Chapter 2

Pidachan99 : well.. itu kalimat pertama yang menjadi trademark Sting setelah bertemu dengan Lucy…nyahahaha… Kayanya jodoh banget? Iya juga sih…. Ada saran untuk kasih konflik?#plaak. Alasan Lucy nggak mau pindah? Malu-malu kucing dia..wkwkkw tapi semoga chappi ini bisa memberimu jawaban…wkwkkw… Bisa nikah sama Lucy? Enaknya kenapa ya?kwwkkw tunggu aja deh..ahaha

The ZarkMon : Hai...! Ini udah update lhoh! Hahaha semoga kesan romantisnya dapet ya..walapun kayanya agak maksa… :S #plaakk. Anyway, enjoy..hihihihi

StingyBee : wkwkwkkw… telat banget..TT_TT baru baca…. Yup, itu kalimat trademarknya Sting..hahah. Malu-malu mau tuh Lucy..#digampar Lucy. Enjoy chappi baru! hehehe


1st Memory


Reminder

"Me-mesum!" pekiknya. Wajahnya sudah seperti udang rebus, merah banget. Sesekali ia mencuri pandang ke tubuh Sting yang dipenuhi dengan otot yang terlatih dan membuatnya semakin histeris. Menyadari sikap Blondie yang curi-curi pandang ke tubuhnya, Sting menyeringai.

"Like what you see, babe?"


"Ughhh…. Cepet ke kamar mandi! Jangan sok sexy di depanku.." celestial mage itu berusaha sekuat tenaga menahan keinginan untuk menjerit-jerit alias fangirling memuja cowok angkuh di depannya. Gengsinya benar-benar harus dijunjung tinggi.

"Hhnn… lo bener-bener asyik banget buat diisengin. Jangan kangen ya.." seringainya lagi-lagi muncul dan membuat Lucy blushing nggak karuan. Ia melemparkan bantal yang ada di dekatnya ke cowok pirang tersebut, membuatnya berlari ke kamar mandi untuk menghindari serangan berikutnya.

"Ughh… ngimpi apa sih sampai harus sekamar dengan manusia congkak macem dia… udah congkak, hidup lagi! Cih.." gumamnya dengan kesal.

"Oi! Gue dengar!" Lucy yang tersentak, kaget, langsung mengelus dadanya. Ia lupa kalau Sting memiliki pendengaran yang tajam.

"Huh, menjengkelkan.." bisiknya. Ia membereskan beberapa perlengkapan pribadinya dan memasukkan ke dalam tas tangannya lalu bergegas keluar dari kamar. Di otaknya sudah tersusun beberapa rencana yang mungkin bisa menyelamatkannya dari situasi yang menyebalkan saat ini. Mungkin.

Kakinya bergerak cepat di sepanjang koridor menuju pusat layanan yang dekat dengan restoran. Tangannya mengepal dan membuka, begitu seterusnya. Dengan harap-harap cemas, ia berjalan dengan cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Dengan lincah, ia menghindari sekumpulan orang yang menghalangi jalannya, meliuk ke kiri, sedikit melompat, merapat ke kanan, berhenti sejenak, berjalan lagi, menyusup di antara orang-orang yang sedang mengobrol dan akhirnya, sampailah ia di depan pusat layanan.

"Maaasss.. helep saya dooong.." cuap Lucy dengan helpless. Yang dipanggil 'mas' menoleh dan memasang tampang keheranan.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?"

"Kamar kelas 1 masih ada?" Mas itu melirik ke tangan kanan Lucy yang dengan jelas tertera insignia dari Fairy Tail.

"Eng.. bukannya Fairy Tail sudah booking semua kamar kelas 1 atas nama Makarov Dreyar?"

"I..iya, tapi kalian yakin, semua, SEMUA kamar yang ada? Nggak bersisa 1 kamar aja?" Mas itu mengangguk-anggukan kepalanya. Ekspresi bingung nampak jelas menempel di wajahnya. Lucy mengerang dengan keras dan sempat menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya.

"Yakin Mas? 1 aja? Masa semua penuh?" lanjutnya dengan helpless. Mas itu menghela nafas panjang dan mulai memeriksa daftar penumpang yang tersimpan di lacrima Pusat Layanan. Matanya dengan cekatan memindai semua informasi yang tertera di layar lacrima. Beberapa menit berlalu, dan Lucy benar-benar nggak sabar menunggu hasilnya. Jari-jari mungilnya mengetuk-ngetuk meja.

"Maaf, benar-benar sudah penuh. Sebenarnya, ada masalah apa ya?" Lucy ingin sekali menyampaikan keluhan mengenai masalah yang sedang dihadapinya, tapi kemudian ia teringat bahwa ia sedang terlibat masalah ini dengan seorang mage dari Sabertooth.

'Kalau mereka tahu aku sekamar dengan Sting, pasti bakal jadi gosip panas. Kalau sampai Natsu dan yang lainnya dengar… aaaah… mending aku berenang pulang ke Magnolia…' tubuhnya merinding membayangkan betapa murkanya Tacik Erza kalau tahu dirinya berduaan dengan frienemy mereka, Sting Eucliffe.

"Uhm, ada 1 kamar yang tidak dibooking oleh Fairy Tail." Telinga Lucy dengan siap siaga mendengarkan Mas tersebut dan memberikan tatapan 'lanjutkan-tolong-saya-mas'. Memahami maksud dari tatapan itu, Mas tersebut langsung melanjutkan.

"Sabertooth." Deg. Jantung Lucy mau copot rasanya mendengar ada 1 kamar yang dipakai atas nama Sabertooth.

"Boleh tahu, kamar nomor berapa?"

'Semoga bukan kamarku… semoga bukan kamarku….'

"Kamar 1-7." Nyessss.Jantung Lucy langsung meleleh, luluh lantak, lenyap entah ke mana. Nomor yang baru saja didengarnya adalah nomor di mana ia harus berbagi ruang dengan cowok angkuh yang menjadi sumber masalahnya sekarang. Hati kecilnya ingin sekali menanyakan kunci utama dari masalahnya –bagaimana 1 kamar bisa menjadi rebutan? Pertama, Fairy Tail mengklaim seluruh kamar kelas 1 yang ada tapi, bagaimana caranya ada 1 kamar yang bisa disebut tidak 'terbooking'?-. pertanyaan tersebut terus mengusik pikirannya. Sebelum kecurigaan Mas itu muncul, ia cepat-cepat menghilang dari peredaran.

Dengan langkah gontai, ia kembali menyusuri koridor. Tapi, kali ini ia memeerintahkan kakinya untuk melangkah ke kamar Tacik Erza. Diketuknya pintu kamar Tacik. Terdengar seruan dari dalam kamar yang diikuti dengan langkah kaki yang semakin mendekat.

"Lucy. Ada apa?" tanya Tacik. Ia melongok keluar kamar, melihat keadaan sekeliling.

"Eng.. hai! Hai Tacik, nggak ada apa-apa kok." Jawabnya.

"Uhm, masuklah! Aku sedang membereskan beberapa barang." Lucy tersenyum kecil lalu melangkah masuk mengikuti Tacik. Dengan segera ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Jajaran manekin memenuhi ruangan tersebut.

"Buat apa nih Tacik?" Gadis berambut semerah tomat itu tersenyum lebar lalu menjetikkan jarinya dan –poof-. Sekumpulan manekin kosong itu tertutup dengan berbagai macam kostum yang dimiliki Tacik Erza.

"Buat ini. Hehehe… semua kostumku harus mendapatkan udara segar agar mereka tetap awet dan tahan lama." Jawabnya sambil menata beberapa kostum. Lucy melihat keadaan sekelilingnya dan menyadari bahwa tidak ada celah tersisa yang bisa membuatnya menumpang tidur selama perjalanan mereka ke Pulau Eden.

"Hei, Lucy… apa yang membawamu kemari?"

"Err.. kakiku?" jawab Lucy dengan tampang bloon. Tacik Erza harus menepok jidatnya dengan keras.

'Aku rasa, mabuk laut sudah mempengaruhi kecerdasan Lucy saat ini.'

"Lucy, yang aku maksud adalah, ada apa kamu datang ke sini. Nggak mungkin kamu datang ke sini tanpa ada sesuatu." Telapak tangan Lucy sudah mulai basah dengan keringat dingin. Apa yang dikatakan Tacik Erza benar-benar tepat sasaran. Ia harus cepat-cepat membuat pengalihan topik sebelum cewek di depannya semakin curiga.

"Owh.. hmmm, aku hanya sedang bosan. Jadi aku berkunjung ke kamarmu. Tapi, sepertinya kamu sibuk. Aku akan menemui Levy-chan!" dengan cepat, Lucy berpamitan dengan Tacik Erza. Cewek Rambut Tomat itu mengedikkan bahunya melihat sikap Lucy yang terlihat kikuk lalu kembali sibuk dengan kostum-kostumnya.

Sambil mengelap keringat yang mengalir di wajahnya, ia bergegas menuju kamar Levy-chan yang tidak jauh dari kamar Tacik Erza. Diketuknya pitu berkali-kali, namun tidak ada sahutan. Ia melihat ke kanan dan kiri, berharap menemukan salah satu anggota Fairy Tail yang bisa menolongnya. Tapi, tak ada satupun, sepertinya semua orang sedang asyik menikmati perjalanan mewah ini. Dengan helaan nafas panjang dan erangan penuh kekesalan, cewek pirang itu memutuskan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Setidaknya mencoba beristirahatm jika bisa.

Dengan lemas, ia memutar knob pintu dan membukanya dengan lebar yang cukup untuk membuatnya badannya masuk. Ia tidak ingin ada orang yang mengintip ke dalam kamarnya dan mendapati seorang Sting Eucliffe berdiam di dalam kamarnya.

"Udah puas kelayapan, Blondie?" ia melirik ke sumber suara tersebut. Sting tengah menikmati segelas wine sembari membaca buku di atas kasur. Beberapa majalah dan buku berserakan di sampingnya. Urat kesabaran Lucy muncul.

"Kalau mau berbagi kamar, jangan berantakan gini dong!" serunya. Tangannya dengan ganas melempar semua buku dan majalah di kasur ke lantai. Cowok pirang tersebut, terkejut dengan aksi spontan dari Lucy langsung sewot.

"Lo bilang ga boleh berantakan. Lihat, siapa sekarang yang bikin berantakan?" sindirnya dengan ketus. Lucy hanya memutar bola matanya dan balik menjulurkan lidahnya ke Sting.

"Ambil atau malem ini, lo nggak boleh tidur di kasur!" ancam Sting sambil menyeringai lebar. Lucy benar-benar membenci seringai itu, seringai sinis yang amat sangat menjengkelkan.

"Nggak mau! Ambil aja sendiri! Nggak adil juga, kenapa aku yang diusir, harusnya kamu yang keluar dari kamar ini."

"Owh.. jadi sekarang udah balik mengancam?" tanpa diduga, Lucy yang sedang duduk di pinggir kasur dikejutkan dengan dorongan kecil yang sanggup membuatnya terjungkal ke lantai. Saat ia menoleh ke belakang, kaki Sting terjuntai dan cowok itu tertawa ngakak melihat Lucy yang tersungkur ke lantai.

"Jahat!"

"Biarin…"

"Resek! Congkak! Arogan! Dasar Rambut Nanas!" seru Lucy dengan cepat. Cowok itu meradang mendengar julukan barunya yang super aneh dan terkesan norak. Cewek itu cepat-cepat membereskan buku yang tercecer dan meletakkannya di atas meja di samping tempat tidur. Dalam sepersekian detik, Lucy merasakan tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhempas ke atas kasur. Belum sempat ia menyadari peruabahan siatuasi yang dialaminya, sosok Sting membayanginya.

"Ini hukuman buat julukan jelek yang lo kasih ke gue." Otak Lucy berusaha memproses apa yang baru saja didengarnya. Baru saja ia berhasil meng-'klik' kan semuanya, tubuhnya merasakan geli luar biasa.

"Kyaa.. ahahahah….urgh.. aha-aha-ahahahah… s-stop! Ahahahha…Stop Sting!" tawa Lucy berderai-derai. Sting menggelitik perut, pinggang dan tangan cewek pirang itu tanpa ampun.

"Minta ampun dulu." Bisik Sting di telinga Lucy. Nafasnya yang hangat menggelitik telinga Lucy dan membuatnya semakin menggeliat.

"Nggak!"

"Okelah.."

"Kyaaaa…aaaaa…ahahaha..ah ahahah.. S-sting! Oke..!" serangan Sting mereda dan ia menantikan Lucy memohon ampun kepadanya. Cewek mungil itu terengah-engah akibat tertawa tanpa henti dan dengan senyumnya yang lucu, ia memandangi Sting dan menjulurkan lidahnya. Sting yang gemas dengan kelakuan Lucy yang childish, balik menyerang dengan lebih ganas dan menyebabkan Lucy menjerit-jerit sekaligus tertawa.

"A-ampun.. Sting! Ampun…aha ahaa ahahahha…" mendengarnya, Sting pun menghentikan aksinya dan tersenyum puas. Cewek malang itu terengah-engah dan mengelap keringat yang membasahi wajahnya. Sting yang masih berada di atasnya tanpa sadar menikmati apa yang dilihatnya. Setiap nafas yang diambil oleh Lucy, gerakan tangannya, keringat yang mengalir di wajahnya, senyumannya, matanya yang atraktif. Lucy yang merasa dirinya diperhatikan, menatap Sting dengan pandangan bertanya-tanya. Sejurus kemudian, ia menyadari posisi mereka saat ini. Wajah Lucy memerah dan terasa hangat. Jantung berdetak kencang dan ia merasakan sensasi aneh di dalam perutnya.

"Ah ah ah… ada yang lagi blushing.." celetuk Sting yang tertawa kecil melihat wajah Lucy yang merah seperti tomat.

"S-sok t-tahu!" balasnya. Ia berusaha mendorong Sting menjauh, tapi cowok itu malah semakin mendekat. Lucy bisa merasakan nafas hangat Sting, membelai wajahnya.

"Ayo ikut."

"Eh, ke mana?"

"Kita jalan-jalan."jawab Sting.

"Hei.. nggak mungkin kita terlihat bersama.. tahu maksudku? Fai-"

"Blah blah blah… cerewet.." Sting beranjak dari kasur dan memakai mantel panjang warna hitam. Ia sudah mengganti model berpakaiannya agar tidak dikenali sebagai Sting Eucliffe di kapal ini, terutama karena saat ini, ia harus berbagi kamar dengan Blondie. Ia mengalungkan hedphone di lehernya, kemudian menutupi kepalanya dengan hoodie mantelnya. Lucy hanya bisa bengong melihat penampilan baru Sting yang lebih 'charming'.

Mengenakan kaos hitam sebagai dalaman dipadu dengan vest hitam dengan pinggiran putih dan celana kargo hitam serta combat boots yang lebih atraktif, penampilan Sting terlihat lebih misterius sekaligus charming. Ditambah dengan mantel panjang dan hoodie, lengkap sudah penampilan Sting yang sanggup membuat para fangirl jejeritan.

"Nih," sebuah syal biru dengan motif print neko putih yang bersayap, tampak di depan mata Lucy. Ia mengambilnya dan melihatnya dengan seksama.

"Sting! Lucu banget….. aww.. lucuuu…" cuap Lucy yang sedang asyik mengagumi syal tersebut. Dengan cekatan ia mengalungkan syal tersebut di lehernya dan membentuknya menjadi pita.

"Gimana? Cute? Btw, ini punyamu?" tanya Lucy sambil berputar-putar di depan cermin. Ia memperhatikan setiap detail pakaian yang digunakan dan mengagumi hasilnya.

"Cute? Ugh… Biasa aja. Ya, itu punya gue." Jawabnya sambil memalingkan wajah. Sejujurnya, ia ingin berkata 'cute' tapi ia tidak bisa menutupi blush yang sedang mewarnai pipinya. Lucy dengan wajah cemberut, menyisir rambutnya dan membentuknya menjadi kepang samping yang cantik. Tak lama kemudian, Lucy siap. Kemeja denim dan plaid mini-skirt berwarna merah, memeluk lekuk tubuh Lucy dengan sempurna. Stocking hitam membuat kakinya terlihat jenjang. Combat boots hitam selutut dengan silver gesper membuat penampilan Lucy yang manis, sedikit lebih gahar.

"Blondie, pakai ini.." Sting kemudian memberikan sepasang sarung tangan merah dan kacamata dengan bingkai biru yang diterima dengan wajah heran dari Lucy.

"Untuk menutup insignia Fairy Tail dan begitulah…" Mulut Lucy membentuk 'O' dan tanpa basa-basi ia mengenakannya. Setelah yakin dengan penyamaran mereka, Lucy menyambar mantel panjang warna hitam, serasi dengan milik Sting, dan berjalan keluar kamar.

"Dingin juga di luar.." gumam Lucy. Sting tertawa kecil mendengarnya.

"Of course, Blondie. Ini bulan Desember… dan ini udah pukul 5 sore. Angin laut pasti berhembus kencang." Jelasnya. Lucy mendengarkan sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang sudah mulai ramai dengan penumpang yang notabene juga mengenakan mantel-mantel tebal. Cewek mungil itu menggigil kedinginan dan melingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuhnya. Melihat tubuh Lucy yang menggigil, pandangan Sting melunak dan dengan sigap, ia melingkarkan tangannya di pundak kecil Lucy. Cewek mungil itu tak banyak berkomentar. Yang dipikirkannya saat ini adalah, bagaimana caranya menghangatkan tubuhnya yang sudah menggigil. Seakan-akan mengerti apa yang dipikirkan Lucy, Sting membawa mereka ke restoran dan memesan cokelat panas dan cream soup untuk mereka berdua dan seporsi garlic bread.

"Wow, aku suka cream soup-nya. Enak banget.." kicau Lucy dengan wajah sumringah. Badannya tak lagi gemetaran setelah menikmati makan malam yang hangat. Sting menyeringai lebar dan mengacak-ngacak rambut Lucy.

"Hei! Aku susah-susah menga-"

"Oei! Pantat api! Jangan lo bakar restorannya! Bloon banget sih!?" badan Lucy menegang mendengar kata-kata dan suara yang familiar itu.

"Sting! Itu Akang Gray! Gimana nih? Aku takut ketahuan mereka.." bisik Lucy dengan panik.

"Diem." Tanpa banyak bicara, cowok pirang itu melingkarkan tangannya di pundak Lucy dan membuat kepala cewek itu bersandar di bahunya. Kemudian, ia meletakkan kepalanya di atas kepala Lucy dan menghadapkan wajahnya ke wajah imut Lucy. Hidung mereka saling bersentuhan. Masing-masing bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain, dan mereka tidak bisa menyembunyikan rona merah pada wajah mereka. Tangan Lucy meremas tangan Sting. Ia hanya berharap tidak ada kejadian konyol yang membuat posisi mereka berubah.

"Snowman! Gue kedinginan! Gue Cuma butuh kehangatan!"

"Tapi nggak gitu juga caranya, dasar idiot! Kalo kebakar, siapa yang bakal kasih makan kita?!"

"Bilang apa lo!? Stripper pedofil!"

"Apa aku mendengar keributan?"

"Kyaa! Nggak! Kita saling mencintai!"

Sting tertawa kecil mendengar pertengkaran konyol Fairy Tail, terutama saat Natsu dan Akang Gray yang mendadak kompak saat Tacik Erza angkat suara.

"Apa mereka berdua selalu bertengkar seperti idiot?" bisik Sting. Celestial mage itu tidak bisa menahan dan akhirnya tertawa kecil. Ia mengangguk dan tersenyum manis.

"Tacik, aku nggak lihat Lucy, di mana dia?" tanya Teteh Bisca.

"Oh ya, mana Luce, sejak masuk di kapal, gue belum ketemu dia." Kali ini Natsu yang berkomentar. Ia mencium-cium udara sekitarnya dan terpaku pada satu titik.

"Gue cium baunya Lucy… tapi ada bau lain… baunya datang dari meja itu." Tacik Erza dan yang lainnya langsung melihat ke arah meja yang dimaksud.

"Sting…. Kita harus cepet-cepet pergi dari sini.." bisik Lucy dengan panik. Untunglah suasana sangat ramai sehingga Natsu tidak bisa mendengar mereka.

"Sapu tangan. Celupin ke sisa cokelat panas. Kalo udah, kasih ke gue." Lucy menuruti perintah Sting, dengan hati-hati ia melakukan apa yang diminta dan berusaha agar pergerakannya tidak menimbulkan kecurigaan. Sting mengambil saputangan tersebut dan mengibaskannya ke udara beberapa kali, seolah-olah tengah menepiskan debu yang menempel di saputangan, menimbulkan percikan air yang menyebar ke mana-mana.

"Eh, baunya hilang! Dan.. owaah.. gue jadi laper…" seru Natsu saat melihat seorang pelayan mengantarkan sepiring steak ke tamu.

"Mungkin orang lain yang memiliki bau yang serupa dengan Lucy? Ayo kita pesan makan." Cuap Meme Lisanna. Mereka setuju dan memilih tempat yang tersedia.

"Gue panggil Lu-chan dulu ya, mungkin dia ketiduran," cetus Levy-chan. Ia beranjak pergi menuju kamar Lucy. Dalam beberapa menit, ia sudah berdiri di depan pintu kamar Lucy.

"Lu-chan? Lu-chan? Lo di dalam? Kita makan malam yuk!" panggil Levy-chan sambil mengetuk pintu. Sekitar semenit, Levy-chan tak mendapatkan jawaban. Ia bermaksud mengetuk pintu sekali lagi saat tiba-tiba…

.

.

.

.

.

.

.

"Hai Levy-chan…" Lucy melongokkan kepalanya dari balik pintu. Wajahnya terlihat mengantuk. Levy-chan berusaha mengintip ke dalam tapi tidak bisa, karena Lucy hanya membuka pintu selebar kepalanya.

"Owh, Lu-chan! Gue pikir lo kenapa-kenapa. Makan malam yuk!"

"Eng.. aku ngantuk Levy-chan dan aku masih cukup kenyang. Aku rasa makan malam bisa menunggu." Jawabnya sambil tersenyum manis.

"Lo yakin?" tany Levy dengan penuh kekhawatiran. "Lo nggak sakit 'kan?" lanjutnya. Mendengar kekhawatiran sahabatnyam Lucy tersenyum.

"Nggak kok. Aku hanya mengantuk. Pergilah… aku bisa menjaga diriku sendiri.. yang kubutuhkan sekarang adalah tidur, Levy-chan." Setelah terdiam beberapa saat, Levy-chan mengangguk dan berpamitan dengan Lucy, lalu kembali ke restoran.

"Akting lo boleh juga, Blondie." Lucy melirik dengan malas ke cowok di sampingnya. Sepanjang waktu ia berbicara dengan Levy-chan, Sting bersembunyi merapat di balik pintu.

"Untung kita segera kembali tanpa mereka sadari dan kamu juga Blondie. Jadi jangan panggil aku Blondie, dasar Rambut Nanas." Balas Lucy sambil menguap lebar.

"Tapi akui aja, trik gue tadi berhasil 'kan untuk menghilangkan bau lo? Dasar Rambut Keju." Balasnya lagi. Lucy hanya memutar bola matanya. Setelah ia mengunci pintu rapat-rapat, ia mengambil gaun tidurnya dan berganti di kamar mandi. Sting ikut berganti pakaian setelah Lucy selesai membersihkan diri dan berganti pakaian.

"Aku ngantuk… aku tidur dulu." Lucy merebahkan dirinya di kasur.

"Yeah.. Gue juga.. Good night, Rambut Keju." Gumam Sting seraya merebahkan tubuhnya di samping Lucy. Belum sampai 5 menit, Lucy terbangun dan mengguncang-guncang Sting.

"Apa?" gumam cowok itu.

"Dingin…" gumam Lucy sambil menggigil. Sting membuka matanya dan memandangi wajah melas Lucy yang kedinginan. Dengan malas, ia bangkit duduk dan menarik selimut menutupi mereka berdua. Mereka berdua kembali tidur. Tapi, tidak dengan Lucy. Ia masih merasa kedinginan. Tanpa disadarinya, sepasang tangan kekar dan kokoh melingkari tubuh mungilnya dan menariknya mendekat.

"Eh..?"

"Diem."

"S-sting..?"

"Dingin dan gue butuh kehangatan." Tangannya semakin kuat memeluk Lucy dan menariknya semakin dekat dengan tubuhnya. Wajah Lucy berhadapan langsung dengan dada Sting dan berhasil membuatnya blushing setengah mati. Jantungnya berdetak semakin kencang saat Sting membenamkan wajahnya ke dalam rambutnya.

"G-good night.. Rambut Nanas.." bisik Lucy.

'Aku rasa, ini akan menjadi memori pertama antara aku dan Sting…'

Ia menutup matanya dan dengan segera terbawa ke alam mimpi ditemani dengan rasa hangat di sekujur tubuhnya. Tanpa ia ketahui, Sting yang juga sudah terbawa ke dalam mimpi, terus tersenyum di dalam tidurnya.


Tadaaa! Finish!

Sepertinya pecinta Sticy indo kurang banyak yah..hufft…

Apapun yang terjadi, ane akan selalu setia jadi Sticy-shipper..:3

Hehhe.. jangan lupa cek 'How I Met Your Mother – Nalu Version'! I will update soon!

Anyway, thanks bagi penggemar setia Sticy indo yang masih setia baca fic saya..:D

Sekaligus thanks buat para silent readers…:D

RnR please… :(

Matursuwun…:3