Title: The Stranger Incident
Author : ESH1608
Genre : Family, Drama
Main Cast : Wu Yifan aka Kris dan Sehun
Other Cast : Park Chanyeol dan yang lain mengikuti
Rating : T
Warning : OOC, Typo(s), DON'T LIKE IT DON'T READ IT
Summary : Kris Seorang Model dan actor merawat anak kecil berumur 10 tahun. Kris, Apakah dia benar-benar anakmu? / entahlah chanyeol!/ Keduanya hanya menghela napas. With Kris Daddy, Sehun Son and chanyeol uncle
.
.
.
~ The stranger Incident chapter 3
.
.
..
Cuaca yang sangat baik melanda seoul hari ini, setelah adegan lovey dovey antara kris, sehun dan chanyeol saat sarapan tadi. Mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke factory outlet yang menjual pakaian anak – anak atau keperluan lainnya yang sudah jelas semua itu untuk sehun. Menjadi public figur membuat kris tidak bisa pergi ke manapun yang dia mau. Jadi pergi ke beberapa Factory Outlet langganan milik temannya atau ke tempat di mana FO tersebut menjadi sponsor untuk chanyeol adalah jalan yang terbaik.
Kris duduk di kursi mobil tepat disamping Chanyeol yang sedang menyetir, dirinya terlihat sibuk mengirim beberapa pesan kepada staff terutama coodienya yang dalam tahap depresi berat karena pakaian sponsor yang kembali mengenaskan seperti biasa.
Sedangkan sehun hanya menatap keluar jendela di kursi belakang. Seoul ternyata kota yang indah menurut sehun setelah mengamatinya beberapa waktu. Sering kali di sepanjang jalan ia melihat Kris ada di Board Iklan atau di layar LCD raksasa dengan barang yang harus ia promosikan, jangan lupakan wajah tampannya. Tampak tidak sadar sehun mengamati dirinya sendiri, ia melihat baju yang sudah luntur warnanya, sepatu yang hampir tidak seperti sepatu dan jam tangan mati di pergelangan tangan kirinya.
Apakah aku benar – benar anak Kris? – batinnya
"Sehun kau mau makan siang apa?" kris menengok kebelakang mencoba memulai percakapan.
Sehun terlihat berpikir sebentar lalu menggeleng pelan " aku tidak tahu"
Kris kembali menatap ke arah depan, mencoba menanyakan pada chanyeol apa yang sebaiknya mereka makan setelah membeli beberapa perlengkapan untuk sehun. Sedangkan sehun, ia berpikir keras bagaimana caranya untuk memulai percakapan kembali. Ia ragu untuk memanggil kris dengan sebutan ayah, karena mungkin saja kris akan marah dan meninggalkannya. Toh setahu sehun dari awal kris seperti ragu akan dirinya terlebih lagi setelah melihat gambar dan tayangan kris yang ada di mana – mana membuat perasaan ragu nya kembali membuncah.
" kris kita akan pergi kemana?"
Kris yang sedang tertawa-tertawa dengan chanyeol langsung menghentikan kegiatannya karena terkejut pertanyaan yang di lontarkan oleh sehun, lebih tepatnya terkejut oleh sebutan yang sehun gunakan untuknya, mencoba menghalau perasaan asing itu. kris menegokan kepalanya ke arah sehun. Sesaat ia tidak langsung memulai percakapan, ia malah sejenak berpikir apa alasan sehun memanggilnya seperti itu. mungkin anak ini juga bingung dan belum siap menganggap kris sebagai ayahnya sama seperti kris yang masih dalam tahap dilema jika memastikan status sehun. Kesimpulan itulah yang chanyeol pilih sebagai sebab sehun memanggilnya bukan dengan sebutan 'ayah'.
" oh kita akan pergi ke beberapa toko baju dan perlengkapan untukmu."
" bagaimana jika orang lain melihat kita?" kris merenung sejenak. Sehun benar – benar jenius dan sangat dewasa di bandingkan dengan umurnya. Tampak tidak terlihat sisi anak – anak seperti anak yang lain yang seumuran dengan sehun.
" tidak apa – apa, kita pergi ke tempat yang benar – benar privasi. Tidak banyak yang tahu kita datang kesana. Kalaupun ada yang melihat aku bisa bilang kau adalah keponakanku."
Kris kembali menatap kejalan di depannya, sedangkan chanyeol menatap sehun dari kaca dalam mobil. Terlihat sehun menggigit bibir bawah dan memilin kemejanya pelan, membuat chanyeol menghela nafas.
Kris sungguh keterlaluan setidaknya dia harusnya tahu apa yang harus di lakukan untuk menghadapi sehun. Script film atau drama yang di perankannya di mana kris berakting dengan anak kecil sebagai lawan mainnya ternyata tidak bisa ia praktekkan dalam kehidupan nyata.
" kau suka ice cream sehun?" chanyeol mencoba mengembalikan suasana down sehun
Wajah sehun langsung mengembang, ia langsung mengangguk keras.
" ya, suka sekali paman. Ice Cream Cokelat dengan choco chips, sendoknya dua.. oh paman jangan lupakan tambahan bubblenya."
Chanyeol hanya tersenyum singkat, sejenius apapun sehun dia tetaplah bocah kecil berumur 10 tahun.
" bubble ? apa rasanya ice cream pakai bubble."
" paman belum pernah coba? Paman harus mencobanya, itu benar – benar enak!"
Sehun terus berceloteh mengenai ice cream favorit nya lengkap dengan gesture tangan dan mimik wajah yang berganti – ganti. Chanyeol terus menatapnya bergantian antara sehun dan jalan raya. Hingga mobilnya berhenti karena lampu merah. Semenjak chanyeol bercakap – cakap dengan sehun kris hanya diam. Chanyeol menatap kris lama selama lampu merah itu tidak terasa telah berganti hijau.
" sehun kau tau tidak?"
" tidak.." sehun menjawab dengan polos
" kau.. dengan kris... sangat mirip!"
Kini giliran kris yang menatap chanyeol, sehun hanya terbelalak tak percaya. Apa yang mirip antara dirinya dan kris?
" kris jika sedang berbicara, dia akan mengganti wajahnya berulangkali dan memainkan tangannya sedemikian rupa. Seperti yang kau lakukan tadi."
Terlihat sehun tersenyum girang. Jadi benarkan dia anaknya kris. ~batinnya
" kau ini bicara apa sih, seperti orang mabuk. Jangan ngawur!" kris mencoba membela diri.
" kau mungkin tidak percaya , tapi selama aku menjadi sahabat mu dan juga manajermu. Itulah kenyataannya. Kadang suatu kebiasaan itu di lakukan tanpa kau menyadarinya."
Kris skak mat, dia tidak bisa membalas ucapan chanyeol.
Mereka bertiga keluar dari mobil yang sudah terparkir di parkiran basemant dimana Factory Outlet berada. Chanyeol jalan lebih dulu, sedangkan kris dan sehun jalan dibelakangnya. Tidak ada yang berbicara hanya terdengar langkah kaki yang menggema di area parkiran bawah tanah itu.
" sehun kau suka warna apa?" kris kembali memulai percakapan antara dirinya dan sehun tanpa melihat ke arah anak berumur 10 tahun tersebut.
tapi sehun tidak menjawabnya. Kris merasa mungkin sehun tidak mendengar percakapan itu sehingga ia mengulanginya pertanyaannya kembali. Namun dirinya urung mendapatkan jawaban. Ia menengok ke arah belakang terlihat sehun sedang menalikan tali sepatunya yang tampak terlepas. Hingga suara mobil terdengar dari arah sebelah kiri sehun.
Anak itu menalikan sepatu ditengah jalan di area parkiran itu. mobil itu tidak melambat seolah ia tidak tahu ada anak kecil yang sedang berlutut mencoba menalikan sepatunya. Pengemudi mobil itu terihat seperti orang yang kehilangan kesadarannya.
" sehun!" kris berteriak
Sehun mendongak dan chanyeol langsung menengok kearah belakang.
" sebentar kris!" sehun kembali berteriak sambil tersenyum
Kris berlari menghampiri sehun, mendekap dan menghepaskan tubuh mereka sendiri ke sisi depan mobil yang masih terparkir mencoba menhindari mobil yang akan menabrak mereka. seketika itu juga terdengar suara ban mobil berdecit. Mobil itu berhenti menampilkan seorang pria sekitar umur 30 –an yang keluar dari mobilnya. Chanyeol menghampiri orang tersebut dan memaki - maki hampir saja tangannya melayang jika saja sesuatu terjadi pada kris dan sehun. Pria itu membungkuk meminta maaf, dirinya tidak sadar ada anak kecil karena sibuk menelepon temannya.
Setelah percakapan itu selesai , chanyeol menghampiri sehun dan kris yang masih berbaring.
"kris!"
Kris mencoba bangkit dan mengembalikan kesadarannya, dia meraba tubuhnya sendiri dan melihat telapak tangannya berdarah mungkin akibat bergesekan dengan lantai semen. Dirinya langsung sadar saat melihat sehun tepat dihadapannya berbaring dengan mata terpejam. Tangannya bergetar begitupun suaranya.
" s..s..se..hun."
" sehun.."
Sehun membuka matanya dan langsung bertatapan dengan mata kris yang tergambar jelas rasa khawatir didalamnya.
"a..yah."
"gwaenchana?"
Sehun mengangguk dan mencoba bangkit di bantu oleh kris.
" jeongmal gwaenchana?" tanyanya kris berusaha meyakinkan
sehun kembali mengangguk.
chanyeol menghampiri sehun dan kris sambil membawa kotak p3k dari mobil dan membantu mengobati tangan kris yang luka.
"maaf kris!" aku sehun yang benar – benar merasa bersalah
" bukan salahmu !"
" salah ku jika saja aku berhati – hati ini mungkin tidak akan terjadi." pandangannya masih menunduk , dia tidak berani menatap kris. Lantai parkiran lebih nyaman untuk di pandang.
" sudahlah ,, ti – Aww!" kris menatap chanyeol dengan tatapan mautnya
Dan balasan tatapan itu adalah cengiran bodoh khas seorang chanyeol " hehehe,, maaf."
" sehun kau tidak terluka? " chanyeol bergantian antara melihat sehun dan luka di tangan kris.
Sehun mencoba bangkit dan meneliti tubuhnya. Namun dirinya hampir saja terjatuh lagi karena tiba – tiba tubuhnya limbung. Kris langsung memegangi sehun. Melepas perban yang hampir saja selesai di pasang.
" sehun, kita kerumah sakit!"
" aku tidak apa – apa kris, hanya tidak sengaja menginjak tali sepatu."
Kris melihat kearah kaki sehun , tali sepatunya memang belum terikat. " ayah, panggil aku ayah" kris mencoba menalikan sepatu sehun
Setelah melewati rasa keragu-raguan yang hampir mendekati batasnya akhirnya Sehun menunduk dan langsung memeluk kris.. "ayah, maaf dan terima kasih!"
Kris memeluk sehun, chanyeol yang iri ikut – ikutan memeluk mereka berdua.
" aku berjanji tidak akan memanggil ayah ketika dihadapan orang lain tapi biarkan aku memanggilmu ayah ketika ayah hanya bersama ku."
Kris mengeratkan pelukannya, pengecut kau kris. Sehun lebih berani mengatakan hal itu dibandingkan dirimu. Pikirnya...
Kris menggandeng sehun masuk ke area di mana pakaian anak – anak dan aksesorisnya berada. Beberapa pelayan membungkuk, mereka sudah kenal betul mengenai kris tapi bukan sebagai aktor atau model melainkan sebagai teman dari pemilik tempat ini.
" oy, kris!"
" hey..!" mereka berpelukan singkat dengan tangan kanan kris yang masih menggandeng sehun.
" coodie mu beberapa jam yang lalu datang dengan muka kusut dan berulang kali meminta maaf karena pakaian dari desainer ku kembali dalam keadaan mengenaskan... Lagi!"
Kris hanya bisa menyengir bodoh,
" sedang apa kau di kids store?"
" xiumin , bisa rekomendasikan pakaian dan perlengkapan lainnya untuk dia?"
Xiumin –pemilik factory outlet ini mengikuti arah telunjuk kris dan menemukan sehun di sana dan dengan refleks ia mencubit pipi sehun.
" ya ampun kris keponakan mu sangat lucu!" sehun mencoba melepaskan cubitan xiumin dan memegangi pipinya.
" kau tidak akan percaya jika ku bilang dia adalah anakku."
" hahaha.. dia anak mu. Jangan bermimpi di siang bolong, kris"
" dia memang benar anak ku!"
Sehun menatap kris dengan mata berbinar hampir saja ia akan memeluk kris. Seumur hidupnya ini pertama kalinya ada seseorang yang mengakuinya sebagai orang yang berarti.
" ya sudah lah terserah mu.." xiumin beralih pada sehun " ...siapa namamu?"
" sehun imnida"
" lebih tepatnya Wu Sehun!" kris melengkapinya
" kau punya kakak laki – laki kris? setau ku kakakmu perempuan seharusnya dia tidak memakai marga wu. Apa kakak ipar laki-laki mu bermarga Wu juga?"
Baru saja kris hendak menjelaskan, xiumin malah sibuk memanggil pelayan untuk membawa sehun ketempat ruang ganti untuk mencoba beberapa pakaian.
Kris mengikuti xiumin yang kesana kemari ikut memilihkan baju yang cocok untuk sehun. Beberapa kali ia menolak baju yang di rekomendasikan oleh pelayannya.
"tidak, jangan yang itu, suzy! Baby blue lebih baik dibanding itu. atau merah itu cocok dengan konsep musim dingin." Sehun yang menunggu di depan ruang ganti hanya menatap mereka bingung terlihat dari bola matanya yang ikut memperhatikan gerak gerik xiumin.
" Xiumin, sehun itu hanya anak-anak dia bukan seorang model. Tidak perlu memilihkan warna apa yang cocok untuknya. berikan dia pakaian yang hangat dan nyaman!" kris mencoba menghentikan kegiatan xiumin, sebentar lagi jam makan siang. Dia harus segera menyelesaikan kegiatan ini.
" aku ingin memberikan hadiah terbaik untuk anak kakakmu! Jadi dia sekarang sudah di Korea? Bukankah beberapa hari yang lalu kau bilang dia masih di beijing?"
Kris menarik tangan xiumin sedangkan pandangannya ia alihkan pada para pelayan dengan maksud menyuruh mereka tetap melanjutkan memilih pakaian untuk sehun.
" Xiumin, dengarkan aku. Kita sudah berteman pada saat diriku datang kekorea dan mulai merintis karir disini. Yang aku katakan tadi adalah yang sesungguhnya. Kau bisa bertanya pada chanyeol. Ini memang sedikit membingungkan tak hanya untuk mu juga untuk ku..." Kris menghela napas panjang
"...tapi itu lah yang terjadi"
Xiumin masih dalam keadaan shock, terlihat beberapa kali ia mengusap-ngusap dagunya tanda ia bingung dan penasaran. " lalu siapa wanita yang telah melahirkan sehun?"
" aku tidak tahu.."
"What? Are You Kidding me? I am really serious now."
" me too.. i am not kidding you. Thats reality.. i dont know who sehun's mother! Thats be long story!"
"Kau harus menceritakan semuanya kris!"
"tentu, tetapi tidak saat ini."
" oke, pilihlah perlengkapan lainnya yang sehun butuhkan dan kau tidak perlu membayarnya. Anggap saja hadiah karena sekarang aku menjadi paman dari Wu sehun anak dari seorang artis terkenal bernama Wu Yi fan.."
Kris hanya membalas Xiumin dengan senyuman tulus.
" Wu Yifan , satu lagi. Ini bisa menjadi berita yang menggemparkan dunia internasional.."
Yang ini hanya dibalas ringisan dari Kris.
Chanyeol menghampiri kris yang sendirian di pojok kids store, ia melihat kris sedang mengamati beberapa peralatan sekolah. Sesekali mencoba mencari tahu apa saja yang ia butuhkan, mengingat sehun sudah berumur 10 tahun. Ini berarti dia harus sekolah.
"aku sudah membelikan beberapa peralatan sekolah untuknya."
Kris yang terkejut, langsung membalikkan tubuhnya.
" aku tadi membelikannya ketika kau berbicara dengan xiumin. Kubeli dengan uangku sendiri anggap saja hadiah dari ku untuk sehun."
" kenapa hari ini banyak sekali yang memberikan hadiah untuknya, aku iri!"
" hahaha, kris kau ini artis yang punya segudang uang dan popularitas. Kau selalu mendapatkan hadiah dari fansmu."
" tapi kau dan xiumin tidak pernah memberikan hadiah untukku."
"aku? Aku pernah memberikan sepasang kaos kaki bergambar angry bird untukmu!" chanyeol mencoba membela diri
" hanya sepasang kaos kaki angry bird. Huh! "
Chanyeol hanya menggeleng-gelengkan kepala, " kris saat ini aku tidak yakin kau adalah seorang artis yang sudah memiliki anak 10 tahun."
Pernyataan itu membuatnya kembali masuk dalam sebuah kenyataan yang masih sulit ia terima.
" ayo kita hampiri sehun, dia pasti menunggu kita."
Sehun terduduk di bangku merah di samping ruang ganti sambil mengerucutkan bibirnya. Ia bosan dari tadi kerjaannya hanya menunggu dan bolak balik ganti pakaian. Dia juga lelah. kris menepuk bahu sehun.
" kau lelah?"
Sehun mengangguk pelan " eump,juga lapar" jawabnya polos
Kris hanya terkekeh kecil, "baiklah semuanya sudah selesai. Nanti ucapkan terima kasih kepada paman xiumin. Dia memberikan semua keperluanmu gratis."
Senyum sehun mengembang, poin penting yang ia catat kris tidak harus mengeluarkan banyak uangnya untuk membeli kebutuhannya. " aku juga!" chanyeol mengacungkan tangannya dihadapan sehun. Sehun mengeryitkan alisnya
" oh ucapkan terima kasih juga untuk paman chanyeol!"
Sehun membungkuk sambil meletakkan kedua tanganya di perut "terima kasih paman!"
Chanyeol mengusap pelan kepala sehun, " aigoo lucunya!"
Mereka bertiga berjalan keluar dari factory outlet milik xiumin, mobilnya bergerak keluar dari pelataran parkiran menuju sebuah restoran tidak jauh dari FO tersebut. sebuah restoran mahal yang juga langganan Kris dan chanyeol. Mereka mengambil beberapa makanan, sistem restoran ini buffet, jadi pelangganya bisa bebas memilih makanan yang akan mereka makan. Chanyeol dan kris masih sibuk memilih makanan, sedangkan sehun berlari ke stand ice cream dan menyuruh pelayan menghindakan ice cream yang ia suka. Pelayan itu hanya tersenyum ketika mendengarkan celotehan semangat sehun mengenai ice cream yang ia suka.
Kris yang melihat tawa sehun dari kejauhan membuatnya ikut tersenyum, namun tiba-tiba senyumnya berhenti. Ia seperti mengingat senyum itu, senyum hangat yang sudah ia lupakan belasan tahun yang lalu. Mencoba mengingat siapa pemilik senyum itu tapi tidak bisa, ingatan itu seperti terkungkung dalam penggalan memori yang lain. Kris mencoba mengabaikan hal itu, lalu duduk disamping chanyeol yang sudah mulai menyantap makanannya.
"Kris, aku benar-benar menemukan banyak kesamaan antara dirimu dan sehun. Sepertinya kau harus benar – benar mengakuinya"
"ya aku sedang mencobanya , yeol!"
Sehun berlari – lari kecil sambil membawa ice cream jumbonya dengan tangan mungil nan pucat itu. matanya menyipit seiring dengan senyumnya yang mengembang.
" paman lihat! Mereka memberikan topping bubble yang banyak untuk ku. " sehun tetap berbicara sambil meletakkan ice cream di meja dan mencoba duduk dikursinya. Kris hanya menatap sehun gemas ketika sehun menghela napas panjang karena berusaha duduk di kursi tingginya yang membuatnya juga berhenti berceloteh sesaat, lalu setelah ia duduk dengan benar ia kembali dengan celotehannya.
" sehun makanlah dulu yang lain, jangan langsung makan ice cream!"
" tidak mau, aku selalu memakan dessert ku diawal! Nanti jika aku mati karena belum memakan dessert ku, aku akan menyesal... ayah!"
" sehun, mengapa mudah sekali mengucapkan kata-kata 'mati'? kau tidak boleh mengulanginya." Tegur kris sambil mencoba menghapus beberapa sisa krim di sudut bibir sehun.
" Wae? Dulu orang – orang disekitarku selalu berbicara mati dan kematian, ayah."
" mulai sekarang tidak boleh oke. Sekarang bukan dulu." Tegas kris
"aaahh wae? Aku penasaran ayah!"
Hhhhh... kris hanya menghela napas kasar, ini kesamaan antara dirinya dengan sehun sama - sama keras kepala. terlebih lagi sehun diberikan kelebihan yang tidak orang lain dapatkan yaitu kejeniusan dan rasa ingin tahu yang kuat.
" pokoknya tidak boleh! Titik!"
Sehun malah tetap dengan argumennya, ia memberitahukan sederet alasan kenapa ia harus tahu sambil menggoyang – goyangkan kakinya. Namun tiba – tiba percakapan itu berhenti, sehun menghentikan aktivitasnya.
" a..yah?"
" ya, sehun? Kenapa kau mendadak berhenti dan menjadi melankolis seperti ini?"
"a..yah antarkan aku ke toilet."
" oh? Eump.. baiklah ayo!" kris beranjak dari kursinya mencoba menggandeng tangan mungil sehun yang dingin.
" sehun kenapa tanganmu dingin sekali?"mereka masih berjalan menuju toilet sesampainya di toilet sehun langsung memuntahkan di wastafel. Kris terkejut ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan sehun.
" sehun, kau kenapa?!"
"kepalaku sakit dan perutku mual ayah!" ucapnya ditengah-tengah kesakitan, ringisan dan aktivitas mengeluarkan semua isi perutnya.
Kris mencoba mengusap tengkuk dan punggung sehun yang ringkih dan telah basah oleh peluh keringat. " aku kan sudah bilang untuk makan yang lain dulu sebelum memakan ice cream mu!"
Sehun masih mencoba mengeluarkan semuanya, semakin lama bukan hanya rasa mual yang menjadi tetapi kepala bagian belakang nya juga mulai terasa nyeri. Ia memegang kepala belakangnya erat membuat raut bingung dan cemas di wajah kris.
" kau kenapa sehun?"
" ayah bantu aku, ini rasanya sakit sekali!"
" apa yang sakit?"
" semuanya tubuhku sakit, kepalaku sakit, ayah!" sehun jatuh terduduk, dengan topangan kris. Kali ini otak kris berjalan dengan lambat, ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kesadarannya kembali ketika sehun mulai menangis dan selalu bergumam sakit. Membuat mata kris merah dan berkaca – kaca.
" ayah, sa...kit... to..long!"
Kris mencoba merogoh sakunya dengan tangan bergetar, mencoba mendial nomor chanyeol, hampir saja handphonenya terjatuh jika saja ia tidak menggegamnya dengan erat.
'Kris, ada apa? Mengapa kau menelpon ku dari toilet?'
'Chan.. to..long aku!'
'Hei ada apa? Kau terdengar panik'
'Tolong..aku ..sehun.. sakit'
'Bicaralah dengan tenang,ada apa? Kenapa kalian lama sekali di toilet?'
'Sehun kesakitan , aku.. entah.. aku tidak tahu'
Chanyeol merasa ada yang tidak beres , ia lalu mematikan sambungannya teleponnya dan berlari menuju toilet sementara kris mencoba menenangkan sehun yang mulai menjerit kesakitan. Kris bertambah panik ketika ia melihat darah mulai mengalir dari hidung sehun.
"ya tuhan, sehun! Sehun , sehun tenanglah!"
" hiks, hiks, ayah tolong .. ini benar – benar sakit!" sehun memohon dengan lirih dan hancurlah pertahanan kris ia ikut menangis sambil menunggu chanyeol. Ia memeluk sehun dan tetap mengusap-ngusap punggungnya. Memang baru 2 hari ia mengenal sehun, tapi kris merasa ia sudah memiliki ikatan batin dengan sehun. Ia jelas – jelas seolah merasakan rasa sakit dan penderitaannya.
" apa yang harus aku lakukan sehun?" pertanyaan itu dilontarkan kris bertepatan dengan chanyeol yang masuk kedalam toilet. Ia sempat terkejut tapi setelahnya ia mulai bersikap tenang menghadapi kejadian yang ia lihat saat ini. sehun masih meringis pelan dengan mata yang terpejam walaupun chanyeol tahu anak ini masih sadar, dan ia berbicara pada kris untuk membayar pesanan dan bergegas menghidupkan mobil. Baru saja chanyeol hendak mengambil sehun dari pelukan kris, kris mencegahnya.
" biar aku, kau bayarlah dan bawa mobil, biar aku yang menggendongnya."
Tanpa berpikir lama, chanyeol mengangguk dan bergegas keluar meninggalkan kris dan sehun. " sehun bertahanlah!" bisik kris di telinga sehun, ia juga mencoba melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada tubuh sehun yang amat dingin. Ia mengusap darah yang terus keluar dari hidung sehun dan mencoba berdiri sambil menggendong sehun, telihat kini jaketnya membungkus sehun rapat. Sehun kembali mengerutkan keningnya meringis mengatakan sakit.
" a..yah!" sehun berucap lirih
" sehun , bertahanlah." Kris berlari keluar restoran dan mendapati chanyeol didalam mobil sudah membukakan pintu. Ia langsung menginjak pedal gas dengan kuat ketika chanyeol dan sehun sudah masuk dalam mobil.
Sehun mulai terengah, rasa sakitanya kembali datang, kesadarannya mulai timbul tenggelam. Ia memanggil kris sekali lagi sebelum menutup matanya rapat.
.
.
.
~To Be Continue~
.
.
Aku balik lagi, tapi aku gak bisa berceloteh banyak selain maaf terlalu telat update dan terimakasih untuk pada reader, reviewer dan yang sudah fav n follow..
Hug
ESH1608
