Ketahuilah sesuatu..
Jika aku bersikap dingin padamu, itu berarti aku sedang malu.
Jika aku marah padamu, itu berarti aku peduli.
Jika aku tersenyum saat melihatmu bersama yang lain... Itu berarti aku cemburu.
Ketahuilah sesuatu..
Inilah aku yang mengagumimu dalam hati, memujimu dari pancaran mataku.
Ketahuilah sesuatu..
Aku yang memelukmu dari jauh dengan doaku, yang memperhatikanmu dari jarak yang tak kau tahu.
Inilah aku yang mencintaimu diam-diam,
Inilah aku-
.
-Pemuja rahasiamu.
.
.
.
Oh! Secret admirer
.
Do Kyungsoo (girl) | Kim Jongin | Park Chanyeol | etc.
Kaisoo – Chansoo and other
Disclaimer : God, Parents, Agency and Mine.
Warning : Genderswitch, Typo(s), OOC, etc.
Words : 3.680
.
Don't Like
.
Don't Read
.
Sorry for late update
.
Enjoy!
.
.
.
Lagi.
Seseorang telah mengirimi selembar polaroid lagi kepada Kyungsoo.
Beberapa saat yang lalu ia berniat untuk mengambil buku yang ada di lokernya. Dan ternyata dia mendapati selembar polaroid itu di lokernya. Mengingat ia sudah menerima beberapa polaroid tanpa nama pengirim sebelum-sebelumnya, maka Kyungsoo tidak terlalu kaget dan heran lagi.
Ia yakin orang yang mengiriminya polaroid dengan orang yang mengiriminya dua potong sandwitch itu adalah orang yang sama. Kali ini yang ada di polaroid itu adalah gambaran dirinya yang sedang bekerja sambilan di sebuah mini market.
Oh, Apakah orang itu selalu mengamati gerak-gerik Kyungsoo setiap saat?
Bagaimana bila orang itu adalah seorang psikopat?
Hiiiiii... ia bergidik ngeri.
Sambil memegang sebuah buku tebal di tangan kirinya dan selembar polaroid di tangan kanannya ia terus melangkah menuju ke kelasnya. Kyungsoo memikirkan orang yang disebutnya sebagai penggemar rahasianya. Ahh.. mungkin orang yang menyukainya hanya seorang yang berpenampilan nerd dan kaku. Yeah, mungkin saja.
Ia membalikan polaroid itu dan membaca tulisan di baliknya,
'Janga bekerja terlalu keras. Kau bisa sakit.'
Jangan bekerja terlalu keras katanya? Jika ia santai-santai saja apakah akan datang kesejahteraan untuknya? Apakah jika ia santai-santai saja maka masa depannya harus terjamin?
Uang tidak akan datang kepadanya jika ia hanya bersantai saja. Mungkin ia memang wanita matrealistis tapi-
Hey, segalanya butuh uang. Tapi walau seperti itu, uang bukan segalanya untuk Kyungsoo.
Kyungsoo masih terus berjalan sambil mengamati polaroid itu. Samar-samar ia bisa mendengar suara ramai dari murid-murid lain yang masih berkeliaran di koridor itu.
Tetapi tiba-tiba..
'brukk'
Kyungsoo tersungkur dengan lututnya yang terlebih dahulu menemui lantai saat kakinya tersandung sesuatu.
"Fffttt.. kenapa kau berbaring di lantai?"
"Bodoh! dia itu terjatuh. Hahaha~"
Tawa riuh di sertai dengan hinaan murid-murid yang ada di koridor itu langsung menguar. Sesungguhnya ia sudah biasa mendengar ocehan atau lebih pantas di sebut hinaan dari murid-murid lain, ia hanya akan mengomeli atau memarahi siapa pun yang menghinanya.
Kyungsoo menoleh kebelakang guna mengetahui apa atau lebih tepatnya siapa yang membuatnya terjatuh. Dan Kyungsoo langsung tahu siapa orangnya.
Jung Hoseok yang mempunyai nama panggilan Jhope. Ia anak dari seorang direktur perusahaan printer. Sikapnya jahil atau mungkin kelewat jahil. Ia biasa mengerjai siapapun kecuali Jongin cs.
"ups..Sorry." Lelaki itu tertawa sambil mengucapkan kata maaf tanpa ada rasa penyesalan di raut wajahnya.
Kyungsoo mendesis kesal dan berusaha untuk berdiri, tetapi rasa perih langsung menjalar ke lututnya. Ternyata lututnya sedikit membiru.
Astaga.. ini keterlaluan!
Kyungsoo berdiri dengan susah payah sambil mengigit bibirnya menahan sakit dan tanpa memperdulikan murid lain yang menertawainya. Ia mendekati Jhope dengan aura hitam yang menguar di tubuhnya lalu-
PLAKKK
"YA!"
Ia memukul kepala Jhope dengan buku yang di pegangnya hingga membuat lelaki itu mengerang sakit.
"Rasakan itu!"
"YA! ini sakit bodoh!"
"Ini lebih sakit!" Kyungsoo menunjuk lututnya yang sedikit membiru.
Jhope terkekeh membuat Kyungsoo ingin melemparnya dari lantai empat sekolah ini, "kkkk~ maaf aku kan hanya bercanda."
"Bercanda kepalamu!" Kyungsoo menoyor dahi Jhope, "Awas kalau kau menjahiliku lagi! aku pastikan kau akan ku rebus di kuah ramen!"
Kyungsoo berbalik dan mendelik ke arah murid lain yang masih mendertawakannya, "Apa? Kalian mau ku botaki satu-satu, huh?"
Dan murid-murid itu langsung terdiam menerima tatapan galak dari Kyungsoo.
Ia berjalan dengan tertatih. Sial! Ini perih sekali. sepertinya Kyungsoo harus pergi ke UKS dan terpaksa membolos pelajaran.
.
.
.
"Kau benar-benar tidak apa-apa?"
Kyungsoo memutar kedua bola matanya dengan malas mendengar pertanyaan Chanyeol yang mungkin sudah keseribu kalinya lalu melirik ke arah lututnya yang sedikit membiru, "Apa aku terlihat akan mati hanya karena luka seperti ini?"
Chanyeol hanya mengangkat bahunya acuh mendengar pertanyaan sarkastik yang keluar dari bibir tebal Kyungsoo.
Bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu. Hari ini mereka tidak ada jadwal tambahan sehingga tidak perlu pulang malam seperti kemarin. Dua orang berbeda tinggi badan itu berjalan keluar kelas dengan beriringan. Tetapi mereka menghentikan langkah mereka saat melihat kerumunan siswa di koridor.
"Ada apa? Kenapa ramai sekali?" Gumam Kyungsoo tetapi tetap bisa didengar oleh Chanyeol.
"Mungkin Shindong tersedak kuaci lagi." Jawab Chanyeol dengan acuh.
"Ayo kita lihat!" Tanpa aba-aba Kyungsoo menarik lengan Chanyeol untuk mendekat ke kerumunan sebelum lelaki itu sempat protes.
Kyungsoo sedikit mendorong para siswa yang berkerumun berniat untuk melihat apa yang terjadi.
Seketika ia ternganga ngeri sekaligus bingung saat melihat apa yang terjadi.
Di sana terlihat Jhope yang terkapar dengan banyak luka lebam di wajah karena Jongin yang terus memukulinya. Chen terus saja mengabadikan kejadian itu di smartphonenya dengan wajah ceria, sesekali ia bergumam "Uhhh.." atau "Astaga! Itu pasti sakit" saat kepalan tangan Jongin menghantam tubuh Jhope terlalu keras. Di dekatnya ada Sehun yang hanya menyandarkan punggungnya di dinding sambil melipat kedua tangannya.
Kyungsoo ternganga dan juga bingung. Jongin memang suka membully orang tetapi ia hanya akan berkelahi jika kemarahannya benar-benar sudah di puncak. Dan hal seperti ini jarang sekali terjadi.
"Kekanakan sekali."
Ucapan Chanyeol membuat Kyungsoo menoleh ke arah lelaki itu. Ekspresi Chanyeol tidak tertebak, tetapi ia terlihat biasa saja dengan kedua tangannya yang terselip di masing-masing saku celana sekolahnya.
Kyungsoo menoleh lagi ke arah Jhope yang lemas tak berdaya, ia melihat lelaki itu dengan tatapan tidak tega.
"Jangan ganggu milikku lagi!" Ucapan Jongin terdengar pelan namun penuh tekanan, membuat semua siswa yang ada di sana termasuk Kyungsoo bergidik ngeri.
"M-Maaf..." Jhope berujar dengan lemah.
Jonginpun hanya menyeringai lalu menendang lutut Jhope dengan keras membuat sang empunya begitu juga siswa yang menonton memekik sakit.
Jongin memegang kerah Jhope dan membisikannya sesuatu. Dan tanpa di duga Kyungsoo, Jongin mengalihkan tatapannya ke arah Kyungsoo selama lima detik sebelum menghempaskan kerah baju Jhope dan melenggang pergi di ikuti oleh Chen dan Sehun tanpa berkata-kata lagi.
Semua siswa mulai membubarkan diri seakan tontonan seru mereka sudah berakhir. Dua orang siswa yang di ketahui bernama Taehyung dan Jungkook menghampiri Jhope dan memapah lelaki yang babak belur itu.
Kyungsoo dapat mendengar Jhope yang menggerutu saat melewati dirinya, "...Apa-apaan dia? Seenaknya saja memukuliku.." lelaki itu meringis di akhir kalimatnya.
Kyungsoo masih diam tak bergeming. Kemarahan Jongin benar-benar tidak bisa dianggap enteng.
Chanyeol menjentikan jarinya berkali-kali untuk menyadarkan Kyungsoo yang terlihat sedang melamun.
"Jangan melamun, karena kau terlihat bodoh."
Kyungsoo yang mendengar ucapan Chanyeol pun segera memukul lengan lelaki itu.
"Kalau aku bodoh maka kau idiot!"
Lalu meninggalkan Chanyeol yang terkekeh geli melihat tingkahnya.
.
.
.
Para muda dan mudi memenuhi dance floor itu, menggerakkan badan mereka sesuai irama. Suara musik yang DJ mainkan terdengar keras membuat suasana semakin meriah. Lighting berkelap-kerlip, sesuai dengan irama dentuman musik.
Jongin duduk di bar itu dengan salah satu tangannya memegang gelas yang telah berisi oleh minuman bernama Jack Daniel's. Matanya melihat ke arah Sehun dan Chen yang berada di dance floor itu tanpa minat.
Kedua lelaki itu menggerakkan tubuhnya dengan bersemangat bersama wanita-wanita berpakaian minim, mereka terlihat bahagia di kelilingi oleh para wanita. Lihat saja dimana keduanya meletakkan tangan mereka. Di pinggang, di bahu bahkan terkadang tangan mereka berpindah ke bokong-bokong berisi milik para wanita itu. terkadang mereka –Sehun dan Chen- tertawa setelah berhasil merayu wanita-wanita itu.
Sehun yang menyadari bahwa Jongin sedang melihat ke arah mereka melambaikan tangannya seakan mengajak Jongin untuk ikut bergabung.
Sambil menampilkan deretan giginya, Jongin mengangkat tangannya ke udara sebagai isyarat ia menolak ajakan Sehun.
Jongin menenggak minuman yang tersisa di gelasnya sebelum menyodorkannya ke bartender.
"Sepertinya kau ada masalah?" Bartender itu menuangkan minuman ke gelas kosong yang di sodorkan Jongin.
Jongin menarik sudut bibirnya sehingga membentuk senyuman kecil, "Kau terlalu mengenaliku rupanya."
Bartender itu terkekeh sambil menyodorkan gelas yang sudah terisi penuh ke arah Jongin, "Apa aku akan mendapat penghargaan untuk itu?"
Keduanya tertawa.
Namanya Choi Minho. Mereka memang sudah saling mengenal dengan baik sejak dulu, atau lebih tepatnya saat Jongin datang pertama kali ke diskotik ini ketika ia masih duduk di kursi junior high school. Diskotik ini milik sepupu Chen sehingga saat itu mereka bisa masuk walau belum cukup umur.
Chen yang kelelahan segera menghampiri Jongin dan duduk di kursi kosong di samping lelaki berkulit tan itu.
"Sebentar sayang. Biarkan pangeranmu beristirahat dulu." Teriak Chen dengan genit ke arah para wanita yang tadi berjoget di lantai dansa itu. Ia menoleh ke arah Jongin dengan bersemangat sambil menyeka keringat yang ada di pelipisnya, "Wohoo! Ini malam yang panas."
Jongin menatap malas Chen, "Yeahh.. kau dan wanita-wanitamu."
"Hey.. setidaknya bukan hanya aku saja yang merasa bebas saat ini."
Jongin tahu siapa yang dimaksud Chen. Ia mengarahkan indera penglihatannya ke arah stage yang terdapat seorang DJ yang asyik menggerak-gerakkan tangannya untuk menciptakan irama musik yang membuat para manusia yang ada di lantai dansa itu menggila.
"Akhirnya sang singa keluar dari balik kaca matanya."
Chen mengangkat jarinya untuk menghitung, "Astaga! Hampir empat tahun lamanya ia terkekang. Aku pasti akan gila bila menjadi dirinya."
"Ya ya ya.. tidak ada yang tahan bila di atur-atur seperi itu."
"Kata siapa? Dia tahan." Chen menggendikan dagunya ke arah stage tempat DJ memainkan musiknya.
"Berarti dia hebat." Jongin tertawa sambil sesekali menyesap Jack Daniel's miliknya.
Chen menghembuskan nafasnya pelan, "Mengapa tidak dari dulu saja paman dan bibi Park menetap di luar negeri." Chen merebut gelas yang di pegang Jongin lalu meminum minuman yang ada di dalamnya. Tanpa memperdulikan tatapan membunuh milik Jongin, Chen menatap ke arah wanita-wanita yang tadi dan berteriak, "Sayang-sayangku, i'm coming!"
Jongin masih duduk di bar itu walaupun Chen sudah beranjak. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Gadis itu pasti sudah pulang dari bekerja.
Jongin memakai jaket kulit miliknya yang sedari tadi berada di kursi kosong sebelahnya, dan hal itu membuat Minho yang sedang mengelap gelas-gelas menatap heran dirinya.
"Kau mau pergi? Ku fikir kau akan mengadakan pesta malam ini."
"Pesta?"
Minho mengangkat bahunya, "Yeah, mengingat si DJ itu sudah bebas kembali."
"Tidak. Tapi mungkin Sehun yang akan mengadakannya."
Jongin mengambil kunci motor Ducati merahnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja bar lalu beranjak setelah mengucapkan "Selamat bekerja" untuk Minho.
.
.
.
Angin malam yang berhembus seakan menusuk sampai ke tulang, itu membuat Kyungsoo merapatkan mantel yang dipakainya. Kakinya terus melangkah menyusuri jalanan yang minim penerangan itu.
Sepi.
Tentu saja mengingat sekarang sudah hampir pukul setengah dua belas malam.
Biasanya ia akan menyisakan uang untuk naik bus, atau terkadang ia meminta Tao –teman kerjanya- untuk mengantarnya pulang dengan Skuter matic yang biasa Tao kendarai.
Tetapi sialnya, ia lupa bahwa uang untuk naik bisnya telah ia berikan untuk seorang ahjumma yang kehilangan dompetnya dan otomatis ahjumma tersebut tidak bisa pulang karena tidak punya uang untuk menaiki bus. Kyungsoo yang iba pun memberikan uang untuk naik busnya kepada ahjumma itu.
Dan sialnya lagi, ia baru teringat bahwa ia tidak mempunyai uang untuk naik bus saat menuju ke halte. Tao pasti juga sudah pulang.
Dan yang sial dari sialnya lagi, Handphonenya mati karena kehabisan baterai membuat ia tidak bisa menghubungi Tao untuk minta di jemput.
Ya, ia memang bekerja paruh waktu menjadi kasir di mini market milik ayah Tao yang sekaligus juga teman dekat ayahnya.
Ayah Tao sangat baik dan mengerti dirinya yang sudah berada di kelas tiga senior high school. Ayah Tao selalu memperbolehkan ia mengambil libur mendadak, walaupun sebagai gantinya uang gajinya akan dipotong.
Kyungsoo berbelok saat tiba di tikungan. Ia mengeratkan genggamannya tangannya pada tali tas selempangnya.
Jalanan itu sepi dan gelap.
Kyungsoo berdoa dalam hati, semoga saja tidak ada hantu atau orang jahat di sana. Tapi sepertinya Tuhan tidak mengabulkan doa kyungsoo karena tak jauh dari posisinya berada, terlihat segerombolan anak muda yang sepertinya sedang berpesta minuman keras.
Kyungsoo terdiam sesaat. Haruskah ia berbalik?
Tetapi jalan ini adalah jalan satu-satunya jalan tercepat untuk menuju ke rumahnya bila berjalan kaki. Akhirnya setelah berperang batin, Kyungsoo melangkahkan kakinya maju ke depan. Ia menundukkan wajahnya agar gerombolan itu tidak menyadari kehadiran dirinya. Jujur saja ia takut. Yeah, ia memang bisa memukul atau menendang seseorang tetapi bukan berarti ia bisa bela diri.
Ia semakin mengeratkan pegangannya pada tali tas selempang berwarna biru tuanya saat melintas di depan gerombolan itu. Ia menahan nafas, semoga saja berandalan itu tidak mengganggunya.
Tapi,
"Hey manis! Mau kemana malam-malam begini?" seorang dari mereka mendekati Kyungsoo.
Kyungsoo mempercepat langkahnya namun tanpa ia duga seseorang menarik bahunya dengan kencang dan membuat Kyungsoo berbalik dan terkesiap.
"J-Jangan menggangguku!" Ia memasang wajah garang walaupun sebenarnya ia ketakutan setengah mati.
Tiga orang berandalan yang ada di hadapannya malah tertawa kemudian salah satu dari mereka bersiul sambil berkata, "uuuhhh.. galak sekali."
Kyungsoo hendak lari tetapi kedua pergelangan tangannya di cengkram oleh para berandalan itu. Astaga, pasti pergelangan tangannya akan lecet.
"Hey manis, bisa kau berikan uangmu pada kami? Kami kehabisan jatah minuman." Seorang dari mereka memasang wajah pura-pura sedih sementara dua temannya terbahak.
"T-Tidak ada. Tapi kalaupun ada aku tidak akan memberikannya kepada kalian!"
"Aaaahh.. kau menyakiti hatiku," ujar salah seorang dari mereka yang memakai tindik di telinga sambil memegang dadanya sendiri, lalu ia memandang Kyungsoo dari atas bawah sampai ke atas membuat Kyungsoo risih.
Lelaki itu memasang ekspresi menggoda, "Kalau begitu kau harus menemani kami bersenang-senang."
Panik.
Salah satu berandalan itu mendekati wajah Kyungsoo, dia mencengkram dagu Kyungsoo membuat sang empu meringis. Lelaki itu berusaha untuk mencium bibir Kyungsoo tapi sekuat tenaga Kyungsoo mengalihkan kepalanya ke kanan dan ke kiri agar bibirnya tidak tersentuh oleh bibir lelaki itu.
Kyungsoo memejamkan matanya erat-erat.
"Tolong...tolong aku..."
Kyungsoo hampir putus asa. Malam sudah larut sementara jalan tempatnya berada saat ini sangatlah sepi. Ia tidak yakin akan ada orang lewat dan menolong dirinya.
Di tengah kepasrahannya Kyungsoo mengerenyit bingung saat cengkraman di dagunya tak lagi terasa. Walaupun matanya terpejam tetapi secercah cahaya masuk ke retinanya, seakan cahaya itu menembus kelopak matanya.
Ia membuka mata namun cahaya yang di sorot ke arahnya membuat Kyungsoo menyipitkan mata.
Saat cahaya itu padam, Kyungsoo dapat melihat sebuah motor ducati berwarna merah dengan seorang pengendaranya yang mengenakan helm. Lalu orang itu turun dari motornya dan membuka helmnya.
Alangkah terkejutnya Kyungsoo saat ia tahu siapa orang itu.
"J-Jongin?" Gumam Kyungsoo.
Mengapa Jongin berada di sini? Setahu Kyungsoo rumah Jongin berjarak cukup jauh dari tempat mereka berada.
"YA! Mau apa kau?!"
"Hey! Jangat ikut campur!"
"Mau mati ya?!"
Gertakan dari para berandalan itu tidak membuat Jongin mundur, ia malah melangkahkan kakinya maju ke depan dengan helm yang berada di tangan kirinya.
"YA! YA! YA! rupanya ada yang mau cari mati, huh?"
Berandalan yang memegang dagu Kyungsoo beberapa saat yang lalu mulai maju ke arah Jongin yang juga melangkahkan kakinya ke depan tanpa gentar.
"Pergilah kalau-"
BUAGH!
Jongin memukul kepala berandalan yang memakai anting itu dengan helmnya, membuat berandalan itu jatuh tersungkur.
Kyungsoo membelalakan matanya kaget.
"Sial!" Berandalan yang mencengkram pergelangan tangan sebelah kirinya mulai maju menghampiri Jongin.
Namun tidak ada setitik pun ketakutan di wajah Jongin. Lelaki itu maju dengan wajah menyeramkan.
BUGH!
Jongin melemparkan helmnya tepat mengenai kepala berandalan itu dan membuat berandalan bercelana robek-robek itu berlutut. Tanpa ampun Jongin menendang pelipis berandalan itu dan membuatnya tersungkur menyusul teman berandalannya.
Jongin menghampiri Kyungsoo tetapi para berandalan yang berjumlah lima orang menghadangnya. Oh! Mereka pasti gerombolan berandalan yang sedari tadi duduk di tepi jalan sambil berpesta minuman keras.
Jongin menggertakan giginya.
Dan pertarungan malam itu pun tidak terelakkan.
.
.
.
.
Sungai Han seakan berkilauan. Cahaya dari lampu-lampu dari gedung percakar langit memantul di sana. Air yang mengalir dengan tenang seakan membawa kesejukkan bagi siapapun yang berada di sana.
Mengingat malam yang sudah larut, sungai Han saat ini sangatlah sepi. Di sana hanya terdapat seorang pedagang kaki lima yang berjualan di ujung sebelah utara dungai Han, sementara ditepi sungai Han itu terdapat dua orang berbeda gender yang sibuk dengan aktivitas mereka. Ambigu~
"Sudah ku bilang pelan-pelanlah sedikit! Ini sakit!"
"Jangan cerewet! Kau mau ku obati tidak sih?"
Ternyata Kyungsoo sedang mengobati Jongin yang terluka sehabis melawan para berandalan beberapa saat yang lalu. Ia menuangkan sedikit alkohol yang baru saja di belinya kepada kapan kecil dan menempelkannya di luka yang ada di wajah Jongin.
Jongin meringis, "Kau ini! bisa tidak lembut sedikit saja?!"
Dengan menggerutu, Kyungsoo semakin menempelkan kapas itu dengan kasar di bagian wajah Jongin yang terluka membuat sang empunya memprotes entah untuk yang keberapa kalinya.
Setelahnya Kyungsoo mengambil sebuah plester bermotif dinosaurus dan menempelkannya ke luka yang ada di wajah Jongin. Lalu ia memegang pergelangan tangan Jongin yang jari-jarinya sedikit lecet karena habis menghajar para berandalan tadi.
Namun Jongin menarik tangannya yang di pegang Kyungsoo. Gadis itu memutar kedua bola matanya dengan malas lalu menatap Jongin dengan tatapan bertanya.
"P-Pasti akan perih." Jongin berkata lirih namun Kyungsoo masih dapat mendengarnya.
Gadis itu berdecak dan menarik tangan Jongin. Lelaki itu hanya pasrah sambil terkadang meringis ketika perih di jari-jarinya terasa saat Kyungsoo menempelkan kapas kecil yang sduah di beri alkohol.
"Daripada berkelahi sebaiknya kau lapor polisi!"
"Dan membiarkanmu di perkosa bahkan sebelum polisi datang. Itu maksudmu?!"
Kyungsoo terdiam dengan memasang wajah cemberut. Ia akui Jongin ada benarnya juga.
"Jangan berjalan sendirian lagi malam-malam! Jangan pulang terlalu larut! Mintalah izin kepada bos mu atau berhentilah bekerja di sana!"
"Kau mengaturku?!" Kyungsoo memasang wajah 'Yang-benar-saja'
"Tidak. Aku hanya menasihatimu-" Jongin mendengus, "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu bila aku tidak datang tepat waktu."
Kyungsoo mendecih. Namun beberapa saat setelahnya ia mengerutkan dahinya bingung. Jongin tahu dari mana bahwa Kyungsoo bekerja sambilan? Dan mengapa tiba-tiba Jongin bisa berada di sana saat Kungsoo sedang diganggu oleh para berandalan tadi?
"Kebetulan..."
"Apa?" Jongin menatap Kyungsoo dengan wajah tidak mengertinya.
"Kebetulan sekali! Mengapa kau tiba-tiba muncul begitu saja?" Kyungsoo menyipitkan matanya menatap Jongin curiga, "Kau... mengikutiku?"
Jongin terdiam dan mengedipkan matanya dua kali, namun setelah beberapa detik ia tertawa meremehkan, "Mengikutimu? Yang benar saja! Memangnya kau siapa, huh?"
Kyungsoo tercenung.
Iya.. memangnya Kyungsoo siapa? Ia hanya orang biasa. Mengapa ia bisa berfikiran konyol seperti tadi? Jongin pasti hanya kebetulan lewat. Ya mungkin...
"Kau tidak mau berterima kasih?"
Pertanyaan Jongin membuat fikiran yang ada di kepala Kyungsoo segera buyar, "Untuk apa?"
"Karena aku telah menolongmu." Jongin mengangkat bahunya acuh.
"Aku kan tidak pernah meminta pertolonganmu."
Gezz.. Jongin menatap Kyungsoo dengan geram, "Dasar tidak tau terima kasih!"
Kyungsoo yang lelah untuk membalas omongan Jongin hanya terdiam.
Sebenarnya ia malu, ia kesal kepada dirinya yang lemah. Padahal di depan ayahnya ia selalu berkata dengan percaya diri bahwa dia adalah Wonder Soo temannya Wonder Woman. Tetapi kenyataannya?
Jongin yang heran dengan Kyungsoo yang tidak membalas perkataannya pun menoleh ke arah gadis itu yang ternyata sedang memasang tatapan menerawang ke depan.
"Hey kenapa terdiam? Apa ada yang sakit?"
Kyungsoo yang masih sibuk dengan fikirannya pun tidak menjawab pertanyaan Jongin.
"Kau kedinginan?"
Kyungsoo masih saja diam tanpa menoleh ke arah Jongin.
"YA! katakanlah sesuatu!"
'Kruyukk~'
Suara itu yang menjawab pertanyaan Jongin dan membuat lelaki itu menahan tawa.
Suara yang Kyungsoo benci yang keluar dari dalam perutnya. Pipinya merona karena malu.
"A-Aku.. lapar."
.
.
.
"Jongin, bisakah aku memesan satu porsi lagi?"
Jongin memasang ekspresi tidak percaya, pasalnya sudah enam porsi ramyeon yang Kyungsoo habiskan. Ia tidak menyangka bahwa Kyungsoo yang memiliki badan mungil memiliki nafsu makan yang setara dengan seorang pe-sumo.
Saat ini mereka –atau lebih tepatnya Kyungsoo- sedang memakan ramyeon di tenda pedagang kaki lima yang berada di bagian utara dari sungai Han. Tadi saat perut Kyungsoo berbunyi, Jongin langsung membawanya ke pedagang kaki lima tanpa meredakan tawanya.
Dan Kyungsoo terpaksa menendang tulang kering Jongin agar lelaki itu berhenti tertawa.
Jongin menatap Kyungsoo dengan geli, "Kau juga boleh memesan gerobaknya jika mau. Aku akan membayarnya."
"YA! kau fikir aku ini apa?"
"Kurcaci yang hoby makan."
"A-Apa?" Kyungsoo mendengus mencemooh, "Kalau aku kurcaci, kau sendiri makhluk apa, huh?"
"Aku? Aku pangeran kodok dari negeri dongeng." Ucap Jongin sambil menaruh jari telunjuknya di pipinya sendiri.
Kyungsoo memasang ekspresi ingin muntah karena sikap Jongin yang sok imut. Lalu Kyungsoo memanggil penjual ramyeon itu dan memesan satu porsi lagi.
Tak butuh lima menit, pesanan Kyungsoo pun datang. Dengan hati riang gembira Kyungsoo menyantap makanannya itu sementara Jongin memasang ekspresi tidak percaya –lagi.
"Cepat habiskan! Kalau besok aku terlambat datang ke sekolah maka semua itu salahmu!"
"Bagaimana bisa itu salahku?"
"Kau ini! habiskan saja, jangan banyak bicara!"
Kyungsoo mendesis kesal. Ia pun melahap ramyeon nya sambil menggerutu, membuat ramyeon yang ada di mulutnya ada yang memuncrat keluar.
Tanpa sengaja, Jongin melirik sebuah spidol milik pedagang tadi yang berada di mejanya. Ia melirik Kyungsoo sebentar lalu mengambil spidol itu diam-diam dan membuka tutupnya. Diam-diam ia menuliskan kata-kata ke meja kayu berwarna coklat yang sekarang sedang ia tempati.
"Hari ini aku melewati malam yang indah bersama Kyungsoo"
Ia tersenyum sendiri membaca tulisan yang dibuatnya. Astaga! Ia sudah seperti anak perempuan saja! Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Kyungsoo. Diam-diam Jongin tersenyum, Kyungsoo seperti anak kecil yang polos.
Jongin tahu semua sifat jelek Kyungsoo. Mulai dari Kyungsoo yang hobby makan, Kyungsoo yang bersifat kasar, Kyungsoo yang lemah dalam matematika, Kyungsoo yang jorok, dan lain sebagainya.
Namun ia tetap saja menyukai gadis itu... walaupun diam-diam.
Apa karena cinta itu buta?
Tidak.
Menurut Jongin, cinta itu tidak buta. Cinta bisa melihat, namun ia tidak perduli dengan apa yang dilihatnya. Seburuk apapun orang yang kau cintai, kau tidak akan perduli. Mungkin karena itu juga cinta di sebut sebuah kegilaan.
Gila...
Ya, gila...
Seperti Jongin sekarang-
-Yang sedang dibuat gila oleh seorang gadis bernama Do Kyungsoo.
.
.
.
.
To Be Continue
.
Author's Note.
Parah! Udah tiga bulan saya ga update ff ini. Sebagai mahasiswa yang mempunyai banyak tugas, waktu luang saya semakin sedikit. Tapi karena UTS udah lewat maka saya usahin supaya update minimal satu ff setiap minggunya. Tapi ga janji sih... /ditabok/
Nahhh.. pasti udah pada tahu siapa secret admirernya Kyungsoo? hohohoho.. Saya sengaja ngebuat Jonginnya jadi cheesy dan romantis, ugh..
Konflik kemungkinan bakal muncul di chapter lima.. mungkin..
.
Terima kasih untuk semua review yang masuk. Jangan jadi silent reader yaa, review dari kalian itu satu-satunya semangat buat saya.
