Bekal yang Tertukar

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Pairing : Sasuke-Sakura

Genre : Romance/drama

By Uchiha Ghita

2014

" Ingat cerita dibawah ini hanya karangan fiksi belaka, jika ada kesamaan tokoh atau kesamaan cerita itu hanya kebetulan semata"

"Aku menemukan barang mu juga setahun yang lalu, kau tidak ingat?"Garra menatap Sakura heran.

"Aku malah tidak tahu."Sakura bingung.

"Souka? Padahal aku menemukan catatan harianmu yang berwarna merah muda di tempat sampah depan kelasku, setahun yang lalu."jelas Garra.

"Benarkah? Aku memang kehilangan buku itu bahkan hilang hingga sekarang."

"Aku menitipkannya pada seseorang.. dia tidak memberikannya padamu?"tanya Garra heran.

"lie... siapa, orang yang kau titipkan?"Sakura entah kenapa penasaran.

"Itachi senpai.."jawaban Garra membuat Sakura melebarkan matanya.

IV

"Tunggu, kenapa senpai mengambilnya padahal itu ada ditempat sampah?"

"Aku melihat anak kelas sepuluh masuk kolidor kelas sebelas saat kembali dari kamar kecil, lalu dia membuang buku itu ketempat sampah."

"Souka?"

"Benar, aku heran untuk apa mencari tempat sampah hingga masuk koridor kelas sebelas, memang di wilayah kelas sepuluh tidak ada tempat sampah? Saat aku mengambil buku itu dan tahu kau pemiliknya aku baru mengerti."

"Sasori-nii, itu anak kelas dua belas juga dia kakak ku benar? Oh, sungguh aku sangat tidak mengerti mau orang itu apa.."

"Aku, lebih heran kenapa Itachi senpai tidak mengembalikannya padamu atau kakakmu?"

"Entahlah, akan aku tanyakan segera padanya senpai, Arigato aku sungguh merepotkan benar?"Sakura tersenyum tulus dan membalikan tubuhnya.

"Tunggu..."panggil Garra. Sakura berhenti ditempat dan membalikan tubuhnya.

Garra menarik tangan Sakura, membuat Sakura terkejut lalu merebut ponsel dari tangannya.

"Kenapa?"Sakura bingung. Garra seperti mengetik sesuatu diponselnya.

"Ini nomor handphone ku, hubungi aku jika kau butuh bantuan."Garra sedikit canggung lalu mengembalikan kembali ponsel sakura.


Sakura heran kenapa Itachi tidak pernah mengembalikan buku catatannya. Sepulang sekolah Sakura memasuki kamar kakaknya dengan tiba-tiba.

"Sasori-nii, aku butuh nomer handphone itachi-nisan."ujar Sakura sambil duduk diatas kasur Sasori.

"Untuk apa? Jangan bilang kau suka padanya? Bukankah kau dekat dengan sasuke?"Sasori terlihat kebingungan.

"Liie... bukan begitu, apakah Itachi-nisan tidak pernah memberikan sebuah buku catatan?"

"Buku? Buku catatan mata kuliah maksudmu?"

"Hm... tidak-tidak maaf mengganggu mu Sasori-nii."Sakura cepat keluar dari kamar saudara lelakinya itu.

"Sepertinya harus ku tanyakan sendiri pada Itachi-nisan."batinnya.


Sakura sudah masuk kekamarnya dan mengganti bajunya.

"Haruskah aku kerumahnya?"Sakura terlihat bingung sekarang. Sakura menggelengkan kepalanya.

"Ddrrrtt" handphone Sakura di atas meja sudah bergetar. Sakura melihat nomor tak asing muncul di layar handphonennya.

"Moshi-moshi.."

"Sakura, kita perlu bicara. Aku tunggu kau ditaman dekat rumahmu sekarang."ucap orang itu.

"Aku malas bertemu dengan mu Uchiha."

"Aku mohon Sakura, aku berjanji takkan lama."terdengar suara memelas disebrang sana.

"Baik."ujar Sakura akhirnya.


Sakura memandang seorang lelaki yang terlihat gelisah di kurisi taman.

"Uchiha.."ujar Sakura.

"Sakura, maaf."ujar Sasuke ia berdiri memandang Sakura lalu memberikan sebuah buku catatan berwarna merah muda.

"Jadi, selama hampir setahun ini kau mengetahui semuanya? Dan kau baru mengatakannya sekarang Sasuke?"Sakura terdengar kecewa.

"Aku minta maaf Sakura, aku tak berani megakuinya. Aku tak ingin asing bagimu, taukah betapa tersiksanya aku saat tahu kebenarannya? Saat kau selalu menghindariku?"

"Aku sama sekali tidak mengerti Sasuke. Aku sudah tenang tanpa dirimu sekarang. Tapi setelah kebenarannya teungkap aku tak tahu harus apa."

"Hanya maafkan aku Sakura. Ayo kita mulai ini dari awal."

"Baiklah."Sakura mengangguk setuju.

"Tapi..."ucap Sakura kembali.

"Tapi, apa Sakura?"Sasuke sedikit heran.

"Ini tidak akan seperti dulu lagi."terang Sakura menatap Sasuke.

"Maksudmu apa?"Sasuke heran dan menatap Sakura dalam.

"Cukup aku kenal kau dan kau kenal aku, itu saja. Aku takut kejadian waktu itu terulang lagi. Aku terlalu sakit memikirkannya."Sakura membalikan badannya dan meninggalkan Sasuke.

"Itu, Sakura tunggu jangan pergi dulu."Sasuke mengikuti langkah Sakura.

Seakan merasa diikuti Sakura mempercepat langkahnya kemudian berlari secepat mungkin. Sasuke tak mau kesempanya kali ini hilang begitu saja. Ia pun ikut berlari. Saat hampir sampai di depan rumah Sakura, sebuah motor sport merah berhenti tepat didepan Sakura. Pengendara motor itu heran dengan tingkah Sakura dan membuka kaca helmnya.

"Garra-senpai?"ujar Sakura.

"Sakura.. kenapa kau lari hei?"Sasuke memanggilnya mulai mendekati sakura.

Tanpa banyak berpikir sakura langsung naik motor Garra, sementara Garra terkejut membulatkan matanya.

"Apa, yang kau lakukan Sakura."ujar Garra kini.

"Aku mohon aku tidak ingin bertemu sasuke, mohon senpai cepat pergi sebelum Sasuke datang."ujar Sakura terburu-buru.

"Baiklah."gara menutup kaca helmnya lalu menggas kencang tepat saat Sasuke sampai disamping mereka.

"Sakura... "Sasuke berteriak frustasi.


Garra membawa motornya ke taman kota. Sakura dan Garra memilih duduk disalah satu kursi ditaman itu.

"Jadi, sebenarnya ada apa ini Sakura?"Garra membuka percakapan mereka.

"Aku sudah mendapatkan buku catatanku senpai."Sakura menunjukan buku catatan yang dipegangnya sambil tersenyum ririh, dan mulai mengeluarkan air mata.

"Lalu, kenapa kau harus menangis?"Garra memandang Sakura, yang kini sedang menundukan kepalanya.

"Aku.. aku hanya tidak tahu harus bagaimana, bahagia kah? Kecewa kah? Aku benar-benar bingung."Sakura menghapus air mata yang keluar dengan punggung tangannya.

"Sebenarnya, aku tidak mengerti masalah yang terjadi. Tapi aku sarankan berpikir jernihlah dulu bila kau benar-benar bingung. Dan satuhal semua yang kita rasakan sekarang adalah akibat tindakan dimasaa lalu. Jadi saat kau mengambil keputusan kau harus mempertimbangkan akibat yang akan kau rasakan di kemudian hari."ujar Garra panjang lebar.

"Senpai, kau bijak juga ternyata."Sakura tersenyum menatap Garra.

"Hei, aku memang bijak."Garra mengacak rambut Sakura. Seketika senyumnya hilang, karena ia ingat seseorang yang pernah melakukan hal yang sama padanya.

"Terimakasih, senpai."ujar Sakura.

"Santai saja."


"Tadaima.."Sakura membuka pintu rumahnya.

"Okaeri.."jawab ibunya.

Sakura segera mengganti sepatunya dengan sandal merah muda miliknya.

"Tadi, ada Sasuke datang mencarimu. Okasan kira kalian bermusuhan karena hampir setahun dia tidak pernah mampir."terang ibunya sambil memindahkan channel di televisi dengan remote.

"Ah.. dia terlalu sibuk waktu itu. Kami tidak bermusuhan malah sekarang kami satu kelas."

"Begitu.. tadi dia terlihat cemas saat datang kemari, apakah kalian berpacaran?"sekarang ibu Sakura menatap anaknya dengan tajam.

"Lie.."Sakura terlihat gugup.

"Okasan, kau tahu sendiri aku tidak akan pernah pacaran aku harus fokus. Apalagi saingan ku dikelas semakin ketat."ujar Sakura tegas.

"Ya.., okasan tau sakura. Tapi jika kau mulai jatuh cinta ceritalah.."

"Lie.. aku tidak boleh!"Sakura menatap wanita paruh baya disampingnya.

"Nande? Kau ini, itu kan hal yang wajar sayang."Nyonya Haruno mengusap lembut kepala anaknya.

"Lie.. pokoknya aku tidak akan dan tidak boleh, okasan bayangkan jika orang yang kita sukai tidak mempercayai kita, lalu meninggalkan kita. Aku pasti harus ke psikiater karena itu."

"Apa yang kau bicarakan? Kenapa? Orang yang kau sukai tak mempercayaimu hn?"

"Bukan begitu."Sakura menggeleng keras. "Temanku, dia pernah cerita tentang hal ini."

"Souka? Kasihan sekali dia, tapi kau harus tetap positif tentang segala hal sayang. Bukankah dulu kau sangat optimis akan segala hal hem?"

"Tidak untuk urusan cinta."


Sakura melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Tidak tahu kenapa langkahnya terasa berat saat memasuki lingkungan sekolah, badannya seolah menolak masuk kelasnya. Dia semakin malas bertemu orang itu, semua hal tentangnya membuat dirinya kacau.

"Ohayo..."ujar Sakura malas saat memasuki kelasnya.

"Ohayo... Sakura-chan, jawab beberapa temannya."

Sakura duduk dibangkunya, untung Sasuke belum datang. Dia segera menyimpan tas dan pergi menuju kelas Ino. Dia pikir lebih baik jika tidak bertemu Sasuke.

"Ini, masih pagi Sakura kukira kau bosan dengan ku setelah lebih dari empat tahun bersama dengan ku."ujar ino.

"Cerewet mu sudah tidak tertolong lagi ya sayang.."sakura tersenyum jahil.

"Hei, jangan bilang kau mulai jatuh cinta padaku?"Ino mendelikan matanya.

"Hahah... jika ia aku pencinta sesama jenis, orang yang akan ku sukai Hinata bukan kau.. pig."Sakura mengalihkan pandangannya pada lapangan didepannya.

"Hei, ada apa dengan mu Sakura? Kau aneh sekali hari ini."Ino menatap sahabatnya menyelidik.

" Ino buku catatan ku yang hilang setahun lalu aku mendapatkannya kembali."ujar Sakura sambil menerawang ke depan.

"Souka? Siapa yang mengembalikannya padamu?"

"Sasuke.."Sakura menatap Ino lirih.

"Nani... jadi dia?"Ino terlihat menahan amarah.

"Dia meminta maaf padaku, aku hanya tidak mengerti sekarang aku harus apa?"Sakura menatap Ino gundah.

"Lakukan apapun yang membuatmu nyaman Sakura, kau ingat setahun yang lalu kau berada di posisi yang sangat menyedihkan. Bagaimana perempuan-perempuan mengerikan penggemar Sasuke selalu menyakitimu, dan sekarang keadilan datang untuk mu. Kau hanya harus membuat dirimu nyaman saat ini Sakura, jangan jadi Sakura menyedihkan seperti setahun kebelakang. Aku hanya ingin bersama Sakura yang ceria hanya dia yang kukenal."ujar Ino.

"Aku menyayangimu Pig"Sakura memeluk ino erat.

"Hei, tidak bisakah kau tak memanggilku Pig? Forehead?"

"Kau, sama saja."mereka tertawa bersama.

Seseorang dengan nafas tak beraturan, mendekati dua sahabat ini.

"Sakura, Ino.. dilapangan basket utama Sasuke dan Garra-senpai sedang bertanding basket di lapangan kelas dua belas."ujar Hinata mendekati mereka

"Benarkah itu Hinata-chan?"Ino kaget

"Memangnya kenapa Hinata-chan? Mungkin Garra-senpai sedang mengetes Sasuke apakah ia pantas menjadi ketua basket."ujar Sakura bosan.

"Tapi, kau juga jadi taruhannya Sakura?"ujar Hinata membuat kaget.

"Heeh? Mereka pikir aku uang? Barang? Siapa yang bilang?"

"Naruto-kun,"Hinata blushing sekarang.

"Lebih baik kita melihatnya untuk meyakinkan."ujar Ino.


Saat tiga gadis itu datang hampir semua murid sekolah mereka menyaksikan pertandingan basket disana. Seketika Sasuke menghentikan permainannya karena menyadari sosok merah muda sedang memperhatikannya.

"Fffttt..."wasit-Shikamaru dilapangan meniupkan fluitnya.

"Ada apa Sasuke?"Shikamaru heran dengan sikap pemuda Uchiha itu.

"Hn, aku malas."jawabnya enteng. Seraya menatap tajam Garra.

"Dengan begini, aku bimbang apakah kau pantas menjadi kapten basket."ujar Garra terdengar menyebalkan bagi Sasuke.

"Sebenarnya apa mau mu?"tanya Sasuke akhirnya.

"Kau, pintar juga hn... Jauhi Sakura."ujarnya dengan suara rendah. Dengan sekejap semua orang di dalam lapangan basket diam. Tergantikan bisikan heran dan tanda tanya dari ucapan Garra.

"Kenapa aku harus?"Sasuke menatap orang itu tajam dan berjalan kesudut Sakura berdiri sekarang.

"Karena aku menginginkannya!"Garra meninggikan suaranya membuat semua orang diruangan melotot termasuk Sakura.

Sasuke menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Garra.

"Aku, tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!"ujar Sasuke tajam.

Sasuke membalikan tubuhnya meneruskan perjalanan yang tertunda tadi. Ia terus berjalan hingga sampai dihadapan Sakura. Mereka kini menjadi pusat perhatian semua orang. Termasuk Garra yang menatap mereka dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

Sakura menatap Sasuke dengan ekspresi heran dan terkejut. Sementara Sasuke menatap sakura dalam. Hingga Sakura merasakan tangannya ditarik oleh Sasuke keluar dari lapangan basket. Sakura tahu kemana mereka pergi, pasti Sasuke akan membawanya ke atap sekolah.

"Ada apa ini sebenarnya Sasuke?"Sakura menarik tangannya dari genggaman Sasuke setelah sampai di atap Sekolah.

Sasuke memasukan tangannya kedalam saku. Kini dia membelakangi Sakura. Lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berbalik memandang Sakura.

"Ayo seperti dulu."Sasuke menatap tajam Sakura.

To Be Continue

^Sesi Author^

Sebelumnya author ingin meminta maaf karena keterlambatan mengupdate fic ini. Gomenasai... *bow, author rasa chapter ini lumayan panjang dari chapter lainnya dari fic ini, heheh. Author juga berharap chap ini tidak mengecewakan readers semua. Dan terimakasih sebanyaak banyaaaaaaaaknya untuk para review, yang senantiasa memberi semangat, nasihat dan pesan. Dan buat yang gak sengaja ngeklik review yaaa.. biar author lebih semangat apalagi lagi liburan jadi cepet update hehe... jaa di chap berikutnya. =))

spesial thanks..

caesarpuspita

Fuji Seijuro

rin

mantika mochi

hanazono yuri

Manda Vvidenarint

leedidah

HazeKeiko

Eagle Onyx 'Ele

Mina Jasmine

1

madeh18

Chi-chan Uchiharuno

azriel

Iqma96

Arisa Sakakibara

arigatou review dan koreksinya membuat saya makin belajar.. buat yang lain review juga ya, maaf belum bisa membalas reviewnya heheh... doain ya author UN tahun ini, heheh..