Bekal yang Tertukar

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Pairing : Sasuke-Sakura

Genre : Romance/drama

By Uchiha Ghita

2014

" Ingat cerita dibawah ini hanya karangan fiksi belaka, jika ada kesamaan tokoh atau kesamaan cerita itu hanya kebetulan semata"

"Moshi-moshi.." Sasuke menjawab. Sakura hanya melihat.

"..."

"Baiklah, aku akan kesana." Sasuke menatap Sakura sekarang.

"Maaf, Sakura sekarang aku harus pergi besok kita lanjutkan lagi?" Sasuke menatap Sakura. Sakura mengangguk patuh.

Tidak ada besok untuk mereka, karena setelah hari itu mereka menjadi menjauh juga karena hari itu hari terakhir mereka dekat satu-sama lain. Dan bisa kah mereka bersama lagi? Kapankah besok itu akan datang?

"Moshi-moshi.." suara diujung sebrang sana.

"Sasuke-kun, tolong aku hik.. aku mohon.. hik.." ucap gadis berambut dia menangis? Kenapa setelah menutup telepon itu dia tersenyum?

III

Sasuke sampai di tempat-kafe Karin. Karin yang melihat kehadiran Sasuke langsung memeluk lelaki itu.

"Syukurlah kau disini, Sasuke-kun..." Karin telihat lebih tenang.

"Ada apa sebenarnya ini Karin?" Sasuke terlihat bingung.

"Tunggu saja Sasuke-kun..." Karin seperti menunggu seseorang.

"Lalu, kenapa tadi kau menangis? Kau mencoba menipuku Karin?" Sasuke kesal.

"Sabaar.., aku mohon." Karin mengedarkan pandangannya lalu, tersenyum mendapatkan seseorang mendekati mereka.

"Itu dia.."ujar Karin, membuat Sasuke ikut mengedarkan pandangannya pada seseorang yang di tunggu Karin. Orang itu sekarang duduk begabung dengan mereka berdua.

"Kenalkan Sasuke dia Suigetsu.. orang yang melihat kelicikan Sakura!" sahut Karin.

"Apa maksudmu?"Sasuke terlihat marah.

"Begini.." Suigetsu angkat bicara. "Aku melihat sendiri Sakura menukar bekalnya dengan bekalmu."ujarnya meyakinkan.

"Bagaimana kau tahu bekal kami tertukar?"

"Karena Sakura sudah merencanakannya, dan ini.." Suigetsu memberikan sebuah buku catatan berwarna merah muda.

Sasuke tertegun melihat foto-foto dirinya tertempel disetiap lembar buku itu. Ia ingat itu foto-foto dari dia masih dibangku menengah pertama hingga sekarang. Dan sasuke tahu puisi-puisi yang ada didalam buku itu percis dengan tulisan Sakura. Bisa Sasuke lihat setelah puisi tersebut tertempel foto dirinya. Begitu seterusnya tiap lembarnya.

"Aku, tidak percaya dia melakukannya." Sasuke menutup buku itu. Saat Sasuke akan segera pergi, Karin langsung angkat bicara.

"Ayo kita buktikan panggil Sakura sekarang!" tantang Karin.

"Baik!".

Sasuke lalu segera menelpon Sakura, dan menyuruhnya segera datang ke kafe ini.

"Ada apa Sasuke?" Saat Sakura tiba. Ia sekilas melihat Karin dan Suigetsu.

"Ini apakah, buku ini milik mu?" Sasuke menyodorkan buku catatan merah muda tersebut.

"Seperti milikku, kenapa bisa disini?" Sakura sedikit heran dan mengambil buku itu.

"Jelaskan Sasuke-kun!" Karin memprovokasi.

"Tapi..." Sakura membuka buku itu. "Yang berada didalamnya, jelas bukan tulisanku." Sakura lalu menatap Sasuke.

"..." Sasuke menatap tajam Sakura.

"Aku bisa membuktikannya, punyaku aku tidak sengaja meninggalkannya dilokerku, diloker sekolah."

"Baik, kita buktikan besok!" Karin tersenyum.

Inilah hari dimana ingin Sakura lupakan semua yang terjadi. Hari paling mengecewakan dan paling memalukan.

"Baik, merah muda silakan buka loker mu!"Karin membenarkan kacamatanya.

Sekarang pagi sekali mereka-Sakura,Sasuke,Karin,Suigetsu, berdiri didepan loker Sakura. Banyak siswa-siswi sekolah ini melewati mereka sambil memandang heran.

"Baik.., akan aku buktikan!"Sakura sekarang membuka loker miliknya seraya mencari buku catatan hariannya.

"Aneeh... kenapa tidak ada ya?" sekarang Sakura membongkar isi lokernya.

"Terbuktikan Sasuke, lihat gadis itu. Penipu!" Karin memandang Sasuke.

"Bukan begitu! Ini fitnah, aku baru mengenalmu sekarang sungguh!" Sakura mencoba meyakinkan Sasuke lalu memegang tangan Sasuke.

"Tidak ada orang yang akan mengakui kebohongannya bukan, oh bukankah kakak kalian bersahabat? Heem..., kau pintar Sakura mengorek-ngorek tentang Sasuke lewat kakak mu!" Karin semakin membuat suasana kacau.

"Itu..., tidak benar Sasuke!" Sakura memandang Sasuke lalu meneteskan air matanya.

Sekarang sudah banyak siswa yang memandang mereka seraya membicarakan mereka.

"Cukup..."Sasuke melepaskan tangan Sakura. Lalu ia pergi menjauh.

Sasuke sadar semenjak kejadian satu tahun yang lalu Sakura mulai menjauhinya. Dia juga sadar betapa bodohnya dia padahal dia tahu Sakura benar. Tapi dia bingung karena sebelum dia tahu bahwa Sakura benar dia telah menyakiti Sakura.

-Sore hari setelah kejadian di depan loker Sakura-

Sakura sudah mencoba menghubungi Sasuke, tapi tidak ada jawaban entah mengapa ia tidak mau hubungannya dengan Sasuke berakhir seperti ini. Sekarang ia sudah menunggu di taman, tempat pertama kali ia bertemu Sasuke. Ia juga sudah mengirimkan pesan untuk sasuke bertemu ditaman ini.

Walaupun sedikit khawatir Sasuke tidak datang, ia tetap menunggu. Dan, hingga akhirnya datanglah seseorang yang ia tunggu. Sakura bisa tersenyum lega. Benarkah?

"Syukurlah, kau datang."Sakura mencoba tersennyum.

"Cepat aku tak ada waktu."Sasuke menjawab dengan malas.

Sakura menarik nafas dan tersenyum kecut.

"Semuanya tidak benar Sasuke!"ucap Sakura tegas.

"Jujur saja, aku bisa memaafkanmu. Walau aku takkan mempercayaimu lagi." Ucap Sasuke sarkatis.

"Aku sudah berkata jujur. Untuk apa aku berbohong, dengan mengakui kesalahan yang tidak pernah aku perbuat!"Sakura menatap Sasuke dalam.

"Kau tahu itu perbuatan yang salah bukan? Tapi kenapa kau melakukannya?"Sasuke menatap Sakura tajam.

"Aku bilang aku tidak pernah melakukannya. Aku tidak pernah tahu kamu siapa! Aku juga baru tahu kau adik Itachi-nisan!"

"Semua sudah terbukti Sakura apalagi? Aku tahu itu seperti tulisan mu, oh bukan memang tulisanmu! Lalu, di lokermu, juga tidak ada bukan?"Sasuke membuang wajahnya kelain arah.

"Kau benar-benar tidak mempercayaiku? Kau lupa semua yang pernah kita lakukan?" Sakura meneteskan air matanya.

"..."

"Aku sudah jujur..."Sakura menundukan kepalanya.

"Aku benci pembohong."Sasuke sedikit tersentak dengan ucapanya sendiri. Sakura mencoba menahan air matanya gar tidak terus menetes.

"Jika aku hanya pembohong bagi mu, maaf semoga kau bahagia dengan teman yang kau anggap jujur yang ada disekeliling mu!" Sakura memberanikan menatap Sasuke walau air matanya terus menetes.

Sakura berlari meninggalkan Sasuke sambil menangis. Sasuke sedikit merutuki perbuatannya apalagi membuat seorang gadis menangis. Sekarang dia jadi bingung siapa yang benar. Dia hanya bisa berharap agar Kami-sama menunjukan kebenarannya. Ia sekarang bergegas pulang kerumahnya.

"Tadaima..."

"Okaeri... hey Sasuke sore sekali." Itachi menyambut adiknya. Sementara Sasuke langsung duduk di kursi.

"Nii-san, benarkah Sakura baru mengetahui aku adikmu sejak bekal kami tertukar?"

"Tentu saja, aku juga baru tahu Sakura sekolah disekolah kita saat bekalmu tertukar. Aku pernah beberapa kali berpapasan jika berkunjung ke rumah Sasori." Itachi membaca majalah otomotif di pangkuannya.

"Hn.. apakah, dia pernah bertanya tentang ku, sebelum bekal kami tertukar?"

"Ayolah Sasuke, Sakura baru mengenalmu saat bekal kalian tertukar mana mungkin dia menanyaimu. Kecuali dia maniak stalker.. aku tahu banyak fans mu tak kalah banyak dengan fans ku.. tapi kalau dipikir aku takut juga kalau fans ku berubah jadi maniak yang memfotoku dimana pun aku berada... hiih"Itachi berwajah sedikit ngeri.

"Apakah, menurutmu Sakura, akan menjadi tipe orang seperti itu?"

"tidak mungkin, jika itu Karin aku baru yakin.."ucapan Itachi membuat hati Sasuke mencelos.

"Oh ya, Sasuke ngomong-ngomong tentang Sakura aku menemukan ini!"Itachi melemparkan buku catatah harian berwarna merah muda.

"Ini buku harian Sakura?"Sasuke heran.

"Lebih tepatnya bukan buku harian untuk mengungkapkan isi hati, hanya beberapa catatan biasa seperti tugas, jadwal kegiatannya, aku tidak menyangka dia les karate."Itachi sangat antusia, Sasuke membuka buku tersebut.

"Ini, benar punya Sakura. Dia tidak berbohong bahkan disini terselip foto dia dan Sasori-niisan."pikir Sasuke.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan buku ini?"

"Kebetulan saat aku bertemu Garra, untuk membicarakan perpisahan kelas tiga dia menitipkan ini pada Sasori, aku juga heran kenapa Garra tahu Sakura adik Sasori."

"Garra? Sabaku Garra? Kelas sebelas itu?"

"Iyaap, calon penggantiku.."Itachi pergi meninggalkan sasuke untuk mengambil segelas air.

"Baka! Aku tak tahu harus bagaimana sekarang?"lamun Sasuke putus asa.

Sejak kejadian ini Sakura malu untuk bertemu Sasuke. Dia selalu menghindar bila dekat Sasuke. Sasuke juga masih belum jujur jika dia tahu kebenarannya dia tidak berani,malu juga gengsi mengakui bahwa dia salah. Sasuke hanya bisa memandang sakura dari jauh. Sakura selalu menundukan kepalanya jika ada Sasuke. Bila sasuke ingin mengembalikan kenangan mereka saat bersama. Lain halnya dengan Sakura, ia ingin melupakan kenangannya dengan Sasuke. Dia sudah sangat sakit hati dan kecewa.

"Ini, sudah satu tahun Sakura. Kau masih ingin menghindariku?"pikir Sasuke.

"Ohayo.. seperti yang kalian ketahui, aku Hatake Kakashi adalah walikelas kalian. Dan, mari kita acak tempat duduk kalian agar kalian mudah membaur."

"Kami-sama, jangan dekatkan aku dengan orang itu..."harap Sakura.

"Sasuke silakan pindah kebangku Hinata, begitupun sebaliknya."

"Siiaal... aku sangat sedang sial hari ini mungkin untuk hari kedepannya lagi."rutuk Sakura dalam hati. Dia memalingkan wajahnya tidak tertarik.

"Akhirnya, ini kesempatanku untuk memperbaiki semuanya!"Sasuke tersenyum kecil.

Sasuke memalingkan wajahnya kekiri badannya dan sengaja menatap seorang disebelahnya.

"Uchiha baka! Kenapa dia terus memandangiku!"gumam Sakura tak sadar.

"Aku, tidak memandangimu, aku sedang melihat pertandingan futsal kelas dua belas."

"Siaal... dia mendengarnya!"Sakura memukul kepalanya pelan kemeja.

"Kau ingin membuat dahimu yang lebar semakin lebar hah?"Sasuke tersenyum.

"Berisik baka, aku tak butuh suaramu!" Sakura menatap Sasuke tajam lalu menenggelamkan kepalanya diantara dua tangannya.

"Haaah..."Sasuke menarik nafas dalam.

"Sakura, yakin tidak ingin ke kantin?"Hinata memandang temannya.

"Kau duluan saja.."Sakura menggeleng dan tersenyum.

"Kau, tak pernah menunjukan senyum itu lagi padaku Sakura."pikir seseorang disebelah Sakura.

Sakura membenarkan poninya, dia heran kenapa orang disebelahnya tidak mau keluar bangku. Dia sekarang terjebak tembok oleh dibelakangnya dan orang menyebalkan disebelahnya. Dia sangat malas berbicara dengan orang sebelahnya.

"Minggir!"sahut Sakura malas.

"..."Sasuke asik membaca buku ditangannya, membuat Sakura semakin kesal.

"Dasar, Uchiha tuli keras kepala!"Sakura menaiki meja dan meloncat keluar jendela itu, membuat Sasuke takjub.

"Bruk..."Sakura menindih seseorang, dia cepat-cepat berdiri.

"Gomenasai... senpai"Sakura membungkuk tak enak.

"Tidak apa.."orang itu tersenyum menatap Sakura.

Sakurapun tersenyum canggung dan sedikit heran, dia membalikan badan dan berjalan meninggalkan orang itu. Bodoh hingga menindih ketua murid-Garra, setidaknya itu yang dia pikirkan. Sementara Garra hanya bisa tersenyum memandang kepergian gadis itu.

"Hey, Sakura ini sudah hampir habis waktu istirahat dan kau baru kekantin?"Ino mengomel sementara Sakura duduk dihadapan Hinata dan Ino.

"Aku, malas.. pig!"sahut Sakura asal.

"Bagaimana Sakura-chan keluar bangku?"Hinata menyelidik.

"Apa maksudmu Hinata?"Ino heran.

"Teman sebangku Sakura-chan itu Uchiha-san, Ino-chan."jelas Hinata. Sementara Sakura menatap mereka tajam.

"Kalian kira aku akan mati bila didekatnya? Heh?"Sakura menggelang bosan.

"Aku kira itu akan menjadi pilihanmu jidat jika kau dipilih mati atau hidup bersamanya!"sekarang Sakura sudah mantap mencubit ini. Hinata hanya bisa memandang Ino dengan pandangan kasihan.

"Oh.., ayolah aku hanya ingin tidak terlihat olehnya, aku hanya ingin dia tidak menyadari keberadaanku. Aku sangat buruk dimatanya... jadi.."ucapan Sakura terhenti karena Ino sudah menyelanya.

"Berhenti membicarakannya jidat, bukan kah kau ingin melupakannya? Aku sudah cukup melihat mu menderita beberapa bulan dia sudah melupakannya?"Ino menyemangati.

"Ino-chan benar Sakura-chan. Coba lupakan saja, atau coba dimulai dari awal."Hinata menyarankan.

"Bahkan saat menatapnya saja membuatku sakit... huuft..."Sakura menghembuskan nafas berat sekali.

Mereka tidak menyadari semenjak tadi sepasang mata onyx, menguping pembicaraan mereka.

"Kau, benar-benar tidak ingin melihat ku kah.. Sakura?"pikir seseorang itu.

"Sakura-chan, pulang sekolah langsung pulang kah?"Hinata membalikan tubuhnya menatap temannya.

"Hai.. Hinata-chan, tapi sebelumnya aku harus menelpon Sasori-nii.."jawab Sakura.

Sakura merogoh saku roknya, tapi tidak ada ponselnya. Ia memeriksa saku kemejanya juga tdak ada. Sasuke disebelahnya menatap dia sedikit heran.

"Ne... ada apa Sakura-chan?"Hinata bingung melihat Sakura.

"Gawat handphone ku tidak ada..."ujar Sakura sambil menghempaskan badannya kekursinya.

"Coba di tas mu periksa!"ujar Hinata.

"Ceroboh.. seperti biasa."ucap teman sebangku Sakura. Membuat Sakura menatapnya sengit.

"Komentar mu, sama sekali tidak membantu."

"Biar ku coba telepon..."Hinata mengambil ponselnya disaku.

"Untung yang menemukannya Garra senpai.."Hinata bernafas lega dan menutup ponselnya.

"Siapa? Garra senpai?"tanya Sakura.

"Heem..."angguk Hinata.

"Aah... aku baru ingat, aku jatuh menindih tubuhnya saat melompat dari jendela tadi."

"Mencari kesempatan.."ucap seseorang sarkatis.

"Berhenti ikut campur Uchiha, aku membenci seseorang yang selalu ikut campur tanpa memberi solusi!"Sakura menatapnya tajam.

"Apa ini balasan untukku?"Sasuke memasang airphone di telinganya lalu memejamkan mata.

"Um.. Garra senpai menyuruh pulang sekolah nanti menunggu di atap."

"Sankyu... Hinata-chan.."

"Kembali.."

"Haruno-san?"orang itu menepuk bahu Sakura.

"Nee, senpai... gomenasai, sangat merepotkan mu."Sakura membungkukan badannya.

"lie.. ini handphone mu..."Garra menyodorkan smartphone merah muda. "Sama seperti waktu itu bukan"Garara membalikan tubuhnya kearah pagar lalu menatap langit.

"Maksud senpai?"Sakura tidak mengerti.

"Aku menemukan barang mu juga setahun yang lalu, kau tidak ingat?"Garra menatap Sakura heran.

"Aku malah tidak tahu."Sakura bingung.

"Souka? Padahal aku menemukan catatan harianmu yang berwarna merah muda di tempat sampah depan kelasku, setahun yang lalu."jelas Garra.

"Benarkah? Aku memang kehilangan buku itu bahkan hilang hingga sekarang."

"Aku menitipkannya pada seseorang.. dia tidak memberikannya padamu?"tanya Garra heran.

"lie... siapa, orang yang kau titipkan?"Sakura entah kenapa penasaran.

"Itachi senpai.."jawaban Garra membuat Sakura melebarkan matanya.

To Be Continue

^Sesi Author^

pertama, special thank's to, mina 1/mandavvdenarint/leedidah/hanazono yuri/madeh18/chi-chan uchiharuno/azriel/iqma96/ryuhara shanci/arisa sakakibara.

terimakasih buat readers super ini, yang mau ngehabisin waktunya buat review.. yang lain ayo dong review biar authornya semangat nih buat nulis.. yaa yaa heheh semoga kalian suka ya ceritanya tentang moment sasusaku ada waktunya kok, maaf ya kesannya author buat peran karin jahat disini.. gomen.. see ya next chapter ;)