It's Not All About Money Chapter 14
.
.
Luhan memejamkan matanya dengan erat. Pikiran bodohnya barusan benar-benar diluar kendalinya. Ia masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan tindakan tolol itu disini. Ia tidak akan pernah melukai Oh Sehun lagi. Luhan masih cukup waras untuk tidak menerjang Sehun di dalam mobilnya sendiri. Bahkan hal itu sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dan apa yang tadi ia pikirkan? Melamar Sehun? Luhan benar-benar ingin melakukannya. Tapi tidak sekarang. Ia tahu ini bukan situasi yang tepat. Melamar Sehun ditengah keadaan genting seperti ini, ia rasa ia gila. Ia hanya akan membuat hidup Sehun lebih menderita.
"Hyung—" suara parau Sehun kembali terdengar, memecah lamunanya. Luhan membuka matanya perlahan. Airmata yang sudah tak bisa dibendung lagi, kini harus kembali ia tahan mati-matian agar tatapan Sehun yang tengah ia tujukkan padanya tidak perlu ia lihat lagi.
"Ka—" lidah yang semula kelu, berhasil membuat detak jantung Sehun nyaris berhenti. Satu kata yang mampu membuat pikiran buruk kembali melandanya.
"M—maksudmu..." Sehun tergagap. Ia cukup heran dengan sikap Luhan yang tiba-tiba berubah drastis. Tadi Luhan sendiri yang menyeretnya masuk ke dalam mobil tanpa memberi alasan yang jelas. Namun sekarang ia pula yang menyuruh Sehun untuk pergi padahal belum satu patah kata pun alasan yang ia dengar.
"Turunlah. Sebelum aku berubah pikiran." Luhan menghadap ke depan—enggan menatap Sehun. Namun pria disampingnya justru terus menatapnya dengan heran. Berharap Luhan akan memberinya sebuah alasan yang akan mengakhiri rasa penasarannya.
"Tapi kau belum—"
"Ka!" suara Luhan terdengar lebih tinggi dan penuh penekanan. Sorot mata Sehun kini meredup. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang kini menghindari tatapannya itu. Rasa sesak di rongga dadanya terus membuncah. Bahkan airmata yang sudah menggenang di pelupuk mata sudah pasti terjatuh jika Sehun bergerak barang sedikit saja. Berulang kali ia menarik nafas dalam agar emosinya mereda dan airmatanya tidak mengalir melalui pipinya yang tirus dan pucat.
"Baiklah." Jemari tangannya bergerak untuk melepas seatbelt yang sejak tadi mencengkeram tubuhnya dan membuatnya semakin sesak. Luhan hanya diam mematung dengan kedua tangan masih memegang stir kemudi. Matanya menatap lurus entah kemana. Entah tatapan kosong atau tatapan penuh arti. Entah tatapan senang atau tatapan benci. Sehun tidak tahu. Ia tak bisa melihatnya.
Tangannya bergerak untuk membuka pintu mobil. Ia kembali menoleh dan menatap Luhan yang masih tak beranjak dari posisinya. Sehun tersenyum getir. Ia tertunduk sejenak kemudian kembali menatap Luhan. Padahal ia berharap jika Luhan akan menahannya agar tidak pergi. Tapi sikap dingin Luhan dan airmata itu—ia tidak mengerti lagi.
"Maaf—" dan setelah satu kata itu ia ucapkan, Sehun benar-benar turun dari mobil Luhan. Menyisakan suara pintu mobil yang ditutup rapat dan perasaan hampa yang menyergap tubuhnya—tubuh mereka. Rasanya sakit. Hingga airmata itu jatuh menetes dari kedua mata indah pria berwajah cantik itu—Luhan. Entah ini keputusan tepat atau tidak. Ia harus menjauhkan Sehun dari semua masalahnya—masalah ini—masalah mereka. Membuat situasi mereda dan 'menjinakkan' Junmyeon dan juga keluarganya di Beijing agar segera menyelesaikan masalah yang menurutnya tak penting itu. Perjodohan demi sebuah bisnis, pernikahan tolol dan intervensi keluarga, Luhan muak. Kenapa tak sekalian saja mereka menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawanya? Dia bukan boneka yang bisa diatur seenaknya. Dimana letak kebebasan yang seharusnya menjadi haknya? Bahkan ia memiliki hak untuk mencintai Sehun.
Luhan tanpa melirik lagi sosok Sehun yang kini masih berdiri disamping mobilnya, segera menginjak gas hingga sosok pria tinggi yang terpantul pada kaca spion mobilnya perlahan mulai tak terlihat lagi. Jantungnya berdenyut ngilu, ia menepuk dadanya dengan kepalan tangan.
"Maaf—Oh Sehun."
oOo
Sehun masih menatap jalanan lengang di depannya. Berdiri mematung selama hampir 15 menit semenjak mobil Luhan menghilang dari pandangannya tanpa bergerak sedikitpun. Ia berusaha mencerna situasi yang ada. Rasa marah, kesal, sakit, sedih, kecewa, semuanya menjadi satu. Hanya mampu menghela nafasnya—lelah. Andai semuanya berakhir dalam sekali jentikan jari. Andai semuanya berakhir hanya dengan satu teriakan.
Gerimis hujan pun perlahan kembali berubah menjadi partikel air yang semakin rapat, menyerang tubuh Sehun tanpa rasa kasihan. Namun pria itu masih belum beranjak pergi. Ia membiarkan butiran-butiran air merembes ke dalam pakaiannya hingga menyentuh kulitnya yang pucat pasi. Semoga hujan bisa menghapus ingatannya. Semoga hujan bisa mengakhiri semuanya. Tapi—hanya rasa sesak yang bisa ia rasakan. Oksigen pun seolah berlarian pergi menjauhinya. Ia hanya memejamkan matanya kemudian kakinya benar-benar terasa lemas hingga ia terduduk diatas trotoar. Membiarkan airmatanya jatuh dan tersapu oleh air hujan.
oOo
Suara mesin motor masih berderu di dalam basement rumah mewah Kim. Jongin masih duduk diatas motornya kemudian ia segera tersadar dari ingatannya lalu segera mematikan mesinnya. Tadi ia memang tak salah lihat. Sosok pria yang ia temui di persimpangan jalan itu adalah Luhan yang mengemudikan mobilnya tepat dari arah sekolahnya berada. Ia yakin jika Luhan sudah bertemu Sehun. Namun kenyataannya ia sama sekali tak menemukan penampakan pria itu di sampingnya.
"Apa terjadi sesuatu?" ia menggumamkan kalimat itu pelan. Ingatannya masih terus berputar.
"Hah, disini memang sudah terjadi sesuatu, Kim Jongin." Ia melepas helmnya lalu segera melompat turun dari motornya dan berjalan sedikit terburu meninggalkan basement.
Ketika Jongin melangkah masuk melewati pintu utama, keadaan rumahnya masih sama saja seperti biasa—sepi. Kadang ia selalu berharap ada seseorang yang menyambut kedatangannya ketika pulang. Mungkin sosok ibunya yang—sudahlah. Hal tersebut jelas tidak mungkin terjadi. Atau mungkin ia harus membeli beberapa ekor anjing agar hidupnya tidak terlalu kesepian. Bukan ide yang buruk, kan?
"Apa Abeoji ada di rumah?" Jongin tak sadar jika setiap hari ia selalu melontarkan pertanyaan yang sama kepada para maid di rumahnya. Dan jawaban yang sama yang akhir-akhir ini selalu ia dapatkan—sebuah gelengan pelan. Antara tidak ada atau tidak tahu. Jauh di dalam lubuk hatinya Jongin selalu mengkhawatirkan ayahnya. Ia sudah tua, selalu sibuk, masalah tak pernah berhenti menghampirinya, dan hal-hal lain yang bahkan baru saja Jongin bayangkan sudah membuatnya tak habis pikir. Ia kemudian menyuruh maid tersebut pergi untuk kembali pada pekerjaannya. Kakinya segera melangkah, bukan menuju kamarnya, melainkan mencari sosok Jongdae ataupun ayahnya di ruang kerja. Namun pintunya tertutup rapat. Tanpa ragu-ragu, tangannya segera meraih knop pintu dan membukanya. Namun tak ada siapapun di dalam sana. Jongin terdiam sejenak seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Beberapa buku yang berserakan diatas meja membuatnya berpikir jika ayahnya pergi dalam keadaan terburu hingga tak sempat mengembalikan buku-buku itu ke dalam rak. Kemudian ia kembali menutup pintu ruang kerja Junmyeon dengan rapat dan segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia menghubungi Jongdae. Entahlah, Jongin tak pernah menghubungi ayahnya secara langsung. Batas itu terlalu nyata. Ia tak pernah mengerti kenapa hubungannya dengan Junmyeon terlihat begitu tidak wajar. Tidak seperti hubungan ayah dengan anak pada umumnya. Ayah yang selalu membuatnya nyaman, menjadi tempat untuk menampung keluh kesahnya, ayah yang selalu ada untuknya, Jongin tak pernah menemukannya. Ia sedikit tenggelam dalam ingatannya dan tidak menyadari jika sambungannya dengan Jongdae sudah terhubung.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Tuan Muda?"
"A—ah ne."
"Ada yang bisa saya bantu?" pertanyaan Jongdae membuat Jongin berpikir sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya ragu dan baru saja ia hendak membuka mulutnya, Jongdae kembali berbicara.
"Tuan Muda? Maaf, tapi saya harus segera kembali pada pekerjaan saya."
"Apa kau bersama Abeoji?"
"Ne. Beliau sedang melakukan pertemuan dengan keluarga Park."
"Masalah perjodohan ya? Apa Luhan Hyung ada disana?" pertanyaan Jongin membuat Jongdae terdiam sejenak kemudian menghela nafasnya pelan.
"Tidak. Dia tidak ada disini. Tuan Luhan, sudah membatalkan perjodohannya." Suara pelan Jongdae membuat Jongin melebarkan matanya seketika.
"Apa? Luhan Hyung membatalkan perjodohan?" nada suaranya begitu terkejut. Nama Sehun seketika terlintas di benaknya.
"Ne—"
"Aku tutup." Jongin dengan cepat memotong ucapan Jongdae dan segera memutus panggilannya.
"Si bodoh itu—" ia meremas ponselnya dengan geram lalu setengah berlari menuju kamarnya.
oOo
Luhan masih berdiri disana. Menatap pantulan dirinya pada jendela berembun dan menemukan sosok pria pengecut yang kini begitu ia benci—sungguh. Ia mengutuk dirinya yang tak mampu sedikitpun bergerak untuk keluar dari keadaan yang menjeratnya. Ia kecewa. Ia tak pantas lagi untuk memiliki Sehun karena ia tak bisa menjaganya. Luhan tak bisa membuatnya bahagia. Ia sudah menyakitinya. Membuatnya menangis meskipun pria itu selalu berusaha terlihat baik-baik saja.
"Maaf—" suaranya terdengar parau. Bola matanya memerah. Genangan air di pelupuk mata membuatnya terus menarik nafas dalam. Rasa sakit di dadanya tak kunjung membaik. Ia kini memejamkan mata, berusaha membawa ingatannya agar lebih tenang. Namun ia malah semakin membenci dirinya. Ia mengerutkan dahinya hingga airmata itu jatuh menetes. Ia menggigit bibir bawahnya menahan amarah yang membuncah. Seharusnya ia tidak disini. Seharusnya tadi ia membawa Sehun pergi dan menjauh dari kehidupan mereka saat ini. Seharusnya. Seharusnya memang begitu. Tapi— ia tak bisa melakukannya. Jika memang keluarganya ingin ia mengakhiri hubungannya dengan Sehun, ia akan melakukannya. Dengan satu hal—
"Selamat tinggal— Oh Sehun."
oOo
Sehun menuruni anak tangga dengan perlahan. Jalanan licin karena terguyur air hujan membuatnya harus berhati-hati ketika berjalan. Ia menaikkan zipper jaketnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Tangannya ia masukkan ke dalam saku jaketnya hingga udara dingin kini tidak bisa lagi menyentuhnya.
Ia masih belum pulang ke rumah. Ia tak peduli jika Zitao akan mengomelinya nanti karena pulang terlalu larut. Atau Minseok yang selalu khawatir jika salah satu penghuni rumah belum juga kembali dari aktivitasnya diluar. Ia tak mungkin pulang dalam keadaan berantakan seperti ini. Mereka pasti akan semakin khawatir. Ia hanya butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri dan juga menghapus jejak kekecewaan yang tergurat jelas di wajahnya. Hatinya masih tidak baik-baik saja. Kakinya justru membawanya untuk berjalan melewati jalanan di sepanjang Sungai Han. Langkahnya berubah pelan. Ia berhenti di depan pagar pembatas antara jalanan dan juga sungai. Meraba permukaan besi yang basah itu lalu menggenggamnya erat. Matanya menatap hamparan luas permukaan air yang begitu tenang. Cahaya lampu warna warni membuatnya begitu indah. Sehun begitu menyukainya. Satu-satunya tempat yang mampu membuat pikirannya tenang.
Ia memejamkan matanya perlahan. Kedua matanya terasa sakit karena terlalu banyak menangis setelah mobil Luhan menghilang dari pandangannya. Airmatanya tak mau berhenti menetes bahkan hingga beberapa menit yang lalu ketika ia sampai di tempat ini.
"Kau disini rupanya." Tiba-tiba sebuah suara membuatnya terkejut. Ia membuka matanya dengan cepat lalu menoleh dengan perlahan. Matanya terbelalak tidak percaya.
"K—kau?"
"Eoh. Kau tidak suka aku disini?" ujarnya ketus. Sehun masih menatap pria di depannya dengan wajah heran. Jongin yang kini sudah mensejajarkan tubuhnya dan berdiri di sampingnya, berbalik menghadap Sungai Han. Ia melirik Sehun melalui sudut matanya.
"Kau itu benar-benar aneh. Tadi kan—" Sehun menghembuskan nafasnya pelan. Ia malas untuk berdebat dan memilih untuk tidak mempermasalahkan kejadian tadi.
"Ada apa?" ujarnya lagi dengan nada yang terdengar lebih tenang. Jongin tak merespon pertanyaannya. Ia kembali memperhatikan Sehun melalui sudut matanya. Rambutnya berantakan, wajah yang terlihat kusut dan juga pucat, serta masih memakai pakaian yang sama ketika Sehun menemuinya di sekolah tadi. Ternyata Tao benar, Sehun sama sekali belum pulang ke rumah. Ia sebenarnya tidak tahu Sehun pergi kemana. Hanya saja feelingnya membawanya pergi ke tempat ini.
"Soal tadi—" akhirnya Jongin membuka suara. Namun ia menjeda ucapannya dan berusaha mencari kalimat yang tepat untuk sekedar menjelaskan.
"Aku minta maaf." Sambungnya cepat. Jongin yang tak biasanya membuat Sehun tertegun namun masih terdiam. Ia benar-benar tidak mood untuk berbicara. Terserah Kim Jongin saja mau melakukan apapun, ia tak peduli.
"OK. Aku sama sekali tak bermaksud—membentakmu tadi. Hanya saja—"
"Gwaenchana." potong Sehun cepat. Jongin mendengus pelan dan ia merasa muak dengan sikap sok tegar Sehun yang selalu mengatakan jika ia baik-baik saja.
"Ya! Bisakah kau berhenti mengucapkan kata itu? Gwaenchana, gwaenchana, semua orang tahu kau tidak baik-baik saja!" Kekesalan Jongin rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Sehun yang tiba-tiba saja dibentak seperti itu, hanya menatap datar pemandangan di depannya.
"Kau terlalu naif! Bahkan kau rela jika mereka menginjakmu! Kau itu idiot atau bodoh huh? Ah, kau itu idiot dan bodoh!" Jongin mengacak rambutnya frustasi. Ia tiba-tiba saja meninju pagar pembatas besi hingga membuat Sehun terkesiap kaget. Mata Sehun memperhatikan tangan Jongin yang tampaknya terlihat sakit.
"Brengsek!" dengusnya pelan. Sehun masih tak berbicara apapun. Lidahnya seolah kelu padahal ia memiliki banyak hal untuk disampaikan sebagi pembelaan.
"Si bodoh itu, dia membatalkan perjodohannya lalu pergi entah kemana. Kau tahu?" Jongin berdecih kesal sementara Sehun masih membelalakan matanya berusaha mencerna apa yang Jongin ucapkan barusan.
"Dia—membatalkan perjodohan?" suaranya terdengar pelan di telinga Jongin. Biasanya pria galak disampingnya ini selalu berteriak padanya tanpa melihat keadaan sekitar.
"Kau tidak tahu? Dia tidak memberitahumu?" Dan setelahnya ia hanya mendapat respon gelengan pelan dari Sehun.
"Dia bahkan tak mengatakan apapun padaku. Dia tiba-tiba saja mengusirku lalu pergi tanpa berbicara apapun." Sebuah senyum hambar yang tak bisa Jongin lihat terpatri di wajahnya. Kali ini ia tertunduk. Matanya kembali memanas dan airmata itu menetes tanpa permisi. Sehun tak bisa lagi menahannya.
"Oh Sehun—"
"Jika memang harus berakhir seperti ini, a—aku tidak apa-apa. Aku tidak akan menyesal." Ia menghapus airmatanya dengan kasar. Jongin yang hanya berdiri tertegun disampingnya sudah mengangkat sebelah tangannya intuk meraih punggung pria itu. Namun tiba-tiba saja Sehun bergerak dan seperti akan pergi.
"Maaf jika aku seperti ini di depanmu. Aku harus pergi. Kau—jangan pulang terlalu malam. Nanti ayahmu mencarimu." Sehun tiba-tiba saja berbalik lalu melangkahkan kakinya menjauhi Jongin membuat ia yang seperti diabaikan merasa tidak terima.
"Mau kemana huh?" suaranya terdengar datar dan juga dingin. Tenggorokan Sehun sudah tercekat karena menangis. Ia masih tetap berjalan dan mengabaikan pertanyaan Jongin. Ia tak mau Jongin melihatnya seperti ini. Ia terlihat bodoh dan juga lemah. Jongin tak tinggal diam. Ia melangkahkan kakinya untuk menyusul Sehun dan tangannya meraih lengan Sehun lalu hanya dalam sekali tarik tubuhnya kini sudah menghadap Jongin. Obsidian kelam itu dapat melihat dengan jelas mata bengkak Sehun dan juga air mata yang jatuh dari sana.
"Idiot."
"Aku—tahu." ucapnya parau. Tangan Jongin menarik kepala Sehun hingga tubuh kurus itu terdorong ke depan dan mendarat dalam dekapan Jongin. Matanya membulat sempurna. Jongin memeluknya tiba-tiba. Ini benar-benar di luar dugaannya. Bagaimana mungkin?
"Kim Jongin—"
"..." tak ada jawaban yang Sehun dengar. Ia masih tak membalas pelukan Jongin. Membiarkan tangannya terkepal di samping tubuhnya dan merasakan bagaimana tubuh hangat Jongin mendekapnya dengan erat. Udara dingin seolah mencair di sekitar mereka. Melebur bersama detak jantung yang berpacu cepat. Sorot mata keduanya meredup. Entah perasaan apa yang kini mereka rasakan. Sehun memejamkan matanya. Tangannya bergerak perlahan dan melingkar pada pinggang pria di depannya—membalas pelukan Jongin.
oOo
Mobil Jongin sudah berhenti di depan rumah yang ditinggali Sehun, Tao, dan juga Minseok. Sehun sudah membuka seatbeltnya dan bersiap untuk turun. Matanya terhenti pada sosok Jongin yang juga ikut membuka seatbeltnya.
"Kau mau kemana?"
"Aku hanya ingin memastikan kau masuk ke dalam rumah dan tidak membiarkanmu terkunci diluar. Kajja." Tangannya sudah membuka pintu mobil di sampingnya namun Sehun masih belum beranjak dari tempatnya.
"Aku membawa kunci cadangan."
"Aishh.. Kalau begitu aku hanya ingin memastikan kau benar-benar masuk ke dalam! Tidak boleh?" pertanyaan Jongin membuat Sehun hanya menatapnya heran lalu menggeleng pelan. Ia turun terlebih dahulu kemudian disusul oleh Jongin. Keduanya kini sudah berdiri di depan pintu. Sehun menekan bel dan tak lama pintu terbuka diikuti dengan sosok tinggi Tao yang muncul di hadapan mereka.
"Sehunnie, kau darimana saja huh?" nada bicara Tao terdengar khawatir. Sehun menyunggingkan senyuman masam. Jujur saja ia merasa bersalah ketika tak menghubungi orang rumah jika pulang telat. Terlebih waktu sudah begitu larut seperti ini.
"Maaf. Tadi—ada sedikit masalah." Ia melirik Jongin yang berdiri di sampingnya.
"Gomawo, Jongin-ah sudah mau repot-repot mencarinya."
"Cheonmaneyo. Kalau begitu aku pulang." Ia menatap Sehun lalu tangannya terangkat dan mengusek kepala Sehun pelan. Tao mengulum senyum sementara Sehun lagi-lagi menatapnya heran.
"Besok pagi aku menjemputmu. Tidak ada penolakan." Lalu ia pun pergi tanpa mengharapkan protes.
"Apa-apaan dia?" ujar Sehun setelah mobil Jongin tak terlihat lagi dari pandangannya.
oOo
Sehun membuka matanya perlahan. Bias cahaya yang masuk melalui celah-celah tirai membuatnya memicingkan mata. Ia mengerjap lalu menguap lebar. Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan diatas nakas disamping tempat tidurnya. Matanya melebar ketika menatap jam digital yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat 10 menit. Ia seketika terduduk di ranjangnya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Sehunnie?" suara Tao di balik pintu kamarnya membuatnya segera turun dari ranjangnya lalu berjalan ke arah pintu. Ia membukanya dan mendapati Tao yang sudah berpenampilan rapi dengan tas besar di punggungnya.
"Jongin sudah menunggumu di depan."
"Mwo?"
oOo
"Jongin Hyuuuung!"
"Jongin Hyung ayo kita main!"
"Jongin Oppa pokoknya harus ikut denganku bermain rumah-rumahan!"
"Aniyaaaa! Jongin Oppa itu milikku!"
"Dasal wanita! Jongin Hyung tidak mau belmain dengan kalian! Dia mau main denganku!"
Suara ricuh yang berasal dari segerombolan anak kecil yang tengah memperebutkan Jongin, membuat Sehun melongo di tempatnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Jongin yang kasar begitu populer di kalangan anak kecil. Bibir Sehun pada akhirnya menyunggingkan sebuah senyum lalu diikuti kekehan pelan. Jongin yang pakaian serta tangannya ditarik sana-sini terlihat kewalahan dengan tingkah menggemaskan anak-anak itu.
"Annyeong haseyo~" suara lembut seorang wanita membuat Jongin terkesiap. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita berusia sekitar 30an sudah berdiri disampingnya dengan senyuman yang begitu lembut.
"Annyeong haseyo~" Sehun membungkuk sekilas lalu balas menyapanya.
"Kau temannya Jongin?"
"Ah, ne.." Sehun tersenyum canggung lalu kembali menatap Jongin yang masih tampak kewalahan.
"Dia benar-benar payah." Komentarnya seraya diiringi tawa pelan.
"Mereka benar-benar merindukannya. Setiap hari selalu saja bertanya kenapa Jongin tak pernah datang. Padahal aku sudah memberitahu mereka jika Jongin dan juga Chanyeol hanya akan bermain bersama mereka pada hari Sabtu dan juga Minggu. Anak-anak memang tak sabaran. Kukira tadi kau adalah Chanyeol." Wanita itu kembali tersenyum padanya.
"Oh Sehun imnida. Senang bertemu denganmu."
"Aku Park Yura. Kalau begitu aku permisi dulu. Masih banyak yang harus kukerjakan. Selamat bersenang-senang dengan mereka. Dan terimakasih sebelumnya karena sudah mau mengunjungi kami."
"Ne." setelah itu ia pun pergi meninggalkan Sehun. Mata hazelnya kembali memperhatikan Jongin. Ia kembali tersenyum kemudian hendak menghampiri mereka sebelum sebuah suara menginterupsinya.
"Sehun Hyung, sedang apa kau disini?"
"Kyungsoo?"
oOo
Suasana berubah canggung sejak kemunculan Kyungsoo secara tiba-tiba. Terlebih Jongin yang lebih banyak diam dan membuat beberapa protes dilontarkan oleh beberapa anak. Alasan Kyungsoo datang kesini karena untuk menggantikan Chanyeol yang tidak bisa datang. Namun pria itu bahkan tidak tahu jika Kyungsoo datang ke tempat ini.
Sehun sibuk menata peralatan makan di atas meja makan. Ini sudah memasuki waktu makan siang. Matanya tak lepas dari interaksi Jongin dan juga Kyungsoo yang tengah sibuk membuat makanan. Entah apa yang mereka bicarakan, ia tak tahu. Toh itu bukan urusannya. Entahlah. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam rongga dadanya. Ia tak mengerti. Sehun hanya mendesah pelan.
"Oppa, aku mau piring berwarna pink! Itu warna kesukaanku!" tiba-tiba seorang anak perempuan berwajah bulat menarik ujung jaketnya dan menyerukan sebuah protes. Wajahnya tampak cemberut dan membuat Sehun ingin mencubit pipinya. Mirip Minseok Hyung, pikirnya.
"Ah, ini tempat dudukmu? Baiklah. Oppa akan menggantinya." Ujar Sehun seraya menukar piring berwarna pink dengan piring berwarna biru di sampingnya. Anak perempuan itu mengacungkan kedua ibu jarinya pertanda ia puas dengan hasil kerja Sehun. Ia terkekeh pelan kemudian mengusek rambut pemilik pipi tembam itu.
"Siapa namamu?"
"Namaku Kim Minseok, Oppa." Jawabannya membuat Sehun terkejut.
"Mwo? Jinjja? Aigoo~"
"Wae?"
"Aniyo. Nama yang cantik."
"Oppa juga cantik." Cengiran lebar menampilkan deretan gigi kecilnya yang rapi. Ia pun pergi karena takut disembur Sehun.
"Aisshh kukira tidak ada anak yang menyebalkan." Ujarnya pelan. Ia kembali melirik Jongin dan juga Kyungsoo lalu memilih untuk pergi dari sana dengan langkah terburu.
oOo
Sehun terduduk di depan danau buatan di halaman belakang panti asuhan sambil melempar beberapa kerikil ke dalamnya. Rasa sakit itu kembali menariknya kuat. Perasaannya berubah khawatir dan tidak karuan. Apa terjadi sesuatu pada Luhan? Ia kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kau senang ya jika aku mencarimu?" suara Jongin membuatnya menoleh.
"Ah, barusan aku hanya menerima telepon." Ujarnya bohong kemudian kembali melempar kerikil ke dalam danau.
"Kalau begitu masuklah. Makanannya sudah siap."
"Jongin—" panggilan Sehun membuat langkah Jongin terhenti. Ia tak berbalik ataupun menjawabnya.
"Kau—masih mencintai Kyungsoo?" pertanyaan Sehun membuat kedua tangan Jongin terkepal.
"Kulihat—dia masih mencintaimu. Kenapa kalian tidak memulai lagi dari awal? Bukankah—"
"Bukan urusanmu." Potong Jongin cepat lalu segera pergi meninggalkan Sehun. Pria berkulit pucat itu mendesah pelan kemudian mengacak rambutnya frustasi.
"Ada apa denganku?"
oOo
"Hyung, besok datang lagi ya!"
"Ne, Oppa! Jika besok kau tak datang, aku akan mengejarmu sampai aku menemukanmu!" celetukan anak-anak itu membuat Sehun, Jongin, Kyungsoo, dan juga beberapa pengelola panti tertawa pelan.
"Tentu saja. Besok kan satu hari lagi jatah mainku bersama kalian. Akhir pekan minggu depan aku akan kembali lagi kesini." Ujar Jongin dengan nada cerianya. Mereka mengangguk senang.
"Kalau begitu sampai nanti! Kami pulang dulu ya!" Jongin melambaikan tangannya ke arah mereka begitupun Sehun dan juga Kyungsoo.
"Annyeooooong!" teriak mereka nyaring. Lalu ketiganya berjalan dengan sedikit enggan untuk meninggalkan panti.
"Aku pulang duluan. Kalian berdua hati-hati di jalan. Annyeong." Kyungsoo membungkuk samar lalu segera pergi meninggalkan mereka.
"Kyungsoo-ah, Jongin bisa mengantarmu. Bukankah apartemenmu jauh dari sini?" suara Sehun membuat Jongin dan juga Kyungsoo terkejut dan menatap pria itu dengan dahi berkerut.
"Tidak perlu. Aku pulang sendiri saja. Terimakasih." Ia pun segera berlalu dan meninggalkan suasana diantara Jongin dan juga Sehun berubah menjadi canggung.
"Apa maksudmu?" nada bicara yang terdengar dingin membuat Sehun meliriknya sekilas.
"Aku hanya ingin membantu memperbaiki hubungan kalian."
"Kau tak perlu ikut campur."
"Aku hanya ingin—"
"Cukup! Asal kau tahu, hubungan kita tidak akan pernah kembali lagi seperti semula. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk membantuku memperbaiki hubungan kita." Jongin lalu berjalan mendahului Sehun yang masih berdiri di tempatnya.
"Kim Jongin!" Sehun dengan cepat menyusulnya. Ia mensejajarkan langkahnya dengan langkah Jongin yang tampak terburu.
"Jika kau masih ingin membahas mengenai hubunganku dengan Kyungsoo, lebih baik kau berhenti sekarang juga. Aku sama sekali tidak tertarik."
"Wae?" langkah Jongin seketika terhenti.
"Kau mau tahu apa alasanku?" obsidiannya menatap hazel kecoklatan Sehun dan seolah ingin memerangkapnya disana.
"Mwo?"
"Kau—" jantung keduanya berdetak begitu cepat. Dunia Sehun seolah berhenti berputar. Ia masih menunggu kelanjutan kalimat Jongin yang terdengar menggantung. Ia berusaha mengalihkan tatapannya dari mata Jongin namun obsidian hitam itu seolah menyedotnya masuk dan tak bisa mengalihkan pandangan Sehun ke arah lain.
"Aku mencintaimu, Oh Sehun. Apa itu cukup menjadi alasan?"
-To be Continued-
Maafkan saya yang telat update!. Maafkan ff ini yang makin gak jelas. Ff ini satu atau dua chaper lagi selesai kok karena saya mau post ff KaiHun yang lain hehe! Maaf jika chapter ini bikin kecewa. Tapi udah ketahuan kan kalo di ff ini Sehun bakal berakhir sama siapa.. hehe.. Kritik dan saran saya tunggu di kotak review...
