..

..

Seluruh warga SMA Deimon tahu bahwa Mamori Anezaki adalah satu-satunya orang yang terang-terangan menentang Youichi Hiruma.

Tidak perlu mencari bukti kesana-kemari, apalagi sampai menanyakan cenayang untuk mencari tahu kebenaran kalimat tersebut. Kenapa? Karena murid SMA Deimon (tidak peduli yang masuk golongan culun, gaul, selalu baper atau tidak eksis sama sekali) pasti pernah (sedikitnya sekali dalam sehari) mendengar koor familiar yang menghiasi lorong, tangga, ruangan kelas, atap, lapangan, gerbang, bahkan ruang guru! Err ... koor macam apakah itu?

.

.


"Hiruma Youichi-san!"

Yap, yang seperti itu. Lalu crescendo*."Hi-ru-ma-san!"

Kemudian klimaksnya. "HI-RU-MA-SAN!"

Yang dibalas oleh yang bersangkutan dengan kalimat yang seakan sudah menjadi nada pasti dalam pertengkaran kecil mereka, "Apa Cewek Cerewet? Menyuruhku detensi lagi? Ogah!"


..

.

.

.

Ya, itu adalah sebuah koor yang nyaris selalu terdengar ketika anggota komite siswa paling berani dalam sejarah sekolah (maupun negara) Jepang bertemu dengan public enemy nomor satu Jepang.

Terkadang pertemuan mereka dihiasi adu pelototan sepihak (hanya Mamori saja, Hiruma enggan melakukan hal konyol seperti itu), seringai Hiruma (yang senang melihat lawan bicaranya kesal), juga dengusan bosan keduanya ketika mendapati diri mereka ada pada suatu scene yang seakan sudah sering diulang.

Tetapi keduanya tetap saja terjebak—atau menjebakkan diri?—dalam situasi itu. Situasi di mana kedua pasang mata berbeda warna itu saling menatap dengan benci.

Hingga suatu hari, Tuhan menyatukan keduanya sekali lagi dalam bingkai kehidupan yang sama.

Dan nantinya, tidak akan ada yang sama lagi.

.

.

.

Tap tap tap

Suara langkah kaki yang santai menggema di koridor lantai dua gedung SMA Deimon. Sepatu pantofel yang digunakan sepasang kaki jenjang itu nampak menjejak lantai dengan ringan, nampaknya tidak terlalu peduli dengan kenyataan bahwa bel istirahat sudah berbunyi sepuluh menit lalu.

Tap tap tap

Di belakangnya, langkah kaki yang terdengar lebih terburu-buru ikut menghiasi koridor yang sudah sepi. Sepatu kanvas yang digunakan si empunya berkali-kali hampir lepas dari kaki. Namun si empu tetap saja memaksakan kakinya untuk terus melangkah. Ada sesuatu yang harus ia lakukan.

Tap tap tap tap tap

Langkah kedua manusia itu membuat sebuah nada yang harmonis. Yang satu bergerak secara accelerando*, yang satu lagi bergerak descrescendo*. Akan tetapi keharmonisan itu terhenti karena langkah yang semakin melambat itu akhirnya mencapai titik henti. Pengguna sepatu pantofel itu berhenti melangkah, namun tidak kunjung menggerakkan badannya hingga sang empu sepatu kanvas ikut menghentikan langkahnya.

Kini, koridor itu terasa lengang.

Selain suara kunyahan dan deru napas dari kedua belah pihak, mungkin sayup-sayup suara guru yang sedang mengajarlah yang menghiasi ketegangan di antara mereka.

"Hiruma-san," panggil sang pengguna sepatu kanvas itu dengan nada dingin. Sepatu kanvas putih itu memiliki coretan AM di pinggirnya, mungkin merujuk pada 'Anezaki Mamori', nama yang tertera pada papan nama di kemeja empunya.

"Apa?" Lelaki bersepatu pantofel hitam mengkilat itu hanya menoleh dengan malas. Bibirnya terlihat sibuk mengunyah sesuatu.

"Apa yang kaulakukan di sini? Sekarang kan sudah bel." Gadis bersepatu kanvas itu melipat tangannya di atas dada. Wajahnya yang dibingkai rambut cokelat kemerahan sebahu itu terlihat tegas—sekaligus cantik.

Lelaki itu mengangkat bahu, "Memangnya aku peduli apa kalau bel sudah berbun—"

"DETENSI SEPULANG SEKOLAH, HIRUMA-SAN!" potong Anezaki Mamori sambil menuliskan sesuatu di buku catatannya yang dipenuhi oleh nama Hiruma Youichi, Hiruma Youichi, Hiruma Youichi dan lagi dan dengan segala pelanggaran dan jadwal detensi didatanginya—yang pada realitanya tidak pernah sekalipun didatangi.

"Berisik, Cewek Cerewet! Detensi, detensi, detensi; memangnya tidak ada hal lain yang bisa kauucapkan saat bertemu denganku?" Lelaki dengan papan nama Hiruma Youichi itu hanya mendecih. Mata hijaunya menatap gadis di hadapannya dengan malas.

Gerakan mencatatnya terhenti. Paras gadis dengan bola mata sewarna langit cerah di luar sana itu sudah memerah kesal. Pipinya sudah menggembung menahan marah."Jaga bicaramu, Hiruma-san!"

"Ogah," tolak Hiruma malas-malasan, kemudian kembali melangkahkan kakinya seakan percakapan tadi tidak pernah berarti apa-apa untuknya.

"Hiruma-san!" panggil Mamori.

...

Tidak ada respon berarti.

"Hi-ru-ma-san!"Suara itu kembali menggema, dengan nada yang sudah naik satu oktaf.

...

Namun yang dipanggil tetap melangkahkan kakinya hingga kemudian sosok tinggi tegap itu menghilang di balik dinding menuju tangga. Anezaki Mamori membelalakkan matanya. Ini pertama kalinya dia ditinggalkan dalam sebuah percakapan dengan tidak sopannya. Tentu gadis itu tidak mau hal seperti itu terjadi, apalagi bila yang meninggalkannya itu adalah seorang Hiruma Youichi. Ini sudah kelewatan!

Gadis itu memejamkan mata, "Hi—"

"Ru—" Menarik napasnya panjang-panjang. Kedua tangannya sudah sempurna terkepal saat ia berteriak sekuat dan sekeras yang ia bisa. "—Maaaaa!"

.

Trek.

.

Sebuah pintu yang terletak tak jauh dari insan itu kemudian digeser. Sosok guru berumur paruh baya yang dikenal Mamori sebagai guru aljabar tingkat lanjut keluar dari ruangan. Lelaki yang mulai berkeriput itu menatapnya khawatir.

"Anezaki-san, saya tahu Anda sedang menjalankan tugas ... Tapi, murid-murid saya sedang belajar dan suara Anda tadi ...," ia menghela napas, memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan, "Ah ... Ini juga sudah bel. Tidakkah Anda sebaiknya kembali ke kelas?"

Seakan tersadar, gadis itu membungkuk malu sambil menggumamkan maaf. (Dan dari arah tangga, Mamori bisa mendengar suara kekehan yang jelas ditujukan padanya).

"A-a-a ..."

Sayangnya, permintaan maaf itu tidak pernah terucap. Yang terdengar dari mulut anggota komite disiplin itu hanyalah sebuah suara serak.

Mamori memegang lehernya kemudian mencoba untuk mengucapkan sesuatu. Namun yang lolos dari mulut siswi teladan Deimon itu hanyalah suara yang tidak teridentifikasi apa maksudnya.

Astaga. Manik biru langitnya membulat tidak percaya.

(Dan di balik dinding yang memisahkan mereka, alis Hiruma Youichi terangkat sedikit. Tawanya terhenti).

.

.

.

.


Warnings: OOC, AR (alternative reality), AT (alternative timeline) anehmungkin, typo yang berseliweran, EyD yang tidak sesuai, KAKU-ANEH-KLISE.

Disclaimer: Eyeshield 21 tetap milik Yuusuke Murata dan Riichirou Inagaki, saya tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari fanfiksi ini :D

Note; Fanfiksi ini masih terinspirasi dari prompt Three Hours Between Plane milik Mikkadhira-san dan fanfiksi ini juga masih didedikasikan untuk hukuman Severable Challenge.

.

Carnadeite dengan bangga mempersembahkan—

"Paper Plane"

—sebuah fanfiksi sederhana yang dibuat untuk warga FESI yang deite rindukan. Baca pelan-pelan saja dan silahkan menikmati.

.

[Every person has something that value to them—

and for us ... it's just a little paper plane]

.

Bagian Tiga—Perselisihan.


.

.

.

"Pssst ... pssst,"

"Apa?"

"Kau sudah dengar beritanya? Kudengar kemarin Hiruma dan Anezaki bolos bersama dan mengacaukan kelas aljabar tingkat lanjut."

"Haaah? Benarkah? Anezaki-san?"

"Iya! Kaudengar apa kataku tadi, 'kan?"

"Kau pasti bercanda. Mana mungkin murid teladan seperti Anezaki-san membolos? Apalagi bersama dengan murid urakan macam Hiruma."

"Aku tidak bercanda, tahu! Kalau kau tidak percaya, lihat saja nanti. Saat bertemu nanti pasti Anezaki-san akan bertengkar lagi dengan Hiruma-san!"

"Oh ya?"

"Ya! Li-lihat! Itu Anezaki-san!"

Kedua remaja itu kemudian menghentikan pembicaraan mereka. Pandangan mereka kemudian terfokus pada seorang gadis yang baru saja memasuki gerbang. Dari sisi jendela lantai dua di mana mereka berdiri, terlihat jelas pemandangan yang terjadi di bawah sana.

Sosok teladan yang dikagumi semua warga SMA Deimon, Anezaki Mamori, tengah berjalan dengan lesu menuju gedung utama. Belum jauh ia melangkah dari gerbang, di belakangnya Hiruma Youichi berjalan menyusul. Kedatangan dua insan yang sedari tadi digosipkan mau tak mau membuat kedua gadis itu semakin bersemangat.

"Lihat, ya. Pasti Anezaki-san akan memarahi Hiruma-san lagi." Si gadis yang memulai gosip tadi berkata dengan bergebu-gebu, membuat teman di sebelahnya mau tak mau jadi ikut bersemangat untuk alasan yang ia sendiri tak pahami.

Di bawah sana, Anezaki Mamori nampak menghentikan langkahnya, melihat ke belakang untuk mendapati musuh abadinya berjalan menyusulnya. Kedua gadis itu memantau keadaan dengan bersemangat, mata mereka berbinar—entah untuk alasan apa.

Tapi, kejadian selanjutnya bagai hujan yang memadamkan api di mata mereka.

Anezaki Mamori bahkan tidak perlu repot-repot menyapa—atau menegur Hiruma seperti biasa, gadis panutan setiap siswa itu hanya melengos pergi.

Pergi. Seakan lelaki yang berjalan di belakangnya hanyalah embusan angin. Tidak lebih. Tidak kurang.

"EEEEH?"

Seluruh siswa Deimon yang menjadi saksi mata kejadian itu bersama-sama melotot kebingungan.

Ada apa dengan Anezaki-sang-penyelamat-Mamori mereka?

.

.

.

Keganjilan pagi tadi yang membuat seluruh sekolah gempar kini berlanjut. Bahkan, bagi mereka yang berada di sekitar Mamori, keanehan itu semakin tercium pekat. Seperti kejadian yang satu ini; kejadian yang terjadi di salah satu kelas menjelang makan siang.

Mata pelajaran yang sedang siswa-siswa kelas satu pelajari itu adalah pelajaran Seni dan Sastra Jepang tingkat I. Seperti biasanya, guru mereka memberikan pelajaran dan sesekali melempar pertanyaan—entah yang sifatnya nyeletuk atau memang serius. Kali ini, mata sang guru muda itu tertuju pada seorang murid kesayangannya—dan kesayangan seluruh guru lainnya, tentunya.

Bisa kalian tebak siapa?

"Anezaki," sahut sang guru dengan ringan. Sungguh, di wajah guru itu tidak ada sama sekali guratan kekesalan—apalagi amarah. Matanya menatap dengan pandangan jenaka.

Gadis itu berdiri. Sayang, tak ada yang menyadari bahwa kakinya kini gemetaran.

"Kautahu kenapa jawaban Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu tentang burung yang tidak berkicau itu berbeda-beda?*"

Beberapa murid yang sudah tahu jawaban dari teka-teki itu kemudian cekikikan tidak jelas. Beberapa lagi yang memang tidak tahu kini mulai saling berbisik menebak kuis intermezzo ini dengan semangat.

"Ya, apa jawabannya, Anezaki?" Sahut sang guru itu sambil mencatat beberapa poin hasil belajar hari ini.

Tak kunjung mendengar jawaban dari murid yang dipanggilnya membuat sang guru mendongak. Teman-temannya yang tahu ada keanehan pada Anezaki sejak pagi kini ragu-ragu melirik bintang kelas mereka. Tidak ada yang mengeluarkan suara apapun, tapi batin mereka saling meneriaki satu sama lain—menanyakan apa yang terjadi lewat kilatan mata masing-masing.

Murid yang ditanya itu hanya menundukkan kepalanya. Bibirnya bergerak, namun tak ada satu suara yang keluar dari bibirnya. Jemarinya kini saling bertautan dengan gelisah.

"Anezaki?" Guru itu kini bertanya dengan suara hati-hati.

Gadis itu menggelengkan kepalanya lemah. Lalu dalam satu gerakan yang cepat, pemilik iris sebiru langit itu melangkahkan kakinya keluar kelas tanpa meminta izin.

Suasana kelas yang hening dan tegang itu kemudian pecah saat guru itu dengan kaku mengatakan, "B-baiklah, kita akan berjumpa di kelas selanjutnya. Jangan lupa carilah haiku yang kalian suka dan membacakan—"

"Membacakannya?" tanya seseorang. Suaranya yang jarang terdengar pada saat proses kegiatan belajar-mengajar itu bergema. Volume suaranya itu pelan, tapi tetap saja membuat seluruh mata sontak tertuju padanya. Pada ia, yang baru saja melepas headphone dari kepala pirang dan menutup laptop VAIO peraknya.

"I-iya. A-apakah Anda keberatan?" Suara guru itu mendadak menciut. Tatapannya yang jenaka tadi seakan dihisap oleh lubang hitam. Lenyap begitu saja.

Terdengar suara letupkan permen karet, kertas yang disobek, lalu helaan napas yang cukup panjang. "Ah. Ini bakalan merepotkan."

.

.

.

Mamori Anezaki menjatuhkan dirinya di lantai atap sekolah mereka yang sepi. Punggungnya menyender pada kawat pembatas yang kokoh. Ia menutup matanya. Setelah lari ekstrem yang ia lakukan tadi, napasnya menjadi pendek dan dadanya terasa sesak.

Tapi tidak ada yang jauh lebih menyesakkan dibandingkan dengan kenyataan yang baru mampir di benaknya; ia baru saja membolos.

Oke, secara teknis, ia hanya kabur di lima menit terakhir ...

Tapi, itu dosa yang maha besar bagi murid teladan macam Mamori dan ia hanya bisa menutup wajahnya dengan tangan. Frustasi, nampaknya. Awan-awan yang bergerombol di atasnya tidak bisa melakukan apapun selain menghalangi sinar mentari yang menyengat agar panas yang terasa tidak begitu kentara. Angin juga dengan segera bergerak untuk memeluk tubuh gadis itu, mencoba menghiburnya.

Tapi gadis itu tidak butuh hiburan. Ia hanya butuh—

"Oi."

Bahunya kontan berjengit mendengar suara itu. Tidak mungkin. Ia menurunkan kedua telapak tangan yang sedari tadi menutupi wajahnya untuk melihat sesosok lelaki dengan mentari pada punggungnya. Menyilaukan, memang, tapi mata Mamori yang menyipit itu tidak bisa berhenti memberikan kilatan kebencian.

"Tatapanmu, Cewek Sialan." Lelaki itu menegur dengan seringai yang entah mengapa terasa lebih menyebalkan dari sebelumnya. "Kau seperti hendak memakanku saja."

Mamori terperangah tidak percaya. Pernyataan macam apa itu? Pemilik sepasang iris yang mencuri warna secerah angkasa itu membelalakkan matanya, lalu mendecih. Bibirnya hendak berkata, membalas pernyataan menggelikan itu, tapi ... tak ada suara yang keluar.

Hiruma Youichi pintar—tentu saja, siapa yang tidak tahu hal tersebut? Ia tahu keadaan macam apa yang menimpa gadis berisik itu. Maka dari itu, ia segera duduk di sebelahnya, ikut menyandarkan tubuh rampingnya di kawat pembatas tanpa ragu. Diambilnya sobekan kertas pada saku kemejanya, dan dengan terampil, jarinya itu melipatnya, menjadikan sebuah pesawat kertas.

Mengikuti kehendak tuannya, pesawat kertas itu mengudara dan mendarat tepat di pangkuan Mamori. Gadis itu bertanya lewat kilatan mata dan Hiruma hanya berkata, "Tulis."

Tanpa ragu, gadis itu segera mengambil pulpen yang ia selipkan di saku kemejanya dan menulis. Hiruma sendiri tidak repot-repot memerhatikan. Dengan santai, ia bersandar dengan kedua tangan menyangga kepala bagian belakangnya. Matanya menutup dengan khidmat, merasakan angin yang berlalu lalang melewati wajahnya.

Tuk

Sebuah benda menyentuh pipinya pelan hingga kelopak matanya saling melepas pelukan. Lelaki itu mendapati sebuah pesawat kertas mendarat tak jauh darinya. Dengan mata yang seakan dibebani oleh tenaga tak terlihat, ia membaca tulisan yang tertera di salah satu bagian pesawat pertas itu.

.

.


KAU!

KAU MENYEBALKAN! INI SEMUA GARA-GARA KAU! SUARAKU JADI HABIS TAUUU! :

Dan pergi! Biarkan aku sendiri!


.

.

Dalam keadaan mengantuk sekalipun, Hiruma Youichi masih bisa merasakan sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Ia melirik gadis yang tengah menatapnya dengan tatapan yang lebih menyala dari obor olimpiade olahraga. Tatapan yang benar-benar menghibur, pikir Hiruma sambil mencoba menjaga ekspresi wajahnya se-tidak-tertarik-mungkin.

Pemilik akuma techou itu menuliskan sesuatu di bagian tubuh pesawat kertas. Selesai dengan tulisannya, ia pun melemparkan pesawat kertas itu.

.


Hee, siapa juga yang menyuruhmu untuk teriak-teriak? Memangnya kemarin kita sedang berada di hutan? :p

Dan punya kuasa apa kau berani menyuruhku pergi seenaknya?


.

Tanpa merasa terintimidasi oleh tatapan gadis di sampingnya, ia melemparkan pesawat itu untuk kemudian terbang sejenak sebelum mendarat di sisi lengan Mamori. Gadis itu kemudian sigap membaca tulisan pada pesawat itu. Dari sudut matanya Hiruma bisa melihat bahwa gadis itu sedang menarik napas panjang-panjang. Bibirnya terkatup rapat, pipinya menggembung dan oh … Hiruma tidak tahu bahwa ekspresi seorang gadis yang kesal bisa begitu menghiburnya.

Hiruma kemudian harus sungguh-sungguh menahan tawanya ketika pesawat terbang yang dilemparkan gadis itu padanya malah berputar arah dan menabrak hidung gadis itu. Ekspresi wajah sang komite disiplin yang benar-benar kaget begitu priceless hingga ia ingin menyimpannya untuk koleksi pribadi di buku ancamannya.

(dan jangan berpikir macam-macam, ia ingin menyimpannya untuk dijadikan ancaman pada gadis itu kelak).

Pada lemparan kedua, pesawat kertas itu berhasil mendarat di tempat yang seharusnya. Lelaki berambut pirang itu kemudian mencari dengan telaten dimana tulisan baru yang ditulis pada badan pesawat itu. Setelah menemukannya, sudut bibirnya terangkat, memerlihatkan seringai khasnya. Ini menarik.

.


ENGGAK ADA. Tapi ... tapi ... itu kan gara-gara kamu melanggar aturan terus, Hiruma-san!

Kenapa sih kamu begitu keras kepala?! :


.

.

.

.


Terus? Sesukaku lah, Cewek Sialan.

Heee dan kau enggak sadar? Kau lebih keras kepala, tau.

ke ke ke ke ke ke


.

.

.

.

.


Terserah! Bel sudah bunyi, aku mau ke kelas.

Dan jangan berani bolos, Hiruma-san.


.

.

.

.


like i care :P ke ke ke ke ke


.

.

.

.


HIRUMA-SAAAN!


.

.

.

.


Cih. Dalam diam pun kau tetep berisik dan ngeselin, ya.


.

.

.

.


Udah! Sana ke kelas!


.

.

.

.


Yaudah! Tapi jangan pake narik-narik tangan segala! Norak banget sih!


.

.

.

.


HIRUMA-SAN!


.

.

.

.

Kemudian kekehan sang iblis SMA Deimon kembali terdengar di lorong kelas.

.

.

.

.

Mamori tidak tahu, mana yang lebih melelahkan—menggunakan seluruh tenaganya untuk memarahi Hiruma setiap saat atau bahkan tidak bisa memarahi Hiruma. Mata pelajaran terakhir hari ini sudah usai dan berbarengan dengan bel yang berbunyi, ia merasakan seluruh tenaganya hari ini hilang entah diserap apa.

Ah … iya, diserap Hiruma dan segala kelakuan menyebalkannya.

Mengingatnya saja sudah membuat pelipisnya berdenyut. Lama-lama ia mungkin akan terkena migrain dan entah penyakit apalagi yang barangkali akan timbul ketika ia berdekatan dengan Hiruma dan segala tingkahnya yang seenaknya.

Ia butuh istirahat dan obat, tapi sayangnya agenda hari ini masih ada. Ah, gadis itu menghela napas. Kalau tenggorokannya tidak segera sembuh, ia tidak akan bisa tampil membacakan haiku di kelas seni dan sastra selanjutnya.

Ah, ini merepotkan.

Ia kini terjebak pada dua pilihan. Lari ke apotek untuk membeli obat untuk tenggorokannya sebelum rapat komite disiplin dimulai atau membiarkan suaranya tetap serak dengan konsekuensi tidak bisa membacakan haiku dengan benar.

Baiklah.

Gadis dengan rambut cokelat halus itu kemudian membereskan barang-barangnya. Ia sudah memutuskan untuk sesegera mungkin ke apotek. Well, ia sudah dua kali membolos pelajaran dan ia tidak bisa menerima bila dirinya membuat kekacauan di kelas seni dan sastra.

Gerakan tangan gadis itu menjadi gesit, sekaligus tergesa-gesa. Tanpa sengaja, ia menyenggol tempat pensilnya sendiri sehingga kotak berwarna soft pink itu terjatuh dan membuat benda di dalamnya bergelinding ke berbagai arah.

Ia memunguti barangnya dalam diam. Mengaduh pun ia tak bisa—terima kasih pada Tuan Hiruma yang sudah menghilangkan suaranya. Dan lelaki yang baru saja ia maki dalam hati pun berjalan melewatinya tanpa membalikkan badan atau menengok untuk melihat apa yang terjadi pada dirinya.

Melewatinya begitu saja.

Oh, gadis itu mendengus. Ia tentu tidak berharap Hiruma akan membantunya membereskan barang-barangnya yang terjatuh dan bertingkah layaknya pangeran di buku-buku dongeng.

Tapi …

Tanpa bisa dikendalikan, air mata sudah berkumpul di sudut-sudut matanya.

Tak bisakah ia mengatakan sebuah 'maaf'?

Sambil menertawakan pikiran bodohnya dalam hati, gadis itu bergegas menuju loker sepatu untuk mengambil sepatunya. Bila ia berlari, ia bisa kembali ke sekolah lagi dalam waktu lima belas menit untuk mengejar waktu rapatnya. Gadis itu berjalan menuju loker sepatu sambil menghapus air mata yang menurutnya tidak layak untuk dijatuhkan karena seseorang seperti Hiruma.

Sebelum seseorang menanyakan matanya yang memerah, ia pun berhasil menyelinap menuju loker sepatu untuk menemukan kantung kertas di sebelah sepatunya.

Dengan ragu ia mengambil kantung kertas itu. Setahunya, ketika ia berangkat tadi ia tidak meninggalkan apapun di situ.

Di dalamnya terdapat obat untuk tenggorokannya.

Juga sebuah perawat kertas berukuran mini.

Mau tidak mau, senyum pada bibirnya pun merekah—bahkan sebelum ia menemukan tulisan 'minumlah' pada badan pesawat itu.

.

.

Dasar bodoh

.

.

.

.

.

.

..

..

Seluruh warga SMA Deimon tahu bahwa Mamori Anezaki adalah satu-satunya orang yang terang-terangan menentang Youichi Hiruma.

Dan seperti yang sudah-sudah, Mamori Anezaki kembali menemukan dirinya dalam sebuah bingkai cerita yang sepertinya sudah ia jalani selamanya.

Buku catatan detensi di tangan kiri, tangan kanan pada pinggulnya.

Seorang lelaki dengan helai-helai warna mentari, dengan tatapan iris hijaunya yang mengintimidasi, di hadapannya berdiri dengan arogansi yang tinggi.

Ia tahu dirinya mungkin dan masih menjadi satu-satunya orang yang berani menentang sikap lelaki itu, menatap matanya dengan berani, menghentikan langkah kakinya dengan suaranya dan terus mengomeli setiap apa-apa yang lelaki bertelinga elf itu lakukan.

Ia tahu, ia memang bersebrangan dengan Hiruma. Ia tidak tahu kapan tiba waktunya ketika ia bisa melakukan gencatan senjata dengan lelaki yang menyandang gelar sang iblis itu. Memikirkannya saja sudah membuatnya merasa menjadi orang gila, tapi …

.

.

.

.

"Detensi sepulang sekolah, Hiruma—" Pelototan mata, adu pandang yang alurnya mudah ditebak di antara mereka kembali terjadi.

"—kun."

| tapi, setidaknya ada hal yang berubah 'kan? |

.

.

.

.

.

.

—Selesai—


Note;

Crescendo*; semakin lama semakin keras (volumenya bertambah).

Accelerando*; tempo yang semakin cepat

Descrescendo*; tempo yang semakin melambat.

Jawaban Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu tentang burung yang tidak berkicau itu berbeda-beda*: itu adalah salah satu sajak mengenai perbedaan sifat di antara ketiga lelaki itu. Dikutip dari buku Taiko (Yoshikawa, 2012), isi dari sajak yang (katanya) diketahui oleh semua siswa di Jepang itu seperti ini;

.

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab, "Bunuh saja!"

Hideyoshi menjawab, "Buat burung itu ingin berkicau."

Ieyasu menjawab, "Tunggu."

Pertanyaan yang deite buat itu sempurna ngasal, jadi jangan tanyakan apa jawabannya. (yang dalam versi ngaco deite itu: ya orang-orangnya juga udah beda, masa jawabannya mau kembar siam? /plak)

.

.

.


Deite's Note;

Bagian tiga ini dibuat karena geregetan sama pertemuan mereka di awal-awal anime. Mamo ngucapin 'Hiruma-kun'nya dengan nada yang begitu sih. Ekspresi Hiruma juga kayak yang kaget wkwk:"

Still, ini gaje banget. Maap yak kalau nggak ada peningkatan terus, maap juga apdetnya lama pisaaaan. Hampir tiga tahun, lah …. Bagian ini stuck banget—bahkan ch 4-nya beres duluan, dan setelah selesai ... file-nya ilang di laptop yang rusak. Pas file-nya udah ketemu … deitenya malu mau apdet juga ;_;

Tapi gegara kangen banget sama FESI /terima kasih pada kalian yang sudah menggalau di lini masa/ … jadilah fic ini di-update. Maaf buat semua keanehan dalam fic ini. Sebenarnya pengin pulang dengan fic yang megah (?) dan keren, tapi ternyata jari ini cuman bisa menyajikan fic yang begitu sederhana ini.

Oke, sampai ketemu di bagian selanjutnya!

Feel free to drop some review~

[or critics? deite need them ;_;]

[buat yang baca fic ini dan dulu pernah jadi bagian dari keluarga kecil di FESI—yuk, pulang :']