Chapter 4
The ZarkMon : Hahaha cucok banget! Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
NatashAurel : Hai, trims banget ya uda fave n follow. Smoga cerita ane bikin ente makin ketawa ngocol ya XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Haru no haru : enak kan telor dadar? Cucok lho cin kalo Sting jadi Stacy XD. Owh soal flame, ane udah handle kok! Jangan khawatir! Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
StingyBee : #nangis bahagia juga. Ia dong, orang perkasa juga boleh kan jadi kalem walaupun maksa? Wkwkwkw... Ah ya, tengkyu buat PM nya ya! Ane seneng banget. Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Naachan : Ia, Sting yang gantiin bajunya Lucy #plak. Tetap semangat '45 kok! Ahahaahah XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Sarah Brown : Ia, tapi masih sopan kan si Sting? #ngeles. Hhahaha... ane waktu bikin fic ini aja sampai geli-geli sendiri XD. Yup, tengjyu buat Pmnya :D Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
HL Re – Born Fans : Yup, makasih banget uda nawarin :) sayangnya fic yang mau ane ikutkan, terpaksa batal karena masalah waktu plus ide cerita yang emang rumit. Tapi skali lagi ane ucapin makasih :D
Erin-chan : Hyaaa! Karena proyek plus persiapan skripsi menghantui ane XD. LOL, bayangin aja sesuka hati ente yang penting cucok! Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Fi-chan nalupi : Yup, ide itu terlintas begitu aja. Hahahaha smoga bikin ente makin ketawa ngocol ye XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Melz Moccha : Hahahah, telor dadar terseksi yang pernah ada XD. Ayo-ayo! Rame bayangin Sting dengan penampilan cucok yang baru XD. Hummm, baca aja deh! Bakal seru lho setelah chappi ini XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Connor Brown : Yeah, Lucy needs to be manly sometimes XD. You really need read this one! The up - coming chappi will revealed... anything, i guess XD. Sorry for y bad english XD. Here the new chappi! Enjoy it! And i love you too! XD
Kanzo kuzuri : Hai, ini uda update lho XD Stacy muncul lagi XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Hinagiku Zeelmart : Hahaha awas kentut! #ditabok. Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Ellen : Hai! XD Stacy muncul lagi. Semoga cucok ya XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Eucliffe – chan : Haii! Ini lanjut kok! XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Buble Ghost : Hai! Tengkyu! Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Mitta : Hai! Thanks ya! Ini uda apdet lho! Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Kamikura39 : Hai! Hua! Sukses deh! Makasih ya! XD Maap telat banget nih. Enjoy new chappi ya!
Untuk semakin menambah rasa greget di fic ini, mari bayangkan Stacy dengan suara Aziz Gagap yang sedang berperan sebagai Lemon di acara 'Mas Boy dan Lemon' di salah satu stasiun TV ^_^. Sumpah cucok deh! XD. Atau mungkin kalian punya bayangan sendiri? XD
The 1st Experience
Reminder
Duh!" desis Sting dengan jengkel. Ia mengusap-usap pantatnya yang baru saja dipukul dengan keras oleh Lucy.
"Ingat! Jalan cantik! Jangan jalan kaya habis disunat!" bisik Lucy.
"Iya, Lucyku sayang, terimakasih sudah mengingatkan." Cibir Sting dengan suara perempuannya yang mendayu-dayu.
'Ini bakal jadi liburan yang saaaaaaangaaattt paaannnjjjaaannnng...' keluh Lucy, Sting, dan Madam di dalam hati mereka.
"Jadi, Stacy, benar?" tanya Tacik seraya menyeruput Avocado Float dinginnya. Kedua gadis asli dan seorang gadis jejadian menatap Tacik dalam diam. Telapak tangan Lucy mengeluarkan keringat dingin. Madam Juvia menggigit bibir bawahnya.
"Kok nggak dijawab? Stacy?" sekali lagi mereke bertiga diam tak berkutik. Bulir-bulir keringat kecemasan mengalir deras di pelipis Lucy. Tacik Erza membenahi posisi duduknya. Alisnya terangkat sebelah. Matanya menatap dengan penuh curiga ketiga manusia di depannya. Jari jemarinya mengetuk meja dengan pelan. Nadanya konstan dan semakin lama semakin melambat, menimbulkan aura mengancam di sekeliling mereka.
'Ayo dijawab Sting!' seru Lucy gemas di dalam hati. Jiwanya sudah mengganas ingin mencabik-cabik Sting yang masih terpekur menatap Chocolate Milkshake di hadapannya. Dengan dongkol, Lucy menyikut Sting dan berhasil membuatnya tersedak liurnya sendiri.
"Aduh!' pekik Sting dengan suara jantannya. Madam Juvia cepat-cepat memekik menirukan suara Sting yang terlihat sekali bohongnya. Tacik Erza menyadari keanehan mereka bertiga dan mulai menunjukkan emosinya. Lucy dengan panik meremas tangan Sting yang berada di bawah meja. Sementara gadis jejadian itu hanya bisa meringis kesakitan.
"Madam? Apakah itu kamu yang menjerit?"
"I-iya Tacik. Madam Juvia yang barusan menjerit." Jawab Madam terbata-bata.
"Kenapa?" kali ini giliran Madam Juvia yang panik luar biasa. Melihat gelagat Madam yang sepertinya tidak bisa menjawab, cepat-cepat Lucy menyempil memberikan jawaban yang sanggup membuat Sting dan Madam Juvia melongoh.
"Bisul!" pekik Lucy. "Bisulnya Madam pecah!" spontan Lucy memekik dan berdiri dari tempatnya duduk. Sting menatapnya seakan-akan bola matanya mau lepas dari tempatnya. Mulut Madam menganga lebar bahkan lalat saja bisa bersarang di dalamnya. Wajah Tacik Erza meringis jijik dan lubang hidungnya kembang kempis membayangkan bisul Madam yang memecah. Bahkan hampir seluruh tamu di restoran kapal pesiar itu menatapnya dan meringis jijik.
"Bisul?!" desis Sting dengan jijik. Tacik Erza menatap Madam dengan nanar. Madam Juvia cepat-cepat memasang mimik wajah kesakitan. Lucy yang menyadari tatapan tamu lain terhadapnya, cepat-cepat duduk dan menutupi wajahnya dengan serbet makan.
"I-iya Tacik, Madam punya bisul..." jawabnya pelan. Wajahnya memerah dan tangannya meremas ujung roknya kuat-kuat.
"Euuhh... jijik banget... sana! Kamu bersihin dulu!" usir Tacik galak. Mendengar itu, cepat-cepat Madam berpamitan dan kabur ke toilet untuk beberapa saat, meninggalkan dua sejoli itu sendirian menghadapi jiwa penasaran Tacik Erza.
"Jadi, Stacy, kamu ikut liburan juga ke Pulau Eden?" Sting menatapnya dengan cemas.
"I-i-pfffttt..." ia harus menahan rasa sakit yang menjalar di pinggangnya akibat cubitan Lucy.
"Pakai suara cewek!" desis Lucy dengan volume yang hanya bisa didengar oleh telinga sensitif Sting. Seakan baru saja ditampar, cepat-cepat Sting berdeham dan perlahan menjawab pertanyaan Tacik Erza.
"Uhm, iya. Aku berlibur ke Pulau Eden." Jawabnya seraya tersenyum. Senyum yang dipaksakan tepatnya. Lucy terus menggigiti bibir bawahnya, berusaha menahan tawa saat mendengar suara feminin Sting yang kemayu.
"Ah, kamu sendirian? Kemana sepupumu? Kok nggak nemeni kamu?" tanya Tacik secara beruntun. Sting melirik Lucy dari ekor matanya dan mendengus kesal.
"Iya, aku sendirian. Sepupu?" tanya Stacy dengan bodohnya. Lagi-lagi Tacik Erza menatapnya dengan bingung. Menyadari siapa yang dimaksud Tacik, cepat-cepat Sting melanjutkan.
"Ah ya, Sting. Tidak, dia sedang sibuk dengan A'a Rogue kesayangannya. Lagipula aku tidak suka berjalan-jalan dengannya." Mendengar jawaban Sting, Lucy menyerngitkan alisnya dan meliriknya dari sudut matanya.
"A'a Rogue dengan... Sting?" tanya Tacik Erza. Ia menyadari jawaban Stacy yang ambigu dan mulai mempertanyakan orientasi seksual Sting yang terlihat macho.
'Owmaigawt! Gay Alert! Jadi Sting sama A'a Rogue? Nooooooohhhhh!' jerit Lucy dalam hatinya. Seakan menyadari kemelut pikiran Lucy dan Tacik, lagi-lagi Sting memutuskan untuk membuka suaranya.
"Duh! Tacik Erza, Sting masih lurus kok! Masa cewek kalau berdua dengan cewek lain boleh, terus Sting nggak boleh sih sama A'a Rogue? Mereka kan bespren." Jawab Stacy seraya melambaikan tangannya dengan cantik dan tertawa tersipu-sipu.
'LOL! Sting cocok banget jadi cewek dan untung aja, ternyata masih doyan cewek.' Desah Lucy diam-diam. Sesaat kemudian, wajahnya merona merah. Ia baru menyadari apa yang baru saja ia pikirkan. Ia menundukkan kepalanya dan mengaduk-aduk gelas Peppermint Tea panas miliknya.
"Lalu, kenapa kamu sekamar dengan Lucy? Bukankah masih banyak kamar di kapal ini?" lagi-lagi pertanyaan Tacik Erza membuat Sting dan Lucy banjir keringat. Meskipun suhu udara rendah dan dingin, tetap saja tidak bisa membendung keringat kepanikan dari dua orang tersebut.
"Dia teman kecilku!" jawab Lucy cepat. Sontak kepala berambut merah dan gadis jejadian menatapnya dengan bingung.
"Dia temanku semasa aku masih tinggal dengan orang tuaku di mansion. Kebetulan aku bertemu dengannya saat memasuki kapal ini. Dan Stacy mendapatkan nasib buruk karena mendapatkan kamar kelas tiga. Jadi aku mengajaknya untuk tinggal di kamarku." Jawabnya penuh kebohongan. Ia merasa begitu menyesal harus berbohong kepada sahabatnya hanya untuk melindungi dirinya dari amukan Fairy Tail. Koreksi. Melindungi Sting dari amukan Fairy Tail.
Sting menatapnya dalam tanda tanya. Perlahan ia mengalihkan pandangannya ke Tacik Erza yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
'Eh? Berhasil? Tacik Erza percaya? Ajigile bener.' Pikir Sting.
"Dan apakah kamu tahu kalau Stacy sepupu jauh Sting Eucliffe?" Lucy mengangguk pelan. Terdengar desahan pelan yang mengalun dari mulut Tacik. Pemilik rambut scarlet itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Ya sudahlah, ngapain dipusingkan. Yang penting sekarang kalian baik-baik saja. Aku khawatir sama kamu Lucy. Soalnya dari kemarin kamu seperti menjaga jarak dengan kami. Sekarang aku tahu penyebabnya. Jadi, aku memaafkanmu." Cuap Tacik dengan senyum lebar. Mendengar itu, Lucy semakin merasa bersalah. Di lain pihak, Sting teramat bersyukur karena berhasil sekali lagi melewati loket kematian ekspres yang ada di depannya.
"Ngomong-ngomong, Madam mana ya? Kok bersihin bisul lama banget?" tanya Tacik seraya celingukan.
"Bisulnya banyak, Tacik." Jawab Lucy dengan wajah meringis. Raut wajah Tacik berubah menjadi semakin jijik mendengar jawaban Lucy. Baru saja satu kesulitan berhasil ia lewati, kesulitan kedua harus ia alami ketika Sting dengan panik menjawilnya.
"Apaan sih?" bisik Lucy kasar.
"Si Jigong Api!" balasnya panik.
"HAH?! Natsu?! Dia di sini?!"
"Di pintu, oon!" seperti ikan yang mangap-mangap, Lucy jejeritan panik dan segera merogoh tas tangannya demi mencari benda penyelamat. Tacik Erza terlalu sibuk dengan Avocado Float di hadapannya hingga tidak memperhatikan kericuhan yang ditimbulkan oleh dua manusia di seberangnya.
"Yo, Luce! Lo dari mana aja! Kok gu- Ugh! Ini bau seseorang yang gue tahu! Lu-"
-Sroott!- secepat kilat Lucy menyemprotkan botol parfumnya tepat di depan hidung Natsu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hu-hu-huaaaaaaa... syiiiing!" dan meluncurlah Natsu bak roket menerjang tamu-tamu yang asyik bersantap di restoran tersebut. Tacik Erza, Lucy, dan Sting yang melihat kejadian tersebut diam terperangah. Terutama Lucy, ia tidak menyangka kalau efeknya bakal alay seperti ini.
"LUCY! Kamu ngapain sih!?" sentak Tacik Erza yang sudah mulai berangasan melihat kekacauan yang ditimbulkan Lucy. Tanpa banyak bicara, Sting dengan perkasanya menarik pinggang Lucy, mengangkatnya, meletakkannya di bahunya yang bidang, dan angkat kaki dengan cepat dari hadapan Tacik Erza.
"Kyaaaa!" jerit Lucy histeris.
"LUCY!" seru Tacik Erza yang sudah berganti rupa dengan Heaven's Wheel legendarisnya.
"STI-STACY! Turunkan aku!" jerit Lucy. Sting, dengan penuh keajaiban terus berlari tanpa menyadari kalau ia sedang berlari di atas sebuah kapal pesiar yang terombang-ambing di lautan luas.
"Stacy! Nyebut oi nyebut! Kita lagi di kapal! Demi Mavis! Tolong sayaaaaa!" waktu seakan bergerak begitu cepat saat Sting akhirnya menyadari perkataan Lucy.
Ia berlari dengan kecepatan penuh. Ia berbelok ke lorong kamarnya. Di depannya, berdirilah Akang Gray. Sting panik. Perutnya mual. Ia berusaha mengerem larinya. Apa daya, ombak menghantam badan kapal cukup keras dan membuatnya oleng. Ia terperosok dan Lucy terlepas dari gendongannya. Telapak tangannya menghantam mulut Akang Gray sementara Lucy terpelanting dan jatuh menimpa Akang Gray.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mphh! Ugfhmmm!" seru Akang Gray. Lucy membuka matanya dan mendapati wajah Akang Gray di depannya. Hidung mereka saling bersentuhan. Keduanya membelalakkan mata.
"Tolo-ng gu-e..." sontak pandangan mereka berdua teralih ke sumber suara yang asalnya datang dari samping mereka. Di depan mata mereka, terbaring sosok lemah lunglai dan sekarat dengan wajah kehijauan, siap memuntahkan seluruh isi perutnya. Tangan sosok itu terulur ke arah mereka dan saat Lucy serta Akang mengikuti ke mana arah tangan itu, keduanya semakin terkejut.
Tepat di antara kedua bibir mereka, berdiamlah tangan sosok malang itu, membekap mulut Akang Gray dan sukses menyelamatkan ciuman pertama Lucy.
"Lucy! Stacy! Kalian bertanggung jawab atas kekacauan ini!" suara Tacik Erza menggema di sepanjang lorong dan berhasil menarik perhatian seluruh penghuni kamar untuk keluar dari kamar mereka.
Tepat di saat Tacik Erza muncul di ujung lorong, Madam Juvia muncul dari kamarnya dan melihat Love Rival yang tengah menindih Akang Gray serta Sting yang terkulai lemah di samping mereka berdua.
"LOVE RIVAL..." bisik Madam dengan murka. Tacik yang menyadari kehadiran Madam dan posisi konyol di depannya, panik seketika. Bahkan Meme Lissana dan Koko Elfman sampai berpegangan satu sama lain. Babe Laxus bahkan sampai menyetrum Encang Gajeel yang berdiri di sebelahnya. Opa Makarov melongoh dengan mulut yang menganga menyentuh lantai.
Lucy dan Akang Gray yang belum pulih dari syok, spontan merinding. Terutama Lucy. Posisinya benar-benar membuat semua orang salah paham. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Madam Juvia yang sudah mendidih. Benar-benar mendidih.
"Ma-madam... jangan salah paham. Aku nggak ci-"
"LOVE RIVAL!" seru Madam Juvia seraya mengangkat kedua tangannya.
"Madam! Jangan!" seru Opa Makarov dan Tacik Erza. Namun terlambat. Ombak raksasa mengangkat badan kapal dan arusnya yang mahadahsyat menghempaskan kapal pesiar itu ke daratan yang puluhan kilometer jauhnya dengan kecepatan tinggi.
"Uangku!" seru Opa Makarov yang bercucuran air mata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi, Mister Makarov?"
"Ya...?"
"Bisakah kami membebankan biaya perbaikan pelabuhan Pulau Eden, beserta kapal pesiar dan biaya pengobatan seluruh penumpangnya kepada Fairy Tail?"
"Hiks... Hiks... bi-bi-sa... HUAAAA!"
"Lucy, Stacy, Madam Juvia, urusan kita belum selesai." Ucap seluruh anggota Fairy Tail berbarengan dan menatap penuh kemurkaan kepada tiga sosok yang bersimpuh, bersembah sujud di hadapan mereka.
"Kenapa gue ikutan kenaaa..." rintih Sting dengan jengkel.
"Oke. Jadi dia Stacy. Dia teman masa kecilmu dan saudara sepupu Sting Eucliffe?" tanya Teteh Bisca dalam sesi interogasi di hotel tempat mereka menginap.
Lucy mengangguk pelan.
"Kalian bertemu di kapal dan kamu menawarinya tinggal di kamarmu karena kamu nggak tega kalau Stacy tinggal di kamar kelas tiga?"
Ia mengangguk lagi sementara Madam menyerngitkan alisnya mendengar pertanyaan Teteh Bisca. Ia belum diberitahu apa-apa soal itu oleh Lucy.
"Madam Juvia, juga akhirnya mengenal Stacy?"
Kali ini Madam yang mengangguk.
"Kalian bertiga bertemu dengan Tacik Erza dan akhirnya makan siang bersama di restoran?"
Ketiganya serempak menyetujui.
"Bisul Madam pecah dan Tacik Erza menyuruhnya membersihkan diri?"
Dengan penuh rasa malu, Madam mengangguk dan semakin membenamkan kepalanya.
"Natsu tiba-tiba datang, saat itu Lucy menyemprotkan parfum ke hidung Natsu?"
Lucy meringis dan menganggukan kepalanya lagi.
"Kenapa begitu? Kamu sengaja?"
Cepat-cepat Lucy menggelengkan kepalanya.
"Itu gara-gara Stacy kentut!" kicaunya spontan. Sting langsung mengalihkan pandangannya ke arah gadis pirang di sebelahnya dan mulai memainkan bibirnya sebagai tanda protes. Tak gentar, Lucy balik memelototinya dan memainkan bibirnya penuh dengan aura mengancam.
"Lalu kenapa lo nyemprotin par- huasyiihh!- fum lo ke gue!? Salah gue apa?" pekik Natsu yang tidak terima dengan alibi konyol Lucy. Gara-gara peristiwa itu, ia dimarahi habis-habisan oleh kepala restoran dan tamu di sana. Plus, bersin yang tak kunjung berhenti.
"Ya aku mana tahu kalau kamu ada di belakangku! Aku menyemprot parfum supaya bau kentut Stacy nggak nyebar kemana-mana!" sanggah Lucy yang semakin grogi akibat kebohongan yang terus menerus ia katakan.
"Geez, Lucy. Lalu, Stacy, benarkah kamu membawa lari Lucy?" kali ini Sting harus menjawab pertanyaan teteh Bisca.
"Iy-pfftt!" Kalimatnya terpotong karena Lucy menginjak kakinya dengan sepatunya yang cukup berbahaya.
"Suara cewek!" desis Lucy sadis. Sedikit menggeram sebagai jawaban, Sting berdeham dan menjawab Teteh Bisca.
"Iya, Teh." Mendengar suara Stacy yang terasa janggal dan horor, sontak penghuni Fairy Tail merasakan merinding disko menjalari tengkuk mereka. Bahkan Jeng Cana dan Opa Makarov sampai tersedak bir saat mendengar suara 'alien' Stacy.
"Ugh, okey... Lalu kamu bertemu Akang dan nggak sengaja menabraknya?"
"Iya, Teh. Aku mabuk trans-eh! Aku mabuk laut, Teh Bisca." Hampir saja keceplosan. Jika ia menjawab kalau ia mabuk transportasi, pasti para Dragon Slayer akan mencurigainya dan mencium aroma asli tubuhnya. Untung baginya, Lucy menutupinya dengan semprotan parfum dari Lucy yang tidak manusiawi.
"Apakah kamu dengan sengaja memukul Akang Gray?" Sting melirik ke arah Akang yang di wajahnya, terdapat cap merah asli buatan tangan Sting, menghiasi area mulut dan hidungnya. Setengah mati ia berusaha menahan tawa melihat corak baru di wajah Akang.
"Nggak kok, Teh. Ciusan aku nggak sengaja. Sumpeh deh. Hmm." Kali ini Lucy dan Madam Juvia yang harus merinding disko mendengar gaya bicara Sting yang semakin mirip dengan ibu-ibu arisan. Keduanya saling melirik di belakang Sting dan menelan liur seraya bergidik ngeri.
"Kalau aku boleh tahu, kenapa kalian berdua melarikan diri? Siapa yang menyebabkan kalian sampai kabur begitu?" telunjuk Sting dan Lucy kompak menunjuk Tacik Erza yang sudah berkacak pinggang di samping Teteh Bisca. Semua kepala menoleh ke sosok Titania dan cepat-cepat membuang wajah saat Titania menatap mereka dengan pandangan siap menerkam.
"Gara-gara siapa?" tanya Tacik geram. Semua orang bersweatdrop ria saat Sting dan Lucy cepat-cepat mengalihkan telunjuk mereka dan mengarahkannya ke diri mereka sendiri.
"Huft, lalu Lucy, apakah kamu mencium Akang Gray?"
"Nggak! Kalian salah paham!" sambar Lucy cepat. "Kalau tidak percaya, lihat muka Akang. Ada bekas tangannya Stacy 'kan? Nggak mungkin aku mencium Akang kalau tangan Stacy ada di antara mukaku dan Akang." Lanjut Lucy setengah menggerutu. Setidaknya ia harus berterimakasih pada Sting, karena sudah menyelamatkan ciuman pertamanya.
"Aku juga nggak mau ciuman sama stripper pedofil!" cibir Lucy yang menjulurkan lidahnya dengan galak ke arah Akang.
"Oi!"
"Akang, baju lo atau gue setrum?"
"Kyaa! Baju gue! Encang Gajeel! Tolongin gue nyari baju!" seru Akang yang panik. Ia cepat-cepat menarik Encang yang malang bersamanya demi menghindari setruman Babe Laxus.
"Nah, Madam Juvia, sudah jelas 'kan? Ini semua cuma salah paham. Seharusnya kamu nggak perlu kumat sampai menghempaskan kapal ke Pulau Eden." Kicau Teteh Bisca seraya mengurut keningnya. Madam Juvia terus mengangguk sembari meminta maaf ke Lucy dan Stacy serta seluruh keluarga Fairy Tail atas kekacauan yang ditimbulkannya.
Cece Mira dengan ceria menepukkan kedua tangannya dan membuat semua perhatian tertuju kepadanya. Senyum bahagia terlukis di wajahnya. Ekspresi wajahnya begitu sumringah. Semua orang menatapnya dengan bingung.
"Setidaknya, kita nggak perlu lama-lama lagi berada di laut. Sekarang kita sudah ada di Pulau Eden, berarti kita bisa liburan lebih lama! Yey!" soraknya.
"Tapi uangku! Huhuhuh... Uangku, Cece!" seru Opa Makarov yang sudah berkubang di dalam kubangan air matanya.
"Ada masalah, Opa?" tanya Cece dengan nada manis yang mengerikan. Sayap setannya sudah terbuka lebar dan rambut silvernya sudah berkibar-kibar. Semua menjaga jarak dari Demon Mira dan diam-diam berdoa, supaya Opa Makarov segera bersembah sujud memohon ampun, sebelum Demon Mira membuat Fairy Tail semakin melarat akibat menanggung biaya perbaikan yang ditimbulkan oleh Demon Mira.
"Ng-nggak kok! Yey! Kita liburan lebih lama! Yey!" seru Opa, panik seraya bertepuk tangan. Melihat itu, Demon Mira langsung kembali ke wujud asalnya dan tersenyum lebar. Sekalinya setan selamanya setan. Cece oh Cece...
'Guild edan!' rutuk Sting dalam hatinya setelah melihat keabnormalan yang terjadi di depan matanya.
"Lho! Kok gue ga boleh sama Luce sih? Gue 'kan besprennya dia. Happy butuh emakny nih!" gerutu Natsu yang terus mengikuti Lucy kemanapun gadis itu pergi. Kejengkelan Lucy perlahan mulai merambat ke ubun-ubun. Berkali-kali ia mendengus kesal tapi sayangnya, Si Jigong Api masih saja terlalu dungu untuk menyadarinya.
Keinginannya untuk menikmati Pulau Eden lsetelah semua insiden yang terjadi, lebur sudah. Kehadiran Sting sudah menjadi parasit baginya. Kemarahan Madam Juvia, membuat Fairy Tail mendadak melarat. Sekarang, ditambah lagi Natsu dan Happy yang terus mengikutinya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Belum lagi, beban untuk menyembunyikan sosok Sting dibalik sosok Stacy. Ingin makan orang rasanya.
"Aye! Kenapa Natsu nggak boleh sama Lushy? Emak! Jawab, Mak!" rengek Happy yang semakin memperkeruh suasana. Tangan Lucy perlahan mengepal. Dengusan yang keluar dari hidungnya semakin memburu. Madam Juvia yang berjalan tepat di belakang Lucy, mulai berharap-harap cemas.
"Luce! Payah lo ah! Stacy kok boleh, gue ga boleh... huh!" cibir Natsu yang terus berjalan mendesak Lucy. Oh, gawat. Di depan Lucy, ada sebuah lubang berisi air keruh dan cara Natsu berjalan membuat Lucy terdesak ke trotoar, mengarah lurus langsung ke lubang berair keruh itu.
Sting alias Stacy terlalu sibuk menjaga jarak dari Natsu, tidak memperhatikan situasi yang tengah berlangsung di depan matanya. Ia memilih berjalan di belakang Madam Juvia dan berjalan dengan santai, tidak pusing jika ia sedang menggunakan pakaian wanita.
"Natsu, minggir." Desis Lucy jengkel. Sayang sekali, Natsu terlalu sibuk dengan gumpalan bulu biru yang melayang di sampingnya.
"Natsu, minggir ga?!" ulangnya lagi.
"Uh? Kenapa Luce?"
"Emak Lushy bawel dah!" sambung Happy dengan ceria.
"Kali-kyaaaa!" terdengar bunyi riak air yang cukup keras dan membuat Madam Juvia serta Sting terkejut.
"Sepatuku! Sepatu baruku! Basah!" jerit Lucy histeris. Kemurkaannya perlahan muncul ke permukaan. Wajahnya memerah menahan amarah. Jari-jemarinya sudah siap untuk mencakar kedua parasit yang membuatnya frustasi.
"Ih! Luce, bawel deh lo. Cuma basah doang." Jawab Natsu enteng.
"Lushy, nyeker (telanjang kaki) aja! Nanti sepatunya kering sendiri, Mak!" sambung Happy lancang. Mendengar jawaban Happy, wajah Natsu berubah menjadi cerah. Ia menjentikkan jarinya dan seketika muncullah kobaran api yang cukup besar.
"Natsu-san! Kamu mau ngapain? Jangan aneh-aneh!" bisik Madam Juvia panik.
"Phew, gue yakin bakal ada perang sebentar lagi." Gumam Sting yang begitu antusias menanti kelanjutan aksi Natsu.
"Hmm? Stacy? Lo ngomong apa? Kok suara lo kaya cowok ya?" tanya Natsu. Wajahnya penuh curiga. Hidungnya berusaha menangkap aroma tubuh Stacy, namun nihil karena parfum super menyengat milik Lucy yang menyelimuti tubuh Stacy. Sontak, Sting segera berdeham dan mengubah jenis suaranya menjadi feminin.
"Duh, Natsu-san, aku nggak bilang apa-apa kok! Kepo beud sih, ah!" jawab Sting, melambai. Sting hampir tersedak saat mendengar suaranya sendiri yang menjijikkan. Bahkan Madam Juvia merasa mulas saat mendengar jawaban melambai Sting. Bulu kuduk Natsu berjoged disko saat mendengar jawaban Stacy yang menggelikan.
"Ah, oke... kembali ke Luce!" serunya riang. Mendengar namanya disebut, Lucy langsung menolehkan kepalanya dan memelototi Natsu dengan ubun-ubun yang sudah berasap.
"Sini, biar sepatu lo gue keringin!" cepat-cepat Natsu memaksa Lucy duduk di pinggir trotoar dan melepas sepatu Lucy secara paksa.
"Natsu! Idiot! Ngapain sih kamu?!"
"Lushy jangan bawel ya!" perintah Happy.
"Iya Luce! Lo diem aja deh, pokoknya lo tahu beres aja yah!"
"Natsu! Jangan coba-coba! Kyaa!' jerit Lucy yang terjengkang ke belakang akibat kecerobohan Natsu.
"Lucy-san! Natsu-san! Sti-Stacy! Bantuin Lucy-san dong!" mohon Madam. Ia punya firasat kalau setelah ini bakal ada perang besar antara Natsu dan Lucy.
"Capek, bu!" jawab Sting dengan wajah jahil yang terpampang jelas di wajahnya.
"Yeha! Gini aja kok ribet. Sabar ya, Luce." Air mata Lucy sudah berada di ujung matanya dan Lucy bersumpah jika sepatunya tidak kembali seperti sedia kala, ia akan mengibarkan bendera perang pada Natsu. Pemuda berambut sewarna pink itu menjentikkan jarinya sekali lagi, memunculkan kobaran api yang cukup besar.
Mata Lucy terbelalak lebar. Kilatan cahaya api menari-nari di matanya. Ia punya firasat buruk. Sangat. Sangat. Sangat buruk.
"Hyaaa!"
"Natsu!"
"Natsu-san!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"SEPATU GUE!" pekik Lucy. Lengkingan Lucy membuat Sting spontan menutup telinganya dan meringis kesakitan.
Kobaran api membakar habis sepatu Lucy dalam sekejap, meninggalkan jejak abu yang teronggok sia-sia di hadapan Lucy.
"S-s-sepa-tuku...? Huaaaaaaa!"
"Lu...ce? maap ye? Sepatunya malah kekeringan gini..." ujar Natsu setengah berbisik. Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya seraya berjalan perlahan, mundur menjauh dari Lucy yang sudah berapi-api.
"Emak, mama Lushy, maapin Natsu ye?" rajuk Happy. Oh, benar-benar salah, wahai kau Happy. Salah besar.
"Aku. Bukan. E. M. A. K. M. U!" seru Lucy. Ia berdiri dari tempatnya dan kakinya mulai mengambil ancang-ancang.
"The Great Lucy Technique : The Nutracker Kick!" seru Lucy. Kakinya mengayun dengan gemulai namun mematikan menuju lembah sakral milik Natsu, membuat Natsu melengking kesakitan dan menarik kumis Happy dengannya, pergi menuju langit tak berbatas.
"Ampuni gue, Lucy!" seru Natsu dan Happy dengan suara yang perlahan menjauh dan menghilang.
"Ampuni gue, pecah itu barang." Desis Sting dengan wajah meringis kesakitan sembari menutupi daerah sakralnya.
"Lucy-san kalau ngamuk bahaya..." gumam Madam Juvia. Suara nafas yang terengah-engah terdengar dari mulut Lucy. Ia membungkuk, berusaha menata irama nafasnya. Sesekali suara sesenggukan terselip di antara nafasnya.
"Terus, aku jalan gimana dong? Masa nyeker..." keluh gadis pirang itu.
"Madam Juvia punya ide. Gimana kalau kita cari toko sepatu di dekat sini? Mumpung belum terlalu malam."
"B-Boleh sih... tapi masa aku nyeker kaya orang susah aja..." rengeknya lagi. Madam Juvia memutar bola matanya, tanpa sadar ia melirik Sting dari sudut matanya. Pandangan mata Lucy perlahan mengikuti arah pandang Madam yang berakhir pada sosok Sting yang sedang duduk di trotoar. Merasa diperhatikan, kontan Sting mengangkat kepalanya dan menatap mereka berdua dengan sebal.
"Apa lo lihat gue kaya gitu?!" tanyanya sinis. Lucy menatapnya dengan pandangan memelas. Ia memasang wajah cemberut khas anak-anak. Sting sekuat tenaga tidak menghiraukan pandangan memelas Lucy. Tapi, dengan giatnya Lucy mendekati Sting dan terus menatapnya hingga akhirnya pemuda itu mengerang pasrah.
"Errgh... ya udah! Cepatan naik!" ia berjongkok di depan Lucy dan dengan gembira, Lucy melompat ke punggung Sting. Tangannya melingkari leher kokoh Sting, sementara kakinya terjuntai di dalam cengkraman Sting. Madam Juvia yang menyaksikannya, diam-diam tersenyum. Semua rencananya menjodohkan Love Rival dengan Sting berjalan mulus dan kesempatannya untuk menerkam Akang Gray semakin besar.
"Ayo kita jalan!" kicau Madam dengan ceria.
"Ayo!" sambut Lucy bersemangat, sementara tukang gendongnya hanya bisa mengerang pasrah.
Sementara itu...
"Oiiii Cak! Sini lo! Lihat tuh! Itu bukannya cewek dari Fairy Tail ya?"
"Uhm... biar gue inget-inget." Jawabnya seraya mengerutkan kening. Sesaat kemudian ia menjentikkan jarinya.
"Iya, itu si celestial mage dan manusia air. Mungkin Fairy Tail sedang liburan ke Pulau Eden." Lanjutnya.
"Phew, kalau gitu, cewek seksinya Fairy Tail bertebaran dong?"
"Dasar mesum lo, tong." Cibirnya.
"Normal kali! Gue masih suka sama cewek apalagi yang booo-haaay." Jawabnya dengan wajah mesum dan tangannya membentuk figur tubuh gadis bohay di depannya.
"Tapi, kok dia digendong? Sama... cewek? Gile, perkasa bener yang cewek." gumamnya.
"Mana gue tahu. Ayo ah! Cabut, kasihan A'a, jamuran dia nungguin kita apalagi sendirian sama Nyai Grandong." Ia menarik lawan bicaranya.
"Iya, iya." Jawabnya malas. Tepat sebelum ia membalikkan tubuhnya, ia melihat pemandangan di mana celestial mage itu mencubit pipi orang yang menggendongnya dan menariknya ke belakang, menyebabkan wajah korban itu otomatis menoleh ke belakang.
Ia terbelalak saat melihat gigi orang itu bertaring tajam seperti seekor singa dan bola matanya yang berwarna azure yang khas, berkilau tertimpa cahaya lampu yang menyinari jalanan.
"Gue salah lihat atau apa ya?" gumamnya. Selama beberapa saat ia menatap ketiga manusia itu dari kejauhan sebelum akhirnya memutuskan, bahwa ia hanya salah lihat dan meninggalkan lokasi, menyusul kawannya yang sudah berjalan jauh di depannya.
"Blondie! Sakit, sarap!" sentaknya sewot, akibat pipinya yang ditarik-tarik dengan tidak manusiawi.
"Salah sendiri! Kalau gendong tuh yang bener! Tangannya jangan gerayangan dong! Geli nih kakiku!" balas Lucy sewot.
"Lo gerak-gerak terus sih kaya cacing kepanasan. Ga salah tangan gue dong!"
"Haduh! Kalian! Kalau bertengkar, ingat suara dong!" bisik Madam Juvia panik. Mendengar teguran Madam, keduanya berhenti sesaat dan melihat sekeliling. Belasan pasang mata menatap mereka dengan bingung dan pandangan itu lebih banyak mengarah ke arah Sting.
"Geez, lupa gue." Desisnya. Ia berdeham keras sebelum berbicara lagi.
"Blondie sayang, kamu harus tahu diri dong. Aku kan juga capek gendong kamu. Diet dong, sayang." Orang-orang semakin terbelalak mendengar suara Sting yang mendadak berubah kemayu.
"Aku kurus! Kamu aja yang lemah! Lagipula, kamu juga blondie, jadi jangan panggil aku blondie! Dasar Rambut Nanas!" protes Lucy. Tanpa basa-basi, Sting kontan melepaskan tangannya dan membuat Lucy menjerit ketakutan.
"Sti-Stacy! Yang bener dong! Nanti aku jatuh!" gerutunya. Ia memeluk leher Sting dengan kuat sampai pemuda itu membetulkan posisi gendongannya. Sting tersenyum lebar dan tertawa kecil saat melihat wajah ketakutan Lucy.
"Makanya, jangan macem-macem sama gue." Bisik Sting jahil. Lucy menjawabnya dengan menjulurkan lidah dan memilih membenamkan kepalanya di lekuk leher Sting. Rambutnya, dengan lembut terjuntai menutupi bahu Sting dan wangi semerbak shampo khas milik Lucy, menggelitik penciumannya. Tanpa ia sadari, Sting setengah mati berusaha menahan degup jantungnya yang berdetak seperti genderang mau perang.
"Ayo jalan." Ajak Madam Juvia. Orang-orang masih menonton mereka bak sirkus aneh. Dengan kesal Sting mengusir mereka namun caranya membuat Madam Juvia sampai harus face-earth.
"Ih, kalian lihat-lihat aja! Om kalau nggak pergi, nanti aku gendong loh!" kicau Stacy genit sembari mengedipkan sebelah matanya. Para lelaki yang menonton mereka bertiga, cepat-cepat melarikan diri dari gombalan Sting yang menjijikkan.
'Sumpah ya, kalau nggak gara-gara blondie, gue nggak mau didandanin kaya gini lagi! Cukup sekali! Ini pertama dan terakhir kalinya gue mengalami rasanya jadi cewek jadi-jadian!' rutuk Sting dalam hati.
Yup! Selesai juga nih chappi! Butuh perjuangan buat menyelesaikan nih fic di tengah-tengah proyek dan persiapan skripsi XD
Smoga bisa memenuhi kerinduan ente sekalian dengan kehadiran Stacy ya XD. Semoga fic ini bisa menjawab rasa penasaran kalian dan membuat rasa penasaran yang baru lagi XD
Maaf ya telat :(
Yosh, ane mulai menghilang lagi! Bakal balik secepatnya! Hihihi XD
Makasih yaa... RnR pleasee!
Matursuwun... :3
