Terjemahan dari fic sebelumnya.

Selamat membaca uuuu

"Bodoh, apa yang sedang kau lakukan di sini? Aku mencarimu sedari ta―ehm. Siapa itu Naruto?" Tanya Sasuke keheranan melihat Naruto memperhatikan seorang perempuan berambut aneh sedang bernyanyi.

"Hm?" Naruto mengangkat sebelah alisnya."Oh, maksudmu Sakura? Kau mau aku memanggilnya?" dan Naruto menganggap diam Sasuke sebagai 'iya'.
"Nengpanggilan untuk perempuan yang lebih muda―Sakura, kesini dulu sebentar." teriak Naruto pada gadis itu. "Oh, iya kangpanggilan untuk kaka laki-laki atau laki-laki yang ditua-kan― tunggu sebentar." Jawab Sakura tak kalah keras.

.

Senja masih menggurat di cakrawala ketika Sakura melangkahkan kaki dengan riang di pematang sawah. Tak pelak para petani yang sedang bersiap-siap untuk pulang pun tersenyum kecil melihat tingkah Sakura. Penyebabnya? Tentu saja, karena Naruto―seseorang yang telah memikat hatinya dalam setahun belakangan ini―telah kembali ke desa setelah menempuh pendidikan di kota. Sakura pun bernyanyi, menyuarakan kebahagiaan hatinya kepada dunia, tanpa beban. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang memanggilnya, suara yang sangat ia rindukan.

.

"Aduh kang, kok baru bertemu lagi. Apa kabar?" tanya Sakura setibanya di tempatNarutodanSasuke. "Baik. Begini cantik, kenalkan. Namanya Sasuke Uchiha. Sasuke itu asalnya dari Jepang, tapi bisa berbicara bahasa indonesiadan bahasa sunda kasarkarena sudah 3 tahun kuliah di sini."ujar Narutodengansantai.

Sakura mengangguk paham, lalu ia mulai memperkenalkan dirinya. "Tepangkeun, wasta abdi Sakura van den Heuvel. Kawitna abdi the ti Belanda, tapi waktos uswa abdi 3 taun abdi ngalih kadieu." ucap Sakura panjang-lebar.

"Tidak bisakah kau berbicara menggunakan bahasa indonesia?" tanya Sasuke sinis. Sakura hanya berdecak kesal mendengar kata-kata Sasuke.

"Tentu saja bisa. Perkenalkan, namaku Sakura van den Heuvel―dan seperti yang aku katakan tadi―Aku berasal dari Belanda. Tetapi pada umur 3 tahun aku pindah ke sini. Apakah semua itu sudah jelas, Meneerpanggilan untuk tuan dalam bahasa belanda―?" tanya Sakura dengan nada kesal.

Saat Sasuke akan membalas ucapan Sakura, tiba-tiba Naruto berkata "Ah, Sasuke, bisakah kau mengantar Sakura pulang? aku lupa jika sore ini aku dan ayahku harus pergi ke balai desa"

"Hn" "Tidak mau!" jawab Sasuke dan Sakura berbarengan.

Naruto meringis. "Maaf neng, akang lupa. Sudah ya, akang sudah telat." Ia pun pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura.

Sakura menghela napas. "Baiklah. Tapi, bisakah kau menjauh dariku? Kau menyebalkan."

"Hn" balas Sasuke dingin. Sakura berdecak kesal, "Dasar menyebalkan!" ujar Sakura sembari meninggalkan Sasuke di belakang.

.

.

Sasuke dan Sakura masih berjalan pulang ketika mereka melihat segerombolan orang pergi terburu-buru.

"Kang kiba? Mau pergi kemana ini kok berbondong-bondong?"tanya Sakura pada salah satu orang dari gerombolan tersebut.

"Eh Sakura dikira siapa. Ini ada pergelaran wayang golek di balai desa, ayo kita kesana!" jawab lelaki yang dipanggil Kiba semangat.

"Ayo pergi" balas Sakura. Sakura pun mulai berjalan bersama gerombolan tadi. Seolah teringat sesuatu, tiba-tiba Sakura berhenti pada langkah ketiga. "Eh lupa ada si Meneer. Ayo nanti ketinggalan!"

Sasuke hanya mengendikkan bahu. "Untuk apa? Aku tidak akan bisa mengerti semua jalan ceritanya"

Sakura menarik tangan sasuke. "Tapi kalau sedikit masa nggak mengerti?, Ayolah.." Sasuke memutar bola matanya. "Terserah."

Sasuke dan Sakura kembali berjalan―dengan Sakura yang masih menarik tangan Sasuke tentu saja―dalam keheningan. Sesampainya di balai desa, mereka pun bertemu Naruto yang sedang membereskan kursi.

"Kang Naruto!" seru Sakura semangat.

"Eh ada Sakura, ayo duduk di depan! Agar kita..eh Sasuke? Kamu ikut?" tanya Naruto bingung ketika melihat Sasuke.

Sasuke menyeringai. "Memang tidak boleh?"

"Eh ditanya malah balik bertanyamemang bakal mengerti gitu?" ujar Naruto kesal.

"Aku ikut juga karena aku ingin ngerti kamu tuh―"

Tiba-tiba Sakura memotong perkataan Sasuke. "Ey Meneer ngomong kasar! Ayo kita kedepan cepat!"

"Ah kamu juga ngomong kasar" ujar Sasuke tak mau kalah.

"Ih maksud 'urang'* di sini itu artinya kita! Masa gitu aja ngga tau" Sakura memeletkan lidahnya.

"Sudahlah berisik. Tuh kan jadi diperhatikan orang" tandas Naruto sembari mendorong kedua temannya untuk duduk.

Akhirnya mereka duduk di tempat yang disebutkan Naruto tadi. Tak lama kemudian, pentas wayang yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Alat musik pengiring pertunjukan wayang dimainkan; para sinden pun mulai menyanyi dengan indahnya. Tiba-tiba, Sasuke bertanya. "Woy Naruto, pentas wayang ini menceritakan apa?"

Naruto mendengus. "Biasa aja nanya nya ngga usah sambil nyolot"

"Pentas ini menceritakan perjuangan Erawan Palastrasalah seorang putra Arjuna yang membantu perjuangan pandawa melawan kurawa di perang baratayuda." jawab seseorang di sebelah Sasuke.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Kau siapa?"

"Aku Sai. Anak kepala desa di sini." Jawab lelaki yang bernama Sai tersebut.

Tiba=tiba Sakura menyeletuk."Eh Sai, di sini bakal ada cepot gak?"

"Hm, ada ngga ya.." Sai mengelus dagunya. "Pingin tau aja ah kamu mah"Sai menyeringai.

"Ish" Sakura mengerucutkan bibirnya.

Musik yang menjadi pembuka pentas itu selesai; pertunjukan wayang sesungguhnya pun dimulai. Saat para wayang sedang berbicara, Sasuke bertanya lagi. "Kalau wayang yg berwujud seperti ular itu siapa?"

"Itu kakeknya Erawan" jawab Naruto tanpa melihat ke arah Sasuke

"Kalau yang didepannya?"

"Itu Erawan Palastra―tokoh utama dalam cerita ini"

"Terus wayang yang di belakang Erawan―"perkataan Sasuke tiba-tiba terhenti ketika Sai―lelaki di sebelahnyamenoyor kepalanya seraya berkata;

"Kamu mah katanya nonton tapi nanya terus, berisik tahu!"

Sasuke tergelak; Ia pun terdiam setelahnya. Tak lama,datang sebuah wayang berkata―yang kalau Sasuke tidak salah dengar―bahwa perang antara pandawa dan kurawa sudah dimulai di Tegal Kurusetra.

"Jigperintah untuk pergipergi. Akan tetapi jangan bawa dengki. Brahhampir sama artinya dengan jig pergi namun jangan bawa dendam. Karena apa? Ingat. Apabila kepergian kamu dari pembakarandalam hartian hati kamu terbakar kesana nya akan jadi bara atau jadi debu." ucap sebuah wayang yang mereka ketahui sebagai eyang dari Erawan.

"Kalau perkataan orang tua tuh suka jadi pikiran duh―" celetuk Sai ketika mendengar nasihat dari eyang Erawan.

Naruto mengangguk "Iya Sai bener"

Wayang tadi pun melanjutkan. "Apabila kamu pergi dari pembakaran dalam arti kamu akan tewas sebelum perang, akan mati sebelum pertempuran, akan terbunuh sebelum perang. Ikhlaskan ridhoi itu. Demi menentukan adil bersama benar sekalipun kamu tewas di medan tempur membela negara bersama bangsa menentukan adil bersama benar kamu seorang namun ribuan kamu yang akan datang di akhir."

Sakura masih asik memperhatikan pagelaran wayang di depannya sampai ia merasakan sesuatu bersandar di bahunya. Jantungnya berdebar kerasia merasakan gelenyar aneh menyerang perutnya ketika melihat Sasuke sedang mendengkur halus di bahunya.

"Meneer, jangan tidur dulu atuh, kan wayangnya belum beres.''ujar Sakura seraya mendorong lengan sebelah kiri Sasuke.

"Hmh..sepuluh menit juga ngga tidurteh" gumam Sasuke seraya membuka mata dan meregangkan tubuhnya; membuat beberapa orang protes di belakangnya karena pandangan mereka terhalang regangan lengan Sasuke.

Sasuke kembali menguap. "Sekarang sudah jam 11 malam bodohkau tidak takut saat pulang nanti?"

"Rumahku di belakang balai desa ini." jawab Sakura masih menormalkan detak jantungnya.

Sasuke hanya mengendikkan bahu. "Kalau begitu, tanyakan pada Naruto di mana aku beristirahat setelah pulang dari" Sasuke melotot ketika tak sengaja melihat Naruto sedang tertidur pulas di kursinya.

"Kau gila tidakmembangunkanku yang baru sebentar tidur sedangkan Naruto sudah tidur pulas seperti itu tidak dibangunkan!" ujar Sasuke seraya menatap tajam Sakura.

Sakura menunduk.Perasaan aneh saat melihat Sasuke tertidur tadi langsung tergantikan menjadi perasaan takut ketika melihat lelaki di depannya menatap tajam dirinya,

"T-Tidak tega"cicit Sakura pelan.

"Pokoknya. Bangunkan. Naruto. Sekarang"ucap Sasuke penuh penekanan.

"Iya deh bentar―Kang Naruto, bangun dulu ih sebentar" Sakura menggoyang-goyangkan tubuh Naruto.

"Ada apa neng?" tanya Naruto masih dengan mata tertutup.

"Ini katanya Meneermau tidur dimana tempatnya?"

Naruto pun membuka matanya "Aduh iya Sasuke―"

Sasuke hanya memutar matanyabosan dengan kelakuan Naruto yang selalu pelupa.

"Ayo kalau mau istirahat, aku pun sudah mengantuk"

Sasuke mendengus pelan. Ia pun melihat pada Sakura yang kembali memperhatikan pagelaran wayang di depan.

"Heh, jangan terlalu malam tidurnya" tutur Sasuke sembari mengacak-ngacak rambut Sakura. "Bahaya" lanjutnya.

Sasuke dan Naruto pun pergi meninggalkan tempat itu; Sakura menatap sendu mereka berdua.

"Meneer.." lirihnya.

.

.

.

WAHAHAAA MAAF FIC NYA NISTA X'D ini fic pertama aku setelah sekian lama hiatus btw. Oh iya, chapter 2 merupakan terjemahan dari chapter ini. So, mind to review?