ZhaoYan22
Wkwkwk waktu ngebuatnya saya juga merinding sampe tengok kanan-kiri X'D Kok Chi bisa diejek Chucky gitu? Ayo sini, beri tahu saya siapa orangnya, nanti kalau ketemu, saya kabur duluan, oke?! :( *disembelih* Hahaha, iya nih, Chi, rasanya sense humor saya makin garing :( Makasih udah review dan ngebaca, Chi! :D
sarasion
AAAH! LAMA TAK JUMPA JUGA! *peluk teletubbies* Saya rindu kamu, sarasion :( *digebukin* Tadinya saya mau pake annabelle, tapi saya lebih ngeri sama dia dibanding sama chucky D: Wkwkwk do'akan ceritanya ya! 8D Makasih udah review dan ngebaca, sarasion! :D
Aiko Ishikawa
Wkwkwk begitulah Kerajaan Jin yang sinting ini! Dan setelah sekian lama, akhirnya Sima Yi mengerti perasaan para author, ya! Kita disiksa terus, padahal memangnya kita salah apa... :( *dibakar* Makasih udah review dan ngebaca, Aiko Ishikawa! :D
Ada 3 review, dan saya disiksa 3 kali, ooow! Sekali lagi, makasih banyak untuk yang udah review!
- Kesintingan Orang Jin -
Chapter II
~ Roman Masa Muda Sima Zhao ~
Ceritanya, saat Sima Zhao dan Wang Yuanji masih SMA...
"Yuanji," panggil Sima Zhao dengan muka mesum. "Kamu tau gak, kemarin waktu aku liat bintang jatuh aku harapin apa?"
Wang Yuanji, yang walaupun dalam hatinya udah kesenengan karena digombalin (saya pun tidak tahu kalau yang dikatakan Sima Zhao itu namanya gombalan atau tidak), memilih untuk memasang poker face. Kenapa? Karena dia tsundere, cewek paling populer se-Dynasty Warriors, dan yah, gak kebayang aja kalau yang pas digombal dia masang muka mesem-mesem. "Apaan?" katanya judes, tapi nahan-nahan senyum.
"Aku ngeharapin buku ***** yang banyak!" Dan es bubble yang lagi dipegang Yuanji langsung dilempar ke mukanya.
- S -
"Wanita itu sukar dimengerti." kata Sima Zhao, curhat pada sahabatnya, Jia Chong. Jia Chong, yang lagi pake kutek item cuma ngangguk-nganggukin kepala, padahal dalem hatinya sih dia bodo amat. Sima Zhao melihat temannya dengan wajah tidak percaya.
"KOK KAMU NGERTI MAKSUD AKU SIH?! BUKANNYA KAMU HOMO, CHONG?!"
Dan setelah itu, Sima Zhao diuber-uber pake penghapus kelas.
"STOP, CHONG! STOP-"
Whoa yes, wait a minute Mr. Postman~ Waa-ait, Mr. Postman~ Please, Mr. Postman, look and see~ Ahay, berasa jadi Karen Carpenter!
"AUTHOR AH JANGAN NYANYI DONG, KALAU BAJU SAYA KOTOR NANTI SAYA DIOMELIN IBU SAYA INI!"
- I -
Pulang-pulangnya, Sima Zhao sujud di depan ibunya dengan hanya pakai kaos kutang. Zhang Chunhua melihat baju anaknya yang hitam-hitam dan memberikan senyum 'ini-tidak-akan-berakhir-dengan-hukuman-biasa-kau-tahu'. Sima Zhao hanya bisa menjerit saat dia digeret ibunya ke ruang 'disiplin'.
YANG TERJADI BERIKUTNYA MENGANDUNG BANYAK KATA-KATA TIDAK LAZIM, UNSUR KEKERASAN DAN KEKEJAMAN YANG TIDAK MUNGKIN DIPERLIHATKAN DALAM CERITA RATED-K+
- M -
Sima Zhao ngambek. Tapi Jia Chong bomat. Wang Yuanji juga bomat. Akhirnya, dia nangis dan pergi ke Xiahou Ba.
"ASDFGHJKL- NGAPAIN KAMU KE SMA SHU SEGALA?!" pekik si cebol ngeliat mantan "bro"-nya nyelinep masuk ke SMA-nya.
Begitu ngeliat Xiahou Ba, Sima Zhao main meluk terus nangis. Dari kejauhan samar-samar terdengar suara pekikan para *******.
Xiahou Ba ngejerit. Trauma masa kecilnya saat dia dipeluk Zhang He terbayang kembali di kepalanya. Dia buru-buru nendang Sima Zhao ngejauh dan lari ngibrit.
Sima Zhao mewek. "Tidak ada lagi... tidak ada lagi yang mencintaiku!" Ush, ush, ush...
- A -
...Tiba-tiba suasana jadi bernuansa 'angst'. Di kamarnya yang gelap, Sima Zhao menggantungkan tali di langit-langit dan menaruh kursi di bawahnya. Dia masih menangis dan berlanjut menaiki kursi itu, memegang tali itu- TUNG- TUNGGU DULU. KAMU MAU NGAPAIN SIMA ZHAO?!
"Karena... karena tidak ada lagi yang mencintaiku, aku akan... aku akan..." isaknya.
JANGAN, JANGAN, JANGAAAN! PIKIRKAN INI MATANG-MATANG, NAK. KAMU MASIH MUDA, KEHIDUPAN MASIH PANJANG UNTUKMU-
"Aku akan main pukul pinata seorang diriii!" katanya, tiba-tiba mengeluarkan boneka red hare yang darimana asalnya itu saya pun tidak tahu.
JANGAAAN! MEMUKUL PINATA SEORANG DIRI ITU DAPAT MEMPERPENDEK UMUUUR!
- Z -
"Mau tau gak, Chong?" kata Sima Zhao senyum-senyum sambil nyenggol temannya itu. "Kemarin aku main pukul pinata red hare loh. Sendiri, lagi."
Jia Chong menatap Sima Zhao dengan tatapan yang mengatakan 'seriously?'. "Terus kenapa, nyet?"
Sima Zhao sok-sokan ngelus dada. "Uish, hei, gak boleh asal nyamber ngatain gitu lah! Inget pesan author, ini cerita rated-K+! Gak boleh kasar!"
DINDING KEEMPAAAT! JANGAN TINGGALKAN CERITA INI, KUMOHOOON!
"Bomat," kata Jia Chong kejam. Sima Zhao mewek. "Terus? Emangnya kenapa kalau kemarin kamu main pukul pinata sendiri?"
"Iiiih! Kan keren! Masa gitu aja gak tau?"
"Mananya yang keren dari-" Ucapan Jia Chong dipotong oleh Wen Yang yang lari ke arah mereka dengan tergesa-gesa. Begitu berdiri di depan mereka, dia langsung ngibas rambut, ceritanya 'kan, buat hilangin keringat habis lari gitu loh. Mungkin memang sudah bawaannya orang ganteng ya, jadi begitu dia ngibas rambut, entah kenapa muncul efek sparkles bling bling. Murid cewek di sekitar situ langsung dibawa ke UGD karena pendarahan dari hidung DAN telinga (yang disebabkan oleh pekikan teman mereka), sedangkan Sima Zhao dan Jia Chong cuma bisa lirik satu sama lain dengan muka horror.
Dengan senyumnya yang mengalihkan dunia hampir semua fangirl Jin, dia menoleh ke arah Sima Zhao, membuat cowok itu menciut karena kalah ganteng.
"Aku dengar... kamu main pukul pinata sendirian ya?" tanyanya.
Sima Zhao mendadak gugup gagap. "E-eh, iya, hehe... he..."
Jia Chong ngecibir. "Tengsin."
"Sebenarnya, aku juga loh!" kata Wen Yang tiba-tiba semangat '45.
"Hah?"
"Aku juga main pinata sendirian!" Dia tiba-tiba jabat tangan Sima Zhao. "Kita sama ya!"
Ush, bahagia banget deh, hidup Sima Zhao. Tangannya dijabat sama orang ganteng, terus disamain sama dia pula! Tapi, karena gengsi terjaga, Alhamdulillah, Sima Zhao gak cengangas-cengenges. Kalaupun dia cengengesan, Alhamdulillah, ada Jia Chong yang bakal mukul dia.
"Abisnya pasti geli banget, thor," kata Jia Chong sambil menengadah ke langit.
...Iya, tapi jangan ngancurin dinding keempat, ya...
"Hah? Ngomong apa, thor?"
IYA SIMA ZHAO, UDAH LANJUTIN CERITANYA.
Wen Yang ngeluarin HP-nya. Hah? HP apa? Ush, ya pasti HP terkuat lah, HP Nikia 3310! Yuk, kita flashback ke waktu dia dibeliin...
- H -
-flashback-
"Ayah! Kapan ayah bakal beliin aku HP?" rengek Wen Yang dengan muka ganteng.
Ayahnya, yang sayang sekali, tidak terlalu ganteng (gak sopan, tapi nyatanya memang begitu, kan doi generic officer), menghela napas sambil membalikkan halaman korannya. "Tunggu sampai ulang tahun kamu aja, nak..."
Dibilangin begitu, rengekan Wen Yang makin parah. Kalau anak biasa mah, ya, kayak begini langsung diomelin. Tapi karena dia ganteng, jadi ada keringanan sedikit, lah. "Pokoknya nanti aku mau Ai Phone 9, ya! Gak mau tau!" katanya yang lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Pada hari ulang tahunnya, Wen Yang cepat-cepat ke kamar ayahnya. Mendapati ayahnya masih tertidur pulas, dia mengambil toa dan berteriak.
"AYAH HAPE-KU MANA?!"
Untungnya, berkat kekuatan saya selaku pengendali fic ini, ayahnya gak kena serangan jantung. Kita gak mau Wen Yang yang ganteng dipenjara karena patricide, kan?
... ... ...
ASEEEK SAYA TAU BAHASA KEREN!
Sima Zhao (sekali lagi) menerobos dinding keempat yang memang sudah dijebol lebih besar dari lubang di dinding Maria SnK. "Emangnya kata itu boleh dimasukin ke cerita K+, thor?"
Shhh! 'K+' itu maksudnya cuma sebagai running gag cerita ini! Tokoh cerita ini taunya 'K+' tapi sebenarnya kalau buat rate aslinya sih, ya jelas 'T'!
"...Terus kenapa ngasih tau aku sama Sima Zhao..." Jia Chong ikut-ikutan.
Udah sana balik ke tempat asal! Ini lagi flashback Wen Yang juga, iiih! Oke, kita lanjut!
"SONO AMBIL DI RUANG TAMU!" jerit Wen Qin, mulai kalap. Sesayang-sayangnya dia sama seorang Wen Yang, kalau udah gak tahan yah, mau gimana lagi... Sabar ya, Wen Qin, kalau kamu pangkatnya dinaikin supaya gak jadi generic officer lagi pasti kamu jadi ganteng dan langsung ngegaet fans anakmu itu.
Sedurhaka-durhakanya Wen Yang pada seorang Wen Qin, kalau udah dibentak yah, ngacir deh dia. Dia langsung berlari ke ruang tamu hanya untuk mengamuk begitu mendapati hape yang dia dapat bukanlah Ai Phone 9 yang dia inginkan, melainkan hape yang disebut-sebut sebagai hape sejuta umat, yaitu hape Nikia 3310.
Berlarilah si Wen Yang ini ke kamar ayahnya untuk mengamuk. "AYAH INI, YA! AKU KAN MAUNYA AI PHONE 9, BUKAN HAPE KAYAK GINI!" Dia mengangkat hape-nya itu, berancang-ancang untuk melemparnya ke lantai. Wen Qin yang melihat ini langsung menjerit.
"JANGAN, ANAKKU!"
KABOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
-end-
- A -
"..."
"..."
Sima Zhao dan Jia Chong speechless melihat flashback Wen Yang. Si ganteng senyum tak berdosa.
"...Aku curiga sama kelanjutannya," kata Jia Chong pada akhirnya. Wen Yang mengangguk semangat.
"Setelah itu, begitu bangun, aku ada di rumah sakit," katanya. Matanya memandang jauh seolah kembali ke masa itu. Hahaha, nyoba bahasa keren tapi sayanya bahkan gak ngerti apa maksud kalimat itu. "Ayah dan dokter bilang aku kehilangan ingatanku dan hanya mengingat namaku, ayah, dan..." dia menatap Nikia 3310 di tangannya lama. "Hape ini. Cerita yang tadi di atas itu adalah cerita yang diceritakan ayahku dalam upaya pengembalian ingatanku."
"..."
"..."
"...Jadi kenapa kamu ngeluarin hape kamu tiba-tiba begitu?" tanya Sima Zhao, masih rada limbung.
Wen Yang memutar bola matanya. "Minta nomer hape! Kalau aku misalnya main pukul pinata seorang diri lagi kan bisa telepon kamu gitu, loh!"
"Iiih?!" Sima Zhao mengerutkan alisnya, dia KZL. "Kalau gak main sendiri yah, gak ada spesialnya, dong!"
"Bukan, bukan! Maksudnya, kalau aku main pukul pinata di rumah aku SENDIRI, nanti saat aku telepon kamu, kamu bisa main pukul pinata di rumah kamu SENDIRI! Jadi kita main pukul pinata SENDIRI di tempat yang berbeda tapi pada waktu yang bersamaan!"
"OOOH! IDE BAGUS!"
Kayaknya chapter ini harus kita ganti dengan nama 'Ketololan Masa Muda Sima Zhao'.
Jia Chong nutupin mukanya pakai kedua tangan lalu menangis. Astaga, Jia Chong, kamu mau aku di-flame karena meng-OOC-kan karakter? Mungkin sudah banyak pembaca yang protes karena penghancuran dinding keempat, kenapa harus kamu tambah lagi?
"...Aku sedih, thor," katanya, tidak mengindahkan larangan saya untuk tidak menghancurkan dinding keempat. "Aku sedih sama lelucon yang kelewat garing milikmu itu... Aduh, apa-apaan hape nikia meledak...? Terus main pinata sendiri juga... Garing jasa, kau thor..."
...Jangan begitu, aku juga jadi ikutan sedih...
- O -
"...Chong."
"...Nape."
"Ini chapter harusnya aku kan yang jadi tokoh utama?"
"He-eh, orang chapter-nya aja berjudul 'Ketololan Masa Muda Sima Zhao'."
"ROMAN. R-O-M-A-N. Chapter ini judulnya 'Roman Masa Muda Sima Zhao'."
"Iya, maaf, terus kenapa emangnya?"
"...Kok nih chapter ada scene flashback Wen Yang? Emang dia apa hubungannya sama chapter aku?"
"..."
"Chong?"
"...Tanya author aja deh."
"Nanti aku dimarahin gara-gara ngancurin dinding keempat."
"...Dari tadi kita ngancurin dinding keempat..."
Sima Zhao menengadah, menatap langit. "Thor?"
...Karena dia ganteng.
N/N : Terima kasih sudah mau membaca sampai habis! :) Maaf kalau ada bagian yang menyinggung perasaan anda, karena sungguh, cerita ini hanya diniatkan sebagai hiburan semata :( Dan, ya, saya tau cerita ini lebih maksud dan garing dari chapter sebelumnya. Maaf... :((
