ChanHun fic

EXO © SM Entertainment

EXO's members © Their parents

Warning: AU, OOC, Typo(s), weird, crossdress, etc

.

.

Don't like, don't read

.

.

"Chanyeol, aku benar-benar minta maaf soal kemarin," Baekhyun menggunakan suara yang benar-benar memelas; namun tak terdengar suara Chanyeol diujung telepon, "ayolaaaaah, kita sudah bersahabat lama sekali. Masa kau sampai hati tak mau berbicara padaku hanya karena masalah sepele seperti ini?"

"Tapi tetap saja kau ingkar janji padaku."

Baekhyun menepuk dahinya dengan keras, "Tuan Park Chanyeol yang agung, tolong maafkan aku," ia kembali memohon, "aku janji tak akan ingkar janji lagi. Ya? Ya? Ya?"

Chanyeol menghela napas, "Terserah lah,"

"Benarkah? Terima kasih, Chanyeol-ah."

"Jadi? Kau ingin membicarakan apa?"

Baekhyun berdehem sebelum menjawab, "Begini. Sebenarnya aku ingin pergi ke rumahmu kemarin, tapi karena beberapa alasan; hal itu tak jadi dilakukan," diam sebentar, Chanyeol masih mendengarkan tanpa berkata apa-apa, "sebenarnya aku ingin mengajak Kris, tapi sepertinya dia sedang sangat sibuk. Karena itu, aku bermaksud berkunjung ke rumahmu hari ini."

"Oh ya? Tapi Sehun sedang bekerja sekarang."

"Hahaha, tenang, aku tidak akan datang sekarang. Kalau aku datang sekarang, tentunya aku tak dapat melihat wajah istrimu yang cantik itu secara langsung." Chanyeol tertawa, "Jangan terlalu memuji Sehun cantik, Baekhyun. Dia sama sekali tidak cantik."

"What the-! Kau seharusnya senang aku memujinya. Jarang sekali pujian keluar dari mulutku ini!"

"Ya, ya, terserahlah," Chanyeol menjawab dengan nada santai, "Bagiku Sehun itu manis; jadi mungkin kita berbeda dalam cara pandang kita tentang wajahnya." lalu Chanyeol diam sebentar dan melirik ke arah jam dinding yang ada di ruang keluarga itu, "Sepertinya aku harus pergi sekarang untuk menemui orang tuaku. Kau datang jam berapa?"

"Mungkin sekitar jam 7 malam," Chanyeol dapat mendengar nada suara riang dari kalimat yang diucapkan Baekhyun, "kurasa aku benar-benar ingin melihat istrimu itu."

"Melihat wajahnya? Dari suaramu saja aku dapat mendengar nada penilaian darimu!" Chanyeol tertawa, "Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu nanti, Bacon!"

Setelah itu sambungan terputus.

Baekhyun tersenyum sambil menatap nomor kontak Chanyeol, "Dasar, sama sekali tak berubah." Lalu setelah itu dia terdiam. Rasanya denyut jantungnya menjadi terasa menyakitkan. Sangat menyakitkan sampai-sampai tangan kirinya naik untuk memegang kulit yang menutupi tempat di mana jantungnya itu berada. "Bodoh." dia meremas kulit yang menutupi jantungnya itu dengan agak keras,

"Benar-benar bodoh, Byun Baekhyun." dia menutup matannya, "Chanyeol sudah bahagia. Seharusnya kau ikut bahagia melihat orang yang kau cintai itu berbahagia." Ya, seharusnya dia merasa bahagia. Chanyeol akhirnya memiliki tumpuan untuk berdiri, memiliki orang yang bisa berbagi rasa senang dan rasa sedih dengannya. Seharusnya ia tertawa dengan riang mengetahui hal itu. Tapi... Kenapa?

"Kenapa rasanya benar-benar sakit?" ia menjatuhkan handphone miliknya dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangan kanannya, "Kenapa rasanya sakit sekali, ya Tuhan?"


Sehun sedang berdiri di gerbang rumah sakit saat sebuah motor menghampirinya.

"Naiklah, Sehun-ah. Ibu menyuruh kita untuk pergi ke rumahnya."

Sehun tersenyum simpul, "Tapi saat ini aku sedang memakai rok. Tidak aman kalau aku duduk menyamping, 'kan?"

"Kau bercanda?" Chanyeol turun dari sepeda motornya dan menyerahkan sebuah bungkusan, "Aku selalu memikirkan kepentingan terlebih dahulu. Lagipula pakaian macam apa yang kau pakai itu? Terlalu formal!"

Dengan tawanya, Sehun segera mengambil bungkusan itu dan menarik tangan Chanyeol untuk memasuki rumah sakit tempat dirinya bekerja. "Ah, sudahlah. Jangan terlalu dipermasalahkan," Sehun menolehkan kepalanya sedikit agar dapat melihat Chanyeol yang berada di belakangnya, "Yang penting 'kan aku bisa berganti dengan baju biasa sekarang."

Awalnya Chanyeol hanya menatap punggung Sehun dari belakang dengan pandangan terkejut. Lalu setelah itu ia tersenyum dan melepaskan pegangan tangan Sehun darinya. Dia lalu berjalan disamping Sehun dan menautkan tangan mereka berdua. "Tarikan macam apa tadi? Begini lebih bagus."

Wajah Sehun bersemu merah. Namun ia tidak menyembunyikannya dari Chanyeol dan tersenyum pada laki-laki itu.

"Kau benar, begini lebih bagus."


Kris kembali pergi ke supermarket semalam. Dia tahu kalau wanita yang kemarin tak mungkin datang ke supermarket ini lagi. Wanita itu membawa daftar belanjaan, pastinya untuk membeli belanja bulanannya. Persentase wanita itu datang lagi ke sini sangatlah kecil; tapi entah kenapa hati Kris seakan memerintahkannya untuk datang ke supermarket ini.

Dia mengambil keranjang. Mengambil beberapa makanan ringan yang tidak biasanya dia beli, lalu mengambil rumput laut kering, dan beberapa minuman berso-

"Lho? Laki-laki yang kemarin 'kan?"

Dada Kris tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Dia membalikan tubuhnya; hanya untuk menemukan seorang wanita muda sedang membawa keranjang berisikan makanan-makanan ringan dan sepertinya ingin mengambil salah satu minuman dingin yang saat ini berada di depannya.

"Ah, ya. Ingin membeli minuman dingin, emm..."

Wanita itu tersenyum, "Panggil saja Sehun."

"Ah, ya, Sehun-ssi."

Jantung Kris benar-benar tidak nyaman rasanya. Wajah wanita ini benar-benar menaklukan dirinya. Kris bersumpah jika saat ini wajahnya benar-benar terasa panas. Dia... Benar-benar senang.

"Iya. Akan ada tamu yang datang ke rumah hari ini. Jadi aku membeli beberapa."

"Ah begitu," kaki Kris sebenarnya berat untuk melangkah menjauh. Namun, dia sudah mengambil semua yang ingin dia beli, dan tidak ada alasan untuk tetap tinggal di sana. Jadi dia menampilkan senyum terbaiknya, dan membuat gestur untuk pergi ke kasir, "kalau begitu aku duluan, Sehun-ssi."

Sehun mengangguk. Dan Kris berjalan menjauh untuk pergi ke meja kasir. Masih ada dua orang yang ada didepannya. Jadi, saat Sehun sampai di meja kasir, belanjaan Kris masih belum dihitung sehingga mereka punya sedikit waktu untuk berbincang.

"Eh? Rumahmu ada di sekitar daerah ini, Sehun-ssi?"

"Iya, kalau, emm..."

"Panggil saja Kris."

"Eh? Ah, ya, kalau Kris-ssi sendiri?"

"Rumahku juga ada di sekitar daerah sini."

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku baru saja pindah ke sini, jadi masih belum terlalu tahu dengan daerah di sekitar sini."

Sekarang giliran belanjaan Kris yang dihitung. Jadi dia hanya mengangguk mendengar perkataan dari Sehun sambil menyerahkan belanjaannya pada kasir. Setelah membayar, ia mengambil belanjaannya dan tersenyum pada Sehun, "Aku duluan, Sehun-ssi."

Sehun hanya menundukkan sedikit kepalanya sambil balas tersenyum singkat. Saat itu detak jantung Kris masih belum terasa nyaman. Bahkan saat ia keluar dari supermarket dan udara dingin menyusup ke kulitnya. Detak jantungnya benar-benar tak karuan. Untung saja ia masih dapat mengatur ekspresi wajahnya dengan baik.

Pada saat itulah, suara yang sangat ia kenal tiba-tiba memanggil namanya.

"Kris?"

Kris menolehkan wajahnya ke samping. Bertemu pandang dengan seorang laki-laki yang tingginya hampir sama dengan dirinya, dan memiliki senyum lebar yang terkesan idiot terpatri di bibirnya. Saat itu, Kris sebenarnya memutuskan untuk pura-pura tak kenal dan berjalan menjauh. Namun takdir berkata lain. Takdir menghantamnya dengan tinju berkali-kali hingga tubuhnya tak memiliki sisa kekuatan lagi.

"Kau Kris 'kan?"

Laki-laki yang memanggilnya dengan nama tadi mendekat ke arahnya. Terus mendekat, mendekat, mendekat, dan men-

"Lho, Oppa? Bukannya tadi kusuruh tunggu di motor saja?"

Mata Kris melebar. Dia membalikkan tubuhnya ke belakang untuk melihat Sehun yang saat ini arah pandangannya sedang tertuju pada Chanyeol. Sehun mengenal Chanyeol? Bagaimana bisa? Chanyeol tidak mungkin bisa akrab dengan wanita secantik Sehun. Tidak mungkin! Lalu saat ia tengah berpikir dan terus berpikir, kata-kata Baekhyun memukulnya dengan telak.

"kali ini kau harus bertepuk tangan untuk Chanyeol karena dia berhasil menikahi seorang psikiater terkenal; dan saat aku browsing di internet, psikiater muda itu memang memiliki paras wajah yang sangat cantik."

Oh, Kris benar-benar sakit sekarang.

TBC

Well, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa Sehun manggil Chanyeol oppa di sini dan bukannya hyung seperti di chapter 2.

Begini sih gampangnya. Kalau sama Chanyeol, Sehun ngeliatin lakinya dia. Kalau ada orang lain selain Chanyeol, dia bakalan jadi cewek manis penyayang yang baik hati dan menyamarkan kelelakiannya. Soalnya, di sini yang tahu Sehun cowok cuma Chanyeol dan Sehun sendiri. Orang tua mereka? Entar dijelasin ya. :D

Cya~