Chapter 5
Kanzo kuzuri : HAI! Super duper sory! Baru update sekarang! Ane sedih banget maaap T.T. ane bakal usaha bikin OS sticy sebanyak-banyaknya. Maafkan ane yang sibuk bangte d RL.. Enjoy ya!
Guest : HAI! Siapapun ente! Salam kenal n salam sayang! Makasih! Ini update! Maaf karena kesibukan RL + skripsi bikin jadi berantakan. Semoga suka. Enjoy!
Guest : HAI! Salam kenal n salam sayang! Baca aja ceritanya! Semoga sesuai harapan! Makasih uda mau nungguin ane T.T enjoy!
StingyBee : #nangis bahagia. Makasih udah nungguin ane update sampai berkali-kali PM. Kapan lagi lihat Stacy ngedip? Wkwkwk semoga suka ya! Enjoy!
Eucliffe – chan : Haii! Ini lanjut kok! XD Maap telat banget nih. Ane sedih baru bisa update sekarang. Enjoy new chappi ya!
Luca Marvell : Hai! Salam kenal n salam sayang! Di sini ada versi cowoknya kok! Tapi yang penting semoga update telat ini ga ngecewain ente ya :( maap T.T Btw, enjoy!
Prfctss : Hai! Salam kenal n salam sayang! Maafkan daku yang baru tahun ini bisa update! Sebisa mungkin ane bakal cepat bikin sticy OS buat nambah koleksi! Trims uda mau nungguin! Enjoy!
XxtenDxX : hahaha.. hai! Salam kenal n salam sayang! Sting keren tapi stacy cantek lhoh! XD maap baru apdet sekarang. Enjoy!
Melz Moccha : Hai! Ati-ati nti koprolnya kebablas jadinya nyungsep XD. Ada nggak ya? Ahahah baca aja deh! Hihihi. Ufh, kayaknya bakal hectic banget ini. Hahaha Enjoy!
Alice Asking CC : Astojim ALICE! Ente bikin kaget ane dengan nge PM segitu banyak n review 1 1 semua fic ane! Gila! Cintaku padamu semakin semarak! Ahahah... makasih lho uda repiu nak XD teteh kangen kamu!
Dewi Fullbuster : Hai! Salam kenal n salam sayang! Maap telat update! Nah untuk GraLu ane ga janji ya. Tapi mungkin kalau mood bisa jadi XD. Takut mengecewakan :( tapi semoga ente bisa enjoy!
Sarah Brown : Hai Sarah! Baca aja deh biar penasaran! Semoga nggak krenyes2 ya humornya T.T. oia? Sampaikan salam buat Abang Connor ya! Love u 2!
Haru no haru : Trololol! Ane ngakan baca komen ente. Next uda hadir! Enjoy!
I'm going to hell for making Sting Eucliffe suffer. XD
Pardon my tardiness. Real Life needs me. Also ... salahkan Tabestry Syndrom dan SasuSaku yang suka banget bikin ide-ide liar di kepala ane yang sekarang udah penuh dengan skripsi.
Serius, ane pengin banget begal ide-ide liar ini, tapi nggak bisa. Maafkan daku.T...T
Plus, maaf kalo dirasa updatenya krenyes2 kaya kripik :(
For Sting, Kiss n Hug from your evil Motha, prefelct hell yeah! XD
Hide and Seek
Reminder
"Ayo jalan." Ajak Madam Juvia. Orang-orang masih menonton mereka bak sirkus aneh. Dengan kesal Sting mengusir mereka namun caranya membuat Madam Juvia sampai harus face-earth.
"Ih, kalian lihat-lihat aja! Om kalau nggak pergi, nanti aku gendong loh!" kicau Stacy genit sembari mengedipkan sebelah matanya. Para lelaki yang menonton mereka bertiga, cepat-cepat melarikan diri dari gombalan Sting yang menjijikkan.
'Sumpah ya, kalau nggak gara-gara blondie, gue nggak mau didandanin kaya gini lagi! Cukup sekali! Ini pertama dan terakhir kalinya gue mengalami rasanya jadi cewek jadi-jadian!' rutuk Sting dalam hati.
"Sudah 'kan?" tanyanya dengan nada bosan. Meskipun menggunakan rok, ia tidak segan-segan duduk dengan kaki terbuka lebar sembari bertopang dagu. Ia menguap lebar dan menggaruk-garuk kakinya yang berambut banyak.
"Euhh ... Stacy, tolong ya, kalau di tempat umum, jaga tingkah laku!" desis Lucy sebal. Disikutnya pemuda berotot itu sampai menggeram kesakitan. Pemuda sewot itu meliriknya dengan jengkel dan dengan terpaksa merapatkan kakinya dan bersilang tangan di depan dadanya. Lucy menatapnya jenaka dan memaksa untuk tertawa diam-diam.
"Diem lo." Balasnya ketus.
Madam Juvia memandang mereka berdua dari kursi seberang dan menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak. Ia melirik jam dinding di toko sepatu itu dan menyadari kalau waktu sudah menunjukkan saatnya makan malam. Dewi air itu berdiri dan merapikan pakaiannya dan berjalan mendekati dua sejoli itu.
"Hei, Lucy-san, sudah selesai? Madam Juvia rasa ini waktunya makan malam. Kita makan yuk. Madam Juvia lapaaarr..." rengeknya dengan bulir-bulir air mata palsu. Ditarik-tariknya tangan Lucy dengan cepat. Stacy melihatnya sambil menyinyir dan menyenggol Lucy dengan sadis.
"IH! Resek kok! Nggak pakai nyenggol bisa 'kan?!" omelnya. Gadis itu memasang wajah cemberut dan melepaskan tag harga pada sepatu boots pilihannya. Ia beranjak pergi menuju kasir dan mengetuk-ngetukkan kakinya yang sudah terbungkus boots baru dengan cepat.
"Stacy. Kemari! Kamu harus bertanggung jawab. Bayarin yah!" serunya riang. Suara erangan frustasi terdengar di seluruh toko dan membuat semua pengunjung melihat ke arah Stacy dan Madam Juvia dengan pandangan aneh.
"Ugh, itu ... suara perutku ... ?" kilahnya seraya terkekeh, tangannya menutup bibirnya dengan pose malu-malu. Madam Juvia sampai bersweatdop ria mendengar suara Stacy saat tertawa. Cepat-cepat gadis jadi-jadian itu berdiri dan menyeret Madam Juvia bersamanya, menuju gadis sewot yang sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat itu. Dengan segala rutukan dan sumpah serapah yang mengalir lewat bibirnya, ia mengeluarkan dompetnya dan dengan berat hati menyerahkan segepok jewel pada pegawai.
Senyum cerah tersungging di bibir Lucy hingga mereka sampai di restoran. Stacy yang sudah semakin tidak nyaman dengan kondisinya mulai mengomel ke sana kemari, menyebabkan semua orang yang berpapasan dengan mereka menyinyir jijik.
-xxxXXXxxx-
"Stacy," panggil Lucy. Gumaman bersuara berat menanggapi gadis itu. Madam Juvia dengan bahagia melahap makanannya sementara matanya sibuk mengawasi gelagat duo pirang tersebut. Ia semakin optimis, keduanya bisa dipersatukan dan kesempatannya untuk melahap Akang Gray sepenuhnya semakin besar. Ia bersorak-sorai dalam hati dan makan semakin lahap.
"Malam ini, kamu tidur di mana? Kamu masih mau meneruskan penyamaran ini? " tanya Lucy penasaran. Stacy yang tadinya makan tanpa ampun, mendadak berhenti dan diam termenung. Otaknya berputar cepat. Jika ia tidak meneruskan drama ini, ia bisa bebas dan bisa menikmati liburannya. Ia melirik gadis pirang di hadapannya dan seketika perasaannya menjadi tidak menentu.
'Kenapa perasaan gue jadi nggak enak ya kalau pilih untuk berhenti menyamar?' ia menghentikan makannya dan bertopang dagu, diam termenung menghadap gadis peri itu. Lucy menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Stacy yang mendadak aneh. Ia menghentikan makannya, dan ikut-ikutan bertopang dagu, sembari memperhatikan Stacy.
Gadis jadi-jadian itu memusatkan matanya ke arah belakang Lucy. Dalam diam, ia memusatkan konsentrasinya pada pendengarannya. Ia mendengar setiap suara-suara yang berdengung di sekitarnya. Beberapa hanya seputar gosip lokal, beberapa curhatan, namun akhirnya telinga sensitifnya mendengar suara dengan topik obrolan yang sangat menarik perhatiannya. Alisnya bertaut seketika. Wajahnya merengut.
"Stacy?" panggil Lucy. Ia merasa kikuk kalau berhadapan dengan Sting seperti ini. Ia membasahi bibirnya sementara telunjuknya menyentil-nyentil pinggang kekar Sting.
"Sssttt!" balas pemuda itu panik. "Gue minta parfum lo. Cepetan!" dengan bingung dan setengah panik, gadis pirang itu mengeluarkan botol parfumnya dan memberikannya pada pemuda itu. Madam Juvia berhenti mengunyah dan mendelik saat Sting menyemprotkan isi botol itu ke seluruh badannya dengan kuantitas yang tidak masuk akal untuk pemakaian normal.
Lucy spontan menutup hidungnya dan menggeret kursinya menjauh dari Sting, Madam Juvia cepat-cepat membungkus kepalanya dengan bola air dari air mineral mereka. Raut wajah mereka bercampur aduk. Mereka melihat sekeliling. Bahkan tamu di meja-meja di sekitar mereka pun mengibas-ngibaskan tangan mereka di depan hidung mereka.
"Huaatsyuu!" pemuda itu bersin tanpa memberikan peringatan. Hidung sensitifnya tidak sanggup lagi menerima perlakuan semena-mena dari parfum Lucy. Suara bersinnya membuat Lucy terlonjak dan terjungkal dari kursinya. Madam Juvia yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal, hingga menyebabkan gelembung-gelembung air bermunculan setiap kali mulutnya terbuka. Suara tawa dan 'blup-blup-blukutuk-blup' kontan bergema di dalam bola air di kepalanya. Orang-orang di sekitar mereka tertawa cekikikan melihat aksi sirkus yang ditimbulkan oleh Lucy dan Madam.
"Mama! Ada ikan! Ikannya belom bobo!" seru riang seorang bocah kecil dari kejauhan sembari menunjuk-nunjuk Madam yang kini, bola airnya sudah penuh dengan buih dari mulutnya. Semua orang tergelak melihat bola air Madam keruh dengan napasnya sendiri.
Dengan sangat murka, gadis malang itu bangkit berdiri dan mengelus-elus pantatnya. Celana pendeknya kotor dan pantatnya sakit. Wajahnya merah padam menahan amarah dan malu.
"STI-hmphh!?" jeritannya terpotong seketika saat tangan besar langsung menarik tangannya dan memaksanya jatuh terduduk di kursinya sendiri dengan kondisi mulut yang terbekap dengan tangan besar lainnya.
Stacy dengan ekspresi serius menatapnya, membuat gadis itu bungkam seketika. Mata karamelnya membulat lebar dan bertanya-tanya. Madam Juvia melihat aksi Sting barusan, langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Buih-buih keruh berhenti diproduksi.
"Yah, ikannya udah ga keselek lagi, Ma ... penonton kecewa..." keluh bocah itu dengan wajah masam. Sting menoleh ke belakang dan memberikan tatapan mematikan pada bocah itu, hingga membuat bocah itu mengompol.
"Mama! Tantenya seyeem! Kaya She-Hulk!" rengeknya keras, membuat sebagian orang langsung mendengus keras dan berusaha menahan tawa mereka. Sting mendengus kesal dan berbalik menatap korbannya.
"Selesain makan kalian dan kita langsung kembali ke hotel." Komandonya cepat. Seringai khas di bibirnya tidak terlihat sama sekali. Yang ada, raut wajah jengkel dan keinginan untuk menghajar sesuatu. Sebab, tangan yang mencengkeram tangan Lucy, berkali-kali meremasnya dengan kuat. Seakan sadar, tangannya akan melonggar sejenak hanya untuk meremasnya lagi dengan lebih kuat.
Seketika tangan kasar Sting terlepas. Matanya terbelalak saat melihat wajah Lucy yang sudah meringis kesakitan. Ia melihat tangannya sendiri dan cepat-cepat membalikkan badannya menghadap piring makanannya lagi. Dengan cuek, ia menghabiskan makanannya, tanpa memerdulikan kedua manusia di dekatnya yang saling melempar pandang.
"Madam Juvia sudah kenyang dan sudah mengantuk." Kicau Madam, berusaha meredakan ketegangan yang ada. Gadis penguasa air itu menguap lebar dan meregangkan tangannya lebar-lebar. Bola 'helm' airnya sudah ia buang ke tanaman terdekat.
"Oh, aku juga sudah selesai, Stacy." Sambung Lucy cepat. Ia cukup terganggu dengan sikap aneh yang ditunjukkan oleh Sting tadi. Mereka sudah menarik perhatian khalayak sejak sesorean ini. Setidaknya untuk malam ini, mereka jangan sampai menimbulkan keributan yang berarti. Geez, ia ingin menikmati liburan ini dengan tenang!
"Hn." Kedua pasang alis, pirang dan biru terangkat seketika mendengar tanggapan singkat dari lakon Sabertooth. Gadis jadi-jadian itu beranjak dari tempatnya dan langsung bersidekap, berjalan mendahului para gadis keluar dari tempat makan itu.
"Ich, kaya cewek PMS." Gumam Lucy sebal karena harus membayar seluruh makanan yang dihabiskan oleh cewek jejadian di depannya. Madam Juvia hanya mengangguk dan bersiul pelan saat Stacy dengan jengkel menendang pantat salah satu om-om brengosan yang mencoba menggodanya.
-xxxXXXxxx-
"Sampai jumpa besok pagi, Madam. Aku mengandalkan bantuanmu. Terima kasih untuk hari ini." Ungkap Lucy sambil memeluk Madam Juvia.
"Tidak apa, Madam Juvia siap membantu. Dia akan melakukan apa saja untuk membuat Lucy-san menjauh dari pelukan Akang Gray!" bisiknya dengan senyum jahil.
"Tch, aku hanya menganggapnya seperti kakakku sendiri, Madam. Kamu tidak perlu khawatir." Balas Lucy dengan bibir manyun.
"Sebaiknya begitu Lucy-san!" kicau madam ceria.
"Uhm, Madam, kalau kamu bertemu dengan Levy-chan atau Natsu atau Tacik, katakan pada mereka, aku tidak bisa bersama mereka terlalu sering. Aku merasa bertanggung jawab untuk menemani Stacy di sini. Aku akan segera menemui mereka jika ada kesempatan." Madam Juvia tersenyum kecil dan melirik ke belakang gadis itu. Topik pembicaraan mereka terus mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja rias.
"Oke. Madam mengerti. Jaga dirimu Lucy-san. Selamat malam." Ia melambaikan tangannya sebelum berbalik keluar dari kamar sejoli pirang itu.
"Lepasin ikatan rambut gue."perintah Sting. Ia tidak tahan harus berdandan menjadi cewek dengan rambut yang dikuncir. Kulit kepalanya berdenyut-denyut. Kepalanya pusing dan mulutnya sudah gatal untuk menembakkan Dragon's Roar ke semua om-om yang bernyali besar menggodanya. Terutama yang berusaha menjamah pantatnya.
Lucy bergumam pelan. Setelah ia berpamitan dengan Madam dan mengunci pintu kamar, ia mendekati Sting dengan tangan bersilang di dadanya. Pemuda Sabertooth itu duduk di kursi meja rias. Wajahnya terbenam di kedua telapak tangannya yang bertopang di atas meja rias. Ia merasakan kulit kepalanya yang mulai relaks dan hampir saja mendesah lega saat ia mendengar Lucy mendesis pelan di belakangnya.
Kilau azure mengintip dari balik celah jarinya dan menatap ke cermin di depannya. Dengan cepat ia berbalik dan membuat lawan jenisnya itu melonjak kaget. Kaki jenjang Lucy membawanya mundur beberapa langkah. Sosok raksasa Sting yang membayanginya membuat matanya membulat.
Pemuda pirang itu berhenti seketika saat melihat tatapan yang diperlihatkan Stellar Mage di hadapannya. Mulutnya berdecak kesal. Dengan kasar, ia melepas sendiri ikatan rambutnya dan mengacak-ngacak rambutnya, kembali ke bentuk semula.
Ia sangat membenci tatapan itu.
Suara retsleting tas terbuka mengisi kesunyian di antara mereka berdua. Gadis pirang itu bersidekap dan dengan wajah merengut memandangi pemuda yang tengah berganti pakaian di hadapannya. Lakon Sabertooth itu menyelipkan celana training hitam di balik gaun yang ia pakai. Setelahnya ia mengganti gaun mengganggu itu dengan kaus hitam lengan panjang.
Seperti tidak melihat lawan jenisnya, ia melenggang begitu saja ke kamar mandi, suara kucuran air terdengar sejenak dan suara langkah kaki menggema di ruangan. Sting mengurut keningnya sejenak sebelum mendorong gadis mungil itu untuk duduk di pinggir tempat tidur.
"Sting? Kamu kenapa sih?" tanyanya kebingungan. Yang ditanya hanya mendengus pelan dan berlutut di depannya. Ia meraih tangan kiri Lucy dan mulai membalutnya dengan handuk dingin. Bibir pink mungil itu menganga seketika.
"Jangan lo pikir gue nggak tahu. Lain kali bilang kalau sakit." Gerutu Sting, seraya mengurut pelan tangan kecil yang terbalut handuk itu.
"Sorry." Gumamnya pelan. Kepalanya menunduk. Tidak sekalipun ia membiarkan matanya bertatapan dengan mata karamel itu. Heartfilia tersenyum. Tatapan memaklumi dan memaafkan tergurat di mata lembutnya.
Dengan tangannya yang lain, ia menepuk kepala pirang di depannya. Azure sayu dan tajam terbelalak sejenak sebelum kembali menjadi sayu. Ia tetap tak bertatapan dengan gadis malang itu.
"Uhm, aku baik-baik saja. Terima kasih dan aku sudah memaafkanmu." Ucapnya lembut.e
Senyum kecil terbentuk di bibir Sting. Ia menghela napas panjang dan tertawa kecil.
"Sama-sama." Balasnya. Ia bangkit berdiri dan balas menepuk helai pirang di depannya dengan lembut, sebelum memutari tempat tidur dan naik ke atasnya. Sang peri menghela napas pelan dan memutuskan untuk berganti pakaian.
Seusainya ia berganti dan bebersih, ia melihat teman tidurnya sudah memejamkan mata dengan damai. Untuk sesaat Lucy termenung melihat pemuda di depannya.
'Ada yang aneh dengan Sting...' pikirnya. Ia mengamati wajah pemuda itu lagi dan tertawa kecil. Ia berjalan menutu tas make-up miliknya. Mengeluarkan beberapa produk dan kapas.
"Dasar idiot. Peduli dengan orang lain, tidak peduli dengan diri sendiri." Gumamnya. dengan lembut ia menuangkan cairan pembersih make-up ke kapas dan mengusapkannya dengan pelan pada wajah Sting, hingga bersih.
Sekian menit berlalu. Udara dingin di Pulau Eden cukup menyenangkan tapi tetap saja menyiksa tubuh kecilnya. Ia menyesal membawa baju tidur tipis dan tidak membawa celana panjang. Ia mengumpat pelan dan segera membereskan peralatan pribadinya.
Setelah mematikan lampu, ia mengambil tempatnya di samping Sting dan tanpa berpikir panjang lagi, ia membiarkan rasa lelah memeluknya. Gadis itu tidak tahu berapa lama ia tertidur, saat ia terbangun dengan kehangatan yang menenangkan. Selimut tebal sudah menutupinya.
Dengan mata sayu ia bangkit duduk. Cahaya yang bersumber dari lampu di balkon kamar mereka menyusup masuk melalui jendela. Kamar tak lagi gelap gulita. Dengan cahaya itu ia bisa melihat sosok di sampingnya tertidur memunggunginya dengan posisi setengah meringkuk. Ia melihat ke dirinya sendiri dan selimut tebal itu, lalu kembali pada Sting yang meringkuk kedinginan.
"Tidur. Dasar Idiot. Peduli dengan orang lain, tidak peduli dengan diri sendiri." Lucy hanya terpaku dan ternganga.
"Kamu belum tidur?"
"Gimana gue bisa tidur kalau lo menggigil kedinginan begitu? Tidur lagi sana." Jawabnya. Lucy bahkan bisa merasakan pemuda itu menyeringai seperti maniak saat ini.
"Tidak bisa." Jawabnya.
"Hn?" Master Sabertooth itu mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu menggigil kedinginan seperti itu?" ulangnya dengan nada menggoda. Suara desahan pelan mengalun dari bibir tipis Sting. Ia memilih untuk mengacuhkan gadis itu dan tidur. Namun, ia tidak bisa memejamkan matanya saat ia merasakan, tempat tidurnya melesak sebagian. Sosok gemulai di belakangnya beringsut mendekat. Sibakan selimut tebal mulai menghangatkannya. Punggungnya semakin hangat saat tubuh berlekuk itu bersandar padanya.
"Selamat malam, Rambut Nanas."
"Nite, Blondie."
"Idiot."
-xxxXXXxxx-
"Ah, lu gimana sih, vroh! Gue 'kan maunya Saberie jalan bareng! Kok pada ngilang gini sih!?" gerutu Orga kekanak-kanakan. Cak Rufus memutar bola matanya untuk kesekian kalinya. Ia yakin, organ bulat di balik kelopak matanya ini akan menggelinding keluar kalau Orga mengeluh lagi.
"Mana gue tahu, tong. Gue bukan emaknya mereka. Tunggu, apa lo bilang? Saberie?" tanya Cak Rufus seraya menyisip winenya.
"Uh-huh. Saberie. Cucok 'kan?" tanya Orga seraya tersenyum jahil.
"Gue nunggu Nyai Grandong nabok muka lo pake tembok. Bisa gila itu Nyai dengar julukan kita. Gue bakal ingat-ingat banget hari di mana muka lo mulus kaya aspal." Jawab pria flamboyan itu seraya terkekeh.
"Duh, nggak sohib banget sih lo sob! 'Kan keren Sabertooth punya kelompok beken. Growling Saberie band. Yang nyanyi gue, yang model video klip Nyai ama Neng Yukino. Yang gebuk drum Sting. Gitar, lo. Terus A'a Rogue bagian betot bass. Maskotnya uda si para kucing aja." Jelasnya dengan mata berkaca-kaca membayangkan ketenaran mereka.
"Exceed. Iya, lo jadi penyanyinya, nunggu gue pikun dulu. Gue kasihan sama database otak gue yang tercemar gara-gara suara lo yang kaya kereta lewat."
"Asyem, lo Cak. Salah gue curhat sama lo." Dengus Orga kesal. Ia menyendokkan potongan steak yang cukup besar ke dalam mulutnya. Cak Rufus hanya menyeringai kecil.
"Aku heran kalau kalian bisa akur seperti ini." Celetuk seseorang. Orga dengan wajah sumringah menarik mantel hitam panjang yang menyampir di pundak orang itu. Memaksanya duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya.
"Nah, keren 'kan kita?" cuap Orga dengan wajah congkak.
"Yeah, keren, Saberie-chan. Selamat datang, A'a Rogue dari Growling Saberie band." Seloroh Cak Rufus yang sudah mulai sebal dengan mulut bawel Orga.
"Saberie-chan? Saberie band?" pria bayangan itu hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya mendengar cemooh Cak Rufus yang lebih ditujukan pada Orga.
"Lo tanya tuh sama Orga. Dia bakal jadi produser sekaligus manajer Saberie-chan." Jawab pria pirang itu ngasal.
"Nope. Tidak. Terima kasih. Aku tahu aku akan sangat menyesalinya." Jawab A'a Rogue datar. Ia melipat mantelnya dan menyampirkan pada kursi. Orga mengerang jengkel. Cak Rufus tertawa kecil.
"Gue bilangin Nyai, tahu rasa lo!" ancam Orga setengah cemberut.
"Siapa Nyai?" kalau saat itu sudah ada pampers untuk orang dewasa, dipastikan Orga bakal mengompol ria di celananya.
"Halo Mam Minerva!" sahut Orga riang.
"Tch." Meskipun Nyai Minerva sudah mendapatkan wangsit dari langit dan bertobat lalu kembali ke jalan yang benar, tetap saja, kelakuan Nyonya Besar nan sadis itu masih menempel lengket di wataknya.
"A'a Rogue," sapa neng Yukino dengan suaranya yang imut. Ia tersenyum manis kepada semua pria di meja Sabertooth. Dengan anggun, ia duduk di samping A'a dan menyesap minuman yang sudah dipesankan untuknya.
"Sayang ya Sting-kun nggak bisa ikut liburan." Kicau Yukino dengan wajah polos. Orga melirik Cak Rufus di samping kanannya, yang melirik ke A'a Rogue di seberangnya, yang melirik ke Nyai Minerva di samping kirinya, yang menatap Neng Yukino dengan pandangan bertanya-tanya.
"Lah, lo nggak tahu Master kita di mana?" tanya Nyai bingung.
"Lho, di kantor 'kan? Di Sabertooth 'kan?" Nyai Minerva langsung menepok jidatnya dengan keras. Mata hitamnya langsung menghujam ke Orga yang sudah mengkerut di kursinya.
"Heh, Jagrik! Lo nggak bilang sama Eneng tujuan kita ke Pulau Eden apa?! 'Kan gue sudah suruh lo dari awal kita menemukan surat itu!" desisnya tajam. Si Jagrik yang sudah mulas jadi makin ingin nge-bom.
"Lupa gue..." lirihnya. A'a Rogue dan Cak Rufus kontan memutar bola matanya.
"Dodol lo! Neng Yukino, Sting minggu lalu meninggalkan surat di kantornya mengatakan mau training sendiri dan melimpahkan semua urusan kantor ke situ." Jelas Nyai dengan wajah kesal. Ia menenggak habis minumannya dengan cepat. Wajah Neng Yukino yang sumringah menjadi pucat.
"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri. Semua kepala di meja itu mengangguk.
"Kamu pikir kenapa dari kemarin Lector menangis terus?" sambung A'a Rogue.
"Sting-kun!" pekik si exceed merah di pangkuan Neng Yukino. Katak merah jambu menyempil keluar dari pelukan A'a Rogue.
"Frosch rasa Sting-kun sengaja menghilang!" celetuknya. Raungan Lector semakin keras dan memekakkan telinga. Hanya dengan pelukan dari Nyai Minerva yang mencekik yang sanggup membuat Lector bungkam.
"Oh, ayolah Neng, siapa yang tidak bisa menolak permohonan Sting selama ini dalam urusan guild?" si gadis lugu itu menggigit bibirnya.
"Aku..." keluhnya. "Jadi kita sekarang meninggalkan Sabertooth tanpa pimpinan siapa pun? Seminggu ini? Kok tidak ada yang memberitahuku? Aaahhh ... aku jadi merasa bersalah." Keluhnya menyalahkan diri sendiri.
"Ini bukan salah lo, Neng Yukino. Salahkan Sting yang lari dari tanggung jawab. Tujuan kita kemari adalah untuk menemukannya dan menyeretnya pulang." geram Nyai Minerva. Ia mengambil french fries Orga dan mengunyahnya seperti bar-bar.
"Ini juga salah si Jagrik yang tidak memberitahu tujuan kita bepergian seperti ini padamu." Lanjut Nyai ketus. Yang disindir hanya bisa meringis.
"Sebelum kita sampai di Pulau Eden, kami mendapat informasi dari beberapa penduduk setempat yang kita lewati kotanya. Mereka bilang melihat pria dengan ciri-ciri menyerupai Sting sempat mampir di kota mereka. Petunjuknya mengarah ke Pulau Eden. Maka kita ke sini, Neng." Jelas Nyai. Keningnya berkedut. A'a Rogue mendengus pelas dan bergumam tidak jelas.
"Lagipula, lo 'kan baru aja pulang dari misi lain. Jadi, mungkin lo juga nggak menyadari raibnya Sting." Ujar Nyai, memaklumi.
"Jangan khawatir. Sesekali gue teleport ke guild kok. Periksa keadaan." Sambung Nyai dengan senyum kecil.
"Sting-kun jahat..." lirih Lector sesenggukan. Forsch naik ke pangkuan Neng Yukino dan memeluk sahabat exceednya itu dengan lembut.
"Aku rasa Sting bukan mau melarikan diri dari tugasnya." Komentar A'a Rogue menarik perhatian semua orang.
"Dua minggu lalu, dia mengatakan padaku kalau dia sedang ada masalah dengan ... hormonnya." Ungkap A'a.
"Hormon?" tanya Cak Rufus yang mulai tertarik dengan topik baru ini. Ia sudah gerah dengan segala kicuan Orga soal Saberie band. Database kata-kata indahnya jadi tercemar.
"Usia Sting sekarang sudah 20 tahun dan di usia ini hormonnya mulai berpengaruh. Seperti layaknya hewan, ini sedang musimnya." Nyai Minerva melongo mendengar penjelasan A'a yang menjelaskannya dengan wajah tapres.
"Maksud lo, Mastah lagi kebelet kawin broh? Wanjir ... serem bos." Celetuk Orga yang disambut dengan tawa Nyai dan Cak Rufus. Neng Yukino dengan wajah merah juga tertawa cekikikan. A'a Rogue mengangguk-angguk dengan seringai khasnya.
"Terus, hubungannya sama Master pergi dari guild?" tanya Orga lagi.
"Uhm, moodnya gampang naik turun. Tiba-tiba beringas kalau ada lawan jenis yang mendekatinya, terutama yang bukan ditakdirkan menjadi pasangannya. Biasanya Dragon Slayer di masa seperti itu akan lebih labil emosinya dan cuek dengan keadaan sekitarnya. Hanya pada lawan jenis yang memang terikat padanya yang akan menarik perhatiannya secara khusus. Selain itu, gigi taringnya akan semakin tajam. Biasanya, kami akan suka menggigit-gigit barang kecil seperti pensil. Aku rasa Sting pergi untuk mencari pasangannya. Dia harus mencarinya kemanapun insting membawanya. " Jelas A'a Rogue yang sudah mulai lelah berbicara panjang lebar.
"Hubungannya sama gigi?" tanya Orga sembari menyentil giginya sendiri.
"Dragon Slayer hanya akan tunduk pada satu pasangan begitu pula sebaliknya. Cara kami menyatakan dominasi dan hak milik, pada pasangan kami, yaitu dengan menggigit pergelangan tangan dan leher pasangan. Jadi Dragon Slayer lain yang mau mendekati pasangan akan tahu bahwa dia milik kami. Gigitan itu akan menjadi tanda pengikat yang sakral. Jika seorang Dragon Slayer salah mengklaim, ia akan mati. Kalau pasangan Dragon Slayer mati, ia akan ikut mati. Hukum ini tidak berlaku sebaliknya. Jika pasangan kami adalah sesama Dragon Slayer, maka keduanya akan mati."
"Well, itu menjelaskan kenapa Sting-kun belakangan ini suka menggigit-gigit sembarang pensil atau bolpen." Gumam Neng Yukino. "Kasihan Sting-kun." Lanjutnya.
"Berapa lama musim ini berlangsung?" tanya Nyai.
"Minimal satu tahun, maksimal dua tahun. Semakin lama ia menemukan pasangannya, ia akan semakin beringas dan semakin tak bisa diatur. Mungkin karena itu, dia memutuskan untuk segera pergi. Lebih cepat lebih baik." Jawab A'a. Nyai Grandong berdecak kesal. Satu sampai dua tahun? Bubarkan saja Sabertooth sekalian. Master Guild pergi selama itu akan membawa kesulitan besar bagi guild.
"Kenapa bocah itu tidak bilang terus terang saja?" gerutu Nyai.
"Kami tidak suka jika hal ini diketahui orang lain. Jadi aku tidak heran jika Sting merahasiakannya dari kita. Dia bahkan tidak mengatakan terus terang padaku. Melihat tingkah lakunya belakangan ini, aku mendapatkan gambaran yang cukup jelas mengenai situasinya saat ini." Jelas A'a Rogue. Semua termangu dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Gue lihat para peri di sini. Di Pulau Eden." Celetuk Cak Rufus. Sepasang alis hitam elegan Nyai terangkat.
"Fairy Tail? Menarik." Seringai Nyai penuh arti.
"Oi, jangan bilang lo mau tawuran lagi sama Tacik Erza?" Orga mendelik.
"Idiot. Jangan mengasumsikan yang bukan-bukan. Gue dulu khilaf. Gue bilang menarik karena ada kemungkinan kalau jodoh Sting ada di sarang peri." Senyum Nyai makin lebar.
"Sugoi, aku ingat Sting-kun pernah bilang kalau dia sedang tergila-gila pada warna cokelat dan emas. Apa itu berarti sesuatu?" tanya Lector tiba-tiba. A'a Rogue mengangguk pelan.
"Bukannya Sting suka warna biru?" tanya Cak Rufus.
"Bagi orang lain, tingkah laku kami sulit ditebak di musim seperti ini. Tapi, tidak bagi sesam dragon Slayer. Bisa jadi itu warna pasangan yang menarik perhatiannya. Kita tak akan pernah tahu." Semua termangu. Namun, Frosch berhasil memecahkan keheningan.
"Frosch bakal cari semua perempuan yang ada warna cokelat dan emas!"
"Itu konyol! Tapi ... bisa dicoba!' jawab Lector penuh semangat. Cak Rufus tersenyum. Ia mendukung ide konyol itu. Jika dengan cara seperti itu bisa membuat mereka menemukan Sting, maka harus dicoba.
"Aku setuju." Kicau A'a. Neng Yukino juga mengangguk mantap.
"Oi, A'a, lebih baik lo fungsikan juga mode penciuman super lo. Aroma tubuhnya Sting harusnya bisa lo tangkap kalau dia memang ada di sini." Perintah Nyai.
"Sejujurnya, sedari tadi, hidungku menangkap aroma-aroma yang hampir sama seperti Sting. Tapi entah kenapa, sulit untuk memastikannya." Jawabnya lugas. Baru saja ia berhenti berbicara, wangi yang sangat menyengat di hidungnya, menyergap dan membuatnya hampir tercekik. Ia terbatuk-batuk dan memandang sekeliling. Banyak orang-orang berdiri dan tertawa terbahak-bahak.
"Mama! Ada ikan! Ikannya belom bobo!" suara anak kecil terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Untung ia diberkahi telinga sensitif, sehingga ia bisa mendengar dengan cukup jelas.
"Ada apa A'a?" pria bayangan itu menenangkan dirinya dan menjawab Neng Yukino, yang celingukan melihat kehebohan di restoran tempat mereka makan malam.
"Tidak, hanya bau yang menganggu." Jawabnya datar. Alisnya saling bertaut. Bau mengganggu itu terkesan tiba-tiba dan membuatnya curiga. Instingnya berkata untuk mengikuti bau tersebut, namun rasa kantuk yang mulai menghinggapinya lebih menyenangkan. Jadi ia memutuskan untuk diam dan memilih pulang ke hotel mereka setelah acara makan malam ini selesai.
-xxxXXXxxx-
"Gue mau pergi sendirian." Celetuk Sting tiba-tiba. Lucy yang tengah menyisir rambut emasnya meliriknya dari pantulan cermin.
"Benarkah?"
"Yup." Jawabnya singkat. Ia memainkan sabuk mantelnya dan memperhatikan helai demi helai emas menggantung di pundak gadis peri. Matanya seperti tertarik untuk terus menatap warna emas itu.
"Baiklah. Aku harap, temanku yang lainnya tidak bertanya-tanya soal Stacy." Ungkap Lucy setengah cemas. Ia berbalik menghadap kawan barunya itu. Pria tampan itu menyeringai kecil dan bangkit berdiri. Ia sudah terlalu lama berdiam diri di tempat tidur. Tubuhnya butuh penyegaran segera.
"Buat saja alibi-alibi. Lo suka menulis buku 'kan? Karang aja 1001 alibi yang masuk akal." Timpal Sting. Perkataannya itu ditanggapi dengan dengusan kecil.
"Tch, merepotkan saja." Gumamnya pelan.
"Gue dengar." Mata karamel itu melirik sinis pada azure.
"Terserah kamu. Aku tidak ingin kejadian kemarin terjadi lagi." Keluhnya. Master tersebut tertawa kecil dan mengiyakan keluhan teman satu kamarnya itu.
"Boleh pinjam parfum?" Lucy melihatnya seperti alien. Ia mengangguk pelan dan menyemprotkan parfum favoritnya ke tubuhnya sendiri sebelum memberikan botol pafum itu pada Sting.
"Thanks."
Tepukan lembut mendarat di kepala peri kecil dua kali, sebelum Sting berpamitan pergi.
-xxxXXXxxx-
Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Matanya berusaha untuk balik menatap sepasang mata di depannya. Bibirnya berusaha untuk tidak komat kamit, merapalkan segala doa.
"Katakan padaku, Lucy. Siapa Stacy itu?"
"Urm, sepupu Sting Eucliffe."
"Urm? Apa kau yakin?"
"Dia teman masa kecilku."
"Bagaimana kalian bertemu?"
"Stacy sering bermain di mansion."
"Berapa usiamu saat bertemu dengan Stacy?"
"10 tahun?"
"Kamu bertanya padaku?"
"Oh tidak! 13 tahun, maksudku!."
"Berapa usia Stacy saat itu?"
Random.
"Uhm, delapan tahun aku rasa."
"Kamu tidak tahu umurnya?"
"Hem, aku masih kecil, dan aku tidak bisa mengingat banyak hal, oke?'
"Tch. 13 tidak kecil, Lucy. Kamu kenal orang tua Stacy?"
"... tidak."
"Lalu?"
"Stacy anak yatim piatu. Aku mengenalnya saat berkunjung ke panti asuhan di tengah kota."
"Kamu lupa kalau Sting bahkan tidak tahu siapa orang tua manusianya? Kamu lupa kalau Sting dibesarkan oleh Weisslogia?"
Nyet.
"Tentu saja tidak!"
Tidak sadar kalau lupa.
"Lalu, bagaimana bisa kamu mengatakan Stacy adalah sepupu Eucliffe? Apa kamu berbohong?"
"Sesungguhnya, Sting sempat bertemu dengan Stacy saat usia mereka tujuh tahun. Selama satu tahun, mereka menjalin persahabatan dan bersaudara layaknya kakak adik."
"Jadi, kamu pernah bertemu Sting kecil? Kenapa kamu menyebutnya sepupu jauh?"
"Tidak, Stacy tidak pernah mengajak Sting ke mansion dan Stacy sendiri yang mengatakan kalau hubungan mereka lebih baik disebut seperti itu. Aku nggak tahu alasannya apa."
"Stacy mengenal Lector?"
"Aku rasa. Stacy tidak pernah menyebut nama Lector."
"Saat Grand Magic Games, kamu tahu Sting Eucliffe?"
Glek.
"Aku akui," jarinya bersilang di belakang punggung. "Aku tidak yakin. Saat mendengar namanya, aku merasa tidak asing. Namun, setelah melihat sifatnya, aku menjadi yakin kalau dia bukan."
"Bagaimana bisa?"
"Stacy bilang kalau 'sepupunya' itu sangat manis."
Mengerang dalam hati.
"Bagaimana kalau Sting Eucliffe itu adalah Sting Eucliffe Sabertooth? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Bukan masalah besar, 'kan? Kita bisa melihat apa yang dilakukan Sting pada Lector dan Fairy Tail saat Tartaros menyerang dengan ribuan Face. Kamu tahu jelas apa maksudku."
"Kalau bukan?"
"Maka itu akan menjadi masalahku dan Stacy saja. Tidak akan ada orang yang ikut campur."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Mempercayaimu dan Stacy?"
"Aku akan menjaga Stacy. Stacy akan menjadi tanggung jawabku. Dengar, kami bersahabat di masa kecil dan aku mengenalnya sebagai pribadi yang menyenangkan. Jika Stacy sampai melakukan sesuatu yang merugikan Fairy Tail, aku yang akan bertanggung jawab. Bisakah kamu mempercayaiku?"
"Percaya padamu, aku bisa. Stacy? Jangan berharap banyak."
"Terima kasih."
"Uhm, rasanya seperti membaca novel. Ada yang masuk akal, ada yang tidak."
"Itulah mengapa disebut rahasia Ilahi, Tacik."
Tacik Erza mendengus keras dan bersidekap. Raut wajah tidak puas kentara sekali. Desahan napas dilepaskan dari bibir celestial mage itu. Lucy menenggak milkshakenya cepat-cepat. Pagi-pagi mencari sarapan bersama Tacik Erza adalah kesalahan terbesar.
Pagi hari di Pulau Eden benar-benar menggambarkan arti kata Eden. Matahari bersinar dengan lembut. Awan tebal menggantung di langit. Angin berhembus sepoi-sepoi. Sejuk, dingin, dan menyegarkan. Kafe-kafe kecil bertebaran di sepanjang jalan. Mulai dari makanan ringan hingga kelas berat tersaji di saat seperti ini. Pohon-pohon yang hampir gundul, menghiasi setiap sisi jalan.
Anak-anak kecil berlarian dengan sukacita. Penjaja pernak-pernik saling menyapa. Kereta kuda berseliweran dengan santai di jalanan. Rombongan pengguna sepeda beramai-ramai memadati jalanan. Semuanya terasa indah dan mempesona hingga tiba saatnya Tacik Erza menyeretnya ke salah satu kafe yang menjual kudapan sakralnya, hanya untuk diinterogasi seperti ini.
Taman belakang kafe yang relatif sepi di pagi hari, membuat kewarasannya semakin menipis. Kakinya sudah ingin cepat-cepat kabur dari hadapan Tacik,menjemput Madam Juvia dan bersembunyi sampai liburan ini selesai.
"Aku ingin bertemu dengan Stacy lagi. Aku menyukai gayanya yang unik itu." Celetuk Tacik Erza. Entah kenapa tiba-tiba milkshake strawberry Lucy berasa seperti jus pare. Pahit benar.
"Aku 'kan sudah bilang kalau hari ini Stacy ingin jalan-jalan sendiri."
"Bukan berarti aku tidak bisa bertemu dengannya, Lucy." Tanggap Tacik cepat. Bibir mungilnya sudah bengkak ia lumat sejak tadi. Lucy sudah pusing tujuh keliling. Kadar kepo Tacik Erza kali ini benar-benar membuatnya galau.
Ia menyentuh kunci Cancer dan mengirimkan pesan padanya.
'Cancer.'
'Ebi?'
'Tolong aku, bisakah kamu menemukan Sting?'
'Sting?'
'Bisakah?'
'Akan kucoba-ebi.'
'Trims. Ah, Cancer!'
'Ebi?'
'Langsung ubah dia menjadi Stacy. Katakan padanya, Tacik Erza ingin menemuinya. Aku akan mengirim energiku padamu. Gunakan sebaik-baiknya.'
'Siap-ebi.'
Lucy menghela napas panjang dan mengirimkan sebagian energinya pada Cancer. Napasnya sedikit memburu. Ditundukkannya kepalanya. Tacik Erza tidak boleh tahu kalau ia sedang mengerahkan sebagian energinya. Interogasi yang lebih parah bisa membuatnya mati berdiri.
"Aku akan menyampaikan pada Stacy nanti." Celetuk Lucy. Napasnya sudah cukup teratur sekarang. Nampaknya, kue sakral itu cukup menghalau konsentrasi Tacik dari keadaan di sekitarnya. Tacik Erza mengangguk dan dengan bahagia melahap kue surgawinya. Lucy menghela napas panjang dan bersandar pada kursinya. Matanya memandang sekliling.
Taman ini terlihat begitu rapi dan manis, seperti di mansion saat ibunya masih hidup. Antara kafe satu dengan lainnya hanya dibatasi dengan pagar tanaman setinggi pinggang pria dewasa. Semua orang bisa saling menyapa dan beramah tamah. Senyum tipis mulai tersungging di bibirnya, membayangkan sosok ibunya tengah berdiri di antara bunga –bunga dan menyemprotkan pupuk cair.
"Saberie, Saberie, Saberie is the best!"
"Diem lo! Bikin malu aja!"
Senyumnya luntur seketika. Suara terakhir itu begitu menghantui telinganya.
Lucy menggeram tertahan. Sebegitu bencinya Tuhan padanya, hingga tak mengijinkan terjadinya liburan yang menyenangkan. Mau menangis rasanya.
SABERIE.
Apa lagi kalau bukan kependekan dari Sabertooth. Kepanikannya semakin menjadi-jadi tatkala sosok raksasa Orga muncul dari balik pintu menuju taman belakang kafe.
Perutnya mulai melilit. Gadis pirang itu memanjatkan segala doa kepada siapapun yang dianggap suci. Tacik Erza sudah membuatnya ingin mengompol. Dia tidak butuh Nyai Minerva untuk membuatnya mengotori celananya sekarang juga.
"Kyaaaa!" Tacik yang dengan khidmat tengah menyendokkan kuenya tersentak kaget dan melemparkan garpunya ke udara, kakinya menendang meja dengan keras hingga kue-kue terguling dan minuman tertumpah ke pakaiannya.
Tatapan iblis Scarlet membara saat itu juga. Ia mencari pelaku utama namun terbengong melihat kursi lawan bicaranya sudah kosong.
-xxxXXXxxx-
"MADAM JUVIA! HELP ME!" serunya seperti orang kebakaran jenggot. Ia berlari bak orang kesurupan menuju hotel dan menggedor kamar Madam seperti penagih hutang. Korban kebrutalan Lucy membuka pintu cepat-cepat. Ditariknya segera pembuat kehebohan di kamarnya, sebelum mengunci pintunya rapat-rapat. Tidak butuh waktu lama untuk menjelaskan pada Madam. Manusia air itu segera berganti pakaian dan menemani Lucy mencari pokok permasalahan mereka.
"Lucy!"
Madam Juvia yang berlari dengan kecepatan tinggi terpaksa menabrak si gadis pirang yang langsung mengerem mendadak, saat mendengar suara itu. Mereka baru saja sampai di lobby hotel dan aksi mereka mengundang banyak perhatian dari tamu hotel.
"Haaai! Natsu!" lengkingnya seraya berbalik badan. Bocah pinky itu melihatnya dengan aneh. Setelah memperhatikan Lucy, matanya melirik ke arah Madam dengan pandangan aneh.
"Luce, lo aneh." Celetuknya. Kaki Lucy sudah gatal untuk menendang masa depan partnernya tersebut, namun ditahannya. Ia tidak butuh tambahan masalah saat ini.
"Lo juga, Madam." Sambung Natsu yang dijawab dengan lirikan setengah hati dari Madam.
"Kenapa, Natsu?" Lucy melirik ke arah jam digital di layar lacrima yang menggantung di atas meja resepsionis. Hampir pukul sepuluh. Ia tidak boleh membuang waktu lagi. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya dengan cepat.
"Tumben, lo nggak sama Levy-chan. Oh ya, tanya dong, lo lihat Lisanna nggak?" alis pirang langsung terangkat tinggi.
" ... tidak." Jawabnya pelan. Natsu mengelus dagunya dan melihat sekitar. Ia mengedikkan bahunya dan mendengus pelan.
"Oke. Gue cari dia dulu deh. Dah!" ia melambaikan tangannya dan berlari pergi meninggalkan kedua peri melongo sendiri.
"Tumben, Natsu-san nggak rempong dengan Lucy-san?" tanya Madam.
"Aku juga nggak tahu." Jawabnya pelan. Sepasang iris karamel menatap nanar arah Natsu menghilang. Ia tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Sesaat setelah nama 'Lisanna' terucap dari mulut partner kesayangannya, ia seperti merasa ditampar.
SAKIT.
Oleh karena itu, reaksi yang ia berikan adalah langsung mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia tidak langsung menjawab. Ketakutannya saat itu hanyalah ekpresi hatinya tergambar di wajahnya.
Kedua alisnya bertaut dekat. Wajahnya menjadi murung. Ia tidak suka dengan apa yang dirasakannya barusan.
Tidak. Tidak. Lucy tidak cemburu dengan Lisanna Strauss.
'Cemburu?' pikirnya dalam hati.
"Dasar gila." Gumamnya pelan.
Madam Juvia menatapnya dengan pandangan penuh arti. Namun, ia memilih untuk menutup mulutnya saat ini.
Lucy Heartfilia tidak cemburu, demi apapun yang suci yang melayang di langit!
"Sting." Mata besar itu berkedip, saat nama Sting dilontarkan. Ia menoleh pada Madam yang asyik menyikutnya dengan jahil.
"Lucy-san, kita masih harus menemukan Sting, bukan?" wajah murung itu terhapus seketika tergantikan dengan kekhawatiran.
"Aye! Cepat-cepat! kita nggak boleh buang waktu lagi!" serunya. Madam Juvia terkekeh nista dan bersorak kegirangan melihat mimik wajah gadis peri itu.
-xxxXXXxxx-
13.
Sudah 13 kali ia menggeram.
Sudah 13 kali ia mengerang keras.
Sudah 13 kali ia menolak tawaran para gadis yang mau menemaninya sarapan.
Ada apa dengan para gadis ini!? Tidak bisakah mereka mengganggu orang lain?!
Tiap kali ia mau menyendokkan makanannya, gadis lain datang. Bahkan mereka antri seperti di loket tiket hanya untuk menawarinya menemani sarapan.
Gusinya terasa gatal. Ia menggigit sendok peraknya sampai habis. Dirasakannya taring kebanggaannya itu dengan telunjuknya. Ia menyerngit heran. Giginya semakin runcing.
Dengan segera ia meninggal sejumlah jewel di meja dan beranjak pergi, namun terhenti saat secara ajaib, Cancer muncul di hadapannya.
"Gawat darurat-ebi." Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata, Cancer menariknya berlari keluar kafe menuju sebuah lorong kecil yang sunyi.
"Hoey! Ini apa-apaan?!" sentak Sting yang sudah meradang hebat.
"Gawat darurat-ebi. Master ingin anda berubah menjadi Stacy segera-ebi." Jelas Cancer yang sudah memainkan guntingnya dengan berbahaya.
"Apa? Memangnya kenapa?!" tanyanya penuh emosi.
"Tacik Erza mau menemuimu-ebi. Master baru saja diinterogasi dan aku bisa merasakan kebohongan yang luar biasa-ebi. Master ingin menolongmu-ebi. Lebih baik, kau bekerja sama-ebi." Jelasnya panjang lebar. Eucliffe mencerna setiap kata-kata yang terucap dan setelah melewati perdebatan batin yang cukup membuat lelah, ia menyerah pada keadaan.
"Gu-"
"Tunggu-ebi." Cancer mengacungkan jarinya di depan wajah Sting. Setelah beberapa saat, Sang Kepiting mengangguk cepat.
"Status siaga satu. Master melihat kelompok Sabertooth di Pulau Eden." Wajah Sting yang putih mulai memucat.
"Siapa saja?" tanyanya setenang mungkin.
"Master histeris dengan kehadiran Nyai Minerva." Pucat bak mayat mewarnai warna kulit Sting.
"Bilang sama Lucy, gue nunggu dia di Four Season Cafe. Sekarang, bikin gue jadi Stacy." Tanpa buang waktu, Cancer mengerjakan tugasnya. Untunglah, hari ini ia mengenakan kaus hitam longgar dan celana panjang serta mantel. Rambutnya yang sekarang menjadi panjang terikat menjadi ekor kuda. Poninya membingkai wajahnya. Jika orang tidak memperhatikan benar, mereka hanya akan melihat seorang gadis kelebihan steroid berusaha tampil feminin, yang tidak sepenuhnya gagal.
Ia mendengus kesal. Ia mengucapkan terima kasih pada Cancer dan segera menghilang menuju kafe yang dimaksud. Jika saja ia tahu apa yang tengah menantinya kelak.
-xxxXXXxxx-
Suasana romantis segera menyambut mereka. Senyum-senyum kecil bertebaran di sana sini. Obrolan santai dan hangat riuh rendah di seantero ruangan. Ia tersenyum tipis. Harum pasta dan sup membuat perutnya mulai menggelar pagelaran musik.
Kafe ini merupakan kafe yang paling terkenal di Pulau Eden. Dengan konsep empat musim, pengunjung bisa menikmati makanan khas yang hanya tersaji pada musim tertentu. Pengunjung bahkan bisa melakukan fusion dari menu-menu yang telah disediakan.
Matanya meneliti arsitektur bangunan. Four Season Cafe merupakan sebuah komplek indoor luas yang terdiri dari empat sektor, dibagi menurut musim yang ada. Di setiap sektor terdapat kedai-kedai kecil yang menyajikan makanan khas di musim tersebut. Pengunjung dapat menikmati santapan mereka dengan diiringi pertunjukan khas pada musim itu pada waktu tertentu.
Setiap sektor akan ditandai dengan gerbang per musim. Kedai-kedai diposisikan di pinggir, sehingga pengunjung bisa berkumpul di tengah area dan menonton pertunjukan dengan nyaman. Ia melihat di sebelah kirinya, merupakan sektor Musim Panas. Searah jarum jam, Musim Gugur, Musim Dingin, diakhiri dengan Musim Semi. Di tengah-tengah ruangan berdiri panggung berbentuk lingkaran yang tidak begitu tinggi. Pemain musik diposisikan sepeti punden berundak mengelilingi panggung dengan penyanyi yang menjadi pusat di tengah panggung.
Ia tersenyum puas. Ini benar-benar konsep yang menarik. Kakinya dengan mantap membawanya berjalan menuju sektor Musim Gugur. Meskipun masih tergolong pagi, kafe ini sudah dibanjiri oleh turis. Ia bahkan bisa melihat beberapa anggota Fairy Tail sedang bermabuk-mabuk ria di sektor Musim Panas. Senyumnya masih tersungging melihat kehebohan yang ditimbulkan oleh dewa mabuk Fairy Tail. Ia memilih mengacuhkannya. Ia masih cukup waras untuk bisa menikmati tempat ini dengan tenang.
Suara langkah kaki yang berjalan cepat dan tergesa-gesa di belakangnya membuatnya penasaran. Belum sempat berbalik badan, sosok itu menabraknya. Sosok itu cepat-cepat meminta maaf dan melanjutkan perjalanannya menuju Sektor Musim Dingin. Ia mengedikkan bahu dan akan melupakan peristiwa tersebut jika bukan karena aroma parfum yang membuatnya terbatuk-batuk kemarin malam, muncul lagi di penciumannya. Ia mencari sosok pemakai parfum itu, namun kerumunan turis membuatnya gerah. Cepat-cepat ia mengklaim meja kosong di sektor Musim Gugur.
"Ayo, cepat!" telinganya menangkap suara mereka.
"Tunggu!"
"Kita nggak punya banyak waktu!"
"Iya! Tapi, dia nggak bilang kita harus bertemu di bagian mana?"
"Nggak! Oh, aku bahkan nggak bisa mikir sekarang. Begini saja, kamu ke sektor Musim Semi. Aku ke sektor Musim Gugur. Kalau tidak ada, kamu langsung ke sektor Musim Panas. Kalau bertemu dengan anggota Fairy Tail, segera menghindar. Mengerti?"
"Siap!"
Mereka berpisah dan menjalankan tugasnya masing-masing. Lucy berlari memasuki sektor Musim Gugur dan dengan gerakan hati-hati, memantau setiap meja. Mata karamelnya tidak menemukan rambut pirang itu.
"Stacy!" bisiknya keras.
"Stacy!" ia mengulangnya berkali-kali. Terkadang, turis lain akan memandanginya dan mengacuhkannya. Ada pula yang bahkan menawarkan diri untuk membantu menemukan 'Stacy'. Ia menolak semua tawaran tersebut. Ia berjalan cepat dan menaikkan kerah bajunya tinggi-tinggi. Berharap tidak ada yang mengenalnya.
Penciumannya menangkap aroma itu lagi. Kali ini datang dari sosok gadis mungil yang berjalan cepat melewati mejanya. Alisnya menyerngit. Instingnya berteriak untuk mengikuti gadis itu dan ia menurutinya. Pada kawan kecilnya ia berjanji akan segera kembali, asalkan ia tidak kemana-mana. Partner kecil itu mengangguk dan berpamitan dengan gadis – yang sibuk memilih menu – yang menemaninya sedari pagi tadi.
Gadis itu dengan lincah menghindari kerumunan para turis. Jarak yang tercipta di antara mereka berdua semakin lebar. Gadis itu kini memasuki sektor Musim Dingin dan berjalan semakin cepat. Garis wajahnya sesekali menarik perhatiannya. Ia berusaha mengingat paras itu.
Rambut pirang panjangnya mengayun kesana-kemari. Rok mininya mengayun mengikuti pinggulnya. Ia tampak mencari-cari seseorang.
'Mungkin Natsu?' pikirnya.
-xxxXXXxxx-
Ia hampir saja pingsan melihatnya. Tubuh kekar berotot dipamerkan kemana-mana, ia hampir saja terbang menghampiri pemilik tubuh itu jika bukan karena sesuatu yang lebih bisa dibilang 'skandal' menarik perhatiannya.
Mata birunya berkedip-kedip cepat dan mulutnya menganga lebar. Ia menahan lengkingan kegirangannya saat ia melihat rambut merah jambu dan rambut silver tengah diikat oleh ratu mabuk dengan seutas tali ajaib. Wajah mereka berdua tampak bersemu merah. Si silver berusaha mengelak namun si pinky malah diam seribu bahasa. Sekali-kali merengut seperti anak kecil. Ratu mabuk tertawa keras. Ia duduk di atas meja dengan pakaian vulgarnya, tidak peduli cuaca.
"Ne, ne, ne. Meme Lisanna. Akui saja lo ada main-main 'kan sama Salak-minder? Kartu gue nggak bisa ditipu lho." goda Jeng Cana.
"Salamander!" sahut Natsu berapi-api.
"Nggak! Kalian jangan bikin berita yang tidak-tidak!" elak Meme Lisanna.
"Ah, ah, Natsu..." goda Jeng Cana. Pemuda itu membuang mukanya dan merengut.
"Memangnya tidak boleh?" gumam Natsu. Babe Laxus langsung menegakkan kepalanya mendengar kalimat bocah itu.
"Oi, Koko Elfman, lo bakal punya bakal adik ipar nih!" serunya. Cece Mira dan Koko Elfman terkesiap. Cece dengan wajah berbunga-bunga menarik Koko Elfman bersamanya.
"Meme! Kyaaaahh! Kalian sangat, sangat, sangat boleh melangsungkan pernikahan di sini sekarang juga!" serunya riang. Koko Elfman pingsan seketika.
"EEEHHH!?" bahkan Babe Laxus ikut mendelik mendengarnya. Madam Juvia yang melihat dari kejauhan ikut berteriak.
"Cuma perasaanku saja atau memang semua Dragon Slayer akhir-akhir ini bertingkah aneh?" tanya Sinyo Romeo. Om Macao mengedikkan bahunya.
"Babe Laxus dan Nonik Wendy baik-baik saja tuh. Kecuali Natsu dan Encang Gajeel. Aku tidak tahu apa yang merasuki mereka." Jawab Om Macao dilanjutkan dengan menghisap cerutunya.
"Kalau Natsu dengan Meme Lisanna, Lucy gimana?" tanya Akang Gray yang sudah berbugil ria. Madam Juvia mendelik semakin lebar melihat Akang pamer kejantanan di mana-mana.
"Akang! Baju lo!" pekik Cece Mira.
"Di sini panas!" balas Akang yang kegerahan.
"Nah, itu yang belum kita pikirkan." Sahut Jeng Cana dengan nada prihatin. "Lah, lo sendiri gimana sama Madam Juvia?" tanyanya balik. Akang Gray hanya mendengus kesal dan bergumam sendiri.
Madam Juvia merengut dan menangis sesenggukan. Rintik hujan mulai tercipta akibat reaksi Akang Gray yang menyebalkan.
"Nah loh, Madam mulai kumat ini. Kok aneh ya, padahal orangnya nggak ada di sini." Celetuk Nona Laki. Madam mendengus kesal dan meninggalkan rombongan sirkus Fairy Tail itu menuju sektor Musim Dingin. Tiba-tiba saja ia lupa dengan perintah Lucy.
-xxxXXXxxx-
Iris merahnya terbuka lebar. Gadis itu berhadapan dengannya dan ia tahu jelas gadis itu siapa. Nampaknya gadis itu tidak menyadari dirinya yang tengah menatapnya dengan mata lebar. Gadis itu berkacak pinggang dan mulutnya berkomat-kamit.
Suara musik mengalun keras. Telinganya tidak bisa menangkap suara kecil peri itu, namun matanya yang tajam bisa membaca gerakan mulutnya. Perlahan matanya semakin terbelalak. Kata kedua membuatnya terjaga. Kata berikutnya hampir ia dapatkan saat seorang wanita bermantel hitam dan tinggi besar dengan rambut pirang panjang dikuncir ekor kuda menghalangi pandangannya.
Ia sempat menyaksikan ekspresi terkejut gadis itu. Namun, kali ini, bukan hanya gadis itu yang terkejut, namun beberapa orang di sekitar mereka termasuk dirinya ikut terperangah. Tangan kanan wanita misterius itu menyelip di pipi gadis itu. Ia menunduk dan memiringkan kepalanya, menutupi wajah terkejut gadis itu.
Dari tempatnya berdiri, ia tahu persis posisi itu. Ia melongo. Orang-orang di sekitar kedua wanita itu banyak yang menutupi mulutnya sebagai tanda takjub.
Pelan-pelan ia menutup mulutnya dan kembali ke bangkunya di sektor Musim Gugur. Wajah pucat pasinya mnarik pehatian partnernya.
"A'a, kamu nggak apa-apa? Wajahmu pucat sekali." Tanya Neng Yukino. Ia khawatir melihat A'a Rogue yang syok berat.
-xxxXXXxxx-
Madam Juvia mematung di tempat. Tangannya menutupi mulutnya yang menganga lebar. Mata birunya membulat. Rona merah menyapu pipinya.
Di depannya, kedua pirang itu dalam posisi yang sangat, sangat Madam inginkan. Azure memandang dengan tajam lawan di depannya. Meskipun dari kejauhan dan sudut yang tidak pas, Madam bisa melihat azure itu memandang lekat-lekat gadis mungil di depannya.
Seketika Madam merasa terbakar. Untuk keseluruhan, ia senang. Sangat senang. Tapi sesaat, ia merasakan kecemburuan yang biasanya hanya ia rasakan pada Akang Gray. Kecemburuan saat Akang Gray berdekatan dengan Lucy.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan dengan terpaksa, memasang senyum jahil.
-xxxXXXxxx-
"Aku rasa, Lucy Heartfilia seorang ... lesbian." Gumamnya pelan. Pekikan tertahan terlepas dari mulut neng Yukino dan Frosch.
"Maksudnya?! Nggak mungkin! A'a berdancanya nggak lucu deh." bantah Neng Yukino.
"Aku ... baru saja melihatnya berciuman dengan wanita lain." Lanjutnya penuh ketakjuban,
.
.
.
.
.
"HAAAHH!?"
Bersabarlah dengan ane karena ane juga tengah bersabar menjalani skripsi. Ane tahu ane suka telat, hiatus tiba-tiba :( jadi maaf buat yang kadang suka males nunggu ane update. Bagi yang suka Naruto, dipersilahkan jalan-jalan ke fic ane yang itu :D
Ane bakal menghilang lagi.
'The Script, The Whisper, and Marriage Contract' bakal hiatus dalam beberapa waktu ke depan. Idenya lagi mondok di mana ane juga gatau :(
RnR please? I love your reviews. That's how i communicate with you, pals.
Matursuwun ... :3
