Haiii semaaaaaaaaaaa...
Saya kembali...
Saya coba perpanjang di chapter ini...
Maaf aku lama kalo update... beneran aku bingung lanjutinnya gimana...
Nah... mending aku balas review saja... dan seperti biasa yang punya account lihat di PM masing-masing.
Kuroyami A King Of Elements: terimakasih sudah membaca dan merieview fic saya. maaf kalo updatenya lama. Iya ini saya panjangin. Dan whaaa... jangaaann... saya panjangi saya panjangin.
Dinda-chan : terimakasih sudah membaca dan merieview fic saya. Hehehhe.. maaf yaa.. saya nggak bisa update kilat. Dan maaf kalo endingnya nggantung.
Nur halimah : terimakasih sudah membaca dan merieview fic saya.
99: terimakasih sudah membaca dan merieview fic saya.
Aiko : terimakasih sudah membaca dan merieview fic saya. Doishimashite (bener nggak tulisnnya?)
Hisa Kanagawa : terimakasih sudah membaca dan merieview fic saya. Hehehe maaf lama. Saya nggak dapet kata2. Dan ini malah udah end. Maaf yaa..
WAHHHHHH... ada 63 reviewnya dari chap 1 sampai 8.. yeeeeyyyyyyyyyyy... terimakasih banya untuk yang telah mereview.
^_^ SELAMAT MEMBACA ^_^
9. with friend
Langit mulai membentuk pusaran gelap dan munculah seekor naga yang sangat besar dari sana. Naga bayang itu mulai keluar dan meraung-raung. Tanah pun bergetar dan terbelah memunculkan seekor naga dari tanah yang besarnya tak kalah dengan Naga bayang. Raungan-raungan dari kedua naga itu menggema.
Kedua naga itu semakin keluar dan menunjukkan wujud penuh mereka. Bergerak terbang diudara.
Seluruh mata memandang takjub dan ngeri secara bersamaan.
"Komputer aku memerlukan energi yang lebih serap energi Halilintar sekarang" seru Adudu ketakutan melihat kedua naga itu siap menerkamnya.
"Baik bos"
"GRAAAAAAAAAAAAAAAAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUURRRRRRRRRRRRRRRRRR"
Suara raungan naga itu mengema diseluruh pulau rintis.
"Hoiyo.. kereeennn" kata boboiboy api takjub dengan kedua naga itu.
"Sekarang. Hyaaaaaaaaaaaa..." sebuah komando dari gempa. Menggerakkan kedua naga itu untuk menyerang Adudu.
Robot adudu mencoba untuk menembaki naga-naga itu. Namun tak menghasilkan kerusakan sama sekali. Kedua naga itu menyerang robot Adudu dan berhasil menggigit tangan robot itu dan melemparkannya. Satu tangan dari robot itu telah putus begitu juga dengan lempeng-lempeng baja yang terkelupas dan berserakan. Namun robot itu masih melindungi ruangan tempat Halilintar berada.
"Komputer bagaimana penyerapan tenaganya?"
"50% boz"
"Percepat penyerapannya!" perintah Adudu yang masih ketakutan.
Sebuah misil raksasa di tembakkan Adudu ke Golem naga tanah Gempa. Naga tanah gempa berhenti sesaat ketika tempatnya sekarang terselimuti kabut. Namun Adudu terlalu lengah Naga bayang milik Fang telah berhasil menggigit kakinya dan melemparkan robot Adudu ke udara.
"Huaa... komputer aktive kan jet sekarang."
"Baik boz"
Sepasang sayap raksasa keluar di punggung Robot Adudu. Membuatnya dapat terbang diangkasa dan menembaki kedua naga yang menyerangnya. Kedua naga itu, terbang menuju robot Adudu.
OooooooooooO
Yaya POV
Ahh... aku tak bisa menggerakkan mulut hanya untuk berbicara. Semua teman-temanku juga. Ini sungguh menakjubkan sekaligus mengerikan. Kedua naga itu menyerang Adudu dengan brutal.
Clakk...
Satu tangan milik robot Adudu telah patah dan dilemparkan.
Masih dengan memeluk Ying yang keadaannya sama denganku. Matanya terbelalak bahkan dia tak menutup mulutnya.
"Yaya"
Sebuah suara memanggilku. Aku tahu suara itu milik siapa. Namun aku terlalu terpaku menyaksikan kedua naga itu.
BESAR.. KUAT.. GANAS.. dan berbagai kata yang tak bisa kuucapkan.
"Yaya" suara itu memanggilku lagi. Namun aku bergeming. Akutak bisa menggerakkan leherku bahkan untuk melihat ying. Aku tak bisa berhenti menatap kedua naga itu.
Tubuhku bergetar aku takut sekaligus berharap. Dengan adanya kedua naga itu semua akan ber akhir dan mereka bisa menyelamatkan Halilintar.
Kurasa tubuhku digoncang-goncangkan namun aku masih terpaku. "YAYA, kita harus pergi dari sini! disini berbahaya"
Suaraitu membentakku, aku masih ketakutan, dengan kaku kugerakkan mulutku hanya untuk memanggil namanya.
"Ying." Suaraku sangat pelandan bergetar.
"Yaya cepatlah."
Kukerjapkan mataku. Aku sadar bahwa aku masih menggendong Ying. Aku harus pergi dari sini. Aku harus menolong Ying. Aku tak bisa membiarkannya dalam bahaya. Dengan cepat aku terbang dan pergi menjauh. Meski aku masih bingung. Aku segera membawanya ketempat yang aman.
"Ying tunggu disini."perintahku pada Ying ketika mendudukkannya di bangku agak jauh dari tempat pertempuran.
"Tap.." belum sempat ying melakukan potes aku segera terbang dan kembali.
End Yaya POV
OoooooooooooO
Ying POV
Aku dibawa Yaya pergi dari pertempuran. Ku tatap matanya. Ia takut. Ia khawatir. Ketika kami sudah cukup jauh dan aman. Yaya mendudukkanku di sebuah kursi. Kutatatap ia lagi.
"Ying tunggu disini." Ucapnya.
"Tap..." belum sempat aku protes Yaya telah berbalik dan meninggalkan aku sendiri disini.
"YAYA.." kupanggil namanya namun ia tak berbalik lagi. Segera aku berdiri dan menggerakkan kakiku.
"Ahhh..." kakiku sakit. Aku tak bisa berdiri apalagi berlari mengejar Yaya.
Aku hanya bisa diam. Namun aku bisa melindungui tok aba bukan.
Aku berdiri namun sakit sekali. Aku harus menahannya, setidaknya rumah tok aba sudah dekat sekarang. Rasa sakit ini tak sebanding dengan luka yang diterima teman-temannya di pertarungan. Dengan tertatih aku berjalan kerumah tok aba.
Hanya satu yang ada difikiranku "Aku percaya pada kalian."
End Ying POV.
OooooooooO
Kedua naga itu terbang dan melilit robot Adudu. Mencoba untuk meremukkannya.
"Gopal.. aku tak bisa mempertahankan nagaku lagi sekarang ubah robot itu" ucap Fanng yang mulai tak bisa mempertahankan kekuatannya lagi.
"Kau gila? Bagaimana aku meraihnya. Itu tinggi sekali."
"Kau bisa menembaknya kan?" ucap gempa.
"Tapi.."
"CEPATLAH" bentak Fang yang tak bisa lagi menahannya.
Sesaat sebelum Gobal menembakkan kekuatannya. Ia merasa terangkat. Ternyata Yaya mengangkatnya menuju robot itu.
"Yaya?"
"CEPAAT" teriak gempa kepada yaya dan gopal.
Sampailah Yaya dan gopal di tangan robot itu.
"Tukarann.. makanan.." teriak gopal mengaktivekan kekuatannya. Perlahan tangan robot itu berubah menjadi makanan.
"Komputer bagaimana ini?" tanya adudu panik.
"Gunakan semua energinya boz."
"Lakukan"
Seluruh Energi yang terkumpul bersatu di satu titik. dan mengeluarkan ledakan yang cukup untuk membuat Gopal dan Yaya tepelanting.
"ARGGG..."
"Yaya, Gopal. Eggg..." teriak Gempa ketika melihat kedua temannya terlempar jauh. Seketika itu juga, golem naga gempa hancur dan menjadi serpihan-serpihan tanah.
"Aku tak bisa menahannya lagi." Ucap Fang yang tak bisa mempertahankan naganya. Perlahan naga bayang Fang menghilang. Bersamaan dengan jatuhnya robot Adudu yang sudah rusak berat.
Namun meski robot adudu telah rusak berat, Adudu masih bisa menyuplai tenaga robot itu. Untuk menembakkan beberapa misil. Berbeda dengan boboiboy dan kawan-kawannya yang sama sekali tak memiliki tenaga bahkan untuk bergerak.
"HAHAHAHAHA.. kalian tak bisa lagi bergerak kan boboiboy. Semuah dah kalah. HAHAHHAHA" tawa Adudu melihat Boboiboy dan kawan-kawannya tak bisa lagi bergerak. Namun robotnya masih memerlukan waktu untuk bergerak dan menembaki boboiboy dan kawan-kawannya.
"Gempa macem mane ni?" ucap taufan panik. Ia sudah kehabisan semua energinya seperti teman-temannya yang lain.
Gempa juga bingung ia juga tak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap nanar teman-temannya dan menerima serangan Adudu.
OoooooooooooooO
Halilintar POV.
Tak ada lagi serangan. Apa semua sudah selesai? Bagaimana yang lain? Uh... aku masih tidak memiliki kekuatan.
"Penyerapan energi 70%" suara itu. Kubuka mataku, dan yang kulihat pertama kali adalah teman-temanku yang sudah benar-benar kalah.
"Penyerapan energi 80%"
80% kah? Kukumpulkan seluruh tenagaku.
"Penyerapan energi 90%" kututup mataku. Cukup aku benar-benar marah.
"Penyerapan energi 100%"
Sekarang. Kubuka mataku dan kurasa mataku sudah bewarna merah. Seluruh tubuhku mengeluarkan percikan listrik berwarna merah.
"HAHAHAHA hapuslah kau boboiboy" kudengar si brengsek Adudu itu berbicara.
Klang.. klang.. klang.. klang...
Seluruh borgol yang menahanku terlepas.
Crakk..crakk... crak...
"ARGGGGHHHHHHHHHHH..."
End Halilintar POV
OoooooooooO
Dada robot itu terbuka dan mengeluarkan sebuah penembak yang mengumpulkan energi berwarna merah. Namun sebelum energi itu ditembakkan. Badan dari robot itu meledak satu-persatu.
"Komputer apa yang terjadi?" ucap Adudu panik.
"Boz.. seluruh panel energi meldak karena kelbihan energi boz."
"Gyaaa..." teriak Adudu ketika ruangan tempat Halilintar diambil energi nya meledak.
Asap mengepul dari ledakan itu. Perlahan asap itu menghilang dan menampilka sesosok manusia berbaju hitam merah dan membawa sepasang pedang halilintar berwarna merah yang sangat panjang.
"BRENGSEK..." ucap halilintar rendah. Dia berjalan kearah Adudu.
"Ha-Halilintar. Ak-aku.."
"Sudah cukup. Aku akan mebunuhmu. Cukup sudah gempa dan yang lain membiarkanmu hidup selama ini" ucapnya rendah. Namun cukup membuata Adudu ketakutan.
Adudu mencoba menggerakkan robotnya. namun robot itu telah mati. Halilintar menebaskan pedangnya dan memecahkan kaca yang melindungi Adudu. Diraihnya Adudu dan dilemparkannya kearah teman-temannya.
Adudu bergetar. Dia takut sekarang. Dilihatnya mata Halilintar yang menyalang merah. Halilintar melompat turun dari robot itu dan berjalan kearah adudu.
"Ha-halilintar?" ucap gempa ragu ketika melihat Halilintar didepannya.
Halilintar mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Ingin menebas Adudu yang bergetar menatap Halilintar.
Halilintar menatap dingin Adudu. jika seperti biasanya mereka akan membiarkan Adudu kabur setelah mereka berhasil mengalahkannya. Sekarang ia tak mau melakukannya. Adudu harus mati ditangannya karena telah memanfaatkannya lagi untuk melukai teman-temannya.
"Halilintar jangan membunuhnya!" ucap Gempa.
Halilintar mendelik kearah Gempa.
"Dan membiarkannya melukai kalian lagi? Yang benar saja."
"Aku tahu. Tapi kita tak bisa membunuhnya!"
Halilintar hanya diam. Jujur dia sangat marah dan masih tak terima melihat teman-temannya terluka dan dia hanya terpasung di ruangan dengan energinya yang terkuras.
"Adudu pergilah." Ucap Gempa membiarkan Adudu pergi ketika dilihatnya Halilintar menutup matanya. Mencoba menenangkan diri.
Adudu segera lari meninggalkan mereka.
"Komputer. Teleport aku ke pesawat." Ucap adudu. Tak lama kemudian sebuah kapal ruang angkasa terbang diatas mereka dan menteleport Adudu.
"Aku akan kembali boboiboy" ucap Adudu ketika hampir memasuki pesawat.
Halilintar yang mendengar itu langsung membuka matanya dan melempar Adudu dengan pedang halilintar yang dipegangnya.
"Huhh..." halilintar hanya mendengus ketika melihat Adudu hanya menerima satu serangan darinya.
Gempa bangkit dan berlari mendekati Halilintar. Ketika Halilintar berubah menjadi petir dan jatuh tak sadarkan diri.
"Halilintar?" semua segera berdiri dan mendekati petir.
OoooooooooooO
"Weeeeeeeeeeewwwwwww... hahaha terbaik lah Angin. Lagi.. lagi.." ucap boboiboy api yang sedang bermain dengan Angin.
"Heyy? Bagaimana luka kalian?" ucap Yaya yang keluar dari rumah tok aba.
"Tak apa lah. Sudah baikan juga" kata Angin santai dan mesih terus mengeluarkan anginnya.
"Huh... Fang bagaimana lukamu?" dengus yaya dan kemudian berbalik menatap Fang yang duduk sambil minum hot cocholate tok aba.
"Sudah baik. Kau?" jawab Fanng tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Yahh.. sudah."
"Petir masih belum sadar?" tanya Fang.
"Belum. Kurasa energinya terkuras habis. Seharian penuh dia tak sadar."
"Ohh..."
Yaya berbalik dan masuk kedalam rumah. Dilihatnya Tanah, Ying, tok aba dan Ochobot sedang melihat TV. Yaya menaiki tangga dan mengecek keadaan petir. Dibukanya pintu kamarnya perlahan, dilihatnya petir yang duduk sambil menghadap jendela.
"Bagaimana keadaanmu, petir?"
Petir tersentak dan membalikkan tubuhnya menghadap Yaya.
"Aku tak apa." Ucapnya singkat.
"Tidurlah lagi" ucapnya lebut dan duduk di samping tempat tidur.
"Tak apa." Ucap Petir. Mencoba turun dari tepat tidur. Namun belum juga satu langkah ia berjalan, ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan gampir jatuh.
"Eh.. petir kau tak apa?" tanya Yaya panik dan memegangi petir. "Kau mau kemana?"
"Kebawah. Ehmm... bagaimana keadaan yang lain?"
"Kau lihatkan api dan Angin sedang bermain-main. Tenang saja yang lain baik-baik saja kok." Ucap Yaya menenangkan petir.
"Biarkan aku turun" kata petir.
"Huh.. Baiklah." Kata Yaya akhirnya mengalah dan membawa petir kebawah.
Tanah yang melihat Yaya sedang memapah petir langsung berdiri dan mendekati mereka untuk membantu.
"Kau sudah sadar petir? Kenapa kau turun?" tanya Tanah khawatir.
"Aku bosan" ucap petir singkat.
Saat mereka sampai ke kursi didudukkannya Petir dengan hati-hati.
"Uhhmm... aku minta maaf telah membuat kalian semua terluka." Kata petir pelan dengan wajah memerah menahan malu.
"Tak apa. Itu salah kami juga. Tak bisa melindungimu"
"Siapa yang perlu kau lindungi" dengus Petir.
Namun ia tersenyum tipis. Ia merasa senang, setidaknya meskipun dia dalam masalah besar. Ia selalu bersama teman temannya untuk mengatsinya.
END
Waaaaaa... endingnya nggak pas banget.
Maaf karena saya nggak bisa bikin lebih panjang lagi.
Maaf kalo gaje semua.
Terimakasih telah membaca fic with friend ini.
Nah.. kalo ada yang review minta sequel or prolog.
saya akan usahain untuk membuatnya.
Saya tunggu 1 minggu kalo nggak ada ya nggak buat hehehehehe...
Jadi REVIEWW PLEAASEE
