Chapter 1
The 1st Encounter
Reminder
"Kamu menjengkelkan.." gerutu wanita itu. Pria itu akhirnya berjalan mendekati dan memutar tubuh istrinya sehingga berhadapan langsung dengannya. Mata mereka saling bertemu. Wanita itu nggak bisa berbohong, ia sangat, sangat, sangat, mencintai sepasang mata milik suaminya. Mata yang sanggup membuatnya tenggelam. Melihat keadaan istrinya yang sepertinya sedang daydreaming, seringai khasnya muncul menghiasi wajahnya.
"Like what you see, babe?"
"My children! Opa punya pengumuman!" seru Opa Makarov yang sedang asyik berkacak pinggang di atas pagar pembatas balkon lantai 2 di Guild paling berisik dunia akhirat, Fairy Tail. Semua kepala mendongak dan memusatkan perhatiannya ke sosok kecil beruban tersebut.
"Cecee… feeling aku kok.. nggak enak ya?" bisik Lucy dengan wajah masam ke arah Cece Mira yang sedang sibuk mengeringkan gelas-gelas di bar.
"Nggak tahu , say…" jawab Cece Mira sambil mengedikkan bahunya. Sembari menyeruput Strawberry Milkshakenya yang masih super dingin, Lucy menerka-nerka hal apa yang akan disampaikan oleh Opa Makarov kali ini.
'Kalau nggak soal misi, perang, festival, pasti duit…' pikir Lucy.
"Dengerin! Tahun ini! Eh.. Miraa! Tahun berapa ini!?" seru Opa yang mengundang banyak kepala bersweatdrop ria.
"Heeh.. X792 Opaa…" jawab Cece Mira sambil memijat-mijat pelipisnya.
"Oya X792! Tahun ini, kitaaaaa… Natalan di Pulau Eden!" seru Opa sambil mengepalkan kedua tangannya di udara.
"YEEEEEEYYY!" sorak penghuni guild yang diiringi oleh bunyi gelas-gelas yang saling beradu.
"Kita akan berlibur sampai saat Valentine!"
"Aaaaawww…" suasana guild riuh rendah menyambut momen liburan panjang yang akan mereka jalani.
"Ne? Pulau Eden?" tanya Lucy.
"Lo nggak tahu Pulau Eden, cin?" tanya Jeng Cana yang disambung dengan sendawa maha dahsyat yang langsung menyerang wajah Lucy dan Cece Mira.
"Hoek.. Sumprit Jeng! Lo makan jengkol ya? Bau jigong lo kaya kentut!" Cece Mira sewot nggak karuan karena hidungnya terkontaminasi dengan bau terlarang. Lucy cepat-cepat mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda setuju dengan Cece Mira. Mendengar komentar dari 2 cewek di depannya, Jeng Cana hanya tertawa ngakak.
"Yeee.. Lo kaya nggak tahu aja camilan gue sehari-hari semur jengkol sama sambal goreng pete! Wkwkwkwkwkw…." Jawabnya sambil meneguk segelas besar beer favoritnya. Tawa khas wkwkwk-land menggema nyaring.
"Paling nggak, kamu sikat gigi dong Jeng!" seru Lucy nggak kalah sewot.
"Aduh.. tuh dia… sikat gigi gue tadi pagi nyemplung ke toilet.." balasnya sambil nyengir kuda. Lucy dan Cece Mira yang mendengarnya langsung menganga nggak karuan. Baru kali ini mereka menemukan seorang cewek, masih perawan, juoroknya setengah mampus. Gimana nasib anak dan suaminya nanti?
"Ja-jadi.. lo nggak sikat gigi say, hari ini?" tanya cewek barmaid itu dengan wajah jijik.
"Uhm… sikat gigi dong!"
"Yeeeek!" seru Lucy yang sudah bergidik jijik. Ia membayangkan Jeng Cana yang menggosok gigi dengan sikat gigi yang sudah nyemplung, terjun bebas ke toilet.
"Gue kaga sejorok itu, Blondie sayaaaaang… udah berbusa kali gue kalo sampe gue beneran sikat gigi pake sikat gigi itu…" jawab Jeng Cana dengan gemas, seakan-akan tahu benar apa yang ada di dalam pikiran Lucy.
"Terus? Pake apa?"
"Pake jari..wkkwkw… tinggal kasih odol, gosok-gosok deh ke gigi" Mereka ber-2 hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku Jeng Cana yang jorok.
"Ehhh… pertanyaanku belum dijawab… Pulau Eden tuh apa sih?" rengek Lucy sambil mencolek-colek Jeng Cana.
"Pulau Eden itu tempat langganan Fairy Tail untuk ngerayain Natal say.. tempatnya bagus banget! Ada tempat ski, ada pemandian air panas, ada casino, kafe 4 musim, wishing maze, pokoknya bagus banget deh say!" ujar Cece Mira yang matanya sudah blink-blink membayangkan Pulau Eden.
"Owh ya? Wah… pasti keren banget ya… jadi pingin cepat-cepat ke sana.." angan-angan Lucy melayang jauh, membayangkan kenikmatan menikmati liburan dengan hiburan yang nggak terbatas. Pikirannya terganggu saat Opa Makarov memberikan pengumuman lagi.
"YOOOOO! Semua! PULANG!" suara Opa menggelegar bagai halilintar. Terdengar banyak suara tercekat memenuhi ruangan.
"Opa! Kok kita diusir!?" seru Natsu yang kebingungan.
"Dalam waktu 2 jam! Eh, nggak mungkin juga kali…" Opa Makarov menggaruk-garuk kepala botaknya dan melihat jam dinding di dekat kantornya.
"Hm, besok pagi, paling lambat pukul 7, kembali ke sini, dengan segala gudang pakaian kalian! Yang terlambat... yang bayarin semua biaya liburan!" dengan seruan dari kalimat terakhir itu, sontak penghuni guild membabi buta dan saling sikut berlarian keluar dari guild meninggalkan Lucy dan Cece Mira yang tersungkur di lantai akibat insiden sikut-sikutan.
Lucy membantu Cece Mira bangkit, kemudian meregangkan otot-ototnya yang kaku, sebelum berpamitan pulang. Seketika suasana guild menjadi sunyi ketika Lucy menghilang dari balik pintu guild. Cece Mira melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 10.58 malam. Seraya merapikan rambutnya, ia berpamitan dengan Opa Makarov, yang disambut dengan gumaman, pulang ke Fairy Hill.
Keesokan paginya…
"Natsu, sekali lagi kamu bongkar-bongkar koperku, mandul kamu!" pekik Lucy dengan jengkel. Natsu langsung banjir keringat dingin melihat kobaran aura gelap yang menguar dari dalam diri Lucy.
"Gue 'kan cuma mau bantu lo bawain barang.. berat ya thoh.." jawabnya.
"Ya tapi bukan berarti kamu keluarin semua baju aku di tengah jalan terus kamu bawa lari kopernya, somplak! Malu tahu, baju dalem sampe kececeran di tengah jalan!" sembur Lucy dengan ganas.
"Bener begitu, Natsu?" bocah malang itu mendadak beku begitu menyadari suara yang berbicara dengannya.
"Natsu?" panggil suara itu lagi. Dengan terpatah-patah, ia menoleh ke belakang hanya untuk bertatapan langsung dengan baju zirah dari Tacik Erza. Pemilik Rambut Tomat itu menatapnya dengan pandangan sinis dan menyelidik.
"Tacik! Aku dipermalukan sama Natsu..huhuhuhu…" Seru Lucy sambil merengek-rengek manja ke Tacik.
-PANG!-
Semua orang yang mendengar langsung memasang wajah kesakitan. Gimana nggak, Tacik Erza dengan penuh cinta kasih langsung merengkuh kepala Natsu dan menghantamkannya ke baju zirah kebanggaannya.
"Itu hukuman untuk mempermalukan seorang Lady." Ujar Tacik Erza yang disambut dengan high-five dari kaum hawa. Para pria yang mendengarnya jadi semakin ciut nyalinya apalagi setelah melihat Natsu yang terkapar berbusa.
"Oi oi bocah!" seru Opa Makarov. "Semua udah kumpul?"
"Bentar Opa, saya absen dulu." Sahut Teh Bisca. Semua orang dengan sigap, segera menuju bangkunya masing-masing menunggu giliran di absen.
"Tacik Erza?"
"Hadir!"
"Lucy?"
"Aye!"
"Cece Mira? Babe Laxus?"
"Di sebelahnyaa Lucy…~"
"Levy-chan? Droy? Jet? Encang Gajeel?"
"Hadir bos!"
"Natsu? Akang Gray?"
"Berbusa dan hadir!" sahut Akang Gray yang sedang asyik mengelamuti es baloknya.
"Madam Juvia, Bang Alzack, Meme Lissana, Koko Elfman, Tante Evergreen, Mas Freed, Cak Bickslow, Asuka-chan, Neb, Om Macao, Sinyo Romeo, Nonik Wendy?"
"Yosh!" seru mereka berbarengan. Absensi berjalan selama sekitar 15 menit dan setelah semua sudah tercatat kehadirannya, mereka beramai-ramai menuju pelabuhan Hargeon. 1 jam perjalanan mereka tempuh dengan kereta dan seperti biasa, para Dragon Slayer, kecuali Nonik Wendy, mabuk kepayang dibuatnya. Saat ketiga Dragon Slayer melihat penampakan kapal pesiar, dengan segera wajah mereka pucat pasi dan menghijau. Nonik Wendy tertawa kecil dan membagikan pada mereka masing-masing botol kecil berisi pil kecil berwarna ungu.
"Ini, Nonik buatkan obat untuk menangkal mabuk kendaraan selama kita liburan. Jangan dikonsumsi sembarangan ya, jumlahnya terbatas. Sehari sekali saja, cukup kok. Kalau tidak naik kendaraan sebaiknya tidak perlu diminum ya." Tiga pria mabuk itu bersorak kegirangan saat menerima botol yang dimaksud dan dengan cepat menenggak sebutir pil. Wajah hijau kembali merona segar dan dengan angkuh, Encang Gajeel, Natsu, dan Babe Laxus melenggang memasuki kapal pesiar.
Kapal yang membawa mereka cukup besar dan sanggup untuk menampung sekitar 1500 penumpang dan awak kapal. Setelah mengurus segala persiapan yang dibutuhkan, satu setengah jam kemudian Fairy Tail berlayar menuju laut lepas. Durasi perjalanan yang mereka ikuti adalah 6 hari. Berhubung mereka akan menetap di Pulau Eden hingga Valentine, bisa dipastikan, mereka tidak akan ikut rute perjalanan pulang kapal pesiar. Opa Makarov membebaskan personil Fairy Tail pulang ke Magnolia dengan transportasi apapun.
Kapal yang membawa mereka berlayar layaknya kapal pesiar modern, besar, dilengkapi dengan restaurant dan kamar dengan 4 tipe, ruang dansa, butik, minimarket, casino, gymnasium, dan masih banyak fasilitas yang tersedia di dalam kapal tersebut. Fairy Tail secara eksklusif memesan seluruh kamar Palace Suite yang masih tersedia. Hampir semua personil Fairy Tail mendapatkan kamar pribadi, tanpa perlu berbagi dengan personil lainnya, kecuali personil tersebut merupakan 1 keluarga
"Gile… lagi kaya nih Opa Makarov! Sampai booking semua kamar Palace. Masing-masing dapat kamar sendiri pula." celetuk Om Macao yang disetujui oleh Sinyo Romeo.
"Nyo Romeo, nanti kita renang yuk!" pinta Nonik Wendy dengan wajah yang memerah.
"Aiihh,.. imut banget merekaaa.." pekik Meme Lissana dan Nona Laki berbarengan. Yang dipuji, hanya bisa menyembunyikan wajah masing-masing yang sudah memerah seperti tomat.
"Uhm.. Oke, Nik" jawab Sinyo kecil itu malu-malu. Di lain tempat, Di kamar Lucy…
"I Open Thee, Gate of The Canis Minor, Nikora" – poof – sebuah asap yang berkilauan muncul di hadapan Lucy.
"Punn puunn…" Plue muncul dengan gaya khasnya yang shaky-shaky, membuat Lucy ber-squealing saking gemasnya dengan Plue yang polos tak berdosa.
"Plue! Kamu mau 'kan temani aku spa?"
"Puun puuun puunn!" jawab Plue sambil menari-nari dengan gerakan yang amat lucu.
"Oke! Sebentar ya, aku mau bereskan barang dulu." Cewek pirang itu membongkar isi kopernya dan mulai menempatkan isinya di lemari pakaian yang tersedia.
"Kamar yang terlalu bagus untuk seorang diri…"gumamnya. Sambil menata beberapa perlengkapan pribadi miliknya, ia mendengarkan lagu-lagu favoritnya dengan headphone yang tersambung ke lacrima playernya dan tidak menyadari keributan yang terjadi di luar.
"Sir! Maaf, ini benar-benar kesalahpahaman. Kami akan co-"
"Gah! Berisik! Gue yang booking kamar ini duluan! Gimana sih?!"
"Tapi, Sir, ada kesalahpahaman yang perlu kami lu-"
"Shut up! Gue nggak mau tahu, pokoknya gue mau kamar gue, sekarang!"
"Tapi, Sir, bagaimana kalau di dalam ada orang?!"
"Bodo! Buka pintunya sekarang, kasih ke gue kartunya, bro!"
-Braak!-
Sosok pemrotes itu memasuki ruangan, menutup pintu dan bersandar di pintu tersebut. Dengan menghela nafas panjang, ia akhirnya mengangkat kepalanya untuk melihat kamar yang menjadi sumber pertengkaran sebelumnya. Di saat matanya berusaha mengenali kamar itu, pandangannya terhenti. Ia terdiam mematung, tangannya masih memegang knob pintu. Matanya melotot dan membulat, mulutnya menganga. Di hadapannya, seorang gadis dengan rambut pirang sedang memunggunginya, mengenakan headphone, melakukan suatu tarian hip hop, dan yang paling membuatnya syok 7 samudra adalah, gadis itu sedang berganti pakaian.
Plue yang kaget akan kedatangan orang asing, dengan kikuk menepuk-nepuk kaki Lucy, satu tangannya menunjuk-nunjuk arah pintu.
"Puuuunn...!! Puuunn!!"
Mendapati Plue yang berusaha memanggilnya, Lucy yang hanya mengenakan bra dan rok mini, blouse tergeletak di lantai, berputar dan membuka matanya dan mendapati sosok asing berada di dalam kamarnya. Sosok itu terpaku dengan wajah semerah tomat dan parahnya lagi, mimisan!
"KYAAAAA!"
"HUUAAAA!"
Jeritan gadis itu membuat sosok asing tersebut ikut-ikutan teriak dengan panik. Gadis malang itu langsung berlari ke kasur dan menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Sementara sosok asing tersebut tersungkur lemas di pintu, saking kagetnya dengan teriakan si gadis. Telinganya berdenging dan membuatnya mulai merasakan pusing.
"Si-siapa kamu!? Ngapain kamu di kamarku!?" Pekik Lucy dari balik selimut. Ia malu bukan main melihat keadaannya saat ini. Setengah telanjang di hadapan orang asing pula.
"E-e.. Gu-gue yang punya kamar ini.. Siapa lo?" tanya sosok tersebut dengan suara maskulinnya.
"Harusnya kamu jawab pertanyaanku! Kamu siapa!? Ini kamarku! Dasar Mesum!" pekik gadis itu dengan panik.
"Ma-maa.. Hei! Gue nggak mesum! Ini emang kamar gue! Cih! Gue Sting! Sting Eucliffe dari Sabertooth! Siapa lo!?" tanyanya lagi dengan keras. Mendengar nama 'Sting Eucliffe', gadis itu mendadak melongokkan kepalanya dari balik selimut. Mata karamelnya yang besar dan indah, memandang sosok 'Sting Eucliffe' dengan pandangan tak percaya.
"Sting? Sting Eucliffe?" tanya gadis itu dengan wajah bloon. Melihat kelakuan aneh dari gadis itu, Sting berdiri dan menghampiri gadis itu untuk mengamati wajahnya dengan lebih dekat. Kartu untuk membuka pintu kamar, ia masukkan dalam saku celananya. Perlahan, ia letakkan ransel berisi pakaiannya di kursi sofa.
"Blondie!?" serunya dengan wajah super syok. Mereka berdua saling bertatap muka dengan ekspresi yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Ngapain lo di sini?" tanya cowok itu dengan nada menyelidik. Cewek mungil itu menatapnya dengan wajah heran.
"Aku? Aku.. aku berlibur ke Pulau Eden dengan Fairy Tail dan sebagai informasi, ini kamarku, Sting!" semprot Lucy dengan sewot.
"Eden? Waow, gue juga ke sana. Tapi, hei! Ini kamar gue! Gue yang booking kamar ini duluan!" balasnya nggak kalah sewot.
"Kapan kamu booking? Fairy Tail udah bayar kamar ini tahu!"
"Gue juga udah bayar, Blondie! Lo sendiri, kapan booking?"
"Aku nggak mau jawab kalo kamu nggak jawab juga!" ia menjulurkan lidahnya dengan ekspresi yang menggemaskan dan sempat membuat Sting mendengus, mencemoohnya.
"Cih! Ngerepotin banget. Oke kita bilang sama-sama. Deal?"
"Deal." Sebuah tarikan nafas panjang mendahului mereka berdua dan..
"3 bulan lalu, Blondie." Jawab Sting datar. "Tepatnya, tanggal 28 bulan 9." Lanjutnya seraya menyilangkan tangan di depan dada. Lucy mengedipkan matanya berkali-kali dengan cepat.
"Sama kok…" gumamnya. Sting memutar bola matanya dan mendengus pelan.
"Kok bisa sih yang ngelayanin booking kamar bego gini!? Kalau semua kelas 1 sudah dibooking, seharusnya nggak bersisa lagi 'kan?" umpat Lucy.
"Dunno, waktu gue booking mereka bilang masih ada sisa 1, ya gue iyain ajalah." Jawab Sting. Lucy meliriknya sekilas dan menarik napas panjang. Tak habis pikir, pelayanan perjalanan mewah tidak sejalan dengan harga yang mereka bayar. Kini, giliran Sting menghela napas panjang.
"Well, Blondie… berhubung kita berdua udah bayar, daaaaan! Gue nggak mau yang namanya pindah ke kamar selain tipe Palace, gue putuskan, kamar ini, milik kita berdua!" klaim Sting dengan cuek.
"Eh!? Kok gitu sih!? Lagian, kamu kan cowok!"
"Heh… terus? Apa karena gue cowok dan lo cewek, berarti gue pasti bakal macem-macem sama lo?" tanya Sting. Satu alisnya mencuat, menunggu jawaban dari Blondie.
"Uhm… ya nggak sih… Kita juga udah saling kenal.. Tap-"
"Haizz… Pake baju dulu sana. Kalo lo nggak terima, lo aja yang pindah ke kamar lain. Gue sih masih mau menikmati kamar ini." Jawabnya. Ia berjalan mengitari ruangan dan menemukan sebuah kulkas kecil di mini bar counter, bersebelahan dengan ruang tamu, yang menyimpan sejumlah botol softdrink, beer, dan air mineral. Ia mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya dengan cepat. Mendengar komentar logis dari Sting, Lucy melihat ke dirinya sendiri yang setengah telanjang dan memutuskan untuk setidaknya berpakaian dulu sebelum lanjut berdebat dengan penyusup yang sudah membuatnya malu setengah mati. Susah payah, ia merayap ke pinggir kasur, masih tetap dengan keadaan tubuh yang terbungkus selimut. Tangannya menggapai-gapai, berusaha mengambil blousenya yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Setelah beberapa kali mencoba dan akhirnya berhasil, ia segera memakainya di dalam selimut. Sting tertawa kecil melihat tingkah konyol Lucy.
"Udah selesai?"
"Hu-uh." Jawab gadis itu sambil merapikan pakaiannya. Sting mengitari kasur dan duduk tepat di samping Lucy. Matanya mengamati gadis mungil itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Sting Eucliffe." Ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya.
"Hmm? Bukannya kita sudah saling kenal ya?" Sting menepukkan botol air mineral kosong ke kening Lucy, tersenyum kecil. Fairy itu meringis sebal sembari mengelus keningnya.
"Nggak secara layak. Kalau kita mau berbagi kamar, lebih baik dimulai dengan baik, 'tul?" gadis itu mengangguk pelan dan menggumamkan namanya sendiri, tidak ambil pusing, karena ia yakin Sting bisa mendengarnya melalui pendengaran sensitifnya.
"Gimana? Lo pindah atau stay? Kali-kali aja mau pindah. Seneng gue." ujar Sting sambil memainkan botol kosong di tangannya. Lucy hanya menundukkan kepalanya dan sesekali melirik ke cowok itu.
"Aku nggak mau pindah. Aku juga mau menikmati kamar ini… tapi.."
"Oke. Gue anggap lo setuju dengan penawaran gue." Cowok pirang itu berdiri dan membuang botol kosong ke tempat sampah dekat mini bar counter. Tangannya diregangkan ke atas kepalanya kemudian diikuti dengan membuka jaket biru-emasnya, terlihat semacam armor hitam yang menutupi leher hingga dadanya, menunjukkan sebagian besar otot-otot tubuh, terutama otot perutnya yang sanggup membuat fangirlsnya pingsan jejeritan.
"Eh.. Eh? Ngapain buka baju?" tanya Lucy dengan panik. Di otaknya sudah terbayang-bayang berbagai macam hal yang membuatnya jadi paranoid. Sting menaikkan sebelah alisnya dan menyadari rona merah yang perlahan mewarnai wajah Lucy yang seputih porcelain.
"Gue… mau.." ia melangkah mendekat dan menyorongkan badannya ke arah cewek paranoid tersebut. Wajah mereka begitu dekat dan kedekatan mereka membuat wajah Lucy serasa terbakar. Tangannya mencengkeram pinggir kasur dan ia menutup matanya rapat-rapat. Digigitnya bibir mungilnya kuat-kuat.
"…mandi.." mendengar jawaban itu, Lucy kontan membuka matanya dan langsung melepaskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Sting tertawa kecil dan menyeringai sinis melihat sikap Lucy yang salting parah.
"Lo pasti mikir gue mau maen-maen sama lo ya? Mmm… mesum juga lo ternyata." Cuapnya. Jari tangannya menyusuri rambut spikeynya, memperlihatkan pergerakan otot yang menggiurkan, dan hal itu membuat Lucy berjuang sekuat tenaga supaya nggak mimisan.
"Ng-ngak kok! S-sok tahu!" jawab cewek cantik itu tergagap.
"Kalau iya, nggak apa-apa kok. Gue juga mau, apalagi kalau body lo kaya gitu…" seloroh Sting ngasal. Ucapannya membuat cewek itu segera bereaksi menyilangkan kedua tangannya, menutupi dadanya.
"Me-mesum!" pekiknya. Wajahnya sudah seperti udang rebus, merah merona. Sesekali ia mencuri pandang ke tubuh Sting yang dipenuhi dengan otot yang terlatih dan membuatnya semakin salah tingkah. Menyadari sikap Blondie yang curi-curi pandang ke tubuhnya, Sting menyeringai.
Lucy memanyunkan bibirnya. Sebuah memori terlintas di kepalanya. Alis menyerngit. Pandangannya bertanya-tanya saat melihat pemilik punggung kokoh yang sedang mengambil peralatan mandinya dari tas ransel di sofa.
"Gimana caranya, Sting Eucliffe, Dragon Slayer, nggak mabuk kendaraan…?" Lucy tersadar dari kemelut pikirannya saat Sting melemparkan sebuah pertanyaan, yang ditanggapinya dengan tatapan nista.
"Like what you see, babe?"
