Title : Oh! Secret Admirer
Cast :
Do Kyungsoo as Girl | Kim Jongin | Park Chanyeol | etc.
Disclaimer : God, Parents, Agency and Mine.
Warning : Genderswitch, OOC, typo(s), garing, etc..
.
.
Don't Like
.
Don't Read
.
.
Enjoy
.
.
"Astaga.. apa ini mimpi?"
.
Kyungsoo mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak menyangka bahwa Jongin yang notabene adalah orang yang tidak ia sukai sedang menggendongnya ala bridal.
Mengapa Jongin tidak membangunkannya saja sebelum keluar dari mobil? Mengapa ia lebih memilih menggendong Kyungsoo?
Diam-diam Kyungsoo mengagumi wajah Jongin. Dari jarak yang sedekat ini Jongin terlihat sangat tampan, Kyungsoo tidak heran bahwa lelaki ini punya banyak penggemar. Harum maskulin yang menguar dari tubuhnya dan badannya yang hangat membuat Kyungsoo nyaman.
Kyungsoo memejamkan matanya lagi. sampai kemudian-
"Apa badanku terlalu nyaman hingga membuatmu pura-pura tertidur seperti ini?"
Gezzz...
Kyungsoo membeku masih dengan memejamkan matanya.
Ia malu dan kesal.
Apa-apan lelaki ini? Mengapa ia bisa tahu kalau Kyungsoo sudah bangun?
Sang gadis membuka matanya dan langsung mendapati Jongin yang menatapnya sambil menyeringai, membuat rona merah menjalar ke pipi Kyungsoo. "S-siapa y-yang pura-pura tidur, huh?"
"Yang pasti bukan Chanyeol." Jongin menggerakan kepalanya sedikit seakan meminta Kyungsoo untuk melihat ke belakang.
Beberapa langkah di belakang mereka ada Chanyeol yang sedang berjalan dengan membawa dua tas di punggungnya yang tak lain adalah tas miliknya sendiri dan tas milik Kyungsoo. Ia berjalan sambil memainkan smartphonenya.
Kyungsoo menolehkan kepalanya lagi dan menatap Jongin dengan garang, "Turunkan aku!"
"Tidak."
"Y-YA! Apa-apaan kau! Cepat turunkan aku!"
"Aku akan menurunkanmu, tapi nanti setelah kita tiba di ranjang." Jongin menyeringai sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Kyungsoo bergidik.
Astaga! Apa Jongin akan melakukan yang iya-iya kepada Kyungsoo yang masih polos?
Tapi beberapa detik kemudian Jongin tertawa terbahak-bahak membuat Kyungsoo kebingungan.
"Haha... kau.. pasti berfikir yang tidak-tidak.. pppffftthaha~" Lelaki itu tertawa terbahak-bahak tanpa beban membuat Kyungsoo menggeram kesal.
"YA! turunkan aku!"
"Tidak ma-" Jongin belum sempat menyelesaikan ucapannya karna tiba-tiba Kyungsoo mencubit hidung Jongin dengan keras membuat lelaki itu kesakitan.
Kyungsoo tertawa penuh kemenangan saat Jongin menurunkannya. Lelaki itu mendelik sambil memegang hidungnya yang habis terkena cubitan maut Kyungsoo.
"Ini sakit, bodoh!"
"Itu balasanmu karna telah menertawakanku!"
"Aku mentertawakanmu karna kau berfikiran yang tidak-tidak. Dasar mesum!"
"Apa katamu?!" Kyungsoo menggertakkan giginya lalu berbalik dan melangkah meninggalkan Jongin dengan kakinya yang di hentak-hentakkan.
Mengapa Kyungsoo harus bertemu dengan laki-laki paling mengesalkan seperti Jongin? Apa ia berbuat kesalahaan di masa lalu hingga membuatnya sial seperti ini?
"Hey, kau mau kemana?"
Kyungsoo menghentikkan langkahnya saat suara Jongin menginterupsinya. Kyungsoo juga tidak tahu mau kemana karna ia tidak tahu apartemen Jongin. Dengan kaku, Kyungsoo membalik badannya. Dan ia dapat melihat Jongin yang berdiri di depan sebuah pintu dengan tangannya yang menggoyang-goyangkan kunci apartemennya.
Lelaki itu tertawa seakan mengejek Kyungsoo sebelum akhirnya membuka pintu dengan kunci dan masuk ke dalam.
Kyungsoo masih terdiam sambil memasang wajah bodoh. astaga ini sangat memalukannya. Kemudian ia melangkah ke menuju pintu. Saat Kyungsoo sampai di ambang pintu, Chanyeol juga tiba di sana.
"pppffttth..." Chanyeol menahan tawa sambil menutup mulutnya dan menatap Kyungsoo.
"Apa?!" Kyungsoo balik menatapnya dengan wajah galak andalannya.
"pppffttt.. Kau terlihat sangat bodoh tadi.. haha~" Chanyeol langsung berlari memasuki apartemen Jongin sebelum Kyungsoo memasukkan sepatunya ke mulut Chanyeol.
Kyungsoo mengehla nafas dengan kesal lalu memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen Jongin. Dan mulutnya langsung menganga kecil saat menyadari betapa mewahnya apartemen Jongin. Di sudut ruangan terdapat pajangan yang terbuat dari keramik yang ia yakini harganya sangat mahal. Sofa-sofa yang terbuat dari kulit ada di ruangan tamu. Dan masih banyak lagi. apartemen Jongin bergaya sederhana tapi modern dan tetap terlihat mewah.
"Tutuplah mulutmu. Kemasukan serangga baru tahu rasa."
Kyungsoo langsung menutup mulutnya yang menganga saat mendengar suara Jongin yang sepertinya berasal dari ruangan lain.
Jongin keluar dari pintu yang Kyungsoo yakini adalah dapur, mungkin lelaki itu habis menghilangkan dahaganya. "kau tunggu di situ dulu, aku ingin mandi. Kau mau mandi juga? Mungkin kita bisa mandi bersama." Jongin tertawa melihat wajah Kyungsoo yang langsung memucat.
Dan-PLETAK!
Sebuah tempat pensil tepat mengenai dahi Jongin membuat lelaki itu menatap kesal Kyungsoo yang merupakan sang pelaku pelemparan kotak pensil.
Dengan wajah kesal Jongin mengambil tempat pensil yang ada di lantai dan langsung berjalan setengah berlari menghampiri Kyungsoo dan hampir menerjang gadis itu sehingga kaki Kyungsoo secara refleks mundur selangkah ke belakang. Lelaki itu memegang belakang kepala Kyungsoo agar ia tidak bisa lari kemana-mana.
Kyungsoo memejamkan matanya saat tangan Jongin yang memegang kotak pensil miliknya terangkat ke atas seakan ingin memukul Kyungsoo. Beberapa detik berlalu tetapi Kyungsoo tidak merasakan apa-apa pada badannya. Ia membuka matanya dengan takut-takut dan matanya langsung menangkap wajah Jongin yang berada dekat dengannya. Lelaki itu terdiam masih dengan posisi sebelumnya dan mata tajamnya menatap langsung ke mata Kyungsoo. Kyungsoo dapat merasakan hembusan nafas Jongin yang mengenai wajahnya.
Kyungsoo juga hanya bisa terdiam. Ingin rasanya ia mendorong Jongin tapi tangannya hanya diam saja seakan mengkhianati dirinya.
"Mau sampai kapan kalian bertatap-tatapan? Aishhh.. aku seperti tak terlihat di sini."
Chanyeol yang ternyata sedari tadi duduk di sofa sambil memainkan smartphonenya menatap malas Kyungsoo dan Jongin sementara mereka langsung menjauhkan diri dengan kikuk.
Jongin langsung berbalik menuju ke kamarnya dan langsung memasuki kamar itu berbeda dengan Kyungsoo yang menghampiri Chanyeol dengan kikuk.
Kyungsoo langsung menghampiri Chanyeol dan duduk di lantai yang sudah beralaskan karpet bulu di dekat meja lalu mengambil tasnya untuk mengeluarkan buku.
Ia masih merasa salah tingkah.
"Sepertinya aku akan langsung istirahat saja." Chanyeol berdiri dan merenggangkan sendi-sendinya, "Hari ini sangat melelahkan." Ia melangkah meninggalkan Kyungsoo di ruang tengah dan masuk ke dalam sebuah kamar.
Kyungsoo mengerenyit saat melihat Chanyeol yang menutup pintu kamar yang letaknya tidak berjauhan dari kamar yang Jongin masuki tadi.
Chanyeol seperti sudah sering berkunjung ke sini. Ia juga tadi terlihat sangat santai dan biasa saat berada di apartemen Jongin. Siapa Chanyeol sebenarnya? Apa ia dekat dengan Jongin si menyebalkan?
Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Ini bukan saatnya memikirkan hal lain. Ia harus mengerjakan tugas kelompok secepatnya dan langsung beristirahat.
Ia membuka bukunya dan tak lupa mengambil ikat kepala dari tasnya dan memakainya. Ikat kepala itu terbuat dari kain putih dan bertuliskan 'FIGHTING!'. Saat mengerjakan pekerjaan rumah Kyungsoo selalu memakai ikat kepala ini agar ia selalu semangat saat mengerjakan tugasnya. Yah, bisa di bilang ini adalah jimat Kyungsoo.
.
Sepuluh menit berlalu tetapi Kyungsoo baru bisa mengerjakan satu soal. Ya ampun, padahal matanya sudah terasa sangat berat. Jongin juga belum keluar dari kamarnya. Sebenarnya lelaki itu mandi atau menenun?
Mengapa lama sekali?
Entah yang keberapa kalinya, Kyungsoo menguap. Ia membaringkan kepalanya di meja masih dengan tangannya yang berada di atas buku sambil memegang pensil. Rasa kantuk semakin menyerangnya sehingga ia memejamkan matanya dan menuju ke alam mimpi.
.
Cklekk
Jongin membuka pintu kamarnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk putih. Ia sudah memakai pakaian rumahan saat ini.
"Kau tidak man-"
Jongin mengehntikan kata-katanya saat mendapati wajah Kyungsoo yang terlelap dengan damai. Tangannya yang sedari tadi mengeringkan rambutnya seketika berhenti bergerak.
Jongin tersenyum samar dan mendekati Kyungsoo yang tertidur dengan perlahan. Setelah itu ia mendudukan dirinya di samping sang gadis masih dengan senyuman tipis melekat di wajahnya.
Jongin bertopang dagu dengan sebelah tangannya sambil memperhatikan Kyungsoo yang terlelap.
Satu menit... dua menit... tiga menit..
Jongin belum mengalihkan matanya dari wajah Kyungsoo. Perlahan tapi pasti sebelah tangannya bergerak hendak menyentuh wajah Kyungsoo. Tapi tangannya berhenti bergerak saat Kyungsoo menggeliat pelan berusaha untuk mencari posisi nyaman. Dan saat di rasa Kyungsoo sudah tenggelam lagi di alam mimpi, Jongin merapihkan poni Kyungsoo yang berjatuhan ke wajahnya lalu-
Jepret..
Ia memfoto kyungsoo yang sedang terlelap dengan smartphonenya. Lelaki itu meletakkan smartphonenya di meja lalu mulutnya mendekati telinga Kyungsoo. dan ia pun berbisik-
"Selamat tidur, Burung hantu."
.
.
.
Kyungsoo terbangun dan mendapati dirinya berada di atas ranjang empuk di dalam kamar orang lain.
Ya, ia tahu ini bukan kamarnya. Karna kamarnya tidak mungkin semewah ini.
Dengan pelan ia mendudukan dirinya, mencoba untuk mengingat-ngingat apa yang terjadi. Tadi ia sedang berada di apartemen Jongin untuk-ASTAGA! Apa Jongin berbuat macam-macam dengannya.
Dengan panik ia menundukkan kepalanya untuk melihat tubuhnya. Kyungsoo menghela nafas lega saat mendapati pakaian seragamnya masih melekat di badannya. Lalu ia melirik arlojinya yang menunjukkan jam empat pagi.
Ia harus pulang sekarang.
Kyungsoo beranjak keluar kamar setelah memakai sepatunya.
Setelah keluar kamar Kyungsoo mendapati Jongin yang tertidur di sofa dengan sebuah bantal dan selimut yang membungkus badannya.
Dalam hati, Kyungsoo merasa bersalah. Karna dirinya Jongin tidur di sofa dan pasti akan mengakibatkan pegal-pegal di badan lelaki itu. Kyungsoo tahu bahwa di apartemen ini hanya ada dua kamar –Chanyeol yang memberitahunya. Yaitu kamar Jongin dan kamar tamu yang sekarang di tempati Chanyeol. Yah, Chanyeol pasti mengunci pintu kamar itu dan tertidur seperti kerbau hingga tidak mendengar Jongin yang mengetuk kamar itu.
Chanyeol pernah bilang bahwa Jongin tinggal sendiri di apartemen ini. Orang tua Jongin sedang berada di luar negeri untuk mengurus bisnis, walaupun mereka pulang ke korea mereka tidak tinggal di apartemen ini melainkan di rumah mereka yang luas dan bagusnya melebihi apartemen Jongin.
Kyungsoo meringis merasa bersalah dan mendekati Jongin yang terlelap. Kyungsoo merasa tidak enak. Lalu ia mendekati lelaki itu dan menatapnya dengan ekspresi menyesal,
"Maaf..."
Ia berlalu menuju dapur, berniat membuatkan sarapan untuk Jongin dan Chanyeol sebagai ucapan permintaan maaf kepada Jongin sebelum ia pulang ke rumahnya.
Kyungsoo membuka lemari pendingin dan mendapati berbagai macam bahan makanan di dalamnya. Ini kulkas atau super market?
Tangannya mengambil bahan-bahan dari masakan yang ingin ia buat, termasuk daging ayam. Setelahnya, ia meletakkan bahan-bahan di meja dan menepukkan tangannya sekali hingga bertaut sambil tersenyum manis,
"Mari kita memasak. Fighting!"
.
.
Kyungsoo melihat masakan yang telah ia tata di meja makan dengan senyum bangga.
"Semoga saja mereka menyukainya." Gumam Kyungsoo entah kepada siapa.
Kyungsoo mengambil pulpen dan menyobek sebuah kertas dari buku tulisnya dan menuliskan sesuatu. Setelahnya ia taruh kertas itu di meja makan dengan sebuah gelas kosong di atasnya agar kertas itu tidak terbang.
Ia melirik arlojinya yang menunjukkan pukul enam pagi.
Astaga.. ia harus pulang sekarang juga. Kyungsoo bergegas menuju pintu dari apartemen Jongin dan setelahnya mengambil kunci yang tersangkut di dekat pintu itu.
Untung saja apartemen pintu apartemen Jongin selain menggunakan password juga bisa menggunakan kunci.
Ia membuka pintu itu dan berniat keluar. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik, melirik ke arah Jongin yang tertidur di sofa. Ia bergumam dengan pelan,
"Sampai jumpa di sekolah, Jongin."
.
.
.
.
Jongin terbangun karna alarm di smartphonenya.
Masih dengan angan-angan yang belum terkumpul sepenuhnya, Jongin berusaha untuk mendudukkan dirinya. Masih dengan mata yang setengah terpejam ia mengambil smartphonenya yang ada di meja dan matanya langsung terbuka sepenuhnya saat mengetahui bahwa sekarang sudah menunjukkan pukul enam pagi lewat lima belas menit.
Ia harus mengantar kan Kyungsoo pulang.
Dengan setengah melompat, ia bangun dan menghampiri kamarnya yang semalam di jadikan tempat istirahat untuk kyungsoo. Jongin mengetuk pintu kamar itu,
"Hey Kyungsoo! bangun.. sudah pagi!"
Tak ada jawaban. Jongin mengetuk pintunya lagi,
"Ya! burung hantu, cepat buka!"
Hening. Ia mengetuk pintunya lagi,
"Hey, tukang tidur! Kau ini tidur atau pingsan."
Hening. Jongin mulai panik.
Dengan ragu-ragu ia membuka pintu kamar itu yang ternyata...kosong.
Astaga! Kemana gadis burung hantu itu? apa ia hilang? Atau di culik?
Jongin yang panik langsung berlari ke arah kamar tamu yang di tempati Chanyeol dan mengetuknya dengan brutal,
"Hyung! Hyung! Hyung!..."
Satu menit berlalu tetapi Chanyeol tidak kunjung membuka pintunya. Tetapi Jongin tidak menyerah, ia masih mengetuk pintu itu dengan brutal sambil memanggil-manggil Chanyeol.
Lalu pintu terbuka dang menampakkan Chanyeol dengan mata yang setengah terpejam dan wajah khas orang bangun tidur. Sebelah tangannya menggaruk-garuk bokongnya yang tertutupi celana tidur yang kekecilan. Yeah, bisa di tebak itu celana Jongin yang di pinjamnya tanpa izin.
"Apa?!" Tanya Chanyeol dengan kesal karna di bangunkan dengan cara yang tidak elit.
"Kyungsoo.. Kyungsoo hilang!"
Jongin memasang ekspresi panik membuat si lelaki tinggi mendecak sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Kau berlebihan sekali, sih. Aku akan menelponnya. Mungkin saja ia pulang ke rumah."
Chanyeol berbalik untuk mengambil handphonenya. Dan Jongin mengikutinya dari belakang.
Lalu ia mendial nomer Kyungsoo dan meletakkan smartphonenya di telinganya.
Pada deringan ke tiga, Kyungsoo mengangkat panggilannya.
"Ada apa Chanyeol?"
"Ada apa, apanya huh?! Mengapa kau pergi tanpa pamit?" Sungut Chanyeol.
"Maaf.. aku tidak enak saja memabangunkan kalian. Apa lagi Jongin yang terlalu nyenyak tidurnya sampai-sampai air liur keluar dari mulutnya. Haha~"
"YA!" Jongin berteriak mendengarnya. Jangan lupa panggilan itu di loudspeaker.
"pppfffttt..." Chanyeol yang menahan tawa langsung mendapat deathglare dari Chanyeol, ia berdeham. "Baiklah. Sekarang kau dimana?"
"Aku ada di bus. Tetapi sebentar lagi sampai di rumah."
"baiklah kalau begitu hati-hati."
Sambungan telepon di putuskan oleh Chanyeol. Lelaki itu memelototi Jongin dengan mata mautnya membuat yang di pelototi tersenyum lima jari dengan polosnya.
Jongin langsung berbalik menuju dapur untuk mengambil air minum.
Tetapi kemudian ia mengerenyit saat melihat makanan yang ada di meja makan. Ini pasti bukan buatan para maid yang berkerja di apartemennya karna para maid itu akan datang setelah Jongin pergi ke sekolah dan akan pulang sebelum Jongin pulang, dan karna itu ia selalu membeli makanan untuk sarapan di restaurant terdekat.
Ia melangkahkan kakinya lalu duduk di kursi. Matanya mengedar ke arah makanan yang telah di tata dengan rapih. Dan matanya berhenti di satu titik. Di sebuah kertas yang di tindih oleh sebuah gelas.
Ia mengambil kertas itu dan membacanya,
'Maaf karna telah membuatmu tertidur di sofa.'
Jongin tersenyum. Ini buatan Kyungsoo.
Ia mengambil sepotong ayam goreng dan memakannya dengan gembira.
"Woahh.. banyak sekali makanannya."
Chanyeol tiba-tiba datang dan duduk di kursi yang ada di depan Jongin dan mengambil sepotong ayam goreng.
"YA! Jangan dimakan, ini semua punyaku!"
Chanyeol menghentikkan tangannya yang ingin memasukan ayam goreng ke mulutnya. Tetapi kemudian ia melanjutkan aktivitasnya yaitu memakan ayam goreng yang ia ketahui buatan Kyungsoo sambil menyeringai ke arah Jongin.
"YA! YA! YA!"
Jongin berdiri dengan panik saat Chanyeol menggigit ayam goreng buatan Kyungsoo dan mengunyahnya. Ia bangkin dari duduknya dan menghampiri Chanyeol yang duduk di depannya dengan ekspresi kesal.
Chanyeol tertawa dan bangkit dari duduknya dengan sepotong ayam goreng di tangannya saat Jongin berniat menghampirinya untuk memukulnya.
"Haha~ Jongin ini enak sekali lho.."
"YA! kembalikan.. itu punyaku!"
.
Dan di pagi yang indah itu, Chanyeol dan Jongin kejar-kejaran mengelilingi meja makan seperti di film india hanya karna sepotong ayam goreng.
.
.
.
.
Kyungsoo membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan.
Dan begitu pintu terbuka, hanya gelap yang terdapat di penglihatannya. Ia tidak heran karna setiap mau tidur pasti lampu-lampu rumahnya akan di matikan, alasannya agar tidak terlalu panas dan tentu saja untuk menghemat.
Kyungsoo melangkahkan kakinya dan menyalakan lampu yang membuat ruangan seketika terang.
Dan ia mendapati ayahnya yang tertidur di sofa.
Ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya ayahnya juga pernah tidur di sofa dengan alasan 'ketiduran'.
Kyungsoo mendekat dan duduk di samping ayahnya yang sedang tertidur dengan posisi duduk. Ia mengamati keluarga satu-satunya itu.
Kyungsoo merasa miris sendiri.
Ayahnya sudah tua, urat-urat tangannya juga terlihat jelas efek karna ia terlalu bekerja keras, rambutnya sudah memutih sebagian dan wajahnya yang terlihat sangat lelah. Ayahnya pasti langsung tertidur begitu pulang kerja dan tidak sempat berganti baju.
Tiba-tiba ayahnya membuka mata dengan perlahan.
Lelaki tua itu mengerjap lalu menatap Kyungsoo dengan dahi mengkerut. "Kyungsoo? kau sudah pulang?"
Kyungsoo tersenyum mencoba menahan air matanya. "Iya. Ayah mengapa tidur di sofa lagi? badan ayah pasti nanti akan pegal-pegal."
"Semalam ayah dapat tugas tambahan sehingga ayah pulang larut. Mungkin karna terlalu lelah, ayah tertidur saat sedang membuka sepatu." Ayahnya tertawa kecil dan membuat Kyungsoo juga ikut tertawa.
"Ayah.. jangan terlalu bekerja keras.." Kyungsoo mengelus punggung ayahnya. "Ayah sudah tidak muda lagi. Lihatlah kantung mata ayah. Astaga! Ayahku yang tampan sudah berkurang ketampanannya." Kyungsoo menggeleng sok dramatis.
Ayahnya tertawa lagi. "Tapi tetap saja ayah lebih tampan dari si Lee Minho idolamu itu, kan?"
Kyungsoo ikut tertawa dan memeluk ayahnya. "Iya, ayahku pria yang paling tampan di dunia ini."
Ayahnya membalas pelukan putri semata wayangnya dengan bahagia. Mereka sudah tinggal berdua sejak istrinya meninggal, saat Kyungsoo masih berumur tujuh tahun. Tapi Kyungsoo kecil sudah bisa mandiri, ia bisa memasak sendiri dan membersihkan rumah. Itu yang membuat Do Yesung –ayah Kyungsoo- bangga kepada putri cantiknya itu.
"Ayah.."
"Hmmm..?"
Kyungsoo mengeratkan pelukkannya dan sekuat tenaga untuk menjaga air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan ayahnya, karna ia tidak mau ayahnya bersedih..
"Aku... aku akan belajar yang keras agar bisa lulus sekolah dengan nilai yang baik, dan.. agar bisa di terima di universitas terbaik, a-aku... aku akan jadi orang sukses, ayah... aku akan berusaha untuk menjadi orang kaya agar ayah tidak perlu bekerja lagi.. aku..."
Kyungsoo tidak melanjutkan ucapannya, karna air mata dengan seenaknya keluar dan menuruni pipinya. Ia menahan isakannya agar ayahnya tidak tahu. Yah, dia wonder soo, maka dari itu ia harus kuat atau setidaknya...berpura-pura kuat.
"Kyung.. ayah tidak perduli mau kita miskin atau kaya. Asal putri ayah bahagia dan selalu tersenyum, itu sudah cukup bagi ayah."
Kyungsoo tersenyum di balik punggung ayahnya. Ayahnya memang tidak pernah menuntut apa-apa darinya, dan perkataan ayahnya yang- "Jika kau masuk ke sekolah elit itu mungkin saja ada siswa kaya yang tertarik padamu dan ingin menjadikanmu istrinya." -itu Kyungsoo tahu bahwa itu hanya sekedar gurauan.
Tapi walaupun seperti itu, Kyungsoo akan bekerja keras untuk menjadi orang sukses agar mereka bisa hidup enak. Yah, Kyungsoo akan belajar mati-matian.. demi ayahnya, demi ibunya, dan demi dirinya sendiri.. ia akan beruasaha dengan keras.
Fighting Kyungsoo!
.
.
.
.
Kyungsoo membuka buku yang baru saja di ambil dari rak perpustakaan dan membacanya.
Sekarang adalah jam istirahat kedua, dan Kyungsoo sedang berada di perpustakaan. Ia tidak ke kantin bersama Chanyeol. Bukan, bukan karna ia tidak lapar, hanya saja ia sedang berhemat.
Biasanya ia membawa bekal tetapi tidak untuk hari ini. Mari salahkan Jongin yang seenaknya meminta Kyungsoo untuk menginap di apartemennya semalam dan menyebabkan Kyungsoo hampir terlambat pergi ke sekolah.
Dan yah, mengingat ini adalah sekolah elit yang mayoritas muridnya berasal dari kalangan atas maka tak heran bila makanannya juga mahal-mahal.
Harga satu roti isi saja setara dengan harga dua liter bahan bakar minyak (?). Tadi Chanyeol sudah mengajaknya bahkan memaksanya untuk ikut ke kantin tetapi Kyungsoo berasalan bahwa ia tidak lapar. Padahal istirahat pertama juga ia tidak makan apapun. Dan setelah proses yang panjang akhirnya Chanyeol mengalah dan ke kantin sendirian.
Sementara Kyungsoo berada di perpustakaan sekolah yang sepi ini. Ingat bukan bahwa ia bertekad untuk belajar keras?
'Kruyuk'
Perutnya berbunyi lagi entah yang ke berapa kalinya. Untung saja perpustakaan sepi sekali sehingga ia tidak perlu takut kalau ada orang lain yang mendengar suara perutnya.
'Kruyuukk'
Perutnya berbunyi lagi dengan nada yang lebih panjang.
What the...
Kyungsoo memberi penanda di buku yang ia baca dan menutupnya. Ia memutuskan untuk ke toilet dan mencuci mukanya walau ia tahu itu tidak akan menghilangkan rasa laparnya.
Kyungsoo ke luar perpustakaan setelah memberi salam pada Onew si penjaga perpustakaan.
Setelah beberapa menit berlalu, Kyungsoo kembali lagi ke perpustakaan dan menuju ke meja tempatnya membaca. Ia duduk seperti semula. Saat tangannya ingin membuka buku yang tdai ia baca, Kyungsoo dapat melihat sebuah kotak makan berada tidak jauh dari bukunya.
Kyungsoo mengerenyit sambil mengambil kotak itu. apa ini punya orang lain?
Kyungsoo menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tetapi ia tidak menemukan orang lain selain dirinya dan Onew yang berada di dekat pintu.
"Onew sunbae, apa ini punyamu?" Kyungsoo mengangkat kotak berwarna putih itu dan sedikit berteriak kepada Onew mengingat jarak mereka yang lumayan jauh.
Onew menyipitkan matanya sambil melihat kotak yang di angkat Kyungsoo. ia menggeleng, "Bukan, sepertinya... Ah! Sepertinya itu untukmu."
"Untukku? Apa tadi ada orang yang masuk ke perpustakaan sebelum aku kembali dari toilet?"
"Ada." Lelaki itu mengangguk antusias.
"Siapa?"
"Ia berpesan agar tidak memberitahukannya kepadamu." Onew tersenyum menggoda Kyungsoo, "Sepertinya sedang ada yang jatuh cinta diam-diam kepadamu." Ia tertawa.
Kyungsoo tertawa canggung, "Sunbae ada-ada saja."
Setelahnya Kyungsoo menolehkan wajahnya ke arah kotak yang ia pegang. Dalam hati ia penasaran apa isi kotak ini dan siapa pemberinya.
Apa jangan-jangan isinya bom?
Astaga.. ia mulai error.
Dengan perlahan, Kyungsoo membuka tutup kotak itu, ia sedikit memejamkan matanya takut kalau isi dari kotak ini adalah sesuatu yang tidak ia sukai seperti cicak. Hey, bisa saja Jongin cs mengerjainya.
Tapi kemudian Kyungsoo mengerenyitkan dahinya saat mengetahui apa yanga ada di dalam kotak ini.
Dua potong Sandwitch. Dan di atasnya ada sebuah note kecil.
Ia mengambil kertas note berwarna kuning itu dan membacanya,
'Kau bukan robot yang tidak membutuhkan makanan. Lain kali sebelum belajar, isilah perutmu terlebih dahulu agar tidak berbunyi terus-terusan seperti terompet.
.
p.s : Aku memberinya sedikit bumbu cinta. Hehe~'
Wajah Kyungsoo memerah. Ya ampun, apa orang yang mengirimkan ini mendengar suara perutnya tadi? Astaga.. ia malu sekali. dan kalimat terakhir dari note di atas membuatnya menggelengkan kepala dengan geli. Orang yang mengirimi ini sangat cheesy sekali. Kyungsoo bisa menebak bahwa si pengirim pasti seorang lelaki culun yang cepat nervous. Hey, sok tahu sekali kau Do Kyungsoo!
Oke, sebelum perutnya berbunyi lagi ia harus mengisinya dengan sandwitch yang sepertinya lezat ini.
Oh, mengapa sandwitchnya enak sekali? Apa karna ini gratis ya? hhmmm..
Dan mengapa si pengirim hanya memberinya makanan saja tanpa ada minuman? Sepertinya mulai besok Kyungsoo harus memberitahunya bahwa ia juga perlu minum. –dasar Kyungsoo gak tau diri-.
Kyungsoo terus memakan sandwitch itu dengan bahagia dan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengamatinya dari sisi yang tersembunyi di antara rak-rak buku. Sebenarnya ia sudah ada di sana sejak tadi. Saat mendengar perut Kyungsoo berbunyi ia langsung keluar perpustakaan dengan mengendap-endap sambil menahan tawa dan kembali sebelum Kyungsoo kembali dari toilet.
Orang itu tersenyum tipis melihat Kyungsoo yang terlihat senang memakan sandwitch pemberiannya. Dengan pelan, ia bergumam-
"Selamat makan, Burung hantu ku."
.
.
.
To Be Continue
.
A/N
.
Selamat malam minggu.
Sebenernya mau update ff ini dari kemarin-kemarin tetapi aktivitas yang menyibukkan di tambah quota internet yang habis membuat saya terpaksa update sekarang.. huft..
Chapter ini mellow banget kayaknya.. sorry kalo bikin boring.
.
Fanfic yang lain menyusul yaaa...
.
Makasih banget yang udah Foll/Fav/Review fanfic ini, ay lope yu guys :* maaf gabisa sebutin satu-satu :(
.
Terakhir tapi bukan akhir,
.
.
Review?
