Chapter 16
HAPPY READING!
.
.
Jongin menutup dengan perlahan pintu di belakangnya. Ia tetap berdiri disana ketika sepasang obsidian miliknya menatap lurus ke arah pria yang tengah berusaha merubah sandaran ranjangnya dengan susah payah. Sebelah tangannya yang tertancap selang infus tengah memegangi perutnya sambil sesekali ia meringis. Sementara tangan satunya merayap di samping ranjang untuk menemukan tombol pengatur sandaran ranjang lalu mencari posisi yang nyaman untuk ia bersandar. Wajahnya terlihat begitu pucat. Jongin merasa iba. Ia dapat melihat dengan jelas sisi lemah pria paruh baya itu kali ini. Rasa khawatir kembali muncul. Perasaan takut kehilangan tiba-tiba melingkupi hatiya. Ia teringat ibunya. Kali ini Jongin tak ingin merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya, meskipun ia tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ibu.
Suara derap langkah pelan membuat Junmyeon menolehkan kepalanya kearah pintu. Ia tertegun sejenak ketika sosok Jongin berjalan mendekat ke arahnya walaupun raut wajahnya tidak bisa dikatakan ramah. Namun ada tatapan hangat yang terpancar dari sorot mata itu yang membuat Junmyeon merasa terenyuh juga. Ia baru pertama kali merasakan perasaan semacam ini, terlebih ini semua memang karena Jongin.
Pemuda itu kini sudah berdiri disamping ranjang Junmyeon lalu dengan cepat tangannya segera mengambil alih tombol disamping ranjang dan membantu Junmyeon mengatur posisi sandaran ranjangnya.
"Begini?" ujarnya tanpa menatap wajah pria di depannya. Junmyeon mengangguk pelan. Gerakannya terlihat oleh ekor mata Jongin lalu pemuda itu segera menarik kursi di sampingnya dan mendudukinya.
"Kau—datang?" Junmyeon dan Jongin kini tak saling menatap. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing namun mereka tak tahu jika yang ada dalam pikiran mereka adalah dua sosok yang kini tengah berada dalam ruangan yang sama tersebut. Mereka saling memikirkan satu sama lain. Mereka saling mengkhawatirkan sama lain.
Tanpa Jongin sadari, bibir Junmyeon sedikit mengulas senyum. Entah kenapa ia merasa lega dan juga senang. Pertama kali dalam hidupnya Jongin peduli padanya. Anak itu mengkhawatirkannya. Junmyeon meyakini hal itu.
"Gomawo." Ucapan Junmyeon membuat Jongin perlahan mendongak. Ia menatap wajah yang mulai menua itu cukup lama. Dadanya berdenyut ngilu. Rasanya benar-benar sakit hingga untuk bernafas pun terasa begitu sulit.
Ada jeda yang cukup lama diantara mereka. Keduanya kembali terdiam. Hanya terdengar detik jarum jam yang bergerak konstan. Waktu tak akan pernah bisa diputar ulang. Berharap waktu kembali untuk memperbaiki semua kesalahan tak akan pernah merubah apapun. Hanya ada satu cara yang dapat dilakukan. Bukan memperbaiki di masa lalu, melainkan menjalani waktu yang tersisa tanpa melihat ke belakang.
"Bisakah kita memulai semuanya dari awal?" sebuah pertanyaan mengejutkan yang membuat Junmyeon menoleh lalu mengernyitkan dahi karenanya.
"Jika selama ini aku egois dan selalu menganggap semua yang kau lakukan adalah kesalahan, aku minta maaf. Jika kau merasa aku tidak pantas menjadi anakmu, aku juga minta maaf. Namun jika menurutmu apa yang kau lakukan adalah hal yang tepat untuk membuatku mengerti, maka tolong ajarkan aku bagaimana caranya untuk mengerti dengan apa yang selama ini kau lakukan. Apa tujuanmu melakukannya? Apa untuk membuatku menjadi lebih baik? Jika menurutmu itu semua bisa merubahku, maka aku akan menjadi seperti apa yang kau inginkan." Jongin menghela nafas pelan. Itu adalah kalimat terpanjang yang ia ucapkan kepada Junmyeon. Bukan sebuah kemarahan ataupun protes yang biasa ia lakukan. Namun terdengar seperti pertanyaan yang menuntut sebuah kepastian jelas hingga ia harus benar-benar mengerti dan juga paham.
Junmyeon menarik nafas dalam. Tangannya perlahan terangkat lalu mendarat diatas bahu pemuda itu. Ia meremasnya pelan, menyalurkan perasaan yang terlalu sulit untuk dilukiskan. Ia lalu menggeleng pelan.
"Aku bersikap keras padamu bukan tanpa alasan. Aku hanya ingin membuatmu menjadi lebih baik daripada aku. Namun kesalahan terbesarku adalah—aku tak pernah bisa memahamimu. Aku tahu aku bukan ayah yang baik. Sejak awal sudah kukatakan pada ibumu, bahwa aku tidak bisa jika tanpa dia. Tapi kau, adalah satu-satunya alasanku untuk bertahan." Junmyeon merasa tenggorokannya tercekat. Dadanya terasa sakit ketika ia harus kembali mengingat sosok mendiang isterinya. Namun tiba-tiba ia merasa telapak tangan hangat meremas tangannya pelan. Perasaan hangat itu perlahan menjalar ke seluruh tubuh bahkan menelusup ke dalam hatinya.
"Aku benar-benar memikirkan hal apa yang harus kurubah agar kita bisa menjadi ayah dan juga anak seperti keluarga lainnya. Aku memikirkan ini berulang kali. Aku—"
"Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan." Jongin memotong ucapan Junmyeon. Keputusannya sudah bulat. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menjadi anak yang baik dan juga patuh. Ia tak ingin ada penyesalan. Pria paruh baya itu terkesiap lalu tak melepaskan pandangannya dari sosok Jongin.
"Aku berjanji pada Eomma—" Jongin menguatkan rahangnya. Ia menjeda ucapannya sejenak, berusaha mengontrol dirinya yang selalu berubah emosional ketika harus berbicara tentang ibunya. "—aku berjanji akan membuatmu tak akan menyesal karena memilikiku." Kali ini ia menatap lurus ke dalam mata Junmyeon. Keduanya lalu tenggelam di dalam diam hingga pada akhirnya Junmyeon menarik pundak Jongin lalu memeluknya begitu erat. Tidak ada yang berbicara setelahnya. Jongin tak bergeming untuk beberapa detik.
"Jangan pernah meninggalkanku. Seperti ibumu dan juga—Luhan." Suaranya terdengar pelan. Lagi-lagi hati Jongin seperti dihantam oleh sesuatu. Perlahan tangannya terangkat lalu melingkar dengan erat di tubuh Junmyeon.
Sebuah pelukan yang mengisyaratkan janji. Meskipun tak terucap di bibir masing-masing, namun keduanya mengikat tekad di dalam hati. Menyatukan pikiran yang selama ini bertolak belakang kadang bukanlah sesuatu yang buruk. Kenyataan memang tak selalu lebih buruk daripada apa yang dipikirkan, begitu pun sebaliknya.
Jongin menarik tubuhnya menjauh—membuat sedikit jarak diantara mereka. Sesuatu yang mengganjal di pikirannya selama ini tiba-tiba ingin ia utarakan.
"Abeoji—" ia sebenarnya tak ingin mengungkit hal ini. Namun ia khawatir jika ayahnya akan melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Sehun.
"Ne?"
Jongin menggigit pipi bagian dalamnya. Mata yang semula menyorot entah kemana, kini menatap kembali wajah Junmyeon yang tengah mengerutkan dahi.
"Bolehkah aku meminta satu hal?" Jongin menatap Junmyeon serius. Matanya berkilat penuh harap.
"Katakan saja." senyum tipis itu terulas. Tangannya kembali bergerak menepuk pundak Jongin, meyakinkannya bahwa apapun itu ia akan berusaha untuk memenuhi permintaannya.
"Ini mengenai Sehun—"
Raut wajah Junmyeon berubah ketika mendengar nama Sehun disebut dalam pembicaraan mereka. Ia terdiam, menunggu ucapan Jongin selanjutnya.
"Tolong, jangan pernah libatkan Sehun dalam masalah keluarga kita lagi." Jongin tiba-tiba berdiri lalu tertunduk di hadapan Junmyeon.
"Kumohon—" ia mengeratkan kepalan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Junmyeon semakin mengerutkan dahinya.
"Maksudmu—"
"Pembatalan perjodohan, kepergian Luhan Hyung, semua itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Sehun." Sorot mata Jongin berubah meredup. Junmyeon dapat menangkap kekhawatiran yang begitu besar di matanya. Ucapan Jongdae memang terbukti. Sehun memang sudah merubah Jongin. Ia tak mengerti. Sihir apa yang Sehun gunakan untuk membuat Jongin dan juga Luhan takluk kepadanya. Sehun hanyalah pemuda biasa yang bahkan jika dikatakan secara kasar, ia sama sekali tak sepadan dengan mereka.
Junmyeon terdiam. Ia tak boleh egois kali ini. Apalagi yang ia harapkan jika ia sudah memiliki semuanya termasuk kebahagiaan yang menanti di depan mata?
"Kau pikir apa yang akan kulakukan padanya? Aku tak akan melakukan apapun. Asalkan kau— berada di sisiku." senyumnya terlihat lemah. Ia pun berbalik membelakangi Jongin tanpa berucap lagi. Jongin hanya menatap punggungnya tak percaya lalu menghela nafas pelan. Jawaban Junmyeon benar-benar diluar dugaannya. Jongin kira ia harus beradu argumen terlebih dahulu hanya untuk memohon agar Sehun tidak disangkut pautkan dengan kepergian Luhan. Namun kenyataannya pria yang kini tengah terbaring di depannya menyetujui permintaannya tanpa syarat apapun—hanya memintanya untuk tetap berada disisinya. Tangan Jongin terangkat lalu membetulkan letak selimut di tubuh Junmyeon.
"Aku pergi dulu. Selamat beristirahat, Abeoji—" Jongin tersenyum kemudian berbalik, melangkahkan kakinya menjauhi ranjang Junmyeon. Di langkah ketiga ia berhenti. Kepalanya menoleh kembali ke arah Junmyeon yang masih membelakanginya.
"Gomawo." Ungkapan terimakasih yang begitu tulus. Jongin kembali berbalik dan berjalan ke luar ruangan hingga terdengar pintu ditutup rapat. Junmyeon membalik posisinya lalu matanya menatap sendu ke arah pintu. Ia mendengar dengan jelas suara Jongin barusan. Begitu banyak yang ingin ia sampaikan kepada Jongin namun lidahnya terasa kelu. Bibirnya tersenyum getir dan perlahan ia berusaha memejamkan mata.
oOo
"Aku—merindukanmu."
Sehun semakin meremas ponselnya dengan erat. Ia benar-benar marah. Bagaimana mungkin Luhan masih memiliki keberanian untuk menghubunginya setelah pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun? Ia sudah berusaha untuk mengerti selama ini, bahkan berulang kali. Memaafkannya, membuatnya kembali lagi, lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun kali ini pendiriannya tak akan goyah Ia tak ingin semakin terluka. Sehun ingin mengakhiri semuanya. Tarikan nafas dalam ia lakukan sebelum merespon ucapan pria di ujung telepon sana.
"Maafkan aku—"
"Ada apa lagi, Luhan-ssi?" ujar Sehun dingin. Ia berusaha mengontrol emosinya. Luhan terkesiap ketika Sehun memanggilnya dengan embel-embel –ssi. Kegugupan Luhan semakin tak terbendung lagi. Hembusan nafas keras terdengar begitu jelas di telinga Sehun.
"Sehun-ah, kau harus mendengarkan penjelasanku dulu!. K—kita perlu bicara." Nada suaranya terdengar putus asa. Sehun menatap kosong meja di depannya. Ia kembali menarik nafas dalam, berusaha agar tidak meledak saat itu juga.
"Kurasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Bukankah semuanya sudah jelas? Ini sudah berakhir. Oh ya, kau tidak perlu repot-repot memberiku apapun. Aku akan mengembalikan milikmu secepatnya." Ia teringat kunci apartemen dan buku tabungan yang Luhan berikan untuknya. Luhan hanya terdiam. Keduanya bahkan kini terdiam. Hanya terdengar suara desahan hujan ditengah kebisuan mereka.
"Sehun—" belum sampai Luhan menyelesaikan ucapannya, Sehun sudah memutus panggilannya secara sepihak. Dengan tergesa, ia mencabut batere ponselnya lalu meletakannya diatas meja. Berulang kali ia memikirkan apakah tindakannya adalah sesuatu yang tepat atau tidak. Namun walau bagaimanapun ia sudah bersumpah tak akan pernah peduli lagi padanya.
Sehun memejamkan matanya—merenungkan apa yang baru saja terjadi. Ia mendesah pelan lalu menjatuhkan kepalanya diatas meja. Lengannya yang terjulur ia gunakan sebagai bantal. Jantungnya masih berdetak cepat. Ia sudah melakukannya. Ia sudah berusaha semampunya. Memberi ketegasan terhadap hubungan mereka yang memang seharusnya sudah berakhir sejak dulu.
Matanya kini menatap keluar jendela perpustakaan yang basah karena air hujan. Langit terlihat begitu kelabu. Ia terbawa suasana. Hati dan pikirannya benar-benar terasa lelah. Ia sudah menyerah. Pandangannya semakin kabur hingga kelopak mata itu perlahan menutup semakin rapat.
oOo
"Nomor yang Anda tuju sedang—" entah sudah yang ke berapa kalinya Jongin menghubungi ponsel Sehun hari ini. Namun hanya sebuah jawaban dari mesin operator saja yang ia dapatkan. Mobilnya sudah terparkir sejak 30 menit yang lalu di seberang Universitas Nasional Seoul. Ia khawatir. Hujan yang turun begitu lebat membuat hatinya semakin tidak tenang saja. Sejak tadi matanya terus mengawasi orang-orang yang berlalu lalang diluar sana. Namun sosok yang ia tunggu tak juga muncul. Tangannya meremas stir kemudi dengan erat. Jantungnya berdegup semakin kencang. Perasaan cemas dan juga takut membuatnya tak bisa berpikir jernih lagi. Ia menyalakan mesin mobilnya lalu segera pergi dari sana untuk mencari Sehun.
oOo
Kelopak mata yang membungkus sepasang manik hazel itu perlahan terbuka. Rasa pegal di bagian punggung membuatnya meringis pelan ketika ia berusaha menggerakkan tubuhnya dalam satu kali hentakan. Tertidur dengan posisi duduk selama beberapa jam membuat rasa sakit menjalar di tubuh bagian belakangnya.
Sehun dengan cepat mengangkat kepalanya. Kali ini langit benar-benar gelap namun hujan nampak sudah berhenti. Ia terkejut. Matanya segera mencari letak jam dinding yang terpasang di perpustakaan. Ia mengucek matanya perlahan lalu seketika membelalak ketika waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat. Masih banyak mahasiswa didalam sana. Sehun menguap lebar lalu segera beranjak pergi dari sana.
Aktivitas di dalam kampus masih terlihat padat. Banyak kelas berlangsung hingga larut malam nanti. Sehun berjalan dengan cepat. Ia mencemaskan orang-orang rumah yang akan mengkhawatirkannya. Tao pasti akan mengomelinya lagi. Padahal ia sudah berjanji untuk pulang tak lebih dari pukul 3 hari ini. Terlebih ponsel yang dimatikan akan membuat mereka semakin sulit menghubunginya lalu berspekulasi yang tidak-tidak tentang dirinya.
Sehun menelusuri trotoar dengan perlahan. Fisik dan psikisnya benar-benar terasa lelah. Ia menghembuskan nafasnya pelan hingga kepulan asap terlihat keluar dari mulut dan hidungnya. Udara terlalu dingin hingga Sehun harus beberapa kali mengeratkan jaket lalu mendekap tubuhnya yang sedikit menggigil. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk berjalan menuju halte.
TIIN... TIIN...
Awalnya Sehun tak begitu menghiraukan suara klakson mobil yang menjerit-jerit di sampingnya. Namun lama-lama suaranya terdengar risih ketika si pengendara mobil terus menekannya tanpa henti. Ia dan juga beberapa pengguna jalan menoleh tak suka. Sehun seketika menghentikan langkahnya ketika dilihatnya seseorang melambaikan tangan dari dalam mobil dengan senyum cool yang mampu membuat siapa saja terpesona.
"Kris?"
"Kau baru pulang? Masuklah! Aku akan memberimu tumpangan." ujar Kris setengah berteriak. Sehun berpikir sejenak seraya mengerutkan dahi.
"Apa tidak apa-apa?" tanyanya ragu. Kris mengangguk pelan. Tanpa pikir panjang lagi Sehun segera masuk ke dalam mobilnya.
"Kebetulan sekali kita bertemu disini." Kris terus melajukan mobilnya. Sehun yang tengah memasang seatbelt-nya hanya mengangguk pelan.
"Eoh. Tumben sekali sekolahmu selesai lebih awal. Biasanya Jongin akan pulang begitu larut." Sehun tak menyadari telah membawa nama Jongin dalam pembicaraan mereka. Ia seketika mengatupkan bibirnya rapat lalu melirik sekilas ke arah Kris. Terdengar kekehan kecil setelahnya.
"Ternyata benar ya? Kau dan Jongin memang—"
"Ani. I—itu tidak seperti yang kau pikirkan." Sehun berubah salah tingah. Ia mengalihkan tatapannya ke luar mobil lalu sibuk dengan pikirannya. Kali ini Sehun tak bisa berkilah lagi. Meskipun bibirnya berkata tidak, tapi hati dan pikirannya selalu saja dipenuhi dengan nama pemuda itu. Kris menatapnya sekilas lalu terkekeh pelan.
"Tenang saja. Kau tidak perlu segugup itu. Ada hal penting yang membuatku lebih tertarik." Ucapan Kris membuat Sehun menoleh padanya. Ia mengerutkan dahinya mempertanyakan apa maksud ucapan Kris.
"Tertarik? Tentang?" dilihatnya Kris hanya terdiam. Sehun yang tak kunjung mendapat jawaban kemudian kembali menolehkan kepalanya ke arah depan. Dari raut wajahnya mungkin Kris terlihat sungkan untuk memberinya pertanyaan.
"Katakan saja. Aku akan menjawab sebisaku." Tiba-tiba tawa Kris pecah setelah mendengar ucapan Sehun. Pria itu semakin mengerutkan dahi pertanda ia tak mengerti dengan keadaan mereka saat ini. Kenapa Kris harus tertawa? Apa ada yang salah?
"W—wae?"
Kris seketika menghentikan tawanya saat menyadari bahwa Sehun terlihat bingung dengan sikapnya barusan. Ia berdehem pelan kemudian kembali menarik bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman tipis.
"Maaf, kau benar-benar terlihat gugup. Tenang saja! Kau tak perlu menjawab sebisamu karena ini bukan ujian." Lagi-lagi ia terkekeh pelan namun dapat segera terkontrol karena melihat raut wajah Sehun yang sedikit risih dengan tawanya.
"Luhan—"
"Apa?" Sehun menoleh secepat kilat. Kris tiba-tiba menyebut nama Luhan tanpa ia duga.
"Semuanya benar-benar mengejutkan dan—terlalu rumit. Kupikir sejauh apapun kau pergi, tetap saja dunia akan terasa sempit."
"Maksudmu?" Sehun semakin tak mengerti dengan ucapan Kris yang terkesan berbelit-belit. Pria blonde itu tersenyum menyeringai.
"Kau, Luhan, Yixing, aku, dan Tao mungkin sudah digariskan takdir untuk hidup saling berkaitan. Benar-benar rumit dan—membingungkan. Aku tidak tahu jika kau adalah orang yang selama ini menjadi alasan Luhan pergi dari kehidupan Yixing—" Sehun masih berusaha mencerna penuturan Kris barusan. Ia menatap Kris tanpa berkedip dengan setumpuk pertanyaan di otaknya.
"—bahkan yang lebih mengejutkan lagi, anak itu—Jongin—juga terlibat dalam hubungan ini. Dia adik angkat Luhan? Ck, benar-benar sebuah drama. Ya kan? Bagaimana menurutmu? Menggelikan?" Kris lagi-lagi terkekeh. Ia kembali fokus pada jalanan ketika Sehun kini hanya terdiam. Kris menatapnya melalui sudut mata lalu segera menoleh ke arah Sehun yang tampak sibuk dengan pikirannya.
"Gwaenchana?"
"Kau— apa hubunganmu dengan mereka?" pertanyaan Sehun membuat Kris menghela nafas pelan.
"Aku? Mungkin aku bisa dikatakan—orang yang kurang beruntung?"
"Tolong jangan berbelit-belit!" tiba-tiba Sehun menyentaknya. Ia cukup kesal dengan ucapan Kris yang terus berputar-putar dan tidak jelas seperti itu. Akhirnya ia menarik nafas dalam untuk mengontrol emosinya.
"Maaf." Cicitnya pelan.
"It's okay. Seharusnya aku yang meminta maaf karena membuatmu bingung. Jadi, intinya Yixing lebih memilih Luhan dibandingkan aku." Jawaban Kris membuat Sehun merasa sedikit bersalah. Perubahan raut wajah Kris membuatnya sedikit tak enak.
"Lalu Tao?"
"Dia—" Kris menggigit bibir bawahnya ketat. Bahkan hubungan mereka terlalu rumit untuk diterjemahkan dalam sebuah kalimat.
"Dia— lebih dari segalanya untukku." Matanya tampak menerawang namun seketika tersadar karena ia tengah menyetir. Sehun benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa dunia memang sesempit itu?
Hatinya kembali bimbang. Tiba-tiba perasaan ingin mengorek masa lalunya kembali mendominasi. Mungkin Kris tahu sejauh mana hubungan Luhan dan juga Yixing selama ini.
Tapi—
Ia berhasil menyadarkan diri bahwa apa yang akan dia lakukan hanya akan membuat lukanya semakin sakit. Ia tidak ingin itu terjadi dan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh lagi.
Tak ada yang kembali membuka suara setelah penuturan Kris barusan. Mereka terdiam selama sisa perjalanan menuju ke rumah Sehun. Tak ada yang menginginkan hidupnya serumit ini, begitupun Sehun. Jika dipikirkan lebih dalam dan jauh lagi, mungkin ia bisa gila. Namun ia lebih memilih untuk berhenti sampai disini.
"Kris, lebih baik aku turun disini saja." Sehun meminta Kris menghentikan mobilnya di dekat taman bermain.
"Kau yakin? Aku akan mengantarmu sampai ke rumah—"
"Sebentar." Sehun tampak menyadari sesuatu lalu menatap Kris dengan kerutan di dahinya.
"Kenapa kau tahu jalan menuju rumahku?" ia bertanya heran. Kris baru ingat jika ia memang pernah melewati jalanan ini sebelumnya.
"Ah, aku sempat mengantar Jongin sebelumnya." Jawaban Kris direspon dengan sebuah anggukan paham.
"Gomawo karena sudah memberiku tumpangan. Dan untuk yang tadi—terimakasih karena kau sudah mau menceritakan semuanya padaku." Sehun pun turun dari mobil Kris lalu melambaikan tangannya ketika mobil itu berjalan meninggalkannya.
Sehun melanjutkan langkahnya ketika mobil Kris sudah tak terlihat lagi. Ia mendesah pelan lalu memijat pelipisnya yang terasa pening. Setiap kali ia selalu berharap jika ini adalah sebuah mimpi buruk yang akan membuatnya terbangun jika Sehun menampar pipinya dengan keras. Namun tak ada yang terjadi saat ia melakukannya.
TIIN! TIIN!
Sehun terlonjak kaget ketika sebuah mobil hampir saja menabraknya dari arah belakang. Ia segera menaiki trotoar dan menatap geram sekaligus terkejut ke arah mobil yang kini sudah berhenti di depannya. Seseorang melompat keluar darisana dengan wajah yang terlihat berantakan.
"Sehun! Kau baik-baik saja?" Jongin tiba-tiba memegangi kedua sisi tubuh Sehun dengan cemas. Sementara Sehun yang masih terkejut hanya mengangguk pelan.
"Eoh." Jawabnya singkat. Sehun tak mengerti kenapa Jongin tampak begitu mengkhawatirkannya. Ia tersentak kaget ketika secara tiba-tiba Jongin menarik kepalanya hingga ia kini bersandar di bahu Jongin.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja." sebelah tangannya meremat pelan rambut kecoklatan Sehun sementara tangannya yang lain mengusap punggungnya lembut. Ada perasaan hangat yang menggelitik di sekujur tubuh. Sehun tak ingin bergeming. Ia dapat merasakannya. Bahu Jongin seolah melenyapkan semua keraguannya.
"Aku lelah dan ingin menghilang." Gumam Sehun pelan di sela diam mereka. Jongin semakin mengerutkan pelukannya di tubuh Sehun.
"Kalau begitu, kita menghilang bersama-sama."
oOo
Sehun menghirup udara dalam-dalam. Matanya menatap hamparan Sungai Han yang terlihat begitu tenang. Lampu taman yang memendarkan cahaya temaram membuat suasana diantara mereka terasa begitu romantis, begitu menurut pemikiran menggelikan Sehun. Ia menengadah, memperhatikan hamparan langit kelam yang ditaburi bintang dengan bulan sabit yang tampak tersenyum ke arah mereka.
"Kenapa kau tertawa?" suara Jongin mengagetkannya. Ia menoleh lalu menggeleng pelan. Tubuhnya merosot lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran bangku taman.
"Kukira kau benar-benar akan mengajakku menghilang. Tapi ternyata kita malah pergi kesini." Terdengar sedikit nada kecewa dalam ucapannya. Kali ini giliran Jongin yang tertawa pelan. Ia mengikuti arah pandang Sehun yang masih betah menatap langit.
"Hei—"
"Hmm.."
"Aku sudah menepati salah satu janjiku kepada Eomma." Ucapan Jongin membuat Sehun menoleh. Ia membetulkan posisi duduknya lalu kembali tegak.
"Mwo?"
"Hubunganku dengan Abeoji sudah membaik. Aku tak pernah membayangkan ini sebelumnya." Jongin tersenyum tipis mengingat pembicaraan dengan ayahnya kemarin malam. Ia benar-benar senang. Sehun tertegun lalu segera mengulurkan sebelah tangannya di depan Jongin. Pemuda itu mengerutkan dahi.
"Wae?" meskipun tak mengerti, ia langsung menerima uluran tangan itu. Menggenggamnya seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Chukkaeyo. Aku ikut merasa senang." Sehun tersenyum lebar, membuat seluruh saraf di tubuh Jongin terasa kaku ketika melihat senyum itu terkembang begitu indah. Jongin benar-benar menyukainya. Perasaan ingin melindunginya terasa semakin besar. Jongin ingin menjaga senyuman itu. Ia ingin melindungi kebahagiaan itu.
"Oh Sehun—"
"Hmm?"
"Aku akan membuatmu menghilang dari kehidupan masa lalumu."
Sehun tersentak namun tak berapa lama ia terkekeh pelan.
"Benarkah?" Komentarnya pendek. Mata Jongin kini beralih kepada Sehun. Ia menatapnya lama. Sehun yang mulai menyadari jika tak ada sesuatu yang lucu, segera menghentikan tawanya.
"Aku serius."
Mata Sehun terpaku pada obsidian hitam itu lalu meraih kedua tangan Jongin dan meremasnya pelan.
"Ne, Hyung percaya padamu. Hyung pegang ucapanmu dan akan menagihnya suatu hari nanti." Sehun tertawa lebar lalu mengusek kepala Jongin gemas. Wajah pria yang lebih muda darinya itu tertekuk masam. Jongin memundurkan kepalanya lalu menepis tangan Sehun yang terus mengacak-acak rambutnya.
"Ya Oh Sehun, aku tidak akan pernah memanggilmu Hyung sampai kapanpun! Jangan terlalu banyak berharap!" ujarnya ketus lalu segera beranjak dari duduknya untuk menjauhi Sehun. Ia berjalan menuju railing di pinggir sungai lalu membetulkan tatanan rambutnya yang berantakan.
Sehun menatapnya dari tempat semula. Ia kembali terkekeh pelan ketika dilihatnya Jongin terus merutuk.
"Kim Jongin! Panggil aku Hyung!" Sehun sengaja menggodanya lagi. Ia berjalan mendekati Jongin hingga pemuda itu siap untuk melarikan diri.
"Shireo! Berhenti disana!" Jongin mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah Sehun namun pria berkulit pucat itu terus berjalan melewatinya hingga tubuhnya kini merapat pada railing lalu merentangkan tangannya dengan lebar. Sehun berpikir keras seraya memejamkan mata. Mungkin satu-satunya cara untuk membuat keadaan membaik bukan dengan terus-terusan terjebak bersama ingatan di masa lalu. Dia harus memulai membuka hatinya untuk orang lain. Untuk orang yang lebih peduli padanya seperti—pria yang berdiri tak jauh darinya. Sehun menatapnya cukup lama. Jongin tak menyadari jika sepasang hazel itu kini tengah memandang ke arahnya. Bergelut dengan pikirannya lalu diakhiri dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Kemarilah! Jangan jauh-jauh." Sehun melambaikan tangannya ke arah Jongin. Pemuda itu menoleh. Ia hanya menurutinya seperti anak anjing lalu berdiri disamping Sehun. Tubuh mereka sama-sama menghadap ke arah sungai.
Ketika Jongin hampir tenggelam di dalam lamunannya lagi tiba-tiba Sehun menyodorkan kelingking di depannya. Jongin memicing lalu menoleh.
"Mwo?"
Sehun menghela nafas kemudian menoleh ke arah Jongin dengan cepat. Ia tersenyum lebar lalu meraih sebelah tangan Jongin dan mengaitkan kelingkingnya secara paksa.
"Kau sudah berjanji padaku untuk menghilang bersamaku lalu membawaku pergi dari kehidupan masa laluku. Bisakah kita—memulainya dari awal?" tak ada lagi keraguan yang terpancar dari sorot matanya. Perlahan bibir Jongin melengkung, tersenyum tipis menanggapi ucapannya. Perasaan hangat itu kembali muncul. Seperti ada ledakan kembang api di dalam perutnya lalu percikan apinya menjalari ke seluruh tubuh.
Jongin menarik kepala Sehun agar bersandar di bahunya. Jari kelingking yang semula saling bertaut, kini tergantikan oleh tangan yang saling menggenggam.
"Aku berjanji, Oh Sehun."
.
.
.
"Kau lihat? Sepertinya aku memang harus merelakan mereka untuk bersama." Matanya memandang lurus ke arah mereka. Pria yang berdiri bersamanya sama sekali tidak bicara. Ia yang berdiri tepat di belakangnya hanya bisa menatap punggung itu dengan tatapan nanar. Ia memejamkan matanya seraya mengepalkan tangan begitu kuat.
"Ya, memang seharusnya begitu."
To be Continued
.
.
Maaf banget updatenya bener2 telat keterlaluan! Maaf banget banget banget!
Chapter depan selesai! Akhirnya! Saya udah bosen sama ff ini haha. Udah mau 2 tahun gila.
Mohon supportnya juga buat Our Path dan juga Kejar Aku Luhan Kutangkap *promosi*
Terimakasih!
