Summary : Inilah hidup. Penuh dengan kenangan-kenangan yg tak terlupakan. Kesedihan dan kegembiraan, kasih dan cinta. Menerawang disetiap sudut kehidupan, yg belum tentu akan berbuah manis. Bagaimana kisah antara Sehun dan Luhan dalam sebuah takdir yg mempertemukan mereka? Akankah takdir yg itu membuahkan hasil yg manis?

●Chap.3●

Normal POV Sejak kejadian dimana Luhan berkenalan dengan Sehun, keduanya tampak akrab. Well, walaupun mereka hanya bermoral line talk dan jarang bertemu dikarenakan Sehun yg masih menjalani masa-masa pernikahannya.

Sehun sering kali menelpon Luhan dengan line call tapi berakhir dengan line chat karna Luhan malu jika melihat wajah namja tampan itu. Jadi, keduanya sepakat hanya berbincang melalu line chat saja.

Kini, Luhan tengah menikmati taro bubble tea kesukaannya di cafe bubble. Mata rusanya menerawang kemana-mana seolah menanti seseorang. Senyum terukir manis dibibirnya tak kalah seseorang yg memang sudah ditunggu-tunggunya tiba.

Tampak seorang namja tampan masuk kedalam cafe bubble tea dengan seragam sekolah nya. Mata elang tajam itu menerawang kemana-mana mencari seseorang. Hingga kemudian mata lelang tajam itu berhenti tepat pada mata rusa manis itu.

Dengan senyuman tipis dan cool ya, dia berjalan dengan santai menuju kemana orang yg sejak dari tadi menunggunya.

"Menunggu lama?" Tanya Sehun berahli duduk tanpa harus menunggu orang itu membersihkannya duduk.

"Anio." Jawab Luhan dengan senyum manisnya.

Hening, keduanya mendadak diam seperti tidak tau mau membahas topik apa lagi. Luhan yg kemudian kembali meminum bubble tea nya dengan gugup sedangkan Sehun yg terus memandangi Luhan.

"Hm, kau mau memesan?" Tanya Luhan berusaha mengajak bicara.

"Tidak." Jawab Sehun singkat dan sungguh membuat Luhan tampak gelisah.

Ayolah, demi dirinya yg maniak bubble tea, Sehun terus memandangnya dan itu sungguh membuatnya malu. Sehun yg tampak tau bahwa Luhan gelisah hanya tertawa diam dan terus memandangi Luhan bagaikan tontonan yg enak(?).

"Bagaimana kalau jika jalan-jalan ke Namsan Tower?" Aju Sehun dengan senyuman tipisnya.

"Apa seru?" Tanya Luhan tampak antusias.

"Sangat." Jawab Sehun singkat, cukup mampu membuat Luhan menjadi tambah semangat.

Luhan yg bagaikan yeoja yg terlihat heboh, langsung berdiri dari bangku ya sambil memandangi Sehun dengan mata rusaknya yg berbinar.

"Kalau begitu, apa lagi yg kita tunggu. Jja, kita ke sana!" Pekik Luhan kemudian tanpa sadar menarik Sehun keluar dari cafe ini.

"Ets." Seketika, Sehun menahan pergelangan Luhan membuat yeoja rusa itu menatapnya bingung.

"Aku bawa mobil." Ucap Sehun kemudian membawa Luhan menuju mobilnya berada.

Tak butuh waktu lama, kini keduanya tiba di tempat parkir. Luhan terus memandangi setiap mobil yg berlaku lalang dan mengira bahwa itu mobil Sehun. Namun, Sehun terus tetap menggenggam tangannya membawanya menuju dimana mobilnya berada.

Audi r8 Luhan membelak tidak percaya dengan mobil dihadapannya. Dipandangnya mobil itu dan Sehun berganti. Bahkan saat Sehun mengeluarkan kunci mobil dan entah kenapa tiba-tiba mobil mahal itu berbunyi.

"Tidak perlu memandangnya segitunya, Luhan." Ucap Sehun sambil terkekeh kecil.

Luhan tampak mempout bibirnya manis karena merasa diperolok Sehun. Sehun menggenggam tangan Luhan membawanya menuju ke sebelah kanan mobil. Dibuka nya pintu itu dan kemudian dengan malu Luhan masuk kedalam mobil dan duduk.

Saat Luhan tengah memakai seat belt, Sehun susah masuk kedalam mobil kemudian juga memakai seat belt. Setelah itu, mobil mahal kesayangan Sehun mulai nyala dan jalan melintas setiap halaman kota.

Sejak dalam perjalanan, keduanya tampak diam dengan kesibukan masing-masing. Luhan yg terus memandangi jendela yg lebih tepatnya memandangi jalanan kota Seoul. Sedangkan Sehun terus fokus mengendarai mobilnya.

Sebenarnya Sehun kurang fokus karena sesekali dia melirik Luhan kemudian fokus berkendara. Dia tidak terlalu peduli dengan kesunyian, namun entah kenapa dia merasa ingin sekali mendengar suara rusa manis itu.

"Hm.. Sehun, kau sekolah dimana?" Tanya Luhan yg akhirnya memecahkan keheningan.

Luhan melihat kearah Sehun yg tampak begitu diam, hingga kemudian namja itu memandang kearahnya.

"Performing high school, aku sekolah disana." Ucap Sehun setelah itu mulai fokus kembali mengemudi.

Luhan hanya ber"O" ria kemudian menatap kedepan. Luhan cukup bingung entah mau bicara apa lagi. Hening kembali tercipta, hingga kemudian tiba-tiba Sehun terkekeh kecil membuat Luhan langsung menatap Sehun bingung.

"Wae? Ada yg lucu?" Tanya Luhan dengan tampang polosnya tanpa sadar membuat Sehun tertawa.

Sehun kemudian mengacak gemes rambut Luhan, sambil tertawa kecil. Luhan yg merasa seperti dianggap lucu, mengerucut bibirnya imut.

"Aigyo~ Kyeopta." Ucap Sehun gemes sambil tertawa membuat Luhan tambah mempout bibirnya imut.

Akhirnya sepanjang perjalanan, keduanya tidak canggung lagi. Bahkan Sehun terus menggoda Luhan membuat yeoja rusa manis itu terus mempout bibirnya.


Sudah 30 menit yg lalu Luhan dan Sehun tiba di Namsan Tower. Setelah menikmati makanan maupun permainan, kini keduanya berada didalam cable car yg akan membawa mereka menuju Gunung Namsan.

Dengan wajah yg antusias, Luhan kini terus memotret pandangan indah seoul dari sini. Sesekali dia berdecak kagum dengan keindahan seoul yg membuatnya iri.

"Tak bisakah kau duduk tenang." Ucap Sehun datar dan terkesan terasa terganggu.

Luhan memandang Sehun sekilas kemudian kembali ke kegiatannya yaitu mari-foto-seoul. Merasa dicuekin Sehun dengan sedikit kesal melangkah mendekati Luhan.

Entah setan apa yg memasukinya, dengan dadakan Sehun memeluk Luhan dari belakang.

Deg!

Kedua jantung pemilik kedua orang itu berdetak cepat, bahkan sangat cepat. Keadaan mereka membeku dengan saling memeluk. Tidak ada yg ingin bertindak melepas pelukan itu. Bahkan mereka hanya diam dengan jantung mereka yg berdetak sangat cepat.

"E..eh? Mianhe." Ucap Sehun langsung melepas pelukannya.

Luhan hanya berdehem kemudian menatap ponselnya yg memampangkan beberapa foto kota Seoul. Setiba di gunung Namsan, keduanya keluar dari cable car dengan canggung. Keduanya memilih jalan entah kkemana mengikuti kata hati dan kaki melangkah.

"Hm...mau ke sesuatu tempat yg terkenal disini?" Tanya Senin sedikit menghilangkan kegugupan.

"Bo...boleh." Ucap Luhan sedikit gugup sambil menunduk,masih mengingat kejadian di cable car tadi.

Greb~

Tanpa memperdulikan suasana canggung, Sehun menggenggam tangan Luhan kemudian membawanya ke tempat yg di janjikannya. Tanpa sadar membuat Luhan semakin merona. Pasalnya Sehun menggenggam tangannya dengan erat, seolah tidak ingin melepasnya.

Sepanjang jalan, tidak ada yg membuka suara. Berjalan dengan keadaan yg gugup dan canggung juga.

"Kau,/kau.." Ucap Sehun dan Luhan bersamaan.

"Hm.. kau dulu/ kau dulu." Lagi-lagi keduanya berucap bersamaan.

"Kau saja dulu." Ucap Luhan akhirnya

"Apa kau merasa lapar?" Tanya Sehun sedikit melirik Luhan.

"Hm, sedikit. Na neun?" Tanya Luhan kemudian memandang Sehun.

"Sama, kalau begitu kajja kita ke cafe yg terdekat." Ucap Sehun langsung diangguki Luhan.

Keduanya terus mencari cafe yang cocok dengan mereka. Hingga kemudian, mata Luhan terpandang tepat sebuah cafe bubble tea kesukaannya. Dia ingin mengajak Sehun kesana. Namun diurungkan niatnya mengira Sehun kurang menyukai cafe itu sepertinya.

Sehun entah kenapa, seperti diperintah, dia memandang kearah Luhan. Pandangannya melihat Luhan memandang ke satu titik, dan kemudian dia ikut memandang hal yg dilihat yeoja rusa itu.

'Cafe bubble tea.' - Sehun dalam hati.

"Jja, kita kesana." Ucap Sehun kemudian berjalan dengan tangannya yg tetap menggenggam tangan Luhan ke cafe bubble tea itu.

Sehun dan Luhan masuk kedalam cafe itu, setelahnya mereka menuju ke tempat pemesan makanan dan berahli mencari bangku untuk menunggu pesanan mereka.

"Hm, Sehun. Ku kira kau tidak suka berada di cafe bubble tea." Ucap Luhan bagaikan gumam-an.

"Bagaimana bisa kau mendeskripsikan seperti itu?" Tanya Sehun dengan senyuman kecil kearah Luhan mampu membuat yeoja rusa didepannya SALTING!

"Tadi saat pertemuan kita di cafe, kau terlihat tidak begitu suka." Ucap Luhan sambil menunduk tak berani menatap tatapan tajam itu.

"Anio, saat itu aku hanya tidak biasa. Karna biasanya kalau aku ke cafe bubble tea selalu sendirian. Tidak pernah mengajak yeoja keluar bersamaku selain Eomma-ku." Ucap Sehun panjang dan jujur.

Luhan bahkan terkejut mendengar pertama kali untuk kesekian kalinya bertemu dan berbicara dengan namja tampan didepannya, Sehun berbicara sepanjang ini. Dan apa tadi, "tidak biasa. Tidak pernah mengajak yeoja keluar?" Oh~ sadarkan Luhan untuk tidak segera pingsan karna kenyataan bahwa dia yeoja pertama yg diajak Sehun keluar.

"Emang kau tidak memiliki kekasih?" Ucap Luhan entah kenapa bibirnya mengeluarkan kata itu.

"Ani, wae? Kau mau menjadi kekasihku?" Ucap Sehun sambil terkikik kecil.

Blush~

"A..aku hanya bertanya." Ucap Luhan malu.

Sehun masih setia terkikik membuat Luhan kembali mendengus kesal sambil mempout bibirnya. Melihat itu, Sehun mencubit pipi Luhan untuk kedua kalinya selama hari ini.

"Ugh! Gemassssnyaaa..." Ucap Sehun dengan gemas seolah dia mencubit pipi bayi yg mulus dan putih.

"Ssshhh... sakit tau." Adu Luhan masih mempout bibirnya imut.

Sehun masuk tertawa hingga kemudian dia kembali normal tak kalah sang-waiters mengantar makanan mereka. Terdapat dua nasi ayam tandoori yg menjadi pesanan mereka. Setelah itu, keduanya makan dengan tenang.

Setelah selesai menikmati makanan mereka, keduanya keluar dari cafe setelah membayar makanan yg tentunya dibayar Sehun. Kedua berahli kembali jalan menuju ketempat yg dijanjikan Sehun.

"Apa kita akan menaiki tangga ini?" Tanya Luhan dengan perasaan yg was-was.

Pasalnya tangganya cukup panjang. Dan jika boleh jujur, Luhan tak kuat naik tangga. Sehun dapat merasakan kalau Luhan terlihat tidak begitu menyukai naik tangga atau apalah.

Sehun kemudian berahli didepan Luhan membelakangi yeoja itu dan kemudian menjongkok. "Naik kepunggungku." Pintahnya seolah memaksa Luhan.

Tanpa memikir panjang, Luhan berahli baik kepunggung Sehun dan meningkatkan tangannya di leher Sehun. Setelah itu Sehun mengangkat Luhan dnegan tangannya yg menggenggam kaki Luhan.

Sehun kemudian berahli melangkah melewati tiap anak tangga dengan ringan. Jujur, Sehun berani taruhan jika berat badan Luhan pasti hanya 40-an. Habis yeoja yg dindingnya ini sangat ringan, dan juga terasa seperti menggendong bayi.

"Lu, apa kau jarang makan. Kenapa kau ringan sekali, eo." Ucap Sehun sambil terkikik kecil, entah kenapa seharian ini dia terus tertawa kecil.

"Entahlah, aku sering makan kok. Asal kau tau, Hun-ah. Oppa-ku sering mengeluh jika aku minta dia menggendongku, katanya aku berat." Ucap Luhan sambil mempout bibirnya imut.

"Oh, jinjja? Berarti Oppa-mu itu kurus tidak sepertiku." Ucap Sehun sambil tertawa kecil.

Keduanya berbincang ria hingga kemudian keduanya tiba ditempat yg dijanjikan Sehun. Setelah turun dari punggung Sehun, Luhan menatap tempat ugh dilihatnya tidak percaya. Terdapat banyak gantungan kunci disetiap besi maupun dimanapun.

"Ini nama tempatnya, gembok cinta. Tempat terkenal di Namsan Tower." Ucap Sehun sambil memandang Luhan yg tampak lucu.

"Jinjja? Pantas saja banyak gembok." Ucap Luhan kemudian melangkah melihat genbok-gembok itu.

Dengan antusias dan rasa penasaran, Luhan membaca setiap isi tulisan gembok itu. Romantis, baru pertama kali dalam hidupnya melihat seperti ini.

"Kau mau?" Tanya Sehun sambil menyodorkan gembok ukuran sedang beserta dengan pena spidol.

"Tentu, gomawo." Ucap Luhan kemudian mengambil gembok pemberian Sehun.

Kedua orang itu mulai menulis sesuatu di gembok. Entah apa yg ditulis mereka, yg penting mereka menulis keinginan mereka. Mungkin seperti impian mereka.

"Sudah?" Tanya Sehun dan Luhan mengangguk.

Setelah itu, Sehun mengajak Luhan untuk mengembokannya di tempat yg sudah disiapkan dan lumayan full. Setelah itu, Sehun memberikan kuncinya pada Luhan.

"Untuk apa?" Tanya Luhan sambil menggenggam kunci yg diberikan Sehun.

"Simpanlah. Itu kunci gembokmu. Kalau suatu saat kau ingin melepas gembokmu, maka bukalah." Ucap Sehun.

Luhan kemudian mengangguk kembali. Dipandangnya kunci dan gembok miliknya yg sudah digembok ditempat itu bergantian. Senyum terukir di bibirnya kemudian dia menyimpan kunci itu kedalam tasnya.

Selesai dengan itu, akhirnya Luhan dan Sehun kembali berjalan-jalan. Sepanjang jalan, mereka saling berbincang dan makan makanan yg enak menurut Luhan.

Hingga tak terasa, matahari mulai tenggelam. Kini keduanya dalam perjalanan. Sehun tentu inisiatif mengantar Luhan, tidak mungkin dia biarkan Luhan pulang sendirian di malam begini. Awalnya Luhan menolak karena merasa tidak enak dengan Sehun. Namun karna paksaan dan juga berhubung lagi hujan deras, jadi Luhan menerima tawaran namja tampan itu.

Menjelang waktu yg cukup lama, Sehun akhirnya tiba didepan rumah Luhan. Luhan tengah melepas seat belt, kemudian mengucapkan terima kasih pada Sehun.

Saat hendak turun, Luhan mendadak diam. Kemudian dia memandang luar jendela dan Sehun bergantian. Sehun yg melihat itu mengerutkan alisnya.

"Wae?" Tanya Sehun yg langsung ditanggapi yeoja rusa manis itu.

"Hm, bagaimana kalau berkunjung dirumahku sebentar." Tawar Luhan dengan senyum ramahnya.

"Bolehkah?" Tanya Sehun dan langsung diangguki dengan antusias oleh yeoja manis itu.

Gerbang rumah Luhan terbuka secara otomatis, dan kemudian mobil Sehun mulai masuk kedalam rumah. Sampai didalam, keduanya segera berahli masuk kedalam rumah Luhan dengan baju mereka yg cukup basah.

"Ini pakaian untukmu. Ini pakaian Oppa-ku satu-satunya yg ku. Mungkin bisa pas." Ucap Luhan setelah mengotak-atik pakaiannya dan dengan keberuntungan menemukan baju Oppa-nya yg dititipkan Oppa-nya saat menyuruhnya membawa baju ini, namun belum diserahkan pada Oppa-nya.

"Makasih, tapi..aku ganti dimana?" Tanya Sehun kemudian menyadarkan Luhan dengan kebodohannya.

Luhan mengantar Sehun menuju kamar mandi di dekat dapur. Setelah itu dia segera ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Menjelang waktu sebentar, Luhan yg pertama kali selesai dan keluar dari kamarnya dengan kaos T-shirt berwarna kuning kebesaran dengan tubuhnya, dengan celana pendek rumah.

Kaki jenjang itu melangkah menuju ke dapur, sebelum membuat coklat hangat, dia sempat melirik ke kamar mandi yg dipakai Sehun. Belum keluar, gumam Luhan.

Sibuk membuat coklat panas, tanpa sadar Sehun telah keluar dari kamar mandi dengan t-shirt hitam yg pas ditunjuknya dan celana abu-abu selutut.

Glup!

Sehun menelan kasar air ludahnya tak kalah melihat pandangan didepannya. Keluar-keluar dia sudah diberikan pemandangan yang...ekh dia sudah mendeskripsikan.

Entah setan apa, Sehun melangkah mendekati Luhan. Tiba dibelakang yeoja rusa yg masih sibuk dengan kegiatannya, tanpa saat tangannya berlahan melingkar dipinggang Luhan.

Deg!

"Eh?" Ucap Luhan terkejut sambil memandang kearah kanan dimana Sehun ada.

Wajah Luhan semakin memerah tak kalah wajahnya dekat dengan wajah Sehun. Bahkan kini bibirnya sudah menyentuh pipi Sehun yg tepat disampingnya.

Keduanya membeku, tidak ada yg menjauh. Mungkin masih dengan kesadaran yg rendah, membuat keduanya masih tetap dengan posisi ini. Dengan malu dan masih deg-deggan, Luhan menjauhkan wajahnya kemudian menunduk.

"Ekhem, mianhe." Ucap Sehun kemudian melepas pelukannya.

"Ne.. I..ini untukmu.." Ucap Luhan gugup kemudian memberikan secangkir coklat hangat.

"Gomawo." Ucap Sehun berusaha sebiasa mungkin sambil menerima secangkir coklat hangat dari Luhan.

Setelah itu keduanya berahli menuju ke ruang tamu dan duduk di sofa sambil menikmati coklat hangat dalam diam. Sesekali keduanya saling melirik satu sama lainnya.

"Hm, Luhan. Ada yg ingin ku..bicarakan." Ucap Sehun dengan nada serius sambil menatap Luhan dengan pandangan yg sulit diartikan.

"N..ne?" Tanya Luhan bingung dan sedikit gelisah dengan pandangan Sehun padanya.

Blush~

Sehun menggenggam kedua tangan munafik Luhan yg terasa pas digenggamnya. Menatap Luhan dengan pandangan seolah ingin mengatakan sesuatu yg berharga. Luhan hanya mampu menunduk karna malu dan juga gugup bersamaan.

Semuanya masih hening, hingga kemudian Sehun mengucapkan sesuatu hal yg sudah dipendamnya selama bersama Luhan. Dia merasa harus mengatakan ini.

"Lu..."

TeBeCe πŸ˜†

Aaaaaaa! OTTOKHE! DAEBEK?
Jujur. Saya kalau jadi readers pasti penasaran dengan apa yg akan dikatakan Sehun padan Luhan. Tapi saya mendapatkan moment dari seseorang yg menginspirasi, jadinya kalo ini saya benar-benar para chingu deul menyukainya. Mianhe jika ada kesalahan dalam typo maupun segala hal yg ada dalam ffn ini. Jgn lupa tinggalkan reviewnya ya. Karna, cerita ini akan berlanjut tergantung pada review para readers. Gomawo sudah membacanya! 😊😘