Chapter 15

.

.

Kyungsoo berusaha bersikap tenang. Jongin yang sibuk memotong sayuran disampingnya tak juga mengeluarkan suara. Tak ada topik yang harus dibicarakan lagi dengannya. Keduanya hanya terdiam hingga Kyungsoo yang tengah menunggu rebusan air di depannya angkat bicara.

"Jongin, aku tahu kau—"

PRAK

Jongin menghempaskan pisau yang ia pegang. Matanya menatap lurus pada potongan-potongan sayuran yang terlihat agak berantakan.

"Kyungsoo-ah, aku hanya ingin hubungan kita kembali seperti semula." Ucapan Jongin membuat mata Kyungsoo membulat sempurna. Detak jantungnya bisa ia rasakan begitu keras. Apa yang Jongin katakan barusan? Kembali seperti semula? Jadi Jongin memaafkannya?

"Kembali seperti semula, seperti sebelum kita menjalani hubungan yang sudah berakhir ini. Lupakan tentang semuanya. Aku pun berjanji—tak akan pernah mengingatnya lagi. Aku yakin, Chanyeol adalah pria yang baik. Dia lebih baik dariku, benar kan? Jangan sampai kau membuatnya kecewa. Dan kau perlu tahu—" Jongin menghela nafas sejenak. Kyungsoo hanya mematung mendengar semua penjelasan Jongin. Dadanya terasa sesak dan juga sakit. Matanya bahkan sudah memburam. Tenggorokannya tercekat hingga ia tak mampu membantah ataupun mengiyakan ucapan Jongin.

"—aku menyukai Sehun. Kuharap kau mengerti."

.

.

Kyungsoo menatap kosong pada kakinya yang menggantung—hampir menyentuh lantai. Ucapan Jongin masih terngiang dengan jelas di telinganya. Jongin menyukai Sehun. Kyungsoo tahu ia sudah tak punya harapan lagi. Jongin bukanlah penganut teori jika masa lalu adalah bagian dari masa depan. Jongin pernah mengatakannya sendiri kepada Kyungsoo. Semua yang sudah pergi, jika pun kembali, semuanya tidak akan pernah seperti semula. Ia tidak boleh egois. Ini adalah jalan yang terbaik untuk mereka. Masih ada orang yang selalu menunggunya—seperti Chanyeol.

Tak ingin tenggelam terlalu dalam bersama ingatan masa lalunya, Kyungsoo beranjak dari ranjangnya. Ia menatap sebuah box kosong yang sengaja ia letakkan di tengah ruangan. Satu per satu benda yang ia letakkan diatas meja belajar dan juga nakas—semua benda yang mengingatkannya kepada Jongin—ia masukkan ke dalam box tersebut. Kemudian langkahnya berhenti di depan lemari. Tangannya membuka pintunya perlahan lalu mata bulatnya mulai menjelajah ruangan sempit di dalamnya hingga tatapannya terhenti pada sebuah mantel berwarna coklat muda. Dihirupnya dalam-dalam aroma detergen yang menguar pada mantel tersebut. Ia belum memakainya lagi setelah terakhir kali Sehun mencucinya. Kyungsoo ingat betul ketika Sehun tak sengaja menabraknya hingga minuman yang Kyungsoo pegang mengotori mantel pemberian Jongin tersebut. Dan beberapa hari kemudian Sehun kembali menemuinya lalu mengembalikan mantel yang sudah ia cuci karena Jongin memaksa Sehun untuk melakukannya. Ia tersenyum samar dan tak habis pikir bagaimana hati Jongin bisa berubah. Kyungsoo tahu persis bagaimana Jongin membenci Oh Sehun dulu ketika ayahnya mulai mempekerjakan tutor barunya tersebut. Seorang pemuda tinggi kurus yang bahkan tak sampai satu hari menjadi tutornya karena sikap Jongin yang memang keterlaluan. Namun ia sudah melewatkan terlalu banyak hal. Melewatkan bagaimana hati Jongin yang semula terlalu dingin, perlahan mencair dan mulai menyadari perasaannya sendiri. Masa lalu tetaplah masa lalu. Seberapa menyesal pun ia, tetap saja kenyataan tak akan pernah bisa dirubah. Ia menyampirkan mantel tersebut di lengannya dan juga beberapa buah t-shirt lalu memasukanya ke dalam box. Ini adalah sebuah awal untuk melupakannya. Memulai kehidupan baru bersama Chanyeol dan membuang jauh-jauh kenangan yang mungkin—sampai kapanpun hanya akan menjadi rasa sakit yang paling indah dalam hidupnya.

oOo

Sorot mata itu berubah sendu. Garis-garis tipis di sekitar dahinya terlihat semakin mengerut saja. Ia menatap foto berbingkai yang tergantung di dinding dengan tatapan rindu kemudian menyalakan lilin di depannya. Sumbunya perlahan mulai terbakar api, menyebarkan cahaya berpendar yang bahkan tak bisa menyaingi terangnya cahaya lampu di ruangan luas itu. Matanya yang terlihat lelah, menatap sosok di dalam foto cukup lama lalu garis lemonnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Ia mendesah pelan lalu tertunduk, kemudian kembali tersenyum dalam diamnya.

"Apa kabar, Dajung-ah?" ujarnya pelan. Kepalanya perlahan kembali mendongak. Senyum wanita itu terlihat begitu indah. Ia selalu merindukannya. Bahkan sangat merindukannya.

"Besok aku akan mengunjungimu." Kembali ada jeda setelahnya. Raut wajahnya berubah sedih. Senyumnya menghilang. Senyum yang sejak awal bukanlah senyum ketulusan.

"Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Bukankah kau berjanji padaku dulu? Kau akan selalu mendengar keluh kesahku." Hatinya kembali sakit. Luka itu tak akan pernah sembuh sampai kapanpun. Terlalu sakit hingga airmata itu perlahan mulai menetes.

"Aku—tak bisa." Suaranya berubah serak. Kepalanya kembali tertunduk. Airmata itu semakin menetes deras.

"Aku harus bagaimana, Dajung-ah?" tetesan airmatanya menggenang diatas meja doa. Ia memejamkan matanya. Menyesap aroma yang menguar dari lilin yang terus menyala. Kedua tangannya perlahan saling bertautan. Menyampaikan ketulusan di dalam doanya. Cukup lama ia berada dalam posisi yang sama hingga suara ketukan pintu membuatnya membuka mata.

"Masuk." suaranya cukup terdengar oleh seseorang di luar ruangannya hingga pintu tersebut terbuka dengan perlahan. Ia tak akan pernah bosan melihat sosok Jongdae. Perawakkan kurusnya terlihat membungkuk ke arahnya.

"Pihak bandara baru saja menghubungi." Ucapan pembuka yang Jongdae sampaikan di hari itu. Ia baru bertemu Tuan Besarnya setelah satu hari penuh sosok itu menghilang begitu saja.

"Lalu?"

"Dua hari yang lalu, penerbangan ke Kanada." Ujarnya singkat. Junmyeon yang semula berdiri kemudian perlahan beranjak dari tempatnya dan segera mejatuhkan tubuhnya diatas sofa.

"Tuan—"

"Gomawo, Jongdae-ah. Kau boleh pergi." Ia memijit pelipisnya pelan. Rasa pening di kepalanya terasa mencegkram.

"Tapi Anda—"

"Gwaenchana. Aku hanya—ingin sendiri." Mengerti dengan permintaan Junmyeon, Jongdae melangkah mundur. Ia kembali membungkukkan badannya sekilas lalu pergi dari ruangan Junmyeon.

Pria paruh baya itu kini hanya termenung. Ia memiliki uang namun tak memiliki segalanya—kebahagiaan. Ia tak dicintai. Semua orang meninggalkannya. Wanita yang ia cintai dan anak laki-laki yang benar-benar ia andalkan, keduanya pergi. Hanya Jongin yang masih bersamanya meskipun tak seperti ada untuknya. Ia menangis dalam diam—meremas dadanya pelan. Ia sadar jika hidupnya tidak sempurna. Jika terus seperti ini, ia yakin jika Jongin pun akan meninggalkannya. Ia tahu jika ia harus merubah semuanya. Ia tak boleh membuat Jongin pergi suatu hari nanti. Dan ia tak akan pernah membiarkannya.

oOo

"Aku mencintaimu, Oh Sehun. Apa itu cukup menjadi alasan?" sorot tajam obsidian kelam itu membuat Sehun mematung seketika. Kakinya terasa sulit untuk digerakkan. Apa yang harus ia lakukan? Jongin baru saja menyatakan perasaannya secara gamblang.

"Jadi, jangan pernah lagi membahas Kyungsoo ataupun Luhan di depanku." Ucapnya tegas. Jongin terlihat tidak suka. Ia tiba-tiba saja berbalik lalu pergi meninggalkan Sehun yang mematung di tempatnya.

.

.

"Apa-apaan dia? Setelah menyatakan perasaannya lalu pergi begitu saja? Dia anggap aku apa huh? Patung? Sialan! Setelah membuat jantungku nyaris berhenti lalu dia tidak bertanggung jawab? Bahkan ia sama sekali tidak menghubungiku. Dasar brengsek! Mereka memang sama saja!" Sehun terus memukuli ranjangnya dengan gemas. Hidupnya memang sedang dipermainkan oleh sesuatu bernama takdir. Entah harus menangis atau tertawa. Yang pasti ia merasa benar-benar sudah gila! Ia tak akan pernah lagi menangisi Luhan ataupun mengharapkannya kembali. Tidak akan pernah!

Namun lagi-lagi ia melengkungkan bibirnya ke bawah. Menatap keluar jendela kamarnya yang sengaja ia buka lebar-lebar, membiarkan aroma petrichor menyapa indera penciumannya. Hujan sore itu turun cukup deras. Cuaca seperti ini membuatnya merasa semakin mengenaskan. Ketika hujan, Luhan selalu—

"STOP!" ia membanting bantalnya hingga mengenai sesuatu yang tersimpan diatas meja belajarnya. Sebuah paper bag yang kini sudah mendarat sempurna di bawah kaki meja. Ia mengerutkan dahinya, menatap benda tersebut dengan intens.

"Apa itu?" dengan cepat Sehun turun dari ranjangnya lalu mengambil benda tersebut dan mengintip isinya. Tangannya menarik kursi kayu disampingnya lalu ia mendaratkan tubuhnya disana. Kotak berwarna biru muda di dalamnya tak terlihat mencurigakan. Ia tanpa ragu membuka isinya lalu menemukan beberapa benda yang—terasa begitu familiar. Beberapa buah kunci yang dijadikan satu dan juga buka tabungan atas nama dirinya dengan beberapa buah kartu di dalamnya. Ia meletakkan kembali semua benda tersebut lalu berjalan dengan cepat keluar dari kamarnya.

"Minseok Hyung! Zitao!" ia berteriak cukup keras hingga Tao yang sejak tadi berada di kamarnya keluar dengan wajah yang sedikit terganggu.

"Sehun, ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?" ia menatap Sehun dengan heran. Pria tinggi kurus itu mengacungkan paper bag ditangannya dengan cepat.

"Siapa yang memberikan benda ini eoh?" sorot mata Sehun terlihat begitu menuntut.

"Luhan? Benar kan? Sejak kapan benda ini ada di kamarku?" ujarnya cepat. Tao mengerutkan dahinya.

"Apa? Aku benar-benar tidak tahu. Mungkin Minseok Hyung? Sudahlah Oh Sehun. Kau tidak perlu lagi mengingat nama si brengsek itu. Lupakan!" wajah Tao terlihat kesal. Mengingat nama Luhan saja ia sudah benar-benar muak. Ia tidak rela jika sahabatnya sendiri dipermainkan seperti itu oleh Luhan—senior yang bahkan dulu ia begitu segani.

"Aku bukan mengingatnya! Tapi dia—kau lihat ini!" Sehun menyerahkan benda yang sedari tadi ia pegang kepada Tao. Pemuda itu membukanya dengan cepat.

"Ini—" mata Tao terbelalak melihat berapa nominal yang tertera di buku tabungan tersebut.

"Aku harus mengembalikannya. Aku tidak mau menerimanya! Aku harus bertemu dengannya sekarang juga!" Sehun terlihat marah. Ia mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya terlihat menonjol.

"Dia harus tahu jika aku sama sekali tak butuh uangnya! Dia pikir aku apa? Pengemis?"

"Sehun—"

"Dia benar-benar brengsek kan? Pergi begitu saja lalu meninggalkan uang dan juga apartemen untukku. Dia pikir aku pelacur yang butuh bayaran setelah dipakai?" ucapannya terdengar frontal hingga membuat Tao hanya membuka mulutnya tak percaya.

"Isshh aku benar-benar akan memukul wajahnya jika bertemu dia! Camkan kata-kataku, Huang Zitao!" ia menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Tao yang masih memegangi paper bag yang Sehun serahkan padanya. Ia hanya mampu memutar bola matanya tak percaya.

"Ini pertama kalinya dia memaki Luhan Ge seperti itu." Senyum bangganya mengembang begitu saja. Ia menatap paper bag di tangannya dengan tatapan datar.

"Luhan Ge~ Kau memang brengsek. Jika Sehun sampai melihatmu lagi, siapkan saja wajah tampanmu untuk daratan bogem mentahnya." Ia tertawa pelan setelahnya lalu kembali memasuki kamarnya bersama benda pemberian Luhan karena ia yakin Sehun tak akan pernah mau menyimpannya lagi.

oOo

Seperti biasa, waktu istirahatnya hanya Jongin habiskan untuk menatap langit diatas rooftop. Tak ada lagu yang terdengar dari earphone yang menggantung di telinganya. Ia hanya terduduk diatas lantai kering yang tak lama lagi akan tersapu bersih oleh air hujan. Sebenarnya tak ada pemandangan indah yang dapat Jongin lihat sekarang. Sejauh matanya memandang, hanya ada awan hitam yang bergelayut manja dan juga petir yang sesekali menyambar diikuti dengan suara menggelegar yang memekakkan telinga.

Semenjak hari itu ia tak pernah lagi menemui Sehun. Mengungkapkan kalimat tabu dengan spontan tanpa memikirkan respon apa yang akan ia terima setelahnya. Namun pada akhirnya ia yang harus pergi. Ia tak sempat mendengar jawaban pemuda itu. Ia terlalu marah padanya. Ia benci jika seseorang selalu mengungkit masa lalunya. Begitupun jika ia harus mendengar Sehun berbicara tentang Luhan.

"Lama sekali tidak bertemu denganmu." Suara bariton di belakangnya membuat lamunannya buyar seketika. Ia menelengkan kepalanya sedikit lalu menatap seseorang yang berjalan mendekat melalui sudut matanya. Jongin mendengus pelan setelah tahu siapa pria yang kini sudah berdiri di sampingnya.

"Kau—"

"Kukira sikapmu akan berubah setelah aku pergi selama beberapa hari ini. Bagaimana mungkin kau masih berbicara seperti itu kepada gurumu, eoh?" Kris memukul belakang kepala Jongin dengan tangan besarnya. Bocah tan itu hanya meringis pelan seraya menatap Kris sebal.

"Ya, kenapa kau hobi sekali memukul kepalaku?" protesnya tak terima. Kris memutar bola matanya kesal.

"Jika kau berbicara sopan padaku, aku tidak akan melakukannya." Kali ini telunjuknya mengetuk-ngetuk kepala Jongin dengan gemas. Dan setelahnya Jongin menepis tangan guru berambut blonde itu dan menghempaskannya cukup keras.

"Jangan ganggu aku! Aku sedang ingin sendiri." Ucapnya dingin. Kris mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

"Begitu ya? Bagaimana kabar 'Hyung'mu? Aku benar-benar merindukannya." Nada bicaranya terdengar main-main. Jongin mengerutkan dahinya heran. Kenapa tiba-tiba Kris bertanya tentang Luhan? Dia bahkan tidak pernah tahu jika Luhan adalah kakak angkatnya.

"Maksudmu? Kau sedang membahas Luhan Hyung disini? Si bodoh itu sudah pergi dan aku tidak ingin membahasnya lagi." Jongin mencabut earphonenya dengan kasar lalu berniat meninggalkan Kris disana. Ia benar-benar muak dengan guru bertubuh tinggi itu. Apa maunya? Kenapa ia harus bertanya mengenai Luhan disaat seperti ini.

"Luhan?" pertanyaan Kris membuat Jongin meliriknya sekilas. Kris terlihat begitu heran.

"Kau mengenal Luhan?" ulangnya lagi dengan wajah yang terlihat menuntut.

"Kenapa aku harus menjawabnya?"

"Kau mengenal Yixing?" lanjut Kris cepat. Pertanyaannya membuat Jongin mendengus sebal.

"Kenapa kau tidak sekalian saja bertanya tentang Sehun dan kisah cinta segitiga mereka yang benar-benar memuakkan!" jawabnya ketus. Lagi-lagi ada orang yang membahas sesuatu yang tidak ingin ia bahas.

"Jadi Sehun—" semua diluar dugaannya. Jongin mengenal pria yang dulu selalu membuat Yixing menolaknya. Dan yang lebih membuatnya terkejut, Sehun adalah orang yang selama ini selalu Yixing bicarakan kepadanya. Orang yang membuatnya selalu memuji pria itu meskipun hatinya terlalu sakit bahkan ketika ia hanya menyebut kata 'dia'. Dia—orang yang membuat Luhan tidak pernah kembali lagi kepada Yixing, meskipun ia selalu menunggunya. Kris masih mematung disana. Ia benar-benar tidak percaya dengan fakta yang baru saja ia dapatkan. Kris hanya menatap Jongin masih dengan rasa penasarannya.

"Lalu kau—" ia menjeda ucapannya. Dilihatnya Jongin yang semakin risih dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting yang Kris lontarkan.

"Apa maumu? Kau sedang mengorek kehidupan keluargaku?" ujarnya ketus. Tanpa melihat Kris lagi, Jongin segera pergi darisana. Kris tidak menahannya. Ia membiarkan Jongin membanting pintu cukup keras hingga hanya ia sendiri yang berdiri disana dan masih tenggelam bersama spekulasinya mengenai hubungan mereka. Terlalu rumit dan benar-benar diluar dugaan.

"Wow. Benar-benar mengejutkan." Ujarnya datar. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tetesan air hujan perlahan menetes, membasahi setiap permukaan yang tersentuh olehnya. Kris tak juga beranjak darisana. Mata tajamnya menatap murid-murid yang berlarian dibawah sana agar terhindar dari air hujan yang lambat laun akan berubah deras. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menghubungi seseorang yang tampaknya begitu enggan dihubungi olehnya. Lama ia menunggu hingga suara mesin penjawab yang hanya terdengar olehnya.

"Masih saja—" komentarnya pendek seraya menatap nama itu pada layar ponselnya. Ia tersenyum kecewa namun kekehan pelan terdengar setelahnya. Sampai kapan Tao akan membencinya. Ia tak habis pikir. Manusia keras kepala itu tak pernah percaya lagi padanya. Padahal sudah tak terhitung berapa kali Kris meyakinkannya. Meluluhkan hatinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Hingga ia tak pernah berharap lebih daripada ini. Ia beranggapan jika semuanya hanyalah perasaan yang tertinggal dari puing-puing masa lalu mereka.

Kris mengembalikan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia melangkah mundur lalu setengah berlari untuk segera berteduh karena hujan turun semakin deras.

oOo

Mobil Junmyeon berhenti di pelataran sebuah pemakaman. Matanya menelisik ke setiap sudut, memperhatikan tempat yang masih terasa sama sejak 2 tahun silam—waktu terakhir kali ia datang ke tempat tersebut. Ia turun dari mobilnya lalu berjalan perlahan melewati gerbang. Kakinya melangkah ke dalam sebuah bangunan bergaya klasik. Ia berhenti sesaat. Mata lelahnya kembali mengedar secara perlahan. Tak ada yang berubah. Ia tertunduk sejenak. Ditatapnya seikat anyelir merah ditangan kanannya lalu ia tersenyum palsu. Membiarkan sepotong kenangan masa lalu terputar dengan sempurna di dalam memori otaknya. Kehampaan selalu mendekapnya kuat. Angin musim gugur yang diam-diam menyapanya, membuatnya berdiri kaku. Ia menghela nafas pelan kemudian kakinya kembali melangkah menuju salah satu ruangan yang dipenuhi dengan rak-rak kaca besar berisi guci-guci dengan bunga warna-warni di dalamnya. Ia tersenyum tipis. Langkahnya terhenti kemudian dengan gerakan perlahan ia terduduk disana, memperhatikan sebuah foto dengan seorang wanita cantik yang tersenyum lembut ke arahnya. Ia meletakkan dengan perlahan bunga yang ia bawa. Kemudian senyum yang terlihat tulus tersungging di bibirnya.

"Senang bisa bertemu denganmu lagi." Ucapnya pelan. Suaranya menggambarkan kesedihan. Ia selalu bertanya, adakah duka yang melebihi kematian? Dan ia selalu menjawab tidak. Junmyeon terkadang merasa hidup tak pernah adil padanya. Ia tak perlu uang berlimpah asalkan keluarganya dapat utuh dikelilingi kebahagiaan dan kehangatan. Ia tak perlu harta menggunung asalkan Dajung bisa kembali ke sisinya—bersamanya—bersama Jongin. Namun tak akan ada yang mendengar permintaannya. Setidaknya ia masih bisa berpikir rasional. Tuhan mendekapnya. Mendekap Dajung disisi-Nya. Setidaknya Dajung tenang disana, mendapat tempat yang lebih baik dan lebih indah.

"Aku minta maaf karena tak bisa membuat Jongin menjadi anak yang manis seperti kau mengharapkannya dulu. Aku tahu aku salah. Aku terlalu keras padanya. Aku tak pernah ada untuknya. Aku bukan orangtua yang baik. Kau tahu? Bahkan kita tidak pernah berbicara seperti ayah dan anak pada umumnya. Kita tidak pernah bercanda, tidak pernah saling menyapa, tidak pernah meluangkan waktu sekedar untuk bertukar cerita. Dia membenciku." Tenggorokan Junmyeon terasa tercekat. Genangan airmata perlahan mengalir membasahi pipinya yang tirus.

"Maafkan aku, Dajung-ah. Aku—" ia menghentikan ucapannya. Tangannya memegangi perutnya seraya meringis pelan. Rasanya semakin sakit ketika Junmyeon menggerakkan tubuhnya sedikit saja.

"Akh—" ia mencengkramnya kuat. Tubuhnya ia sandarkan pada kursi di belakangnya. Ia dengan cepat merogoh ponsel di dalam saku celana lalu segera menghubungi seseorang.

"J—Jongdae-ah, c—cepat datang kesini. Aku—" setelahnya hanya terdengar suara ponsel yang terjatuh bebas di atas lantai dan suara erangan pelan yang membuat Jongdae membelalakan mata di ujung telepon sana.

oOo

Jongin menatap satu cup kopi panas di depannya dengan tatapan kosong. Ia melipat tangannya di depan dada dengan sebelah kaki yang ditumpangkan.

Oh Sehun.

Oh Sehun.

Oh Sehun.

Nama itu dengan lancangnya selalu memenuhi isi otaknya yang sudah berdesakan. Ia benar-benar seperti seorang pengecut yang melarikan diri dari kenyataan. Menghindar dari Oh Sehun meskipun belum tentu pria itu akan mencarinya. Ia selalu berkata jika ia membenci Luhan yang bertingkah seperti pengecut dan bernyali ciut. Namun kenyataannya ia tak beda jauh dengan kakak angkatnya tersebut.

Ia mendesah pelan. Egonya yang tinggi selalu berkata untuk tidak mempedulikan Sehun yang sekarang entah berada dimana. Namun di sisi lain ada perasaan bersalah yang selalu muncul—menampakkan diri tanpa tahu malu dan berbisik padanya untuk mencoba menghubungi Sehun. Setidaknya ia harus menjelaskan dengan tuntas kalimat 'Aku mencintaimu, Oh Sehun.' kepada pria itu. Seharusnya ia bertanggung jawab dengan apa yang ia ucapkan dan bukannya pergi begitu saja tanpa kabar yang cukup berarti. Namun ia selalu bertanya, apa Sehun juga mencintainya? Ia yakin 100% jika Sehun bahkan tidak akan peduli sama sekali dengan kata-katanya.

Ia meraih kopinya. Menyelipkan sedotan diantara belahan bibirnya yang tebal. Kepalanya terasa pening. Kedutan di dahinya terasa seperti akan meledak saja. Ia mendaratkan sebelah sikunya pada permukaan meja kayu kemudian menahan kepalanya dengan telapak tangan lalu memijat pelipisnya pelan. Matanya terpejam sebentar kemudian kembali terbuka ketika suara lonceng di pintu masuk berbunyi cukup nyaring hingga membuatnya terkesiap. Namun sudut matanya menangkap sesuatu. Bayangan yang tengah berdiri di luar jendela membuatnya terdiam sejenak. Ia menolehkan kepalanya dan seketika gerakannya terhenti ketika sosok tinggi kurus dengan mantel abu-abu tengah berdiri sejajar dengannya yang hanya terhalang oleh kaca besar di sampingnya. Pria bermata hazel itu memberinya tatapan yang sulit diartikan. Jongin menegakkan tubuhnya dengan perlahan. Onyx hitamnya tak bisa lepas dari sosok Sehun yang perlahan mulai tertunduk kemudian dengan cepat berbalik dan segera pergi. Jongin terkesiap. Tak mau membuang kesempatan, dengan cepat ia menyambar jaket kulit yang tersampir di punggung kursi lalu segera berlari keluar cafe. Matanya mencari-cari punggung Sehun yang terus menjauh. Kakinya melangkah dengan cepat ketika ia menangkap sosok tersebut sudah berjalan cukup jauh bahkan setengah berlari untuk menghindarinya. Jongin tak mau kehilangan Sehun lagi. Ia harus bisa bertemu dengannya. Ia harus bisa mengejarnya. Langkahnya semakin cepat bahkan ia kini sudah berlari hingga hampir menabrak beberapa pejalan kaki yang menghalangi jalannya. Sehun yang mulai menyadari jika tengah diikuti, kini mulai menambah kecepatan langkahnya.

"Oh Sehun!" suara itu terdengar dengan jelas di telinga Sehun. Namun ia mengabaikannya. Ia belum siap bertemu Jongin meskipun dalam hati ia ingin sekali memakinya dan meminta penjelasan mengenai pernyataan tempo hari yang terdengar seperti mempermainkannya. Sehun terus berlari ketika jarak Jongin kini semakin dekat dengannya.

"Ya Oh Sehun!" teriakan pemuda itu membuatnya semakin mempercepat langkahnya. Sehun berbelok ke arah jalanan yang tidak terlalu ramai. Sial! Jongin akan dengan mudah mengejarnya.

"Berhenti disana!"

"Kau yang berhenti! Jangan mengikutiku!" nafas Sehun sudah tersengal. Kenapa Jongin tidak mau menyerah? Ia benar-benar sudah lelah dan tak pernah lagi berlari sejauh ini sejak keluar SMA dulu.

"Aku tidak akan berhenti jika kau tidak berhenti!" gertakan Jongin di belakangnya membuat langkahnya melambat dan dengan cepat ia berhenti. Tubuhnya membungkuk dengan tangan memegangi kedua lututnya yang sudah terasa lelah. Deru nafasnya terdengar kasar. Baru saja hendak menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, tangannya sudah ditarik oleh Jongin yang kini sudah berdiri di belakangnya dengan nafas memburu.

"Lepaskan aku!" Sehun berusaha menepis tangan Jongin yang mencengkram lengannya kuat. Dahi mengucur deras di pelipisnya. Matanya menatap tajam Jongin yang masih bersikeras tak mau melepaskannya.

"Tidak akan!" terdengar nada penuh penekanan dalam ucapannya. Raut wajahnya benar-benar terlihat dingin. Sehun menatapnya nyalang.

"Lepas! Atau akau akan berteriak jika kau adalah peram—" mata Sehun membelalak sempurna ketika gerakan tangan Jongin yang begitu cepat menarik kedua sisi wajahnya dan bibirnya kini sudah mendarat diatas bibir Sehun yang setengah terbuka. Jantung Sehun nyaris berhenti. Tangannya dengan refleks menekan dada bidang Jongin lalu mendorongnya dengan kuat hingga tautan mereka terlepas dan Jongin sedikit terjengkang ke belakang. Sehun menutup mulutnya dengan punggung tangan. Nafasnya kembali tersengal karena emosi yang meledak-meledak.

"Brengsek kau! Apa yang kau lakukan?!" teriaknya nyaring. Jongin masih dengan wajah datarnya hanya menatap Sehun tajam. Ia kembali berjalan mendekat lalu tangannya mencengkram lengan Sehun dan menariknya dengan paksa hingga punggung Sehun membentur badan mobil yang terparkir di pinggir jalan. Ia meringis pelan. Jongin kini sudah menghimpit tubuhnya hingga tak ada jalan bagi Sehun untuk melarikan diri.

"Kau sedang mempermainkanku? Kau puas?" ujarnya sarkastik. Bibirnya menyeringai tipis. Sementara tatapan Jongin kini mulai melunak. Terlihat dengan jelas bagaimana luka itu tergambar di wajahnya. Ia berusaha mengontrol emosinya.

"Menjauh!" Sehun kembali berucap. Ia menatap Jongin tajam yang sudah menciumnya tanpa permisi. Tangannya terkepal di samping tubuhnya. Namun ia tak melihat Jongin bergerak satu inci pun.

"Kau mau main-main denganku?"

"Apa aku terlihat main-main?"

"Ne!" jawabnya lantang.

"Aku tidak pernah mempermainkanmu, Oh Sehun." Jongin menatap sendu manik hazel di depannya. Entahlah, Sehun tak bisa berteriak lagi. Lututnya terasa lemas karena jarak mereka yang kini terlalu dekat dan juga tatapan mata itu yang seolah mematikan seluruh sistem dalam tubuhnya. Nafas hangat Jongin yang menerpa wajahnya membuat ia lupa dengan segala makian yang selalu ingin diucapkan kepada Jongin sejak kejadian itu. Sehun hanya mematung kemudian perlahan ia tertunduk. Helaian rambutnya menyapu permukaan wajah Jongin hingga ia dapat menghirup aroma mint yang semakin menyeruak masuk ke dalam saluran pernafasannya.

"Aku—benar-benar serius dengan ucapanku." Detak jantung Sehun semakin tidak karuan. Ia kembali mendongak dengan perlahan lalu menatap ke dalam mata Jongin berusaha mencari kebohongan disana. Namun ia tak mampu menemukannya. Atau mungkin ia yang terlalu gampang dibodohi dengan acting Jongin yang begitu meyakinkan.

Sehun menelan ludahnya gugup. Ia merutuki dirinya yang harus merasa canggung di depan bocah yang lebih muda darinya itu. Dilihatnya Jongin masih menatapnya dengan serius.

"Aku ingin melindungimu."

DEG

Suaranya nyaris seperti bisikan namun Sehun dapat mendengarnya dengan cukup jelas ditengah detak jantungnya yang berdebar hebat. Ia tak bisa lagi berpikir jernih ketika pahatan wajah berahang tegas itu perlahan mendekat tanpa aba-aba, mensejajarkan tubuhnya yang sedikit lebih pendek daripada Sehun. Mata hazel itu membulat. Nafasnya berusaha ia tahan mati-matian ketika dalam hitungan detik Jongin memejamkan matanya lalu bibir tebalnya menyapu lembut permukaan bibir Sehun yang setengah terbuka. Sehun cepat-cepat mengatupkan bibirnya sebelum Jongin melakukan lebih. Ia takut—jujur saja. Tangannya terkepal kuat disamping tubuhnya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan juga sakit. Luhan membayang jelas dalam ingatannya. Dengan gerakan cepat, tangannya terangkat dan mendorong dada Jongin hingga tautan bibir mereka terlepas. Pemuda di depannya menatap Sehun heran. Sorot mata yang semula terlihat menuntut, kini perlahan melunak.

"Ma—maafkan aku, Jongin." Sehun menundukkan kepalanya, tak ingin menatap mata pemuda itu. Jongin menghela nafasnya kemudian melangkah mundur.

"Aniyo. Seharusnya aku yang meminta maaf. Maaf karena—"

Ucapan Jongin terhenti ketika dering ponsel menginterupsinya. Ditatapnya Sehun yang masih terdiam dengan bibir terkatup rapat dengan punggung yang masih bersandar pada mobil yang terparkir di belakangnya. Ia merogoh saku jaketnya kemudian mengeluarkan ponsel dan melihat nama Jongdae muncul di layar ponsel.

"Yeoboseyo?" ia berbalik dan berjalan sedikit menjauh dari posisi Sehun sekarang. Namun langkahnya terhenti dengan mata melebar. Jantungnya seperti berhenti dalam beberapa detik.

"Aku segera kesana." Ia menutup teleponnya dengan cepat kemudian meremas ponselnya dengan kuat. Kepalanya menoleh ke arah Sehun yang masih mematung dibelakangnya.

"Sehun, aku—harus pergi. Maaf." Ucapannya membuat Sehun mendongak. Lagi-lagi ia merasa dipermainkan secara tidak jelas oleh bocah SMA di depannya. Hatinya benar-benar sakit. Airmata yang menggenang terasa menghalangi penglihatannya.

"Kenapa kau—mempermainkanku?"

"Apa?"

"Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau pergi begitu saja. Lalu sekarang kau menciumku dan kau pergi—begitu saja. Apa maksudmu?" tenggorokannya sedikit tercekat karena menahan rasa kecewa yang sudah tak terbendung lagi. Ia tidak peduli jika ucapannya terdengar begitu frontal hingga membuat Jongin kini kembali berjalan mendekat ke arahnya. Kedua tangannya terangkat lalu menangkup sisi wajah Sehun hingga telapak tangannya bertemu dengan permukaan kulit wajah Sehun yang terasa dingin.

"Dengar, Oh Sehun. Berapa kali harus kubilang agar kau percaya jika aku sama sekali tidak mempermainkanmu?" Obsidian kelamnya menangkap dengan jelas sepasang hazel yang kini sudah digenangi oleh airmata yang Sehun tahan mati-matian.

"Aku pergi bukan karena mempermainkanmu. Aku harus pergi karena Abeoji—masuk rumah sakit."

"M—mwo?"

oOo

PRANG!

Cangkir berisi cairan hitam itu menghantam lantai marmer dingin hingga berkeping-keping. Sepasang mata menatapnya cukup lama hingga akhirnya ia berjongkok lalu memunguti pecahan-pecahan kaca yang dapat melukai tangannya kapan saja. Hatinya benar-benar kacau hingga ia menjatuhkan secangkir kopi yang baru saja dibuatnya tanpa sengaja. Ia terdiam cukup lama, menghentikan gerakannya lalu tenggelam di dalam pikirannya yang begitu kalut. Terlalu jauh, terlalu dalam, hingga dering ponsel pun tak terdengar olehnya. Beberapa panggilan masuk yang entah sejak kapan sudah memenuhi daftar panggilan tak terjawab pada ponselnya. Ia terhenyak ketika pecahan runcing sedikit merobek ujung jarinya hingga darah segar kini menetes diatas lantai. Ia mencoba menghentikan pendarahan dengan memasukkan jarinya yang terluka ke dalam mulut. Tubuhnya yang semula berjongkok, kini sudah berdiri dan segera mencari kotak P3K pada lemari kecil yang menempel pada dinding disudut ruangan. Ia membalut lukanya dengan sebuah plester hingga dering ponsel kembali terdengar olehnya. Luhan terkesiap. Kakinya melangkah dengan cepat mendekati sebuah meja disamping jendela besar yang memperlihatkan cahaya-cahaya lampu kota yang mampu menjadi salah satu obat penenang untuknya. Ia memperhatikan ponsel yang terus berdering.

"Ibu?" ia membaca nama yang tertera di layarnya.

"Halo?"

"Luhan, kau baik-baik saja?" nada khawatir terdengar jelas di telinga pemuda itu. Luhan terdiam sejenak seraya memperhatikan jarinya yang terasa berdenyut ngilu.

"Ya, aku baik-baik saja." Luhan tak ingin membuat ibunya khawatir. Ia duduk bersandar pada meja dengan posisi tubuh mengarah pada jendela besar di hadapannya. Matanya menerawang jauh.

"Ibu tahu kau tidak baik-baik saja." kalimat itu membuatnya terkesiap. Ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu mendukungnya tanpa syarat apapun dan selalu berada di pihaknya walau bagaimanapun. Ia tak pernah memaksakan kehendak apapun kepada Luhan. Wanita itu hanya ingin Luhan mendapatkan apa yang menjadi terbaik untuk anaknya. Dan insting seorang ibu memang tak pernah salah.

"Aku sudah lelah, Bu—" suara Luhan terdengar parau. Ia kini tertunduk dalam.

"Bertahanlah sebentar lagi. Ayahmu pasti akan mengerti." Setiap kalimat yang terlontar dari mulut ibunya selalu menjadi obat penenang paling ampuh dibandingkan dengan obat penenang lainnya di dunia ini. Sebuah senyuman samar menjadi senyuman pertama yang ia ukir di wajah tampannya hari ini.

"Ya, aku akan bertahan demi Ibu dan juga—Sehun."

"Dan juga untuk dirimu. Terkadang kau harus mengorbankan apa yang kau inginkan untuk sesuatu yang tidak kau inginkan. Kembalilah jika keadaan sudah membaik. Sehun pasti begitu merindukanmu." Penuturan ibunya membuat ia terdiam. Kepalanya perlahan mengangguk samar menyetujui semua perkataan ibunya. Namun mengenai Sehun, apa ia memang merindukannya?

"Luhan—" suara lembut ibunya kembali menyadarkannya.

"Ya?"

"Ini mengenai Junmyeon—" Wanita itu menjeda kalimatnya. Luhan mengerutkan dahinya bingung.

"Abeoji? Kenapa?" tiba-tiba hatinya begitu cemas.

"Dia masuk rumah sakit kemarin namun kondisinya sudah lumayan membaik. Kau tidak perlu cemas. Maaf aku baru memberitahumu." Terdengar nada penyesalan dari suara lembut itu. Luhan bisa bernafas lega namun perasaan bersalah kini menyelimutinya. Ia sudah menyebabkan semua kekacauan dalam keluarganya.

"Bu, maafkan aku. Ini semua memang salahku." Luhan meremas rambutnya frustasi.

"Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kau tidak perlu menyalajkan dirimu sendiri. Sekarang tidurlah. Bukankah disana sudah begitu larut? Aku tidak ingin kau juga jatuh sakit." Luhan bbenar-benar ingin memeluk ibunya sekarang. Matanya terasa panas dan juga memburam.

"Apa Ayah tahu jika aku berada disini?"

"Tidak, jika aku, Junmyeon, ataupun Jongdae tidak memberitahunya."

"Mereka tahu? Bagaimana mungkin—"

"Aku cukup salut dengan sikap posesif Junmyeon hingga mengetahui keberadaanmu dari pihak bandara. Tapi tenang saja. Aku sudah meminta Jongdae untuk tidak memberitahu keberadaanmu pada Ayahmu. Tidak perlu cemas. Aku akan menghandle semuanya."

"Terimakasih, Bu. Wo ai ni."

"Aku juga mencintaimu. Tidurlah dan jangan lupakan waktu makanmu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan menghubungimu lagi jika keadaan disini dan kemarahan Ayahmu sudah mereda."

"Ya. Selamat malam."

"Disini masih siang." Terdengar kekehan pelan yang membuat hati Luhan menghangat. Senyum manis itu tersungging jelas di wajahnya.

"Sampai nanti." Luhan mengakhiri panggilannya. Ia tersenyum seraya menatap layar ponselnya yang perlahan meredup. Ibunya memang seperti malaikat yang selalu ada untuknya dalam kondisi apapun. Seperti Sehun.

Sehun.

Senyumnya seketika memudar. Luhan benar-benar merindukannya. Semua memori tentangnya kini berputar di dalam otaknya. Ia tak bisa membendung rasa rindunya lagi. Dengan cepat ia mencari nomor Sehun di ponselnya. Tangannya bergerak dengan tergesa dan berhenti ketika nama Sehun tertera di layar ponselnya. Ia terdiam—berubah ragu. Permintaan maaf tak akan cukup untuk menebus semuanya. Ia memang salah tak memberitahu Sehun jika akan pergi sejauh ini, meninggalkannya. Sehun pantas membencinya.

Luhan masih memperhatikan layar ponselnya. Hatinya bergejolak. Ibu jarinya sudah semakin dekat dan jika tersentuh sedikit saja, maka panggilannya dengan Sehun akan terhubung. Ia memejamkan matanya erat-erat kemudian dengan satu kali sentuh ia bisa mendengar suaranya.

oOo

Sehun berdiri di ambang pintu perpustakaan dan mematung ketika hujan tiba-tiba turun begitu deras. Ia mendengus pelan. Ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam perpustakaan dan mencari tempat duduk paling tenang dan juga sepi di ruangan paling dalam perpustakaan. Ia menarik salah satu kursi lalu mendudukinya. Tas punggungnya yang terasa berat karena buku-buku yang baru saja dipinjamnya, kini beralih ke atas pangkuannya. Ia mengeluarkan satu buah buku untuk dibaca lalu menggantung tasnya pada gantungan yang terpasang pada bagian samping meja. Sebelum membuka halaman pertama, Sehun menoleh keluar jendela. Hujan diluar sana terlihat menyeramkan dengan angin yang begitu kencang dan juga petir yang saling menyambar.

"Hari ini akan terjadi badai." Seorang mahasiswa yang duduk disampingnya tengah membaca sesuatu pada ponselnya. Ia tengah berbicara pada temannya yang duduk di seberang. Telinga tajam Sehun dapat mendengar obrolan mereka dengan jelas meskipun keduanya berbicara dengan suara yang pelan.

"Badai ya?" Sehun bermonolog lalu kembali menatap buku di depannya. Ketika tangannya hendak membuka halaman pertama, tiba-tiba ponselnya berdering dengan nyaring. Beberapa pasang mata kini menoleh ke arahnya. Ia memberi isyararat sebagai permintaan maaf kemudian segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia benar-benar lupa tidak memasang mode diam sejak tadi pagi. Untung saja ponselnya tidak berbunyi ketika perkuliahan tadi.

Dahinya kini mengerut. Nomor asing yang ia yakini memang bukan nomor Korea membuatnya terdiam lama hingga panggilan tersebut putus dengan sendirinya. Ia berniat meletakkan kembali ponselnya namun nomor asing itu kembali menghubunginya. Karena tak ingin terkena damprat satu perpustakaan ia dengan cepat mengangkat teleponnya.

"Yeoboseyo?"

"..."

"Yeoboseyo?"

"..." masih tak ada respon apapun dari line di ujung sana. Sehun menjauhkan ponselnya dari telinga seraya mendengus pelan.

"Maaf, jika tidak ada yang ingin dibicarakan, aku akan menutupnya—"

"Oh Sehun—"

Suara ini—

Sehun tahu siapa pemilik suara ini. Ia hanya terdiam sambil meremas ponselnya dengan kuat.

"Aku—merindukanmu."

To be Continued

.

.

*ketawa jahat di pelukan Luhan* hahahaha

Maafkan saya yang tiba-tiba berubah pikiran tentang main pair di ff ini. Udah nyerah sama mood. Udah nyerah sama hati yang kangen berat sama Luhan hehe. Maaf juga karena telat update. Mood buat nulis akhir-akhir ini udah berantakan banget jadi ya ginilah hasilnya. Dan yang pasti saya kangen banget sama XiuHan haha.

Makasih buat yang udah suka dan nunggu sampai rela di PHP-in sama ff ini. Tanpa readers, saya hanyalah EXO tanpa Luhan dan juga Kris #eh xD Jadi kritik dan saran silahkan tinggalkan di kotak review hehe. Xiexie~ Wo ai ni men!