Careful
Title : Careful
Author : Shouda Shikaku^^
Genre : Supernatural, Romance, Mysteri, Fantasy, SongFic, AU
Length : 4rd Part (2K+ = 2484 Words)
Recommended Song : Paramore – Careful
Cast :
Park Chanyeol (EXO's Member) as Bryan Elison Park
Byun Baekhyun (EXO's Member) as Lawrence Valerian Byun
Nicholas Teo (Soloist) as Agen Nick
EXO's Member
Other Cast
Warning : Boys Love, Alur ngaco -_-, cerita pasaran, sekedar coretan yang terinspirasi dari lagu Paramore – Careful, nama member EXO Shika samarkan dengan nama barat dari Shika -_- (except : Kris and Tao)
Kris Wu : Wufan
Joshep Kim : Joonmyeon
Austin Do : Kyungsoo
James Kim : Jongin
Brandon Oh : Sehun
Edison Huang : Tao
Hayley Xi : Luhan
Justin Kim : Jongdae
Michael Kim : Minseok
Laurent Zhang : Yi Xing
NO FLAME! NO BASH! DLDR! NO COPYCAT!
"Can't be too careful anymore, When all that is waiting for you
W on't come any closer, You've got to reach out a little more"_ Paramore – Careful (Chorus)
Previous Chapter_
"Fire blaster!"
~DUARRR
Ledakkan besar pun terjadi. Disusul raungan dan rintihan penuh kesakitan dari sang lawan. Bryan, tersenyum sinis setelah berhasil memusnahkan mereka.
Dan irisnya langsung melotot tajam disaat ia mendapati suara menjengkelkan dari Robert, sang pengelana dari bangsa Vampire tengah menyandarkan tubuh rupawannya di pohon oak tak jauh dari tempat mereka berpijak.
"merindukanku Don Bryan?"
Saudaranya terkejut atas ucapan Robert.
"Don Bryan?"
4th Chapter Begin_
"Hahaha~ jadi, kau tidak mengingatku?" suara berat Robert menggema. Membuat Bryan mengepalkan tangannya.
"cih, tidak mudah bagiku untuk melupakan sosok penghianat sepertimu, Robert de Maure!" gerutu Bryan.
Seluruh anggota team tampak siaga. Mata mereka memicing tajam, dengan fikiran terfokus pada sosok pemuda dengan tubuh tegap, berbalut sebuah pakaian mewah khas bangsawan. Seringai licik yang terukir sempurna di wajah sang pemuda kian meningkatkan kewaspadaan Joshep dan yang lainnya.
"Kenapa kau memanggilku penghianat, Don Bryan?"
Robert bertanya dengan santainya. Tak mempedulikan aura kehitaman yang mulai menguar dari tubuh masing-masing rivalnya. Joshep yang berdiri di ujung sebelah utara hanya mampu menekan emosinya yang membuncah. Ayolah, meskipun kekuatannya mungkin terlihat sederhana, akan fatal akibatnya ketika emosi mulai menguasainya.
Begitu pula dengan Hayley dan Austin meskipun keduanya nampa sibuk menenangkan Valerian yang mulai gemetaran sejak kemuculan Robert dihadapan mereka. Keadaan yang sunyi senyap membuat gemerutuk gigi Bryan terdengar dengan nyaring.
"Karena kau yang menyebabkan Dracula bangkit!" geram Bryan.
Robert hanya terkekeh. Mata merahnya menatap nyalang kearah Valerian yang nampak tak berdaya. Seringai menyeramkan muncul begitu saja di wajah tampan sang vampire.
'Haha, akhirnya kau ditemukan Vale.. aku harus melapor kepada_'
~DEG
Robert membulatkan matanya tiba-tiba. Kepulan asap mulai mengengelilingi tubuh tegapnya, diringi dengan erangan pesakitan yang terdengar pilu.
Disana, Bryan nampak puas setelah berhasil melenyapkan sang vampire penghianat musnah.
"cih, dasar pecundang! Enyah kau!"
Semua menghela nafas.
.
.
Ketujuh pemuda – pemegang kekuatan yang telah mengalami banyak kejadian tak terduga – tersebut kembali melanjutkan perjalanan. Joshep terdiam. Ia benar-benar tak menyangka jika Bryan yang emosi teramat mengerikan. Nyaris saja pemuda tampan dengan simbol elemen burung phoenix tersebut membakar hutan tempat mereka tadi beradu argumen dengan sosok bernama Robert itu.
Di sebelahnya Bryan termenung. Tangannya tak pernah terhenti untuk mengelus lembut surai kehitaman sang kekasih yang terduduk dipangkuan Bryan sendiri.
Sesekali erangan kesakitan meluncur dari bibir tipis Valerian. Meskipun mata cantik berhias eyeliner tersebut terpejam, buliran bening terus meluncur perih. Menandakan jika Valerian tengah menahan luka dengan pilunya.
"Bryan~ bisa kau jelaskan bagaimana kau mendapat gelar Don?" Joshep angkat suara.
"Tidak sekarang, Josh.. Valerian butuh pertolongan..." ucap Bryan dingin.
Sungguh, tak ada keniatan mengabaikan sang tetua. Tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar cemas akan kondisi sang terkasih. Apalagi luka yang diderita Valerian bukanlah luka ringan. Joshep hanya bisa memaklumi keadaan saudaranya itu. Ia juga sangat mengharap jika mereka akan menemukan belahan jiwanya, sang pengendali kehidupan, Heal.
Keadaan mobil kembali didominasi keheningan. Ya, mereka baru saja mengambil kendaraan yang sudah disediakan Kris di sebuah penginapan kecil. Oh, jangan lupa mereka baru saja berjumpa dengan seorang agen yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada Kris, Nicholas.
Flashback On_
Joshep memerintahkan Hayley guna menghubungi Kris melalui telepati. Ayolah, dijalan sepi dengan hutan rimbun yang mengapit, apakah signal akan ada?
Mereka membutuhkan kendaraan segala medan segera. Minimal sebuah mini truck atau Hummer H2, mungkin?
Dan tidak butuh lama, Hayley memberi komando agar mereka harus segera menemui orang kepercayaan Kris, bernama Nicholas. Dan hal itu cukup membuat Valerian menganga ditempat.
"Jangan bilang kita harus bertemu orang Singapure itu.." gumam Valerian.
"kau pernah bertemu dengannya, dear?" Bryan menyahut, dengan sesekali mengangkat tubuh mungil Valerian dalam gendongannya.
"ya.. kalau tak salah 5 tahun yang lalu, di dekat sebuah kastil Transylvania.."
Joshep, James, Austin dan Brandon membulatkan mata mereka bersamaan mendengar pengakuan Valerian. Eheum.. cukup lama ternyata. Mereka saling pandang, sebelum akhirnya mereka kembali terkejut mendengar umpatan yang keluar begitu saja dari bibir tipis seorang Valerian.
"dan... bersabarlah ketika kalian menjumpai sikap angkuh keparat itu.."
"Vale, ucapanmu.." tegur Hayley.
Valerian tersenyum kecil. Disambut gelengan ringan dari sang kekasih. Sementara Joshep memfokuskan pandangannya pada sesuatu yang bergerak-gerak diantara pepohonan. Eh, pepohonan?
`trakkk~`
Derik senjata api membuat mereka waspada. Brandon bersiap dengan angin ditangannya, begitu pula dengan Austin yang sudah bersiap dengan benteng yang siap ia dirikan.
`kretekkk~`
Kim Brother memasang kuda-kuda dan pertahanan; James membuat perisai dengan black aura, dan Joshep dengan airnya.
Deg
Deg
Deg
Wushhhh~~~
Brandon memejamkan matanya perlahan, mulai memfokuskan panca inderanya. Hayley memusatkan fikirannya, ia berusaha mendeteksi apakah ada bahaya lain yang mengintai di kejauhan. Dan dalam hitungan detik..
"Wind Blaster!"
`slash`
Daun-daun berguguran, kemudian nampak sesosok pria dengan mantel kebanggaannya. Sepucuk revolver dengan gagahnya tergenggam sempurna di telapak tangannya. Seulas senyum bertanda rasa syukur terukir di wajah tegasnya.
Ia segera turun dari tempatnya berpijak – ranting besar sebuah pohon oak tua – dan membenahi surai kelamnya yang berantakan karena sikap spontan Brandon tadi.
"senang bertemu denganmu lagi, Vale.."
"hell, yeah~ aku merasa justru sebuah kemalangan disaat mataku memproyeksikan wajah dungumu, Agen Nick.." jawab Valerian sarkastik.
Keadaan yang semula tegang beralih penuh kecanggungan dan keheranan. Dalam fikiran rekan-rekannya terlintas satu pemikiran yang sama..
'jadi, ini Agen Nicholas?'
"Terima kasih.."
"Aku tidak sedang memujimu, brengsek!"
"Vale! Jaga bicaramu!" Hayley kembali menegur.
"kekeke~ No Problem, Hayley. Valerian memang masih kesal atas sikap lancangku beberapa tahun belakangan.." Nicholas terkekeh.
"Dasar sinting!" dengus Bryan menimpali.
"Aku anggap itu sebuah pujian Park"
"Terserah!"
"kekekeke~"
Joshep memijat pelipisnya frustasi.
.
.
"Jadi, Kris sudah memberitahumu?" Brandon angkat suara.
"Yeah, sekitar 2 jam lalu beliau menghubungiku. Mengatakan bahwa kalian sedang terdesak dan membutuhkan kendaraan segera." Nicholas tersenyum kecil.
"Lalu, kau akan membawa kami kemana?" tanya Brandon waspada.
"Jangan curiga begitu, Prince Oh. Seharusnya kalian bersyukur bertemu denganku dalam kurun waktu yang relatif singkat. Aku mendapat laporan dari beberapa warga di perbatasan Rumania dan Hungaria, bahwa banyak remaja putri yang menghilang begitu saja.."
"So?"
"Entahlah. Ini hanya sekedar hasil pemikiranku.. aku merasa mungkin saja Don Louis de Puerzo dalang dibalik semua ini. kau tentu tahu siapa dia, bukan?"
`krek`
Buku-buku jemari Brandon memutih. Wajah datarnya berubah memerah, menyiratkan seluruh emosi yang perlahan menjalar. Jantungnya berdetak tiga kali lipat dengan rongga dada yang entah mengapa terasa sempit dan sesak, otaknya terasa mendidih, dengan suhu tubuh yang meningkat. Gerahamnya beradu, memancing bunyi gemeletuk yang membuat 'para kakaknya' mengernyit heran.
"Tentu aku tahu, kerdil pemuja setan yang satu itu takkan kubiarkan tertawa bebas kali ini."
"Heuum.. saranku, Pangeran.. jaga emosimu. Bukankah kau sendiri juga tahu justru emosi dan dendam akan memperkuatnya?"
"aku tahu, dan kali ini takkan kubiarkan ia menang dalam medan laga." Brandon berkata dengan nada tajam.
Nicholas mengangkat bahu. Ia segera mengambil beberapa kunci mobil yang tersimpan rapi di saku mantelnya. Tak lupa, ia jug amenyertakan sebuah peta dan buku catatan kecil.
"Ini, terimalah. Tuan Kris sudah menyiapkan 4 kendaraan di sebuah markas diujung jalan. Disana ada Layla dan Katherin yang menjaga. Jangan khawatir, mereka sama sepertiku. Dan mereka adalah warga pribumi yang sudah menjalani pelatihan selama 14 tahun –"
"Kenapa kami harus khawatir?" sela James bingung.
"Asal kau tahu, James.. beberapa wanita yang beraktifitas disana sangat mencurigai orang asing padahal mereka menyembunyikan kenyataan bahwa mereka adalah Moroi tanpa orang lain sadari."
"APA?"
"Percayalah, bahkan Valerian sudah memusnahkan sebagian besar dari mereka karena mereka lah yang selalu menghubungi Dracula jika mereka bertemu dengan Valerian. Singkatnya, mereka adalah radar nyata milik seorang Count Dracula"
"Oh, terima kasih, pecundang."
Nicholas kembali tertawa.
Joshep masih terdiam. Ia terus memperhtaikan peta dan catatan ditangannya. Pikirannya berkecamuk, apakah ini merupakan penunjuk agar mereka bertemu dengan saudara mereka yang lainnya dikemudian? Atau ada sesuatu yang lainnya?
"ada yang mengganjal, Josh?" suara lembut Austin terdengar, mengalihkan perhatian yang lainnya.
"eumm.. kufikir begitu. Apa ada penjelasan tentang catatan ini, Nick?"
"Ya, itu adalah catatan tentang kemungkinan sebab dan akibat Dracula bangkit, kapan dan dimana Dracula muncul, dan daftar lain orang-orang yang berpotensi menghancurkan kalian. Dan satu lagi, berhati-hatilah pada Antonio."
Deg
"Antonio? Antonio Conner?" Bryan bertanya penuh curiga.
"Ya, dia. Antonio Conner De Alfonso, atau yang lebih familiar dikalangan moroi dengan nama La Huedo Lambergo. Juru kunci kebangkitan Count Dracula dan juga clan Death Shadow."
Deg
"Aku sudah menduga jika si Idiot itu bukanlah orang yang memiliki itikad baik. Brengsek!" Brandon menendang tumpukan kayu dihadapannya.
"ah, tahu begitu sejak awal sudah kehancurkan kepala si Dungu itu!" kini James sudah menguarkan aura menyeramkan.
"sudahlah. Aku jug sudah melaporkan hal ini pada Tuan Kris. Beliau berpesan, tuntaskan dahulu masalah yang menghalangi kalian diperjalanan. Dan, ketika Layla maupun Katherin menyerahkan sesuatu. Jaga baik-baik."
"ada lagi, Nick?"
"sebelum kalian melanjutkan pencarian Heal, temukan dahulu Frost, Michael Kim. Karena hanya dia yang bisa membunuh luapan amarah pimpinan Death Shadow."
Semuanya mengangguk mengerti. Kemudian, mereka mulai melanjutkan perjalanan dengan kendaraan yang memang sudah dipersiapkan khusus untuk mereka. Nicholas hanya mampu berdoa, berharap pada Sang Kuasa agar pertempuran ini segera berakhir.
'Semoga Dracula bisa dimusnahkan'
Flashback End_
Austin lah yang kini memimpin kelompok itu, menembus keheningan malam dengan deru mesin yang bersahut-sahutan. Joshep yang satu kendaraan dengan Bryan-Valerian, menyusul dibelakangnya ada pasangan Hayley dan Brandon dan terakhir ada James. Dan jika diperhatikan lagi, baik Austin dan James bersiap dengan perisai masing-masing.
Mereka tetap berkomunikas – mengandalkan telepati tentu saja – dengan Hayley sebagai pusat informasi. Brandon terus memantau keadaan sekitarnya dengan bantuan elemen miliknya, angin.
Joshep baru saja mengakhiri telepatinya dengan Kris. Dan ia baru saja mendapat konfirmasi perihal Antonio sang penghianat, juga tingkah menyebalkan Don Louis de Puerzo, sang pemimpin sekte.
Bryan menajamkan pendengarannya. Ia seperti menangkap desisan dan erangan penuh amarah disekelilingnya. Ia segera membuat kode untuk Austin, dengan mengirimkan signal panas yang memang dipahami dengan baik oleh pemuda pengendali tanah tersebut.
Dengan perlahan, Austin mengurangi kecepatan laju kendaraannya. Begitu pula yang lain. Tangannya terkepal, dengan jemari lentiknya yang tergerak perlahan.
"stone attack.." bisiknya
`blarr`
"ARGHHHHH!"
Dengan segera pemuda-pemuda itu menghentikan mobil yang mereka kendarai. Seulas senyum puas tercetak di bibir Bryan. Mereka langsung keluar dan mendekati sumber ledakan. Dan seketika mata mereka membulat ketika mereka mendapati berbagai macam mayat yang tergeletak disekitar lokasi.
"AWAS!"
Suara Hayley menyerukan perintah untuk waspada. Tak jauh dari posisi mereka, sekelompok Goul tengah mengintai.
Gesekan dedaunan kian menambahkan kesan mengerikan di tengah malam. Bintang yang tadinya terlihat bertaburan, perlahan tak tampak. Sinar bulan pun mulai redup, seiring dengan berkumpulnya awan-awan hitam.
"jadi?"
Joshep memberi tanda agar mereka segera mempersiapkan kuda-kuda. Dengan Valerian yang menjadi pusat dari kuda-kuda mereka.
`sleb`
Valerian membulatkan matanya, disaat yang lain tengah berkonsentrasi, ternyata ada kelompok Stigroi dan Goul yang memiliki tingkatan tertinggi yang muncul begitu saja. Tanpa komando, ia segera mengarahkan telapak tangannya kearah atas, tak mempedulikan luka dalamnya yang mungkin akan semakin parah, ia hanya ingin segera menyingkirkan mereka yang sepertinya memang berniat mengulur waktu Valerian dan saudara-saudaranya.
Ia segera merapalkan sebuah kalimat, yang menyebabkan energinya bertambah secara instan, tentu karena ia memanfaatkan energi saudaranya – tanpa sepengetahuan empunya tentu saja –
Austin mengernyit. Entah mengapa ia merasa ia harus meraih tangan James, dan Joshep yang mengapit dirinya. Perasaan itu juga dirasakan oleh Hayley, Joshep, dan Brandon, juga Bryan.
Tunggu, jangan bilang Valerian...
"LIGHT ATTACK!"
Auman, geraman, pekikan dan rintihan kesakitan terdengar merobek keheningan malam. Sosok Goul itu perlahan menghilang karena terkena pancaran cahaya yang Valerian tembakan. Berbeda dengan para pemegang kekuatan, mereka justru merasa damai, dan merasa tubuh mereka lebih segar dari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, mereka bersyukur. Sosok itu lenyaap. Dengan segera mereka mulai melanjutkan perjalanan.
`brugh`
Nafas Valerian terdengar tak beraturan. Keringat dingin mulai mengucur melaui pelipisnya.
"Vale, ada apa?" suara Bryan menyiratkan kekhawatiran.
"...eunghhhh.."
Bryan mengeratkan pelukannya. Berharap rasa sakit yang diderita sang kekasih perlahan berkurang.
"Bryan~ ssakitttt..."
"Bersabarlah, sayang... kita akan menemukan Heal..."
Joshep disampingnya membeku. Ia tahu, teramat tahu. Inilah konsekuensi jika Valerian memaksakan kondisinya. Ia juga sangat berharap agar segera bertemu dengan soulmate-nya. Dan ia langsung menghela nafas disaat ucapan Nicholas kembali terngiang.
"sebelum kalian melanjutkan pencarian Heal, temukan dahulu Frost, Michael Kim. Karena hanya dia yang bisa membunuh luapan amarah pimpinan Death Shadow."
Ya, mereka harus menemukan Frost terlebih dahulu, selain sebagai 'pembeku' amarah Death Shadow, tentunya Frost tahu keberadaan Heal.
.
.
Kini, mereka telah sampai diperbatasan antara Rumania dan Hungaria. Jarum jam menunjuk ke angka 05.30 P.M.
Ya, setelah semalaman mereka melanjutkan perjalanan – kemudian berhenti setengah hari karena mereka mengkhawatirkan kondisi Valerian – mereka bersiap melaksanakan misi yang tertera di buku catatan Nicholas.
| TASK 1 : DESTROY DEATH SHADOW's CLAN |
Disana tertera berbagai macam data, informasi, sejarah dan cara memusnahkan clan tersebut.
Dan disaat mereka tengah serius menyusun strategi, serangan bertubi-tubi menghujani mereka.
Gempuran demi gempuran terus mendesak dari berbagai penjuru.
Bryan memberi komando, agar mereka segera menghindari kawasan pemukiman. Tepat disaat Bryan memasukan persneling dan rem tangan, sesosok manusia srigala menerjang mobil yang dikendarainya, menyebabkan ledakan yang cukup besar, hingga tubuh ringkih Valerian terhempas.
Ia melotot, dengan kumparan emosi yang mulai menguasainya. Hayley dan James dengan sigap menyelamatkan Valerian dan mengamankan pemuda dengan elemen cahaya itu.
Sayup-sayup terdengar pekikan dengan bahasa Hungaria, yang mengakibatkan serangan itu kian membabi buta.
"brengsek! Kau melukai kekasihku!"
Bryan melemparkan mantel yang tadinya melekat di tubuh tegapnya. Matanya memerah, dengan deru nafas yang bertubrukan. Dalam hitungan detik, beberapa fasilitas kota sudah hancur luuh lantak. Bryan terus menyerang tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Bahkan Brandon yang berdiri tak jauh darinya ikut terkena imbasnya.
Rentangan sayap api mucul begitu saja dari punggung Bryan. Ya, pemuda gagah itu tidak mengontrolnya sama sekali.
`ssssshhhhhhh`
Pertempuran sengit antara Bryan dengan Death Shadow terhenti. Nampak mata Bryan memerah karena amarah yang menguasainya. Hayley yang mengawasi tindak tanduknya dari kejauhan mulai menundukan kepala. Sementara itu, Valerian hanya mampu menangis karena merasa gagal untuk mengontrol emosi sang kekasih.
Namun, semuanya terdiam membisu tatkala siluet seseorang berdiri dengan gagahnya di puncak tebing yang menjulang. Tangan pemuda itu menjulur kedepan, dengan beberapa prajurit dan panglima Death Shadow membeku – dalam artian yang sebenarnya, berubah menjadi es –
Pemuda itu menghampiri Joshep dan kelompoknya. Senyum ramah terukir di wajah manisnya. Membuat orang-orang disekitarnya ikut ramah dan ceria.
"Hi, guys! Are you fine?"
"of course."
"Nice to meet you all^^"
"Michael!"
Dan kini, kelompok mereka mendapat anggta baru, Frost; Michael Kim.
_To Be Continued_
A/N :
Aku berhasil merampungkan satu chapter tambahan! Dan rasanya sungguh luar biasa /lebay/ Chapter ini aku selesaikan dalam kurun waktu 6 jam setelah bolak-balik browsing tentang urban legend lain di Rumania yang mungkin bisa aku sisipkan.
Sungguh, otakku rasanya hampir mendidih memikirkan alur juga setting yang pas. Dan untuk readers di FFn yang meminta chapter dengan kata sebanyak 5k+... mohon maaf sebelumnya T3T
Aku sudah mencoba sekeras mungkin dan jatuhnya aku hanya ternganga di depan layar laptop /plak/
Review, please ^3^ /agyeo bareng Song Yi/
Balasan Review :
Guest (6104) :
huwaaa~ maaf yah, akhir-akhir ini aku sibuk, jadi aku baru bisa update full version-nya sekarang T3T.. but, thank atas review-nya~^^
Guest (7464) :
Bang Toyib dong ._. /ditampar/ iya.. Michael dulu yang muncul.. heal nanti kalau Joshep galaunya sudah tingkat kabupaten :'v /diterjang tsunami amarah Joshep/ thanks review-nyaaa~^^
SHINeexo :
Thanks atas review-nya~^^ iya Michael dulu yang menetas(?)
Zhee614 :
Iya, aku baru bisa buat prolog-nya -_- /dijitak/
Sekarang versi full-nya :D mohon mangap(?) jika seandainya alurnya terlalu cepat, yaa? Ini juga aku ngetik nyuri-nyuri(?) waktu dulu ;_; Thanks atas review-nyaaa~^^
sarymaryani48 :
iya, prologue dulu daripada ndak update sama sekali, kan? :'v /dzigh/
thanks for review^^
