"Jack! Katanya di bioskop ini ada film seru!"
"Sehabis itu, ayo kita ke sana! Aku mau melihat festival!"
"Lihat, Lihat! Katanya makanan di kedai itu enak!"
Sepasang tungkai diiringi gelak tawa itu memenuhi sisi pedestrian, meredam riuh rendah dari pengguna jalan yang berlalu-lalang di antara bangunan perkotaan.
Jack Frost dan Jamie Benneth—ada dua nama yang berpetualang kompak selama satu hari penuh, mencicipi berbagai hal baru yang belum pernah mereka rasakan. Pernah, mungkin, bagi Jack—tapi itu jauh sebelum dia terjebak dalam tubuh abadi seorang guardian dan gaya metropolitan yang memang cukup berbeda dari era semasa dirinya hidup dulu.
Lihat betapa lebar senyumnya sekarang, saat dia menyapa ramah setiap wajah asing di sepanjang trayek dan mereka menyapanya kembali. Sudah lama Jack tidak merasa sebahagia ini semenjak keberadaannya dilupakan oleh orang-orang yang pernah dicintai.
Tak ubahnya pemuda yang ikut menyamakan langkah di sampingnya. Dengan semangat dia menarik sahabatnya untuk keluar masuk tempat-tempat menarik, melihat dan mencoba berbagai macam tempat dengan panganan yang selama ini hanya bisa dipandangnya dari balik etalase kaca.
"Wow, Jack! Aku tidak boleh makan permen lebih dari dua bungkus setiap hari, sekarang aku bisa makan sekotak penuh dan gigiku tetap baik-baik saja!" riangnya tanpa sungkan memasukkan lagi butiran manis ke dalam mulutnya.
"Orang dewasa juga bisa sakit gigi, Jamie, jadi jangan makan terlalu banyak."
"Hei! Jangan merusak suasana, Tuan-sok-pintar! Aku sedang menikmati semua ini."
Berjalan keluar dari sebuah toko permen sambil membawa banyak bungkusan, keduanya tergelak lagi—menerima hujaman bulir salju yang semakin lama sudah tidak terasa menusuk.
Benar kata pepatah; waktu terlalu cepat terbang saat kita sedang bersenang-senang.
To Our Shooting Star
Rise of the Guardians (c) Dreamworks
Warning: cerita akan diselip banyak curhatan, sinetron, lebay, missdetail, OOC dan garing.
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
.
.
.
"Kakiku pegalll…"
Jack memijat pangkal terbawah dari salah satu tungkainya.
"Euw… kurasa kakimu lecet. Apa sepatu ayahku tidak cocok?"
Mereka menyamankan diri di atas sofa di dalam kedai kecil, sebuah tempat singgah sebelum mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sekali-sekali sang guardian meniup memar-memar kakinya dengan susah payah. Ada tambahan aksi di mana dia mencipratkan air dari minumannya melewati ujung sedotan untuk meredam bagian kulit yang kemerahan.
"Sepertinya aku memang sudah lupa caranya berjalan memakai sepatu." kelakar yang sekarang bersurai kecoklatan itu sambil tertawa ringan.
"Kurasa memang kita sebaiknya cepat pulang untuk merawat kakimu." ada nada khawatir dalam kalimatnya.
"Tidak masalah, Jamie. Aku masih bisa berjalan sebentar lagi." merasa lebih baik, Jack memantulkan pelan kedua tumitnya berkali-kali ke lantai. Tidak lama hingga dia memasang kasutnya kembali, "lagipula aku juga menikmati ini."
Ada lagu berirama Jazz sayup mengalun mengisi ruangan. Mereka yang terhanyut dipaksa mengecap minuman pesanan masing-masing, mencoba mengalirkan isinya melewati kerongkongan.
"Sekarang aku tidak akan percaya lagi kalau ayahku bilang alkohol itu enak. Ini jelas pahit sekali!" keluh Jamie akhirnya. Untunglah dia sempat membeli permen dalam jumlah banyak sehingga manisnya dapat menetralisir rasa tidak nyaman yang menggerayangi sekujur lidahnya.
"Tapi alkohol lebih dari cukup untuk membuat tubuhmu hangat di musim dingin seperti ini." berbeda dengan Jamie, Jack menyesap minuman keras miliknya dengan cuek.
"Aku sempat kepikiran, Jack. Kalau kau di sini, siapa yang membuat salju? Lalu apa Bunny dan yang lain tidak mencarimu?"
Jack berhenti memainkan ujung gelas di bibirnya, "Mungkin Mother Nature yang mengurusnya, entahlah. Aku tidak bisa melihat mereka, apalagi tanpa tongkatku." sinar dari iris coklatnya kemudian meredup.
"Apa tidak ada suatu cara… telepati, misalnya?"
Ada tawa lepas selarik kalimat tanya Jamie yang terdengar sangat kekanakan, "Jamie… Jamie… telepati itu hanya mitos. Kami para pelindung bahkan tidak memilikinya. Mungkin MIM bisa, tapi aku yakin telepati bukan kata ganti yang tepat."
"Lalu bagaimana caranya aku kembali seperti semula? Orangtuaku akan pulang besok!" kemudian yang seharusnya lebih muda itu menjadi cemas.
"Aduh, bagaimana ya…" Jack menggaruk bagian anak rambutnya gelisah, "Kurasa kita bisa berpikir lebih fokus sesampainya di rumah nanti."
"Baiklah, lagipula sekarang sudah terlalu sore." dengan keberanian penuh, Jamie menghabiskan sisa minuman yang jauh dari kata enak sebelum membayar segala pesanan menggunakan kartu kredit ayahnya.
.
.
.
Ada bunyi 'hmm' panjang dari dua pemuda yang sekarang selonjoran damai di atas sofa empuk yang sama.
Yang satu mengetuk lutut—memperlihatkan beberapa kerutan di antara alisnya yang tebal, sementara yang lain mengacak-acak rambutnya sambil bergumam tanpa arti. Ada sesekali tangan mereka menjamah gula-gula padat yang bertebaran di atas meja untuk menjadi intermezo di antara atmosfir monoton.
"Aku benar-benar tidak mendapat ide atau apapun." Jamie mengakui.
"Apalagi aku." Jack menimpali.
Hening menguasai mereka lagi. Tentu saja sang pelindung yang pertama kali tidak tahan dengan suasana awkward seperti ini.
Dia guardian of Joy, ingat? Tugasnya adalah bersenang-senang. Memberi kebahagiaan. Hobinya melempar salju dan tertawa lepas bersama siapapun yang percaya padanya, bukannya duduk diam—menopang dagu dengan pose berpikir seperti ilmuwan menunggu hasil eksperimen.
"Aku bosan! Lakukan sesuatu, menyanyi atau apa sajalah!" sifat anak kecil Jack muncul di saat yang tidak tepat, membuat Jamie berpikir ulang tentang siapa sebenarnya yang berusia legal dalam arti sebenar-benarnya di antara keduanya.
"Sekarang sudah menjelang malam, kita tidak mungkin keluar lagi. Bagaimana kalau menonton saja? Kita bisa pesan pizza juga kalau mau." rujuk sang tuan rumah sambil memberi Jack selembar brosur sebagai petunjuk pesan antar.
Mendengar tawaran yang menggiurkan, Jack langsung setuju lalu menyambar telepon, "Aku akan memesan Pizza… kau cari tontonan bagus."
"Untuk urusan makanan kau ternyata tidak bisa diremehkan, Jack Frost." Jamie mencibir.
"Bagaimana, ya? Aku kan masih dalam proses pertumbuhan." Jack menyeringai puas lalu menghubungi salah satu nomor dari selebaran yang diberikan Jamie padanya, "Halo! Nama saya Jack Frost dan aku ingin memesan bermacam-macam pizza, temanku yang akan bayar…"
Menghela napas panjang, Jamie masuk ke dalam kamar ayahnya untuk mencari tumpukan kepingan DVD yang bisa dipakai sebagai sumber lebih hiburan. Dia tidak bisa memutuskan mana yang bagus karena rata-rata tidak bersampul sehingga mengambil salah satu secara sembarangan. Menuju ruang tamu kembali, dia mendapati Jack masih berkutat di atas sofa dengan telepon—mengucapkan berbagai jenis rasa yang cukup umum di telinga.
"Tuna, Meat lover, mushroom chunk, perutmu tahan menampung semuanya, Jack?"
"Apa kau tidak kasihan padaku yang sudah beratus-ratus tahun tidak pernah makan pizza?"
Jamie terkekeh. Memasukkan keping DVD pada alat pemutar lalu kembali duduk di samping Jack setelah menyalakan televisi.
"Kurasa seperti ini juga tidak buruk. Jujur saja, aku belum pernah sebahagia ini…" Jamie refleks menaruh kepalanya pada bahu Jack, melupakan fisiknya yang saat ini berusia kepala dua,
"—selain saat aku bisa melihatmu pertama kali, tentu saja!" ralatnya cepat yang membuat Jack terkekeh, mengacak perlahan helai coklat tua Jamie seperti kebiasaannya selama ini.
Jack ikut menumpukan pipinya di pucuk surai sahabatnya. Bohong kalau dia tidak menikmati saat-saat yang baru saja dilaluinya. Makanan hangat, minuman pahit, tawa ringan, semua itu merupakan bagian 'fun' yang sangat ingin dilaluinya selama ini.
"Ngomong-ngomong Jack…"
"Hng?"
"Lukamu, sudah tidak apa-apa?" Jamie melepas kepalanya dari bahu Jack untuk memindahkan fokusnya pada tungkai sang pelindung sekarang, "Akan lebih baik kalau dibalut dulu."
"Sudah tidak sakit sih, makan pizza juga bakal sembuh." candanya sambil menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, melebarkan teritori miliknya sehingga Jamie terdorong ke ujung.
"Astaga, turunkan kakimu!"
"Tidak mau."
"Jack!"
"Hnng… ahhh…"
Aksi mereka dihentikan oleh suara-suara erotis beruntun dari arah televisi. Sepertinya mereka sendiri lupa kalau sedari tadi DVD sudah menyala.
Lebih mengejutkan, film itu menampilkan dua pasangan sedang bersetubuh yang tentu saja masih dalam ranah tabu untuk dikonsumsi Jamie yang masih di bawah umur.
"ARGHHHH!" Jack menjerit histeris mengingat dengan siapa dia melihat film tersebut, seluruh wajahnya otomatis terbakar, "Darimana kau dapat film ini? Matikan! Matikan! Mana remote-nya?"
"Hah? Eh- J-Jack!" gerakan sang pelindung yang brutal malah membuat Jamie meluncur dari sofa dan tersungkur di lantai, "Hei, bola salju! Tenanglah sedikit!"
"B-bagaimana bisa tenang! Kau seharusnya belum boleh melihat iniii!"
"Memang kau sendiri sudah boleh?"
"Aku sudah delapan belas tahun!"
"Kalau begitu aku dua puluh!"
"Jamie Benneth! Jangan menjadikan fisikmu saat ini sebagai alasan!"
Di tengah adu gulat antara niat Jack mengalihkan perhatian sambil mencari remote, dengan susah payah yang berumur lebih tua berhasil mengunci gerakan sang Guardian. Di atas lantai dengan posisi terduduk, Jamie memeluk Jack dari belakang, mengunci kedua pergelangan tangan Jack di depan dadanya sehingga keduanya menghadap layar kaca di mana adegan dewasa dari potongan film porno itu masih berlanjut—bahkan lebih panas dari sebelumnya karena sudah melakukan penetrasi.
"Apa ini hanya dilakukan oleh orang dewasa?" tanya Jamie frontal, tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari arah televisi.
Rahang Jack seakan gagu ditodong pertanyaan semacam itu. Ini sama seperti seorang anak kecil bertanya; darimana bayi berasal? Kemudian orang tua yang kurang bijak akan menjawab kalau bayi ada karena dibawa oleh burung bangau.
"Apa yang bisa kau jelaskan padaku, Jack?!"
Sebuah ironi. Karena kontras dengan pekerjaannya yang menciptakan elemen dingin, baru kali ini Jack merasakan tubuhnya merinding hebat karena elemen yang sama. Dia salah tingkah, "J-Jamie, matikan. Jangan menonton lagi!"
"Tidak mau. Kau sendiri tidak menjawab pertanyaanku."
Setetes peluh terjun bebas dari dahi sang pelindung, menetes searah gravitasi. Cengkeram kedua tangan Jamie lamat-lamat semakin erat membelenggu pasang pergelangannya. Mau tidak mau, ada momen saat manik Jack terpaksa memandang lurus untuk melihat sekelebat adegan tidak senonoh di dalam layar kaca.
Terdengar napas memburu di ruangan, entah dari aktor-aktris yang sedang memainkan peran mereka atau salah satu dari dua sahabat yang masih terduduk kaku, atau kedua-duanya—entahlah.
"Kau bisa lepaskan aku sekarang, Jamie." intonasinya cepat dan kaku. Jack sudah berusaha sekeras mungkin supaya suara-suara cabul yang terdengar tidak terlalu mencolok tapi Jamie sepertinya terlalu berkonsentrasi.
"Apa ini yang kalian—orang dewasa sebut dengan seks? Aku merasa aneh saat melihatnya."
Jack memiliki catatan mental terbaru, pekerjaannya sebagai salah satu pelindung yang mengusung kebahagiaan anak-anak ternyata tidak sanggup menghalangi rasa penasaran seorang bocah yang akan menginjak usia sembilan tahun.
Surai kecoklatan itu akhirnya mengangguk.
"Apa rasanya enak?"
Usaha membuka mulut Jack gagal karena kali ini dia tetap menjawab dengan bahasa nonverbal. Pundaknya terangkat sejenak untuk menggantikan jawaban; tidak tahu.
"Kau mau melakukannya denganku, Jack?"
"APA?" aksi tutup mulut Jack seketika buyar. Namun tubuhnya tetap saja tidak bisa bergerak banyak karena pinggang dan kedua tangannya masih terbelenggu. Kalau Jamie akan menjadi sekuat itu jika sudah bertumbuh nanti, Jack sama sekali tidak ingin first believer-nya menjadi dewasa.
"Aku berpikir untuk mencobanya, mungkin sekarang saat yang tepat. Maksudku, aku ingin memanfaatkannya selagi berada dalam wujud seperti ini…" ada pembelaan diri yang diutarakan Jamie di sana.
"D-dengar, bocah! Itu tidak bisa k-karena… " sosok yang terkunci menelan ludah, "kita berdua laki-laki, OK? Dan kau akan melakukannya dengan perempuan yang menjadi istrimu suatu saat, bukan denganku atau siapapun."
"Artinya aku hanya akan melakukannya dengan orang yang kucintai, seperti ayah pada ibu?" Jack rela masuk daftar anak nakal North selamanya karena akhirnya mengangguk keras lagi atas pertanyaan terakhir Jamie. Seharusnya dia bisa menghentikan pembicaraan ini dari awal, bukannya menanggapi setiap pertanyaan yang dilontarkan.
Di tengah suasana canggung, bel pintu berbunyi nyaring—membuat kedua makhluk adam itu melonjak kaget. Jack dengan cekatan melepas kedua tangannya untuk mengambil remote televisi yang akhirnya dia temukan, mematikan film laknat tersebut lalu mengeluarkan isinya supaya tidak meninggalkan bukti konkrit. Jamie memastikan segalanya aman sebelum membuka pintu, menyambut seseorang yang sudah membawakan tiga loyang pizza dengan topping-topping menggiurkan di tangannya.
Setelah membayar, keduanya duduk berhadapan di atas karpet ruang tamu tanpa ada satupun yang angkat bicara saat mengunyah makanan. Kalau boleh jujur, Jack sudah tidak berselera lagi saat itu.
"Euh… maaf Jack, aku bukannya ingin membuatmu tidak nyaman." sesal Jamie sambil mengigit potongan Pizza beraroma daging, "Aku hanya… penasaran…"
"Yeah, tentu Jamie. Aku tidak apa-apa. Hanya kaget." Jack memutar bola matanya, meminta waktu agar otaknya merujuk bibirnya sebuah kalimat yang tepat, "Kau tahu, saat menjadi manusia aku juga belum pernah melakukannya… jadi…"
Kalimat itu terputus di sana—ditambah semu di wajah Jack yang semakin jelas.
"Sebaiknya setelah makan kita segera tidur." Jamie mencoba mengisi kalimat Jack yang volumenya semakin lama semakin minim. Sang guardian menyetujuinya dengan anggukan samar lalu menghabiskan potongan terakhir makanan khas Italia yang dia pegang.
"Maaf aku pesan terlalu banyak."
Pada akhirnya, mereka berdua hanya mencicipi satu potong saja dari masing-masing jenis pizza yang dipesan.
To be Continued...
.
.
.
Di bawah A/N-nya rada panjang. Mau di skip juga gpp kok :D
.
.
.
A/N (5): GILAAAKKK! PARAHHH! Setahun banget nih fic-nya baru di-update SETAHUN BANGET NIH? Maafkan kemalasan author yang walau udah bikin karya tapi entah kenapa kalo finishing dan aplot itu rasanya malesss banget. Silahkan author dihukum pancung… mungkin yang nge-follow juga udah lupa sama fic ini… (:D)┼─┤#rebahan
A/N (6): Jadi nostalgia deh sama ROTG festival 2013 yang alias terjadi tahun lalu. Ada beberapa fic sepertinya belum sempet kelar, sayang sekali… tapi tetep ditunggu kok, soalnya (sebisa mungkin) tiap fic di fandom ini bakal author review semuanya!
Terus penghuni di fandom ROTG makin lama semakin menipis ya?
Yuk, yuk… kita ramein lagi! Ayo yang masih punya utang MC di sini, mohon dikelarin biar isi fandomnya rapih! C:
A/N (7): Saat fic ini di-update, ROTG udah nempatin urutan ke-7 di section Movie FFN, YAAAY! SELAMATTT! #keprok
Semoga bisa terus bertambah sampe setidaknya 5 besar, terus jadi 3 besar, terus bisa jadi paling utama, AMIN! AMIIIN!
A/N (8): Lalu apakah chapter depan rattingnya naik? Siapa yang Seme? #pertanyaanjebakan #jebakanbetmen #betmentasidanlaktobasilus
Udah ah, bacotannya ntar dilanjut aja di chappie berikutnya (yang menjadi chapter pamungkas.)
R&R maybe? C:
