Careful
Title : Careful
Author : Shouda Shikaku^^
Genre : Supernatural, Romance, Mysteri, Fantasy, SongFic, AU
Length : 4rd Part (K+ = Words)
Recommended Song : Paramore – Careful
Cast :
Park Chanyeol (EXO's Member) as Bryan Elison Park
Byun Baekhyun (EXO's Member) as Lawrence Valerian Byun
Nicholas Teo (Soloist) as Agen Nick
EXO's Member
Other Cast
Warning : Boys Love, Alur ngaco -_-, cerita pasaran, sekedar coretan yang terinspirasi dari lagu Paramore – Careful, nama member EXO Aku samarkan dengan nama barat dari Aku sendiri -_- (except : Kris and Tao)
Kris Wu : Wufan
Joshep Kim : Joonmyeon
Austin Do : Kyungsoo
James Kim : Jongin
Brandon Oh : Sehun
Edison Huang : Tao
Hayley Xi : Luhan
Justin Kim : Jongdae
Michael Kim : Minseok
Laurent Zhang : Yi Xing
NO FLAME! NO BASH! DLDR! NO COPYCAT!
"Can't be too careful anymore, When all that is waiting for you
W on't come any closer, You've got to reach out a little more"_ Paramore – Careful (Chorus)
Previous Chapter_
Pertempuran sengit antara Bryan dengan Death Shadow terhenti. Nampak mata Bryan memerah karena amarah yang menguasainya. Hayley yang mengawasi tindak tanduknya dari kejauhan mulai menundukan kepala. Sementara itu, Valerian hanya mampu menangis karena merasa gagal untuk mengontrol emosi sang kekasih.
Namun, semuanya terdiam membisu tatkala siluet seseorang berdiri dengan gagahnya di puncak tebing yang menjulang. Tangan pemuda itu menjulur kedepan, dengan beberapa prajurit dan panglima Death Shadow membeku – dalam artian yang sebenarnya, berubah menjadi es –
Pemuda itu menghampiri Joshep dan kelompoknya. Senyum ramah terukir di wajah manisnya. Membuat orang-orang disekitarnya ikut ramah dan ceria.
"Hi, guys! Are you fine?"
"of course."
"Nice to meet you all^^"
"Michael!"
Dan kini, kelompok mereka mendapat anggta baru, Frost; Michael Kim.
Chapter 5 Begin_
[Lupin, Special Chapter]
Michael mengucapkan berjuta rasa syukur, karena berhasil bertemu dengan saudara-saudaranya dalam waktu yang relatif singkat. Jujur, ia sendiri sudah tak tahan untuk menghentikan kekacauan yang sedang terjadi.
Bryan tersenyum kecil. Ia merasa kian semangat meskipun tenaganya benar-benar terkuras habis. Satu per satu saudaranya mulai berdatangan, dan besar kemungkinan untuk Valerian sembuh. Ya, satu hal penting, mereka harus segera menemukan Heal yang hingga saat ini keberadaannya sulit diprediksi.
"Bryan, sebenarnya aku bingung dengan tingkatan dan jenis vampire." Gumam James memecah kesunyian.
"Ya Tuhan, James. Kemana saja kau selama ini?" Joshep memutar bola matanya malas.
"Josh, aku bahkan tak punya waktu untuk sekedar menghafal apa jenis mereka." Balas James dengan nada sarkastik.
Bryan hanya mengulum senyum kecil mendapati saudara tertuanya yang kini bahkan mulai mengomel kepada termuda kedua setelah Brandon tersebut. Entahlah, rasanya ia enggan untuk menjawab pertanyaan James yang bisa dikatakan sepele. Mata bulat kelamnya justru lebih terfokus pada soulmate-nya yang kini asyik bercengkerama dengan Austin. Tak jauh dari mereka hanya berjarak sekitar 3 langkah, sosok Michael dan Hayley sibuk dengan beberapa berkas yang memang Nicholas bekalkan kepada mereka.
"Michael, kau tahu dimana keberadaan Heal?" tanya Hayley.
"Eum, lokasi tepatnya aku belum tahu. Karena, disaat aku berusaha mempertajam kontak batinku, pasti ada sesuatu yang menghalanginya. Aku sendiri merasa kurang yakin bahwa aku sebenarnya tahu apa yang menghalangiku." Michael terus menebar senyum, dengan mata orientalnya yang tak pernah berhenti menatap penuh kasih sosok Valerian yang tengah bersandar di punggung Brandon.
"Memangnya apa yang mengganjal? Mungkin aku bisa membantu?" Hayley berusaha membujuk sang tertua – ternyata memang Michael tertua, ngomong-ngomong –
"Ah, aku baru ingat jika kau adalah Brain controller, Hayley. Tentu saja mungkin aku bisa membagi pikiranku denganmu." Michael berbinar.
Hayley tersenyum kecil. Ia segera menyamankan posisinya sebelum bersiap untuk berkonsentrasi, memulai aktifitasnya melacak apa yang menganggu kontak batin Michael selama ini.
Jadi, saat ini mereka tengah mengistirahatkan tubuh lelah masing-masing disebuah villa tersembunyi. Dan mengenai mobil yang dikendarai Joshep yang meledak, ternyata sudah ada penggantinya. Michael mempunyai Hummer H2 dengan warna black metalik dan juga silver. Fine, lupakan tentang mobil.
Michael memejamkan mata, begitu pula dengan Hayley. Tangan keduanya bertautan. Hal tersebut ternyata mengundang perhatian anggota lain.
Brandon merengkuh dadanya, dengan netra tajamnya yang ikut memejam. Bryan yang sedang berdiskusi dengan Joshep dan James mengernyit. Mereka kian heran setelah mendengar bisikan Brandon.
"Deschide-ți mintea.
Și de a organiza și integra-le cu frații tăi doresc să vadă existența patron super putere.
Elimina ura pe care te inconjoara .. Distruge descurajarea criminalității*"
Deg
Deg
Deg
Erangan kecil perlahan terdengar. Valerian yang tadinya nampak asyik memejamkan mata langsung mengerjap. Dengan segera, Bryan mengambil alih tubuh mungil Valerian dan merengkuhnya.
Dan tanpa diduga sebelumnya, kini kontak batin mereka terhubung satu sama lain. Dan dari masing-masig terproyeksikan sebuah peristiwa paling kelam dalam hidup mereka. Dimulai dari Joshep.
[Joshep & James minds]
Flashback
Sesosok anak kecil sibuk bermain dengan ranting kering yang tadinya tergeletak di sebelah kursi goyang yang biasa diduduki oleh Sang Kakek. Mata sipitnya mengerjap kecil setelah tak sengaja menangkap refleksi sosok lain di seberang pekarangan mansionnya yang memang teramat luas.
"What is that?" gumamnya.
Ia yang memang dikuasai rasa penasaran mendekati 'sesuatu' yang menarik perhatiannya. Bahkan ia menghiraukan panggilan dari saudaranya yang memang berusia 3 tahun lebih tua darinya yang kini mulai menurunkan beberapa buku yang tadi memenuhi tangannya.
Tak jauh darinya, Sang Kakek mengernyit. Beliau dengan tergesa segera meletakkan sebuah boks besar yang sedari tadi direngkuhnya.
"Grandpa, James..." remaja berusia 8 tahun – Joshep – menunjuk kearah adiknya yang terus saja terfokus pada sesuatu di hutan.
"What? Wait a minute, Josh.. call your father.."
"..." Joshep mengerjap.
"Right now!"
Joshep mengangguk. Dengan cekatan ia melangkahkan kaki mungilnya untuk memenuhi perintah yang tadi diucapkan orang yang sangat ia sayangi sekaligus ia hormati, tentu saja sang Kakek, Jordan Kim.
"Dad, Daddy!"
Elison – Ayah dari Kim brother – meringis di ruang kerjanya. Ia mendadak mencengkram kemeja yang membungkus tubuh tegapnya, tepat dibagian dada. Dengan segera ia membenahi buku-buku yang berserakan. Ia tiba-tiba merasa panik disaat indera pendengarannya menangkap suara nyaring sang anak di ruang keluarga.
"What happend, Son?"
"Dad... James in danger, now!" suara Joshep terputus-putus.
"WHAT? Where is grandpa?"
"He looking for James.."
"Wait, ah.. Daddy have to go now..."
Joshep hanya menggeleng bingung. Sementara matanya entah sejak kapan terus mengeluarkan buliran bening. Jujur, ia merasa takut. Takut jika keluarganya yang selama ini hidup tentram mulai terusik.
Hey, ia bukanlah anak kecil yang mudah dibohongi!
Cukup 2 tahun lalu ia terus dihantui kebenaran yang ditutup-tutupi oleh Ayah dan Kakeknya masalah kepergian ibunya yang mungkin tak akan pernah kembali. Ya. Ibunya... Juliane Kim.. wafat karena serangan Ghoul di kediaman lama mereka, di Manhattan.
Lamunan Joshep terpecah disaat terdengar olehnya letusan senjata api diikuti lengkingan suara yang benar-benar memekakkan telinga – bahkan kini kaca jendela mansion yang keluarga Kim tempati bergetar dengan hebat – menginterupsinya. Tanpa basa-basi, Anak sulung dari Pasangan Elison dan Juliane itu bergegas membongkar sebuah kotak yang tersimpan rapi di ruang keluarga.
Dengan penuh tekat, jemari kecilnya dengan terampil merangkai beberapa komponen tersebut hingga akhirnya terbentuk sebuah senjata. Ia yakin, jika Ayah dan Kakeknya pasti membutuhkan bantuannya sekarang. Tak peduli jika ia hanyalah anak ingusan yang bahkan tidak merasakan kasih sayang Sang Ibu dengan penuh.
`Tap`
`Tap`
`Tap`
Ia berlarian menyusuri ruangan per ruangan, hingga langkah kakinya berhenti tepat setelah ia menapak di atas rerumputan. Pandangannya berlahan kosong, dengan rahang yang mengeras.
Darah berceceran. Dan nampak serpihan daging busuk yang menyengat bertebaran. Oh, lihatlah lendir-lendir menjijikan itu!
Disana, di perbatasan halaman belakang Mansion Kim dengan Hutan, Ayahnya tengah berjuang sekuat tenaga dengan luka-luka yang terus mengucurkan darah. Sementara tubuh ringkih adiknya terbaring tak sadarkan diri tak jauh dari ayahnya yang terus meletuskan senjata api.
Dan yang membuatnya meringis sendu, nampak jenazah Kakeknya yang sudah tak terbentuk sama sekali dalam cengkeraman Ghoul.
"ARGHHHH!" Ia memekik keras penuh amarah.
Perlahan, tanpa diduga siapapun langit yang menggelap mulai menurunkan air laranya, seakan ikut merasakan kepedihan Si Sulung Kim.
"WATER ATTACKKKKKKK!"
`BLARR`
Raungan dan erangan kesakitan bersahutan. Ghoul-ghoul itu meleleh, seiring dengan luka-luka ditubuh Ayah Josh menghilang. Beliau mematung, dan menatap takjub anak sulungnya. Dengan segera diraihya tubuh James, dan beliau langsung berlari ke arah Joshep yang membeku ditempatnya.
"My Son..."
`Grep`
Semua menggelap...
Samar-samar terdengar bisikan merdu seseorang di telinganya..
"I will heal your pain, dear..."
Flashback End
`DEG`
Kim bersaudara – Joshep dan James – dengan serentak merengkuh dada masing-masing. Membuat Valerian dan Bryan mengernyit heran. Oh, apakah ada sesuatu yang benar-benar menyakitkan? Tentang kenangan mereka?
Dan kini tiba-tiba saja Joshep menyunggingkan senyum teduhnya. Seakan ia baru saja menemukan kepingan puzzle hatinya, belahan jiwanya yang menghilang. Eh, tunggu...
"Apa dia baru saja mengingat sesuatu?" tanya Bryan pada Valerian.
"Entahlah, Bryan. Reaksinya sama seperti dulu disaat kita bertemu. Mungkin semacam clue tentang keberadaan soulmate-nya?"
"..."
Bryan mengedikkan bahunya. Dan ia langsung menajamkan pendengarannya disaat ia tanpa sengaja menangkap pergerakan bibir James..
"Go get your shovel.And we'll dig a deep hole. To bury the castle, bury the castle" – James terus mengucapkannya berulang.
"What?" respon Michael yang tiba-tiba konsentrasinya pecah.
"Apa maksudnya 'Ambil sekop, membuat lubang yang dalam, dan mengubur kastil'?" Austin menggaruk kepalanya perlahan.
"Tunggu, bukankah itu perkataan saat pertama kali bertemu denganku di Bucharest 5 tahun lalu?" gumam Valerian.
"Apa? Jangan bilang kalau sebenarnya Nicholas tahu dimana keberadaan Heal!"
Seruan Hayley membuat Kim Brothers tersadar. Mereka mengerjap disusul erangan dan keluhan perihal kepala mereka yang pusing dan sebagainya. Sementara Brandon terus menggeleng.
'Bahkan pencarian dengan metode ini baru permulaan' keluh pemuda berdarah bangsawan itu dalam hati.
Bryan mendengus kesal. Padahal ia masih kesal pada agen yang sangat patuh pada Kris itu. Entahlah, ia masih mengingat kegiatan tempo hari yang menyebabkan Valerian terluka makin parah. Heuh, sebenarnya sebelum betempur dengan Dark Shadow, Valerian kian memburuk. Apalagi disaat Nicholas terus memicu emosi kekasihnya.
Joshep hanya mengehela nafas. Ia mencelos. Apalagi ketika memori buruk tentang kematian Sang Kakek kembali terungkit. Huh, ia benar-benar menyesal. Coba saat itu ia langsung mengamankan Sang Adik. Coba saat itu ia tak meng-iyakan permintaan James yang memang sedang sakit untuk bermain di pekarangan.
"Josh.."
Seruan lembut dari Michael membuat pemuda dengan julukan Guardian Angel itu tersenyum. Sorot mata dari sang tertua yang penuh dengan simpati dan perasaan iba membuatnya merasa nyaman. Beginikah rasanya ketika kau mendapat perhatian dari kakak tertuamu? – batinnya senang.
"Ada apa?"
"Kau memikirkan sesuatu?"
"Tidak. Ah, Aku harus segera menghubungi Nicholas, sebelum agen keparat itu macam-macam.."
Saudara-saudaranya hanya menggeleng maklum. Joshep tersenyum – kembali – sebelum akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan dimana anggota lain mulai merelaksasikan tubuh masing-masing. Mereka juga kembali memejamkan mata, mengabaikan mulut Hayley dan Austin yang kembali berceloteh.
Joshep mulai meng-input nomor yang memang sudah ia hafal di luar kepala. Entahlah, ia ingin memastikan sesuatu.
"..."
Tut
Ah, sambungan terhubung.
"Ada apa, Josh? Apa kalian sudah bertemu Michael?" suara Nicholas terdengar parau.
"Ya, kami bahkan sedang beristirahat di villanya. Ada apa dengan suaramu?" Josh bertanya dengan nada prihatin.
"Oh, aku baru saja adu argumen dengan warga lokal. Kau tahu, mereka menyebalkan! Kekekeke.."
"Oh, Aku ingin menanyakan sesuatu.."
"Apa yang ingin kau tanyakan? Sepertinya serius."
"Eug... Sebenarnya kau tahu dimana keberadaan Heal, bukan?"
"Ah.. Tapi aku tak tahu tepatnya. Bukankah sudah ku katakan untuk menghubungi Layla dan Katherin di perbatasan nanti? Mereka lah yang tahu dengan tepat dimana keberadaan Laurent."
"Apa? Laurent?"
"Ya, Laurent Zhang. Itu adalah nama asli Heal"
`Krasak`
"Apa itu?"
"Entahlah.."
Pip.
Mendadak sambungan keduanya terputus. Joshep nampak heran. Ia menyiritkan matanya tepat setalah dua bayangan hitam melintas di atas pepohonan. Dua bayangan hitam? Eung.. sebenarnya ia sendiri agak ragu.
Dari dalam terdengar gesekan sol sepatu yang beradu dengan marmer. Tak perlu menungu waktu lama muncul sosok tegap Brandon dengan wajah datar khas miliknya. Seulas senyum tipis terukir di wajah rupawannya.
"Kenapa wajahmu tegang begitu, Josh?"
Brandon menyandarkan tubuhnya di pintu kayu yang terbuka lebar. Tak lupa tangannya bersedekap di depan dada justru menambah kesan tampan nan angkuh yang memang sudah melekat sejak dirinya lahir.
"Sst!" Joshep menempelkan jari telunjukanya tepat di depann bibirnya.
"Huh?" Ia bingung dengan reaksi 'Kakak' kesayangannya itu.
Terlihat Joshep terus memperhatikan rimbunan pepohonan dengan radius 5 m dari tempatnya. Hewan malam yang tadinya mengeluarkan suara bersahut-sahutan kini menghentikan aktifitasnya. Tentu saja menambah kesan horror yang mampu membuat bulu roma meremang dengan indahya.
Brandon yang penasaran ikut memperhatikan objek yang sedari tadi menyita perhatian Joshep. Mata tajamnya kan menyipit. Dan ia langsung membelalakkan mata tercengang setelah tanpa sengaja angin malam yang berhembus, memainkan helaian surai panjang dua sosok itu.
"Apa?" seruan kecil Brandon menarik perhatian anggota lain.
Satu persatu dari kakak-nya berhamburan keluar dan ikut memfokuskan perhatian mereka ke objek yang sama. Pohon.
"Tak ada apa-apa.." gerutu Michael. "Ayo masuk!"
Joshep dan Brandon masih bergeming. Mereka enggan mengikuti ajakan – lebih tepatnya – perintah Michael. Hayley yang mengetahui kekasihnya sedang tidak fokus menepuk pelan pundak Sang Pangeran.
"Ada apa?" tanya Hayley lembut.
"Kalian tak akan percaya ini.." justru Joshep yang bersuara.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Brandon?" kali ini Valerian yang angkat bicara.
"A-ada dua wanita yang tadi berdiri di atas pohon." Brandon menatap Hayyley kosong.
Austin, James, Bryan saling memandang. Apa-apaan leader dan Si Bungsu? Apakah mereka baru saja mengigau? Dan kini ketiganya hanya mendengus pasrah.
"Apa kau melantur?" Michael bertanya.
"Tidak. Mereka benar-benar wanita. Coba cium aroma citrus yang bercampur dengan geranium ini.. khas wanita bukan?" Brandon bermaksud memberi bukti.
Hayley mengernyit. Dan kemudian ia mengangguk, menyetujui fakta yang tadi Brandon beberkan. Heum, Citrus dan geranium. Sepertinya ia merasa tak asing dengan aroma ini. Tapi entahlah, ia sendiri kurang yakin.
"Mereka, mengenakan pakaian hitam. Dan yang membuatku tertarik.." Suara Joshep nampak tercekat.
"Apa?"
"Top Hat yang mereka kenakan. Dan juga boot tinggi.."
"Top Hat? Boot? Jangan bercanda, Josh!"
"Aku serius.."
Keadaan di dominasi keheningan. Masing-masing masih mencerna dua fakta yang baru saja Josh ungkapkan. Menit terus berlalu, dan semuanya masih larut dengan pemikiran mereka. Hingga akhirnya, suara lemah nan serak milik Valerian membuat mereka terkejut.
"Mereka adalah Lupin"
"APA?"
"Ya, mereka adalah Lupin, sang penjaga Kotak Pandora"
_To Be Continue_
Preview Next Chapter :
"Perkenalkan, aku Margaret Pelham, dan akulah yang selama ini mengawasi gerak gerik kalian bersama adikku, Chloe Watson."
"Senang berkenalan denganmu, Margaret."
Gadis dengan mata bulat mempesona itu mengangguk. Ia memainkan sebuah lempeng besi yang tergenggam sempurna oleh jemari lentiknya yang terbalut sarung tangan hitam.
Disebelahnya, Chloe menyunggingkan senyum manisnya. Sebelum akhirnya ia memainkan jemarinya dengan lincah
`SPLASH`
Muncul sebuah buku dari aksinya.
"Dengan buku itu, kalian akan menemukan dimana keberadaan Laurent Zhang dan Justin Kim, sang pengendali petir.."
Kali ini suara lembut seseorang membuat perhatian pemuda-pemuda yang masih takjub dengan aksi Chloe. Muncul sosok gadis lain dengan rambut cokelat kemerahan dan Top Hat di tangan kirinya.
"Caroline!" Valerian berseru tak percaya.
"Lama tak jumpa adikku, Vale.."
*Bukalah pikiran kalian. Dan susunlah serta satukan tunjukan keberadaan saudara kalian dengan pelindung super power. Hilangkan kebencian yang melingkupi kalian..
Musnahkan kejahatan yang menghalangi
[A/N]
Hahahaha.. akhirya aku bisa lanjut FF ini. Bagaimana? Makin hancur, ya?
Untuk yang meminta penjelasan tentang Moroi, dsb.. belum bisa aku penuhi. Mungkin akan aku masukan kedalam alur secara perlahan. Begitu pula peristiwa kelam yang terjadi pada kehidupan mereka.
Disini aku akan membahas Ghoul yang muncul. Ghoul itu makhluk mitologi dari Arab yang konon termasuk dari golongan Jin dan suka memakan mayat.
Untuk Lupin dan Pandora akan aku jelaskan di chapter depan. Dan itu terinspirasi dari kakak-kakak KARA yang makin awesome /peluk Kak Hara & Youngji/ *o*
Wanna review?
.
.
.
Lala Tampan(?)
