Title: The Stranger Incident

Author : ESH1608

Genre : Family, Drama

Main Cast : Wu Yifan aka Kris dan Sehun

Other Cast : Park Chanyeol dan yang lain mengikuti alur cerita

Rating : T

Warning : OOC, Typo(s), DON'T LIKE IT DON'T READ IT

Summary : Kris Seorang Model dan actor merawat anak kecil berumur 10 tahun. Kris, Apakah dia benar-benar anakmu? / entahlah chanyeol!/ Keduanya hanya menghela napas. With Kris Daddy, Sehun Son and chanyeol uncle

.

.

Previous Chapter

Seketika sehun diam membeku ketika kris menatapnya nyalang dengan tangan kris yang menggenggam surat beramplop putih dengan gambar logo sekolahnya..

" a..a..yah."

.

The Stranger Incident chapter 8

.

"Sehun ini apa? Aku baru saja pulang dan kau memberikan ku hadiah ini?"

Kris menggeram kesal sambil menggenggam erat kertas itu. Dirinya baru saja pulang sekitar pukul dua siang tadi dan menemukan sebuah amplop putih berlogo sekolah di atas meja makan. Sepertinya Kyungsoo atau mungkin Chanyeol yang pertama kali menemukan surat tersebut karena ia juga menemukan secarik note kecil bertuliskan 'ini dari sekolah Sehun'.

Nampaknya juga mereka tidak berani membuka sampul surat tersebut karena masih terlihat rapi tanpa ada tanda – tanda di buka paksa. Tapi bukan itu masalahnya, melainkan isi surat tersebut yang membuat darah Kris secara drastis menaik ke ubun – ubun.

"A..yah!"

"Tedaphae (Jawab) Sehun!"

Perlahan – lahan Sehun mendekat kearah kris, tanpa berani menatapnya. Ia akui ia sangat bersalah dan saat ini ketakutan itu berhasil mencapai puncak setelah beberapa hari yang lalu ia mencoba memendamnya.

Kris nampak menahan emosi, matanya terlihat mengobarkan amarah luar biasa. Setelah lelah bekerja full beberapa hari ini, ia malah mendapatkan sesuatu yang menaikkan tensinya. Dia memandang Sehun tajam, baru saja di tinggal seminggu Sehun sudah berulah.

"Aku menyekolahkanmu di tempat yang bagus bukan untuk mendidikmu seperti seorang preman, Sehun." Setiap kata penuh dengan penekanan membuat sehun kembali mundur selangkah.

"Tapi mereka yang duluan membuatku melakukan itu." Belanya sekaligus pernyataan bahwa dia tidak bisa serta merta di katakan bersalah.

Namun respon Kris justru semakin menggebu untuk mematahkan pembelaan itu, "Aku tidak bertanya siapa yang duluan melakukannya. Dari siapa kau belajar memukul anak orang?"

Sehun hanya menunduk, dia tidak bisa menjawab. Sekali pembelaannya tidak berlaku maka dia tidak tahu harus bertindak seperti apa.

"Sehun, ini keterlaluan. Aku lelah bekerja untuk menjamin kebutuhanmu dan kau memberikanku surat panggilan dari sekolah."

Bergetar semua tubuhnya, Sehun tidak menyangka sekolahannya benar – benar mengirim surat panggilan. Padahal dia telah meminta maaf. Terlebih lagi respon Kris yang membuat nyalinya menciut. Air mata sudah menggenang di permukaan matanya yang siap tumpah.

"Kenapa kau diam saja? Sehun, aku tidak pernah mengajarimu untuk memukul teman mu sendiri." Teriaknya lalu mendongak mengacak rambutnya asal.

"Aku tidak pernah tahu bahwa merawatmu bisa menjadi beban yang luar biasa melelahkan untukku."

Deg, akhirnya kalimat itu keluar dari mulut kris begitu saja tanpa bisa di cegah.

Kalimat yang paling Sehun takutkan sejak beberapa hari yang lalu, yang menyebabkan dirinya tutup mulut dan tidak berani bercerita pada siapapun. Air mata itu menetes sekali, dua kali dan terus menetes tanpa bisa di tahannya. Sehun bahkan tidak berani melihat respon Kris, ia berlari menuju kamar Kris dan menutupnya kasar.

Sedangkan Kris, dia mematung. Dia juga tidak menyangka bisa mengeluarkan kalimat seperti tadi. Menghela napasnya kasar beberapa kali lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah sambil memejamkan matanya. Sungguh tubuhnya luar biasa lelah beberapa hari ini, bahkan untuk sekedar tidur, Kris harus mencuri waktu.

Beberapa hari yang lalu, ia mulai membuat skenario terburuk jika saja pekerjaannya menjadi artis akan berhenti. Dia mulai mendaftarkan status Sehun di lembaga kependudukan sebagai anaknya juga membuat beberapa asuransi untuk Sehun.

Berurusan dengan orang di sana – sini, mencoba belajar investasi di bidang lain juga melakukan pekerjaannya sebagai artis, ia bereskan dalam waktu seminggu yang seharusnya bisa jadi sebulan atau lebih. Dalam sehari Kris mungkin hanya bisa tidur 1 – 2 jam dan ternyata akibatnya, semua kesalahan sangat bisa membuat emosinya naik.

Ia membaca sekali lagi isi surat panggilan itu dan menghela kasar. Panggilan orang tua karena anaknya melakukan tindakan kekerasan terhadap temannya sendiri. Kris tahu bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah, tapi ia tidak membayangkan bahwa menjadi orang tua itu berarti harus memantaunya sepanjang waktu. Sehun, dia baru berumur 10 tahun oke beberapa bulan lagi dia menginjak 11 tahun, tapi kelakuannya cukup membuat Kris sakit kepala.

Dari ruang tengah, terdengar isakan tangis Sehun dan itu menyakiti Kris. Terdengar juga beberapa kali Sehun memanggil ibunya yang membuat Kris semakin sakit juga kesal. Ibu Sehun lebih sangat tidak bertanggung jawab dibanding dirinya. Tapi dia tidak bisa bilang itu pada Sehun.

Perlahan dirinya bangkit berjalan menuju pintu dan menekan knop pintu kamarnya tapi tidak bisa terbuka, Sehun menguncinya dari dalam. Rasa khawatir menyesap kerelung hatinya tiba – tiba.

"Sehun, buka pintunya."

Tidak ada pergerakan di dalam sana, hanya terdengar suara tangis.

"Oke, ayah minta maaf. Buka pintunya dan kita bicara oke."

Kris mengatur nafasnya agar nada bicaranya tetap terdengar tenang, "Menangislah, setelah kau puas buka pintunya dan kita bicara."

Beberapa jam berlalu tapi Sehun tidak juga membuka pintunya, dia mulai cemas dan akhirnya mencoba menghubungi Chanyeol untuk membantunya membujuk Sehun. Tapi nomor Chanyeol tidak bisa di hubungi. Akhirnya ia beralih menghubungi Kyungsoo.

Ya oppa.

"Kenapa nomor Chanyeol tidak aktif? Apa kau bersama dengannya?"

Anni (tidak), aku sedang di kampus. Ada apa memangnya?

"Aku bertengkar dengan Sehun, sekarang dia berada dalam kamarku dan menguncinya dari dalam."

Apa isi surat itu yang membuatmu marah?

"Kau yang mengambil surat itu?"

Pihak sekolah menelpon Chanyeol Oppa untuk datang kesekolah tapi dia tidak bisa karna kau sedang padat jadwal. Jadi aku yang pergi kesekolah. Kau marah karena Sehun memukul temannya?

"Kau tahu?"

Ya, pihak sekolah memberi tahuku. Dia memukul Jongin. Tapi Sehun tidak memberikanku alasannya.

"Lalu aku harus bagaimana?"

Aku pikir oppa bukan tipe orang yang skeptikal dan berpikiran klasik yang tiba – tiba marah karena anaknya melakukan kesalahan.

"Kau menyindirku?"

Well, saat ini aku bukan sebagai fans oppa, tapi sebagai adik dari sahabatmu Chanyeol. Bicaralah baik – baik dengan Sehun dan tanya alasannya mengapa dia melakukan itu.

"oke."

Jika tidak berhasil, aku akan datang bersama Chanyeol ke apartemenmu.

Kris mematikan telponnya. Ia kembali mengetuk pintu kamarnya dan berbicara sangat lembut. Membujuknya untuk membukakan pintu, tak lama kemudian terdengar suara kunci yang di putar.

Ketika Kris membuka pintunya, Sehun langsung berlari ke atas kasur dan menguburkan dirinya dibalik selimut bercorak Iron man tersebut. Terdengar nafasnya yang tidak beraturan juga sesenggukan. Kris merutuki dirinya yang sempat di makan emosi tadi.

Dia mencoba membuka selimut Sehun, tapi Sehun semakin mengeratkan selimutnya.

"Sehun maaf."

Kris duduk di atas kasur tepat di sampingnya, mencoba menarik selimutnya kembali.

"Sehun!" nadanya meninggi, membuat Sehun bergerak menjauh dari tempat Kris duduk.

Dengan sigap, Kris menarik tubuh Sehun yang masih terbalut selimut ke dalam gendongannya. Membuat sehun terkejap kaget dan kembali menangis. Dengan posisi duduk, sambil menggendong Sehun yang menangis, Kris mengelus punggungnya.

"Kau tidak lelah dari tadi menangis? Nanti kau pusing." Bahunya telah basah oleh air mata Sehun.

"Uljima (jangan menangis), ayah sedih melihatmu menangis terus – terusan. Maaf untuk yang tadi."

Sehun mencoba menghentikan tangisnya hingga tersisa senggukan – senggukan kecil. Kris mengusap air mata Sehun. Mata dan hidungnya merah juga bengkak, membuat hatinya perih seperti di sayat oleh belati secara perlahan. Sungguh ia merasa sangat berdosa akibat kejadian beberapa jam yang lalu.

Kris pikir dia telah siap menjadi orang tua yang baik untuk Sehun tapi ternyata tidak, ia masih jauh dari itu. Ia kira dirinya bisa melakukan cara yang berbeda dalam mendidik Sehun tidak seperti ayahnya, tapi setiap mengingat yang dilakukannya tadi, tak ada bedanya ia dengan ayahnya.

"Maaf ayah." Akhirnya Sehun berucap juga.

"Oke, ayah juga minta maaf. Ayah hanya lelah setelah bekerja non stop beberapa hari terakhir ini, juga perkataan yang tadi itu tidak benar."

Sehun mengerti kalimat mana yang dimaksud ayahnya tadi.

"Apa aku beban?" tanyanya pelan dan nampak ragu – ragu.

"Tidak, setidaknya jika memang kau beban, kau adalah beban yang tidak memberatkanku. Justru membuatku bersemangat."

"Benarkah?"

Kris mengangguk, "Maaf untuk tidak menemanimu selama seminggu ini."

"Aku mengerti ayah sibuk."

Mencoba mengalihkan topik, "Kau mau bercerita apa yang terjadi di sekolah?"

Sehun menunduk, ia tidak menjawab atau mengajukan pertanyaan. Setelah beberapa lama dalam diam, Kris berucap dengan sangat tenang, "Aku berjanji tidak akan marah."

"Janji?"

"Ya, janji." Lalu mereka berdua melakukan ritual promise finger, saling menautkan kelingking mereka dan menempelkan kening Kris pada kening Sehun.

"Aku memukul Jongin." Pernyataan Sehun tidak mengejutkannya.

"Bukankah katamu Jongin adalah temanmu, bahkan kau ingin mengajaknya kesini?"

"Ya."

"Lalu kenapa kau melakukannya?"

"Karena dia bergabung dengan anak – anak itu dan mulai mengataiku?" Tangan sehun memilin ujung baju seragamnya.

Sedangkan Kris, dia benar – benar clueless terhadap semua penjelasan Sehun. Banyak pertanyaan memenuhi otaknya. "Mengatai apa?" dia mulai menanyakannya satu persatu karena jika sekaligus Kris takut Sehun menutup diri.

"Mereka bilang hal yang buruk tentang ku dan juga dirimu. Jongin juga ikut – ikutan."

Kris semakin bingung, apakah teman – teman Sehun tahu bahwa dia adalah ayah Sehun. "Tentang ku?"

"Mereka mengatai ayah sebagai seorang mafia dan mulai mengataiku yang lain lagi. Sesekali juga menggangguku." Kris mengambil satu kesimpulan, anaknya sudah mengalami pem -bully-an di sekolahnya.

"Lalu mengapa kau memukul Jongin?"

"Karena dia juga ikut mengataiku sebagai anak seorang mafia, dia bilang dia tidak mau berteman dengan ku karena aku anak seorang penjahat dan tidak jelas."

Kris melihat Sehun terenyuh sekaligus merasakan rasa sakit yang amat sangat. Sehun telah berjuang sendirian menghadapi dunia luar yang seharusnya ia juga ikut menanggungnya.

"Kau tahu mengapa Jongin melakukan itu?"

Sehun menggeleng, "Sebelumnya dia hanya bilang ingin main kerumahku, lalu aku melarangnya karena kau bisa saja marah jika aku mengajak seseorang kesini padahal kau tidak ingin ada yang tahu bahwa kau adalah ayahku."

Petir menyambar hatinya, tangannya refleks memeluk Sehun erat tanpa ingin melepaskannya.

"Sehun, ayah minta maaf."

Bingung menjawabnya seperti apa, sehun hanya berdiam diri. Kris tiba – tiba memeluknya mengalirkan perasaan hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah puas memeluknya, ia mengelus rambut Sehun.

"Sehun, jangan melakukannya itu lagi. Ayah tak suka kau memukul orang lain. Seorang laki – laki, tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, oke?"

"Oke." Serunya tenang.

"Dan kau bisa membawa teman – temanmu kesini."

"Benarkah?" Sehun bertanya girang.

"Tentu."

"Tapi bagaimana jika mereka tahu?"

"Tidak apa – apa." Pelajaran yang Kris bisa ambil, apapun keadaannya tidak bisa merubah fakta bahwa Sehun adalah anaknya dan dia adalah ayahnya. Tidak ada gunanya menyembunyikan itu semua, karena suatu saat itu pasti terangkat ke permukaan.

"Surat panggilannya?"

"Ayah akan datang ke sekolahan mu dan bertemu dengan gurumu."

Kris mengangkat tubuh Sehun dari pangkuannya. "Masih ingat apa yang harus kau lakukan setelah pulang sekolah?"

"Mengganti baju." Serunya ceria.

"Gantilah baju, lalu kita pergi jalan – jalan."

Sehun langsung pergi menuju lemari dan mencari baju yang cocok untuk ia kenakan. Sebenarnya Kris amat lelah dan tidak memiliki tenaga untuk bisa berjalan lagi. Tapi sepertinya ia harus membalas rasa kesepian Sehun semenjak ia meninggalkannya seminggu yang lalu.

Kris merencanakannya secara mendadak, Pergi ke Sungai Hangang sambil mengajarkan sehun bersepeda, menghabiskan waktu sorenya sambil menunggu malam tiba dan berakhir dinner berdua di restoran daging panggang.

Melihat Sehun tersenyum senang, menghilangkan rasa letihnya sementara walau lingkaran hitam pada matanya tidak bisa serta merta dapat menghilang begitu saja.

.

.

Sepanjang perjalanan Sehun tak berhenti bernyanyi, suasana hatinya sedang sangat baik setelah menangis tadi. Dia juga tidak berhenti mengajukan pertanyaan.

"Ayah, ini hanya kencan kita berdua?"

"Ya."

"I feel Exciting."

"Kau mengerti artinya?"

"Tentu, aku kan si jenius anak ayah."

Kris lagi – lagi tersenyum, pandangannya sesekali ia alihkan pada Sehun lalu kembali ke arah jalanan di depannya. Secara tidak sengaja, ekor mata Kris melihat keganjilan pada pakaian yang Sehun kenakan. "Sehun, itu celana yang ayah belikan beberapa bulan yang lalu kan?"

Pandangannya beralih pada celana berwarna abu gelap yang dikenakannya. "Hemp, Waeyo (kenapa)?"

"Tidak, hanya saja kau bertambah tinggi. Celananya terlihat sudah mengatung. Nanti Ayah akan bilang pada paman Chanyeol atau Kyungsoo Noona untuk membelikanmu celana yang baru."

Sehun hanya mengangguk cepat dan dia mulai men -scan Kris juga perasaan hatinya. Dirasa mood Kris tidak terlalu buruk, Sehun mencoba menanyakan sesuatu.

"Ayah, apa aku punya Ibu?"

Ting, pikiran Kris melayang pada sosok yang ingin di lupakannya, Sena Ibu dari Sehun. yang mengajukan pertanyaan mencoba memantau respon kris dengan takut, tapi Kris nampak tenang. Tapi Sehun tidak tahu bahwa sebenarnya tangan Kris menggenggam Setirnya erat hingga buku – buku jarinya memutih.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Kalau Sehun punya ibu, dia pasti yang akan membelikanku sepasang pakaian."

"Ayah bisa membelikannya untukmu."

"Tapi ayah.."

Belum selesai ia berbicara Kris memotongnya, "Sehun, kita bicarakan ini dilain waktu."

Selalu saja seperti ini, setiap ia menyinggung mengenai statusnya. Kris akan mencoba mengalihkan pada topik yang lain atau mendadak menghentikan percakapan mereka.

Setelah memakirkan mobil, Sehun keluar dari mobil dengan gembira. Perasaannya tidak bisa ia gambarkan dengan kalimat apapun walaupun tadi sempat mengalami kekecewaan karena Kris masih belum mau menceritakan atau berbagi keadaan yang sebenarnya dengannya.

Berkebalikan dengan Sehun, Kris nampak was – was. Setelah memakai topi dan hoodienya, dia keluar menyusul Sehun yang berlari menuju tempat penyewaan sepeda.

"Sehun jangan berlari." Teriaknya, tapi sepertinya Sehun tidak mendengar karena anak itu terus berlari – lari riang.

Mau tak mau Kris tersenyum lembut melihat tingkah Sehun, dirinya memang lelah dan was – was karena mungkin saja jati dirinya akan terungkap hari ini. Tapi melihat Sehun seperti itu membuatnya membuang jauh – jauh pikiran tadi.

Ia bisa melihat orang – orang di sekitarnya mulai menatapnya cermat, mungkin mereka mulai menebak – nebak apakah benar ini Kris, seorang publik figur yang mereka tahu. Kris membalasnya tak acuh dan mulai berlari menyusul Sehun.

Dia juga mematikan Handphonenya agar tidak ada seorang pun yang dapat mengacaukan kencan mereka berdua. Seperti Chanyeol yang mengamuk karena ia keluar tanpa penjagaan terlebih lagi bersama Sehun, orang asing yang ternyata adalah anaknya sebagai buah dari kesengajaan tanpa dilandasi cinta. Benar saja, di lain tempat, Chanyeol yang sedang santai mendadak rusuh karena beberapa orang mengirimkannya pesan yang membuatnya kalang kabut.

Setelah menyewa sepeda untuk Sehun, Kris mulai mengajarkan Sehun menggunakan sepeda.

"Aku tidak bisa."

"Baru juga mencoba beberapa kali kau sudah menyerah?"

"Ini lebih sulit dari yang kubayangkan." Keluhnya sambil mencoba beberapa kali mengayuh pedal, Kris tetap memegang bangku sepeda yang di naiki Sehun tanpa hendak melepasnya.

"Katanya jenius." Canda Kris, meledek Sehun.

"Tapi aku tidak bilang jenius mengendarai sepeda." Belanya sambil mengirimkan sinar – sinar kesal ke arah Kris.

"Yang namanya jenius itu bisa belajar lebih cepat, sepertinya tes IQ mu itu bohong."

"Ayah sendiri bisa naik sepeda?" Tanya Sehun kesal karena terus – terusan di ledek.

Kris melepas pegangannya dan mulai menyombongkan diri, "Tentu!"

Sehun berpikir sejenak lalu memberikan Saran, "Kalau begitu ayah dulu yang mengendarai sepeda, aku mungkin bisa melihat dari cara ayah mengendarai sepeda."

"Tapi sepeda ini terlalu kecil untuk ku, tinggiku 187 Sehun."

"Cih, sombong." Kalimat itu mendapat hadiah jitakan sayang dari Kris. "Banmal (informal) mu itu Sehun."

"Sorry –dengan logat yang dibuat-buat– kalau begitu kita bisa menyewa sepeda untuk ayah." Sarannya lagi.

"Sehun, belajar dengan melihat dan belajar sambil praktek itu jauh lebih bagus yang sambil praktek." Tolak kris sambil memberikan opsi.

"Ayah?"

"Ya?"

"Kita berjanji untuk saling jujur kan."

"Hemp." Jawabnya sambil sesekali melihat ke sekitar.

"Jujur ya, Ayah tidak bisa mengendarai sepeda kan?"

Kris tergagap mencoba mencari jawaban yang cocok, "Bisa kok."

"Ey, katanya harus jujur." Kali ini Sehun yang meledek Kris puas.

"Kalau tidak bisa memangnya kenapa?" Tanyanya angkuh, mencari kepercayaan diri.

Sehun mengendikkan bahunya dan mulai mengayuh pedalnya lagi. Setelah beberapa kali gagal dia akhirnya berhasil.

"Tidak kenapa – napa, hanya saja ayah lebih bodoh dari padaku." Dia memeletkan lidahnya sambil mengayuh sepeda, alhasil Kris yang merasa di permalukan berbalik mengejar Sehun. Selain karena ingin memarahinya juga karena khawatir Sehun akan jatuh. Dia menghentikan sepeda Sehun dan mulai menghadiahinya jitakan di sana sini.

Di sela tawanya, tiba - tiba seorang wanita nampak tidak terlalu tua, mungkin sekitar umur 25 – an menghampiri Kris, "Maaf, apa anda Kris?"

Mereka berdua mendadak berhenti tertawa, Sehun langsung melihat Kris yang mulai tidak tenang. "Ya, aku Kris." Dia tidak menyangka Kris, ayahnya menjawabnya dengan jujur.

"Ah, kau benar Kris Oppa. Aku fansmu." Serunya girang. "Bisakah kita berfoto bersama?"

"Tentu."

Baru saja dia hendak berfoto bersama, wanita itu beralih memandang Sehun karena tangan Kris yang memegang sepeda Sehun. Dia pikir anak itu mempunyai ikatan kedekatan dengan Kris.

"Dia siapa? Keponakanmu? Sungguh lucu dan mirip denganmu."

Wanita itu menatap lekat pada Sehun, membuat lawan tatapannya hanya bisa tersenyum kikuk.

"Kita bisa berfoto bersama." Ajak wanita itu pada seseorang yang dianggapnya keponakan Kris.

Kris menyangkal, "Dia bukan keponakanku, dia anakku." Sambil menampilkan senyum yang di paksakan.

Wanita itu mengernyit bingung, kembali menatap Sehun. Sedangkan yang menjadi topik pembicaraan mereka hanya bisa diam karena terkejut.

"Aku tidak tahu kalau Kris oppa pandai bercanda." Tawanya lepas.

"Aku tidak sedang bercanda, dia benar anakku." Kris masih mencoba meyakinkannya.

Lawan bicaranya masih tidak bisa berhenti tertawa, "Dengan siapa? Salah satu fansmu oppa?" Tanyanya dengan di selingi canda.

Kris kembali kikuk, dia berani menjawab dengan jujur karena setelah hari ini dia sangat yakin bahwa dunia mulai menguak jati dirinya. Sebagai seorang artis, dia menyadari bahwa fans adalah segalanya. Jika tidak ada fans, maka dia juga tidak akan ada. Maka dari itu, ia berani membeberkan semuanya sebelum yang lain tahu dari media – media busuk yang sedari tadi ketahuan mengintai Kris juga Sehun.

"Kau tidak berbohong, Oppa?" Kris mengangguk.

"Tapi dengan siapa?"

"Namamu siapa?" Kris malah balik bertanya.

"Park Seunghee."

"Kau fans ku sejak kapan?" lagi – lagi mengajukan pertanyaan.

"Sudah 5 tahun ini."

"Kau tahu banyak tentangku?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu, aku akan memberi tahumu sebuah rahasia yang akan mengejutkanmu dan sebuah perkenalan singkat. Setelahnya bisa jadi kau menjadi benci padaku. Jika begitu kau masih mau jadi fansku?"

Wanita bernama Seunghee itu hanya mengangguk ragu.

"Seunghee ssi, kenalkan ini Wu Sehun. Dia anakku, berumur 10 tahun. Mengenai ibunya maaf aku tidak bisa menceritakan bagian itu."

Kris menggenggam tangan Sehun, "Ayo Sehun perkenalkan dirimu pada Seunghee Noona."

Sehun membungkuk formal, "Annyeong Haseyo, Noona. Wu Sehun imnida."

"Jadi benar?" dia hampir saja tidak bisa berkata apapun.

"Ya, maaf. Aku sudah menyembunyikannya dari kalian semua. Keputusannya tetap ada di tangan kalian."

Sehun dan Kris pamit meninggalkan wanita itu, tapi baru beberapa langkah terdengar sebuah kalimat yang membuat Kris hampir saja menangis terharu.

"Kris oppa, aku tetap mendukungmu. Sehun, salam kenal. Lain kali hadir ya jika ada fanmeet."

Sehun berlari menghampirinya dan memeluknya erat, sambil berbisik, "Noona, terima kasih. Jangan benci ayahku dia orang yang sangat baik." Setelah mengucapkan kalimat itu dia berbalik menghampiri Kris lalu menggenggam tangan Kris erat.

.

.

Setelah mencapai mobil dan mendinginkan tubuh mereka melalui pendingin di dalam mobil. Kris mengaktifkan handphonenya kembali.

"Ayah mengapa bilang seperti itu pada orang tadi?"

"Lalu sehun mau aku menjawab apa?"

"Jawaban seperti biasa, aku masih bisa berpura – pura sebagai keponakan ayah."

Kris merangkul sehun sebentar dan merapikan rambut Sehun yang basah karena keringat.

"Sehun, kau tidak sakit hati jika ayah berkata seperti itu?"

"Tidak, aku bisa menganggap seperti aku berakting."

"Tapi ayah yang sakit, Sehun." kata – kata itu pelan di ucapkan tapi Sehun masih dapat mendengarnya.

"Eh, Wae (Kenapa)?"

"Karena ayah tidak bisa berakting seperti kau bukan anakku. Jadi biarkan seperti ini."

Sehun memeluk Kris tanpa ingin melepaskannya. Ternyata beginilah perasaan ketika dirimu di butuhkan dan di anggap berharga oleh orang yang kau sayangi.

Kris melepaskan pelukan Sehun setelah beberapa saat dan ketika handphonenya berdering. Dirinya sudah yakin bahwa penelpon itu adalah Chanyeol tanpa harus melihat id caller.

Kris, apa yang kau lakukan. Kau cari mati hah?!

"Aku sudah memperingatkanmu untuk bersiap – siap bukan."

.

.

To Be Continue

.

Full Krishun saya persembahkan pada reader semua, setelah chapter kemarin moment mereka berdua sedikit.

Untuk chapter kemarin, author benar – benar minta maaf karena banyaknya typo. Di chapter ini sudah saya edit, tapi kasih tahu ya kalau ada typo lagi. Kadar konsentrasi sedang turun naik kayak roller coaster nih.

FF ini mungkin akan berakhir beberapa chapter lagi setelah konflik yang cukup besar terjadi tapi tenang saja konfliknya gak berat kok. Hehehe

Selalu, saya ucapkan banyak terima kasih untuk yang baca, rev, fav dan follow. Semoga kalian semua tidak kecewa.

Big Hug

ESH1608