"Kau tinggal sendiri?" Tanya sang gadis sembari memandangi isi rumah sang pemuda yang menurutnya sangat ketinggalan zaman namun tetap hangat. "Orang tuamu kemana?"

"Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan, aku bisa hidup sampai detik ini karena warisan serta kerja sambilan." Jawab sang pemuda. "Kau duduk saja dulu, aku akan membuatkan cokelat panasnya. Nikmati saja seperti di rumah sendiri."

"A-Aku turut menyesal mendengarnya."

Aaaah, ia agak menyesal sudah menanyakannya tapi apa boleh buat. Setelah sang pemuda hilang dari pandangan, sang gadis merasa rumah ini sungguh hampa, yang ada hanyalah banyak rak yang diisi oleh buku-buku karangan penulis terkenal, buku panduan melukis, atau etika dalam kehidupan sehari-hari. Lalu sang gadis berkeliling dan menemukan foto sang pemuda dengan kedua orangtuanya dulu.

"Kukira kau pergi melarikan diri, ternyata tidak. Oh iya, ini" dia menyerahkan sebuah baju lengan panjang yang agak kebesaran untuk Ino. "Aku hanya punya baju ukuran laki-laki, mungkin akan sedikit kebesaran tapi gantilah. Kamar mandi ada di sebelah dapur. Jika kau butuh kantung plastik untuk menaruh pakaianmu, sudah kusediakan di kamar mandi."

Tanpa diberikan waktu untuk berkomentar, sang gadis tahu dirinya hanya akan terus-menerus dimaki sang pemuda jika menolak. Ia mengambil baju yang disodorkan sang pemuda lalu berjalan menuju kamar mandi yang ditunjukkan. Beberapa saat kemudian sang gadis keluar dengan baju yang sudah dimodifikasi menjadi dress seadanya, lalu menghampiri sang pemuda.

"Terima kasih, Sai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku jika kau tidak di sana."

"Sama-sama. Lain kali sayangilah tubuhmu sendiri. Kau tidak menikmati nikmat yang sudah Tuhan berikan kepadamu."

"Hmmm, iya aku tahu.."

hening...

"Sudah lah, ini cokelat panasnya. Kau minum saja dulu, kalau sudah lebih baik, bisa ceritakan kepadaku, bagaimana?"

Bukannya Ino tidak mau, tapi ia tidak bisa pulang dengan membawa berita ia sedang menjauhi Shikamaru kepada orang tuanya. Ia harus menenangkan pikirannya, setidaknya bercerita pada Sai-sang master dalam melukis-dapat meredakan sakit hatinya. Sai mengajaknya duduk di kursi, berhadappan dengan sang pemuda. Ia masih memikirkan apa ia harus bercerita atau tidak, toh ini masalahnya, untuk apa merepotkan orang lain? Dirinya tahu, ada tipe orang yang hanya mendengarkan karena ia sekedar ingin tahu dan ada yang mendengarkan lalu memberikan solusi. Jika Sai sekedar ingin tahu baginya tidak apa-apa, ia butuh seseorang untuk tempat berkeluh kesah. Sakura bisa menunggu. Dan Ino menyiapkan hatinya.

Karena hukum tidak menyatakan kita bersalah jika mempercayai orang yang baru saja menolongmu bukan?

"Baiklah, tapi janji jangan beritahu siapa-siapa."

"Kau bisa pegang omonganku."

"Jadi begini, aku-"

. . . . . . . . . . . . . . .

Flashback

Manusia biasa yang peduli akan kesehatannya pasti akan mencari tempat berteduh ketika hujan turun, atau membuka payung yang sudah dibawanya, namun gadis berambut pirang ini berbeda, sebanyak apapun orang yang lalu lalang memperingatkan dirinya untuk berteduh dari hujan, Ino tidak menghiraukan mereka.

Seragamnya basah kuyup, dinginnya hujan ditambah dengan angin membuat sang gadis memeluk tubuhnya hanya sekedar menghangatkan diri. Yang ada dipikirannya hanya kalimat yang terlontar dari mulut Shikamaru. Tubuhnya berjalan tanpa arah, namun membawanya ke taman yang biasa dikunjungi oleh mereka sekedar untuk menghilangkan penat akibat ujian. Tiba-tiba saja tubuhnya tidak lagi merasakan basahnya hujan, saat menoleh kebelakang, Sai sedang berbagi payung dengan sang gadis.

"Kau sedang apa? Berlomba siapa yang bisa bertahan lebih lama saat hujan?"

Ino hanya menggelengkan kepalanya.

"Ah, kau.. habis menangis? Ada apa?" Tidak dipungkiri, sebanyak apapun Sai menebarkan senyum palsunya, ia juga lelaki normal yang kenal wanita.

"Tidak, kau tidak lihat? aku basah kuyup."

Pemuda bersurai hitam itupun menghela napas. Dia tidak menyangka kalau Ino begitu keras kepala.

"Sepintar apapun dirimu mencoba mengelabuiku, bahumu masih bergetar. Kau tidak bisa berbohong di hadapanku, Ino Yamanaka," Dan kali ini Ino bersumpah baru melihat senyum Sai yang tulus. Sang gadis menangis kembali, kali ini ia memeluk Sai, tidak tahan dengan keadaannya saat ini.

Sai agak terkejut, namun membiarkannya sekitar 2 menit. Merasa tidak enak jika dilihat orang, Sai berencana mengajak sang gadis ke rumahnya. "Ayo ke rumahku, kita bisa minum cokelat panas kalau kau mau." Ujar Sai seraya melihat pundak Ino yang masih bergetar hitam miliknya. Sang gadis mengadah melihat wajah orang yang baru dipeluknya, berpikir untuk beberapa saat lalu menjawab,

"Kau ini sebenarnya menawarkan atau menyuruhku? Baiklah, asal kau sajikan cokelat panasnya "

Dan Ino pun tertawa pelan, membawa kakinya mengikuti sang pemuda.

. . . . . . . . . . . . . .

"Jadi... Menyedihkan bukan?"

"Hmm, kau baru saja menyatakan perasaanmu pada Shikamaru Nara tadi sore, tapi kau ditolak mentah mentah. Lalu kenapa kau harus menangis? Kau bahkan tahu kalau di dunia ini lelaki bukan hanya dia saja."

Ino menatap pahit cangkir yang berisi cokelat panasnya, membiarkan hujan menjadi latar musik pembicaraan mereka.

"Aku tahu itu, aku tahu. Hanya saja kau tak bisa mencintai orang jika kau tidak mengenal kepribadiannya. Kalau kau senang melihat orang itu, masih dikategorikan suka, bukan cinta."

"Aku tidak pernah merasakan yang namanya cinta selain mencintai kedua orang tuaku. Tapi aku memang sering melihatmu bersama si jenius. Setidaknya dia sudah mengetahui perasaanmu terhadapnya, kalau dia masih menolakmu berkali-kali, kau bisa membuang namanya dari hatimu."

"Kau pikir semudah itu, Sai? Kemarilah, akan kuberikan sebuah contoh."

Sai beranjak dari kursinya, memberikan pandangan 'apa yang akan kau lakukan?' dan saat Ino memegang kedua tangannya, tubuh Sai menegang seketika. Yah Sai memang bukan tipe orang yang bergaul dengan banyak wanita, dia akan berbicara seperlunya saja. Salahkan sendiri para wanita yang mengaku sebagai fansnya itu terus mengejarnya.

"Hangat bukan? Seperti itulah hangatnya cinta karena kalian saling menyatu. Kalau kau menghilangkan cinta seperti caramu tadi," Ino melepaskan tangan Sai dengan cepat. "Maka itulah yang akan kau dapatkan. Tiba-tiba ada angin yang berhembus kencang, dan kau tidak merasakan kehangatan itu karena salah satunya pergi."

Mendengar hal itu Sai hanya tertawa pelan, dan Ino menghabiskan cokelat panas yang masih tersisa setengahnya. Pemuda berambut hitam itu tenggelam dalam pemikirannya, apakah cinta selalu hangat? jika iya, mengapa ia sering melihat pasangan yang bertengkar di jalan layaknya di drama dalam tv? atau mungkin melihat pria yang menarik lengan pasangannya erat saat pasangannya sedang bersama pria lain? Kalau Ino ditolak, itu berarti cinta yang baru saja dideskripsikannya tidak sesuai kenyataan kan? lalu mengapa harus mencintai seseorang kalau besar kemungkinannya akan bertengkar juga? Ah, tidak juga. Ia sering melihat kakek-nenek yang duduk berdua di kursi taman dengan senyum yang sangat tulus. Dan ia dapat menyimpulkan, 'Yang namanya cinta itu butuh perjuangan dalam mempertahankannya, pasti ada saatnya bertengkar sampai mencaci-maki satu sama lain, tapi kalau saling mencintai, pasti akan baik kembali.'

Sai melihat jam yang menunjukkan pukul delapan malam dan menyadari hujan sudah berhenti entah sejak kapan, lalu ia menawarkan dirinya untuk mengantar sang gadis pulang. Yang mana disambut baik oleh sang gadis.

. . . . . . . . . . . . . .

Shikamaru menyesali perbuatannya untuk tidak mengejar Ino hanya karena ia tidak tahu harus membalas perasaan Ino seperti apa. Seperti biasa, lelaki dengan egonya. Ia tahu jika ia tidak mencari sang gadis maka masalah akan menjadi semakin besar. Dia mulai melangkahkan kakinya, mengambil tas yang berada di loker lalu mengenakan jaket hoodie yang tersimpan di dalamnya.

Tapi mengapa harus mengejarnya? Toh ia bisa saja meminta maaf padanya besok, atau mengucapkan permintaan maafnya melalui telepon bahkan berpura-pura hal ini tidak pernah terjadi. Ada sesuatu dalam diri Ino yang membuatnya tertarik. Rasanya aneh jika sehari tanpa Ino menyindirnya kalau ia tertidur di ruang penyimpanan alat olahraga atau memberinya tepuk tangan saat ia membantu mengerjakan soal yang menurut Ino rumit. Terkadang terbesit rasa cemburu saat Ino membicarakan Deidara yang jago membuat karya seni dengan bangganya, dan keinginan untuk memeluknya saat sang gadis menangis di hadapannya.

Shikamaru Nara menyukai Ino Yamanaka dan itu takkan pernah berubah.

Shikamaru tersenyum tipis lalu berlari menelusuri jalan, mencari jejak kemana gadis yang dicarinya pergi. Dia meruntuki dirinya karena tidak ingin memiliki telepon genggam, tahu sendiri bagaimana ia mencoba menjauhkan diri dari segala keributan yang ada. Otak jeniusnya mulai berputar, mengingat segala tempat yang memiliki kemungkinan akan didatangi Ino. Ya, taman bermain, pikirnya. Saat belokan terakhir menuju taman, Shikamaru berhenti mendadak. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam kemungkinan itu terjadi.

Gadis yang dicintainya sedang memeluk lelaki lain.

Kalau semua orang merasakan bagaimana jadi diriku, kira-kira apa yang akan mereka lakukan?

Dan tanpa berpikir dua kali, Shikamaru terpaksa meninggalkan mereka berdua tanpa peduli seragam serta jaket hoodienya basah kuyup sama seperti sang gadis. Mengapa Ino bisa memeluk Sai yang jelas-jelas belum ia kenal baik? Sesedih itukah Ino sampai tidak peduli siapa yang dipeluknya? Tangannya mengepal geram, ya, Shikamaru Nara cemburu. 'Ah sudahlah!'

. . . . . . . . . . . . . .

"Aku pulang."

"Selamat datang," Shikaku menjawab salam sang anak sembari membaca koran berita hari ini. "Hm? Kau kehujanan?"

"Tergantung dari aspek mana ayah melihatnya. Sudahlah, aku akan ke kamar ganti baju."

'Tidak ingin melibatkan dirinya ke dalam sesuatu lagi.' Itulah kalimat yang cocok untuk Shikamaru saat ini, Shikaku yang melihat gelagat aneh anaknya hanya memikirkan satu kemungkinan. Shikamaru sedang bertengkar dengan Ino.

"Shikamaru kehujanan?" Tanya Yoshino yang baru keluar dari dapur.

"Lebih tepat jika kau bilang ia sengaja membiarkan dirinya kehujanan, tapi sebaiknya jangan diganggu dulu."

Shikaku memang berbicara seperti itu, tapi tiga puluh menit kemudian ia mendapati dirinya membuka pintu kamar anaknya dan menemukan sang anak sedang tertidur. Bukannya menutup pintu dan balik ke kamarnya sendiri, dia hanya mengatakan;

"Jangan pura-pura tidur, aku sudah tahu semua gelagatmu."

"Tidak bisakah ayah tidak menggangguku? Aku sedang butuh istirahat. Terlalu banyak tugas dari Kakashi-sensei."

"Kau hampir tidur seharian saat libur waktu itu jika ibu tidak membangunkanmu, pemalas."

Aku bukan pemalas, hanya mencoba memperbaiki sirkulasi tidur. Pikirnya. Mendapatkan tugas membuat makalah tentang perkembangan bisnis di kalangan menengah oleh Kakashi-sensei memang mudah, yang merepotkan adalah ia harus terjun ke lapangan untuk mendapatkan apa yang ditulisnya sama dengan bukti yang ada. Dan itu benar-benar menyita waktu istirahatnya.

"Kau bertengkar dengan Yamanaka, bukan?"

Baru saja Shikamaru akan menjawab pertanyaan ayahnya, Shikaku menimpali. "Apa dia menyatakan perasaannya padamu?"

Lalu Shikamaru terdiam, dan diamnya memberikan jawaban kepada Shikaku kalau hal itu tidak berakhir baik. "Aku tahu kau kehilangan akal sehatmu untuk berpikir, tapi kenapa tidak menghadapinya? Kau itu seorang Nara." Lalu dengan itu Shikaku meninggalkan anaknya sendiri dengan masalahnya.

. . . . . . . . . . . . . .

Sembari Sai memanaskan mesin motornya, Ino mengenakan jaket Sai yang kebesaran lalu menaiki motor sang pemuda dengan hati-hati agar baju yang sudah dimodifikasinya tidak tersingkap dan menutupi paha mulusnya dengan tas yang masih basah. Sang pemuda memberikan satu helm untuk dipakai sang gadis, dan satu untuk dirinya sendiri.

"Sai, maaf ya sudah merepotkan."

"Tidak masalah, kau sudah siap?"

Dengan sekali anggukan, Sai memacu motornya melaju jalan yang masih basah akibat hujan. Karena tidak ada percakapan yang menemani, pikiran Ino melayang entah kemana. Bukannya ia yang mendapat solusi, ia malah memberikan solusi ke orang lain. Namun saat Sai mengerem motornya secara mendadak, refleks Ino memeluknya erat.

"Ada apa? Kau nyaris membuatku terkena serangan jantung!"

"Salahkan orang kaya yang tidak mau berbagi jalan dengan pengendara lainnya. Seenaknya tidak mematuhi aturan, apa dia buta? Sudah jelas melihat kau ada di belakang, aku benci manusia yang tidak tahu aturan." Jelas Sai kesal. "Kau tidak apa-apa?"

"Ah, iya aku tidak apa-apa. Jangan salahkan aku kalau aku berpegang erat pada jaketmu, kau membuatku takut."

"Maaf, pegangan erat juga tidak masalah."

Ino mengeratkan pegangannya, dan Sai mulai melaju lagi. Ino akan memberikan arah ke mana Sai harus memacu motornya. tidak sampai 10 menit, mereka sudah sampai.

"Terima kasih atas tumpangannya." tuturnya sembari membungkuk dengan sopan, Ino masih tahu tata krama, maka dari itu ia masih menunggu Sai untuk menyalakan mesin motornya lalu pergi.

"Tidak masalah, salam untuk orang tuamu. Dan kalau kau butuh seseorang untuk diajak bicara, akan kuusahakan selalu ada untukmu."

"Oh? sepertinya kebetulan sekali kau baik padaku?"

"Aku akan meninggalkanmu sendirian tadi jika aku memang tidak baik. Sudah ya, aku belum mengerjakan tugas dari Anko-sensei."

"Baiklah, terima kasih sudah mau mendengar keluh kesahku. Hati-hati di jalan." Ino melambaikan tangan saat Sai menyalakan mesinnya, lalu mesin beroda dua itu bergerak menjauhinya.

Melihat lampu rumah yang padam kecuali lampu di depan pintu masuk menandakan keluarganya sedang terpikat untuk tidur lebih awal. Ino segera masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci duplikat yang dimilikinya. Ia berlari kecil ke kamar sehingga tidak membangunkan keluarganya, lalu merebahkan diri lalu pandangannya bermain jauh ke luar sana, memikirkan apa yang harus dilakukannya ketika bertemu dengan Shikamaru.

TBC

Hei, terima kasih untuk yang sudah review, saya baru sadar saat ujian praktek kkpi, dan kalian tahu? saya senang sekali. Belum sempat kubalas karena yah, opera di laptop yang tadinya belum ke blok, eh ke blok akhirnya, jadi harus upload story melalui hp dan masih bingung bagaimana caranya membalas review._. Mind to review everyone?