Careful


Title : Careful

Author : Shouda Shikaku^^

Genre : Supernatural, Romance, Mysteri, Fantasy, SongFic, AU

Length : 3rd Part (1K+ = 1411 Words)

Recommended Song : Paramore – Careful

Cast :

- Park Chanyeol (EXO's Member) as Bryan Elison Park

- Byun Baekhyun (EXO's Member) as Lawrence Valerian Byun

- Nicholas Teo (Soloist) as Agen Nick

- EXO's Member

- Other Cast

Warning : Boys Love, Alur ngaco -_-, cerita pasaran, sekedar coretan yang terinspirasi dari lagu Paramore – Careful, nama member EXO Shika samarkan dengan nama barat dari Shika -_- (except : Kris and Tao)

Kris Wu : Wufan

Joshep Kim : Joonmyeon

Austin Do : Kyungsoo

James Kim : Jongin

Brandon Oh : Sehun

Edison Huang : Tao

Hayley Xi : Luhan

Justin Kim : Jongdae

Michael Kim : Minseok

Laurent Zhang : Yi Xing


NO FLAME! NO BASH! DLDR! NO COPYCAT!

Summary :

"Can't be too careful anymore, When all that is waiting for you

Won't come any closer, You've got to reach out a little more"_ Paramore – Careful (Chorus)


Previous Chapter_

"Bryan.." suara Hayley terdengar lirih. "kau sudah menemukan Valerian?" lanjutnya.

"yeah.. seperti yang kau lihat, Hayley.. dan ku harap.. kita dapat segera bertemu dengan si Idiot Antonio yang tentunya tahu seluk beluk castle Dracula.." pasti Bryan "..dan maaf Josh, aku merepotkanmu. Tolong kau yang harus mengemudikannya.. aku harus mengawasi Valerian.. dia sangat lemah.."

Sungguh.. mereka ikut terluka mendapati ekspresi Bryan yang benar-benar terpukul; bagaikan raga tanpa nyawa.. kosong.. dan rapuh...


3rd Part (CHAPTER)

Bryan tersenyum kecut. Ia terus mengecup lembut surai magenta sang kekasih; menyalurkan segenap rasa dan asa pada sosok yang tak berdaya dalam rengkuhannya. Netranya terfokus, namun tidak dengan fikirannya. Jujur, otaknya terasa kacau; mengelak kejadian buruk hari ini.

Disampingnya, Joshep sesekali melirik melalui sudut matanya. Ia sengaja tak ambil suara, mengingat Bryan yang masih terpukul. Ia juga melirik wajah Vale yang memucat. Tanpa ia sadari, beberapa helaan nafas terdengar darinya.

"Josh.." suara Bryan terdengar sengau.

"heummm?" Josh masih terfokus pada jalanan di hadapannya.

"apa yang harus kita lakukan agar Vale pulih?"

"..." Josh menghela nafas – lagi – sebelum menjawab pertanyaan Bryan, "menemukan saudara kita, Heal.."

"huh?" Bryan mengerutkan keningnya.

"ya, sang Pengendali kehidupan, Heal..."

Bryan termenung. Perlahan ia kembali tersadar disaat gerakan kecil di dadanya terasa. Ya, Vale sadar. Mata sipitnya mengerjap perlahan.

"Vale.." bisik Bryan.

"eung~?"

Josh menegang. Bahkan dengan segera ia mengalihkan kemudi ke arah kiri jalan. Ia terkejut, mendengar lenguhan kecil dari salah satu saudaranya.

"Vale.. k-kau sadar?"

Mendengar suara asing yang menyapa indera pendengarannya, membuat Vale mau tak mau menolehkan wajahnya. Kepalanya memiring imut, membuat Bryan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya gemas.

"k-kau siapa?" suara indah sang pengendali cahaya mendominasi keadaan mobil yang sempat hening.

"ah, perkenalkan.. aku adalah Joshep Kim, Water Controller..." seulas senyum meneduhkan terukir diwajah malaikat sang pemimpin.

"a-apa? Water Controller? Ya Tuhan~! Akhirnya aku menemukanmu!"

"yeah.. selamat datang kembali ke kelompok, Vale^^"

"..."

Vale mengangguk. Dan ia mengalihkan wajahnya dari pandangan Josh. Dan... Oh My God! Ia baru tersadar jika ia tengah terduduk dipangkuan seorang pemuda tinggi berwajah tam_

"Bryan?" satu nama meluncur lembut dari bibir tipis Valerian.

"ya, sayang.. ini aku.."

".."

Vale menutup mulutnya. Matanya terbelalak sempurna. Demi Apapun, ia tak menyangka jika ia kan kembali bertemu dengan 'soulmate'nya.

Buliran bening meluncur begitu saja dari pelupuk matanya. Rasa bahagia langsung membuncah di rongga dadanya. Akhirnya, penantiannya selama ini berakhir sudah. Dengan segera direngkuhnya tubuh tegap sang kekasih, diiringi isak tangis yang terdengar dari bibirnya.

"Demi Tuhan! Aku teramat merindukanmu, Bryan!" serunya tertahan.

"begitu juga denganku, Vale.. aku bahkan nyaris mengobrak-abrik kediaman keluarga Lee yang merawatmu begitu ku dengar kau menghilang.."

"Maafkan aku Bryan.. Maafkan aku.. hiks.."

"tak apa sayang, yang penting sekarang kau aman bersama kami.."

Bryan mengelus lembut surai sang kekasih. Seulas senyum tulus terukir di wajah tampannya.

Joshep tersenyum di kursi kemudi. Ada rasa haru yang menghinggapinya. Ah..ia jadi tak sabar untuk bertemu dengan soulmate-nya, Heal; ya.. Soulmate Joshep adalah Heal...

.

.
~Careful~~Careful~~Careful~~Careful~~Careful~~Careful~~Careful~~Careful~~Careful~

.

Hayley mengernyitkan keningnya, disaat didapatinya Joshep yang menepi. Dan hey, apa yang mereka lakukan?

Berakar dari rasa heran sekaligus penasarannya, berusaha membuka jalur telepati dengan kedua saudaranya di depan sana. Samar-samar terdengar beberapa penggal percakapan antara Bryan dan eumm~ kenapa suara ini terdengar asing? Ia yakin jika ini bukanlah suara Joshep.

Seketika irisnya membulat disaat sepenggal kalimat melucur dari Joshep. Ha?

"Vale sadar!" pekiknya tanpa sadar.

~CKIITTTTTTTTTTTTTTTTT

Brandon menginjak pedal remnya mendadak. Diikuti James dibelakangnya. Tak berapa lama terdengar ocehan dan umpatan dari mulut James karena merasa kesal pada sang termuda.

"DASAR BODOH! APA KAU BERNIAT MEMBUNUHKU DAN AUSTIN, HUH?"

"..."

Brandon menghiraukan umpatan dan cacian yang James lontarkan. Ia terlalu sibuk menelaah apa yang tadi kekasihnya – Hayley – ucapkan. Valerian sadar? Benarkah? Apakah ini awal dari segalanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benak sang pangeran.

Mata teduhnya perlahan mulai bergerak, mengamati pergerakan yang tiba-tiba muncul di luar sana; lebih tepatnya di belukar yang letaknya agak berdekatan dengan mobil Josh yang masih terparkir.

Jantungnya mulai berdegup kencang, mendapati aura tak mengenakan yang tiba-tiba menyambangi. Dengan segera dipacunya kendaraan kebanggaanya, mengimbangi ancaman yang kian terasa.

Deg,

deg,

deg

"Josh, menyingkir dari sana, cepat!"

Seruan spontan dari Brandon membuat Josh dan Bryan terperanjat. Menyadari gelagat Brandon yang benar-benar mengejutkan, tak ayal membuat Josh secara otomatis menginjak pedal gas; membuat decitan ban dengan aspal terdengar nyaring.

Dan tak perlu menunggu waktu yang lama...

Grawr!

Sesosok makhuk tinggi besar dengan liur yang menetes menerjang ke badan jalan. Membuat James-Austin, Joshep-Brandon-Vale, dan Hayley tentu saja, membulatkan mata mereka serempak. Ok, mereka acungkan jempol untuk insting Brandon.

Open your eyes like I open mine

It's only the real world, life you will never know

Shifting your way to throw of the pain

Well, you can ignore it, but only for so long

Valerian melonjak dalam pangkuan Brandon. Peluh terus mengucur dari pelipisnya. Dia mengerang kecil. Membuat Brandon tiba-tiba meneteskan buliran bening dari kedua netra bulatnya. Fikirannya terus memproses kejadian-kejadian yang menimpanya dan tentu saja sang kekasih 7 tahun belakangan.

Flashback On_

Bryan nampak sibuk dengan beberapa lembar usang di hadapannya. Matanya menyirit tajam, mendapati beberapa ukiran timbul yang tercetak sempurna di sampul depan buku yang ada di tangan kanannya.

"aneh, aku bertahun-tahun mempelajari ini. Tapi kenapa baru sekarang aku mendapati ukiran ini?" monolognya.

~kriet

Pintu terbuka; mengundang perhatian sang guardian. Irisnya membulat, mendapati adik sepupunya – Denis Park – yang terengah namun dengan wajah yang pucat pasi.

"ah~ akhirnya aku menemukanmu.."

"what happend?" tanya Bryan heran.

"Vale tak sadarkan diri setelah ia menembakkan flash light di arah jam 8.."

"APA?"

Dengan segera Bryan bangkit dan beranjak dari tempatnya. Rongga dadanya bergemuruh dengan dahsyat, sejalan dengan fikiran negatif yang berdatangan dalam daya khayalnya.

Tepat disaat ia hendak menutup pintu ruang perpustakaan..

~Cring

Sekelebat cahaya muncul dari buku yang tergeletak.

'Oh, jangan katakan jika buku itu sebenarnya adalah petunjuk tentang kebangkitan Dracula!'

"Denis, Bryan! Vale menghilang!"

~DEG

"Sh*t! Dracula telah bangkit!"

Semuanya menggelap.

Flashback End_

Vale terus menggeliat gelisah. Keringat yang sudah Bryan seka ternyata tak berpengaruh sama sekali. Lihatlah, bahkan dahinya kian lembab seiring dengan mengalirnya buliran peluh tersebut.

Disebelahnya, Josh nampak khawatir matanya mengawasi keadaan di belakang sana melalui spion di sebelah kanannya. Oh My God! Bukankah itu werewolf yang menemuinya 3 hari yang lalu?

"Sial!" umpat Josh berlebihan.

"ada apa?" tanya Bryan dengan suara seraknya.

"aku lupa jika werewolf sinting itu sudah membuntuti kita sejak 3 hari yang lalu.." jawabnya tetap dengan mata yang fokus pada jalanan yang hendak mereka lalui.

~CKITTTTTT

"Sh*t!" umpat Josh lagi.

"ada apa?" kini suara Hayley terdengar melalui telepatinya.

"kita terkepung, keluar dari mobil sekarang!"

Dan tanpa menunggu seruan ulang atas komando dari Josh, mereka semua secara serempak bergegas meninggalkan kendaraan mereka.

"Bryan, ledakkan mereka dengan kekuatanmu." Seru Joshep kemudian.

"Ya, aku mengerti, tapi jaga Vale untukku.."

Brya menyerahkan Valerian pada James dan Austin. Ia pun melangkah dengan perlahan kearah kumpulan Goul dan Werewolf yang memandang mereka dengan tatapan kelaparan dan penuh ancaman.

Tepat berjarak 5 langkah dari para musuh, Bryan terhenti. Direntangkannya kedua lengan kekarnya, kemudian mata bulatnya yang terpejam terbuka dengan sempurna; menampilkan kesungguhan berlapis keberanian yang membara...
.

.

.

"Fire blaster!"

~DUARRR

Ledakkan besar pun terjadi. Disusul raungan dan rintihan penuh kesakitan dari sang lawan. Bryan, tersenyum sinis setelah berhasil memusnahkan mereka.

Dan irisnya langsung melotot tajam disaat ia mendapati suara menjengkelkan dari Robert, sang pengelana dari bangsa Vampire tengah menyandarkan tubuh rupawannya di pohon oak tak jauh dari tempat mereka berpijak.

.

.

"merindukanku Don Bryan?"

Saudaranya terkejut atas ucapan Robert.

"Don Bryan?"


_To Be Continued_