Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiii... bertemu dengan saya lagi author yang gajenya gak ketulungan. Heheheh
Saatnya balas review yang punya account saya balas di PM.
Aiko: terimakasih sudah membaca dan mereview. ^_^
Terimakasih bagi semuanya yang mendukung dan membaca fic saya
Maaf kalo makin lama fic saya makin gaje saja
Langsung saja
7. munculnya Api diambang kekalahan
Semua mengerubungi Yaya. Memastikan keadaan Yaya yang sempat terkena serangan Adudu.
"YAYA...!" teriak Ying khawatir.
"kau tak apa Yaya?" tanya Taufan.
"aku tak apa"
"kau gila Yaya? Mengapa kau tadi berhenti?"
"aku tadi melihat..."
"kau melihat apa Yaya? Jangan membuat kami bingung" kata Taufan tak sabar dengan Yaya.
"aku melihat Halilintar didalam ruangan itu. Dan kurasa dia tak sadarkan diri"
"APE? Halilintar? Jadi kak sana dia selama ini."
"kalau begitu tunggu apalagi serang saja"
"maksudmu Fang?"
"kita hancurkan saja ruangan itu dan bawa Halilintar keluar"
"tapi bagaimana kalau kita menghancurkan ruangan itu Halilintar ikut terluka"
"AWASSS" teriakan Ying menghentikan perdebatan Boboiboy dan yang lain.
"tanah pelindung" Sebuah peluru siap menerjang mereka jika saja Gempa tidak melindungi mereka.
"ADUDU LEPASKAN HALILINTAR"
Teriak Gempa lantang kepada Adudu.
"Lepaskan dia. Hah jangan harap. Kalian dah tahu kan kak mana dia sekarang. Hahahahahhahhahaha"
"berani kau Adudu"
Tak ada toleransi lagi semua menyerang dengan sekuat tenaga. Namun sekarang yang menjadi prioritas utama adalah menyelamatkan Halilintar.
Semua misil, peluru dan berbagai serangan lain dilancarkan Adudu untuk mengalahkan Boboiboy dan teman-temannya. Namun tak ada yang bisa mengenai mereka.
"bola Taufan"
"golem tanah"
"jari bayang"
"seribu tendangan laju"
"tumbukan padu"
Dengan seluruh kekuatannya Boboiboy dan kawan-kawan menyerang Adudu. Mereka tak bisa lagi menyerang Adudu dengan rencana mereka yang sebelumnya karena Adudu bergerak semakin cepat dan semakin sulit untuk dihentikan.
"Ying. AWASS" teriak Fang pada Ying yang melihat ada peluru yang hampir menerjangnya.
"ARGHHH" Ying yang tak sempat menghindari peluru itu terpental beberapa meter.
"YIINNGGGGG" teriak Yaya yang melihat Ying terlempar dan tak bergerak lagi. Yaya segera menghampiri Ying.
"kau selanjutnya" kata Adudu sambil menembakkan peluru ke arah Yaya. Yaya yang terlalu fokus untuk menghApiri Ying tak menyadari ada peluru yang ditembakkan ke arahnya.
"tanah pelind..."
"ARRRRGGGGHHH" teriak Yaya dan Gempa yang mencoba menolong Yaya dengan membuat tanah pelindung didepannya dan Yaya. Namun belum sempat Gmepa mengeluarkan tanah pelindungnya. Peluru itu telah menerjangnya dan membuatnya dan Yaya terlempar hingga tak sadarkan diri.
"YING, YAYA, GEMPA" teriak Taufan ketika melihat teman-temannya tak sadarkan diri. Taufan hanya terpaku ditempat melihat teman-temannya jatuh tak sadarkan diri.
"Taufaaannn"
Taufan yang terpaku melihat teman-temannya jatuh tak sadarkan diri tak bisa lagi menghindari serangan Adudu. Sebuah tangan raksasa berhasil menangkap Taufan.
"LEPASKAN AKU" teriak Taufan yang ada digenggaman robot raksasa Adudu.
"HAHAHAHHAHA semua dah tamat. Akhirnya.. aku berhasil mengalahkan BOBOIBOY. HAHAHAHAHA"
"jari bayang" tangan-tangan dari bayang mencoba melilit tangan robot raksasa Adudu yang mencengkram Taufan. Namun sia-sia, bayangan itu telah menghilang sebelum melilit tangan robot itu. Fang yang kehabisan tenaga, tak bisa mempertahankan bayangannya lagi.
DUUAAARRR...
Sebuah peluru diarahkan Adudu ke arah Fang yang tak bisa menghindar. Dan membuatnya terlempar dan tak sadarkan diri.
"arrrrrggggghhhhh"
"FAAANNNNGGGG"
"hahahaha... semua dah kalah"
Taufan yang ada dicengkraman tangan Adudu hanya melihat seluruh teman-temannya yang tak bisa bergerak.
"rasakan ini"
"AARRRGGGHHH"
Adudu mencengkram Taufan dan melemparkannya kebawah.
"eggghhh"
Gempa mencoba berdiri. Meski tubuhnya lemas dan tak bisa digerakkan lagi.
Adudu memandangi mereka yang terjatuh lemas ditanah.
"komputer pelihatkan Halilintar"
"baik boz"
Sebuah hologram muncul didepan Adudu. Hologram itu menunjukkan Halilintar yang tak sadarkan diri.
"hahahaha semua dah kalah. Lihat Halilintar. Mana temanmu yang tidak bisa diremehkan. Hahahahaha"
oooooooooooo
Yaya Pov.
Eggg...
Sakit, seluruh tubuhku sakit karena serangan itu. Aku mencoba bangun namun tak bisa . aku terlalu lelah untuk bangun. Dasar alien kepala kotak.
"LEPASKAN AKU" Taufan? Apa yang terjadi kudongakkan kepalaku sedikit.
Oh... tidak Taufan. Dia.. dia tertangkap.
"egg..."
Kucoba berdiri lagi tapi hasilnya tetap sama aku tubuhku tak menurutiku.
"teman-teman?"
Suara benar-benar lemah. Kulihat teman temanku yang lain, mereka tergeletak tak bergerak ditanah. Sepertinya mereka masih tak sadarkan diri.
"arrrrrggggghhhhh"
"FAAANNNNGGGG"
"Fang" dia juga terkena serangan Adudu. Kulihat dia terlempar beberapa meter dan tak sadarkan diri.
"Taufan..." kulihat Taufan dicengkram hingga ia tak sadarkan diri lalu dilempar begitu saja ke tanah.
Dan tunggu tadi aku bukannya terkena serangan Adudu.
Gempa? Gempa dimana dia.
Perlahan kugerakkan kepalaku untuk mencari Gempa yang melindungiku saat aku hampir tertembak tadi. Ternyatadia ada didepanku. Tangannya bergerak-gerak, aku tahu ia masih sadar namun sama sepertiku tubuhnya tak bisa di gerakkan.
"Gempa? Kau oke kah?" ku coba bertanya kepada Gempa. Semooga ia masih menjawab pertanyaanku.
"enghhh... Yaya? Aku tak apa. Kau bagaimana?"
Ohh... syukurlah dia masih menjawabku meskipun dengan suara yang sangat pelan dan lemah.
"aku tak apa"
"HAHAHAHHAHAHA"
Suara itu, Adudu. Dia benar-benar bagaimana ini aku tak bisa bergerak dan yang lainpun lebih parah lagi. Setidaknya aku tadi masih dilindungi Gempa meski aku juga sempat tak sadarkan diri. Kulihat Adudu menembakkan pelurunya kearahku dan Gempa.
"Argghh..."
Sakit, aku semakin tak bisa bergerak.
Tidakk...
Oh.. ingin sekali aku melindungi mereka namun aku tak bisa bergerak. Kulihat Adudu menembakkan peluru-pelurunya lagi kearah Ying, Fang dan Taufan.
Bagaimana ini? Ku coba mengangkat kepalaku. Dan kulihat diatas sana ada sebuah lambang elemen api samar diudara. Itu? Lambang itu? Mungkinkan?..
Yaya POV end
Ooooooo
Halilintar POV
Argggghhh...
Kugerakkan tubuhku lagi. Dan sama seperti tadi aku tak bisa menggerakannya. Bahkan tubuhku semakin lemas. Dasar kepala kotak brengsek. Akan kubunuh kau.
"hahahaha semua dah kalah. Lihat Halilintar. Mana temanmu yang tidak bisa diremehkan. Hahahahaha"
Suara itu? Si brengsek Adudu. Dia berbicara padaku lagi. Tapi apa maksudnya 'Semua dah kalah?'
Mungkinkah mereka? Tidak... tidak... tidak mungkin kan?
Segera saja kudongakkan kepalaku? dan yang kulihat mereka semua tak sadarkan diri.
Jangan..! kulihat Adudu mnembakkan pelurunya satu per satu kearah mereka.
"ti...dak..."
"ohhh... kau sudah sadar Halilintar? Lihat teman-temanmu! Siapa yang tak bisa diremehkan haa?"
"breng...sek"
"HAHAHAHAHAHA..."
Dasar brengsek... berani kau Adudu...
Akan kubunuh kau.
Sudah cukup aku menahan amarahku. Sekarang aku hanya ingin menghajarnya.
"AAAARRRRRGGGGHHHH"
Kukerahkan seluruh tenagaku meskipun aku masih lemas. Tapi aku tak tahan lagi melihat teman-temanku terluka.
Persetan dengan dia akan menyerap semua energiku. Aku harus bisa keluar dari sini.
"Hahahahaha...lakukan saja Halilintar. Jika kau melakukan hal itu maka akan membuat robot ini mendapat kekuatan untuk menghapuskan seluruh teman-temanmu. HAHAHAHAHA"
"ARRGGGGHHH"
Persetan dengan semuanya. Kulihat tangan dan seluruh tubuhku memercikkan listrik.
Craakkk...
Ah... Tidak bisa aku tak memiliki banyak energi.
Tapi kulihat ada salah satu slang yang menyerap energiku pecah dan mengalirkan listril keluar...
Mungkinkah...
Halilintar POV end
Oooooooo
Semua hanya tergeletak di tanah tak bisa menggerakkan tubuhnya untuk berdiri.
Mereka mendongak ketila melihat lingkaran di robot itu mengeluarkan warna merah. Sewarna dengan kekuatan Halilintar.
"Halilintar? Mungkinkah?"
"Dia masih belum menyerah."
"Kita juga tidak akan menyerag"
Perlahan mereka bangkit. Meski tubuh penuh luka dan lemas. Mereka masih bisa berdiri dengan keyakinan mereka masing-masing.
Semua telah berhasil berdiri meski tubuh mereka masih terhuyung.
"Hahahaha rasakan ini"
Sebuah peluru ditembakkan kearah mereka. Tanpa gentar mereka menghadApi peluru itu.
"Tukaran makanan"
Sebuah suara dari salah satu teman mereka berhasil mengubah peluru yang hampir mengenai mereka menjadi berbagai makanan ringan yang berantakan ketika mengenai tanah.
"Kalian tak ape?" tanya Gopal, anak yang telah merubah peluru itu.
"Kau lama sekali? Kau jalan atau membersihkan jalan ?" omel anak berkaca mata ungu, kesal dengan Gopal yang datang terlamabat.
"Iya. Wooo. Kau dari mana saja?"
" hehehe... Maaf tadi aku.."
"Kalian lihat tidak lambang Api itu?" tanya Yaya memotong perkataan Gopal.
"Lambang Api"
Semua melihat kearah lambang Api yang ada diatas mereka. Perlahan lambang Api itu mengeluarkan cahaya berwarna merah keorenan. Semakin lama cahaya itu semakin terang. Mereka semua menutupi matanya karena sinar yang menyilaukan itu.
Dan samar-samar terlihat anak bertopi yang dihadapka ke depan namun agak keatas. Menggunakan jaket lengan pendek berwarna merah. Dengan tangan berapi yang menyala.
"Mungkinkah?"
"Boboiboy Api" gumam mereka semua melihat anak yang ada didepan mereka.
TBC or DISC
Waaahhhh... Maaf makin gak jelas aja fic ku ini.
Halilintar : emang dari awak ficmu jelas.
Author: komen mulu.
Api: yeeeeeeeeeee... Akhirnya aku keluar... Yeyeyeyeye
Author dan chara yang lain (kecuali Api) : #sweatdrop.
Ah.. Eh.. Iya.. Abaikan yang diatas
Terimakasih sudag membaca fic saya.
Pertanyaanya masih sama lanjut apa enggak..
Review please ^_^
