tersenyum. Neji yang mendapat giliran selanjutnya mengambil senapannya dengan sedikit lemas. Terlihat dia menembak sedikit asal dan hasilnya dia mendapatkan boneka beruang berwarna cokelat. "Gaara, kau saja yang pegang. Aku tidak begitu suka boneka."

Entah kenapa dengan sedikit tersipu Gaara menerimanya. "Terima kasih."

Sambil memeluk boneka kodoknya, Naruto mengambil satu langkah mendekati Sasuke. "Lihat, mereka itu sebenarnya sadar atau tidak sih? Lagipula bukankah kau pikir seekor panda akan lebih cocok daripada seekor beruang?"

"Terserah apa menurutmu saja, Naru. Tapi soal panda itu kau ada benarnya juga."

Pasangan suami-istri ini semakin suka berbisik-bisik membuat yang lainnya berprasangka tidak baik. Bahkan Itachi pun sedikit risih melihatnya, belum pernah dia melihat adiknya berperilaku seperti ini. "Apa sebenarnya yang kalian bicarakan? Berhenti berbisik-bisik seperti itu." Naruto dan Sasuke berhenti untuk menatap Itachi sejenak lalu lanjut berbisik lagi. Mereka berdua lalu terkikik lagi membuat Itachi yang melihatnya semakin jengkel.

Sebelum Itachi sempat meledak, Kyuubi menepuk pundaknya pelan dan mengalihkan perhatiannya dari dua orang bodoh yang dia sebut adik. "Biarkan saja. Setidaknya Naru sekarang sudah bisa menikmati hidupnya. Apapun yang dia rencanakan aku yakin tidak berbahaya, Naru tidak mungkin menyakiti siapapun. Paling buruk dia hanya mempermainkan kita atau hanya sekedar memanfaatkan situasi."

Itachi menatap Kyuubi lekat-lekat dan berdehem mengiyakan. "Jadi sekarang kau sudah mau bicara padaku?"

Kaget dengan pertanyaan Itachi, Kyuubi berpaling lalu menunduk bersalah. "Maaf." Menghindari Itachi memang bukan pilihan yang tepat. Namun Kyuubi tidak bisa tenang mengetahui perasaan yang dimiliki sang Uchiha padanya. Dia merasa takut, walau tidak yakin apa yang dia takutkan sebenarnya.

"Yaaay!" Teriakan Kushina menarik perhatian mereka. "Lihat, lihat! Ibu mendapatkan boneka bebek yang besar. Aah, lucunya. Terima kasih, Minato sayang."

Semua mata hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sepertinya keberuntungan berada di pihak para orang tua. Walau dengan kondisi yang tidak memungkinkan Minato justru mendapatkan hadiah terbesar dan memenangkan pertandingan kali ini. "Ahahaha." Yang keluar dari mulut sang Namikaze sendiri hanyalah sebuah tawa datar.

"Pertandingan ini dimenangkan oleh Ayah dan Ibu. Kita akan lanjut ke permainan selanjutnya." Dengan sikap layaknya seorang pemimpin, Naruto menuntun mereka semua berjalan ke tantangan berikutnya. Permainan ini membuat Kyuubi sedikit menelan ludah saat melihatnya. Naruto yang menyadari hal ini tersenyum lebar tanpa harus melihat langsung ke arah sepupunya. "Kau baik-baik saja, Kyuubi?"

Mendengar namanya disebut, Kyuubi melemparkan pandangan ke punggung sepupunya dan bersikap sewajarnya. "Tentu saja aku baik-baik saja." Meski dalam hati Kyuubi ragu dengan kata-katanya sendiri.

"Jangan sampai kau berlari keluar, Kyuubi. Tenang saja aku pun akan ada disana, tapi aku tidak akan menunggumu. Ayo kita mulai!" Dengan wajah yang seakan puas dengan reaksi sepupunya, Naruto mendahului masuk bersama dengan pasangannya, Sasuke.

Kesal sekali Kyuubi mendengar nada bicara Naruto yang seakan mengejek dirinya. Namun yang bisa dia lakukan hanya menghela napas dan menyusul setelah kedua pasangan lainnya masuk dan dia bersama pasangannya menjadi yang terakhir. Baru saja masuk Kyuubi sudah merasakan bahwa dia tidak suka dengan tempat ini. Dia sempat berpikir Naruto sengaja memilih permainan ini untuk menyiksanya, sepupunya yang jahil itu. Mengapa di dunia ini harus ada makhluk yang bernama hantu dan beberapa makhluk mengerikan lainnya? Pertanyaan itu yang terus-menerus Kyuubi lontarakan pada entah siapa sejak dia memasuki rumah hantu ini.

"Naruto harus bertanggung jawab jika sam.. Waaaaa!" Kyuubi melompat mengagetkan Itachi yang lengannya tiba-tiba saja di genggam dengan erat oleh pria di sebelahnya. Sesuatu tiba-tiba muncul dan mengagetkan sang Uzumaki muda yang memang pada dasarnya tidak suka kegelapan. "A-aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja." Walau begitu terdengar dari suaranya juga tubuhnya yang gemetar bahwa dia tidak baik-baik saja.

Itachi menyentuh tangan Kyuubi yang menggenggam lengannya dan meremasnya pelan. "Tenang saja, kau tidak sendirian." Tidak perlu seorang jenius untuk mengerti apa yang Kyuubi alami saat ini. Saat suara mengerikan yang kemungkinan hanya rekaman menggema di kegelapan, Kyuubi semakin mendekatkan diri dan Itachi pun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali membiarkannya. "Kita berjalan pelan-pelan saja."

"Tapi, aku.."

"Tidak perlu melihat, aku akan membimbingmu keluar."

Kyuubi mengangguk dan mengeratkan pegangannya. "Jangan tinggalkan aku."

Saat ini Itachi merasa sedang mengurus anak kecil yang takut berada di dalam kegelapan sendirian. Bukankah umur Kyuubi itu sama dengannya? Tanpa berkata apa-apa lagi Itachi mulai berjalan secara perlahan sambil melihat-lihat keseraman rumah hantu. Dia cukup mengagumi hasil karyanya, beberapa makhluk bahkan terlihat seperti asli walau baginya sama saja tidak ada menakutkannya.

Langkah Kyuubi mendadak berhenti membuat Itachi pun ikut terhenti. Tubuhnya menegang dan cengkramannya pada baju Itachi semakin mengerat. "I-Itachi, apa itu?"

"Hm, apa.."

"Ada yang menyentuh pundakku barusan. Ap-apa itu?" Napas Kyuubi tercekat dan semakin mendekatkan diri pada Itachi. "Di-dia melakukannya lagi. Katakan kalau itu ta-tanganmu dan bukan sesuatu yang.. yang.."

Itachi melirik ke bagian pundak Kyuubi dan meneruskannya ke bagian belakang mereka berdua. Sebuah tengkorak yang melayang-layang dengan senyum tidak manisnya dan sesekali mengeluarkan suara yang menyeramkan. Itachi meraih pundak Kyuubi dan memeluknya. "Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita mulai berjalan lagi, semakin cepat kita keluar semakin bagus." Kyuubi menjawabnya dengan anggukan.

Langkah Itachi semakin dipercepat dan Kyuubi tidak keberatan walau dia harus sedikit tersandung sana-sini dikarenakan dia tidak bisa melihat kemana dia melangkah. Di suatu titik Itachi berhenti dan mengguncangnya sedikit. "Ada apa?"

"Kita sudah sampai di dekat pintu keluar. Mungkin kau mau berjalan sendiri mulai dari sini."

Kyuubi membuka kedua mata merahnya dan melihat cahaya yang datang dari pintu keluar. Dia melepaskan diri dari Itachi dan memperbaiki posturnya. "Ah ya, kau benar. Aku tidak boleh membuat Naru berpikir kalau dia menang dengan mudah haha."

Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri mereka berjalan keluar dengan santai. Naruto dan Sasuke juga pasangan yang lainnya sudah menunggu di dekat sana. Raut wajah Naruto yang sebelumnya menyeringai kini berubah lesu saat melihat sepupunya. "Kau baik-baik saja, Kyuubi?"

Tangan Kyuubi memukul kepala Naruto pelan. "Maaf kalau aku baik-baik saja. Sudah, kita lanjutkan saja permainannya. Semua sudah berkumpul, bukan." Kyuubi berjalan melewati Naruto dan memunggungi semuanya. Bagitu dia sadar apa yang sudah terjadi di dalam tadi dia tidak bisa menahan pipinya yang merona. Dia tidak pernah menyangka akan melakukan hal seperti itu, terlebih lagi pada Itachi.

Meski hanya sekilas Naruto melihat rona tersebut dan kembali menyeringai. Sesuatu pasti terjadi di dalam, semuaa berjalan sesuai rencananya. "Hei, apa yang kau pikirkan? Ayo cepat kita mulai." Suara Itachi yang muncul di sampingnya mengalihkan perhatiannya dari Kyuubi. Itachi menatapnya seakan berkata dia tahu Naruto merencanakan sesuatu dengan semua permainan ini. Naruto tidak peduli Itachi tahu atau tidak, karenanya dia hanya membalas dengan candaan.

"Semangat sekali, Kakak. Apa terjadi sesuatu di dalam tadi ya yang membuat kalian menjadi semangat seperti ini?" Terlihat di wajahnya Itachi tidak menduga akan pertanyaan ini. Sejenak seperti tidak tahu harus menjawab apa yang berarti sesuatu memang terjadi. Dari sudut matanya Naruto juga menangkap tubuh Kyuubi yang sesaat menegang setelah mendengar pertanyaan darinya. Semuanya menjadi semakin menarik. "Baiklah kalau memang kalian begitu menikmati permainan ini. Ayo kita berangkat ke pertarungan selanjutnya!"

Dalam perjalanan menuju arena berikutnya Gaara berjalan menyusul Naruto yang berada di depan untuk berbicara pada sahabatnya itu. "Kau jelas merencanakan sesuatu." Jelas itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

"Jika tidak ada rencana maka tidak akan seru." Sungguh, apa dalam otak sahabatnya ini tidak pernah kekurangan rencana? Naruto selalu memiliki rencana, Gaara sudah tahu sejak bertahun-tahun yang lalu. "Permainan selanjutnya kau pasti suka."

Gaara terus berjalan di samping Naruto sambil bertanya-tanya apa maksudnya. Begitu mereka melihat arena yang dimaksudkan dari kejauhan dia hampir tidak percaya. "Tidak mungkin." Naruto yang berjalan di sebelahnya hanya tertawa geli. Tempat ini memang sedikit tersembunyi dan tidak banyak yang menggunakan. Naruto sendiri menemukannya tidak sengaja saat terakhir datang kemari saat ulang tahun pernikahan orang tuanya. Tempat ini bagai perwujudan mimpinya dan saat ini adalah saatnya untuk sedikit mengenang masa lalu. Dia yakin Gaara pun sudah tidak sabar ingin bermain.

"Nah semuanya, kali ini yang akan bermain adalah aku, Gaara, Ibu dan juga Kyuubi. Kita akan bermain sendiri-sendiri jadi sudah pasti tidak ada passing. Rebut bolanya lalu cetak sendiri. Siapa yang dapat mencetak paling banyak dia yang menang, kita hanya akan main satu quarter saja. Mengerti?"

Apalagi kalau mereka bukan bermain basket? Bukan hanya Naruto dan Gaara, Kyuubi dan Kushina pun terlihat bersemangat dengan pertandingan satu ini. Saat di Suna dulu, Kyuubi dan Kushina sering menemani Gaara dan Naruto berlatih. Mereka biasanya bertanding dua lawan dua dan dari begitu banyak pertandingan banyak sekali yang dimenangkan oleh tim Naruto Gaara. Tapi kali ini lain soal. Mereka akan saling berhadapan tida ada yang namanya tim. Semua merasa bisa memenangkan pertandingan yang sudah lama tidak mereka lakukan ini.

"Dengan kondisimu yang sekarang ditambah lagi sudah lama kau tidak berlatih, Ibu pasti bisa menang dengan mudah."

"Jangan terlalu bersemangat, semua belum bisa dipastikan kita bahkan belum mulai pertandingannya."

"Apa itu artinya kau yakin bisa mengalahkanku, Naru?"

"Kalian semua, jangan lupa kalau aku juga ada disini. Pertandingan kali ini pasti akan berlangsung sengit."

Keempat-empatnya terlihat tidak mau mengalah satu sama lain. Minato yang sudah mulai membaik kondisinya sejak naik roller coaster memandang mereka dengan tersenyum dari samping lapangan. Ketiga pria lain yang tidak bergitu mengerti dengan perubahan sikap pasangan tim mereka hanya bisa menatap Minato dengan penuh tanya. "Kalian akan melihat pertandingan yang hebat." Tanpa ditanya siapapun Minato bertanya dengan nada yang antusias. Sasuke, Itachi dan Neji semakin tidak mengerti dan memutuskan untuk menonton saja.

Seperti sudah sering melakukan ini, Minato maju dan mengambil bola sementara keempat pemain mengambil posisi. Dia melempar bola setinggi-tingginya dan pertandingan pun dimulai. Bola didapatkan oleh Kyuubi dan ketiga pemain lainnya berusaha merebut bola atau menghadang dia untuk mencetak angka.

Dari sisi lapangan kedua Uchiha dan satu Hyuuga menonton pertandingan ini dengan terpesona. Mereka berempat masing-masing bermain dengan bagus. Bola cepat sekali berpindah tangan dan masing-masing juga menunjukkan performa yang bagus. Meski aura persaingan sangat kuat tetapi senyum tidak menghilang di wajah para pemain, mereka sangat menikmatinya. Dalam satu quarter ini mereka benar-benar menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Di samping mereka Minato tersenyum seakan ingin menyampaikan bahwa apa yang dia katakan tadi terbukti benar.

Pertandingan berakhir dan sorak pun terdengar dari para penonton di samping lapangan. Sasuke bahkan tidak sadar bahwa dia sempat menahan napas saking kagumnya dengan apa yang baru saja dia saksikan. Dia menyambut istrinya yang berjalan sedikit kelelahan ke arahnya dengan senyuman pujian. "Kau hebat." Naruto tersenyum dan menjatuhkan diri dalam pelukan sang suami.

"Tidak kusangka akan menyaksikan lagi pertandingan hebat ini. Kupikir pemandangan ini adalah salah satu hal yang hampir musnah dari keluarga kita."

Ada nada sedih, senang, sekaligus terharu dalam kata-kata Minato. Semua mata menatapnya dengan berbagai perasaan yang berbeda pula. Kushina meraih tangan suaminya dan menghadiahkannya sebuah senyuman hangat. "Apa yang kau katakan, Minato? Ini belum seberapa. Nanti ketika Naru sudah sembuh total kita akan bermain lagi, satu pertandingan penuh. Di saat itulah baru kau akan melihat pertandingan sebenarnya." Minato mengangkat tangan Kushina yang menggenggamnya lalu mengecupnya. Kushina benar, ini hanya permulaan. "Tapi sampai saat itu terjadi, aku akan mengolok-olok mereka karena akhirnya mereka semua harus mengaku kalah padaku hari ini. Hahahaha."

Setitik keringat muncul di dahi Minato melihat perubahaan sikap istrinya yang begitu cepat. Protes pun muncul yang sudah bisa dipastikan datangnya dari Naruto. Kyuubi dan Gaara pun ikut meramaikan dan pada akhirnya mereka berempat pun saling berjanji bahwa suatu hari nanti mereka akan bertanding lagi seperti dulu.

"Oke, dengan dimenangkannya pertandingan ini oleh Ibu kita lanjutkan saja ke yang berikutnya."

Tanpa basa basi lagi semuanya pun menuju ke arena berikutnya. Tidak jauh dari sana, Fugaku, Mikoto dan Kurama sedang menikmati es krim mereka. "Lihat, mereka semua bersemangat sekali. Bagus bukan?"

Kurama yang berdiri diantara keduanya mengangguk setuju. "Mama memang paling cantik kalau sedang tersenyum." Mata birunya lalu turun ke tangannya yang ternyata dipenuhi oleh lelehan es. "Kakek, Kurama mau cuci tangan. Temani Kurama, ya?"

Fugaku segera menghabiskan es miliknya lalu pergi mengantar cucunya untuk mencuci tangan dan mulutnya yang juga dipenuhi bekas es. "Setelah ini kita cari makan, ya. Kakek harap Mama Papamu dan juga yang lainnya tidak lupa untuk makan siang. Cucu Kakek mau apa?" Mereka bertiga menikmati petualangan mereka sendiri yang tanpa yang lainnya sadari ternyata ketiganya selalu menjaga jarak agar tetap dekat dari mereka.

Kembali ke para peserta. Entah berapa banyak pertandingan yang sudah mereka lakukan. Bahkan saat makan siang tadi pun Naruto merubahnya menjadi satu pertandingan siapa cepat dia menang. Hasilnya : Neji dan Itachi kembung; Sasuke, Gaara, dan Naruto kekenyangan; Kyuubi sampai muntah karena terlalu memaksakan makanan ke tenggorokannya; Minato baik-baik saja karena Kushina yang ternyata napsu makannya lumayan besar telah menolongnya dan lagi-lagi menambah satu poin untuk tim mereka. Semuanya memerlukan waktu sekitar satu jam untuk pulih dan bisa melanjutkan pertandingan. Mereka selanjutnya bermain balap mobil, mengikuti kuis, bertanding foto terbanyak dengan badut atau tokoh berkostum disana, masuk ke rumah cermin dan lain-lain. Kini hari sudah gelap dan tibalah pada pertandingan terakhir. Kedelapan orang tersebut sudah berdiri di depan bianglala dan mendengarkan lagi penjelasan Naruto mengenai permainan kali ini.

"Di dalam kertas ini ada perintah yang harus kalian kerjakan selama nanti kita ada di atas." Sasuke membagikan kertas yang dimaksud pada Gaara, Kyuubi dan juga Minato. "Ingat, yang tahu isi kertasnya hanyalah salah satu diantara kita. Yang lainnya hanya harus berkoorperasi dan menebak-nebak. Kalian tidak boleh memberitahukan isi perintahnya pada yang lain dan hanya harus menjalankannya saja."

Kyuubi menekuk alisnya ketika melihat perintah yang tertulis untuknya. "Dari mana kau bisa tahu bahwa kami benar-benar melakukannya atau tidak?" Menurutnya isi perintahnya ini terlalu absurd.

Naruto menyeringai dan berkata dengan penuh percaya diri. "Aku akan tahu saat kita bertemu lagi di bawah nanti. Aku tidak akan bertanya dan kalian tidak perlu menceritakannya, hanya dengan melihat saja aku pasti tahu." Senyumnya yang sombong itu membuat yang lainnya kesal, tapi mereka tidak sudi mengaku kalah dan mundur sekarang. "Sedangkan untuk kami, salah satu dari kalian boleh menentukan apa yang harus salah satu dari aku atau Sasuke lakukan."

Mendengarnya tentu saja membuat semuanya bersemangat. Mereka semua memiliki pemikiran yang sama. 'Saatnya balas dendam', kira-kira begitu. Naruto sendiri sudah memperhitungkan hal ini akan terjadi jadi dia tenang-tenang saja. Tapi begitu salahnya dia saat membaca perintah yang diberikan oleh Itachi padanya. Apa dia bisa melakukannya atau tidak, Naruto tidak yakin.

Satu persatu mereka naik berpasangan. Bianglala tersebut berjalan lambat awalnya dan membawa semuanya naik membuat mereka yang mendapat kertas perintah semakin gugup. Dalam kereta pertama, Naruto yang duduk berhadapan dengan Sasuke menatapnya dengan sorot mata ragu lalu memalingkan wajahnya. Sasuke hanya menunggu apa yang ingin istrinya sampaikan sambil memandangnya dengan khawatir. Hal ini terjadi berulang-ulang. Terkadang Naruto membuka mulut tapi lalu menutupnya lagi sebelum ada suara apapun keluar. Naruto terus memandang ke segala arah kecuali dirinya. Belum pernah dia melihat Naruto segugup ini. Sekarang dia benar-benar penasaran apa isi perintah yang diberikan kakaknya.

Di kereta kedua Minatolah yang gugup. Dia duduk di samping istrinya yang sedang memandang pemandangan di luar jendela sambil tersenyum. Perintah yang dia dapatkan bukanlah hal sulit, hanya saja ini sedikit memalukan baginya. Kapan terakhir kali dia melakukan hal seperti ini? Saat Naruto masih kecil? Atau malah sebelum itu? Minato mengacak-acak rambutnya frustasi, memikirkannya membuatnya gila. Setelah menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian akhirnya dia memutuskan untuk beraksi. "Kushina."

Mari kita lihat keadaan Gaara dan Neji di kereta ketiga. Neji sangat gugup. Benar, Neji yang gugup walaupun bukan dia yang mendapatkan kertas perintah. Itu karena sedikit demi sedikit keretanya semakin naik membawanya semakin jauh dari tanah. Kakinya tidak berhenti bergerak mencoba untuk menenangkan diri. Gaara memperhatikan teman satu timnya yang semakin lama terlihat semakin panik. "Tenanglah Neji, kau tidak apa-apa."

Neji mendengar apa yang Gaara katakan tapi dia tidak bisa tenang begitu saja. "Dengar Gaara, maaf tapi aku tidak yakin bisa membantumu dengan pertandingan kali ini. Aku.." Dia berhenti bicara saat merasa mual ketika sadar mereka sudah hampir mendekati puncak. Kepalanya mulai pusing dan rasanya dia mau pingsan saja. "Aku menyedihkan."

Gaara mengelus-elus punggung Neji untuk mengurangi ketakutannya juga memberitahukan bahwa dia ada disini bersamanya. "Tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan soal permainan bodoh ini. Dengar, semua orang memiliki ketakutan mereka. Aku sendiri juga punya." Neji menoleh tidak percaya. "Kau mau dengar?" Selama perjalanan Neji mendengarkan cerita Gaara dan tanpa dia sadari sedikit demi sedikit melupakan ketakutannya akan ketinggian.

Di kereta keempat Kyuubi dan Itachi saling diam. Wajah Itachi yang tanpa ekspresi semakin membuat Kyuubi kesulitan untuk memulai percakapan. Ditambah lagi dengan perintah yang dia dapatkan, dia tidak tahu bagaimana harus melakukannya. Sepupunya yang jahil itu, Kyuubi berjanji ketika semua permainan ini selesai dia akan memberinya pelajaran.

"Jadi, kau akan diam saja sampai semua ini selesai atau kau mau melakukan sesuatu tentang isi kertas ditanganmu itu?" Suara Itachi yang dingin mengagetkannya. Mata onyxnya yang juga dingin membuat Kyuubi semakin tidak bisa berkata-kata dan itu membuat Itachi semakin kesal. Itachi bangkit dari tempat duduknya lalu mendekat dan memerangkap Kyuubi. Kedua tangan Kyuubi dicengkram, semuanya terjadi begitu cepat. Saat Kyuubi sadar Itachi sudah sangat dekat dengannya. "Apa kau takut aku akan menyerangmu seperti ini? Apa kau takut padaku, Kyuubi?"

Kyuubi gugup tidak tahu apa yang harus dilakukan ataupun dikatakan. Itachi yang seperti ini baru kali ini dia melihatnya. Biasanya pria berambut hitam panjang ini selalu bersikap lembut padanya. Dia percaya Itachi tidak akan menyakitinya. "Aku tidak takut padamu."

"Lalu?"

Tentu saja jawaban seperti itu tidak akan cukup bagi Itachi. Kyuubi memutuskan untuk berkata jujur dan memberitahu si Uchiha sulung apa yang dia rasakan sebenarnya. "Aku hanya tidak yakin harus bersikap bagaimana, oke? Hal seperti ini tidak pernah terjadi padaku sebelumnya."

"Lalu apa maumu?" Nada suara Itachi sedikit naik. "Apa aku harus berpura-pura seakan aku tidak memiliki perasaan padamu agar kau bisa bersikap biasa terhadapku?"

Ini pertama kalinya Kyuubi mendengar sendiri dari mulut Itachi bahwa pria tersebut memang memiliki perasaan terhadapnya. Dia tidak tahu apakah harus merasa senang, takut atau sesuatu yang lain. "Kau tidak perlu menyangkal perasaanmu, Itachi." Meminta sebaliknya sama saja seperti menarik kata-katanya sendiri. Kyuubi sudah pernah berkata dia tidak keberatan apapun orientasi Itachi dan itu memang benar. Dia hanya tidak menyangka bahwa orang yang disukai Itachi adalah dirinya sendiri.

"Lalu bisakah kau berhenti bersikap seakan aku ini akan memaksamu melakukan hal yang tidak kau inginkan?" Kilat kemarahan terlihat jelas di mata onyx milik Itachi. Namun meskipun tipis, Kyuubi juga dapat melihat sirat kepedihan disana. "Aku ini bukan monster."

Hatinya mengerti, hatinya juga berkata bahwa apa yang dikatakan Itachi itu benar. Akan tetapi logikanya menghalanginya untuk mengakui hal tersebut. "Itachi, maafkan aku." Kyuubi membenci dirinya sendiri saat ini. Hanya karena ingin melindungi diri dia telah menyakiti seseorang yang dia sayang.

Itachi melepaskan genggamannya pada Kyuubi dan kembali duduk di tempatnya semula. Dia menatap keluar jendela menghindari Kyuubi. Tatapannya menerawang dan tidak bisa ditebak apa yang sedang dipikirkannya. Kyuubi tidak suka suasana seperti ini. Dia sudah terbiasa dengan Itachi yang selalu menjaga dan bersikap lembut padanya. Mengapa dia begitu terganggu dengan perasaan Itachi terhadapnya seperti ini? Matanya beralih memandang keluar dan dia dapat melihat kereta dimana Naruto dan Sasuke berada. Meski samar terlihat Naruto sedang menenggelamkan diri dalam pelukan suaminya dan mereka terlihat bahagia. Di saat itu kata-kata yang pernah dia berikan pada Naruto dulu kembali padanya. Kyuubi merasa sangat bodoh melupakan kata-katanya sendiri. 'Fokus pada apa yang kau rasakan. Kau pasti akan menemukan jawabannya.' Ketika dia kembali menatap Itachi dan mengingat segala yang terjadi diantara mereka, Kyuubi yakin apa yang dia rasakan.

Bianglala perlahan berhenti. Satu persatu penumpangnya turun dan tidak lama dia dapat melihat sepupunya keluar bersama dengan suaminya. Benda itu bergerak lagi lalu berhenti lagi memberi kesempatan untuk Bibi dan Pamannya turun. Dia sadar sebentar lagi giliran mereka untuk turun dan Kyuubi tidak ingin berpisah dengan perasaan seperti ini, karena itulah dia membuka mulut. "Itachi, aku…"

"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Kita lupakan saja dan maaf sudah menakutimu."

Kyuubi tidak suka dengan cara bicara Itachi yang seperti ingin mengakhiri segalanya. Kali ini dia akan bicara dan Itachi harus mendengarkannya, suka ataupun tidak. "Dengar, ini bodoh dan aku tidak suka mengakhirinya seperti ini. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak membencimu, Itachi." Kereta kembali berjalan dan berhenti lagi. Gaara dan Neji berjalan keluar dari kereta mereka. Kyuubi tahu dia harus menyelesaikannya dengan cepat. "Aku ingin kau tahu bahwa aku suka dengan keberadaanmu di dekatku. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu dan tidak akan pernah. Kenyataan bahwa Kurama juga suka padamu semakin membuktikan bahwa keputusanku tidak salah." Kereta bergerak lagi dan Kyuubi bangkit lalu berjalan mendekati pintu. "Aku senang bisa dekat denganmu Itachi dan aku tidak ingin kehilanganmu. Setidaknya itu yang bisa aku katakan saat ini."

Saat benda itu berhenti lagi, Kyuubi membuka pintu dan mendahului berjalan keluar. Naruto yang melihatnya langsung memeriksanya dengan mata birunya seperti sebuah alat pendeteksi. "Jadi kau juga melakukannya, ya." Jelas itu bukanlah sebuah pertanyaan.

"Dan kau tidak." Suara Itachi terdengar mengejek.

Naruto merenggut dan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca dia menatap kakaknya menantang. "Aku tidak akan pernah melakukannya walau Kakak memaksaku! Kakak bodoh!"

Itachi menyeringai. "Tentu saja aku tahu. Makanya aku menuliskan itu karena aku tahu kau tidak akan sanggup melakukannya."

Pertengkaran mulut kakak-adik ipar pun terjadi lagi. Mereka baru berhenti ketika dengan tidak terduga Mikoto, Fugaku dan Kurama keluar dari salah satu kereta bianglala yang baru saja mereka naiki. Mikoto hanya tertawa dan dengan semangat menjelaskan bahwa sejak awal mereka bertiga memang tidak pernah jauh dari semuanya. "Kami mencoba hampir semua permainan yang kalian naiki setelah kalian selesai bertanding. Hanya saja kami lebih santai sambil menonton kalian dari jauh."

"Jadi, siapa yang menang?"

Pertanyaan dari Fugaku membuat Kushina berseri-seri. Tidak bisa menahan diri lagi dia melangkah dan berdiri di tengah semuanya dengan sebuah senyuman lebar terlukis di wajahnya. "Jika tidak salah hitung maka pemenangnya adalah aku dan Minato. Benar kan, Naru sayang?" Naruto mengiyakan. "Itu artinya kata-kataku adalah hukum hahaha!"

Semuanya merasakan keringat dingin mengalir di punggung mereka. Meskipun Minato berada di tim yang sama sebagai pemenang, dia tidak bisa untuk tidak khawatir dengan ide apapun yang dimiliki istrinya. "Kushina, kita bisa membicarakannya dulu kan? Jangan berpikiran macam-macam."

Seperti ditantang Kushina malah menatap suaminya dengan seringai jahil. Minato menelan ludah, dia merasa telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan. Puas sekali melihat kegugupan di mata semuanya, Kushina bangga pada dirinya sendiri. Walau begitu dia harus mengakhirinya. Seringai jahilnya hilang dan diganti dengan sebuah senyuman tulus. "Sebagai hukuman kalian semua harus ikut dalam rencanaku. Aku berencana untuk pergi berlibur ke suatu tempat setelah proyek kami selesai. Aku ingin kalian semua ikut dan aku tidak menerima penolakan, bagaimana?"

Bohong jika mereka berkata tidak kaget mendengar keputusan Kushina, tapi mereka merasa tersentuh apalagi ketika dihadiahi sebuah senyuman tulus oleh Uzumaki berambut merah itu. Mikoto ikut senang dan mewakili semuanya menyutujui rencana Kushina. Tidak ada yang menyangkal, lagipula jika memang ada maka mereka harus berhadapan dengan Fugaku.

Semua berjalan menuju pintu keluar berpasangan. Kurama yang dipangku Kyuubi bercerita tentang pengalamannya tadi bersama kakek dan neneknya pada sang Ayah juga Papa Tachinya dengan gembira. Pasangan suami istri muda Uchiha berada di barisan depan rombongan. Kushina tiba-tiba meninggalkan Minato bersama Mikoto dan Fugaku yang ada di barisan belakang untuk menyusul putranya. Sasuke memberi salam pada ibu mertuanya yang hanya dibalas senyuman oleh Kushina. Naruto tahu persis apa arti senyuman ibunya itu. "Menurut Ibu memang apa yang kulakukan?"

Seperti layaknya seorang ibu yang mengenal putranya, Kushina yang bisa dikatakan mewariskan sifat jahilnya pada Naruto tahu betul apa maksud dari semua perjalanan mereka tadi. "Bisa-bisanya kau meminta Ayahmu melakukan hal itu. Bukannya Ibu menolak, hanya terkejut saja. Kau tidak perlu membuatnya seperti permainan hanya untuk membahagiakan Ibu."

Naruto ikut tersenyum. "Kalau tidak begitu tidak menarik, bukan?" Kushina tertawa mendengar jawaban tersebut. Memang benar-benar putranya dia pikir. "Jadi, apa yang Ibu rencanakan dengan liburan nanti?"

Kali ini wanita berambut merah panjang itu terkikik geli. "Tidak ada. Hanya ingin bersenang-senang saja dengan kalian semua. Yang pasti apa yang kau rencanakan hari ini kepada Itachi dan Kyuubi itu menarik. Mereka berdua itu terlalu lamban, sama seperti kalian berdua dulu." Kedua pasang onyx dan biru menatap Kushina bertanya-tanya. "Ayolah, ini bukan pertama kalinya Ibu melihat kau merencanakan sesuatu, Naru sayang. Lagipula Ibu mendukung, termasuk tentang Gaara dan Neji."

Kedua ibu dan anak itu tertawa bersama menimbulkan kecurigaan dan rasa penasaran pada orang-orang yang berjalan di belakang mereka. Sasuke yang berjalan bersama mereka hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Istri dan ibu mertuanya sama saja. Yang mereka tidak tahu adalah kerlingan yang diberikan Kushina pada Mikoto yang dibalas anggukan oleh sang Uchiha. Entah apa yang kedua ibu itu rencanakan, tapi mereka semua akan tahu pada liburan selanjutnya.


Naruto sedang dalam pertarungan sengit melawan Itachi dalam pertandingan catur mereka yang kedua hari itu. Kurama duduk di pangkuan Itachi memperhatikan jalannya permainan dengan antusias. Sepertinya tidak lama lagi akan ada pemain catur baru di keluarga mereka. Kyuubi sedang mengobrol dengan Sasuke, Gaara, dan juga Neji tidak jauh dari situ. Fugaku dan Mnato pun sedang membicarakan tentang keluarga masing-masing yang terkadang diselingi obrolan mengenai bisnis. Saat ini mereka semua sedang berada di sebuah pemandian air panas dan sedang berkumpul sambil menunggu waktu makan malam.

Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, ketika semuanya memiliki hari libur yang sama Kushina segera menghubungi dan mengabari bahwa mereka akan pergi ke pemandian air panas. Walau butuh waktu lebih dari dua bulan untuk mencari tanggal yang cocok, akhirnya mereka bisa berkumpul lagi bersama.

Pintu geser terbuka dan masuklah dua orang wanita yang sejak tadi menghilang. Keduanya tersenyum dan meminta semuanya agar berkumpul di meja. "Ayo, ada yang ingin kami tunjukkan pada kalian semua."

"Ibu, aku hampir menang. Bisa nanti saja tidak jika permainannya sudah selesai?"

"Nak Naru, setelah melihat ini Ibu yakin kau pasti tidak akan ingat dengan permainanmu. Ayo sudah cepat kemari." Tidak biasanya Mikoto memaksa begini. Naruto akhirnya mengalah dan ikut berkumpul di meja besar yang ada di tengah ruangan.

Kushina mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti album foto. Semua mendekat untuk melihat apa isi dari album tersebut. Halaman pertama dibuka, semua terbelalak melihatnya. Ini adalah mereka berdelapan ketika akan memulai pertandingan sewaktu di taman bermain waktu itu. Semua menoleh pada Kushina untuk meminta penjelasan tapi telunjuk Kushina justru menunjuk-nunjuk ke arah Mikoto.

"Ibu?"

"Kalian pikir Ibu tidak boleh bersenang-senang juga di saat kalian sendiri asik bermain? Iya kan, sayang?" Kali ini semua mata beralih ke Fugaku. Uchiha tertua itu hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Mereka merasa dicurangi.

"Kurama juga senang loh. Kita bertiga mengikuti semuanya dari belakang, seperti detektif." Uzumaki cilik itu terkikik. "Tapi Nenek Miko yang paling hebat, sudah seperti detektif sungguhan."

Pantas saja si kecil Kurama tidak protes meski harus ditinggalkan hanya bersama kakek dan neneknya waktu itu. Mereka ternyata memiliki cara sendiri untuk menikmati permainan. Semua melanjutkan melihat-lihat gambar yang diambil Mikoto. Banyak sekali moment yang terpotret. Seperti bagaimana seriusnya wajah Itachi saat akan menembak di permainan tembak hadiah, bagaimana tegangnya wajah Kyuubi saat akan masuk ke rumah hantu, bagaimana keempat pemain begitu menikmati pertandingan basket, mereka yang menonton dari pinggir lapangan menyaksikan dengan senyum di wajah mereka. Mikoto bahkan memotret ekspresi semuanya saat pertandingan makan dimana hampir semuanya menunjukkan wajah hampir mati kekenyangan. Dari situ Mikoto berhenti sejenak dan menatap para anak muda di sekelilingnya.

"Dari sini akan jadi semakin menarik."

Awalnya tidak ada yang mengerti apa maksudnya, tapi ketika halaman berikutnya dibalik berbagai reaksi yang berbeda muncul. Ada yang berteriak, ada yang mencoba merebut albumnya, ada yang terpaku, ada yang tertawa, ya macam-macam lah. Bagaimana tidak, semua foto itu menunjukkan sesuatu yang tidak seharusnya dilihat orang lain.

Ada foto dimana Kyuubi memeluk erat Itachi saat di rumah hantu dan tangan Itachi sendiri melingkar di pundak Kyuubi seperti melindungi. Kamera milik Mikoto memang memiliki kelebihan sehingga tidak masalah baginya untuk mendapatkan gambar di tempat gelap sekalipun. Selanjutnya ada gambar dimana Gaara menatap Neji dengan penuh perasaan. Sesuatu yang tidak diduga bahkan tertangkap, saat di rumah cermin Neji mengusap pipi Gaara lembut dan mereka berdua berjarak sangat dekat. Semua mata melirik kedua orang tersebut yang mukanya sudah berganti warna menjadi merah.

"Sudah kuduga kalian seperti itu. Sekarang mengakulah." Naruto menyeringai dan mendekati sahabatnya.

Gaara menjauh dan mencoba lari. "Kau mau apa, bodoh? Menjauh dariku." Tentu saja Naruto tidak mendengarkan dan terus mendekatinya. Seringai jahil tidak hilang dari wajahnya. Naruto sudah siap menyergap sahabatnya ketika sebuah tangan menghentikannya.

"Sudah, jangan mempermainkan Gaara lagi."

Hal ini justru membuat Naruto semakin liar. "Hm. Mencoba melindungi pacarmu ya, Neji."

Neji melepaskan tangannya yang memegang pundak Naruto. Dengan santai dia melewatinya dan berjalan menuju Gaara. "Tentu saja." Jawabannya itu membuat seringai Naruto semakin lebar dan juga membuat wajah Gaara semakin merah. Setidaknya kali ini mereka mengakuinya, tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.

"Itachi, ayo kembalikan! Mau kau apakan foto itu?" Semua perhatian tersita saat mendengar suara Kyuubi yang berteriak. Itachi memegang sesuatu di balik punggungnya yang sudah bisa ditebak adalah sebuah foto. Kyuubi mencoba mengambilnya tapi Itachi bersikeras mempertahankannya. Mereka berdua terus berebut sampai kaki Kyuubi tersandung dan membuatnya terjatuh. Karena kejadian yang mendadak Itachi tidak sempat bereaksi menyebabkannya ikut terjadi bersama dengan Kyuubi berada di atasnya.

Suara napas yang tertahan terdengar dari beberapa orang di sana. Kurama berteriak memanggil Ayah dan Papanya, takut kalau mereka terluka. "Kyuubi bangunlah, kau berat." Suara Itachi terdengar begitu dekat di telinga Kyuubi. Saat dia mengangkat wajah ternyata jarak mereka begitu dekat. Wajahnya seketika memanas dan dengan gerakan kilat Kyuubi segera menyingkir dari Itachi.

"Maaf."

Mikoto dan Kushina memandang mereka sambil tertawa kecil. "Lihat, mereka itu cocok sekali bukan? Dasar, padahal tidak perlu malu-malu begitu."

"Iya benar. Maaf ya Mikoto, keponakanku memang tidak tahu kapan harus jujur."

Kyuubi menoleh lalu menatap tajam pada bibinya. Kushina segera mundur lalu mengajar Mikoto keluar untuk bertanya soal makan malam ke pemilik penginapan. Untuk amannya Fugaku juga mengajak Minato pergi bersamanya dengan dalih ingin melihat langit sore. "Cih, kabur." Itachi menatap kesal ke arah pintu di mana para orang tuanya baru saja pergi.

"Ayah, Papa Tachi, kalian tidak apa-apa?" Kurama mendekat dan memeluk ayahnya. Itachi menolong dirinya untuk duduk dan berhadapan dengan mereka berdua. Dia mengelus kepala Kurama dan meyakinkan putranya bahwa mereka tidak apa-apa.

Foto yang tadi menjadi rebutan sejenak terlupakan. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu untuk mereka khawatirkan. Walau begitu, Naruto penasaran gambar apa yang tertangkap sampai kakak dan sepupunya berebut begitu. Diam-diam dia berjalan ke belakang Itachi dan mengambil selembar foto yang terlupakan tersebut. Mata birunya menatap gambar itu sejenak lalu menatap ke arah ketiga orang yang sedang mengobrol dengan tenang di hadapannya. Dia tersenyum.

"Iya, nanti aku ajarkan caranya bermain agar kau bisa mengalahkan Mamamu ya."

"Kurama juga akan mengalahkan Papa nanti kalau Kurama sudah hebat. Ayah juga belajar ya, jadi nanti kita bisa main bersama."

"Ayah tidak bisa."

"Kan nanti diajari Papa. Papa mau kan?"

"Tentu, kalau Ayahmu mau."

Itachi dan Kyuubi saling bertatapan. Kyuubi sedikit ragu, tapi setelah melihat tapan Itachi juga ajakan dari putra tercintanya mana mungkin dia bisa menolak. "Tentu. Tolong ajari aku, Itachi." Kali ini dia tersenyum. Sebuah senyuman yang sudah lama tidak dilihat Itachi. Sepertinya Kyuubi sudah mulai terbuka dengan perasaan si Uchiha padanya, dan bahkan mungkin dia sudah mulai menerima. Tinggal masalah waktu saja sampai dia bisa membalas perasaan Itachi. Dengan bantuan putra manis mereka, apalagi para adik dan teman-temannya yang suka mencampuri urusan orang, ditambah lagi orang tua yang selalu memberikan ide-ide kreatif, tidak butuh waktu lama sampai hal itu terjadi.

Naruto meninggalkan foto tadi di atas meja dan berjalan menuju Sasuke untuk duduk di sebelahnya. "Lihat Sasuke, sekarang mereka sudah lebih mesra."

Sasuke merangkulkan tangannya di pinggang Naruto dan menariknya mendekat. "Tidak apa, kita juga tidak kalah mesra." Dia mencium pipi Naruto dan mengelus-elus rambut pirang istrinya.

Naruto tertawa geli. Seperti biasa Sasuke selalu saja narsis dan tidak mau kalah. "Dengan begini semuanya lengkap. Keluarga kita sudah lengkap. Iya kan, Sasuke?"

Pelukan Sasuke semakin erat. Dengan mata onyxnya dia menatap istrinya lembut. "Iya, keluarga kita sudah lengkap." Sekali lagi dia mengecup sang istri, namun kali ini di bibirnya.

Itachi segera memarahi adiknya karena sudah memperlihatkan hal seperti itu di depan anak kecil. Sasuke sendiri tidak begitu mendengarkan protes sang kakak dan malah semakin mendekap istrinya membuat kakaknya makin geram. Keributan pun kembali terjadi. Entah sejak kapan Gaara bergabung ikut menggoda Itachi bersama Naruto. Kyuubi berusaha menghentikan mereka. Neji berusaha tidak ikut dalam kegilaan ini. Kurama menonton semuanya dengan antusias. Tangan mungilnya mengambil foto yang tadi smepat diletakan mamanya di atas meja. Disana terpampang wajah ayahnya yang sedang tertawa lebar bersama dengan Itachi, mereka berdua terlihat begitu serasi. Dia tersenyum. Ayah dan Papa Tachinya memang manis saat berdua.

Memang selalu ada saja yang terjadi di keluarga ini. Yang pasti mereka semua bahagia dan seperti yang Sasuke katakan tadi, sekarang keluarga mereka sudah lengkap.


Untuk menghapus kebingungan, ini adalah chapter terakhir. Ga akan ada lagi chapter tambahan. Maaf ya buat yang masih ingin ada lanjutan, harus berakhir disini. :)

Oh iya, tentang tantangan yang diberikan di bianglala aku jadikan rahasia hahaha.

Sampai jumpa semuanya di fic aku yang lain. Sedang mempersiapkan cerita SasuNaru lagi dan kali ini dengan sedikit tragedi mungkin? Tapi aku mau selesein fic NaruSasu ku dulu yang "Kau, siapa?". Baiklah, dah semua! Sekali lagi terima kasih :)